Posts tagged ‘KISAH PARA RASUL’

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [TAHUN B], 22 April 2018)

HARI MINGGU PANGGILAN

Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:8-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2; Bacaan Injil: Yoh 10:11-18 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12)

Ada pesan indah yang terdapat dalam cerita tentang seorang lumpuh yang disembuhkan dalam nama Yesus (lihat Kis 3:1-10; bacaan pertama Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah). Orang itu lumpuh sejak lahir dan sudah berumur 40 tahun. Setelah disembuhkan, akhirnya dia mampu masuk ke dalam Bait Allah, sambil melompat-lompat serta memuji-muji Allah (lihat Kis 3:8). Karena mukjizat itu orang-orang berkumpul, dan Petrus pun mulai berkhotbah. Dia berbicara kepada orang-orang itu tentang keselamatan yang dari Yesus dan memberi kesaksian yang berani perihal kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kita dapat membayangkan betapa hati para pendengar yang menjadi percaya begitu dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan.

Namun demikian, para pemuka agama Yahudi tidak mau menerima Kabar Baik tersebut, mereka malah menolaknya mentah-mentah. Kendati pun ada bukti jelas perihal kesembuhan orang lumpuh yang sekarang jelas-jelas sehat berdiri di depan mereka dan mereka pun menerima terlibatnya kuat-kuasa tertentu di luar kekuatan yang bersifat alamiah dalam “keajaiban” tersebut, para pemuka agama Yahudi itu tetap saja menolaknya.

Dengan Wafat dan Kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelamatkan kita semua (bdk. Tit 3:5). Untuk menerima anugerah keselamatan ini, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus mengakui kebutuhan kita untuk diselamatkan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23), dan kita tidak bisa serta tidak mampu untuk memberi silih atas satu dosa saja dari segala dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangat fatal dan merusak. Maka untuk mengakui adanya kebutuhan untuk diselamatkan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita.

Apabila kita menahan rasa salah atau malahan menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena memandang diri kita tidak dapat berbuat salah, maka kita tidak akan pernah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau menerima kenyataan adanya kebutuhan kita untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus – pada hari Pentakosta dan setelahnya – mengkhotbahkan pesan adanya kesalahan dan dosa-dosa kita-manusia selain pesan tentang adanya penyelamatan. Sang Rasul berkata kepada para pemuka agama Yahudi: “…… Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, ……” (Kis 4:10; bdk. 2:23). “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22). “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telaah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15), “…… karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu diampuni” (Kis 3:19).

Sekarang, marilah kita mengingat berbagai dosa dan kesalahan kita masing-masing. Baiklah kita mengakui bahwa kita masing-masing sebenarnya ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara, penyaliban sampai mati dari Yesus itu. Tujuan akhir dari proses ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang bangkit.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, jadikanlah aku seorang pribadi yang dapat merasakan diri bersalah karena hal ini sehat dan berikanlah kepadaku iman agar dapat sungguh selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “IA MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA” (bacaan tanggal 22-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandaak, 18 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Pada bagian yang awal dari “Kisah para Rasul”, Lukas menggambarkan pengejaran dan penganiayaan terhadap Gereja di Yerusalem (Kis 8:1-3). Akan tetapi pada hari ini kita membaca Gereja “berada dalam keadaan damai”, …. “dibangun”(Kis 9:31). Mengapa terjadi perubahan seperti itu? Bagian akhir dari ayat ini memberikan alasannya: “hidup dalam takut akan Tuhan dan bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus” (Yoh 9:31). Bilamana kita (anda dan saya) disentuh Roh Kudus, maka kita akan bergerak dalam hidup kita secara bebas dan dengan penuh keyakinan.

Kita melihat kebebasan ini dalam diri Petrus, seorang mantan nelayan biasa yang membuat mukjizat-mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat Yesus sendiri. Apakah Petrus merasa gugup ketika menghadapi kelumpuhan yang diderita Eneas dan/atau kematian Tabita (Dorkas)? Dari bacaan di atas, tidak nampak adanya tanda-tanda kegugupan dalam diri Petrus dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Daripada membiarkan dirinya dihinggapi rasa bingung apa yang harus dikatakannya atau bagaimana mengatakannya, rasa percaya Petrus pada Yesus memampukannya untuk bertindak secara bebas dan dengan kesederhanaan yang besar dan mengagumkan. Petrus menggunakan kata-kata sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Kepada Eneas yang sudah 8 tahun lamanya terbaring di tempat karena lumpuh, Petrus berkata: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Kepada Tabita yang sudah menjadi mayat, Petrus berkata; “Tabita, bangkitlah!” (Kis 9:40). Tentu Petrus berdoa sebelum melakukan mukjizat, seperti dalam kasus Tabita di mana tercatat Petrus menyuruh semua orang ke luar, lalu ia berlutut dan berdoa (Kis 9:40). Petrus membuat banyak mukjizat yang memimpin orang banyak berbalik kepada Tuhan (Kis 9:35,42).

Mengamati bagaimana Yesus bertindak melalui Petrus seharusnya membuat kita berpikir. Petrus ini bukanlah seseorang yang mempunyai reputasi sebagai seorang yang fasih berbicara atau berpidato dan juga bukanlah orang yang dapat mengontrol diri. Sebaliknya dia dikenal sebagai orang yang suka berbicara tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, seorang yang suka bertindak secara impulsif. Apabila seseorang yang jauh dari sempurna itu dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka apakah tidak mungkin apabila Yesus pun ingin menggunakan kita juga? Bukankah tetap ada kemungkinan bagi kita untuk dapat melayani Dia tanpa harus menjadi sempurna atau sepenuhnya yakin bagaimana harus melangkah selanjutnya?

Kita dapat mencoba mengikuti arahan/pimpinan dari Roh Kudus, namun bagaimana kalau hasilnya tidak positif? Contoh-contoh dari Petrus menunjukkan bahwa Kristus hidup dalam diri kita masing-masing. Secara tetap Dia menawarkan keberanian dan pengharapan. Jadi, kalau memang diperlukan, kita bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian mendengarkan suara Yesus yang lemah-lembut yang akan menolong kita kembali ke rel ….. membangun Kerajaan-Nya. Melalui Petrus, Yesus mengulurkan tangan-Nya sendiri kepada Tabita dan membantunya untuk bangkit berdiri. Demikian pula, melalui Roh Kudus-Nya, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Oleh karena itu marilah kita bangkit dalam setiap peristiwa, kita berbicara bebas tentang Kabar Baik kepada setiap orang yang kita jumpai, tentunya seturut dorongan Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, dengan kekuatanku sendiri aku tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal yang Kaulakukan. Namun demikian Engkau sangat bermurah-hati. Engkau telah membagikan Roh Kudus-Mu sendiri dengan diriku dan memberdayakanku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Bentuklah hatiku. Aku sungguh ingin menjadi seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 18 April 2018    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAULUS BERTOBAT

SAULUS BERTOBAT

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 20 April 2018)

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:1-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 6:52-59

Cerita mengenai pertobatan Santo Paulus barangkali merupakan salah satu yang paling dramatis dari cerita-cerita yang termuat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Cerita itu pun merupakan undangan istimewa bagi kita semua untuk mengingatkan kita pada pertobatan kita masing-masing. Beberapa dari kita telah mempunyai pengalaman dramatis di mana kita merasakan perubahan yang terjadi secara instan. Akan tetapi, orang-orang lain mempunyai pengalaman perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap sementara terang Kristus dengan perlahan-lahan terbit di atas diri kita. Apa pun yang terjadi, bukti telah terjadinya pertobatan atau conversio adalah hidup yang berubah. Apabila kita (anda dan saya) mencoba hidup bagi Yesus setiap hari dan berupaya untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, maka dalam hal ini ada conversio. Seperti yang ditulis oleh Santo Paulus sendiri: “…… tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3).

Bilamana anda merasa kurang yakin apakah anda telah melakukan pertobatan atau conversio, maka cobalah melakukan exercise berikut ini. Ambillah secarik kertas. Tulislah di bagian kiri: SEBELUM KRISTUS, dan tulislah di bagian kanan: SESUDAH PERTOBATAN. Tutuplah mata anda sejenak dan renungkanlah bagaimana hidup anda sebelum anda sampai pada iman-kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Setelah itu anda mulai menuliskan kata-kata atau frase-frase untuk menggambarkannya. Di bawah judul SEBELUM KRISTUS, anda dapat menulis kata-kata atau frase-frase seperti berikut ini (ini hanyalah contoh-contoh): hidup yang berpusat pada diri sendiri, merasa takut, sombong, hidup tanpa tujuan yang jelas, didorong oleh hasrat akan kenikmatan duniawI, gelisah, sering marah. Sekarang renungkanlah sejenak kehidupanmu sekarang (SESUDAH PERTOBATAN): Kata-kata atau frase-frase seperti hidup yang berpusat pada Allah, penuh sukacita, merasa diampuni oleh Allah, berbahagia, merasa damai, menaruh kepercayaan kepada orang lain, sabar. Apa pun yang ditulis di sebelah kiri atau kanan, kita masing-masing harus mampu mengindentifikasikan bagaimana daftar sebelah kiri telah semakin sedikit dan singkat dan daftar di sebleh kanan telah semakin banyak dan panjang.

Dalam Wasiatnya yang dibuat menjelang kematiannya, Santo Fransikus dari Assisi menggambarkan pertobatannya dengan singkat dan menarik: “Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Wasiat 1-3). Dari sini kita lihat bahwa inisiatif selalu berada di pihak Allah. Dia-lah yang memberikan karunia/anugerah kepada seseorang untuk melakukan pertobatan. Tugas orang bersangkutan adalah membuka diri bagi anugerah Allah itu.

Khotbah-khotbah Paulus, baik dalam “Kisah para Rasul” maupun banyak suratnya yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dipenuhi dengan acuan-acuan kepada awal pertobatannya – hari di mana Paulus mulai memberikan hidupnya kepada Yesus. Baiklah bagi kita semua untuk mencoba hal yang sama. Baiklah bagi kita masing-masing menulis secara singkat “cerita pertobatan” kita sendiri. Bagaimana kita mulai sungguh mengenal dan mengalami Yesus sebagai penebus dan Tuhan (Kyrios) dari alam tercipta? Apa yang memotivasi diri kita masing-masing memberikan hati kita kepadanya dan menyambut Dia ke dalam hidup kita? Kita juga harus sering melakukan review atau tinjauan-ulang, dan mengamati pertumbuhan rohani kita selagi Roh Kudus mengisi diri kita dengan keyakinan akan kuat-kuasa Allah untuk memberi hal-hal baik bagi umat-Nya yang setia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau membawa diriku untuk beriman kepada-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar aku Kauberikan kesempatan untuk syering/berbagi dengan orang lain bagaimana Engkau telah membuat perubahan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 20-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 17 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENUH ROH DAN HIKMAT

PENUH ROH DAN HIKMAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Sabtu, 14 April 2018)

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.

Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. (Kis 6:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 6:16-21 

“Pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat.” (Kis 6:3)

Bacaan dari “Kisah para Rasul” hari ini adalah teristimewa tentang pengangkatan 7 (tujuh) orang diakon. Gereja yang masih muda-usia ini menghadapi krisis internal untuk pertama kalinya, yaitu ketimpangan dalam hal pembagian keperluan sehari-hari antara orang Kristiani Yahudi yang berbahasa Yunani (disebut Helenis, lihat ayat 1) dan orang Kristiani Yahudi yang berbahasa Aram dan Ibrani (disebut orang Ibrani).

Yang dimaksudkan dengan “orang Ibrani” adalah penduduk asli Yehuda dan Galilea; sedangkan “orang Helenis” adalah yang “dilahirkan di negeri-negeri lain” (diaspora; bdk. Kis 2:9-11). Kaum Helenis menganggap bahwa terjadi praktek “diskriminasi” dalam hal pembagian keperluan sehari-hari  bagi orang-orang miskin mereka (lihat Kis 6:1). Persoalan ini memang dapat menyakitkan hati mereka karena adalah kenyataan bahwa pimpinan Gereja memang hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi Ibrani, yaitu kedua belas rasul.

Solusi persoalan yang dianjurkan oleh para rasul ialah dengan meminta orang-orang Helenis untuk memilih para pemimpin dari kalangan mereka sendiri (Kis 6:3) yang akan mengurusi keperluan sehari-hari sesame Helenis. Tujuh orang pemimpin yang dipilih ini biasanya dianggap sebagai diakon-diakon (= pelayan) yang pertama, walaupun dalam teks “Kisah para Rasul” tidak disebut sebagai diakon.

Sesungguhnya orang-orang Helenis yang dipilih menjadi para pemimpin Gereja itu juga melakukan hal-hal yang sama seperti para pemimpin dari kalangan Ibrani: mereka – a.l. Stefanus dan Filipus (lihat Kis 6:8-10 dan Kis 8:4-40) – juga mengajar, dan membuat mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya.

Satu pelajaran dari kehidupan Gereja masa itu adalah bahwa persatuan/kesatuan Gereja mampu dipertahankan dengan melakukan pembagian tugas-tugas kepemimpnan kepada orang-orang yang berada di dalamnya. Memang pada waktu itu Stefanus diistimewakan karena “penuh iman dan Roh Kudus” (Kis 6:5). Pengajarannya menimbulkan kesulitan baginya, dan pada akhirnya diakon ini mati sebagai seorang martir Kristus (baca kisah indah Santo Stefanus dalam Kis 6:8 – 7:60).

Pada waktu kita merenungkan cara Gereja perdana dalam membuat solusi atas persoalan yang dihadapi pada masa itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hal itu mempunyai implikasi bagi Gereja di zaman modern dalam menghadapi persoalan persatuan/kesatuan?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Penuhilah diriku dengan iman dan Roh Kudus. Berilah aku hikmat-kebijaksanaan untuk mengetahui cara terbaik dalam melayani Allah dan sesama serta membantu membawa persatuan/kesatuan dalam Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “UNDANGLAH YESUS KE DALAM PERAHU KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 29-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 11 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15. 

“Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah.” (Kis 5:38-39)

Kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang anggota Mahkamat Agama Yahudi (Sanherin) – Gamaliel – ketika menutup pemberian nasihatnya yang penuh hikmat dalam sidang Mahkamah Agama sehubungan dengan “ulah” Petrus dan para rasul lainnya dalam pelayanan evangelisasi mereka di tengah masyarakat Yerusalem. Berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya terjadi di tengah masyarakat Yahudi ketika Petrus dan para rasul/murid lainnya memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Orang yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus pun semakin bertambah (lihat Kis 5:14). Karena itu, terdorong oleh rasa iri, Imam Agung dan para pengikutnya (orang Saduki) mulai bertindak dengan melakukan penangkapan para rasul dan menjebloskan mereka ke dalam penjara umum (Kis 5:17-18).

Rasa iri orang-orang yang memegang kekuasaan karena merasa tersaingi dalam kedudukan, pengaruh dll. memang dapat membuat gelap-mata mereka. Jika begitu halnya, maka tindakan untuk melampiaskan dendam dan hal-hal jahat lainnya akan dengan mudah mengalahkan pertimbangan-pertimbangan bijaksana.

Gamaliel adalah seorang Farisi pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati. Dia berbicara kepada sidang Sanhedrin mengenai Petrus dan para rasul (Kis 5:34). Gamaliel adalah cucu dari Rabi Hillel yang terkenal. Para rabi kuno mengajarkan bahwa ada seorang dari antara mereka yang pantas menjadi tempat kehadiran Allah seperti yang telah dialami oleh Musa – dan rabi itu adalah Rabi Hillel. Dalam kisah di atas terasa bahwa Gamaliel pun diinspirasikan oleh Yang Ilahi, justru pada saat-saat genting yang sedang dihadapi oleh para rasul. Dia disapa sebagai Rabban (Guru kami) dan dia adalah guru dari Santo Paulus (lihat Kis 22:3).

Bukannya setuju dengan keinginan sejumlah anggota Sanhedrin untuk membunuh Yesus (Kis 5:33), Gamaliel malah memberi nasihat para anggota Sanhedrin untuk menunggu dan melihat apakah para pengikut Yesus berasal dari Allah (Kis 5:35-39). Ini adalah suatu posisi bijaksana mengingat bahwa pada saat itu dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dan dia ingin berhati-hati agar tidak mengambil langkah yang salah, atau bertindak secara sembarangan sehingga bisa-bisa malah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Usul atau nasihat yang dikemukakan Gamaliel kepada sidang sebenarnya untuk mengambil sikap menunggu namun dengan kesiap-siagaan rohani. Hal ini sebenarnya mempunyai preseden dalam Kitab Suci. YHWH berkata kepada nabi Habakuk: “… penglihatan itu masih menanti saatnya ……apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh” (Hab 2:3). Kebijaksanaan para rabi juga memahami apa yang tertulis dalam kitab Ratapan dalam terang yang sama: “YHWH adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan YHWH” (Rat 3:25-26). Dengan demikian sikap wait & see yang dianjurkan oleh Rabi Gamaliel adalah sikap yang bijaksana karena berakar kuat pada Kitab Suci Ibrani dan tradisi para rabi.

Gamaliel mengambil sikap wait & see karena dia tidak yakin mengenai rencana Allah. Meskipun dia adalah seorang beriman, dia tidak dapat melihat dengan perspektif yang kita miliki sekarang, yaitu bahwa Roh Kudus telah diutus untuk menolong kita. Oleh kerja Roh Kudus, kita mengetahui bahwa kehendak Allah adalah untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal, agar kita memperoleh kehidupan melalui Dia. Kita juga mengetahui bahwa adalah kehendak Allah agar Gereja Kristus didirikan. Dalam terang kebenaran ini, Roh Kudus dapat membimbing kita pada waktu kita melakukan discernment.

Nasihat Gamaliel itu diterima oleh Mahkamah Agama (lihat Kis 5:39). Para rasul disiksa, kemudian disuruh pergi disertai larangan untuk memberitakan Kabar Baik dalam nama Yesus. Mereka rela/ikhlas disiksa dengan penuh sukacita karena diperbolehkan menderita demi Yesus. Mereka tidak takut, malah justru dengan gigih memberitakan Injil ke mana-mana tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis 5:41-42).

Sesungguhnya ini adalah suatu momen yang penting dalam kehidupan Gereja. Dalam lima bab pertama dari “Kisah para Rasul” kita telah melihat Petrus dan Yohanes berkhotbah memberitakan Kabar Baik, menyembuhkan orang sakit, menjawab pertanyaan/tuduhan para anggota Mahkamah Agama, melarikan diri dari penjara dengan bantuan “seorang” malaikat Tuhan; hidup bersama dalam komunitas; penjualan tanah miliknya oleh Barnabas; peristiwa Ananias dan Safira. Dalam semua hal ini, Gereja masih merupakan sebuah Gereja Yahudi. Gereja ini seluruhnya terdiri dari orang-orang Yahudi setia yang masih berdoa di Bait Allah dan memandang Yesus sebagai pemenuhan/penggenapan janji-janji Perjanjian Lama.

Sekarang kita berada pada ambang transformasi Gereja dari sebuah Gereja Yahudi di Yerusalem menjadi sebuah Gereja segala bangsa yang mendunia, yang kelak berpusat di kota Roma.

Sisa selanjutnya dari “Kisah para Rasul” bercerita tentang universalisme. Para rasul telah memenuhi perintah Tuhan Yesus. Mereka memberitakan Injil yang dimulai di Yerusalem (Luk 24:47). Para rasul memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada masyarakat Yahudi dahulu sebelum bergerak ke luar, yaitu orang-orang non-Yahudi.

DOA: Bapa yang mahakasih, yang oleh terang Roh Kudus-Mu mengajar umat beriman. Semoga melalui Roh Kudus-Mu kami dapat bertumbuh dalam kebijaksanaan dan discernment, agar dapat mengetahui serta mengenali apa sesungguhnya kehendak-Mu dalam situasi tertentu, kemudian melaksanakannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS YANG MEMBERDAYAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir – Rabu, 11 April 2018)

Lalu mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, yaitu orang-orang dari aliran Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati. Mereka menangkap rasul-rasul itu, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara umum. Tetapi pada malam hari seorang malaikat Tuhan membuka pintu-pintu penjara itu dan membawa mereka ke luar, katanya, “Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak.”

Setelah mendengar pesan itu, menjelang pagi masuklah mereka ke dalam Bait Allah, lalu mulai mengajar di situ. Sementara itu Imam Besar dan pengikut-pengikutnya menyuruh Mahkamah Agama berkumpul, yaitu seluruh majelis tua-tua bangsa Israel, dan mereka menyuruh mengambil rasul-rasul itu dari penjara. Tetapi ketika pejabat-pejabat itu datang ke penjara, mereka tidak menemukan rasul-rasul itu di situ. Lalu mereka kembali dan memberitahukan, katanya, “Kami mendapati penjara terkunci rapat-rapat dan semua pengawal ada di tempatnya di depan pintu, tetapi setelah kami membukanya, tidak seorang pun kami temukan di dalamnya.”  Ketika kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala mendengar laporan itu, mereka bingung tentang rasul-rasul itu dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Tetapi datanglah seseorang mendapatkan mereka dengan kabar, “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak.” Kemudian pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka dengan batu. (Kis 5:17-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Yoh 3:16-21 

Berbagai peristiwa dramatis setelah Pentakosta yang terjadi dalam Gereja yang masih sangat muda itu menarik perhatian setiap orang, baik tua maupun muda, baik kaya maupun miskin, baik orang terkenal maupun orang biasa-biasa saja. Seperti kita dapat menduga sebelumnya, orang-orang yang berbeda-beda bereaksi dengan cara yang berbeda-beda pula.

Laporan-laporan tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan serta suasana penuh sukacita yang mencirikan orang-orang Kristiani menimbulkan rasa iri hati Imam Besar  dan para pengikutnya (orang-orang Saduki; lihat Kis 5:17). Mereka mencoba untuk menghalangi semakin luasnya penyebaran “kehebohan” di tengah-tengah rakyat sehubungan dengan mukjizat-mukjizat penyembuhan lewat pelayanan para rasul. Bagaimana? Dengan cara memenjarakan rasul-rasul itu. Mengapa? Karena para pemuka agama itu terperangkap oleh logika mereka sendiri, maka mereka tidak mampu melihat realitas mendasar bahwa semua kuat-kuasa sebenarnya datang dari Allah. Apabila Allah berdiam dalam diri seseorang, maka kuat-kuasa Allah juga berdiam dalam dirinya. Kekuatan manusiawi semata yang ada dalam diri si Imam Besar (yang di mata dunia dipandang sangat berkuasa) tidak mampu apa-apa dalam menghadapi kuat-kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri para rasul, yang kali ini lagi-lagi tanpa rasa takut sedikit pun mewartakan firman hidup di Bait Allah setelah mukjizat pembebasan mereka dari penjara umum.

Bagaimana episode dalam Gereja yang masih sangat muda ini berbicara kepada hidup kita sendiri hari ini? Hari ini, seperti pada setiap zaman dalam sejarah Gereja, umat beriman mengalami pencobaan dan penderitaan karena iman-kepercayaan mereka. Sudan, Nigeria, India, Malaysia dan negara tercinta kita sendiri adalah segelintir bukti sejarah modern, bahwa ‘pengejaran’ terhadap para pengikut Kristus masih terus terjadi, meskipun diejawantahkan dalam wajah, skala dan kedalaman yang berbeda-beda. Patut kita camkan juga, bahwa bukanlah maksud Allah untuk sekadar menyelamatkan kita dari kesusahan/penderitaan yang sedang kita alami. Allah juga memperkenankan hal-hal seperti itu terjadi guna menciptakan karakter-Nya sendiri dalam diri kita masing-masing. Seperti telah dicontohkan oleh negara-negara Eropa Timur pada waktu Uni Soviet sangat berkuasa, ada saat-saat di mana tekanan-tekanan atas Gereja justru menyediakan jalan yang paling pasti menuju kekudusan. Selagi kita mengalami kekuatan, arahan dan damai-sejahtera pemberian Roh Kudus yang hadir dalam diri kita, kita pun dapat bergabung dengan para rasul guna memberi kesaksian tentang kebenaran, bahwa Roh yang ada di dalam diri kita, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (lihat 1Yoh 4:4). Seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:25).

Corrie ten Boom dan Santo Maximillian Kolbe OFMConv. adalah dua orang pahlawan kamp konsentrasi Nazi Jerman pada Perang Dunia ke-II. Apabila kita amati kehidupan kedua orang ini, seorang perempuan Belanda dan seorang imam Fransiskan Conventual Polandia,  maka kita melihat bahwa kekuatan dan keberanian mereka bersumber pada pemahaman mereka akan Injil dan cinta mereka yang mendalam kepada Allah serta pengandalan diri semata-mata kepada-Nya. Di tengah-tengah penderitaan mereka sendiri, masih saja mereka mampu untuk menjadi perpanjangan tangan-kasih Allah bagi teman-teman dalam kamp konsentrasi, memanifestasikan iman yang memberi kehidupan dan kemenangan kepada siapa saja yang percaya. Inilah iman yang kita telah warisi, dan iman ini dapat memberdayakan orang-orang yang paling rendah sekali pun dengan kekuatan, pengharapan dan sukacita yang lebih besar.

DOA: Yesus, Tuhanku dan Allahku. Datanglah dan penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu, agar dalam kelemahanku aku menjadi kuat. Berikanlah kepadaku sukacita dan kemenangan yang menanti-nantikan mereka yang mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI” (bacaan tanggal 11-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 April 2018 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS YANG SAMA

ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman.

Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan dengan judul “KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 7-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 4 April 2012 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS