Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 13 Oktober 2017)

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita.

Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan begundal-begundalnya terus saja ber-adventure di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai  butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya.

Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Oleh nama, darah dan salib-Nya, Yesus menyediakan pembebasan dan kemerdekaan bagi kita semua, hanya kalau kita mau dan mampu belajar terus untuk menggantungkan diri kepada-Nya. Yesus tentu sangat senang untuk membebaskan kita dari yang jahat (ingat: Doa Bapa Kami). Ia sangat senang untuk membuat kita semua menjadi orang-orang merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Namun bagi Yesus pembebasan dari yang jahat – meski penuh kuasa sekali pun – hanyalah sekadar sebuah pintu masuk kepada suatu rahmat yang lebih besar. Yesus ingin membebaskan diri kita, sehingga Dia dapat mengisi hidup kita dengan hidup-Nya sendiri. Dia ingin memerdekakan kita dari keterikatan pada dosa, sehingga kita akan menjadi lebih terbuka bagi kehidupan, cintakasih dan kuasa Allah Tritunggal.

Hari ini tanyakanlah pada diri anda sendiri, “Bagaimana aku memandang kehidupanku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang masih berjuang terus untuk sungguh mengasihi Allah? Apakah aku seorang pencinta Allah yang masih memerlukan pembebasan dari dosa-dosaku yang serius? Apakah aku masih memiliki harapan di masa depan?  Apakah aku melihat potensi kekudusan dan pelayanan yang telah ditaruh Allah dalam diriku? Apakah ada harapan bagiku untuk menyelusup ke dalam surga kelak? Dalam doa-doa kita mohonlah agar Yesus membuka mata kita lebih lebar lagi. Biarlah Dia meyakinkan kita masing-masing tentang kemenangan-mutlak-Nya atas Iblis dan roh-roh jahat, agar kita dengan penuh percaya-diri menerima semua berkat yang telah dimenangkan sang Juruselamat bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima-kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan penuhilah setiap sudut kehidupanku. Aku ingin menjadi pemenang bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA” (bacaan tanggal 13-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009)

Cilandak, 11 Oktober 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur  separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13), lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:  17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 18 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam 

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS

MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 12 September 2017) 

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yan disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: Kol 2:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1-2,8-11

“Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19).

Andaikan ada seorang mahasiswa S-2 teologi sedang melakukan survei dalam rangka mempersiapkan tesisnya tentang penyembuhan dan mukjizat Yesus Kristus. Andaikan anda adalah salah seorang responden dalam survei si mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuestioner-nya yang akan anda jawab adalah sebagai berikut: Apabila anda sedang sakit dan memerlukan penyembuhan, apakah yang akan anda lakukan?

  • Berdoa agar terjadi mukjizat dan percaya dengan kuat bahwa hal itu akan terjadi?
  • Berdoa agar terjadi mukjizat namun tetap berhati-hati agar anda tidak kehilangan harapan sama sekali?
  • Tidak tahu apakah anda harus berdoa untuk penyembuhan, tetapi menanggung penderitaan anda dengan penuh kesabaran?

Bila anda memilih opsi kedua atau ketiga, barangkali anda tergolong mayoritas. Budaya masyarakat modern kelihatannya berpandangan bahwa penyembuhan dan mukjizat tidaklah sama pada zaman modern ini dengan penyembuhan dan mukjizat pada zaman Yesus. Bahkan dalam banyak lingkungan Kristiani, diasumsikan bahwa jalan terbaik adalah untuk menderita melalui sakit sebagai silih atas dosa-dosa kita.

Ajaran-ajaran Gereja Katolik dan Kitab Suci, keduanya sangat positif dalam membuat pernyataan tegas bahwa penyembuhan-penyembuhan dan mukjizat-mukjizat harus menjadi bagian dalam kehidupan Kristiani. Ketika Yesus naik ke surga, Dia mewariskan kepada kita sakramen-sakramen dan memberikan kepada kita masing-masing Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Ini adalah sesuatu hal yang menakjubkan – kombinasi yang dapat memberikan kita pengharapan besar untuk penyembuhan dan rahmat.

Allah ingin kita mengetahui bahwa diri-Nya tidak senang dengan sakit-penyakit yang diderita siapa saja. Dia ingin kita mengetahui bahwa bahkan dalam situasi-situasi di mana penyembuhan fisik tidak terjadi, hal itu bukanlah disebabkan oleh kutukan-Nya atau ketidakmampuan-Nya untuk menyembuhkan. Kita tidak akan pernah memahami misteri penderitaan, paling sedikit tidak dalam kehidupan ini. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa bilamana kita tidak disembuhkan, Allah mencurahkan rahmat berlimpah yang tidak hanya akan menopang kita dalam penderitaan sakit kita, melainkan juga membawa kita ke dalam suatu keintiman yang lebih mendalam dengan Yesus.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) mempunyai suatu kebutuhan akan penyembuhan? Apakah ada seseorang yang dekat dengan kita membutuhkan sentuhan yang menyembuhkan dari Tuhan Yesus? Kalau demikian halnya, marilah kita merenungkan lagi dengan serius ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini: “Ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19). Yesus itu penuh dengan kuat-kuasa. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita. Dalam iman dan dengan penuh rasa percaya, marilah kita menghadap Dia dan memperoleh setiap rahmat dan berkat yang ada pada-Nya untuk diberikan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, sudah sekian lama aku membutuhkan penyembuhan dari-Mu. Datanglah, ya Tuhan, dan bebaskanlah aku. Aku percaya kepada-Mu dan menempatkan pengharapanku dalam janji-janji-Mu yang besar. Datanglah Yesus dan sembuhkanlah diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN SANGAT PENTING DARI DOA DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 12-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 11 September 2017) 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24 – 2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapt dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah.  Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 11-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN

SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MELAKUKAN PENYEMBUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 6 September 2017) 

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Ibu mertua Simon sedang sakit demam keras. Pada saat Ia datang ke rumah Simon, mereka meminta kepada Yesus supaya Dia menolong perempuan itu. Yesus mengusir demam itu dan penyakit itu pun meninggalkan dia (Luk 4:39). Bayangkan bagaimana terkejut dan terkesimanya Simon ketika dia melihat ibu mertuanya bangkit dan malah mulai melayani para tamu yang datang, padahal beberapa menit sebelumnya dia masih tergeletak sakit. Walaupun reaksi atau tanggapan Simon terhadap penyembuhan ini tidak dicatat oleh Lukas dalam Injilnya, reaksi sang murid terhadap mukjizat penangkapan ikan – yang terjadi tidak lama setelah peristiwa penyembuhan sang ibu mertua – jelas dan malah bersifat dramatis, … dia menyapa Yesus sebagai “Tuhan” (Kyrios), meninggalkan segala sesuatu lalu mengikut Yesus (Luk 5:8,11).

Di Kapernaum, Yesus menunjukkan bela rasa-Nya terhadap semua orang sakit dan Ia pun menyembuhkan mereka. Namun, lebih daripada itu, Yesus ingin membuka mata (-hati) orang-orang agar dapat melihat kerajaan Allah yang datang ke tengah dunia melalui berbagai mukjizat yang dibuat-Nya; Dia ingin setiap orang menerima diri-Nya sebagai Tuhan dan Mesias. Inilah yang terjadi dengan Simon: Ia melihat ibu mertuanya disembuhkan; ia melihat mukjizat penangkapan ikan; dengan demikian ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa”  (Luk 5:8).

Sampai pada hari inipun Yesus masih melakukan penyembuhan-penyembuhan. Apabila kita mengalami penyembuhan-penyembuhan dalam kehidupan kita sendiri atau dalam kehidupan orang-orang lain, kita juga harus melihat semua itu sebagai sebuah tanda bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya datang kepada kita. Setiap penyembuhan adalah sebuah tanda rahmat berkaitan dengan kebangkitan orang mati yang akan datang.

Akan tetapi, banyak orang – barangkali termasuk diri kita sendiri – yang berdoa untuk kesembuhan dan tidak juga disembuhkan. Banyak orang yang kita doakan untuk kesembuhan tetap saja menderita sakit dan kemudian mati. Mengapa? Jawabnya adalah bahwa Kerajaan Allah telah datang ke tengah dunia, namun belum sepenuhnya didirikan. Hanya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman, maka semua itu dipenuhi dan Kerajaan Allah pun didirikan sepenuhnya.

Ketika hal ini terjadi, nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tentang penyembuhan akan sepenuhnya digenapi (Yes 35:5-6). Lalu semua orang percaya akan dibuat utuh dalam Kristus, dan “Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Oleh karena itu, marilah kita menantikan dengan penuh pengharapan akan saat Kerajaan Allah datang sepenuhnya dan setiap hal dibuat lengkap dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami melalui karya penyembuhan yang Engkau lakukan di tengah-tengah kami. Semoga tanda-tanda sedemikian dari kasih-setia-Mu menolong membuat kami senantiasa bersiap-siaga akan saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Tolonglah kami agar mempunyai kerinduan akan kedatangan-Mu kembali pada saat mana semua air mata akan terhapuskan. Maranatha, datanglah Tuhan Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA” (bacaan tanggal 6-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 5 September 2017) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Ada seorang guru yang saya sangat kagumi pada waktu  saya bersekolah di SR dan SMP Bruderan Budi Mulia, Mangga Besar di tahun 1950’an. Nama beliau adalah Ibu Sudjilah, didikan susteran OSF Mendut dan seorang pejuang kemerdekaan. Beliau seorang Kristiani Katolik ….. dan beliau tidak menikah…… mengabdikan diri sepenuhnya bagi dunia pendidikan. Beliau sempat mengajar kami Bahasa Indonesia (termasuk menggunakan huruf Arab), Sejarah Dunia dan Sejarah Indonesia. Di mata saya, beliau adalah seorang guru yang  hebat. Kecintaan saya pada Indonesia boleh dikatakan ditanamkan oleh ibu guru ini. Berbagai perlakuan diskriminatif yang saya alami sepanjang hidup ini tidak menyusutkan kecintaan saya pada negara dan bangsa Indonesia, sedikit-banyak adalah karena pendidikan yang saya terima melalui Ibu Sudjilah ini.

Sekarang, apabila kita (anda dan saya) mengingat-ingat kembali masa sekolah kita dahulu, apa kiranya kualitas yang dimiliki seorang guru tertentu (seperti Ibu Sujilah di atas) yang memampukan dirinya memimpin kita  sampai menjadi siswa-siswa yang unggul. Apa yang dimiliki oleh guru istimewa seperti itu, yang memberi inspirasi kepada kita masing-masing untuk menjadi siswa-siswa yang penuh perhatian dan tanggung-jawab? Barangkali ayah atau ibu kita juga memiliki kualitas itu. Namanya adalah otoritas. Jikalau kita merenungkan bacaan Injil hari ini, maka jelas Yesus secara unik memiliki kualitas termaksud. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk 4:32).

Bagi orang-orang di Kapernaum, Yesus adalah seorang pribadi yang menakjubkan karena melalui kata-kata-Nya, Dia membuka jalan bagi mereka untuk memikirkan Bapa di surga. Yesus tidak hanya sekadar membuat kemasan baru dari hikmat manusia yang sebenarnya sudah dikenal baik (familiar) di tengah khalayak ramai, dengan suatu cara yang baru dan provokatif. Kata-kata Yesus juga menolong mereka untuk berjumpa dengan Allah. Karena identitias-Nya yang unik, Yesus mengetahui pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat Allah sendiri. Tuhan Yesus adalah “seorang” pemikir yang orisinal dan kata-kata-Nya mengkonfrontasi pemikiran-pemikiran duniawi orang-orang dan membawa mereka berkontak dengan hasrat-hasrat Allah yang terdalam. Otoritas Yesus berasal dari “atas” karena Dia sendiri datang dari “atas”. Oleh karena itu, orang-orang dapat menaruh pengharapan mereka pada kata-kata-Nya dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Yesus menyatakan identitas-Nya, demikian pula tindakan-tindakan-Nya! Yesus menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat dan memulihkan manusia sehingga menjadi utuh. Kita lihat bahwa Dia memiliki otoritas dan kuasa untuk memaksa  roh jahat taat kepada-Nya dan memerintahkan roh jahat itu keluar dari dalam diri orang yang kerasukan itu. Melalui otoritas dan kuasa-Nya, Yesus meraih kemenangan mutlak! (Luk 4:35-36).

Hasrat Yesus untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya tidaklah lebih kuat daripada kerinduan-Nya untuk menyembuhkan kita, anak-anak manusia yang terbelenggu oleh kedosaan. Hati kita yang lemah melekat pada cara-cara berpikir duniawi kita, dan hati itu menentang cara hidup baru yang ingin diberikan oleh Yesus. Melalui pertobatan, artinya dengan berbalik dari hidup kedosaan kita lalu berpaling kepada Yesus, maka kita pun dapat mengalami keutuhan. Seperti orang yang dirasuki oleh roh jahat itu, kita pun dapat menaruh kepercayaan pada Yesus untuk membersihkan hati dan pikiran kita dan memenuhi diri kita masing-masing dengan hidup baru.  Pada hari ini baiklah kita semua menyadari sepenuhnya bahwa melalui Roh Kudus, Yesus hadir di tengah-tengah dan di dalam diri kita masing-masing, dan bahwa kita dapat berjumpa dengan Dia selagi hati kita menghadap hadirat-Nya dalam doa.

DOA: Yesus Kristus, bukalah pikiran dan hati kami bagi otoritas dan kuasa-Mu. Kami menolak apa/siapa saja yang akan menjauhkan kami dari diri-Mu. Kami mohon agar Engkau memperbaharui pikiran dan hati kami, dan membangun kembali cintakasih kami kepada-Mu, sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37) yang berjudul “” (bacaan tanggal 5-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS