Posts tagged ‘NABI-NABI PALSU’

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN AKAR-AKAR YANG BAIK

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirimkan sebuah pesan lewat murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, apakah Dia adalah sang Mesias yang dinantikan, Yesus sebenarnya dapat saja menjawab “ya”. Namun pada kenyataannya Dia mengatakan kepada para murid Yohanes untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22) Dengan kata lain, Yohanes diminta untuk menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang diajarkan Yesus untuk membedakan nabi-nabi yang baik-benar dari nabi-nabi palsu.

Sepanjang sejarah selalu ada saja nabi-nabi palsu. Bagaimana mereka pada hari ini? Bagaimana kita dapat mengenali mereka? Bagaimana kita mengetahui perbedaan antara nabi-nabi palsu dan nabi-nabi yang benar? Dari perbuatan-perbuatan mereka, dari buah-buah yang mereka hasilkan! Yesus bersabda: “Dari buah-buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Apakah yang dimaksudkan “dari perbuatan-perbuatan mereka?” Maksudnya, dari kesetiaan mereka mendengarkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam kitab-kitab Injil, karena Allah dinyatakan kepada kita dalam Kristus dan hanya dalam Dia kita mempunyai jalan yang pasti kepada Bapa surgawi.

Apabila kita mencoba untuk memiliki mata dan telinga yang sehat untuk Injil, mengenalnya melalui pembacaan dan doa, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk melakukan discernment terhadap sentimentalitas yang menyelewengkan ajaran-ajaran Kristus menjadi semacam etika cintakasih yang mudah tanpa disiplin atau pengorbanan. Kita akan mampu untuk mengenali sikap permisif yang  mengaburkan antara benar dan salah, juga legalisme yang seringkali lebih menaruh respek pada huruf-huruf hukum daripada roh suatu peraturan.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada mencari bimbingan dari Roh Kudus. Bilamana kita berada dalam tekanan untuk menemukan keamanan dan kepastian yang sedang kita cari-cari, marilah kita menggantungkan diri sepenuhnya pada Roh Allah untuk membawa kepada kita buah-buah-Nya. Tentang buah-buah Roh ini, Santo Paulus menulis, “… buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kita dapat memastikan diri bahwa nabi palsu tidak ada, jika kita menemukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Buah-buah yang baik mengandaikan keberadaan akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar-kuat dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa dan Kitab Suci, melainkan juga dengan memperkenankan diri-Nya membersihkan kita (bdk. Yoh 15:2). Lewat upaya mendengarkan yang serius dan aktif, berkat rahmat Allah kita dapat menangkap bisikan suara Roh Kudus yang lemah-lembut. Janganlah kita mengabaikan suara lembut Roh Kudus ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau singkirkan. Marilah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita menjadi saksi-saksi profetis dalam dunia ini. Dengan demikian kita  semua akan menghasilkan buah yang berlimpah – buah yang tetap (lihat Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

NAMA YESUS KRISTUS

NAMA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 7 Januari 2019)

Apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Siapa yang menuruti segala perintah-Nya, ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan (1Yoh 3:22-4:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11; Bacaan Injil: Mat 4:12-17,23-25  

“Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita”  (1Yoh 3:23).

Mengapa Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa kita harus percaya kepada nama Yesus Kristus? Karena Yohanes mengerti bahwa nama seorang pribadi merepresentasikan segala keberadaan orang itu. Oleh karena itu nama Yesus – artinya TUHAN (YHWH) menyelamatkan – merepresentasikan integritas Yesus, kehormatan-Nya serta karakter-Nya. Sebagai orang Kristiani, kita semua dipanggil untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17). Kita berkumpul dalam nama-Nya; kita bersyukur kepada Allah dalam nama-Nya; cara hidup kita juga seharusnya cara hidup yang memuliakan nama-Nya.

Pada waktu Yesus dibaptis, terdengar suara dari surga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Santo Paulus mengatakan kepada kita semua, bahwa karena perendahan Yesus dalam ketaatan, Allah sangat meninggikan -Nya dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (lihat Flp 2:9-11). Tidak ada seorang pun dapat menyangkal bahwa ada kuasa dalam nama Yesus, karena Bapa surgawi telah meninggikan nama Yesus itu di atas segala nama. Para rasul sangat percaya dalam hal ini sehingga mereka melakukan banyak penyembuhan orang sakit dan membuat mukjizat dengan menggunakan nama Yesus.

Namun demikian, baiklah kita ingat bahwa kita harus berhati-hati dalam hal ini. Nama Yesus yang tersuci bukanlah dimaksudkan sebagai sepatah kata ajaib, atau semacam mantera. Allah menginginkan  agar kita percaya kepada seorang Pribadi yang bernama Yesus Kristus. Percaya kepada nama-Nya berarti percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan penyakit, melepaskan orang-orang yang dirasuki Iblis atau roh jahat lainnya dll., malah membuka pintu gerbang kerajaan Allah. Percaya kepada nama Yesus berarti percaya bahwa Yesus itu penuh belas kasihan, adil, baik hati dan mengasihi; percaya bahwa Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, di mana Dia selalu melakukan doa syafaat/pengantaraan bagi kita setiap saat. YESUS ADALAH RAJA YANG KITA IKUTI JEJAK-NYA. Dia adalah Saudara kita,  seorang Sahabat yang sangat mengasihi kita. Dia adalah IMANUEL yang selalu ada bersama kita, kapan dan di mana saja!

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami menghaturkan segala puji, hormat dan kemuliaan kepada-Mu selama-lamanya. Engkau adalah Tuhan yang memperhatikan, memelihara dan membimbing kami agar kami tidak hidup tanpa arah. Kami berketetapan hati, ya Yesus, untuk hidup setiap hari di bawah kuasa dan otoritas nama-Mu yang tersuci. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 7-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 4 Januari 2019 [Peringatan S. Angela dr Foligno, OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirim pesan kepada Yesus dengan perantaraan dua orang murid-Nya apakah Dia adalah sang Mesias, Yesus sebenarnya dapat saja mengatakan secara sederhana dan singkat: “Ya”. Ternyata Yesus mengundang Yohanes Pembaptis untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dari kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan perkataan lain, kepada Yohanes Pembaptis diberitahukan agar menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang telah diajarkan Yesus sebagai cara untuk membedakan antara nabi-nabi yang baik dan nabi-nabi palsu: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pengujian “buah-buah” merupakan suatu reality check yang baik juga bagi kita. Kita semua mengetahui bahwa kita seharusnya menjadi “terang dunia” (Mat 5:14). Namun kita juga tahu bahwa sekadar berbicara itu sangatlah mudah. Masalah sesungguhnya adalah, apakah tindakan-tindakan kita mendukung kata-kata yang kita ucapkan. Dalam kesaksian di dalam keluarga kita sendiri dan bagi dunia sekeliling kita, apakah terdapat kecocokan antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan secara nyata? Apabila kita adalah orangtua yang sedang membesarkan anak-anak, apakah kita mempraktekkan apa yang kita khotbahkan?

Apabila kita berbicara mengenai pembentukan nurani, ekspektasi, dan kebiasaan anak-anak kita, maka keteladanan orangtua itu penting secara unik. Akan tetapi, bagi anak-anak untuk benar-benar memahami pesannya, maka pesan itu harus dikomunikasikan oleh orang-orang dewasa lainnya. Jadi apabila diriku adalah seorang kakek, bibi atau paman, pendidik, atau sekadar seorang dewasa yang mempunyai keprihatinan terhadap generasi mendatang, apakah “buah-buah” dari teladan yang kuberikan itu konsisten dengan kata-kata yang kuucapkan? Apakah aku berdoa bagi kehidupan keluarga? Bagaimana pula dengan kontak-kontakku dengan tetangga-tetanggaku, para kolegaku di tempat kerja dan sahabat-sahabatku? Apabila aku ingin agar mereka mengetahui dan mengenal kebesaran kasih Allah, maka bagaimana penghayatan hidupku sehari-hari harus mengungkapkan hal itu? Terkait dengan pokok ini, Santo Bonaventura dan Beato Thomas dari Celano menulis tentang Santo Fransiskus dari Assisi seperti berikut: “Karena dia sendiri mempraktekkan lebih dahulu dalam perbuatan apa yang hendak dianjurkannya kepada orang-orang lain dalam khotbahnya, maka ia tidak takut akan pengecam dan mewartakan kebenaran dengan penuh keyakinan” (LegMaj XII:8; bdk. 1Cel 36).

Buah-buah yang baik berarti akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, juga dengan memperkenankan Dia memangkas kita layaknya ranting-ranting anggur. Dengan mempraktekkan cara mendengarkan secara aktif, kita dapat tetap menangkap bisikan Roh Kudus. Janganlah sampai kita mengabaikan suara-Nya ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau tinggalkan! Baiklah kita hidup dalam cara yang membuat kita saksi-saksi profetis di tengah dunia! Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah secara berlimpah – buah yang tetap (Yoh15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 22 Juni 2016)

Peringatan S. John Fisher, Uskup dan S. Thomas More, OFS

 03-sermon-on-the-mount-1800

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13, 23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:33-37,40

Setelah mengajar para murid-Nya untuk “masuk melalui pintu yang sempit” (Mat 7:13), Yesus melanjutkan dengan memperingatkan mereka tentang penghalang-penghalang dan kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai dan dialami di sepanjang jalan. Dengan jelas Ia menyatakan bahwa akan ada nabi-nabi palsu di sepanjang “jalan sempit” yang sedang di tempuh oleh para pengikut-Nya. Sekilas lintas para nabi palsu itu kelihatannya tidak berbeda dengan domba-domba; namun di dalamnya mereka sebenarnya adalah serigala-serigala yang bertujuan menghancur-leburkan kawanan domba Yesus yang sejati. Yesus ingin agar kita siap-siaga terhadap bahaya ini.

Pembicaraan mengenai nabi-nabi palsu ini dapat membuat kita merasa tidak nyaman. Bagaimana pun juga tidak ada yang lebih harus ditolak daripada seorang pribadi yang selalu mengklaim dirinya benar dan selalu mengatakan bahwa orang lain salah. Bagaimana kita dapat melakukan discernment atas motif-motif orang-orang lain ketika perbedaan yang ada begitu tipisnya? Yesus ingin sekali agar kita memiliki kemampuan untuk mengenali nabi-nabi palsu dan waspada terhadap bahaya-bahaya yang dapat diakibatkan oleh mereka. Akan tetapi bagaimana kita dapat belajar untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan antara domba-domba dan serigala-serigala? Bagaimana kita dapat membuat penilaian-penilaian sedemikian tanpa menjadi bersikap menghakimi atau menuduh.

Pada akhirnya karakter sejati seorang pribadi akan dinyatakan: Pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang buruk; sedangkan pohon yang buruk tidak akan menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:18). Di lain pihak hal ini tidak berarti bahwa manakala ada buah yang buruk, maka pribadi yang bertanggungjawab harus buruk juga. Nabi-nabi sejati pun dapat membuat kesalahan karena justru dia adalah manusia juga. Di sisi lain, orang-orang yang paling terkenal karena kejahatan/keburukan mereka dalam sejarah mungkin saja mempunyai unsur-unsur kebaikan dalam dirinya. Kalau masih masih berupa benih sulitlah bagi kita untuk membedakan apakah ini benih tanaman pohon A atau pohon B. Namun kita akan mengetahuinya dengan jelas kalau tanaman itu sudah mulai membesar dan berbentuk.

Para pengikut Kristus harus menggantungkan diri pada kesaksian Roh Kudus di dalam diri mereka, karena Dia adalah “Roh Kebenaran” (Yoh 15:26). Apabila kita terus menempatkan Allah sebagai yang pertama, dalam doa dan pembacaan (serta permenungan) sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka suara dan pikiran-Nya akan menjadi semakin jelas bagi kita. Kita akan mengetahui apakah harta kita ada di surga atau di dunia (lihat Mat 6:19-21) dan kita akan mampu untuk mengatakan kapan ada perintah-perintah Allah yang telah dikompromikan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak menginginkan aku menghakimi siapa saja, namun aku tahu bahwa Engkau sungguh mengharapkan aku melakukan discernment agar dapat membuat penilaian yang sehat yang akan melindungi hidup-Mu di dalam diriku. Semoga Roh Kebenaran membimbingku selalu dalam jalan kebenaran. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “NABI-NABI PALSU” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 20 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NABI-NABI PALSU

NABI-NABI PALSU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 25 Juni 2014)

YESUS MENGAJAR DI TEPI DANAU 100

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,33-37,40

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirimkan sebuah pesan lewat murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, apakah Dia adalah sang Mesias yang dinantikan, Yesus sebenarnya dapat saja menjawab “ya”. Namun pada kenyataannya Dia mengatakan kepada para murid Yohanes untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22) Dengan kata lain, Yohanes diminta untuk menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang diajarkan Yesus untuk membedakan nabi-nabi yang baik-benar dari nabi-nabi palsu.

1280px-Vines_in_the_Okanagan_ValleySepanjang sejarah selalu ada saja nabi-nabi palsu. Bagaimana mereka pada hari ini? Bagaimana kita dapat mengenali mereka? Bagaimana kita mengetahui perbedaan antara nabi-nabi palsu dan nabi-nabi yang benar? Dari perbuatan-perbuatan mereka, dari buah-buah yang mereka hasilkan! Yesus bersabda: “Dari buah-buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Apakah yang dimaksudkan “dari perbuatan-perbuatan mereka?” Maksudnya, dari kesetiaan mereka mendengarkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam kitab-kitab Injil, karena Allah dinyatakan kepada kita dalam Kristus dan hanya dalam Dia kita mempunyai jalan yang pasti kepada Bapa surgawi.

Apabila kita mencoba untuk memiliki mata dan telinga yang sehat untuk Injil, mengenalnya melalui pembacaan dan doa, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk melakukan discernment terhadap sentimentalitas yang menyelewengkan ajaran-ajaran Kristus menjadi semacam etika cintakasih yang mudah tanpa disiplin atau pengorbanan. Kita akan mampu untuk mengenali sikap permisif yang mengaburkan antara benar dan salah, juga legalisme yang seringkali lebih menaruh respek pada huruf-huruf hukum daripada roh suatu peraturan.

ROHHULKUDUSTidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada mencari bimbingan dari Roh Kudus. Bilamana kita berada dalam tekanan untuk menemukan keamanan dan kepastian yang sedang kita cari-cari, marilah kita menggantungkan diri sepenuhnya pada Roh Allah untuk membawa kepada kita buah-buah-Nya. Tentang buah-buah Roh ini, Santo Paulus menulis, “… buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kita dapat memastikan diri bahwa nabi palsu tidak ada, jika kita menemukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Buah-buah yang baik mengandaikan keberadaan akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar-kuat dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa dan Kitab Suci, melainkan juga dengan memperkenankan diri-Nya membersihkan kita (bdk. Yoh 15:2). Lewat upaya mendengarkan yang serius dan aktif, berkat rahmat Allah kita dapat menangkap bisikan suara Roh Kudus yang lemah-lembut. Janganlah kita mengabaikan suara lembut Roh Kudus ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau singkirkan. Marilah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita menjadi saksi-saksi profetis dalam dunia ini. Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah yang berlimpah – buah yang tetap (lihat Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TUMPUAN HIDUP KITA” (bacaan tanggal 25-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Cilandak, 23 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH TUMPUAN HIDUP KITA

YESUS ADALAH TUMPUAN HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2013)

SERIGALA BERBULU DOMBA - MAT“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “NABI-NABI PALSU ADALAH SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA” (bacaan tanggal 27-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 17 Juni 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS