Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT

SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaknya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila  mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE” (bacaan tanggal 27-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN AKAR-AKAR YANG BAIK

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirimkan sebuah pesan lewat murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, apakah Dia adalah sang Mesias yang dinantikan, Yesus sebenarnya dapat saja menjawab “ya”. Namun pada kenyataannya Dia mengatakan kepada para murid Yohanes untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22) Dengan kata lain, Yohanes diminta untuk menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang diajarkan Yesus untuk membedakan nabi-nabi yang baik-benar dari nabi-nabi palsu.

Sepanjang sejarah selalu ada saja nabi-nabi palsu. Bagaimana mereka pada hari ini? Bagaimana kita dapat mengenali mereka? Bagaimana kita mengetahui perbedaan antara nabi-nabi palsu dan nabi-nabi yang benar? Dari perbuatan-perbuatan mereka, dari buah-buah yang mereka hasilkan! Yesus bersabda: “Dari buah-buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Apakah yang dimaksudkan “dari perbuatan-perbuatan mereka?” Maksudnya, dari kesetiaan mereka mendengarkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam kitab-kitab Injil, karena Allah dinyatakan kepada kita dalam Kristus dan hanya dalam Dia kita mempunyai jalan yang pasti kepada Bapa surgawi.

Apabila kita mencoba untuk memiliki mata dan telinga yang sehat untuk Injil, mengenalnya melalui pembacaan dan doa, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk melakukan discernment terhadap sentimentalitas yang menyelewengkan ajaran-ajaran Kristus menjadi semacam etika cintakasih yang mudah tanpa disiplin atau pengorbanan. Kita akan mampu untuk mengenali sikap permisif yang  mengaburkan antara benar dan salah, juga legalisme yang seringkali lebih menaruh respek pada huruf-huruf hukum daripada roh suatu peraturan.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada mencari bimbingan dari Roh Kudus. Bilamana kita berada dalam tekanan untuk menemukan keamanan dan kepastian yang sedang kita cari-cari, marilah kita menggantungkan diri sepenuhnya pada Roh Allah untuk membawa kepada kita buah-buah-Nya. Tentang buah-buah Roh ini, Santo Paulus menulis, “… buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kita dapat memastikan diri bahwa nabi palsu tidak ada, jika kita menemukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Buah-buah yang baik mengandaikan keberadaan akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar-kuat dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa dan Kitab Suci, melainkan juga dengan memperkenankan diri-Nya membersihkan kita (bdk. Yoh 15:2). Lewat upaya mendengarkan yang serius dan aktif, berkat rahmat Allah kita dapat menangkap bisikan suara Roh Kudus yang lemah-lembut. Janganlah kita mengabaikan suara lembut Roh Kudus ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau singkirkan. Marilah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita menjadi saksi-saksi profetis dalam dunia ini. Dengan demikian kita  semua akan menghasilkan buah yang berlimpah – buah yang tetap (lihat Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN

SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2019)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.(Mat 7:14)

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Berartikah pengorbanan Yesus itu? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformir diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dri Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Sabtu, 22 Juni 2019)

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13

“…… carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Perintah Yesus ini terasa penuh kuasa dan juga disertai dengan sebuah janji. Bagi guru-guru spiritual tertentu, kesempurnaan adalah absennya hasrat pribadi. Namun bagi Yesus, kesempurnaan bukanlah absennya hasrat pribadi melainkan justru harus ada, yaitu rasa haus dan lapar akan Allah. Mereka yang mencarilah yang akan mendapatkan. Ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” (Mat 7:7-8). Sebelum menyembuhkan dua orang buta di Yerikho, Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” (Mat 20:32). Orang yang tidak mempunyai rasa haus dan lapar tidak pernah akan dikenyangkan. Jenazah orang mati tidak mempunyai hasrat apapun. Lain halnya dengan orang-orang yang merasa haus dan lapar akan kebenaran; mereka akan dipuaskan (lihat Mat 5:6).

Yesus bersabda, “Carilah dahulu …”  Yesus tidak mengatakan, “Jangan cari hal-hal yang lain.”  Yesus mengajar kita untuk mohon diberikan makanan secukupnya (Mat 5:11). Ia juga menjawab berbagai doa permohonan akan kesembuhan. Segala macam doa permohonan untuk kebutuhan bagi pribadi dan keluarga tidaklah sulit bagi kita semua. Namun demikian tidaklah mudah untuk menempatkan doa bagi “Kerajaan Allah dan kehendak-Nya” sebelum permohonan-permohonan lainnya. Untuk itu baiklah kita melihat kembali “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri: “…… datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat 6:10). Bukankah dalam “Doa Bapa Kami” ini kita ajukan sebelum permohonan-permohonan yang lain?

Dalam prakteknya hal ini berarti menetapkan skala prioritas. Dalam Perjanjian Lama Allah memerintahkan umat-Nya untuk mematuhi hari Sabat dan memelihara kesuciannya dst. Bagi kita yang di jaman NOW ini, kita juga harus memprioritaskan waktu kita yang memang terbatas. Marilah kita sejenak diam dalam keheningan dan melakukan peninjauan kembali atas manajemen waktu (time management) kita. Apakah kita menyisihkan waktu misalnya sepuluh menit setiap hari untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci? Berapa banyak waktu yang kita gunakan setiap harinya untuk menonton sinetron di TV, main computer games, ber wa-wa ria dalam grup WA, face-book dlsb.? Apakah kita dapat menyusun kembali waktu sepekan kita untuk misalnya memasukkan acara kegiatan mengunjungi orang sakit dlsb.?

Selain waktu kita juga dapat melihat bagaimana diri kita menetapkan skala prioritas terhadap berbagai penggunaan uang kita. Penyusunan anggaran atau budgeting adalah hal yang wajar. Namun apabila kita mengimani bahwa semua yang kita miliki/peroleh adalah anugerah/karunia dari Allah, maka yang pertama-tama harus kita prioritaskan adalah berapa persen (%) yang harus kita kembalikan kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya dan barulah kemudian kita pikirkan kebutuhan-kebutuhan kita lainnya.

Jika kita mengandalkan diri pada Roh Kudus, maka Dia akan membimbing kita setiap hari untuk memilih langkah-langkah kecil yang akan memimpin kita semakin dekat kepada Allah.

Selagi kita bekerja sama dengan Roh Kudus, kita akan melihat Kerajaan Allah secara lebih nyata lagi dalam kehidupan kita. Berikut ini adalah beberapa langkah kecil yang dapat kita ambil:

  • Memulai setiap hari dengan doa pribadi selama 10 sampai 15 menit. Memohon kepada Roh Kudus untuk menggerakkan kita, mengajar kita, dan membentuk diri kita.
  • Menyediakan waktu setiap hari untuk membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, teristimewa keempat kitab Injil, di mana Yesus dinyatakan sebagai Penebus kita dan juga sebagai model kehidupan yang tersedia bagi kita oleh Roh.
  • Menjalani kehidupan kita sepanjang hari dengan kepercayaan penuh bahwa Allah mengetahui setiap hal yang kita alami, bahkan berbagai kesulitan dan godaan memainkan peranan dalam rencana-Nya bagi keselamatan anda.
  • Setiap malam melakukan peninjauan kembali atas hari bersangkutan. Kita berterima kasih kepada Allah untuk berkat-berkat-Nya dan bertobat atas segala hal yang tidak berkenan di mata Allah. Dengan demikian, kita dapat memulai hari esok dengan suatu hati-nurani yang jernih.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengabdikan hidupku sepenuhnya bagi-Mu dan bagi kedatangan Kerajaan-Mu di tengah dunia. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, cabutlah sampai ke akar-akarnya segala hal yang merampas serta merebut tempat-Mu dalam kehidupanku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAK-NYA” (bacaan tanggal 22-9-19) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

Cilandak, 20 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRI SENDIRI

JANGAN MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRI SENDIRI DI BUMI

(Bacaan Kudus Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Jumat, 21 Juni 2019)

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:18,21b-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7

Setelah menyelesaikan uraian terkait bagian Kristiani dari tradisi-tradisi Yahudi tentang pemberian derma, doa dan puasa, Matius sekarang mengumpulkan sejumlah kata-kata  atau sabda-sabda Yesus, semua itu merupakan konsekuensi-konsekuensi praktis dari martabat Allah sebagai seorang Bapa sebagaimana diproklamasikan dalam doa “Bapa Kami”. Jika ada satu tema yang terus berjalan sampai akhir “Khotbah di Bukit” ini, maka temanya adalah ini: Apabila Allah adalah Bapamu, maka percayalah kepada-Nya dan tunjukkanlah bahwa rasa percayamu dengan cara hidupmu.

Musuh pertama dari rasa percaya (trust) dimaksud adalah nafsu akan harta-kekayaan. Ironinya adalah bahwa harta benda duniawi, bahkan uang itu sendiri adalah barang-barang yang tidak tahan lama dan mudah menjadi rusak, bagaimana pun ketatnya kita menjaga semua itu. Di banyak negera terkebelakang masih ada praktek luas di mana orang-orang menguburkan harta-benda mereka di bawah lantai rumah mereka, atau membuatnya menjadi perhiasan yang dipakai sehari-hari. Apakah bank-bank atau bursa saham dewasa ini lebih aman? Inti masalahnya adalah bahwa bagaimana pun besarnya harta benda atau betapa amannya penyimpanan atau investasi, rasa cemas tentang semua itu mengklaim hati kita. Yesus tidak menyalahkan atau katakanlah “mengutuk” pencarian nafkah secara jujur. Yesus memperingatkan bahaya dari pengumpulan dan penumpukan harta-kekayaan, yang menguras energi dan menjauhkannya dari upaya pengumpulan harta-kekayaan spiritual yang tidak pernah akan rusak.

Rasa cemas akan kepemilikan materiil dan kebutuhan sehari-hari memang seharusnya tidak menghabiskan waktu dan energi seorang murid Yesus, dan menyimpangkan dirinya dari tanggung-jawabnya sebagai seorang anak Allah. Secara total terserap dalam hal pengejaran hal-hal duniawi berarti tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Prioritas seorang beriman haruslah mencari Kerajaan Allah dengan ketaatan terhadap kehendak Allah (Mat 6:33).

Dalam konteks inilah Matius menempatkan “perumpamaan tentang mata sebagai pelita tubuh” (Mat 6:22-23). Jika mata memberikan terang yang mengarahkan seluruh pribadi seseorang, maka iman akan ajaran Yesus tentang rasa percaya, dan ketidaklekatan akan hal-hal duniawi,  akan memenuhi diri seorang murid dengan terang dan panduan-panduan untuk segala tindakannya. Tanpa ini semua berarti sang “murid” berjalan sambil meraba-raba dalam sebuah dunia kegelapan.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat mengenal diriku sendiri, untuk mempunyai mata yang baik dan menjadi anak-anak Bapa surgawi yang senantiasa taat kepada kepada kehendak-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA MATAMU BAIK, TERANGLAH SELURUH TUBUHMU …” (bacaan tanggal 21-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 BACAAN HARIAN JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 15 Juni 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH KEHENDAK-MU

JADILAH KEHENDAK-MU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 20 Juni 2019)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

Kadang-kadang kita melihat bahwa kata-kata Yesus yang paling sederhana berisikan jawaban-jawaban atas situasi-situasi dalam kehidupan yang paling memberi tantangan. Demikianlah halnya dengan “Doa Bapa Kami”. Karena begitu seringnya kita mendoakan “Doa Bapa Kami”, maka kita mungkin saja luput melihat maknanya yang begitu kaya. Mendoakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri itu dapat membawa kepada kita pengharapan dan kesembuhan. Doa ini juga dapat membuka pintu kepada suatu relasi yang begitu mendalam sehingga doa itu mencerminkan cintakasih dan keintiman antara  Yesus dan Bapa-Nya. Melalui doa ini, kita dapat mengalami berkat yang sungguh indah: Allah menawarkan kepada kita kasih yang sama dengan kasih-Nya bagi Yesus, Putera-Nya terkasih (lihat Yoh 17:26).

Dua kata pertama dari doa ini, “Bapa kami”, memperkenalkan kita kepada kasih Allah kepada kita. Dapatkah kita membayangkan seseorang yang memiliki kuasa besar dalam dunia ini menawarkan diri untuk memperhatikan segala kebutuhan kita? Sekarang, Allah, Khalik langit dan bumi, mengundang kita untuk memanggil-Nya sebagai “Bapa”. Bagaimana pun tak pantasnya kita memandang diri kita atau tidak signifikannya kita menilai diri kita, di mata Allah kita adalah anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya sejak awal dunia.

Ketika kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, kita tidaklah menyerahkan diri kita kepada “seorang” Allah yang suka mengambil keputusan secara sewenang-wenang, melainkan secara aktif kita merangkul segalanya yang diputuskan oleh Bapa kita. Kita menaruh rasa kepercayaan kita kepada Dia yang rencana-Nya bagi kita jauh melampaui ekspektasi kita yang seringkali terbatas. Selagi kita “bereksperimen” dengan iman seperti ini, maka kita belajar tentang kebenaran janji-janji Allah. Dari waktu ke waktu Allah menunjukkan kepada kita bahwa rencana-Nya bagi kita adalah demi kebaikan kita sendiri, yaitu “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan” (lihat Yer 29:11).

Allah Bapa kita tidak pernah membuang kita dan tidak pernah merencanakan untuk mencelakakan diri kita. Kasih-Nya adalah sempurna. Oleh karena itu, mulai hari ini, selagi kita mendoakan “Doa Bapa Kami”, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membawa kita ke dalam relasi dengan Allah yang lebih mendalam. Kita adalah anak-anak-Nya yang terkasih, dan hanya Dia yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan pengharapan kita. Daripada mempercayai sumber-daya kita sendiri yang sangat terbatas, marilah kita berpaling kepada Dia yang senantiasa memperhatikan kita dengan penuh kasih sayang. Marilah kita mohon kepada-Nya agar hati kita masing-masing dapat dijadikan seperti hati Yesus sendiri selagi kita berdoa, “jadilah kehendak-Mu”.

DOA: Roh Kudus, ajarlah kami masing-masing agar dapat berdoa seperti Yesus berdoa. Buatlah kami agar dapat masuk ke dalam suatu relasi yang lebih dalam lagi dengan Bapa surgawi. Penuhilah diri kami dengan pengetahuan akan martabat kami sebagai anak-anak Bapa yang dikasihi-Nya. Oleh kuasa-Mu, semoga kami dapat menyerahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “BAHKAN SEBELUM ANDA MEMINTANYA” (bacaan tanggal 20-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 15 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HARUS MEYAKINI BAHWA ALLAH TIDAKLAH KIKIR

KITA HARUS MEYAKINI BAHWA ALLAH TIDAKLAH KIKIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 19 Juni 2019)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-4,9 

“…… Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.(Mat 6:4)

Allah Bapa bukanlah “seorang” pribadi yang kikir. Kitab Suci dengan tidak lelah-lelahnya menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang sangat bermurah hati tanpa kita-manusia dapat membayangkannya. Kita semua mengetahui bahwa “Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kita” (2Kor 9:8), namun apakah kita sungguh percaya bahwa Dia memang ingin memperhatikan dan memelihara kita sebagai anak-anak-Nya? Apakah kita percaya bahwa Allah sungguh mengasihi kita? Dalam hal ini, baiklah kita mengingat bahwa Allah – karena kasih-Nya yang demikian besar – telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal sebagai penebus umat manusia (lihat Yoh 3:16). Kita harus bersikap jujur kepada diri kita sendiri dan mengakui bahwa tidak ada kasih atau kemurahan-hati yang lebih besar daripada yang telah ditunjukkan oleh Allah – sang Khalik langit dan bumi –  kepada manusia, makhluk ciptaan-Nya.

Namun, walaupun kita telah melihat bukti cintakasih dan kemurahan hati Allah bagi kita, selalu ada saja godaan untuk mengandaikan bahwa kita tidak akan melihat ganjaran atas kesetiaan kita sampai kita masuk ke dalam surga kelak. Memang benar ada harta-kekayaan yang tak terbayangkan sedang menantikan kita di surga, namun hal itu bukanlah berarti bahwa Allah mengabaikan dan tidak menghargai kehendak bebas yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita sejak kita diciptakan. Allah tidak ingin melihat kita terus taat kepada-Nya seperti robot, dengan harapan kita akan mendapat ganjaran pada akhirnya. Allah senantiasa melihat serta memperhatikan segala sesuatu yang kita lakukan – baik maupun buruk. Ia melihat setiap tindakan kebaikan kita, setiap kali kita berdoa, dan setiap tindakan pantang dan puasa dan lain-lain bentuk mati-raga yang kita lakukan – dan Ia bersukacita melihat semua itu!

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar imbalan-jasa sederhana atas perbuatan baik yang telah dilakukan seseorang. Yesus berbicara tentang suatu pengharapan dan doa bahwa para pendengar-Nya akan mengembangkan suatu relasi yang hidup dengan Bapa-Nya, suatu relasi di mana mereka akan mengetahui kehadiran Allah, mendengar suara-Nya dalam hati mereka, dan mulai mengenali tangan-Nya yang sedang bekerja memberkati mereka karena kesetiaan mereka.

“Ganjaran” macam apa yang dapat kita harapkan? Bagaimana tentang keyakinan yang lebih besar bahwa kita sedang mengikuti kehendak-Nya? Bagaimana tentang suatu visi dan arahan yang lebih kuat bagi kehidupan kita? Bagaimana tentang suatu kemampuan yang lebih besar untuk menghindar dari godaan dan mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kita? Bagaimana tentang relasi yang lebih kuat dengan anggota keluarga kita? Bagaimana dengan jawaban-jawaban terhadap  doa-doa terdalam dalam hati kita? Kemungkinan-kemungkinan yang ada memang tanpa batas, dan semua itu mengalir dari hati “seorang” Bapa yang senantiasa memperhatikan anak-anak yang sangat dikasihi-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah pada hari ini kita memperbaharui komitmen kita untuk taat kepada Allah, bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur kita atas segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya bagi kita dan terus akan dilakukan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin menyenangkan-Mu dalam segala hal yang aku pikirkan, katakan, dan lakukan. Bimbinglah aku dalam jalan-Mu dan lindungilah aku dari segala godaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6.16-18), bacalah tulisan yang berjudul “WASPADALAH TERHADAP SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 19-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 15 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS