Posts tagged ‘KITAB WAHYU’

HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI

HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 

Lalu tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.

Lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. (Why 11:19;12:1,3-6,10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26; Bacaan Injil: Luk 1:39-56

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:45)

Diangkatnya SP Maria ke surga adalah suatu kepercayaan yang dalam-tertanam di dalam kesadaran Katolik dan dijadikan dogma Gereja oleh Paus Pius XII di tahun 1950, dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Doktrin tentang “Maria diangkat ke surga” merupakan salah satu penghalang terbesar bagi saudari-saudara kita umat Kristiani. Terkadang, dalam menghadapi keluhan dan/atau tantangan bahwa doktrin ini tidak sesuai dengan Alkitab, orang-orang Katolik akan setuju, namun kemudian mengatakan bahwa doktrin ini berasal (atau bertumpu pada) dari tradisi, bukan dari Kitab Suci.

Tanggapan orang-orang Katolik seperti ini memang dapat dipahami, akan tetapi gagal untuk “menangkap” sesuatu yang signifikan berkaitan dengan kepercayaan ini. Keyakinan akan kebenaran kepercayaan ini berasal dari kalangan para pendoa, teristimewa para rahib dan rubiah di biara-biara monastik, yaitu mereka yang menyediakan bagian waktu terbanyak kehidupan sehari-hari mereka untuk memeditasikan sabda Allah dalam Kitab Suci. Jadi akan lebih akurat dan menolong apabila kita melakukan pendekatan terhadap doktrin “Maria diangkat ke surga” dengan memandangnya sebagai sesuatu yang didasarkan atas Kitab Suci, namun dengan cara yang berbeda dengan hal-hal lainnya untuk mana kita dapat menunjuk suatu teks khusus sebagai bukti.

Kepercayaan akan “Maria diangkat ke surga” konsisten dengan data alkitabiah dengan jangkauan  yang luas. Maria adalah perempuan yang dengannya Allah mengadakan permusuhan dengan si Ular Tua atau Iblis (Kej 3:15). Lalu, memang ada beberapa orang kudus Perjanjian Lama yang diangkat ke surga secara fisik, misalnya Henokh (Kej 5:24) dan Elia (2Raj 2:11-12). Maria sendiri dibandingkan dengan tabut perjanjian; ia adalah pribadi di dalam rahimnya Putera Allah dikandung oleh Roh Kudus dan berdiam. Maria juga adalah perwujudan Puteri Sion (Zef 3:14; Za 9:9; Mat 21:5; Yoh 12:15), yang mempersonifikasikan Israel, dia yang membalikkan kutukan atas Hawa dengan tindakan penuh kepercayaan kepada utusan surgawi (malaikat agung Gabriel; lihat Luk 1:21-38).

Diangkatnya Maria ke surga harus dilihat dari perspektif kekal sebagai bagian dari rencana Allah baginya untuk menjadi ibunda dari Putera ilahi-Nya. Fiat atau “ya”-nya Maria kepada pemberitahuan malaikat agung Gabriel diucapkan olehnya dalam pandangan akan kemuliaan akhir surga. Tujuan final ini di samping Yesus yang dimuliakan adalah buah penuh dari kata-kata Elisabet: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Perspektif surgawi ini harus diterapkan atas bacaan dari kitab Wahyu hari ini. Tentulah bukan suatu kebetulan bahwa visi/penglihatan perempuan yang berselubungkan matahari dan mengenakan sebuah mahkota dengan dua belas bintang menyusul terbukanya Bait Suci Allah dan suatu pemandangan tentang tabut perjanjian Allah (Why 11:19). Dalam penglihatan ini ini, baik Israel dan Maria direpresentasikan; yaitu dari Israel, khususnya dari Maria-lah bayi-Mesias dilahirkan.

Pada hari raya ini, marilah kita mengangkat hati dan pikiran kita ke surga untuk mengkontemplasikan rencana Allah yang mulia dan pemenuhannya dalam diri Maria, orang Kristiani yang pertama.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memahkotai SP Maria pada hari dia diangkat ke surga dengan suatu kemuliaan yang tiada bandingnya. Engkau memandang kerendahan hatinya dan membuatnya ibu dari Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal. Bentuklah kami semua menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati sesuai dengan teladan hidup SP Maria, agar kami pun dapat diselamatkan oleh misteri penebusan Yesus Kristus dan ikut ambil bagian bersamanya dalam kemuliaan kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 13-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BELAJAR UNTUK MENERIMA DARI YESUS

BELAJAR UNTUK MENERIMA DARI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 29 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

the-holy-lamb-of-god-with-the-seven-rivers-tempera-on-wood-42-x-30cm-salesians-church-turin-italy-2002Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Tidak akan ada lagi yang terkutuk. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. Malam pun tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
Lalu Ia berkata kepadaku, “Perkataan-perkataan ini dapat dipercaya dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.” “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Why 22:1-7).

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 95:1-7; Bacaan Injil: Luk 21:34-36

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima karunia-karunia dari Allah ataupun hadiah-hadiah dari orang lain? Seringkali kita merasa bahwa apabila seseorang bermurah hati kepada kita, maka kita berutang kepadanya. Kita harus membayar kembali kepadanya. Memang sulit untuk menerima suatu pemberian dengan lapang dada dan percaya bahwa sang pemberi hanya ingin mengungkapkan kasihnya kepada kita. Semua imaji yang digunakan oleh Yohanes dari pulau Patmos pada akhir Kitab Wahyu berbicara – satu dan lainnya – tentang Allah yang melayani umat-Nya, dan umat-Nya tersebut menerima pelayanan-Nya dengan penuh kegairahan dan syukur.

Inilah inti pokok dari Injil, yaitu tentang Allah Yang Mahamurah dan yang berbelas kasih, yang memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Injil bukanlah tentang orang-orang baik yang melakukan pekerjaan baik dan kemudian memperoleh ganjaran. Injil bukanlah sebuah daftar peraturan dan perintah yang akan membuat kita dapat diterima oleh Allah pada saat kita meninggal dunia. Injil adalah mengenai siapa saja yang dibuat benar di hadapan Allah, diampuni oleh-Nya, dikasihi oleh-Nya …… tanpa syarat, tanpa pamrih. Karunia-karunia dari Allah yang diberikan kepada kita secara bebas inilah yang harus kita terima, sambil berkata “Terima kasih, Bapa,” selagi Dia membebaskan kita dari kuasa dosa.

John's_vision_14-607Semakin banyak kita belajar untuk menerima dari Yesus, semakin dekat pula kita dengan diri-Nya, dan semakin penuh kita didesak untuk mengasihi orang-orang lain dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Kelihatannya begitu sulit untuk menerima dari Yesus. Kita dapat merasa tak pantas dan berdosa. Kita dapat merasa tidak ada cara apapun yang dapat membuat Dia mengasihi kita dengan begitu mendalam. Namun Yesus mengasihi kita semua, bahkan yang paling buruk dari para pendosa. Yesus senantiasa berdiri dengan sikap siap untuk memberikan kasih-Nya dalam kepenuhan, tanpa peduli siapa kita atau apa yang telah kita lakukan.

Pada saat yang bersamaan, bacaan Injil hari ini memperingatkan kita tentang hal-hal yang menghalangi kita menerima sesuatu pemberian dari Yesus: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari …” (Luk 21:34). Jika kita tidak waspada, kita dapat saja luput melihat dan mengalami kehadiran Yesus. Tidak adanya kewaspadaan dapat menghalangi aliran rahmat dan menyebabkan kita menjadi tidak peka terhadap suara Roh Kudus. Hari Minggu besok kita memasuki Masa Adven, masa pengharapan dan antisipasi penuh sukacita. Marilah kita mengkomit diri kita masing-masing untuk menerima dari Yesus setiap hari.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku memberikan diriku kepada-Mu. Aku datang kepada-Mu untuk menerima segala sesuatu yang Engkau ingin berikan kepadaku. Aku tidak ingin fokus pada apa yang dapat kubawa kepada-Mu hari ini, melainkan aku akan fokus pada penerimaan kasih-Mu dan bimbingan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT-NASIHAT YESUS SEHUBUNGAN DENGAN AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 29-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 22:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENURUTI PERKATAAN-PERKATAAN NUBUAT KITAB INI !!!” dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 26 November 2014 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 25 November 2014)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati

pppas0594Lalu aku melihat: Sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya. Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada dia yang duduk di atas awan itu, “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” Lalu Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumi pun dituailah.
Kemudian seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di surga; juga padanya ada sebilah sabit tajam. Seorang malaikat yang lain lagi datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya, “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah. (Why 14:14-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13; Bacaan Injil: Luk 21:5-11

Walaupun segala imaji apokaliptis yang disajikan dalam Kitab Wahyu terasa agak aneh bin ajaib, semua itu sebenarnya terkait erat dengan tradisi kenabian Perjanjian Lama dan juga perumpamaan-perumpamaan Yesus. Misalnya, nabi Yoel memproklamirkan bahwa YHWH akan menghakimi bangsa- bangsa seperti menyabit tuaian yang sudah masak (Yl 3:13). Yesaya juga berbicara mengenai seorang tokoh mesianis gagah yang akan melakukan penghakiman, yang berpakaian merah, yang berkata: “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!” (lihat Yes 63:1-3).

Dua buah nubuatan di atas sejajar dengan visi Yohanes dari pulau Patmos dalam Kitab Wahyu: “Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah” (Why 14:19). Yesus juga membanding-bandingkan akhir zaman dengan waktu panenan, dan menerapkan imaji ini, malah dengan tingkat kedaruratan yang lebih. Jangkauan pandangan Yesus jauh melampaui sejarah umat manusia, dan pandangan-Nya itu langsung sampai kepada saat di mana Bapa surgawi akan mencapai kemenangan akhir: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35).

pppas0250Saat “menuai” mengacu kepada kulminasi dari suatu langkah maju yang teratur namun panjang. Pertama-tama, tanah harus dicangkul atau dibajak, kemudian ditanamlah benih-benih. Lahan itu pun kemudian diairi dan diberi pupuk serta dirawat dengan baik. Hanya apabila tanaman sudah berbuah dan buah-buah itu sudah masak, maka tibalah saatnya untuk mengambil buah-buah itu. Dalam urut-urutan seperti ini para penulis Kitab Suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus menemukan lambang tangan-tangan Allah yang membimbing sejarah manusia. Seorang petani mempersiapkan segala sesuatu untuk masa menuai yang mau tidak mau akan tiba, walaupun hal ini menyangkut masa depan yang cukup jauh. Demikian pula secara tetap Allah mempersiapkan umat-Nya untuk akhir zaman.

Hanya dengan/oleh iman kita dapat percaya bahwa dunia ini akan berakhir, tidak melalui perubahan besar tanpa makna, melainkan melalui pendirian Kerajaan Allah secara penuh. Prosesnya sendiri sudah dimulai. Walaupun hari demi hari kita berjuang melawan si Jahat dan para roh jahatnya yang tidak pernah merasa jemu menggoda kita, adalah kenyataan bahwa kita bergerak semakin dekat dengan saat kedatangan kembali Kristus yang penuh kemenangan pada akhir zaman. Kitab Wahyu mengingatkan bahwa kita harus yakin seyakin-yakinnya akan kemenangan akhir Allah seperti si petani merasa yakin akan kedatangan saat untuk menuai.

Yesus mengundang kita untuk berpartisipasi secara aktif dalam menuai panenan: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:48). Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita rahmat untuk bekerja dengan-Nya selagi Dia “mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal” (Yoh 4:36).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang yang Engkau ingin kumpulkan dalam Gereja-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu tolonglah kami untuk menjadi hamba-hamba-Mu yang setia, yang menyiapkan jalan bagi kedatangan kembali Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI DIKUASAI OLEH RASA TAKUT” (bacaan tanggal 25-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:14-19), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN DI BUMI” (bacaan tanggal 27-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung La, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI YANG LEBIH MENDALAM DENGAN YESUS

RELASI YANG LEBIH MENDALAM DENGAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan & Martir – Sabtu, 22 November 2014)

john_the_divine_on_the_isle_of_patmos_by_kjdvndv-d5l65fi

Merekalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki pelita yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara demikian. Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.
Bilamana mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka. Mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan. Orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan umat, melihat mayat mereka selama tiga setengah hari dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan. Mereka yang tinggal di bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang tinggal di bumi.
Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat menjadi sangat takut. Lalu kedua nabi itu mendengar suatu suara yang nyaring dari surga berkata kepada mereka, “Naiklah ke mari!” Lalu naiklah mereka ke surga, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka. (Why 11:4-12)

Mamzur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10; Bacaan Injil: Luk 20:27-40

Satu reaksi apabila seseorang membaca Kitab Wahyu dapat seperti berikut ini: “Luar biasa, Yohanes dari pulau Patmos ini sungguh-sungguh mempunyai imajinasi yang hidup!” Akan tetapi kita harus ingat bahwa Yohanes tidak membuat-buat hal ini. Dia sungguh mendengarkan Yesus yang berbicara kepadanya. Walaupun dia tidak mencoba untuk memberikan interpretasi yang bersifat literal/harfiah dari akhir zaman, Yohanes menemukan suatu cara yang kreatif untuk menuliskan apa yang telah dipelajarinya dari Tuhan Yesus agar dia dapat mendorong/menyemangati para saudari dan saudaranya dalam Kristus untuk memusatkan pandangan mereka pada Yesus pada masa-masa penuh kesulitan.

Sepanjang masa, Allah telah memanggil manusia dari setiap bidang kehidupan ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Bagaimana? Dengan membisikkan/menanamkan sabda-Nya ke dalam hati mereka. Ignatius adalah seorang perwira tentara tulen yang mengenal apa artinya medan pertempuran dan memahami keganasan dan kekejaman perang. Ketika dia sedang mengalami proses penyembuhan dari luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran, dia mendengar Yesus memanggilnya untuk melayani tentara Allah. Bunda Teresa bukanlah seorang biarawati yang luarbiasa ketika Yesus minta kepadanya untuk melayani orang-orang termiskin dari para miskin di Kalkuta, India. Fransiskus dari Assisi dapat dikatakan seorang anak manja seorang pengusaha/pedagang tekstil di kota Assisi ketika dia mendengar panggilan untuk merangkul Tuan Puteri Kemiskinan dan membangun kembali Gereja.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih. Yesus sangat rindu untuk berbicara dengan diri kita masing-masing. Yesus begitu rindu untuk melihat kita kembali kepada-Nya dengan ekspektasi besar, penuh kepercayaan bahwa kita dapat mendengar suara-Nya. Yesus berbicara kepada kita dalam pikiran kita, atau memberikan kita gambaran mental, atau menempatkan seorang pribadi atau situasi dalam hati kita. Bagaimana pun terjadinya, unsur penentu atau key element-nya adalah bahwa kita tahu dalam hati kita bahwa yang kita dengar bukanlah berasal dari diri dalam diri kita sendiri. Ada rasa beda bahwa kata-kata yang khusus ini atau imaji yang khusus ini “datang dari Tuhan”.

Marilah kita mencoba hal ini dalam doa kita hari ini. Kita heningkan pikiran kita dan kita memikirkan seseorang yang kita kenal yang membutuhkan bantuan doa. Kita membayangkan orang itu dalam pikiran kita dan kita kemudian memohon kepada Tuhan Yesus bagaimana kita dapat melayani orang itu dengan baik hari ini. Dalam keheningan batin, kita mendengarkan apakah ada kata-kata yang menyemangati, atau sepotong ayat Kitab Suci, atau suatu tindakan khusus yang mulai memberi kesan khusus kepada kita. Mungkin sekali Tuhan Yesus berbicara kepada kita dan mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mengasihi dan memperhatikan orang ini pada hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Yohanes mendengarkan Engkau yang berbicara kepadanya dari surga. Aku pun ingin mendengarkan sabda-Mu pada hari ini. Berbicaralah kepadaku, ya Tuhan Yesus! Berbicaralah kepadaku bagaimana kiranya aku dapat menunjukkan kasih dan perhatianku kepada seseorang pada hari ini. Melalui Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat bertumbuh dalam kemauan dan kemampuanku untuk mendengarkan nasihat-nasihat dan perintah-perintah-Mu dalam doa. Dan juga tolonglah aku agar dapat menanggapi apa yang telah kudengarkan itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “BAB TERAKHIR” (bacaan tanggal 22-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 11:4-12), bacalah tulisan yang berjudul ‘DUKA ORANG SAKSI ALLAH” (bacaan tanggal 24-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGHARAPAN KITA

PENGHARAPAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Kamis, 20 November 2014)

FMM: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Pelindung Pra-Novis FMM

John's_vision_14-607

Lalu aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai. Aku melihat pula seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, “Siapa yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?” Tetapi tidak ada seorang pun yang di surga atau di bumi atau di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya. Aku pun menangis dengan sangat sedih, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku, “Jangan menangis! Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”
Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat mahkluk itu dan di tengah –tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, sujudlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan dupa: Itulah doa orang-orang kudus. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya, “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa. Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” (Why 5:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Luk 19:41-44

Ketika memusatkan pandangannya pada takhta surgawi, Yohanes melihat Allah sedang memegang gulungan kitab yang dimeterai, yang berisikan kata-kata penghakiman dan penebusan bagi umat manusia. Setelah melihat bahwa tidak ada seorang pun layak untuk membuka gulungan kitab tersebut, menangislah Yohanes. Tidakkah ada seorang pun yang dapat membuka gulungan kitab, dan juga pintu gerbang arus rahmat Allah dan kuat-kuasa-Nya?

Yohanes tidak hanya menangisi kenyataan bahwa penebusan Allah belum dinyatakan. Ia juga menangisi keadaan umat manusia. Pada waktu itu – seperti juga pada masa kini – Yohanes menyaksikan umat yang dirobek-robek oleh sakit-penyakit dan penderitaan lainnya, kekerasan dan perpecahan. Memang ada orang-orang yang masih menggantungkan pengharapan mereka pada kemampuan kemanusiaan untuk membereskan diri sendiri, namun Yohanes hanya dapat melihat spiral menurun yang tidak menunjukkan adanya pengharapan.

Lalu kesedihan Yohanes berubah menjadi rasa takjub ketika seekor “Anak Domba” muncul, Anak Domba yang tanpa salah, yang memiliki keberanian dan integritas yang diperlukan untuk membuka gulungan kitab di atas. Yesus Kristus, Tuhan atas langit dan bumi, Tuhan dari segenap sejarah manusia, memegang “nasib” kita di tangan-tangan-Nya. Jadi, memang ada pengharapan! Walaupun kita berdosa dan mempunyai banyak kelemahan, Allah tidak akan meninggalkan dan membuang rencana-Nya untuk menawarkan kepada kita-manusia keselamatan dan hidup baru.

Pengharapan adalah iman yang diarahkan ke masa depan. Pengharapan adalah iman yang dipraktekkan atas dasar janji-janji yang telah dibuat Allah. Pengharapanlah yang menggerakkan kita untuk mengatakan “ya” kepada Allah, dan pengharapan jugalah yang memberikan makna dari pencobaan-pencobaan yang kita alami. Pengharapan mengatakan kepada kita bahwa kita “ditakdirkan” untuk hidup bersama Kristus dan pengharapan pula yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melanjutkan langkah-langkah kita di jalan pemuridan dalam kebebasan dan penuh kepercayaan.

FatherDamien.jpegKita semua akan mengalami berbagai kesulitan pada titik-titik yang berbeda dalam hidup kita. Namun tidak ada rasa sakit atau penderitaan yang pernah dapat me-negasi janji-janji Allah untuk senantiasa berada bersama kita dan memimpin kita ke dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Satu contoh dari kebenaran ini adalah Santo Damien de Vesteur, seorang imam berkebangsaan Belgia pada tahun 1800-an. Romo Damien secara sukarela mengasingkan dirinya ke Pulau Molokai di Hawaii, agar dia dapat merawat para penderita penyakit kusta. Di tengah-tengah tantangan-tantangan dan kemunduran-kemunduran yang dialaminya sehari-hari dalam keadaan yang serba miskin dan berkekurangan, Romo Damien tidak pernah kehilangan sukacitanya. Walaupun ketika dia sendiri terkenan penyakit kusta, Romo Damien tetap berada bersama para penderita kusta di tempat itu. Hal ini merupakan pengingat tetap bahwa apa pun yang kita hadapi, kita dapat berharap akan kebaikan Tuhan dan mengenal serta mengalami penghiburan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan penuhilah diri kami dengan pengharapan yang berasal dari Engkau saja. Yakinkanlah diri kami akan kesetiaan-Mu, agar dengan demikian kami dapat berdiri teguh dan penuh damai sejahtera. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENANGISI KEHANCURAN KOTA YERUSALEM” (bacaan tanggal 20-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 17 November 2014 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu & OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA KEHENDAK-MU, SEMUANYA ITU ADA DAN DICIPTAKAN

KARENA KEHENDAK-MU, SEMUANYA ITU ADA DAN DICIPTAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 19 November 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan

STJ_440_653

Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, “Naiklah kemari dan aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis, dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud. Di sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: Itulah ketujuh Roh Allah. Di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaimana kristal; di tengah-tengah takhta itu di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan mahluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Keempat makluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan disebelah dalamnya penuh dengan mata, dan tanpa berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan hidup selama-lamanya, maka sujudlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan.” (Why 4:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6; Bacaan Injil: Luk 19:11-28

Umat Kristiani yang hidup pada masa penulisan Kitab Wahyu sedang mengalami penderitaan karena pengejaran dan penganiayaan oleh lawan-lawan Gereja Kristus, dan mereka perlu untuk diingatkan bahwa Allah memegang kekuasaan atas segenap alam ciptaan – bahkan atas pencobaan-pencobaan dan kesulitan-kesulitan yang sedang mereka alami. Allah mengasihi umat-Nya dan tidak akan melupakan serta membuang mereka. Seluruh Kitab Wahyu sungguh kaya dalam gambaran-gambaran yang menunjukkan kebenaran-kebenaran ini.

Banyak visi/penglihatan tentang surga yang digambarkan dalam Kitab Suci berisikan gambaran-gambaran tentang “pintu” yang terbuka, mengungkapkan kemuliaan surga atau kehadiran Allah (lihat Yeh 1:1; Mat 3:16; Kis 7:56). Yohanes menggambarkan “Dia” yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis” (lihat Why 4:3), dua jenis permata yang sang bernilai tinggi dalam dunia kuno. Selanjutnya, Yohanes menggambarkan ada 24 takhta, dan di takhta-takhta itu duduk 24 tua-tua yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka (lihat Why 4:4). Dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah (Why 4:5), suatu gambaran yang dramatis dari kuat-kuasa Allah.

Yohanes juga menggambarkan lautan kaca bagaikan Kristal dan keberadaan 4 makhluk luarbiasa (lihat Why 4:6), serupa dengan apa yang digambarkan dalam Yeh 1:5-26. Imaji-imaji seperti seekor singa, anak lembu dan burung nasar yang sedang terbang, semua menunjukkan keberanian, kekuatan dan kemuliaan Allah, sedangkan makhluk yang berwajah manusia mengingatkan kita akan Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia (ingat: Konsili Kalsedon) – yang berempati dengan kita-manusia dan secara akrab/intim bersatu dengan kita. Makhluk-makhluk ini penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang (Why 4:6), hal mana menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat luput dari perhatian Allah.

Dengan beberapa ayat singkat, kepada kita telah dihadirkan sejumlah imaji yang bersifat dramatis, semuanya mengungkapkan kemulian Allah dan jaminan bahwa kita ada dalam hati-Nya. Kita senantiasa berada di bahwa pemeliharaan-Nya yang selalu waspada dan lemah lembut, dan Ia pun sangat mengetahui segala kebutuhan kita, segala pengharapan kita, dan segala impian kita. O betapa besar sukacita yang dapat memenuhi hati kita selagi kita belajar percaya dan hidup sesuai dengan kebenaran-kebenaran ini! Berbagai kesulitan dan hal-hal kecil mengganggu yang kita hadapi – barangkali karena iman kita – hampir tidak ada artinya ketimbang kasih Bapa surgawi bagi kita dan kuasa-Nya untuk menguatkan kita pada saat-saat sulit.

Dalam salah satu imaji yang paling menyentuh, 4 makhluk hidup melambungkan madah puji-pujian kepada Tuhan selagi 24 tua-tua melemparkan mahkota mereka dalam tindakan penyembahan mereka. Visi atau penglihatan ini saja dapat membawa kehadiran Tuhan selagi kita bernyanyi dengan segenap makhluk surgawi: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang akan datang”…… “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan” (Why 4:8-11).

DOA: Tuhan Yesus, kami mempersembahkan segala pujian, kehormatan dan kemuliaan bagi-Mu. Engkau telah mencurahkan rahmat yang mengagumkan atas diri kami dan menunjukkan hati-Mu yang Mahakudus kepada kami. Kami bergembira dan penuh sukacita dalam bela rasa dan kerahiman-Mu yang tak putus-putusnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI” (bacaan tanggal 19-11-14) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2014.

Cilandak, 16 November 2014 [HARI MINGGU BIASA XXXIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNIA PERTOBATAN

KARUNIA PERTOBATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Selasa, 18 November 2014)

OSCCap.: Peringatan B. Salomea, Perawan

john“Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu, ingatlah apa engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu kapan saatnya Aku tiba-tiba datang kepadamu. Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka layak untuk itu.
Siapa yang menang, kepadanya akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikatnya.
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

“Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, sumber dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam suku, dan tidak dingin atau panas, aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari aku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu, bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah!
Lihat, aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” (Why 3:1-6,14-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Injil: Luk 19:1-10

Dalam setiap suratnya kepada ketujuh gereja di Asia Kecil, Yohanes berusaha menyemangati dan mendorong umat Kristiani untuk bertekun dalam kemenangan Yesus atas dosa, Iblis, dan maut – bahkan di tengah pengejaran terhadap Gereja. Yohanes mendesak mereka untuk bertobat dan berpegang teguh pada Injil Yesus Kristus, dengan demikian menerima warisan mereka sehubungan dengan kehidupan bersama Bapa surgawi seperti yang sudah dijanjikan.

Sardis adalah kota pelabuhan yang terkenal sebagai tempat pendistribusian produk kain terbuat dari wol di kekaisaran Roma. Melalui gambaran pakaian (Why 3:4). Yohanes mengingatkan kaum beriman bahwa mengkompromikan Injil guna menghindar dari pengejaran para lawan Gereja Kristus telah membuat mereka mati secara spiritual, walaupun mereka telah mati sebenarnya (Why 3:1)

Laodikia adalah sebuah kota makmur yang terkenal dengan industri pakaian, perbankan, dan riset dalam pengobatan penyakit-penyakit mata, menerima aliran air hangat dari sumber-sumber air panas di luar kota. Yohanes mengingatkan umat Kristiani di sana bahwa pengabdian mereka pada kekayaan materiil membuat mereka “suam-suam kuku” dan berada dalam bahaya kehilangan keselamatan mereka (Why 3:15-16). Dengan mencampur-adukkan Injil, maka dua jemaat/gereja ini – Sardis dan Laodikia – menyangkal kenyataan bahwa Injil memiliki kuat-kuasa untuk mentransformasikan kehidupan manusia, dengan demikian menyerukan agar mereka bertobat.

Seperti gereja-gereja di Sardis dan Laodikia, maka kita pun hidup dalam sebuah masyarakat yang tidak mengakui kebenaran Injil. Dengan demikian, kita pun dapat merasa terpaksa untuk berkompromi guna menghindari konflik. Seperti gereja-gereja perdana ini, maka jawaban bagi kita terletak pada karunia pertobatan. Dalam kasih-Nya, Allah memarahi dan mendisiplinkan kita sehingga dengan demikian hidup kita lebih penuh mencerminkan kuat-kuasa Injil-Nya kepada dunia (Why 3:19). Yesus Kristus telah mengalahkan dosa, Iblis dan maut. Dan selagi kita membuka hati kita bagi kuasa penyembuhan-Nya melalui pertobatan, kita memperkenankan Dia memulihkan kita kepada kehormatan dan martabat kita sebagai anak-anak Allah.

Kita harus senantiasa mengingat bahwa tujuan pertobatan sebenarnya jauh melampaui keadaan diampuni karena dosa-dosa kita – walaupun hal ini menjadi bagiannya juga. Pertobatan yang menyenangkan hati Bapa surgawi membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan mentranformasikan diri kita menjadi gambar dan rupa Putera-Nya terkasih melalui kuat-kuasa Roh Kudus.

Dengan memperdalam relasi kita dengan Tuhan secara begini, maka kita membuka diri kita sendiri bagi penyembuhan yang mendalam serta pemulihan. Roh Kudus akan menolong kita mengakui dosa-dosa kita dan akan melayani kita dengan kasih yang menyembuhkan dan mentransformir, juga pengampunan dari Allah, sehingga dengan demikian kita dapat tetap setia. Selagi orang-orang lain melihat karya Allah dalam diri kita (melalui hidup pertobatan kita), maka mereka akan merasa rindu untuk mengalami kasih Allah, pengampunan-Nya dan pembaharuan bagi mereka sendiri.

DOA: Datanglah Roh Kudus, nyalakanlah secara baru dalam diri kami api dari kasih ilahi-Mu, agar kami dapat memperbaharui muka bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SENANTIASA MENCARI KITA” (bacaan tanggal 18-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 14 November 2014 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk., Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS