Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Setiap saat dalam kehidupan-Nya, Yesus menaruh kepercayaan kepada Bapa di surga seperti anak-anak, dan ini dilakukan-Nya secara radikal. Ketergantungan-Nya kepada Bapa memberikan kepada-Nya kuasa untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa.

Markus menempatkan mukjizat (yang dibuat oleh Yesus atas diri anak yang dirasuki roh jahat) itu dalam konteks yang lebih luas perjalanan-Nya ke Yerusalem, suatu “perjalanan kemuridan/pemuridan” (journey of discipleship: Mrk 8:31-10:52) yang sarat dengan pengajaran-pengajaran Yesus bagi para murid-Nya pada waktu itu dan hari ini juga. Peristiwa itu tidak hanya menunjukkan otoritas Yesus, melainkan juga mengungkapkan satu dimensi yang lain lagi dari kemuridan/pemuridan. Tatkala ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu mendekati Yesus, ia mengungkapkan pengharapannya yang sudah tergoncang dan hampir habis, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Yesus menantang sikap orang itu dengan sebuah janji: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Ini merupakan sebuah undangan untuk ikut ambil bagian dalam rasa percaya Yesus sendiri kepada Bapa surgawi. Tanggapan orang itu merupakan sebuah contoh bagi semua orang Kristiani yang sedang bergumul dengan iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Karena orang itu dengan jujur menanggapi sabda Yesus, maka Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Sebagai tambahan dari pelajarannya mengenai iman, cerita ini juga menggemakan sesuatu yang bernuansa eskatologis. Dalam cerita ini diindikasikan adanya ketegangan antara dua aspek kerajaan Allah, yaitu aspek kerajaan Allah yang “sudah ada sekarang” dan aspek kerajaan Allah “yang belum/akan datang”. Kita masih ingat, bahwa sebelum itu kedua belas murid-Nya telah diberi amanat oleh Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat (lihat Mrk 6:13). Akan tetapi, kali ini mereka gagal dalam upaya mereka untuk mengusir roh jahat keluar dari anak itu (Mrk 9:18). Yesus menjelaskan: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jadi, di sini Yesus mengindikasikan bahwa para murid perlu bertumbuh dalam kepercayaan, walaupun mereka telah mengalami sebagian dari pemerintahan Allah. Markus menginginkan para pembaca Injilnya untuk menyadari, bahwa seperti kedua belas murid, mereka dipanggil untuk mengembangkan suatu iman yang matang (dewasa) selagi mereka menantikan kedatangan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.

Tulisan Markus ini juga menggemakan kebangkitan Yesus. Setelah dibebaskan dari kuasa roh jahat, anak itu kelihatan seperti orang mati (lihat Mrk 9:26). Kemudian Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya (lihat Mrk 9:27). Para pakar Kitab Suci mengatakan, bahwa terminologi dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Markus merupakan suatu pertanda dari kebangkitan Yesus dan merujuk kepada satu aspek lagi dari kemuridan/pemuridan: Orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat merasa tak berdaya (Inggris: powerless) dan seakan sudah kehilangan kehidupan (lifeless), tetapi bahkan mulai sekarang juga, Yesus membebaskan kita dan mengangkat kita kepada hidup baru, suatu pekerjaan yang akan dipenuhi pada hari terakhir kelak.

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan dengan judul “TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA” (bacaan untuk tanggal 21-5-18), dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Pada bagian yang awal dari “Kisah para Rasul”, Lukas menggambarkan pengejaran dan penganiayaan terhadap Gereja di Yerusalem (Kis 8:1-3). Akan tetapi pada hari ini kita membaca Gereja “berada dalam keadaan damai”, …. “dibangun”(Kis 9:31). Mengapa terjadi perubahan seperti itu? Bagian akhir dari ayat ini memberikan alasannya: “hidup dalam takut akan Tuhan dan bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus” (Yoh 9:31). Bilamana kita (anda dan saya) disentuh Roh Kudus, maka kita akan bergerak dalam hidup kita secara bebas dan dengan penuh keyakinan.

Kita melihat kebebasan ini dalam diri Petrus, seorang mantan nelayan biasa yang membuat mukjizat-mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat Yesus sendiri. Apakah Petrus merasa gugup ketika menghadapi kelumpuhan yang diderita Eneas dan/atau kematian Tabita (Dorkas)? Dari bacaan di atas, tidak nampak adanya tanda-tanda kegugupan dalam diri Petrus dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Daripada membiarkan dirinya dihinggapi rasa bingung apa yang harus dikatakannya atau bagaimana mengatakannya, rasa percaya Petrus pada Yesus memampukannya untuk bertindak secara bebas dan dengan kesederhanaan yang besar dan mengagumkan. Petrus menggunakan kata-kata sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Kepada Eneas yang sudah 8 tahun lamanya terbaring di tempat karena lumpuh, Petrus berkata: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Kepada Tabita yang sudah menjadi mayat, Petrus berkata; “Tabita, bangkitlah!” (Kis 9:40). Tentu Petrus berdoa sebelum melakukan mukjizat, seperti dalam kasus Tabita di mana tercatat Petrus menyuruh semua orang ke luar, lalu ia berlutut dan berdoa (Kis 9:40). Petrus membuat banyak mukjizat yang memimpin orang banyak berbalik kepada Tuhan (Kis 9:35,42).

Mengamati bagaimana Yesus bertindak melalui Petrus seharusnya membuat kita berpikir. Petrus ini bukanlah seseorang yang mempunyai reputasi sebagai seorang yang fasih berbicara atau berpidato dan juga bukanlah orang yang dapat mengontrol diri. Sebaliknya dia dikenal sebagai orang yang suka berbicara tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, seorang yang suka bertindak secara impulsif. Apabila seseorang yang jauh dari sempurna itu dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka apakah tidak mungkin apabila Yesus pun ingin menggunakan kita juga? Bukankah tetap ada kemungkinan bagi kita untuk dapat melayani Dia tanpa harus menjadi sempurna atau sepenuhnya yakin bagaimana harus melangkah selanjutnya?

Kita dapat mencoba mengikuti arahan/pimpinan dari Roh Kudus, namun bagaimana kalau hasilnya tidak positif? Contoh-contoh dari Petrus menunjukkan bahwa Kristus hidup dalam diri kita masing-masing. Secara tetap Dia menawarkan keberanian dan pengharapan. Jadi, kalau memang diperlukan, kita bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian mendengarkan suara Yesus yang lemah-lembut yang akan menolong kita kembali ke rel ….. membangun Kerajaan-Nya. Melalui Petrus, Yesus mengulurkan tangan-Nya sendiri kepada Tabita dan membantunya untuk bangkit berdiri. Demikian pula, melalui Roh Kudus-Nya, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Oleh karena itu marilah kita bangkit dalam setiap peristiwa, kita berbicara bebas tentang Kabar Baik kepada setiap orang yang kita jumpai, tentunya seturut dorongan Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, dengan kekuatanku sendiri aku tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal yang Kaulakukan. Namun demikian Engkau sangat bermurah-hati. Engkau telah membagikan Roh Kudus-Mu sendiri dengan diriku dan memberdayakanku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Bentuklah hatiku. Aku sungguh ingin menjadi seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 18 April 2018    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DALAM NAMA YESUS KRISTUS

DALAM NAMA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 4 April 2018)

Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu jam tiga sore, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata, “Pandanglah kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan pergelangan kaki orang itu. Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Semua orang melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya. (Kis 3:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9; Bacaan Injil: Luk 24:13-35

“Sesungguhnya Tuhan telah bangkit.” (Luk 24:34)

Selama Oktaf Paskah, kita sebagai Gereja menikmati suatu pekan penuh sukacita merayakan kebangkitan Yesus dari dunia orang mati. Yesus mati sehingga kita dapat menyerukan nama-Nya dan mengalami kuat-kuasa nama-Nya itu, realitas nama itu, dan kebesaran serta keagungan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita umat manusia.

Selagi Petrus dan Yohanes mendekati gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah, mereka berjumpa dengan seorang lumpuh yang berbaring dekat pintu gerbang itu, yang biasa meminta sedekah di tempat itu. Orang lumpuh minta sedekah berupa uang, namun kedua rasul Kristus itu mempunyai harta yang jauh lebih besar dan berharga untuk ‘dibagikan’ kepada orang yang lumpuh sejak lahirnya itu.  ‘Semangat berbagi’ memang harus ada pada setiap orang Kristiani yang sejati, seperti ditunjukkan oleh kedua murid Yesus itu.

Kedua murid Yesus menatap orang lumpuh itu, kemudian Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis 3:6). Petrus menyerukan nama Yesus, dan dia percaya bahwa Tuhan dan Guru-Nya itu – yang telah diproklamirkan olehnya sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16) – dengan penuh kuasa dapat memenuhi kebutuhan sesungguhnya dari si lumpuh pada saat itu juga. Dia membantu si lumpuh untuk berdiri, dan memang, langsung saja kaki dan pergelangan kakinya menjadi kuat. Dia berjalan dan melompat-lompat serta memuji-muji Allah. Dengan dua orang rasul Yesus itu, dia akhirnya dapat masuk ke dalam Bait Allah – dipenuhi sukacita dan pujian sejati kepada Allah.

Dengan menyerukan kuat-kuasa dari nama Yesus, Petrus (dan Yohanes) sebenarnya menyerukan satu-satunya nama yang mempunyai kuat-kuasa untuk mengusir Iblis dan roh-roh jahat lainnya, menyembuhkan segala sakit-penyakit dan mengalahkan segala macam penindasan yang menimpa seseorang. Perhatikanlah, bahwa hanya setelah “Yesus” (bukan Petrus dan/atau Yohanes) membuat dirinya utuh, maka pengemis dapat masuk ke dalam Bait Allah dengan sukacita yang sejati. Yesus memberikan kepada orang itu apa yang sungguh dibutuhkan olehnya – dan pemberian Yesus itu sempurna adanya – dan dia mampu melompat-lompat dengan sukacita dan memuji Allah untuk apa yang dilakukan Yesus atas dirinya.

Apabila kita berdoa dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan terjadinya perubahan dalam kehidupan kita ataupun kehidupan orang lain. Oleh karena itu baiklah kita seringkali menyebut nama-Nya, berdoa dalam nama-Nya, bersekutu dengan saudari-saudara seiman dalam nama-Nya, menyerukan nama-Nya setiap kali kita berada dalam situasi sulit. Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah. “Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan”  (Mzm 105:8). Dalam Yesus Kristus, kita telah menerima nama – sang Sabda (Firman) – yang di atas segala nama dan kuasa lainnya (bdk. Flp 2:10-11). Sebagaimana si pengemis lumpuh yang telah disembuhkan oleh-Nya, marilah kita menerima Yesus dengan tangan-tangan dan hati yang terbuka lebar-lebar. Maka, kehidupan kita tidak akan sama lagi … Our lives will never be the same!

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya akan kuat-kuasa nama-Mu bila diucapkan dalam iman. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong mengingatkan kami akan saat-saat di mana Engkau memberikan kepada kami apa yang sungguh kami butuhkan pada saat-saat itu. Hati kami terbuka lebar-lebar bagi-Mu, ya Tuhan, selagi kami memuji-muji kebesaran serta keagungan-Mu dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul  “YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA” (bacaan tanggal 4-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 2 April 2018 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM KEHARMONISAN LENGKAP DENGAN BAPA-NYA

DALAM KEHARMONISAN LENGKAP DENGAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 14 Maret 2018)

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30) 

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Yesus telah melakukan penyembuhan pada hari Sabat beberapa kali. Orang-orang Yahudi tidak dapat menerima hal ini dan mulai berusaha untuk membunuh-Nya. Pertama-tama Yesus menjawab dengan mengajukan pertanyaan, mengapa Ia sebagai Putera Bapa tidak dapat bekerja pada hari Sabat, karena Bapa-Nya tentu saja bekerja. Tindakan kreatif Allah senantiasa berlangsung setiap hari. Pertanyaan sekaligus pernyataan Yesus ini malah membuat orang-orang itu menjadi lebih marah  karena sekarang Yesus berbicara mengenai Allah sebagai Bapa-Nya, jadi membuat diri-Nya setara dengan Allah sendiri.

Yesus menjawab dengan berbicara tentang relasi antara Putera dengan Bapa. Seperti yang dilakukan oleh Bapa demikian pula Putera akan melakukan. Bapa mengasihi Putera. Bapa akan menunjukkan kepada Putera karya-karya yang lebih besar, bahkan lebih besar daripada sekadar menyembuhkan orang-orang yang menderita berbagai sakit-penyakit. Ia akan membangkitkan orang dari alam maut dan menjadikannya hidup kembali, sebuah karya yang telah dilakukan Bapa dalam setiap tindakan penciptaan manusia.

Sepanjang bacaan Injil hari ini Yesus mengindikasikan relasi kasih antara Bapa dan Putera. Yesus sang Putera mengatakan bahwa Dia tidak bertindak dari diri-Nya sendiri, melainkan melakukan apa yang dilihat-Nya dilakukan oleh Bapa-Nya. Putera hanya bertindak seturut kehendak Bapa. Putera berada dalam keharmonisan lengkap dengan Bapa.

Pada waktu berumur 12 tahun Yesus telah mengatakan kepada ibu dan ayah-Nya, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku” (Luk 2:49). Kira-kira juga dapat dibaca begini: “Bukankah aku mengerjakan bisnis Bapa-Ku?” Setelah dikenal sebagai rabi dari Nazaret yang suka berkhotbah berkeliling, Yesus juga menunjukkan bahwa walaupun Ia semakin dimusuhi, Dia tetap akan mengerjakan pekerjaan Bapa-Nya, pekerjaan-pekerjaan Bapa-Nya yang diberikan Bapa-Nya untuk dilakukan oleh-Nya. Yesus bersabda: “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”  (Yoh 5:30).

Kita pun mempunyai pekerjaan atau bisnis yang harus dilakukan. Kita semua mempunyai sebuah misi untuk dilaksanakan. Kita tidak dapat mencari kehendak kita sendiri, melainkan mencari kehendak Allah. Seperti Yesus yang setia dalam melakukan pekerjaan-Nya walaupun semakin banyak menghadapi perlawanan, kita pun harus setia dalam melakukan pekerjaan kita, walaupun menghadapi berbagai kesulitan, oposisi atau ketiadaan penghargaan/respek dari orang-orang lain. Atas dasar inilah tergantung relasi kasih personal kita dengan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu mendengar sabda-Mu dan memiliki iman-kepercayaan akan Dia yang mengutus Engkau, dengan demikian kami akan memiliki hidup yang kekal. Terima kasih, Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), bacalah tulisan yang berjudul  “KUASA ILAHI DAN OTORITAS YESUS UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 14-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 12 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA JANJI-JANJI ALLAH YANG DIPENUHI MELALUI KRISTUS

BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA JANJI-JANJI ALLAH YANG DIPENUHI MELALUI KRISTUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Senin, 12 Maret 2018)

Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. 

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya. 

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13 

Pegawai istana dari Kapernaum menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Siapakah Yesus ini sebenarnya? Apakah mungkin Dia yang hanya seorang tukang kayu dari Nazaret menjadi sang Mesias? Kalau memang begitu, apakah Dia memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan? Orang ini memilih untuk percaya kepada Yesus, dan kebutuhannya mendorong dirinya untuk melakukan perjalanan sepanjang 32 km ke Kana dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anak laki-lakinya. Dengan cukup mengagetkan, Yesus menegur dia, kata-Nya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya”  (Yoh 4:48). Melalui pernyataan yang keras ini (yang ditujukan kepada orang-orang yang ada di sekeliling-Nya dan juga pegawai istana itu), Yesus sebenarnya memanggil orang-orang itu kepada iman yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1).

Krisis-krisis menuntut keputusan-keputusan yang menunjukkan apakah kita mempunyai iman ini. Percayakah kita kepada janji-janji Allah, kuat-kuasa-Nya, dan kasih-Nya? Percayakah kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi  Dia (Rm 8:28)? Atau, apakah kita mengandalkan diri pada inteligensia manusia, perspektif kita yang terbatas, dan kemampuan kita yang kecil untuk memanipulasi peristiwa-peristiwa? Jika kita memilih untuk percaya kepada Allah, maka kita membuka diri kita bagi damai-sejahtera-Nya, bahkan di dalam keadaan yang paling membingungkan dan sungguh mengganggu. Apabila kita mengandalkan diri kita hanya pada pemikiran manusia, maka kita mengambil risiko kegagalan dan sejalan dengan itu, kehilangan semangat, keputusasaan, frustrasi dan ketakutan.

Ketika iman kita ditantang, maka banyak dari kita akan menggemakan apa yang dikatakan oleh Tomas, “Sebelum aku melihat ……, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Yesus mengetahui kecenderungan kita untuk tidak percaya dan mengandalkan diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa Dia mati untuk kita. Jika kita mengakui ketidakpercayaan kita kepada-Nya dan mohon pertolongan-Nya, maka Dia akan memberdayakan kita dengan karunia iman. Lalu, selagi kita bertumbuh semakin dekat kepada-Nya melalui sakramen-sakramen, doa dan Kitab Suci, maka kita akan mengembangkan rasa  percaya seperti anak kecil. Janji-janji-Nya akan pembenaran, pengampunan, rekonsiliasi dengan sesama, dan persatuan abadi dengan Allah akan menjadi hidup bagi kita.

Selagi kita mengakui kerapuhan upaya manusia tanpa bantuan dalam mengatasi godaan-godaan dan pola-pola dosa, kita belajar untuk menggantungkan diri pada janji-janji Allah yang dipenuhi melalui Kristus. Kita menemukan, seperti juga Abraham ketika diminta untuk mengorbankan anak laki-lakinya, bahwa Allah akan memberi (Kej 22:1-18). Karena apa pun yang terjadi, Allah senantiasa pantas untuk dipercayai oleh kita semua.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menyediakan segalanya bagiku dan juga menjadi Pelindungku yang sejati. Engkau menyerahkan Putera-Mu terkasih bagi diriku sehingga semua janji-Mu akan menjadi suatu realitas dalam kehidupanku. Aku mengasihi-Mu, ya Allahku, dan aku mempercayakan hidupku kepada-Mu.Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP !” (bacaan tanggal 12-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 9 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN SIAPA YANG BOLEH DIKASIHI DAN SIAPA YANG HARUS DITOLAK

YESUS TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN SIAPA YANG BOLEH DIKASIHI DAN SIAPA YANG HARUS DITOLAK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [Tahun B], 11 Februari 2018)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Im 13:1-2,45-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11; Bacaan Kedua: 1Kor 10:31-11:1

Pada awalnya mungkin sekali yang menarik bagi kita ketika membaca kisah Injil tentang pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus ialah bahwa Dia mampu melakukan semua itu. Namun Markus ingin agar supaya kita melihat dengan melihat secara lebih mendalam. Perhatikanlah bahwa berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya membawa diri-Nya ke dalam situasi konflik-konflik dengan roh-roh jahat (lihat Mrk 1:21-28).

Pada saat kedatangan Kerajaan Allah, segera kuasa-kuasa jahat melawannya, dan kuasa-kuasa jahat ini lebih besar daripada maksud-maksud jahat manusia (lihat Mrk 1:12-13). Yesus datang ke tengah dunia untuk mematahkan kuasa tersebut (Mrk 3:27). Kenyataan bahwa Yesus berjumpa dengan roh jahat dalam rumah ibadat (lihat Mrk 1:21-28) mengungkapkan adanya kejahatan-kejahatan tertentu yang telah tertanam dalam Yudaisme zaman itu.

Bacaan Injil hari ini memperlihatkan konfrontasi Yesus dengan kuasa-kuasa jahat, yaitu dalam kasus orang yang menderita penyakit kusta (Mrk 1:40-45). Para penderita penyakit kusta dikucilkan oleh Hukum Musa. Mereka tidak mempunyai tempat dalam masyarakat seperti misalnya seorang bekas pasien rumah sakit jiwa yang kotor dan menjijikkan tidak akan diterima masuk ke dalam sebuah rumah makan mahal sekarang. Yesus tidak hanya menyembuhkan penyakit orang itu, tetapi Dia juga melanggar larangan untuk menjamah orang kusta tersebut – suatu perbuatan yang sangat menjijikkan bagi orang-orang Yahudi pada zaman itu (lihat Mrk 1:41). Nampaknya Yesus mengungkapkan kemarahan pada sistem yang mengucilkan orang itu (Mrk 1:43-44). Yesus dengan tegas menolak pemisahan yang terdapat pada manusia: siapa yang boleh dikasihi, siapa yang harus ditolak.

Para murid Yesus kelihatannya telah mempunyai ide mereka sendiri tentang pelayanan Guru mereka. Mereka menginginkan agar supaya Yesus tetap berada di kota dan menikmati sukses-Nya, namun Ia tetap melakukan rencana yang lebih besar (baca Mrk 11:37-38). Perbedaan kecil antara rencana mereka dan rencana sang Guru di kemudian hari akan menjadi jurang yang cukup lebar.

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku memisah-misahkan orang menjadi mereka yang berharga untuk diperhatikan dan mereka yang tidak perlu diperhatikan?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau datang untuk membebaskan kami dari kejahatan-kejahatan yang kami sendiri tidak mengerti. Terima kasih atas belas kasih-Mu. Terima kasih karena Engkau senantiasa mengulurkan tangan-Mu untuk menolong kami di kala kami membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT YESUS MEMANG ADA DAN TERJADI SETIAP HARI” (bacaan tanggal 11-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-2-15 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak,  8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG

MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Sabtu, 10 Februari 2018)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7a,19-22

Apakah yang anda rasakan sekiranya seseorang membukakan pintu bagi anda – teristimewa ketika tangan sedang penuh memegang belanjaan? Apakah hal itu tidak menghangatkan hati anda walaupun sedikit saja? Bukankah anda lebih mengingat perawat di rumah sakit yang melayani anak anda yang sedang diopname dengan senyumnya yang hangat (selalu tidak lupa menyapa dengan “selamat sore” dll. ketimbang perawat yang sekadar mengerjakan tugas-tugas betapa pun efisien dia bekerja? Kita semua mengenali adanya bela-rasa dan kebaikan hati ketika kita memandang seseorang, dan dalam banyak keadaan hal seperti itu mencerahkan hari kita.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia memiliki bela-rasa terhadap orang banyak yang telah mengikuti-Nya selama tiga hari penuh dan persediaan makanan mereka pun sudah habis: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan” (Mrk 8:2). Yesus ingin menunjukkan bahwa tidak benarlah untuk membubarkan orang banyak yang mengikuti-Nya dan mengharapkan yang terbaik. Ia ingin menunjukkan bahwa bela-rasa yang otentik melibatkan tindakan yang melampaui hal-hal praktis dan menyangkut juga pengorbanan diri sampai titik tertentu untuk menolong mengangkat penderitaan orang lain.

Yesus menunjukkan bela-rasa seperti ini sepanjang hidup-Nya di dunia. Bela-rasa-Nya inilah yang merupakan alasan mengapa Dia menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat yang membebani orang-orang. Inilah pula yang menyebabkan mengapa Dia bekerja keras dari pagi sampai malam hari berkhotbah dan mengajar. Akhirnya, inilah juga alasan mengapa Dia mengesampingkan kemuliaan surgawi dan menjadi seorang manusia seperti kita: Allah yang merendahkan diri-Nya! Dia tidak berdiam diri di tengah kenyamanan surgawi sambil menggeleng-gelengkan kepala-Nya dengan penuh ras kasihan atas keadaan umat manusia yang menyedihkan. Ia juga tidak memandang kita sebagai robot, yang dengan satu kali tepukan tangan-Nya akan menjadi beres lagi. Dengan berkat penuh dari Bapa-Nya, Yesus menjadi manusia dan mati untuk menebus dosa-dosa kita semua. Dengan begitu, Dia mencapai jauh lebih banyak dan lebih besar daripada sekadar merasa kasihan.

Bela-rasa kita terhadap orang-orang lain akan sama kuat-kuasanya dan juga dapat merupakan pemberian hidup kita sendiri bagi orang-orang lain. Apakah ketika menghibur seorang sahabat yang sedang bersedih atau menyediakan waktu untuk tugas pelayanan di paroki, kita dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih Yesus di dunia. Tidak ada magic formula istimewa yang harus diikuti. Yang diperlukan hanyalah hasrat untuk memberi kepada orang lain – betapa pun kecilnya – apa saja yang telah kita terima dari Kristus. Apabila kita mengosongkan diri dengan cara ini, maka kita akan mengalami Yesus mengisi diri kita dengan lebih banyak lagi – sampai titik di mana kasih-Nya mengalir keluar dari diri kita dan memberdayakan kita untuk memberi makan kepada mereka di sekeliling kita yang sedang merasa “lapar”.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mataku agar dapat melihat semua saudari dan saudaraku yang sedang kesepian dan patah hati. Ajarlah aku untuk mau dan mampu mengasihi mereka dengan kasih-Mu dan untuk memberi makan mereka dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA” (bacaan tanggal 10-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS