Posts tagged ‘PENGEJARAN & PENGANIAYAAN’

DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam  

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5 

Cukup sering Yesus menyebut kata “dunia”: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”  (Yoh 15:18). Di sini Yesus tidak memaksudkan “dunia”’ dalam artiannya yang konkret sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, “dunia” mewakilkan suatu sistem dari yang jahat, yang dikendalikan oleh kuasa-kuasa kegelapan. Setiap hal yang ada di dalam sistem itu bertentangan/berlawanan dengan pemerintahan Allah. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19).

Yesus mengalami sendiri apa artinya kebencian itu. Oleh karena itu Dia wanti-wanti mengingatkan para murid-Nya: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Nubuatan Yesus ini telah terbukti benar pada segala zaman melalui kisah hidup para kudus.

Yohanes (Don) Bosco [1815-1888] adalah seorang imam praja anggota Ordo III sekular St. Fransiskus yang kemudian mendirikan Serikat Salesian (SDB). Ia dikenal di seluruh Italia untuk karya pelayanannya bagi anak-anak miskin dan yatim-piatu. Namun kebaikan dan kemurahan hatinya samasekali tidak membebaskan dirinya dari penganiayaan. Situasi politik Italia pada zaman Don Bosco sangatlah anti Katolik, dan imam ini seringkali difitnah oleh media surat kabar. Don Bosco juta selamat dari beberapa kali serangan fisik yang dilakukan oleh preman bayaran. Pada suatu hari dia ditembak oleh seorang pembunuh bayaran, namun selamat. Peluru yang ditembakkan nyaris mengenai dirinya, hanya membuat bolong jubah luar yang sedang dikenakannya. Ada catatan tentang orang kudus ini sebagai berikut: Don Bosco tidak pernah memperkenankan kemalangan merusak sukacitanya dalam melayani Kristus.

Maximilian Kolbe [1894-1941] adalah seorang imam Fransiskan Konventual Polandia. Imam ini barangkali menghadapi salah satu bentuk kejahatan yang paling sistematik di abad ke-20: Naziisme dari Hitler. Dengan berani dia menolak paham Naziisme pada tahun-tahun menjelang pecahnya Perang Dunia II. Pada waktu pasukan Nazi Jerman berhasil menduduki Polandia, mereka pun menjebloskan Pater Kolbe ke kamp konsentrasi Auschwitz. Para saksi mata memberi kesaksian bahwa para penjaga kamp konsetrasi seringkali memperlakukan imam yang lemah fisik ini secara di luar perikemanusiaan, namun mereka tidak pernah dapat menghancurkan damai-sejahtera yang ada dalam batin Pater Kolbe, atau mencegah dia menolong para tahanan lainnya yang membutuhkan pertolongan. Kasihnya kepada Kristus begitu besar sehingga secara sukarela imam ini menggantikan seorang tahanan lain yang akan dihukum mati karena dia mempunyai keluarga. Para pejabat dan petugas Nazi kemudian menghukum mati orang Kristiani ‘kepala batu’ yang bernama Maximilian Kolbe ini, pada tanggal 14 Agustus 1941.

Putera Allah datang ke dalam dunia tepatnya karena dunia merupakan sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan. Ia datang untuk membebaskan semua orang yang berada dalam cengkeraman si Jahat dan tidak tahu sedikit pun tentang kasih Allah: “Mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:21). Ia memilih para pengikut-Nya dari dunia ini untuk menjadi terang dalam kegelapan. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengalami penganiayaan; namun Ia juga menjamin bahwa mereka akan menyaksikan “kasih mengalahkan kebencian”, “kehidupan akan menang atas kematian”.

DOA: Tuhan Yesus, dengan mencontoh pengorbanan diri-Mu, kami para murid-Mu, menjadikan diri kami suatu sakramen hidup dari ‘Tuhan Kehidupan’ yang sungguh bangkit dan telah mengalahkan kegelapan dunia. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KETEKUNAN AKAN MENDATANGKAN BERKAT

KETEKUNAN AKAN MENDATANGKAN BERKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 25 November 2015)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67

Masih ingatkah anda bagaimana populernya berbagai nubuat tentang akhir dunia selagi kita mendekati tahun 2000?  Pada waktu itu tidak sedikit orang yang mengalami excitement terkait prediksi-prediksi mengenai berbagai bencana alam dan malapetaka yang akan mendahului akhir zaman.

Orang-orang Yerusalem yang mendengar prediksi-prediksi Yesus tentang akhir zaman, yaitu tentang penghancuran/kehancuran Yerusalem, dan penganiayaan yang akan menimpa para murid-Nya barangkali lebih-lebih bereaksi dengan penuh ketakutan daripada excitement. Memang sepantasnya begitu! Sejarah mencatat bahwa pada tahun 70, suatu revolusi yang gagal melawan pemerintahan Romawi telah mengakibatkan kematian ribuan orang-orang tak bersalah, bencana kelaparan dalam skala besar, dan penghancuran Bait Suci.  Hanya setelah gambaran tentang segala penderitaan ini, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya bahwa sesungguhnya sebelum peristiwa-peristiwa ini mereka akan menderita penganiayaan.

Jadi, di manakah “kabar baik”-nya yang ada dalam semua cerita ini? “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh kita-manusia – bertahan/bertekun – akan mendatangkan berkat yang jauh melampaui segala kemampuan manusiawi kita: keselamatan penuh dan hidup kekal dalam kehadiran Allah Yang Mahakuasa.

Seperti orang-orang Yahudi pada abad pertama, kepada kita umat Kristiani pada millenium ketiga tidak dijanjikan hidup nyaman. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sesuatu yang jauh lebih besar. Ia berjanji untuk membawa orang-orang yang tetap setia kepada-Nya pulang ke rumah dengan aman, ke sebuah kerajaan yang tidak dapat dihancurkan. Yang diminta dari kita adalah suatu hidup ketekunan. “Katekismus Gereja Katolik” (KGK) menjelaskan sebagai berikut:

“Semua orang dipanggil kepada kekudusan: ‘Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna’ (Mat 5:48). Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya … mereka melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah” (KGK, 2013).

Dengan panggilan yang sedemikian agung di depan kita, marilah kita tetap menaruh kepercayaan kita pada Dia yang mengasihi kita sedemikian rupa sehingga rela mati bagi kita. Marilah kita mendengarkan dengan penuh perhatian nasihat dari Roh Kudus dan melatih mata kita agar dapat melihat hadiah untuk kita, yaitu Yerusalem surgawi.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku ingin berpegang teguh pada janji-Mu akan kehidupan kekal. Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku berjanji untuk mengikuti ke mana saja Engkau memimpinku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……” (bacaan tanggal 25-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 22 November 2015 [HARI RAYA KRISTUS RAJA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 26 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Leonardus dr Porto Mauritio, Imam

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Why 15:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-3,7-9

Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi, difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

S. EDITH STEIN - BBKarena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.

Edith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

S, EDITH STEIN - AACerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengsihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “BERTEKUNLAH !!!” (bacaan tanggal 26-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KEBENARAN YANG KELUAR DARI BAPA

ROH KEBENARAN YANG KELUAR DARI BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 6 Mei 2013)

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Kehidupan orang-orang Kristiani yang pertama bukanlah suatu kehidupan yang mudah. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Yahudi yang telah merangkul Yesus sebagai sang Mesias, dan sebagai akibatnya mereka mengalami pengejaran dan penganiayaan dari mayoritas bangsa Yahudi.

“Dikeluarkan dari sinagoga” berarti bahwa para pemimpin Yahudi melarang orang-orang Kristiani untuk melakukan kebaktian dan persekutuan dengan orang-orang Yahudi yang lain. Marilah sekarang kita lihat apa yang tercatat dalam Injil Yohanes: “Para pemuka Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan” (Yoh 9:22). “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kesadaran berkomunitas orang-orang Yahudi pada abad pertama sangatlah tinggi. Dengan demikian “dikucilkan” dari komunitasnya merupakan suatu pengalaman yang sangat menyedihkan bagi orang-orang Kristiani yang pertama.

Namun demikian, Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada para murid-Nya. Roh Kudus inilah yang akan melanjutkan menyatakan kepada mereka perihal kasih Yesus dan perlindungan-Nya (Yoh 15:26). Oleh kuat-kuasa Roh Kudus inilah orang-orang Kristiani yang pertama mampu dengan penuh kesabaran dan secara heroik menanggung penderitaan yang disebabkan oleh pengejaran dan penganiayaan para lawan umat Kristiani.

Ada sepucuk surat yang dinamakan “Surat kepada Diognetus”, sebuah epistola Kristiani kuno namun anonim. Surat ini menggambarkan hati dari umat Kristiani perdana: “Orang-orang Kristiani mengasihi semua orang; namun semua orang menganiaya mereka. Dihukum karena mereka tidak dapat dipahami, mereka dihukum mati, namun dibangkitkan kepada kehidupan lagi. Mereka hidup dalam kemiskinan; akan tetapi mereka memperkaya banyak orang. Mereka miskin-melarat secara total; namun memiliki suatu kelimpahan dari setiap hal. Mereka menderita karena ketiadaan kehormatan; namun itulah kemuliaan mereka. Mereka difitnah, namun nama baik mereka dipulihkan. Suatu berkat adalah jawaban mereka terhadap pelecehan terhadap diri mereka, rasa hormat adalah tanggapan mereka terhadap penghinaan. Sebagai balasan terhadap hal-hal baik yang mereka lakukan, mereka menerima hukuman karena dinilai melakukan tindakan melawan hukum, walaupun begitu mereka bersukacita, seakan menerima karunia kehidupan.”

Mudahlah bagi orang untuk melupakan bahwa pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani masih berlanjut sampai hari ini. Di banyak tempat di dunia kita mempunyai saudari dan saudara dalam Kristus yang menderita karena cintakasih mereka kepada Tuhan. Ada yang disiksa dan malah dibunuh sebagai martir oleh orang-orang yang pemerintah/penguasa yang anti Kristiani; ada pula yang dibuang dari kelompok etnis mereka sendiri. Ada juga yang menderita karena kesetiaan mereka kepada kebenaran bertentangan dengan ekspektasi dari keluarga atau rekan kerja.

Yesus memang benar ketika mengatakan bahwa siapa saja yang mengikut Dia dapat mengharapkan datangnya kesulitan dan pencobaan-pencobaan selagi mereka menjalani kehidupan seturut Injil Yesus Kristus. Akan tetapi, Yesus juga berjanji bahwa Roh Kudus akan ada bersama kita untuk menguatkan dan menghibur kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, kita tidak sendiri! Kasih Allah di dalam diri kita dan antara kita satu sama lain adalah suatu sumber sukacita yang besar, suatu sukacita yang mengalahkan kesulitan.

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a) bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 6-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2013.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUSINESSWOMAN FILIPI DIBAPTIS” (bacaan tanggal 10-5-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 27 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MENYERAH

KITA TIDAK PERNAH BOLEH MENYERAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III – Rabu, 17 April 2013)

KISAH - STEFANUS DIRAJAMPada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40)

Bacaan hari ini menggambarkan masa/zaman di mana Gereja Kristus mengalami pengejaran dan penganiayaan disertai berbagai bentuk kekerasan pada usianya yang masih sangat muda. Para anggota Gereja yang saleh baru saja menguburkan martirnya yang pertama, Diakon Stefanus. Sekarang, muncullah seorang Farisi yang bernama Saulus dari Tarsus yang dengan semangat berapi-api bertekad untuk menghancurkan “sekte” keagamaan yang baru berkembang tersebut. Hal ini merupakan ancaman terhadap umat Kristiani di mana-mana.

Segalanya kelihatan gelap. Namun demikian, walaupun di tengah-tengah masa-masa sulit sedemikian, Gereja bertumbuh-kembang secara relatif cepat, dan tanpa menggunakan kekerasan tentunya. Pengejaran, penganiayaan dan kemartiran kelihatannya malah memperkokoh iman umat Kristiani perdana. Allah membuat mukjizat-mukjizat lewat umat-Nya. Kelihatannya tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan dunia untuk menghentikan pertumbuhan Gereja yang cepat itu.

Dalam artian tertentu, Gereja di Indonesia tercinta ini juga mengalami penganiayaan, walaupun masih jauh lebih ringan daripada yang pernah dialami umat di negara-negara lain, misalnya negara-negara Komunis. Namun demikian, kita terkadang memandang kehidupan kita dan melihat tidak ada apa-apa selain suatu horison yang gelap. Barangkali kita sedang menderita karena adanya skandal dalam paroki atau keuskupan kita. Kehilangan pekerjaan, penyakit yang serius dan mematikan, atau relasi yang patah – semua ini dan banyak lagi – dapat merampas pengharapan yang kita perlukan. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh bacaan di atas, walau pun dalam saat-saat kegelapan, terang Kristus dapat tetap terang bercahaya dalam hati kita. Kita masih aman di tangan-tangan ‘seorang’ Allah Mahakuasa yang mengasihi kita dengan lemah lembut, kasih yang tak mengenal akhir.

Kita harus mengingat bahwa Allah senantiasa lebih besar secara tak terhingga ketimbang kejahatan sebesar apa pun yang mau ditimpakan kepada kita, umat-Nya dan …… anak-anak-Nya sendiri. Memang kita terkadang merasa “sunyi-sepi-sendiri” dan tertekan dalam kesendirian kita itu, namun kenyataannya adalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita atau Gereja-Nya. Kita merasa ditinggalkan apabila kita menaruh seluruh pengharapan kita pada manusia, apakah mereka dokter, imam, orangtua, atau bahkan pasangan hidup kita. Tidak ada seorang pun yang tidak rentan terhadap dosa atau kelemahan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, Allah itu sempurna, dan Ia mengikat diri-Nya sendiri kepada kita dalam suatu ikatan-kasih yang bersifat kekal abadi.

Marilah kita mendorong satu sama lain untuk tetap mengarahkan pandangan kita ke surga pada hari ini. Bapa surgawi senantiasa ada bersama kita untuk melindungi dan membimbing kita. Marilah kita mendorong dan menguatkan satu sama lain untuk menaruh kepercayaan kepada janji-janji yang telah dibuat-Nya. Allah sepenuhnya dapat dipercaya. Dia bahkan akan menggunakan saat-saat kita mengalami pencobaan untuk membuktikan kekuatan-Nya dan membuat kokoh iman kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh menyerah, karena Allah ada di pihak kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan hatiku kepada-Mu dan meletakkan segala ketidakpercayaanku di dekat kaki-kaki-Mu. Engkau adalah Allahku, dan aku tidak akan merasa takut karena Engkau selalu ada bersamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA YESUS, HANYA YESUS, HANYA YESUS ……” (bacaan tanggal 17-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2013.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI ORANG-ORANG BIASA” (bacaan tanggal 11-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 April 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS