Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 18 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Yosef dr Copertino, Imam 

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Masa depan sang janda dari Nain itu kelihatannya sungguh suram. Karena dalam zaman Yahudi kuno, seorang janda yang kehilangan anak laki-lakinya yang tunggal berarti bahwa dia tidak akan mempunyai sumber penghasilan. Keadaan buruk yang menimpa dirinya sungguh serius. Mengamati iringan jenazah anak muda tersebut dan ibunya, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Ketika Tuhan melihatnya, dengan penuh bela-rasa Dia berkata kepada janda itu: “Jangan menangis” (Luk 7:13). Hati-Nya tergerak dan Ia pun melakukan intervensi ilahi.

Bela rasa Yesus terhadap janda itu bukanlah sekadar sentimentalitas yang membuat diri-Nya melangggar hukum yang mengatakan bahwa menyentuh tubuh orang mati membuat seseorang menjadi najis, …… tidak bersih secara ritual: “Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya” (Bil 19:11). Sambil menyentuh usungan jenazah, Yesus berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!”  (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun  dan duduk serta mulai berkata-kata. Orang-orang dengan penuh rasa takjub mulai memuji-muji Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya: (Luk 7:16).

Dalam membangkitkan orang muda dari kematiannya, Yesus sebenarnya melakukan tindakan yang dilakukan oleh Elia berabad-abad sebelumnya, ketika dia membangkitkan anak laki-laki yang sudah mati, anak dari seorang janda (1Raj 17:17-24). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila orang-orang di dekat pintu gerbang kota Nain itu berpikir bahwa seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah mereka. Ada orang-orang yang berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis; ada pula yang mengira bahwa Dia adalah Elia; ada juga yang mengira Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi zaman kuno (Luk 9:19). Hal inilah yang menyebabkan Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20).

Sangatlah penting bagi kita (anda dan saya) untuk mengajukan pertanyaan Yesus ini kepada diri kita masing-masing, karena Allah ingin memberikan kepada kita anugerah hikmat dan perwahyuan agar supaya kita dapat mengenal Kristus secara lebih mendalam setiap hari. Allah sangat menginginkan agar pengenalan kita akan Yesus itu hidup dan mempribadi. Bagaimana hal ini dapat terjadi dalam kehidupan kita? Kita harus berdoa dan mohon kepada Allah agar menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih mendalam ke dalam misteri Kristus dan pengharapan kita kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahamulia, kami mohon Kaucurahkan kepada kami Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Kristus dengan benar. Jadikanlah mata hati kami terang, agar kami mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam penggilan-Mu: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepada orang-orang kudus. Amin. [Adaptasi dari Ef 1:17-18]

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 18-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  16 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXIV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……

TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2018)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa kita Fransiskus

Peringatan S. Robertus Bellarminus, SJ – Uskup & Pujangga Gereja

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Luk 7: 6-7)

Kata-kata indah yang diucapkan oleh perwira (centurion) ini lewat beberapa sahabatnya banyak mengungkapkan pergolakan apa yang terjadi dalam batinnya. Hal ini tidak hanya banyak menunjukkan keadaan dirinya, melainkan juga menolong kita untuk memahami bagaimana mengalami kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus dalam hidup kita dan kehidupan orang-orang lain yang kita kasihi.

Pokok pertama yang harus kita catat adalah bahwa sang perwira – seorang kafir di mata orang Yahudi dan seorang serdadu – menunjukkan penghargaan dan kekagumannya terhadap orang Yahudi dengan membangun sebuah sinagoga untuk mereka beribadat. Walaupun dia bukanlah seorang Yahudi, perwira ini menghargai umat Yahudi sebagai kelompok orang yang istimewa di mata Allah. Bukannya tidak mungkin bahwa dia pun mendambakan suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah Israel.

Kedua, setelah mempelajari tentang Yesus, perwira ini langsung memberi tanggapan dengan mengirimkan pesan memohon kepada Yesus untuk datang dan menyembuhkan seorang hambanya yang dikasihinya. Sekali lagi, sang perwira memiliki keterbukaan yang besar – dan hasrat – untuk mengalami kuat-kuasa Allah yang senantiasa terbukti setiap kali Yesus berjumpa dengan orang-orang yang sakit atau menderita kesusahan hidup.

Ketiga, barangkali yang paling penting adalah bahwa kita dapat melihat hati sang perwira ketika dia mengatakan kepada Yesus lewat perantaraan sahabat-sahabatnya: “…aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang sangat rendah hati, juga imannya dan rasa percayanya kepada Dia yang memang pantas: Yesus! Kerendahan hati sang perwira dan  rasa percayanya kepada Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh tindakan-tindakannya. Ia tidak pernah muncul sendiri di depan Yesus, melainkan dua kali mengirim utusan-utusannya untuk bertemu dengan Dia, dengan penuh kepercayaan bahwa Yesus tidak hanya dapat menyembuhkan hambanya melainkan akan menyembuhkan hambanya itu juga. Jadi, dia sepenuhnya percaya akan kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Dengan sebuah hati sedemikian, maka kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus akan mengalir dengan mudah.

Hasrat kita untuk menerima pertolongan dari Yesus bagi orang-orang yang kita kasihi maupun untuk diri kita sendiri, plus kerendahan hati kita, dan rasa percaya yang besar kepada-Nya dan kuat-kuasa Allah dalam diri-Nya, adalah kunci-kunci yang diperlukan agar kita dapat menerima kesembuhan yang Ia ingin berikan kepada kita. Hati sang perwira dan tindakan-tindakannya membawa kesembuhan ilahi bagi hambanya. Oleh karena itu, pada hari ini kita juga harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan sebuah hati seperti yang dimiliki sang perwira. Marilah kita mengambil langkah-langkah yang konkret dan berdiri dalam iman selagi kita menerima jamahan kesembuhan dari Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh tak pantas menerima cintakasih-Mu yang sedemikian besar. Namun, aku tahu bahwa Engkau pantas dan layak untuk cintakasihku. Dengan penuh kepercayaan dan dengan segala kerendahan hati, aku mohon agar Engkau sudi mencurahkan kuat-kuasa penyembuhan-Mu ke dalam hidupku. Aku percaya Engkau akan mendengarkan doaku ini, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI” (bacaan tanggal 16-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 September 2018 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN DOA

YESUS DAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 11 September 2018)

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: 1Kor 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Berdoa adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari hidup Yesus! Waktu yang dipakai Yesus untuk berkomunikasi dengan Bapa-Nya dalam doa merupakan lifeblood dari karya pelayanan-Nya dan sumber damai-sejahtera dan hikmat-Nya. Sebagai akibat dari semua waktu yang digunakan oleh Yesus untuk bersekutu dengan Bapa-Nya, maka doa sudah menjadi begitu alamiah (natural) bagi diri-Nya. Yesus tidak melakukan apa pun yang penting tanpa konsultasi dengan Bapa-Nya dalam doa.

Doa semalam-malaman yang digambarkan oleh Lukas memberikan kepada kita ilustrasi bagaimana doa sungguh memberdayakan Yesus. Waktu-Nya dengan Allah Bapa memampukan diri-Nya untuk memilih siapa saja yang harus menjadi rasul-rasul-Nya yang berjumlah 12 (dua belas) orang itu. Kemudian, ketika Dia turun bukit bersama mereka, kehadiran Allah dalam diri Yesus merupakan suatu kekuatan magnetis yang menarik orang banyak untuk datang kepada-Nya. Orang banyak itu mengenali kehadiran Allah dalam diri Yesus dan mereka berbondong-bondong untuk berkumpul di sekeliling-Nya. Dengan sedikit saja menyentuh atau menumpangkan tangan-tangan-Nya, penyakit mereka disembuhkan dan roh-roh jahat diusir pergi. Ini adalah hasil dari dedikasi Yesus terhadap doa.

Lebih daripada kitab-kitab Injil yang lain, Injil Lukas menekankan bahwa Yesus adalah seorang pendoa par excellence (lihat Luk 3:21; 5:16; 6:12; 9:18,28; 11:1; 22:32,41). Yesus seringkali berdoa semalam suntuk dan Ia mendorong para pengikut-Nya agar menjadi pendoa-pendoa (Luk 6:28; 10:2; 11:2; 18:1; 21:36; 22:40). Di dalam doalah hidup Allah, kasih-Nya, dan kuasa-Nya dapat memenuhi diri kita dan memberikan kepada kita damai-sejahtera, sukacita dan keyakinan atas kehendak-Nya. Doa mengatasi kekhawatiran karena doa adalah komunikasi dengan Allah yang sepenuhnya dapat dipercaya. Buah dari karya Allah dalam hidup kita melalui doa tidak dapat disembunyikan. Hal itu dapat memancar dari diri kita, membuat dunia menjadi terang (Luk 11:36).

Hidup doa Yesus membawa dampak dalam dunia. Apabila kita mendedikasikan diri kita bagi doa setiap hari, kita pun dapat memberi dampak bagi dunia. Keluarga kita, para sahabat kita, dan para kerabat kerja kita dapat ditarik kepada hidup Yesus yang dimanifestasikan dalam diri kita. Allah akan mendengar dan menjawab doa-doa kita atas nama mereka yang sakit dan membutuhkan pertolongan, dan membawa kesembuhan. Ia akan menyembuhkan relasi-relasi yang sudah patah dan membuka hati seluruh bangsa untuk menerima-Nya. Dia akan memberi ganjaran atas berbagai upaya kita untuk bertumbuh semakin dekat dengan diri-Nya, mencurahkan kasih-Nya atas diri kita dan mentransformasikan hati dan pikiran kita. Seperti Yesus kita pun akan senang sekali menyediakan waktu untuk berkomunkasi dengan Allah dalam doa. 

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mencari Engkau dalam doa setiap hari Nyatakanlah kepenuhan kasih-Mu dan hidup-Mu bagiku. Biarlah kuasa-Mu yang dapat mentransformasikan itu mengalir melalui diriku kepada siapa saja yang kutemui. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 11-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 8 September 2018 [Pesta Kelahiran SP Maria]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM ALLAH TIDAK PERNAH BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI DALIH UNTUK TIDAK MELAKUKAN SUATU KEBAIKAN

HUKUM ALLAH TIDAK PERNAH BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI DALIH UNTUK TIDAK MELAKUKAN SUATU KEBAIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 10 September 2018)

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-7,12

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita suatu pelajaran yang baik mengenai semangat sebenarnya yang harus menjiwai pelaksanaan hukum-hukum Allah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi siap untuk menjebak Yesus, mereka akan menyalahkan-Nya jika Dia menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat itu. Namun Yesus mengajukan pertanyaan berikut: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Lalu Yesus menyembuhkan orang itu, walaupun hari itu adalah hari Sabat (Luk 6:10).

Hukum Allah tidak pernah boleh digunakan sebagai dalih untuk tidak melakukan suatu kebaikan. “Patuh pada peraturan” bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan pelayanan kasih. Pada kesempatan lain orang-orang Farisi tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepada para orangtua mereka karena mereka harus memberikan penghormatan kepada Allah. Sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (lihat Mrk 7:11-12).

Jadi, walaupun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. Pandangan Yesus terhadap kemunafikan seperti ini: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku” (Mrk 7:6; bdk. Yes 29:13). Ingatlah bahwa kita tidak dapat menghormati Kristus, namun pada saat yang sama kita tidak menghormati orangtua kita.

Kita banyak mendengar pembicaraan mengenai “mengasihi sesama”, ketulusan hati dlsb. Dapatkah Kristus membuat tuduhan yang sama terhadap kita? Tuduhan karena kita hanya dapat berbicara, berbicara, dan berbicara; namun tanpa diikuti dengan cintakasih hidup yang sungguh nyata, tidak ada kejujuran, tidak ada ketulusan hati? Omdo? Nato? Berbicara saja sih murah dan mudah. Tidak ada pengorbanan! Di lain pihak, love-in-action yang riil membutuhkan pengorbanan. Untuk mengasihi, kita harus memberi keseluruhan diri kita. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk menyangkal diri kita sendiri, namun itulah jalan satu-satunya utuk sampai kepada kasih yang sejati, yang riil, yang tulus. Kalau tidak demikian halnya, maka kita dapat dipastikan sebagai orang-orang munafik.

Kita (anda dan saya) dapat berbicara berjam-jam lamanya tentang apa yang harus dilakukan guna menolong orang-orang miskin dan yang kelaparan di dunia, namun kita hanya dapat membuktikan kasih Kristiani kita yang sejati dengan memberikannya sampai terasa sakit (“giving/loving till it hurts”, kata Bunda Teresa dari Kalkuta). Dengan demikian kita tidak melakukan penipuan-diri, teristimewa apabila kita melakukan kebaikan tanpa ramai-ramai dan tanpa publisitas. Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus bersabda: “… apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik …… Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”  (lihatlah keseluruhan Mat 6:1-4).

Saudari-Saudara yang terkasih, jika kita sungguh ingin mematuhi hukum-hukum Allah, maka kita harus belajar bahwa cintakasih atau KASIH adalah perintah yang pertama dan utama. Kita harus jujur dan tulus dengan diri kita sendiri. Kita harus mengasihi dan bertindak karena kasih itu, walaupun menyakitkan, barangkali karena tindakan kita tidak populer dengan pihak penguasa, seperti Kristus dengan orang-orang Farisi. Kasih harus merupakah tolok ukur pertama dalam hal kepatuhan kita kepada semua hukum yang berlaku.

DOA: Tuhan Yesus, dalam perjamuan terakhir Engkau bersabda kepada para murid-Mu: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu …… Kasihilah seorang terhadap yang lain” (Yoh 15:14,17). Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia mematuhi perintah-Mu ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 10-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 7 September 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA DIPANGGIL UNTUK BEKERJA BAGI PERTOBATAN MEREKA YANG BELUM MENGENAL YESUS

KITA SEMUA DIPANGGIL UNTUK BEKERJA BAGI PERTOBATAN MEREKA YANG BELUM MENGENAL YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [TAHUN B] – 9 September 2018)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Yes 35:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua: Yak 2:1-5 

Yesus dari Nazaret adalah pribadi yang paling bermurah hati yang pernah hidup di dunia. Melihat TKP-nya yang berlokasi di Dekapolis, ada kemungkinan orang yang gagap-tuli itu adalah seorang non-Yahudi atau “kafir” di mata orang Yahudi. Posisi orang-orang seperti itu dipandang oleh kebanyakan orang Yahudi sebagai berada di luar perjanjian-perjanjian dan janji-janji Israel. Namun demikian, dengan sukarela dan bebas Yesus menunjukkan kasih Allah kepadanya … dengan menyembuhkannya. Karena Yesus begitu mengasihi Bapa-Nya, Dia mampu untuk mengasihi semua orang sepenuhnya. Yesus mengasihi mereka dengan menyediakan segenap waktu dan energi-Nya dengan tujuan agar Dia dapat membawa orang-orang lain untuk mengenal kasih Bapa sama penuhnya seperti Dia sendiri mengalaminya. Inilah bagaimana perintah-perintah Yesus hendaknya kita hayati.

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta adalah contoh modern dari seorang pribadi yang hatinya mencerminkan kasih dan kemurahan hati Yesus. Karena dia mengasihi Yesus, satu hasratnya adalah untuk menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang. Kemana saja Ibu Teresa pergi, dia tidak pernah memandang apakah seseorang itu seorang Kristiani atau bukan. Kasih Yesus begitu saja mengalir dari dirinya karena dia telah begitu mengosongkan dirinya dan memenuhi dirinya dengan Yesus. Hidup setiap orang yang disentuhnya diubah oleh kasih Yesus yang menyembuhkan dan menebus.

Kita semua dipanggil untuk bekerja bagi pertobatan mereka yang belum mengenal Yesus. Begitu banyak orang yang berada di luar tembok-tembok gereja yang sesungguhnya lapar dan haus akan Allah. Telinga mereka juga dapat dibuka untuk mampu mendengar firman-Nya dan membuat tanggapan dalam kasih. Yesus  telah memberi amanat kepada  kita untuk pergi keluar atas nama-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar – bahkan lebih besar daripada apa yang telah dilakukan-Nya (lihat Mrk 16:17-18). Dia selalu menyertai kita (lihat Mat 28:20) dan Dia ingin agar kita menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan membawa keselamatan.

Baiklah kita perkenankan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang menyembuhkan agar dengan demikian kita dapat dengan bebas melayani-Nya. Hari ini juga anda dapat mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kesempatan-kesempatan kepada anda menyebarkan kasih Yesus kepada orang-orang lain. Barangkali seseorang di rumah/keluarga/komunitas anda sendiri, anggota RT/RW anda atau rekan kerja anda di kantor/pabrik sungguh mempunyai kebutuhan. Apa pun kesempatan yang disediakan oleh Roh Kudus kepada anda. Laksanakanlah tugas anda dengan penuh kasih dan mohonlah kepada Allah agar anda dimampukan membawa seseorang agar mengenal kasih dan kerahiman Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI YESUS, SEMUA JANJI ALLAH DIGENAPI” (bacaan tangal 9-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJALA MANUSIA

PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 6 September 2018)

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:18-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

“Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” (Luk 5:10)

Banyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Ketika melihat hasil tangkapan ikan yang berlimpah itu, Petrus sadar bahwa dirinya berada di hadapan hadirat Allah. Petrus pun sujud di depan Yesus sambil mengakui kedosaannya.

Kita juga dapat sampai kepada pengalaman serupa di mana kita mengakui kekudusan Allah, dan pada saat yang sama mengakui dosa-dosa kita. Berhadapan dengan tindakan Allah dalam kehidupan kita, kita dapat sampai kepada kesadaran akan ketidakpantasan kita. Sayangnya ada dari kita yang mempunyai kecenderungan untuk tetap berdiam dalam kedosaan kita. Rasa bersalah, rasa malu, berbagai emosi negatif dlsb. mengalir masuk layaknya terjangan ombak. Kalau saja semua itu dapat mengalir keluar sama cepatnya!

Perhatikanlah tanggapan Yesus kepada Petrus. Ia tidak menanggapi pengakuan Petrus secara langsung, melainkan mengatakan kepada Petrus tentang peranan baru Petrus yang besar yang ada dalam pikiran-Nya. Terhadap seruan pertobatan Petrus – “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” – Yesus menjawab dengan sebuah janji: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:8-10).

Inilah cara bagaimana Allah memandang kita: tidak sebagai para pendosa melainkan sebagai para hamba yang dipanggil-Nya untuk melakukan tugas pekerjaan yang penting. Allah mengetahui semua dosa kita. Namun apabila kita sungguh bertobat, maka Dia pun langsung mengampuni kita dan memanggil kita untuk bergerak maju lagi untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dalam artian tertentu, kita sesungguhnya tidak berhak untuk tetap berdiam dalam kedosaan yang telah disingkirkan oleh Allah.

Saudari dan Saudaraku, belas kasih Allah tidak mengenal batas! Allah sangat senang untuk menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kita semua. Allah tidak menahan kasih dan kerahiman-Nya bagi kita sebelum kita mengasihi-Nya. Dia tidak akan menolak kita! Santo Paulus menulis, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Oleh karena itu, marilah kita terus maju dalam melayani Tuhan, penuh keyakinan bahwa belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa kita, dan bahwa Dia akan membawa kita sampai ke surga kelak.

DOA: Tuhan Yesus, sungguh menakjubkan kasih-Mu kepadaku. Seperti Petrus, aku suka bekerja keras tanpa hasil, sampai Engkau memenuhi diriku secara berlimpah dengan hidup-Mu sendiri. Dalam kasih, Engkau tidak memandang kesalahan dan kegagalanku di masa lampau, melainkan menunjuk aku untuk melakukan tugas seturut rencana-Mu yang sempurna. Terima kasih, Tuhan Yesus, untuk belas kasih-Mu yang tanpa batas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 6-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 4 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – Ordo III S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TINDAKAN BERBICARA LEBIH KERAS DARIPADA SEKADAR UCAPAN KATA-KATA

TINDAKAN BERBICARA LEBIH KERAS DARIPADA SEKADAR UCAPAN KATA-KATA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 4 September 2018)

OFS: Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – Ordo III Santo Fransiskus

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Kor 2:10b-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-14

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “Actions speak louder than words”, artinya “tindakan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata”; jangan hanya omong saja, buktikanlah dengan tindakan nyata, jangan NATO! Narasi Lukas tentang orang yang kerasukan roh jahat di Kapernaum merupakan ilustrasi bagus sekali atas pepatah dalam bahasa Inggris di atas. Lukas menceritakan kepada kita bahwa ketika Yesus membebaskan orang yang kerasukan roh jahat itu, semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar” (Luk 4:36). Dalam peristiwa ini Yesus menunjukkan otoritas (kuasa) kata-kata yang diucapkan-Nya dengan melakukan pekerjaan yang menakjubkan, dan orang-orang pun menjadi terkesan.

Dalam zaman modern ini pun tindakan berbicara lebih keras daripada sekadar ucapan kata-kata. Orang-orang lebih berkemungkinan untuk percaya kepada “seorang” Allah yang penuh kasih jikalau mereka melihat perbedaan yang dibuat-Nya dalam kehidupan orang, khususnya umat-Nya. Edith Stein [1891-1942] adalah seorang berkebangsaan Jerman keturunan Yahudi. Dia adalah seorang filsuf (bergelar doktor) dan kemudian menjadi seorang biarawati Karmelites OCD (Ordo Karmelit tak berkasut) dan meninggal dalam kamar gas Nazi di Kamp Konsentrasi Auschwitz. Salah satu penyebab mengapa Edith Stein tertarik kepada agama Kristiani adalah contoh yang diberikan oleh seorang temannya yang beragama Kristiani. Temannya itu mengalami kematian suami dan menanggung “musibah” itu dengan penuh kedamaian, bukannya kepahitan, rasa sedih yang begitu menindih, atau self-pity. Temannya ini menunjukkan bahwa dirinya dengan penuh ketenangan memiliki pengharapan. Malah dia memiliki kekuatan batin untuk menghibur teman-temannya yang lain yang sedang mengalami kesedihan. Iman perempuan ini menjadi suatu tanda-yang-menggerakkan bagi Edith Stein tentang kebenaran dan kuasa Kekristenan. Tidak lama kemudian Edith Stein masuk ke dalam Gereja Katolik.

Edith Stein meninggal dalam sebuah kamp konsentrasi di tanah Polandia, yang menjadi salah satu kenangan buruk era Nazi Jerman di sepanjang masa. Akan tetapi sejak kematiannya, cerita tentang Edith Stein membawa dampak besar terhadap banyak orang melalui contoh keberaniannya, imannya dan keyakinannya. Dirinya sendiri menjadi suatu tanda bagi orang-orang lain berkaitan dengan pesan Injil Yesus Kristus.

Allah telah menempatkan kita dalam dunia untuk menjadi duta-duta Kristus (lihat 2Kor 5:20). Ia telah memanggil kita untuk menyebarkan kabar baik Yesus Kristus ke tengah dunia (Mat 28:19-20). Kita semua memiliki potensi untuk mempengaruhi orang-orang lewat cara/gaya hidup kita. Jikalau kita merangkul Yesus yang tersalib, seperti yang dilakukan oleh S. Edith Stein, S. Fransiskus dari Assisi dan banyak sekali orang kudus lainnya, maka terang Allah akan menjadi terlihat dalam hidup kita. Jadi, dengan pertolongan-Nya, marilah kita siap untuk mengampuni, untuk berbagi dengan orang-orang miskin, untuk bergerak dengan penuh kedamaian melalui berbagai kesulitan hidup ini.  Semoga hidup kita meneguhkan kata-kata yang kita ucapkan tentang Allah dan memberikan bukti kepada orang-orang lain bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23; bdk. 28:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahkan kepada kami Karunia-Mu yang paling besar dan agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri, yang mengajar dan melatih kami untuk melaksanakan tugas kami sebagai garam bumi dan terang dunia, agar dengan demikian dunia dapat percaya bahwa Engkau datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan kami dan memberikan kepada kami semua di dunia kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 4-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 3 September 2018 [Perigatan S. Gregorius Agung, Paus – Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS