Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

MENJADI SEPERTI YESUS

MENJADI SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 13 Juli 2017) 

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

Pada waktu Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya itu memberitakan Injil kepada orang-orang lain, Ia menekankan bahwa mereka harus menjadi seperti diri-Nya sendiri.  Hanya apabila mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan diri-Nya maka mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan mereka dengan efektif. Ketika Yesus bersabda: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), sebenarnya Dia sedang mengajarkan para murid-Nya (rasul) lebih daripada sekadar bagaimana melayani orang-orang lain.

Yesus sendiri adalah yang paling besar dan paling rendah hati daripada segala hamba. Satu-satunya cara agar para murid Yesus dapat memberi  dengan bebas adalah menjadi seperti Yesus, yang selalu berdoa kepada Bapa-Nya. Karena Dia percaya bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan-Nya, maka Yesus dengan bebas dan penuh kemurahan hati memberikan semuanya yang telah diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Atas dasar alasan inilah Yesus mengatakan kepada kedua belas rasul-Nya untuk tidak menerima upah uang atau membawa pakaian ekstra. Allah akan menyediakan apa saja yang mereka butuhkan (Mat 10:9-10).

Karena Yesus begitu pasrah akan pemeliharaan Bapa surgawi dan begitu yakin akan kehadiran-Nya, maka Dia bebas untuk datang dan pergi, untuk mengucapkan kata-kata dan berbuat, seturut arahan dari Allah sendiri. Yesus mengetahui bahwa Bapa-Nya akan memperhatikan-Nya, dan Ia mengambil risiko-risiko yang orang-orang lain tidak merasa bebas untuk mengambilnya karena mereka mengandalkan kekuatan manusia semata.

Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk mempraktekkan kebebasan yang sama, yaitu menentukan rumah mana yang “layak” dan mana yang “tidak layak” untuk dihuni oleh mereka dalam rangka melaksanakan pekerjaan misioner mereka (Mat 10:11-12). Mereka hanya dapat membuat pilihan selama mereka tetap rendah hati dan peka trerhadap pimpinan Allah.

Kita barangkali merasa kewalahan karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk keluarga, apalagi untuk orang-orang lain. Namun Yesus menginstruksikan para murid-Nya (termasuk kita, bukan?) untuk mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat (Mat 10:7-8). Allah telah memilih kita masing-masing untuk melayani-Nya. Apakah kita berfungsi sebagai orangtua, guru, biarawati atau biarawan, klerus, atau awam biasa seperti saya ini; kita semua sebenarnya dipanggil untuk menaruh hidup kita di tangan-tangan Yesus dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memperhatikan setiap kebutuhan kita.  Semakin kita belajar mengenai kebenaran fundamental ini, semakin efektif kiranya kita dalam melaksanakan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU” (bacaan tanggal 13-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2017 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Selasa, 11 Juli 2017) 

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Kej 32:22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-8,15 

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). 

Bayangkanlah kerinduan yang ada dalam hati Yesus agar para murid-Nya dikirim untuk menjadi pekerja-pekerja tuaian di seluruh dunia. Bayangkanlah betapa rindu hati-Nya untuk melihat semua orang menerima dan merangkul Injil-Nya. Ia ingin agar kita (anda dan saya) berdoa kepada Bapa surgawi agar Bapa mengirimkan lebih banyak lagi “pekerja-pekerja untuk tuaian”. Ia juga menginginkan agar kita masing-masing juga siap untuk menjadi salah seorang dari pekerja-pekerja tuaian yang akan dikirim oleh-Nya ke ladang tuaian.

Kebutuhan akan para murid yang akan membuat Yesus dikenal oleh segala bangsa sama besarnya, bahkan jauh lebih besar daripada pada saat ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama. Sebagamana dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang Santo): “Tugas perutusan Kristus sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian……. suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja ditahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan ini” (Surat Ensiklik REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus), 7 Desember 1990). Kebutuhannya sangat besar! Yesus memanggil kita semua, anda semua dan saya juga!

Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk menjadi pekerja-pekerja bagi Kerajaan-Nya? Bagaimanakah kita dapat menjadi lebih efektif dalam panggilan kita masing-masing untuk membawa orang-orang lain kepada Injil Yesus Kristus, agar mengenal Injil itu dan menyambut Yesus ke dalam hati mereka? Ada tiga unsur yang bersifat crucial, yaitu (1) doa; (2) pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; dan (3) “Eksperimentasi”.

Yang pertama, dan inilah yang paling penting, adalah perlu adanya persekutuan (communio) dengan Allah (Tuan yang empunya tuaian; Mat 9:38) melalui doa. Dengan mempelajari hati Allah dalam doa, maka kita akan lebih lagi dipenuhi dengan kasih-Nya. Kemudian, kita pun akan mampu untuk lebih siap mengasihi orang-orang lain dengan kasih Allah.

Yang kedua, pentinglah untuk mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci. Di dalam Alkitab-lah kita belajar hikmat-kebijaksanaan Allah dan menjadi terilhami dengan pikiran-Nya, sehingga kita sungguh mengenal Pribadi yang akan kita perkenalkan kepada orang-orang lain itu.

Yang ketiga (terakhir), menemukan nilai dari “eksperimentasi” selagi kita melakukan evangelisasi kepada orang-orang lain dan melayani mereka. “Evangelisasi Baru” yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II dimaksudkan agar kita kreatif dalam metode dan pelaksanaan evangelisasi itu. Kita harus mencoba hal-hal yang baru dan berbeda (tidak seperti biasanya). Dalam melakukan evangelisasi – seperti Yesus sendiri – kita harus berani mengambil risiko. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Roh Kudus untuk menolong kita selagi kita berupaya membawa orang-orang lain kepada Yesus Kristus. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa menyertai kita (Mat 28:20); Dia adalah Imanuel!  Ia akan memurnikan kita selagi kita mengikut Dia, sehingga Dia akan memperoleh banyak pekerja tuaian yang bekerja di ladang tuaian-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan yang empunya tuaian. Utuslah kami ke tengah-tengah dunia untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-murid Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah dan berdayakanlah kami oleh Roh Kudus-Mu agar dapat bekerja dengan penuh sukacita dan efektif bagi Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA” (bacaan tanggal 11-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 9 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISELAMATKAN KARENA IMAN

DISELAMATKAN KARENA IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV Senin, 10 Juli 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick dkk., Martir

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26)

Bacaan Pertama: Kej 28:10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-4,14-15 

Pada bacaan Injil yang relatif singkat hari ini, Matius menceritakan dua buah mukjizat yang terjadi berturut-turut dalam kehidupan orang-orang biasa yang mencari pertolongan dari Yesus dengan penuh iman. Satu dari dua mukjizat ini adalah Yesus membangkitkan puteri seorang kepala sinagoga dari kematian, sedangkan mukjizat yang satu lagi adalah penyembuhan-Nya atas seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan. Perempuan ini percaya bahwa dengan menyentuh saja jumbai jubah Yesus, maka dia pun akan sembuh, dan mukjizat penyembuhan pun terjadi, malah disertai sabda Yesus yang sangat menyejukkan: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau”  (Mat 9:22). Begitu orang melangkah maju menghadap Yesus dan dalam iman memohon pertolongan kepada-Nya, maka mereka pun mengalami kuat-kuasa penyembuhan Allah secara luarbiasa.

Ketika menggambarkan penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan itu, Matius menggunakan kata Yunani sozo yang berarti “menyembuhkan”, “menyelamatkan” atau “membebaskan”. Dengan memilih menggunakan kata sozo ini, Matius ingin mengingatkan pembaca Injilnya bahwa penyembuhan yang terjadi atas diri perempuan itu tidaklah terbatas pada kesembuhan fisik, melainkan suatu pekerjaan ilahi yang lebih mendalam lagi telah terjadi. Yesus tidak hanya menyembuhkan perempuan itu dari efek-efek dosa, melainkan juga menyembuhkan dosanya, dengan demikian membawanya kepada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah. Perempuan itu yang sebelumnya dipandang sebagai sampah masyarakat dan tidak bersih disambut oleh Yesus dan dipulihkan oleh-Nya kepada martabatnya semula. Siapa dia? Namanya adalah Berenike yang dalam tradisi Latin kita kenal sebagai Veronika. Kita akan selalu berjumpa dengan dia pada waktu kita melakukan devosi Jalan Salib (perhentian ke-VI).

Yesus Kristus adalah “Penyelamat Dunia”, yang sama kemarin, hari ini dan selama-lamanya (Ibr 13:8). Hasrat-Nya untuk menyembuhkan kita, baik secara fisik maupun spiritual, tidak pernah berubah. Yesus ingin menyelamatkan kita dari dosa secara harian sehingga dengan demikian kita mempunyai suatu persatuan dengan diri-Nya secara lebih mendalam lagi dan mengenal sukacita karena dipanggil ke dalam Keluarga-Nya. Apabila kita melangkah dalam iman seperti yang telah ditunjukkan oleh perempuan yang sakit pendarahan tadi atau oleh sang kepala sinagoga, maka Allah akan mencurahkan rahmat-Nya ke atas diri kita dan Ia pun akan melipatgandakan iman-kepercayaan kita. Jadi, kita dapat melihat dan/atau mengalami sendiri mukjizat-mukjizat pada zaman modern ini.

Rahmat Allah selalu cukup bagi kita. Yang  diperlukan adalah langkah-iman kita seperti telah ditunjukkan oleh perempuan yang sakit pendarahan itu dan sang kepala sinagoga atas nama puterinya. Bagaimana kita dapat melangkah ke hadapan Yesus? Dengan datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa dan memperkenankan Dia berbicara kepada kita. Semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita akan mengalami sentuhan-Nya yang menyembuhkan atas kehidupan kita. Oleh karena itu janganlah kita pernah merasa takut atau malu untuk mengatakan kepada-Nya segala kebutuhan kita. Alasan mengapa Yesus – Putera Bapa surgawi – datang ke dunia dan hidup di tengah-tengah umat manusia adalah karena kasih Allah yang begitu dalam bagi kita. Misi Yesus adalah untuk menyelamatkan kita dan memulihkan kita. Sementara kita mengambil langkah iman, Ia akan membangkitkan kita sebagaimana yang telah dilakukan-Nya atas diri anak perempuan sang kepada sinagoga dari kematiannya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hasrat-Mu bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam kehidupan kami dan membawa kami lebih dekat lagi kepada Bapa surgawi. Ajarlah kami, ya Tuhan, untuk mengambil langkah iman dan mengalami sentuhan-Mu yang menyembuhkan. Kuatkanlah iman-kepercayaan kami dengan rahmat-Mu sehingga dengan demikian kami dapat mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN AKAN SENTUHAN YESUS” (bacaan tanggal 10-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 6 Juli 2017 [Peringatan S. Maria Goretti, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEKALAHAN IBLIS SUDAH DINUBUATKAN SEJAK AWAL MULA

KEKALAHAN IBLIS SUDAH DINUBUATKAN SEJAK AWAL MULA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 5 Juli 2017) 

Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Kej 21:5,8-20; Mazmur Tanggapan: Mzm  34:7-8,10-13

Tidak banyak dari kita yang pernah menyaksikan manifestasi kerasukan roh-roh jahat dan pembebasan dari roh-roh jahat yang dramatis sebagaimana diceritakan dalam bacaan Injil hari ini. Pengaruh Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya adalah ancaman nyata dan semakin bertumbuh. Iblis tidak bertindak-tanduk agar orang-orang tertarik kepada dirinya, melainkan lebih menyukai untuk membelokkan pekerjaan Allah secara licin lewat berbagai desepsi dan godaan terhadap pikiran kita.

Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa Iblis adalah “seorang” malaikat pemberontak yang mempunyai tujuan utama memisahkan umat manusia dari Allah, sang Pencipta. Misalnya, Petrus tidak menyadari bahwa usulnya agar Yesus menghindari salib sebenarnya sebuah pemikiran yang berasal dari Iblis, yang dimaksudkan untuk mencegah penebusan yang akan mempersatukan kita-manusia dengan Allah (lihat Mat 16:21-23).

Seperti dua orang yang kerasukan roh-roh jahat di Gadara, pikiran atau akal budi kita juga merupakan “ajang pertarungan” di mana Roh Kudus berupaya untuk memberi inspirasi dan membimbing kita, sedangkan Iblis berupaya untuk menghalang-halangi atau mengecilkan hati kita selagi kita mengikuti bimbingan Roh Kudus tersebut. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi kita untuk mengisi pikiran kita dengan kebenaran-kebenaran Kitab Suci, dan hati kita dengan rahmat Allah melalui penerimaan-penerimaan sakramen! Sungguh merupakan suatu hal yang begitu vital bahwa kita harus senantiasa berada di hadapan hadirat-Nya, memusatkan pemikiran kita pada “semua yang  benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patuh dipuji” (lihat Flp 4:8).

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus mengatakan bahwa kita harus berdiri tegap menghadapi Iblis dengan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef 6:11;bacalah seluruh Ef 6:10-18). Taktik-taktik busuk Iblis dapat mengambil banyak cara, dari godaan kepada kita untuk percaya bahwa Allah sebenarnya tidak mengasihi kita, sampai  mencoba meyakinkan kita untuk merusak diri kita sendiri lewat hidup ketagihan narkoba, korupsi, bahkan bunuh diri. Apabila kita dapat mengindentifikasikan godaan-godaan ini, maka kita pun dapat menolak godaan-godaan tersebut dalam nama Yesus.

Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk 10:19). Kekalahan Iblis sudah dinubuatkan sejak awal mula (lihat Kej 3:15). Bahkan roh-roh jahat di Gadara pun mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah dan bahwa kuasa dan pengaruh mereka sudah “ditakdirkan” untuk berakhir pada suatu titik. Kematian dan kebangkitan Yesus menjamin kemenangan atas Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Segala kuasa kegelapan telah dipatahkan, dan kita pun bebas untuk masuk ke dalam kepenuhan hidup sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kami menolak dosa dan Iblis. Lanjutkanlah memimpin kami agar semakin dekat dengan Engkau dan memimpin kami kepada kemerdekaan lengkap yang telah Engkau menangkan bagi kami. Biarlah Roh Kudus-Mu menerangi kami selagi kami menjalani kehidupan sehari-hari kami, sehingga dengan demikian kami dapat mengikuti bimbingan-Mu, dan dengan hikmat-Mu kami dapat mengenali dan mewaspadai rencana busuk Iblis dan roh-roh jahat atas diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA” (bacaan tanggal 5-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RASA TAKUT DAN KURANG PERCAYA

RASA TAKUT DAN KURANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 4 Juli 2017) 

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Kej 19:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 26:2-3,9-12

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu takut?” (Mat 8:26), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka.  Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBENTAK DAN ANGIN DAN DANAU ITU” (bacaan tanggal 24-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 1 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BELA RASA YANG MELAMPAUI HUKUM

BELA RASA YANG MELAMPAUI HUKUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Jumat, 30 Juni 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raymundus Lullus, Martir (OFS) 

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Seorang yang sakit kusta datang kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mat 8:1-4) 

Bacaan Pertama: Kej 17:1,9-10,15-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

Dalam cerita ini kita harus memperhatikan dua hal, yaitu pendekatan yang dilakukan oleh orang kusta dan tanggapan yang diberikan oleh Yesus. Dalam pendekatan si orang kusta terdapat tiga unsur: kepercayaan dirinya, kerendahan hatinya, dan sikap hormatnya.

Orang kusta itu mendatangi Yesus dengan penuh kepercayaan diri. Dia tidak mempunyai keraguan sedikitpun, bahwa jika Yesus mau, maka Dia akan membuat dirinya tahir. Tidak seorang penderita kusta pun pada masa itu yang berani berada dekat dengan seorang Rabi atau ahli Taurat ortodoks, karena dia tahu bahwa dia akan dilempari batu. Namun penderita kusta yang satu ini datang kepada Yesus. Ia memiliki rasa percaya yang boleh dikatakan sempurna akan kemauan Yesus untuk menyambutnya. Jadi, marilah kita ingat, bahwa tidak seorang pun perlu merasa dirinya begitu kotor atau najis untuk datang bertemu dengan Yesus Kristus.

Orang kusta itu memiliki rasa percaya yang sempurna akan kuat-kuasa Yesus. Kusta adalah satu jenis penyakit yang tidak ada resep pengobatannya menurut para rabi pada masa itu. Namun orang kusta yang satu ini yakin bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang lain. Tidak seorang pun boleh merasa bahwa dirinya tidak dapat disembuhkan fisiknya atau tidak dapat diampuni jiwanya sementaara Yesus Kristus hadir.

Orang kusta itu datang kepada Yesus dengan kerendahan hati. Dia tidak menuntut kesembuhan. Ia hanya berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mat 8:2). Seakan-akan dia berkata: “Aku tahu bahwa diriku bukan siapa-siapa; aku tahu bahwa orang-orang lain akan menghindar dariku dan tidak akan peduli terhadap diriku; aku tahu bahwa aku tidak mempunyai klaim apa-apa atas diri-Mu; namun barangkali dalam perendahan keilahian-Mu, Engkau sudi menggunakan kuat-kuasa-Mu untuk menolong seorang manusia hina seperti aku. Kerendahan hati orang kusta ini memang luarbiasa, dia hanya menyadari bahwa dirinya harus mencari jalan untuk bertemu dengan Yesus.

Orang kusta itu datang kepada Yesus dengan rasa hormat. Injil mengatakan bahwa dia sujud menyembah (Mat 8:2 ). Kata kerja dalam bahasa Yunani untuk menyembah adalah proskunein, kata yang hanya digunakan untuk “menyembah dewa-dewi”; kata yang selalu menggambarkan perasaan seseorang dan tindakannya di hadapan kehadiran ilahi. Orang kusta itu tidak pernah dapat menceritakan kepada siapa pun apa yang menurut pikirannya siapa Yesus itu; namun dia tahu bahwa di hadapan Yesus dia berada di hadapan hadirat “seorang” dewa. Kita tidak perlu menempatkan semua ini dalam term-term teologis atau filosofis; cukuplah untuk yakin bahwa apabila kita dikonfrontasikan dengan Yesus, maka kita dikonfrontasikan dengan kasih dan kuat-kuasa Allah Yang Mahakuasa.

Sekarang marilah kita lihat tanggapan dari pihak Yesus terhadap pendekatan yang dilakukan oleh orang kusta itu. Yang pertama-tama dan utama dari reaksi Yesus adalah bela rasa. Hukum mengatakan bahwa Yesus harus menghindari kontak dengan orang kusta itu dan mengancam dia dengan hal-hal yang kotor jika Dia memperkenankan orang kusta itu untuk datang dalam batas jarak enam kaki dari diri-Nya. Apa yang terjadi? Yesus malah mengulurkan tangan-tangan-Nya dan menyentuh orang kusta itu (Mat 8:3). Pengetahuan medis pada zaman itu akan menyatakan bahwa Yesus sedang menghadapi risiko kena infeksi, namun Yesus justru mengulurkan tangan-tangan-Mya dan bahkan menyentuhnya. Ruuuuuuuuar biasa !!!

Bagi Yesus hanya ada satu kewajiban dalam hidup ini, yaitu menolong. Hanya ada satu hukum, dan hukum itu adalah kasih. Kewajiban untuk menolong mengambil preseden di atas segala hukum dan peraturan lainnya. Hal ini membuat Yesus menantang semua risiko fisik. Di mata seorang dokter yang baik seseorang yang menderita penyakit yang mengerikan bukanlah suatu pemandangan yang memuakkan, melainkan seorang pribadi manusia yang membutuhkan pertolongan. Bagi seorang dokter yang baik, seorang anak yang menderita penyakit serius adalah seorang anak yang memerlukan pertolongan. Yesus adalah seperti itu; Allah seperti itu; kita pun harus seperti itu. Seorang Kristiani sejati akan melanggar konvensi apa pun, akan mengambil risiko demi menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongannya.

(Adaptasi dari William Barclay, THE DAILY BIBLE STUDY – THE GOSPEL OF MATTHEW, VOLUME 1, hal. 297-298.)

DOA: Tuhan Yesus, Engkau Mahakuasa namun senantiasa berbela-rasa terhadap siapa saja yang membutuhkan pertolongan-Mu. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku menjadi seorang murid-Mu yang baik, yang setia dalam hal-hal baik walaupun kecil. Dengan demikian aku dapat memperoleh ganjaran yang jauh lebih besar dari Engkau, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 8:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “SETIA DALAM HAL-HAL BAIK WALAUPUN KECIL” (bacaan tanggal 30-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

Cilandak, 27 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 15 Mei 2017)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedual rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “TUGAS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS