Posts tagged ‘ORANG BANYAK’

APA YANG KELUAR DARI SESEORANG, ITULAH YANG MENAJISKANNYA

APA YANG KELUAR DARI SESEORANG, ITULAH YANG MENAJISKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu,  13 Februari 2019)

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2a,27-29 

Dalam menanggapi tuduhan-tuduhan dari orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa  bukan makanan yang kita makan yang  membuat kita tidak bersih di mata Allah. Yang penting adalah apa yang ada dalam hati kita – dan perilaku yang mengalir keluar dari hati kita.

Melalui tradisi-tradisi, kaum Farisi dan para pemuka agama Israel lainnya menjadi terbiasa untuk memusatkan perhatian mereka pada tanda-tanda luar dari kemurnian ritual. Kebalikannyalah dengan Yesus. Rabi dari Nazaret ini langsung menyoroti inti- pokok permasalahannya. Dosa dan kekudusan terletak di dalam hati manusia, bukan di tempat lain. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memusatkan perhatian kita atau menekankan pada tanda-tanda luar saja dari hubungan kita dengan Allah – misalnya mendoakan doa-doa tertentu pada jam-jam tertentu pula, puasa dua kali dalam satu pekan, pantang makan daging pada hari Jumat, dlsb.? Atau, apakah kita membuka diri terhadap kebenaran perihal apa yang sesungguhnya ada dalam hati kita? Apakah kita memeriksa bagaimana sikap-sikap dari hati kita diungkapkan dalam cara-cara kita memperlakukan orang lain? Berbagai rituale dan peraturan memang membantu suatu kehidupan kekudusan, akan tetapi tidak pernah menjadi yang sentral. Yang penting adalah bagi kita untuk memeriksa hati kita, tentunya dengan pencerahan oleh terang Roh Kudus.

Kadang-kadang tidak mudahlah bagi kita untuk mengkonfrontir dosa yang ada dalam hati kita, namun kita tidak perlu merasa takut. Yesus datang untuk menyelamatkan kita, bukan menghakimi kita (lihat Yoh 3:17). Dia adalah untuk kita, tidak untuk melawan kita. Oleh karena itu, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Ia mengetahui sekali kondisi hati kita, dan betapa buruk pun kondisi hati kita itu, Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sambil merasa murka dan jijik. Sebaliknya, Dia menantikan kita – dengan tangan terbuka penuh belas kasih – untuk dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah-Nya – sebagaimana apa adanya kita masing-masing, dengan dosa-dosa kita – untuk menerima rahmat dan kerahiman-Nya (lihat Ibr 4:16).

Yesus adalah sang Dokter Agung. Ia datang kepada kita dengan penyembuhan dan pengampunan, penghiburan dan pertolongan. Ia ingin merestorasikan kita dalam kasih-Nya. Seperti sang pemazmur, marilah kita mohon kepada-Nya: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24). Oleh karena itu, marilah kita membuka hati bagi sentuhan-Nya yang lemah lembut, sehingga Dia pun dapat mengidentifikasikan segala sakit-penyakit dosa dan menerapkan kuasa penyembuhan salib-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menciptakan di dalam diri kita sebuah hati yang bersih. Bersama sang pemazmur kita berdoa: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (lihat Mzm 51:9). Baru setelah itu, kita akan mampu membawa buah-buah yang baik dalam kekudusan dan kebenaran ke tengah-tengah dunia.

DOA: Yesus, aku mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa yang membutuhkan belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Ciptakanlah sebuah hati yang bersih dalam diriku. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhanku dan Allahku. Pulihkanlah aku kepada kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MELIHAT TINDAKAN, NAMUN ALLAH MELIHAT NIAT” (bacaan tanggal 13-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015] 

Cilandak, 10 Februari 2019 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MERASA DEKAT DENGAN YESUS

MERASA DEKAT DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Sabtu, 9 Februari 2019)

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 13:15-17,20-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Kita dapat mengatakan bahwa perjalanan misioner yang pertama kedua belas murid (para rasul) adalah sebuah sukses besar. Mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit-penyakit, dan memproklamasikan Kerajaan Allah kepada banyak orang. Kita dapat menggambarkan para rasul itu mengelilingi Yesus dan berbicara dengan excited sekali tentang penyembuhan-penyembuhan atau pertobatan-pertobatan orang-orang yang terjadi ketika mereka berkhotbah kepada orang-orang dan mendoakan mereka.

Para rasul mungkin ingin sekali dengan secepatnya ditugaskan kembali untuk melaksanakan tugas misioner yang serupa, namun Yesus melihat bahwa mereka membutuhkan istirahat. Barangkali Dia merasakan bahwa para rasul-Nya sudah lelah secara fisik. Lebih mungkin lagi adalah bahwa Yesus ingin meluangkan lebih banyak waktu lagi untuk mengajar para rasul tersebut dan menolong mereka mendengar suara/bisikan Allah dahulu, sebelum Dia mengutus mereka lagi. Maka dengan perahu berangkatlah mereka untuk menyendiri ke tempat yang terpencil.

Jadi, di bawah tekanan kesibukan pelayanan bagi begitu banyak orang (Mrk 6:31), sang Rabi dari Nazaret dan para murid-Nya menyeberangi danau dengan menggunakan perahu untuk mencari tempat sunyi supaya dapat beristirahat dan/atau mengikuti “rekoleksi” untuk beberapa saat. Namun orang banyak melihat dan mengetahui tujuan mereka. Dengan bergegas mereka menggunakan jalan darat menuju tempat tujuan Yesus dan para rasul-Nya. Mereka malah berhasil sampai terlebih dahulu. Namun, terpujilah Allah, karena Yesus dan para rasul-Nya dapat beristirahat dalam perahu, walaupun untuk sejenak saja. Yesus sendiri tidak menjadi jengkel, bahkan juga tidak merasa kesal.

Yesus memandang orang banyak itu dan hati-Nya pun tergerak oleh belas kasihan kepada mereka (Mrk 6:34). Yesus melihat mereka sebagai domba-domba yang tidak mempunyai gembala (Mrk 6:34). “Domba yang tidak bergembala” telah dikenal baik dalam Perjanjian Lama, yaitu merupakan kiasan bagi umat Allah yang dimanfaatkan oleh para “pemimpin” yang hanya memikirkan keuntungan pribadi (Yeh 34:1-31; Za 11:4-17). Hal ini tidak berarti bahwa umat benar-benar tidak mempunyai gembala. Mereka mempunyai “gembala”, namun mereka tidak mempunyai gembala yang baik, yang tidak mementingkan diri sendiri.

Nah, akhir pekan ini dapat memberikan kepada kita kesempatan serupa untuk meluangkan waktu bersama dengan Yesus dalam keheningan. Setelah satu pekan penuh kita disibukkan dengan pekerjaan kita, maka kiranya kita pun akan mengalami kelelahan, baik fisik maupun secara spiritual. Dengan demikian, ketika kita bangun tidur pada hari Sabtu pagi, pikiran kita mungkin saja sudah dipenuhi dengan segala tetek bengek yang harus kita lakukan pekan depan.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) mulai mencoba bereksperimen pada hari Sabtu ini. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku merasa dekat dengan Yesus pada saat ini? Apakah aku mengalami kedamaian dalam diriku? Apakah aku hadir bagi Roh Kudus, sehingga dengan demikian Dia akan membimbing diriku sepanjang hari ini? Jika ada jawaban “tidak” terhadap salah satu saja pertanyaan di atas, barangkali Yesus sedang memanggil kita untuk pergi menyendiri bersama-Nya pada hari ini.

Barangkali kita dapat menemukan sebuah tempat dalam rumah kita untuk membaca Kitab Suci. Jika anak-anak kita masih kecil, kita dapat minta bantuan istri atau suami untuk memperhatikan anak-anak selama beberapa saat sehingga kita dapat duduk bersama Yesus dalam doa dan memperkenankan Dia melakukan recharge baterei spiritual kita.

Kembali kepada ulasan tentang “gembala” di atas, kita dapat melakukan permenungan pribadi juga bahwa hanya Yesuslah yang merupakan seorang pemimpin sejati, gembala yang benar-benar peduli kepada domba-domba-Nya. Yesus tidak pernah memikirkan kepentingan diri-Nya sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena sungguh Engkau adalah Gembala kami yang sejati. Engkau adalah Kepala dari Tubuh-Mu – Gereja – dan kami semua adalah para anggotanya. Kami ingin disegarkan, ya Tuhan Yesus, baik secara fisik maupun secara spiritual dengan meluangkan waktu bersama Engkau pada hari ini. Bahkan apabila waktu bersama-Mu itu sama singkatnya seperti waktu Engkau bersama para rasul-Mu dalam perahu, penuhilah diri kami dengan kasih-Mu selagi kami melanjutkan hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “BERISTIRAHAT DALAM TUHAN” (bacaan tanggal 9-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

Cilandak, 6 Februari 2019 [Peringatan Para Martir Nagasaki] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 26 Oktober 2018)

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari lepas hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI” (bacaan tanggal 26-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan  tanggal 20-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus, Imam dkk-Martir  – Sabtu, 6 Februari 2016) 

pppas0017-JESUA AND THE 12 DISCIPLESKemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 3:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:9-14

Pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya dengan beribu-ribu ekor domba, apabila secara mendadak tidak ada seorang pun gembala untuk menjaga mereka? Domba-domba itu tidak lagi terlindungi dari kemungkinan bahaya, tidak lagi mempunyai seseorang yang menggiring mereka di jalan yang aman dan yang akan membawa mereka ke arah yang benar. Belarasa Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya mengingatkan kita akan pentingnya memiliki Dia sebagai sang “Gembala Sejati” dalam perjalanan iman kita sehari-hari.

Setelah kedua belas murid Yesus kembali dari tugas pelayanan pewartaan, pengajaran, penyembuhan dan membawa orang kepada pertobatan dan iman, maka Yesus dan para murid-Nya memutuskan untuk menyendiri ke tempat terpencil. Namun, karena terdorong oleh rasa rindu mendalam untuk bersama Yesus dan mendengarkan sabda-Nya, maka beribu-ribu orang dari segala penjuru bergegas-gegas mengikuti Yesus dan para murid-Nya dengan menggunakan rute darat. Orang banyak itu ingin bertemu dengan Yesus, dan keadaan mereka membuat hati-Nya tergerak. Seperti kawanan domba yang baru kehilangan gembala, mereka mengikuti satu Gembala yang sungguh dapat memimpin mereka. Dengan demikian apa yang pada awalnya dimaksudkan sebagai waktu untuk istirahat Yesus dan para murid-Nya menjadi kesempatan baru lagi bagi orang banyak itu untuk bertemu Yesus yang memperhatikan orang-orang yang hilang-tersesat dan mempunyai berbagai kebutuhan. Setiap orang, baik orang banyak maupun kedua belas murid, dilayani oleh sang Gembala.

Sermon_on_the_MountYesus memanggil setiap kita untuk “keluar” dari rutinitas kita sehari-hari dan beristirahat di hadapan hadirat-Nya, di mana kita dapat mengalami kebaikan-Nya dan berkat-Nya. Dia ingin mengajar kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Allah yang ajaib dan memberi hidup. Dia adalah Gembala yang lemah lembut dari jiwa-jiwa kita, Guru dari mereka yang hilang-tersesat, Tuhan yang senang sekali memberi makanan kepada semua orang yang memiliki hasrat untuk berkumpul di sekeliling-Nya.

Sebagai “Gembala Baik”, Yesus ingin mengajar kita bagaimana membuat jiwa kita tenang sehingga kita dapat beristirahat dalam Dia setiap hari. Dalam hati kita yang terdalam, kita semua rindu akan kehadiran Yesus, namun kita masih saja menghadapi kesulitan menyediakan waktu untuk bersama dengan Dia. Dalam doa kita, baiklah kita mohon agar menanamkan dalam diri kita masing-masing suatu hasrat lebih mendalam lagi akan kehadiran-Nya. Kita mohon kepada-Nya guna menolong kita mendapat waktu untuk duduk bersama-Nya dan hanya menerima apa saja yang hendak diberikan-Nya kepada kita. Selagi kita melakukan semua ini, semoga Roh-Nya membuat kita serupa dengan Yesus. Bersama sang pemazmur, baiklah kita memanjatkan doa singkat ini kepada-Nya: “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu” (Mzm 119:10).

DOA: Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu sebagai apa adanya diriku, sangat berhasrat untuk mendengarkan sabda-Mu. Ajarlah aku hal-ikhwal yang menyangkut Allah. Sabda-Mu adalah roti bagi jiwaku. Sinarilah terang-cahaya-Mu atas jalanku hari ini, dan perkenankanlah aku berjalan dalam jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “WAKTU BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 6-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 3 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS