Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Yes 136:1-3,16-18,21-22,24

Yesus berkhotbah dan mengajar tentang suatu hidup baru dengan Allah. Di tengah-tengah khotbah-Nya, orang-orang Farisi mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang rumit dan bersifat menjebak – “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3).

Untuk sungguh memahami dilema yang dihadapi Yesus, kita perlu menyadari bahwa ada dua mashab para rabi pada waktu itu, masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang perceraian. Satu mashab memperbolehkan perceraian dengan alasan apa saja, dan mashab yang lain hanya memperbolehkan perceraian karena perzinahan. Orang-orang Farisi itu mencoba memaksa Yesus untuk memilih satu di antara dua pandangan yang berbeda tersebut. Jika Yesus memilih yang satu, maka Dia dapat dituduh dengan alasan kelemahan, sedangkan bila Yesus memilih yang lain, maka Dia dapat dituduh sebagai terlalu keras.

Namun Yesus mengangkat pertanyaan orang-orang Farisi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi! Yesus prihatin dengan apa yang Allah hendak katakan tentang topik itu, bukan apa yang telah dirancang oleh manusia. Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…… Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging? …… Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Mat 19:4-6). Ketika orang-orang Farisi mengemukakan bahwa Musa memperkenankan perceraian, Yesus  menjawab bahwa hal itu dilakukan oleh Musa justru karena kekerasan hati umat Israel, dan bukan merupakan niat Allah yang orisinal bagi umat-Nya.

Yesus memproklamasikan bahwa rencana Allah yang orisinal berkaitan dengan perkawinan sekali lagi dibuat mungkin karena Dia membawa Kerajaan Allah di mana perempuan dan laki-laki dapat mengalami hidup baru. Suami dan istri dapat menjadi setia dan mengasihi satu sama lain melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Mereka dapat mengatasi dosa yang dapat menghancurkan relasi penuh kasih: keserakahan, ketamakan, kemurahan dan penolakan. Kehidupan dapat disembuhkan dan dipulihkan sehingga dengan demikian kejahatan berat dan pelecehan terhadap pasangan hidup dapat dikalahkan. Ikatan-ikatan perkawinan dan keluarga-keluarga dalam Kerajaan Allah dapat hidup seperti semula, dalam kesatuan; suami-suami dan istri mereka masing-masing dapat hidup bersama dengan bermartabat, cintakasih dan integritas, seperti yang dimaksudkan Allah sejak semula.

DOA: Bapa surgawi, aku berdoa untuk semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam ikatan perkawinan. Berkatilah mereka, ya Allahku, dan berilah damai-sejahtera-Mu kepada mereka. Aku berdoa juga bagi mereka yang hidup terpisah atau berada dalam status bercerai, agar Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan mereka untuk membuang semua rasa marah dan kepahitan dari hati mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mempermudah reuni mereka dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 8 Juli 2017)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6 

Yohanes Pembaptis dan murid-murid-Nya menjalani suatu kehidupan asketis. Ia datang ke tengah-tengah masyarakat untuk memanggil banyak orang untuk menyesali dosa-dosa mereka  dan melakukan pertobatan. Oleh karena sangatlah pantas bahwa mereka harus melakukan puasa. Akan tetapi, para murid Yohanes seakan menghadapi sebuah teka-teki mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Dalam jawaban-Nya, Yesus menggunakan bahasa figuratif namun maknanya jelas. Berpuasa adalah sebuah tanda berduka-cita, kesedihan, atau pertobatan. Tentunya hal sedemikian tidak cocok atau layak pada sebuah pesta pernikahan. Sementara Yesus – sang mempelai laki-laki – bersama dengan para undangan-Nya, maka yang ada haruslah sukacita, suatu suasana penuh kebebasan dan cintakasih.

Berpuasa adalah sebuah tindakan yang baik, namun harus dilakukan secara bebas dan layak dari sudut waktu, tempat dan cara puasa itu dilaksanakan. Berpuasa tidak pernah boleh menjadi tujuan, berpuasa hanyalah sarana atau alat guna mencapai tujuan.

Yesus terus berbicara tentang keseluruhan cara hidup baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia bukanlah sekadar menyelipkan di sana-sini ide-ide baru, interpretasi-interpretasi baru dari Hukum Lama. Yesus berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. … Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:16,17). Dengan cara yang sama, Pesan Yesus tidak boleh kita campur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, Kabar Baik-Nya adalah berita atau kabar yang seluruhnya baru. Yesus ingin untuk menempatkan kita ke dalam suatu relasi dengan Allah yang seluruhnya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih dan bukannya relasi yang dipenuhi dengan rasa takut.

Kita juga telah dipanggil ke dalam suatu hidup baru. Melalui pembaptisan kita dilahirkan kembali. Kiranya Allah telah memberikan kepada kita suatu semangat yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih dengan Dia. Oleh karena itu mengapa kita harus terus berpegang erat-erat pada hal-hal yang lama? Mengapa kita harus mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama – kepentingan-kepentingan diri sendiri dan bersifat duniawi – dengan panggilan Tuhan kepada hidup baru? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Yesus Kristus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah baptisan kami menjadi hidup. Buatlah segala sesuatu baru karena kami hidup di bawah hukum cintakasih yang Kauajarkan kepada kami para murid-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 8-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 8 April 2017) 

 

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Aka datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

“Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi  telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia” (Yoh 11:57).

Petikan ayat ini tidak termasuk dalam Bacaan Injil hari ini, namun saya akan menggunakannya juga agar pembahasan kita atas niat jahat orang-orang yang menentang Yesus dilatar-belakangi secara lebih lengkap.

Mengapa orang-orang Farisi dan para pemuka Yahudi begitu membenci Yesus sehingga berniat untuk membunuh-Nya? Mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus dan kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya itu dimaksudkan untuk melembutkan hati orang dan menarik orang untuk lebih dekat lagi pada Allah. Yesus menginginkan agar orang-orang yang dikasihi-Nya itu memahami bahwa Allah telah datang untuk menyelamatkan mereka. Namun demikian, tindakan-tindakan Yesus itu malah semakin memisahkan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi itu dari diri-Nya.

Memang mudahlah bagi kita untuk melihat bahwa orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi sebagai manusia-manusia berkepala batu dan memiliki hati keras, akan tetapi baiklah pada saat ini kita melihat hati kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau kita mendapatkan hati kita sebenarnya “lebih dekat” dengan hati kaum Farisi dan konco-konco mereka, meskipun kita samasekali tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Orang-orang Farisi sangat religius, suatu hal yang harus kita akui. Mereka mengetahui firman Allah dan merasa yakin sekali bahwa mereka memahami benar cara kerja Allah.  Namun demikian, mereka tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima hal-hal baik yang dilakukan oleh Yesus, malah mereka selalu mencari-cari kesempatan dan celah untuk menjatuhkan-Nya. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita percaya bahwa kita mengetahui benar bagaimana Allah  bekerja? Bagaimana kita akan bereaksi terhadap cerita-cerita ajaib yang menyangkut mukjizat-mukjizat? Bagaimana kita akan bereaksi manakala kita mendengarkan kesaksian seseorang tentang bagaimana Allah bertindak dalam kehidupannya lewat suatu cara yang tidak biasa? Apakah kita akan mempertimbangkannya sebagai sekadar sesuatu yang berbau takhyul atau langsung mencap orang yang bersaksi itu sebagai seorang fanatik? Barangkali kita merasa tertantang ketika mendengar cerita-cerita seperti itu, tetapi akal-budi kita tetap tidak dapat menerimanya, dst.

Yang perlu kita ketahui adalah, bahwa Allah tidak pernah menyerah. Ia akan tetap mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya untuk memimpin kita kepada suatu iman yang lebih mendalam. Ia akan menemui kita di mana Dia mau, dengan penuh kelemah-lembutan dan cintakasih. Ia akan menarik kita kepada-Nya, agar kita mengenal diri-Nya dengan lebih baik. Seandainya Allah kelihatan tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan/pengalaman kita, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak bereaksi secara negatif. Allah adalah Allah yang Mahasegala, dan kita hanyalah manusia dengan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas (meski memiliki gelar S3 dalam teologi sekali pun). Kita tidak pernah boleh memandang rendah dan remeh sesuatu yang mungkin saja memang sungguh merupakan intervensi ilahi dalam sebuah kasus yang dihadapi manusia. Kita juga sekali-kali tidak boleh memandang “miring” terhadap orang yang katanya menerima berkat Allah itu (mis. disembuhkan dari penyakit berat secara ajaib dst.), lalu dengan mudahnya kita berkomentar: “Ah dasar orang Karismatik, fanatik, titik!” Bukankah sikap seperti itu tidak lebih baik dari sikap yang ditunjukkan kaum Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus hidup di muka bumi?

Tentu saja dalam hal seperti ini sangat perlulah untuk melakukan upaya membeda-bedakan roh atau katakanlah melakukan discernment (discretio), tetapi yang penting sekali juga di sini adalah bagi kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja dimaksudkan untuk menolong kita mengalami kasih-Nya juga. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita selalu. Baiklah kita dengan rendah hati bersiap untuk menerima rahmat Allah, meskipun datang dalam bentuk yang tidak seperti kita harap-harapkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sungguh-sungguh terbuka terhadap sentuhan kasih-Mu. Tolonglah aku untuk percaya bahwa apa saja yang Dikau lakukan terhadapku adalah karena Dikau mengasihiku. Tolonglah aku agar tidak merasa takut terhadap pekerjaan-Mu yang dapat Dikau lakukan dengan berbagai cara yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal-budiku. Tuhan Yesus, aku mengasihi Dikau dengan sepenuh hatiku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-56), bacalah tulisan yang berjudul “WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……” (bacaan tanggal 8-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA

YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 1 April 2017) 

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53). 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur: Mzm 7:2-3,9-12 

“Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” (Yoh 7:46).

Yesus memang berbicara dengan penuh kuasa (lihat Mrk 1:22). Ia memberikan pengharapan kepada para pendengar-Nya dan mengobarkan iman dalam diri orang-orang yang dengan tulus hati sedang mencari Allah. Imam-imam kepala, para ahli Taurat, orang-orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya adalah contoh dari orang-orang yang imannya sudah bangkrut. Mereka begitu terbelenggu oleh sikap mereka sendiri yang membuat mereka tidak dapat mendengar suara Allah, apalagi Yesus dari Nazaret si anak tukang kayu. Ajaran Yesus mengajak orang-orang untuk membuat komitmen kepada Allah; dan mereka yang berkomitmen dengan struktur-struktur buatan manusia tuli terhadap apa yang dikatakan Yesus.

Jadi, selagi Yesus melanjutkan mewartakan sabda Allah dan menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, banyak orang di Yerusalem percaya kepada-Nya – bahkan mereka yang diperkirakan sebelumnya akan melawan Dia. Para penjaga Bait Suci dan Nikodemus adalah dua contoh. Dalam banyak cara yang berbeda-beda dan dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi pula, kepada orang-orang ini Yesus mewartakan Kabar Baik-Nya. Rahmat Allah sudah mulai bekerja dalam diri mereka dan minat mereka akan Yesus jelas semakin besar. Para penjaga Bait Suci dikirim untuk menangkap Yesus sebagai seorang kriminal, namun mereka tidak dapat membawa-Nya. Ajaran-ajaran Yesus telah berhasil mencairkan hati mereka. Inilah seorang pribadi yang berbicara mengenai “mengasihi Allah dan sesama”. Pesan-pesannya juga tidak menyangkut sekadar pada tuntutan-tuntutan yang bersifat legaslistis. Bagaimana mereka dapat menangkap sang rabi dari Nazaret ini, yang kata-kata-Nya telah menembus jiwa mereka masing-masing dengan kebenaran ilahi? Di sisi lain, ada Nikodemus yang sebelumnya hanya berani bertemu dengan Yesus di malam hari (lihat Yoh 3:1-21), namun sekarang berani berdiri membela Yesus melawan rekan-rekannya sekaum, yaitu orang-orang Farisi. Dalam kedua hal ini, kita melihat orang-orang yang sedang mengalami proses pertobatan kepada Kristus.

Pada hari ini kita juga dihadapkan dengan satu keputusan yang harus kita ambil: menjadi seperti para penjaga Bait Suci, atau menjadi seperti para petinggi agama yang mengirim para penjaga itu untuk menangkap Yesus. Kita dapat mendengar kata-kata Juruselamat kita dan mulai menghayati-Nya, atau kita dapat seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – yang begitu yakin dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri sehingga kita tidak mampu membuat tanggapan terhadap panggilan Allah. Pilihan kita adalah pilihan kita! Artinya, menjadi tanggung jawab kita sendiri. Allah meninggalkan kita sendiri dalam pencaharian kita guna memahami siapa Yesus ini. Roh Kudus ingin mengajar kita makna dari sabda Yesus dan tindakan-tindakan-Nya serta membuka hati kita bagi pribadi Yesus. Apabila kita mengundang Roh Kebenaran, Ia akan memberikan kepada kita rahmat-Nya, kejelasan dan kemampuan untuk memahami dan menanggapi. Kita masing-masing mempunyai kesempatan atau peluang untuk berpartisipasi dalam kepenuhan hidup Allah, sama seperti orang-orang yang berkumpul di bukit, di padang datar, di sinagoga-sinagoga, atau di Bait Suci di tanah Palestina pada zaman Yesus. Sebagaimana Dia berbicara kepada hati mereka pada waktu itu, Yesus juga masih berbicara dengan kita sekarang, di abad ke-21 ini. Selagi kita mengundang Roh Kudus pada waktu kita membaca Kitab Suci atau mendengar sabda Allah dalam Kitab Suci yang diwartakan dalam Misa Kudus, kita dapat mengalami perwahyuan atau pernyataan ilahi seperti dialami oleh para leluhur rohaniah kita. Bersama Petrus kita dapat menyatakan: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, dan Yesus akan menjawab: “Berbahagialah engkau … sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:16-17).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus ke tengah-tengah dunia, sehingga aku dapat melihat, mendengar, dan mengasihi-Nya. Tolonglah aku agar dapat mendengarkan sabda-Nya dengan penuh kasih. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MENOLAK KRISTUS” (bacaan tanggal 1-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 29 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Jumat sesudah Rabu Abu, 3 Maret 2017) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Apa kesan anda tentang puasa? Apakah itu sebuah cara meratapi dosa-dosa kita? Apakah anda memandang puasa sebagai suatu kewajiban keagamaan – sekadar sesuatu yang harus dijalani oleh orang-orang Kristiani? Yesus menginginkan agar puasa bagi para murid-Nya itu berbeda dengan kesan-kesan seperti tadi. Pada kenyataannya, puasa Kristiani dapat menjadi suatu peristiwa yang mengandung sukacita besar dan penuh pengharapan, bukannya peristiwa penuh kemurungan.

Yesus mengatakan, apabila Dia – sang mempelai laki-laki – diambil, maka para tamu pesta nikah – para murid – akan berpuasa. Akan tetapi, Yesus sang mempelai laki-laki juga telah berjanji untuk senantiasa bersama kita (lihat Mat 28:20)! Ia bersama kita dalam banyak cara: dalam Roh Kudus-Nya, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi, dalam Gereja-Nya, dalam diri para imam tertahbis-Nya, dan di tengah-tengah umat yang berkumpul bersama di dalam nama-Nya. Dalam begitu banyak cara yang riil dan berwujud, sang mempelai laki-laki ada bersama kita. Dengan demikian orang-orang Kristiani tidak  boleh berpuasa sebagai suatu tanda dukacita.

Bagi anak-anak Allah – semua orang yang mengenal dan mengalami kehadiran Yesus Kristus dalam hati mereka, artinya yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat – maka puasa dimaksudkan untuk dihubungkan dengan doa. Apabila kita menyangkal diri kita sendiri dalam salah satu bentuk pengungkapannya, maka kita akan menemukan suatu vitalitas baru dalam doa-doa syafaat kita untuk kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain. Hati kita tidak mendua lagi dan lebih terbebaskan dari cengkeraman hal-hal duniawi, dan lebih dekat rasa haus dan lapar akan Yesus yang terdapat dalam setiap hati manusia. Apabila kita mengkombinasikannya dengan doa, maka puasa dapat menolong kita mengatasi kejahatan dan menjaga agar kita tetap fokus pada hal-hal yang sungguh berarti. Segala pelanturan dapat dibuang sehingga kita dapat mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas. Hal ini dapat membantu kita menghargai hal-hal yang telah kita miliki, sehingga kita dapat berdoa untuk mereka yang tidak memiliki seperti kita. Akhirnya, puasa dan doa dapat memimpin kita kepada pekerjaan untuk tercapainya keadilan, perdamaian, dan belas kasihan di dalam dunia ini.

Mungkinkah berpuasa dengan penuh sukacita? Ya, mungkin! Pada kenyataannya, berpuasa yang tidak bermuram-durja ini kelihatannya yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia memberikan “Khotbah di Bukit”: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:16-18). Pada masa Prapaskah ini, mengapa tidak mencoba untuk bereksperimen dengan “puasa yang penuh sukacita”? Pilihlah jenis puasa yang masuk akal dan mohonlah kepada Roh Kudus untuk membimbing anda dalam menentukan ujud-ujud doamu. Namun ingatlah selalu bahwa Yesus, sang mempelai laki-laki, selalu beserta anda!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat berpuasa dengan penuh sukacita dalam masa Prapaskah ini. Gunakanlah doaku dan puasaku untuk membawa kebaikan dalam dunia pada masa kini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA SETURUT KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 3-3-17)  dalam situs blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 28 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 24 Februari 2017)

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

 

Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laiki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35 

Ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa Allah menginginkan agar manusia dipersatukan sebagai “satu daging”, maka maksud-Nya di sini bukanlah untuk memberi suatu peraturan tidak fleksibel yang akan membuat dua orang tetap bersama tanpa memperhitungkan situasi-situasi yang mereka hadapi. Di sini sebenarnya Yesus berbicara mengenai hasrat Bapa surgawi bahwa hidup perkawinan merupakan suatu pencerminan kasih Allah dan komitmen-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali salah satu dari ilustrasi yang paling menyentuh hati adalah Kitab Hosea (Perjanjian Lama). Dalam Kitab ini, YHWH Allah memerintahkan nabi Hosea untuk menikahi seorang PSK yang bernama Gomer. Setelah setia untuk sementara waktu dan melahirkan tiga orang anak bagi sang nabi, Gomer kembali hobi atau cara-cara hidup penuh kedosaan yang lama. Bayangkan betapa dalam penderitaan dari luka-luka batin yang dialami Hosea, pertama-tama terhadap Gomer yang telah mengkhianatinya, dan kedua juga terhadap YHWH Allah yang memerintahkannya untuk menikahi Gomer.

Dalam keadaan terluka itu, betapa berat rasanya hati Hosea ketika lagi-lagi diperintahkan YHWH Allah untuk tetap mengambil Gomer sebagai istrinya? Akan tetapi, setia dan taat kepada perintah Allah, Hosea berdamai kembali dengan Gomer. Kebanyakan kita tentunya melihat tindakan Hosea itu sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin. Mungkin akan lebih mudah kiranya apabila Gomer yang datang untuk berdamai, namun YHWH Allah memerintahkan agar Hosea-lah yang melakukan inisiatif rekonsiliasi dengan istrinya itu.

YHWH Allah berfirman kepada Hosea untuk mengasihi Gomer seperti Dia mengasihi Israel: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti YHWH juga mencintai orang Israel sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hos 3:1). Berabad-abad kemudian, ketika Yesus menebus umat manusia lewat kematian-Nya di kayu salib, maka firman YHWH kepada Hosea digenapi. Yesus mengetahui benar, bahwa dengan lebih memilih berhala-berhala ketimbang diri-Nya – apakah itu uang, status, atau kemandirian – kita dapat bertindak layaknya si Gomer. Seperti juga Hosea, Yesus taat kepada Allah dan membayar biaya yang tinggi untuk menebus kita-manusia dan membawa kita kembali kepada-Nya. Yesus adalah mempelai laki-laki kita. Dia berkomitmen kepada kita dengan cintakasih yang bersifat kekal dan penuh kesetiaan. “Perkawinan”-Nya dengan kita (Umat-Nya = Gereja) adalah persatuan akhir yang dirancang oleh Allah, dan yang tidak dapat dipisahkian lagi.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.  “Apakah ada ‘berhala-berhala’ yang ada di antara diriku dan Yesus?” “Adakah ‘kekasih-kekasih’ lain yang Allah minta kepadaku untuk dibuang?” Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Mempelai laki-laki sedang memanggilmu dengan tangan-tangan yang terbuka lebar!

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah Engkau selama-lamanya karena penebusan-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau adalah mempelai laki-laki bagi kami semua. Semoga kami tetap setia kepada-Mu sebagaimana Engkau selalu setia kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “TENTANG PERCERAIAN” (bacaan tanggal 24-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 21 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 13 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17,20-21

Menghadapi “tuntutan” dari sejumlah orang Farisi akan suatu “tanda dari surga”, Yesus mendesah dalam hati-Nya. Bukankah Ia telah memberi lebih dari cukup tanda-tanda? Tidak sedikit orang yang disembuhkan secara ajaib, misalnya orang kusta disembuhkan (1:40-45); orang lumpuh disembuhkan (2:1-12); demikian pula angin ribut diredakan (4:35-41); roh-roh jahat diusir pergi (5:1-20); lima roti dan dua ikan dilipat-gandakan untuk memberi makan ribuan orang (6:30-44); dan lain-lain mukjizat lagi.  Malah anak perempuan  seorang kepala rumah ibadat (Yairus) yang telah meninggal pun dihidupkan-Nya kembali (5:21-24.35-43). Bukankah sekarang begitu jelas bahwa Allah – dengan segala kuasa-Nya – sedang datang mengunjungi umat-Nya melalui Yesus?

Kelihatan letak persoalannya bukanlah apakah Yesus tidak memberikan cukup banyak tanda atau tidak. Orang-orang Farisi tidak mampu dan/atau tidak mau membaca tanda-tanda yang telah diberikan oleh-Nya. Mengapa orang-orang Farisi tidak dapat memahami apa yang kelihatan jelas-nyata di depan mata dan kepala mereka? Suatu religiositas yang terlalu kaku, cupat, sempit? Kesombongan rohani? Barangkali. Atau barangkali karena yang dilakukan Yesus begitu baru bagi mereka, begitu asingnya, sehingga mereka sungguh tidak tahu bagaimana menafsirkannya. Sepertinya hampir berdasarkan naluri mereka berpegang erat-erat pada asumsi-asumsi mereka sendiri tentang bagaimana Allah akan berkarya … dengan demikian ‘tanda-tanda’ yang telah diberikan Yesus selama ini tidaklah cocok, … tidak memenuhi syarat atau tolok ukur yang telah mereka tetapkan sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan modern di abad ke-21 ini? Apakah Yesus masih terus melakukan mukjizat-mukjizat? Apakah masih terjadi peristiwa-peristiwa penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat dan lain sebagainya? Apakah terjadi pertobatan-pertobatan yang disebabkan kehadiran Allah? Jawabnya adalah YA! Namun pada saat yang sama, sikap skeptis dan tidak percaya juga jelas terasa dan terlihat di antara umat Kristiani sendiri. Banyak orang yang mendasarkan diri pada pendekatan-pendekatan terhadap dunia yang bersifat “ilmiah” atau ‘rasional’; mereka menutup diri terhadap adanya kemungkinan bahwa Allah akan mau melakukan intervensi secara ajaib dalam kehidupan orang-orang. Ada juga orang-orang yang ingin menyangkal atau menghindarkan diri dari hal-hal yang berbau mukjizat atau dimanifestasikan oleh “tanda-tanda heran”, karena takut kalau-kalau dituntut sesuatu dari mereka. Akan tetapi kita tidak dapat menyangkal, bahwa “tanda-tanda heran” seperti itu selalu ada di sekeliling kita. Saya ulangi: Selalu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Bagaimana dengan anda? Apakah anda percaya bahwa pada hari ini pun Yesus masih bekerja dengan penuh kuat-kuasa? Apakah anda percaya bahwa Yesus mengasihimu, sama seperti Dia mengasihi para murid-Nya yang pertama? Apakah anda percaya bahwa Dia cukup mengasihimu sehingga menyembuhkanmu atau membebaskanmu dari dosa?

Sebaiknya anda mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hatimu bagi tanda-tanda supernatural dari kehadiran-Nya. Lakukanlah hari ini juga, karena hidupmu tidak pernah akan sama lagi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjadi lebih fleksibel sehingga aku dapat menaruh kepercayaan pada-Mu. Bukalah mataku agar dapat melihat cintakasih-Mu kepadaku yang penuh keajaiban. Terpujilah nama-Mu yang terkudus, ya Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA?” (bacaan tanggal 13-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  10 Februari 2017 [Peringatan S. Skolastika, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS