Posts tagged ‘PEREMPUAN KANAAN’

IMAN YANG MENGAGUMKAN DARI SEORANG PEREMPUAN SIRO-FENISIA

IMAN YANG MENGAGUMKAN DARI SEORANG PEREMPUAN SIRO-FENISIA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 8 Februari 2018)

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan orang jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:3-4,35-37,40

Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa misi-Nya bukanlah terutama untuk orang-orang non-Yahudi (baca: kafir), melainkan Ia datang untuk memanggil orang-orang Yahudi kembali kepada Allah (Mat 5:17; 10:5-6; Yoh 1:31). Walaupun begitu, ketika seorang perempuan Yunani keturunan Siro-Fenisia memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya, Yesus melangkah keluar dari “kotak” tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Jadi, satu lagi contoh bagaimana Yesus “melanggar peraturan” yang berlaku demi tegaknya Kerajaan Allah.

Jelas, Yesus bukan menganjurkan adanya anarki. Dia sangat mengetahui dan mengajar  lewat khotbah-khotbah-Nya, bahwa Allah menetapkan peraturan-peraturan untuk membimbing dan melindungi umat-Nya dalam perjalanan mereka menuju kehidupan kekal bersama-Nya. Akan tetapi, peraturan-peraturan itu dimaksudkan sebagai penjaga, bukan sebaliknya – peraturan menjadi panglima. Jadi, apakah yang telah memprovokasi Yesus untuk mengubah pola-kerja-Nya dan malah menolong perempuan Siro-Fenisia itu? Iman perempuan itu! Lagi-lagi kita melihat Yesus yang merasa kagum sekali apabila melihat iman-penuh-ketekunan yang dimiliki seseorang (Mat 8:10-12; Luk 7:44-50; Mrk 5:30-34).

Kita semua adalah anak-anak Allah, bukan hamba-hamba (budak-budak)-Nya. Sebagai anak-anak Allah, kita dapat berjalan dalam kebebasan: kebebasan dari dosa (Ibr 2:14-15), kebebasan untuk mengungkapkan iman kita melalui kasih (Gal 5:1,6), kebebasan untuk hidup oleh Roh (Rm 8:2,4), bahkan kebebasan untuk meneladan Yesus  dalam kemauan-Nya untuk bergerak melampaui ketaatan kaku terhadap peraturan-peraturan.

Pengalaman menunjukkan bahwa apabila kita menyediakan cukup banyak waktu untuk mengikuti Yesus, maka Dia akan memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk melakukan terobosan terhadap segala peraturan dan batasan yang kita buat sendiri demi Injil. Barangkali anda sekarang menjadi tertarik untuk melakukan pelayanan kepada saudari-saudara yang sedang mendekam di penjara, walaupun anda tidak mempunyai pengalaman samasekali di bidang pelayanan itu. Atau, barangkali anda dipimpin untuk bekerja di sebuah rumah singgah, walaupun mula-mula ada keengganan untuk meninggalkan rumah anda yang terletak di lingkungan yang nyaman. Seorang imam muda misionaris Indonesia di Taiwan bercerita, bahwa seorang sahabatnya adalah seorang biarawati lokal Taiwan yang sudah tua sekali. Suster itu sangat periang dan sejak muda selalu melayani suster-suster lain dalam biaranya. Suster itu memilih untuk terus melayani dengan segala keterbatasannya karena usianya yang sudah lanjut, daripada hidup sebagai pensiunan suster yang sehari-hari dilayani. Jadi, kesempatan-kesempatan yang tersedia sebenarnya tak terbatas, asal saja kita mau melangkah keluar dari batasan-batasan yang “normal”, ……artinya berani keluar dari kotak yang membatasi gerak-gerik kita.

Seandainya Yesus menolak permohonan perempuan Siro-Fenisia itu, maka dia tidak akan diberkati. Demikian pula, kita dipanggil untuk memberi tanggapan terhadap permohonan-permohonan yang diajukan kepada kita. Dengan iman kepada Yesus, kita pun dapat melihat Allah melakukan banyak perbuatan yang besar atas orang-orang lewat diri kita. Oleh karena itu, kita harus mempunyai iman dan mengambil langkah. Kita akan melihat apa yang Allah dapat lakukan melalui diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu dan belas-kasihan-Mu kepada-Ku. Oleh Roh Kudus-Mu, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat menjadi saksi-Mu yang tangguh. Anugerahkanlah kepadaku keberanian dan hikmat-kebijaksanaan untuk melayani Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KETEKUNAN DAN IMAN YANG DITUNJUKKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN KAFIR” (bacaan tanggal 8-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 6 Februari 2018 [Peringatan S. Petrus Baptista dkk. Martir Nagasaki] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Dalam kitab-kitab Injil yang empat itu, hanya dua orang yang dipuji oleh Yesus untuk iman mereka yang besar: Yang pertama adalah seorang perwira tentara Romawi yang berkata kepada Yesus: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya tentang iman sang perwira itu: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Yang kedua adalah perempuan Kanaan yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, yang “ngotot” mohon kepada Yesus agar puterinya disembuhkan/dilepaskan dari kuasa roh jahat. Memang pada teks di atas yang diambil dari Perjanjian Baru edisi TB II-LAI pujian Yesus tidak secara eksplisit mengungkapkan betapa besar iman sang ibu Kanaan itu, namun kiranya pujian Yesus itu lebih jelas terasa dalam teks Alkitab TB I-LAI. Bunyinya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Yang menyentuh hati adalah kenyataan, bahwa kedua orang yang memiliki “iman besar” itu adalah bukan orang Yahudi …… orang-orang kafir; mereka yang dipandang tidak bersih oleh sebagian besar umat Yahudi.

Perempuan Kanaan ini menghadapi dua buah rintangan, katakanlah handicaps: (1) Kenyataan bahwa dia bukan orang Yahudi; dan (2) kenyataan bahwa dia adalah seorang perempuan yang dipandang tak bernilai dalam masyarakat Yahudi. Namun demikian, demi cintakasihnya kepada puterinya yang menderita, ibu Kanaan ini tidak berputus-asa. Dia tetap ngotot mohon pertolongan Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud …” (Mat 15:22) … “Tuhan, tolonglah aku” (Mat 15:25). Dia terus berteriak-teriak minta tolong selagi mengikuti Yesus (Mat 15:23). Dia menyapa Yesus sebagai Kyrios (Tuan, Tuhan) dan “Putera/Anak Daud” yang sangat kental bernada Yahudi. Pada waktu Yesus pada mulanya tidak memberi jawaban atas permohonannya, perempuan Kanaan ini terus bersikukuh sambil menyembah Yesus mohon sekali lagi agar Dia menolongnya. Bahkan ketika jawaban Yesus terkesan menyakitkan, perempuan penuh iman ini dengan cerdas dan rendah-hati mengakui, bahwa meskipun dia orang asing yang berada di luar “Perjanjian YHWH dengan bangsa/umat Yahudi”, dia dapat juga memperoleh manfaat dari pelayanan Yesus di tengah-tengah umat Yahudi. Akhirnya, Yesus pun memuji iman perempuan Kanaan yang besar itu dan menyembuhkan anak perempuannya.

Ada dua aspek menentukan dalam iman-besar ibu Kanaan itu. Yang pertama adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang yang sungguh rendah hati. Yang kedua, dia ini adalah seorang pribadi yang memiliki ketekunan. Dia mendatangi Yesus, dia minta dikasihani, minta tolong kepada Yesus sambil menyembah-Nya; hal sedemikian bukanlah sikap umum orang-orang non-Yahudi terhadap seorang Yahudi. Yang lebih menyentuh hati adalah, bahwa perempuan ini mengakui posisinya yang lebih rendah ketimbang orang Yahudi dalam rencana penyelamatan Allah.  Karena ketekunannya perempuan ini tidak mundur oleh ketiadaan jawaban dari Yesus pada awalnya, juga dia tidak berputus-asa karena pandangan negatif para murid Yesus terhadap dirinya, bahkan juga oleh jawaban Yesus yang terasa menyakitkan. Semua yang kelihatan sebagai penghalang malah membuat dirinya semakin dekat dengan Yesus dan mengintensifkan kesungguhannya dalam memohon pertolongan kepada Yesus.

Marilah kita belajar dari perempuan Kanaan ini, teristiwa kerendahan hatinya yang tulus dan ketekunannya dalam menyampaikan permohonannya kepada Yesus. Janganlah kita menjadi merasa gelisah bagaimana kita dapat bertumbuh sebaik-baiknya di dalam dua keutamaan yang disebutkan tadi. Setiap hari kita menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan yang sebenarnya memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar cara mendekati Yesus seperti dicontohkan oleh Ibu Kanaan ini dan oleh sederetan panjang nama-nama orang kudus yang terdapat dalam Kitab Suci dan sepanjang sejarah Gereja.  Yang diperlukan oleh kita adalah agar tetap membuka mata hati kita dan menjaga agar hati kita tetap murni. Dengan demikian kita masing-masing dapat dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang rendah hati dan tekun. Maka kita pun akan menyadari  bahwa sebenarnya Yesus selalu ada bersama kita, menguatkan iman-kepercayaan kita dan mendengar doa-doa kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Imanuel – Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Dalam ayat terakhir Injil Matius tercatat bahwa Dia sendiri bersabda: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku ingin lebih dekat lagi dengan-Mu, ya Tuhan. Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk selalu mendekati diri-Mu dengan rendah hati dan iman yang tekun. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 3 Agustus 2016) 

YESUS DAN PEREMPUAN KANAANKemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Yer 31:1-7; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Pernahkah Saudari-Saudara memikirkan dan bertanya kepada diri sendiri apakah anda seorang Kristiani positif atau seorang Kristiani yang  negatif? Dua hal itu sangat berbeda satu sama lain. Apabila anda adalah seorang Kristiani yang positif, maka anda menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik karena pengaruh baik dan positif atas diri orang-orang lain. Sebaliknya, jika anda adalah seorang Kristiani yang negatif, maka anda menjadikan dunia ini lebih buruk dan lebih rusak karena dosa daripada sebelum anda datang.

Ada banyak tes dengan mana kita dapat melihat apakah kita adalah orang yang positif/plus atau negatif/minus sebagai seorang Kristiani. Satu cara adalah lewat sikap yang kita ambil terhadap tindakan-tindakan orang lain. Misalnya, apakah sikap yang kita (anda dan saya) ambil terhadap Yesus dalam bacaan Injil hari ini? Apakah kita merasa  negatif terhadap apa yang dilakukan oleh Yesus? Apakah anda kaget dan merasa tidak enak tentang sikap dan kata-kata Yesus yang terasa kasar atau “dingin” terhadap perempuan Kanaan itu?

Atau, apakah kita merasa positif tentang Yesus di sini? Apakah kita bertanya, “Apakah yang Yesus ketahui, sedangkan aku tidak ketahui, sampai-sampai Dia men-tes perempuan kafir ini? Apakah Yesus mengetahui ada sebuah rumah harta iman dan kerendahan hati dalam diri perempuan Kanaan yang hebat ini, sehingga Yesus dapat menyatakan dengan cara terbaik tentang hal itu lewat men-tes perempuan itu? Dalam kenyataannya, itulah tentunya yang terjadi. Yesus men-tes perempuan itu, dan imannya, kerendahan hatinya, dan ketekunannya ternyata indah dan berkenan kepada-Nya.

Ini adalah semuanya kualitas doa dan kualitas hidup yang Yesus ajarkan tanpa bosan-bosan. Adakah cara lain yang lebih baik yang dapat diajarkan-Nya, kecuali dengan menggunakan sebuah contoh hidup kepada kita? Perempuan Kanaan yang beriman  adalah jawaban perempuan kepada orang laki-laki beriman, perwira Romawi. Perwira ini juga dipandang oleh Yesus sebagai contoh dari iman yang besar: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Jadi, apakah sebenarnya yang diajarkan Yesus lewat contoh perempuan Kanaan ini? Ada beberapa hal: (1) Jangan menyerah jika doa kita tidak langsung dijawab. (2) Allah men-tes atau menguji, untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita. (3) Janganlah kita mengancam Allah atau membuat tuntutan-tuntutan dengan doa kita. Kita harus menaruh kepercayaan terhadap kasih-Nya bagi kita, seperti yang ditunjukkan oleh perempuan Kanaan ini. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Allah mengasihi diri kita masing-masing sepenuhnya seperti Dia mengasihi orang-orang yang terjawab doanya. Dapat saja Tuhan melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan riil dalam iman dan keberanian, dalam hal kesabaran dan ketekunan. Percayalah Allah melihat bahwa kita kiranya membutuhkan keutamaan-keutamaan ini lebih daripada hal-hal lain yang kita mohonkan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku. Perkenankanlah aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu dan aku percaya kepada-Mu untuk membuang segala hal yang menghalangi diriku untuk mengenal dan mengalami Engkau. Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “HAI IBU, BESAR IMANMU!” (bacaan tanggal 3-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-8-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 1 Agustus 2016 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

HAI IBU, BESAR IMANMU!

HAI IBU, BESAR IMANMU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 5 Agustus 2015) 

YESUS DAN PEREMPUAN KANAANKemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama:Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23 

“Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28).

Dari sedemikian banyaknya orang yang dijumpai Yesus selama Dia melakukan karya pelayanan di tengah publik di muka bumi ini, siapa saja yang dikatakan oleh-Nya sebagai orang yang  “mempunyai iman yang besar”? Jelas bukan orang-orang Farisi munafik yang senantiasa mencari-cari kesalahan-Nya. Mereka memproklamasikan “kesalehan” hidup dengan bibir mereka, namun hati mereka sungguh jauh dari Allah. “Omdo”, tidak walk the talk, kata orang sono! Juga bukan para murid yang dipilih-Nya sendiri, walaupun mereka telah meninggalkan rumah dan kehidupan rutin mereka demi mengikut Yesus. Para murid Yesus, ketika mereka mendengar teriakan-teriakan perempuan Kanaan itu dan meminta kepada-Nya agar menyuruh dia pergi, menunjukkan kekurangan kepercayaan mereka tentang siapa Yesus itu. Yang diakui oleh Yesus sebagai seorang yang memiliki iman besar adalah justru perempuan Kanaan itu (Mat 15:28), …… seorang kafir di mata orang Yahudi!

Dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan itu disajikan sebagai sebuah doa. Dalam kebutuhannya akan pertolongan, perempuan itu berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud” (Mat 15:22). Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus (1Kor 12:3). Dengan hatinya yang terbuka bagi Allah, doa perempuan tersebut mengakui siapa Yesus itu dan juga kebutuhannya akan belas kasih-Nya.  Dalam upayanya mendekati Yesus, perempuan itu sungguh berani dalam mengajukan permohonannya.

Kata-kata yang diucapkannya dalam memohon kepada Yesus agar membebaskan anaknya dari roh jahat dipenuhi dengan pengharapan. Kitab Suci mengatakan bahwa kita akan menerima apa saja yang kita minta dalam nama Yesus (Yoh 14:13; bdk. 15:16). Keyakinan perempuan itu tidak tergoyahkan walaupun para murid kurang senang dengan kehadirannya di tengah keramaian orang banyak. Perempuan Kanaan itu juga tidak tersinggung oleh komentar Yesus yang awal: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 15:24). Kita baca perempuan itu tidak marah, dia malah mendekati Yesus dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku” (Mat 15:25).  Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15:26). Perempuan itu sadar bahwa dirinya bukanlah termasuk “rumah Israel”, namun ia maju terus, penuh iman dan harapan! Renungkanlah  betapa besar iman yang dimiliki oleh perempuan itu dan juga ketekunannya dalam bersyafaat untuk anak perempuannya ketika dengan penuh hikmat dia menjawab komentar Yesus di atas: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (Mat 15:27).

Kiranya orang-orang Yahudi (termasuk para murid Yesus) merasa jijik dengan perempuan itu. Dia termasuk orang yang termarginalisasikan dalam masyarakat karena dua alasan: pertama-tama dia adalah seorang kafir (non-Yahudi) dan ia adalah seorang perempuan. Yesus menunjukkan kasih-Nya bagi semua orang – tak peduli status sosialnya – segala Dia berupaya memimpin perempuan itu ke posisi yang lebih kuat dalam hal iman. Yesus tidak bisa diatur-atur oleh berbagai prasangka dan praduga orang-orang yang berada di sekeliling-Nya. Iman perempuan itu kepada Tuhan Yesus dan rasa laparnya akan kesembuhan anak perempuannya membuat dia tekun tak tergoyahkan. Untuk itu semua dia memperoleh ganjaran dari Tuhan.

Saudari dan Saudaraku, …… seperti juga perempuan Kanaan dalam bacaan Injil hari ini yang meminta dengan sangat agar Yesus menunjukkan kuat-kuasa ilahi-Nya, maka marilah kita melakukan pendekatan terhadap Yesus dalam doa, bergembira penuh sukacita dalam setiap situasi dan mengakui bahwa Allah kita adalah sang Mahalain yang penuh kemurahan hati.

DOA: Ya Tuhan Allah kami, curahkanlah rahmat-Mu pada hari ini agar kami dapat tetap setia pada sabda-Mu, mampu bertekun dalam berbagai pencobaan, dan mengetahui bahwa dalam segala sesuatu Engkau bekerja demi kebaikan semua orang yang mengasihi-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?” (bacaan tanggal 5-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 2 Agustus 2015 [HARI MINGGU BIASA XVIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN YESUS, TOLONGLAH AKU!

TUHAN YESUS, TOLONGLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 7 Agustus 2013)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir

YESUS DAN PEREMPUAN KANAANKemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat 15:21-28)

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25 – 14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Apa yang dilakukan oleh Yesus? Pada awalnya, Dia kelihatan tidak berminat untuk menolong perempuan Kanaan yang telah berseru kepada-Nya itu. Yesus di sini kelihatan tidak menentang atau mendobrak keberadaan rintangan-budaya antara diri-Nya dengan perempuan non-Yahudi (baca: Kafir), dan hal ini bukanlah perilaku yang biasa ditunjukkan oleh-Nya. Perempuan Kanaan itu harus melanjutkan meminta-minta belas kasihan dari Yesus, sebelum akhirnya dia memperoleh perhatian Yesus. Mengapa Yesus memperlakukan perempuan itu tidak seperti biasanya Dia lakukan terhadap orang-orang lain?

Yesus senantiasa mendengar seruan hati kita! Ia tidak pernah membiarkan kita menderita melampaui tujuan Allah untuk menarik kita lebih dekat dengan diri-Nya. Sebenarnya “penundaan” tanggapan Yesus memberikan tantangan kepada perempuan Kanaan itu untuk memperdalam imannya melalui ketekunan. Ada satu pelajaran mendalam yang dapat ditarik dari peristiwa ini: Siapa pun diri kita dan di mana pun posisi kita dalam masyarakat, iman kita kepada Yesus dapat mengatasi segala rintangan dan membawa kita kepada hati-Nya.

Iman perempuan Kanaan itu bukanlah sekadar persetujuan secara intelektual terhadap konsep-konsep yang tidak jelas tentang Allah, lebih daripada itu! Walau pun perempuan itu belum sepenuhnya memahami siapa Yesus sebenarnya, biar bagaimana pun juga dia menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia mengetahui kebutuhan-kebutuhannya dan dia pun menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan bagi dirinya. Dia tidak malu untuk berseru minta tolong kepada Yesus, sampai Yesus menolongnya. Seperti Santo Paulus, ia tidak merasa ragu sedikit pun untuk mempermaklumkan imannya kepada Yesus di depan publik atau untuk mengakui kebutuhannya (lihat Rm 1:16; 2Tim 1:12). Itulah sebabnya mengapa Yesus begitu senang. Digerakkan oleh iman perempuan itu, Yesus memberikan persetujuannya: “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28).

Yesus tidak malu memanggil kita sebagai saudari dan saudara-Nya – siapa pun kita ini, apakah kita orang miskin yang bermukim di bantaran sungai Ciliwung atau orang kaya yang tinggal di Pondok Indah, orang Jawa atau keturunan Cina, lulusan SMA Kanisius di Menteng Raya atau sebuah SD Negeri di Bekasi, dlsb. Yesus telah datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita dan Ia menantikan kita untuk menaruh rasa percaya dan pengharapan kita kepada-Nya. Sekarang, rintangan-rintangan atau keragu-raguan apa saja yang kita perkenankan tetap menghadang kita untuk berseru minta tolong kepada-Nya? Seperti perempuan Kanaan itu, marilah kita sekarang juga, tanpa malu-malu atau “ja-im”, berseru minta tolong kepada-Nya dan terus berseru kepada-Nya. Marilah kita (anda dan saya) mengundang Dia ke dalam kehidupan kita masing-masing guna menyembuhkan kita, membawa Injil ke dalam keluarga kita, dan mengubah seluruh dunia. Yesus itu mahasetia. Dia akan menjawab umat-Nya sesuai iman mereka masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap-Mu dalam kelemahan kami. Namun kami juga tahu bahwa kelemahan kami memberikan kepada-Mu kesempatan untuk berkarya dalam kehidupan kami. Tuhan, tolonglah kami agar kami dapat menjadi seperti perempuan Kanaan itu dan menunjukkan karya agung-Mu dalam kehidupan kami dan di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Bil 13:1-2a,25 – 14:1,26-29,34-35), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA YANG DAPAT MEMISAHKAN KITA DARI KASIH ALLAH, YANG ADA DALAM KRISTUS, TUHAN KITA” (bacaan tanggal 7-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah juga tulisan berjudul “PEREMPUAN KANAAN YANG MEMILIKI IMAN BESAR” (bacaan tanggal 3-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 1 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS