Posts tagged ‘PEKAN BIASA XVIII’

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51 

Setiap orang Kristiani sebenarnya diutus untuk mewartakan Injil, dan seturut karunia-karunia yang dianugerahkan kepada mereka masing-masing juga membawa kesembuhan kepada orang-orang sakit serta melepaskan orang-orang yang berada di bawah pengaruh roh jahat. Kita juga harus menyadari bahwa kita masing-masing adalah Bait Roh Kudus dan dapat mempengaruhi masyarakat di mana kita berada. Bisa saja kita hanyalah “orang-orang biasa”, namun Petrus juga hanya orang biasa-biasa saja sebelum peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama. Bahkan pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama itu dia belumlah “Santo Petrus yang agung” Dia hanyalah seorang (mantan) nelayan. Akan tetapi, setelah dia menerima Roh Kudus, Petrus pun mampu mempertobatkan tiga ribu orang sekaligus yang mendengarkan khotbahnya yang dipenuhi rahmat (Kis 2:41).

Ketika Yesus menegur para murid berkaitan dengan ketidakmampuan mereka untuk mengusir roh jahat yang merasuki anak laki-laki yang sakit ayan itu, lagi-lagi Yesus mengingatkan para murid akan ketiadaan iman mereka. Namun kemudian Ia membuat sebuah janji, yaitu janji yang akan membebaskan para murid dari rasa bersalah atau “minder” dan memberikan kepada mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,  – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Janji ini tidak hanya berlaku untuk para murid Yesus yang pertama, melainkan juga bagi kita semua, para murid-Nya pada zaman sekarang. Terkadang kekhawatiran dan kegelisahan kita dapat memperlemah iman-kepercayaan kita. Pengharapan kita dapat menyusut cepat dan membuat kita merasa tak berdaya ketika menghadapi situasi yang sulit. Situasi-situasi menantang semakin banyak kita hadapi, namun kita merasa jauh dari Tuhan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus tegak berdiri dan memegang janji Yesus yang tak tergoyahkan, yaitu bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.

Bagaimana kita memelihara dan mempertahankan iman kita, bahkan yang sekecil biji sesawi itu? Iman adalah karunia Allah, namun tetap menuntut tanggapan dari pihak kita. Kiranya tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman kita selain daripada datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa-doa kita.

Memang kedengarannya hal ini mengecilkan hati, malah menakutkan, namun sebenarnya tidak susah juga. Apa yang dapat kita lakukan adalah mencoba dengan sebaik-baiknya untuk membuang segala pelanturan atau distraksi yang mengganggu konsentrasi kita, dan kemudian kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Yesus saja. Pandangan mata kita haruslah terus menatap pada cintakasih-Nya dan pada hasrat-Nya yang mendalam untuk memberikan kepada kita masing-masing segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati hidup kekudusan. Yesus ingin sekali agar kita memiliki iman yang  lebih lagi, Dia bahkan lebih bergairah lagi untuk mencurahkan semua rahmat yang kita perlukan agar kita dapat bertumbuh dalam iman, dan Ia juga ingin sekali melihat iman kita itu bertumbuh dan bertumbuh terus – presis seperti biji sesawi kecil yang terus bertumbuh sehingga menjadi sebatang pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk memusatkan pandangan mataku pada Engkau saja, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar perihal cintakasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu agar dengan demikian akupun akan mampu berjalan dalam iman dan menjadi saksi-Mu kepada masyarakat di sekelilingku dan dunia yang sungguh membutuhkan Engkau dan penyelamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMANLAH YANG DIPERLUKAN” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010). 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA, ……

SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S.Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II 

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat 16:25)

Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan rasa takut kita atau dapat juga menimbulkan penyangkalan, bahwa Yesus dalam hal ini tidak memaksudkan “kehilangan nyawa” secara harfiah. Hal itu cukup radikal dan kebanyakan dari kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki sekarang. Rumah, kendaraan roda empat maupun roda dua, pendidikan yang baik, pekerjaan/karir yang baik, dan makanan-minuman lezat yang dihidangkan di atas meja makan setiap hari. Sedikit saja dari kita yang memperoleh ini semua tanpa upaya, dan kebanyakan dari kita ingin “bertahan” pada apa yang kita telah miliki, lakukan dan kasihi.

Namun inilah justru apa yang dimaksudkan oleh Yesus. “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya” berarti “siapa saja menghasrati pembebasan – materiil, pembebasan dunia ini – dari bahaya, penderitaan, sakit-penyakit, dlsb., akan kehilangan semua itu. Hal itu berarti bahwa siapa saja yang hidup demi kenyamanan hidup, kepemilikan, dan capaian-capaian duniawi akan berakhir dengan kehilangan semua itu.

Akan tetapi … bukankah tidak salah untuk menginginkan hal-hal tersebut? Apakah salahnya dengan hidup yang nyaman, makmur-sejahtera, dan “sukses”? Sama sekali tidak salah! Pertanyaan yang harus ditimbulkan oleh kata-kata Yesus dalam diri kita adalah, apakah itu saja yang kita ingin capai secara mati-matian? Apakah kegairahan hidup kita? Allah menginginkan banyak lagi dari diri kita masing-masing daripada sekadar mempertahankan status quo atau membuat sedikit perbaikan di sana-sini dalam kehidupan kita. Allah mengetahui sekali apa yang kita butuhkan dan Dia akan memperhatikan serta memenuhi kebutuhan kita itu (Luk 12:22-34), dengan demikian membebaskan diri kita agar dapat mengurus diri kita sendiri dengan apa yang diinginkan-Nya – hidup untuk Kerajaan-Nya.

Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Pertama-tama kita dapat menggunakan pikiran kita. Marilah kita membuat daftar dari segala hal yang kita ketahui tentang Bapa surgawi, yang mahapengasih, mahatahu, mahakuasa, mahabijaksana, penuh bela rasa, penuh belas kasih dan mahapengampun. Apabila ingatan kita sudah mulai memudar, marilah kita membuka Kitab Suci untuk menemukan lebih banyak lagi. Kemudian, baiklah kita membuat daftar dari apa saja yang telah dilakukan oleh-Nya, misalnya menciptakan dunia dari ketiadaan, membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir dan membangkitkan Yesus dari alam maut. Lalu, marilah kita menggunakan hati kita. Kita menyediakan saat-saat tenang untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukan Allah bagi kita secara pribadi, dan kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita rasa syukur yang mendalam untuk semua itu. Kita harus seringkali mengingat-ingat tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa dalam kehidupan kita dan perkenankanlah semua itu menggerakan hati kita dengan kasih. Kita sungguh tidak dapat mengatakan bahwa terlalu seringlah kita mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Allah atas diri kita, dan marilah kita masing-masing sekarang juga mengatakan bahwa “untuk Dialah aku rela kehilangan nyawaku!”

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya pada kasih-Mu, kebaikan hati-Mu, dan hikmat-Mu bagiku. Ingatkanlah aku senantiasa siapa Engkau sebenarnya dan apa yang telah Kaulakukan untuk umat manusia. Aku ingin memberikan hidupku kepada-Mu, agar aku dapat memperoleh hidup kekal bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA BIJI GANDUM JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

JIKA BIJI GANDUM JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Kamis, 10 Agustus 2017) 

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

Dalam setiap biji gandum terkandunglah suatu potensi untuk bertumbuh, menjadi matang dan menghasilkan buah. Akan tetapi agar dapat bertumbuh, biji gandum itu pertama-tama harus ditanam/jatuh ke dalam tanah dan menjadi mati, artinya menyerahkan dirinya untuk perubahan selanjutnya. Hanya dengan begitu biji gandum itu dapat menghasilkan kehidupan.

Seorang Kristiani menerima kehidupan dengan cara yang serupa. Agar dapat hidup, kita harus mati dulu. Mati berarti dibaptis ke dalam kematian Tuhan Yesus! Dengan menyatukan diri kita dalam iman pada kematian-Nya, maka kita setuju dalam hati kita  bahwa kita tidak lagi memiliki hasrat untuk diatur oleh kehidupan yang kita warisi dari Adam dan Hawa setelah kejatuhan mereka ke dalam dosa. Kita menginginkan tanda sakramental kematian kita dalam pembaptisan untuk diaktualisasikan, agar kita bahkan sekarang dapat mengalami kematian terhadap cinta-diri dan dorongan-dorongan dari dalam diri semata.

Dalam pembaptisan, “biji gandum” kita telah dikubur dan kita pun dimampukan untuk menerima suatu kehidupan baru. Karena kita turut ambil bagian dalam kematian Yesus, kita juga ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya (Rm 6:4). Karena Yesus dibangkitkan dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, maka kehidupan yang kita terima mempunyai asal-usul di surga. Roh Kudus memberdayakan kehidupan baru dalam diri kita dengan memperbaharui akal budi dan hati kita. Kita bekerja sama dengan berdoa, melakukan pertobatan, menerima kehidupan-Nya dari liturgi dan sakramen, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan mencari terus kehendak-Nya atas diri kita. Dengan berjalannya waktu, berkat rahmat Allah, kita mulai dapat menghasilkan buah-buah yang baik. Tindakan-tindakan kita dan kata-kata yang kita ucapkan menjadi semakin lebih berpusat pada Kristus. Pada saat yang sama berbagai tindakan dan kata-kata kita yang mencerminkan pemusatan pada diri kita sendiri juga semakin menyusut. Kita pun mulai merindukan Allah lebih daripada dunia.

Santo Laurensius (+258) adalah contoh sempurna dari sebutir biji gandum yang mati dan tumbuh serta berbuah. Pada hari ini Gereja mengenang kehidupan orang ini yang lebih mengasihi Allah daripada mengasihi dunia. Pada masa pontifikat Paus Sixtus II (257-258), Laurensius adalah seorang diakon di Roma. Ketika diminta oleh Pak Gubernur untuk menyerahkan harta kekayaan (uang) milik keuskupan, dia malah mengumpulkan dan membawa para fakir miskin. Dia berkata: “Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja!” Orang-orang miskin memang adalah harta-milik Gereja yang sejati. Gereja Kristus memang sejatinya adalah “a Church of the Poor and for the Poor!” untuk sepanjang masa. Untuk tindakannya ini Laurensius dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup di atas sebuah pemanggangan.

Laurensius mampu untuk mati dengan berani dan tenang-tenteram karena akal budi dan hatinya telah diperbaharui oleh Roh Kudus. Yesus Kristus telah menjadi pusat kehidupannya. Mungkin kita tidak dipanggil Tuhan untuk mengalami kemartiran sebagaimana yang dialami oleh Santo Laurensius, namun kita dipanggil untuk mati terhadap kedagingan dan hidup sesuai pimpinan Roh Kudus (Rm 8:12-14). Marilah kita hari ini dengan penuh rasa percaya membuka diri kita masing-masing bagi rahmat pembaharuan yang diberikan Allah, agar “biji gandum” kehidupan baru dapat berakar dalam diri kita dan bertumbuh.

Dalam kesempatan ini baiklah kita merenungkan ucapan syukur yang ditulis oleh Santo Paulus: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, dengan demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah” (2Kor 1:3-5).

DOA: Bapa surgawi, karena cintakasih yang berapi-api Santo Laurensius menjadi pelayan-Mu yang setia dan martir-Mu yang mulia. Sebagaimana dicontohkan olehnya, semoga kami mengasihi Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh dan melaksanakan apa saja yang diajarkan-Nya kepada kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 9:6-10), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERI DENGAN SUKACITA” (bacaan tanggal 10-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 8 Agustus 2017 [Peringatan S. Dominikus, Pendiri OP, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Dalam kitab-kitab Injil yang empat itu, hanya dua orang yang dipuji oleh Yesus untuk iman mereka yang besar: Yang pertama adalah seorang perwira tentara Romawi yang berkata kepada Yesus: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya tentang iman sang perwira itu: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Yang kedua adalah perempuan Kanaan yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, yang “ngotot” mohon kepada Yesus agar puterinya disembuhkan/dilepaskan dari kuasa roh jahat. Memang pada teks di atas yang diambil dari Perjanjian Baru edisi TB II-LAI pujian Yesus tidak secara eksplisit mengungkapkan betapa besar iman sang ibu Kanaan itu, namun kiranya pujian Yesus itu lebih jelas terasa dalam teks Alkitab TB I-LAI. Bunyinya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Yang menyentuh hati adalah kenyataan, bahwa kedua orang yang memiliki “iman besar” itu adalah bukan orang Yahudi …… orang-orang kafir; mereka yang dipandang tidak bersih oleh sebagian besar umat Yahudi.

Perempuan Kanaan ini menghadapi dua buah rintangan, katakanlah handicaps: (1) Kenyataan bahwa dia bukan orang Yahudi; dan (2) kenyataan bahwa dia adalah seorang perempuan yang dipandang tak bernilai dalam masyarakat Yahudi. Namun demikian, demi cintakasihnya kepada puterinya yang menderita, ibu Kanaan ini tidak berputus-asa. Dia tetap ngotot mohon pertolongan Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud …” (Mat 15:22) … “Tuhan, tolonglah aku” (Mat 15:25). Dia terus berteriak-teriak minta tolong selagi mengikuti Yesus (Mat 15:23). Dia menyapa Yesus sebagai Kyrios (Tuan, Tuhan) dan “Putera/Anak Daud” yang sangat kental bernada Yahudi. Pada waktu Yesus pada mulanya tidak memberi jawaban atas permohonannya, perempuan Kanaan ini terus bersikukuh sambil menyembah Yesus mohon sekali lagi agar Dia menolongnya. Bahkan ketika jawaban Yesus terkesan menyakitkan, perempuan penuh iman ini dengan cerdas dan rendah-hati mengakui, bahwa meskipun dia orang asing yang berada di luar “Perjanjian YHWH dengan bangsa/umat Yahudi”, dia dapat juga memperoleh manfaat dari pelayanan Yesus di tengah-tengah umat Yahudi. Akhirnya, Yesus pun memuji iman perempuan Kanaan yang besar itu dan menyembuhkan anak perempuannya.

Ada dua aspek menentukan dalam iman-besar ibu Kanaan itu. Yang pertama adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang yang sungguh rendah hati. Yang kedua, dia ini adalah seorang pribadi yang memiliki ketekunan. Dia mendatangi Yesus, dia minta dikasihani, minta tolong kepada Yesus sambil menyembah-Nya; hal sedemikian bukanlah sikap umum orang-orang non-Yahudi terhadap seorang Yahudi. Yang lebih menyentuh hati adalah, bahwa perempuan ini mengakui posisinya yang lebih rendah ketimbang orang Yahudi dalam rencana penyelamatan Allah.  Karena ketekunannya perempuan ini tidak mundur oleh ketiadaan jawaban dari Yesus pada awalnya, juga dia tidak berputus-asa karena pandangan negatif para murid Yesus terhadap dirinya, bahkan juga oleh jawaban Yesus yang terasa menyakitkan. Semua yang kelihatan sebagai penghalang malah membuat dirinya semakin dekat dengan Yesus dan mengintensifkan kesungguhannya dalam memohon pertolongan kepada Yesus.

Marilah kita belajar dari perempuan Kanaan ini, teristiwa kerendahan hatinya yang tulus dan ketekunannya dalam menyampaikan permohonannya kepada Yesus. Janganlah kita menjadi merasa gelisah bagaimana kita dapat bertumbuh sebaik-baiknya di dalam dua keutamaan yang disebutkan tadi. Setiap hari kita menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan yang sebenarnya memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar cara mendekati Yesus seperti dicontohkan oleh Ibu Kanaan ini dan oleh sederetan panjang nama-nama orang kudus yang terdapat dalam Kitab Suci dan sepanjang sejarah Gereja.  Yang diperlukan oleh kita adalah agar tetap membuka mata hati kita dan menjaga agar hati kita tetap murni. Dengan demikian kita masing-masing dapat dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang rendah hati dan tekun. Maka kita pun akan menyadari  bahwa sebenarnya Yesus selalu ada bersama kita, menguatkan iman-kepercayaan kita dan mendengar doa-doa kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Imanuel – Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Dalam ayat terakhir Injil Matius tercatat bahwa Dia sendiri bersabda: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku ingin lebih dekat lagi dengan-Mu, ya Tuhan. Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk selalu mendekati diri-Mu dengan rendah hati dan iman yang tekun. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH

SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN (YHWH) berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada YHWH. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah YHWH dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah YHWH dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, YHWH menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa YHWH. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? Sebab itu bangkitlah murka YHWH terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya. Lalu berserulah Musa kepada  YHWH: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Kemudian berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.” Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran. (Bil 12:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13; Bacaan Injil: Mat 15:1-2,10-14  

Dalam hikmat-Nya, Allah memanggil sejumlah orang untuk menjadi pewarta Kabar Baik-Nya, sejumlah orang untuk menjadi nabi, dan sejumlah orang untuk menjadi guru. Namun demikian, mereka semua hidup di bawah Roh-Nya. “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan” (1Kor 12:4-5).

Panggilan Allah senantiasa unik bagi kita masing-masing, dan secara istimewa Dia memberkati orang-orang yang menanggapi panggilan-Nya dengan kerendahan hati, mereka yang menyadari bahwa panggilan Allah itu tidak datang karena talenta-talenta yang mereka miliki, tetapi datang dari tangan Allah sendiri dan berdasarkan pilihan-Nya sendiri. Ini adalah sikap Musa, hal mana menjelaskan mengapa Musa sangat berkenan di mata Allah.

Kitab Suci mengatakan bahwa Musa “ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bil 12:3). Karena Musa sedemikian rendah hati, Allah dapat berbicara langsung dengan dirinya (Bil 12:8). Allah dapat sepenuhnya percaya bahwa Musa tidak akan menjadi sombong karena posisinya untuk memimpin bani Israel dan menyalahgunakan otoritasnya.

Ini adalah jantung dari seorang pelayan Tuhan yang sejati, dan inilah yang belum mampu dipahami oleh Harun dan Miriam. Rasa iri hati mereka mengungkapkan suatu hasrat untuk dapat diakui dan dihormati banyak orang, dan hal ini mengungkapkan bahwa mereka sesungguhnya belum siap untuk memikul tanggungjawab pekerjaan (jabatan) yang mereka cari-cari. Sebaliknyalah dengan Musa. Ketika melihat Miriam terkena kusta, Musa tidak merasa senang/gembira, melainkan langsung dengan hati tulus bedoa untuk kesembuhan saudarinya ini. Musa juga langsung mengampuni Miriam yang menentang dirinya serta telah berbicara melawan dirinya.

Sikap dan perilaku Musa sungguh mengingatkan kita akan sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Yesus memberkati, bukan mengutuk orang-orang yang menyiksa diri-Nya. Yang utama dan pertama bagi Yesus adalah mencari kehendak Bapa surgawi dan merangkulnya, kemudian memperkenankan Bapa surgawi memberikan kuat-kuasa untuk melaksanakan kehendak-Nya tersebut. Kerendahan hati seperti ini sangat berkenan di mata Allah.

Banyak orang kudus dan pilar-pilar iman telah mewariskan kepada kita tulisan-tulisan dan perbuatan-perbuatan kepahlawanan mereka sebagai contoh untuk kita ikuti/tiru. Namun demikian, ada banyak sekali orang-orang yang kerendahan hati mereka dan cintakasih mereka hanya diketahui oleh Allah sendiri. Setiap hari kita diundang untuk bergabung dengan “para kudus tanpa nama” (para pahlawan-iman tanpa nama) apabila kita dengan rendah hati mencari kehendak Allah, merangkulnya sebagai kehendak kita sendiri, dan mengandalkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus guna memampukan kita untuk taat kepada Allah yang sangat mengasihi kita.

DOA: Tuhan Yesus, di atas segala-galanya kami ingin menyenangkan Bapa surgawi dengan mencari kehendak-Nya dalam kerendahan hati. Berdayakanlah kami hari ini agar mampu memikul tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kami seturut kehendak-Nya; dan hidup sepenuhnya bagi Engkau. Penuhilah diri kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi pelayan-pelayan-Mu yang rendah hati dan setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:1-2,10-14), bacalah tulisan yang berjudul “KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Senin, 7 Agustus 2017)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Martir

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21) 

Bacaan Pertama:  Bil 11:4b-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:12-17 

Dalam Perjanjian Lama diceritakan bagaimana dengan penuh keajaiban Allah (YHWH) memberikan makanan kepada orang-orang Israel dengan roti dari surga yang dinamakan manna (Kel 16). Ia menyediakan roti secukupnya bagi setiap orang setiap hari. Mukjizat pergandaan roti dan ikan dalam bacaan Injil hari ini tentunya mengingatkan orang banyak yang hadir dalam peristiwa itu (dan kita juga) akan manna dan burung puyuh yang disediakan Allah pada waktu nenek moyang mereka mengembara di tengah padang gurun (lihat bacaan pertama; ditambah dengan Bil 14:31 dsj.). Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini juga mengingatkan akan penggandaan roti yang dilakukan oleh nabi Elisa (2Raj 4:42-44).

Selagi kita merenungkan bacaan mengenai mukjizat penggandaan roti oleh Yesus ini, kita tidak bisa tidak akan melihat bagaimana Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH, Bapa-Nya, sumber segala kebaikan bagi umat-Nya. Pada saat yang sama, Yesus menyatakan bahwa kasih Allah dan kebaikan-Nya dihadirkan melalui diri-Nya.

Peristiwa penggandaan roti dan ikan ini dalam Injil Matius diceritakan langsung setelah cerita mengenai kematian Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12). Apakah kita dapat mengatakan bahwa kematian ini merupakan semacam gambaran awal dari kematian Yesus sendiri? Sebagai tanggapan terhadap berita menyedihkan itu, Yesus menyingkir dan menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil untuk bersekutu dengan Bapa-Nya secara lebih mendalam, barangkali untuk memeditasikan sengsara dan kematian-Nya kelak.

Orang banyak mengantisipasi gerak-gerik Yesus dengan cukup baik. Mereka berhasil mengikuti Yesus dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus sampai di darat sudah ditunggu oleh orang banyak yang besar jumlahnya. Yesus tidak menjadi marah terhadap orang banyak itu, sebaliknya Injil Matius mencatat: “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat 14:14).

Dalam terang sengsara yang akan diderita-Nya, Yesus ingin memberikan suatu wawasan yang lebih mendalam menyangkut kemurahan hati yang sangat mendalam dari Allah melalui apa yang Dia sendiri siap lakukan bagi mereka. Pada waktu para murid menyarankan agar orang banyak itu disuruh pergi agar mereka dapat membeli makanan di desa-desa untuk mereka sendiri, Yesus menjawab dengan tegas: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16).

Setelah mengucap syukur, Yesus menggandakan ke lima roti dan dua ikan itu untuk memberi makan orang banyak yang dapat saja berjumlah 20 ribu sampai 30 ribu orang, laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang-orang sebanyak ini, kalau digabung dengan peristiwa penggandaan yang kedua (Mat 15:32-38) dapat mencapai sekitar 10% dari total penduduk Palestina pada waktu itu.

Yesus melakukan intervensi pada suatu situasi yang menurut pandangan para murid-Nya tidak memungkinkan, dan Ia malah memberikan makanan lebih daripada yang dibutuhkan: “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh” (Mat 14:20).

Dengan tindakan-Nya mengucap syukur dan memecah-mecah roti, kemudian memberi makan beribu-ribu orang pada hari itu, Yesus sebenarnya menunjuk kepada hal yang tidak lama lagi akan dilakukan-Nya – memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri melalui Ekaristi sebagai makanan yang memberi kehidupan kepada dunia. Pada gilirannya, Ekaristi mengantisipasi perjamuan mesianis (Messianic banquet), suatu imaji dari damai-sejahtera, sukacita, dan persekutuan yang sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan dalam Kerajaan Allah.

Pikiran orang-orang modern cenderung untuk merasionalisir atau mengabaikan signifikansi dari penggandaan roti dan ikan, tentunya berdasarkan alasan bahwa hal tersebut tidaklah mungkin. Dengan bersikap dan berperilaku seperti itu, kita gagal mengakui kemurahan hati yang teramat besar dari Allah, di masa lampau, kini dan yang akan datang – yang dinyatakan lewat mukjizat ini. Bagi mereka yang tidak percaya akan mukjizat seperti ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa mukjizat itu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).  Mukjizat di El Paso, Texas merupakan salah satu bukti nyata dari mukjizat penggandaan yang terjadi di dunia modern.

Namun demikian, keajaiban dari peristiwa penggandaan roti dan ikan itu janganlah sampai menghalangi kita untuk menangkap pesan hakiki peristiwa itu, yaitu bahwa orang yang lapar harus diberi makan. Ini adalah misi Yesus dan tanggung jawab para murid-Nya. Sebagai murid-murid Yesus, kita harus senantiasa memiliki kemauan untuk berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang mempunyai kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain dan berikanlah kepadaku keberanian untuk menanggapi secara positif kebutuhan-kebutuhan mereka itu. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu, ya Tuhan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUH YANG TERLUKA” (bacaan tanggal 7-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)  

Cilandak, 4 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS