Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

YESUS DAN HARI SABAT

YESUS DAN HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung [540-604], Paus-Pujangga Gereja – Sabtu, 3 September 2016)

pppas0345Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:6b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:17-21

Secara teknis, tindakan memetik bulir gandum itu melanggar hukum Musa (lihat Kel 20:8-11). Tentunya berdasarkan apa yang ditulis dalam kitab Keluaran itu, orang-orang Farisi merasa dibenarkan dalam menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengacu kepada bacaan Kitab Suci (1Sam 21:1-6) yang menceritakan apa yang dilakukan oleh Raja Daud sendiri dalam situasi yang khusus, agar orang-orang Farisi itu mengerti sedikit apa tujuan sebenarnya dari hukum Sabat.  Orang-orang Farisi ini begitu disibukkan dengan adat-istiadat serta disiplin agama mereka sehingga mereka lupa mendalami tujuan sebenarnya dari hukum itu, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Di lain pihak, kita pun harus berhati-hati untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang-orang Farisi. Mereka sebenarnya mencoba untuk menjaga tradisi-tradisi Yahudi di tengah-tengah suatu krisis nasional pada masa itu. Kekaisaran Romawi menduduki wilayah Palestina untuk waktu yang lama, sehingga tidak sedikit orang Yahudi yang terpengaruh oleh praktek-praktek kekafiran orang Romawi. Mereka menukarkan iman-kepercayaan mereka dengan filsafat-filsafat yang berpusat pada manusia.  Bagi kaum Farisi, satu-satunya batasan dalam rangka memelihara dan menjaga identitas bangsa Yahudi, adalah penerapan hukum Musa secara ketat. Namun  sayang saja jalan yang mereka tempuh di tengah masyarakat keliru, teristimewa dalam pengungkapannya.

Sepanjang sejarah, legislasi moral yang kaku itu bersifat opresif dan ujung-ujungnya membuat orang-orang merasa bersalah dan merasa tidak dikasihi. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, praktis kita tidak dapat mentaati hukum Allah yang adil. Mengharapkan diri kita sendiri dan orang-orang lain untuk memperoleh keselamatan melalui tindakan-tindakan sesungguhnya bertentangan dengan pesan Yesus. Dalam upaya mereka untuk mendorong hukum Yahudi, banyak orang Farisi menjadi orang-orang yang bersikap suka menghukum dan menuduh – hal ini sungguh bertentangan dengan tujuan Allah dalam hukum-Nya.

Upaya untuk mengikuti jalan-jalan Allah seturut kekuatan kita sendiri merupakan sebuah beban dan pasti akan menuju kegagalan.Efek-efek dari dosa asal telah melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi tuntutan-tuntuan hukum. Inilah sebabnya mengapa Yesus datang ke dunia: Demi kasih-Nya Dia ingin menebus kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri kita bagi Kabar Baik yang diwartakan-Nya. Sadar akan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai harapan untuk mampu mengikuti hukum-Nya berdasarkan kekuatan sendiri, maka kita dapat menemukan Dia dalam doa-doa kita, dalam sakramen-sakramen dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci. Dia akan memimpin kita dalam jalan-jalan-Nya dengan hati baru yang mencerminkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat berdiam bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA” (bacaan tanggal 3-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

Cilandak, 31 Agustus 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELA ITU BERSAMA MEREKA?

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 2 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. – Martir Revolusi Perancis

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40 

Ketika beberapa orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang “berpuasa dan tidak berpuasa”, Yesus menanggapinya dengan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai seorang mempelai laki-laki: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? (Luk 5:34). Sebagai seorang mempelai laki-laki, Yesus justru adalah Dia untuk siapa mereka mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan berpuasa. Sekarang, Ia sudah berada di tengah-tengah mereka; Dia yang datang untuk “mengklaim” sang mempelai perempuan sebagai istri-Nya.

Dalam bacaan Injil ini Yesus ingin menekankan kebaharuan dari kehidupan ilahi yang ingin diberikan-Nya kepada umat-Nya. Kehidupan Kristiani bukanlah dimaksudkan untuk sekadar kita tambahkan di atas “kehidupan regular” kita yang sudah ada. Kehidupan Kristiani adalah suatu kehidupan baru yang seluruhnya baru. Kita dengan mudah dapat berpikir bahwa kita mempunyai suatu kehidupan dan apabila kita melakukan hal-hal tertentu dengan setia, maka itu akan menjadi suatu kehidupan yang lebih baik – suatu kehidupan Kristiani. Akan tetapi, ini bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah. Yesus tidak menjadi seorang manusia dan menderita serta mati di kayu salib hanya untuk memberikan kepada kita suatu kehidupan yang kiranya lebih baik. Ia melakukan semua itu agar supaya kita menerima suatu kehidupan baru, lengkap dengan seperangkat prinsip-prinsip baru, sebuah pusat yang baru, dan sebuah sumber baru dari pengharapan dan kuasa. Yesus ingin memberikan kita suatu kehidupan ilahi. Yesus ingin membuat kita menjadi suatu ciptaan baru.

Untuk menolong para pengikut-Nya memahami kebenaran fundamental ini, Yesus berbicara mengenai ‘kain penambal untuk baju yang tua’ dan ‘kantong kulit penyimpan anggur yang tua’. Para pendengar-Nya akan memahami bahwa kain penambal dapat mengubah “penampilan” baju yang dikenakan seseorang menjadi lebih baik, mungkin juga memperbaiki kegunaannya, namun baju itu tetaplah sepotong baju tua dan “gampang robek” justru karena tambalan itu. Mereka juga mengetahui bahwa anggur yang baru masih sedang berfermentasi, oleh karena itu kantong kulitnya pun harus cukup fleksibel untuk mengembang seirama dengan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi anggur itu. Kantong kulit yang tua tidak akan dapat “menangani” perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh anggur yang baru.

stdas0748Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa serta bersama-Nya kehidupan lama kita. Yang ditawarkan oleh-Nya sekarang adalah kemampuan untuk menjadi suatu ciptaan baru yang dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Tentunya dengan melakukan “pemeriksaan batin”, setiap hari. Seperti Santo Paulus, pada satu titik di tengah “proses-rutin-harian” itu, kita pun tidak dapat mengelakkan diri untuk mengatakan: “Bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm 7:15). Inilah salah satu nilai penting dari suatu “pemeriksaan batin”, yaitu kita disadarkan akan masih adanya “kehidupan lama” dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita membawa segala kehidupan lama kita kepada Yesus yang tersalib dan mohon kepada-Nya agar kita dapat mati terhadap kehidupan lama kita tersebut. Kita dapat bertobat – artinya berbalik seratus delapan puluh derajat – dari kehidupan lama kita itu. Selagi kita mengakui dosa-dosa kita, kita memperdalam pertobatan kita dan ditransformasikan untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus. Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita masing-masing, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi kantong anggur yang lunak dan fleksibel, yang siap untuk menerima tuangan lebih banyak lagi anggur yang baru.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu selidikilah hatiku. Tunjukkanlah kepadaku perbedaan antara kehidupan baru yang telah Kauberikan kepadaku dan kehidupan lama yang disalibkan bersama-Mu. Transformasikanlah aku melalui pembaharuan hati dan pikiranku, sehingga aku dapat hidup untuk memuliakan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG MEMPELAI LAKI-LAKI” (bacaan tanggal 2-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 31 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HIDUP PERKAWINAN SETURUT KEHENDAK ALLAH

HIDUP PERKAWINAN SETURUT KEHENDAK ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 20 Mei 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laiki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Yak 5:9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9 

Ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa Allah menginginkan agar manusia dipersatukan sebagai “satu daging”, maka maksud-Nya di sini bukanlah untuk memberi suatu peraturan tidak fleksibel yang akan membuat dua orang tetap bersama tanpa memperhitungkan situasi-situasi yang mereka hadapi. Di sini sebenarnya Yesus berbicara mengenai hasrat Bapa surgawi bahwa hidup perkawinan merupakan suatu pencerminan kasih Allah dan komitmen-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali salah satu dari ilustrasi yang paling menyentuh hati adalah Kitab Hosea (Perjanjian Lama). Dalam Kitab ini, YHWH Allah memerintahkan nabi Hosea untuk menikahi seorang pelacur yang bernama Gomer. Setelah setia untuk sementara waktu dan melahirkan tiga orang anak bagi sang nabi, Gomer kembali ke hobi atau cara-cara hidup penuh kedosaan yang lama. Bayangkan betapa dalam penderitaan dari luka-luka batin yang dialami Hosea, pertama-tama terhadap Gomer yang telah mengkhianatinya, dan kedua juga terhadap YHWH Allah yang memerintahkannya untuk menikahi Gomer.

Dalam keadaan terluka itu, betapa berat rasanya hati Hosea ketika lagi-lagi diperintahkan YHWH Allah untuk tetap mengambil Gomer sebagai istrinya? Akan tetapi, demi kesetiaan dan ketaatan kepada perintah Allah, Hosea berdamai kembali dengan Gomer. Kebanyakan kita tentunya melihat tindakan Hosea itu sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin. Mungkin akan lebih mudah kiranya apabila Gomer yang datang untuk berdamai, namun YHWH Allah memerintahkan agar Hosea-lah yang melakukan inisiatif rekonsiliasi dengan istrinya itu.

YHWH Allah berfirman kepada Hosea untuk mengasihi Gomer seperti Dia mengasihi Israel: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti YHWH juga mencintai orang Israel sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hos 3:1). Berabad-abad kemudian, ketika Yesus menebus umat manusia lewat kematian-Nya di kayu salib, maka firman YHWH kepada Hosea digenapi. Yesus mengetahui benar, bahwa dengan lebih memilih berhala-berhala ketimbang diri-Nya – apakah itu uang, status, atau kemandirian – kita dapat bertindak layaknya si Gomer. Seperti juga Hosea, Yesus taat kepada Allah dan membayar biaya yang tinggi untuk menebus kita-manusia dan membawa kita kembali kepada-Nya. Yesus adalah mempelai laki-laki kita. Dia berkomitmen kepada kita dengan cintakasih yang bersifat kekal dan penuh kesetiaan. “Perkawinan”-Nya dengan kita (Umat-Nya = Gereja) adalah persatuan akhir yang dirancang oleh Allah, dan yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.  “Apakah ada ‘berhala-berhala’ di antara diriku dan Yesus?” “Adakah ‘kekasih-kekasih’ lain yang Allah minta kepadaku untuk dibuang?” Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Mempelai laki-laki sedang memanggilmu dengan tangan-tangan yang terbuka lebar!

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah Engkau selama-lamanya karena penebusan-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena engkau adalah mempelai laki-laki bagi kami semua. Semoga kami tetap setia kepada-Mu sebagaimana Engkau selalu setia kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari (Yak 5:9-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUNGUT-SUNGUT DAN SALING MEMPERSALAHKAN” (bacaan tanggal 20-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 19 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN OMDO

JANGAN OMDO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 9 Februari 2016)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

Orang yang suka berbicara besar tanpa dukungan perbuatan yang sepadan seringkali harus menghadapi kritik-kritik pedas. Apabila “adegan” antara Yesus dan orang-orang Farisi akan dimainkan kembali pada hari ini, maka Yesus dapat saja membuat komentar pedas kepada orang-orang Farisi yang “nyebelin” tersebut.

Orang-orang Farisi yang sedang dihadapi Yesus itu mengetahui semua peraturan untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik, namun mereka “tidaklah baik-baik amat” dalam mempraktekkan sendiri segala peraturan itu sehari-harinya sehingga menyenangkan Allah. Orang-orang Farisi tersebut begitu prihatin dalam menjaga cangkir dan mangkok mereka agar tetap bersih, akibatnya mereka kehilangan jejak dari hasrat lebih mendalam dari Allah bahwa mereka juga harus menjaga hati mereka agar tetap bersih.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSatu contoh yang digunakan Yesus dalam membuat pembedaan ini adalah cara sejumlah orang Yahudi menggunakan aspek-aspek teknis dari hukum guna menghindari kewajiban mereka untuk memelihara atau menjaga para orangtua mereka. Seringkah kita juga terjebak dalam perangkap serupa? Barangkali dalam pikiran dan hati, kita pun telah membuat penilaian-penilaian negatif terhadap para orangtua kita karena beberapa kebiasaan mereka yang tidak kita senangi atau tidak dapat kita terima. Barangkali penilaian-penilaian negatif ini telah menyebabkan kita menahan kasih dan rasa hormat yang  seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam bentuknya yang paling murni, kasih mengabaikan kelemahan-kelemahan dan membuat rumah kita menjadi tempat di mana Roh Kudus (Roh Kristus) berdiam dan setiap penghuni rumah itu diangkat ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada hari ini marilah kita (anda dan saya) membuat pilihan untuk mendukung iman-kepercayaan kita dengan cara/gaya hidup kita. Apakah kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus? Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita senantiasa menyediakan quality time untuk berdoa: menyembah dan memuji serta menghormati Dia sesuai dengan apa yang pantas diterima-Nya. Apakah kita mengaku diri kita sebagai seorang eksekutif Kristiani? Kalau begitu bagaimanakah kita memperlakukan para pekerja yang berada di bawah otoritas kita? Dengan penuh respek dan menghormati martabat mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi? Apakah kita mengasihi keluarga kita masing-masing? Kalau begitu, pikirkanlah cara istimewa yang dapat kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka – teristimewa jika kita baru saja berada dalam situasi konflik dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga kita.

Saudari dan Saudaraku, janganlah kita membiarkan diri kita menjadi seperti orang-orang Farisi, yang menghormati Yesus di bibir mereka namun pada saat yang sama hati mereka jauh dari Dia! Janganlah kita menjadi orang-orang yang suka nato (no action, talk only) atau “omdo” (omong doang).

DOA: Yesus, aku sungguh ingin agar kata-kataku sungguh didukung dengan tindakan-tindakanku. Aku ingin mendukung iman-kepercayaanku dengan hal-hal yang kukatakan, kupikirkan, dan kulakukan. Tolonglah aku agar dapat menghormati para orangtuaku dan semua anggota keluargaku, dengan demikian orang-orang akan mengetahui bahwa aku adalah murid-Mu – yaitu oleh kasihku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Raj 8:22-23,27-30), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA ALLAH SEPERTI ENGKAU” (bacaan tanggal 9-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016.

Cilandak, 7 Februari 2016 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS

TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 19 Januari 2016)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA 

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1 Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

Anak-anak tidak selalu sadar akan kebutuhan untuk tidur siang. Akan tetapi para orangtua tahu benar segala tanda yang ditunjukkan oleh anak-anak mereka kalau tiba saat bagi mereka untuk tidur, misalnya anak-anak itu menjadi semakin rewel, menangis, gelisah dan lain sebagainya. Barangkali kita sebagai anak-anak Allah juga tidak dapat mengenali kebutuhan akan istirahat yang telah ditentukan oleh Bapa surgawi. Kita mungkin saja berpikir bahwa akal budi kita jernih dan cukup energetik, padahal pada kenyataannya kita mungkin kehilangan sesuatu yang vital karena kita tidak beristirahat dalam hadirat-Nya.

Seperti orang-orang Farisi yang telah salah sasaran karena berpikir cuma di sekitar parameter-parameter legalistik, kita pun dapat saja membatasi jenis istirahat yang Allah ingin berikan kepada kita. Menjalankan hari Sabat bagi kita mungkin berarti suatu hari bebas dari kerja, tetapi kita tetap saja tidak mengambil kesempatan untuk mengalami istirahat dan penyegaran kembali dalam hadirat Allah.

Pada hari istirahat ini Allah ingin memberikan kepada kita sesuatu yang jauh melampaui harapan-harapan kita yang biasa. Beristirahat secara tepat pada hari Sabat bukanlah sekadar tidak melakukan apa-apa demi ketaatan kepada perintah-perintah Allah. Kita mengalami istirahat Sabat yang penuh apabila kita memperkenankan Yesus melimpahi kita secara lebih lagi dengan cintakasih dan rahmat-Nya. Ini adalah roh dari hukum, dan inilah jenis istirahat yang ditawarkan Yesus kepada para murid-Nya.

Setiap hari Sabat, Allah menunggu kita untuk mengalami persekutuan dengan-Nya – suatu persekutuan doa di mana kita menyembah Dia, mendengarkan firman-Nya dan memperkenankan Dia menunjukkan kepada kita secara lebih penuh siapa kita sebenarnya dalam Dia. Ini adalah istirahat yang dilukiskan oleh sang pemazmur dengan jelasnya: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku”  (Mzm 23:2-3a).

Bahkan sekarang pun, pemikiran bahwa doa adalah cara Allah melayani kita sulit untuk dipahami. Kita dapat saja berpikir bahwa istirahat Sabat hanyalah untuk mengikuti aturan-aturan Allah, padahal berada bersama Yesus adalah tujuan sejati dari Sabat itu. Susahnya dalam hal orang Farisi adalah bahwa mereka begitu penuh dengan ide-ide mereka sendiri tentang Sabat, sehingga luput melihat kehidupan yang Yesus mau berikan kepada mereka. Tidak saja mereka melihat kesalahan pada Yesus, mereka pun menghalang-halangi orang lain untuk mengalami istirahat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengalami istirahat Sabat-Mu. Tolonglah kami agar dapat menerima segala anugerah yang Engkau ingin berikan kepada kami. Ajarlah kami untuk menerima kehidupan dan penyegaran kembali dari-Mu pada saat-saat kami bekerja maupun pada saat-saat kami beristirahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM DI ATAS HUKUM” (bacaan tanggal 19-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan  saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?

KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup Martir  – Kamis, 12 November 2015) 

2ndcoming2

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Keb 7:22 – 8:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:89-90,130,135,175 

“Kapan Kerajaan Allah akan datang? (Luk 17:20).

Yesus kira-kira menjawab pertanyaan di atas seperti berikut: “Bukalah matamu, Kerajaan Allah sudah ada di sini. Orang sakit disembuhkan (lihat Luk 17:11-19). Para pendosa kembali kepada Allah (Luk 15:1-7). Roti dan ikan dilipatgandakan untuk memberi makan orang banyak (Luk 9:11-17). Bahkan seorang anak yang sudah mati dihidupkan kembali (Luk 8:49-56).

Akan tetapi, Kerajaan macam apa ini di mana hidup anda terancam dan anda memperingatkan para pengikut anda agar mempunyai ekspektasi yang sama? Lewat kata-kata-Nya dan perbuatan-Nya, Yesus telah membuktikan bahwa kematian-Nya dan kebangkitan-Nya adalah jalan yang telah dipilih oleh Allah untuk mematahkan kuasa kegelapan dan menghancurkan maut untuk selama-lamanya.

Kita percaya bahwa Yesus telah bangkit penuh kemenangan atas maut. Namun kita masih melihat adanya kegelapan di dalam dunia yang sangat dikasihi Yesus ini. Orang-orang dibunuh setiap hari di berbagai penjuru dunia, dan seringkali dengan mengatasnamakan Allah atau agama. Anak-anak di bawah umur dilecehkan secara seksual, diperkosa dlsb., bahkan oleh guru dan para orang tua mereka sendiri. Berbagai penyakit penuh misteri masih merajalela di atas bumi ini. Kalau dahulu ada penyakit kusta, dunia modern kita dihantui oleh penyakit-penyakit seperti HIV-Aids, Flu-Burung, berbagai jenis kanker dan baru-baru ini muncullah EBOLA. Dalam doa kita suka bertanya kepada Yesus: “Di manakah Kerajaan-Mu, Tuhan Yesus?”

Dalam doa kita mendengar suara Yesus menjawab pertanyaan kita kira-kira seperti berikut: “Benih-benih Kerajaan  sudah ada dalam diri kamu, ditanam pertama kali ketika kamu dibaptis. Seperti orang kusta Samaria itu, kembalilah kepada-Ku dan ucapkanlah rasa syukur-Mu karena apa yang Kulakukan pada dirimu, …… untuk segala karunia yang telah Kuanugerahkan kepadamu” (lihat Luk 17:11-19).

Kemudian kita bertanya lagi kepada Yesus: “Tentunya Engkau tidak bermaksud agar segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku tetap tersembunyi dalam hatiku pada saat-saat dunia begitu membutuhkan semua itu, bukankah begitu Yesus?” Yesus menjawab dengan suara yang lemah lembut: “Benar! Benih-benih yang telah Kutanamkan dalam dirimu sudah siap untuk bertumbuh-kembang; benih-benih itu harus melakukan terobosan dan menjadi kelihatan, sehingga dapat menjadi contoh juga bagi semua orang. Kerajaan-Ku ada di antara kamu. Kerajaan-Ku menjadi kelihatan dalam kasih antara kamu dan sesamamu, yaitu saudari dan saudaramu. Kerajaan-Ku terwujud selagi kamu dan saudari-saudaramu saling menguatkan, saling menyemangati, bekerja sama. Semua itu menjadi riil selagi kamu pergi menemui orang-orang miskin dan para musuh-Ku. Aku rindu untuk mengubah mereka menjadi sahabat-sahabat-Ku. Di mana kamu melihat Aku bekerja? Kontribusi kecil namun konkret apa yang Aku butuhkan dari kamu hari ini untuk memajukan pekerjaan-Ku ini?”

Kita bertanya lagi kepada Yesus: “Kapan Kerajaan-Mu akan datang?”

Yesus menjawab: “Terserah kepada kamu sendiri. Paulus menolak untuk memaksakan kehendak-Nya atas diri Filemon dan mengutamakan kebebasan atau pertimbangan atas dasar sukarela di pihak Filemon berkaitan dengan Onesimus (lihat bacaan hari ini: Flm 7-20). Demikian pula halnya dengan diriku: Aku mempercayakan Kerajaan-Ku kepada kebebasan-Mu untuk memutuskan. Dalam baptisanmu, Aku telah memberikan kepadamu segala peralatan yang kamu butuhkan untuk membangun Kerajaan Terang. Sekarang, dapatkah aku mengandalkan dirimu?

DOA: Yesus, Engkau adalah Raja langit dan bumi. Segala karunia yang Kauanugerahkan kepadaku telah membuat diriku seorang anak dari Kerajaan-Mu. Dengan kehendak bebas aku memutuskan menerima undangan-Mu untuk meluaskan Kerajaan itu kepada siapa saja yang kutemui. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN YESUS PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 12-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-11-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 6 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

SEMANGAT UNTUK MEMBERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Sabtu, 7 November 2015)

Franciscan Missionaries of Mary (FMM):  Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara 

16145187880_c5376ece3a_oAku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15) 

Bacaan Pertama: Rm 16:3-9,16,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11

“Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan harta-benda dunia ini”, inilah kira-kira yang dikatakan oleh Yesus. Kemudian Ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki harta-benda dunia ini, “Apabila kamu tidak dapat dipercaya dalam dalam hal kekayaan dunia yang sukar dipahami, siapa yang akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan kekayaan yang bersifat kekal-abadi?”

Inilah ajaran Tuhan Yesus tentang penggunaan harta-kekayaan, seturut “perumpamaan Yesus tentang bendahara/manajer yang cerdik” (atau: “perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur”; Luk 16:1-8) dalam mengelola uang tuannya. Apa yang dikatakan Yesus kepada kita dalam perumpamaan itu adalah, “Harta-kekayaanmu bukanlah milikmu sendiri sehingga kamu dapat menggunakannya “semau gue”. Harta-kekayaanmu adalah milik Allah, dan kamu diangkat untuk mengurus harta kekayaan itu bagi Dia. Kamu akan dipandang akuntabel oleh Allah untuk apa yang kamu lakukan dengan harta kekayaan tersebut.”

Itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Memang kita (anda dan saya) tidak dapat menjadi suatu kontradiksi, yang menjalani suatu kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan pada saat sama menjalani suatu kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan mementingkan orang lain. Kita harus mengambil keputusan yang tegas! Hal ini sungguh merupakan suatu peringatan bagi orang-orang kaya pada zaman modern ini! Yesus berkata, “Allah memandang kamu bertanggung-jawab untuk penderitaan sengsara orang-orang miskin, para korban ketidak-adilan, orang-orang yang tergolong berpendapatan rendah yang membayar pajak yang relatif terlalu banyak sedangkan orang-orang kaya memiliki kuasa untuk menghindar dari beban pajak tersebut.”

Setiap pribadi manusia yang jujur mengetahui apa yang kiranya yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu tidak dapat melayani Allah dan uang.” Jikalau kita (anda dan saya) melayani uang, maka kita “mengambil” apa saja yang kita dapat ambil, dan keserakahan ini membuat kita semakin jahat atau semakin tidak mengindahkan moral terkait bagaimana kita memperoleh uang tersebut: upah besar tanpa pertimbangan kinerja; nafsu akan kenikmatan-kenikmatan dengan biaya orang lain yang menderita karena ulah kita; mengabaikan tugas-tugas keluarga dan komunitas karena kita lebih mementingkan pengejaran nafsu.

Akan tetapi, apabila kita melayani Allah, maka kita (anda dan saya) akan memberikan yang terbaik: waktu kita, talenta kita, keprihatinan kita yang penuh kasih, harta-benda kita di dunia. Kita memberi karena kasih.

Dalam perbandingan-perbandingan di atas, Yesus kiranya berkata: “Oleh/lewat tindakan-tindakanmu, dengan harta-benda yang “dipinjamkan” oleh Allah kepada kamu, kamu harus membuat suatu pilihan. Dan pilihan yang kamu buat akan menentukan kehidupan kekalmu. Juga menentukan jenis kebahagiaan yang kamu miliki di atas bumi.”

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar jiwaku tetap hidup dan rohku tetap sehat. Seringkali ingatkanlah diriku akan kata-kata keras-Mu: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:15). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 16:3-9,16,22-27), bacalah tulisan berjudul “SALAM DARI PAULUS DAN KAWAN-KAWANNYA” (bacaan tanggal 7-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11  PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 4 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS