Posts tagged ‘MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN’

SAMPAI KAPAN AKU HARUS SABAR TERHADAP KAMU?

SAMPAI KAPAN AKU HARUS SABAR TERHADAP KAMU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara dari Assisi, Perawan – Sabtu, 11 Agustus 2018)

Keluarga Besar Fransiskan dan MC: Pesta S. Klara dari Assisi 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Hab 1:12-2:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:8-13 

“Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu?” (Mat 17:17)

Sementara Petrus, Yakobus dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus (Mat 17:1-8), di bawah sana para murid lainnya menghadapi masalah. Seorang laki-laki telah membawa anaknya yang sakit ayan kepada para murid Yesus, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya (Mat 17:16). Walaupun Yesus telah memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk melakukan pelayanan di bidang pengusiran roh jahat dan penyembuhan segala penyakit dan kelemahan (Mat 10:1), mereka tidak mampu menyembuhkan anak muda tersebut.

Ketika Yesus dan tiga murid-Nya tiba kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi dari laki-laki itu, Dia menegur para murid-Nya karena ketidakpercayaan mereka: “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” (Mat 17:17). Lalu Yesus mengusir roh jahat keluar dari anak itu, dan anak itu pun sembuh seketika itu juga (Mat 17:18).

Pada waktu Yesus berada bersama para murid-Nya saja, para murid itu bertanya kepada-Nya mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak yang sakit ayan itu. Dalam kesempatan ini Yesus kembali menegur para murid karena iman mereka yang memang masih kurang kuat: “Karena kamu kurang percaya!” (Mat 17:20). Wah, kelihatannya bukan hari yang baik bagi para murid itu! Namun demikian, Yesus langsung memberikan sebuah janji kepada mereka – sebuah janji yang mampu mengangkat para murid dari “keterpurukan mental”  dan sekaligus memberi pengharapan kepada mereka: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Janji ini tidak hanya berlaku untuk para murid Yesus yang pertama, melainkan juga bagi kita semua, para murid-Nya pada jaman NOW. Terkadang kekhawatiran dan kegelisahan kita dapat memperlemah iman-kepercayaan kita. Pengharapan kita dapat menyusut cepat dan membuat kita merasa tak berdaya ketika menghadapi situasi yang sulit. Situasi-situasi menantang semakin banyak kita hadapi, namun kita merasa jauh dari Tuhan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus tegak berdiri dan memegang janji Yesus yang tak tergoyahkan, yaitu bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.

Bagaimana kita memelihara dan mempertahankan iman kita, bahkan yang sekecil biji sesawi itu? Iman adalah karunia Allah, namun tetap menuntut tanggapan dari pihak kita. Kiranya tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman kita selain daripada datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa-doa kita. Selagi kita menghadap hadirat Allah dan mengakui ketergantungan total kita pada-Nya, maka kita memperkenankan Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan karunia-karunia-Nya, teristimewa karunia iman. Allah ingin agar kita percaya bahwa iman kita sungguh dapat bertumbuh dan kita juga dapat mengalami iman yang dapat memindahkan gunung-gunung dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin menyatukan pikiran dan hatiku dengan pikiran dan hati-Mu. Bersatu dengan Dikau, sekarang aku berdoa untuk semua orang yang menderita sakit dan sengsara lainnya, baik mereka yang kukenal maupun yang tidak kukenal; tidak hanya yang tinggal di negaraku, tetapi juga mereka yang tinggal di berbagai penjuru dunia. Aku berdoa dengan pengharapan besar bahwa Engkau akan menjamah mereka satu persatu dengan kuasa penyembuhan-Mu. Tuhan dan Allahku, biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 11-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

GEREJA-NYA DIPERUNTUKKAN BAGI SEMUA ORANG

GEREJA-NYA DIPERUNTUKKAN BAGI SEMUA ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Imam – Pendiri Ordo Pengkhotbah – Rabu, 8 Agustus 2018)

Keluarga Dominikan dan Fransiskan: Hari Raya/Pesta Bapa Dominikus

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yer 31:1-7; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Dalam kitab-kitab Injil, hanya dua orang yang dipuji oleh Yesus untuk iman-kepercayaan mereka yang besar: Yang pertama adalah seorang perwira tentara Romawi yang berkata kepada Yesus: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya tentang iman sang perwira itu: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Yang kedua adalah perempuan Kanaan yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, yang “ngotot” mohon kepada Yesus agar anak perempuannya disembuhkan/dilepaskan dari kuasa roh jahat. Memang pada teks di atas yang diambil dari Perjanjian Baru edisi TB II-LAI pujian Yesus tidak secara eksplisit mengungkapkan betapa besar iman sang ibu Kanaan itu, namun kiranya pujian Yesus itu lebih jelas terasa dalam teks Alkitab TB I-LAI. Bunyinya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Yang menyentuh hati adalah kenyataan, bahwa kedua orang yang memiliki “iman besar” itu adalah bukan orang Yahudi …… orang-orang kafir; mereka yang dipandang tidak bersih oleh sebagian besar umat Yahudi.

Sekali lagi, kedua pribadi yang disebutkan di atas bukanlah orang Yahudi dan …… dua-duanya datang kepada Yesus demi orang lain, sang perwira demi hambanya (Mat 8:6) dan perempuan Kanaan demi anak perempuannya (Mat 15:22). Dalam kedua kasus ini, Yesus melakukan penyembuhan dari jarak jauh. Baik sang perwira maupun perempuan Kanaan itu jelas-nyata adalah orang-orang yang rendah hati: dengan bebas mereka mengakui status mereka yang lebih rendah sebagai orang-orang yang tidak termasuk dalam bilangan orang Israel yang mengikat perjanjian dengan Allah (lihat Mat 15:26).

Kedua orang itu mempunyai iman-kepercayaan yang besar kepada Yesus. Perwira itu sangat yakin bahwa Yesus mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu. Di lain pihak, ketetapan hati perempuan Kanaan itu menunjukkan bahwa dia yakin dan percaya bahwa Yesus dapat menolongnya.

Yang harus digaris-bawahi di sini adalah bahwa kita tidak dapat membuat pengalaman kedua orang tadi menjadi suatu rumusan tentang bagaimana meminta Allah untuk melakukan apa yang kita inginkan. Namun kita harus percaya pada kuat-kuasa-Nya, maka kita pun tidak akan dikecewakan.

Perlakuan Yesus terhadap kedua orang bukan Yahudi tersebut merupakan tanda bahwa Gereja-Nya diperuntukkan bagi semua orang. Namun demikian kita harus memperhatikan betapa seriusnya Yesus menanggapi perjanjian Allah dengan umat Yahudi (lihat Mat 15:24-26). Perhatikanlah tanggapan Yesus terhadap permohonan perempuan Kanaan itu (Mat 15:25): “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15:26).

Allah memang memilih umat-Nya, dan pilihan-Nya membuat segala sesuatu menjadi berbeda. Sampai saat ini Ia masih berhubungan dengan kita – baik orang Yahudi maupun umat Kristiani – bukan sebagai perorangan melainkan sebagai umat yang mengikat perjanjian dengan-Nya.

Marilah kita belajar dari perempuan Kanaan ini, teristiwa kerendahan hatinya yang tulus dan ketekunannya dalam menyampaikan permohonannya kepada Yesus. Janganlah kita menjadi merasa gelisah bagaimana kita dapat bertumbuh sebaik-baiknya di dalam dua keutamaan yang disebutkan tadi. Setiap hari kita menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan yang sebenarnya memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar cara mendekati Yesus seperti dicontohkan oleh Ibu Kanaan ini dan oleh sederetan panjang nama-nama orang kudus yang terdapat dalam Kitab Suci dan sepanjang sejarah Gereja.  Yang diperlukan oleh kita adalah agar tetap membuka mata hati kita dan menjaga agar hati kita tetap murni. Dengan demikian kita masing-masing dapat dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang rendah hati dan tekun. Maka kita pun akan menyadari  bahwa sebenarnya Yesus selalu ada bersama kita, menguatkan iman-kepercayaan kita dan mendengar doa-doa kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Imanuel – Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Dalam ayat terakhir Injil Matius tercatat bahwa Dia sendiri bersabda: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

Sekarang, baiklah dalam keheningan kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri: “Apakah ada hal-hal dalam hidupku di mana aku telah merasa bosan meminta kepada Tuhan apa yang kubutuhkan? Apakah kisah tentang perempuan Kanaan itu memberikan sebuah pelajaran kepadaku?”

Santo Dominikus yang kita peringati pada hari ini adalah seorang putera keluarga bangsawan. Nama aslinya adalah Domingo de Guzman yang dilahirkan di Calaruega, Castile lama, di Spanyol. Ia belajar teologi dll. dan menjadi seorang imam. Dominikus adalah seorang pribadi yang sangat memahami pentingnya menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus. Putera Spanyol ini sepanjang hari menelusuri jalan-jalan sehingga sampai ke pusat kubu pertahanan kaum bid’ah Albigens. Dengan berapi-api Dominikus berkhotbah menyampaikan Kabar Baik yang sejati. Dia mengadakan diskusi baik di balai kota, bangsal istana maupun di gedung gereja. Walaupun nyawanya dibayangi oleh para pembunuh bayaran, dia tetap saja menyerang ajaran sesat tanpa kenal lelah. Bersama 6 orang rekannya, Dominikus mendirikan Ordo Praedicatorum atau “Ordo para Pengkhotbah” yang tujuan pokoknya adalah menyebar-luaskan ajaran Gereja dan membersihkannya dari segala noda kesesatan. Pada tahun 1216, ordo yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Ordo Dominikan” ini disahkan oleh Paus Honorius III [1216-1227]. Ordo ini berkembang pesat dan dalam spiritualitasnya menekankan kemiskinan, studi dan karya apostolik. Santo Dominikus adalah sahabat dari seorang pendiri Ordo besar lainnya dalam Gereja, Santo Fransiskus dari Assisi. Dalam litani para kudus, dua orang kudus ini disebutkan secara bersama. Kedua ordo ini tergolong sebagai ordo pengemis (mendicant). Perbedaan antara keduanya adalah, bahwa Dominikus belajar teologi secara formal dan menjadi seorang imam, sedangkan Fransiskus tidak sekolah tinggi dan juga bukan seorang imam, melainkan seorang diakon saja. Banyak anggota Ordo Dominikan yang menjadi tokoh Gereja. Salah seorang anggota ordo ini yang pemikiran-pemikirannya sangat berpengaruh dalam Gereja untuk berabad-abad lamanya adalah Santo Thomas dari Aquinas [1225-1274]. 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menjadikan diriku bagian dari umat perjanjian. Tolonglah aku agar dapat memahami arti dari hidup sebagai anggota Gereja-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 8-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

Cilandak, 5 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa,  10 Juli 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk Martir

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Tujuan Matius menulis Injilnya antara lain adalah untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus memenuhi semua yang telah ditulis dalam Perjanjian Lama. Sepanjang Injilnya, Matius berusaha untuk mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah kepada umat-Nya. Cerita tentang penyembuhan seorang bisu yang kerasukan roh jahat dalam bacaan Injil hari ini mengilustrasikan suatu pemenuhan nubuatan dalam Kitab Yesaya: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6).

Matius juga menceritakan bagaimana hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang mengikuti diri-Nya. Yesus memahami teriakan minta tolong dalam hati orang-orang itu agar disembuhkan dan Ia memiliki bela-rasa bagi mereka, “karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). Dari kedalaman hati-Nya Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:37-38).

Kelihatannya Matius telah memberikan sebuah tempat yang strategis dalam Injilnya untuk cerita tentang penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat ini. Matius menempatkan cerita ini pada bagian akhir dari serangkaian cerita penyembuhan dan tepat sebelum Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka untuk perjalanan misioner mereka yang pertama (Mat 10:1-15). Dalam konteks ini, Matius telah membuat penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat sebagai lambang dari panggilan untuk mewartakan Injil. Dengan diusirnya roh jahat tersebut, maka orang yang kerasukan itu menjadi bebas untuk mewartakan Kabar Baik; artinya dia dapat menjadi salah seorang pekerja yang dikirim untuk tuaian itu (Mat 9: 38).

Dalam artian tertentu, kita sebenarnya seperti orang yang kerasukan itu. Kemampuan kita untuk berkisah tentang Yesus kepada orang-orang lain seringkali terkendala oleh kerja licin-lihai dari si Jahat dan roh-roh jahat pengikutnya melalui rasa takut gagal dlsb. Akan tetapi, Yesus sungguh dapat membebaskan kita dengan sentuhan-Nya yang menyembuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam doa dan mencari hikmat-Nya dalam Kitab Suci. Kita dapat memohon kuasa Roh Kudus agar memampukan kita mewartakan Injil, baik lewat kata-kata yang kita ucapkan maupun teladan hidup kita. Marilah kita berdoa, memohon agar Allah sudi mengirimkan lebih banyak pekerja – orang-orang biasa seperti kita – yang telah mengenal dan mengalami kasihYesus dan memang ingin melayani-Nya. Tuaian memang banyak, dan kita semua diundang untuk ikut menuai!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau membebaskan kami dari cengkeraman si Jahat dan memberikan kepada kami hidup yang baru. Tolonglah kami agar senantiasa setia kepada-Mu. Jadikanlah kami pekerja-pekerja untuk tuaian-Mu, membawa banyak orang ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 10-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA

SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 9 Juli 2018)

Peringatan/Pesta S. Agustinus Zhao Rong, Imam dkk Martir Tiongkok

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Hos 2:13-15,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-9 

Dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan dua mukjizat yang dinarasikan. Ada sesuatu yang sangat serupa antara dua mukjizat tersebut, yaitu berkaitan dengan sentuhan Kristus dan iman akan sentuhan-Nya. Seorang pemimpin sinagoga datang kepada Yesus, menyembah-Nya, dan memohon kepada-Nya: “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat 9:18). Dengan imannya yang sederhana namun mantap, pemimpin sinagoga itu percaya, bahwa apabila Yesus datang ke rumahnya dan menyentuh anaknya, maka dia akan hidup kembali. Dengan iman pemimpin sinagoga itu melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya, karena pada saat Ia sampai dan masuk ke dalam rumah si pemimpin sinagoga Yesus “memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu” (Mat 9:23-25).

Di sisi lain, perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Msat 9:21). Lagi-lagi imannya yang besar itulah yang menyembuhkan penyakitnya. Yesus bersabda kepada perempuan itu: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Inilah tanggapan Yesus  terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya.

Dalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka. Dalam Injil Lukas kita membaca, “Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:18-19; bdk. Mat 4:23-24).

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih kepada-Mu untuk kehadiran-Mu dan sentuhan pribadi-Mu dalam sakramen-sakramen. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “DISELAMATKAN KARENA IMAN” (bacaan tanggal 9-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUASA ILAHI UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA ILAHI UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 5 Juli 2018)

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Sepanjang kehidupan-Nya di depan publik, Yesus terus mencari kesempatan untuk mengajarkan pesan dan misi-Nya kepada umat manusia. Dalam banyak peristiwa,  Yesus menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya atas sakit-penyakit tubuh manusia, artinya penyakit fisik. Namun seringkali secara bersamaan Dia juga menunjukkan kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang bukan fisik, artinya yang menyangkut jiwa dan roh.

Yesus memakai setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia memiliki kuasa ilahi atas dosa. Yesus ingin agar para murid-Nya itu mengetahui bahwa Dia dapat mengampuni dosa-dosa dari diri-Nya sendiri.

Salah satu peristiwa itu tercatat dalam bacaan Injil hari ini. Seorang lumpuh dibawa ke hadapan-Nya. Yesus melihat iman orang itu dan iman mereka yang membawa dia, dan langsung saja Dia berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Mendengar kata-kata Yesus itu, beberapa orang ahli Taurat – dalam hati mereka – menuduh Yesus menghujat Allah (Mat 9:3). Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Mat 9:4-6). Lalu berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6). Yesus menunjukkan kepada orang-orang yang hadir bahwa diri-Nya memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan orang lumpuh itu secara instan, dan bahwa Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Keduanya membutuhkan kuasa ilahi.

Sesungguhnya adalah sesuatu yang menghibur ketika kita mengetahui bahwa Yesus Kristus memiliki kuasa untuk mengampuni dan Ia memberikan kuasa (mendelegasikan wewenang) ini kepada Petrus dan para Rasul-Nya yang lain serta para penerus mereka. Pada hari Minggu Paskah pertama, Yesus menampakkan diri-Nya di tengah-tengah para murid dalam sebuah ruang terkunci, dan Ia berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”, kemudian menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit ini mendatangkan sukacita bagi para murid-Nya (lihat Yoh 20:19-20). Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23). Sejak hari itu, sampai hari ini dan selanjutnya, Gereja mempraktekkan kuasa yang indah ini melalui pelayanan para imam tertahbis dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Sekarang, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat ini? Apakah kita tidak melihat sakramen ini sebagai suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus Kristus menggunakan kuasa-Nya untuk melakukan penyembuhan spiritual?

DOA: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Nya (Mzm 136:1). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMILIKI KUAT-KUASA DAN OTORITAS MUTLAK ATAS SEGALA HAL DI SURGA DAN DI BUMI” (bacaan tanggal 5-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan pada tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juli 2018 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA BAGIAN-BAGIAN DALAM DIRI KITA YANG MEMANG MEMBUTUHKAN PEMBEBASAN

ADA BAGIAN-BAGIAN DALAM DIRI KITA YANG MEMANG MEMBUTUHKAN PEMBEBASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 4 Juli 2018)

OFS: S. Elisabet dari Portugal, Ratu – Ordo III S. Fransiskus

Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Am 5:14-15,21-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:7-13,16-17 

Perjumpaan Yesus dengan dua orang Gadara yang kerasukan roh-roh jahat memang membuat bulu merinding, bukan hanya disebabkan karena peristiwa tenggelamnya babi-babi yang dirasuki roh-roh jahat ke dalam danau, melainkan juga karena kejadian itu membuat terang realitas kerasukan roh-roh jahat. Memang benar bahwa tidak semua godaan datang secara langsung dari Iblis sendiri, namun ada saat-saat – teristimewa di mana kita secara secara khusus sedang berupaya untuk melayani Tuhan – ketika roh-roh jahat pengikut Iblis memainkan peranan aktif dalam menggoda kita supaya tidak taat kepada Allah dan tidak menghormati-Nya.

Santo Ignatius dari Loyola – seorang mantan perwira tentara – menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya sebagai seorang militer untuk menggambarkan kebenaran-kebenaran spiritual. Ignatius mengatakan bahwa Iblis menggunakan rencana yang tersusun rapih dan operasi rahasia, dan dia menyerang ketika kita berada dalam keadaan yang paling rentan. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan tetap berdoa untuk pembebasan dari pengaruh si Jahat. Memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa bagi si Jahat untuk menggoda kita dan mencoba menyesatkan kita dari “kesetiaan kita yang sejati kepada Kristus” (lihat 2Kor 11:3). Kalau kita membiarkan godaan-godaan untuk terus berlangsung, maka hal tersebut akan sedikit demi sedikit menumpuk dan menyebabkan terbukanya jalan masuk ke dalam cara kita berpikir yang membiarkan kita terjebak dalam ketiadaan-pengharapan, kemarahan, rasa takut, sinisme, atau sejumlah besar pola-pola negatif lainnya.

Apakah yang menyebabkan tersedianya berbagai jalan masuk sedemikian? Sebagian dari penyebab-penyebab yang paling biasa adalah mentoleransi godaan dalam hidup kita, dosa masa lampau yang belum kita sesali dan bertobat atasnya dan pola-pola dosa yang bersifat kebiasaan, …… pembiaran-pembiaran. Dengan kata lain, bilamana kita memperkenankan (membiarkan) kegelapan masuk ke dalam hati kita, maka sebenarnya kita memberikan suatu kesempatan kepada Iblis untuk mendirikan tempat berpijak dalam diri kita.

Apabila kita mau menyelidiki dengan saksama serta mendalam, kita akan dapat melihat area-area dalam diri kita yang membutuhkan pembebasan. Ini adalah konsekuensi alamiah dari kehidupan dalam sebuah dunia yang gelap, di samping membawa juga berbagai efek dari kodrat manusia kita yang cenderung untuk berdosa. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus senantiasa siap untuk melindungi dan membebaskan kita. Yesus tidak pernah ingin meninggalkan/membiarkan kita sebagai bulan-bulanan tipu daya Iblis. Sebagaimana Dia membebaskan dua orang Gadara dengan satu perintah “Pergilah!”, Yesus ingin membawa kita kepada kebebasan dan kemerdekaan dalam artian sesungguhnya. Yang diminta oleh Yesus – seperti halnya dengan dua orang Gadara itu, adalah supaya kita mengabaikan penolakan-penolakan dari sisi kodrat kita yang lebih gelap, dan kemudian membawa diri kita ke hadapan hadirat-Nya. Hanya dengan begitu penyembuhan dan pembebasan akan sungguh terwujud dalam diri kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku mohon kepada-Mu supaya Engkau membebaskan diriku. Dalam iman dan kerendahan hati aku datang menghadap hadirat-Mu yang kudus, di mana kejahatan tidak dapat berdiam, dan aku membawa segala kegelapan dalam diriku ke dalam terang-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk menaruh kepercayaan pada sabda-Mu untuk membebaskan aku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “KEKALAHAN IBLIS SUDAH DINUBUATKAN SEJAK AWAL MULA” (bacaan tanggal 4-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 1 Juli 2018 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA KASUS YANG TANPA HARAPAN DALAM KEHADIRAN TUHAN YESUS KRISTUS

TIDAK ADA KASUS YANG TANPA HARAPAN DALAM KEHADIRAN TUHAN YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [TAHUN B] – 1 Juli 2018)

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbodong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahan-Nya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata,”Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobuts dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengethui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Keb 1:13-15;2:23-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Kedua: 2Kor 8:7,9,13-15 

Dalam bacaan Injil yang cukup panjang ini Markus menulis sebuah cerita dalam cerita, layaknya roti “sandwich” seperti yang dilakukannya dalam Mrk 11:12-25. Mukjizat-mukjizat dalam cerita anak perempuan dari Yairus dan perempuan yang menderita sakit pendarahan sangat cocok secara bersama, menjadi “joint account” yang menarik.

Dalam kedua kasus itu kita berhadapan dengan situasi-situasi yang kelihatannya agak tanpa harapan, namun iman kepada Yesus adalah jawabannya: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mrk 5:34). Iman perempuan itulah yang telah menyembuhkannya dan yang dibutuhkan adalah rasa percaya (trust).

Kita juga melihat dalam dua cerita ini bahwa tidak ada tempat bagi rasa takut dalam kehadiran Yesus. Ketika perempuan yang disembuhkan itu menyadari bahwa ulahnya ketahuan, ia menjadi takut, namun Yesus mengatakan, “Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu” (Mrk 5:34). Lalu, ketika laporan mengenai kematian anak perempuan Yairus menyebabkan ketakutan yang melumpuhkan dan ketiadaan harapan, Yesus berkata, “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36). Artinya, rasa takut itu tidak ada gunanya.

Yesus menunjukkan kepada kita  kuasa-Nya yang besar untuk menyembuhkan. Kuasa itu mengalir ke luar dari diri-Nya. Ada kuasa penyembuhan dalam sentuhan-Nya. Dia mengajar kita sesuatu tentang sentuhan insani dan juga tentang sentuhan ilahi-Nya. Dia menginginkan kita untuk menyentuh. Bilamana kita menyentuh, maka kita pun tidak takut untuk terlibat. Ada suatu daya penyembuhaan tertentu dalam sentuhan manusia. Sebelum kita menghargai anugerah Allah itu, maka kita tidak akan menerima anugerah penyembuhan sentuhan ilahi.

Tuhan membuat jelas bahwa tidak ada kasus yang tanpa harapan dalam kehadiran-Nya. Apakah kita sungguh percaya akan hal ini? Bilamana situasi-situasi tanpa harapan muncul dalam kehidupan kita, dalam keluarga-keluarga kita, apakah kita datang kepada-Nya dengan penuh iman dan rasa percaya? Atau, apakah reaksi kita yang pertama adalah rasa takut, rasa putus-asa bahwa tidak ada apa pun yang dilakukan? Lalu kita mencoba segala kemungkinan, namun sekadar berdasarkan pemikiran dunia dan manusia.

Apakah ekspektasi Yesus? Ia menginginkan agar kita melakukan yang terbaik. Ia ingin agar kita menggunakan segala sarana manusiawi yang kita miliki, semua anugerah normal dan talenta yang telah diberikan-Nya kepada kita. Namun semua ini harus tanpa rasa takut, karena Dia hadir; dengan iman, karena Dia memperhatikan kita.

DOA: Tuhan Yesus, mengapa kami begitu lemah dalam iman, penuh dengan ketakutan? Tunjukkanlah kepada kami bahwa kami tidak perlu merasa takut, melainkan menyerahkan diri saja kepada sentuhan penyembuhan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan dengan judul “KUASA ATAS MAUT” (bacaan untuk tanggal 1-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 28 Juni 2018 [Peringataan S. Ireneus, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS