Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

ORANG ITU MENCERITAKAN KEPADA PARA PEMUKA YAHUDI BAHWA YESUSLAH YANG TELAH MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 28 Maret 2017) 

Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-3a,5-16) 

Catatan: Dalam bacaan ini, ayat Yoh 3b-4 dimasukkan juga) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9 

Bayangkan sudah sudah hampir 4 (empat) dasawarsa lamanya orang ini menderita sakit lumpuh. Dan menurut ceritanya sendiri kepada Yesus, di Betesta (Bethzatha) itu jelas kelihatan tidak ada yang membantunya untuk turun ke kolam pada saat yang penting untuk penyembuhan dirinya. Ia memiliki hasrat yang besar untuk disembuhkan, namun tidak pernah masuk ke kolam itu. Sungguh merupakan suatu situasi yang penuh tekanan baginya, namun ia tidak pernah kehilangan pengharapan.

Kitab Suci mengatakan, “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?” (Rm 10:13-14). Orang lumpuh di Betesda tidak akan dapat disembuhkan kalau tidak ada orang yang menolongnya. Demikian pula orang lumpuh di Kapernaum tidak akan mengalami penyembuhan kalau tidak ada 4 (empat) orang yang dalam iman mau bersusah-payah menggotongnya lewat atap rumah untuk sampai kepada Yesus (lihat Mrk 2:1-12). Nah, demikian pula tidak akan ada orang yang mengenal Yesus kalau tidak ada murid Yesus yang sharing Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus kepada orang itu.

Memang pertobatan adalah karya Allah, namun tergantung pada kita untuk membawa orang-orang lain kepada Yesus – sang Pemberi  air hidup – (lihat Yoh 4:1 dsj.) sehingga mereka dapat mengalami karunia pertobatan. Kesaksian kita bersifat dua lapis: suatu kesaksian hidup dan kesaksian  kata-kata. Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata: “Jadilah Yesus, bagikanlah Yesus.” Santo Fransiskus dari Assisi juga berkata: “Beritakanlah Injil setiap saat. Gunakan kata-kata kalau diperlukan.” Hal ini berarti bahwa dalam penghayatan sehari-hari hidup Kristus dalam diri kita-lah, maka kita menjadi saksi-saksi bagi orang-orang di sekeliling kita.

Yesus bersabda: “Kamu adalah garam dunia. …… Kamu adalah terang dunia. …” (Mat 5:13-14), namun semuanya tentulah dalam takaran yang pas dan pada waktu yang pas pula. Garam yang terlalu sedikit membuat orang menjadi haus, tetapi kebanyakan garam akan membuat orang jatuh sakit. Terang yang pas akan membawa kehangatan, namun terang yang berkelebihan malah dapat membakar dan membutakan mata. Demikian pula halnya dengan evangelisasi. Evangelisasi dimaksudkan untuk mewartakan kebenaran dengan cara yang menarik dan memikat, bebas dari tekanan atau superioritas moral. Seorang pewarta harus membuang jauh-jauh kesombongan rohani dari dirinya. Dalam evangelisasi ini kita mengundang orang-orang untuk berbagi pengalaman kita sendiri yang dibersihkan dan disegarkan kembali oleh Allah. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal ini adalah menjaga diri kita agar tetap “tenggelam” dalam air rahmat-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Kemudian kita pun dapat mengatakan kepada orang-orang lain: “Masuklah ke dalam air ini juga, air ini terasa nyaman”.

DOA: Tuhan Yesus, bawalah setiap orang ke dalam sungai kehidupan-Mu, teristimewa mereka yang haus cintakasih, lapar akan kebenaran, dan yang dilumpuhkan oleh ketidakpercayaan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jadikanlah kami semua saksi-saksi yang berbuah, dalam hidup dan kata-kata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “KE MANA SAJA SUNGAI ITU MENGALIR, SEMUANYA DI SANA HIDUP” (bacaan tanggal 29-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 26 Maret 2017 [HARI MINGGU PRAPASKAH IV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP!

YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP !

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah Senin, 27 Maret 2017) 

Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yanag dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13 

Tempatkanlah diri kita masing-masing sekarang sebagai sang pegawai istana dari Kapernaum itu – seorang ayah yang anak laki-lakinya sudah berada di ambang kematian. Dalam keadaan hampir berputus-asa, dia mencari pembuat mukjizat dari Nazaret yang telah begitu sering didengarnya dari cerita orang-orang. Barangkali Yesus mau menyembuhkan anaknya juga, pikirnya. Untunglah dia bukan seseorang yang suka “ja-im”. Maka, tanpa mempertimbangkan status sosialnya yang biasanya menyebabkan dia diperlakukan secara istimewa, pegawai istana itu menghampiri Yesus dengan rendah hati, seperti orang lainnya yang penuh kebingungan dan hampir berputus asa.

Untuk sesaat, Yesus kelihatannya menguji ketetapan hati sang pegawai istani (lihat Yoh 4:48), namun orang itu bersiteguh dan memohon dengan sangat agar Yesus sudi mengunjungi rumahnya. Lalu terjadilah sesuatu yang sangat penting. Yesus berjanji bahwa si anak akan disembuhkan: “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50). Sang pegawai istana percaya kepada perkataan Yesus, lalu pergi (lihat Yoh 45:50). Tidak lagi diperlukan kunjungan ke rumahnya, tidak diperlukan lagi jaminan lebih lanjut. Yesus telah bersabda!

Inilah iman! Seperti para pendahulu kita di zaman dahulu yang berkenan kepada Allah dan dipuji dalam “Surat kepada Orang Ibrani”, sang pegawai istana memiliki “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1-2). Iman sejati seperti ini aktif dan berpengharapan, bukan berdasarkan asumsi buta bahwa bagaimana pun segalanya akan menjadi baik tanpa pertolongan Allah.

Dalam doa-doa hari ini, marilah kita masing-masing menyediakan waktu yang cukup untuk berbicara dengan Allah secara jujur tentang iman kita sendiri. Dia ingin mengajar kita bagaimana mempercayai kasih-Nya dan untuk percaya bahwa setiap hari, dalam setiap situasi, Dia selalu bersama kita. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Di manakah imanku? Percayakah aku bahwa Yesus adalah sebaik seperti Dia secara konsisten menunjukkan diri-Nya?

Di suatu saat kelak, ketika kita perlu membuat langkah dalam iman, marilah kita percaya sungguh-sungguh kepada sabda-Nya. Marilah kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan sebagaimana telah dicontohkan oleh sang pegawai istana. Marilah kita percaya 100% akan janji-janji Yesus kepada kita, lalu kita nantikan mukjizat-mukjizat yang akan terjadi atas diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ada area-area dalam kehidupanku yang kusembunyikan dari-Mu karena ketidakpercayaanku. Aku mengundang Engkau untuk memasuki area-area itu sekarang. Berikanlah kepadaku iman seperti yang dimiliki sang pegawai istana di Kapernaum dahulu, yang memohon dengan sangat suatu kesembuhan dan kemudian percaya kesembuhan telah terjadi pada waktu Engkau mengatkannya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54), bacalah tulisan yang berjudul “BUKALAH MATA, TELINGA, DAN HATI KITA” (bacaan tanggal 27-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU PERCAYA, TUHAN!

AKU PERCAYA, TUHAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV [TAHUN A], 26 Maret 2017) 

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan membuat lumpur dengan ludah itu, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya, Yang diutus.” Orang itu pun pergi membasuh dirinya lalu kembali dan dapat melihat lagi.

Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, “Bukankah dia ini, yang selalu duduk dan mengemis?” Ada yang berkata, “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata, “Bukan, tetapi ia serupa dengan orang itu.” Ia sendiri berkata, “Benar, akulah dia.” Lalu kata mereka kepadanya, “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya, “Orang yang disebut Yesus itu membuat lumpur, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.” Lalu mereka berkata kepadanya, “Di manakah Dia?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus membuat lumpur dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi bertanya lagi kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya, “Ia mengoleskan lumpur pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” Lalu kata sebagian orang-orang Farisi itu, “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Tetapi yang lain berkata, “Bagaimana seorang berdosa dapat membuat tanda mukjizat yang demikian?” Lalu timbullah pertentangan di antara mereka. Kata mereka lagi kepada orang buta itu, “Dan engkau, apa katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya, “Ia seorang nabi.” (Yoh 9:1-17; lengkap: Yoh 9:1-41) 

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1b,6-7,10-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 5:8-14 

Apabila anda masih bertanya-tanya apakah yang diajarkan oleh Gereja tentang pertobatan, maka yang perlu anda lakukan adalah membaca bacaan Injil dalam Misa Hari Minggu selama masa Prapaskah tahun ini. Sepanjang masa Prapaskah, kepada kita disajikan kebenaran bahwa pertobatan berpusat atas suatu perjumpaan dengan Yesus yang menggerakkan kita untuk untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya.

Dua hari Minggu pertama menceritakan tentang godaan Iblis atas diri Yesus dan transfigurasi-Nya, kedua hal mana memberikan kepada kita keseluruhan pesan Injil secara miniatur. Kita melihat Yesus sebagai Dia yang mengambil semua dosa kita dan memikul semua dosa itu sendiri; juga membimbing kita ke dalam ciptaan baru oleh kebangkitan-Nya.

Kemudian, tiga hari Minggu setelah itu secara berturut-turut masing-masing menggambarkan suatu dimensi yang berbeda tentang apa yang akan terjadi bilamana kita menerima Yesus ke dalam hati kita. Fokus bacaan Injil Minggu lalu memusatkan perhatian pada keputusan seorang perempuan Samaria untuk berbalik dari kedosaan lalu menerima Yesus sebagai sang Pemberi air hidup. Berbagai upaya sebelumnya dari perempuan itu untuk menemukan kasih telah gagal, dan ia melihat bahwa hanya Yesus-lah yang dapat memberikan kepadanya apa yang didamba-dambakan olehnya selama itu.

Bacaan Injil hari Minggu ini adalah sebuah cerita tentang seorang buta sejak lahirnya. Cerita ini mengajarkan kepada kita betapa vitalnya bagi kita datang dan melihat Yesus dalam suatu terang yang baru secara menyeluruh dan mengakui Dia sebagai Tuhan. Diberikan penglihatan secara fisik dari kebutaannya hanyalah suatu awal dari perjalanan si buta. Hatinya harus dibangkitkan juga, demikian pula seharusnya dengan hati kita. Inilah pertanyaan yang kita hadapi hari ini: Apakah aku sungguh mengenal Yesus dalam hatiku? Apakah aku memperkenankan Roh Kudus menunjukkan kepadaku lebih lagi siapa Yesus itu? Dalam Misa Kudus hari ini marilah kita memohon agar diberikan perwahyuan sehubungan dengan pertanyaan di atas. Marilah kita mengatakan kepada Bapa surgawi dalam doa kita bahwa kita ingin menggemakan kata-kata orang buta dalam bacaan Injil hari ini, “Aku percaya, Tuhan!” (Yoh 9:38).

Bacaan Injil Minggu depan (Pekan V Prapaskah) adalah tentang “Lazarus dibangkitkan”. Bacaan Injil itu akan fokus pada janji Yesus bahwa setiap orang yang hidup  dan yang percaya kepada-Nya ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang hidup dan yang percaya kepada-Nya tidak akan mati selama-lamanya (lihat Yoh 11:26); juga akan fokus pada kepercayaan Marta yang mulai mantap bahwa Yesus adalah Putera Allah: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27). Semoga kita semua menggemakan pengakuan iman Marta itu dan mengenal hidup baru yang datang melalui pertobatan!

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah diriku agar dapat melangkah ke luar dari bayang-bayang kegelapan dan masuk ke dalam terang-Mu pada hari ini. Pancarkanlah kemuliaan-Mu ke dalam hatiku sehingga dengan demikian aku dapat menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 9:1-17 atau Yoh 9:1-41), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG BUTA SEJAK LAHIRNYA” (bacaan tanggal 26-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.

Cilandak, 24 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 20 Februari 2017) 

stdas0568-christ-heals-epileptic-boyKetika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 20-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  17 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KELOMPOK TIGA

KELOMPOK TIGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Sabtu, 18 Februari 2017)- 

transfigurasi-12Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. Lalu mereka bertanya kepada-Nya, “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihina? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.” (Mrk 9:2-13) 

Bacaan Pertama:  Ibr 11:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11 

Yesus mengatakan kepada tiga orang murid-Nya agar tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat di atas gunung, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Mrk 9:9). Sekarang Yesus telah bangkit, maka kita tentunya dapat berbicara tentang hal itu secara bebas. Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan membawa serta tiga orang murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Di sana mereka menyaksikan Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Tiga orang rasul/murid tersebut terkejut penuh rasa takjub dan mereka sujud menyembah. Apakah sebenarnya makna dari semua ini?

Yesus sering naik ke atas sebuah bukit/gunung untuk berdoa. Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa (Mrk 6:46). Semalam sebelum Ia memberikan janji besar tentang Roti Kehidupan kepada orang banyak, Yesus berada di atas bukit seorang diri (Yoh 6:15). Untuk apa “sorangan wae”? Tentunya untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Orang banyak dengan paksa mau menjadikan-Nya seorang raja dunia; dan Yesus tahu bahwa misi-Nya di dunia bukanlah untuk itu. Matius menulis: “Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ” (Mat 14:23).

Seringkali dalam cerita-cerita yang tercatat dalam Kitab Suci, naik ke atas bukit/gunung sendirian berarti masuk ke dalam persekutuan yang erat dan intim dengan Allah. Di atas gunung seseorang menjauhi kebisingan dan hiruk-pikuk serta distraksi, dan di atas bukit itulah kita dapat mengalami suatu perasaan istimewa adanya kedekatan dengan Allah.

Musa naik ke atas gunung untuk berdoa dan belajar tentang Kehendak Allah. Dalam Kel 24:17 kita membaca: “Tampaknya kemuliaan TUHAN (YHWH) sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel.” Namun Musa masuk ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya (lihat Kel 24:18). Hal ini tentunya mengingatkan kita kepada Yesus yang sendirian berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam di padang gurun (lihat misalnya dalam Mat 4:1-11; bdk. Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Ketika Ratu Izebel (istri Raja Ahab) – lewat seorang suruhannya – mengancam untuk membunuh nabi Elia dalam waktu dua puluh empat jam, maka karena takut Elia pun melarikan diri ke padang gurun (lihat 1Raj 19:1-4). Karena rasa lapar dan haus, Elia tidak dapat meneruskan perjalanannya, namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk membawa roti dan minuman agar dapat melanjutkan perjalanannya ke Gunung Horeb, di mana Allah berbicara kepadanya dan mengatakan apa yang harus dilakukan olehnya (bacalah keseluruhan cerita yang menarik: 1Raj 19:1-18).

“Kelompok 3” ini – Yesus, Musa dan Elia – penuh dengan makna. Itulah sebabnya mengapa Yesus ingin agar tiga orang murid-Nya yang istimewa ini (lingkaran pertama) untuk berada di atas gunung bersama dengan-Nya. Sah-sah saja apabila kita bertanya: Apa sih yang sebenarnya terjadi di atas gunung itu? Sebuah pertemuan/persekutuan doa yang luarbiasa! Sebuah kelompok datang bersama untuk berdoa, untuk bercakap-cakap dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Dalam doa kita datang untuk berbicara dengan Yesus, dengan Bapa surgawi, dengan Roh Kudus, juga bersama dengan para malaikat-Nya, Musa, Elia, para rasul, dan para kudus lainnya. Yesus bersabda: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau juga senantiasa mengundang kami ke dalam suatu persekutuan doa yang sangat luarbiasa, yaitu Perayaan Ekaristi. Dalam puncak perayaan iman itu kami Engkau undang untuk menyaksikan lagi penghadiran kembali wafat-Mu pada kayu salib di bukit Kalvari dan diberi tubuh-Mu sendiri sebagai makanan rohani bagi kami. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-13) bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TRANSFIGURASI:  KITA SEMUA DAPAT MENYAKSIKAN KEMULIAAN YESUS” (bacaan tanggal 18-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02  PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2015) 

Cilandak, 16 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 15 Februari 2017) 

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-25

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-26

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Kej 8:6-13,20-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-15,18-19 

Sampai hari ini kebutaan masih merupakan salah satu “kutukan” besar di banyak negara di dunia. Kebutaan ini sebagian disebabkan oleh “ophthalia” dan sebagian oleh sinar matahari yang tidak mengenal kasihan. Hal ini diperburuk oleh kenyataan bahwa banyak rakyat kebanyakan tidak mengetahui apa-apa soal kesehatan dan kebersihan, terutama karena kemiskinan yang melanda.

Hanya Markus yang menulis cerita penyembuhan orang buta ini, hal mana dapat menyebabkan kita merasa bahwa bacaan ini tidak/kurang penting. Karena hanya ada dalam Injil ini, maka kita harus lebih terangsang untuk mendalami bacaan tersebut.

Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam bacaan Injil ini: Pertama-tama kita melihat bagaimana pertimbangan-pertimbangan Yesus senantiasa bersifat unik. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa (Mrk 8:23). Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat berdua saja dengan orang buta itu. Mengapa? Coba pikirkan. Orang itu buta dan kelihatannya dia buta sejak lahir. Apabila kepadanya diberikan penglihatan secara instan di tengah-tengah orang banyak, maka matanya yang baru saja melihat akan melihat banyak sekali orang dan hal-hal lainnya yang berwarna-warni. Ini sungguh akan mengagetkan orang bersangkutan. Yesus mengetahui bahwa jauh lebih baiklah bagi Diri-Nya untuk membawa orang buta ke sebuah tempat di mana mata yang baru dapat melihat itu tidak secara mendadak melihat banyak hal.

Setiap dokter dan guru yang hebat memiliki ciri pribadi yang sungguh luarbiasa. Dokter yang hebat mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati pasiennya; dia memahami ketakutan-ketakutan yang melanda si pasien, juga harapan-harapannya. Dokter ini bersimpati, berempati dan menderita bersama si pasien. Guru yang hebat juga mampu masuk ke dalam pikiran dan hati muridnya. Guru itu melihat persoalan-persoalan muridnya, kesulitan-kesulitannya, berbagai penghalang yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa Yesus itu adalah sungguh seorang Dokter dan Guru yang sangat hebat. Yesus mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang ingin ditolong-Nya. Yesus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan dengan sangat baik, karena Dia dapat berpikir dengan pikiran mereka dan merasakan sesuatu seperti mereka merasakannya. Allah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia seperti yang dimiliki Yesus ini.

Kedua, Yesus menggunakan metode-metode yang dapat dimengerti oleh orang-orang. Dunia kuno percaya akan kuat-kuasa untuk menyembuhkan dari air liur/ludah. Kepercayaan seperti itu tidak begitu aneh jika kita mengingat naluri pertama kita adalah memasukkan jari kita yang terluka (karena teriris pisau atau terbakar) ke dalam mulut kita agar meringankan rasa sakit kita. Tentu saja si buta mengetahui hal ini, dan Yesus menggunakan suatu metode penyembuhan yang dikenal olehnya. Yesus memiliki hikmat ilahi. Dia tidak memulai proses penyembuhan dengan kata-kata dan dan metode-metode yang jauh melampaui pengertian orang-orang kecil bersahaja. Yesus berbicara kepada mereka dan melakukan tindakan atas diri mereka dengan menggunakan cara yang dapat dipahami  oleh orang-orang yang memiliki pikiran sederhana.

Ketiga. Dalam satu hal mukjizat penyembuhan kebutaan ini bersifat unik – ini adalah mukjizat satu-satunya yang dapat dikatakan terjadi secara bertahap. Biasanya mukjizat-mukjizat Yesus terjadi secara instan dan lengkap. Dalam mukjizat ini, penglihatan orang buta ini mengalami kesembuhan secara bertahap.

Ada kebenaran yang bersifat simbolis di sini. Tidak ada seorang pun melihat seluruh kebenaran Allah sekaligus. William Barclay, seorang pendeta dari Skotlandia yang terkenal, pernah menulis bahwa salah satu dari bahaya-bahaya evangelisme jenis tertentu adalah bahwa pewartaan sedemikian mendorong ide bahwa apabila seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka dia adalah seorang Kristiani yang dewasa-penuh (lihat THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Mark, hal.191). Dengan menjadi Kristiani bukanlah berarti seseorang sudah sampai di akhir perjalanan, melainkan baru saja mulai di awal perjalanan. Seorang Kristiani harus melakukan pertobatan  terus menerus, dari hari ke hari. Dia harus terus menerus bertumbuh dalam rahmat dan di bawah bimbingan Roh Kudus belajar untuk semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengalami kesembuhan yang penuh. Tunjukkanlah kepadaku apa saja yang sedang kulakukan atau telah lakukan, yang akan menghalang-halangi karya penyembuhan-Mu dalam diriku. Tuhan, tolonglah aku agar menjadi semakin serupa dengan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 15-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 13 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 11 Februari 2017)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA, Peringatan SP Maria dari Lourdes 

1-pppas0108Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 

Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.

Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL” (bacaan tanggal 11-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak,  8 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS