Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

SEORANG IBU TELADAN

SEORANG IBU TELADAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Rabu, 27 Agustus 2014)

Augustine1

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 2Tes 3:6-10,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2,4-5

“Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13).

imagesPada hari ini Gereja memperingati Santa Monika [331-387] dari Afrika Utara, salah seorang kudus yang sangat dicintai oleh umat. Monika adalah ibunda dari seorang kudus terkemuka dalam Gereja, Santo Augustinus dari Hippo [354-430], Uskup dan Pujangga Gereja. Monika dibesarkan sebagai seorang Kristiani. Ketika mencapai usia nikah, maka dia dinikahkan dengan seorang kaya, Patrisius, seorang yang masih kafir. Monika berharap agar suaminya masuk agama Kristiani, dan ini dilakukannya lewat teladan hidupnya yang baik. Monika percaya pada tulisan Santo Paulus, “… suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh istrinya” (1Kor 7:14). Setelah kurun waktu yang cukup panjang, akhirnya Patrisius pun dibaptis dan meninggal dunia tidak lama setelah itu.

Monika dan Patrisius dianugerahi tiga orang anak, termasuk Augustinus, yang terlalu cepat menjadi dewasa namun menjadi seorang muda yang “liar” (Inggris: wild youth; dalam Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints, Manila, Philippines: 1994, ST PAULS, hal. 46). Saya tidak mengetahui apakah Augustinus adalah seorang “suwandi” (suka wanita di mana-mana) seperti dikatakan banyak orang. Yang saya ketahui adalah bahwa dia mempunyai seorang anak yang lahir di luar pernikahan. Monika mendoakan puteranya yang satu ini tanpa kenal lelah. Para uskup yang dimintai nasihat olehnya mengatakan bahwa seorang anak laki-laki yang terus-menerus didoakan dengan banyak air mata (oleh ibunya) tidak akan “hilang”.

Suatu insiden yang mengharukan terjadi ketika Augustinus memutuskan untuk pergi ke Roma tanpa sang ibunda. Monika ditinggalkan oleh Augustinus dengan sebuah tipuan. Akan tetapi Monika kemudian menyusul mengikuti puteranya ke Italia. Monika merencanakan pernikahan Augustinus dengan seorang perempuan “baik-baik” sebagai substitut dari teman perempuan yang telah memberikan seorang putera seperti saya singgung di atas. Anak laki-laki tersebut diberi nama Adeodatus, artinya karunia Allah. Augustinus memutuskan untuk hidup bertarak.

WIDOW OF NAIN - 06Setelah Augustinus dibaptis, Monika menjadi seorang figur ibu bagi para murid Augustinus yang berkumpul di sekelilingnya untuk berdiskusi di bidang filsafat dan keagamaan. Pada saat-saat itulah Augustinus memahami hikmat-kebijaksanaan sang ibunda selama ini. Sebelum kematian sang ibu pada usianya yang ke-56, ibu dan anak mengalami suatu pengalaman mistik bersama ketika mereka memandangi laut dari Ostia, di dekat muara sungai Tiber (lihat “Pengakuan-pengakuan” Kitab IX, x.23 (Penerbit Kanisius & BPK Gunung Mulia, hal. 265). Setelah kematiannya, Augustinus menangis tersedu-sedu, mengingat segala susah dan sakit yang telah diderita ibunya yang disebabkan ulahnya.

Sekarang, marilah kita memusatkan perhatian kita kepada bacaan Injil hari ini. Apa relevansinya? Monika adalah seorang janda seperti sang janda dalam Injil hari ini. Augustinus adalah seperti anak yang sudah mati: pada masa hidupnya pernah mengalami mati rohani walaupun masih hidup.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Yesus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Seperti sang janda dari Nain itu, Monika sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil. Yesus berkata kepada janda itu untuk tidak menangis (Luk 7:13). Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda. Dalam keheningan doa-doa penuh air mata dari Monika yang memohon agar Augustinus diselamatkan, kiranya Tuhan Yesus pun berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Rahmat-Nya bekerja, dan kita pun mempunyai salah seorang kudus besar tokoh Gereja yang juga dihormati oleh saudari-saudara kita Kristen Protestan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah kami sebagai para orangtua agar senantiasa bertekun dalam mendoakan anak-anak kami agar tetap berada di jalan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus. Amin.

Cilandak, 25 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

TIKET MASUK KE DALAM SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Senin, 11 Agustus 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya S. Klara dr Assisi

PETRUS SECARA AJAIB MENEMUKAN KOIN DALAM IKANPada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27)

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Pada zaman Yesus, orang laki-laki di seluruh “dunia” mendukung Bait Suci di Yerusalem dengan cara setiap tahun membayar pajak yang relatif tidak besar jumlahnya (Mat 17:24). Dengan membayar pajak termaksud seseorang diidentifikasikan sebagai seorang anggota dari komunitas Yahudi, walaupun orang itu tidak berpartisipasi dalam ibadat penyembahan di dalam Bait Allah. Jadi, tidak mengherankanlah jika Yesus dan para murid-Nya diharapkan untuk membayar pajak termaksud.

Namun Yesus mempertanyakan asumsi ini. Karena para penguasa dunia tidak membebankan pajak atas diri para sanak-saudaranya, apakah Allah menuntut pembayaran pajak dari anak-anak-Nya? Petrus mempunyai ekspektasi bahwa Yesus – yang telah diakuinya sebagai Anak Allah – akan membayar pajak itu (Mat 16:16). Akan tetapi Petrus sesungguhnya belum memahami sepenuhnya kebebasan yang diberikan oleh Yesus kepada mereka yang ikut ambil bagian dalam martabat-Nya yang bersifat ilahi sebagai Anak Allah.

Seperti Petrus, sampai berapa sering kita luput melihat keuntungan-keuntungan yang sebenarnya kita dapat peroleh karena posisi kita sebagai anak-anak Allah? Yesus telah membuat diri kita menjadi para pewaris surga bersama diri-Nya. Melalui Yesus kita mempunyai akses kepada Bapa surgawi. Allah sangat senang meluangkan waktu dengan anak-anak-Nya dan melimpah-limpahkan kasih-Nya kepada anak-anak-Nya. Kita tidak perlu membayar apa-apa lagi agar dapat dengan bebas menyembah Dia atau mendengar suara-Nya.

Kontribusi keuangan yang kita buat untuk gereja-gereja bukanlah dimaksudkan sebagai “tiket” tanda masuk kita ke surga. Seharusnya itu mencerminkan rasa syukur kita atas rahmat Allah dan hasrat kita untuk mendukung Gereja dalam karya evangelisasi, pelayanan bagi orang-orang yang membutuhkan, menolong penegakan damai dan keadilan bagi orang-orang yang kurang beruntung (bdk. Ul 10:18).

Sebagaimana Yesus memperhatikan pembayaran pajak Bait Suci a.n. Petrus dan diri-Nya sendiri dengan mukjizat penangkapan seekor ikan (Mat 17:27), Dia juga telah memperhatikan “tiket masuk” kita ke dalam bait surgawi Allah melalui penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Pintu-pintu masuk Kerajaan Allah telah dibuka bagi semua orang oleh Kristus, dan Bapa surgawi sekarang menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kebebasan yang telah Kauberikan kepadaku menghadap hadirat-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Allahku dan aku menggantungkan diri sepenuhnya pada kasih-Mu padaku. Tidak ada seautu pun lainnya yang kuinginkan, selain duduk bersimpuh di hadirat-Mu dan dalam kasih mencurahkan hati kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “HATI MURID-MURID-NYA ITU PUN SEDIH SEKALI” (bacaan tanggal 11-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 8 Agustus 2014 [Hari Raya S. Dominikus, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN SAMPAI KEHILANGAN KONTAK DENGAN ALLAH

JANGAN SAMPAI KEHILANGAN KONTAK DENGAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 9 Agustus 2014)

CHRIST HEALS EPILEPTIC BOYKetika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20)

Bacaan Pertama: Hab 1:12-2:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:8-13

Dalam beberapa beberapa bab sebelum bacaan Injil hari ini (Mat 10:5-8) kita membaca bagaimana Yesus mengutus para rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, bahkan membangkitkan orang-orang mati. Sekarang kita lihat bahwa para rasul tidak dapat menyembuhkan seorang anak yang sakit ayan. Mereka terkejut dan kiranya merasa malu. Mereka bertanya kepada Yesus secara privat: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (Mat 17:19). Yesus menjawab: “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Apakah yang sesungguhnya terjadi? Kiranya kita dapat memberi penjelasan (apalagi jika kita membandingkannya dengan Luk 10:17-20) bahwa para murid telah membiarkan upaya penyembuhan mereka dengan sekadar mengandalkan pikiran mereka, seakan kehilangan kontak dengan Allah sebagai sumber segalanya. Sebenarnya justru berdasarkan kuat-kuasa Allah mereka menjadi mampu melakukan penyembuhan, artinya memperkenankan Allah berkarya melalui diri mereka. Namun memang selalu ada bahaya untuk berpikir “aku”-lah yang melakukannya, bukannya Allah yang melakukan hal-hal hebat. Para murid sangat mungkin telah terjatuh ke dalam perangkap sedemikian.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAYesus memperingatkan kita akan bahaya dari sikap sedemikian. Ketika mereka pulang dari salah satu perjalanan misi pewartaan mereka, mereka mengatakan: “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu” (Luk 10:17). Kita harus senantiasa mengingat bahwa kesombongan adalah sebuah perangkap yang besar dan lebar. Yesus bersabda, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk 10:20). Artinya, kita seharusnya bersukacita karena Allah mengasihi kita dan memilih untuk menunjukkan kasih-Nya kepada saudari dan saudara kita melalui diri kita. Kita juga tidak pernah boleh lupa bahwa kuat-kuasa di sekeliling adalah Allah! Inilah arti sesungguhnya dari iman – tetap berkontak dengan Allah; Allah-lah yang selalu memegang komando.

Segala pekerjaan saya hanyalah berarti sepanjang saya memperkenankan Dia untuk melakukannya melalui diri saya. Dalam hidup saya, saya harus senantiasa memperkenankan Allah sebagai Allah. Dalam artian tertentu, itulah iman, dan itulah kuasa yang mengerjakan segala tanda heran.

Marilah kita merenungkan apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:26-29).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku. Semoga pikiran dan hatiku tetap menyatu dengan pikiran dan hati-Mu. Buanglah jauh-jauh dari diriku, ya Tuhan Allahku, kesombongan dan apa saya yang tidak berkenan di hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi murid Yesus yang baik dan memperkenankan Dia melakukan karya-karya baik melalui diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA KAMU KURANG PERCAYA!” (bacaan tanggal 9-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 7 Agustus 2014 [Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI ORANG YANG KURANG PERCAYA!

HAI ORANG YANG KURANG PERCAYA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Senin, 4 Agustus 2014)

pppas0227Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus,”Datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon kepada-Nya supaya diperkenankan walaupun hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mat 14:22-36)

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79,80,95,102

Yesus baru saja memberi makan paling sedikit lima ribu orang pada malam sebelumnya dan Ia telah pergi menyendiri untuk berdoa. Sebelum itu Yesus telah mengirimkan para murid-Nya mendahului Dia ke seberang lain dari Danau Genesaret dengan menggunakan perahu.

Sementara perahu yang memuat para murid berada di tengah danau, angin sakal datang menerjang sehingga mengombang-ambingkan perahu yang mereka tumpangi. Di tengah-tengah badai para murid dibuat kaget karena menyaksikan Yesus datang mendatangi mereka dengan berjalan di atas air. Murid-murid tersebut memang sangat terkejut. Belum sampai mereka lupa akan peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan pada malam sebelumnya, sekarang ada lagi satu peristiwa ajaib.

jesus helping peterDalam keadaan seperti itu, para murid menyangka Yesus yang sedang mendatangi mereka itu hantu. Namun Yesus meyakinkan mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mat 14:27).

Siapa lagi kalau bukan Petrus – yang takut-takut berani – menantang Yesus dengan berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (Mat 14:28). Kata Yesus, “Datanglah!” (Mat 14:29).

Petrus kemudian turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus, namun ketika merasakan tiupan angin ia pun menjadi takut dan mulai tenggelam. Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus seraya berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31).

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pesan Injil hari ini.

Setelah banyak pekerjaan, suatu hari yang sibuk, paling sedikit setelah satu pekan yang penuh kesibukan, kita butuh berdoa. Itulah contoh yang diberikan oleh Yesus. Dia pergi sendirian untuk berdoa.

Di tengah laut kehidupan kita yang penuh badai, kita harus memiliki iman bahwa Yesus Kristus senantiasa menyertai kita, karena Dia adalah sang Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Apabila laut atau danau diterpa badai, kita yakin bahwa Yesus sedang berjalan di atas air mendatangi kita. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita suatu keyakinan, sukacita dan damai-sejahtera karena sadar akan kedekatan Kristus dengan kita, kebaikan-Nya, belas kasih-Nya, kuasa ilahi-Nya yang mengalahkan segala badai kehidupan.

Iman adalah fondasi dari segalanya dalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Apabila kita bertanya kepada diri kita sendiri, “mengapa engkau menyeleweng, mengapa engkau tidak taat kepada-Nya?”, kita tahu bahwa jawabannya selalu, paling sedikit sebagian, adalah “karena iman kita terlalu kecil”, kurang percaya!

DOA: Tuhan Yesus, kehadiran-Mu adalah kekuatanku. Ajarlah aku untuk berjalan dalam dunia ini dengan iman yang teguh kepada-Mu. Tuhan, tolonglah aku, agar aku dapat menjadi murid-Mu yang baik. Amin.

Cilandak, 1 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KELIMPAHAN RAHMAT ALLAH ADALAH HAK KITA UNTUK MEMINTA KEPADA-NYA

KELIMPAHAN RAHMAT ALLAH ADALAH HAK KITA UNTUK MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII – 3 Agustus 2014)

MUKJIZAT PERLIPATGANDAAN ROTI OLEH YESUS- 001Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21)

Bacaan Pertama: Yes 55:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,15-18; Bacaan Kedua: Rm 8:35,37-39

Tuhan Yesus tidak memanggil kita sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, bahkan pada saat-saat yang tidak kita harap-harapkan atau barangkali tidak pernah kita perhatikan. Ia dapat mulai dengan membisikkan beberapa pertanyaan kecil kepada hati kita. Atau barangkali sedikit gangguan kecil dalam kehidupan kita tetap dibiarkan berjalan terus sampai menumpuk, sehingga kita mulai mempertanyakan siapa kita ini sebenarnya dan siapa Allah sesungguhnya. Kita mulai memikirkan perspektif yang bersifat kekal-abadi, bahkan tanpa menyadari bahwa pemikiran-pemikiran sedemikian adalah akibat dari Allah yang bergerak dalam diri kita, yang memanggil kita kepada diri-Nya. Sedikit demi sedikit kita mulai menanggapi dengan cara-cara yang kita tidak akan lakukan sebelumnya. Barangkali kita mulai menghadiri Misa Harian di pagi hari, kita mulai membaca Kitab Suci atau bacaan rohani yang baru kita beli di toko buku kecil di kompleks paroki kita. Seringkali inilah bagaimana kita mulai sebuah perjalanan yang lebih mendalam bersama Yesus, tidak sekadar seturut rancangan kita sendiri, melainkan sebagai hasil dari kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) Allah yang sedemikian besar terhadap diri kita.

Feeding_the_5000006“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Allah?” (lihat bacaan kedua). Tidak ada siapa pun yang akan mampu melakukannya. Sepanjang hidup kita, Ia senantiasa berbisik dan memanggil, bahkan kadang-kadang berseru, karena Dia mau berbagi hidup-Nya dengan kita. Kasih Allah bagi kita adalah sedemikian, sehingga jauh melampaui sekadar tindakan memelihara dan menopang kehidupan kita. Dia selalu bekerja untuk membentuk diri kita agar semakin menjadi anak-anak-Nya yang semakin sempurna, yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan dipersatukan sebagai satu tubuh di bawah Kristus, Kepala kita.

Yesus menunjukkan karya-Nya yang tetap untuk kita itu ketika Dia membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan untuk memberi makan paling sedikit lima ribu orang banyaknya. Para murid mengusulkan kepada Yesus untuk membubarkan orang banyak, namun tidak ada penyelesaian masalah berdasarkan pertimbangan praktis dalam pikiran dan hati-Nya. Kemurahan hati-Nya dan kebaikan-Nya jauh melampaui apa saja yang kita dapat bayangkan, dan Ia dengan bebas memberikan itu semua kepada siapa saja yang datang kepada-Nya. Biar bagaimana pun juga, apa yang dapat kita bayarkan untuk rahmat dan kasih yang berlimpah sepanjang hidup kita – beberapa potong roti dan beberapa ekor ikan?

Kelimpahan rahmat Allah adalah hak kita untuk meminta kepada-Nya. Jika kita datang dengan rendah hati ke meja perjamuan Tuhan hari ini untuk menerima roti kehidupan, baiklah kita minta kepada Yesus segala sesuatu yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Hal-hal baik yang ingin diberikan-Nya kepada kita itu tak terbatas dan tidak dapat diukur. Janganlah kita biarkan adanya apa pun yang menghalangi jalan-Nya pada hari ini – tidak ada suara menggerutu, tidak ada kemarahan, tidak ada kepahitan, tidak ada pola dosa yang berulang-ulang. Marilah kita berbalik kepada Allah dan memperkenankan rahmat-Nya menyembuhkan kita dan membuat diri kita seturut rencana-Nya – anak-anak yang mencerminkan kasih-Nya dalam segala yang mereka katakan dan lakukan.

DOA: Bapa surgawi, kami menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu. Semoga rahmat-Mu menyembuhkan kami semua dan membuat diri kami masing-masing seturut rencana-Mu, yaitu menjadi anak-anak-Mu, yang mencerminkan kasih-Mu dalam segala hal yang kami katakan dan lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “YESUSLAH YANG MENGUNDANG KITA KEPADA PERJAMUAN-NYA” (bacaan tanggal 3-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 31 Juli 2014 [Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 19 Juli 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGLalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21)

Bacaan Pertama: Mi 32:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa Yesus berurusan dengan dua jenis manusia: (1) orang-orang Farisi yang berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan Yesus, bahkan mereka membenci-Nya dan lalu membuat rencana untuk membunuh Dia. (2) anggota masyarakat pinggiran, mereka yang termarginalisasi, para “pendosa” yang sadar bahwa mereka membutuhkan Yesus dan menginginkan-Nya. Injil mencatat seperti berikut: “Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya” (Mat 12:15).

Ketika mengajarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7). Jadi, kata kuncinya di sini adalah “bertobat”. Yesus juga datang bagi orang-orang yang sadar bahwa mereka membutuhkan kuat-kuasa-Nya untuk menyembuhkan, bukan bagi mereka yang sudah “sedemikian baik” sehingga mereka merasa tidak lagi membutuhkan-Nya. Oleh karena itu Yesus mengatakan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. …… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:12,13). Yesus datang agar supaya orang-orang sakit dan orang-orang berdosa dapat menikmati hidup baru dan kekuatan baru.

Pada masa lampau seringkali orang-orang Kristiani tidak memakai kuat-kuasa Yesus untuk menyembuhkan. Sebenarnya Yesus menghendaki agar kita melakukannya. Di mana-mana dalam kitab-kitab Injil, kita sering melihat Yesus melakukan penyembuhan atas diri seseorang atau dalam perjalanan untuk menyembuhkan seseorang, atau baru saja pulang dari menyembuhkan seseorang. Orang-orang sakit dibawa kepada Yesus dan “Ia menyembuhkan mereka semua” (Mat 12:15b). Orang banyak mengetahui bahwa Yesus adalah seorang nabi besar yang memiliki kuasa ilahi. Dia menyembuhkan orang lumpuh, buta, tuli serta berbagai penyakit lainnya, juga para pendosa yang bertobat. Yesus membuat para pendosa menjadi orang-orang kudus!

Kita lihat dalam kitab-kitab Injil bahwa Jesus ingin para pengikut-Nya juga melakukan hal yang sama. Yesus berkata kepada 12 murid-Nya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma” (Mat 10:7-8). Yesus ingin agar Gereja-Nya melakukan pekerjaan penyembuhan ini – melalui Sadramen-sakramen, melalui doa mohon kesembuhan, melalui komunitas-komunitas iman.

Akan tetapi hal ini dapat menuntut suatu iman dan rasa percaya yang lebih besar daripada yang kita miliki sebelumnya, dan suatu relasi yang dekat dengan Yesus, sehingga dengan demikian hidup dalam Dia dan dengan Dia dari hari ke hari, kita dapat mengalami kuasa-Nya yang besar dalam hidup kita dan dalam hidup orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, tanah-tanah kering membutuhkan air hujan. Engkaulah air hujan itu (Hos 6:3). Seorang petani menyambut turunnya hujan dengan penuh sukacita karena dia mengetahui bahwa hal itu adalah kebutuhan pokok agar tanamannya bertumbuh. Kami juga sangat membutuhkan Engkau, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOTIF YESUS ITU SEDERHANA: KASIH!” (bacaan tanggal 19-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

D’Agape, Gadog, Jawa Barat, 16 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN INJIL YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN INJIL YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 10 Juli 2014)

Keluarga Fransiskan: S. Veronika Yuliani, Perawan dan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir

YESUS KRISTUS - 11Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16

Yesus sangat memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk tidak membawa apa-apa, tidak membawa tongkat, dan seterusnya (Mat 10:9 dsj.). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan Kerajaaan Allah, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan, bukankah begitu? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat Mat 10:9 ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka (lihat 1 Celano 22). Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural?

YESUS MENGAJAR - HE WAS THE TEACHERAllah sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen, lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Seperti halnya dengan Santo Fransiskus dari Assisi, tugas kita hanyalah menanggapi dengan iman dan rasa percaya yang memperkenankan kuat-kuasa-Nya bekerja dalam diri kita. Yesus memang tidak main-main (memang Ia tidak pernah main-main) dalam hal ini. Dalam suatu kesempatan lain Dia bersabda kepada para murid: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12). Kalau kita mengkontemplasikan Allah sebagai Kasih itu sendiri, maka Dia memang memasok segala hal yang kita butuhkan.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan pada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang maharahim, berdayakanlah semua anak-anak-Mu agar dapat menjadi saksi-saksi Kerajaan Allah yang tangguh. Di bawah bimbingan Roh Kudus-Mu, bantulah kami agar dapat menerima firman-Mu dengan baik dan menerima segala rahmat ilahi yang Kau-berikan kepada kami dengan sikap terbuka dan tulus. Ya Bapa, jadikanlah kami duta-duta kasih-Mu. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus – Tuhan dan Juruselamat kami – yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 8 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers