Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

YESUS MENGASIHI KITA SEMUA

YESUS MENGASIHI KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX [TAHUN A], 20 Agustus 2017)

Christ and the Canaanite Woman – c.1784
Germain-Jean Drouais 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28)

Bacaan Pertama: Yes 56:1,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:13-15,29-32

Untuk mengalami rasa takjub atas begitu luas, indah dan luarbiasanya alam semesta, khususnya ruang angkasa, kita dapat memandangi bintang-bintang di langit di malam hari tak berawan. Walaupun begitu menakjubkan, alam semesta hanyalah sebuah pencerminan kecil tentang Sang Pencipta yang kehadiran-Nya melingkupi dan menopang setiap partikel dari alam ciptaan-Nya.

Tentunya, seandainya kasih Allah dapat terlihat khasat mata seperti bulan dan bintang Bima Sakti (“Milky Way”), maka rasa takjub kita akan semakin besar ketimbang pengamat ruang angkasa mana pun yang sedang mengamati langit dengan teropongnya pada malam hari. Kasih Allah itu tanpa batas. Tidak ada seorang pun atau apa pun yang berada di luar ruang lingkup kasih-Nya – termasuk seorang “outsider”/ “orang luar” seperti perempuan Kanaan dalam bacaan Injil hari ini.

Seorang non-Yahudi yang dipandang “kafir” oleh orang-orang Yahudi, mengetahui benar bagaimana menempatkan dirinya. Dia sungguh “tahu diri”. Perempuan itu tahu bahwa tidak layaklah bagi seorang perempuan untuk menyapa seorang laki-laki di depan umum, juga bagaimana seorang “kafir” seperti dirinya seharusnya berelasi dengan orang-orang Yahudi.

Namun ada sesuatu tentang Yesus yang membangunkan iman dalam diri perempuan itu, hal mana menariknya semakin dekat kepada-Nya. Barangkali dia telah menyaksikan dan merasakan bagaimana Yesus mengasihi setiap orang yang datang kepada-Nya. Dia mungkin juga berpikir bahwa jika Yesus menyembuhkan orang-orang lain, maka Yesus pun tidak akan menolak untuk menyembuhkan puterinya. Iman perempuan itu cukup kuat sehingga dia bertekun dengan penuh rasa percaya dalam menghadapi dan mengatasi setiap rintangan – bahkan kata-kata Yesus untuk menguji imannya, yang terdengar seakan-akan sebuah tolakan. Perempuan itu yakin bahwa Yesus tidak akan mengecewakan kepercayaan dirinya kepada Yesus, dan ternyata dia memang benar! Yesus senang untuk menjawab doa perempuan itu!

Perempuan Kanaan itu mengingatkan kita bahwa tidak ada “orang luar”, tidak ada “orang buangan” kalau kita berbicara mengenai kasih Allah. Apakah posisi kita di hadapan Allah disebabkan oleh karena kita pantas dan karena upaya kita sendiri? Sama sekali tidak !!! Allah-lah yang menempatkan kita pada posisi istimewa di hadapan-Nya. Namun sekarang Dia bertanya kepada kita untuk menerima kebenaran ini dan memperkenankan Dia membentuk hidup kita selagi kita bergumul untuk hidup dalam iman.

Sekarang masalahnya adalah apakah kita melakukan upaya seperti diterangkan di atas? Apakah kita menempatkan iman kita dalam kasih Allah kepada kita? Kita harus tekun menghadap Allah dengan segala kebutuhan kita, maka kita akan mengalami kebebasan atau kemerdekaan dari lapisan-lapisan ketidakpercayaan yang membuat sukar untuk mengenal kuat-kuasa-Nya. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah ini adalah “seorang” Pribadi yang sangat murah hati. Dia akan memberikan kepada kita jauh lebih daripada sekadar remah-remah kepada setiap anak-Nya yang datang menghadap hadirat-Nya dengan iman!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi diriku. Aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya bahwa Engkau akan membuang segala hal yang selama ini menghalang-halangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah andalanku dan pengharapanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “BENAR TUHAN, NAMUN ANJING ITU MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA” (bacaan tanggal 20-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham per tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51 

Setiap orang Kristiani sebenarnya diutus untuk mewartakan Injil, dan seturut karunia-karunia yang dianugerahkan kepada mereka masing-masing juga membawa kesembuhan kepada orang-orang sakit serta melepaskan orang-orang yang berada di bawah pengaruh roh jahat. Kita juga harus menyadari bahwa kita masing-masing adalah Bait Roh Kudus dan dapat mempengaruhi masyarakat di mana kita berada. Bisa saja kita hanyalah “orang-orang biasa”, namun Petrus juga hanya orang biasa-biasa saja sebelum peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama. Bahkan pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama itu dia belumlah “Santo Petrus yang agung” Dia hanyalah seorang (mantan) nelayan. Akan tetapi, setelah dia menerima Roh Kudus, Petrus pun mampu mempertobatkan tiga ribu orang sekaligus yang mendengarkan khotbahnya yang dipenuhi rahmat (Kis 2:41).

Ketika Yesus menegur para murid berkaitan dengan ketidakmampuan mereka untuk mengusir roh jahat yang merasuki anak laki-laki yang sakit ayan itu, lagi-lagi Yesus mengingatkan para murid akan ketiadaan iman mereka. Namun kemudian Ia membuat sebuah janji, yaitu janji yang akan membebaskan para murid dari rasa bersalah atau “minder” dan memberikan kepada mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,  – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Janji ini tidak hanya berlaku untuk para murid Yesus yang pertama, melainkan juga bagi kita semua, para murid-Nya pada zaman sekarang. Terkadang kekhawatiran dan kegelisahan kita dapat memperlemah iman-kepercayaan kita. Pengharapan kita dapat menyusut cepat dan membuat kita merasa tak berdaya ketika menghadapi situasi yang sulit. Situasi-situasi menantang semakin banyak kita hadapi, namun kita merasa jauh dari Tuhan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus tegak berdiri dan memegang janji Yesus yang tak tergoyahkan, yaitu bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.

Bagaimana kita memelihara dan mempertahankan iman kita, bahkan yang sekecil biji sesawi itu? Iman adalah karunia Allah, namun tetap menuntut tanggapan dari pihak kita. Kiranya tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman kita selain daripada datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa-doa kita.

Memang kedengarannya hal ini mengecilkan hati, malah menakutkan, namun sebenarnya tidak susah juga. Apa yang dapat kita lakukan adalah mencoba dengan sebaik-baiknya untuk membuang segala pelanturan atau distraksi yang mengganggu konsentrasi kita, dan kemudian kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Yesus saja. Pandangan mata kita haruslah terus menatap pada cintakasih-Nya dan pada hasrat-Nya yang mendalam untuk memberikan kepada kita masing-masing segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati hidup kekudusan. Yesus ingin sekali agar kita memiliki iman yang  lebih lagi, Dia bahkan lebih bergairah lagi untuk mencurahkan semua rahmat yang kita perlukan agar kita dapat bertumbuh dalam iman, dan Ia juga ingin sekali melihat iman kita itu bertumbuh dan bertumbuh terus – presis seperti biji sesawi kecil yang terus bertumbuh sehingga menjadi sebatang pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk memusatkan pandangan mataku pada Engkau saja, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar perihal cintakasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu agar dengan demikian akupun akan mampu berjalan dalam iman dan menjadi saksi-Mu kepada masyarakat di sekelilingku dan dunia yang sungguh membutuhkan Engkau dan penyelamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMANLAH YANG DIPERLUKAN” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010). 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Dalam kitab-kitab Injil yang empat itu, hanya dua orang yang dipuji oleh Yesus untuk iman mereka yang besar: Yang pertama adalah seorang perwira tentara Romawi yang berkata kepada Yesus: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya tentang iman sang perwira itu: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Yang kedua adalah perempuan Kanaan yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, yang “ngotot” mohon kepada Yesus agar puterinya disembuhkan/dilepaskan dari kuasa roh jahat. Memang pada teks di atas yang diambil dari Perjanjian Baru edisi TB II-LAI pujian Yesus tidak secara eksplisit mengungkapkan betapa besar iman sang ibu Kanaan itu, namun kiranya pujian Yesus itu lebih jelas terasa dalam teks Alkitab TB I-LAI. Bunyinya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Yang menyentuh hati adalah kenyataan, bahwa kedua orang yang memiliki “iman besar” itu adalah bukan orang Yahudi …… orang-orang kafir; mereka yang dipandang tidak bersih oleh sebagian besar umat Yahudi.

Perempuan Kanaan ini menghadapi dua buah rintangan, katakanlah handicaps: (1) Kenyataan bahwa dia bukan orang Yahudi; dan (2) kenyataan bahwa dia adalah seorang perempuan yang dipandang tak bernilai dalam masyarakat Yahudi. Namun demikian, demi cintakasihnya kepada puterinya yang menderita, ibu Kanaan ini tidak berputus-asa. Dia tetap ngotot mohon pertolongan Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud …” (Mat 15:22) … “Tuhan, tolonglah aku” (Mat 15:25). Dia terus berteriak-teriak minta tolong selagi mengikuti Yesus (Mat 15:23). Dia menyapa Yesus sebagai Kyrios (Tuan, Tuhan) dan “Putera/Anak Daud” yang sangat kental bernada Yahudi. Pada waktu Yesus pada mulanya tidak memberi jawaban atas permohonannya, perempuan Kanaan ini terus bersikukuh sambil menyembah Yesus mohon sekali lagi agar Dia menolongnya. Bahkan ketika jawaban Yesus terkesan menyakitkan, perempuan penuh iman ini dengan cerdas dan rendah-hati mengakui, bahwa meskipun dia orang asing yang berada di luar “Perjanjian YHWH dengan bangsa/umat Yahudi”, dia dapat juga memperoleh manfaat dari pelayanan Yesus di tengah-tengah umat Yahudi. Akhirnya, Yesus pun memuji iman perempuan Kanaan yang besar itu dan menyembuhkan anak perempuannya.

Ada dua aspek menentukan dalam iman-besar ibu Kanaan itu. Yang pertama adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang yang sungguh rendah hati. Yang kedua, dia ini adalah seorang pribadi yang memiliki ketekunan. Dia mendatangi Yesus, dia minta dikasihani, minta tolong kepada Yesus sambil menyembah-Nya; hal sedemikian bukanlah sikap umum orang-orang non-Yahudi terhadap seorang Yahudi. Yang lebih menyentuh hati adalah, bahwa perempuan ini mengakui posisinya yang lebih rendah ketimbang orang Yahudi dalam rencana penyelamatan Allah.  Karena ketekunannya perempuan ini tidak mundur oleh ketiadaan jawaban dari Yesus pada awalnya, juga dia tidak berputus-asa karena pandangan negatif para murid Yesus terhadap dirinya, bahkan juga oleh jawaban Yesus yang terasa menyakitkan. Semua yang kelihatan sebagai penghalang malah membuat dirinya semakin dekat dengan Yesus dan mengintensifkan kesungguhannya dalam memohon pertolongan kepada Yesus.

Marilah kita belajar dari perempuan Kanaan ini, teristiwa kerendahan hatinya yang tulus dan ketekunannya dalam menyampaikan permohonannya kepada Yesus. Janganlah kita menjadi merasa gelisah bagaimana kita dapat bertumbuh sebaik-baiknya di dalam dua keutamaan yang disebutkan tadi. Setiap hari kita menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan yang sebenarnya memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar cara mendekati Yesus seperti dicontohkan oleh Ibu Kanaan ini dan oleh sederetan panjang nama-nama orang kudus yang terdapat dalam Kitab Suci dan sepanjang sejarah Gereja.  Yang diperlukan oleh kita adalah agar tetap membuka mata hati kita dan menjaga agar hati kita tetap murni. Dengan demikian kita masing-masing dapat dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang rendah hati dan tekun. Maka kita pun akan menyadari  bahwa sebenarnya Yesus selalu ada bersama kita, menguatkan iman-kepercayaan kita dan mendengar doa-doa kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Imanuel – Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Dalam ayat terakhir Injil Matius tercatat bahwa Dia sendiri bersabda: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku ingin lebih dekat lagi dengan-Mu, ya Tuhan. Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk selalu mendekati diri-Mu dengan rendah hati dan iman yang tekun. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Dalam Perjanjian Lama diceritakan bagaimana dengan penuh keajaiban Allah (YHWH) memberikan makanan kepada orang-orang Israel dengan roti dari surga yang dinamakan manna (Kel 16). Ia menyediakan roti secukupnya bagi setiap orang setiap hari. Mukjizat pergandaan roti dan ikan dalam bacaan Injil hari ini tentunya mengingatkan orang banyak yang hadir dalam peristiwa itu (dan kita juga) akan manna dan burung puyuh yang disediakan Allah pada waktu nenek moyang mereka mengembara di tengah padang gurun (lihat bacaan pertama; ditambah dengan Bil 14:31 dsj.). Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini juga mengingatkan akan penggandaan roti yang dilakukan oleh nabi Elisa (2Raj 4:42-44).

Selagi kita merenungkan bacaan mengenai mukjizat penggandaan roti oleh Yesus ini, kita tidak bisa tidak akan melihat bagaimana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH, Bapa-Nya, sumber segala kebaikan bagi umat-Nya. Pada saat yang sama, Yesus menyatakan bahwa kasih Allah dan kebaikan-Nya dihadirkan melalui diri-Nya.

Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini dalam Injil Matius diceritakan langsung setelah cerita mengenai kematian Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12). Apakah kita dapat mengatakan bahwa kematian ini merupakan semacam gambaran awal dari kematian Yesus sendiri? Sebagai tanggapan terhadap berita menyedihkan itu, Yesus menyingkir dan menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil untuk bersekutu dengan Bapa-Nya secara lebih mendalam, barangkali untuk memeditasikan sengsara dan kematian-Nya kelak.

Orang banyak mengantisipasi gerak-gerik Yesus dengan cukup baik. Mereka berhasil mengikuti Yesus dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus sampai di darat sudah ditunggu oleh orang banyak yang besar jumlahnya. Yesus tidak menjadi marah terhadap orang banyak itu, sebaliknya Injil Matius mencatat: “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:14).

Dalam terang sengsara yang akan diderita-Nya, Yesus ingin memberikan suatu wawasan yang lebih mendalam menyangkut kemurahan hati yang sangat mendalam dari Allah melalui apa yang Dia sendiri siap lakukan bagi mereka. Pada waktu para murid menyarankan agar orang banyak itu disuruh pergi agar mereka dapat membeli makanan di desa-desa untuk mereka sendiri, Yesus menjawab dengan tegas: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16).

Setelah mengucap syukur, Yesus menggandakan ke lima roti dan dua ikan itu untuk memberi makan orang banyak yang dapat saja berjumlah 20 ribu sampai 30 ribu orang, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang sebanyak ini, kalau digabung dengan peristiwa penggandaan yang kedua (Mat 15:32-38) dapat mencapai sekitar 10% dari total penduduk Palestina pada waktu itu.

Yesus melakukan intervensi pada suatu situasi yang menurut pandangan para murid-Nya tidak memungkinkan, dan Ia malah memberikan makanan lebih daripada yang dibutuhkan: “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh” (Mat 14:20).

Dengan tindakan-Nya mengucap syukur dan memecah-mecah roti, kemudian memberi makan beribu-ribu orang pada hari itu, Yesus sebenarnya menunjuk kepada hal yang tidak lama lagi akan dilakukan-Nya – memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri melalui Ekaristi sebagai makanan yang memberi kehidupan kepada dunia. Pada gilirannya, Ekaristi mengantisipasi perjamuan mesianis (Messianic banquet), suatu imaji dari damai-sejahtera, sukacita, dan persekutuan yang sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan dalam Kerajaan Allah.

Pikiran orang-orang modern cenderung untuk merasionalisir atau mengabaikan signifikansi dari penggandaan roti dan ikan, tentunya berdasarkan alasan bahwa hal tersebut tidaklah mungkin. Dengan bersikap dan berperilaku seperti itu, kita gagal mengakui kemurahan hati yang teramat besar dari Allah, di masa lampau, kini dan yang akan datang – yang dinyatakan lewat mukjizat ini. Bagi mereka yang tidak percaya akan mukjizat seperti ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa mukjizat itu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).  Mukjizat di El Paso, Texas merupakan salah satu bukti nyata dari mukjizat penggandaan yang terjadi di dunia modern.

Namun demikian, keajaiban dari peristiwa penggandaan roti dan ikan itu janganlah sampai menghalangi kita untuk menangkap pesan hakiki peristiwa itu, yaitu bahwa orang yang lapar harus diberi makan. Ini adalah misi Yesus dan tanggung jawab para murid-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus senantiasa memiliki kemauan untuk berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain dan berikanlah kepadaku keberanian untuk menanggapi secara positif kebutuhan-kebutuhan mereka itu. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu, ya Tuhan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUH YANG TERLUKA” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)  

Cilandak, 4 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 6 Juli 2017)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1–19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belas kasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6).

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan ‘kebenaran’ moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang pribadi yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”

Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”  Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 6-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA

IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 1 Juli 2017) 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Dalam kesempatan kali ini, baiklah kita menyoroti iman dari seorang perwira yang datang kepada Yesus memohon kesembuhan seorang hambanya yang sakit lumpuh dan sangat menderita. Begitu penting iman bagi Yesus! Begitu pentingnya sehingga kita dapat melihat dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjuk pada iman besar yang dimiliki sang perwira sebagai sebuah model apa artinya menaruh kepercayaan dan keyakinan kita pada sesuatu yang tidak lebih daripada sabda Yesus: “… katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Dengan iman-kepercayaan seperti ini, tanda-tanda heran dan mukjizat-mukjizat dapat terjadi!  Dalam kitab-kitab Injil kita melihat bahwa Yesus senantiasa menanggapi secara positif iman-kepercayaan yang menunjukkan rasa percaya dan keyakinan yang mutlak.

Bagaimana kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita? Pertama, secara sederhana kita dapat mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman-kepercayaan kita. Iman adalah suatu anugerah/karunia – sesuatu yang Tuhan kelihatannya siap dan ikhlas untuk berikan kepada kita atau tingkatkan dalam diri kita. Kedua, kita dapat melakukan yang terbaik untuk mengasosiasikan diri kita dengan orang-orang lain yang kelihatan memiliki iman yang kuat dan sehat. Biar bagaimana pun juga, iman itu bersifat menular. Apabila kita berkontak dengan orang-orang yang dengan penuh kasih dan penuh kepercayaan menaruh iman mereka dalam Tuhan, maka kita lebih berkemungkinan untuk melihat iman-kepercayaan kita sendiri meningkat.

Satu hal lain yang dapat kita lakukan untuk membuat iman yang lebih berani adalah untuk mulai menggunakan iman itu secara begitu! Tidak ada bedanya dengan latihan jasmani: Semakin kita menggunakan otot-otot kita, semakin kuat jadinya kita. Oleh karena itu, kita harus melatih iman kita dalam cara-cara yang lebih besar. Misalnya: Mendoakan peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dalam kehidupan kita tentunya baik dan tidak pernah boleh kita lupakan, namun kita dapat mulai fokus pada isu-isu yang lebih besar,  yang berskala nasional atau bahkan yang berskala global sekali pun. Selain mendoakan para korban “Lumpur Lapindo”, alangkah baiknya bagi kita untuk mendoakan juga saudari dan saudara kita di Sudan, misalnya. Kita harus senantiasa mengingat apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya (termasuk kita para murid pada zaman modern ini) sebelum Ia diangkat ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18). Yesus memiliki otoritas dan kuasa untuk melakukan apa saja, di mana saja dalam alam semesta. Dan kita adalah anggota Gereja semesta yang didirikan oleh-Nya.

Berdasarkan pemikiran seperti itu, pada akhirnya kita dapat menjadi lebih berani dalam iman kita untuk mengenal Yesus secara lebih baik melalui doa dan pembacaan serta permenungan atas sabda-Nya dalam Kitab Suci. Semakin baik kita mengenal Yesus, semakin yakin pula kita bahwa Dia sungguh mengasihi, bijaksana, maharahim, dan berbela-rasa. Kita akan percaya bahwa Dia akan selalu melakukan hal terbaik dalam setiap situasi. Seperi murid yang dikasihi pada Perjamuan Terakhir yang bersender di dekat-Nya (Yoh 13:23), maka kita pun dapat bersender pada Yesus dan memohon dari Dia apa saja yang kita butuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi Engkau. Tingkatkan imanku, ya Tuhan, agar aku lebih berani dan penuh kepercayaan datang kepada-Mu untuk situasi apa pun dalam kehidupanku – atau apa saja di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT” (bacaan tanggal 1-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 28 Juni 2017 [Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS