Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?

MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu – 20 Februari 2015) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat 9:14-15) 

Bacaan Pertama: Yes 58:1-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19

Pertanyaan para murid Yohanes itu memang masuk akal. Orang-orang kudus haruslah menghayati kehidupan asketisisme, dan hidup asketisisme tak terlepaskan dari puasa. Musa banyak sekali berpuasa, demikian pula nabi Elia. Yohanes Pembaptis hidup hanya dari madu hutan dan belalang. Orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu. Oleh karena itu terbentuklah pendapat umum bahwa sudah dengan sendirinyalah kekudusan dan berpuasa berada bersama, …… tak terpisahkan. Puasa dapat diartikan sebagai kedaulatan roh terhadap badan, penaklukan daging/kedagingan, tata tertib dan disiplin. Puasa adalah persiapan untuk penerimaan rahmat dari Allah. Bukankah Yesus Kristus sendiri berpuasa selama 40 hari dan 40 malam (Mat 4:1-11; bdk. Mrk 1:12-13;Luk 4:1-13)?

Jawaban Yesus sungguh-sungguh mengejutkan. Yesus bahkan tidak memperhatikan motif-motif yang disebutkan di atas, melainkan menembus lebih dalam lagi ke inti permasalahannya. Keberadaan Yesus di dunia ini sesungguhnya merupakan sebuah pesta perkawinan bagi umat manusia. Pada pesta perkawinan/pernikahan orang bersuka-ria, bukannya berpuasa. Yesus Kristus adalah Sang Mempelai ilahi yang datang untuk mencari dan memilih mempelai perempuan-Nya. Mempelai yang dimaksud adalah Gereja. Yesus telah menjemput mempelai perempuan-Nya dan kini sedang merayakan pesta perkawinan dengannya. Para murid adalah tamu-tamu dalam pesta itu. Mereka telah diundang untuk menghadiri pesta di dunia ini. Oleh karena itu mereka harus berada dalam suasana pesta, maka puasa tidak pada tempatnya di sini.

Akan tetapi, kemudian Yesus berkata: Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat 9:15). Mengapa begitu? Karena bilamana pesta perkawinan telah selesai, maka Yesus pun akan pergi kepada Bapa-Nya di surga untuk menyediakan tempat bagi mempelasi perempuan-Nya. Sang mempelai perempuan sendiri – Gereja – harus menanti dengan penuh pengharapan kedatangan kembali Sang Mempelai laki-laki guna memimpinnya masuk ke dalam rumah Bapa (lihat Yoh 14:2-3).

KRISTUS RAJA - Jesus_on_throne_Sementara itu roda sejarah terus berputar, antara kedatangan-Nya pertama kali sebagai seorang bayi manusia tanpa daya sekitar 2.000 tahun lalu dan kedatangan-Nya kembali kelak pada akhir zaman. “Masa transisi” itu diisi dengan berbagai suasana yang berubah-ubah silih berganti, kegembiraan diselingi dengan kedukaan karena masih harus menanti. Itulah sebabnya mengapa hari pesta berselang-seling dengan hari puasa. Sang mempelai mengetahui bahwa dirinya adalah mempelai perempuan yang terpilih, namun ia masih belum berada dalam kamar pengantin. Oleh karena itu hatinya penuh kegairahan, matanya menatap ke tempat yang jauh dan pandangannya senantiasa tertuju ke surga. Namun demikian, ia pun yakin akan keterpilihannya. Inilah yang menyebabkan suasana silih berganti pada anggota-anggotanya, suasana gembira dan suasana duka, perasaan memiliki dan mengingini, perasaan sudah mempunyai dan belum memperoleh. Maka dari itu hari-hari pesta senantiasa diselang-seling dengan hari puasa yang membawa suasana sedih dan penuh keprihatinan.

Jika dipandang dari sudut ini puasa bukan melulu berarti latihan untuk menguasai badan dan mengatasi pertimbangan budi serta antimaterialistis belaka. Puasa kita merupakan pernyataan suatu semangat religius yang mendalam, yang melambangkan waktu penantian kedatangan Tuhan Yesus dengan penuh kerinduan. Inilah vigilia sejarah gereja sebelum pesta pernikahan yang bersifat abadi. Semua vigilia sebelum pesta gerejawi dan masa puasa (Masa Prapaskah) sebelum Hari Raya Paskah mengingatkan kita akan sikap Kristiani yang menanti-nanti, yang mendambakan, dan yang mempersiapkan diri akan kedatangan kembali Tuhan Yesus serta undangan-Nya kepada kita (= Gereja =Mempelai Perempuan) untuk datang menghadiri Pesta Perkawinan abadi. Jadi, puasa bukan hanya masalah kesehatan, melainkan karya cintakasih. Dalam jawaban Yesus di tas tersirat pula acuan kepada misteri cintakasih, yang memberikan arti yang mendalam kepada pesta dan puasa.

DOA: Yesus, sebagai Gereja, dalam setiap perayaan Ekaristi kami dengan mantap kami menyatakan: “Wafat Kristus kami maklumkan, kebangkitan-Nya kami muliakan, kedatangan-Nya kami rindukan.” Kedatangan-Mu kami nanti-nantikan dengan penuh kerinduan, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH” (bacaan tanggal 20-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Tulisan ini diolah dari Richard Gutzwiller (terjemahan KARMEL P. SIANTAR, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, (Tjetakan I 1968), Pertjetakan Arnoldus Endeh Flores NTT, hal. 150-153). 

Cilandak, 9 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA ?

MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA ?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 16 Februari 2015)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Kemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17,20-21

Sebagai umat beriman kita mengetahui dan percaya bahwa Yesus adalah Allah, maka kita cenderung luput melihat kenyataan, bahwa sebagai seorang manusia Dia juga mengalami berbagai reaksi dan emosi seperti kita. Mengapa? Karena Dia adalah sungguh Allah, sungguh manusia, sebagaimana diproklamirkan dalam Konsili Kalsedon [451].

Kita dapat terkejut membaca frustrasi Yesus sebagaimana diungkapkan Markus, “Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya” (Mrk 8:12). Akan tetapi, Yesus dapat membaca hati orang (lihat Luk 9:47); Ia tahu bahwa permintaan orang-orang Farisi kepada-Nya untuk menunjukkan sebuah tanda dari surga bukanlah berasal dari pencaharian akan kebenaran, melainkan untuk mencobai Dia (lihat Mrk 8:11). Di sini Yesus dinyatakan sebagai seseorang seperti kita dalam segala hal, bahkan dalam konflik-konflik penuh frustrasi dengan para pemuka agama Yahudi yang tidak percaya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah menguatkan iman-kepercayaan umat-Nya dengan memori tentang tanda-tanda di masa lampau (misalnya Keluaran/Exodus dari Mesir), dengan menyediakan kepada mereka tanda-tanda hari ini, dan dengan menyemangati mereka lewat nubuatan-nubuatan akan masa depan. Banyak dari para pemimpin mereka mengharapkan hari-hari mesianis akan memberikan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, paling sedikit setara dengan yang ada dalam Keluaran (Exodus)  dari Mesir. Berbagai ekspektasi atau pengharapan itu pada umumnya dihubungkan dengan mimpi-mimpi kemenangan atas orang-orang non Yahudi (=kafir).

wandering-in-wilderness-257146Dari sudut pandang manusiawi, Yesus barangkali telah mengecewakan pengharapan-pengharapan sedemikian, namun dari sudut pandang spiritual Ia memenuhi pengharapan-pengharapan itu secara sempurna. Yesus meneguhkan keselamatan sejati dalam tanda-tanda mukjizat-Nya dan ditinggikannya Dia dalam kemuliaan di kayu salib (lihat Yoh 3:14; bdk. Bil 21:9). Tidak seperti umat Israel di padang gurun, Yesus menolak mencobai Allah dengan meminta tanda-tanda bagi diri-Nya sendiri atau untuk memuaskan mereka yang meminta tanda-tanda untuk mencobai Dia.

Jikalau kita melihat sikap dari orang-orang yang minta tanda kepada Yesus, dapatkah kita menyadari bahwa kita pun suka bersikap seperti itu? Apakah pengharapan kita dari misi penyelamatan Yesus? Apakah kita menerima dan mengakui bahwa kematian-Nya yang menyelamatkan serta kebangkitan-Nya merupakan tanda tertinggi dalam kehidupan kita? Ataukah kita memang mau mencobai Dia dengan meminta tanda-tanda yang cocok dengan keinginan kita, bukannya  percaya kepada-Nya dan mengakui ketergantungan total kita kepada-Nya. Apakah kita sungguh percaya akan kebenaran sabda-Nya, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8)? Apakah kehidupan kita menunjukkan kepercayaan seperti itu?

DOA: Bapa surgawi, pada hari ini aku hendak memperbaharui komitmenku untuk percaya secara total kepada kasih-Mu, kurban penebusan Putera-Mu, dan karya penyucian Roh Kudus atas diriku. Ya Allah, aku sadar bahwa aku tidak memerlukan tanda yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK PERCAYA” (bacaan tanggal 16-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITAIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH ENGKAU ??? [2]

SIAPAKAH ENGKAU ??? [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun B], 14 Desember 2014)

images (15)Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28)

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11;Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24 

YOHANES PEMBAPTIS - 3Para petinggi agama Yahudi di Yerusalem kelihatannya risau memikirkan Yohanes Pembaptis. Apakah yang dikhotbahkan oleh “orang  aneh ini”? Apa yang dilakukannya sejak ia muncul di padang gurun? Menurut Yohanes siapakah dirinya sebenarnya? Pertanyaan besar yang ada dalam pikiran mereka adalah tentang sang Mesias, Kristus. Apakah zaman Mesianis sudah dimulai? Oleh karena itu mereka mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepada Yohanes Pembaptis untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Jawaban akhir Yohanes: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya” (Yoh 1:23).

Duabelas abad kemudian pertanyaan yang sama diajukan kepada Fransiskus dari Assisi. Dia baru saja memulai “petualangan” rohaninya, baru saja meninggalkan “dunia uang” dari ayahnya, Pietro Bernardone. Pada waktu itu Fransiskus sedang melakukan perjalanan seorang diri (sesuatu yang tidak pernah dilakukannya lagi begitu Tuhan Allah memberikan kepadanya saudara-saudara) melalui hutan, sambil melambungkan lagu-lagu pujian bagi Allah dalam bahasa Perancis, ketika tiba-tiba dia diserang oleh beberapa orang penyamun. Ternyata mereka salah hitung karena orang yang bersosok kecil korban perampokan itu benar-benar miskin – tak memiliki apa-apa yang pantas untuk dirampas dari dirinya. Mereka bertanya kepada si kecil-miskin itu, “Siapakah engkau?”  Ini adalah pertanyaan mengenai identitas! Diinspirasikan oleh Roh Kudus, Fransiskus menjawab: “Aku adalah bentara sang Raja Agung.”  Kemudian Fransiskus dipukuli para penyamun itu dan ia pun dilemparkan ke dalam lubang yang dalam penuh salju (lihat 1Cel 16).

Yohanes Pembaptis dan Fransiskus (nama permandiannya juga Yohanes Pembaptis) merasa berbahagia untuk mengidentifikasikan diri mereka dalam kaitannya dengan Yesus Kristus. Patut dicatat di sini bahwa semua orang yang telah dibaptis diidentifikasikan sebagai orang-orang Kristiani – pengikut Kristus, sang Terurapi, Mesias yang telah dijanjikan itu.

Yesus ada di tengah-tengah kita …… Dia ada di dalam diri kita …… akan tetapi Dia tetap tidak dikenal apabila kita tidak memandang diri kita sebagai bentara-Nya dan menjadi saksi-Nya lewat kehidupan kita. Sesungguhnya kita semua yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi-saksi-Nya.

Bayangkanlah keberadaan orang-orang Yahudi zaman kita ini. Apakah kiranya yang ada dalam pikiran mereka tentang kita dan iman-kepercayaan yang kita hayati? Adalah adil jika kita berpikir bahwa setiap orang Yahudi berhak untuk melihat perikehidupan kita dan komunitas Kristiani kita dan bertanya kepada kita apakah tanda-tanda sang Mesias sungguh ada di tengah-tengah kita. Ingatlah selalu bahwa Yesus ada di tengah-tengah kita …… tak dikenal …… kalau kita tidak bersaksi tentang diri-Nya.

stf01010Oleh karena itu, selagi kita menyiapkan diri untuk Sakramen Rekonsiliasi dalam masa Adven ini, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Siapakah engkau?” Apakah aku sungguh merupakan suara yang menyiapkan jalan Kristus bagi orang-orang lain? Apakah aku seorang saksi Kristus dalam keluargaku sendiri, di tempat aku bekerja, dalam kehidupan sosialku, dalam tutur-kataku ketika berkomunikasi dengan sesamaku, dalam sikap politikku, prasangka yang kumiliki? Apakah aku merasa malu akan identitas Kristianiku ketika menghadapi tantangan dari luar? Apakah aku bangga untuk diketahui orang lain bahwa aku sungguh berniat untuk menghayati nilai-nilai Injili? Apakah aku sungguh merasakan kehadiran Allah yang membuat Fransiskus dengan penuh sukacita melambungkan puji-pujiannya bagi-Nya? Kemudian, ketika kita melihat kualitas kehidupan kita sebagai umat Kristiani dalam masyarakat, dapatkah kita menunjukkan kepada para penanya Yahudi itu bahwa kita memiliki semua tanda kehadiran Mesias: (a) sebuah komunitas yang membawa terang ke tengah kehidupan yang penuh kegelapan ini; (b) yang membawakan suara Allah yang penuh sukacita bagi telinga-telinga yang tuli terhadap kebaikan; (c) yang membawa pengharapan bagi semua orang yang terpenjara atau diperbudak oleh salah satu bentuk kecanduan, apakah seks, narkoba dlsb.; (d) yang membawa kesembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan luka, baik fisik maupun batin; (e) yang membawa kehidupan bagi mereka yang mengalami depresi dan hampir mati; (f) dan yang membawa kabar baik keadilan bagi orang-orang miskin?

Menurut Yesus, itulah tanda-tanda kehadiran dan kemenangan sang Mesias. Apakah tanda-tanda itu terlihat dalam hidup kita dan dalam komunitas kita? Yesus ada di tengah-tengah kita …… tidak dikenal …… kalau kita tidak bersaksi tentang diri-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, dari zaman ke zaman Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh dalam memberitakan Kabar Baik-Mu ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku pada hari ini,  aku dapat memuliakan nama-Mu, lewat kata-kata dan tindakanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 1:6-8,19-28), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH ENGKAU ???” (bacaan untuk tanggal 14-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-12-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 10 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX, 26 Oktober 2014)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Kata-kata Yesus memiliki kemampuan untuk langsung menyayat hati kita, karena kata-kata-Nya itu menyatakan niat-niat Allah yang bersifat kekal-abadi. Kita diciptakan oleh “seorang” Allah yang penuh kasih, yang ingin memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan memberikan kepada kita kepenuhan hidup. Ia menciptakan kita-manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26,27) sehingga dengan demikian kita akan mampu menerima kasih-Nya dan memperkenankan kasih ini untuk menghasilkan buah dalam diri kita. Tidak ada ciptaan Allah lain yang memiliki kemampuan indah untuk membuka dirinya sendiri bagi Allah berdasarkan kehendak bebas dan kemudian dipenuhi dengan hidup-Nya.

Tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kasih ilahi. Pada awalnya, Allah menetapkan kasih-Nya sebagai kekuasaan yang mengatur Kerajaan-Nya, Ia mengatur segenap ciptaan sebagai akibat dari hati-Nya yang penuh kasih dan bela rasa. Dia memanggil kita – baik secara individual maupun sebagai umat – untuk menempatkan kasih kepada-Nya dan sesama di atas setiap unsur lainnya dalam kehidupan kita. Bersatu dalam kasih, kita dipanggil untuk menguasai ciptaan sebagai pengurus-pengurus (stewards) Allah, dengan mempraktekkan keadilan-Nya di atas bumi.

Ketika dosa masuk ke dalam dunia, perintah Allah ini serta privilese kasih-Nya dikompromikan. Orang-orang mulai menggunakan kata “kasih” secara berbeda, yang mencerminkan niat-niat si Jahat yang mencari kepuasan diri dan pandangan sempit. Hanya dalam wahyu Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama dan yang memuncak pada kedatangan Yesus Kristus, maka kasih dipulihkan kembali kepada martabatnya semula. Hanya melalui karya Roh Kudus dalam hati kita, maka kita dimurnikan dari konsep-konsep kasih yang telah didistorsikan. Hanya oleh kuasa Roh Kudus kita dapat belajar untuk menerima kasih Allah, yang ditawarkan secara bebas oleh-Nya dan tanpa syarat. Dan, hanya oleh kuasa Roh itu kita dapat belajar bagaimana memberikan kasih yang sama kepada orang-orang lain.

Kasih Allah itu aktif dan dinamis. Kasih Allah mempunyai kuat-kuasa untuk mentransformasikan kehidupan, merobek-robek rasa takut dan akar kepahitan yang sudah lama mengendap dalam diri seseorang. Selagi Roh Kudus mencurahkan kasih ini ke dalam hati kita, maka kasih itu mengalir ke luar dari diri kita, memampukan kita untuk mengasihi orang-orang lain dan memberikan kepada kita keyakinan yang lebih besar dalam relasi kita dengan Bapa surgawi.

Manakala kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, kita sesungguhnya merayakan pemberian kasih Allah yang paling agung – kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Oleh kuasa salib-Nya, semua dosa dikalahkan; kasih Allah dicurahkan. Selagi kita ikut ambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darah Tuhan Yesus, marilah kita memberikan kepada Allah pemerintahan –Nya yang lebih bebas bekerja dalam diri kita, menghasilkan sebuah hati yang mengasihi dengan kasih-Nya yang ilahi dan tanpa syarat.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Tes 1:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “PESAN-PESAN SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA” (bacaan tanggal 26-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 22 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [Tahun A], 19 Oktober 2014)

BERIKAN KEPADA KAISARKemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21)

Bacaan Pertama: Yes 45:1,4-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1,3-5,7-10; Bacaan Kedua: 1Tes 1:1-5b

Sekarang kita memulai serangkaian debat (dialog) Yesus dengan para lawan-Nya: (1) dengan orang-orang Farisi (Mat 22:15-22); (2) dengan orang-orang Saduki (Mat 22:23-33); (3) dengan seorang ahli Taurat (dia seorang Farisi juga; Mat 22:34-40); (4) dengan orang-orang Farisi lagi, namun di sini yang mengambil inisiatif adalah Yesus sendiri (Mat 22:41-46).

Orang-orang Farisi mengirim beberapa orang murid mereka untuk menjerat Yesus lewat kata-kata yang diucapkan-Nya ketika mengajar. Orang-orang munafik itu bekerja sama dengan para pendukung Herodes, yang politik kolaborasinya dengan penguasa Roma mereka benci, namun bantuan mereka diterima dengan segala senang hati dalam kasus ini. Orang-orang Farisi menentang pembayaran pajak kepada pemerintah Roma, di lain pihak para pendukung Herodus mendukungnya.

Ketidaktulusan orang-orang Farisi terasa sekali ketika mereka menyapa Yesus sebagai “Guru”, karena gelar “guru” dalam Injil Matius biasanya diucapkan oleh mereka yang sedikit saja memiliki iman atau samasekali tidak mempunyai iman kepada Yesus. Mereka “memuji” kejujuran Yesus dalam mengajar. Kehadiran orang banyak tidak disebut, namun kita dapat mengasumsikan debat atau dialog ini terjadi secara publik, dengan demikian membuat mereka berada di atas angin dengan mempermalukan Yesus, seandainya mereka menang dalam debat itu.

ROMAN COIN - 001Dilema yang diajukan oleh mereka cukup cerdik dan sederhana. Jika Yesus mendukung pembayaran pajak kepada pihak Roma, maka Dia akan tidak disenangi oleh orang-orang Yahudi yang memang anti pajak Roma. Akan tetapi, jika Yesus mengambil posisi menolak pajak kepada pihak Roma, maka dengan mudah Dia dapat dituduh oleh para pendukung Herodus sebagai gara-gara atau biang keladi dari perlawanan terhadap Kaisar Roma, bahkan bisa dicap sebagai orang Zeloti, orang-orang militan yang melakukan gerakan perlawanan terhadap kekaisaran Roma.

Namun sebuah pertanyaan yang keluar dari hati yang tidak tulus tidak harus ditanggapi dengan jawaban yang tulus. Oleh karena itu Yesus menamakan mereka sebagai orang-orang munafik, dan dengan gaya bicara para Rabi, Dia melempar bola ke lapangan mereka sendiri. Yesus minta untuk ditunjukkan uang logam Romawi yang tidak dapat disangkal telah digunakan oleh mereka selama ini; padahal mereka menentang otoritas yang mengeluarkan uang logam itu. Dengan mengatakan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21), Yesus tidak menyatakan yang mana adalah milik siapa, tetapi Dia mengakui hak-hak yang legitim dari masing-masing. Lebih penting lagi bagi orang-orang Farisi yang hadir, Yesus menantang mereka untuk memberikan kepada Allah yang selama ini mereka belum berikan.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, dikuduskanlah nama-Mu! Aku berjanji, ya Bapa, untuk memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang wajib kuberikan kepada-Mu. Aku mengakui dan tunduk kepada kekuasaan-Mu yang mutlak atas segala bidang kehidupanku dan kehidupan manusia pada umumnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERIKAN SELURUH KEBERADAAN KITA KEPADA-NYA” (bacaan Injil tanggal 19-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 14 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS, TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Sabtu, 6 September 2014)

Sabbath_teaching_C-718 (1)Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:17-21

Pada waktu Lukas menulis Injilnya, umat Kristiani sedang menyebar ke tempat-tempat atau negeri-negeri yang jauh dari Yerusalem. Banyak anggota jemaat yang baru berasal dari kaum non-Yahudi (baca: Kafir) yang tidak familiar dengan berbagai adat-kebiasaan Yahudi. Salah satu tujuan Lukas menulis Injilnya ini adalah untuk mengajar umat Kristiani ex non-Yahudi itu bahwa mereka termasuk dalam rencana Allah untuk membawa semua orang kepada keselamatan dalam Kristus. Lukas berupaya untuk mematahkan halangan-halangan dari peraturan-peraturan Yahudi dan memproklamasikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan segenap umat manusia.

Lukas menunjukkan bagaimana Yesus secara gradual – tahap demi tahap – mengungkapakan kebenaran siapa Dia sebenarnya, … Juruselamat dunia. Kemudian Dia mengembangkan lebih lanjut tema, bahwa agar dapat mengikut Kristus kita perlu menolak dan membuang cara-cara berpikir kita yang lama dan menjalankan suatu cara hidup baru yang bersifat radikal. Selagi jalan di jalan antara ladang-ladang gandum, para murid Yesus memetik bulir gandum, menggosok-gosoknya untuk membuang sekamnya, kemudian memakannya. Bagi orang Farisi, tindakan para murid Yesus ini melanggar hukum Sabat Yahudi (lihat Ul 5:14) yang melarang orang untuk bekerja pada hari Sabat. Secara teknis, para murid Yesus telah melakukan suatu pekerjaan (memetik bulir gandum dst.) yang terlarang di hari Sabat.

KOQ CABUT BULIR GANDUM PADA HARI SABATYesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengingatkan mereka pada waktu di mana Daud memberi makan pasukannya yang lapar dengan roti kudus, yaitu roti sajian yang ditempatkan dalam tabernakel (Luk 6:3-4; 1Sam 21:1-6). Menurut hukum yang berlaku roti seperti ini hanya dapat dimakan oleh para imam dari Rumah Allah (Im 24:9), akan tetapi diberikan kepada Daud dan pasukannya atas dasar pertimbangan unsur kemanusiaan. Lalu Yesus bersabda, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus mengungkapkan dua buah kebenaran yang penting dalam pernyataannya ini. Yesus menunjukkan bahwa Dia dan para murid-Nya tidak melanggar hukum Sabat. Sebaliknya, sebagai “Tuhan atas hari Sabat”, Dia sedang mengungkap makna sesungguhnya dari hari Sabat itu. Pertama-tama, hari Sabat ditetapkan sebagai karunia Allah bagi umat manusia, satu hari yang disisihkan bagi orang-orang agar mereka memalingkan hati dan pikiran mereka kepada Allah. Kedua, Dia menyatakan siapa diri-Nya sebenarnya – Anak Manusia dengan otoritas, bahkan atas hari Sabat juga.

Sekarang marilah kita memusatkan pikiran dan hati kita kepada Anak Manusia, Yesus Kristus, agar Dia sudi mengajar kita dan kita pun dapat semakin mengenal-Nya. Bagaimana? (1) Dengan menyediakan waktu yang cukup setiap hari – paling sedikit 10 menit – untuk berdoa dan memuji-muji Allah sambil membuka hati kita selebar-lebarnya bagi-Nya. (2) Dengan melakukan pemeriksaan batin/nurani kita setiap hari, biasanya sebelum kita pergi tidur di malam hari. Pada kesempatan ini kita dapat bertobat atas pola-pola kebiasaan lama yang selama ini membatasi karya Allah dalam kehidupan kita. (3) Dengan membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci sehingga dengan demikian membuka diri kita terhadap sentuhan Roh Kudus yang menyatakan kasih dan kerahiman Allah. (4) Dengan membuat serta bertindak atas rencana-rencana pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan dan permenungan atas bacaan-bacaan rohani dan keikutsertaan dalam kehidupan Gereja. Hal ini akan menolong terjaminnya keanggotaan kita dalam komunitas iman yang dinamakan Gereja/Tubuh Kristus, di mana Kristus adalah Kepalanya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 4:6-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA DIPANGGIL BUKAN UNTUK SEKADAR PERCAYA” (bacaan tanggal 6-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 3 September 2014 [Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

WARGA NEGARA DI DUNIA DAN JUGA WARGA SURGA

WARGA NEGARA DI DUNIA DAN JUGA WARGA SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Minggu, 17 Agustus 2014)

ROMAN COIN - 001Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21)

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17

Pertanyaan yang diajukan oleh para murid Farisi dan para pendukung Herodus kepada Yesus benar-benar menempatkan Yesus pada posisi yang sungguh dilematis. Apabila Yesus mengatakan bahwa membayar pajak kepada pemerintah Roma itu tidak diperbolehkan, maka dengan cepat mereka akan melaporkan Yesus ke perwakilan pemerintah Roma sebagai seorang penghasut anti-Roma sehingga harus ditangkap. Sebaliknya, apabila Yesus mengatakan boleh, maka Dia akan didiskreditkan di mata banyak orang dalam masyarakat Yahudi.

Penolakan orang Yahudi terhadap pembayaran pajak kepada pemerintah Roma teristimewa disebabkan oleh alasan-alasan keagamaan. Bagi orang Yahudi, Allah adalah satu-satunya Raja. Negara mereka adalah sebuah teokrasi, dengan demikian membayar pajak kepada seorang raja di bumi ini berarti mengakui keabsahan martabatnya sebagai raja. Hal ini berarti menghina Allah. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang lebih fanatik bersikukuh bahwa pajak yang dibayar kepada seorang raja asing itu adalah sebuah kesalahan besar. Jadi, apa pun jawaban Yesus terhadap pertanyaan mereka yang bersifat menjebak itu – menurut para penanya tersebut – Yesus tetap berada dalam posisi yang sulit.

Keseriusan serangan terhadap Yesus ini ditunjukkan oleh kenyataan bahwa orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes bergabung untuk menyerang secara bersama-sama, karena biasanya dua partai ini saling beroposisi dengan kuatnya. Orang-orang Farisi dikenal sebagai sebuah kelompok yang sangat ortodoks, yang menentang pembayaran pajak kepada seorang raja asing karena menilai tindakan itu menghalangi hak ilahi dari Allah. Para pendukung Herodes adalah partai dari Herodes, raja Galilea, yang memperoleh kekuasaannya dari pemerintahan Roma, dan tentunya sangat erat bekerja sama dengan pihak Roma itu. Hal sama yang dimiliki dua kelompok ini adalah kebencian mereka kepada Yesus dan hasrat sama untuk “menghabiskan” Yesus. Setiap orang yang bersikukuh dengan cara-caranya sendiri, apa pun itu, akan membenci Yesus.

Namun Yesus adalah seorang pribadi yang penuh hikmat ilahi. Dia minta ditunjukkan uang satu denarius di mana tertera gambar kepala Kaisar. Pada zaman kuno dulu uang logam dengan gambar kepala orang merupakan sebuah tanda dari sang raja yang berkuasa. Begitu seorang raja naik takhta maka membuat uang logam dengan gambar kepalanya. Uang logam itu dipandang sebagai milik sang raja yang gambar kepalanya tertera pada uang logam tersebut. Yesus bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (Mat 22:20). Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar” (Mat 22:21). Kita semua sudah mengetahui apa yang diperintahkan oleh Yesus kepada mereka (lihat Mat 22:21).

BERIKAN KEPADA KAISARDengan hikmat-Nya yang sungguh unik Yesus tidak pernah menetapkan peraturan-peraturan. Itulah sebabnya mengapa ajaran Yesus tidak mengenal batas waktu dan tidak pernah out of date. Yesus senantiasa menetapkan prinsip-prinsip. Dalam kasus hari ini, Dia menetapkan sebuah prinsip yang sangat besar dan sangat penting artinya, yang sangat relevan pula dengan pesta kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 yang kita rayakan pada hari ini.

Setiap orang Kristiani mempunyai dua kewarganegaraan. Ia adalah warga negara di mana dia hidup/tinggal. Kepada negaranya itu dia berutang banyak hal, misalnya keamanan, pelayanan publik a.l. pendidikan, pelayanan medis dlsb. Karena seorang Kristiani seharusnya adalah seorang terhormat, maka dia harus menjadi warganegara yang bertanggung-jawab. Gagal menjadi warganegara yang baik juga berarti gagal dalam menjalankan kewajiban Kristiani-nya. Sungguh mendatangkan tragedi-lah apabila orang-orang Kristiani menolak atau melarikan diri dari panggilan mereka untuk berkarya di berbagai cabang pemerintahan, apalagi kalau kesempatan memungkinkan. Seorang Kristiani mempunyai tugas memberi kepada pemerintah sebagai balasan untuk segala privilese yang diterimanya dari pemerintah.

Di lain pihak seorang Kristiani adalah juga seorang warga surga. Adalah masalah keagamaan dan prinsip di dalam mana tanggung jawab seorang Kristiani adalah kepada Allah. Mungkin saja dua kewarganegaraan itu tidak pernah akan bentrok karena memang dua hal itu tidak perlu bentrok. Namun apabila seorang Kristiani yakin bahwa adalah kehendak Allah bahwa sesuatu harus dilakukan, maka hal itu harus dilakukan olehnya. Atau, apabila dia yakin bahwa sesuatu bertentangan dengan kehendak Allah, maka dia harus menentangnya dan tidak ikut ambil bagian dalam hal itu. Di mana tepatnya letak batasan-batasan antara dua tugas ini, Yesus tidak mengatakannya. Ini adalah masalah nurani orang bersangkutan yang harus diujinya sendiri (tentunya dengan pertolongan Roh Kudus dalam discernment).

Namun seorang Kristiani yang sejati adalah seorang warga yang baik dari negaranya, dan pada saat yang sama adalah warga Kerajaan Surga yang baik pula. Dia tidak akan gagal dalam melaksanakan tugasnya, baik kepada Allah maupun kepada negara. Dia akan mengikuti apa yang dikatakan Santo Petrus, “… takutlah kepada Allah, hormatilah raja!” (1Ptr 2:17).

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Ya Tuhan Allahku, jadikanlah aku seorang Kristiani sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “KEKUASAAN MUTLAK ALLAH DALAM SEGALA BIDANG KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 17-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014

Cilandak, 14 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers