Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 5 Juli 2016) 

JESUS HEALS THE SICK - 001Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Yesus datang untuk meresmikan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoyahkan. Ia melihat orang banyak dengan penuh bela-rasa dan belas kasih (Mat 9:36). Ia melihat orang-orang berjalan kian kemari tanpa tujuan; kegairahan dan hasrat mereka mendorong diri mereka, dan mereka bertindak tanduk tanpa tujuan atau makna dalam kehidupan mereka. Banyak orang dilumpuhkan oleh rasa takut, ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan yang bersumber pada Iblis sendiri. Namun demikian, Yesus mengenal kasih Bapa surgawi yang diperuntukkan bagi setiap orang. Sebagai suatu pencerminan kasih ini, Yesus “berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35).

Dalam Kerajaan Allah, Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Orang-orang yang telah merangkul Kerajaan ini mengetahui siapa diri mereka dan siapa Raja mereka. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap Raja mereka dan kasih-Nya kepada diri mereka. Dia adalah “penghiburan mereka” (2Kor 1:3-4), dan kekuatan mereka (Mzm 28:7-8). Hasrat mereka adalah untuk mengasihi dan melayani Allah.

Mukjizat kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus atas orang bisu yang kerasukan roh jahat adalah sebuah tanda lagi bahwa sesungguhnya Dia ingin menyembuhkan kita semua, sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Bapa surgawi. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bagaimana keterikatan kita pada dosa menghalangi kita bersaksi atas kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Penyembuhan ini – yang terakhir dari serangkaian penyembuhan (10) yang menunjukkan Yesus sebagai sang Mesias yang berbuat baik (Mat 8:1-9:38) – adalah sebuah tanda lain dari karya penyembuhan yang ingin dilakukan oleh Mesias dari Allah dalam kehidupan kita.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSOrang-orang Farisi menyaksikan apa yang diperbuat oleh Yesus, namun mereka bersikukuh bahwa Yesus termasuk kelompok yang dipimpin oleh Iblis, dan Ia mendapat kuasa-Nya dari si Iblis (Mat 9:34). Jadi, pada bagian awal pelayanan Yesus di muka publik ini saja, kita telah melihat tanda-tanda konflik yang pada akhirnya akan menggiring-Nya ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati. Walaupun begitu, Yesus terus melanjutkan misi-Nya dan mengundang para murid-Nya untuk pergi sebagai pekerja-pekerja untuk menuai panenan yang memang banyak (Mat 9:37).

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan: “Yesus tidak menghentikan karya kasih-Nya karena orang-orang Farisi dan lain-lainnya membenci-Nya atau mencoba untuk merusak karya Bapa-Nya. Dia hanya pergi berkeliling melakukan kebaikan” (Total Surrender, hal. 150).  Itulah pesan bagi kita. Kita juga, yang merangkul Yesus, sang Mesias, dalam kehidupan kita, dipanggil sebagai Tubuh Kristus untuk bekerja bersama memajukan Kerajaan-Nya dengan mewartakan Kabar Baik dan memimpin orang-orang lain dengan kata dan tindakan kita untuk bertemu dengan Yesus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya.

DOA: Tuhan yang empunya tuaian, ciptakanlah dalam diri kami bela-rasa yang sejati bagi dunia kami yang menderita ini. Tolonglah kami untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN” (bacaan tanggal 5-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 3 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 11 Maret 2016) 

Benediction_of_God_the_Father_by_Luca_Cambiaso,_c._1565,_oil_on_wood_-_Museo_Diocesano_(Genoa)_-_DSC01566

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

“Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba”  (Yoh 7:30).

Beberapa kali Yesus tampil di muka umum dan di tengah mereka ada para lawan-Nya yang selalu mencari kesempatan untuk menjebak dan mencelakakan diri-Nya, namun Yesus tetap tegar mewartakan sabda Allah. Sampai-sampai ada beberapa orang Yerusalem yang berkata: “Bukankah dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya” (Yoh 7:25-26).  Kunci dari keberanian dan ketegaran Yesus adalah:

  • Hubungan atau relasi-Nya dengan Allah Bapa. Yesus mengetahui bahwa Bapa surgawi mengasihi-Nya (Yoh 5:20). Yesus mempunyai keyakinan kuat bahwa Bapa surgawi melindungi diri-Nya, sampai tiba saat-Nya untuk menderita (Yoh 7:30; 12:27);
  • Kesadaran-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa surgawi untuk mewartakan sabda Allah. Yesus mengetahui bahwa kuasa penuh dari Allah Bapa secara penuh mendukung-Nya (Mat 28:18; Yoh 5:36; 7:16). Yesus mencari kemuliaan Bapa surgawi yang mengutus-Nya dan tidak mencari kemuliaan diri-Nya sendiri (Yoh 7:18). Hati-Nya menyala oleh semangat bukannya untuk melindungai diri.
  • Kasih-Nya. Sebab “di dalam kasih, tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

Sekarang Yesus bersabda kepada kita: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Marilah kita (anda dan saya) mengambil tempat kita masing-masing di dalam Kerajaan Allah dengan penuh keyakinan. Kemungkinan besar kita akan ditentang sebagaimana dialami oleh Yesus sendiri. Namun Allah akan memberi kita kekuatan juga di hadapan para lawan kita: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Allah melindungi kita, karena Dia mengasihi kita anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, aku menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk merasa takut. Tambahkanlah kepercayaanku kepada-Mu; dan usirlah segala rasa takutku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU (bacaan tanggal 11-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKIABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 8 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 29 Januari 2016)

Teachings_of_Jesus_5_of_40._parable_of_the_mustard_seed._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 11:1-4a,5-10a, 13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu  dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

Yesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 29-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 27 Januari 2016 [Peringatan S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Tomas Aquino – Kamis, 28 Januari 2016) 

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Mungkinkah orang membawa pelita supaya ditempatkan di bawah tempayan atau di bawah tempat tidur? Bukankah supaya ditaruh di atas kaki pelita? Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Lalu Ia berkata lagi, “Perhatikanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil. (Mrk 4:21-25) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:18-19, 24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-5. 11-14

Perumpamaan Yesus tentang “seorang penabur dan benih” menyentuh hati sejumlah pendengar-Nya secara begitu mendalam sehingga mereka berada bersama Yesus sedikit lebih lama dan meminta kepada-Nya untuk mengajar mereka lebih banyak lagi (Mrk 4:10-11). Yesus mengakui hasrat mereka untuk diberi pengajaran yang lebih mendalam, dan Ia senang untuk meluangkan waktu ekstra dengan mereka. Kita hanya dapat membayangkan Ia minta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada-Nya cara terbaik untuk membuka hati orang-orang bagi lebih banyak lagi kebenaran-Nya. Melalui “perumpamaan tentang seorang penabur dan benih” dan “perumpamaan tentang pelita dan tentang ukuran” (bacaan Injil hari ini), Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah dengan kegiatan sehari-hari sehingga dengan demikian orang-orang dapat memahami ajaran-Nya secara lebih mudah.

Yesus sangat senang apabila orang-orang meminta kepada-Nya untuk mengajar secara lebih mendalam, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan untuk memberikan kepada mereka hikmat-Nya. Kesenangan hati inilah yang ada di belakang kata-kata-Nya, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Mrk 4:24). Orang-orang yang menyediakan waktu lebih banyak untuk bersimpuh di dekat kaki-kaki Yesus mengalami lebih banyak kasih dan berkat-berkat Allah dan diperlengkapi secara lebih baik untuk mengikuti-Nya.

Bahkan hari ini juga, Yesus ingin terus mengajar kita. Ada begitu banyak hal yang dapat diajarkan Yesus kepada kita selagi kita mengambil waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Justru pada saat-saat seperti itu ketika kita memberikan kepada Allah segenap perhatian kita, maka Dia dapat membuat sesuatu yang “ajaib” dalam diri kita. Kata-kata sang pemazmur yang ditulisnya berabad-abad lalu tetap benar pada hari ini juga: “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm 19:8-9).

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah kita mohon lebih lagi kepada Allah dengan menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap saat kita memutuskan untuk memohon lebih lagi dari Allah, kita sebenarnya mengetuk pintu surge; dan Allah telah berjanji bahwa Dia akan selalu menjawab kita (Mat 7:7-8).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi hikmat-Mu dengan kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bergeraklah dalam diri kami sehingga dengan demikian kami akan berkeinginan untuk meluangkan waktu bersama-Mu setiap hari. Kami mengetahui bahwa Engkau akan menanggapi hasrat kami untuk memperoleh lebih dengan mencurahkan berkat-berkat melimpah atas Gereja-Mu sehingga semua orang akan mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “KEBOSANAN DAN PRIBADI YANG KOSONG” (bacaan tanggal 28-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 26 Januari 2016 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI

GAMBARAN YANG INDAH DARI HIDUP KRISTIANI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Angela Merici, Perawan (OFS), Pendiri Tarekat OSU  – Rabu, 27 Januari 2016) 

do2

Pada suatu kali Yesus mulai mengajar lagi di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Ia mengajarkan banyak hal dalam  perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka, “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Sebagian jatuh di tanah yang baik, sehingga tumbuh dengan subur dan berbuah. Hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Lalu kata-Nya, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu bertanya kepada-Nya tentang perumpamaan itu. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun memang melihat, mereka tidak memahami, sekalipun memang mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan diberi pengampunan.” Lalu Ia berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu mereka segera murtad. Yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri; itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Mrk 4:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 7:4-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,27-30

Siapakah yang sampai berpikir bahwa seni bercocok tanam dapat digunakan untuk mengajar sedikit tentang teologia? Jelas bahwa Yesus berpikir begitu ketika Dia menggunakan sebuah perumpamaan tentang seorang penabur dan benih-benih yang ditaburkannya guna mengajar tentang Kerajaan Allah. Barangkali orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran Yesus di tepi danau bahkan dapat melihat dari kejauhan seseorang yang sedang bekerja menyebarkan benih-benih tanaman di tanah perbukitan.

Setiap orang dalam kerumunan orang banyak itu kiranya mengetahui dari pengalaman mereka bahwa penaburan benih dimulai dengan sebutir benih kering yang kelihatannya tidak mempunyai banyak potensi bahwa pada suatu hari akan menghasilkan buah. Namun sebutir benih yang kelihatan tidak berarti ini, jika jatuh ke tanah yang cocok dan ditambah air, kehangatan dan cahaya matahari, maka suatu transformasi menakjubkan pun akan mulai berproses.

Hal ini merupakan suatu gambaran yang indah dari hidup Kristiani! Benih dari hidup baru dalam Kristus telah ditaburkan dalam diri setiap orang yang telah dibaptis, dan benih yang tidak kelihatan ini dimaksudkan untuk mentransformasikan diri kita menjadi serupa dengan Yesus. Kita sering mendengar bahwa efeknya sangat besar. Kita masing-masing dapat menghasilkan buah secara berkelimpahan. Kita sungguh dapat serupa dengan Yesus dalam dunia ini, mengasihi dengan kasih-Nya, membuat mukjizat-mukjizat dengan kuat-kuasa-Nya, menghibur orang-orang yang terluka batin mereka dengan bela-rasa-Nya. Akan tetapi, agar supaya semua ini menjadi kenyataan, maka benih hidup baru tersebut harus diberi nutrisi dengan baik. Perumpamaan Yesus ini membuat jelas bahwa kondisi lahan/tanah sangatlah penting.

Apakah kita (anda dan saya) mau menjadi seperti Yesus? Untuk itu, kita tidak boleh memperkenankan Iblis untuk mengacaukan iman kita, misalnya dengan menaburkan benih skeptisisme, ketiadaan pengharapan, ketidakpercayaan (Mrk 4:4). Kita harus yakin bahwa diri kita cukup berakar dalam iman-kepercayaan kita sehingga dapat tahan menanggung penderitaan jika ada pengejaran serta penganiayaan demi Yesus (Mrk 4:5). Kita tidak boleh memperkenankan adanya sikap nafsu akan uang, kenyamanan-kenyamanan materiil, dan hal-hal duniawi lainnya yang akan menggiring kita menjauhi Allah (Mrk 4:6-7). Biarlah benih kita jatuh ke atas tanah yang baik – iman yang aktif dan hidup dalam Yesus – maka hasilnya akan sangat mengagumkan: “tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dan seratus kali lipat” (Mrk 4:8)!

Seperti sebutir benih yang telah diolah sehingga tahan-penyakit, maka benih hidup Yesus dapat memberdayakan kita semua untuk mengatasi setiap halangan. Oleh karena itu, marilah kita dengan berani melindungi dan memberi nutrisi benih itu sebagaimana layaknya harta kekayaan yang sangat berharga. Apabila kita melakukannya, maka pada masa panen kita akan takjub menyaksikan transformasi yang telah terjadi dalam diri kita dan melalui kita.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku berdiri dengan penuh rasa takjub melihat kuat-kuasa dan kemungkinan hidup baru yang Engkau telah berikan kepadaku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menanamkan dalam diriku benih dari hidup-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SANGAT SENANG UNTUK MENGUBAH HIDUP KITA” (bacaan tanggal 27-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatansorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 25 Januari 2016 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agnes, Perawan-Martir – Kamis, 21 Januari 2016)

(Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Jesus_109Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1 Sam 18:6-9; 19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuat-kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya.

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus.

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal serta mengalami cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39).

Orang Kudus yang kita peringati hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan ‘ribet’, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan ‘ngalor-ngidul’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Engkau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Engkau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudari-saudara kami yang lain, guna menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang yang mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 18 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INSTRUMEN INJIL-NYA

INSTRUMEN INJIL-NYA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun C] – 17 Januari 2016) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIADemikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku tidak begitu penting entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan akan apa pun tentang diriku, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan, melainkan Tuhanlah yang menghakimi aku. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu daripada yang lain. Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? Apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-oleh engkau tidak menerimanya? Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu. Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kumu mulia, tetapi kami hina.

Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara. (1 Kor 4:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-10; Bacaan Injil: Yoh 2:1-11

Apakah anda dapat mengakui, “Yesus adalah Tuhan”? Jika anda dapat, maka Kitab Suci memberi jaminan kepada anda bahwa hal itu adalah sebuah tanda pekerjaan Roh Kudus dalam hidup anda (lihat 1Kor 12:3). Namun hal itu baru awalnya, seperti dengan cepat dikemukakan oleh Santo Paulus dalam suratnya. Apakah anda percaya bahwa Roh Kudus ingin bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri anda? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ini ingin memberikan kepada anda berbagai karunia/anugerah yang anda dapat gunakan untuk memberitakan Injil dan ikut membangun Gereja?

St Paul Icon 4Apabila kita melihat dari bacaan ini, kelihatannya Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus tentang berbagai karunia spiritual secara terus-terang tanpa embel-embel. Ia tidak perlu meyakinkan mereka tentang keberadaan berbagai karunia tersebut. Semua anggota jemaat di Korintus sudah biasa mendengar tentang karunia-karunia itu (lihat 1Kor 1:7). Dalam suratnya ini, Paulus sekadar menjelaskan bagaimana kiranya karunia-karunia ini seharusnya berfungsi. Kata-kata Paulus di sini adalah bukti bahwa karunia-karunia spiritual dimaksudkan untuk kita semua, tidak hanya untuk diberikan kepada segelintir anggota jemaat. Kesembuhan dan berbagai mukjizat dan tanda heran dapat terjadi pada saat kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita dapat menerima wawasan profetis (kenabian) dari Tuhan seperti juga hikmat yang praktis kita perlukan pada waktu kita berada dalam situasi sulit.

Bahkan karunia-karunia yang lebih bersifat “natural” seperti hospitalitas, pelayanan, kemampuan administrasi dapat mendatangkan berbagai kesempatan untuk memanifestasikan kasih dan kuat-kuasa Allah. Misalnya, hidup dan mati bukanlah sesuatu yang sangat menentukan dalam pesta perkawinan di Kana, namun keprihatinan Maria akan kehormatan tuan rumah telah menyebabkan Yesus membuat “tanda” atau mukjizat-Nya yang pertama. Allah ingin memberikan kepada kita karunia-karunia ini agar kita dapat menolong orang di sekeliling kita, baik di rumah, di RT/RW kita, lingkungan kita, komunitas kita maupun paroki kita. Di atas segalanya, Roh Kudus ingin memberdayakan umat Allah untuk membangun Kerajaan Allah di atas bumi ini.

Pada saat seorang sahabat “curhat” kepada kita tentang situasi sulit yang sedang dihadapinya, maka kita harus memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kata-kata penghiburan atau hikmat. Bagaimana Allah menjawab sebuah doa yang tidak pernah disampaikan kepada-Nya? Baiklah kita melakukan pendampingan terhadap seorang tetangga yang sedang menderita kesulitan hidup, kita melayani orang itu secara berwujud dan menjanjikan kepadanya untuk berdoa agar dia memperoleh penghiburan dari Allah. Baiklah kita juga bergabung dengan orang-orang lain yang sungguh percaya seperti kita dan secara teratur mendoakan para sahabat dan tetangga kita. Dalam hal ini kita harus mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan bekerja dengan kita dan membuat kita sebagai instrumen Injil-Nya. Selagi kita melakukan hal ini, Tuhan akan menunjukkan kepada kita bagaimana mukjizat-mukjizat-Nya menjadi hal yang biasa selagi kita berjalan bersama-Nya dengan penuh kerendahan hati.

DOA: Roh Kudus Allah, aku bersukacita dalam Engkau pada hari ini! Berdaykanlah aku, penuhilah diriku, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang berani agar supaya semua orang yang kujumpai akan mendengar tentang kebesaran Allah kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MERAYAKAN KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 17-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 14 Januari 2016 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 156 other followers