Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL

SISA ROTI SEBANYAK TUJUH BAKUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup – Sabtu, 14 Februari 2015) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANGPada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.  (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6,12-13 

Gurun Sahara, Kalahari, Gobi. Kebanyakan dari kita barangkali tidak pernah mengalami hidup di padang gurun atau gurun pasir – bagaikan hutan belantara namun gundul dengan sedikit saja tetumbuhan/hewan yang dapat menopang kehidupan manusia. Namun demikian, kita semua tentunya pernah melalui “pengalaman padang gurun” dalam kehidupan kita, yaitu masa-masa di mana kita merasakan kekeringan secara fisik, emosional, dan/atau spiritual. Berbagai pergumulan, ketegangan dan konflik keluarga, kebutuhan-kebutuhan keuangan yang tidak terpenuhi, depresi, atau kebingungan terkait tujuan-tujuan Allah dalam hidup kita dapat menyebabkan timbulnya masa-masa di mana kita hampir mengalami keputus-asaan.

Pengalaman padang  gurun membangkitkan dalam diri kita rasa haus dan lapar akan sesuatu yang baru – suatu hasrat untuk mengikut Allah dengan lebih setia dan tulus, dan suatu ketetapan hati untuk mengenal dan melaksanakan rencana-Nya dalam hidup kita tanpa reserve. Kita dapat melihat tangan-tangan Allah dalam hal ini, walaupun kita baru menyadarinya setelah berjalannya waktu. Dengan melihat ke belakang – khususnya pada saat-saat itu – kita seringkali menjadi sadar bahwa di tengah-tengah kesulitan-kesulitan hidup itu, justru terlihat tangan-tangan Allah yang penuh berkat itu bekerja.

MUKJIZAT PERLIPATGANDAAN ROTI OLEH YESUS- 001Padang gurun adalah tempat terpencil yang jauh dari kerumunan manusia dengan segala hiruk pikuknya. Di tempat yang terpencil seperti itulah Yesus membuat mukjizat penggandaan roti dan ikan, sehingga mampu membuat kenyang sekitar 4.000 orang, bahkan menyisakan roti sebanyak 7 bakul (Mrk 8:8). Sebagaimana Dia memperhatikan orang banyak yang mengikuti-Nya di tempat terpencil seperti padang gurun itu, Yesus juga bekerja secara istimewa pada saat-saat padang gurun dalam kehidupan kita. Ada peristiwa-peristiwa di mana Dia akan memimpin kita ke padang gurun yang terpencil, ke tempat yang tidak familiar bagi kita dan tidak menyenangkan, agar dengan demikian kita dapat mengalami suatu perjumpaan yang lebih intim/akrab dengan diri-Nya. Kenikmatan-kenikmatan duniawi lalu menjadi kurang menarik atau kurang memuaskan, dan Yesus memberikan kepada kita suatu rasa haus dan lapar yang lebih mendalam akan diri-Nya. Yesus dapat memampukan kita untuk melihat sampai berapa jauh dosa kita telah mempengaruhi (secara buruk) relasi kita dengan diri-Nya. Yesus dapat juga memberikan kepada kita suatu rasa terkait kerinduan-Nya agar kita kembali kepada-Nya dengan hati yang dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Di tempat terpencil, Yesus mempergandakan tujuh roti dan beberapa ekor ikan kecil yang kemudian mampu mengenyangkan rasa lapar 4.000 orang. Betapa indahnya dan bahagianya hati bilamana kita mengetahui bahwa Yesus dapat dan akan melakukan sesuatu yang serupa bagi kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Yesus – kepenuhan janji-janji Bapa surgawi kepada umat-Nya – tidak pernah gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam. Seringkali kita tidak menyadari betapa kita membutuhkan pertolongan-Nya sampai pada saat kita berada di suatu padang gurun dalam kehidupan kita. Saat seperti itu membuat kita merasa sungguh hina-dina di hadapan-Nya. Di sisi lain, buah-buah dari perjumpaan dengan-Nya sungguh indah dan memberikan hidup. Hanya Allah-lah yang dapat membuat mukjizat-mukjizat sedemikian.

DOA: Bapa surgawi, aku seringkali terlalu mengandalkan kemampuan diriku sendiri dalam mencoba memecahkan masalah-masalah yang kuhadapi dalam hidupku dan tidak menyadari bagaimana aku membutuhkan Engkau. Ampunilah segala kemandirianku yang keliru dan terimalah kepasrahan diriku untuk menggantungkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “MENGAPA KITA HARUS MERAGUKAN BELAS KASIHAN ALLAH?” (bacaan tanggal 14-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak,  8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

EFATA, TERBUKALAH!

EFATA, TERBUKALAH!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V –  Jumat, 13 Februari 2015)

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 01Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Kej 3:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

Seperti juga perempuan Siro-Fenisia yang mencari kuasa penyembuhan Yesus bagi anak perempuannya, orang tuli dan gagap ini datang dari suatu wilayah non-Yahudi. Dua orang itu tergolong “orang luar” – mereka berada di luar perjanjian yang telah dibuat oleh Allah dengan umat pilihan-Nya. Namun demikian, Yesus memilih untuk menyembuhkan anak perempuan dari perempuan Siro-Fenisia dan juga orang yang tuli dan gagap tersebut. “Mereka teramat takjub” (Mrk 7:37), barangkali bukan hanya karena penyembuhan-penyembuhan ajaib yang dilakukan Yesus, namun karena kenyataan bahwa Yesus memberikan berkat-berkat kepada orang-orang “kafir” juga.

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 02Mengapa kita sering “merasa teramat takjub” ketika melihat karya Tuhan? Barangkali kita telah mendengar berita tentang seorang kriminal kelas berat yang bertobat, atau kesembuhan ajaib yang dialami seseorang dari penyakit kanker yang ganas. Barangkali kita telah melihat bagaimana seorang anggota keluarga besar kita yang bertahun-tahun lamanya “jauh” dari Tuhan, kemudian kembali ke jalan-Nya. Manifestasi-manifestasi dari kuasa Allah memang indah, dan sepantasnyalah kita bergembira untuk itu semua. Sekarang, apakah manifestasi-manifestasi itu mengejutkan kita? Barangkali. Namun semua itu mengingatkan kita akan sebuah kebenaran yang sudah kita ketahui: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Melampaui mukjizat-mukjizat yang sudah bersifat sangat luarbiasa, Allah dapat melakukan hal-hal yang mengagumkan dalam hati kita dan membuka telinga kita agar mampu mendengar sabda-Nya dengan satu cara yang baru. Sampai berapa sering kita mendengar Allah Bapa berbicara kepada kita dalam doa, mengingatkan kita akan suatu petikan bacaan khusus dalam Kitab Suci yang mengubah cara kita bertindak dan cara kita memandang hidup kita? Seperti apa yang dilakukan-Nya dengan orang tuli dan gagap, Allah ingin kita membuka hati kita untuk mendengar kehendak-Nya bagi kita; Dia ingin melancarkan lidah kita guna memproklamasikan kemuliaan-Nya. Kita harus mengharapkan bahwa Allah dapat dan mau mewujudkan karya-Nya ini dalam diri kita – barangkali, seperti halnya dengan orang yang tuli dan gagap, dengan pertolongan para sahabat kita (lihat Mrk 7:32).

ORANG TULI DISEMBUHKAN - 03Yesus seringkali membuat orang terkejut – menyembuhkan orang “kafir”, bersantap dalam perjamuan makan dengan para pemungut cukai, mengampuni para PSK. Ia juga dapat mengejutkan kita dengan memanggil kita kepada-Nya dan menggunakan kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya di atas bumi. Para murid-Nya pertama terdiri dari para mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan pejuang militan Zeloti.

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah kita tidak membatasi Tuhan. Kita dapat berpikir bahwa kita tidak siap dan tidak mempunyai peralatan yang mencukupi guna menerima tugas dari Tuhan, namun terus membuka sepasang telinga kita agar dapat mendengar suara-Nya dan hati kita juga siap untuk melakukan apa saja yang diperintahkan-Nya  kepada kita (lihat Yoh 2:5).

DOA: Yesus, Engkau adalah Yang Kudus dari Allah, oleh karenanya layak dipuji. Segala kemuliaan dan kehormatan adalah milik-Mu saja. Dalam belas kasih-Mu yang besar, Engkau datang ke dunia untuk menyelamatkan kami. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TULI DIJADIKAN-NYA MENDENGAR, YANG BISU DIJADIKAN-NYA BERKATA-KATA” (bacaan tanggal 13-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak,  6 Februari 2015 [Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus dkk-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI YESUS KITA SEMUA MEMPUNYAI AKSES KEPADA TAKHTA ALLAH

MELALUI YESUS KITA SEMUA MEMPUNYAI AKSES KEPADA TAKHTA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 12 Februari 2015) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYALalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Kota-kota Tirus dan Sidon terletak di luar perbatasan Israel, namun demikian orang-orang di sana mendengar tentang mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran yang dibuat oleh Yesus. Di kota Tirus ini Yesus didekati oleh seorang perempuan non-Yahudi yang tinggal di situ. Anak perempuan perempuan itu kerasukan roh jahat dan pengharapan satu-satunya adalah sang rabi Yahudi dari Nazaret ini yang “ahli” membuat mukjizat. Tindakan perempuan “kafir” ini dilakukan tanpa rasa malu dan dengan berani pula. Perempuan pada zaman itu tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan orang-orang asing. Lagipula, dia adalah seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:26), artinya dipandang sebagai orang kafir yang tidak bersih oleh orang Yahudi.

Dengan maksud menguji iman perempuan itu, Yesus menanggapi permohonan perempuan itu dengan berkata: Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk 7:27). Kata-kata Yesus ini terasa pedas-menyakitkan bagi telinga yang cukup sensitif, namun kelihatannya tidak mengejutkan bagi telinga perempuan itu. Kiranya kata-kata Yesus itu malah menguatkan ketetapan hatinya untuk mengandalkan diri sepenuhnya pada Yesus. Menanggapi secara positif sekali tantangan yang diberikan Yesus di hadapannya, perempuan itu bertekun dalam iman dan menolak untuk mundur. Bahkan dengan kerendahan hati dan keberanian yang sama bobotnya, dia menanggapi kata-kata Yesus: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28).

stdas0076 - CHRIST AND THE SYROPHOENICIAN WOMANIni adalah suatu “model iman” yang berlaku sepanjang masa!  Perempuan itu tidak memperkenankan apa atau siapa pun menghalangi dirinya untuk mendekat kepada sang Mesias – bukan status sosialnya yang rendah, bukan pula kondisi dirinya yang tidak bersih sebagai seorang “kafir”, bahkan bukan komentar awal dari Yesus yang terasa menghinanya. Iman-kepercayaan yang dimiliki perempuan itu samasekali tidak mengecewakan dirinya, karena akhirnya dia pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan roh jahat yang mengganggunya juga sudah pergi (lihat Mrk 7:30). Sikap dan perilaku perempuan Sino-Fenisia itu sungguh bertentangan dengan kekerasan hati yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang mengecam Yesus dan para murid-Nya yang tidak mengindahkan adat istiadat Yahudi yang berlaku (lihat Mrk 7:1-13). Dengan caranya sendiri, perempuan Siro-Fenisia itu telah menantang asumsi-asumi buatan manusia – sebagaimana Yesus telah berkonfrontasi dengan para pemimpin Israel yang sangat terikat pada tradisi, kemudian membuktikan iman manakah yang benar.

Siapa diantara kita yang kiranya merasa tak pantas untuk mendekat kepada Yesus? Di mata Allah, kita bukanlah bersih atau murni, demikian pula perempuan Siro-Fenisia itu. Terima kasih penuh syukur seharusnya kita haturkan kepada Yesus, karena berkat pengantaraan-Nya kita mempunyai akses kepada takhta Allah. Yesus hidup di tengah-tengah kita, menanggung sendiri segala dosa manusia sepanjang masa, dan membebaskan kita dari dosa dan maut. Tidak ada seorang pun yang berada di luar kuat-kuasa-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menjalani hidup kita sehari-hari penuh kepercayaan akan kasih-Nya dan hasrat-Nya untuk membebaskan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah datang ke tengah dunia guna menyembuhkan jiwa-jiwa umat manusia. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “SEORANG PEREMPUAN BERIMAN” (bacaan tanggal 12-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014. 

Cilandak,  6 Februari 2015 [Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filius dr Yesus dkk-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERLARI-LARI KEPADA YESUS

BERLARI-LARI KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 9 Februari 2015) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: Kej 1:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,5-6,10,12,24,35 

Kita lihat bagaimana dalam Injil Markus, ketika orang-orang mendengar bahwa Yesus telah tiba di tempat tertentu, maka mereka “berlari-lari” kepada-Nya. Mereka tidak berjalan untuk melihat Yesus, tetapi “berlari-lari” untuk dapat melihat-Nya. Mereka “bergegas-gegas” untuk mendengarkan Dia (lihat Mrk 6:33), …… “berlari-larilah” mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada (Mrk 6:55). Ketika Yesus dan tiga orang rasul-Nya turun dari gunung di mana Dia mengalami transfigurasi, tercenganglah orang banyak dan “bergegas” menyambut Dia (Mrk 9:15). Kemudian, seorang kaya “berlari-lari” mendapatkan Dia (Mrk 10:17).

Orang-orang berlari-lari untuk bertemu dengan Yesus karena mereka ditarik oleh suatu daya tarik yang teramat kuat dari diri-Nya. Mereka melihat bahwa Yesus mampu untuk menyembuhkan dan mengajar mereka, dan hal-hal tersebut menarik perhatian atau memikat mereka. Orang-orang itu sungguh merindukan hal-hal yang ditawarkan-Nya: sabda pengharapan dan penghiburan, pernyataan tentang kasih Bapa sugawi, dan kuat-kuasa dari suatu hidup yang penuh kerendahan hati dan penyerahan diri. Mereka berlari-lari untuk melihat Dia menyembuhkan orang-orang sakit. Jadi, ada urgency di sini: Kita harus berlari-lari kepada Yesus sekarang juga!

YESUS MENYEMBUHKAN - SATU PERSATUYesus tidak pernah membuang siapa pun; Dia selalu terbuka bagi kebutuhan-kebutuhan orang-orang. Begitu sederhananya! Yesus senang sekali bertemu dengan orang-orang dan Ia pasti memperhatikan mereka yang ditemui-Nya. Orang-orang berlari-lari kepada Kristus agar berbagai kebutuhan mereka dipenuhi oleh-Nya!

Ketika Markus menulis bahwa orang-orang yang  menyentuh jumbai jubah-Nya saja menjadi sembuh, dia menggunakan kata Yunani sozo yang juga berarti dibebaskan, atau diselamatkan. Orang-orang yang secara fisik sakit dan disentuh oleh Yesus (seperti orang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah; Mrk 2:1-12) menyadari bahwa kesembuhan mereka tidak hanya bersifat fisik melainkan juga bersifat spiritual; bahwa dosa-dosa mereka diampuni; hati mereka disentuh dan ditransformasikan oleh kasih Bapa surgawi (lihat Mrk 2:5). Demikian pula, mereka yang berlari-lari kepada Yesus ditarik bukan hanya oleh laporan-laporan tentang penyembuhan/kesembuhan fisik, melainkan juga oleh cerita-cerita tentang “penyembuhan/kesembuhan batin” (Inggris: inner healings), orang-orang “diselamatkan” dari dosa mereka dan penyakit spiritual mereka. Setiap orang, termasuk yang sehat secara fisik, mempunyai alasan untuk berlari-lari kepada Yesus untuk memperoleh kesembuhan spiritual dari Dia.

Saudari-Saudara terkasih, marilah kita tanpa rasa ragu sedikit pun berlari-lari kepada Yesus untuk memperoleh kuat-kuasa penyembuhan-Nya. Dengan demikian kita pun dapat berfungsi dengan efektif sebagai pewarta Injil-Nya yang harus kita lakukan, baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan-tindakan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Tabib yang penuh kuasa. Hati-Mu dipenuhi dengan bela rasa terhadap orang-orang kecil dan menderita. Engkau memanggil kami agar datang kepada-Mu dalam iman, sehingga dengan demikian kami dapat disembuhkan dan diselamatkan. Yesus, kami datang kepada-Mu dengan penuh gairah. Tuhan, selamatkanlah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET” (bacaan tanggal 9-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBAWA KESELAMATAN YANG PENUH

YESUS MEMBAWA KESELAMATAN YANG PENUH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA V [Tahun B],  8 Februari 2015) 

HEALING OF THE MOTHER IN LAW OF PETER - 3Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39) 

Bacaan Pertama: Ayb 7:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6; Bacaan Kedua: 1Kor 9:16-19,22-23

Apakah anda pernah sejenak memikirkan cara indah yang digunakan oleh Allah ketika kita diciptakan? Manakala kita sedang menderita dalam salah satu aspek kehidupan kita – apakah aspek spiritual, psikologis, atau fisik – maka segala hal lainnya akan menjadi tidak seimbang. Pikirkanlah, bagaimana orang-orang yang menderita dari relasi yang terluka cenderung untuk menjadi lebih rentan terhadap sakit-penyakit.  Bayangkanlah betapa berbinar-binarnya wajah pengantin perempuan yang masih muda pada hari pernikahannya. Apabila kita mempertimbangkan hal-hal seperti itu, maka kita tidaklah salah apabila mengatakan betapa kompleksnya manusia itu!

Sekarang, bayangkanlah ibu mertua Simon Petrus yang sedang berbaring di tempat tidurnya karena menderita sakit demam. Pikiran-pikiran apa saja yang kiranya berkecamuk dalam kepalanya? Kenyataan bahwa seorang rabi dari Nazaret yang populer datang mengunjunginya di tempat kediamannya, dan dia tidak mampu untuk menyapa atau melayani-Nya? Tentunya ada frustrasi dalam dirinya karena dia tidak mampu bergabung dengan orang banyak untuk mendengarkan khotbah-Nya! Apakah dia merasa cemas karena sakit demamnya itu? Namun dengan sebuah perintah sederhana dari Yesus, perempuan ini pun disembuhkan. Sakit demamnya hilang lenyap seketika dan dia menerima rahmat untuk tidak merasa susah dan memberikan dirinya untuk melayani.

YESUS MENYEMBUHKAN LAGIDari sejak awal Yesus menunjukkan bahwa Dia datang ke tengah-tengah dunia untuk membawa suatu keselamatan yang penuh – “penyembuhan” dalam artiannya yang paling kompleks. Ia tidak hanya muncul satu hari, wafat di kayu salib, dan pulang ke surga. Selama tiga tahun Ia berkeliling mengajar dan berkhotbah. Berjam-jam lamanya setiap hari Ia memulihkan orang-orang sakit kembali menjadi seimbang secara fisik, mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang lumpuh, membuat orang bisu mampu berbicara, mengusir roh-roh jahat, memberikan pengharapan kepada mereka yang dilanda rasa khawatir, dlsb. Yesus sungguh datang untuk membawa suatu restorasi yang lengkap kepada orang-orang, hal mana dimulai sekarang di dunia dan akan digenapi apabila kita bersatu dengan Dia pada akhir zaman.

Apakah anda sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan anda? Apakah anda percaya bahwa Dia dapat menyembuhkan memori-memori yang terluka, memulihkan relasi yang telah pecah, dan membuang sakit-penyakit fisik? Kalau sungguh percaya datanglah menghadap-Nya dalam iman. Percayalah bahwa Dia baik. Iman seperti ini dapat memindahkan penghalang sebesar gunung. Iman seperti ini dapat membuat kita berakar dalam kasih Kristus, apakah kita sudah sepenuhnya disembuhkan atau belum, kita akan tetap memiliki damai-sejahtera karena kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan mengalami restorasi yang sungguh total-lengkap.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh semua urusanku di kaki-kaki-Mu dan percaya bahwa Engkau akan memperhatikan semua itu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk sungguh memahami kepenuhan keselamatan yang telah Engkau rencanakan bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MENGGUNAKAN OTORITAS-NYA DENGAN PENUH KASIH” (bacaan untuk tanggal 8-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02  PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-2-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN DAN RASA TAKUT

IMAN DAN RASA TAKUT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Selasa, 3 Februari 2015) 

pppas0267 - talikumiSesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Ibr 12:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32

Dalam bacaan Injil yang agak panjang ini, Markus menceritakan sebuah cerita di dalam sebuah cerita, sesuatu yang juga pernah dilakukannya sebelum ini (lihat Mrk 3:20-35). Cerita-cerita mukjizat tentang anak perempuan Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan memang sangat cocok diceritakan dalam satu “paket” yang sangat menarik.

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUEDalam dua kasus ini kita melihat keberadaan situasi-situasi yang kelihatannya tak mempunyai pengharapan, namun ternyata iman kepada Yesus adalah jawabannya, seperti dikatakan oleh-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mrk 5:34). Jadi, yang kita butuhkan adalah rasa percaya (Inggris: trust).

Kita juga melihat dalam dua cerita ini bahwa rasa takut tidak mempunyai tempat dalam situasi di mana Yesus hadir. Ketika perempuan itu sadar bahwa dirinya telah diketemukan/diketahui, dia menjadi takut dan gemetar (Mrk 5:33), namun Yesus berkata: “Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu! Pada waktu laporan bahwa anak perempuan Yairus telah meninggal dunia menyebabkan rasa takut yang melumpuhkan dan ketiadaan pengharapan, Yesus berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja!”  (Mrk 5:36).

Yesus menunjukkan kepada kita kuat-kuasa-Nya yang besar untuk menyembuhkan dan membuat mukjizat-mukjizat. Kuat-kuasa itu mengalir ke luar dari diri-Nya. Ada kuat-kuasa untuk menyembuhkan dalam sentuhan-Nya. Yesus mengajarkan kepada kita sesuatu tentang sentuhan manusiawi dan juga tentang sentuhan ilahi-Nya. Ia menginginkan agar kita juga menyentuh orang lain yang membutuhkan. Bilamana kita menyentuh, maka hal itu berarti bahwa kita tidak takut terlibat. Ada suatu kesembuhan tertentu dalam sentuhan seorang manusia. Hanya apabila kita sampai pada titik untuk dapat menghargai karunia dari Allah itu, hanya setelah itulah kita dapat menerima karunia sentuhan penyembuhan yang bersifat ilahi.

Tuhan Yesus membuat jelas bahwa tidak ada kasus yang tak berpengharapan dalam kehadiran-Nya. Apakah kita percaya akan hal ini? Jika muncul situasi-situasi yang hopeless dalam kehidupan kita, dalam keluarga kita, apakah kita berpaling kepada-Nya dengan iman dan rasa percaya? Atau, apakah reaksi kita yang pertama adalah rasa takut, rasa putus asa, bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan? Kemudian, apakah kita pergi menemui “orang pintar” dan sejenisnya guna memperoleh jawaban yang mungkin?

Apakah sebenarnya yang diekspektasi oleh Yesus dari diri kita? Ia menginginkan agar kita melakukan hal yang terbaik. Ia ingin agar kita menggunakan segala kemampuan dan sumber daya yang kita miliki, semua karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Namun semua itu harus senantiasa kita lakukan tanpa rasa takut, karena Dia hadir; dengan iman, karena Dia memang selalu memelihara kita.

DOA: Tuhan Yesus, mengapa kami begitu lemah dalam iman, begitu tertekan dengan rasa takut? Tunjukkanlah kepada kami bahwa kami tidak perlu menjadi takut, melainkan cukup menyerahkan diri kepada sentuhan kesembuhan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MENYENTUH HIDUP KITA SEMUA” (bacaan tanggal 3-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 28 Januari 2015 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?

SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes Bosko – Sabtu, 31 Januari 2015) 

MUKJIZAT -  YESUS MENENANGKAN BADAIPada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: Ibr 11:1-2,8-19; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75 

Dalam bacaan Injil hari Jumat kemarin (Mrk 4:26-34; perumpamaan tentang biji sesawi), kita melihat bagaimana kerajaan Allah bertumbuh dari awal yang sederhana dan tak kelihatan. Dalam bacaan hari ini kita melihat bagaimana kerajaan Allah itu memanifestasikan dirinya kepada para murid dengan suatu cara yang dramatis, yaitu dalam kuat-kuasa Yesus dalam menaklukkan badai yang sedang mengamuk. Bagaimana Dia bisa-bisanya tidur dengan tenang dalam cuaca tak bersahabat seperti itu? Karena Yesus menaruh kepercayaan penuh kepada kasih dan pemeliharaan Bapa-Nya. Apa yang ditulis perihal “iman” dalam Ibr 11:1 sungguh menjadi kenyataan dalam diri Yesus.

Para murid memandang situasi yang dihadapi secara berbeda. Sang Guru yang tertidur  di buritan perahu karena kelelahan samasekali tak nampak sebagai seseorang yang memiliki kuat-kuasa untuk membuat tenang gelombang-gelombang ombak yang menerpa sebuah perahu nelayan sederhana. Iman mereka kepada Yesus ternyata berada pada tingkat yang berbeda dengan iman-Nya kepada Bapa surgawi. Namun demikian, para murid memang – tidak bisa tidak –  hanya dapat mohon pertolongan dari sang Guru. Dengan benih iman mereka yang begitu kecil mereka membangunkan Dia dari tidur-Nya sambil mengeluh: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Menanggapi keluhan para murid yang terasa “kurang ajar” dan “egois” itu, Yesus tidak marah dan ngomel-ngomel. Tanpa ucapan kata-kata sedikit pun Ia menanamkan rasa damai-sejahtera ke dalam hati mereka masing-masing. Setelah itu Dia menghardik angin topan dan memerintahkan danau supaya tenang (lihat Mrk 4:39). Damai-sejahtera yang dinikmati-Nya di buritan perahu sekarang diturunkan-Nya kepada para murid yang masih terkagum-kagum, dan juga kepada air danau.

MUKJIZAT - YESUS DI TENGAH BADAI YANG MENGAMUKPesan perikop Injil ini berlaku di segala zaman. Betapa seringnya kita mengucapkan Credo di pagi hari, mengulang-ulang “Aku percaya” dengan begitu sering,  tetapi begitu diterpa sakit-penyakit, kehilangan seseorang yang kita cintai, dibebani masalah keuangan yang menekan, atau masalah-masalah keluarga dll., maka kita menjadi seperti para murid yang memandang Dia sebagai tidak mempedulikan diri kita yang seakan mau mati ini. Bukankah begitu?

Iman bukanlah sesuatu yang kita dapat bangun hanya dengan mengulang-ulang doa-doa atau berupaya lebih keras lagi berdasarkan kekuatan kita sendiri. Iman adalah karunia (anugerah) dari Allah. Apabila iman kita (yang merupakan karunia atau pemberian dari Allah) kelihatan sudah melemah, maka kita senantiasa harus berpaling kepada Dia – sang Pemberi karunia, dengan keyakinan penuh akan kebenaran definisi “iman” seperti tertulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani”: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Kita mohon juga kuat-kuasa-Nya untuk merestorasi damai-sejahtera dalam hati kita dan situasi yang kita hadapi.

Tindakan iman bukanlah melakukan sesuatu yang akan membebaskan kita dari rasa takut dan dosa sekaligus dan untuk seterusnya. Iman adalah sebutir benih yang bertumbuh oleh kuat-kuasa Allah, sampai pada suatu hari kita mencapai titik di mana kita dapat menjadi sama tenangnya dalam krisis seperti Yesus, ketika Dia tidur di buritan perahu meski di tengah badai yang mengamuk di tengah danau.

DOA: Bapa surgawi, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan karunia-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan tenang serta penuh rasa damai-sejahtera. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu dan berbicaralah tentang damai-sejahtera ke dalam jiwa kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang  berjudul “BERSERULAH KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 31-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01  PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 27 Januari 2015 [Hari Raya S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS      

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers