Posts tagged ‘PERJAMUAN TERAKHIR’

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10

Kasih, Ketaatan dan Sukacita!!! Pertimbangkanlah konteks kata-kata Yesus yang ditujukan-Nya kepada para murid-Nya. Dia baru saja menyelesaikan perjamuan terakhir dengan orang-orang yang sangat dikasihi-Nya. Tidak lama lagi Dia akan menyelesaikan pekerjaan Bapa di atas bumi. Hati-Nya penuh, demikian juga hati para murid. Kata-kata Yesus ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan menyemangati para murid dengan kehidupan dan pengharapan.

Yesus baru saja mengajar dan menjelaskan “perumpamaan tentang pokok anggur yang benar”: Aku menginginkan kehidupan bagimu semua; inilah caranya untuk memperoleh kehidupan itu; peganglah kata-kata-Ku ini dan hiduplah seturut kata-kata yang kuucapkan itu.

Sebenarnya Injil Yohanes menunjukkan kepada kita lebih daripada sekadar “Yesus historis”. Injil ini mengedepankan Allah-manusia yang dalam diri-Nya kita memiliki kehidupan. Kehidupan kekal tidak digambarkan sebagai suatu kejadian di masa depan, melainkan sebagai sebuah realitas yang kita cicipi, bahkan sekarang juga ketika kita percaya kepada Yesus dan hidup sesuai dengan kepercayaan itu. Kata-kata kasih, ketaatan dan sukacita memanggil kita kepada kehidupan tersebut dan memampukan kita untuk menghayatinya. Inilah pesan dari Petrus: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Ptr 1:22).

Yesus berbicara kepada para murid-Nya tentang kasih dan mengkaitkan kasih itu dengan ketaatan. Yesus mengalami kasih Bapa-Nya secara kekal dan Dia mengasihi para murid-Nya dengan kasih yang sama. Yesus jelas dan singkat tentang bagaimana kita seharusnya mengasihi Dia dan Bapa-Nya, dan bagaimana kita seharusnya mengalami kasih-Nya: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku” (Yoh 15:10). Sementara kita taat kepada-Nya, kita akan tinggal dalam Dia dan kasih-Nya akan mengalir kepada orang-orang lain melalui kehidupan kita. Posisi Yohanes tegas dan tanpa keraguan sedikit pun mengenai hubungan antara kasih dan ketaatan. Buah ketaatan bagi kita adalah kasih dan kehidupan baru.

Apa yang mencirikan kehidupan baru ini? Sukacita! Sebuah buah Roh Kudus (lihat Gal 5:22), bukan hasil kerja daging, dan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui ketaatan, kita menjadi turut serta dalam sukacita ini. Sukacita ini mengisi diri kita dan mentransformasikan diri kita dan memberikan kita kesempatan untuk mencicipi kepenuhan hidup surgawi, bahkan sekarang juga.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengurapi kami dengan minyak sukacita. Kami yakin sekali bahwa Engkau saja yang dapat memuaskan setiap kebutuhan kami. Sungguh penuh sukacita kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA” (bacaan tanggal 18-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

Cilandak, 15 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 16 Mei 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, Wanita Kudus (OFS)

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. (Yoh 14:27-31a)

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan dan gentar hatimu.” (Yoh 14:27)

Selama hidup-Nya di muka bumi, Yesus menyatakan damai sejahtera dari Allah sendiri – suatu damai sejahtera yang melampaui segala pemahaman. Menjelang awal pelayanan-Nya, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia digoda oleh Iblis. Walaupun menghadapi serangan-serangan dari si Jahat, Yesus tetap teguh berpegang pada kasih dan kebenaran Bapa-Nya (Luk 4:1-13).

Seringkali Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan mendengarkan suara Bapa-Nya. Selama saat-saat yang istimewa ini, Yesus akan menerima rahmat dan damai-sejahtera yang dicurahkan oleh Bapa atas diri-Nya. Ketika bersama para murid/rasul-Nya di dalam perahu dan kemudian badai mengamuk dengan hebatnya, Yesus tetap tidur di buritan, seakan tak terganggu dengan apa yang terjadi. Ketika Dia dibangunkan oleh para murid yang sudah ketakutan itu,  Yesus membentak angin badai itu agar menjadi reda dan tenang. Hal tersebut mengingatkan para murid pada Allah dan kuat-kuasa-Nya (Mrk  4:35-41).

Ke mana saja Yesus pergi, orang banyak berdesak-desakan mengikuti-Nya agar dapat menerima kesembuhan dan pelepasan/pembebasan dari kuasa roh-roh jahat, namun Yesus tidak pernah merasa kewalahan. Ia selalu kembali berpaling kepada Bapa-Nya, mengandalkan diri-Nya pada hikmat dan kekuatan Allah Bapa. Yesus menunjukkan ketaatan, memberi respons hanya seturut apa yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, maka Dia mampu untuk tetap berada dalam damai sejahtera Allah.

Hati Yesus penuh dengan kasih-Nya kepada Bapa, menaruh kepercayaan pada diri-Nya, dan mengandalkan sepenuhnya kepada kuat-kuasa-Nya. Bahkan ketika Dia meninggalkan/memberikan damai sejahtera-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengetahui bahwa saat-Nya Dia memanggul salib sudah semakin dekat.
Walaupun begitu, Yesus mendeklarasikan bahwa kebesaran/keagungan Bapa-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28); “Aku pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh 14:28); “Aku mengasihi Bapa” (Yoh 14:31).

Kita semua tentunya menghadapi pencobaan, mengalami kekecewaan-kekecewaan dan rasa khawatir serta takut, misalnya ketika dijebloskan ke dalam penjara secara tidak adil, seperti yang sedang dialami seorang pribadi yang kita semua kenal. Namun ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27).

Walaupun pada saat-saat kita tidak mengalami banyak kesusahan, Yesus terus saja mengucapkan kata-kata ini kepada kita. Dia ingin memenuhi hati kita dengan kehadiran-Nya. Dia rindu untuk menarik kita semua kepada Bapa sehingga kita dapat mengenal damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi-situasi di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Raja Damai. Datanglah memerintah dalam hati kami. Ingatkanlah kami akan kasih dan kerahiman sempurna Bapa. Roh Kudus, kuatkanlah rasa percaya kami akan Bapa surgawi,  sehingga dengan demikian kami akan berjalan setiap hari dalam damai sejahtera dan kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI” (bacaan tanggal 16-5-17) dalam  situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan pada tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA

KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI, 12 April 2017)

 

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Ketika Yesus mengatakan bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati diri-Nya, maka sebelas orang murid-Nya, satu persatu bertanya kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?”. Kemudian Yudas juga mengajukan pertanyaan yang mirip tetapi tidak sama: “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:22,25). Jelas kelihatan bahwa kesebelas murid telah mampu melihat Yesus sebagai seseorang yang bukan sekadar seorang rabi dan guru berbakat dengan visi baru untuk Israel. Sesuatu telah terjadi atas diri mereka yang membuat mereka memandang diri Yesus sebagai seorang yang layak dan pantas untuk ditaati, seorang pribadi yang mereka harus sapa sebagai “Tuhan”. Sebaliknya, Yudas tidak berhasil sampai ke titik itu.

Ada banyak cara untuk memandang Yesus: sebagai seorang guru yang berkharisma, seorang tabib pandai, seorang nabi besar, seorang kudus yang luarbiasa. Sebenarnya Yesus jauh lebih daripada sekadar gelar-gelar yang diberikan tadi. Dia juga adalah Tuhan, Ia memerintah atas segala sesuatu dengan otoritas yang penuh. Ia memang pantas untuk segala kehormatan, kemuliaan dan kuasa.

Kita semua sudah familiar dengan frase-frase ini, namun apa yang dimaksudkan oleh frase-frase tersebut bagi kita pada tingkat praktis? Bagaimana kebenaran-kebenaran ini mempengaruhi cara kita hidup dan cara kita memandang kehidupan kita? Satu jawaban adalah sementara kita harus memandang Yesus sebagai sahabat kita, kita juga harus melihat dia sebagai Allah kita. Dia memiliki otoritas atas diri kita yang dapat dikalahkan oleh siapa dan apa pun juga. Ajaran-ajaran-Nya sendiri sangat berbobot dan pantas untuk dipatuhi. Kekuasaan-Nya juga mutlak. Kita dapat memandang Yesus dengan iman yang penuh pengharapan, karena kita tahu bahwa Dia dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, melepaskan orang-orang dari penderitaann mereka, dan memperhatikan kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita sampai ke detil-detilnya.

Martabat Yesus sebagai Tuhan atas diri kita tidaklah boleh dilihat sebagai beban yang menekan. Sebaliknya, malah memberikan kebebasan dan damai-sejahtera yang luarbiasa. Ketuhanan-Nya mentransformasikan kita, memberikan kepada kita arahan bagi kehidupan kita yang jauh lebih memuaskan daripada rencana apa pun bikinan kita sendiri. Yesus bukanlah seorang penguasa yang tidak adil dan masa bodoh. Sebagai Allah, Dia adalah kasih.

Pada hari ini, marilah kita mengikuti kesebelas murid yang memanggil Yesus sebagai Tuhan. Selagi kita melakukannya, Yesus akan membuat kehadiran-Nya dan kuasa-Nya terwujud dalam kehidupan kita. Dia akan menciptakan sebuah hati yang baru dalam diri kita masing-masing dan memberikan kepada kita suatu damai-sejahtera yang jauh melampaui semua pemahaman manusia.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Tolonglah aku untuk mampu menerima Engkau dengan sepenuh hati dalam hatiku dan pikiranku. Tolonglah aku agar selalu berjalan di jalan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 12-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)  

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERBUATLAH DENGAN SEGERA

PERBUATLAH DENGAN SEGERA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 11 April 2017)

 

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33.36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Episode dari Injil Yohanes di atas menggambarkan saat-saat genting-penting dalam kehidupan Yesus di dunia: pengkhianatan oleh si murid (rasul) korup (lihat Yoh 12:4-6). Gambaran besarnya adalah “perjamuan terakhir”, perjamuan Yesus dengan para murid dalam rangka perayaan Paskah. Upacara “pembasuhan kaki para murid” disertai pengajaran agar para murid mengikuti teladan-Nya telah selesai dilakukan oleh-Nya (Yoh 13:1-15). Demikian pula dengan pengajaran singkat yang diakhiri dengan pernyataan sangat penting bagi para murid-Nya pada waktu itu, tentunya para murid/utusan-Nya di masa-masa mendatang: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20). Episode di atas kemudian disusul dengan serangkaian pengajaran Yesus (Yoh 14:1-16:33). Setelah itu, sebelum ditangkap di taman Getsemani, Injil Yohanes menggambarkan Yesus yang berdoa kepada Bapa surgawi untuk para murid-Nya (Yoh 17:1-26).

Yesus tahu benar tentang rencana jahat Yudas. Ia berkata kepada Yudas, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Dengan begitu Yesus memperkenankan dimulainya serangkaian kejadian yang akan memuncak keesokan siang harinya dengan kematian-Nya di kayu salib di bukit Kalvari. Di sinilah terletak ironi besar dalam Pekan Suci. Setelah Yudas meninggalkan ruangan perjamuan, Yesus bersabda: “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera” (Yoh 13:31-32). Ia mengatakan ini justru setelah baru saja mengkomit diri-Nya pada kematian di kayu salib, yaitu dengan memberi lampu hijau kepada Yudas. Pernyataan Yesus ini mengandung kebenaran tersembunyi tentang keputusan-Nya tersebut.

Ada paradoks rencana penyelamatan ilahi di sini. Karena kasih, Putera Allah yang Mahakuasa menjadi manusia agar Ia dapat menyelamatkan dunia, dan dalam upaya penyelamatan itu kematian di salib adalah jalan yang harus ditempuh. Dalam kematian Yesus di kayu salib kita melihat hikmat Allah, suatu perwujudan-nyata dari kasih Allah yang penuh kerahiman bagi dunia dan seisinya.  Yesus melihat kemuliaan-Nya dan kemuliaan Bapa surgawi, dalam peristiwa pengkhianatan seorang murid yang dipilih-Nya sendiri dan dikasihi-Nya; juga pada saat-saat Dia dituduh dan dihukum oleh para pemuka agama bangsa-Nya sendiri dan dihukum oleh seorang penguasa negara yang plin-plan.  Yesus dimuliakan pada saat Ia disiksa, didera, diludahi dan diolok-olok serta dihina, karena dengan demikian Ia menerima kehendak Bapa – bahwa Dia harus menanggung hukuman mati demi saudari-saudaranya (manusia) yang berdosa. Justru karena Yesus telah mengalami diri-Nya ditinggalkan oleh Bapa, mengalami desolasi dan penolakan demi ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, maka sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa; dari sanalah Ia melakukan syafaat untuk seluruh umat manusia.

Ketika sejarah berada pada titik kritis, ketaatan Yesus pada kehendak Bapa memancar terang dengan indah dan penuh keagungan. Yesus mempertimbangkan ketundukan serta ketaatan pada Allah – yang justru ditolak Lucifer dan begundal-begundalnya – sebagai kehormatan dan kemenangan besar. Ketaatan Yesus telah menjungkir-balikkan segala pra-konsepsi dan membuktikan bahwa Allah itu mahaadil dan maharahim. Cintakasih Yesus yang total kepada Bapa mengungkapkan kasih yang total Allah kepada dunia. Di sini ditunjukkanlah seorang Bapa, yang demi menyelamatkan anak-anak-Nya tidak sungkan-sungkan untuk membayar harga semahal apa pun. At all costs! 

DOA: O Raja segala raja, Engkau menerima mahkota berduri, jubah penderitaan dan kematian demi keselamatan diriku. Engkau tidak pernah mengkhianati Bapa, sedangkan aku – seperti Yudas Iskariot – pernah menghianati-Mu. Jagalah aku selalu agar tidak mengkhianati-Mu lagi. Aku kehabisan kata-kata untuk memuji-muji-Mu, ya Tuhan. Hanya terima kasih penuh syukur yang dapat kuucapkan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERIKAN NYAWA KITA DEMI CINTAKASIH KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 11-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 10 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JADILAH SEPERTI YESUS

JADILAH SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 30 April 2016)

OFMCap.: Peringatan Beato Benediktus dari Urbino, Biarawan

OSU: Peringatan Beata Maria dari Inkarnasi 

jesus-christ-super-star“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahuklu membenci Aku daripada kamu” (Yoh 15:18).

Umat Kristiani terus dikejutkan karena dunia membenci mereka. Kita mungkin berpikir bahwa dunia telah berubah sejak dunia menolak dan menyalibkan Yesus. Kita juga mungkin berpikir bahwa kita tidak sebegitu seperti Yesus, sehingga pantas menjadi korban penolakan dan penganiayaan. Namun kita pada dasarnya telah diubah dengan pembaptisan dalam Kristus: “dibaptis dalam kematian-Nya” (lihat Rm 6:3). Kita mempunyai suatu kodrat baru, yaitu sebagai “ciptaan baru” (lihat Gal 6:15), kita telah dipilih dari dunia oleh Kristus (Yoh 15:19). Dunia mengakui bahwa kita bukan lagi miliknya, oleh karena itu dunia membenci, menganiaya, dan mencoba membunuh kita (Yoh 15:19-20), bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kita akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah (Yoh 16:2).

Walaupun dunia membenci orang-orang Kristiani yang penuh dosa, juga orang-orang Kristiani yang malas, Allah ingin memberikan lebih banyak alasan kepada dunia untuk menganiaya kita. Allah ingin membuat kita kudus, membuat kita seperti diri-Nya sendiri. Kemudian kita bukan hanya merupakan suatu ancaman besar, melainkan nyata-nyata suatu ancaman yang sesungguhnya, untuk mengacaukan atau menjungkir-balikkan seluruh dunia (lihat Kis 17:6). Dengan demikian, dunia merasa “terpaksa” untuk menganiaya kita dengan segera dan dengan penuh nafsu.

Oleh karena itu hayatilah baptis kita (anda dan saya)! Jadilah suatu ancaman bagi dunia. Jadikanlah diri kita korban kebencian dunia sehingga pantas dianiaya. Jadikanlah diri kita kudus! Marilah kita menjadi seperti Yesus!

DOA: Bapa surgawi, buatlah diriku layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus (Kis 5:41; bdk. Mat 5:11-12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI YESUS” (bacaan tanggal 30-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 29 April 2016 

Sdr F.X. Indrapradja, OFS

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

PENGKHIANATAN YUDAS DIUNGKAPKAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 23 Maret 2016) 

Last_supper-Philippe_de_Champaigne-MBA_Lyon_A40-IMG_0397 (1)

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus? Jawaban terhadap pertanyaan ini terletak dalam konflik antara “daging” dan “roh” yang ada dalam setiap orang. Kehidupan Yudas Iskariot dikemudikan oleh dorongan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memuliakan-diri sendiri (Inggris: a strong sense of self-glorification) dan hal ini memungkinkan kedagingannya bergerak  bebas ke sana ke mari.

Hasrat-hasrat kedagingan Yudas (dan para murid lainnya) bertentangan secara tajam dengan hasrat perempuan yang datang ketika Yesus berada dalam rumah Simon si kusta di Betania; dia yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal (Mat 26:6-7). Dari sudut pandang yang rasional, reaksi mendongkolkan dari Yudas (dan para murid lainnya) terhadap pengurapan perempuan itu atas diri Yesus kiranya mengandung kebenaran juga. Uang sejumlah 300 dinar dari hasil penjualan minyak narwastu yang mahal itu memang dapat menolong banyak orang yang membutuhkan (Mat 26:9). Akan tetapi, sebenarnya “orang miskin” bukanlah keprihatinan si Yudas; dia hanyalah seorang “koruptor” munafik, yang mementingkan kantong sendiri. Hal ini terungkap dalam Injil Yohanes yang mencatat peristiwa serupa, namun terjadi di rumah Lazarus di Betania dan perempuan itu adalah Maria, salah seorang saudara perempuan dari Lazarus (lihat Yoh 12:6). Menurut Yesus perempuan itu justru “telah melakukan perbuatan baik” pada-Nya (Mat 26:10). Dia  sungguh mencari Allah dan dalam rohnya dia melihat Yesus sebagai Pribadi yang datang untuk memberikan kehidupan bagi dunia. Ungkapan cinta-kasih dan syukurnya sungguh memuliakan Yesus, teristimewa sebagai persiapan penguburan-Nya (Mat 26:12; Mrk 14:8).

Di taman Getsemani, Yesus menasihati Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat  baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Yudas tidak dapat bertahan dalam menghadapi dan menanggung “saat-saat pencobaan” karena dia tidak pernah mencari Allah, untuk mengenal-Nya dalam roh. Karena tidak mampu melihat rencana Allah yang lebih besar, nanti kita akan melihat bahwa Yudas menjadi putus-asa dan menggantung dirinya sendiri (Mat 27:3-5). Akan tetapi, Petrus berhasil bertahan pada “saat-sat pencobaan”. Seperti juga halnya dengan Yudas, dia mengalami kegalauan karena telah mengkhianati Yesus (Mat 26:75), namun – tidak seperti Yudas – Petrus juga terbuka bagi Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus dan dalam rohnya memahami keindahan dari rencana penyelamatan Allah. Kemudian dia bertindak atas dasar pengalaman ini dan mulai mewartakan Injil dengan penuh kuat-kuasa (Kis 2:14-36).

Semakin kita melangkah maju untuk memperoleh penerangan atas roh kita dengan kebenaran-kebenaran ilahi, semakin banyak pula kita akan dituntun oleh Roh Kudus dan semakin sedikit pula kita akan hidup dalam daging. Dengan taat menekuni resolusi-resolusi kita untuk masa Prapaskah, kita bekerja-sama dengan rahmat Allah dan mulai untuk hidup dalam roh secara lebih mendalam.

DOA: Datanglah, Roh Kudus Allah. Ajarlah kami untuk membuka diri bagi kehadiran Allah. Tolonglah kami untuk membuang segala cara kedagingan dan hidup dalam Roh ketika kami memeluk rencana Allah yang penuh kasih bagi kami semua dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-9a), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK BAPA” (bacaan tanggal 23-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 21 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERIKAN NYAWA KITA DEMI CINTAKASIH KEPADA-NYA

MEMBERIKAN NYAWA KITA DEMI CINTAKASIH KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 22 Maret 2016

5bb-institution-of-the-eucharist

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Petrus mengatakan bahwa dia akan memberikan nyawanya bagi Yesus (lihat Yoh 13:37). Hal ini memang dilakukan oleh Petrus, walau pun setelah dia menyangkal Yesus sampai tiga kali (Yoh 18:17,26,27).

Kalau mau berbicara jujur, kita pun seringkali menyatakan akan menyerahkan nyawa kita bagi Yesus, bahkan dengan kalimat yang panjang-panjang dan bernada tinggi. Bukankah itu merupakan hal yang masuk akal dan wajar-wajar saja jika kita sering menyambut Yesus dalam Komuni Kudus? Bukankah itu juga merupakan komitmen kita ketika kita memperbaharui janji-janji baptis kita?

Demikianlah harapan kita semua. Sebagaimana Petrus, kita pun akan menjunjung tinggi komitmen kita dan menyerahkan segalanya kepada Yesus, juga apabila hal itu berarti harus mati bagi-Nya, sebagai martir-martir Kristus? Pada abad ke-20 saja, ada 400-an biarawan Fransiskan (OFM) yang wafat menjadi martir Kristus . Ini baru OFM, dan ada banyak sekali yang lain, termasuk para awam di berbagai penjuru dunia. Pada awal-awal abad ke-21 ini berapa banyak sudah umat Kristiani di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang dibunuh sebagai martir Kristus oleh kelompok-kelompok “aneh tapi nyata” seperti ISIS, Al Qaida, Boko Haram, Al Shabab. Martir-martir ini tidak sudi menyangkal Kristus, apa dan seberapa besar pun biayanya. Masih sangat segar dalam ingatan kita apa yang terjadi di Yemen belum lama ini: 4 orang suster dari Kongregasi Suster yang didirikan oleh Beata Bunda Teresa dari Kalkuta. Mereka datang karena diundang untuk melayani orang-orang kusta di negeri itu, mereka malah dibunuh oleh kelompok Al Qaeda. Ini adalah wujud nyata dari komitmen kepada Yesus Kristus. Mati sebagai martir Kristiani adalah mati demi kesetiaan kepada Kristus, bukan karena membawa bom bunuh diri untuk membunuh orang-orang non-Kristiani.

Kembali kepada kasus Petrus, mungkin saja kita juga bersikap dan berperilaku seperti Petrus: kita menyangkal Kristus, bahkan mungkin lebih dari tiga kali. Jikalau kita mengatakan Petrus sungguh keterlaluan karena menyangkal Kristus sampai tiga kali, maka mungkin saja kita lebih keterlaluan lagi ketimbang Petrus. Kita harus menyadari bahwa setiap kali kita berdosa, sesungguhnya kita menyangkal Kristus. Kita menyangkal-Nya sewaktu kita “tutup mulut” dan tidak membela-Nya ketika Dia dicerca, dihina dlsb. Kita menyangkal Kristus sewaktu kita tak peduli pada-Nya dan tak sudi berbicara dengan Dia dalam doa.

Saudari dan Saudaraku terkasih, mungkin saja kita seperti Petrus, namun mungkin sekali kita jauh lebih jahat daripada Petrus. Semoga kita (anda dan saya) seperti Petrus yang baru saja menerima urapan Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama: berani bersaksi sebagai murid Kristus yang sejati !!! (baca Kis 2:14-40). Semoga selanjutnya kita hidup dan mati karena cintakasih kita kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Dengan rendah hati aku menyatakan bahwa aku memberikan nyawaku karena cintakasihku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGEMBARA DAN ORANG ASING DI ATAS BUMI INI” (bacaan tanggal 22-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 49:1-6), carilah dalam situs/blog SANG SABDA atau PAX ET BONUM, cukup dengan mengetik YESAYA 49:1-6. 

Cilandak, 21 Maret 2016 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS