Posts tagged ‘MUSA’

YESUS ADALAH JURUSELAMAT KITA YANG SEJATI

YESUS ADALAH JURUSELAMAT KITA YANG SEJATI

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 31 Maret 2018)

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Tetapi sungguh aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda. Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa akulah YHWH, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan rombongan orang Israel, dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu YHWH menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka – segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda – sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, YHWH yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab YHWH-lah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu YHWH menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan YHWH terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada YHWH dan mereka percaya kepada YHWH dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi YHWH yang berbunyi: “Baiklah aku menyanyi bagi YHWH, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Kel 14:15-15:1) 

Pada hari SABTU SUCI kita mengalami keheningan dan sepinya makam sementara Yesus “tidur dalam kematian”, seakan-akan beristirahat dari penderitaan sengsara-Nya yang begitu mengerikan dan disusul oleh kematian-Nya di atas kayu salib pada hari Jumat sebelumnya. Lalu, pada malam Paskah ini, kita akan memproklamirkan dalam pengakuan iman (Credo), bahwa Yesus turun ke tempat penantian dan mematahkan cengkeraman Iblis atas umat manusia. Dalam bahasa Inggris, Malam Paskah ini dinamakan Easter Vigil (Vigili Paskah). Vigil berarti berjaga-jaga, bersiap-siaga (Inggris: Vigilance = kewaspadaan; vigilant = waspada; vigilante= semacam pamswakarsa/milisia). Sepanjang malam ini kita akan menantikan penuh antisipasi kebangkitan-Nya untuk membebaskan kita dari kutukan dosa dan memulihkan kita kepada kehidupan kita dalam Allah.

Pada malam ini juga kita akan diingatkan kepada suatu malam di tanah Mesir ribuan tahun lalu, pada saat mana orang-orang Israel berduyun-duyun pergi meninggalkan tempat kediaman mereka menuju pantai Laut Merah, melewati padang gurun setelah sebelumnya malaikat maut melewati rumah-rumah mereka. Di pantai Laut Merah itu mereka terjepit oleh laut di depan mereka dan pasukan Firaun di belakang mereka. Di sana mereka diam sambil bersiap-siaga penuh antisipasi akan campur tangan Allah. Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan rombongan orang Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan  yang tadinya bergerak di depan mereka juga pindah ke belakang rombongan (lihat Kel 14:19).  Bayangkanlah betapa dalam pada saat-saat itu pengharapan orang-orang Israel akan perlindungan dan pembebasan dari YHWH (Allah). Hidup mereka seperti sebutir telur di ujung tanduk saja, jadi tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka lakukan, kecuali berdiri dengan iman yang kokoh. Segalanya tergantung kepada kemurahan hati Allah. Sebelumnya Musa sudah mengatakan kepada orang-orang Israel: “YHWH  akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel 14:14).

Para murid Yesus juga berada dalam suatu situasi serupa setelah penyaliban Yesus di Kalvari. Tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat menghidupkan kembali Yesus: apakah remuk-redam hati dan penyesalan mendalam Simon Petrus atas penyangkalannya (3 x) terhadap Yesus yang sebelumnya sudah dideklarasikan olehnya sebagai Mesias dan Putera Allah yang hidup, atau apakah pengurapan jenazah Yesus dengan rempah-rempah mahal oleh para perempuan. Sungguh, tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka lakukan, kecuali menunggu. Nah, justru pada akhir kemampuan segala sumber daya manusia inilah kuasa Allah memancarkan terang-Nya dengan penuh kemuliaan.

Apabila kita mati terjerat dalam kedosaan, Allah pun akan mengutus Putera-Nya untuk memulihkan kita kembali kepada kehidupan. Bilamana kita ternyata tidak mampu untuk menyelamatkan diri kita sendiri dengan kekuatan kita sendiri (memang pasti tidak bisa!), maka Yesus akan menyelamatkan kita. Apabila kita diperbudak oleh dosa, artinya menjadi budak-budak Iblis, maka Yesus akan mematahkan rantai-rantai yang membelenggu kita dan membebas-merdekakan kita.

Pada malam ini, baiklah kita menantikan Tuhan dan Juruselamat kita, dengan penuh pengharapan agar kuasa Roh Kudus-Nya bergerak dalam diri kita. Yang kita perlukan hanyalah untuk “berdiam dalam keheningan”, dan Ia akan bertindak untuk kita. Bahkan apabila anda tidak dapat menghadiri Upacara Malam Paskah ini, ambillah waktu malam untuk berdiam sambil berjaga-jaga penuh kewaspadaan menantikan terang Kristus memenuhi hati kita dan memancar ke dunia di sekeliling kita. Malam ini adalah malam hari yang paling terberkati ketimbang malam-malam hari lainnya, yaitu malam yang dipilih oleh Allah untuk melihat kebangkitan Kristus dari antara orang mati.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Segala harapan kami adalah Engkau saja. Melalui kebangkitan-Mu, bebaskanlah kami dari dosa-dosa dan rasa takut kami yang selama ini telah mencekam dan membelenggu kami. Transformasikanlah rasa susah-hati kami menjadi sukacita sejati. Pulihkanlah kami, ya Tuhan, kepada kehidupan di dalam Engkau. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami sebuah Bacaan Kitab Suci lainnya malam ini (Rm 6:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “MATI TERHADAP DOSA, TETAPI HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS” (bacaan tanggal 31-3-18) dalam  situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 29 Maret 2018 [HARI KAMIS PUTIH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEBAGAIMANA YHWH MEMBEBASKAN ORANG ISRAEL DARI PERBUDAKAN DI TANAH MESIR, YESUS MEMBEBASKAN KITA DARI PERBUDAKAN DOSA

SEBAGAIMANA YHWH MEMBEBASKAN ORANG ISRAEL DARI PERBUDAKAN DI TANAH MESIR, YESUS MEMBEBASKAN KITA DARI PERBUDAKAN DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH, 29 Maret 2018)

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi YHWH.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (Kel 12:1-8,11-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26; Bacaan Injil: Yoh 13:1-15

Hari ini, pada awal Tri Hari (Triduum) Paskah yang agung, cocoklah apabila kita membaca narasi tentang orang-orang Israel yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan hidup perbudakan mereka di Mesir. Selama akhir pekan yang penuh kuasa dan rahmat ini, Allah memanggil kita juga untuk mempersiapkan diri untuk “keluaran” (exodus) kita sendiri menuju kebebasan yang telah dimenangkan oleh Putera-Nya yang tunggal, lewat kematian-Nya di kayu salib di Kalvari.

Sepanjang pekan ini, kita telah bertanya terus, “Apakah yang telah dicapai oleh Salib Kristus?” Sore ini, dalam cerita tentang Paskah yang pertama, kita dapat melihat sebuah “pratanda” dari darah yang akan dicurahkan oleh Yesus dari atas kayu salib, dan kuasa dari darah itu untuk mengalahkan dosa dan maut. Pada Paskah pertama, orang-orang Israel harus membubuhkan pada kedua tiang pintu rumah mereka dan juga ambangnya dengan darah anak domba (kambing) jantan yang mereka sembelih, sebagai perlindungan dari malaikat pembunuh. Anak domba itu tidak boleh bercacat, seperti Yesus yang tanpa dosa – suatu kurban persembahan kepada Bapa yang sempurna dan sepenuhnya dapat diterima. Sekarang, karena Dia mencurahkan darah-Nya bagi kita, Yesus juga telah memenangkan bagi kita perlindungan melawan kekuatan-kekuatan jahat.

Ketika Allah melihat darah Yesus, maka maut (kematian) dan dosa melewati kita (Paskah=Dia lewat). Melalui iman akan darah-Nya, kita mengalami “keluaran” kita sendiri dari perbudakan dosa dan dibawa ke hadapan hadirat-Nya. Upaya-upaya kita untuk membebaskan diri kita sendiri, untuk menyenangkan hati Allah, tidak akan berhasil sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mencoba untuk membuat diri kita kudus dengan mengandalkan kekuatan atau kerja keeras kita sendiri, kita harus yakin bahwa kita dilindungi oleh darah sang Anak Domba. Dengan demikian barulah kita mengenal dan mengalami perlindungan dari sengat dan tipu-daya si Jahat, juga pembebasan/pelepasan dari kuasa dosa.

YHWH menebus orang-orang Israel dari tanah Mesir, demikian pula Yesus juga menebus kita. Seperti Musa yang telah membebaskan orang-orang Israel dari penindasan Firaun, Yesus juga telah membebaskan kita dari perbudakan dosa/Iblis. Sementara kita memasuki akhir pekan yang penuh rahmat dan kuasa ini, marilah kita menaruh di hadapan-Nya segala hal yang selama ini telah membelenggu kita dengan cara-cara dunia ini. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya selagi kita menantikan-Nya pada akhir pekan ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebus dan Juruselamatku. Dalam tiga hari ke depan ini aku menanti-nantikan kebangkitan-Mu dengan tongkat di tanganku, dengan kasut pada kakiku, dan pinggang yang terikat, siap untuk mengikuti Engkau menuju kebebasan sejati. Terpujilah Engkau selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “PEMBASUHAN KAKI PARA MURID OLEH GURU DAN TUHAN MEREKA” (bacaan tanggal 29-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com;  kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA LEBIH MENYUKAI KEGELAPAN DARIPADA TERANG

MANUSIA LEBIH MENYUKAI KEGELAPAN DARIPADA TERANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV [Tahun B], 11 Maret 2018) 

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatan-nya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:14-21) 

Bacaan Pertama: 2Taw 36:14-16,19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:4-10 

“Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19)

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari percakapan Yesus dengan Nikodemus di suatu malam (lihat Yoh 3:1-21), kiranya sebagai hasil permenungan dari sang penulis Injil yang diinspirasikan Roh Kudus. Masalah sang penulis Injil adalah sebagai berikut: (1) Apakah makna sebenarnya dari penyaliban Yesus?  (2) Apakah maksud kedatangan-Nya ke tengah dunia? Untuk menjelaskan teologinya, sang penginjil mengambil peristiwa pada zaman Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Bilangan.

Di padang gurun, sebagai tanggapan-Nya terhadap doa Musa, YHWH berfirman kepada Musa untuk  meninggikan ular tembaga pada tiang agar supaya orang-orang Israel yang memandang ular tembaga itu diselamatkan dari pagutan ular-ular tedung yang didatangkan YHWH karena dosa pemberontakan mereka (lihat Bil 21:4-9). Di tanah Palestina memang sering ditemukan banyak jenis ular (30 jenis), dan ada beberapa jenis yang memang berbisa mematikan. Tradisi tentang ular tembaga yang menyembuhkan orang-orang Yahudi yang dipagut ular tedung di padang gurun ini, kemudian dikaitkan dengan penyaliban Yesus. “Ditinggikan” berarti diangkat tinggi-tinggi atau dimuliakan. Dalam hal ini penulis Injil menggunakan istilah ini untuk menunjukkan penyaliban Yesus (bdk. Yoh 8:28; 12:32).

Ada persamaan antara kedua peristiwa tersebut namun sekaligus ada suatu perbedaan besar juga dalam hasilnya. Dalam peristiwa Perjanjian Lama itu barangsiapa yang kena gigitan ular tedung dan kemudian memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan pada sebuah tiang, maka dia akan hidup, artinya dia selamat, tidak jadi mati. Demikian pula halnya dalam Perjanjian Baru. Ada kehidupan baru yang akan diberikan Allah kepada setiap orang yang memandang dan percaya kepada Anak Manusia yang ditinggikan di kayu salib. Namun kehidupan yang diberikan oleh Sang Tersalib jauh lebih besar daripada kehidupan yang diberikan dengan memandang ular tembaga karena kehidupan yang diberikan di sini ialah kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini dihubungkan dengan iman akan kasih Bapa surgawi yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi hidup dunia (lihat Yoh 3:16-17). Hal ini terwujud melalui salib.

“Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:18). Apakah hukumannya itu? Yakni terus berada dalam kegelapan. Mengapa? Karena Yesus adalah terang yang datang ke dalam dunia, namun manusia pada dasarnya lebih mencintai kegelapan daripada terang. Ia tidak mau berjalan dalam Terang Anak Allah agar supaya perbuatannya yang jahat itu tidak tampak. Tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah (lihat Yoh 3:19-21). Ia tidak melakukan kebenaran itu berdasarkan kekuatannya sendiri, melainkan dalam kekuatan Allah dan sesuai denga   n kehendak-Nya. Di dalam sang Terang semua menjadi nyata, apakah orang berada dalam Allah atau di luar-Nya.

Bacaan Injil hari ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari pihak Allah daripada mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi kehidupan kita (Yoh 3:16; 1Yoh 4:9; bdk. 15:13), dan kasih itu mencapai puncaknya pada salib di Kalvari. Kita semua percaya akan hal itu, namun apakah kita sungguh-sungguh percaya?

Santo Paulus adalah contoh dari seorang pribadi manusia yang percaya. Orang kudus ini tetap bersemangat dan bahkan menjadi lebih bersemangat dalam segala tantangan yang dialaminya karena kesadarannya akan kasih Allah ini (bdk. Rm 8:31-39). Bagaimana dengan kita? Semoga Masa Prapaskah ini menyadarkan kita kembali akan misteri agung ini dan mendorong kita untuk memohon dengan tekun kepada-Nya agar kita dan seluruh Gereja memahami kembali misteri kasih yang begitu besar dan agung. Siapa yang menyimpan misteri ini di dalam hatinya akan terdorong untuk meninggalkan ini-itu yang bersifat duniawi dan mengarahkan segala pikiran dan hatinya kepada Kristus Yesus seperti yang terjadi atas diri rasul Paulus (bdk. Flp 3:4b-17).

DOA: Bapa surgawi, melalui bacaan Injil hari ini kami diingatkan kembali bahwa Engkau adalah Allah yang sangat mengasihi kami semua; juga bahwa hidup adalah suatu pilihan. Barangsiapa memilih Engkau, ya Allah, akan diangkat menjadi anak-anak-Mu oleh Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal, Tuhan dan Juruselamat kami. Dengan penuh ketulusan hati kami menyatakan kepada-Mu, bahwa kami memilih Engkau, ya Allah, Bapa kami. Oleh Roh Kudus-Mu, kuatkanlah kami agar tetap setia pada keputusan kami ini. Terima kasih, ya Tuhan dan Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA HARUS DITINGGIKAN” (bacaan tanggal 11-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

Cilandak, 8 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Yes 136:1-3,16-18,21-22,24

Yesus berkhotbah dan mengajar tentang suatu hidup baru dengan Allah. Di tengah-tengah khotbah-Nya, orang-orang Farisi mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang rumit dan bersifat menjebak – “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3).

Untuk sungguh memahami dilema yang dihadapi Yesus, kita perlu menyadari bahwa ada dua mashab para rabi pada waktu itu, masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang perceraian. Satu mashab memperbolehkan perceraian dengan alasan apa saja, dan mashab yang lain hanya memperbolehkan perceraian karena perzinahan. Orang-orang Farisi itu mencoba memaksa Yesus untuk memilih satu di antara dua pandangan yang berbeda tersebut. Jika Yesus memilih yang satu, maka Dia dapat dituduh dengan alasan kelemahan, sedangkan bila Yesus memilih yang lain, maka Dia dapat dituduh sebagai terlalu keras.

Namun Yesus mengangkat pertanyaan orang-orang Farisi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi! Yesus prihatin dengan apa yang Allah hendak katakan tentang topik itu, bukan apa yang telah dirancang oleh manusia. Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…… Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging? …… Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Mat 19:4-6). Ketika orang-orang Farisi mengemukakan bahwa Musa memperkenankan perceraian, Yesus  menjawab bahwa hal itu dilakukan oleh Musa justru karena kekerasan hati umat Israel, dan bukan merupakan niat Allah yang orisinal bagi umat-Nya.

Yesus memproklamasikan bahwa rencana Allah yang orisinal berkaitan dengan perkawinan sekali lagi dibuat mungkin karena Dia membawa Kerajaan Allah di mana perempuan dan laki-laki dapat mengalami hidup baru. Suami dan istri dapat menjadi setia dan mengasihi satu sama lain melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Mereka dapat mengatasi dosa yang dapat menghancurkan relasi penuh kasih: keserakahan, ketamakan, kemurahan dan penolakan. Kehidupan dapat disembuhkan dan dipulihkan sehingga dengan demikian kejahatan berat dan pelecehan terhadap pasangan hidup dapat dikalahkan. Ikatan-ikatan perkawinan dan keluarga-keluarga dalam Kerajaan Allah dapat hidup seperti semula, dalam kesatuan; suami-suami dan istri mereka masing-masing dapat hidup bersama dengan bermartabat, cintakasih dan integritas, seperti yang dimaksudkan Allah sejak semula.

DOA: Bapa surgawi, aku berdoa untuk semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam ikatan perkawinan. Berkatilah mereka, ya Allahku, dan berilah damai-sejahtera-Mu kepada mereka. Aku berdoa juga bagi mereka yang hidup terpisah atau berada dalam status bercerai, agar Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan mereka untuk membuang semua rasa marah dan kepahitan dari hati mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mempermudah reuni mereka dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH

SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN (YHWH) berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada YHWH. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah YHWH dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah YHWH dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, YHWH menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa YHWH. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? Sebab itu bangkitlah murka YHWH terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya. Lalu berserulah Musa kepada  YHWH: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Kemudian berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.” Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran. (Bil 12:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13; Bacaan Injil: Mat 15:1-2,10-14  

Dalam hikmat-Nya, Allah memanggil sejumlah orang untuk menjadi pewarta Kabar Baik-Nya, sejumlah orang untuk menjadi nabi, dan sejumlah orang untuk menjadi guru. Namun demikian, mereka semua hidup di bawah Roh-Nya. “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan” (1Kor 12:4-5).

Panggilan Allah senantiasa unik bagi kita masing-masing, dan secara istimewa Dia memberkati orang-orang yang menanggapi panggilan-Nya dengan kerendahan hati, mereka yang menyadari bahwa panggilan Allah itu tidak datang karena talenta-talenta yang mereka miliki, tetapi datang dari tangan Allah sendiri dan berdasarkan pilihan-Nya sendiri. Ini adalah sikap Musa, hal mana menjelaskan mengapa Musa sangat berkenan di mata Allah.

Kitab Suci mengatakan bahwa Musa “ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bil 12:3). Karena Musa sedemikian rendah hati, Allah dapat berbicara langsung dengan dirinya (Bil 12:8). Allah dapat sepenuhnya percaya bahwa Musa tidak akan menjadi sombong karena posisinya untuk memimpin bani Israel dan menyalahgunakan otoritasnya.

Ini adalah jantung dari seorang pelayan Tuhan yang sejati, dan inilah yang belum mampu dipahami oleh Harun dan Miriam. Rasa iri hati mereka mengungkapkan suatu hasrat untuk dapat diakui dan dihormati banyak orang, dan hal ini mengungkapkan bahwa mereka sesungguhnya belum siap untuk memikul tanggungjawab pekerjaan (jabatan) yang mereka cari-cari. Sebaliknyalah dengan Musa. Ketika melihat Miriam terkena kusta, Musa tidak merasa senang/gembira, melainkan langsung dengan hati tulus bedoa untuk kesembuhan saudarinya ini. Musa juga langsung mengampuni Miriam yang menentang dirinya serta telah berbicara melawan dirinya.

Sikap dan perilaku Musa sungguh mengingatkan kita akan sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Yesus memberkati, bukan mengutuk orang-orang yang menyiksa diri-Nya. Yang utama dan pertama bagi Yesus adalah mencari kehendak Bapa surgawi dan merangkulnya, kemudian memperkenankan Bapa surgawi memberikan kuat-kuasa untuk melaksanakan kehendak-Nya tersebut. Kerendahan hati seperti ini sangat berkenan di mata Allah.

Banyak orang kudus dan pilar-pilar iman telah mewariskan kepada kita tulisan-tulisan dan perbuatan-perbuatan kepahlawanan mereka sebagai contoh untuk kita ikuti/tiru. Namun demikian, ada banyak sekali orang-orang yang kerendahan hati mereka dan cintakasih mereka hanya diketahui oleh Allah sendiri. Setiap hari kita diundang untuk bergabung dengan “para kudus tanpa nama” (para pahlawan-iman tanpa nama) apabila kita dengan rendah hati mencari kehendak Allah, merangkulnya sebagai kehendak kita sendiri, dan mengandalkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus guna memampukan kita untuk taat kepada Allah yang sangat mengasihi kita.

DOA: Tuhan Yesus, di atas segala-galanya kami ingin menyenangkan Bapa surgawi dengan mencari kehendak-Nya dalam kerendahan hati. Berdayakanlah kami hari ini agar mampu memikul tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kami seturut kehendak-Nya; dan hidup sepenuhnya bagi Engkau. Penuhilah diri kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi pelayan-pelayan-Mu yang rendah hati dan setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:1-2,10-14), bacalah tulisan yang berjudul “KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERJAGA-JAGA MENANTIKAN PEMBEBASAN KITA

BERJAGA-JAGA MENANTIKAN PEMBEBASAN KITA

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 26 Maret 2016)

moses-parts-the-red-sea

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu YHWH menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang dikiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka – segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda – sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, YHWH yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkat: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab YHWH-lah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang-orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah YHWH mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu YHWH menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan YHWH terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada YHWH dan mereka percaya kepada YHWH dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi ini bagi YHWH yang berbunyi: “Baiklah aku menyanyi bagi YHWH, sebagai Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Kel 14:15-15:1) 

Bacaan-bacaan Kitab Suci lainnya tidak disebutkan di sini karena jumlahnya banyak. 

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherPada malam hari ini, selagi Gereja melakukan vigili (berjaga-jaga; Inggris: vigil), bacaan Kitab Suci yang banyak dalam Malam Paskah ini mengingatkan kita semua akan perbuatan-perbuatan mulia Allah dan kebaikan-Nya bagi kemanusiaan dari abad ke abad. Kita ingat bahwa pada malam sebelum berangkat ke Laut Merah, Musa dan bangsa Israel juga berjaga-jaga, menantikan pembebasan dari para pengejar mereka seperti telah dijanjikan. Akan tetapi tidak hanya anak-anak Abraham yang berjaga-jaga pada malam itu. YHWH sendiri tetap bersama mereka sepanjang malam itu, melindungi mereka dalam bentuk awan, layaknya seorang ibu melindungi anak-anaknya.

Allah sama yang menjaga bangsa Israel sekarang juga melakukan vigili bersama kita pada hari ini. Apakah kita menyadarinya atau tidak, Allah memperhatikan kita semua sekarang:          Ia ke luar untuk menemui kita, bahkan ketika kita berjuang untuk meluangkan waktu dengan Dia. Kita tidak boleh berpikir bahwa semuanya tergantung pada kita; karunia istimewa apa pun yang kita nantikan, Allah sebenarnya sudah ada di sana bersama kita (anda dan saya) dan kita dapat percaya penuh akan kasih-Nya bagi kita.

Seperti bangsa Israel yang menaruh kepercayaan penuh pada Allah untuk pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir, barangkali kita juga sedang menantikan pembebasan kita sendiri. Allah yang membelah Laut Merah dan membangkitkan Yesus dari antara orang mati sungguh mampu untuk melakukan hal-hal yang menakjubkan dan Ia dapat membebaskan atau memerdekakan kita.

Pada saat-saat kekuatan dan keberanian kita terasa mulai lemah, Allah akan mengangkat kita dan menggendong kita. Apabila kita menantikan Allah untuk melakukan sesuatu yang penuh kuasa dalam hidup kita, maka dapat dipastikan bahwa Dia tidak melupakan kita. Sebaliknya, Allah justru menanti-nanti bersama kita, sampai saat yang tepat untuk memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan. Oleh karena itu kita harus sabar dan penuh pengharapan. Kita harus bergabung dengan bangsa Israel dalam menantikan tiba saatnya dini hari yang akan mengusir kegelapan malam.

Selagi kita mendengar bacaan-bacaan yang begitu banyak pada malam ini, pantaslah kita merenungkan kesetiaan Allah kepada umat-Nya: “Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu dikecewakan?” (Sir 2:10). Tentu saja tidak! Kita harus menaruh kepercayaan pada belas kasih-Nya (kerahiman-Nya), maka kita pun tidak akan dikecewakan.

DOA: Ya Tuhan Allah, kebaikan-Mu tak terbandingkan. Aku menaruh kepercayaan pada  kasih-Mu dan tidak merasa takut. Berjaga-jagalah bersamaku, ya Tuhan, karena secara bersama-sama kita dapat mengatasi segala macam penghalang. Terpujilah Engkau, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Rm 6:3-11, bacalah tulisan yang berjudul “MALAM UNTUK BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 26-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 23 Maret 2016 [HARI RABU DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SANG PEMBEBAS

YESUS SANG PEMBEBAS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH, 24 Maret 2016) 

DARAH DOMBA DI PINTUBerfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi YHWH.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (Kel 12:1-8,11-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26; Bacaan Injil: Yoh 13:1-15 

Hari ini, pada awal Tri Hari (Triduum) Paskah yang agung, cocoklah apabila kita membaca narasi tentang orang-orang Israel yang sedang bersiap-siap untuk meninggalkan hidup perbudakan mereka di Mesir. Selama akhir pekan yang penuh kuasa dan rahmat ini, Allah memanggil kita juga untuk mempersiapkan diri untuk “keluaran” (exodus) kita sendiri menuju kebebasan yang telah dimenangkan oleh Putera-Nya yang tunggal, lewat kematian-Nya di kayu salib di Kalvari.

Sepanjang pekan ini, kita telah bertanya terus, “Apakah yang telah dicapai oleh Salib Kristus?” Sore ini, dalam cerita tentang Paskah yang pertama, kita dapat melihat sebuah “pratanda” dari darah yang akan dicurahkan oleh Yesus dari atas kayu salib, dan kuasa dari darah itu untuk mengalahkan dosa dan maut. Pada Paskah pertama, orang-orang Israel harus membubuhkan pada kedua tiang pintu rumah mereka dan juga ambangnya dengan darah anak domba (kambing) jantan yang mereka sembelih, sebagai perlindungan dari malaikat pembunuh. Anak domba itu tidak boleh bercacat, seperti Yesus yang tanpa dosa – suatu kurban persembahan kepada Bapa yang sempurna dan sepenuhnya dapat diterima. Sekarang, karena Dia mencurahkan darah-Nya bagi kita, Yesus juga telah memenangkan bagi kita perlindungan melawan kekuatan-kekuatan jahat.

Ketika Allah melihat darah Yesus, maka maut (kematian) dan dosa melewati kita (Paskah=Dia lewat). Melalui iman akan darah-Nya, kita mengalami “keluaran” kita sendiri dari perbudakan dosa dan dibawa ke hadapan hadirat-Nya. Upaya-upaya kita untuk membebaskan diri kita sendiri, untuk menyenangkan hati Allah, tidak akan berhasil sepenuhnya. Oleh karena itu, daripada mencoba untuk membuat diri kita kudus dengan mengandalkan kekuatan atau kerja keras kita sendiri, kita harus yakin bahwa kita dilindungi oleh darah sang Anak Domba. Dengan demikian barulah kita mengenal dan mengalami perlindungan dari sengat dan tipu-daya si Jahat, juga pembebasan/pelepasan dari kuasa dosa.

YHWH Allah menebus orang-orang Israel dari tanah Mesir, demikian pula Yesus juga menebus kita. Seperti Musa yang telah membebaskan orang-orang Israel dari penindasan Firaun, Yesus juga telah membebaskan kita dari perbudakan dosa/Iblis. Sementara kita memasuki akhir pekan yang penuh rahmat dan kuasa ini, marilah kita menaruh di hadapan-Nya segala hal yang selama ini telah membelenggu kita dengan cara-cara dunia ini. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya selagi kita menantikan-Nya pada akhir pekan ini.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebus dan Juruselamatku. Dalam tiga hari ke depan ini aku menanti-nantikan kebangkitan-Mu dengan tongkat di tanganku, dengan kasut pada kakiku, dan pinggang yang terikat, siap untuk mengikuti Engkau menuju kebebasan sejati. Terpujilah Engkau selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “SALAH SATU PENGAJARAN YESUS DENGAN LATAR BELAKANG PERJAMUAN TERAKHIR” (bacaan tanggal 24-3-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 22 Maret 2016 [HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS