Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 15 November 2018)

Peringatan S. Albertus Agung, Uskup & Pujangga Gereja

FMM: Pesta Wafatnya B. Maria de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah untuk sekarang ini. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Kalau kita masing-masing mau jujur dengan diri kita sendiri, maka kita harus mengakui bahwa begitu sering manusia (termasuk anda dan saya) berkeinginan untuk mempunyai Allah yang berada di dalam kontrol/kendali mereka, atau paling sedikit masih di dalam jangkauan intelegensia mereka sendiri yang terbatas. Cukup sulitlah untuk hidup dengan nyaman di dalam sebuah dunia yang (kita kira) kita pahami dan kendalikan. Namun lebih sulit lagi kiranya jika kita hidup dengan nyaman, tetapi disertai misteri.

Demikian pula orang-orang Farisi dan semua orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama; mereka ingin berurusan dengan Kerajaan Allah seperti persoalan-persoalan yang lain, bahkan seperti menangani bencana alam yang dapat diprediksi sebelumnya. Memang sangatlah menghibur/menyenangkan apabila kita mampu menempatkan Kerajaan Allah dalam waktu dan ruang, jadi dalam keadaan siap-siaga guna menyambut Kerajaan itu pada saat kedatangannya – seperti halnya pada waktu kita bersiap-siap menyambut kedatangan angin topan yang akan melanda desa/kota kita; yang sudah diramalkan arah dan kekuatannya dll. oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).

Satu hal memikat dari iman-kepercayaan yang benar adalah bahwa Allah adalah misteri, demikian pula Kerajaan Allah. Andaikan berbagai pertanyaan yang menyangkut Allah dan Kerajaan-Nya dapat dijawab dengan begitu mudah dan/atau mendapatkan solusi dengan mudah, maka bukan tidak mungkin kita menjadi merasa tertipu oleh para guru agama dan gembala kita. Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya karena mata kita seringkali dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Apa yang menurut Dia merupakan hukum yang paling utama – mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia – haruslah menjadi hukum yang paling  utama dalam kehidupan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa kita masing-masing diciptakan untuk mengasihi, dan tidak ada misteri yang lebih besar daripada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, oleh Roh Kudus tolonglah kami untuk mengasihi-Mu tanpa banyak bertanya ini-itu dan kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Kami juga berjanji untuk menantikan kedatangan-Mu kembali dengan penuh kepercayaan kepada-Mu, walaupun kami tidak memiliki pengertian sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Flm 7-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI SAUDARI DAN SAUDARA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 15-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018.

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018)

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH” (bacaan tanggal 17-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENAWARKAN KESEMBUHAN DAN RESTORASI KEPADA KITA

YESUS INGIN MENAWARKAN KESEMBUHAN  DAN RESTORASI KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVII [TAHUN B]  – 7 Oktober 2018)

Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berzina.” (Mrk 10:2-12) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 2:9-11 

“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk 10:9)

Kata-kata Yesus dapat terdengar keras di telinga kita, teristimewa apabila kita telah mengalami sendiri suatu “perceraian”, atau hidup perkawinan seorang anggota keluarga kita atau teman dekat kita telah hancur berantakan. Di satu sisi, kita dapat mengatakan bahwa Yesus mengetahui bahwa apa yang dikatakan-Nya dan yakin akan kuasa Allah untuk menyembuhkan, bahkan perkawinan yang paling sulit sekali pun. Namun di sisi lain pengalaman mengatakan kepada kita bahwa perceraian itu merupakan sebuah realitas yang bersifat traumatis yang dapat meninggalkan luka-luka mendalam dan tidak dapat sembuh dalam satu-dua hari.

Pikirkanlah sakit yang dirasakan oleh pasangan yang bercerai itu. Suatu relasi yang dimulai dengan cita-cita tinggi, penuh kegembiraan dan optimisme telah merosot menjadi penolakan, rasa tidak percaya, kemarahan dan menyalahkan diri sendiri. Apa yang sebelumnya “satu daging” telah dirobek-robek, meninggalkan luka-luka mendalam tidak hanya pada pasangan bersangkutan namun juga pada anggota keluarga lainnya. Bagaimana mungkin kita membayangkan Yesus duduk di takhta-Nya dan tanpa belas kasihan menghukum orang-orang itu? Dia tidak menghukum mereka! Kepada Nikodemus, Yesus mengatakan, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17). Yesus tidak ingin meremukkan orang-orang dengan berkomunikasi kepada mereka hanya apabila ada sesuatu yang salah. Ia ingin berjumpa dengan kita semua di mana saja dalam perjalanan hidup kita dan menawarkan kesembuhan dan restorasi kepada kita.

Created with The GIMP

Apabila anda adalah seorang yang telah bercerai, ketahuilah dan yakinilah bahwa Yesus sungguh mengasihi anda, sama seperti ketika anda masih berstatus istri atau suami. Yesus ikut ambil bagian dalam rasa sakit anda dan Ia sungguh menderita bersamamu. Renungkanlah perjumpaannya dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh 4:1-42). Ia tidak menghukum perempuan itu, walaupun dia telah kawin lima kali dan pada saat itu sedang “kumpul kebo” dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Sebaliknya, Yesus menggiring perempuan itu kepada suatu pertobatan, menyembuhkannya, dan mengutus dia kembali ke kampungnya untuk menceritakan kepada warga sekampungnya tentang Dia.

Apakah dalam status nikah, bercerai atau hidup selibat, kita semua harus mengetahui tentang penyembuhan ilahi. Bapa surgawi ingin membalut dan menyembuhkan luka-luka yang diderita oleh mereka yang telah bercerai. Yesus ingin memperdamaikan kita, mentransformasikan kita, dan menggunakan kita untuk mewartakan Kerajaan-Nya – tanpa melihat apa yang telah kita lakukan di masa lampau. Yesus ingin merangkul kita erat-erat dan memberikan berkat-Nya kepada kita (Mrk 10:16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu mengatasi segala macam perpecahan. Curahkanlah rahmat-Mu atas setiap keluarga yang telah mengalami perceraian. Sembuhkanlah mereka, ya Tuhan dan Allah kami, dan pulihkanlah pengharapan mereka. Biarlah kasih-Mu mengalir ke dalam diri kami semua dan kemudian mengalir ke luar, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:2-12), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP PERKAWINAN ADALAH ANUGERAH DARI ALLAH ” (bacaan tanggal 7-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 4 Oktober 2018 [Peringatan S. Fransiskus dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FLEKSIBEL-KAH AKU TERHADAP DORONGAN ROH KUDUS?

FLEKSIBEL-KAH AKU TERHADAP DORONGAN ROH KUDUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 7 September 2018)

Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan “minyak keselamatan”, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin aku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.). Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa ketakutan ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Santa Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH ANGGUR YANG BARU” (bacaan tanggal 7-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

Cilandak, 3 September 2018 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, OFS – Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 20 Juli 2018

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Yes 38:1-6,21-22,7-8; Mazmur Tanggapan: Yes 38:10-12,16 

Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan Tuhan dari Bait Allah. Orang-orang Farisi telah mengembangkan peraturan-peraturan yang ekstensif berkaitan dengan hari Sabat dan upacaya penyembahan di Bait Allah. Semua ini berasal dari hasrat yang tulus untuk melindungi apa saja yang kudus …… apa saja yang suci. Dengan memperkenankan para murid-Nya untuk melanggar peraturan-peraturan itu, sebenarnya Yesus menantang orang-orang Farisi dan semua orang untuk memandang diri-Nya sebagai Pribadi yang memegang otoritas tertinggi/final atas hari Sabat dan Bait Allah. Injil Matius mengajak kita untuk memandang Yesus, dan melihat bahwa Dia adalah pencerminan atau tanda kehadiran Allah sendiri (Yesus adalah “Sakramen” Bapa), bahkan ketika Dia ditolak oleh para pemimpin agama pada zaman itu.

Yesus melihat bagaimana orang-orang Farisi melihat hukum. Bagi mereka Hukum Taurat adalah pemberian dari Allah sendiri, lalu mereka membangun di atasnya suatu sistem yang terdiri dari peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang digunakan untuk mengukur orang-orang lain dan memisahkan diri mereka dari para “pendosa”. Dengan cara begini mereka tidak akan “terpolusi” oleh dosa orang-orang lain. Ini adalah cara yang samasekali berlawanan dengan cara Yesus. Ia mengasosiasikan diri-Nya dengan para pendosa dan pelanggar hukum, bahkan makan bersama dengan mereka (Mat 9:9-10). Yesus, yang adalah manisfestasi kasih dan kerahiman Allah, selalu menunjukkan kasih dan belas-kasih kepada mereka yang berada di sekeliling-Nya. Yesus tidak akan membiarkan huruf-huruf hukum membenarkan pengabaian kebutuhan manusia dan menghalang-halangi aliran cintakasih-Nya.

Dengan memperkenankan para murid untuk memetik bulir gandum pada hari Sabat dan dalam mempermaklumkan bahwa “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Mat 12:6), Yesus bertindak sebagai penafsir final dari hukum yang dikirim oleh Allah. Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Tuhan dan Mesias yang mengajar dan menghayati jalan cintakasih yang bersifat sentral bagi Kerajaan Allah.

Teladan yang diberikan Yesus dapat menolong kita memandang hidup kita sendiri untuk melihat apakah kita berjalan dalam jalan cintakasih-Nya? Apakah kita cepat mencari kesalahan  dalam diri orang-orang yang tidak memenuhi standar-standar kita sendiri? Apakah kita menarik garis perbedaan antara diri kita dan orang-orang lain berdasarkan sikap-sikap kita yang mencerminkan superioritas? Apakah kita sungguh berupaya untuk mencerminkan kasih Allah dalam kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan?

DOA: Tuhan Yesus, bahkan sekarang pun Engkau hadir di tengah-tengah kami, ya Tuhan, sebagai Pribadi yang adalah Tuhan atas hari Sabat dan lebih besar dari Bait Allah. Semoga kami mau dan mampu menaruh kepercayaan pada-Mu dan mengikuti Engkau dalam jalan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA” (bacaan tanggal 20-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 17 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa,  10 Juli 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk Martir

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Tujuan Matius menulis Injilnya antara lain adalah untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus memenuhi semua yang telah ditulis dalam Perjanjian Lama. Sepanjang Injilnya, Matius berusaha untuk mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah kepada umat-Nya. Cerita tentang penyembuhan seorang bisu yang kerasukan roh jahat dalam bacaan Injil hari ini mengilustrasikan suatu pemenuhan nubuatan dalam Kitab Yesaya: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6).

Matius juga menceritakan bagaimana hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang mengikuti diri-Nya. Yesus memahami teriakan minta tolong dalam hati orang-orang itu agar disembuhkan dan Ia memiliki bela-rasa bagi mereka, “karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). Dari kedalaman hati-Nya Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:37-38).

Kelihatannya Matius telah memberikan sebuah tempat yang strategis dalam Injilnya untuk cerita tentang penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat ini. Matius menempatkan cerita ini pada bagian akhir dari serangkaian cerita penyembuhan dan tepat sebelum Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka untuk perjalanan misioner mereka yang pertama (Mat 10:1-15). Dalam konteks ini, Matius telah membuat penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat sebagai lambang dari panggilan untuk mewartakan Injil. Dengan diusirnya roh jahat tersebut, maka orang yang kerasukan itu menjadi bebas untuk mewartakan Kabar Baik; artinya dia dapat menjadi salah seorang pekerja yang dikirim untuk tuaian itu (Mat 9: 38).

Dalam artian tertentu, kita sebenarnya seperti orang yang kerasukan itu. Kemampuan kita untuk berkisah tentang Yesus kepada orang-orang lain seringkali terkendala oleh kerja licin-lihai dari si Jahat dan roh-roh jahat pengikutnya melalui rasa takut gagal dlsb. Akan tetapi, Yesus sungguh dapat membebaskan kita dengan sentuhan-Nya yang menyembuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam doa dan mencari hikmat-Nya dalam Kitab Suci. Kita dapat memohon kuasa Roh Kudus agar memampukan kita mewartakan Injil, baik lewat kata-kata yang kita ucapkan maupun teladan hidup kita. Marilah kita berdoa, memohon agar Allah sudi mengirimkan lebih banyak pekerja – orang-orang biasa seperti kita – yang telah mengenal dan mengalami kasihYesus dan memang ingin melayani-Nya. Tuaian memang banyak, dan kita semua diundang untuk ikut menuai!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau membebaskan kami dari cengkeraman si Jahat dan memberikan kepada kami hidup yang baru. Tolonglah kami agar senantiasa setia kepada-Mu. Jadikanlah kami pekerja-pekerja untuk tuaian-Mu, membawa banyak orang ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 10-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 17 Maret 2018)

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53) 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3,9-12

Apakah Yesus itu Mesias? Apakah Ia sang nabi yang telah dinubuatkan dalam Kitab Ulangan? Apabila Yesus berasal dari Galilea, bagaimana mungkin Ia adalah seorang nabi sejati? Ini adalah berbagai reaksi orang-orang Yahudi setelah Yesus masuk ke dalam Bait Suci terhadap apa yang dikatakan-Nya pada hari terakhir pesta penting itu: “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh 7:37-38).

Setelah mendengar kata-kata Yesus ini, beberapa di antara orang banyak mulai berpikir jangan-jangan Dia memang benar-benar nabi yang akan datang, malah sang Mesias yang dinanti-nantikan. Namun ada juga yang meragukan hal itu karena Dia berasal dari Nazaret di Galilea (lihat Yoh 7:40-42). Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak, malah ada yang mau menangkap Dia, namun tidak seorang pun yang menyentuh-Nya (lihat Yoh 7:43-44). Sosok pribadi Yesus mengingatkan orang banyak akan gambaran seorang nabi seperti dinubuatkan oleh Musa: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN (YHWH), Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Lalu berkatalah YHWH kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini;  Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” (Ul 18:15,17-19).

Berkaitan dengan argumentasi tentang asal-usul seorang nabi dari Nazaret di Galilea, kita diingatkan kembali kepada komentar Natanael kepada Filipus yang mengajaknya pertama kali bertemu dengan sang Rabi dari Nazaret itu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Komentar Natanael itu mengindikasikan kesulitan yang dihadapi banyak orang, jikalau mereka tidak mengetahui bahwa Yesus sebenarnya lahir di Betlehem, sehingga dengan demikian memenuhi nubuatan-nubuatan tentang asal-usul Mesias (Mi 5:2; Mat 2:4-6).

Seringkali orang-orang ini hanya melihat asal-usul manusiawi Yesus dan luput  melihat asal-usul ilahi-Nya yang diperlihatkan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan-Nya, teristimewa berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Sang Pemazmur mencatat ungkapan yang kiranya cocok dalam hal ini (sebenarnya kita daraskan/nyanyikan setiap kali kita mengawali Ibadat Harian setiap pagi: “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun”  (Mzm 95:7-8). Kata-kata sang Pemazmur ini dapat kita jadikan kata-kata kita sendiri pada hari ini, sehingga dengan demikian kita tidak akan menolak kebenaran yang diproklamasikan oleh Yesus. Kita akan akan terbuka dan memperkenankan kebenaran-Nya mentransformasikan diri kita. Itulah tantangan yang kita hadapi dan tanggapi, baik dalam masa Prapaskah maupun hari-hari lainnya dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu bimbinglah kami senantiasa dalam belas kasih-Mu. Tolonglah kami untuk mendengar suara-Mu, karena kami tidak ingin mengeraskan hati kami terhadap apa saja yang Engkau ingin katakan kepada kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid yang baik dan berbuah dari Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA” (bacaan tanggal 17-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS