Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 6 Desember 2017)

Peringatan S. Nikolaus, Uskup 

Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”  Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil  ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?”  “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itui duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37) 

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: 23:1-6 

Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan-minum. Kita praktis tidak dapat bertumbuh dan survive tanpa pangan. Beberapa tanda dari belarasa Yesus terlihat nyata dalam hal kebutuhan manusia akan makan-minum ini. Ketika Yesus melihat keadaan orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan” (Mat 15:32). Orang yang kelaparan tidak dapat diharapkan untuk dapat memikirkan apa-apa lagi, kecuali makanan yang dapat dimakannya dan minuman yang dapat diminumnya. [“The stomach cannot wait,” kata Bung Karno.] Ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita, Dia menerima semua aspek kehidupan kita-manusia, termasuk rasa lapar dan haus. Dalam bacaan Injil di atas, jelaslah bahwa Yesus tahu dari pengalaman-Nya sendiri sebagai seorang manusia, apa yang dirasakan orang banyak yang mengikuti-Nya itu. Dengan demikian tidaklah mengejutkan kalau dalam hal ini Yesus menanggapi kebutuhan mendesak orang banyak itu dengan membuat sebuah mukjizat bagi mereka. Yang seharusnya sangat membuat kita kagum adalah bahwa Yesus menanggapi rasa lapar dan haus spiritual kita dengan cara yang lebih besar dan agung daripada sebuah mukjizat. Pada waktu kita menghadap Dia dalam Perayaan Ekaristi, Yesus Kristus juga tidak mau kita pulang dengan rasa lapar. Dia mengenyangkan umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi dengan tubuh dan darah-Nya sendiri. Ekaristi adalah sebuah pemberian gratis yang sangat indah-mulia dari Sang Juruselamat dalam belarasa-Nya kepada kita, dan Dia memberikan itu setiap hari.

Satu hal lagi untuk direnungkan: setiap mukjizat yang dilakukan oleh Yesus merupakan sebuah tanda yang menunjuk kepada Kerajaan Allah, jadi jauh melampaui mukjizat itu sendiri. Setiap mukjizat menunjukkan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan Yesaya: “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Dengan mempergandakan roti dan ikan, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Dia yang memuaskan mereka yang lapar dengan suatu perjamuan dengan masakan yang istimewa (lihat Yes 25:6). Itulah mengapa, ketika orang banyak mengenali tanda-tanda ini, mereka takjub dan tergerak untuk memuliakan Allah Israel (lihat Mat 15:31). Kita seharusnya ingat bahwa Yesus sama sekali bukanlah seorang pembuat mukjizat atau tukang sihir yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib untuk pamer atau mencari keuntungan diri sendiri. Jauh dari itu! Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan belas kasihan Bapa-Nya kepada siapa saja yang membutuhkan atau yang berada dalam kesulitan (lihat Mat 15:32). Yesus menyembuhkan orang sakit dan memberi makan kepada orang yang lapar karena Dia mengasihi mereka dan hati-Nya tergerak oleh situasi mereka. Dan, mereka yang mengalami kasih-Nya tergerak untuk berpaling kepada Allah. Sampai hari ini pun Yesus masih membuat mukjizat-mukjizat karena Dia mengasihi kita. Hasrat dan kerinduan Bapa untuk menarik kita semua kepada-Nya dan kuasa Roh Kudus yang terus-menerus mengalir melalui Yesus manakala Dia menjamah hidup kita dengan cara-cara yang ajaib. Selagi kita membuka hati kita bagi kasih Allah dan Roh-Nya, kita pun dapat melakukan hal-hal yang ajaib. Apa maksudnya? Artinya, kita pun dapat membawa orang-orang kepada Allah sendiri, yang akan memenuhi diri mereka dengan kasih dan kesembuhan yang mereka rindukan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala mukjizat yang telah kualami dalam kehidupanku. Buatlah aku menjadi tanda kasih-Mu bagi orang-orang lain. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hatiku, dengan demikian melalui diriku banyak orang akan mengenal dan mengalami kuasa kesembuhan-Mu dan belas kasihan-Mu. Tuhan, aku juga sangat bersyukur karena sampai hari ini Engkau masih terus memberikan tubuh dan darah-Mu sendiri kepada kami dalam Ekaristi, sehingga dengan demikian kami tidak akan pernah kelaparan dan kehausan secara spiritual. Tuhan, bentuklah kami menjadi insan-ekaristik yang tidak hanya senang berkumpul di sekeliling altar-Mu di gedung gereja, tetapi juga di tengah-tengah masyarakat di mana kami tinggal. Buatlah kami mampu melihat diri-Mu di dalam diri siapa saja yang kami temui, baik umat Kristiani maupun saudari-saudara kami yang beriman-kepercayaan lain, teristimewa dalam masa Adven ini. Dimuliakanlah selalu nama-Mu Ya Yesus, Putera Allah yang hidup dan berkuasa bersama Bapa di surga dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT EKARISTI KUDUS” (bacaan tanggal 6-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 4 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

IMAN ORANG BUTA ITU TELAH MENYELAMATKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 20 November 2017)

FMM: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Pelindung Pra-Novis FMM 

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42)

Begitu sering kita membaca, bahwa ketika Dia menyembuhkan seorang buta atau lumpuh, atau  yang menderita sakit-penyakit lainnya, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” , misalnya kepada seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkannya (Luk 17:19); kepada perempuan berdosa yang mengurapinya (Luk 7:50).

Iman memberikan kepada kita visi batiniah mendalam, yang lebih penting  daripada karunia kesembuhan itu sendiri, seperti membuat mata orang dapat melihat. Seorang yang memiliki iman memiliki mata terbuka yang dapat melihat jari-jari Allah bergerak menelusuri rencana hidupnya di dunia ini.

Dalam segala hal yang diamatinya, seorang insan beriman senantiasa memandang Allah dulu. Barangkali cara terbaik adalah menggambarkan dengan suatu kontras: seorang pribadi manusia yang mengikuti jalan Allah dan seorang baik, namun dari dunia ini – katakanlah bahwa dia adalah seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan semata. Mengapa kita sampai membanding-bandingkan seperti itu. Karena ada kecenderungan di dunia modern untuk mencari kontradiksi-kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan Allah, seakan-akan Allah sang Mahapencipta bukanlah penguasa, sumber dan motor dari ilmu pengetahuan itu. Mereka tidak melihat bahwa ilmu pengetahuan pun sebenarnya adalah ciptaan Allah. Mereka berpandangan seakan-akan ilmu pengetahuan dapat menghalangi pancaran dari sumber pengetahuan yang jauh lebih tinggi.

Pada dasarnya  asumsi sedemikian dapat mengerucut pada pandangan bahwa benda-benda bukanlah pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat mempunyai pribadi-pribadi; atau apabila kita menerima keberadaan pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat percaya kepada benda-benda. Mengapa kita tidak mempunyai dua-duanya? Bukankah kita mempunyai bukti-bukti dari keberadaan pribadi-pribadi dan benda-benda? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengenal baik ciptaan maupun sang Pencipta?

Bagaimana seorang ilmuwan memandang dunia ini? Ia mempelajari benda-benda dan hubungan antara benda-benda ini dan hukum yang mengatur hal-ikhwal benda-benda. Dunia kita memang terbuat dari benda-benda – unsur-unsur, kombinasi-kombinasi, dan hukum yang mengatur semua itu.

Di lain pihak seorang pendoa, yang melihat dunia yang sama, mencari seorang Pribadi: Orang itu mempelajari tindakan pribadi, tujuan, rencana dengan mana Pribadi termaksud menggerakkan dunia.

Mengapa hal-hal ini harus menjadi kontradiktif? Para ilmuwan mencari hukum, sedangkan seorang beriman berbicara dengan sang Pembuat Hukum itu. Sang ilmuwan mengejar pengetahuan: ia menyelidiki hal-hal yang dapat diamati, ia membuat klasifikasi atas benda-benda yang diselidiki, lalu mencari penyebab sekunder dari semua itu.

Seorang pendoa mencari suatu relasi pribadi, dia menanggapi sang Pribadi yang telah memberikan hukum-hukum dan sebab-sebab dari makna hukum-hukum itu. Dia juga mencari pengetahuan, namun demi Kasih. Inilah pribadi manusia yang dipuji oleh Yesus ketika mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Kita juga kiranya dapat mendengar seakan Yesus berkata: “Engkau telah melangkah melampaui benda-benda, sehingga sampai kepada suatu rasa percaya pada diri sang Pribadi yang sebenarnya adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Dan rasa percayamu, imanmu, kasihmu telah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidupmu.” 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Putra Daud, kasihanilah kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISELAMATKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 20-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  17 November 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

DARI SEPULUH ORANG YANG DISEMBUHKAN YESUS HANYA SEORANG SAJA YANG BERTERIMA KASIH KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 15 November 2017)

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19) 

Bacaan Pertama: Keb 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem … Kita tidak pernah boleh melupakan konteks ini. Yesus sedang berada dalam perjalanan-Nya yang terakhir … ke Yerusalem, di mana para nabi telah dibunuh: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” (Luk 13:34). Sebelumnya Dia juga mengatakan: “… tidak semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem” (Luk 13:33). Jalan Yesus adalah jalan salib, dan jalan salib ini sudah dimulai sekitar 2.000 tahun lalu. Yesus melakukan perjalanan ke Yerusalem itu secara bebas, penuh kesadaran, dengan sukarela … meskipun Ia tahu apa yang menunggu-Nya di sana.

Ketika rombongan Yesus memasuki sebuah desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Apa yang dikatakan oleh Hukum Taurat dalam hal orang kusta? “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Im 13:45-46). Sebagai poorest of the poor, biasanya mereka menghormati Hukum. Oleh karena itu mereka berseru-seru dari kejauhan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Seruan ini adalah ungkapan doa seorang yang sungguh miskin. Kita sendiri selalu mengucapkannya dalam awal Misa; “Tuhan, kasihanilah kami. Kristus, kasihanilah kami. Tuhan, kasihanilah kami.” Janganlah takut dinilai bodoh kalau kita menyerukan doa sederhana ini.

Dalam Kitab Suci, penyakit kusta seringkali merupakan sebuah simbol dosa – kejahatan yang merusak manusia. Bayangkanlah apa arti dosa di mata Allah. Allah membenci dosa, … namun Dia tidak membenci para pendosa. Maka ketika Yesus melihat kesepuluh orang kusta itu, Dia berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah Yesus ini pun sesuai Hukum yang berlaku: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam , dan imam harus pergi ke luar perkemahan; kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya, maka imam harus memerintahkan, supaya bagi orang yang akan ditahirkan itu diambil dua ekor burung yang hidup dan yang tidak haram, juga kayu aras, kain kirmizi dan hisop …” (Im 14:2-4; lengkapnya Im 14:1-32). Di tengah jalan mereka disembuhkan.

Mukjizat kesembuhan yang menyangkut sepuluh orang kusta ini menggambarkan bagaimana Yesus ingin menyembuhkan kita semua, baik secara spritual maupun fisik. Kesepuluh orang kusta itu disembuhkan, namun hanya hanya ada seorang yang kembali kepada Dia yang telah menyembuhkannya sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya (Luk 17:15-16). Satu orang saja yang kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, tanpa rasa malu sedikit pun, karena dia menyadari bahwa ini adalah kesembuhan ilahi. Kalau kita membaca apa yang dikatakan Yesus selanjutnya, maka kita dapat mengatakan bahwa hanya yang satu inilah yang menerima kesembuhan yang lebih mendalam – dalam hatinya (Luk 17:19).

Orang yang satu ini menunjukkan satu sikap hakiki dari seseorang yang diselamatkan: mengucap syukur kepada Allah! Sikap ini juga diminta dari setiap orang yang mengambil bagian dalam Ekaristi (Yunani: Eucharistia) yang artinya adalah pengucapan syukur.  Oleh karena itu marilah kita semua datang ke perayaan Ekaristi dengan hati yang penuh sukacita, penuh kegembiraan sejati karena sangat sadar akan karya-karya Allah yang agung di tengah-tengah umat manusia, di tengah-tengah kita. Sikap penuh syukur memang harus ada dalam hidup sehari-hari seorang Kristiani. Ada sebuah buku bagus dalam rak buku saya dengan judul 10,000 THINGS TO PRAISE GOD FOR. Dalam buku itu dipaparkan contoh contoh mengenai hal-hal untuk mana kita patut mengucap syukur kepada Allah, dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang biasanya kita anggap memang harus begitu, taken for granted, yang terasa tidak ada “istimewa-nya”. Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan dalam perikop ini. Orang yang tahu berterima kasih itu adalah seorang Samaria, mereka yang nista di mata orang Yahudi, tidak murni, tidak asli, non-pribumi! Terima kasih Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi. Dan, Engkau adalah Allah yang sejati karena tidak membatasi bangsa mana yang akan Kauselamatkan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk dapat mengakui berkat-berkat-Mu atas diriku dan orang-orang lain. Tolonglah aku agar mampu dengan penuh sukacita mensyukuri segala rahmat yang kuterima dari-Mu. Ingatkanlah aku agar setiap malam dapat merenungkan hari yang baru kulalui dan melihat karya-karya tangan-Mu atas diriku pada hari itu, dengan demikian membuat aku dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada-Mu seperti orang kusta yang Kausembuhkan dalam perjalanan ke Yerusalem dulu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA SEORANG SAJA” (bacaan tanggal 15-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAGI-LAGI PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT

LAGI-LAGI PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 3 November 2017)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringatan Arwah untuk sanak saudara dan para penderma.

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada zaman Yesus hidup di tengah bangsa Israel, memang ada diskusi-diskusi panas tentang apakah hari Sabat itu merupakan suatu hari yang pantas untuk melakukan penyembuhan orang-orang sakit. Memang sangat berbeda dengan zaman modern di mana kita hidup. Banyak dari kita bahkan tidak memiliki ekspektasi bahwa penyembuhan ilahi dapat menjadi bagian normal dari hidup kita sebagai umat Kristiani. Kalau begitu halnya, boro-boro kita akan mempertimbangkan pada hari yang mana seharusnya penyembuhan itu terjadi! Namun iman kita kepada/dalam Yesus seharusnya tidak boleh begitu sempitnya. Dari waktu ke waktu Allah menunjukkan kepada kita bahwa Dia tidak hanya ingin menyelamatkan jiwa kita, melainkan juga untuk menyembuhkan tubuh dan pikiran kita.

Kata Yunani untuk “menyelamatkan” (sozo) juga berarti “menyembuhkan” atau “membuat utuh”. Sebagai Juruselamat kita, Yesus ingin membuat kita menjadi utuh dalam setiap hal. Yesus menunjukkan kebenaran  ini selagi Dia berjalan dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan, sambil melakukan mukjizat-mukjizat penyembuhan dan berbagai tanda heran lainnya. Jika kita sungguh ingin menerima penyembuhan dari Yesus, maka kita memerlukan iman yang penuh pengharapan dan doa yang penuh ketekunan. Tentu saja, kita harus menghargai dan menghormati profesi di bidang medis-kedokteran, counseling dlsb. Semua itu juga merupakan instrumen-instrumen kuat-kuasa Allah. Namun jauh melampaui upaya medis/ kedokteran dan upaya-upaya manusiawi lainnya, Allah dapat melakukan dan masih melakukan mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya. Secara individu maupun bersama-sama dengan orang lain kita dapat berdoa untuk kesembuhan orang sakit. Kita juga dapat mohon bantuan orang Kristiani dengan iman yang dewasa untuk mendoakan kita. Ingatlah apa yang ditulis oleh Yakobus: “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para panatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan” (Yak 5:14).

Banyak studi ilmiah di bidang penyakit telah menunjukkan adanya suatu relasi antar  pikiran-pikiran kita dan tubuh kita. Kitab Suci Perjanjian Lama bahkan mengatakan kepada kita bahwa “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30; bdk. 17:22). Barangkali yang lebih menarik lagi adalah studi-studi paling akhir yang telah menunjukkan adanya suatu relasi yang spesifik antara doa dan kesembuhan – bahkan ketika para pasien tidak mengetahui bahwa diri mereka sedang didoakan.

Allah ingin agar kita tetap penuh damai dan tenang selagi kita datang kepada-Nya dengan setiap kebutuhan kita. Selagi kita memusatkan diri kita dan “beristirahat” di hadapan hadirat-Nya, baiklah kita mengingat bahwa positive thinking dan ketenangan kita adalah pencerminan dari iman Yesus sendiri akan kemampuan Bapa-Nya untuk menjaga dan memelihara diri-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan, di samping itu untuk menerima kesembuhan ilahi sebagai suatu bagian normal dari kehidupan kita sebagai umat Kristiani.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku menjadi seorang saksi dari rahmat penyembuhan-Mu. Ajarlah aku untuk sabar dalam penderitaanku selagi aku berpaling kepada Roh Kudus untuk mempelajari kehendak-Mu. Jagalah aku agar dapat tetap berpengharapan dan terbuka bagi kuat-kuasa dan hasrat-Mu untuk membuat umat-Mu menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Jadikanlah hatiku seperti hati Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “ISTIRAHAT ALLAH” (bacaan tanggal 3-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 2 November 2017 [PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 13 Oktober 2017)

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita.

Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan begundal-begundalnya terus saja ber-adventure di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai  butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya.

Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Oleh nama, darah dan salib-Nya, Yesus menyediakan pembebasan dan kemerdekaan bagi kita semua, hanya kalau kita mau dan mampu belajar terus untuk menggantungkan diri kepada-Nya. Yesus tentu sangat senang untuk membebaskan kita dari yang jahat (ingat: Doa Bapa Kami). Ia sangat senang untuk membuat kita semua menjadi orang-orang merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Namun bagi Yesus pembebasan dari yang jahat – meski penuh kuasa sekali pun – hanyalah sekadar sebuah pintu masuk kepada suatu rahmat yang lebih besar. Yesus ingin membebaskan diri kita, sehingga Dia dapat mengisi hidup kita dengan hidup-Nya sendiri. Dia ingin memerdekakan kita dari keterikatan pada dosa, sehingga kita akan menjadi lebih terbuka bagi kehidupan, cintakasih dan kuasa Allah Tritunggal.

Hari ini tanyakanlah pada diri anda sendiri, “Bagaimana aku memandang kehidupanku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang masih berjuang terus untuk sungguh mengasihi Allah? Apakah aku seorang pencinta Allah yang masih memerlukan pembebasan dari dosa-dosaku yang serius? Apakah aku masih memiliki harapan di masa depan?  Apakah aku melihat potensi kekudusan dan pelayanan yang telah ditaruh Allah dalam diriku? Apakah ada harapan bagiku untuk menyelusup ke dalam surga kelak? Dalam doa-doa kita mohonlah agar Yesus membuka mata kita lebih lebar lagi. Biarlah Dia meyakinkan kita masing-masing tentang kemenangan-mutlak-Nya atas Iblis dan roh-roh jahat, agar kita dengan penuh percaya-diri menerima semua berkat yang telah dimenangkan sang Juruselamat bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima-kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan penuhilah setiap sudut kehidupanku. Aku ingin menjadi pemenang bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA” (bacaan tanggal 13-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009)

Cilandak, 11 Oktober 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur  separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13), lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:  17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 18 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam 

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS