Posts tagged ‘ORANG BANYAK’

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 26 Oktober 2018)

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari lepas hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI” (bacaan tanggal 26-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan  tanggal 20-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

SEPERTI DOMBA-DOMBA YANG TIDAK MEMPUNYAI GEMBALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus, Imam dkk-Martir  – Sabtu, 6 Februari 2016) 

pppas0017-JESUA AND THE 12 DISCIPLESKemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 3:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:9-14

Pernahkah anda bayangkan bagaimana jadinya dengan beribu-ribu ekor domba, apabila secara mendadak tidak ada seorang pun gembala untuk menjaga mereka? Domba-domba itu tidak lagi terlindungi dari kemungkinan bahaya, tidak lagi mempunyai seseorang yang menggiring mereka di jalan yang aman dan yang akan membawa mereka ke arah yang benar. Belarasa Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti-Nya mengingatkan kita akan pentingnya memiliki Dia sebagai sang “Gembala Sejati” dalam perjalanan iman kita sehari-hari.

Setelah kedua belas murid Yesus kembali dari tugas pelayanan pewartaan, pengajaran, penyembuhan dan membawa orang kepada pertobatan dan iman, maka Yesus dan para murid-Nya memutuskan untuk menyendiri ke tempat terpencil. Namun, karena terdorong oleh rasa rindu mendalam untuk bersama Yesus dan mendengarkan sabda-Nya, maka beribu-ribu orang dari segala penjuru bergegas-gegas mengikuti Yesus dan para murid-Nya dengan menggunakan rute darat. Orang banyak itu ingin bertemu dengan Yesus, dan keadaan mereka membuat hati-Nya tergerak. Seperti kawanan domba yang baru kehilangan gembala, mereka mengikuti satu Gembala yang sungguh dapat memimpin mereka. Dengan demikian apa yang pada awalnya dimaksudkan sebagai waktu untuk istirahat Yesus dan para murid-Nya menjadi kesempatan baru lagi bagi orang banyak itu untuk bertemu Yesus yang memperhatikan orang-orang yang hilang-tersesat dan mempunyai berbagai kebutuhan. Setiap orang, baik orang banyak maupun kedua belas murid, dilayani oleh sang Gembala.

Sermon_on_the_MountYesus memanggil setiap kita untuk “keluar” dari rutinitas kita sehari-hari dan beristirahat di hadapan hadirat-Nya, di mana kita dapat mengalami kebaikan-Nya dan berkat-Nya. Dia ingin mengajar kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Allah yang ajaib dan memberi hidup. Dia adalah Gembala yang lemah lembut dari jiwa-jiwa kita, Guru dari mereka yang hilang-tersesat, Tuhan yang senang sekali memberi makanan kepada semua orang yang memiliki hasrat untuk berkumpul di sekeliling-Nya.

Sebagai “Gembala Baik”, Yesus ingin mengajar kita bagaimana membuat jiwa kita tenang sehingga kita dapat beristirahat dalam Dia setiap hari. Dalam hati kita yang terdalam, kita semua rindu akan kehadiran Yesus, namun kita masih saja menghadapi kesulitan menyediakan waktu untuk bersama dengan Dia. Dalam doa kita, baiklah kita mohon agar menanamkan dalam diri kita masing-masing suatu hasrat lebih mendalam lagi akan kehadiran-Nya. Kita mohon kepada-Nya guna menolong kita mendapat waktu untuk duduk bersama-Nya dan hanya menerima apa saja yang hendak diberikan-Nya kepada kita. Selagi kita melakukan semua ini, semoga Roh-Nya membuat kita serupa dengan Yesus. Bersama sang pemazmur, baiklah kita memanjatkan doa singkat ini kepada-Nya: “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu” (Mzm 119:10).

DOA: Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu sebagai apa adanya diriku, sangat berhasrat untuk mendengarkan sabda-Mu. Ajarlah aku hal-ikhwal yang menyangkut Allah. Sabda-Mu adalah roti bagi jiwaku. Sinarilah terang-cahaya-Mu atas jalanku hari ini, dan perkenankanlah aku berjalan dalam jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “WAKTU BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 6-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 3 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SEBAGAI GEMBALA HIDUP KITA

YESUS SEBAGAI GEMBALA HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI [TAHUN B] – 19 Juli 2015) 

pronunciation-Shephrd1Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk 6:30-34) 

Bacaan Pertama: Yer 23:1-6; Mazmur Antar Bacaan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 2:13-18

Kita semua tentunya sudah pernah melihat gambar-gambar Yesus – sang Gembala Baik – yang menyelamatkan seekor domba yang hilang dan kemudian menggendongnya. Ini adalah gambaran yang menyentuh hati tentang “seorang” Allah yang mengasihi, yang bertentangan dengan setiap gagasan yang sudah terdistorsi tentang “seorang” Allah yang “jauh”, “remote” dan yang hanya peduli dengan umat manusia di bumi ketika mereka membutuhkan koreksi.

Gambaran Yesus sebagai seorang gembala berasal dari Yesus sendiri (Mrk 6:34; Yoh 10:14). Ia menunjukkan diri-Nya sebagai seseorang yang akan diikuti oleh orang-orang lain tanpa banyak bertanya. Seperti domba-domba yang menaruh kepercayaan pada gembala mereka, orang-orang itu mengenal suara dari Dia yang memperhatikan mereka. Dengan kekuatan dan hikmat Ia memimpin mereka dan melayani segala keperluan/kebutuhan mereka. Jika ada domba yang hilang, Ia akan meninggalkan domba-domba lainnya agar dapat mencari domba yang hilang itu dan kemudian membawanya pulang (Luk 15:1-7). Ia melindungi mereka, bahkan dengan risiko biaya kehilangan nyawa/hidup-Nya sendiri.

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTADalam bacaan Injil hari ini, Yesus berurusan dengan orang banyak dengan penuh bela rasa, walaupun mereka “mengganggu” rencana-Nya untuk beristirahat. Ketika melihat bagaimana orang banyak itu seakan tanpa tujuan – bagaikan domba yang tidak mempunyai gembala – maka Yesus membatalkan rencana-Nya semula dan Ia mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada hari ini pun Yesus ingin melakukan hal yang sama kepada kita. Dia melihat kita mencari kesana kemari guna memenuhi rasa dahaga dan lapar kita akan hal-hal rohani. Dia ingin membimbing kita kepada Bapa-Nya, satu-satunya yang dapat memberikan kehidupan yang kita rindukan. Yesus selalu ada bagi kita, siap-sedia memberikan asupan makanan rohani kepada kita dalam bentuk kebenaran-Nya dalam Kitab Suci, dengan tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi, dan dengan kasih-Nya melalui saudari dan saudara kita seiman.

Yesus ingin melakukan semua ini bagi kita tidak sekadar agar kita menjadi penerima kasih-Nya yang penuh gairah. Ia ingin membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang membawa/meneruskan kasih-Nya kepada orang-orang lain di sekeliling kita. Saudari dan Saudaraku, marilah kita memperkenankan sang Gembala Baik untuk memperhatikan kita dan melalui diri kita masing-masing membawa kasih Allah kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mau dan mampu membuka hatiku bagi-Mu sehingga dengan demikian Engkau sungguh dapat menjadi gembala hidupku. Tolonglah aku mengatasi keragu-raguanku dan rasa takutku dan menaruh kepercayaan sepenuhnya pada-Mu. Buatlah diriku menjadi murid-Mu yang sejati, sehingga dengan demikian orang-orang lain dapat menemukan Engkau melalui diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:30-34), bacalah tulisan dengan judul “MENGUNDURKAN DIRI KE TEMPAT YANG TERPENCIL” (bacaan untuk tanggal 19-7-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak,  16 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERLARI-LARI KEPADA YESUS

BERLARI-LARI KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 9 Februari 2015) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: Kej 1:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,5-6,10,12,24,35 

Kita lihat bagaimana dalam Injil Markus, ketika orang-orang mendengar bahwa Yesus telah tiba di tempat tertentu, maka mereka “berlari-lari” kepada-Nya. Mereka tidak berjalan untuk melihat Yesus, tetapi “berlari-lari” untuk dapat melihat-Nya. Mereka “bergegas-gegas” untuk mendengarkan Dia (lihat Mrk 6:33), …… “berlari-larilah” mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada (Mrk 6:55). Ketika Yesus dan tiga orang rasul-Nya turun dari gunung di mana Dia mengalami transfigurasi, tercenganglah orang banyak dan “bergegas” menyambut Dia (Mrk 9:15). Kemudian, seorang kaya “berlari-lari” mendapatkan Dia (Mrk 10:17).

Orang-orang berlari-lari untuk bertemu dengan Yesus karena mereka ditarik oleh suatu daya tarik yang teramat kuat dari diri-Nya. Mereka melihat bahwa Yesus mampu untuk menyembuhkan dan mengajar mereka, dan hal-hal tersebut menarik perhatian atau memikat mereka. Orang-orang itu sungguh merindukan hal-hal yang ditawarkan-Nya: sabda pengharapan dan penghiburan, pernyataan tentang kasih Bapa sugawi, dan kuat-kuasa dari suatu hidup yang penuh kerendahan hati dan penyerahan diri. Mereka berlari-lari untuk melihat Dia menyembuhkan orang-orang sakit. Jadi, ada urgency di sini: Kita harus berlari-lari kepada Yesus sekarang juga!

YESUS MENYEMBUHKAN - SATU PERSATUYesus tidak pernah membuang siapa pun; Dia selalu terbuka bagi kebutuhan-kebutuhan orang-orang. Begitu sederhananya! Yesus senang sekali bertemu dengan orang-orang dan Ia pasti memperhatikan mereka yang ditemui-Nya. Orang-orang berlari-lari kepada Kristus agar berbagai kebutuhan mereka dipenuhi oleh-Nya!

Ketika Markus menulis bahwa orang-orang yang  menyentuh jumbai jubah-Nya saja menjadi sembuh, dia menggunakan kata Yunani sozo yang juga berarti dibebaskan, atau diselamatkan. Orang-orang yang secara fisik sakit dan disentuh oleh Yesus (seperti orang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah; Mrk 2:1-12) menyadari bahwa kesembuhan mereka tidak hanya bersifat fisik melainkan juga bersifat spiritual; bahwa dosa-dosa mereka diampuni; hati mereka disentuh dan ditransformasikan oleh kasih Bapa surgawi (lihat Mrk 2:5). Demikian pula, mereka yang berlari-lari kepada Yesus ditarik bukan hanya oleh laporan-laporan tentang penyembuhan/kesembuhan fisik, melainkan juga oleh cerita-cerita tentang “penyembuhan/kesembuhan batin” (Inggris: inner healings), orang-orang “diselamatkan” dari dosa mereka dan penyakit spiritual mereka. Setiap orang, termasuk yang sehat secara fisik, mempunyai alasan untuk berlari-lari kepada Yesus untuk memperoleh kesembuhan spiritual dari Dia.

Saudari-Saudara terkasih, marilah kita tanpa rasa ragu sedikit pun berlari-lari kepada Yesus untuk memperoleh kuat-kuasa penyembuhan-Nya. Dengan demikian kita pun dapat berfungsi dengan efektif sebagai pewarta Injil-Nya yang harus kita lakukan, baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan-tindakan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Tabib yang penuh kuasa. Hati-Mu dipenuhi dengan bela rasa terhadap orang-orang kecil dan menderita. Engkau memanggil kami agar datang kepada-Mu dalam iman, sehingga dengan demikian kami dapat disembuhkan dan diselamatkan. Yesus, kami datang kepada-Mu dengan penuh gairah. Tuhan, selamatkanlah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET” (bacaan tanggal 9-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 2 Februari 2015 [Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS