Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA

HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun C] – 20 Januari 2019)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-9; Bacaan Kedua: 1Kor 12:4-11 

“Hal ini dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.”  (Yoh 2:11)

Yohanes Penginjil tidak menggunakan kata “mukjizat” dalam Injilnya. Sebagai penggantinya sang penginjil menggunakan kata “tanda”. Injil Yohanes dikenal juga sebagai “Injil tujuh tanda”.“Tanda pertama” Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-murid Kristus yang baik, sehingga pada kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA” (bacaan tanggal 20-1-19) dalm situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Januari 2019 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PENGAMPUNAN DOSA DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI KAPERNAUM

PENGAMPUNAN DOSA DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 18 Januari 2019)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8  

“Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5).

“Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11).

Bayangkanlah diri anda sebagai orang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini. Anda baru saja diturunkan dari atap rumah yang penuh sesak itu …… di atas tikar…… ke dalam ruangan yang dipadati dengan orang-orang …… tepat di depan Yesus. Tiba-tiba Yesus menaruh tangan-Nya atas diri anda seraya berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Anda merasa lega sampai derajat tertentu, namun ketika anda melihat beberapa ahli Taurat yang duduk di situ menunjukkan wajah yang mencerminkan ketidaksenangan mereka, maka anda juga berkata dalam hati, “Aku masih lumpuh!”  Namun anda memang beruntung, karena Mesias datang bukan hanya untuk mengampuni dosa-dosa anda, melainkan juga untuk menyembuhkan sakit-penyakit dalam tubuh anda. Oleh karena itu, Yesus mendekati anda lagi sambil berkata, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11). Anda pun bangun, segera mengangkat tikar anda dan pergi keluar dari hadapan orang-orang itu dengan penuh sukacita. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup anda!

Dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya di depan umum, Yesus senantiasa memiliki keprihatinan untuk menyembuhkan seluruh pribadi manusia – roh, jiwa dan raga – dari cengkeraman dosa, supaya menjadi utuh lagi. Perempuan yang menderita pendarahan datang kepada Yesus dalam iman, lalu dia pun mengalami kesembuhan secara fisik (Mrk 5:25-34). Orang yang buta sejak lahirnya disembuhkan fisiknya, lalu bertemu dengan Yesus dan menerima serta mengakui Dia sebagai Tuhan-nya (Yoh 9:1-38). Orang-orang yang semula tidak percaya  seringkali beriman kepada Yesus karena menyaksikan sendiri satu atau lebih mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus.

Ketika Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya, Dia memerintahkan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dan menyembuhkan orang sakit (Luk 10:1-9). “Kisah para Rasul” dipenuhi dengan cerita-cerita tentang penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan oleh orang-orang Kristiani yang baru saja dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sesungguhnya, Allah memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan membuat mukjizat-mukjizat – bahkan melalui diri kita (anda dan saya). Oleh karena itu, dalam upaya kita membawa terang Yesus Kristus kepada orang-orang lain, kita harus senantiasa waspada dan siap menghadapi situasi-situasi di mana kita didorong oleh Roh-Nya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dengan demikian, bila ada anggota keluarga kita – dekat dan/atau jauh – , kerabat kerja yang sedang sakit dan tentunya membutuhkan kesembuhan fisik, baiklah kita menawarkan diri untuk berdoa bersama orang itu. Kita tidak memerlukan rumusan doa yang istimewa; kita hanya perlu berdoa dalam iman sambil mengharapkan Allah melakukan hal-hal besar.

Kebanyakan kita pada umumnya merasa nyaman untuk percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan roh kita dan mengampuni dosa kita, akan tetapi kita kurang merasa yakin bahwa Dia juga dapat menyembuhkan kita secara fisik. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan “rasa takut bahwa tidak ada yang akan terjadi” menghentikan upaya kita untuk mendoakan orang sakit.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku roh keberanian untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga dengan demikian aku dapat sungguh percaya dalam kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Bawalah kepadaku orang-orang dengan siapa aku dapat bersama mereka dan bercerita tentang Engkau. Tunjukkanlah kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, dan dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 18-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 16 Januari 2019 [S. Berardus, Imam dkk. – Martir Pertama Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA TEMA DALAM INJIL MARKUS

DUA TEMA DALAM INJIL MARKUS  

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Kamis, 17 Januari 2019)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

“Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mrk 1:44)

Apakah maksud kata-kata Yesus di atas, terutama bagian pertama kalimat tersebut? Mengapa Dia berkata begitu kepada orang kusta yang baru saja disembuhkan-Nya? Dalam bacaan Injil ini dikatakan bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu ketika menyembuhkannya. Dengan menyentuh orang kusta itu Yesus membuat diri-Nya sendiri tidak bersih (=najis=tidak tahir) secara ritual. Hal ini berarti bahwa Ia tidak boleh masuk kota sampai orang kusta yang disentuh-Nya diumumkan sebagai tahir oleh imam. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus mengatakan kepada orang kusta yang telah disembuhkan-Nya untuk pergi dan memperlihatkan dirinya kepada imam  (lihat Im 14:1-2) namun tidak menceritakan peristiwa penyembuhannya kepada siapa pun (Mrk 1:44).

Kita dapat/boleh saja berspekulasi tentang apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika dia sudah disembuhkan oleh Yesus dan Ia mengatakan kepadanya untuk tidak menceritakan mukjizat itu kepada siapa pun (Mrk 1:44). Apakah orang kusta yang disembuhkan Yesus itu begitu dipenuhi antusiasme karena rasa gembira sehingga merasa bahwa dia sungguh harus bercerita kepada setiap orang tentang mukjizat yang baru saja terjadi atas dirinya? Bukankah dengan kesembuhannya orang itu dibebaskan dari keterasingannya dalam masyarakat (lihat Im 13:45-46)? Ataukah orang itu berpikir, “Aku akan melakukan suatu kebaikan bagi Yesus dengan menceritakan mukjizat penyembuhan ini kepada semua orang!”

Apa pun kasusnya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan kita temui di sana-sini dalam Injilnya: Pertama-tama, Yesus bersikukuh untuk menjaga “rahasia Mesianis” berkaitan dengan diri-Nya, dan kedua adalah ketegangan yang akan menyertai Yesus selama Dia melaksanakan misi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan.

Sepanjang Injilnya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan keengganan ini agar ia dapat menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat saja tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk pada suatu pernyataan/perwahyuan yang lebih penuh: Dia yang diurapi Allah akan membebas-merdekakan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, siapa saja yang mau menjadi seorang murid dari sang Mesias, harus memanggul salib dan mengikuti Dia (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk menutup mulutnya, dengan tak sengaja orang kusta yang disembuhkan itu membawa ketegangan yang membawa dampak atas pelayanan Yesus selanjutnya. Sampai saat-saat sebelum penyembuhan orang kusta itu, semuanya berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Namun tiba-tiba timbullah komplikasi yang dengan sederhana dicatat oleh Markus: “… Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan atmosfir ini merupakan sinyal kemunculan konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan banyak pemimpin agama Yahudi – konfrontasi yang akhirnya menggiring diri-Nya ke kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui bahwa pelayanan-Nya di depan umum akan menyebabkan timbulnya konflik. Seperti orang kusta yang tidak kooperatif atau tidak taat tadi, yang mengabaikan perintah Yesus atau berpikir ia dapat “memperbaiki” rencana Allah, maka sisi buruk dari kodrat manusiawi kita juga akan – mau tidak mau – membawa kita kepada situasi konflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun demikian Yesus tidak pernah membiarkan pergumulan ini mencegah diri-Nya untuk menyembuhkan, memberitakan Kabar Baik dan memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik betapa pun mahalnya demi membebaskan kita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Marilah kita mengikuti jejak sang Mesias, yang dengan penuh kerendahan hati taat pada Bapa surgawi dalam segala hal (bacalah Flp 2:6-11; lihat juga Luk 22:42 dan padanannya). Janganlah kita hanya taat pada perintah-perintah-Nya yang kita sukai saja. Sebaliknya, marilah kita berikan segenap hati kita kepada Yesus. Maka, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya diri kita karena terjalinnya suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mzm 143:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “ULAH ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN ITU MENYEBABKAN YESUS TIDAK DAPAT LAGI TERANG-TERANGAN MASUK KE DALAM KOTA” (bacaan tanggal 17-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

Cilandak,  15 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMAHAMI KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

MEMAHAMI KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 15 Januari 2019)

 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ibr 2:5-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Orang-orang yang hadir dalam rumah ibadat (sinagoga) di Kapernaum merasa takjub mendengar pengajaran Yesus (Mrk 1:22) dan takjub juga menyaksikan bagaimana Yesus mengusir roh jahat yang merasuki seseorang (Mrk 1:27). Akan tetapi kelihatannya orang-orang itu tidak merasa kaget (tidak kaget-kaget amat) bahwa ada seseorang yang dirasuki roh jahat.

Sepanjang Perjanjian Baru memang ada pandangan umum bahwa orang-orang dewasa, bahkan anak-anak dapat diganggu dan dirasuki oleh roh-roh jahat (lihat Mrk 7:25; Luk 8:2,27; Kis 8:7). Roh-roh jahat yang memang bersifat jahat, misterius, mengganggu serta dapat merusak kesehatan seseorang pernah dipandang sebagai dewa-dewa yang inferior – personifikasi  dari kuat-kuasa di belakang sakit-penyakit manusia, penyembahan berhala dan bid’ah. Namun sekarang ilmu kedokteran sudah banyak menghasilkan kemajuan, pemahaman kuno tentang roh jahat sebagai sumber penyakit menjadi mereda, sayangnya semua itu dianggap takhyul…… diabaikan oleh mereka memandang diri sebagai orang-orang rasional!

Sebagai umat Kristiani kita percaya, bahwa makhluk-makhluk spiritual seperti roh jahat dan malaikat memang eksis/ada. Katekismus Gereja Katolik, mengatakan: “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang ini bersifat sama jelas” (KGK, 328). Sejumlah malaikat – seperti kita ketahui – telah memberontak melawan Allah dan menolak-Nya dan juga pemerintahan-Nya (KGK, 391,392). Kepala pemberontak ini adalah Iblis (Setan). Dalam dunia ini Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bekerja keras untuk menyebarkan kebencian mereka terhadap Allah. Mereka membisikkan kebohongan dan cerita-cerita yang separuh-benar untuk mengikat kita-manusia dalam ketakutan atau ketidakpedulian terhadap kasih Allah. Mereka menggoda kita dengan pikiran-pikiran kotor, menumbuhkan ketidakpuasan dalam diri kita terhadap hidup kita dan orang-orang yang kita cintai, dan juga membuat kita menderita penyakit ini-itu.

Koleksi berbagai kebenaran ini dapat melumpuhkan semangat kita. Iblis kelihatan sungguh menakutkan dan terasa begitu penuh kuat-kuasa. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa sehebat-hebatnya Iblis, dia tetaplah makhluk ciptaan. Kuat-kuasanya tetap terbatas, demikian pula dengan kemampuan-kemampuannya. Lagipula dia tidak pernah akan dapat mengalahkan kasih Allah atau rencana-Nya bagi Kerajaan-Nya (KGK, 395).

Saudari dan Saudaraku, Iblis dan roh-roh jahatnya itu riil – bukan bohong-bohongan seperti cerita Harry Potter. Kita perlu percaya akan keberadaan makluk-makluk jahat itu. Kita menaruh kepercayaan kepada Allah – yang dalam belas-kasih-Nya – akan membimbing kita dan segenap sejarah manusia – sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya di akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah setiap orang yang berada di bawah penindasan Iblis. Katakanlah kebenaran-Mu kepada mereka yang percaya akan kebohongan-kebohongan yang berasal dari si Jahat dan/atau roh-roh jahat pengikutnya. Sembuhkanlah orang-orang yang menderita sakit-penyakit karena pengaruh si Jahat dan para pengikutnya. Lindungilah orang-orang yang digoda oleh Iblis melalui nafsu, kecanduan, dan keserakahan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “IA MEMBERI PERINTAH KEPADA ROH-ROH JAHAT DAN MEREKA TAAT KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 15-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

Cilandak, 13 Januari 2018 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

YESUS DATANG KE TENGAH DUNIA DENGAN BELARASA DAN KASIH YANG BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 11 Januari 2019)

 

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Para penderita kusta dan sakit-penyakit kulit lainnya membawa dalam diri mereka stigma “najis” dilihat dari sudut rituale keagamaan. Pada zaman Yesus mereka dipaksa untuk hidup dalam semacam “karantina”. yang kondisinya buruk, kotor dan jorok. Kita hanya dapat membayangkan beban berat psikologis dan emosional sehari-hari yang harus dipikul oleh orang-orang kusta ini.

Dosa adalah sebuah penyakit spiritual yang juga mengakibatkan penderitanya hidup dalam semacam “karantina”. Dosa memisahkan kita satu sama lain dan membuat kita teralienasi/terasing dari Allah. Seperti penyakit fisik, dosa juga mempengaruhi kondisi tubuh dan pikiran kita. Seperti penyakit menular, dosa juga dapat membawa pengaruh buruk atas diri para anggota Tubuh Kristus yang lain. Akhirnya, apabila tidak diurus dengan baik, kondisi pribadi seseorang yang disebabkan oleh dosa dapat menggiringnya kepada kematian kekal.

Dengan belarasa dan kasih yang besar, Yesus datang ke tengah dunia untuk menawarkan sentuhan-Nya yang menyembuhkan segala sakit-penyakit. Dengan risiko “ketularan” penyakit dan kenajisan, Yesus tetap menemui orang-orang sakit, orang-orang yang tersisihkan dlsb., kemudian membersihkan/mentahirkan mereka. Setiap kali Yesus menyentuh seseorang dan membuang penyakit atau beban berat seseorang, sebenarnya ini adalah pratanda dari saat-saat di mana Dia akan “menanggung penyakit dan kesengsaraan kita” di atas kayu salib, dengan demikian memenangkan penebusan bagi umat Allah (lihat Yes 53:4,10-12).

Dalam Yesus, kita pun dapat diubah dari kondisi tidak tahir menjadi tahir, dari sakit menjadi sehat, dari kematian berpindah ke dalam kehidupan, dari dalam kegelapan dosa berpindah ke dalam pancaran cahaya terang kehadiran Allah. Yesus datang untuk menyembuhkan kita dengan “rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Darah Kristus yang memancar ke luar dari lambung-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita bahkan pada hari ini, sementara kita berseru kepada-Nya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Luk 5:12).

Dalam Kristus kita tidak lagi perlu menderita luka-luka kebencian, kemurkaan dan kecemburuan. Kita pun dapat disembuhkan dari berbagai dosa yang menular. Kita tidak perlu lagi hidup dikemudikan oleh rasa takut dan dikendalikan oleh rasa bersalah. Yesus mengampuni kita, menawarkan kepada kita damai sejahtera dan suatu hidup baru dalam Dia. Apabila kita mengenakan kebenaran-Nya, maka kita pun dapat berjalan dalam terang-Nya, bahkan dengan orang-orang dari siapa kita dahulu telah teralienasi. Semua ini sungguh merupakan pesan pengharapan!

Berbicara dalam nama TUHAN (YHWH), nabi Yehezkiel bernubuat: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu ……  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu …” (Yeh 36:25-26). Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dalam iman dan memperkenankan Dia membersihkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS KEPADA BAPA ADALAH FONDASI DARI SEMUA YANG DILAKUKANNYA” (bacaan tanggal 11-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 8 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI UMAT KRISTIANI, MENGAPA HARUS TAKUT?

HAI UMAT KRISTIANI, MENGAPA HARUS TAKUT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 9 Januari 2019)

Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan diatas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka. (Mrk 6:45-52) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-210-13 

Dalam beberapa hari ini, liturgi Gereja terus memberikan bukti kepada kita guna menunjukkan siapa Kristus sebenarnya. Kemarin kita melihat kuasa Yesus untuk melipat-gandakan roti dan ikan. Namun demikian, para murid-Nya “belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka” (Mrk 6:52). Pada hari ini kita menyaksikan kuasa Yesus atas kekuatan alam selagi Dia berjalan di atas air dan meredakan angin sakal. Ini adalah Yesus yang sama, yang dua pekan lalu dalam liturgi digambarkan sebagai seorang anak kecil tak berdaya di dalam palungan.

“Berjalan di atas air” yang dilakukan oleh Yesus dalam peristiwa ini bukanlah sekadar suatu pertunjukan kekuasaan (Inggris: show of power). Perjanjian Lama memandang “berjalan di atas air” sebagai suatu fungsi ilahi. Dalam Kitab Ayub misalnya, Ayub mendeklarasikan bahwa Allah “seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut” (Ayb 9:8). Dengan “berjalan di atas air” Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Manifestasi ini dipertinggi/ditingkatkan dengan pernyataan Markus yang penuh misteri: “Ia …… hendak melewati mereka” (Mrk 6:48). Ketika YHWH menyatakan kemuliaan-Nya kepada Musa, Dia pertama-tama “melewati”-nya sehingga Musa hanya dapat melihat Dia dari belakang dan Musa pun selamat karena tidak ada orang yang melihat YHWH dapat hidup (lihat Kel 33:19-23). Akan tetapi, kepada para murid-Nya, Yesus menunjukkan wajah-Nya.

Dengan demikian, tidak mengherankanlah bila kita membaca betapa terkejutnya para murid Yesus ketika melihat-Nya, mereka berteriak-teriak ketakutan karena mengira Dia hantu. Kata-kata Yesus kepada mereka sangat menyejukkan dan membuat tenang: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mrk 6:50). Yesus membawa pesan yang sama kepada semua orang yang sedang dikuasai oleh rasa takut. Ketika kita dilanda rasa takut, apakah kita berpaling kepada Yesus dan memperkenankan Dia menghibur kita? Bayi Yesus dalam palungan di Betlehem tidak berakhir di situ karena selanjutnya kita dipimpin kepada perwahyuan-perwahyuan yang lebih besar sepanjang kehidupan Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Demikian pula, selagi kita menyerahkan hidup kita kepada Dia dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, Ia akan menyatakan hal-hal yang lebih besar lagi kepada kita.

Apakah berbagai manifestasi kekerasan dalam masyarakat kita maupun di dunia menakutkan kita? Apakah kita mengalami kebingungan sehubungan dengan masalah keuangan? Apakah kesehatan tubuh kita merupakan masalah yang serius akhir-akhir ini? Dalam semua hal ini, marilah kita mengingat kata-kata Yesus: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Mengomentari Yesus yang berjalan di atas air, Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis: “Dia datang melangkahi ombak-ombak; dengan demikian Ia menaruh semua gelombang huruhara kehidupan di bawah kaki-Nya. Hai umat Kristiani – mengapa harus takut?” 

DOA: Tuhan Yesus, pada saat-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyejukkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau adalah sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 4:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “SALING MENGASIHI” (bacaan tanggal 9-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 7 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA SENDIRI MEMBERIKAN KASIH KRISTUS KETIKA KITA MELAYANI ORANG-ORANG LAIN ?

APAKAH KITA SENDIRI MEMBERIKAN KASIH KRISTUS KETIKA KITA MELAYANI ORANG-ORANG LAIN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 8 Januari 2019)

Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11 

Hari-hari yang sungguh melelahkan. Kedua belas rasul baru saja kembali dari perjalanan misioner mereka dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (Mrk 6:30), dan selama absen mereka Yesus sendiri pun tanpa mengenal lelah terus mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada orang banyak dan berbuat kebaikan seperti biasanya. Sementara itu Yesus juga telah menerima kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis (Mrk 6:14-29). Maka, ketika berkumpul kembali dengan 12 orang murid-Nya itu, Yesus ingin membawa mereka ke tempat yang terpencil untuk beristirahat dan berdoa berdoa bersama, karena saking sibuk melayani orang banyak sampai-sampai makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Mrk 6:31-32).

Akan tetapi, upaya mereka untuk mengundurkan diri (retret) dari kesibukan sehari-hari itu ketahuan oleh banyak orang. Injil Markus menggambarkannya dengan singkat-jelas: “Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka” (Mrk 6:33). Orang-orang itu memiliki kerinduam mendalam untuk dapat melihat sang “pembuat mukjizat” dan para murid-Nya, sehingga tanpa menyadarinya mereka telah mengganggu rencana Yesus untuk melakukan “retret” bersama para murid-Nya yang terdekat itu.  Bagaimana dengan Yesus? Melihat orang banyak itu, maka “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Yesus tidak hanya memberi pengajaran kepada orang banyak itu, karena seperti kita akan lihat, Dia juga memberi mereka makan – secara ajaib lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan – dalam sebuah lokasi terpencil, jauh dari keramaian kota.

Bagaimana Yesus memberi orang banyak yang berjumlah lebih dari 5000 orang itu? Dengan memerintahkan para murid-Nya untuk memberi makan kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37). Yesus memanggil para murid-Nya (pengikut-Nya) supaya meneladan diri-Nya dalam hal memberikan waktu dan energi untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Bahkan ketika para murid-Nya “memprotes” karena merasa tidak mampu, Yesus sendiri memberdayakan mereka. Yesus sebenarnya dapat secara langsung melakukan sendiri pemberian makanan tersebut, namun Ia mengundang para murid-Nya untuk ikut ambil bagian.

Sebagaimana yang terjadi sekitar 2000 tahun itu dengan para murid-Nya yang pertama, Yesus juga ingin memberdayakan kita masing-masing untuk melakukan pekerjaan Kerajaan-Nya pada hari ini – dengan cara-cara biasa sehari-hari atau pun lewat mukjizat dan berbagai tanda heran. Walaupun kita berpikir bahwa diri kita tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan, Yesus memanggil kita untuk melayani para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, bahkan para “musuh” atau “lawan” kita. Yesus ingin agar kita membawa “roti pemberi hidup”-Nya kepada semua orang yang kita jumpai.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang masalahnya adalah apakah kita melihat diri kita sendiri memberikan kasih Kristus ketika kita melayani orang-orang lain? Apakah kita melihat tugas-tugas kewajiban kita sehari-hari sebagai kesempatan-kesempatan memberikan kepada orang-orang yang kita layani itu “sesuatu untuk dimakan”? Apakah kita anda senantiasa mencari peluang-peluang untuk mewartakan tentang Yesus kepada para sahabat kita, atau mengajak mereka untuk berdoa bersama? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk bekerja melalui diri kita. Perkenankanlah hidup-Nya dan kasih-Nya bertumbuh dalam diri kita masing-masing agar kita dapat menjadi sebuah instrumen Kerajaan Allah bagi-bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “roti” satu-satunya yang akan memuaskan kebutuhan umat-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, sediakanlah bagiku berbagai sumber-daya yang kubutuhkan untuk memberi makanan kepada semua orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku ingin menjadi murid-Mu yang baik. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 6:34-44), bacalah tulisan yang berjudul “ADA BANYAK CARA UNTUK MEMBERI MEREKA MAKAN” (bacaan tanggal 8-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 6 Januari 2019 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS