Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

IMAN YANG RENDAH HATI

IMAN YANG RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Senin, 1 Desember 2014)

YESUS DAN CENTURION - 3Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:5-11)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9

Kiranya para murid dan orang banyak yang mengikuti Yesus menjadi terkejut melihat “ulah” Yesus, baik sikap-Nya maupun apa yang dilakukan-Nya. Yesus tidak hanya bersedia berbicara dengan seorang perwira pasukan Romawi, melainkan juga Dia menyembuhkan hamba dari perwira itu dan menggunakan iman sang perwira sebagai sebuah contoh untuk memperingatkan orang-orang yang tidak percaya tentang “para pewaris Kerajaan” – umat terpilih dari Israel! Yesus datang untuk membawa dan memberitakan Injil kepada semua orang: Yahudi maupun non-Yahudi, “pantas” maupun “tak pantas”, para pendosa maupun orang-orang saleh.

Yesus adalah pemenuhan dari nubuatan Yesaya bahwa “gunung tempat rumah TUHAN (YHWH) akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung” dan “segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana” (lihat Yes 2:2). Setiap orang dapat menerima undangan untuk pergi ke rumah YHWH dan bersukacita karenanya (lihat Mzm 122:1).

Syarat satu-satunya untuk menerima penyembuhan dan hidup dari Yesus adalah iman, iman yang rendah hati sebagaimana ditunjukkan oleh sang perwira Romawi. Ketika perwira itu datang menghadap Yesus dan menyapa-Nya sebagai “Tuan” dan mengakui otoritas-Nya untuk mengusir pergi penyakit dari seseorang, maka sebenarnya dia memberi contoh bagaimana menaruh kepercayaan kepada-Nya. Inilah sikap dan perilaku yang dirindukan oleh Yesus ada dalam semua pengikut-Nya.

Panggilan universal dari Injil yang diproklamasikan oleh Yesus masih berlanjut sampai hari ini. Sesungguhnya, dunia di dalam mana kita hidup dipenuhi dengan beraneka-ragam orang, sehingga hanya iman dalam/kepada Yesus yang dapat mengumpulkan kita bersama dalam pesta perjamuan surgawi. Setiap orang mampu mengenal kebutuhannya dan kemudian berseru kepada Yesus agar diselamatkan. Dan, kepada setiap orang ditawarkan anugerah bebas penebusan dan janji akan hidup kekal dalam hadirat Allah.

Selagi kita mengawali masa Adven ini, marilah kita merenungkan kasih Allah, yang memanggil semua bangsa kepada-Nya melalui Kristus. Kita dapat mendengar panggilan Yesus, dan kita dapat melihat bahwa panggilan yang sama juga ditujukan ke seluruh dunia. Oleh karena itu marilah kita berdoa untuk suatu pencurahan Roh Kudus secara berlimpah, agar dengan demikian semua orang dari semua bangsa akan mendengar dan menanggapi panggilan universal dari Injil dengan iman yang rendah hati dalam Kristus. Sementara kita mempersiapkan kelahiran Yesus, semoga kita melihat pemenuhan nubuat-nubuat bahwa semua bangsa akan berkumpul bersama Tuhan yang dimuliakan di atas gunung-Nya yang kudus.

DOA: Roh Kudus, penuhilah diri kami dengan iman yang rendah hati sebagaimana ditunjukkan oleh sang perwira Romawi. Biarlah kami digerakkan oleh kasih Allah yang memanggil setiap orang kepada diri-Nya, sehingga dengan demikian kami akan berbagi iman kami dengan orang-orang lain dan berdoa untuk pertobatan semua orang. Kami sungguh ingin melihat semua bangsa pada pesta perjamuan surgawi kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-11), bacalah tulisan berjudul “PUSAT KERAJAAN DAMAI” (bacaan tanggal 2-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 27 November 2014 [Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA HATI YANG BERBELA RASA

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA HATI YANG BERBELA RASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 17 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Elisabet dr Hungaria, OFS

Jesus_hlng_blind_C-218Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43)

Bacaan Pertama: Why 1:1-4;2:1-5a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Ada begitu banyak penderitaan di dalam dunia! Orang-orang buta ingin dapat melihat, orang-orang sakit ingin disembuhkan, keluarga-keluarga yang terpecah ingin agar dipulihkan , orang-orang miskin ingin agar keadilan ditegakkan. Namun lebih dari apa pun juga, setiap orang merindukan kasih Allah. Kita semua mengetahui – pada kedalaman hati kita – bahwa hanya Dia-lah yang dapat memuaskan kita dan menyembuhkan luka-luka kita. Santa Bunda Teresa dari Kalkuta dengan indah meringkas semua ini ketika dia berkata: “Bagiku, penderitaan paling besar/berat adalah merasa sendirian, tidak diinginkan, tidak dikasihi.”

Karena dunia tidak ditanamkan dengan kasih tanpa syarat, maka banyak orang mengalami penderitaan yang menyakitkan karena ditolak atau dilupakan sepenuhnya. Dunia mengajar kita bahwa jika kita tidak menarik, tidak cocok secara fisik, tidak pintar, tidak kaya, maka kita akan dipandang tidak berharga. Bayangkanlah bagaimana orang-orang seperti itu merasa diasingkan dari masyarakat. Mereka mempunyai begitu banyak hal untuk ditawarkan, namun tidak ada orang yang kelihatannya menaruh minat atau tertarik kepada mereka.

Pada zaman Yesus pun kita dapat melihat bagaimana para murid-Nya mencoba untuk mencegah seorang buta yang “tidak penting” mengganggu Guru mereka. Tentu mereka tidak menilai orang buta itu pantas mendapatkan perhatian Yesus. Namun orang buta itu semakin keras berseru, dan Yesus pun menerimanya. Marilah kita sekarang berpikir sejenak tentang semua orang di dunia – yang seperti orang buta itu – berseru-seru memohon belas kasih Allah, bela rasa-Nya, kasih-Nya. Tidak setiap orang membutuhkan penyembuhan fisik, namun kita semua menderita luka-luka mendalam yang disebabkan oleh dosa-dosa di dalam hati kita. Kita semua memang membutuhkan seorang Juruselamat!

Allah ingin memberikan kepada kita hati yang berbela rasa. Allah ingin menggerakkan kita agar pergi menjumpai orang-orang yang membutuhkan bantuan dan melayani orang-orang itu dengan kasih Bapa. Apa yang menahan-nahan kita? Tidakkah kita mengakui bahwa orang-orang yang tanpa Allah akan tetap “melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”? (lihat Why 3:17). Orang buta dalam bacaan Injil hari ini mengetahui kondisinya dan ia tidak akan berhenti berseru sebelum didengar oleh Yesus. Sekarang bayangkanlah berapa banyak jiwa yang membutuhkan pertolongan, namun mereka merasa takut atau terintimidasi untuk berseru minta tolong. Allah menjadi “patah hati” melihat siapa saja dari anak-anak-Nya yang “sunyi sepi sendiri”, mengalami penderitaan, atau dalam keadaan tertindas. Sebagai murid-murid-Nya, marilah kita mohon kepada Yesus untuk menjadikan hati kita seperti Hati-Nya yang penuh bela rasa, sehingga kita akan penuh semangat untuk syering sentuhan yang menyembuhkan dari Bapa surgawi kepada orang-orang yang menderita tersebut.

DOA: Bapa surgawi, kami tidak berarti apa-apa tanpa Engkau. Kami membutuhkan rahmat-Mu dan belas kasih-Mu. Secara istimewa kami berdoa untuk semua orang yang menderita dan dilupakan oleh masyarakat. Penuhilah diri mereka dengan Roh Kudus-Mu dan nyalakanlah hati mereka dengan api kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!” (bacaan tanggal 17-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 13 November 2014 [Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup-Martir – Selasa, 16 September 2014)

www-St-Takla-org--37-Jesus-raises-the-widow-of-Nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dialah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin.

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96.

Cilandak, 15 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERADA BERSAMA YESUS

BERADA BERSAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 9 September 2014)

YESUS MENGAJAR - HE WAS THE TEACHERPada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: 1Kor 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Di bawah panas terik matahari orang banyak berkumpul pada suatu tempat yang datar untuk mendengar pengajaran dari sang rabi-keliling asal Nazaret itu. Waktu berjalan terus, namun orang-orang itu seakan mengabaikan rasa lapar dan lelah mereka. Mereka terus saja mendengarkan dengan penuh perhatian suara yang lemah lembut namun penuh kuat-kuasa dari sang rabi, menggema dari bukit-bukit yang dekat – dan “berkumandang” di dalam hati mereka.

Apabila anda membayangkan diri anda berada di tengah orang banyak yang berkerumun di sekeliling Yesus, apakah yang akan anda lihat? Apakah yang akan anda lihat, yang anda rasakan? Gambarkanlah tanah dataran di mana anda berada. Gambarkanlah bagaimana Yesus itu. Kelihatan seperti apa dan siapa Yesus itu? Bagaimana anda bereaksi ketika anda melihat Dia turun dari bukit dan berjalan menuju anda? Ketika Dia melewati anda, apakah anda mengatakan sesuatu kepada-Nya? Apakah kedua mata anda bertemu dengan kedua mata-Nya, atau anda menghindari pandangan-Nya? Apakah anda mencoba untuk menyembunyikan diri di tengah kerumunan orang banyak? Mungkin anda adalah salah seorang dari orang banyak yang mendesak untuk mendekati Yesus, berusaha keras untuk menyentuh-Nya. Apakah yang ada di dalam pikiran anda ketika anda menyaksikan Dia menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang?

YESUS KRISTUS - 11Melihat berlangsungnya episode Injil ini dalam imajinasi anda dan secara mental menempatkan diri anda ke dalam tindakan dapat menjadi sebuah cara yang sangat menolong anda untuk menjadi dekat dengan Yesus dan memberi tanggapan terhadap sapaan-Nya. Untuk banyak orang yang telah mencoba ini, bentuk meditasi dalam suasana doa seperti ini telah memberikan wawasan-wawasan baru terhadap teks Kitab Suci dan malah memimpin kepada suatu pemahaman baru tentang Yesus sebagai seseorang yang hadir bagi kita masing-masing, di sini dan sekarang.

Baiklah anda sekarang mencoba untuk melakukan kegiatan ini. Kiranya anda tidak perlu memiliki imajinasi yang paling hidup di dunia ini atau mengetahui banyak hal mendetil tentang kondisi tanah Palestina pada abad pertama. Anda dapat memulainya secara sederhana dengan kerangka dalam bacaan Injil dan mengisinya dengan tambahan anda sendiri. Hal yang penting adalah untuk berada bersama Yesus, mengamati-Nya dan kemudian berinteraksi dengan Dia.

Baiklah anda mengambil waktu secukupnya untuk membaca kembali bacaan Injil hari ini, lalu perkenankanlah Roh Kudus dan imajinasi anda membimbing anda sepanjang cerita yang ada dalam bacaan tersebut. Biarkanlah tokoh-tokoh dalam cerita itu menjadi hidup dalam pikiran anda. Perkenankanlah diri anda untuk berjumpa dengan Yesus selagi Dia berjalan ke sana ke mari untuk melayani orang banyak – dan melayani anda! Dengan mata anda yang tertutup untuk dunia dan hati anda yang terbuka bagi Allah, maka anda tidak pernah akan tahu berkat-berkat apa yang dianugerahkan Allah kepada anda.

DOA: Tuhan, utuslah Roh-Mu untuk membimbingku selagi aku berupaya untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu dalam doa. Penuhilah pikiranku dengan kehadiran-Mu. Segarkanlah kembali imanku dan buatlah sabda agar senantiasa baru dan hidup bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KEGIATAN YANG TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI HIDUP YESUS” (bacaan tanggal 9-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 4 September 2014 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH

KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 4 September 2014)

OFS: Peringatan S. Rosa dari Viterbo, Perawan Ordo III

YESUS MENGAJAR DARI ATAS PERAHU - 506Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:18-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Banyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah balik ke pangkalan di pantai dan membersihkan peralatan-peralatan, lalu pulang ke rumah untuk beristirahat dan siapa tahu besok “nasib” lebih baik.

Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Kata “guru” dalam bahasa Yunani yang digunakan dalam Injil adalah Epistates, terjemahan dari kata dalam bahasa Ibrani Rabi. Ini adalah suatu tanda respek, suatu pengakuan bahwa “guru” berstatus lebih tinggi dari dirinya sebagai “murid”. Melawan logikanya dan pengalaman praktis yang cukup lama, Petrus mematuhi juga perintah sang Guru. Jala yang dipakai barangkali adalah jala yang baru dibasuh.

KEMURIDAN - PENJALAN IKAN MENJADI PENJALA MANUSIAKarena Petrus mentaati perintah sang Guru, maka dia tidak saja mampu untuk menjala banyak sekali ikan, tetapi juga dia sampai pada titik pengenalan siapa Yesus itu sebenarnya. Petrus akhirnya mampu untuk sujud di hadapan Yesus dan menyapa-Nya sebagai Tuhan (bahasa Yunani: Kyrios; Luk 5:8) sambil mengakui kedosaannya. Kata Kyrios ini adalah terjemahan dari kata Ibrani Adonai, artinya “Tuhanku yang agung”. Dalam Perjanjian Lama ini adalah adalah gelar kehormatan dan penyembahan yang diberikan kepada Allah. Iman Simon Petrus telah bertumbuh! Terpujilah Allah!

Pada awalnya Petrus menyapa Yesus dengan gelar “Guru” karena respeknya dan rasa syukurnya bahwa Yesus telah menyembuhkan ibu mertuanya (Luk 4:38-39). Akan tetapi, sementara Petrus mentaati Yesus, dia melihat bahwa Yesus tidak hanya seorang guru; melainkan juga memiliki otoritas atas segenap alam ciptaan. Satu-satunya cara untuk menyapa seorang manusia sedemikian adalah dengan menggunakan kata Kyrios.

Kita dapat mengalami peningkatan dalam iman seperti Petrus. Selagi kita mentaati perintah-perintah Tuhan Yesus, ketaatan kita akan menghasilkan buah, kita akan melihat dengan lebih jelas lagi siapa Yesus itu, dan kita pun menanggapinya dengan iman yang lebih mendalam. Ini adalah suatu pola yang kita akan lihat setiap hari selagi iman kita bertumbuh. Simon Petrus masih harus banyak belajar, demikian pula halnya dengan kita semua. Kita akan melihat dalam Injil bagaimana Petrus masih saja bertanya dan malah menyangkal Tuhan-nya. Demikian pula hanya dengan kita! Dalam hal ini ketaatan kita akan menghasilkan buah.

Tuhan Yesus dapat meminta kepada kita untuk melakukan ha-hal tertentu yang kelihatan sulit atau bahkan tidak mungkin – mengampuni seseorang yang telah menyakiti diri kita, merawat orang sakit dan melayani “wong cilik” di dalam dan/atau di luar Gereja, atau melayani “domba yang hilang” dari komunitas kita. Barangkali Dia juga meminta agar kita syering Kabar Baik dengan anggota-anggota keluarga kita atau sejumlah tetangga kita. Bilamana kita mendengarkan Yesus dan mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita akan dapat memetik buah-buah dari ketaatan kita dan iman kita pun akan bertumbuh. Seperti juga Simon Petrus, kita pun akan sujud di depan Yesus dan menyapa Dia sebagai “Tuhan”.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar senantiasa mentaati perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian, seperti Petrus, akupun dapat memetik buah-buah dari ketaatan tersebut dan imanku kepada-Mu juga akan bertumbuh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL KITA MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 4-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 1 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESEMBUHAN YANG KITA PEROLEH DARI YESUS

KESEMBUHAN YANG KITA PEROLEH DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus-Pujangga Gereja – Rabu, 3 September 2014)

JESUS HEALS THE SICK - 001Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-15,20-21

“Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka” (Luk 4:40).

Guna menyembuhkan kita-manusia dari sakit-penyakit dan penderitaan, Bapa di surga mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal, Yesus, untuk menjadi Juruselamat kita, sang Dokter dan Penyembuh Ilahi.

Pada waktu Yesus mengawali karya-Nya di tengah publik, Dia langsung saja dikenal sebagai seorang tabib yang diutus Allah untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang menempel dan/atau merasuki diri orang-orang dlsb.

THE MOTHER IN LAW OF PETER WAS HEALEDOrang-orang tahu bahwa Yesus menyembuhkan orang-orang sakit yang dibawa kepada-Nya. Yesus meletakkan tangan-Nya ke atas orang-orang yang sakit, yang buta, yang lumpuh, yang terganggu mentalnya dlsb. dan mereka semua menjadi sembuh, termasuk ibu mertua Simon Petrus tentunya. Yesus memuji orang-orang yang disembuhkan oleh-Nya karena iman mereka kepada-Nya, untuk kepercayaan mereka akan kebaikan hati-Nya, akan kuat-kuasa-Nya, dan akan kasih-Nya kepada mereka.

Yesus adalah sang Imanuel (=Allah yang menyertai kita; Mat 1:23; Mat 28:20). Dia senantiasa berada bersama kita masing-masing, sekarang dan di sini. Yesus sangat mengasihi kita sekarang sebagaimana Dia mengasihi para murid-Nya dan orang-orang pada masa hidup-Nya di dunia sebagai seorang manusia. Sebagai para murid-Nya kita pun sangat rindu untuk mendengarkan sabda-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita percaya kepada-Nya dan sepantasnyalah apabila kita memohon kepada-Nya untuk meningkatkan iman kita. Kita juga diajar oleh-Nya untuk saling mengampuni, dan hal tersebut harus datang dari hati kita yang terdalam. Kita pun senantiasa harus memohon penyembuhan-Nya, baik pikiran maupun tubuh kita. Kita juga harus memohon kepada Yesus untuk membuang semua kepahitan dan penolakan yang ada dalam hati kita masing-masing.

Marilah kita juga memohon kepada Yesus untuk mengambil dari diri kita semua kesempitan pandangan dan ketamakan/keserakahan, sehingga dengan demikian kita dapat membuka hati kita lebar-lebar bagi rahmat-Nya yang menyegarkan. Setiap kali kita menerima tubuh Yesus dalam Komuni Kudus, kita pun harus memperkenankan kehadiran-Nya yang penuh kuat-kuasa untuk mengerjakan kesembuhan dan tanda-tanda heran lainnya dalam diri kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku sekarang juga supaya dapat mengampuni setiap orang yang telah mendzolimi atau menyakiti diriku dengan cara apapun, kelihatan maupun tidak kelihatan. Aku memohon pengampunan dari mereka yang telah kusakiti, sengaja maupun tidak sengaja. Aku juga memohon kepada-Mu, ya Yesus, agar supaya Engkau membuang dari diriku segala halangan terhadap kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Sembuhkanlah diriku dari segala sesuatu yang membuat diriku tidak bahagia, merasa cemas dan susah, depresi, kesendirian yang menekan atau kepahitan hidup. Biarlah kehadiran-Mu yang indah mengubah kesedihanku menjadi kegembiraan penuh sukacita. Berikanlah kepadaku rasa damai-sejahtera yang mendalam. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MASIH TETAP MELANJUTKAN KARYA-NYA” (bacaan tanggal 3-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 31 Agustus 2014 [HARI MINGGU BIASA XXII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG IBU TELADAN

SEORANG IBU TELADAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Rabu, 27 Agustus 2014)

Augustine1

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 2Tes 3:6-10,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2,4-5

“Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13).

imagesPada hari ini Gereja memperingati Santa Monika [331-387] dari Afrika Utara, salah seorang kudus yang sangat dicintai oleh umat. Monika adalah ibunda dari seorang kudus terkemuka dalam Gereja, Santo Augustinus dari Hippo [354-430], Uskup dan Pujangga Gereja. Monika dibesarkan sebagai seorang Kristiani. Ketika mencapai usia nikah, maka dia dinikahkan dengan seorang kaya, Patrisius, seorang yang masih kafir. Monika berharap agar suaminya masuk agama Kristiani, dan ini dilakukannya lewat teladan hidupnya yang baik. Monika percaya pada tulisan Santo Paulus, “… suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh istrinya” (1Kor 7:14). Setelah kurun waktu yang cukup panjang, akhirnya Patrisius pun dibaptis dan meninggal dunia tidak lama setelah itu.

Monika dan Patrisius dianugerahi tiga orang anak, termasuk Augustinus, yang terlalu cepat menjadi dewasa namun menjadi seorang muda yang “liar” (Inggris: wild youth; dalam Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints, Manila, Philippines: 1994, ST PAULS, hal. 46). Saya tidak mengetahui apakah Augustinus adalah seorang “suwandi” (suka wanita di mana-mana) seperti dikatakan banyak orang. Yang saya ketahui adalah bahwa dia mempunyai seorang anak yang lahir di luar pernikahan. Monika mendoakan puteranya yang satu ini tanpa kenal lelah. Para uskup yang dimintai nasihat olehnya mengatakan bahwa seorang anak laki-laki yang terus-menerus didoakan dengan banyak air mata (oleh ibunya) tidak akan “hilang”.

Suatu insiden yang mengharukan terjadi ketika Augustinus memutuskan untuk pergi ke Roma tanpa sang ibunda. Monika ditinggalkan oleh Augustinus dengan sebuah tipuan. Akan tetapi Monika kemudian menyusul mengikuti puteranya ke Italia. Monika merencanakan pernikahan Augustinus dengan seorang perempuan “baik-baik” sebagai substitut dari teman perempuan yang telah memberikan seorang putera seperti saya singgung di atas. Anak laki-laki tersebut diberi nama Adeodatus, artinya karunia Allah. Augustinus memutuskan untuk hidup bertarak.

WIDOW OF NAIN - 06Setelah Augustinus dibaptis, Monika menjadi seorang figur ibu bagi para murid Augustinus yang berkumpul di sekelilingnya untuk berdiskusi di bidang filsafat dan keagamaan. Pada saat-saat itulah Augustinus memahami hikmat-kebijaksanaan sang ibunda selama ini. Sebelum kematian sang ibu pada usianya yang ke-56, ibu dan anak mengalami suatu pengalaman mistik bersama ketika mereka memandangi laut dari Ostia, di dekat muara sungai Tiber (lihat “Pengakuan-pengakuan” Kitab IX, x.23 (Penerbit Kanisius & BPK Gunung Mulia, hal. 265). Setelah kematiannya, Augustinus menangis tersedu-sedu, mengingat segala susah dan sakit yang telah diderita ibunya yang disebabkan ulahnya.

Sekarang, marilah kita memusatkan perhatian kita kepada bacaan Injil hari ini. Apa relevansinya? Monika adalah seorang janda seperti sang janda dalam Injil hari ini. Augustinus adalah seperti anak yang sudah mati: pada masa hidupnya pernah mengalami mati rohani walaupun masih hidup.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Yesus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Seperti sang janda dari Nain itu, Monika sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil. Yesus berkata kepada janda itu untuk tidak menangis (Luk 7:13). Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda. Dalam keheningan doa-doa penuh air mata dari Monika yang memohon agar Augustinus diselamatkan, kiranya Tuhan Yesus pun berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Hati Tuhan pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Rahmat-Nya bekerja, dan kita pun mempunyai salah seorang kudus besar tokoh Gereja yang juga dihormati oleh saudari-saudara kita Kristen Protestan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah kami sebagai para orangtua agar senantiasa bertekun dalam mendoakan anak-anak kami agar tetap berada di jalan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus. Amin.

Cilandak, 25 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers