Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 13 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17,20-21

Menghadapi “tuntutan” dari sejumlah orang Farisi akan suatu “tanda dari surga”, Yesus mendesah dalam hati-Nya. Bukankah Ia telah memberi lebih dari cukup tanda-tanda? Tidak sedikit orang yang disembuhkan secara ajaib, misalnya orang kusta disembuhkan (1:40-45); orang lumpuh disembuhkan (2:1-12); demikian pula angin ribut diredakan (4:35-41); roh-roh jahat diusir pergi (5:1-20); lima roti dan dua ikan dilipat-gandakan untuk memberi makan ribuan orang (6:30-44); dan lain-lain mukjizat lagi.  Malah anak perempuan  seorang kepala rumah ibadat (Yairus) yang telah meninggal pun dihidupkan-Nya kembali (5:21-24.35-43). Bukankah sekarang begitu jelas bahwa Allah – dengan segala kuasa-Nya – sedang datang mengunjungi umat-Nya melalui Yesus?

Kelihatan letak persoalannya bukanlah apakah Yesus tidak memberikan cukup banyak tanda atau tidak. Orang-orang Farisi tidak mampu dan/atau tidak mau membaca tanda-tanda yang telah diberikan oleh-Nya. Mengapa orang-orang Farisi tidak dapat memahami apa yang kelihatan jelas-nyata di depan mata dan kepala mereka? Suatu religiositas yang terlalu kaku, cupat, sempit? Kesombongan rohani? Barangkali. Atau barangkali karena yang dilakukan Yesus begitu baru bagi mereka, begitu asingnya, sehingga mereka sungguh tidak tahu bagaimana menafsirkannya. Sepertinya hampir berdasarkan naluri mereka berpegang erat-erat pada asumsi-asumsi mereka sendiri tentang bagaimana Allah akan berkarya … dengan demikian ‘tanda-tanda’ yang telah diberikan Yesus selama ini tidaklah cocok, … tidak memenuhi syarat atau tolok ukur yang telah mereka tetapkan sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan modern di abad ke-21 ini? Apakah Yesus masih terus melakukan mukjizat-mukjizat? Apakah masih terjadi peristiwa-peristiwa penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat dan lain sebagainya? Apakah terjadi pertobatan-pertobatan yang disebabkan kehadiran Allah? Jawabnya adalah YA! Namun pada saat yang sama, sikap skeptis dan tidak percaya juga jelas terasa dan terlihat di antara umat Kristiani sendiri. Banyak orang yang mendasarkan diri pada pendekatan-pendekatan terhadap dunia yang bersifat “ilmiah” atau ‘rasional’; mereka menutup diri terhadap adanya kemungkinan bahwa Allah akan mau melakukan intervensi secara ajaib dalam kehidupan orang-orang. Ada juga orang-orang yang ingin menyangkal atau menghindarkan diri dari hal-hal yang berbau mukjizat atau dimanifestasikan oleh “tanda-tanda heran”, karena takut kalau-kalau dituntut sesuatu dari mereka. Akan tetapi kita tidak dapat menyangkal, bahwa “tanda-tanda heran” seperti itu selalu ada di sekeliling kita. Saya ulangi: Selalu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Bagaimana dengan anda? Apakah anda percaya bahwa pada hari ini pun Yesus masih bekerja dengan penuh kuat-kuasa? Apakah anda percaya bahwa Yesus mengasihimu, sama seperti Dia mengasihi para murid-Nya yang pertama? Apakah anda percaya bahwa Dia cukup mengasihimu sehingga menyembuhkanmu atau membebaskanmu dari dosa?

Sebaiknya anda mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hatimu bagi tanda-tanda supernatural dari kehadiran-Nya. Lakukanlah hari ini juga, karena hidupmu tidak pernah akan sama lagi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjadi lebih fleksibel sehingga aku dapat menaruh kepercayaan pada-Mu. Bukalah mataku agar dapat melihat cintakasih-Mu kepadaku yang penuh keajaiban. Terpujilah nama-Mu yang terkudus, ya Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA?” (bacaan tanggal 13-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  10 Februari 2017 [Peringatan S. Skolastika, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II

jesus_christ_picture_013Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah -, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Bayangkan seorang anak muda pada hari ulang tahunnya yang ke-21 berkata kepada ayah dan ibunya, “Aku telah mencintai bapak dan ibu sampai titik yang dituntut dari diriku. Namun sekarang jasa bapak dan ibu sudah tidak lagi kubutuhkan, dengan demikian aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi kepada bapak dan ibu.”  Siapa saja tentunya akan kaget bercampur sedih mendengar pernyataan “kurang ajar” seperti itu. Namun sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (Mrk 7:11-12).

Meskipun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita.

Pengorbanan-pengorbanan keuangan, fisik dan emosional yang dibuat oleh para orangtua bagi anak-anak mereka memberikan kepada kita gambaran yang hidup dari cintakasih Bapa surgawi bagi kita. Di sisi lain, cintakasih kita kepada orangtua kita adalah salahsatu  pengungkapan yang paling alamiah mengenai cintakasih kita bagi Allah. Karena orangtua kita telah memainkan suatu peranan yang hakiki dalam anugerah kehidupan Allah bagi kita, maka menghormati dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang merupakan satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan syukur kita kepada Allah, yakni Dia yang adalah Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Jadi, Yesus menuntut dengan tegas bahwa, apapun tradisi atau kesepakatan-kesepakatan sosial yang sedang menjadi mode, perintah-Nya untuk menghormati orangtua kita tetap berlaku. Dan kita harus mengasihi mereka, bukan dengan cintakasih yang dibatasi dengan kepentingan diri, tetapi tanpa reserve. Kita harus mengasihi mereka tanpa syarat, seperti juga Allah mengasihi kita.

Bagaimana kita dapat mengasihi seperti itu? Dengan menerima cintakasih Allah bagi kita, sebagai anak-anak-Nya dan dengan mengesampingkan apa saja yang menjauhkan atau memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu mendekatlah kepada Allah sekarang juga, apa pun yang sedang anda lakukan. Perkenankanlah Dia mengasihimu sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, sehingga pada gilirannya nanti anda pun dapat membagikan cintakasih itu dengan orang-orang lain – dengan orangtuamu, keluargamu dan siapa saja yang membutuhkan.

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orangtua. Biarlah anak-anak menunjukkan cintakasih mendalam kepada mereka. Biarlah semua orang akhirnya mengenal dan mengalami cintakasih kebapaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN OMDO” (bacaan tanggal 7-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 3 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

KERAJAAN ALLAH BERARTI ALLAH MERAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santo Leo Agung, Paus – Kamis, 10 November 2016)

 1-0-jesus_christ_image_219

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tangan lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang waktu kedatangan Kerajaan Allah, sebenarnya mereka menanyakan kapan Mesias datang untuk melakukan restorasi atas takhta Daud. Mereka mengharapkan seorang Mesias-politik yang akan mendepak-keluar penjajah Roma, kemudian mendirikan kembali dinasti Daud. Mereka tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari berbagai mukjizat dan perumpamaan Yesus sebagai “tanda-tanda yang jelas bahwa kerajaan Allah di atas muka bumi telah dimulai”, padahal bukti bahwa kerajaan Allah telah masuk ke dalam dunia sudah ada di sekeliling mereka. Orang-orang Farisi luput melihat tanda-tanda itu karena terlalu sibuk dengan masalah dunia.

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “Kerajaan Allah”? Di mana lokasinya? Bagaimana kerajaan itu diorganisasikan? Kerajaan Allah berarti “Allah meraja”. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dalam artian ini Kerajaan Allah merupakan suatu kerajaan spiritual, bukan kerajaan dalam artian duniawi (lihat Yoh 18:36; Luk 11:20). Keberadaan Kerajaan Allah bersifat batiniah di dalam hati orang-orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan yang di dieja-wantahkan di dunia oleh mereka dalam kata-kata dan perbuatan-perbuatan sebagai umat beriman. Melalui Yesus, Kerajaan Allah tersedia bagi setiap dan masing-masing kita. Allah beserta kita! Dengan demikian kita tidak usah merasa takut terhadap apa saja yang menghalangi jalan kita. Kalau hati kita berlabuh dan kuat tertambat pada kasih Yesus dan kuasa-Nya, maka kita pun akan mengalami damai-sejahtera yang sejati. Damai-sejahtera itu dapat kita peroleh manakala kita berpaling kepada Allah dalam sakramen-sakramen, dalam doa-doa, dalam Kitab Suci, dan dalam persekutuan dengan orang-orang Kristiani lainnya.

images (11)Pada akhir renungan ini kita akan melihat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak berarti bahwa berbagai pencobaan dan penderitaan telah usai. Sebaliknya, penderitaan masih akan berlangsung bagi para pengikut/murid Yesus. Santo Paulus menulis: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:17). Kerajaan Allah hadir sekarang dan di sini – meskipun jauh dari sempurna – dalam Gereja, umat Allah. Kerajaan Allah akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman, pada waktu Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Ada orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan upaya-upaya untuk menentukan kapan Yesus datang untuk kedua kalinya, agar supaya mereka berada dalam keadaan siap pada waktu hal itu terjadi. Mereka banyak membuang waktu membaca tanda-tanda dan berusaha membuat kalkulasi-kalkulasi yang diperlukan untuk sampai kepada tanggal yang dicari-cari itu. Memang kita dapat berdoa dan dapat merindukan peristiwa kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, namun berkaitan dengan ini Yesus dengan jelas menyatakan: “… tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba” (Mrk 13:32-33). Yesus juga mengingatkan bahwa kita akan mendengar nubuat-nubuat palsu, namun tidak perlu merasa terganggu kalau saja kita menghayati hidup yang penuh antisipasi akan kedatangan-Nya: “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan. Amin” (Doa Syukur Agung, Anamnesis 2). Hal yang terpenting adalah, bahwa kita sudah siap menerima Yesus kapan saja Dia datang; dan cara terbaik untuk mewujudkan hal ini adalah dengan tetap setia kepada Injil dan setiap hari menghayati suatu hidup Kristiani sepenuhnya, tanpa “diskon” di sana-sini. Dengan demikian kita akan siap untuk menyambut-Nya kapan saja Dia akan datang kembali. “… kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:5-6).

paus-leo-i-agung-1Santo Leo Agung [Paus Leo I, masa pontifikat: 440-461] yang kita peringati hari ini adalah satu dari dua orang paus yang diberikan gelar “agung” (satunya lagi adalah Paus Gregorius Agung (Paus Gregorius I, masa pontifikat: 590-604). Salah satu jasa Paus Leo I adalah menolong mempertahankan eksistensi pemerintahan kekaisaran yang memang semakin menurun. Dalam melakukan tugas-kewajibannya, Paus Leo I menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Contohnya adalah pada tahun 452 ketika dia menemui Attila orang Hun, yang siap dengan pasukannya untuk meluluh-lantakkan Roma dan seluruh Italia. Penyerbuan orang-orang Hun akhirnya batal. Roma dan Italia diselamatkan! Sebagai seorang hamba Allah yang baik, pengabdian Paus Leo I kepada-Nya tidak diragukan. Dia tahu benar bahwa dirinya adalah sepenuhnya milik Allah.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah diriku agar tetap setia dalam menjalani hidup Injili di atas muka bumi ini. Aku sungguh merindukan kedatangan-Mu kembali. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “SESUNGGUHNYA KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU” (bacaan tanggal 10-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 7 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKALAU BUKAN TUHAN YANG ……

JIKALAU BUKAN TUHAN YANG ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Kamis,  27 Oktober 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus, “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau. Jawab Yesus kepada mereka, “Pergilah  dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Luk 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Ef 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:10-14 

Yesus meratapi kota Yerusalem, kota yang jatuh dari Allah jauh hari sebelum jatuh ke tangan tentara Romawi. Dan Herodes – kalau saja pusaranya, jika saja pusara-pusara para raja dan kaisar dapat berbicara kepada kita, apa saja yang akan mereka katakan? “Engkau melihat kami sebagai barang-barang antik dari masa lampau,” mereka akan katakan, “namun ada satu pesan yang kami bawa, dan hal itu tidak boleh menjadi sesuatu yang rahasia, karena para nabimu dan penulismu telah mengatakan kepadamu: Sia-sialah semua yang tidak datang dari Allah; semua adalah kesia-siaan, kecuali melayani Dia.”

Kalau kita memperbolehkan nubuat untuk berbicara kepada dunia kita yang sekular ini, kita tentunya dapat membaca ratapan Yesus ini sebagai sebuah catatan bagi para pemimpin dari masyarakat kita yang dipenuhi kebingungan:

“Engkau bekerja keras, engkau para pembangun yang besar, engkau para penasihat politik yang besar, engkau para penyusun pidato intelektual yang besar – apakah engkau telah melihat belakangan ini bahwa kerja kerasmu adalah sia-sia? Engkau telah membuang-buang/memboroskan waktu berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya untuk mencapai persetujuan mengenai perlucutan senjata nuklir. Engkau akan menyelamatkan dunia demi “kebebasan”, namun Engkau juga termasuk pihak yang menyalahgunakan kebebasan itu. Engkau telah membentuk berbagai komite (panja, pansus dlsb.) dan telah melakukan investigasi-investigasi sampai aku merasa khawatir engkau akan kekurangan personel, namun apakah dengan ini semua engkau merasa aman? Apakah masalah-masalahmu mendekati titik tercapainya solusi?”

“Engkau adalah orang-orang yang memiliki kemauan baik (good will), engkau ‘mencari solusi’, namun apakah engkau puas dengan hasilnya?”

“Aku hanyalah sebuah pesan kuno yang ditulis oleh seorang penginjil yang sekarang sudah lama meninggal dunia, ditulis di atas perkamen yang sudah lama terkubur di tumpukan debu. Aku tidak memiliki klaim terhadap telinga ‘modern’ yang kaumiliki, kecuali apabila engkau berpikir akhr-akhir ini. Sudahkah engkau berpikir? Apakah engkau sungguh percaya bahwa duniamu lebih dekat dengan kesempurnaan daripada dunia pada zamanku?

Atau, apakah engkau masih mengingat peringatan dari sang pemazmur, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm 127:1) 

DOA: Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini (Mzm 12:7-8). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DATANG DALAM NAMA TUHAN” (bacaan tanggal 27-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-10-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 25 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 11 Oktober 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-44

Tidak jarang kata-kata, sikap dan perilaku Yesus menyebabkan kontroversi di mata kaum Yahudi yang “saleh”, antara lain karena Dia tidak mengikuti semua praktek keagamaan tradisional yang berlaku pada zaman itu. Misalnya, orang Yahudi wajib untuk mematuhi seperangkat aturan yang kompleks berkaitan dengan bagaimana berperilaku dalam bermacam-macam situasi, untuk menjaga kemurnian ritual. Yesus dan para murid-Nya tidak selalu melaksanakan upacara cuci tangan sebelum makan (Luk 11:38). Dengan mengabaikan praktek-praktek sedemikian, Yesus mencoba mengajar apa yang sebenarnya bersifat sentral dalam penghayatan iman-kepercayaan sebuah agama.

Unsur-unsur eksternal dari praktek keagamaan telah begitu menjadi beban-berat bagi umat, sehingga mereka menjadi tidak fokus pada hakekat atau jiwa agama yang benar. Misalnya, seseorang diizinkan mempersembahkan harta-miliknya untuk Allah dan dengan demikian diperkenankan untuk tidak melakukan kewajiban membantu orangtuanya seandainya mereka mempunyai kebutuhan (Mat 15:3-6). Yesus mengajarkan bahwa praktek keagamaan dalam dirinya bukanlah tujuan, karena praktek tersebut harus dikaitkan dengan cintakasih kepada Allah dan sesama (baca: Luk 6:1-11). Allah  menghendaki belas kasihan dalam hati dan tindak-tanduk kita (lihat Mat 9:13).

Yesus memiliki keprihatinan besar terhadap orang-orang miskin, para pendosa, orang-orang yang terbuang, para janda, orang-orang asing dan mereka yang suka melawan. Ia mengajarkan bahwa mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati merupakan perintah hukum yang paling besar (lihat Luk 10:25-28). Mengasihi sesama merupakan penggenapan hukum (lihat Rm 13:8-10) sehingga tindakan karitatif merupakan sebuah tanda seseorang itu benar di hadapan Allah. Bagi Lukas, pemberian derma atau sedekah merupakan bagian hakiki dari kehidupan Kristiani dan suatu pencerminan keadaan hati yang benar dari seseorang (Luk 11:41).

Lukas secara istimewa memiliki keprihatinan atas kebutuhan orang-orang miskin. Injil yang ditulisnya sebenarnya ditujukan kepada sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah non-Yahudi dan orang-orang kotaan (urban) yang mempunyai posisi relatif baik dalam masyarakat. Keprihatinan Lukas di sini adalah agar orang-orang “yang nggak miskin-miskin amat” ini juga percaya kepada Yesus dan menghayati kehidupan seperti Yesus yang mengasihi orang-orang miskin, “wong cilik” zaman itu. Cintakasih kepada orang-orang kecil itu dicerminkan dalam praktek pemberian derma atau sedekah.

Sebuah hati yang dipenuhi kuasa ilahi akan membawa cintakasih Kristus kepada orang-orang lain melalui tindakan kasih (karitatif), bela-rasa dan pewartaan Injil. Penghayatan iman dari sebuah agama yang benar akan membuat seseorang melakukan pembalikan total dalam sikap dan perilakunya, dari yang semula memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri, menjadi pemusatan segalanya kepada Allah dan tentunya orang-orang lain. Artinya, menjadi lebih terbuka kepada orang-orang lain, dan menanggapi secara positif terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Tindakan-tindakan karitatif mencerminkan penghayatan iman yang benar manakala tindakan-tindakan itu dilakukan demi kemuliaan Allah dan didasarkan motivasi cintakasih kepada sesama (lihat misalnya Luk 21:1-4).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah agar aku dapat bertumbuh dalam penghayatan iman yang benar. Semoga iman-kepercayaanku kepada-Mu mentransformasikan hatiku. Anugerahkanlah kepadaku, ya Yesus, cintakasih kepada sesamaku, teristimewa mereka yang miskin, tersisihkan dalam masyarakat, “wong cilik”, yang menggantungkan segala harapan pada Allah yang Mahapengasih; kaum “anawim” zaman ini. Semoga cintakasih kepada sesama yang Kauanugerahkan kepadaku dapat diungkapkan dalam kemauanku untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 11-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 7 Oktober 2016 [Peringatan SP Maria, Ratu Rosario] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAN HARI SABAT

YESUS DAN HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung [540-604], Paus-Pujangga Gereja – Sabtu, 3 September 2016)

pppas0345Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:6b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:17-21

Secara teknis, tindakan memetik bulir gandum itu melanggar hukum Musa (lihat Kel 20:8-11). Tentunya berdasarkan apa yang ditulis dalam kitab Keluaran itu, orang-orang Farisi merasa dibenarkan dalam menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengacu kepada bacaan Kitab Suci (1Sam 21:1-6) yang menceritakan apa yang dilakukan oleh Raja Daud sendiri dalam situasi yang khusus, agar orang-orang Farisi itu mengerti sedikit apa tujuan sebenarnya dari hukum Sabat.  Orang-orang Farisi ini begitu disibukkan dengan adat-istiadat serta disiplin agama mereka sehingga mereka lupa mendalami tujuan sebenarnya dari hukum itu, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Di lain pihak, kita pun harus berhati-hati untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang-orang Farisi. Mereka sebenarnya mencoba untuk menjaga tradisi-tradisi Yahudi di tengah-tengah suatu krisis nasional pada masa itu. Kekaisaran Romawi menduduki wilayah Palestina untuk waktu yang lama, sehingga tidak sedikit orang Yahudi yang terpengaruh oleh praktek-praktek kekafiran orang Romawi. Mereka menukarkan iman-kepercayaan mereka dengan filsafat-filsafat yang berpusat pada manusia.  Bagi kaum Farisi, satu-satunya batasan dalam rangka memelihara dan menjaga identitas bangsa Yahudi, adalah penerapan hukum Musa secara ketat. Namun  sayang saja jalan yang mereka tempuh di tengah masyarakat keliru, teristimewa dalam pengungkapannya.

Sepanjang sejarah, legislasi moral yang kaku itu bersifat opresif dan ujung-ujungnya membuat orang-orang merasa bersalah dan merasa tidak dikasihi. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, praktis kita tidak dapat mentaati hukum Allah yang adil. Mengharapkan diri kita sendiri dan orang-orang lain untuk memperoleh keselamatan melalui tindakan-tindakan sesungguhnya bertentangan dengan pesan Yesus. Dalam upaya mereka untuk mendorong hukum Yahudi, banyak orang Farisi menjadi orang-orang yang bersikap suka menghukum dan menuduh – hal ini sungguh bertentangan dengan tujuan Allah dalam hukum-Nya.

Upaya untuk mengikuti jalan-jalan Allah seturut kekuatan kita sendiri merupakan sebuah beban dan pasti akan menuju kegagalan.Efek-efek dari dosa asal telah melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi tuntutan-tuntuan hukum. Inilah sebabnya mengapa Yesus datang ke dunia: Demi kasih-Nya Dia ingin menebus kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri kita bagi Kabar Baik yang diwartakan-Nya. Sadar akan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai harapan untuk mampu mengikuti hukum-Nya berdasarkan kekuatan sendiri, maka kita dapat menemukan Dia dalam doa-doa kita, dalam sakramen-sakramen dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci. Dia akan memimpin kita dalam jalan-jalan-Nya dengan hati baru yang mencerminkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat berdiam bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA” (bacaan tanggal 3-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

Cilandak, 31 Agustus 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELA ITU BERSAMA MEREKA?

DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 2 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. – Martir Revolusi Perancis

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40 

Ketika beberapa orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang “berpuasa dan tidak berpuasa”, Yesus menanggapinya dengan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai seorang mempelai laki-laki: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? (Luk 5:34). Sebagai seorang mempelai laki-laki, Yesus justru adalah Dia untuk siapa mereka mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan berpuasa. Sekarang, Ia sudah berada di tengah-tengah mereka; Dia yang datang untuk “mengklaim” sang mempelai perempuan sebagai istri-Nya.

Dalam bacaan Injil ini Yesus ingin menekankan kebaharuan dari kehidupan ilahi yang ingin diberikan-Nya kepada umat-Nya. Kehidupan Kristiani bukanlah dimaksudkan untuk sekadar kita tambahkan di atas “kehidupan regular” kita yang sudah ada. Kehidupan Kristiani adalah suatu kehidupan baru yang seluruhnya baru. Kita dengan mudah dapat berpikir bahwa kita mempunyai suatu kehidupan dan apabila kita melakukan hal-hal tertentu dengan setia, maka itu akan menjadi suatu kehidupan yang lebih baik – suatu kehidupan Kristiani. Akan tetapi, ini bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah. Yesus tidak menjadi seorang manusia dan menderita serta mati di kayu salib hanya untuk memberikan kepada kita suatu kehidupan yang kiranya lebih baik. Ia melakukan semua itu agar supaya kita menerima suatu kehidupan baru, lengkap dengan seperangkat prinsip-prinsip baru, sebuah pusat yang baru, dan sebuah sumber baru dari pengharapan dan kuasa. Yesus ingin memberikan kita suatu kehidupan ilahi. Yesus ingin membuat kita menjadi suatu ciptaan baru.

Untuk menolong para pengikut-Nya memahami kebenaran fundamental ini, Yesus berbicara mengenai ‘kain penambal untuk baju yang tua’ dan ‘kantong kulit penyimpan anggur yang tua’. Para pendengar-Nya akan memahami bahwa kain penambal dapat mengubah “penampilan” baju yang dikenakan seseorang menjadi lebih baik, mungkin juga memperbaiki kegunaannya, namun baju itu tetaplah sepotong baju tua dan “gampang robek” justru karena tambalan itu. Mereka juga mengetahui bahwa anggur yang baru masih sedang berfermentasi, oleh karena itu kantong kulitnya pun harus cukup fleksibel untuk mengembang seirama dengan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi anggur itu. Kantong kulit yang tua tidak akan dapat “menangani” perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh anggur yang baru.

stdas0748Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa serta bersama-Nya kehidupan lama kita. Yang ditawarkan oleh-Nya sekarang adalah kemampuan untuk menjadi suatu ciptaan baru yang dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Tentunya dengan melakukan “pemeriksaan batin”, setiap hari. Seperti Santo Paulus, pada satu titik di tengah “proses-rutin-harian” itu, kita pun tidak dapat mengelakkan diri untuk mengatakan: “Bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm 7:15). Inilah salah satu nilai penting dari suatu “pemeriksaan batin”, yaitu kita disadarkan akan masih adanya “kehidupan lama” dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita membawa segala kehidupan lama kita kepada Yesus yang tersalib dan mohon kepada-Nya agar kita dapat mati terhadap kehidupan lama kita tersebut. Kita dapat bertobat – artinya berbalik seratus delapan puluh derajat – dari kehidupan lama kita itu. Selagi kita mengakui dosa-dosa kita, kita memperdalam pertobatan kita dan ditransformasikan untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus. Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita masing-masing, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi kantong anggur yang lunak dan fleksibel, yang siap untuk menerima tuangan lebih banyak lagi anggur yang baru.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu selidikilah hatiku. Tunjukkanlah kepadaku perbedaan antara kehidupan baru yang telah Kauberikan kepadaku dan kehidupan lama yang disalibkan bersama-Mu. Transformasikanlah aku melalui pembaharuan hati dan pikiranku, sehingga aku dapat hidup untuk memuliakan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG MEMPELAI LAKI-LAKI” (bacaan tanggal 2-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 31 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS