Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

SANG JANDA DI GERBANG KOTA NAIN

SANG JANDA DI GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Sabtu, 27 Agustus 2016)

jesus-raises-widow-of-nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor:26-31; Mazmur Tanggapan: 33:12-13,18-19,20-21

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur  separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

SANTA MONIKAPada hari ini Gereja memperingati Santa Monika [331-387] dari Afrika Utara, salah seorang kudus yang sangat dicintai oleh umat. Monika adalah ibunda dari seorang kudus terkemuka dalam Gereja, Santo Augustinus dari Hippo [354-430], Uskup dan Pujangga Gereja. Mengapa Gereja justru memilih bacaan Injil hari ini dalam memperingati perempuan kudus ini?

Seperti sang janda dari Nain itu, Santa Monika sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil. Yesus berkata kepada  janda itu untuk tidak menangis (Luk 7:13). Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda. Dalam keheningan doa-doa penuh air mata dari Monika yang memohon agar jiwa Augustinus diselamatkan, kiranya Tuhan Yesus pun berkata kepadanya, “Jangan menangis!”  Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Rahmat-Nya bekerja, dan kita pun mempunyai salah seorang kudus besar tokoh Gereja yang dihormati juga oleh saudari-saudara kita Kristiani yang Protestan.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGENANG YESUS, MONIKA DAN SANG JANDA DARI NAIN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016.   

Cilandak, 25 Agustus 2016 [Peringatan S. Ludovikus IX, Raja – OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 3 Agustus 2016) 

YESUS DAN PEREMPUAN KANAANKemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yer 31:1-7; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Pernahkah Saudari-Saudara memikirkan dan bertanya kepada diri sendiri apakah anda seorang Kristiani positif atau seorang Kristiani yang  negatif? Dua hal itu sangat berbeda satu sama lain. Apabila anda adalah seorang Kristiani yang positif, maka anda menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik karena pengaruh baik dan positif atas diri orang-orang lain. Sebaliknya, jika anda adalah seorang Kristiani yang negatif, maka anda menjadikan dunia ini lebih buruk dan lebih rusak karena dosa daripada sebelum anda datang.

Ada banyak tes dengan mana kita dapat melihat apakah kita adalah orang yang positif/plus atau negatif/minus sebagai seorang Kristiani. Satu cara adalah lewat sikap yang kita ambil terhadap tindakan-tindakan orang lain. Misalnya, apakah sikap yang kita (anda dan saya) ambil terhadap Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Apakah kita merasa  negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus? Apakah anda kaget dan merasa tidak enak tentang sikap dan kata-kata Yesus yang terasa kasar atau “dingin” terhadap perempuan Kanaan itu?

Atau, apakah kita merasa positif tentang Yesus di sini? Apakah kita bertanya, “Apakah yang Yesus ketahui, sedangkan aku tidak ketahui, sampai-sampai Dia men-tes perempuan kafir ini? Apakah Yesus mengetahui ada sebuah rumah harta iman dan kerendahan hati dalam diri perempuan Kanaan yang hebat ini, sehingga Yesus dapat menyatakan dengan cara terbaik tentang hal itu lewat men-tes perempuan itu? Dalam kenyataannya, itulah tentunya yang terjadi. Yesus men-tes perempuan itu, dan imannya, kerendahan hatinya, dan ketekunannya ternyata indah dan berkenan kepada-Nya.

Ini adalah semuanya kualitas doa dan kualitas hidup yang Yesus ajarkan tanpa bosan-bosan. Adakah cara lain yang lebih baik yang dapat diajarkan-Nya, kecuali dengan menggunakan sebuah contoh hidup kepada kita? Perempuan Kanaan yang beriman  adalah jawaban perempuan kepada orang laki-laki beriman, perwira Romawi. Perwira ini juga dipandang oleh Yesus sebagai contoh dari iman yang besar: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Jadi, apakah sebenarnya yang diajarkan Yesus lewat contoh perempuan Kanaan ini? Ada beberapa hal: (1) Jangan menyerah jika doa kita tidak langsung dijawab. (2) Allah men-tes atau menguji, untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita. (3) Janganlah kita mengancam Allah atau membuat tuntutan-tuntutan dengan doa kita. Kita harus menaruh kepercayaan terhadap kasih-Nya bagi kita, seperti yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan ini. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Allah mengasihi diri kita masing-masing sepenuhnya seperti Dia mengasihi orang-orang yang terjawab doanya. Dapat saja Tuhan melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan riil dalam iman dan keberanian, dalam hal kesabaran dan ketekunan. Percayalah Allah melihat bahwa kita kiranya membutuhkan keutamaan-keutamaan ini lebih daripada hal-hal lain yang kita mohonkan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku. Perkenankanlah aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya kepada-Mu untuk membuang segala hal yang menghalangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “HAI IBU, BESAR IMANMU!” (bacaan tanggal 3-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 1 Agustus 2016 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

PENYEMBUH YANG TERLUKA

PENYEMBUH YANG TERLUKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 1 Agustus 2016)

1-pppas0108Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79-80,95,102  

Yesus baru saja menerima berita yang terburuk yang pernah didengar-Nya Mat 14:13). Yohanes Pembaptis, saudara dan sahabat-Nya, baru saja dipancung kepalanya atas perintah Herodes Antipas. Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan (Mat 3:13 dsj.). Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai orang yang terbesar yang pernah lahir di dunia (Mat 11:11). Sekarang Yohanes Pembaptis telah mati, dibunuh dan menjadi martir.

Tentu saja Yesus sendiri terkejut dan terluka hati-Nya. Lalu Dia menyingkir ke tempat yang sunyi untuk menyendiri (Mat 14:13). Namun gerombolan orang banyak berdatangan mengikuti-Nya (Mat 14:14). Yesus sangat terharu melihat mereka semua dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Maka Dia menyembuhkan banyak orang dan membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ekor ikan guna memberi makan banyak orang (Mat 14:19-21).

1-141Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis tentang Yesus yang dilihatnya sebagai sang hamba YHWH yang menderita seperti digambarkan dalam kitab Yesaya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:22-25; bdk. Yes 53:5-9). Berbagai sumber daya yang kita miliki namun tidak memadai akan dilipatgandakan untuk membaharui muka bumi.

Apabila kita (anda dan saya) menderita luka jasmani ataupun luka batin dan patah semangat, kita tidak hanya butuh disembuhkan, melainkan juga menyembuhkan orang lain. Apabila kita menderita kelaparan di daerah yang tandus, bukan saja kita butuh diberi makan melainkan juga memberi makan. Dalam luka-luka dan kelemahan kita, kuasa penyembuhan ilahi dan kuasa untuk melipatgandakan akan muncul dengan sempurna (2Kor 12:9). Inilah hakekat dari seorang “penyembuh yang terluka” (Inggris: wounded healer).

Jikalau kita (anda dan saya) memanggul salib setiap hari, maka kita tidak hanya menderita karena kelemahan kita melainkan juga kita memerintah dalam kuasa-Nya (2Kor 13:4). Oleh karena itu marilah kita memberikan apa yang kita miliki: roti dan ikan kita (talenta, uang dll.), luka-luka dan kelemahan kita kepada Tuhan. Dia akan melipatgandakan itu semua dan menyediakan bantuan untuk yang mereka menderita, yang terluka serta patah hati, dan juga semangat dari umat kita.

DOA: Bapa surgawi, izinkanlah aku menanggapi kesengsaraanku ini dengan cara keluar menolong orang yang menderita juga.Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 1-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 7 Juli 2016) 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASPergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8c-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama kerja pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di kampung-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus mengerti sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mat 10:9-10). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan, bukan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mat 10:10 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, setiap kita diberi amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan bagi kasih dan kuasa-Nya untuk menang. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita. Allah sangat senang bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen (alat-alat), lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk melayani orang-orang lain dan menularkan belaskasih Allah kepada mereka: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMILIKI EKSPEKTASI ADANYA PENOLAKAN TERHADAP KARYA KERASULAN KITA” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 5 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

 

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 6 Juli 2016)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAYesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Menanggapi seruan-Nya sendiri bahwa “tuaian itu memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37), Yesus mengumpulkan kedua belas murid-Nya (rasul) dan mempersiapkan mereka untuk diutus menjadi misionaris-misionaris. “Diskursus misioner” dalam Matius 10 hampir pasti merupakan sebuah sebuah koleksi instruksi-instruksi berbeda-beda yang diberikan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya, yang digabung menjadi satu oleh Matius sebagai sebuah presentasi singkat berkaitan dengan “panggilan kepada pemuridan/kemuridan”. Ini adalah sebuah panggilan yang berlaku untuk setiap orang di segala zaman.

Yesus mengawali instruksi-Nya dengan memberikan kepada kedua belas rasul-Nya kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat 10:1). Kuasa yang diberikan Yesus ini adalah wujud nyata bahwa seorang murid-Nya haruslah mengambil bagian dalam kuasa/otoritas-Nya sendiri sebagai Tuhan (Kyrios) yang berdaulat. Kata Yunani untuk otoritas dalam bacaan ini – exousia – bukan sekadar berbicara mengenai kuasa atau kemampuan, melainkan juga yurisdiksi dan pengaturan – hak yang legitim untuk memberi perintah.

Yang paling mencolok tentang Yesus adalah bahwa Dia menggunakan otoritas-Nya itu dengan suatu “kasih yang sempurna” di mana Dia datang untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi (lihat Yoh 3:16-17). Tidak seperti para penguasa dunia pada zaman-Nya, Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, untuk menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi kita, agar kita dapat diperdamaikan dengan Bapa surgawi (Mat 20:28). Sikap rendah hati (kedinaan) dan kasih merupakan sumber otoritas Yesus; inilah yang memberikan kepada-Nya hak untuk mempraktekkan kuasa-Nya seperti kita lihat.

Apa makna semua ini bagi kita, para murid Yesus di zaman sekarang? Maknanya adalah bahwa melalui keputusan kita sehari-hari untuk mengikuti jejak Yesus dan menyatukan diri kita dengan diri-Nya, kita akan mengalami Dia memberi kepada kita otoritas atas dosa, sakit-penyakit, dan roh-roh jahat, teristimewa untuk kebaikan orang-orang lain. Namun hakekat otoritas ini adalah bahwa kita masing-masing, seperti Yesus,  memiliki sebuah hati yang penuh kasih (bahasa kerennya: a heart of love). Allah menginginkan agar kita menyerukan nama Yesus, mohon kepada-Nya untuk memberikan hati yang penuh kasih dan berorientasi pada pelayanan bagi sesama, hati yang dibentuk oleh hati-Nya sendiri yang penuh kasih itu. Kita akan mengenal dan mengalami kuasa Yesus itu tergantung pada sampai berapa dalam kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyatukan kita dengan Kristus yang bangkit, artinya sampai berapa besar kita mau membuka diri bagi karya Roh Kudus dalam diri kita. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita dapat bangkit dengan Dia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya (Yoh 14:12).

Yesus mendelegasikan otoritas-Nya kepada para rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat 10:7). Matius menulis Injilnya menjelang akhir abad I. Dia ingin agar para pembaca Injilnya di segala zaman menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab pewartaan itu pun telah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka juga, artinya termasuk kita semua. Namun kita harus selalu mengingat, bahwa tidak ada karya Kristus yang dapat pernah dilakukan oleh siapa pun, kecuali oleh seseorang yang  kepadanya telah didelegasikan otoritas untuk itu oleh-Nya sendiri. Ini adalah prinsip manajemen yang sederhana.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami tentang perbedaan antara otoritas duniawi dan otoritas surgawi. Ajarlah kami untuk berbela rasa dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar dapat menunjukkan bela rasa yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kami masing-masing pada waktu Dia wafat di kayu salib agar supaya kami dapat kembali berdamai dengan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BELAS RASUL DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 4 Juli 2016 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 5 Juli 2016) 

JESUS HEALS THE SICK - 001Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Yesus datang untuk meresmikan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoyahkan. Ia melihat orang banyak dengan penuh bela-rasa dan belas kasih (Mat 9:36). Ia melihat orang-orang berjalan kian kemari tanpa tujuan; kegairahan dan hasrat mereka mendorong diri mereka, dan mereka bertindak tanduk tanpa tujuan atau makna dalam kehidupan mereka. Banyak orang dilumpuhkan oleh rasa takut, ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan yang bersumber pada Iblis sendiri. Namun demikian, Yesus mengenal kasih Bapa surgawi yang diperuntukkan bagi setiap orang. Sebagai suatu pencerminan kasih ini, Yesus “berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35).

Dalam Kerajaan Allah, Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Orang-orang yang telah merangkul Kerajaan ini mengetahui siapa diri mereka dan siapa Raja mereka. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap Raja mereka dan kasih-Nya kepada diri mereka. Dia adalah “penghiburan mereka” (2Kor 1:3-4), dan kekuatan mereka (Mzm 28:7-8). Hasrat mereka adalah untuk mengasihi dan melayani Allah.

Mukjizat kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus atas orang bisu yang kerasukan roh jahat adalah sebuah tanda lagi bahwa sesungguhnya Dia ingin menyembuhkan kita semua, sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Bapa surgawi. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bagaimana keterikatan kita pada dosa menghalangi kita bersaksi atas kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Penyembuhan ini – yang terakhir dari serangkaian penyembuhan (10) yang menunjukkan Yesus sebagai sang Mesias yang berbuat baik (Mat 8:1-9:38) – adalah sebuah tanda lain dari karya penyembuhan yang ingin dilakukan oleh Mesias dari Allah dalam kehidupan kita.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSOrang-orang Farisi menyaksikan apa yang diperbuat oleh Yesus, namun mereka bersikukuh bahwa Yesus termasuk kelompok yang dipimpin oleh Iblis, dan Ia mendapat kuasa-Nya dari si Iblis (Mat 9:34). Jadi, pada bagian awal pelayanan Yesus di muka publik ini saja, kita telah melihat tanda-tanda konflik yang pada akhirnya akan menggiring-Nya ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati. Walaupun begitu, Yesus terus melanjutkan misi-Nya dan mengundang para murid-Nya untuk pergi sebagai pekerja-pekerja untuk menuai panenan yang memang banyak (Mat 9:37).

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan: “Yesus tidak menghentikan karya kasih-Nya karena orang-orang Farisi dan lain-lainnya membenci-Nya atau mencoba untuk merusak karya Bapa-Nya. Dia hanya pergi berkeliling melakukan kebaikan” (Total Surrender, hal. 150).  Itulah pesan bagi kita. Kita juga, yang merangkul Yesus, sang Mesias, dalam kehidupan kita, dipanggil sebagai Tubuh Kristus untuk bekerja bersama memajukan Kerajaan-Nya dengan mewartakan Kabar Baik dan memimpin orang-orang lain dengan kata dan tindakan kita untuk bertemu dengan Yesus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya.

DOA: Tuhan yang empunya tuaian, ciptakanlah dalam diri kami bela-rasa yang sejati bagi dunia kami yang menderita ini. Tolonglah kami untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “MINTALAH KEPADA TUAN YANG EMPUNYA TUAIAN” (bacaan tanggal 5-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 3 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

IMAN AKAN SENTUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 4 Juli 2016)

Ordo Franciscanus Saecularis (OFS): Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu

stdas0280Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Hos 2:13-15,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-9 

Dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan dua mukjizat yang dinarasikan. Ada sesuatu yang sangat serupa antara dua mukjizat tersebut, yaitu berkaitan dengan sentuhan Kristus dan iman akan sentuhan-Nya. Seorang pemimpin sinagoga datang kepada Yesus, menyembah-Nya, dan memohon kepada-Nya: “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat 9:18). Dengan imannya yang sederhana namun mantap, pemimpin sinagoga itu percaya, bahwa apabila Yesus datang ke rumahnya dan menyentuh anaknya, maka dia akan hidup kembali. Dengan iman pemimpin sinagoga itu melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya, karena pada saat Ia sampai dan masuk ke dalam rumah si pemimpin sinagoga Yesus “memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu” (Mat 9:23-25).

Di sisi lain, perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mat 9:21). Lagi-lagi imannya yang besar itulah yang menyembuhkan penyakitnya. Yesus bersabda kepada perempuan itu: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Inilah tanggapan Yesus  terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya.

yesus-menyembuhkan-wanita-yang-kena-plagueDalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka. Dalam Injil Lukas kita membaca: “Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:18-19; bdk. Mat 4:23-24).

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN VS KETIDAKPERCAYAAN” (bacaan tanggal 4-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS