Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 20 Februari 2017) 

stdas0568-christ-heals-epileptic-boyKetika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 20-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  17 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KELOMPOK TIGA

KELOMPOK TIGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Sabtu, 18 Februari 2017)- 

transfigurasi-12Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. Lalu mereka bertanya kepada-Nya, “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihina? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.” (Mrk 9:2-13) 

Bacaan Pertama:  Ibr 11:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11 

Yesus mengatakan kepada tiga orang murid-Nya agar tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat di atas gunung, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Mrk 9:9). Sekarang Yesus telah bangkit, maka kita tentunya dapat berbicara tentang hal itu secara bebas. Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan membawa serta tiga orang murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Di sana mereka menyaksikan Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Tiga orang rasul/murid tersebut terkejut penuh rasa takjub dan mereka sujud menyembah. Apakah sebenarnya makna dari semua ini?

Yesus sering naik ke atas sebuah bukit/gunung untuk berdoa. Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa (Mrk 6:46). Semalam sebelum Ia memberikan janji besar tentang Roti Kehidupan kepada orang banyak, Yesus berada di atas bukit seorang diri (Yoh 6:15). Untuk apa “sorangan wae”? Tentunya untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Orang banyak dengan paksa mau menjadikan-Nya seorang raja dunia; dan Yesus tahu bahwa misi-Nya di dunia bukanlah untuk itu. Matius menulis: “Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ” (Mat 14:23).

Seringkali dalam cerita-cerita yang tercatat dalam Kitab Suci, naik ke atas bukit/gunung sendirian berarti masuk ke dalam persekutuan yang erat dan intim dengan Allah. Di atas gunung seseorang menjauhi kebisingan dan hiruk-pikuk serta distraksi, dan di atas bukit itulah kita dapat mengalami suatu perasaan istimewa adanya kedekatan dengan Allah.

Musa naik ke atas gunung untuk berdoa dan belajar tentang Kehendak Allah. Dalam Kel 24:17 kita membaca: “Tampaknya kemuliaan TUHAN (YHWH) sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel.” Namun Musa masuk ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya (lihat Kel 24:18). Hal ini tentunya mengingatkan kita kepada Yesus yang sendirian berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam di padang gurun (lihat misalnya dalam Mat 4:1-11; bdk. Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Ketika Ratu Izebel (istri Raja Ahab) – lewat seorang suruhannya – mengancam untuk membunuh nabi Elia dalam waktu dua puluh empat jam, maka karena takut Elia pun melarikan diri ke padang gurun (lihat 1Raj 19:1-4). Karena rasa lapar dan haus, Elia tidak dapat meneruskan perjalanannya, namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk membawa roti dan minuman agar dapat melanjutkan perjalanannya ke Gunung Horeb, di mana Allah berbicara kepadanya dan mengatakan apa yang harus dilakukan olehnya (bacalah keseluruhan cerita yang menarik: 1Raj 19:1-18).

“Kelompok 3” ini – Yesus, Musa dan Elia – penuh dengan makna. Itulah sebabnya mengapa Yesus ingin agar tiga orang murid-Nya yang istimewa ini (lingkaran pertama) untuk berada di atas gunung bersama dengan-Nya. Sah-sah saja apabila kita bertanya: Apa sih yang sebenarnya terjadi di atas gunung itu? Sebuah pertemuan/persekutuan doa yang luarbiasa! Sebuah kelompok datang bersama untuk berdoa, untuk bercakap-cakap dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Dalam doa kita datang untuk berbicara dengan Yesus, dengan Bapa surgawi, dengan Roh Kudus, juga bersama dengan para malaikat-Nya, Musa, Elia, para rasul, dan para kudus lainnya. Yesus bersabda: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau juga senantiasa mengundang kami ke dalam suatu persekutuan doa yang sangat luarbiasa, yaitu Perayaan Ekaristi. Dalam puncak perayaan iman itu kami Engkau undang untuk menyaksikan lagi penghadiran kembali wafat-Mu pada kayu salib di bukit Kalvari dan diberi tubuh-Mu sendiri sebagai makanan rohani bagi kami. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-13) bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TRANSFIGURASI:  KITA SEMUA DAPAT MENYAKSIKAN KEMULIAAN YESUS” (bacaan tanggal 18-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02  PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2015) 

Cilandak, 16 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 15 Februari 2017) 

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-25

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-26

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Kej 8:6-13,20-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-15,18-19 

Sampai hari ini kebutaan masih merupakan salah satu “kutukan” besar di banyak negara di dunia. Kebutaan ini sebagian disebabkan oleh “ophthalia” dan sebagian oleh sinar matahari yang tidak mengenal kasihan. Hal ini diperburuk oleh kenyataan bahwa banyak rakyat kebanyakan tidak mengetahui apa-apa soal kesehatan dan kebersihan, terutama karena kemiskinan yang melanda.

Hanya Markus yang menulis cerita penyembuhan orang buta ini, hal mana dapat menyebabkan kita merasa bahwa bacaan ini tidak/kurang penting. Karena hanya ada dalam Injil ini, maka kita harus lebih terangsang untuk mendalami bacaan tersebut.

Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam bacaan Injil ini: Pertama-tama kita melihat bagaimana pertimbangan-pertimbangan Yesus senantiasa bersifat unik. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa (Mrk 8:23). Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat berdua saja dengan orang buta itu. Mengapa? Coba pikirkan. Orang itu buta dan kelihatannya dia buta sejak lahir. Apabila kepadanya diberikan penglihatan secara instan di tengah-tengah orang banyak, maka matanya yang baru saja melihat akan melihat banyak sekali orang dan hal-hal lainnya yang berwarna-warni. Ini sungguh akan mengagetkan orang bersangkutan. Yesus mengetahui bahwa jauh lebih baiklah bagi Diri-Nya untuk membawa orang buta ke sebuah tempat di mana mata yang baru dapat melihat itu tidak secara mendadak melihat banyak hal.

Setiap dokter dan guru yang hebat memiliki ciri pribadi yang sungguh luarbiasa. Dokter yang hebat mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati pasiennya; dia memahami ketakutan-ketakutan yang melanda si pasien, juga harapan-harapannya. Dokter ini bersimpati, berempati dan menderita bersama si pasien. Guru yang hebat juga mampu masuk ke dalam pikiran dan hati muridnya. Guru itu melihat persoalan-persoalan muridnya, kesulitan-kesulitannya, berbagai penghalang yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa Yesus itu adalah sungguh seorang Dokter dan Guru yang sangat hebat. Yesus mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang ingin ditolong-Nya. Yesus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan dengan sangat baik, karena Dia dapat berpikir dengan pikiran mereka dan merasakan sesuatu seperti mereka merasakannya. Allah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia seperti yang dimiliki Yesus ini.

Kedua, Yesus menggunakan metode-metode yang dapat dimengerti oleh orang-orang. Dunia kuno percaya akan kuat-kuasa untuk menyembuhkan dari air liur/ludah. Kepercayaan seperti itu tidak begitu aneh jika kita mengingat naluri pertama kita adalah memasukkan jari kita yang terluka (karena teriris pisau atau terbakar) ke dalam mulut kita agar meringankan rasa sakit kita. Tentu saja si buta mengetahui hal ini, dan Yesus menggunakan suatu metode penyembuhan yang dikenal olehnya. Yesus memiliki hikmat ilahi. Dia tidak memulai proses penyembuhan dengan kata-kata dan dan metode-metode yang jauh melampaui pengertian orang-orang kecil bersahaja. Yesus berbicara kepada mereka dan melakukan tindakan atas diri mereka dengan menggunakan cara yang dapat dipahami  oleh orang-orang yang memiliki pikiran sederhana.

Ketiga. Dalam satu hal mukjizat penyembuhan kebutaan ini bersifat unik – ini adalah mukjizat satu-satunya yang dapat dikatakan terjadi secara bertahap. Biasanya mukjizat-mukjizat Yesus terjadi secara instan dan lengkap. Dalam mukjizat ini, penglihatan orang buta ini mengalami kesembuhan secara bertahap.

Ada kebenaran yang bersifat simbolis di sini. Tidak ada seorang pun melihat seluruh kebenaran Allah sekaligus. William Barclay, seorang pendeta dari Skotlandia yang terkenal, pernah menulis bahwa salah satu dari bahaya-bahaya evangelisme jenis tertentu adalah bahwa pewartaan sedemikian mendorong ide bahwa apabila seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka dia adalah seorang Kristiani yang dewasa-penuh (lihat THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Mark, hal.191). Dengan menjadi Kristiani bukanlah berarti seseorang sudah sampai di akhir perjalanan, melainkan baru saja mulai di awal perjalanan. Seorang Kristiani harus melakukan pertobatan  terus menerus, dari hari ke hari. Dia harus terus menerus bertumbuh dalam rahmat dan di bawah bimbingan Roh Kudus belajar untuk semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengalami kesembuhan yang penuh. Tunjukkanlah kepadaku apa saja yang sedang kulakukan atau telah lakukan, yang akan menghalang-halangi karya penyembuhan-Mu dalam diriku. Tuhan, tolonglah aku agar menjadi semakin serupa dengan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 15-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 13 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

HATI YESUS YANG PENUH DENGAN BELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 11 Februari 2017)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA, Peringatan SP Maria dari Lourdes 

1-pppas0108Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 

Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:34-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi, Roti Kehidupan. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak itu.

Yesus mengasihi kita masing-masing. Kita seharusnya tidak pernah boleh merasa “tidak penting” atau “tidak diinginkan” untuk hadir pada meja perjamuan-Nya. Kita semua berharga di mata-Nya dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL” (bacaan tanggal 11-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak,  8 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

SEORANG PRIBADI YANG PALING BERMURAH HATI YANG PERNAH HIDUP DI DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Jumat, 10 Februari 2017) 

0-0-yesus-menyembuhkan-orang-tuliKemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Kej 3:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

Yesus adalah pribadi yang paling bermurah hati yang pernah hidup di dunia. Melihat TKP-nya yang berlokasi di Dekapolis, ada kemungkinan orang yang gagap-tuli itu adalah seorang non-Yahudi atau ‘kafir’ di mata orang Yahudi. Posisi orang-orang seperti itu dipandang oleh kebanyakan orang Yahudi sebagai berada di luar perjanjian-perjanjian dan janji-janji Israel. Namun demikian, dengan sukarela dan bebas Yesus menunjukkan kasih Allah kepadanya … dengan menyembuhkannya. Karena Yesus begitu mengasihi Bapa-Nya, Dia mampu untuk mengasihi semua orang sepenuhnya. Yesus mengasihi mereka dengan menyediakan segenap waktu dan energi-Nya dengan tujuan agar Dia dapat membawa orang-orang lain untuk mengenal kasih Bapa, sama penuhnya seperti Dia sendiri mengalaminya. Inilah bagaimana perintah-perintah Yesus hendaknya kita hayati.

Santa Ibu Teresa dari Kalkuta adalah contoh modern dari seorang pribadi yang hatinya mencerminkan kasih dan kemurahan hati Yesus. Karena dia mengasihi Yesus, satu hasratnya adalah untuk menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang. Kemana saja Ibu Teresa pergi, dia tidak pernah bertanya dan/atau mempermasalahkan apakah seseorang itu Kristiani atau bukan. Kasih Yesus begitu saja mengalir dari dirinya karena dia telah begitu mengosongkan diri dan memenuhi dirinya itu dengan Yesus. Hidup setiap orang yang disentuhnya diubah oleh kasih Yesus yang menyembuhkan dan menebus.

Kita semua dipanggil untuk bekerja bagi pertobatan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Begitu banyak orang yang berada di luar  tembok-tembok gereja yang sesungguhnya lapar dan haus akan Allah. Telinga mereka juga dapat dibuka untuk mampu mendengar firman-Nya dan membuat tanggapan dalam kasih. Yesus  telah memberi amanat kepada  kita untuk pergi keluar atas nama-Nya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar – bahkan lebih besar daripada apa yang telah dilakukan-Nya (lihat Mrk 16:17-18). Dia adalah Imanuel yang selalu menyertai kita (lihat Mat 28:20) dan Dia ingin agar kita menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan membawa keselamatan.

Baiklah kita perkenankan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita kasih-Nya yang menyembuhkan agar dengan demikian kita dapat dengan bebas melayani-Nya. Hari ini juga anda dapat mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kesempatan-kesempatan kepada anda menyebarkan kasih Yesus kepada orang-orang lain. Barangkali seseorang di rumah/komunitas/persaudaraan anda sendiri atau rekan kerja anda di kantor/pabrik sungguh mempunyai kebutuhan. Apa pun kesempatan yang disediakan oleh Roh Kudus kepada anda, laksanakanlah tugas anda itu dengan penuh kasih, dan mohonlah kepada Allah agar anda dimampukan untuk membawa seseorang mengenal kasih dan kerahiman Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “EFATA – TERBUKALAH!” (bacaan tanggal 10-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 7 Februari 2017 [Peringatan S. Koleta dr Corbie, Biarawati] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR

KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 9 Februari 2017) 

YESUS DAN PEREMPUAN KANAANLalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan orang jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Perempuan Yunani keturunan Siro-Fenisia itu tahu bahwa Iblis dan begundal-begundalnya tidak memiliki rasa hormat atau respek terhadap pribadi-pribadi manusia – ras mereka atau agama yang mereka anut. Dengan demikian dia tidak membiarkan iman-kepercayaannya dibutakan oleh prasangka atau praduga buruk. Ketetapan hatinya untuk mencari kesembuhan bagi puterinya berasal dari rasa pedihnya melihat puterinya menderita dari hari ke hari. Apalagi dia sadar sekali bahwa dia tidak memiliki kuasa atau kemampuan apapun untuk menolong puterinya itu. Oleh karena itu, ketika dia mendengar bahwa sang rabi Yahudi masuk ke kotanya, maka baginya perbedaan budaya menjadi tidak ada artinya samasekali. Yang penting baginya, Yesus inilah yang dapat menolong puterinya yang sedang menderita.

Perempuan Siro-Fenisia itu menunjukkan dua kualitas pribadi yang mutlak berkenan di hati Yesus, yaitu “ketekunan” dan “iman”. Kita memang dapat terkagum-kagum akan kemauan keras yang ditunjukkan oleh perempuan ini. Sebagai seorang non-Yahudi dia melanggar kebiasaan sosial yang berlaku pada saat itu dan dia sujud di depan kaki Yesus dan mohon belaskasih dari rabi Yahudi itu. Sebagai seorang non-Yahudi (baca: kafir) memang dia tidak dapat mengharapkan banyak dari para tetangganya yang Yahudi: dia hanyalah seorang perempuan dan non-Yahudi. Akan tetapi dia telah mendengar mengenai pengkhotbah yang bernama Yesus ini dan kuat-kuasa yang menyertai-Nya – kuat-kuasa yang dapat menghancurkan roh-roh jahat. Maka dia tidak akan berhenti minta tolong demi putri yang dicintainya. Yang diinginkannya hanyalah “remah-remah” dari rahmat penyembuhan Yesus (lihat Mrk 7:28). Perempuan itu percaya hanya inilah yang dibutuhkan untuk pelepasan puterinya dari cengkeraman roh jahat, dan tanggapan imannya membuat Yesus tergerak secara mendalam. Mengapa? Karena inilah macam iman yang membuka diri kita bagi kuasa penyembuhan Yesus. Perempuan ini datang kepada Yesus dengan iman yang penuh ketekunan dan Yesus pun menanggapinya, sehingga kita semua juga dapat mengetahui dan mengenal karyanya dalam kehidupan kita. Yesus memang tidak  pernah mengecewakan siapa saja yang datang kepada-Nya dengan iman yang tekun. Marilah sekarang kita soroti dua hal dari bacaan ini, yaitu keberadaan roh-roh jahat dan kondisi iman kita sendiri.

Keberadaan roh-roh jahat. Tidak seperti pada zaman modern ini, dunia kuno sangat menyadari akan realitas roh-roh jahat dan efek merusak yang ditimpakan roh-roh jahat itu atas pribadi-pribadi manusia. Mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dan sentral dari pelayanan Yesus di depan umum, dan hal ini dilakukannya sejak awal (lihat Mrk 1:21-28; 5:1-20; 9:14-29). “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1Yoh 3:8). Kita pun dihadapkan dengan serangan-serangan terus-menerus dari Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Petrus menulis, “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Hati anda mungkin saja dipenuhi dengan kemarahan, tidak mau mengampuni dll. Perkenanlah Yesus membebaskan anda dari cengkeraman Iblis dan mengembalikan anda kepada sukacita sejati sebagai anak-anak Bapa surgawi.

Kondisi iman kita. Hari ini adalah hari yang baik untuk memeriksa kondisi iman anda. Apakah anda percaya bahwa “remah-remah” sederhana dari Yesus sudah cukup untuk memindahkan gunung-gunung dalam hidup anda dan dalam kehidupan orang-orang yang anda cintai? Atau anda merasa khawatir, malah takut, bahwa Yesus samasekali tidak berminat atas kebutuhan-kebutuhan anda? Apakah anda percaya bahwa Dia telah memanggil anda dengan namamu dan memandang anda dengan penuh kasih? Apakah anda percaya bahwa darah-Nya telah membuang segala hal yang menghalangi persekutuan dengan-Nya? Apakah anda percaya bahwa dengan menerima Yesus anda menjadi seorang “ciptaan baru”? Sampai berapa tekun anda dengan Tuhan? Apakah anda mohon kepada Yesus hanya sekali, dan menyerah setelah permintaanmu tidak langsung diluluskan oleh-Nya? Apakah anda langsung pergi setelah satu permintaan itu tadi? Atau anda tetap mengetuk pada pintu-Nya? Ingatlah bahwa perempuan Siro-Fenisia itu harus berbicara kepada Yesus sebanyak dua kali sebelum permintaannya dipenuhi. Yesus menginginkan agar kita terus meminta, terus mencari dan terus mengetuk (lihat Luk 11:9-10). Percayalah, Yesus akan memberi tanggapan! Lakukanlah inventarisasi atas iman dan ketekunan yang anda miliki. Kalau imanmu terasa lemah, tidaklah salah kalau kita berseru kepada-Nya: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24).

Tidak ada sesuatu pun yang dapat membatasi apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas iman yang penuh ketekunan dan hati yang diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dari pengaruh Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “MELALUI YESUS KITA MEMPUNYAI AKSES KEPADA TAKHTA ALLAH” (bacaan tanggal 12-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  7 Februari 2017 [Peringatan S. Koleta dr Corbie, Biarawati] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam – Selasa, 31 Januari 2017) 

yesus-menyembuhkan-putri-yairusSesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia de depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan taku, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Ibr 12:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32 

Bayangkanlah sejenak apa yang kiranya terjadi dalam pikiran si pemimpin sinagoga yang bernama Yairus itu, sebelum dia akhirnya menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Sebagai seorang pemimpin sinagoga, posisinya cukup penting dalam komunitas lokal Yahudi. Mungkin dia telah sekian lama bergumul dengan pemikiran-pemikiran seperti berikut: “Seseorang dengan posisiku tidak dapat meminta-minta pertolongan kepada seorang tukang kayu dari Nazaret yang sekarang menjadi pengkhotbah keliling! Bukankah aku harus ja-im (jaga image)?” Bagaimana dengan perempuan yang menderita pendarahan? Setelah 12 tahun lamanya menderita penyakit, bagaimana kiranya dia harus mengatasi ketiadaan harapan dan rasa takut sebelum “meneroboskan” dirinya  melalui orang banyak yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus yang sedang berjalan menuju rumah Yairus, kemudian mengambil kesempatan yang ada untuk menyentuh jubah Yesus?

yesus-menyembuhkan-wanita-yang-kena-plagueApa pun tantangan-tantangan yang mereka hadapi, baik Yairus maupun perempuan yang menderita pendarahan itu telah memilih untuk percaya kepada Yesus dengan membuat langkah iman yang berani. Karena mereka percaya pada sesuatu yang belum mereka lihat (lihat Ibr 11:1), maka mereka pun menerima ganjarannya: Yairus melihat anak perempuannya dibangkitkan dari kematian oleh Yesus, dan perempuan yang menderita pendarahan itu pun secara instan disembuhkan dan disuruh pergi dengan iringan berkat dari Putera Allah sendiri! Sungguh indah semuanya ini!

Kedua pribadi manusia ini, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan, memberikan kepada kita dua contoh dari iman yang diminta oleh Yesus untuk kita tumbuh-kembangkan dalam diri kita masing-masing. Bukankah kita semua telah mengalami situasi-situasi di mana sebelumnya kita begitu merasa ragu-ragu atau takut mengambil tindakan karena hal itu berarti mengambil risiko? Barangkali kita memang belum siap untuk melangkah keluar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita. Barangkali kita merasa khawatir apa yang ada dalam pikiran orang-orang tentang diri kita. Barangkali kita takut gagal. Bagaimana dengan menawarkan diri untuk mendoakan doa kesembuhan untuk seorang tetangga yang sedang sakit? Apakah kita akan melakukannya bila kita menyadari bahwa Yesus lah yang meminta kita untuk melakukannya? Dari waktu ke waktu Yesus memberikan inspirasi kepada kita lewat sentuhan-sentuhan-Nya pada hati kita masing-masing! Apabila kita membuat langkah-iman sambil menghadapi risiko yang ada, maka kita sering menemukan bahwa orang-orang menerima pencurahan cintakasih Tuhan lewat diri kita ini dengan gembira dan terbuka. Apabila kita memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita akan menyaksikan bahwa  Allah menyentuh orang-orang lain melalui doa-doa kita dan kesaksian hidup kita dalam Yesus.

Hari ini, perkenankanlah Yesus mengetahui bahwa Saudari-Saudara sedang mencari inspirasi apa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kepada anda. Katakanlah kepada Tuhan Yesus  bahwa anda sungguh ingin mengatasi rasa takut dan ragu-ragu yang selama ini menekan diri anda, dan sungguh mau bertindak mengatasinya. Mohonlah rahmat untuk melangkah dalam iman sebagaimana ditunjukkan oleh-Nya. Ketuklah, maka pintu pun akan dibuka untuk anda – pintu yang akan memimpin anda ke dalam iman yang lebih mendalam dan intim dengan Yesus, supaya menjadi berkat bagi orang-orang lain juga.

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga yang mau dan mendengarkan suara-Mu dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar mampu bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN DAN RASA TAKUT” (bacaan tanggal 31-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 30 Januari 2017 [Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS