Posts tagged ‘PETRUS DAN YOHANES’

ROH KUDUS YANG SAMA

ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman.

Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan dengan judul “KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 7-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 4 April 2012 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

DALAM NAMA YESUS KRISTUS

DALAM NAMA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 4 April 2018)

Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu jam tiga sore, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata, “Pandanglah kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan pergelangan kaki orang itu. Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Semua orang melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya. (Kis 3:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9; Bacaan Injil: Luk 24:13-35

“Sesungguhnya Tuhan telah bangkit.” (Luk 24:34)

Selama Oktaf Paskah, kita sebagai Gereja menikmati suatu pekan penuh sukacita merayakan kebangkitan Yesus dari dunia orang mati. Yesus mati sehingga kita dapat menyerukan nama-Nya dan mengalami kuat-kuasa nama-Nya itu, realitas nama itu, dan kebesaran serta keagungan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita umat manusia.

Selagi Petrus dan Yohanes mendekati gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah, mereka berjumpa dengan seorang lumpuh yang berbaring dekat pintu gerbang itu, yang biasa meminta sedekah di tempat itu. Orang lumpuh minta sedekah berupa uang, namun kedua rasul Kristus itu mempunyai harta yang jauh lebih besar dan berharga untuk ‘dibagikan’ kepada orang yang lumpuh sejak lahirnya itu.  ‘Semangat berbagi’ memang harus ada pada setiap orang Kristiani yang sejati, seperti ditunjukkan oleh kedua murid Yesus itu.

Kedua murid Yesus menatap orang lumpuh itu, kemudian Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis 3:6). Petrus menyerukan nama Yesus, dan dia percaya bahwa Tuhan dan Guru-Nya itu – yang telah diproklamirkan olehnya sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16) – dengan penuh kuasa dapat memenuhi kebutuhan sesungguhnya dari si lumpuh pada saat itu juga. Dia membantu si lumpuh untuk berdiri, dan memang, langsung saja kaki dan pergelangan kakinya menjadi kuat. Dia berjalan dan melompat-lompat serta memuji-muji Allah. Dengan dua orang rasul Yesus itu, dia akhirnya dapat masuk ke dalam Bait Allah – dipenuhi sukacita dan pujian sejati kepada Allah.

Dengan menyerukan kuat-kuasa dari nama Yesus, Petrus (dan Yohanes) sebenarnya menyerukan satu-satunya nama yang mempunyai kuat-kuasa untuk mengusir Iblis dan roh-roh jahat lainnya, menyembuhkan segala sakit-penyakit dan mengalahkan segala macam penindasan yang menimpa seseorang. Perhatikanlah, bahwa hanya setelah “Yesus” (bukan Petrus dan/atau Yohanes) membuat dirinya utuh, maka pengemis dapat masuk ke dalam Bait Allah dengan sukacita yang sejati. Yesus memberikan kepada orang itu apa yang sungguh dibutuhkan olehnya – dan pemberian Yesus itu sempurna adanya – dan dia mampu melompat-lompat dengan sukacita dan memuji Allah untuk apa yang dilakukan Yesus atas dirinya.

Apabila kita berdoa dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan terjadinya perubahan dalam kehidupan kita ataupun kehidupan orang lain. Oleh karena itu baiklah kita seringkali menyebut nama-Nya, berdoa dalam nama-Nya, bersekutu dengan saudari-saudara seiman dalam nama-Nya, menyerukan nama-Nya setiap kali kita berada dalam situasi sulit. Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah. “Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan”  (Mzm 105:8). Dalam Yesus Kristus, kita telah menerima nama – sang Sabda (Firman) – yang di atas segala nama dan kuasa lainnya (bdk. Flp 2:10-11). Sebagaimana si pengemis lumpuh yang telah disembuhkan oleh-Nya, marilah kita menerima Yesus dengan tangan-tangan dan hati yang terbuka lebar-lebar. Maka, kehidupan kita tidak akan sama lagi … Our lives will never be the same!

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya akan kuat-kuasa nama-Mu bila diucapkan dalam iman. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menolong mengingatkan kami akan saat-saat di mana Engkau memberikan kepada kami apa yang sungguh kami butuhkan pada saat-saat itu. Hati kami terbuka lebar-lebar bagi-Mu, ya Tuhan, selagi kami memuji-muji kebesaran serta keagungan-Mu dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul  “YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA” (bacaan tanggal 4-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 2 April 2018 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 20 April 2017) 

Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48

Setelah baru saja menyembuhkan seorang lumpuh “dalam nama Yesus”, kepada orang banyak yang sedang mendengarkan khotbahnya Petrus melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kis 3:12). Jelas, bahwa bagi Petrus bukanlah hal yang luarbiasa bagi Yesus untuk membuat mukjizat, bahkan setelah Ia naik ke surga. Biar bagaimanapun juga, sebelum itu Petrus telah seringkali menyaksikan kuasa penyembuhan Yesus diwujudkan di depan matanya sendiri. Dia juga tahu sekali bahwa Yesus masih hidup sebagai Tuhan yang bangkit. Bukankah dengan demikian logika menuntut bahwa Yesus akan terus menyembuhkan? Jawaban Petrus terhadap pertanyaan ini adalah sebuah “YA” yang pasti!

Pertanyaan Petrus kepada orang Israel di atas juga dapat ditujukan kepada kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Mengherankankah apabila Yesus menyembuhkan sakit-penyakit pada hari ini melalui doa dan pelayanan orang-orang Kristiani (pengikut-pengikut Kristus)? Samasekali tidak mengherankan! Yesus memang masih terus menyembuhkan dan melakukan banyak mukjizat dan “tanda heran” lainnya. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani, pantaslah kita merasa heran apabila mendengar bahwa Yesus telah berhenti menyembuhkan dan membuat mukjizat dan “tanda heran” lainnya.

Pada masa Paskah ini, ketika anda membaca “Kisah para Rasul”, catatlah berapa sering para murid-Nya mengalami kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus. Ia mengasihi para murid-Nya, dan Ia telah berjanji untuk senantiasa ada bersama mereka. Hal ini benar, bahkan pada hari ini juga. Yesus adalah Imanuel (Allah yang menyertai kita; lihat Mat 28:20), dan Ia mengasihi kita. Kita dapat memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan dan melakukan intervensi pada hari ini dengan penuh keajaiban. Yesus memiliki kuasa dan otoritas – juga hasrat – untuk melakukan hal-hal yang baik ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus pada masa Gereja awal (perdana) lewat iman-kepercayaan para murid-Nya, maka melalui doa-doa dan pelayanan para murid-Nya, Yesus tetap dapat melakukan karya-Nya. Pernyataan ini berlaku bagi kita semua: anda dan saya!

Dalam pekan-pekan mendatang ini, kita dapat memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita mohon kepada-Nya agar memberikan suatu visi yang lebih luas berkenan dengan jalan yang ingin Ia gunakan terhadap kita masing-masing sebagai seorang pelayan-Nya di bidang penyembuhan berbagai sakit-penyakit. Marilah kita mencoba untuk melakukan doa-doa syafaat (doa-doa untuk orang-orang lain) bagi mereka yang sedang berada dalam situasi-situasi sulit, dengan rasa percaya mendalam akan janji-janji-Nya. Janganlah kita cepat menyerah. Kita harus menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Ingatlah bahwa Yesus mengasihi setiap orang dan Ia sungguh ingin menolong. Yesus juga mengasihi kita dan ingin bekerja melalui kita masing-masing untuk menolong orang-orang lain.  Janganlah kita menjadi kaget dan terkejut ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dan melakukan penyembuhan dan/atau membuat mukjizat serta tanda heran lainnya, bahkan pada hari ini juga. Yesus itu Tuhan dan Juruselamat kita, dan Ia adalah Mahasetia.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah orang-orang yang sudah hampir kehilangan pengharapan. Bukalah mata mereka agar dapat melihat realitas kebangkitan-Mu dari dunia orang mati, dan kuasa-Mu yang dapat mengalir ke dalam kehidupan mereka dari kebangkitan-Mu itu. Tunjukkanlah kepada mereka betapa Engkau ingin bekerja dalam kehidupan mereka setiap saat. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:35-48), bacalah tulisan yang berjudul “MULAI DARI YERUSALEM” (bacaan tanggal 20-4-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH  APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 18 April 2017 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERANI BERDIRI UNTUK BERSAKSI

BERANI BERDIRI UNTUK BERSAKSI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah – 2 April 2016) 

PETRUS AND Y0HANES DI HADAPAN SANHEDRINKetika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15.

“Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus” (Kis 4:12).

Yesus telah bangkit, dan kita semua adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Iblis tidak dapat menghalang-halangi Yesus untuk bangkit dari kubur. Namun Iblis mampu menghalang-halangi kita untuk tampil sebagai saksi-saksi dari kebangkitan Kristus. Akan tetapi, kita tidak boleh berhenti! Kita harus berkata – seperti Petrus dan Yohanes: “…… tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis 4:20), betapa besar pun risiko yang kita hadapi.

Kristus yang sudah bangkit itu pula yang akan membantu dan mendukung kita dan akan menegur orang-orang yang tidak mau menerima kesaksian kita (Mrk 16:14). Ia juga akan mengutus Roh Kudus untuk menaruhkan kata-kata hikmat dalam mulut kita sehingga kita tetap mampu  bersaksi (Luk 12:12). Roh Kudus juga akan menginsyafkan mereka yang tidak percaya akan kesaksian kita, “akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8). Dengan demikian, bersaksi adalah salah satu jalan yang sangat meyakinkan untuk melakukan pewartaan Injil Yesus Kristus (Kis 1:8).

Bilamana kita bersaksi atas iman kita akan Yesus, kita sebenarnya berbagi/syering iman dengan orang lain dan kita pun bertumbuh dalam iman bersama. Bersaksi itu meluhurkan Yesus yang bangkit, mengembangkan Kerajaan Allah, mempercepat pertumbuhan hidup dalam kekudusan. Bersaksi akan kebangkitan Kristus mengubah budaya kematian (anti hidup) menjadi budaya cinta-hidup dan budaya kasih.

Itulah sebabnya mengapa Iblis – pangeran maut (lihat Ibr 4:12), sangat membenci segala kesaksian yang benar. Mengapa? Karena Iblis selalu akan kalah karena kesaksian benar kita itu (lihat Why 12:11).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh (lihat Ul 6:5). Marilah kita selalu melawan Iblis itu (lihat 1Ptr 5:8-9). Marilah kita bertekad bulat untuk menjadi saksi-saksi dari kebangkitan Kristus !!! 

DOA: Bapa surgawi, jadikanlah diriku saksi Kristus yang sejati, di sini dalam rumah ini, dalam komunitasku, di tempat aku bekerja dan di tempat-tempat di mana aku berjumpa dengan masyarakat sekelilingku (Kis 1:8). Amin. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERI HIDUP BARU KEPADA KITA” (bacaan tanggal 2-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 31 Maret 2016 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KHOTBAH PETRUS DI SERAMBI SALOMO

KHOTBAH PETRUS DI SERAMBI SALOMO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Kamis dalam Oktaf Paskah – 24 April 2014)

PETER BERKHOTBAH - 01 Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26)

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48

“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus” (Kis 3:19-20).

PETER PREACHINGTidak sulit bagi Petrus (yang dipenuhi Roh Kudus) untuk mendapatkan perhatian dari orang banyak. Bagaimana pun juga penyembuhan atas seorang lumpuh di dekat pintu gerbang Bait Allah yang bernama Gerbang Indah (baca: Kis 3:1-10) oleh Petrus tentunya telah menimbulkan rasa ingin tahu tidak sedikit orang. Jelaslah bahwa Allah sedang bekerja dengan penuh kuat-kuasa, dan orang-orang berduyun-duyun datang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Secara relatif cepat Petrus mengarahkan perhatian orang banyak kepada sumber kuat-kuasa yang dimilikinya, yaitu Allah, kepada siapa orang-orang itu telah lama menyampaikan doa-doa mereka, namun barangkali tidak pernah mengalami perjumpaan dalam jalan yang memberikan hidup. Menurut Petrus, suatu perjumpaan dengan Allah hanya mungkin dapat terjadi lewat “pintu sempit pertobatan”: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah!” (Kis 3:19).

Pintu pertobatan membuka jalan bagi kita kepada kepenuhan hidup juga. Petrus tidak ragu-ragu membeberkan berbagai dosa orang yang mendengarkan khotbahnya: menolak Yang Kudus dan Benar (Yesus), membunuh-Nya (Kis 3:14-15). Akan tetapi, Petrus juga mengingatkan orang banyak itu bahwa mereka adalah anak-anak Bapa surgawi – Dia yang telah mengutus Yesus, bukan untuk menghukum melainkan untuk memberkati mereka, menebus dosa-dosa mereka, dan memberi hidup-baru bagi mereka.

Kita pun adalah para pewaris janji-janji perjanjian yang sama, mengalami godaan-godaan yang sama, dan membutuhkan pertobatan yang sama pula. Petrus menyebutkan beberapa dosa yang ada pada zaman modern dalam bacaan di atas. (1) Ada dosa “kesombongan” (keangkuhan), seakan kita dapat melakukan apa saja dengan kekuatan kita sendiri (lihat Kis 3:12). (2) Menyangkal atau menolak Yesus di depan orang-orang lain, bukannya mengakui Dia sebagai Tuhan (Kis 3:14). (3) “membunuh” hidup ilahi dalam diri kita dengan membuat pilihan-pilihan yang berakar dalam budaya kematian (Kis 3:15). (4) mengabaikan pelajaran-pelajaran dari masa lalu kita dan sejarah Gereja; tidak mendengarkan para utusan Allah yang diutus kepada kita (Kis 3:23). (5) Balik menyusut dari keberanian yang diinspirasikan oleh Allah dalam diri kita (lihat Kis 3:16). (6) Menjadi gelisah dan takut seperti para murid Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Luk 24:37-38).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus melakukan pertobatan dan kembali – lagi dan lagi – kepada Yesus, sumber kuat-kuasa dan penyegaran bagi diri kita. Allah itu baik dan mahapengampun. Ia tidak akan meninggalkan kita!

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, dikuduskanlah nama-Mu. Terangilah kegelapan hatiku dan berikanlah kepadaku kerendahan-hati agar dapat berbalik kepada-Mu untuk memperoleh pengampunan-Mu dan pemulihan relasiku dengan Engkau, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:35-48), bacalah tulisan yang berjudul “KETIDAKPERCAYAAN DALAM HATI KITA” (bacaan tanggal 24-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENEBUS TOTALITAS KEMANUSIAAN KITA” (bacaan tanggal 4-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 3:11-26), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MASIH TERUS MENYEMBUHKAN DAN MEMBUAT MUKJIZAT” (bacaan tanggal 12-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PETRUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH

PETRUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH – 23 April 2014)

KIS 1 PETRUS DAN YOHANES MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUHPada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu jam tiga sore, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata, “Pandanglah kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan pergelangan kaki orang itu. Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Semua orang melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya. (Kis 3:1-10)

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 105:1-4,6-9; Bacaan Injil: Luk 24:13-35

Dari abad ke abad, sudah menjadi kebiasaan bagi para pengemis untuk duduk di tempat-tempat umum guna meminta-minta sedekah kepada orang-orang yang lewat. Tempat-tempat ibadat merupakan tempat-tempat yang paling populer karena orang-orang yang lewat cenderung lebih merupakan para pendoa dan lebih berkecenderungan untuk memberi sedekah dengan murah hati. Inilah gambaran pada awal bacaan di atas, yaitu ketika Petrus dan Yohanes naik ke Bait Allah.

Ketika memasuki “Gerbang Indah”, dua orang rasul ini bertemu dengan seorang pengemis yang lumpuh sejak lahirnya. Kebanyakan orang yang melewati gerbang itu paling-paling memandang dengan rasa kasihan dan kemudian memberikan sedekah berupa beberapa keping uang logam (drakhma), namun dua orang rasul Yesus memandang dengan cara yang sungguh lain. Mereka melihat melampaui kondisi eksternal orang lumpuh itu berupa cacat tubuh dan kemiskinannya, dan mempersepsikan keindahan yang berbeda. Dengan mata Yesus, mereka melihat seorang anak Allah yang diciptakan dan sangat dikasihi oleh Bapa di surga. Visi ini menggerakkan mereka untuk melakukan sesuatu yang akan memperkenankan keindahan yang memancar dari orang itu menjadi lebih termanifestasikan: Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu dan membawanya ke dalam iman yang lebih mendalam.

peter_john MASUK KE BAIT ALLAHCerita dari “Kisah Para Rasul” ini menunjukkan kepada kita betapa Allah ingin membuka mata kita, seperti yang dilakukan-Nya atas diri Petrus dan Yohanes. Dua orang murid Yesus ini tidak dibuat sedemikian terpesona dengan gerbang yang mereka lewati sehingga mereka luput melihat keindahan yang memancar dari si orang lumpuh yang sedang duduk di dekat gerbang itu. Dengan memusatkan pandangan mata mereka pada Yesus, maka mereka dimampukan untuk melihat apa yang tersembunyi dari mata yang memusatkan pandangan hanya pada dunia ini. Dan apa yang mereka lihat menggerakkan mereka kepada bela rasa dan kemudian mengambil tindakan – suatu tindakan yang secara radikal mengubah hidup orang lumpuh itu dan membawa dia kepada iman akan Kristus.

Allah ingin memberikan kepada kita semua kemampuan untuk melihat keindahan yang memancar keluar dari orang-orang di sekeliling kita: kaya dan miskin, sahabat dan musuh, kawan dan lawan. Ia ingin mengajar kita untuk menghormati dan merangkul keindahan ini sehingga dengan demikian kita dapat menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya yang menyembuhkan dan memiliki daya transformasi.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah menyatakan jalan-jalan-Mu kepada kami. Berikanlah kami mata rohani seperti yang dimiliki oleh Yesus, agar kami dapat melihat melampaui hal-hal yang bersifat eksternal bilamana kami memandang orang-orang di sekeliling kami. Jadikanlah kami instrumen-instrumen-Mu guna menyembuhkan dan melakukan restorasi dalam dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “KEJUTAN-KEJUTAN” (bacaan tanggal 23-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MEREKA MENGENAL DIA DALAM PEMECAHAN ROTI” (bacaan tanggal 3-4-13) dan “EKARISTI ADALAH EMAUS KITA” (bacaan tanggal 11-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “NAMA YESUS YANG PENUH KUAT-KUASA” (bacaan tanggal 27-4-11) di situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 21 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS