Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 17 Maret 2018)

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53) 

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3,9-12

Apakah Yesus itu Mesias? Apakah Ia sang nabi yang telah dinubuatkan dalam Kitab Ulangan? Apabila Yesus berasal dari Galilea, bagaimana mungkin Ia adalah seorang nabi sejati? Ini adalah berbagai reaksi orang-orang Yahudi setelah Yesus masuk ke dalam Bait Suci terhadap apa yang dikatakan-Nya pada hari terakhir pesta penting itu: “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh 7:37-38).

Setelah mendengar kata-kata Yesus ini, beberapa di antara orang banyak mulai berpikir jangan-jangan Dia memang benar-benar nabi yang akan datang, malah sang Mesias yang dinanti-nantikan. Namun ada juga yang meragukan hal itu karena Dia berasal dari Nazaret di Galilea (lihat Yoh 7:40-42). Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak, malah ada yang mau menangkap Dia, namun tidak seorang pun yang menyentuh-Nya (lihat Yoh 7:43-44). Sosok pribadi Yesus mengingatkan orang banyak akan gambaran seorang nabi seperti dinubuatkan oleh Musa: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN (YHWH), Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Lalu berkatalah YHWH kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini;  Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” (Ul 18:15,17-19).

Berkaitan dengan argumentasi tentang asal-usul seorang nabi dari Nazaret di Galilea, kita diingatkan kembali kepada komentar Natanael kepada Filipus yang mengajaknya pertama kali bertemu dengan sang Rabi dari Nazaret itu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Komentar Natanael itu mengindikasikan kesulitan yang dihadapi banyak orang, jikalau mereka tidak mengetahui bahwa Yesus sebenarnya lahir di Betlehem, sehingga dengan demikian memenuhi nubuatan-nubuatan tentang asal-usul Mesias (Mi 5:2; Mat 2:4-6).

Seringkali orang-orang ini hanya melihat asal-usul manusiawi Yesus dan luput  melihat asal-usul ilahi-Nya yang diperlihatkan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan-Nya, teristimewa berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Sang Pemazmur mencatat ungkapan yang kiranya cocok dalam hal ini (sebenarnya kita daraskan/nyanyikan setiap kali kita mengawali Ibadat Harian setiap pagi: “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun”  (Mzm 95:7-8). Kata-kata sang Pemazmur ini dapat kita jadikan kata-kata kita sendiri pada hari ini, sehingga dengan demikian kita tidak akan menolak kebenaran yang diproklamasikan oleh Yesus. Kita akan akan terbuka dan memperkenankan kebenaran-Nya mentransformasikan diri kita. Itulah tantangan yang kita hadapi dan tanggapi, baik dalam masa Prapaskah maupun hari-hari lainnya dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu bimbinglah kami senantiasa dalam belas kasih-Mu. Tolonglah kami untuk mendengar suara-Mu, karena kami tidak ingin mengeraskan hati kami terhadap apa saja yang Engkau ingin katakan kepada kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid yang baik dan berbuah dari Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG BERBICARA DENGAN PENUH KUASA” (bacaan tanggal 17-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS MENDESAH DALAM HATI-NYA

YESUS MENDESAH DALAM HATI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 12 Februari 2018)

Kemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75-76

Karena kita mengetahui dan percaya bahwa Yesus adalah Allah, maka kita cenderung luput melihat kenyataan, bahwa sebagai seorang manusia Dia juga mengalami berbagai reaksi dan emosi seperti kita. Kita dapat terkejut membaca frustrasi Yesus sebagaimana diungkapkan Markus, “Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya” (Mrk 8:12). Akan tetapi, Yesus dapat membaca hati orang (lihat Luk 9:47); Ia tahu bahwa permintaan orang-orang Farisi kepada-Nya untuk menunjukkan sebuah tanda dari surga bukanlah berasal dari pencaharian akan kebenaran, melainkan untuk mencobai Dia (lihat Mrk 8:11). Di sini Yesus dinyatakan sebagai seseorang seperti kita dalam segala hal, bahkan dalam konflik-konflik penuh frustrasi dengan para pemuka agama Yahudi yang tidak percaya.

Dalam Perjanjian Lama, Allah menguatkan iman-kepercayaan umat-Nya dengan memori tentang tanda-tanda di masa lampau (misalnya Keluaran dari Mesir), dengan menyediakan kepada mereka tanda-tanda hari ini, dan dengan menyemangati mereka lewat nubuatan-nubuatan akan masa depan. Banyak dari para pemimpin mereka mengharapkan hari-hari mesianis akan memberikan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban, paling sedikit setara dengan yang ada dalam Keluaran dari Mesir. Berbagai ekspektasi atau pengharapan itu pada umumnya dihubungkan dengan mimpi-mimpi kemenangan atas orang-orang non Yahudi (=kafir).

Dari sudut pandang manusiawi, Yesus barangkali telah mengecewakan pengharapan-pengharapan sedemikian, namun dari sudut pandang spiritual Ia memenuhi pengharapan-pengharapan itu secara sempurna. Yesus meneguhkan keselamatan sejati dalam tanda-tanda mukjizat-Nya dan ditinggikannya Dia dalam kemuliaan di kayu salib (lihat Yoh 3:14; bdk. Bil 21:9). Tidak seperti umat Israel di padang gurun, Yesus menolak mencobai Allah dengan meminta tanda-tanda bagi diri-Nya sendiri atau untuk memuaskan mereka yang meminta tanda-tanda untuk mencobai Dia.

Jikalau kita melihat sikap dari orang-orang yang minta tanda kepada Yesus, dapatkah kita menyadari bahwa kita pun suka bersikap seperti itu? Apakah pengharapan kita dari misi penyelamatan Yesus? Apakah kita menerima dan mengakui bahwa kematian-Nya yang menyelamatkan serta kebangkitan-Nya merupakan tanda tertinggi dalam kehidupan kita? Ataukah kita memang mau mencobai Dia dengan meminta tanda-tanda yang cocok dengan keinginan kita, bukannya percaya kepada-Nya dan mengakui ketergantungan total kita kepada-Nya. Apakah kita sungguh percaya akan kebenaran sabda-Nya, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8)? Apakah kehidupan kita menunjukkan kepercayaan seperti itu?

DOA: Bapa surgawi, pada hari ini aku hendak memperbaharui komitmenku untuk percaya secara total kepada kasih-Mu, kurban penebusan Putera-Mu, dan karya penyucian Roh Kudus atas diriku. Ya Allah, aku sadar bahwa aku tidak memerlukan tanda yang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA” (bacaan tanggal 12-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 9 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

GURU, PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

GURU, PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [TAHUN A], 29 Oktober 2017) 

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”(Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka “jalan menuju keselamatan dalam Yesus”, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Berbagi (Inggris: sharing; saya Indonesiakan menjadi syering) Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan.

Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 29-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII –  Sabtu, 9 September 2017)

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23 Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Lukas menulis Injilnya teristimewa bagi orang-orang dengan latar belakang Yunani, yang tidak memiliki pemahaman atau sedikit saja memiliki pemahaman tentang tradisi Yahudi. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Lukas sering menekankan konfrontasi-konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya yang pada umumnya berlawanan paham dengan sang Rabi dari Nazaret. Dengan demikian ketika orang-orang Farisi menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat, maka dengan cepat Yesus membela para murid-Nya dan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan mereka masih tetap berada dalam batas-batas hukum. Di sini, dan juga dalam peristiwa-peristiwa lain, Yesus menunjukkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Dengan tegas Yesus menyatakan kepada para lawan-Nya: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus dapat melihat  bagaimana orang-orang Farisi berupaya untuk memegang kendali atas Allah (yang benar kebalikannya, bukan?) dengan menyusun peraturan-peraturan dan panduan-panduan ketat yang seringkali bahkan melampaui tuntutan-tuntutan hukum itu sendiri. Misalnya, tafsiran mereka atas hukum Sabat memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat itu. Sebaliknya, Yesus ingin mengindentifikasikan hakekat dari hukum itu dan mengundang umat-Nya untuk mengalami kebebasan yang dimungkinkan apabila mereka memahami tujuan sentral dari setiap hukum Allah. Allah menetapkan hari Sabat karena cintakasih-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya kebebasan dari beban-beban kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat datang menghadap hadirat-Nya dan menyembah-Nya. Memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan berarti salah sasaran. Artinya, kita kehilangan kesempatan menerima undangan untuk beristirahat dan disegarkan kembali.

Selagi mereka berjalan di ladang gandum, murid-murid Yesus mempunyai kesempatan menikmati jalan bersama dengan Yesus tanpa “gangguan” dari orang banyak. Ini adalah peluang bagi para murid untuk berada dekat Yesus. Mereka dapat berdoa bersama dengan Dia dan menyaksikan serta mengalami betapa dekat Yesus dengan Bapak-Nya. Waktu Sabat untuk beristirahat dalam keheningan merupakan suatu bagian penting dari relasi mereka dengan Yesus. Disegarkan kembali dengan Dia dengan cara ini akan memampukan mereka untuk menjawab berbagai tuntutan pelayanan yang Yesus ingin percayakan kepada mereka.

Bahkan hari ini pun, Allah ingin agar Sabat merupakan hari di mana kita dapat mengalami kebebasan-Nya yang menyelamatkan dan sukacita. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita dapat berhenti bekerja guna memuaskan huruf-huruf yang tersurat dalam Hukum, atau  kita dapat membuat hening hati kita dan beristirahat di depan Yesus. Hari ini, selagi kita mempersiapkan Sabat, marilah kita memohon kepada Yesus agar menyatakan hati-Nya yang penuh kasih dan menyegarkan kita kembali dalam persiapan untuk pekan mendatang.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena paling sedikit Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-9-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Yes 136:1-3,16-18,21-22,24

Yesus berkhotbah dan mengajar tentang suatu hidup baru dengan Allah. Di tengah-tengah khotbah-Nya, orang-orang Farisi mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang rumit dan bersifat menjebak – “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3).

Untuk sungguh memahami dilema yang dihadapi Yesus, kita perlu menyadari bahwa ada dua mashab para rabi pada waktu itu, masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang perceraian. Satu mashab memperbolehkan perceraian dengan alasan apa saja, dan mashab yang lain hanya memperbolehkan perceraian karena perzinahan. Orang-orang Farisi itu mencoba memaksa Yesus untuk memilih satu di antara dua pandangan yang berbeda tersebut. Jika Yesus memilih yang satu, maka Dia dapat dituduh dengan alasan kelemahan, sedangkan bila Yesus memilih yang lain, maka Dia dapat dituduh sebagai terlalu keras.

Namun Yesus mengangkat pertanyaan orang-orang Farisi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi! Yesus prihatin dengan apa yang Allah hendak katakan tentang topik itu, bukan apa yang telah dirancang oleh manusia. Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…… Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging? …… Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Mat 19:4-6). Ketika orang-orang Farisi mengemukakan bahwa Musa memperkenankan perceraian, Yesus  menjawab bahwa hal itu dilakukan oleh Musa justru karena kekerasan hati umat Israel, dan bukan merupakan niat Allah yang orisinal bagi umat-Nya.

Yesus memproklamasikan bahwa rencana Allah yang orisinal berkaitan dengan perkawinan sekali lagi dibuat mungkin karena Dia membawa Kerajaan Allah di mana perempuan dan laki-laki dapat mengalami hidup baru. Suami dan istri dapat menjadi setia dan mengasihi satu sama lain melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Mereka dapat mengatasi dosa yang dapat menghancurkan relasi penuh kasih: keserakahan, ketamakan, kemurahan dan penolakan. Kehidupan dapat disembuhkan dan dipulihkan sehingga dengan demikian kejahatan berat dan pelecehan terhadap pasangan hidup dapat dikalahkan. Ikatan-ikatan perkawinan dan keluarga-keluarga dalam Kerajaan Allah dapat hidup seperti semula, dalam kesatuan; suami-suami dan istri mereka masing-masing dapat hidup bersama dengan bermartabat, cintakasih dan integritas, seperti yang dimaksudkan Allah sejak semula.

DOA: Bapa surgawi, aku berdoa untuk semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam ikatan perkawinan. Berkatilah mereka, ya Allahku, dan berilah damai-sejahtera-Mu kepada mereka. Aku berdoa juga bagi mereka yang hidup terpisah atau berada dalam status bercerai, agar Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan mereka untuk membuang semua rasa marah dan kepahitan dari hati mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mempermudah reuni mereka dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 8 Juli 2017)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6 

Yohanes Pembaptis dan murid-murid-Nya menjalani suatu kehidupan asketis. Ia datang ke tengah-tengah masyarakat untuk memanggil banyak orang untuk menyesali dosa-dosa mereka  dan melakukan pertobatan. Oleh karena sangatlah pantas bahwa mereka harus melakukan puasa. Akan tetapi, para murid Yohanes seakan menghadapi sebuah teka-teki mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Dalam jawaban-Nya, Yesus menggunakan bahasa figuratif namun maknanya jelas. Berpuasa adalah sebuah tanda berduka-cita, kesedihan, atau pertobatan. Tentunya hal sedemikian tidak cocok atau layak pada sebuah pesta pernikahan. Sementara Yesus – sang mempelai laki-laki – bersama dengan para undangan-Nya, maka yang ada haruslah sukacita, suatu suasana penuh kebebasan dan cintakasih.

Berpuasa adalah sebuah tindakan yang baik, namun harus dilakukan secara bebas dan layak dari sudut waktu, tempat dan cara puasa itu dilaksanakan. Berpuasa tidak pernah boleh menjadi tujuan, berpuasa hanyalah sarana atau alat guna mencapai tujuan.

Yesus terus berbicara tentang keseluruhan cara hidup baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia bukanlah sekadar menyelipkan di sana-sini ide-ide baru, interpretasi-interpretasi baru dari Hukum Lama. Yesus berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. … Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:16,17). Dengan cara yang sama, Pesan Yesus tidak boleh kita campur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, Kabar Baik-Nya adalah berita atau kabar yang seluruhnya baru. Yesus ingin untuk menempatkan kita ke dalam suatu relasi dengan Allah yang seluruhnya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih dan bukannya relasi yang dipenuhi dengan rasa takut.

Kita juga telah dipanggil ke dalam suatu hidup baru. Melalui pembaptisan kita dilahirkan kembali. Kiranya Allah telah memberikan kepada kita suatu semangat yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih dengan Dia. Oleh karena itu mengapa kita harus terus berpegang erat-erat pada hal-hal yang lama? Mengapa kita harus mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama – kepentingan-kepentingan diri sendiri dan bersifat duniawi – dengan panggilan Tuhan kepada hidup baru? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Yesus Kristus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah baptisan kami menjadi hidup. Buatlah segala sesuatu baru karena kami hidup di bawah hukum cintakasih yang Kauajarkan kepada kami para murid-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID YESUS TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 8-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

KONSPIRASI JAHAT UNTUK MEMBUNUH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 8 April 2017) 

 

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Aka datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

“Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi  telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia” (Yoh 11:57).

Petikan ayat ini tidak termasuk dalam Bacaan Injil hari ini, namun saya akan menggunakannya juga agar pembahasan kita atas niat jahat orang-orang yang menentang Yesus dilatar-belakangi secara lebih lengkap.

Mengapa orang-orang Farisi dan para pemuka Yahudi begitu membenci Yesus sehingga berniat untuk membunuh-Nya? Mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus dan kebenaran-kebenaran yang diajarkan-Nya itu dimaksudkan untuk melembutkan hati orang dan menarik orang untuk lebih dekat lagi pada Allah. Yesus menginginkan agar orang-orang yang dikasihi-Nya itu memahami bahwa Allah telah datang untuk menyelamatkan mereka. Namun demikian, tindakan-tindakan Yesus itu malah semakin memisahkan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi itu dari diri-Nya.

Memang mudahlah bagi kita untuk melihat bahwa orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi sebagai manusia-manusia berkepala batu dan memiliki hati keras, akan tetapi baiklah pada saat ini kita melihat hati kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau kita mendapatkan hati kita sebenarnya “lebih dekat” dengan hati kaum Farisi dan konco-konco mereka, meskipun kita samasekali tidak mau menerima kenyataan pahit itu. Orang-orang Farisi sangat religius, suatu hal yang harus kita akui. Mereka mengetahui firman Allah dan merasa yakin sekali bahwa mereka memahami benar cara kerja Allah.  Namun demikian, mereka tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima hal-hal baik yang dilakukan oleh Yesus, malah mereka selalu mencari-cari kesempatan dan celah untuk menjatuhkan-Nya. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita percaya bahwa kita mengetahui benar bagaimana Allah  bekerja? Bagaimana kita akan bereaksi terhadap cerita-cerita ajaib yang menyangkut mukjizat-mukjizat? Bagaimana kita akan bereaksi manakala kita mendengarkan kesaksian seseorang tentang bagaimana Allah bertindak dalam kehidupannya lewat suatu cara yang tidak biasa? Apakah kita akan mempertimbangkannya sebagai sekadar sesuatu yang berbau takhyul atau langsung mencap orang yang bersaksi itu sebagai seorang fanatik? Barangkali kita merasa tertantang ketika mendengar cerita-cerita seperti itu, tetapi akal-budi kita tetap tidak dapat menerimanya, dst.

Yang perlu kita ketahui adalah, bahwa Allah tidak pernah menyerah. Ia akan tetap mencurahkan rahmat dan kuasa-Nya untuk memimpin kita kepada suatu iman yang lebih mendalam. Ia akan menemui kita di mana Dia mau, dengan penuh kelemah-lembutan dan cintakasih. Ia akan menarik kita kepada-Nya, agar kita mengenal diri-Nya dengan lebih baik. Seandainya Allah kelihatan tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan/pengalaman kita, maka kita harus berhati-hati agar kita tidak bereaksi secara negatif. Allah adalah Allah yang Mahasegala, dan kita hanyalah manusia dengan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas (meski memiliki gelar S3 dalam teologi sekali pun). Kita tidak pernah boleh memandang rendah dan remeh sesuatu yang mungkin saja memang sungguh merupakan intervensi ilahi dalam sebuah kasus yang dihadapi manusia. Kita juga sekali-kali tidak boleh memandang “miring” terhadap orang yang katanya menerima berkat Allah itu (mis. disembuhkan dari penyakit berat secara ajaib dst.), lalu dengan mudahnya kita berkomentar: “Ah dasar orang Karismatik, fanatik, titik!” Bukankah sikap seperti itu tidak lebih baik dari sikap yang ditunjukkan kaum Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus hidup di muka bumi?

Tentu saja dalam hal seperti ini sangat perlulah untuk melakukan upaya membeda-bedakan roh atau katakanlah melakukan discernment (discretio), tetapi yang penting sekali juga di sini adalah bagi kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan bahwa Allah sedang melakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja dimaksudkan untuk menolong kita mengalami kasih-Nya juga. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita selalu. Baiklah kita dengan rendah hati bersiap untuk menerima rahmat Allah, meskipun datang dalam bentuk yang tidak seperti kita harap-harapkan.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin sungguh-sungguh terbuka terhadap sentuhan kasih-Mu. Tolonglah aku untuk percaya bahwa apa saja yang Dikau lakukan terhadapku adalah karena Dikau mengasihiku. Tolonglah aku agar tidak merasa takut terhadap pekerjaan-Mu yang dapat Dikau lakukan dengan berbagai cara yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal-budiku. Tuhan Yesus, aku mengasihi Dikau dengan sepenuh hatiku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-56), bacalah tulisan yang berjudul “WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……” (bacaan tanggal 8-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS