Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

SATU-SATUNYA CERITA MUKJIZAT YANG TERCATAT DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 8 April 2016) 

Feeding_the_5000006Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

5 LOAVES & 2 FISHHal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Tanggapan orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel dengan manna  di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”.  “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI DAN IKAN KITA” (bacaan tanggal 8-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 5 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERANI BERDIRI UNTUK BERSAKSI

BERANI BERDIRI UNTUK BERSAKSI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah – 2 April 2016) 

PETRUS AND Y0HANES DI HADAPAN SANHEDRINKetika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15.

“Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus” (Kis 4:12).

Yesus telah bangkit, dan kita semua adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Iblis tidak dapat menghalang-halangi Yesus untuk bangkit dari kubur. Namun Iblis mampu menghalang-halangi kita untuk tampil sebagai saksi-saksi dari kebangkitan Kristus. Akan tetapi, kita tidak boleh berhenti! Kita harus berkata – seperti Petrus dan Yohanes: “…… tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis 4:20), betapa besar pun risiko yang kita hadapi.

Kristus yang sudah bangkit itu pula yang akan membantu dan mendukung kita dan akan menegur orang-orang yang tidak mau menerima kesaksian kita (Mrk 16:14). Ia juga akan mengutus Roh Kudus untuk menaruhkan kata-kata hikmat dalam mulut kita sehingga kita tetap mampu  bersaksi (Luk 12:12). Roh Kudus juga akan menginsyafkan mereka yang tidak percaya akan kesaksian kita, “akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8). Dengan demikian, bersaksi adalah salah satu jalan yang sangat meyakinkan untuk melakukan pewartaan Injil Yesus Kristus (Kis 1:8).

Bilamana kita bersaksi atas iman kita akan Yesus, kita sebenarnya berbagi/syering iman dengan orang lain dan kita pun bertumbuh dalam iman bersama. Bersaksi itu meluhurkan Yesus yang bangkit, mengembangkan Kerajaan Allah, mempercepat pertumbuhan hidup dalam kekudusan. Bersaksi akan kebangkitan Kristus mengubah budaya kematian (anti hidup) menjadi budaya cinta-hidup dan budaya kasih.

Itulah sebabnya mengapa Iblis – pangeran maut (lihat Ibr 4:12), sangat membenci segala kesaksian yang benar. Mengapa? Karena Iblis selalu akan kalah karena kesaksian benar kita itu (lihat Why 12:11).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh (lihat Ul 6:5). Marilah kita selalu melawan Iblis itu (lihat 1Ptr 5:8-9). Marilah kita bertekad bulat untuk menjadi saksi-saksi dari kebangkitan Kristus !!! 

DOA: Bapa surgawi, jadikanlah diriku saksi Kristus yang sejati, di sini dalam rumah ini, dalam komunitasku, di tempat aku bekerja dan di tempat-tempat di mana aku berjumpa dengan masyarakat sekelilingku (Kis 1:8). Amin. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA KITA” (bacaan tanggal 2-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 31 Maret 2016 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 8 Februari 2016) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:1-7,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:6-10 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan antusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain “petak-umpet” dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba “melarikan diri” (menyingkir) dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua!

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan.

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah “Yang Ilahi” tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan “karunia dari Allah”, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia.

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun.

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan “penyakit” seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERLARI-LARI KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 8-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITBIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 Februari 2016 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN SATU PERINTAH SAJA

DENGAN SATU PERINTAH SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Senin, 1 Februari 2016) 

Healing_of_the_demon-possessedLalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu tinggal di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu.

Di lereng bukit itu banyak sekali babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan merasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnyal

Penjaga-penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan Legion itu. Mereka pun merasa takut. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan ini meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. (Mrk 5:1-20) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 15:13-14,30;16:5-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 3:2-7 

Perjumpaan Yesus dengan orang Gerasa (Gadara) yang kerasukan roh-roh jahat memang membuat bulu merinding, bukan hanya disebabkan karena peristiwa tenggelamnya babi-babi yang dirasuki roh-roh jahat ke dalam danau, melainkan juga karena kejadian itu membuat terang realitas kerasukan roh-roh jahat. Memang benar bahwa tidak semua godaan datang secara langsung dari Iblis sendiri, namun ada saat-saat – teristimewa di mana kita secara secara khusus sedang berupaya untuk melayani Tuhan – ketika roh-roh jahat pengikut Iblis memainkan peranan aktif dalam menggoda kita supaya tidak taat kepada Allah dan tidak menghormati-Nya.

st-ignatius-of-loyola-detail-featured-w740x493Santo Ignatius dari Loyola – seorang mantan perwira tentara – menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya sebagai seorang militer untuk menggambarkan kebenaran-kebenaran spiritual. Ignatius mengatakan bahwa Iblis menggunakan rencana yang tersusun rapih dan operasi rahasia, dan dia menyerang ketika kita berada dalam keadaan yang paling rentan. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengingatkan kita untuk senantiasa waspada dan tetap berdoa untuk pembebasan dari pengaruh si Jahat. Memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa bagi si Jahat untuk menggoda kita dan mencoba menyesatkan kita dari “kesetiaan kita yang sejati kepada Kristus” (lihat 2 Kor 11:3). Kalau kita membiarkan godaan-godaan terus berlangsung, maka hal tersebut akan sedikit demi sedikit menumpuk dan menyebabkan terbukanya jalan masuk ke dalam cara kita berpikir yang membiarkan kita terjebak dalam ketiadaan-pengharapan, kemarahan, rasa takut, sinisme, atau sejumlah besar pola-pola negatif lainnya.

Apakah yang menyebabkan tersedianya berbagai jalan masuk sedemikian? Sebagian dari penyebab-penyebab yang paling biasa adalah mentoleransi godaan dalam hidup kita, dosa masa lampau yang belum kita sesali dan bertobat atasnya dan pola-pola dosa yang bersifat kebiasaan, …… pembiaran-pembiaran. Dengan kata lain, bilamana kita memperkenankan (membiarkan) kegelapan masuk ke dalam hati kita, maka sebenarnya kita memberikan suatu kesempatan kepada Iblis untuk mendirikan tempat berpijak dalam diri kita.

Apabila kita mau menyelidiki dengan saksama serta mendalam, kita akan dapat melihat area-area dalam diri kita yang membutuhkan pembebasan. Ini adalah konsekuensi alamiah dari kehidupan dalam sebuah dunia yang gelap, di samping membawa juga berbagai efek dari kodrat manusia kita yang cenderung untuk berdosa. Kabar baiknya adalah bahwa Yesus senantiasa siap untuk melindungi dan membebaskan kita. Yesus tidak pernah ingin meninggalkan/membiarkan kita sebagai bulan-bulanan tipu daya Iblis. Sebagaimana Dia membebaskan orang Gadara yang kerasukan itu dengan satu perintah “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” (Mrk 5:8), Yesus ingin membawa kita kepada kebebasan dan kemerdekaan dalam artian sesungguhnya. Yang diminta oleh Yesus – seperti halnya dengan orang Gadara itu, adalah supaya kita mengabaikan penolakan-penolakan dari sisi kodrat kita yang lebih gelap, dan kemudian membawa diri kita ke hadapan hadirat-Nya. Hanya dengan begitu penyembuhan dan pembebasan akan sungguh terwujud dalam diri kita.

DOA: Yesus, aku mohon kepada-Mu supaya Engkau membebaskan diriku. Oleh iman aku datang menghadap hadirat-Mu yang kudus, di mana kejahatan tidak dapat berdiam, dan aku membawa segala kegelapan dalam diriku ke dalam terang-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk menaruh kepercayaan pada sabda-Mu untuk membebaskan aku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ORANG GERASA ITU, KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS” (bacaan tanggal 1-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 30 Januari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 30 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-OFS 

JamesSeward-PeaceBeStill

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 12:1-7a, 11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka.  Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang  berjudul “SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?” (bacaan tanggal 30-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01  PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS    

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

PUTERA ALLAH YANG BERNAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agnes, Perawan-Martir – Kamis, 21 Januari 2016)

(Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani) 

Jesus_109Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.  (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1 Sam 18:6-9; 19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Di tengah-tengah serangkaian cerita yang penuh dengan tindakan nyata tentang siapa Yesus sesungguhnya dan apa artinya menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembaca guna melakukan refleksi. Markus menggunakan kesempatan ini untuk membuat ringkasan tentang apa yang selama ini telah dikatakannya mengenai Yesus: kedaulatan-Nya, kuat-kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera (Anak) Allah. Markus ingin menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu (dan sampai sekarang juga) sungguh memikat sehingga menarik banyak orang dari seluruh muka bumi untuk datang kepada-Nya.

Yesus tidak dapat pergi ke mana saja tanpa diikuti banyak orang. Apa yang dilakukan oleh-Nya hanyalah meninggalkan sinagoga dan menuju danau dengan para murid-Nya, dan dengan cepat orang banyak sudah berkumpul di sekeliling-Nya. Ada yang datang dari daerah yang jauh jaraknya, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer jauhnya karena telah mendengar tentang berbagai mukjizat dan penyembuhan yang telah dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menjamah mereka. Mereka tidak dapat menunggu agar dapat dekat dengan-Nya, sehingga mereka mulai berdesak-desakan. Rasa lapar dan haus mereka akan cintakasih Allah begitu intens sehingga mereka memang harus berada bersama Yesus.

Apakah kita memiliki rasa lapar dan haus yang sama akan Allah? Apakah kita rindu untuk mengenal serta mengalami cintakasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan membiarkan apa pun yang menghalangi kita untuk datang kepada-Nya? Marilah kita tidak memperkenankan penghalang-penghalang seperti perasaan tak layak atau perasaan gagal merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Sebaliknya, marilah kita mengambil contoh orang banyak dalam bacaan di atas, baiklah kita berdesak-desakan mendekati-Nya. Santo Paulus menulis, “Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”  (Rm 8:38-39).

Orang Kudus yang kita peringati hari ini, Santa Agnes, adalah seseorang yang mengimani bahwa siapa dan apapun saja tidak akan dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah yang ada dalam Yesus Kristus. Ketika masih gadis berumur 13 tahun, Agnes berani memilih dipenjarakan oleh penguasa Romawi dan dihukum berat daripada mengkhianati iman-kepercayaannya kepada Kristus. Di dalam penjara dia dirayu oleh beberapa orang pemuda sahabat Kaisar dan salah seorang mengajaknya nikah agar dapat diselamatkan, dan  tentunya sementara itu untuk menyangkal imannya juga. Jawaban Agnes: “Maaf, saya sudah mempunyai kekasih. Ia mengasihiku dan saya pun mengasihi-Nya. Dia adalah Yesus Kristus”. Agnes menjadi saksi Kristus dalam bentuk tindakan nyata dan pernyataan iman yang begitu singkat-jelas, bukannya ulasan teologis rumit dan ‘ribet’, bukan pula khotbah yang panjang-panjang dan ‘ngalor-ngidul’ dari atas mimbar. Agnes wafat sebagai seorang martir (+ 304), mati ditusuk pedang ketika dibakar hidup-hidup. Ini adalah martyria (kesaksian) dalam arti sesungguh-sungguhnya.

Karena kita mempunyai Allah yang penuh kasih, yang tidak akan pernah menolak siapa pun, marilah kita pergi menghadap-Nya dengan hati yang terbuka lebar agar dapat menerima anugerah apa saja yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Dia rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia dan membawa mereka ke hadapan hadirat-Nya, dan untuk memberkati mereka dengan cintakasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun juga kecuali Engkau. Tak ada sesuatu pun yang dapat memuaskan rasa dahaga dan lapar kami, kecuali Engkau sendiri. Ajarlah kami untuk mendekati-Mu dengan berdesak-desakan bersama saudari-saudara kami yang lain, guna menerima cintakasih-Mu dan kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan peluklah kami erat-erat di dekat hati-Mu yang yang mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 18 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 14 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Kapusin

pppas0118 JESUS HEALS THE LEPERSeseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: 1 Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Memang menarik untuk berspekulasi tentang apa yang ada dalam pikiran orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkan dirinya dan memperingatkan dengan keras kepadanya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun tentang penyembuhan tersebut (Mrk 1:44). Apakah dia begitu dipenuhi dengan antusiasme sehingga dirinya terdorong dan penuh semangat untuk menceritakan semua yang dialaminya kepada orang-orang yang dijumpainya? Atau, apakah dia berpikir bahwa dengan “memberikan kredit” kepada Yesus atas penyembuhan yang dialaminya, dia sebenarnya membantu Yesus? Apa pun alasannya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terus kita lihat ada dalam Injil-nya: (1) rahasia mesianis dan (2) ketegangan yang sebentar lagi akan terus membayangi Yesus.

Sepanjang Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menerima gelar “Mesias” (Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan atau menggaris-bawahi keengganan Yesus ini sehingga dengan demikian ia dapat menunjukkan bahwa berbagai mukjizat dan tanda heran tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai sang Mesias. Berbagai mukjizat dan tanda heran menunjuk pada suatu pernyataan yang lebih penuh, yaitu bahwa Sang Terurapi akan membebaskan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di kayu salib. Jadi, siapa saja yang akan menjadi seorang murid dari Mesias haruslah memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk tidak diam (tidak banyak omong), maka orang kusta yang disembuhkan itu dengan tak sengaja memicu ketegangan yang membawa dampak pada pelayanan Yesus selanjutnya.  Sampai hari itu, setiap hal telah berjalan dengan sangat baik – boleh dikatakan sangat fantastis. Akan tetapi, tiba-tiba masalahnya menjadi rumit: “Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini mengisyaratkan adanya konfrontasi yang akan dialami oleh Yesus dengan banyak pemuka/pemimpin agama Yahudi, suatu konfrontasi yang akhirnya menggiring-Nya kepada kematian di kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus menyadari bahwa karya pelayanan-Nya akan menyebabkan konflik. Seperti orang kusta yang telah disembuhkan namun tidak kooperatif – mengabaikan perintah Yesus atau berpikir bahwa tindakannya akan memperbaiki rencana Allah, kodrat manusia kita yang cenderung berdosa akan – mau tidak mau – akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun begitu, hal ini tidak pernah membuat Yesus mundur dari karya-Nya melakukan kebaikan: menyembuhkan orang sakit, memberi pengajaran dan mengambil orang-orang untuk datang kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Yesus menerima “biaya” konflik, dimusuhi oleh para petinggi agama, bahkan mengalami kematian yang mengenaskan …… demi membebas-merdekakan kita.

Saudari-Saudara, marilah kita mengikuti jejak sang Mesias yang telah memilih “jalan perendahan”, taat kepada Bapa-Nya dalam kerendahan hati (lihat Flp 2:6-8). Sekarang, janganlah kita pilih-pilih. Marilah kita memberikan kepada Yesus seluruh hati kita. Dengan demikian, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya kita mengalami relasi yang lebih mendalam dengan Dia.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Melakukan kehendak-Mu adalah kesenanganku, ya Tuhan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membebas-merdekakan diriku untuk menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Sam 4:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “TAAT KEPADA ALLAH DAN SETIA KEPADA KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 14-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 12 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS