Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Kamis, 28 Juni 2018)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve. 

DOA: Yesus, Putera Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu dan mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu tanpa reserve, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 28-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 27 Juni 2018)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13;23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:33-37,40

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini,  “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau  berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup Allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 27-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MENGHAKIMI ORANG LAIN

JANGANLAH KITA MENGHAKIMI ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XII – Senin, 25 Juni 2018)

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: 2Raj 17:5-8,13-15a,18; Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3-5,12-13

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Mat 7:1)

Ada baiknya untuk bertanya mengapa sulit sekali bagi manusia untuk menghindar dari tindakan menuduh dan menghakimi orang-orang lain.  Sebagian dari jawabannya yang bersifat signifikan terletak pada kenyataan yang menyedihkan namun tak terelakkan, yaitu bahwa kita manusia telah ternodai oleh dosa. Bahkan dalam situasi-situasi yang terbaik pun, kita masing-masing telah menyebabkan orang lain menjadi terluka – dan kita sendiri pun telah dilukai oleh orang-orang lain. Pikirkanlah para anggota keluarga yang saling membenci satu sama lain, atau anak-anak yang pernah sedemikian dicemoohkan oleh saudari-saudara mereka sendiri. Di atas ini semua marilah kita tambahkan kecenderungan kita untuk menyalahkan orang-orang lain, padahal kita sendirilah yang bersalah.

Dengan demikian, apakah yang dapat kita lakukan? Memang benar kita adalah manusia yang memiliki kecenderungan untuk berdosa, namun kita adalah juga anak-anak Allah. Darah Kristus mengalir di dalam hati kita, hal mana membuat kita semua menjadi anggota-anggota satu keluarga. Rahmat-Nya memiliki cukup kuat-kuasa untuk mengubah, bahkan hati-hati yang paling keras sekali pun.

Adalah suatu momen ilahi bilamana kita menolak untuk menghakimi orang-orang lain dan memilih untuk mengasihi mereka. Dari hari ke hari Yesus mengetuk pintu hati kita, dengan sabar Ia menantikan kita mempersilahkan-Nya masuk ke dalam hati kita. Yesus telah mengampuni setiap dosa dalam kehidupan kita – dosa di masa lampau, sekarang dan di masa depan. Ia tidak menghukum kita. Sebaliknya, Dia memberikan kuasa kepada kita untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita. Selagi kita menikmati kerahiman dan rahmat-Nya, kita memperkenankan Dia untuk membentuk personalitas-Nya sendiri dalam diri kita. Pembentukan personalitas-Nya itu menggerakkan kita untuk memohon kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada kita area-area penolakan, kemarahan, dan penghakiman terhadap orang-orang  lain, sehingga kita dapat menjadi sungguh bebas-merdeka.

Banyak dari kita mengalami luka-luka batin mendalam yang menyebabkan kita menjauhkan diri dari orang-orang lain dan menghakimi mereka, bukannya mengasihi mereka. Akan tetapi Allah ingin mencuci-bersih dan membuang dari diri kita segala luka dan kekerasan-kepala kita. Allah tidak ingin melihat apa saja yang menghalangi panggilan-Nya agar kita berbagi kasih-Nya dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu, marilah kita  menyerahkan Kepada Tuhan memori-memori luka lama kita dan juga kebiasaan untuk menghakimi orang-orang lain. Dengan demikian, kita pun dapat merasa yakin bahwa Roh Kudus-Nya akan menyembuhkan kita dan mengajar kita untuk mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menaruh pada kaki-kaki-Mu nama semua orang yang telah menyakiti hatiku. Engkau mengenal mereka masing-masing dan mengetahui juga setiap peristiwa yang menyangkut kami. Basuhlah aku dalam kasih-Mu sehingga aku pun dapat mengampuni mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……” (bacaan tanggal 25-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 22 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA SEBAGAI PRIORITAS

KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA SEBAGAI PRIORITAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Sabtu,  23 Juni 2018)

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih dahulu mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: 2Taw 24:17-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:4-5,29-34

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya.” (Mat 6:33)

Ini adalah sebuah perintah Yesus yang mencakup area yang sangat luas. Namun bagaimana kita dapat mengatakan bahwa prioritas-prioritas kita tersusun sedemikian sehingga menyenangkan hati Allah? Kita dapat memulainya dengan melakukan pemeriksaan apa-apa saja yang mengambil waktu kita, pemikiran kita dan upaya-upaya kita.

Ada banyak hal yang sebenarnya saling bersaing untuk mendapat perhatian kita: keluarga, sahabat-sahabat, pekerjaan, paroki, orang-orang yang mempunyai kebutuhan, tujuan-tujuan kita, kerinduan-kerinduan kita. Selagi kita melakukan survei atas kehidupan kita, kita dapat merasa kewalahan karena begitu banyaknya tuntutan dan hasrat yang menyibukkan diri kita. Kita dapat melihat banyak yang baik, namun tidak sedikit juga yang tidak baik. Hal-hal kecil yang kurang/tidak penting dapat mengambil tempat yang terlalu besar dalam kehidupan kita, dan kita pun bertanya-tanya bagaimana kita akan dapat memenuhi harapan Yesus bahwa kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya … di atas segala urusan lain.

“Janganlah kamu khawatir” (Mat 6:31). Melalui Yesus, Allah telah mencurahkan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing. Ia berdiam dalam diri kita dan tidak akan meninggalkan kita. Apabila kita berbalik kepada Roh Kudus untuk memperoleh pertolongan, Ia tentu akan memberdayakan kita. Ingatlah bahwa “justru dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi sempurna” (2Kor 12:9). Jika kita mengandalkan diri pada Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita setiap hari untuk memilih langkah-langkah kecil yang akan memimpin kita semakin dekat kepada Allah.

Selagi kita bekerja sama dengan Roh Kudus, kita akan melihat Kerajaan Allah secara lebih nyata lagi dalam kehidupan kita. Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang dapat kita ambil:

  • Mulailah setiap hari dengan doa pribadi selama 10 sampai 15 menit. Mintalah Roh Kudus untuk menggerakkan anda, mengajar anda, dan membentuk anda.
  • Sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil, di mana Yesus dinyatakan sebagai Penebus kita dan juga sebagai model kehidupan yang tersedia bagi kita oleh Roh.
  • Jalani kehidupan anda sepanjang hari dengan kepercayaan penuh bahwa Allah mengetahui setiap hal yang anda alami, dan bahkan berbagai kesulitan dan godaan memainkan peranan dalam rencana-Nya bagi keselamatan anda.
  • Setiap malam, lakukan peninjauan kembali atas hari bersangkutan. Berterima kasihlah kepada Allah untuk berkat-berkat-Nya dan bertobatlah atas segala hal yang tidak berkenan di mata Allah. Dengan demikian, kita dapat memulai hari esok dengan suatu hati-nurani yang jernih.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku sepenuhnya bagi-Mu dan bagi kedatangan Kerajaan-Mu di tengah dunia. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, cabutlah sampai ke akar-akarnya segala hal yang merampas serta merebut tempat-Mu dalam kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KHAWATIR TENTANG HIDUPMU” (bacaan tanggal 23-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 19 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA MATAMU BAIK, TERANGLAH SELURUH TUBUHMU …

JIKA MATAMU BAIK, TERANGLAH SELURUH TUBUHMU …

 (Bacaan Kudus Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Jumat, 22 Juni 2018)

Peringatan S. John Fisher, Uskup dan S. Thomas More, Martir-Martir Inggris

OFS: Peringatan S. Thomas More, Martir, Ordo III S. Fransiskus

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Raj 11:1-4,9-18,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11-14,17-18

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:22-23)

Mata untuk melihat adalah sebuah karunia dan merupakan salah satu assets yang sangat berharga. Melalui mata kita dapat mengetahui dan mengenal keindahan dunia dan orang-orang di sekeliling kita; kita membuat penilaian-penilaian yang didasarkan pada observasi-observasi dengan menggunakan mata; kita melihat dunia dan mulai memahaminya. Akan tetapi, ketika Yesus berbicara tentang mata kita yang baik atau jahat (Mat 6:22-23), sebenarnya Dia  tidak mengacu pada penglihatan kita yang bersifat natural. Sebaliknya, Yesus menggunakan kontras yang sudah familiar, yaitu kontras antara “terang” dan “gelap” guna menggambarkan suatu realitas spiritual.

Kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “mata” di sini adalah kesadaran spiritual kita, kapasitas kita untuk menerima pengetahuan dari Allah. “Terang” adalah iman kita: pernyataan dari kebenaran Allah. “Terang” ini lebih daripada sekadar pengetahuan tentang doktrin yang bersifat intelektual karena mencakup juga prinsip-prinsip mendasar yang menjadi tumpuan untuk pengambilan keputusan-keputusan dan tatanan kehidupan kita. Oleh Roh Kudus, Allah memancarkan terang kasih-Nya yang abadi dan kuat-kuasa penebusan dari salib atas diri kita, dan hal ini menjadi dasar pengharapan kita dalam setiap situasi. Jadi, apabila “mata” kita terbuka bagi kebenaran-kebenaran ini, maka keseluruhan pribadi kita akan dipenuhi dengan terang, damai-sejahtera, dan hikmat-kebijaksanaan. Akan tetapi, apabila “mata” kita tertutup terhadap “terang” ini, maka kita akan tertatih-tatih tanpa tujuan seakan-akan seorang yang sedang mabuk dalam sebuah ruangan gelap.

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana dua orang yang menyaksikan suatu peristiwa yang sama, namun mengambil kesimpulan yang saling bertentangan? Kadang-kadang dengan mudah kita dapat mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh perbedaan gender, perbedaan dalam usia, atau perbedaan budaya. Namun dalam banyak kasus, perbedaannya terletak dalam pandangan mata spiritual. Bagaimana kita dapat menjelaskan bahwa seseorang menemukan martabat dan tujuan hidupnya di dalam penderitaan, sedangkan seorang lainnya memandang penderitaan sebagai kesia-siaan tanpa pengharapan? Bagaimana seorang pribadi dapat mengalami kepuasan dalam pengejaran kekayaan sementara seorang pribadi lain menemukan sukacita dalam melayani kaum miskin?

Janganlah sampai kita terkecoh; terang iman mengungkapkan masing-masing situasi apa adanya, bukannya sekadar apa yang “kelihatan” oleh mata fisik. Betapa menyedihkanlah bagi mereka  yang menutup mata mereka bagi iman dan telah membangun hidup mereka di atas fondasi yang mudah rusak. Pada saat yang menyusahkan, mereka tidak mengenal Penghibur yang dapat memberikan pengharapan kepada mereka. Semoga kita semua membuka “mata” kita lebar-lebar agar dapat memandang Allah, sehingga dengan demikian hati kita masing-masing dapat dipenuhi dengan terang-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan diri-Mu kepada kami. Semoga semua orang membuka mata mereka kepada-Mu oleh iman, sehingga dengan demikian kegelapan mereka dikalahkan oleh terang-Mu yang mulia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “KETERKAITAN ANTARA HARTA DAN HATI KITA” (bacaan tanggal 22-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 19 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHKAN SEBELUM ANDA MEMINTANYA

BAHKAN SEBELUM ANDA MEMINTANYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Yesuit – Kamis, 21 Juni 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-7

Apabila anda sungguh ingin menyentuh hati Allah dalam doa anda, dengarlah petunjuk yang diberikan oleh Yesus: Yakinlah bahwa Bapamu sudah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Anda mengetahui bahwa bahkan seekor burung gereja tak akan jatuh ke tanah tanpa perkenanan Allah, maka anda pun dapat merasa pasti bahwa Bapa surgawi mengetahui apa yang anda butuhkan, bahkan sebelum anda memintanya.

Allah senang apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan. Ingatlah kekaguman Yesus atas iman seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya memohon kesembuhan bagi hambanya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10; Luk 7:9). Yesus sangat terkesan dengan perwira itu yang begitu mempercayai-Nya sehingga mengatakan bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk membuat mukjizat kesembuhan. Jadi, karena Allah senang sekali memenuhi kebutuhan kita dan Ia telah merencanakan hal-hal yang baik bagi kita; Allah sungguh senang – amat senang, apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan bahwa Dia pasti menolong kita.

Allah sebenarnya ingin melakukan lebih daripada sekadar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia ingin mempunyai suatu relasi dengan kita masing-masing secara pribadi. Itulah sebabnya mengapa Dia menciptakan kita pada instansi pertama untuk mengenal-Nya. Allah bukanlah seperti sebuah ATM, dari mana kita dapat menarik uang yang kita butuhkan. Karena kasih-Nya yang tak terhingga, Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia menebus manusia dan membawanya ke dalam relasi yang hidup dan dinamis dengan diri-Nya. Dia  juga memberikan Roh-Nya agar dapat mengangkat kita ke hadapan takhta-Nya setiap kali kita berdoa.

Kita orang zaman sekarang menggunakan segala peralatan elektronik canggih – paling sedikit ponsel – untuk berhubungan dengan anggota-anggota keluarga kita sepanjang hari. Akan tetapi, Allah memberikan Putera-Nya sendiri dan mengutus Roh Kudus sehingga kita dapat berbicara kepada-Nya dengan lebih mudah daripada memakai sebuah ponsel. Apabila kita mengenal Allah secara pribadi, sebagai Bapa dan Sahabat, maka kita mulai merindukan kedatangan Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita mencoba cara-cara berdoa baru yang membuka pintu  bagi suatu relasi dengan Dia. Marilah kita dengan segala kejujuran dan penuh kepercayaan menghadap Allah sebagai anak-anak-Nya dan sahabat-sahabat-Nya, dan mohon kepada-Nya agar dapat mengenal-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh mengasihi Engkau. Aku ingin mengenal Engkau secara pribadi. Aku tahu Engkau mengawasi aku dan memperhatikan diriku. Tunjukkanlah kepadaku pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku merindukan suatu kedekatan dengan-Mu, ya Bapa, Tuhan Allahku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 21-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS