Posts tagged ‘MENGASIHI MUSUH’

BERDOA BAGI MUSUH-MUSUH KITA

BERDOA BAGI MUSUH-MUSUH KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 16 Juni 2015)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk.-Martir Polandia 

stdas0792Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 2Kor 8:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2, 5-9 

“Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesama manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43-44).

Di antara “kata-kata keras Yesus” (hard sayings of Jesus) yang terdapat dalam kitab-kitab Injil, barangkali tidak ada yang lebih fundamental, lebih memberi tantangan, atau lebih banyak diabaikan daripada yang digunakan oleh Yesus ketika Dia mengajar orang-orang bagaimana seharusnya mereka berelasi dengan musuh-musuh mereka.

Apabila kita memikirkan kasih sebagai suatu perasaan menyangkut afeksi yang intens, maka kiranya hanya ada sedikit saja orang yang kita harapkan dapat kita kasihi, dan yang samasekali tidak dapat kita kasihi adalah para musuh kita. Namun seperti digunakan dalam Alkitab, kasih terutama menyangkut tindakan dan tanggung-jawab. Mengasihi berarti melakukan apa yang dapat kita lakukan demi kehidupan dan kesejahteraan seorang pribadi manusia yang lain, apakah kita menyukai orang itu atau tidak. Suatu tindakan kasih terhadap seorang musuh dapat menjadi suatu pasal kepercayaan akan Allah yang adalah sang Pencipta, yang mengkaitkan atau mengumpulkan semua orang sebagai saudari-saudara satu sama lain, “yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

12Apa yang dapat kita lakukan sebagai murid-murid Yesus? Melalui pengalaman kasih/mengasihi yang aktif! Kita harus berjuang untuk mengasihi sesama kita secara aktif dan tanpa lelah. (Hal ini memang mudah untuk diucapkan, namun tidak mudah untuk dipraktekkan!) Semakin maju kita dalam hal mengasihi, maka kita pun akan bertumbuh semakin pasti dalam keyakinan akan realitas Allah dan kekekalan jiwa kita. Semakin kita “sempurna” dalam hal melupakan diri kita sendiri dalam mengasihi sesama kita, maka kita pun akan percaya tanpa ragu-ragu, dan rasa ragu-ragu tersebut tidak dapat memasuki jiwa kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa tindakan kasih Yesus sejak saat Ia ditangkap di taman Getsemani sampai kematian-Nya di kayu salib dapat menjadi suatu “model” bagi orang-orang yang mencoba secara aktif mengasihi musuh-musuh mereka. Kasih tanpa pamrih, kasih yang tidak memikirkan diri-kita sendiri sungguh-sungguh dapat memperdalam kepercayaan kita akan kehadiran Allah.

Sudah cukup sulit bagi banyak dari kita untuk mengasihi orang-orang yang menarik, serupa dengan kita, sesama kita, para sahabat kita yang terbaik, para anggota keluarga kita sendiri, atau orang-orang yang bersama kita dalam beberapa momen terbaik dalam hidup kita. Kalau begitu halnya, apakah yang dapat membuat kita mengasihi orang-orang yang tidak menarik, berbeda dalam budaya, menyebalkan, berbahaya, atau mereka yang sudah dicap oleh pemerintah dan media sebagai musuh-musuh kita yang abadi? Dapatkah kita dengan sederhana memutuskan untuk mengasihi musuh-musuh kita seperti pada waktu kita memutuskan untuk belajar sebuah bahasa asing atau mendaki gunung?

Pada kenyataannya, kasih – yang mempunyai sumber dalam diri Allah sendiri – seringkali hanya mungkin terwujud apabila kita membuka diri kita bagi rahmat Allah dan pertolongan-Nya. Hanya dengan mengandalkan kekuatan kita semata, sangat sulitlah bagi kita untuk mengasihi sesama kita dan hampir tidak mungkin untuk mengasihi musuh-musuh kita. Terpujilah Allah, karena pertolongan ilahi yang akan memampukan kita untuk mengasihi para musuh kita, senantiasa tersedia. Akan tetapi, kita hanya dapat menerima pertolongan ilahi termaksud  apabila kita menghilangkan berbagai rintangan atau kendala di dalam diri kita sendiri. Guna menyediakan ruangan bagi kasih Allah dalam diri kita, pertama-tama kita harus berjuang untuk mengatasi keangkuhan diri, prasangka, rasisme, keserakahan, pemusatan perhatian hanya pada rencana-rencana dan ambisi-ambisi sendiri, dlsb. Kita harus senantiasa menempatkan nilai-nilai Injili sebagai yang pertama dan utama dalam pengambilan keputusan-keputusan kita.

primary-mertonKadang-kadang berbagai penghalang dalam diri kita kelihatannya tidak mungkin untuk diatasi. Thomas Merton, rahib Trapis dan penulis sejumlah buku rohani yang terkenal, adalah seorang pribadi yang brilian dan kudus. Rasa humor sang rahib juga luarbiasa, namun tidak tanpa sisi gelap pribadinya, yaitu sarkasme yang terasa menyakitkan bagi mereka yang terkena. Pertobatannya menjadi seorang Kristiani, bergabungnya dia ke dalam Gereja Katolik, dan masuknya dia ke sebuah komunitas monastik Trapis tidak mengubah kecenderungannya untuk memandang rendah orang-orang lain. Pada suatu saat, di mana Thomas Merton sudah menjadi rahib selama hampir 20 tahun, secara tiba-tiba sang rahib mempunyai suatu pengalaman intens akan kehadiran Allah dalam diri orang-orang lain yang ditemuinya dan kasih Allah bagi orang-orang biasa ini, yang sederhana yang telah tidak dipandang mata olehnya, bahkan diabaikan olehnya selama ini. Hal ini terjadi di Louisville, Kentucky, di kawasan perbelanjaan (Conjectures of A Guilty Bystander, Doubleday, 1966, hal. 140-142).

Thomas Merton telah melihat secara sekilas “kebenaran” sejati, yaitu bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (lihat Kej 1:26,27). Untuk sesaat lamanya Thomas Merton melihat dengan mata atau pandangan Allah orang-orang asing di sekeliling dirinya. Pada saat itu dia mengalami kasih Allah yang tak terukur bagi setiap orang. Bagi Thomas Merton, hal ini berarti melihat dirinya sendiri dalam suatu terang yang seluruhnya baru tanpa dibebani dengan rasa penghinaan terhadap begitu banyak orang. Peristiwa itu juga memberikan kepadanya suatu pemahaman baru tentang panggilannya sebagai seorang rahib Trapis. Ia melihat Allah memanggilnya untuk berkiprah di luar biara tertutup dan membawa suatu pesan kasih yang istimewa kepada semua orang, teristimewa para musuh. Keterlibatannya dengan gerakan-gerakan perdamaian dan hak-hak sipil berawal pada momen pencerahan yang dialaminya di tempat perbelanjaan yang terletak di sebuah persimpangan jalan di Louisville, negara bagian Kentucky.

Sebelum kita dapat mengasihi musuh-musuh kita, kita harus mengambil langkah untuk mengakui bahwa ada orang-orang yang memang musuh-musuh kita, walaupun kita menghindari penggunaan kata “musuh”. Seorang musuh adalah siapa saja yang bukan seorang kawan. Seorang musuh adalah seseorang yang membuat kita merasa terancam dan berupaya untuk menjaga diri terhadap kemungkinan serangannya dlsb. Sekali kita telah mengakui bahwa kita mempunyai musuh-musuh, maka kita mempunyai titik tolak. Kita dapat mulai membuat daftar para musuh kita dan melakukan langkah-langkah selanjutnya, a.l. mendoakan mereka.

GETSEMANI - 2Sebagai bagian dari “Khotbah di Bukit”, Yesus memberi nasihat kepada para pendengar-Nya untuk membuat “tindakan mengasihi musuh-musuh kita” sebagai suatu bagian sentral kehidupan mereka. Dengan kata-kata dan contoh, Yesus berinteraksi dengan segala macam orang, termasuk mereka yang menentangnya. Nasihat Yesus untuk mengatasi segala macam konflik adalah dengan berdoa (Mat 5:44), karena doa adalah kekuatan yang paling vital dalam hidup manusia. Dalam doa kita memohon kepada Allah untuk membawakan kebaikan kepada mereka yang dahulu kita ingin sakiti. Dalam doa kita memohon kepada Allah agar supaya diberikan kekuatan untuk mengasihi. Kita tidak hanya memohon pertobatan dari musuh-musuh kita, melainkan juga pertobatan diri kita sendiri. Dalam doa kita memohon kepada Allah agar menggunakan kita untuk melakukan sesuatu kebaikan demi kesejahteraan orang-orang yang kita takuti. Dalam doa kita juga memohon agar dapat melihat diri kita sendiri seperti kita dilihat oleh orang-orang yang takut kepada kita, jadi tidak dari sudut kita saja. Kita tidak hanya mempunyai musuh-musuh, tetapi kita juga adalah musuh-musuh bagi pihak lain.

Dalam mendoakan musuh kita, sangatlah menolong untuk waktu yang cukup membayangkan musuh kita itu atau memandangi fotonya, kalau ada. Selagi kita memandangi foto itu, baiklah kita juga berdoa: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, kasihanilah aku, seorang berdosa!” 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “SEMPURNA” (bacaan tanggal 16-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN  ALKITABIAH JUNI 2014. 

Cilandak, 13 Juni 2015 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANTANGAN YANG HARUS KITA JAWAB SEBAGAI MURID-MURID YESUS KRISTUS

TANTANGAN YANG HARUS KITA JAWAB SEBAGAI MURID-MURID YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 12 September 2013)

Peringatan Nama Maria yang Tersuci

Jesus_109“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk 6:27-38)

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6

Orang-orang Kristiani sepanjang masa menghadapi tantangan yang sangat besar dan berat, yaitu sabda Yesus sendiri: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28). Betapa ironisnya bunyi perintah Yesus itu bilamana kita membacanya dari Kitab Suci pada hari ini, dan melihat apa yang terjadi dengan umat Kristiani di mana-mana di dunia ini: di beberapa tempat di Indonesia, di Mesir, di Sudan dlsb. Barangkali inilah cara Allah mengatakan kepada kita bahwa apapun kiranya yang terjadi, Dia masih tetap memegang kendali …… He is still in control! Barangkali inilah cara-Nya memanggil kita untuk memeriksa kembali cara kita menerapkan ajaran-ajaran-Nya dalam praktek.

9-11 ATTACKSApakah Bapa surgawi ingin agar kita mengampuni para teroris? Ya! Apakah Yesus menginginkan peristiwa-peristiwa penolakan, pengejaran, penganiayaan atas umat Kristiani yang terjadi di seluruh dunia untuk menunjukkan kepada kita bahwa Dia telah mengampuni setiap orang – kita semua, bahkan mereka yang menyalibkan diri-Nya? Ya! Apakah Allah ingin menggunakan pengalaman menyakitkan seperti 9/11 di New York City atau peristiwa Bom Bali I dll., untuk minta kepada kita agar melakukan pemeriksaan batin apakah kita memendam amarah berkepanjangan sebagai akibat beberapa kenangan pahit-menyakitkan – dibenarkan (justified) atau tidak – dan bahwa Dia ingin kita untuk let go? Barangkali! Hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya!

Santo Stefanus adalah sebuah contoh sempurna tentang seorang anak manusia yang mengasihi musuh-musuhnya. Seperti Yesus, orang kudus ini bahkan mengampuni mereka yang membunuhnya (Kis 7:60; bdk. Luk 23:34). Barangkali beberapa dari kita dapat mencontoh Santo Stefanus dan mengampuni para teroris pelaku Bom Bali I dll., atau mengampuni mereka yang telah menyakiti atau mendzolimi kita secara pribadi. Bagi yang lain – teristimewa bagi mereka yang telah kehilangan orang-orang yang mereka kasihi pada peristiwa-peristiwa kejahatan terhadap kemanusiaan seperti itu – memang proses pemberian pengampunan tidak akan semudah yang kita bayangkan. Namun dengan berjalannya waktu, ketekunan pribadi untuk mengampuni dan berkat rahmat Allah, pengampunan pun pada akhirnya dapat diwujudkan.

Memang kadang-kadang terasa sungguh sulit, bahkan tidak mungkinlah, untuk “let go” luka-luka mendalam dalam hidup ini. Dalam kasus-kasus ini, barangkali hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah berpengharapan bahwa waktu akan menyembuhkan luka-luka kita. Kita juga dapat memperoleh banyak penghiburan dari kasih dan doa-doa dari mereka yang dekat dengan kita. Akan tetapi yang paling penting adalah kenyataan yang sungguh menyemangati, yaitu bahwa Yesus benar-benar ingin menyembuhkan luka-luka kita dengan kuat-kuasa rahmat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau memiliki pasokan rahmat tak terbatas untuk dicurahkan ke atas Gereja-Mu. Sembuhkanlah luka-lukaku. Tolonglah aku menjadi seorang pribadi yang berbelas-kasih terhadap orang-orang yang telah menyakitiku, seperti Engkau berbelas kasih terhadap diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI MUSUH KITA?” (bacaan tanggal 12-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU” (bacaan tanggal 10-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 8 September 2013 [HARI MINGGU BIASA XXIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARUSLAH KAMU SEMPURNA

HARUSLAH KAMU SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2013)

RABI DARI NAZARET - 1Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2.5-9

“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Allah memanggil kita kepada kekudusan. Ia menghendakinya dan memberikan kepada kita suatu “model” yang indah dalam diri Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus, dan memberdayakan kita oleh Roh Kudus. Bapa mengundang kita menjadi serupa dengan diri-Nya, sempurna dalam kasih. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Ia menciptakan setiap orang karena kasih dan dengan tujuan kita akan menjadi sempurna selagi kita ikut ambil bagian dalam hidup ilahi-Nya.

Seorang pendeta di abad ke-19 pernah menulis bahwa “belarasa dan belas kasih Allah adalah kemuliaan dari keberadaan-Nya. Allah menciptakan kita seturut gambar dan rupa-Nya, untuk menemukan kemuliaan kita dalam suatu kehidupan kasih dan belas kasih serta perbuatan baik” (Andrew Murray, God’s Gift of Perfection). Di mata Allah, kesempurnaan itu tidak begitu berurusan dengan suatu kondisi “tanpa cacat” diri kita, melainkan berurusan dengan kemampuan kita untuk mengasihi setiap orang, bahkan musuh-musuh kita.

Allah tidak hanya mengedepankan tantangan kepada kita untuk menjadi sempurna, melainkan juga memberikan kepada kita Yesus sebagai suatu “model” kesempurnaan yang diminta-Nya dari kita. Di mata Allah, kesempurnaan itu berkaitan dengan keterbukaan seseorang untuk menerima kasih-Nya dan kemauan orang itu untuk mensyeringkan kasih dan belas kasih-Nya dengan siapa saja yang dijumpainya. Dapatkah kita sampai melupakan pembuktian cintakasih paling besar yang diberikan oleh Yesus selagi Dia memanggul salib-Nya menuju bukit Kalvari dan kemudian mendoakan para musuh-Nya dari atas kayu salib itu? Selagi tergantung di kayu salib, Yesus bahkan memohon kepada Bapa di surga untuk mengampuni mereka yang telah menyalibkan diri-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Panggilan untuk menjadi sempurna dapat kelihatan tidak mungkin apabila kita hanya mengandalkan kemampuan atau kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Allah ingin agar kita mengetahui bahwa oleh kuat-kuasa Roh Kudus sajalah kita dapat menjadi cerminan Yesus, Putera Allah yang sempurna. Selagi Roh Kudus masuk ke dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan “dipaksa” untuk mempraktekkan belarasa, pengampunan dan cintakasih, jadi tidak hanya sebatas ucapan kata-kata. Kita hanya perlu memohon kepada Tuhan Allah untuk diberikan rahmat ini. Kita hanya perlu bertobat apabila kita jatuh ke dalam dosa dan gagal mengasihi. Kita hanya perlu berseru kepada Roh Kudus guna memohon pertolongan-Nya pada saat kita melihat ketidakmampuan diri kita untuk menjadi sempurna seturut panggilan Bapa. Kita harus percaya bahwa Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan.

DOA: Bapa surgawi, kami tidak mau takut menanggapi panggilan-Mu untuk menjadi sempurna. Kami menyadari bahwa hanya apabila kami bersatu dengan Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kami – maka kami akan mampu untuk mengasihi semua orang, bahkan mereka yang memusuhi kami. Oleh Roh Kudus-Mu, kuatkanlah hasrat kami untuk meneladan kesempurnaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA” (bacaan tanggal 18-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 19-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 10 Juni 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers