Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

YESUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKANNYA, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

YESUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKANNYA, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 18 Maret 2020)

Peringatan Fakultatif S. Sirilus dr Yerusalem, Uskup Pujangga Gereja

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20 

Bacaan Injil hari ini (3 ayat) adalah sebagian kecil dari pengajaran-pengajaran Yesus yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit”, yang indah dan penuh kuasa. Ini adalah kata-kata yang digunakan oleh Yesus selagi Dia mengajar para murid-Nya di sebuah bukit.

Pada hari ini, selagi kita membaca dan merenungkan sabda-Nya, Yesus masih memberi pengajaran yang sama. Tidak berubah! Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa keempat Injil bukanlah sekadar untuk mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan Yesus di masa lampau, juga bukan hanya untuk mengingat-ingat apa yang telah disabdakan oleh-Nya sekitar dua ribu tahun lalu.

Sesungguhnya Yesus masih hadir dalam kitab-kitab Injil, dalam sabda-Nya, dalam suatu cara yang sangat unik. Selagi kita membaca sepotong bacaan dari Injil, kita menjadi sadar akan cara istimewa Yesus datang kepada kita pada hari ini. Kadang-kadang Ia datang sebagai Penyembuh, kadang-kadang sebagai Sahabat atau Penghibur, kadang-kadang Ia datang sebagai Guru. Pada hari ini Yesus datang kepada kita untuk menyediakan sedikit waktu dengan kita sebagai Guru. Dia membawa kepada kita satu dari pengajaran-pengajaran-Nya yang diberikan-Nya dalam “Khotbah di Bukit”. Dan Ia mengajar kita dengan otoritas yang sama dan kehadiran ilahi-Nya yang sama pula seperti pada saat “Khotbah di Bukit”

Yesus hidup di bawah Hukum Musa, dengan berbagai lapisan peraturan-peraturan. Bahkan bagi orang-orang Yahudi yang paling setia pun di tanah Palestina pada abad pertama, memenuhi yang tersurat dalam hukum sudah begitu sulitnya karena “hukum” itu telah bertumbuh menjadi sedemikian kompleks dengan berjalannya waktu. Akan tetapi,  kematian dan kebangkitan Yesus menggenapi hukum yang lama dan meresmikan suatu hukum kasih yang baru yang jauh lebih sederhana. Ketika seorang ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36), Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah peritah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).

Nah, apabila mengikuti Yesus terdengar begitu sederhana, mengapa kelihatannya kok sulit? Sesungguhnya tidaklah sulit. Kita memenuhi hukum kasih Yesus setiap saat kita melakukan suatu tindakan kebaikan dalam nama-Nya, ketika mengucapkan kata-kata guna menyemangati seseorang yang hampir putus-asa dalam kehidupannya, atau pada saat kita mengampuni seseorang yang telah bersalah kepada kita. Seorang anak muda memenuhi hukum kasih itu ketika dia membantu seseorang yang sudah lansia, misalnya dengan memberikan tempat duduk di dalam bis kota yang begitu padat. Seorang ibu memenuhi hukum kasih itu ketika dia berdoa untuk anak gadisnya yang remaja dan teman-teman sekelasnya.  Seorang pekerja kantor memenuhi hukum kasih pada saat dia sungguh mengambil waktu dalam suasana doa guna mendengarkan keprihatinan seorang rekan kerjanya.  Setiap hal “kecil” yang kita lakukan demi kasih kepada Allah dan saudari-saudara kita mempunyai kekuatan yang lebih “besar” daripada pekerjaan-pekerjaan “besar” yang mungkin kita lakukan, namun dengan cintakasih yang berkadar kecil saja.

Yesus mengajar kita dengan contoh kehidupan-Nya sendiri. Lewat contoh kehidupan kita, kita dapat memimpin orang-orang kepada Kristus, artinya memenuhi hukum kasih Yesus seperti telah diperintahkan-Nya kepada kita. Marilah kita berjuang agar dapat menjadi kenisah-kenisah Allah yang hidup, memenuhi hukum kasih Yesus selagi kita menunjukkan rasa hormat kita kepada setiap orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah berbicara kepada kami pada hari ini, dan juga karena Engkau menjanjikan Kerajaan Allah bagi kami apabila kami mendengarkan pesan-pesan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ul 4:1,5-9), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MENCURAHKAN HIDUP DALAM ROH KUDUS (bacaan tanggal 18-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

Cilandak, 16 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAMPUNAN BERADA PADA PUSAT SPIRITUALITAS KRISTIANI

PENGAMPUNAN BERADA PADA PUSAT SPIRITUALITAS KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2020)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

Bapa surgawi ingin agar relasi kita dengan diri-Nya dipulihkan kembali, juga relasi kita dengan sesama satu sama lain, dan “pengampunan” adalah pintu gerbang bagi kita untuk masuk ke dalam berkat ilahi yang indah ini. Karena Yesus menumpahkan darah-Nya bagi kita, maka kita dapat menaruh kepercayaan pada pengampunan Bapa surgawi dan menerima semua harta yang ingin dicurahkan-Nya atas diri kita. Menerima pengampunan dari Allah dan belajar mengampuni orang-orang lain dapat membawa kesembuhan yang luarbiasa, baik bagi hati kita sendiri maupun untuk relasi-relasi kita dengan orang-orang lain.

Beberapa tahun lalu terjadi pembunuhan sadis atas diri Ade Sara Angelina Suroto (19). Ade Sara kehilangan nyawa karena dianiaya dan dibunuh dengan kejam di dalam sebuah mobil oleh Assyifa (18) dan Ahmad Imam al Hafitd (19), yang adalah teman-temannya semasa sekolah di SMA. Hafitd adalah mantan pacar Ade Sara (mereka pacaran ketika di SMA) dan Assyifa adalah pacar Hafitd. Ade Sara terakhir kali adalah mahasiswi di Universitas Bunda Mulia. Ade Sara adalah anak tunggal dari pasutri Elisabeth Diana dan Suroto, dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat tanggal 7 Maret 2014. Seusai upacara pemakaman, Elisabeth Diana mengatakan bahwa dia memaafkan dua orang pembunuh puteri tunggalnya itu. Salah satu komentar yang disampaikannya kepada wartawan Kompas.com: “Saya yakin mereka anak yang baik. Hanya, pada saat itu mereka tidak bisa menguasai sisi jahat dari diri mereka.” Ada juga yang mencatat bahwa Elisabeth Diana mengatakan, “Saya tidak punya hak utk menghakimi, benci dan dendam pada pembunuh anak saya, karena saya percaya ini jalan terbaik dari Tuhan untuk anak saya.” Pengampunan kepada pihak yang berbuat jahat ini sempat mengherankan banyak orang. Misalnya dalam sebuah acara interaktif sebuah stasiun radio terkenal, seseorang mengatakan bahwa dia kagum akan sikap dan perilaku ibunda dari Ade Sara, “walaupun” dia bukan seorang Muslim. Ibu Elisabeth sebenarnya – dalam imannya sebagai seorang Kristiani – mempraktekkan ajaran Yesus untuk mengampuni; dan kita semua harus melakukan hal yang serupa sebagai saksi-saksi Kristus. Ya, pengampunan memang berada pada pusat spiritualitas kita sebagai umat Kristiani.

Hati Yesus berkelimpahan dengan belas kasih (kerahiman) dan bela rasa. Bahkan ketika Dia sedang tergantung pada kayu salib, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Sekarang, pengampunan ini juga tersedia bagi kita setiap hari. Pengampunan Allah dipenuhi dengan kasih ilahi-Nya, kasih yang mempunyai kuat-kuasa untuk menghangatkan hati kita, bahkan ketika kita telah mengalami ketidakadilan yang luarbiasa. Pada kenyataannya, hanya apabila kita telah mengalami pengampunan ini maka kita baru akan siap untuk memberikan pengampunan tersebut kepada orang-orang lain.

Yang indah tentang pengampunan Allah yang mengalir melalui diri kita adalah bahwa sementara hal tersebut membawa kebebasan yang luarbiasa kepada kita, hal tersebut juga membebaskan pihak yang telah bersalah kepada kita. Ketika kita mengampuni seseorang, maka kita tidak hanya membuka hati bagi kasih Allah, tetapi juga kita membebaskan orang lain itu dari penolakan kita, dengan demikian memampukan dirinya untuk menerima kasih Allah dan penyembuhan-Nya juga. Ini adalah suatu kenyataan yang mengagumkan.

Setiap kali kita memohon kepada Roh Kudus untuk memeriksa hati nurani kita, maka kita berjumpa dengan “seorang” Bapa yang begitu bergairah untuk memulihkan diri kita. Pengampunan-Nya atas diri kita membuka pintu bagi kita untuk mengampuni orang-orang lain, jadi menyembuhkan relasi-relasi yang sudah patah. Selagi kita datang menghadap Yesus, Ia akan memanggil kita untuk pergi menjumpai orang-orang dengan siapa kita perlu melakukan rekonsiliasi. Diiringi doa, marilah kita mempertimbangkan langkah yang sedemikian, karena kita tahu bahwa Yesus akan ada bersama kita dan Ia akan membawakan kesembuhan dan kebebasan bagi kita selagi kita menaruh kepercayaan pada sabda-Nya.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan selidikilah hatiku dan mampukanlah diriku agar dapat mengampuni orang-orang yang telah Engkau tempatkan dalam hidupku. Ampunilah aku dan curahkanlah karunia pengampunan-Mu ke dalam hatiku. Oleh rahmat-Mu, biarlah aku membuang pergi segala penolakanku. Aku memberikan hatiku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA KITA MARAH TERHADAP SAUDARI-SAUDARA KITA” (bacaan tanggal 6-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 4 Maret 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MCK [MINTALAH, CARILAH, DAN KETUKLAH]

MCK [MINTALAH, CARILAH, DAN KETUKLAH]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Kamis, 5 Maret 2020)

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12) 

Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

Salah satu dari pokok-pokok yang Yesus ingin supaya kita percayai dengan teguh adalah bahwa doa itu pasti dijawab oleh Bapa di surga. Yesus ingin kita berdoa dengan segenap rasa percaya seorang anak yang meminta ini dan itu dari orangtuanya yang mengasihinya. Permohonan/permintaan dan jawabnya berjalan bersama dalam sebuah doa, dua bagian dari suatu keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan: Doa tanpa jawaban adalah doa yang tidak lengkap. Bapa surgawi tidak ingin kita merasa puas sekadar karena dengan tak putus-putusnya memanjatkan doa-doa permohonan ke surga dengan pengharapan ada yang didengar. Kita seharusnya mengharapkan dan menantikan jawaban-jawaban terhadap doa-doa kita. Yesus bersabda: “Setiap orang yang meminta, menerima” (Mat 7:8). Jika tidak/belum ada jawaban, maka kita harus dengan rendah hati memohon kepada Allah – melalui Roh Kudus – agar mengajar kita bagaimana berdoa dengan lebih giat lagi seturut kehendak-Nya.

Meminta, mencari dan mengetuk, semua menyarankan perlunya ketekunan. Kita “meminta” rahmat yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah; kita “mencari” wajah Yesus yang adalah “terang dunia” (Yoh 8:12; 9:5); dan kita “mengetuk” agar supaya kita dapat masuk dan berdiam dalam hadirat Allah. Bapa surgawi memberikan kita rahmat, menyatakan misteri Kristus, dan menyambut kita datang ke hadapan hadirat-Nya. Bilamana pengalaman kita dalam hal-hal ini masih terbatas, maka kita harus meminta kepada Allah agar diberikan iman dan rasa percaya yang lebih mendalam lagi akan kebaikan-Nya yang penuh kasih kepada kita.

Kita semua perlu belajar bagaimana berdoa, dan Yesus sangat senang mengajar kita dalam hal itu, sebagaimana Dia telah mengajarkannya kepada para murid-Nya yang awal. Pelajaran pertama adalah bahwa doa tidak pernah sia-sia; dan selalu didengar dan dijawab. Yesus ingin hal ini tertanam dalam-dalam di hati dan pikiran kita sehingga dengan demikian kita akan senantiasa mengharapkan hal-hal baik dari Allah. Jelaslah bahwa Dia yang baik dan sumber segala kebaikan mengetahui bagaimana memberikan hal-hal yang baik kepada kita, anak-anak-Nya.

Dengan dorongan dari Guru kita, kita dapat bertekun dalam “sekolah doa”. Marilah kita meminta/memohon rahmat dari Allah agar kita dapat bertumbuh dalam kehidupan Kristiani kita dan juga setia dengan resolusi-resolusi spritual yang kita buat di awal masa Prapaskah ini (lihat bacaan hari Sabtu, tanggal 8 Maret 2014: “BUAH-BUAH DARI PERBUATAN KASIH”).

Pada bagian akhir petikan bacaan Injil hari kita dapat membaca sabda Yesus: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Sebuah perintah yang bersifat straight to the point dan kiranya tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Inilah yang dikenal sebagai The Golden Rule dalam dunia manajemen (catatan: bukan “golden ways”-nya Mario Teguh) yang patut kita taati dalam kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Bapa surgawi, semoga masa Prapaskah ini sungguh-sungguh menjadi masa restorasi bagi semua umat-Mu. Kami ingin mencicipi kepenuhan hidup yang Engkau ingin berikan kepada kami. Melalui Roh Kudus-Mu, ajarlah kami untuk berdoa secara benar dan dengan ketekunan agar dapat memperoleh jawaban-jawaban terhadap doa-doa kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “IA HANYA AKAN MEMBERIKAN HAL-HAL YANG BAIK KEPADA KITA” (bacaan tanggal 5-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 3 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMPUNYAI BAPA YANG SUNGGUH SEMPURNA

KITA MEMPUNYAI BAPA YANG SUNGGUH SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 3 Maret 2020)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Kira-kira seorang ayah yang ideal itu seperti apa ya? Tentunya dia memperhatikan anak-anaknya, memberikan apa-apa yang sungguh dibutuhkan anak-anaknya. Dia akan mendisiplinkan anak-anaknya, mendidik serta mengajar anak-anaknya bagaimana menjalani kehidupan ini, menghibur anak-anaknya ketika mereka disakiti dan/atau sedang “down”, dan dia ikut bergembira-ria ketika anak-anaknya sedang “hepi-hepi”. Seorang ayah yang ideal itu nyaris sempurna (tidak ada yang sempurna), dapat dipercaya dan menjadi tumpuan kepercayaan dan harapan anak-anaknya, dan tentunya dicintai oleh anak-anaknya.

Ketika Yesus mengajar kita doa “Bapa kami”, Dia mengajar kita bahwa Allah yang kita sembah adalah “seorang” Ayah/Bapa yang sungguh sempurna. Allah adalah Dia yang memelihara dan menopang hidup kita sehingga kita dapat balas mengasihi-Nya. Kita dapat melihat secara agak samar-samar relasi umat dengan Bapa surgawi ini dalam Perjanjian Lama. Kepenuhan relasi itu sendiri terwujud dalam diri Yesus, sang Putera yang sempurna, yang menyatakan Bapa kepada kita. Dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat acuan-acuan kepada Allah sebagai “Bapa” dalam Kitab Sirakh (Sir 23:1,4); juga dalam Kitab Tobit (Tob 13:4). Dalam Kitab Yesaya kita membaca bahwa seluruh umat Israel memanjatkan doa permohonan kepada Allah sebagai Bapa mereka (Yes 63:15-16); demikian pula halnya dengan sabda Allah sendiri dalam Kitab Yeremia (Yer 3:4,19).

Akan tetapi, semua acuan kepada Allah sebagai Bapa dalam Perjanjian Lama tetap mempertahankan suatu formalitas yang secara radikal diakhiri oleh Yesus ketika dia menyapa Allah dalam bahasa Aram sebagai “Abba” (lihat Mrk 14:36). Penggunaan kata “Abba” oleh Yesus ini menunjukkan keakraban relasi-Nya dengan Bapa surgawi – tidak ada presedennya dalam hidup keagamaan bangsa Yahudi. Nah, keakraban atau intimasi dengan Bapa surgawi sekarang juga milik kita, karena kita – sebagai saudari dan saudara Kristus dan anak-anak “angkat” Allah – mempunyai relasi serupa dengan Bapa surgawi.

Bapa surgawi sungguh merasa senang apabila kita berdoa kepada-Nya dan menyapa-Nya sebagai Bapa dan kita menyatakan keberadaan diri kita sebagai anak-anak-Nya seperti Kristus sendiri. Yesus, Putera Bapa yang sejati, adalah jalan hidup untuk sampai kepada Dia yang akan merangkul kita dalam kasih dan kelemah-lembutan.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus memulihkan (merestorasikan) hubungan kita dengan Bapa sampai mencapai tingkat keakraban dan mempribadi seperti ini. Bersatu dengan Yesus, sang Putera yang sempurna, kita turut mengambil bagian dalam martabat-Nya sebagai Putera Bapa. Sekarang, selagi kita berdoa menurut kata-kata yang diajarkan Yesus kepada kita, kita dapat menghadap hadirat Bapa dengan penuh kepercayaan diri, karena kita yakin akan kasih-Nya kepada kita dan bahwa Dia memberikan kehidupan kepada kita, dan bahwa sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya secara mendalam, dia akan mencurahkan berbagai karunia kepada kita.

DOA: “Bapa kami”.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 55:10-11), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA BUTIR PERMENUNGAN TENTANG SABDA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 3-3-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak,  1 Maret 2020 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OF

YESUS MEMANGGIL KITA KEPADA PERTOBATAN, SUATU PERUBAHAN HATI

YESUS MEMANGGIL KITA KEPADA PERTOBATAN, SUATU PERUBAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU ABU – 26 Februari 2020)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6,16-18) 

Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua 1Kor 5:20-6:2 

Bagi orang-orang Yahudi, ada tiga pilar yang mendukung (menjadi dasar) kehidupan yang baik: [1] pemberian sedekah, [2] doa dan [3] puasa. Yesus sendiri tidak mau memperdebatkan hal tersebut selama motif yang yang mendasari paham itu benar, yaitu kasih kepada Allah dan sesama. Namun yang membuat susah diri-Nya adalah, bahwa begitu sering dalam kehidupan manusia, hal-hal terbaik dilakukan berdasarkan motif-motif yang keliru. Yesus memperingatkan orang-orang itu, bahwa apabila hal-hal ini dilakukan dengan tujuan tunggal untuk memuliakan si pelaku, maka hilanglah bagian yang paling penting dari nilai tiga pilar pendukung kehidupan baik tersebut.

Seseorang dapat saja memberikan sedekah, bukan untuk sungguh menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan, melainkan untuk mempertunjukkan kemurahan-hatinya dan untuk menikmati kehangatan rasa syukur orang yang ditolong dan pujian dari orang banyak. Seseorang dapat saja mempraktekkan pekerjaan baik hanya untuk memperoleh pujian dari orang-orang lain, untuk meningkatkan prestise-nya sendiri, dan untuk menunjukkan kepada dunia betapa baik dirinya. Seperti Yesus sendiri melihatnya, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan itu berharga di mata-Nya. Oleh karena itu Dia mengatakan kepada kita: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya” (Mat 6:2). Jadi, apabila anda memberikan sedekah sekadar untuk mempertunjukkan kemurahan-hati anda sendiri, memang anda akan dapat menimbulkan kekaguman orang-orang lain, namun hanya itulah yang anda akan peroleh.

Seseorang dapat saja berdoa sedemikian rupa sehingga “doa”-nya tidaklah benar-benar dialamatkan kepada Allah, melainkan kepada orang-orang lain di sekelilingnya. “Doa”-nya sekadar merupakan suatu upaya untuk mempertunjukkan “kesalehan” pribadi yang “luar biasa” dengan cara yang tidak-dapat-tidak orang-orang lain dapat melihatnya. Dalam hal ini Yesus bersabda: “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya” (Mat 6:5). Jadi, apabila anda berdoa sedemikian rupa untuk memamerkan “kesalehan” anda di depan banyak orang, maka anda akan memperoleh reputasi sebagai seorang pendoa yang hebat, seorang pribadi yang saleh, namun hanya itulah yang anda akan peroleh.

Seseorang dapat saja berpuasa, sebenarnya bukan untuk kebaikan jiwanya sendiri, bukan untuk merendahkan dirinya di hadapan Allah, melainkan sekadar untuk menunjukkan kepada orang-orang lain bahwa dirinya adalah seorang pribadi yang memiliki karakter yang penuh disiplin. Mengenai puasa ini Yesus bersabda: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya” (Mat 6:16). Jadi, apabila anda berdoa sedemikian rupa sehingga orang-orang lain tahu bahwa anda sedang berpuasa, maka anda akan memperoleh reputasi sebagai seorang pribadi yang sangat asketis dan spiritual, namun hanya itulah yang anda akan peroleh.

Jadi, apabila niat kita adalah untuk memperoleh bagi diri kita ganjaran dari “dunia”, maka kita tidak perlu ragu-ragu karena kita akan memperolehnya, namun kita seharusnya mencari ganjaran-ganjaran yang hanya dapat diberikan oleh Allah saja. Kita tidak boleh puas dengan ganjaran-ganjaran saat ini. Kita harus mengejar ganjaran-ganjaran yang bersifat abadi, karena seperti dikatakan Yesus sendiri: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26; bdk. Mrk 8:36; Luk 9:25).

Dalam Masa Prapaskah yang dimulai pada hari Rabu Abu ini, Yesus memanggil kita kepada pertobatan, suatu perubahan hati. Conversio mempunyai dua karakter. Yang pertama adalah pertobatan atau meninggalkan dosa. Kedua adalah berpaling kepada Allah. Kita meninggalkan kedosaan agar dapat berpaling serta kembali kepada Allah, sehingga kita dapat melekatkan diri kita kepada-Nya, agar kita dapat dipersatukan dalam kasih dengan Allah dan sesama kita. Guna menolong kita dalam conversio dan kekudusan, Gereja menganjurkan tiga praktek pertobatan: pemberian sedekah, berdoa dan berpuasa (lihat catatan di atas). Baiklah kita menjalani praktek pertobatan  dalam Masa Prapaskah ini seturut kehendak Allah. Itulah satu-satunya motif yang benar!

Selama 40 hari ke depan kita semua mempunyai kesempatan emas untuk  belajar dari Yesus tentang bagaimana seharusnya kita berdoa, bagaimana bertumbuh dalam kemurahan hati dan bagaimana diri kita dibersihkan dan menjadi bebas dari dosa. Tahukah kita cara terbaik untuk belajar dari Tuhan Yesus di padang gurun? Tidak hanya melakukan hal-hal yang kita lihat Dia lakukan di padang gurun seperti berpuasa dan memakai waktu lebih banyak dalam berdoa, melainkan melakukan hal-hal tersebut dalam semangat seperti yang dimiliki Yesus. Yesus pergi ke padang gurun untuk menyenangkan Bapa-Nya dan untuk merangkul rencana Bapa-Nya dengan segenap hati-Nya. Dia melakukan hal  itu dengan kesadaran sepenuhnya  bahwa Dia akan survive hanya apabila Dia tetap mengarahkan pandangan-Nya kepada Bapa-Nya dan bukan diri-Nya sendiri – hanya apabila dia memperkenankan kasih Bapa memenuhi diri-Nya, menopang-Nya, dan memberikan kekuatan kepada-Nya.

Melakukan sesuatu karena dipandang “baik” dapat membuat kita salah arah juga. Jika hati kita tidak dalam posisi kedinaan/kerendahan hati dan ketergantungan sepenuhnya pada Allah, maka paling-paling hanya memberikan kepuasan bahwa kita telah taat. Sebaliknya, jika kita mengambil disposisi Yesus, yaitu penyerahan diri dengan kerendahan hati, kita tidak menjadi puas, melainkan menjadi kudus! Kemudian, karena kita telah turut ambil bagian dalam sengsara dan kematian Yesus, maka pada hari Minggu Paskah ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya!

Seperti juga seorang atlit yang menjadi lebih kuat lewat praktek/latihan fisik dan mental, kita pun menjadi lebih kuat dalam Roh selagi kita mempraktekkan kegiatan-kegiatan yang harus kita lakukan selama masa Prapaskah: penyangkalan diri melalui puasa; kemurahan hati melalui sedekah; dan doa melalui pengosongan hati kita serta urusan-urusan yang menyangkut kepentingan pribadi.

Sekaranglah waktunya meminta kepada Roh Kudus untuk menjadikan ketaatan kita menjadi tindakan-tindakan kasih. Oleh karena itu marilah kita pergi ke  padang gurun dan melihat serta terinspirasi apa yang mampu dilakukan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memanggilku ke tengah padang gurun. Tolonglah aku mengarahkan pandanganku secara tetap kepada Bapa surgawi. Murnikanlah diriku, ya Yesus – Tuhan dan Juruselamatku – dan berikanlah kepadaku kekuatan agar senantiasa dekat dengan-Mu selama 40 hari mendatang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yl 2:12-18), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGAWALI MASA PRAPASKAH DENGAN NIAT YANG SERIUS UNTUK SUNGGUH MENGOYAKKAN HATI KITA” (bacaan tanggal 26-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 24 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFSS 

YESUS MEMANGGIL UMAT-NYA KEPADA KASIH YANG SEMPURNA

YESUS MEMANGGIL UMAT-NYA KEPADA KASIH YANG SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VII [Tahun A] – 23 Februari 2020)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:38-48) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10,12-13; Bacaan Kedua: 1Kor 3:16-23

Pelajaran yang kita peroleh dari Bacaan Injil hari ini hampir tidak memerlukan penekanan-penekanan secara khusus. Kita harus – jika kita benar-benar umat Kristiani sejati – mengampuni mereka yang telah mendzolimi/melukai kita. Kita harus mengasihi semua orang – kawan dan/atau lawan.

Kata-kata Perjanjian Lama, “mata ganti mata dan gigi ganti gigi dlsb.” (Im 24:19; Kel 21:22) bukanlah pernyataan untuk mendukung tindakan balas dendam seperti ditafsirkan secara populer.  Tujuannya adalah untuk menghentikan konflik. Misalnya seseorang menghajar anda sehingga merontokkan salah satu gigimu. Dalam hal ini anda tidak dibenarkan jika merontokkan semua giginya. Hanya satu gigi diganti oleh satu gigi, tidak boleh lebih! Dalam ajaran-Nya yang menyusul petikan ayat alkitabiah Perjanjian Lama ini tentang mata, gigi dlsb. Yesus mengingatkan kita bukan sekadar untuk menghindari pembalasan dendam tak berkesudahan, melainkan untuk mengampuni. Mengampuni adalah satu-satunya cara untuk menginterupsi lingkaran setan yang tak ada ujungnya dari kebencian dan balas dendam.

Dalam ajaran-Nya (yang termasuk dalam “Khotbah di Bukit”) ini Yesus berbicara mengenai keadilan dengan beragam contoh yang diberikan. Ia menggiring para pendengar-Nya kepada makna lebih mendalam dari contoh-contoh yang diberikan oleh-Nya. Secara keseluruhan Yesus mau mengatakan bahwa sikap dan tindakan kita terhadap orang lain tidak harus diukur atas dasar legalitas saja. Tanggung jawab kita terhadap orang-orang lain di mata Allah pada kenyataannya lebih luas daripada apa dikenal oleh sistem legal kita. Yang kedua, kita tidak boleh “tepat-tepat sama benar membalas” orang-orang lain. Kita harusnya tidak menolong, meminjamkan uang dll. sampai jumlah yang mereka telah lakukan untuk kita. Hubungan kita dengan sesama kita harus diatur oleh kebutuhan mereka. Hubungan kemanusiaan harus didasarkan pada sesuatu yang lebih dalam daripada suatu korelasi matematis dari hak dan kewajiban.

Kita mengetahui bahwa hidup Kristiani kita bukanlah sekadar hitung-hitungan akuntansi. Kemuridan adalah hidup pelayanan yang diukur oleh kapasitas untuk memberi, seperti kasih Tuhan bagi kita.

Mengampuni sulit dalam budaya yang mana saja dan juga untuk siapa saja yang terlibat. Tantangan pemberian pengampunan bukanlah hal moral tetapi psikologis. Pada hakekatnya pengampunan adalah suatu keputusan untuk tidak membiarkan sesuatu yang salah terhadap kita merusak urusan kita dengan orang lain itu di masa depan. Seringkali diperlukan waktu bagi emosi-emosi kita untuk menyesuaikan diri dengan keputusan-keputusan yang telah kita ambil. Pengampunan adalah sebuah proses.

Yesus mengatakan bahwa kita kita harus mengasihi musuh-musuh kita. Kita harus ingat bahwa “Khotbah di Bukit” ditujukan bagi mereka yang ingin hidup di bawah pemerintahan Allah. Tuhan Yesus menjelaskan bagaimana pelayanan kepada Allah dapat dilakukan dalam berbagai cara yang konkret. Mengasihi juga merupakan suatu keputusan. Mengasihi bukanlah kelekatan romantis seperti sering digambarkan oleh foto-foto dan lagu-lagu. Mengasihi adalah suatu keputusan cerdas. Mengasihi seorang musuh kita adalah suatu keputusan asertif. Mengasihi musuh-musuh kita adalah pengambilan keputuan untuk menolong mereka dengan berbagai cara datang lebih dekat lagi kepada sang Terang, yaitu Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita semua.

Yesus memanggil umat-Nya kepada kasih yang sempurna. Kata-Nya: “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48). Yang dimaksudkan dengan “sempurna”  di sini adalah suatu kasih yang bersifat universal dan lengkap. Artinya ini adalah kasih yang tidak didasarkan pada ketertarikan alami yang membuat kita lebih mirip dengan orang-orang tertentu daripada dengan orang-orang lain, misalnya karena sama-sama anak Salemba (UI), sama-sama lulusan Kanisius, sama-sama Jawa, sama-sama Flores, sama-sama Katolik, sama-sama suka main golf, dlsb.

Ideal-nya adalah kita akan ikut ambil bagian dalam kasih Bapa surgawi yang berkelimpahan dan tanpa pandang bulu bagi semua anak segala ciptaan-Nya. Matahari yang terbit dan hujan yang dicurahkan dari atas langit adalah untuk semua, tanpa kecuali! (Mat 5:45). Namun demikian, kita sering tergoda untuk bertindak dalam dua cara:

  • untuk membatasi energi kasih seminimum mungkin sesuai tuntutan keadilan yang ketat;
  • memperkenankan sungai-sungai kasih kita menjadi terinfeksi dan terkonteminasi dengan racun lewat sikap-sikap jahat/buruk orang-orang lain.

Kasih-Kerajaan (kasih yang sempurna) adalah komitmen untuk mempraktekkan kemurahan-hati sebagai alternatif dari tirani dan paksa-memaksa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai tuhan-tuhan kecil. Kasih-Kerajaan seperti inilah yang ditunjukkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dan para pengikutnya. Mereka lebih memikirkan tanggung-jawab kepada orang-orang lain daripada hak-hak atas diri orang-orang lain. Ini adalah sebuah sungai dengan aliran yang begitu kuat sehingga tidak mampu dibendung atau dialihkan oleh halangan apa pun. Ini adalah aliran murni yang tidak akan dapat terkena infeksi oleh racun musuh yang mana pun.

Kasih-Kerajaan itu tak terbatas dan lengkap. Kasih-Kerajaan itu sempurna, seperti kasih Bapa surgawi adalah sempurna (Mrk 5:48).

DOA: Bapa surgawi, ingatkanlah kami senantiasa akan panggilan-Mu bagi kami untuk menjadi sempurna dalam kasih, seperti Engkau sempurna adanya. Jadikanlah hati kami seperti hati Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-48), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS UNTUK MENGASIHI MUSUH” (bacaan tanggal 23-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 21 Februari 2020 [Peringatan Wajib S. Petrus Damiani, Uskup-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN A] – 16 Februari 2020)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Aku berkata kepada: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku  berkatamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal  dari si jahat. (Mat 5:17-37) 

Bacaan Pertama: Sir 15:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; Bacaan Kedua: 1Kor 2:6-10

Dalam Khotbah di Bukit dikumpulkanlah berbagai sabda/pengajaran Yesus yang sebenarnya diucapkan dalam berbagai kesempatan yang berbeda-beda. Matius, dengan caranya yang sistematik telah mengumpulkan berbagai sabda/pengajaran itu  menjadi suatu diskursus yang berkelanjutan. Hal ini membuat para pembaca Injil Matius – yang merupakan ex-agama Yahudi – untuk memahami orde baru keselamatan seperti diinaugurasikan oleh oleh Yesus Kristus. Mereka (jemaat Matius) tahu dan sungguh mengenal Sepuluh Perintah Allah, akan tetapi pengetahuan/pengenalan mereka akan Sepuluh  Perintah Allah itu seturut yang diajarkan para rabi mereka. Rabi-rabi ini – sebagian besar adalah kaum Farisi – menekankan hukum seperti apa yang tertulis dan ketaatan yang kasat-mata atas perintah-perintah Allah.

Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Di sini Yesus mau mengatakan sikap para pengikut-Nya haruslah berbeda dan lebih baik daripada apa yang diajarkan oleh para rabi mereka yang disebutkan di atas. Dengan jelas hal ini menunjukkan bagaimana Kekristenan (Kristianitas) harus berbeda dengan Yudaisme, bahkan menggantikan Yudaisme itu sendiri.

Yesus Kristus tidak meniadakan Sepuluh Perintah Allah, tetapi Dia menuntut dari para pengikut-Nya untuk memenuhi perintah-perintah itu secara lebih sempurna dan lebih tulus. Nilai moral dari ketaatan terhadap hukum (termasuk hukum Musa) datang dari disposisi batiniah orang yang memegang hukum itu. Tidak ada seorang pun melayani Allah atau memuliakan Allah dengan tindakan-tindakan yang bersifat luar (exterior acts) walaupun dilakukan secara kontinue, kalau tindakan-tindakan itu tidak datang dari suatu niat dan suatu kehendak untuk memuliakan dan menyenangkan Allah. Inilah kekristenan. Hukum lama tidak ditiadakan, melainkan diperdalam dan diberikan suatu hidup yang baru.

Ada perintah: “Jangan membunuh” (Kel 20:13). Karena alasan di atas, maka menghindari pembunuhan tidaklah cukup, seorang Kristiani sejati harus membuang inklinasi apa saja untuk membunuh. Bagaimana? Dengan membangun kasih persaudaraan sejati dengan semua orang dari dalam hati. Kita tidak boleh hanya tidak melukai sesama kita, pribadinya atau dalam karakternya, tetapi kita juga harus selalu siap untuk menolongnya dan mencegah melukai dirinya kapan dan di mana saja.

Ada perintah: “Jangan berzinah” (Kel 20:14). Kita tidak hanya harus tidak terlibat dalam perzinahan, tetapi juga harus mengembangkan sikap hormat Kristiani akan kemurnian, keutamaan yang akan menjaga kita tidak hanya dari perzinahan tetapi bahkan dari pemikiran-pemikiran sekitar perzinahan, atau apa saja penyalahgunaan anugerah di bidang seksualitas yang diberikan oleh Allah untuk tujuan yang sangat baik.

Ada delapan perintah lainnya yang dapat disoroti, namun keterbatasan ruang dan waktu tidak mengizinkan hal itu dilakukan. Yang patut kita pegang adalah bahwa kita harus selalu berpikir, bersikap, berkata dan bertindak benar (truthful) (tindakan kita harus selalu sesuai dengan kata-kata kita: “walk the talk”). Melayani Allah secara benar dan setia dimulai dari hati kita, dan bernilai dari disposisi batiniah. Taat kepada “Sepuluh Perintah Allah” adalah cara kita membuktikan kepada Allah bahwa kita berterima kasih penuh syukur, taat dan setia kepada-Nya yang memberikan kepada  kita segalanya yang kita miliki dan yang telah menjanjikan berbagai anugerah di masa depan yang jauh lebih besar/hebat. Kasih kita kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih sejati kepada sesama. Dengan demikian kalau kita memang benar dalam memenuhi tujuh perintah terakhir dari “Sepuluh Perintah Allah”, maka kita dapat memenuhi tiga perintah yang pertama, yang mengatur hubungan kita dengan Allah.

Kebenaran dari yang baru dikatakan ini terdapat dalam “Khotbah di Bukit”: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-34).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 16-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 13 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS