Posts tagged ‘PEKAN BIASA XIX’

YANG PUNYA KERAJAAN SURGA

YANG PUNYA KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 19 Agustus 2017)

OFMConv.: Peringatan Keluarga Fransiskan & Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15) 

Bacaan Pertama: Yos 24:14-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11

“Ibu, anak-anak Ibu manis-manis bener, seperti malaikat-malaikat kecil deh! Kami merasa terhormat Ibu ingin agar anak-anak Ibu diberkati oleh Yesus …” Paling sedikit, barangkali inilah awal dari ‘kata-kata manis’ salah seorang murid Yesus ketika berupaya menjauhkan sejumlah anak yang dibawa oleh para orangtua mereka. Murid Yesus itu melanjutkan: “Tolong mengerti, ya Ibu. Yesus adalah seorang rabi yang sangat sibuk. Beliau adalah rabi yang mengajarkan pesan-pesan spiritual mendalam, yang bahkan sukar dipahami oleh orang-orang dewasa sekali pun . Apakah Ibu tidak bisa membawa anak-anak Ibu untuk diberkati oleh rabi di kota? Saya yakin beliau sangat senang memberkati anak-anak Ibu.” Ini barangkali upaya yang baik dari seorang murid Yesus yang OK-OK. Tentunya ada juga murid-Nya yang jauh lebih kasar dalam upayanya mengusir para orangtua dan anak-anak mereka, karena Injil menggunakan kata “memarahi” (Mat 19:13). Terlalu !!!

Namun Yesus memang lain !!! Ia berupaya secara istimewa untuk berbicara dengan anak-anak itu dan memberkati mereka. Sebelum peristiwa ini, tidak ada pemimpin agama atau filsuf manapun dalam sejarah yang menilai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang begitu penting. Setelah anak-anak itu pergi bersama orangtua mereka masing-masing, Yesus menggunakan insiden itu untuk mengajarkan kepada para murid-Nya beberapa unsur mendasar tentang Kerajaan Allah.

Pertama-tama, Yesus dengan jelas melegitimasi hasrat para orangtua agar anak-anak mereka diberkati. Yesus memberi nilai yang penting atas pemberian berkat yang bagi banyak orang kelihatannya tidak menempati prioritas utama dalam hal pentingnya secara spiritual. Kedua, barangkali lebih penting, Yesus menunjukkan bahwa Dia menyambut baik gerakan apa saja untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Nya. Anak-anak tidak mencari-cari kesempatan untuk memberi berkat, melainkan untuk diberkati. Anak-anak tidak dapat bekerja dan melayani Kerajaan Allah. Anak-anak tidak dapat memahami tuntutan-tuntutan dari panggilan Kristus, dan mereka pun tidak memperoleh manfaat spiritual dari hal itu. Anak-anak datang dengan tangan hampa, satu-satunya hasrat mereka adalah untuk berada dekat dengan Yesus. Justru respons sederhana seperti itulah yang paling dihargai oleh Yesus: “Orang-orang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga” (Mat 19:14).

Matius melaporkan bahwa Yesus mengatakan hal-hal yang disebutkan dalam bacaan Injil ini, selagi Dia dan rombongan-Nya sedang menuju Yerusalem. Selagi Kristus mengajar para murid-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menggunakan kata-kata-Nya sehubungan dengan peristiwa ini dan juga dalam kesempatan lain yang ada, untuk membuat jelas bahwa Kerajaan Allah adalah karunia, suatu anugerah dari Yang Ilahi, bukannya sesuatu karena usaha kita sendiri.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat melihat betapa lemah lembut sikap dan perilaku Yesus terhadap anak-anak. Nah, sementara kita menerima peranan kita sebagai anak-anak Allah, kita tidak pernah boleh ragu-ragu bahwa Bapa surgawi mempunyai kasih yang sama bagi kita dan kelemahlembutan yang sama terhadap kita, sebagaimana telah ditunjukkan oleh Yesus kepada anak-anak yang datang kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil waktu menunjukkan kepada dunia betapa dalam Bapa surgawi mengasihiku. Semoga kelemahlembutan-Nya membuat lunak hatiku dan mengubah jati diriku yang terdalam. Semoga hatiku yang telah Kauubah itu ikut ambil bagian dalam mengubah orang-orang yang kujumpai, termasuk anggota keluargaku sendiri, teristiwa anak-anakku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini, silahkan anda membaca tulisan dengan judul “YESUS DAN ANAK-ANAK” (bacaan tanggal 19-8-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

KEMBALI KEPADA RENCANA ALLAH YANG ASLI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX  –  Jumat, 18 Agustus 2017)

Lalu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Lagi pula Ia berfirman: Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan, ia berzina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka, “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian atas kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mat 19:3-12) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-13; Mazmur Tanggapan: Yes 136:1-3,16-18,21-22,24

Yesus berkhotbah dan mengajar tentang suatu hidup baru dengan Allah. Di tengah-tengah khotbah-Nya, orang-orang Farisi mendekati Yesus dengan sebuah pertanyaan yang rumit dan bersifat menjebak – “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Mat 19:3).

Untuk sungguh memahami dilema yang dihadapi Yesus, kita perlu menyadari bahwa ada dua mashab para rabi pada waktu itu, masing-masing mempunyai pandangan berbeda tentang perceraian. Satu mashab memperbolehkan perceraian dengan alasan apa saja, dan mashab yang lain hanya memperbolehkan perceraian karena perzinahan. Orang-orang Farisi itu mencoba memaksa Yesus untuk memilih satu di antara dua pandangan yang berbeda tersebut. Jika Yesus memilih yang satu, maka Dia dapat dituduh dengan alasan kelemahan, sedangkan bila Yesus memilih yang lain, maka Dia dapat dituduh sebagai terlalu keras.

Namun Yesus mengangkat pertanyaan orang-orang Farisi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi! Yesus prihatin dengan apa yang Allah hendak katakan tentang topik itu, bukan apa yang telah dirancang oleh manusia. Yesus menjawab: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?…… Karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging? …… Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”  (Mat 19:4-6). Ketika orang-orang Farisi mengemukakan bahwa Musa memperkenankan perceraian, Yesus  menjawab bahwa hal itu dilakukan oleh Musa justru karena kekerasan hati umat Israel, dan bukan merupakan niat Allah yang orisinal bagi umat-Nya.

Yesus memproklamasikan bahwa rencana Allah yang orisinal berkaitan dengan perkawinan sekali lagi dibuat mungkin karena Dia membawa Kerajaan Allah di mana perempuan dan laki-laki dapat mengalami hidup baru. Suami dan istri dapat menjadi setia dan mengasihi satu sama lain melalui kuat-kuasa Roh Kudus. Mereka dapat mengatasi dosa yang dapat menghancurkan relasi penuh kasih: keserakahan, ketamakan, kemurahan dan penolakan. Kehidupan dapat disembuhkan dan dipulihkan sehingga dengan demikian kejahatan berat dan pelecehan terhadap pasangan hidup dapat dikalahkan. Ikatan-ikatan perkawinan dan keluarga-keluarga dalam Kerajaan Allah dapat hidup seperti semula, dalam kesatuan; suami-suami dan istri mereka masing-masing dapat hidup bersama dengan bermartabat, cintakasih dan integritas, seperti yang dimaksudkan Allah sejak semula.

DOA: Bapa surgawi, aku berdoa untuk semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam ikatan perkawinan. Berkatilah mereka, ya Allahku, dan berilah damai-sejahtera-Mu kepada mereka. Aku berdoa juga bagi mereka yang hidup terpisah atau berada dalam status bercerai, agar Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya akan memampukan mereka untuk membuang semua rasa marah dan kepahitan dari hati mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mempermudah reuni mereka dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:3-12), bacalah tulisan yang berjudul “HUBUNGAN PERJANJIAN ANTARA ALLAH DAN UMAT-NYA ADALAH CERMINAN PERKAWINAN” (bacaan tanggal 18-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN

BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 16 Agustus 2017) 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa  yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20) 

Bacaan Pertama: Ul 34:1-12; Mazmur 66:1-3a,5,8,16-17 

Di sini Yesus mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana mereka masing-masing seharusnya menanggapi suatu situasi di mana seorang anggota lain dari jemaat/Gereja/komunitas iman  berbuat dosa. Keprihatinan utama Yesus bukanlah untuk menghukum si pendosa, melainkan ‘memperoleh  kembali’ orang yang bersalah itu: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat 18:15). Pertama-tama, upaya untuk mencapai rekonsiliasi harus dibuat atas dasar 0-0, artinya one-to-one basis, lalu dengan bantuan sepasang saudara atau saudari; kalau belum juga mendengarkan melalui pelayanan Gereja sendiri. Pada setiap tahap, belas kasih (mercy) harus dilihat sebagai lebih penting (berdiri lebih tinggi) daripada penghakiman. Harus tersedia ruangan untuk pelayanan penyembuhan dari Tuhan “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Kita semua tahu bahwa ada kuasa besar dalam doa, hikmat besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan besar dalam ajaran Gereja. Namun sayangnya seringkali kita membuka diri kita bagi jalan-jalan menuju rekonsiliasi ini hanya pada menit-menit terakhir. Mengapa mesti begini? Yesus menekankan agar kita berbelas kasih kepada yang telah bersalah. Hal ini dapat diartikan  bahwa Dia mengajar kita agar meninggalkan keinginan kita untuk membalas dendam dan menuntut keadilan yang keras dan tanpa kompromi terhadap orang yang telah bersalah, teristimewa orang yang bersalah kepada diri kita sendiri.

Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan untuk mengasihi setiap orang secara penuh sebagaimana Allah telah mengasihi kita semua, termasuk mereka yang telah menyakiti kita. Bagian dari Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan pengajaran dan/atau nasihat-nasihat Yesus yang menekankan cintakasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita untuk tidak menganggap rendah ‘anak-anak kecil’ Allah (Mat 18:10). Ia mengajarkan ‘perumpamaan tentang domba yang hilang’, yang menggambarkan upaya ‘tidak logis’ seorang gembala untuk mencari seekor domba yang hilang, namun dengan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang masih terkumpul sebagai satu kawanan (Mat 18:12-14). Ayat terakhir dari perikop ini memang menunjukkan bahwa perikop ini tak terlepaskan dari perikop yang sedang kita soroti hari ini: “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak itu hilang” (Mat 18:14). Dalam rangkaian perikop ini, Yesus bahkan mengajar kita untuk mengampuni orang-orang berdosa sebanyak ‘tujuh puluh kali tujuh kali’ (Mat 18:21-35). Dalam semua pengajaran ini, Yesus seakan ‘memohon’ kepada kita untuk menjalin relasi kita dengan sesama berdasarkan belas kasih yang dilimpah-limpahkan Allah, pada waktu Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk melakukan ‘inaugurasi’ sebuah ‘kerajaan kasih’ yang baru.

Sebagai ‘anak-cucu’ Adam dan Hawa, kita tidaklah kebal terhadap kecenderungan-kecenderungan untuk berpikir dan bertindak di mana diri kita, kepentingan kitalah yang menjadi pusat segalanya, bukan Yesus Kristus. Namun demikian Yesus telah mengajarkan kita agar memeriksa cara kita bereaksi dalam situasi-situasi sedemikian. Apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mencari hikmat dari Roh Allah sendiri dan nasihat dari Gereja. Atau, apakah dengan cepat kita  menghukum orang ‘demi keadilan’? Apakah kita mengabaikan, bahkan membuang jauh-jauh, segala penghiburan yang kita rasakan dari doa dan bacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; sehingga hanya mengandalkan diri pada bantuan ilmu-ilmu seperti psikologi? Memang kita tidak boleh mengabaikan begitu saja bantuan-bantuan yang dapat disumbangkan oleh perkembangan terakhir dalam bidang hukum dan psikologi. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memandang rendah kuasa kasih Allah untuk mentransformasikan tragedi dosa menjadi suatu kesempatan untuk penebusan …… kesempatan untuk memperoleh keselamatan dari-Nya.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Setiap saat aku ‘diserbu’ oleh begitu banyak masalah, jagalah agar aku tetap setia dalam iman-kepercayaanku, sementara aku tetap berjalan ke depan untuk memperoleh kepenuhan keselamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ul 34:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN KITA” (bacaan tanggal 16-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN

SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 15 Agustus 2017)

 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4a,7-9,12 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:3)

Apakah anda percaya bahwa Allah sungguh menginginkan kita menjadi seperti anak-anak kecil? Jawabannya adalah “Ya”! Mengapa? Ini adalah suatu konsep kehidupan yang memiliki kebenaran, karena orang-orang yang menjadi seperti anak-anak kecil-lah yang dipandang oleh-Nya sebagai “besar” di Kerajaan-Nya. Hakekat dari keberadaan seseorang seperti seorang anak kecil di hadapan Allah adalah “ketergantungan orang itu secara total kepada-Nya”.

Bagi Yesus, anak-anak adalah model-model kekudusan dan kerendahan hati yang justru harus diagungkan, dihormati dan dilindungi. Bahkan Ia sendiri, sang Penguasa alam semesta, sudi merendahkan diri-Nya masuk ke tengah-tengah dunia sebagai seorang anak kecil. Secara umum kita dapat mengatakan bahwa anak-anak lebih mudah melaksanakan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Kelihatannya mereka dapat menerima tanpa syarat, tersenyum tanpa alasan, mengampuni dan melupakan (sebaliknya orang dewasa seringkali bersikap: ‘to forgive, ‘Yes’; but to forget, ‘Never’), menaruh kepercayaan tanpa kecurigaan atau tes-tes dulu, percaya kepada ‘nasihat’ atau ‘ocehan’ kita orang-orang dewasa dengan sepenuh hati.

Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar antara “menjadi seperti anak kecil” (Inggris: childlike) dan bersikap serta berperilaku “kekanak-kanakan” (Inggris: childish). Orang yang bersikap dan berperilaku kekanak-kanakan menuntut cara sendiri (semau gue); merasa bahwa dia memiliki hak untuk mengungkapkan kekesalan dan kegusarannya apabila dirinya tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Sebaliknya orang “yang seperti anak kecil” seperti dimaksudkan oleh Yesus, mengakui bahwa dia samasekali tidak mempunyai klaim terhadap Allah. Orang seperti itu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi untuk segala kebutuhannya. Orang itu percaya bahwa Allah secara bebas telah memberikan Putera-Nya sendiri guna menebus dosa-dosanya, dan Putera-Nya inilah jalan baginya untuk dapat datang menghadap hadirat Bapa di surga. Orang itu juga percaya segala rahmat dari-Nya adalah gratis (Rahmat dalam bahasa Latin = gratia; gratis !!!).

Dalam sebuah dunia yang sangat mengagung-agungkan capaian-capaian yang bersifat individual dan juga kemandirian, maka pandangan tentang ketergantungan total kepada Allah susah untuk diterima. Bagaimana kita dapat bersikap dan berperilaku seperti anak kecil setelah sedemikian lama diajarkan (sehingga menjadi keyakinan pribadi), bahwa kita harus mandiri, harus berdikari dalam segala hal? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada pemahaman kita tentang kasih Allah. Yesus adalah sang Gembala Baik! Ia terus mencari kita, domba-domba-Nya yang hilang, untuk membawa kita kembali kepada Bapa di surga.

Semakin kita memahami kasih Allah seperti ini, semakin terbuka pula diri kita untuk sepenuhnya menggantungkan diri kepada-Nya. Rasa percaya kepada Allah seperti yang ditunjukkan oleh anak kecil pada dasarnya adalah suatu tanggapan terhadap kasih dari ‘seorang” Allah yang menunjukkan diri-Nya sebagai Allah yang dapat diandalkan sepenuhnya, karena “Dia adalah satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus”.

Oleh karena itu marilah kita memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Kita tidak perlu takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya dan mengungkapkan kepada-Nya segala masalah yang membuat kita sulit menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semakin banyak waktu yang kita sediakan dan gunakan untuk berada bersama Yesus dan merenungkan sabda-Nya, semakin mendalam pula Roh Kudus-Nya akan meyakinkan diri kita akan kasih-Nya, dan kita pun menjadi semakin seperti anak anak kecil, baik dalam sikap maupun perilaku di hadapan Allah Tritunggal Mahakudus, seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa mencari daku, ketika diriku “hilang”. Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau telah mengajarku agar sepenuhnya menggantungkan diri kepada-Mu. Engkau memang andalanku, ya Yesus. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk pemenuhan segala sesuatu yang kubutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH” (bacaan tanggal 15-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan pada tahun 2011) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam Martir 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham per tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS