Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 15 Mei 2017)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedual rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “TUGAS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 14 Mei 2017

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:4-9; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Keduabelas rasul – seperti Yesus juga – semuanya berasal dari Galilea dan sehari-harinya berbicara dalam bahasa Aram. Akan tetapi, di Yerusalem pada abad pertama tahun Masehi, ada dua kelompok orang Yahudi: (1) Mereka yang berbicara dalam bahasa Aram Palestina, dan (2) Para imigran yang berbicara dalam bahasa Yunani yang  datang ke Yerusalem dari Diaspora, untuk tinggal di Tanah Terjanji. Orang-orang Yahudi yang bahasa dasar sehari-harinya bahasa Yunani, dinamakan ‘orang-orang Yahudi helenis(tis)’, dengan demikian mereka dari kelompok ini yang menjadi Kristiani disebut ‘orang-orang Kristiani Yahudi helenis(tis)’.  Orang-orang ini dalam banyak hal memang berbeda dengan saudara-saudari mereka Yahudi Palestina yang berbicara dalam bahasa Aram. Secara sekilas lintas, kita dapat melihat/merasakan adanya perbedaan itu dalam bacaan hari ini.

Panggilan Yesus untuk melakukan evangelisasi (lihat Mat 28:16 dsj.; Mrk 16: 15 dsj.; Luk 24:47 dsj.)  ditanggapi oleh para rasul, pertama-tama kepada bangsa mereka sendiri: bangsa Yahudi, baik yang berbahasa Aram maupun yang berbahasa Yunani, dengan demikian umat Kristiani bertumbuh-kembang secara relatif pesat. Pada saat yang bersamaan semakin bertumbuh juga ketegangan antara kedua kelompok orang Yahudi itu. Dengan berjalannya waktu juga semakin dirasakan perlunya akan tambahan dalam jumlah pemimpin umat yang ada, agar Gereja dapat tetap dapat berfungsi dengan lancar.

Para rasul kemudian memutuskan untuk mengangkat tujuh orang diakon (pelayan) – semuanya orang Kristiani Yahudi Helenis(tis) – karena adanya konflik antara anggota-anggota jemaat yang orang-orang Yahudi Palestina dengan warga jemaat yang Yahudi Helenis(tis).  Para janda Yahudi Helenis(tis) mengeluh bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka tidak diperhatikan oleh otoritas Gereja yang adalah orang-orang Yahudi Palestina.

Tentunya tidak sulit bagi kita untuk melihat bagaimana suatu ‘perselisihan’ dapat terjadi apabila kita melihat begitu banyak konflik yang terjadi dalam gereja-gereja kita di seluruh dunia  pada  zaman kita ini, dikarenakan perbedaan dalam bahasa dan budaya. Tantangan yang dihadapi oleh para rasul sebenarnya sama seperti yang kita hadapi pada zaman modern ini,  yaitu bahwa kita harus mencari/memperoleh jalan keluar dari konflik-konflik dalam Gereja seturut rencana Allah bagi umat-Nya. Walau pun permasalahan yang timbul itu disebabkan oleh ‘kekurang-tanggapan’ mereka sendiri, para pemimpin jemaat Kristiani awal kemudian mengakui akan adanya kebutuhan dalam Gereja, dan mereka pun menanggapinya dengan kerendahan hati dan kemudian mengambil keputusan yang efektif.

Para pemimpin jemaat Kristiani awal itu terbuka terhadap Roh Kudus dan mereka memiliki keprihatinan terhadap umat. Oleh karena itu terjadilah perkembangan yang yang sangat penting, yaitu bahwa pada akhirnya tugas orang-orang Kristiani yang berbicara dalam bahasa Yunani tidaklah terbatas pada pelayanan kepada para janda mereka, namun ke luar juga mewartakan Kabar Baik kepada saudari-saudara mereka yang berbahasa Yunani, baik di Palestina maupun di luar Palestina. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan Stefanus (lihat Kis 6:8). Mulai dari titik inilah Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus tidak lagi terbatas pada ruang lingkup orang-orang Yahudi Palestina, akan tetapi menyebar ke mana-mana … merangkul setiap bangsa, ras, golongan etnik dan bahasa.

DOA: Yesus, Tuhan dan Guru kami. Ajarlah kami untuk menjadi peka terhadap saudari-saudara seiman kami yang berbicara dalam bahasa yang lain atau yang berlatar-belakang budaya lain daripada kami sendiri, agar supaya tubuh Kristus tidak terpecah-belah lebih lanjut. Tolonglah kami agar terbuka terhadap pekerjaan yang ingin Kaulakukan di antara kawanan domba-Mu. Bagaimana pun kami tidak ingin menghalangi rencana-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya ya Tuhan dan Juruselamat kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 11 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 27 April 2017)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36. 

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “KEMATIAN YESUS PADA KAYU SALIB ADALAH CONTOH MURKA ALLAH DAN SEKALIGUS KERAHIMAN-NYA” (bacaan tanggal 27-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI MEREKA TERSAYAT

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 18 April 2017)

 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41). 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH KRISTUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PEWARTA INJIIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

SEORANG PEWARTA INJIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PERINGATAN S. BARNABAS, RASUL Sabtu,  11 Juni 2016

Kongregasi Fransiskanes Sambas: Hari Raya – Hari Jadi Kongregasi 


St-Barnabas-cropped

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b;13:1-3) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13 

Bacaan khusus ini berkenaan dengan peringatan wajib hari ini, yaitu memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus dalam mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus.  Barnabas berarti “anak penghiburan” (Kis 4:36), sebuah nama sampingan dari seorang Lewi yang bernama Yusuf, seorang kelahiran Siprus. Dalam Gereja Perdana Barnabas terkenal kedermawanannya. Dia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki para rasul (lihat Kis 4:36-37). Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman (Kis 19:24). Pada waktu jemaat di Yerusalem masih takut-takut menerima kehadiran Saulus yang baru bertobat, Barnabaslah yang menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus berjumpa dengan Tuhan yang telah bangkit di tengah jalan menuju Damsyik dan bahwa Tuhan Yesus berbicara kepadanya dan dia juga menceritakan keberanian Saulus mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kis 9:26-27).

Kematian Stefanus sebagai martir Kristus (Kis 7:54-60) disusul dengan pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani, sehingga ada yang menyingkir sampai ke Fenisia dan Antiokhia.  Pada waktu itu gereja Antiokhia hanya mewartakan Injil kepada orang Yahudi saja, namun beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di sana mewartakan Injil kepada orang-orang berbahasa Yunani. Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya (Kis 11:21). Ketika gereja induk di Yerusalem mendengar hal itu, diutuslah Barnabas untuk melayani jemaat di Antiokhia. Keberadaan gereja Antiokhia dengan umat campuran Yahudi-Yunani, dan dipenuhi anugerah – singkatnya sebuah jemaat yang hidup – membuat sukacita dalam diri Barnabas  (Kis 11:19-24). Kemudian Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus, lalu membawanya ke Antiokhia untuk bersama-sama melayani umat di sana selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia lah murid-murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristiani (Kis 11:25-26).  Karena ada nubuatan dari seorang nabi dari Yerusalem yang bernama Agabus tentang akan timbulnya kelaparan besar, jemaat mengumpulkan uang untuk saudari-saudara seiman yang tinggal di Yudea, sumbangan mana dibawa oleh Barnabas dan Saulus ke Yerusalem (Kis 11:27-30). Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem sambil membawa Yohanes Markus (Kis 12:24-25).

religious-icon-st-barnabas-monastery-16149312Daftar “nabi dan pengajar” dalam Kis 13:1 kelihatannya merupakan daftar nama para pemimpin gereja di Antiokhia, dengan nama Barnabas dicantumkan dalam urutan pertama dan Saulus (Paulus) sebagai yang terakhir. Kemudian, dalam ibadat kepada Tuhan sambil berpuasa, mereka mendengar Roh Kudus menentukan Barnabas dan Saulus untuk pergi sebagai misionaris menyebarkan Injil (Kis 13:2). Nama Barnabas disebut lebih dahulu karena sesungguhnya dialah anggota senior dalam tim dalam perjalanan misioner yang pertama itu, paling sedikit di awal perjalanan (Kis 13:2; lihat juga Kis 13:7).

Barnabas memang lebih senior, akan tetapi Saulus (juga disebut Paulus mulai Kis 13:9), dengan cepat menunjukkan dinamika yang membuatnya menjadi rasul besar (Kis 13:9-12). Selanjutnya tim misionaris tangguh ini dikenal sebagai “Paulus dan kawan-kawan” (Kis 13:13). Terasa dari catatan-catatan di atas bahwa Barnabas adalah seorang pribadi yang dengan sungguh-sungguh selalu memajukan orang lain lebih dari dirinya sendiri, dan dia memang tidak berkeberatan samasekali dengan kepemimpinan Paulus.

Dalam perjalanan misioner yang pertama ini, mula-mula mereka pergi ke Siprus (Kis 13:1-12) dan dari Siprus melanjutkan perjalanan mereka ke sejumlah tempat dan akhirnya kembali ke Antiokhia. Sebuah perjalanan misioner yang panjang dan berbuah banyak (baca Kis 13-14). Pada konsili para rasul di Yerusalem, Paulus dan Barnabas terang-terangan membela keinginan para pengikut Kristus non-Yahudi (baca Kis 15:1-34).

Setelah tiba di Antiokhia, berdiam di sana dan mewartakan Injil untuk beberapa lama, terjadilah perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Paulus ingin kembali ke tempat-tempat yang dulu mereka datangi dan mewartakan Injil untuk melihat perkembangan di setiap tempat itu. Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, namun Paulus tidak setuju, karena dahulu Yohanes Markus pernah meninggalkan mereka di Pamfilia dan kembali ke Yerusalem (Kis 13:13).Setelah perselisihan yang tajam, berpisahlah mereka. Barnabas membawa serta Yohanes Markus berlayar ke Siprus. Paulus memilih Silas dalam perjalanan kali ini (baca Kis 15:35-41). Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, terdapat satu ayat yang berisikan kritik Paulus terhadap sikap dan perilaku Barnabas pada waktu kunjungan Petrus ke Antiokhia (lihat Gal 2:13).

Ada sebuah “Injil palsu” yang menggunakan nama Barnabas, yang dikarang lebih dari 10 abad setelah masa hidup Yesus di dunia, sekurang-kurangnya sesudah tahun 1.300, malah kemungkinan dalam abad ke-16. Apabila anda ingin mengetahuinya secara lebih mendalam, bacalah buku tipis (26 halaman saja) yang disusun oleh Drs. B.F. Drewes & Drs. J. Slomp dengan judul: SELUK BELUK BUKU YANG DISEBUT INJIL BARNABAS, terbitan Penerbit BPK Gunung Mulia, Jakarta dan Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Adalah baik untuk mengetahui pokok-pokok ulasan dari buku ini karena “Injil Barnabas” suka dipakai oleh orang-orang yang suka menyerang umat Kristiani.

Baptism-of-the-Holy-SpiritDari bacaan “Kisah para Rasul” di atas serta uraiannya, kita dapat melihat peranan sentral dari Roh Kudus dalam setiap karya evangelisasi. Para misionaris juga harus didukung penuh oleh jemaat/umat yang mengutus mereka. Umat yang berdoa sambil berpuasa melakukan discernment untuk memastikan kehendak Roh Kudus dalam setiap situasi. Yang mencolok juga adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Barnabas dan Paulus kepada pimpinan jemaat/gereja. Disuruh pergi, mereka pun pergi! Barnabas diutus oleh pimpinan Gereja di Yerusalem untuk melayani gereja di Antiokhia, maka dia pun langsung pergi. Barnabas dan Paulus meninggalkan Antiokhia ketika diutus pergi ke tempat lain, meskipun jelas mereka sangat kerasan berada dalam gereja yang penuh anugerah Roh Kudus itu. Namun demikian, pada zaman sekarang ini kita masih mendengar kabar ada imam yang tidak mau dipindahkan dari gereja paroki yang “dicintainya” meskipun diperintahkan oleh uskup atasannya. Ketaatan adalah sebuah keutamaan, anugerah yang tentunya datang dari Dia sendiri. Kalau saja pastor paroki tadi meresapi dalam hatinya bagaimana ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya (lihat Flp 2:5-11), kiranya peristiwa menyedihkan dan memalukan tersebut tidak perlu terjadi.

Seorang pewarta yang baik selalu taat kepada Bunda Gereja. Dia juga selalu mengakui bahwa SANG PEWARTA sesungguhnya adalah Roh Kudus sendiri, sedangkan dia sendiri adalah alat/sarana belaka. Hal ini ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kita peringati hari ini. Semoga semangat Santo Barnabas dan Santo Paulus juga menjiwai setiap pewarta kita.

DOA: Roh Kudus Allah, hadirlah selalu di dalam hati kami. Ingatkanlah kami selalu bahwa Engkaulah sebenarnya Sang Pewarta Kabar Baik Yesus Kristus, sedangkan kami hanyalah alat/sarana pewartaan tersebut. Berikanlah kepada kami juga rahmat untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kami sendiri, seperti yang telah ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kami peringati hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “BARNABAS: SEORANG PEWARTA INJIL YANG BERBUAH” (bacaan tanggal 11-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juni 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERANAN PEMIMPIN

PERANAN PEMIMPIN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL – Sabtu, 14 Mei 2016)

ST. MATIAS RASUL - 1Pada suatu hari berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara seiman yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata, “Hai Saudara-saudara, haruslah digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan lebih dahulu oleh Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus. Dahulu ia termasuk salah seorang dari kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini.”

“Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: ‘Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya,’ dan: ‘Biarlah jabatannya diambil orang lain.’ Jadi, harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus diangkat ke surga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”

Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah pergi ke tempat yang wajar baginya.” Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada kesebelas rasul itu. (Kis 1:15-17,20-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8; Bacaan Injil: Yoh 15:9-17 

“Hai Saudara-saudara, haruslah digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan lebih dahulu oleh Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus” (Kis 1:16).

Sebelum Roh Kudus turun atas umat perdana pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul perlu membereskan beberapa persoalan yang berhubungan dengan kepemimpinan. Pada saat itu mereka:

  • mengakui Petrus sebagai pemimpin para rasul walaupun ia pernah tiga kali mengkhianati Yesus;
  • menerima para rasul sebagai pemimpin mereka walaupun mereka meninggalkan Kristus sebelum wafat-Nya;
  • bersepakat untuk membicarakan siapa yang akan menggantikan Yudas Iskariot, rasul yang telah mengkhianati Kristus, lalu menggantung diri;
  • bersepakat bahwa yang menggantikan Yudas Iskariot hendaknya orang yang telah hidup bersama Yesus selama tiga tahun dalam penampilan-Nya dan karya-karya-Nya di depan publik;
  • mencalonkan dua orang, berdoa dan membuang undi (Kis 1:23-26).

Pilihan kemudian jatuh pada Matias, yang lalu ditambahkan kepada sebelas rasul (lihat Kis 1:26).

Apakah ada seorang pemimpin yang seharusnya kita (anda dan saya) ikuti, namun kita menolak dir? Apakah kita telah memaafkan pemimpin yang bersalah dan berdosa? Apakah anda tunduk kepada kuasa dari Tuhan, dari Gereja, tunduk pada suami, orangtua, pastor paroki, pimpinan perusahaan di mana kita bekerja dan para atasan kita?

Sebaliknya, apabila kita (anda dan saya) memegang peranan sebagai pemimpin, apakah kita telah mengambil tanggungjawab untuk memimpin? Apakah ada pemimpin yang telah tiada dan kita harus menggantikannya? Apakah kita mengundurkan diri dari kepemimpinan karena adanya pengalaman pahit waktu memimpin? Apakah kita membutuhkan seorang “Matias” guna menyembuhkan luka-luka yang ditinggalkan oleh “Yudas”?

Mengapa Roh Kudus harus turun atas diri orang-orang yang tidak sudi dituntun/ dibimbing? Mengapa Roh Kudus turun atas diri orang-orang yang tidak melakukan apa yang dilakukan oleh para murid Yesus sebelum peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama? 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih atas anugerah kepemimpinan yang Engkau telah berikan kepadaku. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan diriku bahwa pada dasarnya memimpin adalah melayani, sehingga aku benar-benar dapat disebut murid Yesus Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN HAMBA, MELAINKAN SAHABAT” (bacaan tanggal 14-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-5-13 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 13 Mei 2016 [Peringatan S.P. Maria dari Fatima] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS

SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 10 Mei 2016)

KONGREGASI HATI KUDUS YESUS DAN MARIA (SSCC): S. Damianus de Veuster, Imam 

images (11)Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:17-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11,20-21; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a

“Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kis 20:22-23).

Dalam bacaan di atas kita melihat bahwa Paulus adalah seseorang yang tidak hanya dipenuhi Roh Kudus (Spirit filled), melainkan juga dibimbing/dipimpin oleh Roh Kudus (Spirit led). Sepenuhnya berada di bawah bimbingan Roh Kudus, Paulus maju terus dalam melaksanakan misi pewartaan Injil yang dipercayakan Yesus kepadanya, bahaya apa pun yang menantinya.

Roh Kudus akan menjamah, memberkati dan mencerahkan kita. Roh Kudus dapat saja seperti angin sepoi-sepoi basa yang menghembus lembut, seperti api yang menghangatkan atau seperti air yang sejuk segar. Namun Roh Kudus juga dapat memaksa memperingatkan (Kis 20:22-23) dan menginsyafkan kita akan dosa-dosa kita (Yoh 16:8).

Baptism-of-the-Holy-SpiritRoh Kudus dapat seperti angin yang kuat dan menerbangkan (Kis 2:2), atau seperti api yang  memurikan dan membakar (Ibr 12:29), dan seperti sungai yang mengalirkan air hidup (Yoh 7:38). Roh Kudus itu bisa saja berlaku lembut, tetapi juga bisa menggoncang kita dengan kuat kuasa-Nya. Roh Kudus akan memberikan apa yang selalu kita inginkan dan juga memberi apa yang kita hindari.

Kita membutuhkan sekali Roh Kudus karena Dia adalah Roh yang memberdayakan, tetapi juga kita menolak Roh Kudus itu. Memang menerima Roh Kudus itu merupakan sesuatu yang membawa damai dan sekaligus menakutkan.

Seringkali kita merasa mau menerima separuh saja dari Roh Kudus itu. Akan tetapi Roh Kudus tidak pernah berlaku demikian. Telah lima hari kita kita menjalani Novena Roh Kudus. Kita berdoa untuk memecahkan dilema tersebut: menerima atau menolak Roh Kudus? Dosa-dosa kita, cinta-diri dan rasa takut kita begitu besar, namun kasih karunia Allah jauh lebih besar.

Saudari dan Saudaraku, marilah – dalam dan dengan iman – kita melakukan pertobatan dan berseru: “Datanglah, ya Roh Kudus!”

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus seperti yang telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Biarlah Roh Kudus membuat tenang rasa takutku dan memenuhi diriku dengan keberanian sejati, membuat diriku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitar diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “BAGIAN DARI DOA IMAM BESAR AGUNG” (bacaan tanggal 10-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABAH MEI 2016. 

Cilandak, 9 Mei 2016 [Peringatan S. Katarina dr Bologna]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS