Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 26 September 2016)

OFS: Peringatan S. Elzear dan Delfina, Ordo III S. Fransiskus Sekular 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

yesus-dan-anak-anak-yesus-sedang-mengajar-seorang-anak-kecilSejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR” (bacaan tanggal 26-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAN AKAN MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL

DAN AKAN MEMPEROLEH HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Selasa, 16 Agustus 2016)

jesus_christ_picture_013Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)  

Bacaan Pertama: Yeh 28:1-10; Mazmur Tanggapan: Ul 32:26-28,30,35-36 

Dalam bacaan Injil sebelum ini (Mat 19:16-22), terlihat bahwa sukar dan tidak mungkinlah bagi si orang muda kaya itu untuk menerima undangan Yesus, karena keterlekatannya pada harta miliknya. Ada kalimat yang terasa sangat menyedihkan dalam bacaan Injil itu: “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mat 19:22).  Orang muda kaya itu tidak mampu mengambil jalan yang disediakan Yesus menuju kehidupan kekal karena kekayaannya yang berlimpah tegak berdiri sebagai penghalang di tengah-tengah antara dirinya dan Yesus serta kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya kepada setiap murid-Nya.

Kejadian ini memberi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar bagaimana harta kekayaan dapat sungguh menjadi suatu penghalang terhadap kemuridan. Akhirnya, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa semakin banyak harta kekayaan yang kita miliki, semakin susah pula bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Harta kekayaan tentu saja dapat menjauhkan kita dari Kerajaan Allah, teristimewa  harta kekayaan yang diperoleh melalui kecurangan atau kegiatan yang tidak etis. Lagipula, sekali kita memiliki harta kekayaan yang banyak, hal itu dapat mengisolir kita dari orang-orang lain dan malah dapat membawa kita kepada kegiatan eksploitasi dan opresi terhadap orang-orang lain. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengingatkan kita tentang bahaya-bahaya dari suatu hasrat akan uang (cinta uang) yang tidak teratur:

“Satu teori, yang menjadikan keuntungan sebagai patokan yang satu-satunya dan sebagai tujuan terakhir dari segala kegiatan ekonomi tidak dapat diterima secara moral. Kerasukan akan uang yang tidak terkendalikan menimbulkan akibat-akibat buruk. Ia adalah salah satu sebab dari banyak konflik yang mengganggu tata masyarakat. Sistem-sistem, yang ‘mengorbankan hak-hak azasi perorangan serta kelompok-kelompok demi organisasi kolektif penyelenggara produksi’, bertentangan dengan martabat pribadi manusia (Gaudium et Spes 65,2). Segala sesuatu yang merendahkan manusia menjadi sarana guna memperoleh keuntungan, memperhamba manusia, mengantar ke pendewaan uang dan menambah penyebarluasan ateisme. ‘Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ (Mat 6:24; Luk 16:13)” (KGK 2424).

Setelah Yesus memberi pengajaran-Nya mengenai harta kekayaan, Ia berjanji kepada para murid-Nya yang sedang merasa bingung, bahwa mereka yang telah meninggalkan keluarga dan harta milik mereka demi mengikuti jejak-Nya sebagai murid-murid-Nya akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Pada akhirnya, Anak Manusia akan bersemayam di takhta kemuliaan-Nya (Mat 19:28-29). Kemudian segala peristiwa itu akan menjadi lengkap dalam Yesus. Peristiwa-peristiwa yang kelihatannya membingungkan sekarang akan menjadi masuk akal pada masa mendatang. Pengharapan kita berakar pada kenyataan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus telah membuat mungkin bagi kita untuk hidup di jalan sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, curahkanlah kepadaku rahmat untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan untuk menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang berkelimpahan kepadaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan yang berjudul “KETERGANTUNGAN PADA SESUATU YANG BUKAN ALLAH” (bacaan tanggal 16-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  13 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 5 Juli 2016) 

JESUS HEALS THE SICK - 001Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Yesus datang untuk meresmikan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoyahkan. Ia melihat orang banyak dengan penuh bela-rasa dan belas kasih (Mat 9:36). Ia melihat orang-orang berjalan kian kemari tanpa tujuan; kegairahan dan hasrat mereka mendorong diri mereka, dan mereka bertindak tanduk tanpa tujuan atau makna dalam kehidupan mereka. Banyak orang dilumpuhkan oleh rasa takut, ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan yang bersumber pada Iblis sendiri. Namun demikian, Yesus mengenal kasih Bapa surgawi yang diperuntukkan bagi setiap orang. Sebagai suatu pencerminan kasih ini, Yesus “berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35).

Dalam Kerajaan Allah, Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Orang-orang yang telah merangkul Kerajaan ini mengetahui siapa diri mereka dan siapa Raja mereka. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap Raja mereka dan kasih-Nya kepada diri mereka. Dia adalah “penghiburan mereka” (2Kor 1:3-4), dan kekuatan mereka (Mzm 28:7-8). Hasrat mereka adalah untuk mengasihi dan melayani Allah.

Mukjizat kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus atas orang bisu yang kerasukan roh jahat adalah sebuah tanda lagi bahwa sesungguhnya Dia ingin menyembuhkan kita semua, sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Bapa surgawi. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bagaimana keterikatan kita pada dosa menghalangi kita bersaksi atas kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Penyembuhan ini – yang terakhir dari serangkaian penyembuhan (10) yang menunjukkan Yesus sebagai sang Mesias yang berbuat baik (Mat 8:1-9:38) – adalah sebuah tanda lain dari karya penyembuhan yang ingin dilakukan oleh Mesias dari Allah dalam kehidupan kita.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSOrang-orang Farisi menyaksikan apa yang diperbuat oleh Yesus, namun mereka bersikukuh bahwa Yesus termasuk kelompok yang dipimpin oleh Iblis, dan Ia mendapat kuasa-Nya dari si Iblis (Mat 9:34). Jadi, pada bagian awal pelayanan Yesus di muka publik ini saja, kita telah melihat tanda-tanda konflik yang pada akhirnya akan menggiring-Nya ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati. Walaupun begitu, Yesus terus melanjutkan misi-Nya dan mengundang para murid-Nya untuk pergi sebagai pekerja-pekerja untuk menuai panenan yang memang banyak (Mat 9:37).

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan: “Yesus tidak menghentikan karya kasih-Nya karena orang-orang Farisi dan lain-lainnya membenci-Nya atau mencoba untuk merusak karya Bapa-Nya. Dia hanya pergi berkeliling melakukan kebaikan” (Total Surrender, hal. 150).  Itulah pesan bagi kita. Kita juga, yang merangkul Yesus, sang Mesias, dalam kehidupan kita, dipanggil sebagai Tubuh Kristus untuk bekerja bersama memajukan Kerajaan-Nya dengan mewartakan Kabar Baik dan memimpin orang-orang lain dengan kata dan tindakan kita untuk bertemu dengan Yesus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya.

DOA: Tuhan yang empunya tuaian, ciptakanlah dalam diri kami bela-rasa yang sejati bagi dunia kami yang menderita ini. Tolonglah kami untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN” (bacaan tanggal 5-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 3 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 11 Maret 2016) 

Benediction_of_God_the_Father_by_Luca_Cambiaso,_c._1565,_oil_on_wood_-_Museo_Diocesano_(Genoa)_-_DSC01566

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

“Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba”  (Yoh 7:30).

Beberapa kali Yesus tampil di muka umum dan di tengah mereka ada para lawan-Nya yang selalu mencari kesempatan untuk menjebak dan mencelakakan diri-Nya, namun Yesus tetap tegar mewartakan sabda Allah. Sampai-sampai ada beberapa orang Yerusalem yang berkata: “Bukankah dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya” (Yoh 7:25-26).  Kunci dari keberanian dan ketegaran Yesus adalah:

  • Hubungan atau relasi-Nya dengan Allah Bapa. Yesus mengetahui bahwa Bapa surgawi mengasihi-Nya (Yoh 5:20). Yesus mempunyai keyakinan kuat bahwa Bapa surgawi melindungi diri-Nya, sampai tiba saat-Nya untuk menderita (Yoh 7:30; 12:27);
  • Kesadaran-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa surgawi untuk mewartakan sabda Allah. Yesus mengetahui bahwa kuasa penuh dari Allah Bapa secara penuh mendukung-Nya (Mat 28:18; Yoh 5:36; 7:16). Yesus mencari kemuliaan Bapa surgawi yang mengutus-Nya dan tidak mencari kemuliaan diri-Nya sendiri (Yoh 7:18). Hati-Nya menyala oleh semangat bukannya untuk melindungai diri.
  • Kasih-Nya. Sebab “di dalam kasih, tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

Sekarang Yesus bersabda kepada kita: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Marilah kita (anda dan saya) mengambil tempat kita masing-masing di dalam Kerajaan Allah dengan penuh keyakinan. Kemungkinan besar kita akan ditentang sebagaimana dialami oleh Yesus sendiri. Namun Allah akan memberi kita kekuatan juga di hadapan para lawan kita: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Allah melindungi kita, karena Dia mengasihi kita anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, aku menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk merasa takut. Tambahkanlah kepercayaanku kepada-Mu; dan usirlah segala rasa takutku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU (bacaan tanggal 11-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKIABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 8 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 29 Januari 2016)

Teachings_of_Jesus_5_of_40._parable_of_the_mustard_seed._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 11:1-4a,5-10a, 13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu  dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

Yesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 29-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 27 Januari 2016 [Peringatan S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Tomas Aquino – Kamis, 28 Januari 2016) 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:18-19, 24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-5. 11-14

Perumpamaan Yesus tentang “seorang penabur dan benih” menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya secara begitu mendalam sehingga mereka berada bersama Yesus sedikit lebih lama dan meminta kepada-Nya untuk mengajar mereka lebih banyak lagi (Mrk 4:10-11). Yesus mengakui hasrat mereka untuk diberi pengajaran yang lebih mendalam, dan Ia senang untuk meluangkan waktu ekstra dengan mereka. Kita hanya dapat membayangkan Ia minta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya. Melalui “perumpamaan tentang seorang penabur dan benih” dan “perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran” (bacaan Injil hari ini), Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah dengan kegiatan sehari-hari sehingga dengan demikian orang-orang dapat memahami ajaran-Nya secara lebih mudah.

Yesus sangat senang apabila orang-orang meminta kepada-Nya untuk mengajar secara lebih mendalam, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan untuk memberikan kepada mereka hikmat-Nya. Kesenangan hati inilah yang ada di belakang kata-kata-Nya, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mrk 4:24). Orang-orang yang menyediakan waktu lebih banyak untuk bersimpuh di dekat kaki-kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih dan berkat-berkat Allah dan diperlengkapi secara lebih baik untuk mengikuti-Nya.

Bahkan hari ini juga, Yesus ingin terus mengajar kita. Ada begitu banyak hal yang dapat diajarkan Yesus kepada kita selagi kita mengambil waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Justru pada saat-saat seperti itu ketika kita memberikan kepada Allah segenap perhatian kita, maka Dia dapat membuat sesuatu yang “ajaib” dalam diri kita. Kata-kata sang pemazmur yang ditulisnya berabad-abad lalu tetap benar pada hari ini juga: “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm 19:8-9).

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah kita mohon lebih lagi kepada Allah dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap saat kita memutuskan untuk memohon lebih lagi dari Allah, kita sebenarnya mengetuk pintu surge; dan Allah telah berjanji bahwa Dia akan selalu menjawab kita (Mat 7:7-8).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi hikmat-Mu dengan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bergeraklah dalam diri kami sehingga dengan demikian kami akan berkeinginan untuk meluangkan waktu bersama-Mu setiap hari. Kami mengetahui bahwa Engkau akan menanggapi hasrat kami untuk memperoleh lebih dengan mencurahkan berkat-berkat melimpah atas Gereja-Mu sehingga semua orang akan mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “KEBOSANAN DAN PRIBADI YANG KOSONG” (bacaan tanggal 28-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 26 Januari 2016 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI

GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici, Perawan (OFS), Pendiri Tarekat OSU  – Rabu, 27 Januari 2016) 

do2

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

Siapakah yang sampai berpikir bahwa seni bercocok tanam dapat digunakan untuk mengajar sedikit tentang teologia? Jelas bahwa Yesus berpikir begitu ketika Dia menggunakan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur dan benih-benih yang ditaburkannya guna mengajar tentang Kerajaan Allah. Barangkali orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran Yesus di tepi danau bahkan dapat melihat dari kejauhan seseorang yang sedang bekerja menyebarkan benih-benih tanaman di tanah perbukitan.

Setiap orang dalam kerumunan orang banyak itu kiranya mengetahui dari pengalaman mereka bahwa penaburan benih dimulai dengan sebutir benih kering yang kelihatannya tidak mempunyai banyak potensi bahwa pada suatu hari akan menghasilkan buah. Namun sebutir benih yang kelihatan tidak berarti ini, jika jatuh ke tanah yang cocok dan ditambah air, kehangatan dan cahaya matahari, maka suatu transformasi menakjubkan pun akan mulai berproses.

Hal ini merupakan suatu gambaran yang indah dari hidup Kristiani! Benih dari hidup baru dalam Kristus telah ditaburkan dalam diri setiap orang yang telah dibaptis, dan benih yang tidak kelihatan ini dimaksudkan untuk mentransformasikan diri kita menjadi serupa dengan Yesus. Kita sering mendengar bahwa efeknya sangat besar. Kita masing-masing dapat menghasilkan buah secara berkelimpahan. Kita sungguh dapat serupa dengan Yesus dalam dunia ini, mengasihi dengan kasih-Nya, membuat mukjizat-mukjizat dengan kuat-kuasa-Nya, menghibur orang-orang yang terluka batin mereka dengan bela-rasa-Nya. Akan tetapi, agar supaya semua ini menjadi kenyataan, maka benih hidup baru tersebut harus diberi nutrisi dengan baik. Perumpamaan Yesus ini membuat jelas bahwa kondisi lahan/tanah sangatlah penting.

Apakah kita (anda dan saya) mau menjadi seperti Yesus? Untuk itu, kita tidak boleh memperkenankan Iblis untuk mengacaukan iman kita, misalnya dengan menaburkan benih skeptisisme, ketiadaan pengharapan, ketidakpercayaan (Mrk 4:4). Kita harus yakin bahwa diri kita cukup berakar dalam iman-kepercayaan kita sehingga dapat tahan menanggung penderitaan jika ada pengejaran serta penganiayaan demi Yesus (Mrk 4:5). Kita tidak boleh memperkenankan adanya sikap nafsu akan uang, kenyamanan-kenyamanan materiil, dan hal-hal duniawi lainnya yang akan menggiring kita menjauhi Allah (Mrk 4:6-7). Biarlah benih kita jatuh ke atas tanah yang baik – iman yang aktif dan hidup dalam Yesus – maka hasilnya akan sangat mengagumkan: “tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dan seratus kali lipat” (Mrk 4:8)!

Seperti sebutir benih yang telah diolah sehingga tahan-penyakit, maka benih hidup Yesus dapat memberdayakan kita semua untuk mengatasi setiap halangan. Oleh karena itu, marilah kita dengan berani melindungi dan memberi nutrisi benih itu sebagaimana layaknya harta kekayaan yang sangat berharga. Apabila kita melakukannya, maka pada masa panen kita akan takjub menyaksikan transformasi yang telah terjadi dalam diri kita dan melalui kita.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku berdiri dengan penuh rasa takjub melihat kuat-kuasa dan kemungkinan hidup baru yang Engkau telah berikan kepadaku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menanamkan dalam diriku benih dari hidup-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SANGAT SENANG UNTUK MENGUBAH HIDUP KITA” (bacaan tanggal 27-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatansorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 25 Januari 2016 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS