Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

HIDUP PERKAWINAN SETURUT KEHENDAK ALLAH

HIDUP PERKAWINAN SETURUT KEHENDAK ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 20 Mei 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laiki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Yak 5:9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9 

Ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa Allah menginginkan agar manusia dipersatukan sebagai “satu daging”, maka maksud-Nya di sini bukanlah untuk memberi suatu peraturan tidak fleksibel yang akan membuat dua orang tetap bersama tanpa memperhitungkan situasi-situasi yang mereka hadapi. Di sini sebenarnya Yesus berbicara mengenai hasrat Bapa surgawi bahwa hidup perkawinan merupakan suatu pencerminan kasih Allah dan komitmen-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali salah satu dari ilustrasi yang paling menyentuh hati adalah Kitab Hosea (Perjanjian Lama). Dalam Kitab ini, YHWH Allah memerintahkan nabi Hosea untuk menikahi seorang pelacur yang bernama Gomer. Setelah setia untuk sementara waktu dan melahirkan tiga orang anak bagi sang nabi, Gomer kembali ke hobi atau cara-cara hidup penuh kedosaan yang lama. Bayangkan betapa dalam penderitaan dari luka-luka batin yang dialami Hosea, pertama-tama terhadap Gomer yang telah mengkhianatinya, dan kedua juga terhadap YHWH Allah yang memerintahkannya untuk menikahi Gomer.

Dalam keadaan terluka itu, betapa berat rasanya hati Hosea ketika lagi-lagi diperintahkan YHWH Allah untuk tetap mengambil Gomer sebagai istrinya? Akan tetapi, demi kesetiaan dan ketaatan kepada perintah Allah, Hosea berdamai kembali dengan Gomer. Kebanyakan kita tentunya melihat tindakan Hosea itu sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin. Mungkin akan lebih mudah kiranya apabila Gomer yang datang untuk berdamai, namun YHWH Allah memerintahkan agar Hosea-lah yang melakukan inisiatif rekonsiliasi dengan istrinya itu.

YHWH Allah berfirman kepada Hosea untuk mengasihi Gomer seperti Dia mengasihi Israel: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti YHWH juga mencintai orang Israel sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hos 3:1). Berabad-abad kemudian, ketika Yesus menebus umat manusia lewat kematian-Nya di kayu salib, maka firman YHWH kepada Hosea digenapi. Yesus mengetahui benar, bahwa dengan lebih memilih berhala-berhala ketimbang diri-Nya – apakah itu uang, status, atau kemandirian – kita dapat bertindak layaknya si Gomer. Seperti juga Hosea, Yesus taat kepada Allah dan membayar biaya yang tinggi untuk menebus kita-manusia dan membawa kita kembali kepada-Nya. Yesus adalah mempelai laki-laki kita. Dia berkomitmen kepada kita dengan cintakasih yang bersifat kekal dan penuh kesetiaan. “Perkawinan”-Nya dengan kita (Umat-Nya = Gereja) adalah persatuan akhir yang dirancang oleh Allah, dan yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.  “Apakah ada ‘berhala-berhala’ di antara diriku dan Yesus?” “Adakah ‘kekasih-kekasih’ lain yang Allah minta kepadaku untuk dibuang?” Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Mempelai laki-laki sedang memanggilmu dengan tangan-tangan yang terbuka lebar!

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah Engkau selama-lamanya karena penebusan-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena engkau adalah mempelai laki-laki bagi kami semua. Semoga kami tetap setia kepada-Mu sebagaimana Engkau selalu setia kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari (Yak 5:9-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUNGUT-SUNGUT DAN SALING MEMPERSALAHKAN” (bacaan tanggal 20-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 19 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN OMDO

JANGAN OMDO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 9 Februari 2016)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

Orang yang suka berbicara besar tanpa dukungan perbuatan yang sepadan seringkali harus menghadapi kritik-kritik pedas. Apabila “adegan” antara Yesus dan orang-orang Farisi akan dimainkan kembali pada hari ini, maka Yesus dapat saja membuat komentar pedas kepada orang-orang Farisi yang “nyebelin” tersebut.

Orang-orang Farisi yang sedang dihadapi Yesus itu mengetahui semua peraturan untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik, namun mereka “tidaklah baik-baik amat” dalam mempraktekkan sendiri segala peraturan itu sehari-harinya sehingga menyenangkan Allah. Orang-orang Farisi tersebut begitu prihatin dalam menjaga cangkir dan mangkok mereka agar tetap bersih, akibatnya mereka kehilangan jejak dari hasrat lebih mendalam dari Allah bahwa mereka juga harus menjaga hati mereka agar tetap bersih.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSatu contoh yang digunakan Yesus dalam membuat pembedaan ini adalah cara sejumlah orang Yahudi menggunakan aspek-aspek teknis dari hukum guna menghindari kewajiban mereka untuk memelihara atau menjaga para orangtua mereka. Seringkah kita juga terjebak dalam perangkap serupa? Barangkali dalam pikiran dan hati, kita pun telah membuat penilaian-penilaian negatif terhadap para orangtua kita karena beberapa kebiasaan mereka yang tidak kita senangi atau tidak dapat kita terima. Barangkali penilaian-penilaian negatif ini telah menyebabkan kita menahan kasih dan rasa hormat yang  seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam bentuknya yang paling murni, kasih mengabaikan kelemahan-kelemahan dan membuat rumah kita menjadi tempat di mana Roh Kudus (Roh Kristus) berdiam dan setiap penghuni rumah itu diangkat ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada hari ini marilah kita (anda dan saya) membuat pilihan untuk mendukung iman-kepercayaan kita dengan cara/gaya hidup kita. Apakah kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus? Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita senantiasa menyediakan quality time untuk berdoa: menyembah dan memuji serta menghormati Dia sesuai dengan apa yang pantas diterima-Nya. Apakah kita mengaku diri kita sebagai seorang eksekutif Kristiani? Kalau begitu bagaimanakah kita memperlakukan para pekerja yang berada di bawah otoritas kita? Dengan penuh respek dan menghormati martabat mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi? Apakah kita mengasihi keluarga kita masing-masing? Kalau begitu, pikirkanlah cara istimewa yang dapat kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka – teristimewa jika kita baru saja berada dalam situasi konflik dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga kita.

Saudari dan Saudaraku, janganlah kita membiarkan diri kita menjadi seperti orang-orang Farisi, yang menghormati Yesus di bibir mereka namun pada saat yang sama hati mereka jauh dari Dia! Janganlah kita menjadi orang-orang yang suka nato (no action, talk only) atau “omdo” (omong doang).

DOA: Yesus, aku sungguh ingin agar kata-kataku sungguh didukung dengan tindakan-tindakanku. Aku ingin mendukung iman-kepercayaanku dengan hal-hal yang kukatakan, kupikirkan, dan kulakukan. Tolonglah aku agar dapat menghormati para orangtuaku dan semua anggota keluargaku, dengan demikian orang-orang akan mengetahui bahwa aku adalah murid-Mu – yaitu oleh kasihku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Raj 8:22-23,27-30), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA ALLAH SEPERTI ENGKAU” (bacaan tanggal 9-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016.

Cilandak, 7 Februari 2016 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS

TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 19 Januari 2016)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

Anak-anak tidak selalu sadar akan kebutuhan untuk tidur siang. Akan tetapi para orangtua tahu benar segala tanda yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka kalau tiba saat bagi mereka untuk tidur, misalnya anak-anak itu menjadi semakin rewel, menangis, gelisah dan lain sebagainya. Barangkali kita sebagai anak-anak Allah juga tidak dapat mengenali kebutuhan akan istirahat yang telah ditentukan oleh Bapa surgawi. Kita mungkin saja berpikir bahwa akal budi kita jernih dan cukup energetik, padahal pada kenyataannya kita mungkin kehilangan sesuatu yang vital karena kita tidak beristirahat dalam hadirat-Nya.

Seperti orang-orang Farisi yang telah salah sasaran karena berpikir cuma di sekitar parameter-parameter legalistik, kita pun dapat saja membatasi jenis istirahat yang Allah ingin berikan kepada kita. Menjalankan hari Sabat bagi kita mungkin berarti suatu hari bebas dari kerja, tetapi kita tetap saja tidak mengambil kesempatan untuk mengalami istirahat dan penyegaran kembali dalam hadirat Allah.

Pada hari istirahat ini Allah ingin memberikan kepada kita sesuatu yang jauh melampaui harapan-harapan kita yang biasa. Beristirahat secara tepat pada hari Sabat bukanlah sekadar tidak melakukan apa-apa demi ketaatan kepada perintah-perintah Allah. Kita mengalami istirahat Sabat yang penuh apabila kita memperkenankan Yesus melimpahi kita secara lebih lagi dengan cintakasih dan rahmat-Nya. Ini adalah roh dari hukum, dan inilah jenis istirahat yang ditawarkan Yesus kepada para murid-Nya.

Setiap hari Sabat, Allah menunggu kita untuk mengalami persekutuan dengan-Nya – suatu persekutuan doa di mana kita menyembah Dia, mendengarkan firman-Nya dan memperkenankan Dia menunjukkan kepada kita secara lebih penuh siapa kita sebenarnya dalam Dia. Ini adalah istirahat yang dilukiskan oleh sang pemazmur dengan jelasnya: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku”  (Mzm 23:2-3a).

Bahkan sekarang pun, pemikiran bahwa doa adalah cara Allah melayani kita sulit untuk dipahami. Kita dapat saja berpikir bahwa istirahat Sabat hanyalah untuk mengikuti aturan-aturan Allah, padahal berada bersama Yesus adalah tujuan sejati dari Sabat itu. Susahnya dalam hal orang Farisi adalah bahwa mereka begitu penuh dengan ide-ide mereka sendiri tentang Sabat, sehingga luput melihat kehidupan yang Yesus mau berikan kepada mereka. Tidak saja mereka melihat kesalahan pada Yesus, mereka pun menghalang-halangi orang lain untuk mengalami istirahat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengalami istirahat Sabat-Mu. Tolonglah kami agar dapat menerima segala anugerah yang Engkau ingin berikan kepada kami. Ajarlah kami untuk menerima kehidupan dan penyegaran kembali dari-Mu pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami beristirahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM DI ATAS HUKUM” (bacaan tanggal 19-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan  saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?

KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir  – Kamis, 12 November 2015) 

2ndcoming2

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22 – 8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

“Kapan Kerajaan Allah akan datang? (Luk 17:20).

Yesus kira-kira menjawab pertanyaan di atas seperti berikut: “Bukalah matamu, Kerajaan Allah sudah ada di sini. Orang sakit disembuhkan (lihat Luk 17:11-19). Para pendosa kembali kepada Allah (Luk 15:1-7). Roti dan ikan dilipatgandakan untuk memberi makan orang banyak (Luk 9:11-17). Bahkan seorang anak yang sudah mati dihidupkan kembali (Luk 8:49-56).

Akan tetapi, Kerajaan macam apa ini di mana hidup anda terancam dan anda memperingatkan para pengikut anda agar mempunyai ekspektasi yang sama? Lewat kata-kata-Nya dan perbuatan-Nya, Yesus telah membuktikan bahwa kematian-Nya dan kebangkitan-Nya adalah jalan yang telah dipilih oleh Allah untuk mematahkan kuasa kegelapan dan menghancurkan maut untuk selama-lamanya.

Kita percaya bahwa Yesus telah bangkit penuh kemenangan atas maut. Namun kita masih melihat adanya kegelapan di dalam dunia yang sangat dikasihi Yesus ini. Orang-orang dibunuh setiap hari di berbagai penjuru dunia, dan seringkali dengan mengatasnamakan Allah atau agama. Anak-anak di bawah umur dilecehkan secara seksual, diperkosa dlsb., bahkan oleh guru dan para orang tua mereka sendiri. Berbagai penyakit penuh misteri masih merajalela di atas bumi ini. Kalau dahulu ada penyakit kusta, dunia modern kita dihantui oleh penyakit-penyakit seperti HIV-Aids, Flu-Burung, berbagai jenis kanker dan baru-baru ini muncullah EBOLA. Dalam doa kita suka bertanya kepada Yesus: “Di manakah Kerajaan-Mu, Tuhan Yesus?”

Dalam doa kita mendengar suara Yesus menjawab pertanyaan kita kira-kira seperti berikut: “Benih-benih Kerajaan  sudah ada dalam diri kamu, ditanam pertama kali ketika kamu dibaptis. Seperti orang kusta Samaria itu, kembalilah kepada-Ku dan ucapkanlah rasa syukur-Mu karena apa yang Kulakukan pada dirimu, …… untuk segala karunia yang telah Kuanugerahkan kepadamu” (lihat Luk 17:11-19).

Kemudian kita bertanya lagi kepada Yesus: “Tentunya Engkau tidak bermaksud agar segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku tetap tersembunyi dalam hatiku pada saat-saat dunia begitu membutuhkan semua itu, bukankah begitu Yesus?” Yesus menjawab dengan suara yang lemah lembut: “Benar! Benih-benih yang telah Kutanamkan dalam dirimu sudah siap untuk bertumbuh-kembang; benih-benih itu harus melakukan terobosan dan menjadi kelihatan, sehingga dapat menjadi contoh juga bagi semua orang. Kerajaan-Ku ada di antara kamu. Kerajaan-Ku menjadi kelihatan dalam kasih antara kamu dan sesamamu, yaitu saudari dan saudaramu. Kerajaan-Ku terwujud selagi kamu dan saudari-saudaramu saling menguatkan, saling menyemangati, bekerja sama. Semua itu menjadi riil selagi kamu pergi menemui orang-orang miskin dan para musuh-Ku. Aku rindu untuk mengubah mereka menjadi sahabat-sahabat-Ku. Di mana kamu melihat Aku bekerja? Kontribusi kecil namun konkret apa yang Aku butuhkan dari kamu hari ini untuk memajukan pekerjaan-Ku ini?”

Kita bertanya lagi kepada Yesus: “Kapan Kerajaan-Mu akan datang?”

Yesus menjawab: “Terserah kepada kamu sendiri. Paulus menolak untuk memaksakan kehendak-Nya atas diri Filemon dan mengutamakan kebebasan atau pertimbangan atas dasar sukarela di pihak Filemon berkaitan dengan Onesimus (lihat bacaan hari ini: Flm 7-20). Demikian pula halnya dengan diriku: Aku mempercayakan Kerajaan-Ku kepada kebebasan-Mu untuk memutuskan. Dalam baptisanmu, Aku telah memberikan kepadamu segala peralatan yang kamu butuhkan untuk membangun Kerajaan Terang. Sekarang, dapatkah aku mengandalkan dirimu?

DOA: Yesus, Engkau adalah Raja langit dan bumi. Segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku telah membuat diriku seorang anak dari Kerajaan-Mu. Dengan kehendak bebas aku memutuskan menerima undangan-Mu untuk meluaskan Kerajaan itu kepada siapa saja yang kutemui. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN YESUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 12-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 6 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 7 November 2015)

Franciscan Missionaries of Mary (FMM):  Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

16145187880_c5376ece3a_oAku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11

“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan harta-benda dunia ini”, inilah kira-kira yang dikatakan oleh Yesus. Kemudian Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta-benda dunia ini, “Apabila kamu tidak dapat dipercaya dalam dalam hal kekayaan dunia yang sukar dipahami, siapa yang akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan kekayaan yang bersifat kekal-abadi?”

Inilah ajaran Tuhan Yesus tentang penggunaan harta-kekayaan, seturut “perumpamaan Yesus tentang bendahara/manajer yang cerdik” (atau: “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur”; Luk 16:1-8) dalam mengelola uang tuannya. Apa yang dikatakan Yesus kepada kita dalam perumpamaan itu adalah, “Harta-kekayaanmu bukanlah milikmu sendiri sehingga kamu dapat menggunakannya “semau gue”. Harta-kekayaanmu adalah milik Allah, dan kamu diangkat untuk mengurus harta kekayaan itu bagi Dia. Kamu akan dipandang akuntabel oleh Allah untuk apa yang kamu lakukan dengan harta kekayaan tersebut.”

Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Memang kita (anda dan saya) tidak dapat menjadi suatu kontradiksi, yang menjalani suatu kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan pada saat sama menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan mementingkan orang lain. Kita harus mengambil keputusan yang tegas! Hal ini sungguh merupakan suatu peringatan bagi orang-orang kaya pada zaman modern ini! Yesus berkata, “Allah memandang kamu bertanggung-jawab untuk penderitaan sengsara orang-orang miskin, para korban ketidak-adilan, orang-orang yang tergolong berpendapatan rendah yang membayar pajak yang relatif terlalu banyak sedangkan orang-orang kaya memiliki kuasa untuk menghindar dari beban pajak tersebut.”

Setiap pribadi manusia yang jujur mengetahui apa yang kiranya yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu tidak dapat melayani Allah dan uang.” Jikalau kita (anda dan saya) melayani uang, maka kita “mengambil” apa saja yang kita dapat ambil, dan keserakahan ini membuat kita semakin jahat atau semakin tidak mengindahkan moral terkait bagaimana kita memperoleh uang tersebut: upah besar tanpa pertimbangan kinerja; nafsu akan kenikmatan-kenikmatan dengan biaya orang lain yang menderita karena ulah kita; mengabaikan tugas-tugas keluarga dan komunitas karena kita lebih mementingkan pengejaran nafsu.

Akan tetapi, apabila kita melayani Allah, maka kita (anda dan saya) akan memberikan yang terbaik: waktu kita, talenta kita, keprihatinan kita yang penuh kasih, harta-benda kita di dunia. Kita memberi karena kasih.

Dalam perbandingan-perbandingan di atas, Yesus kiranya berkata: “Oleh/lewat tindakan-tindakanmu, dengan harta-benda yang “dipinjamkan” oleh Allah kepada kamu, kamu harus membuat suatu pilihan. Dan pilihan yang kamu buat akan menentukan kehidupan kekalmu. Juga menentukan jenis kebahagiaan yang kamu miliki di atas bumi.”

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar jiwaku tetap hidup dan rohku tetap sehat. Seringkali ingatkanlah diriku akan kata-kata keras-Mu: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 16:3-9,16,22-27), bacalah tulisan berjudul “SALAM DARI PAULUS DAN KAWAN-KAWANNYA” (bacaan tanggal 7-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 4 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 3 November 2015)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringatan Arwah sanak saudara dan para penderma 

YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISIMendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.

Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).

Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.

Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 2Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.

Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.

Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.

Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.

Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 12:5-16a), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI DAN DENGAN KASIH” (bacaan tanggal 3-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak,  2 November 2015 [PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ISTIRAHAT ALLAH

ISTIRAHAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 30 Oktober 2015)

OFMCap.: Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomPada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Rm 9:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Sekali lagi, Yesus menemukan diri-Nya di tengah-tengah kontroversi tentang penyembuhan di hari Sabat. Orang-orang Farisi yang berkonfrontasi dengan Yesus berpijak pada tafsir sangat sempit tentang perintah-perintah Allah, yang menggiring mereka pada kecurigaan terhadap diri Yesus dan mencari kesempatan untuk menjebak-Nya. Di lain pihak, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar mereka tentang inti pokok dari hukum Allah, yang adalah belas kasih dan penyembuhan.

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air – suatu penyakit yang disebabkan oleh banyaknya cairan dalam tubuh yang mungkin berkaitan dengan suatu kondisi jantung – maka Dia sekali lagi mengkonfrontir pemahaman sempit orang-orang Farisi tentang cara-cara atau jalan-jalan Allah. Aplikasi sempit dari hukum Sabat tidak memberi ruang sedikit pun bagi kasih dan belas kasih yang merupakan fondasi dari setiap perintah Allah. Yesus langsung saja mempersoalkan kekakuan tafsir/sikap dari orang-orang Farisi tersebut. Jika orang yang berakal sehat saja akan menyelamatkan anak atau hewan peliharaannya yang terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat, apalagi Allah yang begitu berhasrat untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang membutuhkan pertolongan di mana dan kapan saja? Dari semua hari sepanjang pekan, justru hari Sabat-lah yang paling pas bagi para anak Allah untuk menerima sentuhan penyembuhan-Nya. Lagipula, bukankah Allah selalu menginginkan kita masuk ke dalam istirahat-Nya?

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSIstirahat Sabat yang diinginkan oleh Allah bagi kita datang dari suatu pengalaman akan kasih-Nya yang intim – suatu keintiman yang menempatkan damai-sejahtera dalam hati kita, apa pun sikon yang kita hadapi. Yesus datang untuk melakukan inaugurasi atas istirahat Sabat ini di atas bumi melalui penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Sebagai umat-Nya, Gereja, kita sekarang dapat mengalaminya secara lebih mendalam.  Dalam keintiman ini, kita mengenal Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Ia juga Mahaperkasa, dan kita tahu bahwa kita adalah milik-Nya. Kita belajar untuk menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita dan kita menyerahkan hidup kita kepada penyelenggaraan-Nya.

Bagaimana kita mengalami istirahat Allah? Unsur atau elemen yang paling esensial adalah doa, yang menempatkan kita ke dalam kontak dengan realitas-realitas Kerajaan Allah. Selagi kita membuka diri kita bagi Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan hidup sakramental dalam Gereja, maka hidup Allah mampu untuk meresap ke dalam keberadaan kita secara lebih penuh. Dengan beristirahat dalam Kristus melalui doa dan ketaatan yang diungkapkan dengan rendah hati, kita menjadi lebih yakin akan kasih-Nya bagi kita dan kita menerima sentuhan penyembuhan-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi-Mu sekarang.  Semoga aku dapat masuk ke dalam istirahat-Mu dan mengalami belas kasih dan kesembuhan daripada-Mu. Tolonglah aku agar supaya dapat melihat bahwa kasih itu berada di jantung setiap hukum-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH” (bacaan tanggal 30-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 27 Oktober 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers