Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Setiap saat dalam kehidupan-Nya, Yesus menaruh kepercayaan kepada Bapa di surga seperti anak-anak, dan ini dilakukan-Nya secara radikal. Ketergantungan-Nya kepada Bapa memberikan kepada-Nya kuasa untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa.

Markus menempatkan mukjizat (yang dibuat oleh Yesus atas diri anak yang dirasuki roh jahat) itu dalam konteks yang lebih luas perjalanan-Nya ke Yerusalem, suatu “perjalanan kemuridan/pemuridan” (journey of discipleship: Mrk 8:31-10:52) yang sarat dengan pengajaran-pengajaran Yesus bagi para murid-Nya pada waktu itu dan hari ini juga. Peristiwa itu tidak hanya menunjukkan otoritas Yesus, melainkan juga mengungkapkan satu dimensi yang lain lagi dari kemuridan/pemuridan. Tatkala ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu mendekati Yesus, ia mengungkapkan pengharapannya yang sudah tergoncang dan hampir habis, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Yesus menantang sikap orang itu dengan sebuah janji: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Ini merupakan sebuah undangan untuk ikut ambil bagian dalam rasa percaya Yesus sendiri kepada Bapa surgawi. Tanggapan orang itu merupakan sebuah contoh bagi semua orang Kristiani yang sedang bergumul dengan iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Karena orang itu dengan jujur menanggapi sabda Yesus, maka Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Sebagai tambahan dari pelajarannya mengenai iman, cerita ini juga menggemakan sesuatu yang bernuansa eskatologis. Dalam cerita ini diindikasikan adanya ketegangan antara dua aspek kerajaan Allah, yaitu aspek kerajaan Allah yang “sudah ada sekarang” dan aspek kerajaan Allah “yang belum/akan datang”. Kita masih ingat, bahwa sebelum itu kedua belas murid-Nya telah diberi amanat oleh Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat (lihat Mrk 6:13). Akan tetapi, kali ini mereka gagal dalam upaya mereka untuk mengusir roh jahat keluar dari anak itu (Mrk 9:18). Yesus menjelaskan: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jadi, di sini Yesus mengindikasikan bahwa para murid perlu bertumbuh dalam kepercayaan, walaupun mereka telah mengalami sebagian dari pemerintahan Allah. Markus menginginkan para pembaca Injilnya untuk menyadari, bahwa seperti kedua belas murid, mereka dipanggil untuk mengembangkan suatu iman yang matang (dewasa) selagi mereka menantikan kedatangan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.

Tulisan Markus ini juga menggemakan kebangkitan Yesus. Setelah dibebaskan dari kuasa roh jahat, anak itu kelihatan seperti orang mati (lihat Mrk 9:26). Kemudian Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya (lihat Mrk 9:27). Para pakar Kitab Suci mengatakan, bahwa terminologi dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Markus merupakan suatu pertanda dari kebangkitan Yesus dan merujuk kepada satu aspek lagi dari kemuridan/pemuridan: Orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat merasa tak berdaya (Inggris: powerless) dan seakan sudah kehilangan kehidupan (lifeless), tetapi bahkan mulai sekarang juga, Yesus membebaskan kita dan mengangkat kita kepada hidup baru, suatu pekerjaan yang akan dipenuhi pada hari terakhir kelak.

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan dengan judul “TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA” (bacaan untuk tanggal 21-5-18), dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

AKU MAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG YANG MASUK TERAKHIR INI SAMA SEPERTI KEPADAMU

AKU MAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG YANG MASUK TERAKHIR INI SAMA SEPERTI KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 23 Agustus 2017)

OFMCap.: Peringatan . Berardus dr Offida, Biarawan 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Perumpamaan Yesus tentang orang-orang upahan di kebun anggur terkesan sungguh tidak adil. Salahkah kita kalau mengharapkan upah yang adil untuk suatu hari kerja yang dilakukan dengan baik dan jujur? Bukankah seorang majikan seharusnya menghindarkan diri dari tindakan-tindakan favoritisme (pilih kasih) dan tidak adil di tempat kerja? Jadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah Yesus sungguh-sungguh  membenarkan praktek-praktek ketidakadilan? Ataukah Yesus sebenarnya hanya menginginkan agar para pendengarnya mempertimbangkan betapa besar dan tanpa batasnya kasih dan belas kasihannya?

Mungkin sedikit informasi latar belakang perihal praktek kerja pada zaman Yesus dapat  membantu kita untuk lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh Yesus. Kebanyakan orang di Palestina tidak mampu untuk mendirikan usaha sendiri atau belajar berdagang. Dengan demikian mereka menyediakan diri mereka sebagai orang upahan harian. Mereka akan pergi ke pasar setiap pagi dan menantikan seorang tuan tanah atau pengurus properti tuan tanah yang mau memperkerjakan mereka untuk suatu pekerjaan tertentu, misalnya untuk memetik buah anggur di kebun anggur seperti diceritakan dalam perumpamaan Yesus kali ini. Praktek ini masih dapat kita lihat di Yerusalem hari ini, ketika kita lihat banyak pekerja harian berkumpul di pasar pagi-pagi dan menunggu dipekerjakan untuk proyek-proyek yang ada. Kalau tidak berhasil dipekerjakan hari itu maka hal itu berarti pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. Tidak ada uang dapat berarti tidak ada makanan di atas meja.

Jadi, ketika pemilik kebun anggur dalam perumpamaan Yesus ini mempekerjakan pekerja upahan pada jam 5 sore, maka hal itu haruslah kita lihat sebagai pengungkapan bela rasa atau kemurahan hati pemilik kebun anggur terhadap orang-orang yang belum dipekerjakan oleh siapa pun pada hari yang sudah hampir usai itu. Sang pemilik kebun anggur tidak ingin melihat ada orang yang masih mau kerja, namun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Itulah sebabnya, mengapa sang pemilik kebun anggur mengupah orang-orang yang bekerja hanya satu jam lamanya itu dengan uang dalam jumlah yang sama, satu dinar…… agar mereka juga memperoleh uang yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka pada hari itu.

Allah itu seperti sang pemilik kebun anggur. Allah tidak menginginkan satu pun dari kita anak-anak-Nya menderita atau dalam keadaan kekurangan. Kasih-Nya mengatasi logika perihal apakah yang harus diberikan-Nya kepada kita sesuai dengan kepantasan kita masing-masing untuk itu. Sebaliknya, Allah memberikan kepada kita  apa yang kita butuhkan. Ia tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita dan mengatakan kepada kita agar mencoba sedikit lebih keras lagi untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, Dia malah melimpah-limpahkan kepada kita berbagai karunia dari kerajaan-Nya, memasok tidak hanya hal-hal yang tidak kita miliki, melainkan juga memberikan kepada kita segala hal melebihi daripada yang kita harap-harapkan. Biarlah kebenaran ini mengisi hati dan pikiran kita masing-masing dengan rasa kagum dan penuh syukur pada hari ini!

Ingatlah selalu bahwa Allah tidak berhutang apa-apa kepada kita. Apabila Dia memberkati kita, kita harus bersyukur atas kemurahan hatinya dan mencari jalan untuk mensyeringkan kemurahan-hati-Nya kepada dan dengan orang-orang lain. Janganlah juga kita menolak “orang-orang yang datang belakangan” di depan pintu Allah, barangkali setelah kehidupan dosa yang begitu dahsyat. Keselamatan yang telah diberikan Allah kepada kita harus mendorong kita memberikan diri kembali kepada-Nya dengan bebas-merdeka. Kita harus malah bersukacita menyambut mereka yang datang belakangan itu.

DOA: Bapa surgawi, kasih-Mu sungguh tidak mengenal batas. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur untuk segala karunia dan berkat yang Kaulimpah-limpahkan kepadaku setiap hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “PARA AWAM JUGA DIPANGGIL” (bacaan tanggal 23-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Agustus 2017 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Sabtu, 25 Februari 2017) 

yesus-dan-anak-anak-jesus-and-childrenLalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka ia memberkati mereka. (Mrk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Sir 17:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:13-18 

“Ayah, ke sini donk dan betulin mobil-mobilanku yang rusak.” “Ayah, aku baru saja jatuh dari sepedaku dan lututku berdarah, kasih obat merah donk.” Pendekatan anak-anak terhadap kehidupan adalah seperti ini. Orangtua mereka adalah keamanan, pelindung dan penghiburan mereka. Mereka berharap bahwa semua kebutuhan mereka akan dipenuhi, dan mereka pun percaya bahwa mereka dapat bergerak secara bebas, tak terhalangi dalam lingkaran cinta yang telah diciptakan orangtua bagi mereka.

Menerima kerajaan Allah adalah seperti ini. Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita menempatkan kita dalam sebuah dunia yang diciptakan-Nya dan dilihat-Nya baik. Ia mendengar kita apabila kita berseru kepada-Nya dan Ia sungguh ingin memenuhi segala kebutuhan kita. Ini adalah beberapa dari kebenaran-kebenaran yang diajarkan Yesus kepada kita. Apa saja yang dilakukan Yesus adalah sebuah pelajaran tentang kasih Allah kepada umat-Nya. Lebih dari segalanya, Dia ingin agar kita mengetahui betapa amannya kita berada di bawah pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Dalam bacaan singkat Injil hari ini yang menggambarkan Yesus memberkati anak-anak kecil, Ia mengajar kita bagaimana seharusnya kita melakukan pendekatan kepada kerajaan Allah, “Datanglah seperti seorang anak kecil dan terimalah cintakasih-Ku.” 

Namun para murid belum juga memahami hal ini dan mereka mencoba menghalang-halangi orang-orang yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Barangkali maksud para murid “baik” juga, yaitu menjaga agar Guru mereka tidak kehabisan energi, sehingga dapat sepenuhnya melakukan pelayanan-Nya yang dilihat mereka “lebih penting” daripada melayani anak-anak, misalnya menyembuhkan orang-orang sakit, menghadapi perlawanan dari orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi, atau meluangkan waktu yang cukup dengan para murid-Nya. Pada waktu anak bungsu kami masih kecil (catatan: sekarang dia sudah menikah dan bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asuransi asing), kami menghadiri Misa di sebuah gereja di luar Jakarta. Banyak orangtua lain yang juga membawa anak-anak mereka. Pada suatu saat ada seorang anak yang menangis. Rasanya tidak begitu mengganggu, namun imam selebran (kebetulan di tengah-tengah homili-nya) langsung menghardik dengan kerasnya dan meminta semua anak-anak dibawa keluar. Para orangtua pun dengan taat membawa anak-anak mereka ke luar gereja. Rasanya kalau Yesus yang berdiri di depan itu, tidak akan terjadilah peristiwa tidak mengenakkan itu. Mari kita renungkan, betapa sering kita bersikap dan berperilaku seperti para murid Yesus itu, yang tidak memahami apa yang penting di mata Allah. Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk secara tetap berdoa, “Tuhan, baharuilah pikiran-pikiran kami sehingga kami dapat belajar dari sabda-Mu dan contoh-contoh dari kehidupan-Mu!”

Yesus ingin berjumpa dengan kita masing-masing secara pribadi. Tidak ada orang yang terlalu kecil atau tidak berarti di mata-Nya. Yesus ingin mengajar kita masing-masing secara pribadi mengenai kasih Bapa-Nya. Inilah sebenarnya hal-ikhwal kerajaan Allah atau kerajaan Surga. Para murid secara salah berpikir bahwa anak-anak menghalang-halangi jalan mereka guna mencapai hal-hal yang lebih besar. Pandangan Yesus berbeda sekali: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka” (Mrk 10:14). Marilah kita dengan bebas datang kepada Bapa surgawi dalam doa, dengan keyakinan bahwa Dia akan menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka. Kalau kita melakukannya, kita akan memiliki bela rasa terhadap orang-orang lain, seperti Dia terhadap kita.

DOA: Bapa surgawi, aku mengasihi Engkau dan ingin semakin dekat pada-Mu setiap hari. Jagalah agar aku tetap aman berada di bawah perlindungan dan pemeliharaan-Mu lewat kehadiran-Mu. Ajarlah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI SEORANG ANAK KECIL” (bacaan tanggal 25-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KATA-KATA KERAS YESUS

KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Polikarpus, Uskup Martir – Kamis, 23 Februari 2017) 

560jesusSesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Sir 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Dalam bacaan hari ini kita melihat sebuah koleksi dari kata-kata keras Yesus, yang satu sama lain terhubung secara lepas. Sebagian besar kata-kata keras ini merupakan peringatan-peringatan terkait skandal, menyebabkan orang lain berdosa, dan sebab-sebab dari dosa yang melibatkan diri kita. Kelompok ketiga dari kata-kata keras ini mengacu kepada berbagai macam penderitaan dan penganiayaan yang harus dilalui/dialami oleh para murid Yesus dalam hidup mereka di dunia.

Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa kita harus memegang prioritas-prioritas kita dengan tegas. Kita harus mempunyai nilai keselamatan jika kita mau menghindari segala sesuatu yang menyebabkan nilai keselamatan tersebut menjadi berantakan, baik dalam kehidupan orang-orang lain maupun dalam kehidupan kita sendiri.

Untuk menanamkan hal ini dalam diri para murid-Nya (termasuk anda dan saya di abad ke-21 ini), Yesus menggunakan beberapa imaji yang sangat kuat. Misalnya, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). “… setiap orang akan digarami dengan api” (Mrk 9:49). Murid-murid Yesus yang sejati akan ditempa dan dikuatkan melalui pengejaran dan penganiayaan. Ketika Markus mencatat kata-kata Yesus ini, sangat mungkin bahwa umat Kristiani telah mengalami berbagai pengejaran dan penganiayaan. Inilah yang membuat kata-kata Yesus sungguh relevan bagi kita semua, para murid-Nya.

Apakah kita menyadari bahwa ada kemungkinan kata-kata kita atau tindakan-tindakan kita menggiring seseorang ke dalam jurang dosa? Yesus menginginkan agar kita melihat dengan sungguh-sungguh peri kehidupan kita. Apakah kita senantiasa memberikan pengaruh positif atas diri orang-orang lain?

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Kita mengetahui bahwa hal-hal tertentu, kegiatan-kegiatan tertentu adalah dosa. Apakah kita cukup memberi nilai atas relasi kita dengan Tuhan guna menghindari hal-hal dan kegiatan-kegiatan dimaksud dengan penuh kesadaran?

Memang kini kita di Indonesia tidak sedang berada di tengah gelombang pengejaran dan penganiayaan seperti yang dialami oleh para Saudari dan Saudara kita di tempat-tempat lain di dunia, namun dalam artian tertentu tanda-tanda yang mengarah ke situ sudah terasa. Walaupun seandainya tidak ada pengejaran dan penganiayaan yang mengancam kita, keselamatan kita berada dalam bahaya disebabkan oleh nilai-nilai duniawi yang terus saja mengganggu kita. Apakah kita sudah cukup ditempa dengan disiplin, dengan Sabda Allah untuk tetap hidup di dunia sebagai murid-murid Yesus yang setia?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu, Yesus, guna menyelamatkan kami semua. Kami mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus, bentuklah kami menjadi murid-murid Yesus yang setia. Buatlah hati kami seperti hati-Nya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 23-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 20 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR

SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Jumat, 17 Februari 2017) 

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus.

Kata-Nya lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah  telah datang dengan kuasa.” (Mrk 8:34-9:1) 

Bacaan Pertama:  Kej 11:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:10-15

“Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

Menariklah bagi kita untuk mencatat bahwa bacaan Injil hari ini memproklamasikan doktrin Salib, langsung setelah Petrus membuat pengakuan imannya bahwa “Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:29). Setelah mendengar dan menerima pengakuan iman dari Petrus (yang mewakili juga para murid-Nya yang lain), Yesus mulai mengajarkan  dengan terus terang bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31-32). Hal ini mengagetkan Petrus, karena – seperti juga kebanyakan orang Yahudi lainnya – dia mengharapkan kedatangan sang Mesias yang sangat berbeda. Petrus juga kiranya mengharapkan sebuah Kerajaan yang berbeda di mana dirinya akan duduk di sebelah kanan Kristus yang akan menjadi sang Raja. Kiranya Petrus berkata dalam hatinya bahwa apa yang diajarkan Yesus itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itulah dia menegur Yesus dengan keras (Mrk 8:32). Yesus menanggapi teguran Petrus dengan sebuah teguran yang tidak kalah kerasnya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33).

Tidak lama setelah episode ini barulah Yesus mengajarkan kepada para murid apa artinya menjadi warga Kerajaan-Nya. Salib dimaksudkan untuk setiap orang, tidak hanya untuk Diri-Nya dan sekelompok kecil orang. Yesus membuat jelas bahwa Salib adalah bagian hakiki dari kehidupan Kristiani. Bagaimanapun juga, apa yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Yesus bersabda, “Jika seseorang mau mengikut Aku, …” (Mrk 8:34)? Maksudnya sederhana saja: “Jika seseorang mau menjadi seorang Kristiani!” 

Namun, mengapa menjadi seorang Kristiani – seorang Kristiani sejati? Apabila kita mempunyai iman, dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mrk 8:36-37).

Yesus bersabda lagi: “… siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabia Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus” (Mrk 8:38). Ini adalah kata-kata Yesus yang “keras” dan penuh kuat-kuasa. Sekarang, apakah pandangan kita tentang pengejaran dan penganiayaan atas para murid-Nya? Apakah pandangan kita tentang salib, tentang kesulitan hidup? Sebagai murid-murid Kristus, siapkah kita untuk kehilangan nyawa dalam arti manusiawi untuk memperoleh “posisi” sebagai murid-murid Yesus?

Yang diajarkan oleh Yesus adalah bahwa pemenuhan sejati datang dari pengosongan diri sendiri, bukan dari upaya penuh kesadaran untuk mencapai kepenuhan tersebut. Kita paling banyak memperoleh keuntungan justru dengan kurang mencari. Kita memperoleh paling banyak dengan memberi paling banyak.

Ajaran tentang Salib, karena dalam praktek sebenarnya adalah “Jalan Cintakasih”, adalah tolok ukur dari kehidupan Kristiani. Sabda Yesus: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau mengundangku untuk mengikut-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:34-9:1), bacalah tulisan yang berjudul “NILAI TERTINGGI DARI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 17-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 15 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 27 Januari 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): HARI RAYA S. ANGELA MERICI, Pendiri Tarekat 

parable-of-the-mustard-seed-3Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 10:32-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,23-4,39-40

Yesus memilih perumpamaan-perumpamaan-Nya dengan hati-hati sekali. Ia ingin agar orang banyak yang mengikuti-Nya ke mana-mana itu memahami pesan-Nya yang hakiki, yaitu bahwa “Kerajaan Allah adalah untuk setiap orang!” Kerajaan Allah bukanlah hanya untuk orang-orang Farisi atau anggota Sanhedrin, orang-orang berkuasa dalam sistem pemerintahan dan agama Yahudi. Kerajaan Allah yang diinaugurasikan oleh Yesus itu dimaksudkan untuk setiap orang yang ada. Tidak ada seorang pun yang terlalu kecil atau tidak signifikan di mata Allah.

Puncak Injil, kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus, bersandar pada satu hal ini, yaitu bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang. Kerajaan itu dimulai di salah sudut dunia yang tidak dikenal, di tengah sebuah bangsa kecil, pada titik waktu dalam sejarah di mana belum dikenal apa yang dinamakan komunikasi global. Ini adalah sebuah misteri, tanda heran dari karya Allah di tengah umat-Nya. Namun apa yang pada awalnya kelihatan tidak berarti dapat memberikan hasil yang besar dan sungguh luar biasa.

Dalam rumah atau  tempat pekerjaan kita yang kadang-kadang terasa sibuk dengan urusan dunia, dalam tugas-tugas rutin kita, kita tidak boleh memandang rendah apa yang dapat dilakukan oleh Tuhan melalui diri kita selagi kita terus menanggapi dengan penuh ketaatan bisikan suara-Nya. Kebanyakan dari kita, dalam hati, memandang diri kita sebagai orang-orang biasa saja, dan apa yang kita lakukan relatif tidak signifikan dalam keseluruhan rancangan besar kekal-abadi dari Allah. Namun bagi Allah kita sangatlah berharga, pribadi lepas pribadi, dan kita masing-masing merupakan bagian hakiki dari tubuh Kristus. Dengan mempersamakan signifikansi dengan pengakuan, kita jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting.

Ini bukanlah cara Allah berpikir! Bayangkan saja bagaimana Dia melayani dalam Kerajaan-Nya di atas bumi, melalui seorang tukang kayu miskin dari sebuah negeri kecil di Timur Tengah. Bayangkanlah juga bagaimana Dia membentuk orang-orang kudus besar, a.l. Santa Angela Merici, seorang anggota OFS yang kemudian mendirikan Ordo Santa Ursula; Santa Teresa dari Lisieux, seorang biarawati kontemplatif yang tersembunyi dalam sebuah biara Karmelites; atau bagaimana Dia membuat mercu suar kasih-Nya menyinari dunia lewat Santa Bunda Teresa dari Kalkuta, seorang biarawati yang berusia tidak muda lagi. Banyak orang kudus pada kenyataannya berasal dari keluarga-keluarga sederhana yang menaruh kepercayaan mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Oleh karena itu kita pun harus bertekun dan membiarkan biji sesawi dan ragi dalam dan dari hidup kita bertumbuh dan menjadi daya transformasi yang dahsyat dalam memajukan Kerajaan-Nya.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, tidak ada pribadi yang terlalu kecil bagi-Mu untuk dibentuk. Pertumbuhan hidup-Mu dalam diriku dan Kerajaan-Mu di atas bumi adalah seluruhnya karya-Mu. Berikanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku percaya bahwa Engkau senantiasa bekerja, bahkan pada saat-saat aku tidak dapat melihatnya sendiri. Berikanlah juga kepadaku iman dan visi untuk percaya  bahwa apabila aku senantiasa taat kepada-Mu, maka tidak ada yang tidak dapat Kaulakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-1-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 24 Januari 2017 [Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup Pujangga Gereja – Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 16 November 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6

Yesus sudah dekat dengan kota Yerusalem untuk menyelesaikan misinya di atas muka bumi. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem (Luk 9:51-19:27), Yesus memberikan banyak pengajaran tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Sekarang, ketika Dia sudah hampir sampai ke tempat di mana Dia akan mengalami sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, sekali lagi Yesus mengajar – lewat sebuah perumpamaan – tentang apa apa artinya mengikuti jejak-Nya. Dengan iman saya berkeyakinan, bahwa peristiwa Yesus di Yerusalem bersifat sangat menentukan dalam sejarah manusia, dan tanggapan (pilihan) kita menentukan hidup atau mati bagi kita. Kita tidak bisa netral dalam hal ini, karena terhadap apa yang telah dilakukan Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, suatu tanggapan (yang bersifat afirmatif) dituntut dari kita masing-masing sebagai pribadi.

perumpamaan-tentang-talentaPerumpamaan Yesus kali ini menggambarkan tiga macam tanggapan. Tanggapan pertama adalah menerima martabat Yesus sebagai Raja, bekerja dengan rajin dan menghasilkan buah rohani sehubungan berbagai kemampuan/karunia yang diberikan Allah (lihat Luk 19:16-19). Tanggapan kedua adalah menerima Yesus, namun karena takut atau alasan-alasan lainnya, tidak berhasil untuk merangkul-Nya dengan penuh dan menghasilkan buah-buah seperti dihasrati-Nya (Luk 19:20-24). Tanggapan ketiga adalah menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Dia dan menolak klaim-Nya untuk memiliki kuasa atas dirinya (Luk 19:14).

Untuk dapat menghasilkan buah-buah sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, seseorang harus merangkul sepenuhnya Yesus dan kematian serta kebangkitan-Nya dan memperkenankan-Nya bekerja dalam kehidupannya. Demikian pula dengan kita semua! Hanya dengan begitu kita dapat menomor-duakan agenda kita sendiri dan menerima rencana-sempurna Allah bagi hidup kita, dengan segala berkat-Nya yang melimpah. Apabila roh kita, intelek kita, emosi kita dan kehendak kita ditundukkan di bawah kuasa Roh Kudus, maka kita dapat menghasilkan  ‘pendapatan bunga rohani’ bagi Allah (Luk 19:23). Dari sini timbullah berbagai prioritas pribadi, berbagai sasaran- tujuan pribadi dan berbagai tindakan pribadi yang sungguh-sungguh untuk melayani Allah. Berbagai kemampuan kita, inteligensia kita, atau situasi kehidupan pada akhirnya tidak membuat perbedaan; Yesus ingin kita menanggapi Dia sesuai dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tindakan-tindakan yang kita lakukan harus mencerminkan keadaan hati kita.

Yesus telah “meresmikan” Kerajaan Allah dan kerajaan itu memang ada di tengah-tengah kita. Melalui Roh Kudus, kita ikut dalam buah-buah pertama kerajaan itu, bahkan hari ini. Sementara kita tidak akan tahu mengenai kepenuhan janji sampai kedatangan Yesus untuk kedua kali, kita menaruh kepercayaan atas kebenaran janji itu.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menyingkirkan kebutuhanku untuk mengendalikan kehidupanku. Ajarlah aku untuk merangkul sepenuhnya rencana-Mu bagiku, sehingga di bawah kuasa-Mu sebagai Raja, aku dapat ikut serta dalam panen raya mendatang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan berjudul “MASA BAGI KITA UNTUK SETIA DALAM HAL-HAL KECIL” (bacaan tanggal 16-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH  NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 14 November 2016 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS