Posts tagged ‘KHOTBAH DI BUKIT’

KASIHILAH MUSUHMU

KASIHILAH MUSUHMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2019)

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,5-9a 

Dapatkah anda membayangkan bahwa pada suatu hari kelak anda masuk juga ke dalam surga, dan orang pertama yang anda temui di sana adalah orang yang paling anda tidak sukai ketika hidup di dunia? Bayangkanlah dengan serius! Ternyata Allah mengasihi orang itu dan memanggil dia kepada kesempurnaan juga. Atau, bagaimanakah dengan tokoh-tokoh jahat yang anda telah jumpai dalam Kitab Suci – seperti Firaun, Izebel, atau Raja Herodes? Mereka pun tidak berada di luar ruang lingkup niat-niat penuh kasih dari Allah! Apa yang diinginkan Allah bagi anda adalah juga yang diinginkan-Nya bagi orang yang menyusahkan anda, demikian pula dengan tiran-tiran yang paling buruk dalam sejarah – agar mereka “sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Ada satu lagi kejutan: Musuh anda dapat membantu anda bergerak maju untuk mencapai tujuan kesempurnaan yang terasa tidak mungkin. Begini ceritanya. Perintah kita untuk menjadi sempurna mengemuka langsung setelah penjelasan Yesus tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang yang membenci kita: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga” (Mat 5:44-45). Dengan perkataan lain, apabila anda ingin menjadi sempurna, mulailah dengan mengasihi musuh-musuh anda.

Mungkin kita berpikir dan kemudian berkata seperti si penyanyi dangdut pria itu: “Terlalu!” Dilihat dari kacamata manusia memang “terlalu”, karena “mengasihi musuh-musuh kita” sungguh melampaui kekuatan manusiawi kita. Tidak mungkin menjadi kenyataan apabila Yesus tidak menderita dan wafat bagi kita. Dengan rahmat yang diperoleh-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, kita dapat mengikuti teladan cintakasih sempurna dan pengampunan yang diberikan Yesus dan mulai melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Marilah kita bekerja sama dengan rahmat itu pada hari ini. Daripada kita memikirkan orang-orang yang bersalah kepada kita dan mulai mengumpat mereka dan berencana membalas dendam, jauh lebih benarlah apabila kita berdoa bagi mereka yang mendzolomi kita. Kita harus mengambil waktu untuk memikirkan apakah ada orang-orang lain juga yang harus kita kasihi secara lebih lagi. Mereka mungkin saja bukan “musuh” secara harfiah, melainkan orang-orang yang kita “tidak anggap”, “pandang rendah”, “pandang sebelah mata”, “lihat sebagai tidak pantas”.

Kita (anda dan saya)  harus memulainya dengan orang-orang yang terdekat, yaitu yang tinggal dalam rumah dan teman-teman di tempat kerja kita. Kita harus memperhatikan apa saja yang muncul dalam pikiran kita segala kita membaca surat kabar,  menonton televisi atau melihat sendiri seorang tuna wisma di tengah jalan yang ramai. Kita harus mohon pengampunan Allah bilamana kita menemukan kegagalan-kegagalan pribadi kita. Marilah kita membuka hati kita agar dapat menerima rahmat untuk suatu sikap yang lebih bermurah-hati. Apabila kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengasihi, maka kesempurnaan Tritunggal Mahakudus akan memancar dari dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur karena Engkau menciptakanku karena kasih dan demi kasih. Pada hari ini aku menerima rahmat-Mu yang mentransformasikan hidup dan mengambil satu langkah lagi menuju kesempurnaan seturut rencana-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJAR KITA UNTUK MENGASIHI MUSUH-MUSUH” (bacaan tanggal 18-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Juni 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KOMITMEN KRISTIANI

KOMITMEN KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 17 Juni 2019)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42)  

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Tujuan hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecut ganti lecut, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak” (Kel 21:24; bdk.  Im 24:20; Ul 19:21) adalah untuk membatasi kekerasan dan pertumpahan darah melalui rasa takut akan pembalasan. Hukum ini juga dimaksudkan untuk membatasi tindakan pembalasan agar tetap seimbang (hanya satu mata ganti satu mata), melawan program pembalasan tanpa batas dari Lamekh (Kej 4:23-24), yang begitu sering diulang-ulang bahkan dalam dunia modern.

Mahatma Gandhi, yang hidup dan mati berjuang untuk mendamaikan faksi-faksi yang saling bermusuhan di tanah airnya, India – suka sekali mengutip sabda Yesus dan mengungkapkannya kembali sebagai berikut: “Jika kita semua hidup menurut prinsip mata-ganti-mata, maka dengan cepat seluruh dunia akan menjadi buta.” Di sini Yesus kembali mencabut hukum lama – jadi tidak ada pembalasan sama sekali! Yesus hanya mengenal “pembalasan kejahatan dengan kebaikan”: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi yang berbuat jahat terhadap kamu” (lihat Luk 6:27-28).

Bagaimana kiranya Yesus mengharapkan para murid-Nya untuk hidup dengan cara begini dalam dunia nyata? Menurut John P. Meier dalam bukunya yang berjudul Matthew, apa yang dilakukan oleh Yesus dalam “Khotbah di Bukit” bukanlah mempresentasikan sebuah program baru untuk masyarakat manusia, melainkan Dia mengumumkan akhir dari masyarakat manusia itu. Inilah yang dinamakan “moralitas eskatologis” (eschatological morality). Ini hanya mungkin terwujud dalam diri para murid yang melalui Yesus sudah menghayati hidup pada akhir zaman (hal. 54).

Mengingat kasus-kasus pidofilia yang banyak diberitakan akhir-akhir ini, apakah artinya yang disebutkan di atas bagi orangtua korban – dalam rangka membela hak-hak dan keamanan masa depan anaknya – yang tidak mempunyai alternatif lain kecuali mengadukan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib agar pada akhirnya menyeret orang jahat bersangkutan ke depan pengadilan? Agar supaya membuat sabda Yesus itu hidup, maka kita harus menyadari bahwa:

Pertama-tama, sabda Yesus ini berkaitan dengan personal injury dan bukan dengan hak-hak orang-orang lain. Seseorang dapat memilih untuk memberi pipi yang satunya lagi apabila dengan demikian tidak ada seorang lain pun akan menderita kerugian. Akan tetapi, jika dengan melakukannya dia mengakibatkan kerugian pada pihak yang tidak bersalah, maka hal ini adalah parodi/karikatur dari “kasih tanpa kepentingan” yang diajarkan Yesus agar seseorang tidak melakukan sesuatu walaupun seseorang dapat melakukannya.

Kedua, semangat batiniah untuk tidak melakukan kekerasan dan memberi pipi lainnya selalu mungkin. Bilamana seseorang melakukan ketidakadilan atas diri saya, maka secara moral hal itu bukanlah masalah saya, melainkan masalah dia sendiri. Untuk menyerahkan diri kepada penolakan, kebencian, hasrat untuk membuat pihak lain membayar dan membayar lebih, untuk apa yang telah dilakukannya, untuk mengeraskan hati saya seakan sebuah kepalan tangan yang keras sehingga siap untuk berkelahi, itu semua menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Apabila saya tidak dapat mengampuni, barangkali paling sedikit saya dapat menyadari bahwa pihak lain itu membutuhkan penyembuhan, dan saya – jika saya adalah sungguh seorang murid Yesus yang sejati – dapat berdoa agar pihak lain itu agar mengalami penyembuhan termaksud.

Yang diberikan Yesus adalah substitut dari sistem hukum yang lama dan bukanlah suatu sistem yang baru. Menurut seorang ahli tafsir Kitab Suci semua itu adalah gejala-gejala, tanda-tanda, contoh-contoh dari apa artinya jika Kerajaan Allah menerobos masuk ke  tengah dunia yang masih berada di bawah pengaruh dosa, maut dan Iblis. Contoh-contoh konkret yang diberikan oleh Yesus menggambarkan betapa serius makna komitmen Kristiani itu dan betapa mendalam perubahan yang akan terjadi dalam kehidupan seorang murid Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami memperbaiki dan memperdalam komitmen pembaptisan kami. Buatlah agar hidup kami sebagai tanda-tanda hidup baru dari Kerajaan Allah.. Terpujulilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “CINTAKASIH SETURUT KEHENDAK ALLAH SENDIRI” (bacaan tanggal 16-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 14 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK

JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2019)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 15-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 13 Juni 2019 [Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

YESUS MENYERANG SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 14 Juni 2019)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-16 

Di banyak bagian dari kitab-kitab Injil kita dapat melihat bagaimana Yesus menyerang dengan keras segala macam kemunafikan, persoalan bersih di luar tetapi korup di dalam. Dengan pikiran-Nya yang mampu melakukan discernment dengan tajam, dan pemahaman-Nya yang mendalam tentang psikologi manusia, Yesus selalu mampu melihat inti permasalahan. Ia langsung menuju ke pusat dan penyebab kesusahan-kesusahan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus bersabda, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28). Jadi, di mana hati kita, itulah yang harus diperhitungkan!

Pada awalnya kelihatan bahwa orang-orang Farisi itu tidak tahu bagaimana menanggapi pernyataan Yesus di atas. Namun Yesus tidak dapat ditipu, Dia memahami benar sikap orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan pikiran mereka secara terbuka, dengan demikian mencoba menutupi rasa iri-cemburu dan kebencian mereka. Dalam peristiwa orang lumpuh yang disembuhkan (Mrk 2:1-12), Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!! Beberapa ahli Taurat (biasanya sebagian terdiri orang-orang  Farisi juga) berpikir dalam hati, mengapa Yesus berkata begitu karena berarti Dia menghujat Allah. Prinsip           yang mereka anut adalah, bahwa tidak ada seorang pun dapat mengampuni dosa manusia selain Allah sendiri. Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu  dalam hatimu?” (Mrk 2: 5-8).

Pada suatu peristiwa orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka untuk bersama-sama para pendukung Herodes berkata kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:16-17). Sungguh sebuah pertanyaan jebakan yang bersumber pada hati yang jahat dan dapat menjerumuskan Yesus. Namun Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu, lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” (Mat 22:18).

Peristiwa lainnya adalah berkaitan dengan orang-orang Farisi yang mengkritisi bahwa para murid-Nya melanggar adat istiadat nenek moyang mereka, dalam hal ini membasuh tangan sebelum makan. Di sini Yesus berkata kepada mereka dengan mengutip kata-kata nubuatan nabi Yesaya yang a.l. berbunyi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh dari Aku” (Mat 15:8; bdk. Yes 29:13). Kemudian Yesus berkata kepada orang banyak: “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itu yang menajiskan orang” (Mat 15:11). Yesus melanjutkan: “Mereka (orang Farisi) orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang” (Mat 15:14; bacalah penjelasan Yesus dalam Mat 15:20-21).

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengatakan: “Kumpulkan bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya,.Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:20-21). Jadi, dalam inti terdalam jati diri kita, kebaikan dan kebenaran kita sebagai manusia harus berdiam. Yesus ingin meyakinkan kita bahwa diri-Nya tidak dapat tertipu oleh berbagai sikap dan perilaku yang penuh dengan kemunafikan. Yesus melihat ke dalam hati kita dan Ia tahu motif-motif yang mendorong tindakan-tindakan kita. Kita tidak dapat menipu atau membodohi Dia dengan menciptakan alasan-alasan. Yesus berkata, “Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (Mat 5:29). Dengan kata-kata keras ini, Yesus ingin mengatakan bahwa kita bertanggung-jawab atas apa yang ada dalam pikiran dan hati kita. Kita harus mencabut korupsi sampai kepada akar-akarnya yang terdalam, dan mengarahkan kehendak kita kepada hasrat murni akan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku terang agar dapat mengetahui hatiku yang terdalam, sehingga aku dapat mengarahkannya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA” (bacaan tanggal 14-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALAH SATU PERINTAH YESUS KRISTUS YANG KERAS

SALAH SATU PERINTAH YESUS KRISTUS YANG KERAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja – Kamis, 13 Juni 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

“… tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5:24)

Ini adalah salah satu perintah Yesus Kristus yang keras! Namun demikian, baiklah kita mundur satu langkah dan melihat gambaran yang lebih luas. Sejak kemarin kita telah membaca Khotbah di Bukit – khotbah di mana Yesus meringkas hakikat dari hidup Kekristenan (Kristiani). Pada bacaan Injil hari ini, kita masih berada dekat dengan awal dari Khotbah di Bukit itu. Jadi, adalah sesuatu yang signifikan mengapa Yesus tidak menanti lama-lama untuk mulai berbicara mengenai pertobatan, pengampunan dan rekonsiliasi. Mengapa? Karena Allah rindu untuk melihat umat-Nya menjadi satu.

Selagi Yesus mengajar para murid-Nya tentang kehidupan dalam Kerajaan Allah, Dia membuat jelas bahwa memenuhi hukum-hukum Kerajaan ini haruslah dengan mempraktekkan pengampunan. Ia ingin kita tidak hanya memeriksa hati kita di hadapan Allah, melainkan juga berupaya untuk berdamai satu sama lain. Ia mengetahui, bahwa semakin kita bersatu, maka semakin berdamai pula kita dengan Allah dan satu sama lain, dan semakin bebas pula berkat-berkat Allah dapat mengalir tanpa halangan karena penolakan atau iri hati.

Menjelang kedatangan milenium yang baru, pada paruhan kedua tahun 1990an, almarhum Paus Yohanes Paulus II cukup sering berbicara mengenai berkat-berkat yang  ingin Allah curahkan kepada umat-Nya. Sri Paus percaya bahwa kita telah memasuki suatu “musim semi besar” yang bersumber pada takhta Allah, sebuah era di mana kita diundang untuk mengalami sukacita yang berasal dari pengampunan dan rekonsiliasi. Allah berjanji bahwa apabila kita sungguh hidup bersaudara satu sama lain dalam kasih Kristus, maka kita akan mengalami pencurahan kasih ilahi yang tidak kalah kuatnya dengan “hujan lebat” yang disaksikan sendiri oleh orang-orang Israel setelah bertahun-tahun lamanya mengalami kekeringan dan kelaparan (1Raj 18:41-46).

Dengan demikian kita senantiasa harus memeriksa relasi-relasi kita. Misalnya, apakah kita (anda dan saya) masih memendam akar kepahitan dalam diri kita: menyimpan kebencian, dendam dan sejenisnya terhadap seorang anggota keluarga kita sendiri? Untuk itu kita harus mengambil inisiatif untuk mengampuninya. Apakah ada seorang rekan kerja (apakah dia atasan, kolega yang setara, atau bawahan anda, dll.) yang selalu kita hindari selama ini? Kalau jawabannya positif “ya”, maka marilah kita memohon pertolongan Allah agar dapat menolong diri kita memahami motif-motif kita dan mencoba menemui orang bersangkutan. Apakah hati kita pernah sangat disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Untuk itu, marilah kita menghadap hadirat Allah dalam doa dan memohon kepada-Nya agar diberikan kekuatan untuk mengampuni dan memulihkan relasi yang sudah rusak-berantakan antara kita dan orang itu. Semuanya itu kelihatan begitu tidak mungkin, namun di mana rekonsiliasi dan kesatuan disambut dengan baik oleh semua pihak, maka berkat-berkat Allah pun dapat mengalir dengan penuh kuat-kuasa. Ingatlah bahwa “… segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27; bdk. Luk 1:37).

Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya adalah Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami persembahkan kepada-Mu segala relasi yang terluka antara diri kami dengan saudari-saudara kami. Kami sungguh mendambakan perdamaian dengan mereka semua. Tunjukkanlah kepada kami jalan pengampunan dan kebebasan. Sembuhkanlah luka-luka yang ada, baik yang kami sebabkan atas diri mereka maupun yang kami terima dari saudari-saudara kami itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26),  bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH-NYA UNTUK MENGASIHI” (bacaan tanggal 13-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  11 Juni 2019 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH PENGGENAP TAURAT AGAR MENJADI BERBUAH

YESUS ADALAH PENGGENAP TAURAT AGAR MENJADI BERBUAH

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Rabu, 12 Juni 2019)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Anisetus Koplinski, Imam Martir dkk.

Keluarga Fransiskan Konvetual dan Kapusin: Peringatan B. Yolenta, Florida dkk. Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9 

Taurat (Hukum atau Instruksi) adalah lima kitab pertama yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi mengakui Taurat sebagai pewahyuan Allah. Taurat mengungkapkan pikiran-pikiran Allah yang intim mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai jalan hidup suci yang ditawarkan-Nya kepada umat-Nya. Pada zaman lampau, apabila para rabi Yahudi ditanya: “Apakah yang dilakukan Allah di surga?”; maka para rabi itu akan menjawab: “Membaca Taurat!” Terdengar lucu sekarang, namun itulah faktanya.

Bagaimana Yesus memandang Taurat? Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk menggenapi hukum, agar Taurat menjadi berbuah. Itulah sebabnya mengapa Khotbah Yesus di Bukit memusatkan perhatian pada “hati” atau “niat batin” yang ada di belakang perintah-perintah kuno yang ada dalam Taurat. Misalnya, Yesus menjelaskan bahwa tidak cukuplah untuk menghindari tindakan mencederai orang lain secara fisik. Apabila kita mengasihi dari hati kita, kita harus belajar hidup dengan orang-orang lain dalam suasana damai juga. Juga tidak cukuplah untuk menghindari pencurian dan perzinahan. Kita harus membuang hasrat untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain; termasuk istri orang lain.

Meskipun Ia meningkatkan tuntutan perintah-perintah Allah, Yesus tidak menggambarkan Allah sebagai seorang hakim kejam yang siap untuk menghukum kita karena dosa-dosa kita. Allah mengasihi kita dan mengundang kita untuk merangkul kasih-Nya itu. Allah ingin mengubah kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kita dapat mengasihi apa/siapa saja yang dikasihi-Nya, dengan demikian kita dapat meninggalkan kedosaaan kita.

Kasih Allah adalah seperti kobaran api yang menyala-nyala dengan sempurna, karena membakar habis hasrat-hasrat jahat kita dan memenuhi diri kita dengan suatu kerinduan untuk menyenangkan-Nya dan meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati bagi sesama. Santo Augustinus pernah berkata: “Penuhilah perintah-perintah Allah karena kasih. Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah, yang begitu melimpah belas kasih-Nya, yang begitu adil dalam segala jalan-Nya?  Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita walaupun kita masih terbelenggu dalam ketidakadilan dan kesombongan?”

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memurnikan pikiran-pikiran kita  dan memenuhi hati kita dengan kasih Allah. Dengan demikian kita akan mulai hanya menghasrati apa yang disenangi Allah.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau telah memberikan kepada kami Roh Kudus-Mu. Penuhilah hati kami dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diri kami kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH PENGGENAPAN HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 12-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 10 Juni 2019 [PERINGATAN SP MARIA, BUNDA GEREJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA PARA PEMBAWA DAMAI YANG DAPAT DINAMAKAN ANAK-ANAK ALLAH

HANYA PARA PEMBAWA DAMAI YANG DAPAT DINAMAKAN ANAK-ANAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 16 Maret 2019)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.”  (Mat 5:48)

Ini sungguh merupakan kata-kata Yesus yang tidak boleh diabaikan dan dipandang sebagai suatu kemustahilan. Cobalah kita pikirkan: Siapa di antara kita yang bahkan dapat berpura-pura bahwa dirinya telah mencapai kesempurnaan? Akan tetapi Yesus mengenal hati kita masing-masing. Ia tidak meminta sesuatu yang tidak mungkin … yang mustahil. Ia hanya ingin agar kita mengambil langkah-langkah yang akan memimpin kita untuk menjadi semakin dekat dengan kesempurnaan diri-Nya. Ketika merenungkan kata-kata Yesus ini, Santo Siprianus [200-258], uskup dari Karthago (Afrika Utara), mendorong umat-Nya untuk memusatkan perhatian mereka pada upaya bagaimana mereka berelasi satu sama lain. Marilah sekarang kita membuka telinga hati kita lebar-lebar dan mendengarkan kata-kata sang uskup dan memohon agar Roh Kudus membebaskan kita dari segala bentuk perpecahan, kecemburuan, dan keangkuhan:

“Apabila engkau ingin memperoleh ganjaran-ganjaran surgawi, buanglah segala motif jahat dan jadikanlah dirimu siap direformasi dalam Kristus. Duri-duri dan bunga-bunga berduri dalam hatimu harus dicabut, sehingga dengan demikian benih Tuhan dapat menghasilkan tuaian yang berkelimpahan. Biarlah kepahitan yang telah berdiam dalam hatimu dilunakkan oleh kemanisan Kristus. Selagi engkau menerima sakramen salib, biarlah kayu yang secara figuratif membuat manis air di Mara dalam kenyataan ada untuk menenangkan hatimu.

“Kasihilah mereka yang sebelumnya engkau benci. Tunjukkanlah kebaikan kepada mereka yang sebelumnya engkau menaruh iri hati. Contohlah orang-orang baik, atau sedikitnya bergembiralah dengan mereka dalam kebajikan mereka. Daripada engkau memotong mereka, buatlah dirimu mitra dalam ikatan persekututan. Karena dosa-dosamu diampuni hanya apabila engkau telah mengampuni orang-orang lain, dan kemudian engkau akan diterima oleh Allah dalam damai.

“Jika engkau ingin pemikiran-pemikiranmu dan tindakan-tindakanmu diarahkan dari atas, maka engkau harus mempertimbangkan hal-hal yang ilahi dan benar. Pikirkanlah firdaus, di mana Kain tidak dapat memasukinya karena dia membunuh saudaranya dalam kecemburuan. Pikirkanlah Kerajaan surgawi, ke dalam mana Tuhan hanya menerima mereka yang mempunyai satu hati dan pikiran. Pertimbangkanlah bahwa hanya para pembawa damai yang dapat dinamakan anak-anak Allah. Pertimbangkanlah bahwa kita berdiri di bawah mata Allah, mengikuti hidup kita dan percakapan dengan Allah sendiri yang mengamati dan menghakimi. Dan apabila kita sekarang menyenangkan Dia yang mengamati tindakan-tindakan kita, senantiasa berhasrat untuk menyenangkan-Nya, maka kita menunjukkan diri kita pantas untuk mendapatkan kebaikan-Nya dan pada akhirnya akan melihat Dia dalam kemuliaan.”

DOA: Tuhan Yesus, buanglah segala kepahitan dan kejahatan dari hatiku Lunakkanlah diriku oleh buah dari salib-Mu sehingga aku lebih bertekad untuk menyenangkan-Mu lewat kata-kataku dan tindakan-tindakanku dan menjadi sebuah instrumen rahmat bagi semua saudari dan saudaraku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 16-3-19) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-03  PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 Maret 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS