Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

DENGAN SATU PERINTAH SAJA

DENGAN SATU PERINTAH SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Senin, 1 Februari 2016) 

Healing_of_the_demon-possessedLalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu tinggal di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu.

Di lereng bukit itu banyak sekali babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan merasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnyal

Penjaga-penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan Legion itu. Mereka pun merasa takut. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan ini meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. (Mrk 5:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 15:13-14,30;16:5-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 3:2-7 

Perjumpaan Yesus dengan orang Gerasa (Gadara) yang kerasukan roh-roh jahat memang membuat bulu merinding, bukan hanya disebabkan karena peristiwa tenggelamnya babi-babi yang dirasuki roh-roh jahat ke dalam danau, melainkan juga karena kejadian itu membuat terang realitas kerasukan roh-roh jahat. Memang benar bahwa tidak semua godaan datang secara langsung dari Iblis sendiri, namun ada saat-saat – teristimewa di mana kita secara secara khusus sedang berupaya untuk melayani Tuhan – ketika roh-roh jahat pengikut Iblis memainkan peranan aktif dalam menggoda kita supaya tidak taat kepada Allah dan tidak menghormati-Nya.

st-ignatius-of-loyola-detail-featured-w740x493Santo Ignatius dari Loyola – seorang mantan perwira tentara – menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya sebagai seorang militer untuk menggambarkan kebenaran-kebenaran spiritual. Ignatius mengatakan bahwa Iblis menggunakan rencana yang tersusun rapih dan operasi rahasia, dan dia menyerang ketika kita berada dalam keadaan yang paling rentan. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan tetap berdoa untuk pembebasan dari pengaruh si Jahat. Memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa bagi si Jahat untuk menggoda kita dan mencoba menyesatkan kita dari “kesetiaan kita yang sejati kepada Kristus” (lihat 2 Kor 11:3). Kalau kita membiarkan godaan-godaan terus berlangsung, maka hal tersebut akan sedikit demi sedikit menumpuk dan menyebabkan terbukanya jalan masuk ke dalam cara kita berpikir yang membiarkan kita terjebak dalam ketiadaan-pengharapan, kemarahan, rasa takut, sinisme, atau sejumlah besar pola-pola negatif lainnya.

Apakah yang menyebabkan tersedianya berbagai jalan masuk sedemikian? Sebagian dari penyebab-penyebab yang paling biasa adalah mentoleransi godaan dalam hidup kita, dosa masa lampau yang belum kita sesali dan bertobat atasnya dan pola-pola dosa yang bersifat kebiasaan, …… pembiaran-pembiaran. Dengan kata lain, bilamana kita memperkenankan (membiarkan) kegelapan masuk ke dalam hati kita, maka sebenarnya kita memberikan suatu kesempatan kepada Iblis untuk mendirikan tempat berpijak dalam diri kita.

Apabila kita mau menyelidiki dengan saksama serta mendalam, kita akan dapat melihat area-area dalam diri kita yang membutuhkan pembebasan. Ini adalah konsekuensi alamiah dari kehidupan dalam sebuah dunia yang gelap, di samping membawa juga berbagai efek dari kodrat manusia kita yang cenderung untuk berdosa. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus senantiasa siap untuk melindungi dan membebaskan kita. Yesus tidak pernah ingin meninggalkan/membiarkan kita sebagai bulan-bulanan tipu daya Iblis. Sebagaimana Dia membebaskan orang Gadara yang kerasukan itu dengan satu perintah “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” (Mrk 5:8), Yesus ingin membawa kita kepada kebebasan dan kemerdekaan dalam artian sesungguhnya. Yang diminta oleh Yesus – seperti halnya dengan orang Gadara itu, adalah supaya kita mengabaikan penolakan-penolakan dari sisi kodrat kita yang lebih gelap, dan kemudian membawa diri kita ke hadapan hadirat-Nya. Hanya dengan begitu penyembuhan dan pembebasan akan sungguh terwujud dalam diri kita.

DOA: Yesus, aku mohon kepada-Mu supaya Engkau membebaskan diriku. Oleh iman aku datang menghadap hadirat-Mu yang kudus, di mana kejahatan tidak dapat berdiam, dan aku membawa segala kegelapan dalam diriku ke dalam terang-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk menaruh kepercayaan pada sabda-Mu untuk membebaskan aku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ORANG GERASA ITU, KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS” (bacaan tanggal 1-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 30 Januari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 30 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-OFS 

JamesSeward-PeaceBeStill

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 12:1-7a, 11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka.  Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang  berjudul “SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?” (bacaan tanggal 30-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01  PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS    

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agnes, Perawan-Martir – Kamis, 21 Januari 2016)

(Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Jesus_109Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1 Sam 18:6-9; 19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuat-kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya.

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus.

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal serta mengalami cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39).

Orang Kudus yang kita peringati hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan ‘ribet’, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan ‘ngalor-ngidul’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Engkau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Engkau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudari-saudara kami yang lain, guna menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang yang mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 18 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 14 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Kapusin

pppas0118 JESUS HEALS THE LEPERSeseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: 1 Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Memang menarik untuk berspekulasi tentang apa yang ada dalam pikiran orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkan dirinya dan memperingatkan dengan keras kepadanya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang penyembuhan tersebut (Mrk 1:44). Apakah dia begitu dipenuhi dengan antusiasme sehingga dirinya terdorong dan penuh semangat untuk menceritakan semua yang dialaminya kepada orang-orang yang dijumpainya? Atau, apakah dia berpikir bahwa dengan “memberikan kredit” kepada Yesus atas penyembuhan yang dialaminya, dia sebenarnya membantu Yesus? Apa pun alasannya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terus kita lihat ada dalam Injil-nya: (1) rahasia mesianis dan (2) ketegangan yang sebentar lagi akan terus membayangi Yesus.

Sepanjang Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menerima gelar “Mesias” (Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan atau menggaris-bawahi keengganan Yesus ini sehingga dengan demikian ia dapat menunjukkan bahwa berbagai mukjizat dan tanda heran tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai sang Mesias. Berbagai mukjizat dan tanda heran menunjuk pada suatu pernyataan yang lebih penuh, yaitu bahwa Sang Terurapi akan membebaskan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di kayu salib. Jadi, siapa saja yang akan menjadi seorang murid dari Mesias haruslah memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk tidak diam (tidak banyak omong), maka orang kusta yang disembuhkan itu dengan tak sengaja memicu ketegangan yang membawa dampak pada pelayanan Yesus selanjutnya.  Sampai hari itu, setiap hal telah berjalan dengan sangat baik – boleh dikatakan sangat fantastis. Akan tetapi, tiba-tiba masalahnya menjadi rumit: “Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini mengisyaratkan adanya konfrontasi yang akan dialami oleh Yesus dengan banyak pemuka/pemimpin agama Yahudi, suatu konfrontasi yang akhirnya menggiring-Nya kepada kematian di kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus menyadari bahwa karya pelayanan-Nya akan menyebabkan konflik. Seperti orang kusta yang telah disembuhkan namun tidak kooperatif – mengabaikan perintah Yesus atau berpikir bahwa tindakannya akan memperbaiki rencana Allah, kodrat manusia kita yang cenderung berdosa akan – mau tidak mau – akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun begitu, hal ini tidak pernah membuat Yesus mundur dari karya-Nya melakukan kebaikan: menyembuhkan orang sakit, memberi pengajaran dan mengambil orang-orang untuk datang kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Yesus menerima “biaya” konflik, dimusuhi oleh para petinggi agama, bahkan mengalami kematian yang mengenaskan …… demi membebas-merdekakan kita.

Saudari-Saudara, marilah kita mengikuti jejak sang Mesias yang telah memilih “jalan perendahan”, taat kepada Bapa-Nya dalam kerendahan hati (lihat Flp 2:6-8). Sekarang, janganlah kita pilih-pilih. Marilah kita memberikan kepada Yesus seluruh hati kita. Dengan demikian, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya kita mengalami relasi yang lebih mendalam dengan Dia.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Melakukan kehendak-Mu adalah kesenanganku, ya Tuhan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membebas-merdekakan diriku untuk menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Sam 4:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “TAAT KEPADA ALLAH DAN SETIA KEPADA KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 14-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 12 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESELAMATAN DARI YESUS

KESELAMATAN DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 13 Januari 2016

JESUS HEALS THE SICK - 001Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1 Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Pernahkah anda berhenti dan berpikir tentang cara yang luarbiasa bagaimana Allah menciptakan kita (anda dan saya)? Bilamana kita sedang menanggung derita dalam satu aspek kehidupan kita – apakah itu penderitaan spiritual/rohani, psikologis/kejiwaan, atau fisik/badani – maka setiap hal lainnya dapat menjadi tidak seimbang … out of balance!  Pikirlah dan bayangkanlah bagaimana orang-orang yang menderita karena relasi yang terluka cenderung untuk lebih rentan terhadap sakit-penyakit. Pikirlah dan bayangkanlah bagaimana sehatnya dan wajah yang berseri-seri memancarkan kebahagiaan seorang pengantin perempuan pada hari pernikahannya. Sungguh mentakjubkan jika kita sungguh merenungkan betapa kompleksnya kita sebagai manusia.

Bayangkanlah ibu mertua Petrus yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya karena sakit demam. Pikiran-pikiran apa yang kiranya berkecamuk dalam kepalanya? Kenyataan bahwa seorang rabi muda usia yang populer datang berkunjung ke rumahnya, dan ia tidak mampu untuk menyambut dan melayani dengan penuh hospitalitas kepada “tamu agung” tersebut? Apakah perempuan itupun menjadi frustrasi karena ketidakmampuannya untuk bergabung dengan orang banyak guna mendengar pengajaran-Nya? Apakah kekhawatirannya akan fisiknya yang semakin lemah karena penyakitnya? Akan tetapi, dengan perintah yang sederhana (namun penuh dengan kuat-kuasa) yang diucapkan Yesus, ia pun disembuhkan. Demamnya langsung hilang, dan ia pun menerima rahmat untuk meninggalkan segala kesusahan hatinya dan menyediakan diri sepenuhnya untuk melayani para tamu yang datang ke rumahnya.

IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKANDari sejak awal Yesus menunjukkan bahwa Ia datang ke tengah dunia untuk membawa keselamatan penuh – kesembuhan dalam artiannya yang lengkap. Yesus tidak hanya muncul satu hari, wafat di kayu salib, dan kembali ke surga. Tiga tahun lamanya Yesus berkeliling di tanah Galilea, Yudea dll. guna melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak (Ingat peristiwa terang yang ketiga dalam doa Rosario). Berjam-jam setiap harinya Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan membuat berbagai tanda heran lainnya, seperti mengusir roh-roh jahat yang merasuki pribadi manusia, memulihkan penglihatan orang dan Ia tak bosan-bosannya menawarkan pengharapan kepada orang-orang yang sedang dilanda kekhawatiran dan rasa takut (lihat Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2). Yesus datang untuk membawa suatu restorasi lengkap-total bagi kepribadian kita masing-masing, sesuatu yang dimulai dalam hidup ini dan mencapai kepenuhannya pada waktu kita dipersatukan dengan Dia pada akhir zaman.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita? Apakah kita percaya bahwa Dia dapat menyembuhkan berbagai kenangan/ingatan yang menyakitkan, memulihkan relasi-relasi yang berantakan, dan membuang sakit-penyakit fisik yang kita derita?

Saudari dan Saudaraku dalam Kristus, marilah kita melangkah dalam iman untuk menghadap Dia. Percayalah bahwa Dia baik. Iman seperti ini dapat memindahkan penghalang-penghalang, bahkan penghalang yang besar seperti sebuah gunung (lihat Mat 17:20). Iman seperti ini dapat membuat kita menjadi mengakar kuat dalam kasih Kristus. Dengan demikian, apakah kita telah disembuhkan secara sempurna atau belum, kita akan tetap mengalami damai-sejahtera karena kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan mengalami restorasi secara penuh.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh semua perkaraku dan keprihatinanku di dekat kaki-kaki-Mu dan percaya sepenuhnya bahwa Engkau akan memperhatikan semua itu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah diriku bagaimana memahami dengan penuh dan benar kepenuhan dari keselamatan yang Engkau rencanakan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 3:1-10.19-20), bacalah tulisan yang  berjudul “BERBICARALAH TUHAN, SEBAB HAMBA-MU INI MENDENGARKAN(bacaan tanggal 13-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 11 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 12 Januari 2016)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan Kapusin 

YESUS MENGAJAR - DALAM SINAGOGA DI NAZARETYesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1 Sam 2:1:1,4-7

Orang-orang yang hadir dalam rumah ibadat (sinagoga) di Kapernaum merasa takjub mendengar pengajaran Yesus (Mrk 1:22) dan takjub juga menyaksikan bagaimana Yesus mengusir roh jahat yang merasuki seseorang (Mrk 1:27). Akan tetapi kelihatannya orang-orang itu tidak merasa kaget (tidak kaget-kaget amat) bahwa ada seseorang yang dirasuki roh jahat.

Sepanjang Perjanjian Baru memang ada pandangan umum bahwa orang-orang dewasa, bahkan anak-anak dapat diganggu dan dirasuki oleh roh-roh jahat (lihat Mrk 7:25; Luk 8:2,27; Kis 8:7). Roh-roh jahat yang memang bersifat jahat, misterius, mengganggu serta dapat merusak kesehatan seseorang pernah dipandang sebagai dewa-dewa yang inferior – personifikasi  dari kuat-kuasa di belakang sakit-penyakit manusia, penyembahan berhala dan bid’ah. Namun sekarang ilmu kedokteran sudah banyak menghasilkan kemajuan, pemahaman kuno tentang roh jahat sebagai sumber penyakit menjadi mereda, sayangnya semua itu dianggap takhyul…… diabaikan oleh mereka memandang diri sebagai orang-orang rasional!

Sebagai umat Kristiani kita percaya, bahwa makhluk-makhluk spiritual seperti roh jahat dan malaikat memang eksis/ada. Katekismus Gereja Katolik, mengatakan: “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang ini bersifat sama jelas” (KGK, 328). Sejumlah malaikat – seperti kita ketahui – telah memberontak melawan Allah dan menolak-Nya dan juga pemerintahan-Nya (KGK, 391,392).

demons_flee_in_Christs_presenceKepala pemberontak ini adalah Iblis (Setan). Dalam dunia ini Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bekerja keras untuk menyebarkan kebencian mereka terhadap Allah. Mereka membisikkan kebohongan dan cerita-cerita yang separuh-benar untuk mengikat kita-manusia dalam ketakutan atau ketidakpedulian terhadap kasih Allah. Mereka menggoda kita dengan pikiran-pikiran kotor, menumbuhkan ketidakpuasan dalam diri kita terhadap hidup kita dan orang-orang yang kita cintai, dan juga membuat kita menderita penyakit ini-itu.

Koleksi berbagai kebenaran ini dapat melumpuhkan semangat kita. Iblis kelihatan sungguh menakutkan dan terasa begitu penuh kuat-kuasa. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa sehebat-hebatnya Iblis, dia tetaplah makhluk ciptaan. Kuat-kuasanya tetap terbatas, demikian pula dengan kemampuan-kemampuannya. Lagipula dia tidak pernah akan dapat mengalahkan kasih Allah atau rencana-Nya bagi Kerajaan-Nya (KGK, 395).

Saudari dan Saudaraku, Iblis dan roh-roh jahatnya itu riil – bukan bohong-bohongan seperti cerita Harry Potter. Kita perlu percaya akan keberadaan makluk-makluk jahat itu. Kita menaruh kepercayaan kepada Allah – yang dalam belas-kasih-Nya – akan membimbing kita dan segenap sejarah manusia – sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya di akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah setiap orang yang berada di bawah penindasan Iblis. Katakanlah kebenaran-Mu kepada mereka yang percaya pada kebohongan-kebohongan yang berasal dari si Jahat dan/atau para roh jahat pengikutnya. Sembuhkanlah orang-orang yang menderita sakit-penyakit karena pengaruh si Jahat dan para pengikutnya. Lindungilah orang-orang yang digoda oleh Iblis melalui nafsu, kecanduan, dan keserakahan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “PENGALAMAN AKAN KEHADIRAN-NYA DAN KUAT-KUASA-NYA” (bacaan tanggal 12-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 11 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA BANYAK CARA UNTUK MEMBERI MEREKA MAKAN

ADA BANYAK CARA UNTUK MEMBERI MEREKA MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 5 Januari 2016) 

Feeding_the_5000006Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2-4,7-8

“Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37).

Bagi para murid-Nya, kata-kata Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan!”, tentunya mengagetkan mereka, karena boleh dikatakan mereka tidak percaya akan kata-kata Yesus itu. Apa yang mereka punya hanyalah beberapa roti dan ikan. Bagaimana mungkin mereka memberi makan kepada orang yang begitu banyak jumlahnya dengan jumlah makanan yang begitu sedikit, dan mengharapkan dapat keluar hidup-hidup dari tengah-tengah kumpulan orang banyak itu?

“Kamu harus memberi mereka makan!”  Sampai hari ini Yesus mengatakan kepada kita semua – para murid-Nya – kata-kata yang sama, untuk melakukan karya dalam rangka memajukan kerajaan-Nya. Dunia di sekeliling kita dipenuhi dengan penderitaan, kelaparan, ketidakadilan, dan hati manusia yang dipenuhi kepahitan, kekecewaan dlsb. Lebih buruk lagi, banyak orang mengalami suatu kemiskinan rohani yang lebih menyakitkan, di mana mereka tidak mengetahui/mengenal pengharapan akan kasih Alah atau janji akan kehidupan kekal.

Menanggapi semua kebutuhan ini, Yesus memanggil kita masing-masing untuk memberikan kepada dunia sesuatu untuk dimakan. Ia memanggil kita untuk mempunyai sesuatu yang dapat menyembuhkan dan menopang semua orang yang mempunyai kebutuhan – apakah dalam pikiran, badan, atau roh. Sebagaimana dialami oleh para murid-Nya dalam bacaan Injil di atas, panggilan Yesus ini dapat menjadi cukup menakutkan bagi kita. Berbagai sumber daya yang kita miliki begitu sedikit, dan kebutuhan di depan mata kita sangatlah besar. Bagaimana mungkin kita dapat memberi makan kepada mereka?

teresa-webAda banyak cara untuk “memberi mereka makan”. Pada tingkatan tertentu, kita dapat memberi donasi berupa uang untuk program-program yang digunakan untuk memberi makanan dan pakaian bagi orang-orang miskin. Kita dapat mengunjungi dan menghibur mereka yang sakit, menjadi sukarelawati/wan melayani di rumah singgah atau dapur umum (kalau ada) dlsb. Pada tingkatan lainnya, kita dapat melakukan semua hal ini melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Kita dapat mencapai orang-orang dengan doa-doa penyembuhan dan pelepasan. Kita dapat menunjukkan kepada mereka kuat-kuasa Injil guna mengubah hati manusia. Pada dua tingkatan itu, kuncinya adalah sama, baik pada hari ini maupun pada zaman Yesus. Yesus ingin mengambil sedikit yang kita punya dan kemudian melipat-gandakannya bagi orang-orang lain – baik secara fisik (materiil) maupun rohani (spiritual). Jika kita melangkah saja ke luar dalam iman, dan membawa kepada Yesus apa yang miliki, dan menaruh kepercayaan pada-Nya bahwa Dia akan melakukan sesuatu dengan itu, maka kita pun akan menyaksikan betapa dahsyat kuat-kuasa Yesus tersebut.

Kita (anda dan saya) harus senantiasa mengingat Kristus yang ada dalam diri kita masing-masing. Sebagai anggota Gereja yang sudah dibaptis, kita mempunyai Roh Kudus. Mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya bukanlah sekadar hal-hal dari masa lampau. Yesus juga ingin membuat mukjizat dan tanda heran lainnya yang tak terhitung jumlahnya pada hari ini, melalui kita para murid-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku rasa percaya yang besar akan kuat-kuasa dan kasih-Mu. Pada hari ini, aku mempersembahkan berbagai talenta dan sumber daya yang kumiliki kepada-Mu, sehingga dengan demikian Engkau dapat melakukan pekerjaan besar  bagi orang-orang lain melalui diriku. Tuhan, aku ingin memberi mereka sesuatu untuk dimakan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:34-44), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS AGAR PARA MURID-NYA MELIBATKAN DIRI” (bacaan tanggal 5-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016.

Cilandak, 2 Januari 2015 [Peringatan S. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS