Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan objek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com;  17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 16 Januari 2017 [Peringatan para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 12 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dari Cordeone, Biarawan Kapusin

006-lumo-man-leprosy

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak “membocorkan info” sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injilnya, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

007-lumo-man-leprosyDalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang “enggan” menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan “keengganan” Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang menyatakan/mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salibnya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar “maksud baik” manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran roh-roh jahat dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk “memperbaiki” rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, demi membebaskan kita.

008-lumo-man-leprosyMarilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan “seenaknya” mengambil dan memilih yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat (namun tanpa memaksa-maksa Tuhan), seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA” (bacaan  tanggal 12-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26) 

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai Saudara, dosa-dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Luk 5:24).

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manReaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “benar”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Rekonsiliasi.”

Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan berjudul “MENJADI WAHA/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN” (bacaan untuk tanggal 5-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 2 Desember 2016) 

OSCCap: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris-Kapucines

11dosciegos
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”  Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)
 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Di bagian lain dari Injil Matius dikisahkan bagaimana beberapa orang murid Yohanes Pembaptis datang menemui Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat11:5). Itulah jawaban Yesus mengenai identitas-Nya. Mukjizat pencelikan mata  dua orang buta yang diceritakan dalam bacaan Injil kali ini merupakan satu dari serangkaian tanda yang mengarah kepada identitas Yesus sebagai Mesias.

Dua orang buta mendekat kepada Yesus dengan sebuah permintaan sederhana, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman mereka mengenali Yesus sebagai bukan sekadar seorang rabi biasa, namun sebagai Mesias – seorang pewaris takhta Daud – Dia Yang Diurapi –  yang telah datang untuk menggenapi janji Allah kepada umat-Nya. Memang “Anak Daud” adalah sebuah gelar mesianis! “Anak Daud” sama artinya dengan “Dia yang akan datang, Dia yang dijanjikan para nabi”. Kebutaan fisik kedua orang itu tidak memampukan mereka untuk melihat Yesus, namun mereka percaya kepada-Nya. Mereka berseru-seru kepada Yesus karena mereka tahu Yesus dapat menganugerahkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat ditolak – kesembuhan dan suatu hidup baru.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus masih bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Yesus menanyakan apakah kedua orang buta itu memiliki iman, karena Dia ingin memurnikan iman mereka. Dia membimbing mereka bergerak dari posisi “memikirkan diri sendiri” ke posisi “memusatkan pikiran pada pribadi Yesus”. Mukjizat yang akan dilakukan-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis dan magic, melainkan membutuhkan iman. “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28),  itulah jawaban mereka. Sebagai tanggapan terhadap iman mereka, Yesus menunjukkan kepada mereka  kedalaman cinta kasih Allah. Tidak saja Yesus menyembuhkan kebutaan fisik kedua orang itu, Dia juga memulihkan kebutaan spiritual mereka.  Dua orang buta itu menghargai apa yang telah dilakukan Yesus atas diri mereka. Dari bacaan Injil ini pun kita percaya bahwa dua orang buta yang disembuhkan itu, dengan dua mata yang terbuka lebar mengenali siapa Yesus sebenarnya, kemudian merangkul Dia sebagai Juruselamat mereka. Meskipun dengan tegas dilarang oleh Yesus, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu ( Mat 9:31).

Nah, Yesus ingin sekali agar kita semua mendekat kepada-Nya dengan penuh kepercayaan seperti ditunjukkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan-Nya itu, yaitu mohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Apa yang dapat menahan atau menghalangi kita? Mungkin rasa masa bodoh, atau mungkin ketidak-percayaan kita, atau mungkin juga rasa tidak berarti. Ingatlah pesan Santo Paulus, bahwa tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan maut sekali pun (Rm 8:31-39). Memang terkadang kita merasa tidak mempunyai cukup iman kepada Yesus yang mau menjawab seruan kita kepada-Nya.

Kita sering  kali merasa hampir putus-asa ketika berdoa kepada-Nya. Seakan-akan Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa kita! Dalam situasi seperti ini, ingatlah akan sebuah kenyataan: Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita lebih daripada kita sendiri. Dia pun selalu siap memberikan rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi firman-Nya dengan penuh rasa percaya dan ketaatan. Dia mau memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita mohonkan atau bayangkan.

Mata kita dibuka pada waktu kita dibaptis. Pada waktu itulah kepada kita diberikan “penglihatan” khusus yang dinamakan iman. Dengan mata iman, kita perlu mengamati dengan seksama segala hal yang dilakukan Yesus bagi diri kita. Melalui baptisan kita pun dibersihkan dari kekustaan dosa. Kita tidak lagi tuli terhadap Kabar Baik yang diberitakan kepada kita, artinya kita mampu mendengar sabda Allah. Kita telah dibangkitkan dari kematian dosa dan diberikan hidup baru dalam Kristus. Kita berjalan dengan gagah dalam terang Kristus. Apakah kita harus mencari pribadi lain selain Yesus? Tentu saja tidak! Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Semoga dalam masa Adven ini kita dapat semakin dekat lagi dengan Yesus, berpengharapan teguh bahwa Dia akan memenuhi semua janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur bahwa Engkau mendengarkan doa sederhana yang dipanjatkan dari hati yang tulus. Kami juga sangat terkesan atas kenyataan bahwa Engkau menghargai kebebasan pribadi kedua orang buta itu sebagai anak manusia: Engkau membangkitkan dan meningkatkan pengharapan, hasrat dan iman mereka, namun Engkau tidak memaksa… ; dan mukjizat pun terjadi menurut iman mereka. Tuhan, tingkatkanlah iman dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31],  bacalah  tulisan yang berjudul “PERCAYA DAN MELIHAT” (bacaan tanggal 2-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12  PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 30 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN YANG LUAR BIASA

IMAN YANG LUAR BIASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Senin, 28 November 2016)

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dari Marka, Imam 

centurion-looking-rightKetika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9

Memang luarbiasa besar iman yang dimiliki oleh si perwira itu. Rasa percayanya kepada Yesus begitu kuat sehingga Yesus sampai memproklamirkan kepada orang-orang yang di situ: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Marilah kita membayangkan bagaimana orang ini menanti dengan penuh hasrat saat di mana dia dapat mendekati Yesus dan mengajukan permohonannya. Ingatlah bahwa perwira dengan pangkat centurion (sekarang: komandan kompi) ini tentulah bukan seorang Yahudi. Oleh rahmat Allah, kita juga telah menerima karunia iman. Kita pun dapat melakukan pendekatan kepada Yesus dengan pengharapan yang sama seperti yang dimiliki si perwira pasukan Romawi itu. Sekarang tergantung kepada kita untuk memutuskan apakah kita akan mempraktekkan iman ini. 

Percayakah anda bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah? Otoritas-Nya mencakup dunia dari kekal sampai kekal. Ketika Dia berjalan di antara kita manusia, Yesus mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang yang menderita segala macam sakit-penyakit dan Ia juga mengampuni para pendosa. Sekarang Ia sudah ditinggikan ke sebelah kanan Allah Bapa, Dia siap untuk bertindak dengan kuat-kuasa yang sama, pada hari ini. Benarlah bahwa Yesus telah naik ke surga, namun Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – Allah sendiri yang berdiam dalam diri kita masing-masing dan dalam dunia. 

YESUS DAN CENTURION - 3Manakala anda berdoa, apakah – seperti si perwira Romawi – anda melakukan terobosan di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang mempunyai iman yang kecil, lalu menempatkan kebutuhan-kebutuhan anda langsung di hadapan Yesus? Pertimbangkanlah rasa percaya (trust) dan iman si perwira: dalam upayanya agar kebutuhannya diketahui oleh Yesus, tidak ada yang dapat menghalanginya. Sekarang lihat hasilnya: Si perwira melihat dengan matanya sendiri bahwa tidak ada apa dan siapa pun di atas muka bumi ini yang dapat menyaingi kuat-kuasa dan kasih Kristus. Hambanya yang tadinya lumpuh dan kemudian menjadi sembuh tentunya adalah seorang saksi hidup atas kuasa penyembuhan yang mahadahsyat dari Allah. Seperti Bunda Maria, dia pun kiranya dapat melambungkan kidungnya: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49). 

Bacaan Injil hari ini yang menunjukkan kuasa penyembuhan ilahi dilanjutkan dengan cerita tentang penyembuhan ibu mertua Petrus yang sakit demam, kemudian disusul oleh karya Yesus mengusir roh jahat yang telah merasuki banyak orang. Mereka pun dibebaskan dari pengaruh roh jahat, demikian pula banyak orang sakit yang disembuhkannya semua (lihat Mat 8:14-17). Iblis memang akan senang sekali kalau kita merasa ragu apakah Allah masih ingin bekerja dengan cara ini di dunia. Dalam hal ini baiklah kita yakini bahwa Allah masih sama kuat-kuasa penyembuhan-Nya dan belas kasihan-Nya sekarang seperti 2.000 tahun lalu. Memang susah bagi kita untuk mengerti bagaimana Allah berniat untuk bekerja dalam dan lewat diri kita. Yang kita butuhkan adalah menaruh kepercayaan atas kebaikan-Nya dan mempraktekkan iman yang telah diberikan-Nya kepada kita. Marilah sekarang kita berdoa agar Allah memanifestasikan kasih-Nya dalam sebuah dunia yang begitu membutuhkan-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, kami tak pantas datang ke hadapan-Mu, namun Engkau menerima kami dengan tangan terbuka. Dalam kehidupan semua orang yang paling membutuhkan Engkau, ya Tuhan, sebutkanlah sepatah kata saja, dan biarlah terjadi pada kami semua menurut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 8:5-11],  bacalah  tulisan yang berjudul “IMAN YANG RENDAH HATI” (bacaan tanggal 28-11-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 25 November 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISEMBUHKAN OLEH YESUS

SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO DISEMBUHKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa XXXIII – Senin, 14 November 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir-martir. 

Healing_the_Blind008Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43) 

Bacaan Pertama: Why 1:1-4; 2:1-5a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Lukas menempatkan cerita tentang mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap seorang pengemis buta, di tengah-tengah diskusi panjang mengenai pemuridan/kemuridan Kristiani dan jalan Kristiani. Apa yang dapat kita pelajari dari Yesus dalam peristiwa ini? Satu hal yang tidak boleh luput dari pengamatan kita: cintakasih Yesus kepada orang-orang kurang/tidak beruntung dalam masyarakat, mereka yang menderita sakit-penyakit dan lain-lain. Bahkan the poorest of the poor pada zaman Yesus – mereka yang mungkin telah ditimpa kemiskinan dan rupa-rupa kemalangan secara habis-habisan, merasa yakin bahwa mereka dapat datang kepada Yesus untuk mohon pertolongan-Nya. Mereka sangat percaya bahwa apabila mereka datang kepada-Nya dan dijamah oleh-Nya, maka mereka dapat disembuhkan.

Yesus menaruh belas kasih terhadap semua orang, keprihatinan-Nya tidaklah terbatas pada situasi-situasi sulit yang dihadapi oleh orang-orang tertentu saja. Beberapa saat sebelum orang buta itu disembuhkan, orang itu berseru “Anak Daud, kasihanilah aku!”, dan orang-orang yang berjalan di depan menegur dia supaya diam. Namun Yesus berhenti dan menyuruh orang-orang itu membawa orang buta itu kepada-Nya. Teguran mereka mungkin saja disebabkan rasa marah, malu atau alasan lain, karena yang berseru (catatan: berteriak-teriak) itu adalah seorang pengemis buta … “Wong Cilik”. Sebenarnya apakah yang mau diingatkan oleh Lukas dalam hal ini? Sebuah pesan bagi para pemimpin Gereja untuk jangan sampai mengabaikan kebutuhan-kebutuhan orang-orang miskin dan kurang beruntung. Ini adalah sebuah pesan penting, bahkan sampai hari ini, tidak hanya bagi para pemimpin Gereja tetapi juga bagi semua orang Kristiani.

Peristiwa ini juga menunjukkan pertumbuhan iman dan pemahaman si pengemis buta itu akan Yesus. Mula-mula dia memanggil Yesus sebagai “Anak Daud” (Luk 18:38), sebuah gelar mesianis yang mengandung makna bahwa Yesus diutus oleh Allah guna mewujudkan Kerajaan-Nya. Kemudian dia menyapa Yesus sebagai Tuhan (Luk 18:41; Inggris: Lord; Yunani: Kyrios). Kyrios diakui Gereja Perdana sebagai sebuah gelar Kristologis, yang mengkontraskan Allah yang satu dan Tuhan, dengan banyak ilah dan tuhan di dunia Yunani. Iman si pengemis buta menyembuhkan dia dari kebutaannya, dan akhirnya membuat dia mengikuti Yesus dalam perjalanannya ke Yerusalem. Dalam hal ini ada pelajaran bagi kita semua: Pemahaman kita akan Yesus harus selalu bertumbuh dan semakin mendalam. Adalah iman kita yang memperkenankan Allah bekerja dalam hidup kita, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman kita tentang siapa Yesus itu.

DOA: Tuhan Yesus, seperti si pengemis buta di pinggir dekat Yerikho, aku menyadari bahwa diriku juga membutuhkan pencurahan belas kasih-Mu. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku juga buta dan mohon kepada-Mu agar menyembuhkan “kebutaan” hatiku sehingga dengan demikian aku mampu melihat dan mengenal kebenaran yang sejati, yaitu Engkau sendiri yang adalah “Kebenaran, Jalan dan Hidup”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUHAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO” (bacaan tanggal 14-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 10 November 2016 [Peringatan S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS