Posts tagged ‘MESIAS’

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 20 April 2017) 

Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48

Setelah baru saja menyembuhkan seorang lumpuh “dalam nama Yesus”, kepada orang banyak yang sedang mendengarkan khotbahnya Petrus melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kis 3:12). Jelas, bahwa bagi Petrus bukanlah hal yang luarbiasa bagi Yesus untuk membuat mukjizat, bahkan setelah Ia naik ke surga. Biar bagaimanapun juga, sebelum itu Petrus telah seringkali menyaksikan kuasa penyembuhan Yesus diwujudkan di depan matanya sendiri. Dia juga tahu sekali bahwa Yesus masih hidup sebagai Tuhan yang bangkit. Bukankah dengan demikian logika menuntut bahwa Yesus akan terus menyembuhkan? Jawaban Petrus terhadap pertanyaan ini adalah sebuah “YA” yang pasti!

Pertanyaan Petrus kepada orang Israel di atas juga dapat ditujukan kepada kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Mengherankankah apabila Yesus menyembuhkan sakit-penyakit pada hari ini melalui doa dan pelayanan orang-orang Kristiani (pengikut-pengikut Kristus)? Samasekali tidak mengherankan! Yesus memang masih terus menyembuhkan dan melakukan banyak mukjizat dan “tanda heran” lainnya. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani, pantaslah kita merasa heran apabila mendengar bahwa Yesus telah berhenti menyembuhkan dan membuat mukjizat dan “tanda heran” lainnya.

Pada masa Paskah ini, ketika anda membaca “Kisah para Rasul”, catatlah berapa sering para murid-Nya mengalami kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus. Ia mengasihi para murid-Nya, dan Ia telah berjanji untuk senantiasa ada bersama mereka. Hal ini benar, bahkan pada hari ini juga. Yesus adalah Imanuel (Allah yang menyertai kita; lihat Mat 28:20), dan Ia mengasihi kita. Kita dapat memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan dan melakukan intervensi pada hari ini dengan penuh keajaiban. Yesus memiliki kuasa dan otoritas – juga hasrat – untuk melakukan hal-hal yang baik ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus pada masa Gereja awal (perdana) lewat iman-kepercayaan para murid-Nya, maka melalui doa-doa dan pelayanan para murid-Nya, Yesus tetap dapat melakukan karya-Nya. Pernyataan ini berlaku bagi kita semua: anda dan saya!

Dalam pekan-pekan mendatang ini, kita dapat memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita mohon kepada-Nya agar memberikan suatu visi yang lebih luas berkenan dengan jalan yang ingin Ia gunakan terhadap kita masing-masing sebagai seorang pelayan-Nya di bidang penyembuhan berbagai sakit-penyakit. Marilah kita mencoba untuk melakukan doa-doa syafaat (doa-doa untuk orang-orang lain) bagi mereka yang sedang berada dalam situasi-situasi sulit, dengan rasa percaya mendalam akan janji-janji-Nya. Janganlah kita cepat menyerah. Kita harus menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Ingatlah bahwa Yesus mengasihi setiap orang dan Ia sungguh ingin menolong. Yesus juga mengasihi kita dan ingin bekerja melalui kita masing-masing untuk menolong orang-orang lain.  Janganlah kita menjadi kaget dan terkejut ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dan melakukan penyembuhan dan/atau membuat mukjizat serta tanda heran lainnya, bahkan pada hari ini juga. Yesus itu Tuhan dan Juruselamat kita, dan Ia adalah Mahasetia.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah orang-orang yang sudah hampir kehilangan pengharapan. Bukalah mata mereka agar dapat melihat realitas kebangkitan-Mu dari dunia orang mati, dan kuasa-Mu yang dapat mengalir ke dalam kehidupan mereka dari kebangkitan-Mu itu. Tunjukkanlah kepada mereka betapa Engkau ingin bekerja dalam kehidupan mereka setiap saat. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:35-48), bacalah tulisan yang berjudul “MULAI DARI YERUSALEM” (bacaan tanggal 20-4-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH  APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 18 April 2017 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI RAYA EPIFANI

HARI RAYA EPIFANI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Raya Penampakan Tuhan – Minggu, 8 Januari 2017

HARI ANAK MISIONER SEDUNIA

 0-0-974px-gilmonde_-azulejos-nascimento_de_jesus

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”  Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6 

Begitu agung Inkarnasi dari Putera Allah sehingga bintang-pun menjadi saksi akan kebesaran peristiwa ini. Sebuah bintang baru yang terang-benderang muncul di langit malam, memberi tanda akan pemenuhan janji Allah untuk mengutus seorang Penyelamat yang akan mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi.

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) ini, kita merayakan suatu momentum yang menentukan dalam sejarah penyelamatan Allah, yakni perwahyuan Putera-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi, orang-orang yang berada di luar perjanjian Allah dengan umat Israel. “Orang-orang kafir” itu digerakkan oleh Allah sendiri untuk mencari dan kemudian bertemu dengan raja yang baru ini, Yesus.  Sejak saat itu hak-hak istimewa yang tadinya diperuntukkan hanya bagi umat Israel, menjadi tersedia bagi siapa saja. Melalui bintang istimewa dari Allah itu, terang Kristus memancar ke seluruh penjuru dunia sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

orang-majus-mengikuti-bintang-terangOrang-orang majus melihat bintang dari negeri-negeri mereka yang jauh, dan hati mereka begitu tergerak dengan penuh antisipasi sehingga langsung mereka berangkat untuk mengikuti bintang itu. Pada titik ujung perjalanan-pencarian mereka, mereka menemukan manifestasi Allah dalam rupa seorang bayi manusia kecil-mungil. Meskipun mereka belum dapat menangkap secara penuh makna sesungguhnya dari kelahiran Anak Bayi itu di dalam sebuah keluarga Galilea yang sederhana, lewat karunia iman yang penuh misteri orang-orang majus ini mengenali wibawa dan wewenang Anak ini. Tidak saja mereka memberikan persembahan yang mahal-mahal untuk Anak ini, orang-orang majus itu pun langsung sujud menyembah Yesus. Kesederhanaan tempat tinggal keluarga kecil ini dan kerendahan hati yang sederhana kedua orang tua Bayi ini menyelubungi martabat-raja-Nya, namun orang-orang majus ini berhasil “menangkap” kebenaran yang mereka hadapi.

Hari ini adalah suatu kesempatan yang sempurna bagi kita untuk minta kepada Roh Kudus untuk membuka mata kita juga, sehingga kita dapat melihat Yesus dengan cara baru. Dia bukan lagi seorang bayi kecil sederhana. Dia adalah yang telah menjalani hidup di dunia, menderita sengsara, mati, bangkit dan sekarang hidup memerintah di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan dan keagungan. Dia adalah Raja segala raja dan Tuhan dari segala tuan, dan Dia telah mencurahkan Roh-Nya untuk memberikan kepada kita suatu perwahyuan mendalam mengenai diri-Nya, sehingga dengan demikian kita pun – seperti para majus – mau sujud menyembah Dia.

Yesus mengajar kepada kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Para majus ini pasti telah mengalami kebenaran dari sabda Yesus ini. Mereka mencari makna dari bintang di langit itu dan Allah-pun memimpin mereka sampai kepada Yesus. Baiklah kita terus mencari Yesus setiap hari dan mendengarkan bisikan Roh Kudus dengan serius seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang majus itu. Dengan demikian, seperti mereka kita pun dapat “sangat bersukacita” (Mat 2:10), karena dapat bertemu dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Aku meletakkan diriku di bawah wewenang-Mu. Aku sujud menyembah Dikau pada hari ini dan selama-lamanya. Dimuliakanlah Nama-Mu yang kudus, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-2), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR DARI YUSUF DAN MARIA” (bacaan tanggal 8-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 6 Januari 2017    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 20 Desember 2016)

 1-0-annunciation-philippe-de-champaigne

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang setia, salah seorang anggota sejati dari umat Allah, seorang pewaris janji-janji yang telah dibuat Allah dengan umat pilihan-Nya. Allah tidak sekadar memilih sembarang perempuan untuk menjadi ibu Yesus; Ia memilih seorang perempuan muda dari antara orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, melalui Maria – seorang perwakilan Israel – Allah memenuhi semua janji-Nya yang diberikan di bawah perjanjian (Inggris: covenant), mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai sang Mesias dan Pembebas semua orang. Allah menggunakan Maria dalam rencana abadi-Nya untuk mencurahkan kasih-Nya ke dalam diri kita.

Allah membuat banyak janji kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Allah memberi sebuah tanda kepada raja Ahas, walaupun Ahas tidak mau karena dia tidak ingin mencobai TUHAN (YHWH): “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Imanuel berarti “Allah beserta/menyertai kita” (lihat Mat 1:23), dan janji ini dipenuhi melalui Maria dalam diri Yesus, Putera Allah yang datang dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

Banyak bacaan Perjanjian Lama pada masa Adven mempermaklumkan kedatangan Mesias sebagai Pribadi yang akan membebaskan umat Allah dari belenggu dosa dan membawa mereka kehidupan dan kedamaian. Walaupun orang-orang Israel berulang-kali memberontak melawan-Nya, YHWH tetap setia kepada  perjanjian-Nya dan berjanji untuk memimpin mereka ke luar dari kegelapan dan penindasan. Melalui kelahiran Yesus, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mencapai pekerjaan pembebasan ini, yakni menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.

Marilah kita ingat selalu, bahwa pekerjaan Allah dalam diri Maria-lah yang membawa kita semua kepada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Mukjizat ini terjadi dalam kerangka rencana kekal-abadi Allah yang lebih besar, yang mulai sebelum penciptaan dan akhirnya akan dipenuhi pada saat kedatangan kembali Yesus kelak. Kita seharusnya bergembira selagi kita menyaksikan rencana agung Allah ini bekerja dalam kehidupan kita, ketika kita mengalami Yesus yang adalah Imanuel.

Kelahiran Yesus dari Bunda Maria membawa kasih Allah ke tengah dunia dengan cara yang baru dan kekal. Marilah kita berdoa agar dapat mengalami kasih dan kuat-kuasa Ilahi ini pada masa Natal ini secara lebih mendalam lagi. Kita juga akan berdoa bagi negeri kita tercinta Indonesia ini, bagi dunia; agar kuasa-kuasa kegelapan dipatahkan dan kasih Allah dalam Kristus Yesus akan mengalir ke dalam hati semua orang.

Bersama seluruh Gereja, baiklah kita berdoa: “Datanglah, hai Kunci Daud, bukalah pintu-pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal: Bebaskanlah para tawanan dari kegelapan.” 

DOA: Allah, Bapa kami, kuduslah nama-Mu. Pada waktu menerima pesan-Mu lewat malaikat agung Gabriel, Maria Kaujadikan Bait Suci-Mu, dan dirinya pun dipenuhi dengan terang Roh Kudus. Semoga melalui contoh Maria, dengan kerendahan hati dan kesetiaan, kami dapat mengikuti kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PENYERAHAN DIRI SECARA TOTAL KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 20-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011] 

Cilandak, 18 Desember 2016 [HARI MINGGU ADVEN IV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIAPAKAH ENGKAU ??? [2]

SIAPAKAH ENGKAU ??? [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun B], 14 Desember 2014)

images (15)Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28)

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11;Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24 

YOHANES PEMBAPTIS - 3Para petinggi agama Yahudi di Yerusalem kelihatannya risau memikirkan Yohanes Pembaptis. Apakah yang dikhotbahkan oleh “orang  aneh ini”? Apa yang dilakukannya sejak ia muncul di padang gurun? Menurut Yohanes siapakah dirinya sebenarnya? Pertanyaan besar yang ada dalam pikiran mereka adalah tentang sang Mesias, Kristus. Apakah zaman Mesianis sudah dimulai? Oleh karena itu mereka mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepada Yohanes Pembaptis untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Jawaban akhir Yohanes: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya” (Yoh 1:23).

Duabelas abad kemudian pertanyaan yang sama diajukan kepada Fransiskus dari Assisi. Dia baru saja memulai “petualangan” rohaninya, baru saja meninggalkan “dunia uang” dari ayahnya, Pietro Bernardone. Pada waktu itu Fransiskus sedang melakukan perjalanan seorang diri (sesuatu yang tidak pernah dilakukannya lagi begitu Tuhan Allah memberikan kepadanya saudara-saudara) melalui hutan, sambil melambungkan lagu-lagu pujian bagi Allah dalam bahasa Perancis, ketika tiba-tiba dia diserang oleh beberapa orang penyamun. Ternyata mereka salah hitung karena orang yang bersosok kecil korban perampokan itu benar-benar miskin – tak memiliki apa-apa yang pantas untuk dirampas dari dirinya. Mereka bertanya kepada si kecil-miskin itu, “Siapakah engkau?”  Ini adalah pertanyaan mengenai identitas! Diinspirasikan oleh Roh Kudus, Fransiskus menjawab: “Aku adalah bentara sang Raja Agung.”  Kemudian Fransiskus dipukuli para penyamun itu dan ia pun dilemparkan ke dalam lubang yang dalam penuh salju (lihat 1Cel 16).

Yohanes Pembaptis dan Fransiskus (nama permandiannya juga Yohanes Pembaptis) merasa berbahagia untuk mengidentifikasikan diri mereka dalam kaitannya dengan Yesus Kristus. Patut dicatat di sini bahwa semua orang yang telah dibaptis diidentifikasikan sebagai orang-orang Kristiani – pengikut Kristus, sang Terurapi, Mesias yang telah dijanjikan itu.

Yesus ada di tengah-tengah kita …… Dia ada di dalam diri kita …… akan tetapi Dia tetap tidak dikenal apabila kita tidak memandang diri kita sebagai bentara-Nya dan menjadi saksi-Nya lewat kehidupan kita. Sesungguhnya kita semua yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi-saksi-Nya.

Bayangkanlah keberadaan orang-orang Yahudi zaman kita ini. Apakah kiranya yang ada dalam pikiran mereka tentang kita dan iman-kepercayaan yang kita hayati? Adalah adil jika kita berpikir bahwa setiap orang Yahudi berhak untuk melihat perikehidupan kita dan komunitas Kristiani kita dan bertanya kepada kita apakah tanda-tanda sang Mesias sungguh ada di tengah-tengah kita. Ingatlah selalu bahwa Yesus ada di tengah-tengah kita …… tak dikenal …… kalau kita tidak bersaksi tentang diri-Nya.

stf01010Oleh karena itu, selagi kita menyiapkan diri untuk Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Siapakah engkau?” Apakah aku sungguh merupakan suara yang menyiapkan jalan Kristus bagi orang-orang lain? Apakah aku seorang saksi Kristus dalam keluargaku sendiri, di tempat aku bekerja, dalam kehidupan sosialku, dalam tutur-kataku ketika berkomunikasi dengan sesamaku, dalam sikap politikku, prasangka yang kumiliki? Apakah aku merasa malu akan identitas Kristianiku ketika menghadapi tantangan dari luar? Apakah aku bangga untuk diketahui orang lain bahwa aku sungguh berniat untuk menghayati nilai-nilai Injili? Apakah aku sungguh merasakan kehadiran Allah yang membuat Fransiskus dengan penuh sukacita melambungkan puji-pujiannya bagi-Nya? Kemudian, ketika kita melihat kualitas kehidupan kita sebagai umat Kristiani dalam masyarakat, dapatkah kita menunjukkan kepada para penanya Yahudi itu bahwa kita memiliki semua tanda kehadiran Mesias: (a) sebuah komunitas yang membawa terang ke tengah kehidupan yang penuh kegelapan ini; (b) yang membawakan suara Allah yang penuh sukacita bagi telinga-telinga yang tuli terhadap kebaikan; (c) yang membawa pengharapan bagi semua orang yang terpenjara atau diperbudak oleh salah satu bentuk kecanduan, apakah seks, narkoba dlsb.; (d) yang membawa kesembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan luka, baik fisik maupun batin; (e) yang membawa kehidupan bagi mereka yang mengalami depresi dan hampir mati; (f) dan yang membawa kabar baik keadilan bagi orang-orang miskin?

Menurut Yesus, itulah tanda-tanda kehadiran dan kemenangan sang Mesias. Apakah tanda-tanda itu terlihat dalam hidup kita dan dalam komunitas kita? Yesus ada di tengah-tengah kita …… tidak dikenal …… kalau kita tidak bersaksi tentang diri-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, dari zaman ke zaman Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh dalam memberitakan Kabar Baik-Mu ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku pada hari ini,  aku dapat memuliakan nama-Mu, lewat kata-kata dan tindakanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 1:6-8,19-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH ENGKAU ???” (bacaan untuk tanggal 14-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 10 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 27 November 2014)

Keluarga OFM Conventual: Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam

2ndcoming2

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”
“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.” (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Salah satu unsur dari kepercayaan umat Yahudi pada zaman Yesus dahulu adalah bahwa YHWH akan membangkitkan seorang Mesias guna menyelamatkan umat-Nya. Ada orang-orang yang membayangkan sang Mesias sebagai seorang tokoh politik yang akan memerdekakan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Ada orang-orang lain yang mengharapkan agar Musa atau Elia kembali dan memimpin bangsa Yahudi seperti mereka lakukan dalam masa Perjanjian Lama. Ada juga orang-orang yang mengharapkan seorang Mesias imamiyah yang akan membawa umat kembali ke suatu penyembahan kepada YHWH yang benar.

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang akhir zaman. Setelah bernubuat mengenai keruntuhan Yerusalem, Yesus mengatakan bahwa akan ada tanda-tanda kosmik, peristiwa-peristiwa besar yang akan membuat orang-orang menjadi takut. Namun tanda yang paling besar akan menyusul: “Pada waktu itu orang akan meihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

Siapa sebenarnya “Anak Manusia” ini? Dalam penglihatannya tentang akhir zaman, Daniel melihat seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14).

Anak Manusia adalah Mesias dan pada saat yang sama juga Hakim. Ia berbeda dengan jenis-jenis Mesias yang biasa diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena Anak Manusia datang dari surga dan tidak hanya seorang manusia, melainkan juga sangat dekat dengan YHWH di surga. Kepada Mesias ini – Anak Manusia ini – diberikan kekuasaan dan wewenang atas seluruh bumi serta isinya, dan segenap ciptaan lainnya, dan kekuasaannya adalah kekal-abadi.

Yesus adalah sang Mesias, Anak Manusia. Bilamana Dia datang, maka Dia sungguh-sungguh akan menghakimi bumi. Dia menyemangati serta mendorong umat yang percaya: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Oleh karena itu, janganlah kita merasa takut akan akhir zaman dan kedatangan Anak Manusia, Yesus, karena Dia adalah seorang Hakim yang adil (bdk. Mat 25:31-46).

DOA: Tuhan Yesus, segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Mu. Datanglah dan dirikanlah kerajaan-Mu secara penuh dengan datang kembali kelak dalam kemuliaan. Tolonglah kami untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia dan taat kepada perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri dengan kepala tegak pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “MISTERI KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 27-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Cilandak, 25 November 2014 [Peringatan B. Elisabet dr Reute]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?

SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI – 24 Agustus 2014)

PETERS CONFESSIONSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa ia Mesias. (Mat 16:13-20)

Bacaan Pertama: Yes 22:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:33-36

Siapakah Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah? Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini. Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Apakah tanggapan kita terhadap pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing: “Siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: “Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?”

Petrus berkata kepada Yesus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah. Yesus berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.

Perwahyuan ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari. Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus” (Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.

Sungguh menyemangati kita semua, ketika kita mengetahui bahwa walaupun mengalami momen perwahyuan, Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan Petrus membuat dirinya haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi pernyataan tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:134-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH MESIAS, PUTERA ALLAH YANG HIDUP !!!” (bacaan tanggal 24-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 20 Agustus 2014 [Peringatan S. Bernardus, Abas – Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ASAL USUL YESUS

ASAL USUL YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 15 Maret 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASSesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.
Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kia benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30)

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23

Yesus berkata kepada orang-orang di Bait Allah yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:28-29).

Ada pandangan orang-orang Yahudi pada zaman itu, bahwa manakala Mesias datang, tidak seorang pun mengetahui asal-usul-Nya (lihat Yoh 7:27). Akan tetapi, bukankah umat pilihan Allah ini telah mengetahui bahwa bilamana Mesias datang, maka Ia datang dari Allah yang mereka klaim telah mengenal-Nya dan menyembah-Nya? Namun demikian, Yesus berkata tentang Bapa yang mengutus-Nya, Allah dari Umat-Nya, yang mereka tidak kenal.

Ini tentunya bukan salah dari para nabi dan para kudus Perjanjian Lama, yang senantiasa mendesak umat pilihan Allah ini untuk menaruh kepercayaan kepada YHWH, tidak kepada manusia. Dan apabila para penulis suci kelihatan terkadang memandang Allah dari kejauhan, menempatkan Dia terlalu jauh dari Umat-Nya, mereka dapat mengejutkan kita kemudian dengan membuat Dia terlalu manusiawi, berpikir tentang Dia dengan istilah-istilah yang sangat manusiawi dan membumi. Dan walaupun mereka belum/tidak siap untuk memahami misteri inkarnasi – Mesias sebagai Allah yang menjadi manusia – mereka sudah siap mengharapkan seorang Mesias yang manusia.

Lalu, mengapa mereka tidak mau menerima orang ini, yang telah diutus oleh Bapa surgawi?

Apakah karena Dia terlalu mirip dengan Allah yang mereka klaim telah mengenal-Nya, dan terlalu jauh dari standar-standar dunia yang telah ditetapkan bagi seorang Mesias oleh mereka? Bukankah ini kasus sebuah umat yang berkata – barangkali juga berpikir – bahwa mereka mengenal dan menyembah Allah yang benar, namun sesungguhnya mereka menyembah gambaran Dia yang salah?

Orang-orang Yahudi itu tidak dapat menerima “skandal” Yesus, “skandal” tentang Allah mereka, yang melepaskan diri-Nya dari kekayaan ilahi-Nya untuk menjadi satu dengan orang-orang miskin; Allah mereka, yang memilih untuk lahir ke dunia di tengah-tengah orang miskin dan mengenakan kemiskinan yang luarbiasa dan ketiadaan arti dalam masyarakat; Allah mereka, yang dalam kasih ilahi-Nya tidak dapat mengambil apa pun bagi diri-Nya sendiri, melainkan hidup dalam penghayatan suatu kehidupan yang memberikan diri-sendiri secara lengkap dan total.

DOA: Tuhan Yesus, apakah kami mengenal Engkau dengan lebih baik? Apakah kami sungguh menerima Engkau sebagai Mesias kami? Tuhan, kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah sungguh sang Mesias, Tuhan dan Juruselamat kami. Ampunilah kami yang terkadang kurang percaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:1a,12-22), bacalah tulisan yang berjudul “PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT” (bacaan tanggal 15-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DIUTUS OLEH DIA YANG BENAR YANG TIDAK KAMU KENAL” (bacaan tanggal 23-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 Maret 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS