Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

TIGA MACAM TANGGAPAN TERHADAP YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 16 November 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6

Yesus sudah dekat dengan kota Yerusalem untuk menyelesaikan misinya di atas muka bumi. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem (Luk 9:51-19:27), Yesus memberikan banyak pengajaran tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Sekarang, ketika Dia sudah hampir sampai ke tempat di mana Dia akan mengalami sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, sekali lagi Yesus mengajar – lewat sebuah perumpamaan – tentang apa apa artinya mengikuti jejak-Nya. Dengan iman saya berkeyakinan, bahwa peristiwa Yesus di Yerusalem bersifat sangat menentukan dalam sejarah manusia, dan tanggapan (pilihan) kita menentukan hidup atau mati bagi kita. Kita tidak bisa netral dalam hal ini, karena terhadap apa yang telah dilakukan Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, suatu tanggapan (yang bersifat afirmatif) dituntut dari kita masing-masing sebagai pribadi.

perumpamaan-tentang-talentaPerumpamaan Yesus kali ini menggambarkan tiga macam tanggapan. Tanggapan pertama adalah menerima martabat Yesus sebagai Raja, bekerja dengan rajin dan menghasilkan buah rohani sehubungan berbagai kemampuan/karunia yang diberikan Allah (lihat Luk 19:16-19). Tanggapan kedua adalah menerima Yesus, namun karena takut atau alasan-alasan lainnya, tidak berhasil untuk merangkul-Nya dengan penuh dan menghasilkan buah-buah seperti dihasrati-Nya (Luk 19:20-24). Tanggapan ketiga adalah menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Dia dan menolak klaim-Nya untuk memiliki kuasa atas dirinya (Luk 19:14).

Untuk dapat menghasilkan buah-buah sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya, seseorang harus merangkul sepenuhnya Yesus dan kematian serta kebangkitan-Nya dan memperkenankan-Nya bekerja dalam kehidupannya. Demikian pula dengan kita semua! Hanya dengan begitu kita dapat menomor-duakan agenda kita sendiri dan menerima rencana-sempurna Allah bagi hidup kita, dengan segala berkat-Nya yang melimpah. Apabila roh kita, intelek kita, emosi kita dan kehendak kita ditundukkan di bawah kuasa Roh Kudus, maka kita dapat menghasilkan  ‘pendapatan bunga rohani’ bagi Allah (Luk 19:23). Dari sini timbullah berbagai prioritas pribadi, berbagai sasaran- tujuan pribadi dan berbagai tindakan pribadi yang sungguh-sungguh untuk melayani Allah. Berbagai kemampuan kita, inteligensia kita, atau situasi kehidupan pada akhirnya tidak membuat perbedaan; Yesus ingin kita menanggapi Dia sesuai dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita. Tindakan-tindakan yang kita lakukan harus mencerminkan keadaan hati kita.

Yesus telah “meresmikan” Kerajaan Allah dan kerajaan itu memang ada di tengah-tengah kita. Melalui Roh Kudus, kita ikut dalam buah-buah pertama kerajaan itu, bahkan hari ini. Sementara kita tidak akan tahu mengenai kepenuhan janji sampai kedatangan Yesus untuk kedua kali, kita menaruh kepercayaan atas kebenaran janji itu.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menyingkirkan kebutuhanku untuk mengendalikan kehidupanku. Ajarlah aku untuk merangkul sepenuhnya rencana-Mu bagiku, sehingga di bawah kuasa-Mu sebagai Raja, aku dapat ikut serta dalam panen raya mendatang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan berjudul “MASA BAGI KITA UNTUK SETIA DALAM HAL-HAL KECIL” (bacaan tanggal 16-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH  NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 14 November 2016 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santo Leo Agung, Paus – Kamis, 10 November 2016)

 1-0-jesus_christ_image_219

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tangan lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang waktu kedatangan Kerajaan Allah, sebenarnya mereka menanyakan kapan Mesias datang untuk melakukan restorasi atas takhta Daud. Mereka mengharapkan seorang Mesias-politik yang akan mendepak-keluar penjajah Roma, kemudian mendirikan kembali dinasti Daud. Mereka tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari berbagai mukjizat dan perumpamaan Yesus sebagai “tanda-tanda yang jelas bahwa kerajaan Allah di atas muka bumi telah dimulai”, padahal bukti bahwa kerajaan Allah telah masuk ke dalam dunia sudah ada di sekeliling mereka. Orang-orang Farisi luput melihat tanda-tanda itu karena terlalu sibuk dengan masalah dunia.

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “Kerajaan Allah”? Di mana lokasinya? Bagaimana kerajaan itu diorganisasikan? Kerajaan Allah berarti “Allah meraja”. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dalam artian ini Kerajaan Allah merupakan suatu kerajaan spiritual, bukan kerajaan dalam artian duniawi (lihat Yoh 18:36; Luk 11:20). Keberadaan Kerajaan Allah bersifat batiniah di dalam hati orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan yang di dieja-wantahkan di dunia oleh mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan sebagai umat beriman. Melalui Yesus, Kerajaan Allah tersedia bagi setiap dan masing-masing kita. Allah beserta kita! Dengan demikian kita tidak usah merasa takut terhadap apa saja yang menghalangi jalan kita. Kalau hati kita berlabuh dan kuat tertambat pada kasih Yesus dan kuasa-Nya, maka kita pun akan mengalami damai-sejahtera yang sejati. Damai-sejahtera itu dapat kita peroleh manakala kita berpaling kepada Allah dalam sakramen-sakramen, dalam doa-doa, dalam Kitab Suci, dan dalam persekutuan dengan orang-orang Kristiani lainnya.

images (11)Pada akhir renungan ini kita akan melihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak berarti bahwa berbagai pencobaan dan penderitaan telah usai. Sebaliknya, penderitaan masih akan berlangsung bagi para pengikut/murid Yesus. Santo Paulus menulis: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Kerajaan Allah hadir sekarang dan di sini – meskipun jauh dari sempurna – dalam Gereja, umat Allah. Kerajaan Allah akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman, pada waktu Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Ada orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan upaya-upaya untuk menentukan kapan Yesus datang untuk kedua kalinya, agar supaya mereka berada dalam keadaan siap pada waktu hal itu terjadi. Mereka banyak membuang waktu membaca tanda-tanda dan berusaha membuat kalkulasi-kalkulasi yang diperlukan untuk sampai kepada tanggal yang dicari-cari itu. Memang kita dapat berdoa dan dapat merindukan peristiwa kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, namun berkaitan dengan ini Yesus dengan jelas menyatakan: “… tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (Mrk 13:32-33). Yesus juga mengingatkan bahwa kita akan mendengar nubuat-nubuat palsu, namun tidak perlu merasa terganggu kalau saja kita menghayati hidup yang penuh antisipasi akan kedatangan-Nya: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan. Amin” (Doa Syukur Agung, Anamnesis 2). Hal yang terpenting adalah, bahwa kita sudah siap menerima Yesus kapan saja Dia datang; dan cara terbaik untuk mewujudkan hal ini adalah dengan tetap setia kepada Injil dan setiap hari menghayati suatu hidup Kristiani sepenuhnya, tanpa “diskon” di sana-sini. Dengan demikian kita akan siap untuk menyambut-Nya kapan saja Dia akan datang kembali. “… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:5-6).

paus-leo-i-agung-1Santo Leo Agung [Paus Leo I, masa pontifikat: 440-461] yang kita peringati hari ini adalah satu dari dua orang paus yang diberikan gelar “agung” (satunya lagi adalah Paus Gregorius Agung (Paus Gregorius I, masa pontifikat: 590-604). Salah satu jasa Paus Leo I adalah menolong mempertahankan eksistensi pemerintahan kekaisaran yang memang semakin menurun. Dalam melakukan tugas-kewajibannya, Paus Leo I menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Contohnya adalah pada tahun 452 ketika dia menemui Attila orang Hun, yang siap dengan pasukannya untuk meluluh-lantakkan Roma dan seluruh Italia. Penyerbuan orang-orang Hun akhirnya batal. Roma dan Italia diselamatkan! Sebagai seorang hamba Allah yang baik, pengabdian Paus Leo I kepada-Nya tidak diragukan. Dia tahu benar bahwa dirinya adalah sepenuhnya milik Allah.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar tetap setia dalam menjalani hidup Injili di atas muka bumi ini. Aku sungguh merindukan kedatangan-Mu kembali. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “SESUNGGUHNYA KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU” (bacaan tanggal 10-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 7 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERJUANG UNTUK MASUK LEWAT PINTU YANG SEMPIT

BERJUANG UNTUK MASUK LEWAT PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 26 Oktober 2016) 

jesus-christ-super-starKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau  telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di  dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30) 

Bacaan Pertama: Ef 6:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-14

Bayangkan sebuah pintu kayu yang kasar dan berukuran kecil, hampir tak dapat dikenali sebagai pintu masuk ke dalam sebuah gubuk kecil yang buruk rupa. Kemudian bayangkan sebuah pintu yang berukuran jauh lebih besar dan indah: pintu masuk sebuah istana. Pintu mana yang akan anda pilih? Kebanyakan kita akan tertarik pada pintu yang lebih besar dan lebih indah itu. Namun bagaimana halnya kalau pintu yang lebih kecil itu adalah untuk membuka jalan ke surga, di mana sudah tersedia meja perjamuan yang penuh dengan makanan yang enak-enak. Bagaimana kalau pintu yang jauh lebih besar dan lebih indah itu hanya merupakan jalan masuk ke dalam kegelapan dan kekosongan?

Yesus mendorong para murid-Nya untuk masuk melalui pintu yang kecil-sempit, hal ini mengacu pada kepercayaan dalam diri-Nya sebagai Mesias, dan pada suatu tingkat ketaatan pada Allah yang akan ditolak oleh banyak orang. Dunia, daging, dan Iblis, semua memberi isyarat kepada kita untuk menemukan jalan yang paling mudah, paling enak-nyaman dan paling mengesankan dalam hidup ini. Namun jalan ke surga tidaklah mudah, tidak nyaman dan tidak mengesankan dari sudut mata manusia. Jalan ke surga banyak menuntut dari kita, namun pada saat yang sama memberi ganjaran tanpa batas.

Apabila kita menggantungkan diri pada pemahaman-pemahaman kita sendiri tentang apa-apa yang terbaik bagi kita, maka kita dapat digoda untuk memilih rute yang paling mudah. Namun Yesus mengajarkan kepada kita untuk memilih pintu sempit yang akan membawa kita kepada hidup. Untuk masuk lewat pintu yang sempit ini, Yesus minta kepada kita untuk melakukan pertobatan dan bebas dari dosa yang menyebabkan kita memilih jalan yang lebih lebar. Ia mengundang kita untuk penuh rasa percaya mengambil jalan yang sempit karena sungguh menyakini bahwa jalan kepada-Nya itu sempit, tetapi terbuka bagi semua orang.

Yesus hidup dalam jalan yang sempit itu. Dia bahkan menerima kematian di kayu salib demi keselamatan kita. Melalui salib-Nya, dosa-dosa kita diampuni. Bahkan sampai hari ini darah-Nya memiliki kuasa untuk membersihkan kita. Yesus memberikan Roh Kudus untuk melengkapi kita dengan keberanian, visi dan kasih untuk mengikut Dia sebagai murid-murid-Nya – betapa besar pun biaya kemuridan itu. Roh Kudus akan memberdayakan kita untuk menanggapi secara positif apa saja yang Tuhan minta dari kita, agar kita pun dapat masuk lewat pintu yang sempit itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk memilih jalan yang sempit. Kuatkanlah kami dalam pilihan-pilihan yang akan kami buat hari ini, yang akan selalu memilih pintu sempit yang akan membawa kami kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 26-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Oktober 2016 [HARI MINGGU BIASA XXX – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DENGAN APAKAH AKU AKAN MENGUMPAMAKAN KERAJAAN ALLAH?

DENGAN APAKAH AKU AKAN MENGUMPAMAKAN KERAJAAN ALLAH?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 25 Oktober 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.”  Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21) 

Bacaan Pertama: Ef 5:21-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Apabila digunakan oleh seorang guru yang baik, maka perumpamaan-perumpamaan dapat menjadi sarana yang berguna untuk menghasilkan pemikiran dan refleksi.  Melalui gambaran yang kaya namun sederhana, sebuah perumpamaan menantang para pendengarnya untuk memahami sebuah pokok-masalah pada tingkat yang berbeda-beda. Yesus seringkali menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk memperluas pemahaman para murid-Nya tentang kerajaan Allah.

Setelah dalam beberapa bab/fasal Injilnya menggambarkan kerajaan Allah dan arti dari jalan Kristiani, Lukas merangkum pokok-pokok ini dengan “perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi”. Perumpamaan singkat ini mengikuti beberapa contoh meningkatnya perlawanan terhadap Yesus, termasuk penolakan orang-orang Samaria (Luk 9:51-53) dan permusuhan kaum Farisi yang semakin meningkat (Luk 11:53). Karena perlawanan ini, Yesus mengundang para murid-Nya untuk memandang kerajaan Allah dari suatu perspektif global: “Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” (Luk 13:18-21).

Gambaran ini mengingatkan kita kepada cara sederhana ketika mulai diumumkannya kerajaan Allah oleh seorang tukang kayu dari Nazaret yang tak dikenal, kepada sekelompok orang yang terdiri dari para nelayan dan orang-orang yang “biasa-biasa saja”, malah ada juga anggota gerakan ‘zeloti’ Galilea yang dikenal bergaris-keras. Namun demikian, dari awal yang sederhana-tak-berarti ini, pemerintahan Allah yang bersifat kekal-abadi masuk ke dalam dunia kita yang dibatasi ruang dan waktu. Kerajaan Allah akan berlanjut di dalam dunia ini sampai Yesus Kristus datang kembali dalam kemuliaan-Nya.

21674-004-e9ae92f1Yesus juga meminta agar para murid-Nya menerapkan perumpamaan itu pada suatu tingkat personal. Kalau kita memandang dengan cara seperti ini, maka kita akan melihat bahwa hal-hal paling kecil sekalipun yang kita lakukan untuk membuat diri kita hadir bagi Allah dapat membuat dampak yang besar. Siapa yang pernah menyangka bahwa Santa Frances Xavier Cabrini yang sakit-sakitan, bersama-sama beberapa temannya, akan mendirikan sebuah kongregasi para biarawati (Missionary Sisters of the Sacred Heart) pada tahun 1880, yang kemudian bertumbuh menjadi besar dan banyak sekali menolong orang-orang miskin di rumah-rumah sakit serta panti-panti asuhan mereka di Amerika Serikat dan di seluruh dunia? Santa Fransiska Cabrini ini adalah warga negara Amerika pertama yang dikanonisasikan sebagai orang kudus (1946), hanya beberapa tahun setelah kematiannya di Chicago pada tahun 1917. Dia dilahirkan di Sant’Angelo di Lodi, Lombardy pada tahun 1850 dan dia adalah seorang anggota Ordo Ketiga sekular Santo Fransiskus, sebelum mendirikan kongregasi suster-suster tersebut di atas. Biara pertama mereka pun adalah bekas biara para Saudara Dina. Fransiska Cabrini berimigrasi ke Amerika Serikat dalam usianya yang masih muda. Allah menggunakan iman “biji sesawi” dan “ragi” perempuan sakit-sakitan ini untuk mencapai karya kasih yang begitu besar, indah dan agung. Yesus mengajarkan bahwa kerajaan Allah mulai secara kecil-kecilan dalam hati kita, namun dapat bertumbuh menjadi sesuatu yang dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Ya Tuhan dan Allahku, engkau tidak menetapkan batasan-batasan bagaimana kerajaan-Mu akan bertumbuh-kembang. Melalui ketaatanku, semoga datanglah kerajaan-Mu dalam kehidupanku dan dalam diri mereka yang ada di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI SESAWI SEJATI” (bacaan tanggal 30-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 23 Oktober 2016 [HARI MINGGU BIASA XXX – TAHUN C] 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS 

ROH KUDUS MEMPERSATUKAN TUBUH KRISTUS

ROH KUDUS MEMPERSATUKAN TUBUH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Jumat, 7 Oktober 2016) 

stdas0149Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

“Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tinggal yang terpecah-pecah, pasti runtuh” (Luk 11:17).

Tidak ada hal lain yang disukai oleh si Jahat daripada memporak-porandakan keluarga-keluarga atau memecah belah para anggota keluarga Allah, Tubuh Kristus atau Gereja. Mengapa? Karena keluara tersebut dinamakan cermin dari Allah Tritunggal Mahakudus. Seperti Bapa, Putera dan Roh Kudus menunjukkan proses saling mengasihi secara berkesinambungan, kita pun dipanggil untuk saling mengasihi – antara para anggota keluarga kita dan juga para saudari-saudara dalam Kristus.

Sebaliknya dari si Jahat, Roh Kudus senantiasa bergerak untuk mempersatukan tubuh Kristus. Yesus datang untuk mengumpulkan anak-anak Allah yang tersebar di mana-mana menjadi satu keluarga. Tujuan Yesus adalah “untuk menciptakan dalam diri-Nya suatu humanitas baru …, jadi membuat damai” (lihat Ef 2:15-16). Kita tidak perlu melihat lebih jauh daripada Pentakosta untuk sebuah contoh indah dari hal ini. Ketika Roh Kudus turun atas para rasul/murid, mereka tidak hanya dipenuhi dengan keberanian untuk mewartakan Injil, melainkan juga dapat menarik tiga ribu orang baru ke dalam kelompok mereka dan mereka juga mengabdikan diri untuk hidup sebagai sebuah komunitas yang satu dan hidup.

Pada saat kita melihat ada perpecahan di sekitar kita, maka kita harus mencoba untuk tidak ciut-hati. Sebaliknya kita harus bersemangat karena kita tahu bahwa kita berada di pihak Dia yang datang untuk mempersatukan yang terpecah-pecah. Kerajaan Allah adalah sebuah kesatuan yang lengkap, dan Kerajaan ini akan menang berjaya atas setiap perpecahan.

Itulah sebabnya mengapa rahmat yang tersedia bagi kita dalam Sakramen Rekonsiliasi sugguh merupakan suatu berkat. Lewat Sakramen Rekonsiliasi ini kita berdamai dengan Allah. Sakramen Rekonsiliassi juga memiliki kuat-kuasa istimewa untuk mengatasi perpecahan dan perpisahan di atas bumi. Dengan mengakui dosa-dosa kita dan menerima absolusi, kita dapat merinci setiap kesombongan atau luka-luka (batin) yang membuat kita mengalami perpecahan yang berkelanjutan. Sebaliknya, jika kita menolak pertobatan, kita memberi kepada Iblis sebuah tempat berpijak yang lebih besar dalam kehidupan kita sebagai “pendakwa saudara-saudara seiman kita” (lihat Why 12:10) dan “pendusta dan penghujat Allah” (lihat Kej 3:4-5).

Saudari-Saudara terkasih, janganlah sampai hal itu terjadi! Oleh karena itu, marilah kita menyediakan waktu untuk menerima rahmat Sakramen Rekonsiliasi sesering mungkin. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada  kita kapan keangkuhan atau kebanggaan palsu kita membuat kita tetap terpecah. Perkenankanlah Roh Kudus menjadi dasar dan kekuatan persatuan dalam hati kita dan dalam komunitas serta keluarga kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, lembutkanlah hatiku agar dengan demikian aku dapat melakukan hidup pertobatan dengan penuh kerendahan hati dan juga dengan rasa percaya yang tidak diragukan lagi terhadap belas kasih Alah. Tolonglah diriku agar senantiasa mengupayakan persatuan di atas segala sesuatu yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA AKU MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA ALLAH, MAKA …” (bacaan tanggal 7-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul sama untuk bacaan tanggal 9-1—15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 5 Oktober 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MERANGKUL SEPENUHNYA JALAN TUHAN

MERANGKUL SEPENUHNYA JALAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Rabu, 28 September 2016)

OFMCap.: Peringatan Beato Inosensius dr Bertio, Imam Biarawan 

jesus_christ_picture_013Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62) 

Bacaan Pertama: Ayb 9:1-112,14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10-15 

Allah kita penuh “cemburu” dalam kasih-Nya kepada kita (lihat Kel 34:14). Apabila kita mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya, maka Dia meminta kepada kita untuk meninggalkan segala rencana kita dan ide-ide kita sendiri, kemudian merangkul sepenuhnya “jalan Tuhan”. Tujuan Yesus adalah untuk memperbaiki pikiran kita dan mengajar kita jalan kepada Bapa. Kita tidak dapat belajar “jalan” itu apabila kita masih tetap terikat pada adat-kebiasaan dan nilai-nilai duniawi – walaupun nilai-nilai yang paling agung sekalipun. Allah adalah Pribadi yang menentukan standar-standar bagi kita, bahwa kita harus tidak lagi terikat pada apa saja selain Allah sendiri selagi kita mengikuti-Nya.

Bagi banyak dari kita, kata-kata Yesus kepada “calon-calon murid” ini terdengar terlalu keras dan ekstrim, sehingga sulit untuk dipercaya sungguh keluar dari mulut seorang Yesus yang penuh kasih. Secara hampir instinktif kita mulai mereka-reka apakah di sini Yesus sekadar bersikap “lebay” … “berlebihan” untuk menjelaskan suatu masalah penting. Untunglah bagi kita, Yesus itu serius dan tidak pernah “lebay” seperti pengkhotbah murahan. Yesus tahu bahwa karena kasih Bapa mengutus-Nya ke tengah dunia untuk menebus kita dari kita dari kehidupan dosa, sehingga kita dapat dipenuhi secara lengkap dengan kehidupan Allah sendiri. Transformasi yang ditawarkan-Nya tidak bersifat parsial – artinya mutlak dan lengkap!

Tuntutan-tuntutan Yesus kepada kita – para pengikut/murid-Nya – dimaksudkan untuk menantang sikap-sikap hati kita. Yesus tidak menuntut kita untuk menepati praktek-praktek keagamaan, melainkan menyampaikan pesan tentang isu sentralnya: “Sampai berapa dalam Engkau mempercayaiku? Jika Aku adalah Tuhan alam semesta, maukah kamu mempercayai hikmat-kebijaksanaan-Ku lebih daripada hikmat-kebijaksanaan dunia? Maukah kamu mentaati perintah-perintah-Ku di atas pengharapan-pengharapan dunia? Maukah kamu mempercayai-Ku lebih daripada kamu mempercayai bahkan dirimu sendiri?”

Dengan demikian, alangkah baiknya apabila kita pada hari ini mengundang Roh Kudus masuk ke dalam hati kita masing-masing. Ia ingin menolong kita membuang segala cara yang mementingkan diri sendiri dan kecintaan akan hal-hal duniawi. Roh Kudus ingin memberikan kepada kita iman yang cukup kuat untuk mempercayai bahwa Allah akan setia kepada kita dan memenuhi segala kebutuhan kita. Dia ingin meyakinkan kita tentang kemampuan-Nya – dan hasrat-Nya – untuk memenuhi diri kita dengan sukacita dan damai-sejahtera yang jauh melampaui apa yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan hidup kami kepada –Mu. Penuhilah diri kami masing-masing dengan Roh-Mu. Tunjukkanlah kepada kami sikap kemandirian kami yang salah, sehingga kami dapat ditransformasikan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Tolonglah kami memusatkan hati kami pada-Mu saja selagi kami memuliakan Engkau dengan rasa percaya dan ketaatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:57-62), bacalah  tulisan yang berjudul “YA TUHAN, AKU AKAN MENGIKUT ENGKAU” (bacaan untuk tanggal 28-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 26 September 2016)

OFS: Peringatan S. Elzear dan Delfina, Ordo III S. Fransiskus Sekular 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

yesus-dan-anak-anak-yesus-sedang-mengajar-seorang-anak-kecilSejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR” (bacaan tanggal 26-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS