Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 4 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Angela dr Foligno, Fransiskan Sekular

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” [1]  Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [2]

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. Lalu tersebarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. (Mat 4:12-17,23-25) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 3:22-4:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11

Catatan: [1] Yes 8:23-9:1; [2] Lihat Mat 3:2 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17).

Pernahkah anda ingin melarikan diri ketika mendengar kata-kata seperti “dosa” atau “bertobat”? Kata-kata sedemikian dapat membuat kita berpikir tentang membuang kebiasaan-kebiasaan buruk, membuat perubahan-perubahan yang terlalu sulit, atau memberikan kepada kita rasa “tak ada harapan” untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Namun kita pun seharusnya tahu bahwa Yesus datang membawa Kabar Baik, bukan kabar yang melumpuhkan semangat, pada waktu Dia memulai pelayanan-Nya di tengah masyarakat dengan seruan agar orang-orang meninggalkan dosa dan bertobat (Mat 4:17).

Kerajaan Allah memang sudah dekat, dan Yesus tidak mau kalau kita tidak mengetahui dan menyadari kenyataan tersebut. Yesus mendesak orang-orang untuk melihat hati mereka masing-masing dan mengidentifikasi cara-cara bagaimana mereka telah menyimpang dari jalan Allah atau telah meninggalkan rencana Allah, sehingga dengan demikian mereka dapat berbalik kepada Allah dalam pertobatan dan kemudian menerima pengampunan-Nya dan berkat-berkat lain yang disediakan Allah bagi dirinya.

Pada saat matahari terbit setiap pagi, sinarnya mencerahkan baik keindahan maupun keburukan dunia. Yesus adalah terang dari Allah sendiri. Dia juga mengungkapkan keindahan dan hal-hal yang tidak begitu indah dalam kehidupan kita. Dalam kehadiran-Nya, kita melihat dosa kita apa adanya – artinya penolakan terhadap Allah dan kasih-Nya, penolakan penuh kepentingan diri sendiri untuk mengasihi orang lain. Selagi Yesus membawakan kepada kita wawasan terhadap sifat dosa, Dia pun membawa kepada kita suatu hasrat untuk memperoleh kebebasan, kemurnian, dan hubungan yang diperbaharui dengan Bapa-Nya di surga.

Familiaritas dari dosa-dosa kita dapat menipu kita untuk berpikir bahwa tidak bergunalah bagi kita untuk bertobat, karena kita sungguh tidak dapat diubah. Siapakah yang akan memilih hidup di bawah perbudakan dosa, padahal Yesus telah membuat kebebasan sebagai sebagai suatu kemungkinan yang sangat riil bagi kita? Adalah kebenaran bahwa tanpa Yesus, dosa akan begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan. Yesus telah datang dengan segala kuat-kuasa ilahi untuk menghancurkan kekuasaan dosa dalam hidup kita – suatu kuat-kuasa yang telah ditunjukkan-Nya lewat penyembuhan- penyembuhan orang sakit (Mat 4:23-24).

Pertobatan bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Setiap hari Roh Kudus “mengusik” hati nurani kita guna menyadarkan kita dan menarik kita kepada hidup dengan Kristus yang lebih mendalam lagi. Roh Kudus ingin membentuk cara-cara sehari-hari kita berpikir dan memberi tanggapan terhadap orang-orang di sekeliling kita. Roh Kudus mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri, dan Ia dapat membentuk karakter Kristus dalam diri kita masing-masing.

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah sekarang kita memperkenankan Dia (Roh Kudus) untuk membersihkan kita dari dosa-dosa kita, menarik kita ke dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, dan memimpin kita ke dalam kasih yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik.

DOA: Bapa surgawi, melalui Roh Kudus-Mu nyatakanlah kepadaku di mana aku telah menyimpang dari jalan-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat melakukan pertobatan. Aku sungguh ingin untuk hidup dalam keindahan dari kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudul PEMBERITAAN TENTANG KERAJAAN SURGA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 4-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 31 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ISTIRAHAT ALLAH

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 30 Oktober 2015)

OFMCap.: Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomPada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSIstirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH” (bacaan tanggal 30-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 27 Oktober 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

MEMUJI DAN MEMULIAKAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Senin, 26 Oktober 2015 

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG PEREMPUAN PADA HARI SABAT DI SINAGOGA LUK 13 10 DSTPada suatu kali Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri tegak lagi. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak. “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Perempuan ini keturunan Abraham dan sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis; bukankah ia harus dilepaskan dari ikatannya itu?”  Waktu ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya. (Luk 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Rm 8:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2,6-7,20-21 

Melalui bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa semangat untuk memuji dan memuliakan Allah tidak boleh dilumpuhkan, melainkan harus didorong dan dipupuk. Bacaan Injil Lukas ini menunjukkan, bahwa ketika Yesus melihat perempuan yang bungkuk itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga tegaklah perempuan itu, dan memuliakan Allah (Luk 13:12-13). Kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, dan ia pun menyampaikan kepada orang banyak apa yang diyakininya berdasarkan hukum Taurat (Luk 13:14). Yesus menanggapi ocehan si kepala rumah ibadat tersebut dengan sangat efektif (Luk 13:15-16). Semua lawan-Nya merasa malu dan “semua orang banyak bersukacita karena segala perbuatan mulia yang telah dilakukan-Nya” (Luk 13:17).

Di atas kita dapat melihat betapa menakjubkan semangat “memuji dan memuliakan Allah” yang ditunjukkan oleh perempuan bungkuk yang disembuhkan oleh Yesus itu. Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh seorang pengemis buta di dekat Yerikho yang disembuhkan oleh Yesus (lihat Luk 18:35-43). Injil Lukas mencatat bahwa setelah disembuhkan, pengemis yang disembuhkan dari kebutaannya itu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Melihat hal itu, “seluruh rakyat memuji-muji Allah” (Luk 18:43). Ketika Yesus membangkitan putera dari janda di Nain (lihat Luk 7:11-17), semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Pada hari Minggu Palma, ketika Yesus mendekati Yerusalem dengan menunggang keledai, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah sambil menyanyikan Mzm 118:26 dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat (Luk 19:36-38). Kemudian beberapa orang Farisi berkata kepada Yesus, “Guru, tegurlah murid-murid-Mu itu.”  Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka diam, maka batu-batu ini akan berteriak” (Luk 19:39-40).

Apa implikasinya? Implikasinya adalah, bahwa Allah harus dipuji dan dimuliakan! Kita sebagai anak-anak Allah haruslah memuji dan memuliakan Allah. Jika kita menolak atau abai memuji dan memuliakan Allah, maka Allah akan membangkitkan orang-orang lain untuk memuji dan memuliakan-Nya. Dan jika kita mengakui karya-karya indah dan agung dari Yesus dalam hidup kita, maka tanggapan kita secara alamiah akan berupa tindakan memuji dan memuliakan Allah.

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat daripada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHAN-lah yang menjadikan langit. Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. (Mzm 96:1-6). Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MENERIMA ROH KUDUS YANG MENJADIKAN KAMU ANAK ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 23 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN DAN RASA SYUKUR

IMAN DAN RASA SYUKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [TAHUN B] – 25 Oktober 2015) 

BARTIMEUS - 000Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, ia memanggil engkau.” Orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus. Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?”  Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (Mrk 10:46-52) 

Bacaan Pertama: Yer 31:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 5:1-6

Bacaan Pertama hari ini dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang hidup dalam pengasingan di Babel. Barangkali “berada” di Babel adalah suatu cara yang lebih baik untuk mengatakannya, karena pada kenyataannya mereka adalah orang-orang tertindas, hidup sebagai para budak di dalam sebuah negeri asing yang terletak jauh dari tempat tinggal mereka di Palestina. Selama periode pengasingan (pembuangan), semangat keagamaan mereka hampir seluruhnya terserap dalam permohonan yang tak henti-hentinya agar supaya Allah akan mengingat mereka dan membebas-merdekakan mereka. Di atas segalanya, mereka rindu sekali untuk kembali ke negeri mereka sendiri, ke kota Yerusalem yang mereka cintai, dan teristimewa ke Bait Suci, di mana mereka menyembah YHWH-Allah. Allah, dalam bacaan dari Kitab Yeremia ini, berjanji bahwa Dia sungguh akan membebaskan umat-Nya dan memimpin mereka kembali dengan selamat ke negeri asal mereka. Allah memegang janji-Nya. Namun, setelah itu suatu hal yang aneh terjadi. Orang-orang itu (umat Allah) mulai menjauhi-Nya. Selama dalam pembuangan, yang mereka pikirkan tidak lain adalah Allah, satu-satunya pengharapan mereka. Setelah Allah memenuhi janji-Nya, walaupun mereka mulai dekat lagi dengan Bait Suci, praktis mereka melupakan segala sesuatu tentang Allah.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa yang mempunyai kebutuhan akan pertolongan Allah bukanlah sebuah umat, melainkan seorang pribadi. Bartimeus – Anak Timeus – adalah seorang buta. Dari gambaran mendalam yang diberikan oleh Injil berkenan dengan insiden ini, kita dapat memperoleh kesan tersendiri bahwa Bartimeus adalah seorang yang masih muda usia, bukan seorang tua yang daya penglihatannya kian menurun, walaupun secara bertahap, yang hanya beberapa tahun saja sebagai sisa hidupnya di atas bumi. Seluruh hidupnya terbentang di hadapannya, namun demikian ia tertindas oleh segala hal yang menimpa dirinya, seorang budak dari kegelapan yang terus-menerus dan bersifat tetap. Jadi, tidak mengherankanlah apabila orang buta ini tidak ragu-ragu untuk berseru, “Yesus, anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:47) ketika dia mendengar bahwa Yesus-lah yang lewat.  Ketika dia ditegur oleh banyak orang yang mencoba untuk menghentikan teriakannya, dia malah berseru dengan lebih keras lagi, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:48).

Pada saat itu, Bartimeus tidak memikirkan apa pun kecuali kemungkinan bahwa Yesus akan menyembuhkan dirinya dari kebutaan. Dan Yesus memang menyembuhkannya! Pada saat ia mempunyai kebutuhan yang besar, Bartimeus berpaling kepada Yesus, namun kita harus bertanya-tanya apakah yang akan terjadi setelah kesembuhannya. Apakah imannya kepada Yesus akan mengendur secara berangsur-angsur setelah dirinya dibebaskan dari kebutaan, seperti yang terjadi dengan nenek moyangnya setelah mereka dibebas-merdekakan dari pembuangan di Babel? Kita tidak memiliki indikasi kuat bahwa Bartimeus adalah salah satu dari sedikit orang yang menjadi pengikut Yesus yang setia, namun kita juga mau melihatnya secara positif. Injil mencatat yang berikut ini: Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (Mrk 10:52).

Ayat terahir ini merupakan puncak seluruh kisah. Kiranya pertama kali seumur hidup Bartimeus sungguh bergerak bebas! Tetapi saat ia sembuh, Bartimeus menggunakan kebebasan yang baru diperoleh untuk mengikuti Yesus. Mana yang lebih baik menggunakan kebebasan daripada mengikat diri kepada Tuhan? (P. Van Breemen SJ, MENUNGGU FAJAR MEREKAH [AS CERTAIN AS THE DAWN], Yogyakarta: Kanisius, 1982,  hal. 84).

DOA PRIBADIKita semua kiranya dapat menerima kenyataan bahwa apabila kita berada dalam kesusahan besar, ketika kita sungguh membutuhkan pertolongan, maka hampir secara instinktif kita akan berpaling kepada Allah supaya memperoleh pertolongan. Doa sedemikian tentunya baik, namun mengapa kita merasa begitu susah mengingat untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah? Satu alasan mungkin karena kita mempunyai ide bahwa doa pada dasarnya adalah mengajukan permohonan kepada Allah untuk hal-hal yang kita butuhkan. Doa mempunyai makna yang jauh melampaui dari sekadar pengajuan permohonan kepada Allah. Doa mencakup juga juga memuji Allah untuk kebaikan dan kuat-kuasa-Nya, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya karena Dia juga meneruskan kebaikan dan kuat-kuasa-Nya kepada kita.

Barangkali alasan mengapa kita tidak berterima kasih kepada Allah dengan cara yang sepatutnya, jauh lebih mendalam daripada sekadar karena “terlupa”, atau karena gagal untuk menyadari bahwa doa mencakup juga ungkapan syukur. Di kedalaman hati kita, kita mungkin merasakan bahwa ada hal-hal kecil untuk mana kita harus merasa bersyukur. Hidup itu sulit – misalnya mengupayakan hidup perkawinan yang berbahagia, melakukan yang terbaik untuk membesarkan anak-anak kita pada saat-saat di mana situasi-kondisi hidup modern kelihatan begitu menentang kita, bekerja untuk memenuhi berbagai kebutuhan di bidang keuangan walaupun kelihatannya sulit sekali, dan mempertanyakan apakah semua itu bukanlah upaya yang sia-sia. Kita dapat mengembangkan sejenis myopia atau kesempitan pandangan, selagi kita hanya melihat masalah-masalah yang sekarang ada di bawah hidung kita dan gagal untuk memusatkan perhatian pada segala hal indah yang Allah telah lakukan bagi kita dan janjikan kepada kita di masa depan. Memang masalah kita adalah “kesempitan pandangan rohani” (spiritual myopia). Jadi, apabila kita ingin memohon sesuatu dalam doa, kita harus memohon kepada Yesus untuk menjernihkan visi spiritual kita, seperti Dia menyembuhkan Bartimeus dari kebutaan fisiknya. Iman adalah satu-satunya penyembuh atas kesempitan pandangan rohani, suatu iman mendalam yang memampukan kita untuk melihat dengan jelas kebenaran dari mazmur tanggapan hari ini: “TUHAN (YHWH)  telah melakukan perkara besar kepada kita” (Mzm 126:3).

Yesus berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk 10:52). Memang tidak ada obat penyembuh selain iman. Tanpa iman sejati, kita akan melihat agama seperti balon seorang anak kecil, yang penuh dengan gambar indah di bagian luar, namun hanya diisi dengan udara di bagian dalam. Balon seperti itu mudah pecah. Dengan iman, kita dapat melihat dari bagian luar balon tersebut dan menyadari bahwa balon itu dipenuhi dengan kekuatan dan kebaikan Allah, dan balon tersebut akan berkembang secara konstan tanpa pernah meletus. Hanya dengan iman kita dapat melihat dengan jelas bahwa “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita”, dan bahwa kita mempunyai alasan mendalam untuk memuji dan berterima penuh syukur kepada-Nya untuk kuat-kuasa-Nya dan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami bersyukur penuh terima kasih kepada-Mu karena dalam Yesus Kristus, Putera-Mu, Terang-Mu datang di dunia, membebaskan kami dari kegelapan dan mengundang kami ke jalan kehidupan. Ia beserta kami selalu, asal kami memiliki mata untuk melihat; dan Ia berbicara kepada kami selalu, asal kami memiliki telinga untuk mendengar. Berilah kepada kami mata baru dan telinga baru, agar kami mampu melihat kehadiran-Nya dan mendengar panggilan-Nya dalam hidup kami dan hidup orang lain. Berilah juga kepada kami keberanian untuk mengikuti jejak-Nya dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:46-52), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT-KUASA YANG TERKANDUNG DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 25-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2015. 

Cilandak, 23 Oktober 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATA TOBIT DISEMBUHKAN

MATA TOBIT DISEMBUHKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup-Martir – Jumat, 5 Juni 2015)

 TOBIT DISEMBUHKAN MATANYA

Dalam pada itu duduklah Hana mengamati jalan yang harus ditempuh anaknya. Ia pun telah mendapat firasat bahwa anaknya tengah datang. Berkatalah Hana kepada ayah Tobia: “Sungguh anakmu tengah datang dan juga orang yang menyertainya.”

Sebelum Tobia mendekati ayahnya berkatalah Rafael kepadanya: “Aku yakin bahwa mata ayahmu akan dibuka. Sapukanlah empedu ikan itu kepada matanya. Obat itu akan memakan dahulu, lalu mengelupaskan bintik-bintik putih itu dari matanya. Maka ayahmu akan melihat lagi dan memandang cahaya.”

Adapun Hana bergegas-gegas mendekap anaknya, lalu berkatalah ia kepadanya: “Setelah engkau kulihat, anakku, maka mulai sekarang aku dapat mati.” Maka ia menangis. Tobitpun berdiri dan meskipun kakinya tersandung namun ia keluar dari pintu pelataran rumah. Tobia menghampiri dengan empedu ikan itu di tangan lalu ditiupinya mata Tobit, ditopangnya ayahnya dan kemudian berkatalah ia kepadanya: “Tetapkanlah hati, pak!” Selanjutnya obat itu dikenakannya padanya dan dibiarkannya sebentar. Lalu dengan kedua tangannya dikelupaskannya sesuatu dari ujung-ujung matanya. Maka Tobit mendekap Tobia sambil menangis. Katanya: “Aku melihat engkau, anakku, cahaya mataku!” Ia menyambung pula: “Terpujilah Allah, terpujilah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat-Nya yang kudus. Hendaklah nama Tuhan yang besar ada di atas kita dan terpujilah hendaknya segala malaikat untuk selama-lamanya. Sungguh aku telah disiksa oleh Tuhan, tetapi kulihat anakku Tobia!” Kemudian masuklah Tobia ke rumah dengan sukacita sambil memuji Allah dengan segenap hatinya. Diceritakannya kepada ayahnya bahwa perjalanannya berhasil baik; bahwa ia telah uang itu dan sudah mengambil Sara anak perempuan Raguel menjadi isteerinya dan bahwa isterinya masih dalam perjalanan dan sudah dekat pada pintu gerbang kota Niniwe.

Maka keluarlah Tobit menjemput anak menantunya pada pintu gerbang kota Niniwe dengan sukacita seraya memuji Allah. Melihat Tobit berjalan dan maju dengan kekuatannya seperti dahulu tanpa diantar oleh siapapun maka tercengang-cenganglah penduruk kota Niniwe. Tobitpun lalu mengumumkan di hadapan mereka bahwa ia telah dikasihani oleh Allah yang telah mencelikkan matanya. Akhirnya Tobit mendekati Sara, isteri anaknya Tobia, lalu diberkatinya dengan berkata:”Selamat datang, anakku. Terpujilah Allahmu yang mengantar engkau kepada kami, hai anakku! Tuhan memberkati ayahmu, memberkati anakku Tobia dan memberkati engkau sendiri, hai anakku. Masuklah ke rumahmu dengan selamat, dengan berkat dan gembira! Masuklah, hai anakku!” (Tob 11:5-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,7-10; Bacaan Injil: Mrk 12:35-37

Dari awal sampai akhir, Kitab Tobit adalah sebuah testimoni tentang kesetiaan Allah, kuat-kuasa-Nya, dan belas kasih-Nya. Dengan bantuan Rafael dan doa-doa Tobia, Sara dilepaskan/dibebaskan dari kuasa roh jahat dan dibawa ke dalam suatu perkawinan yang penuh berkat. Sekarang, Allah juga mempersiapkan segalanya untuk memulihkan penglihatan Tobit dan harta-kekayaannya – seperti yang telah dijanjikan oleh Rafael.

Marilah kita membaca dengan cepat Kitab Tobit dan juga kitab-kitab lain dalam Kitab Suci – agar dapat memperoleh pandangan sekilas tentang cara Allah menyembuhkan berbagai penyakit. Tobia tidak hanya mendapat seorang isteri, dia juga mendapat separuh harta-kekayaan Raguel dan mendapat tagihan ayahnya dari Gabael dan dapat memulai hidup keluarga dengan isterinya. Tetapi Tobia tidak melakukannya, dia pulang ke rumah ayahnya yang menderita kebutaan dan melakukan pelayanan penyembuhan Allah terhadap diri ayahnya. Marilah kita bayangkan: Tobia, seorang laki-laki muda yang baru saja menikah, sehat wal’afiat dan penuh semangat, dengan segala kehidupan di depannya, memilih untuk mendampingi Tobit yang sudah tua, miskin, buta dan diabaikan. Tobia mau mengotori dirinya sendiri dengan masalah-masalah ayahnya, dan dalam prosesnya membawa kesembuhan. Allah tidak hanya menyembuhkan Tobit begitu saja, melainkan bekerja melalui Tobia.

Kita harus menyadari bahwa kita telah disembuhkan, diselamatkan, dan dibebaskan dari kuasa roh jahat, bukan demi diri kita sendiri, melainkan dengan demikian kita dapat melayani Injil kepada orang-orang lain juga. Tobia telah dipakai Allah untuk menjadi instrumen sentuhan kesembuhan-Nya. Demikian pula Allah ingin menggunakan kita untuk melayani terkait kesetiaan-Nya dan belas kasih-Nya. Kita (anda dan saya) tidak perlu menjadi orang yang sempurna atau berhasil. Yang diperlukan adalah kemauan dan ketersediaan kita. Roh Kudus, yang hidup di dalam diri kita masing-masing, senantiasa siap untuk membimbing dan memberdayakan kita.

Selagi kita menerima keselamatan dan berkat berkesinambungan dari Allah, kita tidak boleh melupakan mereka yang tersisihkan, mereka yang patah hati, mereka yang menderita, karena merekalah orang-orang yang dikasihi Kristus, dan Ia memang mengidentifasikan diri-Nya dengan orang-orang ini (lihat Mat 25:31-46). Tentunya ada banyak orang di sekeliling kita yang hampir berputus asa seperti Sara dan Tobit. Barangkali – seperti Sara dan Tobit – mereka juga telah berseru kepada Allah untuk memperoleh pertolongan. Allah jelas ingin mencurahkan belas kasih-Nya dan kasih-Nya ke tengah dunia, dan kita dapat menjadi orang-orang yang akan dipakai-Nya! Bersediakah kita membawa kesembuhan-Nya dan kebebasan dari Dia kepada orang-orang lain?

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa dan Mahakasih, gunakanlah diriku untuk menolong orang-orang yang merasa kesepian dan tersisihkan. Tolonglah aku agar dapat menjadi lebih sadar akan kesulitan hidup orang-orang lain di sekelilingku, dan berdayakanlah diriku untuk membawa kesembuhan kepada orang-orang lain dan juga pelepasan diri mereka dari kuasa roh jahat. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN ANTARA YESUS DAN DAUD (bacaan tanggal 5-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 2 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI DAN IKAN KITA

ROTI DAN IKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 17 April 2015) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANGSesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus tentunya merupakan peristiwa yang impresif bagi orang banyak yang hadir. Besarlah janji Yesus yang diperkenalkan oleh peristiwa itu. Namun hari ini baiklah kita pada hari ini menggumuli sebuah elemen yang lain dari peristiwa tersebut. Pernahkah kita berpikir tentang keterlibatan seorang anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan? Perhatikanlah dia. Anak itu telah membawa makanan siangnya dalam bungkusan. Ia telah membawa-bawa bungkusan tersebut ke sana ke mari sepanjang hari. Roti jelai yang dimaksud barangkali sudah tidak kelihatan segar dan ikan-ikannya pun kemungkinan sudah mulai berbau. Makanan siangnya kiranya sudah acak-acakan dan tidak menarik pada waktu itu.

Akan tetapi Yesus menerima makanan siang anak tersebut. Yesus mengambil roti dan ikan dari anak itu dan berterima kasih kepadanya. Sebagaimana terjadi dengan anak itu, kita (anda dan saya) suka membawa hidup kita yang sedang acak-acakan ke sana ke mari – sedikit iman dan pengharapan, sedikit upaya, tidak mengesankan. Acak-acakan dalam diri kita sudah mulai “berbau” tidak baik, namun Yesus tetap menerima kita; jika kita mempersembahkan kepada-Nya apa yang kita miliki dan melihat apa yang Ia dapat lakukan dengan diri kita.

Jesus feeds five thousandSekarang, perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Yesus: Ia mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu … dan orang-orang makan sampai kenyang. Setelah sisa makanan dikumpulkan ternyata masih ada sisa sebanyak 12 bakul (Yoh 6:11-13). Bayangkanlah kebahagiaan yang timbul dalam diri anak itu setelah menyaksikan peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus.  Tentu saja anak itu harus menaruh kepercayaannya pada Yesus. Ia harus percaya kepada kebaikan dan kuat-kuasa Yesus. Imannya tetap dibutuhkan.

Yesus yang sama mampu dan ingin untuk menggunakan apa yang kita persembahkan kepada-Nya. Kadang-kadang memang Ia harus menggoncang diri kita dulu sebelum membuat diri kita menjadi orang Kristiani yang ingin mengikuti jejak-Nya dengan tulus hati. Namun apabila kita memperkenankan Yesus untuk melakukan hal seperti itu terhadap diri kita, jika kita menaruh kepercayaan kepada-Nya untuk membawa kita dan apa yang kita miliki, maka selalu akan ada sisa-sisa yang berlimpah: 12 bakul dari sedikit sekali apa yang kita punya.

Kita harus akui, bahwa apa dan siapa pun kita, sesungguhnya kita tidak mempunyai apa pun yang cukup berarti untuk dipersembahkan kepada Allah. Seringkali kita mempunyai sedikit saja untuk dipersembahkan selain kesombongan bodoh kita, kesalahan-kesalahan tolol kita, rasa takut kita dan berbagai masalah kita, namun lagi-lagi Yesus mau menerima semua itu. Jika Yesus mengambil dosa-dosa kita dan menanggung semuanya itu sendiri, maka pasti Dia akan mengambil dan menerima apa saja yang kita percayakan ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

Tentu saja kita harus mempersembahkan kepada-Nya lebih daripada sekadar hal-hal buruk yang kita punya. Bagaimana dengan hal-hal yang baik? Talenta-talenta kita, sukacita kita, orang-orang yang kita kasihi, pekerjaan kita, waktu kita. Bacaan Injil hari ini akan menceritakan kepada kita apa yang dapat menjadi ekspektasi kita – lebih daripada yang pernah kita mimpikan sebelumnya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah bersikap dan bertindak murahan dengan kami. Engkau membayar kembali seratus kali lipat hal kecil yang kami persembahkan kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT-KUASA NAMA YESUS” (bacaan tanggal 17-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU HARI DI DANAU TIBERIAS: MEMATUHI SABDA YESUS

SUATU HARI DI DANAU TIBERIAS: MEMATUHI SABDA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH – 10 April 2015) 

YESUS YANG SUDAH BANGKIT DI TEPI PANTAI DANAU

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.”  Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14) 

Bacaan Pertama: Kis 4:1-12; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27 

YOH 21 1-14Walaupun seandainya kita merasa ragu terhadap kuasa Yesus guna menolong kita ketika kita membutuhkannya, atau kemurahan hati-Nya untuk melakukannya, paling sedikit kita dapat mengingat salah satu dari banyak peristiwa sederhana dalam kehidupan-Nya menurut bacaan Kitab Suci.

Setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus – ketika Dia tidak lagi hidup bersama para murid-Nya dengan cara yang sama seperti ketika Dia masih hidup sebagai seorang rabi keliling di tanah Palestina, maka kondisi keuangan para murid menjadi semakin parah. Sedemikian parahnya sehingga Petrus merasa bahwa dia harus kembali ke profesi lamanya sebagai seorang nelayan. Para rasul yang lain juga mengikuti jejaknya. Sepanjang malam mereka tidak berhasil menangkap ikan. Ketika hari mulai terang Yesus berdiri di pantai menanti-nantikan para murid-Nya itu, walaupun mereka tidak langsung mengenali-Nya. Kiranya untuk “menggoda” mereka, Yesus berseru, “Anak-anak, apakah kamu punya ikan? (Yoh 21:5).

Kita dapat membayangkan kira-kira ekspresi wajah dan bahasa tubuh lainnya dari para murid – teristimewa Simon Petrus – ketika mereka mengatakan: “Tidak!” (lihat Yoh 21:5). Lalu Yesus berkata kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya” (Yoh 21:6). Injil tidak mencatat tanggapan negatif dari para nelayan berpengalaman itu. Tidak ada satu pun dari murid-murid itu yang tercatat mengatakan, misalnya seperti berikut: “Kata siapa?” Injil mencatat: Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan (Yoh 21:6). Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan” (Yoh 21:7).

Bagaimana dengan Simon Petrus? Jika seorang yang ahli dalam bidangnya kehilangan rasa percaya dirinya, maka dia siap untuk menemukan rasa percaya yang sejati. Balasannya dijelaskan dalam perikop Injil Yohanes ini: ketika mereka sampai ke darat, jala mereka penuh ikan-ikan besar sebanyak 153 ekor (Yoh 21:11). Ini merupakan sebuah lambang yang sangat kuat tentang kemurahan hati Tuhan.

IKAN PANGGANG GAYA YESUS PASTI ENAK NIHDi sini kita diingatkan kepada Yesus yang sama pada peristiwa perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Air yang dituangkan ke dalam enam tempayan dengan isi masing-masing seratus liter diubah menjadi anggur  kelas prima. Inilah contoh betapa penuh kemurahan hati tanggapan Yesus terhadap masalah yang dihadapi umat manusia. Ketika Yesus yang sama memberi makan sampai kenyang kepada lebih dari lima ribu orang banyaknya, masih ada sisa sebanyak dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan (Yoh 6:13).

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur untuk kemurahan hati-Mu. Kalau pun banyak orang masih berupaya untuk menumpuk harta duniawi demi keamanan hidup mereka, maka perkenankanlah aku dengan rendah hati menyatakan bahwa keamananku terletak pada kemurahan hati-Mu, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:1-12), bacalah juga tulisan yang berjudul “KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MEMPROKLAMASIKAN YESUS” (bacaan tanggal 10-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 7 April 2015 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers