Posts tagged ‘KERAJAAN SURGA’

PENGAMPUNAN BERADA PADA PUSAT SPIRITUALITAS KRISTIANI

PENGAMPUNAN BERADA PADA PUSAT SPIRITUALITAS KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2020)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

Bapa surgawi ingin agar relasi kita dengan diri-Nya dipulihkan kembali, juga relasi kita dengan sesama satu sama lain, dan “pengampunan” adalah pintu gerbang bagi kita untuk masuk ke dalam berkat ilahi yang indah ini. Karena Yesus menumpahkan darah-Nya bagi kita, maka kita dapat menaruh kepercayaan pada pengampunan Bapa surgawi dan menerima semua harta yang ingin dicurahkan-Nya atas diri kita. Menerima pengampunan dari Allah dan belajar mengampuni orang-orang lain dapat membawa kesembuhan yang luarbiasa, baik bagi hati kita sendiri maupun untuk relasi-relasi kita dengan orang-orang lain.

Beberapa tahun lalu terjadi pembunuhan sadis atas diri Ade Sara Angelina Suroto (19). Ade Sara kehilangan nyawa karena dianiaya dan dibunuh dengan kejam di dalam sebuah mobil oleh Assyifa (18) dan Ahmad Imam al Hafitd (19), yang adalah teman-temannya semasa sekolah di SMA. Hafitd adalah mantan pacar Ade Sara (mereka pacaran ketika di SMA) dan Assyifa adalah pacar Hafitd. Ade Sara terakhir kali adalah mahasiswi di Universitas Bunda Mulia. Ade Sara adalah anak tunggal dari pasutri Elisabeth Diana dan Suroto, dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat tanggal 7 Maret 2014. Seusai upacara pemakaman, Elisabeth Diana mengatakan bahwa dia memaafkan dua orang pembunuh puteri tunggalnya itu. Salah satu komentar yang disampaikannya kepada wartawan Kompas.com: “Saya yakin mereka anak yang baik. Hanya, pada saat itu mereka tidak bisa menguasai sisi jahat dari diri mereka.” Ada juga yang mencatat bahwa Elisabeth Diana mengatakan, “Saya tidak punya hak utk menghakimi, benci dan dendam pada pembunuh anak saya, karena saya percaya ini jalan terbaik dari Tuhan untuk anak saya.” Pengampunan kepada pihak yang berbuat jahat ini sempat mengherankan banyak orang. Misalnya dalam sebuah acara interaktif sebuah stasiun radio terkenal, seseorang mengatakan bahwa dia kagum akan sikap dan perilaku ibunda dari Ade Sara, “walaupun” dia bukan seorang Muslim. Ibu Elisabeth sebenarnya – dalam imannya sebagai seorang Kristiani – mempraktekkan ajaran Yesus untuk mengampuni; dan kita semua harus melakukan hal yang serupa sebagai saksi-saksi Kristus. Ya, pengampunan memang berada pada pusat spiritualitas kita sebagai umat Kristiani.

Hati Yesus berkelimpahan dengan belas kasih (kerahiman) dan bela rasa. Bahkan ketika Dia sedang tergantung pada kayu salib, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Sekarang, pengampunan ini juga tersedia bagi kita setiap hari. Pengampunan Allah dipenuhi dengan kasih ilahi-Nya, kasih yang mempunyai kuat-kuasa untuk menghangatkan hati kita, bahkan ketika kita telah mengalami ketidakadilan yang luarbiasa. Pada kenyataannya, hanya apabila kita telah mengalami pengampunan ini maka kita baru akan siap untuk memberikan pengampunan tersebut kepada orang-orang lain.

Yang indah tentang pengampunan Allah yang mengalir melalui diri kita adalah bahwa sementara hal tersebut membawa kebebasan yang luarbiasa kepada kita, hal tersebut juga membebaskan pihak yang telah bersalah kepada kita. Ketika kita mengampuni seseorang, maka kita tidak hanya membuka hati bagi kasih Allah, tetapi juga kita membebaskan orang lain itu dari penolakan kita, dengan demikian memampukan dirinya untuk menerima kasih Allah dan penyembuhan-Nya juga. Ini adalah suatu kenyataan yang mengagumkan.

Setiap kali kita memohon kepada Roh Kudus untuk memeriksa hati nurani kita, maka kita berjumpa dengan “seorang” Bapa yang begitu bergairah untuk memulihkan diri kita. Pengampunan-Nya atas diri kita membuka pintu bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, jadi menyembuhkan relasi-relasi yang sudah patah. Selagi kita datang menghadap Yesus, Ia akan memanggil kita untuk pergi menjumpai orang-orang dengan siapa kita perlu melakukan rekonsiliasi. Diiringi doa, marilah kita mempertimbangkan langkah yang sedemikian, karena kita tahu bahwa Yesus akan ada bersama kita dan Ia akan membawakan kesembuhan dan kebebasan bagi kita selagi kita menaruh kepercayaan pada sabda-Nya.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan selidikilah hatiku dan mampukanlah diriku agar dapat mengampuni orang-orang yang telah Engkau tempatkan dalam hidupku. Ampunilah aku dan curahkanlah karunia pengampunan-Mu ke dalam hatiku. Oleh rahmat-Mu, biarlah aku membuang pergi segala penolakanku. Aku memberikan hatiku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MARAH TERHADAP SAUDARI-SAUDARA KITA” (bacaan tanggal 6-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 4 Maret 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MENIRU PERILAKU HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS ITU

JANGANLAH KITA MENIRU PERILAKU HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2019)

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita (anda dan saya juga) masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA” (bacaan tanggal 31-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS

KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2019)

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12   

Pada saat parousia dan penghakiman terakhir, maka situasi menanti-nantikan Kerajaan Surga kiranya serupa atau mirip dengan cerita perumpamaan Yesus ini. Karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam perumpamaan ini sejalan dengan praktek perkawinan yang dikenal di Timur Tengah, hampir semua ahli Kitab Suci  berpendapat bahwa perumpamaan ini adalah sebuah alegoria yang diciptakan oleh pengarangnya di mana detil-detil yang ada bersifat simbolik.

Sepuluh gadis itu barangkali sedang menunggu di rumah mempelai laki-laki. Mereka menanti-nantikan kedatangan sang mempelai laki-laki yang telah pergi menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya. Hal ini tidak hanya cocok dengan imaji Perjanjian Baru tentang Kerajaan Surga sebagai sebuah pesta perjamuan nikah (lihat Mat 22:1-14; Why 19:9), tetapi juga dengan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki (Mat 9:15) dan Gereja sebagai mempelai perempuan (Why 21:2,9; Ef 5:25-26). Sepuluh gadis itu menanti-nantikan sang mempelai laki-laki, namun tidak semua siap dalam menghadapi situasi seandainya terjadi keterlambatan kedatangannya.

Lima orang gadis yang “bodoh” itu berbeda dengan “hamba yang jahat” dalam perumpamaan sebelumnya (Mat 24:45-51). Dalam perumpamaan itu – ketika melihat tuannya belum pulang-pulang juga, dia malah melakukan hal-hal yang tidak baik, yaitu memukul hamba-hamba yang lain, dan makan minum bersama-sama para pemabuk (Mat 24:49). Sebaliknya, “kesalahan” lima orang gadis yang “bodoh” adalah, bahwa mereka tidak memperhitungkan dengan serius adanya kemungkinan keterlambatan. Lima gadis yang  “bijaksana” memperhitungkan kemungkinan terjadinya keterlambatan kedatangan sang mempelai laki-laki dengan sikap serius, dengan demikian mereka membawa minyak ekstra dalam botol untuk berjaga-jaga (Mat 25:4). Waktu berjalan terus dan hari pun semakin malam dan sang mempelai laki-laki tidak datang-datang juga, maka gadis-gadis itu pun tertidur.

Ketika lima gadis yang “bodoh” menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup minyak, maka mereka memintanya dari lima gadis yang “bijaksana”. Kelima gadis yang “bijaksana” dengan bijaksana pula menunjuk pada kenyataan bahwa berbagi minyak mereka pada titik itu malah akan menimbulkan risiko tidak akan ada pelita yang menyala samasekali karena semuanya akan kehabisan minyak (Mat 25:9), jadi malah merusak acara pesta. Selagi gadis-gadis yang “bodoh” pergi membeli minyak, gadis-gadis yang “bijaksana” pergi menyambut dan ikut serta dalam prosesi untuk mengiringi rombongan pengantin masuk ke dalam ruang pesta. Kemudian pintu rumah ditutup dan digembok, ini adalah perlambangan penghakiman terakhir. Masuk melalui pintu tidak hanya sulit (Mat 7:13-14), tetapi sudah tidak mungkin lagi pada saat yang crucial itu. Lima gadis “bodoh” yang baru kembali dari membeli minyak berseru: “Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” (Mat 25:11), Ini adalah juga seruan para murid yang digambarkan Yesus dalam Mat 7:21-22; mereka mengharapkan diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Surga karena nubuatan-nubuatan dan mukjizat-mukjizat yang mereka buat dalam nama Yesus. Namun, kepada mereka – seperti juga kepada lima orang gadis yang “bodoh” – Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12; bdk. Mat 7:23).

Dalam “Khotbah di Bukit” itu Yesus pada dasarnya mencap mereka sebagai murid-murid “palsu” karena tidak menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:15-20), artinya tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu melakukan pekerjaan belas kasih (lihat Mat 25:31-46). Seperti juga para ahli Taurat dan Farisi yang berkhotbah namun tidak mempraktekkan sendiri apa yang mereka khotbahkan (Mat 23:3); dan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, yang mendengarkan sabda Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa atas sabda itu (Mat 7:26-27); maka lima orang gadis yang “bodoh” itu tidak melakukan “agenda” yang telah ditetapkan oleh Yesus bagi para murid-Nya. Dalam “Khotbah di Bukit”, “pelita yang diletakkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat 5:14-16) adalah gambaran (imaji) dari pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh para murid-Nya di mata dunia. Minyak dalam perumpamaan sepuluh gadis ini digunakan untuk pelita agar apinya tetap menyala, artinya pekerjaan-pekerjaan baik. Perintah yang terakhir dari Yesus dalam perumpamaan ini adalah agar kita senantiasa berjaga-jaga, bersiap-siap lewat pekerjaan-pekerjaan baik kita dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kali, yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS XXII

PEMISAHAN ANTARA MEREKA YANG BERGUNA DAN MEREKA YANG TIDAK BERGUNA

PEMISAHAN ANTARA MEREKA YANG BERGUNA DAN MEREKA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja  – Kamis, 1 Agustus 2019)

Kongregasi CSsR [Redemptorist]: HR Pendiri Tarekat

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

“Perumpamaan tentang jala besar” (Mat 13:47-52) adalah yang terakhir dari serangkaian pengajaran oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan dalam Injil Matius. Perumpamaan ini serupa dengan “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30; lihat penjelasannya dalam Mat 13:36-43).

Dalam perumpamaan ini Kerajaan Surga (Kerajaan Allah) diumpamakan sebagai sebuah jala besar yang penuh berisi dengan segala jenis ikan, ada yang dapat dimakan dan ada yang tidak dapat dimakan. Yang baik – artinya ikan yang dapat dimakan – disimpan. Sisanya, yang tidak baik – artinya yang tidak dapat dimakan – dibuang. Begitu pula halnya dengan Kerajaan Allah di atas bumi, baik dilihat sebagai Gereja secara keseluruhan, atau satu bagiannya yang kecil, misalnya sebuah paroki atau sebuah komunitas Kristiani, mengumpulkan segala jenis orang. Orang-orang itu dikumpulkan sampai datangnya hari penghakiman ketika “yang baik” akan dipisahkan dari “yang jahat” (Mat 13:49; bdk. Mat 25:31-46).

Sebagai individu-individu kita merupakan warga Kerajaan Surga. Kita adalah bagian dari Gereja, sebuah paroki, atau sebuah komunitas Kristiani. Sekarang masalahnya, kita berada di sebelah mana? Apakah kita merupakan anggota-anggota yang berarti, yang berguna? Tidak ada yang “setengah-setengah” dalam hal ini. Jadi, apakah kita merupakan orang-orang Kristiani yang berkomitmen atau orang-orang yang tidak berguna dalam Kerajaan.

Baik “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” maupun “perumpamaan tentang jala besar” dengan cukup jelas mengajar kita bahwa tidak dapat dicapai kedamaian lengkap dalam hidup ini. Yesus mengatakan dengan sangat jelas bahwa kedamaian lengkap hanya mungkin terjadi pada hari penghakiman akhir. Namun Ia bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”  (Mat 5:9). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba membawa lebih banyak orang kepada suatu komitmen yang sejati kepada Kristus, untuk menjadi anggota-anggota Kerajaan yang berarti.

Apakah kita memahami semua ini? Apabila jawab kita terhadap pertanyaan ini adalah “ya”, maka Yesus berkata bahwa kita akan mampu untuk merekonsiliasikan hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru. Kita akan mampu untuk melihat bahwa dalam Kerajaan Allah segalanya yang memiliki nilai sejati mempunyai tempat, apakah Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apakah yang tradisional dalam Gereja atau wawasan-wawasan baru. Apakah pikiran dan hati kita terbuka kepada hal-hal yang berarti, entah di mana ditemukannya? Atau, kita cenderung untuk mendiskreditkan apa saja hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang baru, atau hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang lama/kuno?

DOA: Ya Bapa, Allah Yang Mahapengasih, sampaikanlah kasih-Mu kepada semua anggota Kerajaan-Mu. Bahkan kepada para anggota yang Engkau pandang tidak berguna sekali pun, berikanlah juga kepada mereka rahmat agar dapat berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “BAGAIMANA HIDUP DALAM KRISTUS SETIAP HARI” (bacaan tanggal 1-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 30 Juli 2019 [Peringatan S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHMAT ADALAH PERTOLONGAN DARI ALLAH UNTUK KITA

RAHMAT ADALAH PERTOLONGAN DARI ALLAH UNTUK KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Marta – Senin, 29 Juli 2019)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Tentu sebagian besar dari kita mempunyai wéker (Inggris: alarm clock) dalam salah satu bentuknya, apalagi dengan tersedianya berbagai peralatan yang semakin modern ini (smart phones dlsb.). Kita memang membutuhkan peralatan seperti itu, karena pada waktu yang ditetapkan oleh kita, alat itu akan berbunyi dan membuat kita “keluar” dari tidur kita. Namun alat itu tidak akan mampu membangkitkan kita dari tempat tidur kita. Banyak dari kita tentunya dikagetkan oleh bunyi wéker pada jam 4 pagi, namun langsung tidur lagi setelah mematikannya.

Semoga contoh wéker ini dapat menggambarkan “ragi” yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, “adonan” Kerajaan Allah yang adalah “rahmat”, adonan sesungguhnya dalam hidup seorang Kristiani. Rahmat sesungguhnya dapat menyentuh kita setiap saat dalam satu hari kehidupan kita, seperti tiupan angin sepoi-sepoi basa di musim panas, atau seperti hujan badai yang disertai sambaran kilat yang sambung menyambung. Atau, rahmat itu datang kepada kita melalui kata-kata penuh hikmat yang diucapkan oleh seorang sahabat, atau sebuah gambar, dlsb.

Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan “adonan indah” atau rahmat ini? Rahmat sesungguhnya adalah pertolongan dari Allah untuk kita agar dapat hidup sebagai orang-orang Kristiani yang sejati. Kita menerima rahmat ini banyak kali dalam sehari. Ini adalah bantuan batiniah yang diberikan Allah untuk memperkuat diri kita ketika kekuatan memang dibutuhkan oleh kita, untuk memberikan sukacita, keberanian, pengharapan kepada kita yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Jadi, seperti bunyi wéker yang bordering-dering di dalam diri kita, Tetapi lebih dari wéker biasa, karena rahmat tidak saja mengingatkan kita untuk bangun dari tidur, melainkan juga memberikan dorongan kepada kita, rahmat menolong kita untuk bangkit ke luar dari kedosaan kita, untuk bangkit dari hal-hal yang sekadar natural.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “…… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Inilah rahmat yang sesungguhnya. Rahmat tidak hanya menginspirasikan kita akan hal yang baik, melainkan juga menolong kita untuk mewujudkannya. Kita hanya akan menghasrati hal-hal yang baik apabila pikiran kita dicerahkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan “baik”. Jadi kita tidak dapat menutup diri terhadap rahmat pengetahuan. Kita harus membuka diri terhadap sang Terang, berkemauan untuk melakukan pembacaan bacaan yang baik (Kitab Suci dlsb.), untuk berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik, untuk berdoa. Kita harus senantiasa memohon kepada Allah untuk menerangi kegelapan hati kita.

Namun demikian, walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah Yang Mahatahu. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm 139:8-10). Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 29-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahaun 2015) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 27 Juli 2019)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Perawan (Ordo II)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum”, Yesus berbicara tidak hanya mengenai orang-orang baik dan orang-orang jahat di dunia, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ditemukan di dalam Gereja. Suatu pandangan yang realistis tentang Kekristenan (Kristianitas) harus mampu menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi sedemikian terbiasa terbawa arus dosa, keduaniawian, dan si Jahat sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi hidup orang-orang Kristiani lainnya.

Yesus memperingatkan para murid-Nya – dan Ia terus saja memperingatkan kita – tentang kebutuhan-kebutuhan Gereja. Para bapak Konsili Vatikan II mengakui, “Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Namun di sinilah kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mulai mengidentifikasikan “lalang-lalang” yang ada dalam paroki atau dalam gereja yang lebih besar dan mencoba sendiri menangani dan berurusan dengan mereka semua. Dengan demikian berarti kita menghakimi mereka. Penghakiman atas diri orang lain barangkali juga merupakan lalang yang sangat bersifat destruktif dan satu dari tanda-tanda yang paling jelas dari karya Iblis, “pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why 12:10).

Menyadari bahwa betapa cepat kita dapat menghakimi orang-orang lain, Yesus memperingatkan kita agar selalu memperhatikan balok yang ada di mata kita sendiri sebelum kita mencoba mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara kita (Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya kita tidak ingin melihat dicabutnya semua “orang jelek”, karena kita sendiri tahu betapa tidak ada artinya diri kita sendiri dalam membangun Kerajaan Allah. Kita masing-masing memiliki “benih-benih buruk” dalam hati kita. Jalan terbaik untuk menjamin perlindungan Gereja adalah memohon kepada Roh Kudus supaya menolong kita memeriksa nurani kita dan membebaskan kita dari dosa.

Allah tidak menginginkan kita untuk tidak berbelas-kasih dalam penilaian kita terhadap orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin agar kita berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi Gereja, dengan demikian menjadi para peniru Yesus, yang selalu melakukan syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Bapa (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari dosa dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi Engkau menyelidiki hati umat-Mu, Engkau melihat lalang-lalang dalam diri kami semua. Akan tetapi Engkau juga melihat Putera-Mu terkasih hidup  dalam diri kami. Tolonglah kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Yesus sehingga dengan demikian Gereja yang didirikan-Nya di atas bumi dapat menjadi terang yang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?” (bacaan tanggal 27-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Juli 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BERBAGI ANUGERAH DENGAN ORANG-ORANG LAIN

MARILAH KITA BERBAGI ANUGERAH DENGAN ORANG-ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 10 Juli 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir


Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Kej 41:55-57; 42:5-7a, 17-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3, 10-11, 18-19 

Yesus mengumpulkan kedua belas murid-Nya, memberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan, kemudian mengutus mereka untuk mewartakan Kabar Baik: “Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 10:7). Untuk alasan inilah mereka dinamakan “Rasul”, “yang diutus”. Mereka adalah pribadi-pribadi yang diutus untuk melaksanakan suatu misi.

Dalam artian tertentu, kita semua juga adalah para rasul atau misionaris. Kita semua harus menjadi saksi-saksi Kerajaan Allah, saksi-saksi Kabar Baik … Injil Tuhan Yesus Kristus! Kita telah menerima pesan Kristus dan kepada kita telah diberikan anugerah/ karunia iman. Sekarang, kita harus berbagi anugerah itu dengan orang-orang lain.

Yesus kiranya bersabda kepada para Rasul-Nya bahwa anugerah/karunia yang telah diterima oleh mereka, harus diberikan kepada orang-orang lain sebagai anugerah pula. Para murid/rasul Kristus harus memberi tanpa mengharapkan balasan apapun, kecuali kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendasar.

Sebenarnya apa saja anugerah/karunia yang telah diterima oleh para rasul? Jawabnya: Iman akan pesan Yesus, yaitu “Kerajaan Surga sudah dekat!”, otoritas atas roh-roh jahat, kuasa untuk menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan yang diderita manusia, kuasa untuk membangkitkan orang mati. Segala anugerah/karunia ini harus mereka gunakan untuk kebaikan orang-orang lain, tanpa manfaat apa pun bagi mereka sendiri (bdk. 1Kor 12:7).

Kita semua juga telah menerima anugerah/karunia dari Tuhan Yesus. Ia ingin agar kita berbagi anugerah itu dengan orang-orang lain. Apakah karunia-karunia yang dimaksudkan? Kita semua menikmati karunia kehidupan, energi dari tubuh kita, pancaindera. Kita telah menerima berbagai karunia rahmat: iman, pengharapan , kasih, barangkali karunia Roh. Semua ini pada gilirannya harus dengan penuh kemauan baik kita bagikan kepada orang-orang lain, pada kesempatan yang ada, tanpa mengharapkan balas jasa. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita (anda dan saya) mempunyai/ menyediakan waktu yang cukup untuk orang lain?  Baiklah kita pergi mengunjungi saudari-saudara lansia dan bawalah kepada mereka sukacita yang telah kita terima. Bacalah atau utarakanlah cerita-cerita yang baik bagi mereka dan berdoalah dengan mereka. Sesungguhnya ada banyak cara yang tersedia bagi kita untuk berbagi anugerah/karunia yang telah kita terima.

Manakah cara yang terbaik untuk berbagi karunia/anugerah dengan orang lain? Bagaimanakah kiranya karunia/anugerah itu dapat diterima orang lain dengan ramah dan penuh kasih? Yesus mengatakan kepada kita untuk pergi tanpa niat untuk “tebar-pesona” – without any big show –  dan travel light tanpa membawa terlalu banyak tetek-bengek yang tidak perlu, apabila kita sungguh berketetapan hati untuk menjadi murid-murid-Nya yang sejati (lihat  Mat 10:9-10). Pada awal abad ke-13, tepatnya tanggal 24 Februari 1209 (Pesta Rasul Matias), seorang muda dari Assisi “tertangkap” oleh ayat-ayat yang dibacakan dalam Misa (Mat 10:1-13). Setelah dijelaskan oleh sang imam, OMK (=orang muda Katolik) tersebut dipenuhi dengan sukacita, lalu membuat pernyataan bahwa hal itulah yang akan dilakukannya dengan sepenuh hati. Tidak lama kemudian lahirlah gerakan pembaharuan Gereja pada zaman itu yang berlangsung sampai hari ini: gerakan Fransiskan!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat dengan bebas memberikan diri kami dan berbagai karunia/anugerah yang telah kami terima dari-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL KEDUABELAS RASUL DAN MENGUTUS MEREKA” (bacaan tanggal 10-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Juli 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS