Posts tagged ‘PETRUS’

SAMPAI BERAPA KALI?

SAMPAI BERAPA KALI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN A] – 17 September 2017) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Sir 27:30 -28:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,9-12; Bacaan Kedua: Rm 14:7-9 

Kebanyakan kita tentunya setuju, bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Namun demikian, dalam perumpamaan di atas Yesus menjelaskan, bahwa pengampunan adalah salah satu aspek kehidupan yang fundamental dalam kerajaan Allah. Pada kenyataannya, Yesus mengatakan bahwa apabila kita ingin mengetahui, mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita kerajaan Allah, maka kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita, dan mengampuni seringkali.

Ajaran Yesus selalu saja menantang pemikiran-pemikiran “normal” manusia, misalnya “kasihilah musuh-musuhmu”, atau “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” dan lain-lain sebagainya. Sekarang, mengenai pengampunan. Mengapa begini? Karena hidup Kristiani itu dialaskan pada pengampunan yang dengan bebas diberikan kepada orang-orang yang sesungguhnya “tak pantas” untuk diampuni, yaitu kita semua. Belas kasih adalah konstitusi dan piagam kerajaan Allah, dan tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengalami berkat-berkat kerajaan itu tanpa ikut saling mengampuni satu sama lain, pengampunan yang begitu bebas diberikan oleh-Nya kepada kita masing-masing.

Kata-kata Yesus tentang pengampunan bukan sekadar teoritis. Kalau kita tidak/belum mengampuni seseorang, maka pada saat kita mengingat orang itu kita pun akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Denyut jantung kita menjadi lebih cepat. Napas kita juga menjadi lebih cepat. Tubuh kita menjadi tegang, dan wajah kita pun tampak tambah jelek-loyo. Dalam pikiran kita pun bermunculanlah flashbacks peristiwa (2) ketika kita didzolimi, berulang-ulang. Bermunculanlah lagi alasan-alasan mengapa orang itu sesungguhnya tidak pantas untuk kita ampuni. Mulailah datang segala macam pemikiran negatif bahwa  semua anggota keluarga dan teman orang itu pun jahat semua. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan diri kita pada tingkat spiritual. Pikirkanlah betapa sulitnya untuk menaruh kepercayaan pada kasih Allah. Juga betapa sulitnya untuk mengalami damai-sejahtera Kristus atau merasakan gerakan-gerakan Roh Kudus; semuanya karena kita tidak mau mengampuni.

Memang ini merupakan suatu gambaran yang suram, namun jangan sampai membuat kita frustrasi. Yang diminta Allah dari kita sebenarnya hanyalah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kita dapat sampai pada tindakan pengampunan, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Sediakanlah beberapa menit setiap hari untuk memandang Salib Kristus dalam keheningan, sambil merenungkan bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memperoleh pengampunan bagi kita.

Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menolong anda menemukan jalan untuk sampai pada damai-sejahtera, restorasi relasi dan rekonsiliasi dengan Sang Mahatinggi. Katakanlah pada-Nya bahwa anda sungguh mencoba. Dia tahu bahwa dapat saja anda tidak sampai menuntaskan segalanya dalam jangka waktu yang singkat, namun dengan mengambil beberapa langkah ke arah yang benar, anda akan memberikan kesempatan kepada Allah untuk melakukan mukjizat dalam kehidupan anda.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah perwujudan belas kasih Allah sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk berjalan di jalan belas kasih-Mu, agar akupun dapat mengalami kebebasan-Mu sendiri. Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengampuni mereka yang  bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI, MENGAMPUNI LEBIH SUNGGUH !!!” (bacaan tanggal 17-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 15 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

Advertisements

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham per tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Dalam Gereja Perdana, kepada Petrus diberikan kedudukan yang penting, yaitu sebagai fondasi dari Gereja dan pemegang peranan pening dalam pelayanan dan otoritas (lihat Mat 16:18). Paulus menulis bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus “menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor 15:5). Sementara peranan Petrus itu unik baginya, apa yang pertama-tama diterimanya (misalnya berjumpa dengan Kristus yang bangkit) kemudian dibagikan kepada para murid lainnya. Bacaan Injil hari ini sebenarnya menunjukkan masa depan Gereja dan pembentukan sebuah struktur yang didasarkan pada tatanan Allah sendiri, suatu tatanan yang berkelanjutan sampai hari ini melalui Uskup Roma (Paus).

Panggilan Petrus untuk memimpin mengalir dari pengakuannya akan Yesus yang bangkit sebagai Kepala Gereja. Dialog yang dilakukan oleh Yesus dengan Petrus mencerminkan sikap Yesus sendiri terhadap pemeliharaan pastoral atas kawanan domba, yaitu umat Kristiani. Yesus adalah “gembala yang baik” (Yoh 10:11). Bapa surgawi mempercayakan pemeliharaan umat-Nya kepada Yesus karena kasih yang saling mengikat antara Bapa dan Putera. Yesus bersabda: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali” (Yoh 10:17). Ketika Petrus mendeklarasikan cintakasihnya kepada-Nya sampai tiga kali, maka Yesus memberi amanat kepada-Nya untuk melayani sebagai pemimpin Gereja-Nya.

Yesus menunjuk kepada Gereja-Nya sebagai sebuah komunitas di dunia ini, komunitas mana mempunyai sebuah struktur yang kelihatan. Namun Yesus juga menunjuk lebih jauh lagi, yaitu kepada Roh-Nya sendiri yang memberi kehidupan, akan memenuhi diri semua umat beriman, mempersatukan mereka dengan diri-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain. Roh Kudus datang dengan hikmat-Nya, kuasa-Nya dan kasih-Nya, maka para murid diberdayakan agar dapat mewujudkan kasih yang penuh pengorbanan, suatu sacrificial love. Dinamika pelayanan dan otoritas yang mengalir dari kasih, adalah jantung dari penyertaan kita dalam imamat Kristus (imamat umum).

Kita dapat berpartisipasi dalam “misteri persatuan yang mendalam” ini seperti layaknya relasi  cintakasih antara suami dan istri. Paulus menulis sebagai berikut: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:28-32).

Melalui/oleh Roh Kudus kita dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus. Kita akan dimampukan untuk menanggung pencobaan-pencobaan yang menimpa diri kita seiring dengan pekerjaan kita mewartakan Injil dan/atau upaya saling memperhatikan penuh kasih dalam keluarga yang merupakan gereja domestik, dan dalam  komunitas Kristiani. Dengan pemikiran dan upaya kita sendiri semata-mata, kita tidak akan mampu memahami panggilan kita ini atau mewujudkan panggilan tersebut ke dalam tindakan nyata.

DOA: Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami dan terangilah pikiran kami sehingga kami dapat mengetahui dan percaya akan semua misteri penyelamatan, memahami ajaran Yesus Kristus, dan melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG ‘MAN OF GOD’ DALAM SATU MALAM” (bacaan tanggal 2-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI MEREKA TERSAYAT

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 18 April 2017)

 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41). 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH KRISTUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU PASKAH, 16 April 2017) 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yoh 20:1-9). 

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2.16-17.22-23; Bacaan Kedua: Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6-8 

Hari ini adalah HARI MINGGU dari segala hari Minggu, karena pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan kebangkitan Yesus Kristus! Pada hari ini, kita bergabung bersama para murid yang berlari-lari menuju kuburan Yesus dan mendapati kuburan itu sudah dalam keadaan kosong. Kita tidak perlu berdiam di luar kuburan-Nya sambil terus diliputi rasa ragu dan takut. Kita dapat menemani murid yang dikasihi Yesus masuk ke dalam kubur dan “melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Kemudian, bersama dengan Maria Magdalena kita dapat merangkul Yesus sebagai Tuhan kita yang telah bangkit.

Kembali kepada bacaan Injil di atas, sebenarnya di sini kita hanya mendengar sebagian saja dari cerita tentang kebangkitan Yesus. Maria Magdalena, Petrus dan murid yang dikasihi Yesus, dalam bacaan Injil di atas, seorang pun dari mereka tidak/belum ada yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Namun demikian, cerita seperti itu dapat membawa pengalaman mereka bertiga menjadi lebih dekat dengan pengalaman kita. Selama akhir pekan sejak kematian Yesus di kayu salib pada Jumat siang, iman para murid diuji habis-habisan. Sampai mereka berjumpa dengan Kristus yang sudah bangkit, mereka hanya dapat berharap dan menaruh kepercayaan pada janji-Nya bahwa Dia akan bangkit.

Demikian pula halnya dengan kita, karena kita sendiri pun belum berjumpa dengan Kristus yang bangkit dalam daging. Oleh karena itu, inilah suatu “saat iman” bagi kita juga. Akan tetapi, kita tidak perlu menanti dengan penuh rasa cemas dan takut seperti yang dialami para murid Yesus dulu. Kita mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam diri kita masing-masing, yang meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus memang riil-nyata. Iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati, memang dari Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang  meyakinkan kita akan realitas-realitas bahwa kita tidak akan melihat-Nya sampai hari akhir Tuhan, artinya pada hari kedatangan-Nya kembali.

Itulah sebabnya, mengapa hari ini merupakan hari perayaan yang sangat besar bagi kita semua anak-anak Bapa surgawi. Roh Kudus membuat kebangkitan Yesus menjadi riil-nyata bagi kita! Dia (Roh Kudus) ingin membawa kepada kita kemerdekaan dari dosa yang telah dicapai oleh Yesus di atas kayu salib. Kita tidak lagi menjadi hamba-hamba dosa. Kita tidak perlu melihat Yesus dengan mata jasmani kita; kita dapat menerima Dia dalam hati kita masing-masing! Bahkan maut sekali pun tidak dapat menang atas diri kita!

Hari ini kita mempunyai kesempatan untuk melangkah melampaui suatu iman intelektual kepada suatu iman yang hidup dalam hati kita. Kristus telah bangkit! Ia telah membersihkan kita dari setiap dosa. Kita tidak akan mati; kita akan hidup dengan Dia untuk selama-lamanya! Apabila kita belum mengalami sukacita tak terlukiskan ini, maka hari ini adalah hari untuk memulainya. Roh Kudus siap untuk menunjukkan kepada kita kasih dan kuat-kuasa Allah. Hari ini adalah hari untuk mengalami kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan ini yang akan menyebabkan kita berseru dengan suara nyaring: “Ia telah bangkit!” Kata-kata ini akan kedengaran penuh makna bagi kita apabila kita mohon Roh Kudus mengungkapkannya kepada hati kita masing-masing.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Kata-kata pujian apakah yang dapat kupersembahkan bagi-Mu. Kematian telah Engkau kalahkan. Kehidupan ilahi-Mu kini hidup di dalam diriku. Tuhan Yesus, aku akan mengasihi Engkau dan memuji-muji kebesaran-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “BERTEMU DENGAN YESUS YANG SUDAH BANGKIT” (bacaan tanggal 16-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  15 April 2017 [HARI SABTU SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL

IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 28 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starLalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

Petrus sungguh merasa prihatin. Ia telah meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus. Apakah yang dapat diharapkannya sebagai “ganjaran” kecuali berkat-berkat materiil? Tidak banyak bedanya dengan kita semua pada hari ini! Kita bertanya, “Apakah upah kita dalam mengikuti jejak Yesus? Apa yang dapat saya peroleh?” Tanggapan Yesus terhadap kita dalam hal ini sama saja dengan tanggapannya terhadap Petrus. Yesus menjanjikan berkat-berkat seratus kali lipat kepada setiap orang yang memberikan hati mereka kepada-Nya – namun Ia juga mengingatkan kepada mereka bahwa akan ada juga pengejaran dan penganiayaan. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa semuanya akan mudah, akan tetapi Dia sungguh berjanji bahwa Dia akan menyertai kita selalu, dan pada zaman yang akan datang kita sebagai para pengikut-Nya pun akan menerima hidup yang kekal.

Oleh iman, kita dapat berdiri dengan kokoh, percaya sepenuhnya akan berkat-berkat Allah bagi kita. Dia akan senantiasa mencurahkan berkat-berkat-Nya dengan penuh kemurahan hati apabila kita memberikan hati kita kepada-Nya. Akan tetapi berkat Allah yang paling besar tidaklah berupa hal yang bersifat materiil melainkan kehadiran-Nya yang riil dan berdiam-Nya dalam diri kita. Dia ingin hadir dalam hati kita, sehingga manakala kita mati terhadap kehidupan lama kita, maka Dia dapat mulai hidup dalam diri kita, dan melalui diri kita itu membuat kita sebagai berkat bagi orang-orang lain. Artinya, kita menjadi perpanjangan berkat Allah bagi orang-orang lain. Allah ingin membebaskan hati kita dari kecemasan berkenan dengan urusan atau pernak-pernik dunia ini sehingga dengan demikian kita dapat melayani kebebasan-Nya kepada orang-orang lain.

saint-peter-100Dipenuhi dengan kasih yang berkobar-kobar bagi kita, Yesus memanggil kita untuk melepaskan keterlekatan kita dari siapa saja dan apa saja yang selama ini lebih “top” bagi kita daripada diri-Nya. Yang dimaksudkan “apa saja” tadi, misalnya adalah suatu mimpi, cita-cita, sikap, masalah, rasa takut, ide bagaimana seharusnya pasangan hidup atau anak-anak kita jadinya, dlsb. Pokoknya siapa dan apa saja yang kita kasihi lebih daripada kasih kita kepada Yesus, harus kita letakkan pada altar Tuhan. Hanya dengan demikian kita dapat benar-benar bebas dan mengenal damai-sejahtera yang sejati.

Bagaimana dengan pengejaran dan penganiayaan? “Jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5). Sikap dan perilaku orang lain yang dipenuhi kebencian terhadap diri kita, godaan-godaan dari Iblis, dan pertempuran kita melawan sikap serta perilaku kita yang mementingkan diri sendiri, semuanya ini merupakan realitas-realitas harian yang bahkan dapat meningkat sementara kita memberikan hati kita secara lebih penuh kepada Yesus. Bagi orang-orang yang sedang terbelenggu dalam kedosaan, realitas-realitas di atas dapat menjadi beban yang sungguh berat. Akan tetapi setiap orang yang hatinya sudah diserahkan kepada Yesus – setiap orang yang sedang mengembangkan suatu perspektif surgawi – dapat sampai memandang penderitaan-penderitaan sebagai berkat-berkat terselubung (blessings in disguise) karena buah yang dihasilkan: integritas, iman, keberanian, dan yang teristimewa adalah keintiman dengan Yesus sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kupersembahkan segala pujian dan kehormatan dan kemuliaan! Tolonglah aku agar mau dan mampu menempatkan hatiku di atas altarmu. Aku percaya akan segala berkat-Mu yang berlimpah atas diriku dan aku pun bersukacita dalam kemanisan kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31), bacalah tulisan yang berjudul “SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 28-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 26 Februari 2017 [HARI MINGGU BIASA VIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Kamis, 16 Februari 2017) 

jesus_asking_peter-siapakah-aku-iniKemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33) 

Bacaan Pertama:  Kej 9:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29

Ketika Yesus mengkaitkan ke-Mesias-an dengan penderitaan dan penolakan oleh para tua-tua, imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, maka sebenarnya Dia membuat pernyataan-pernyataan yang bagi para murid-Nya tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan pandangan umum tentang pribadi macam apa seorang Mesias itu. Sepanjang hidup mereka, para murid telah mempunyai pandangan bahwa sang Mesias adalah seorang pendekar perang, seorang penakluk, seorang pembebas bangsa dari penindasan bangsa Romawi. Sekarang, mereka dihadapkan dengan ide yang mengagetkan. Itulah sebabnya mengapa Petrus memprotes keras. Bagi dirinya, semua itu tidak mungkin, …… sungguh tidak mungkin.

Mengapa Yesus menegur Petrus dengan tidak kalah keras? Karena dalam tegurannya Petrus mengungkapkan kata-kata godaan yang justru sering mengganggu Yesus. Yesus tidak ingin mati. Dia mengetahui bahwa diri-Nya memiliki kuat-kuasa yang dapat digunakan-Nya untuk menaklukkan. Pada saat Petrus menegur-Nya dengan keras, sebenarnya Yesus melakukan perlawanan lagi terhadap godaan-godaan seperti sebelumnya, yaitu ketika Dia dicobai oleh Iblis di padang gurun. Ya, pada saat itu Iblis menggoda-Nya lagi agar jatuh dan menyembah Iblis, untuk mengikut jalannya, bukan jalan Allah.

Sungguh merupakan hal yang aneh, dan kadang-kadang juga menjijikkan bahwa si penggoda terkadang berbicara kepada kita dengan menggunakan suara seorang sahabat yang bermaksud baik. Kita dapat saja selama menjalani kehidupan kita ini memilih jalan yang menurut kita “benar” namun pada titik tertentu juga membuat diri kita susah, kerugian, ketidakpopuleran, pengorbanan. Dan ada teman yang bermaksud baik mencoba dengan niatnya yang terbaik untuk menghentikan kita. Memang ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengasihi kita sedemikian rupa sehingga dia menginginkan kita menghindari kesulitan dan berjalan secara aman-aman saja (to play safe).

Jurus si penggoda (Iblis) yang paling berbahaya justru apabila dia menggunakan suara dari mereka yang mengasihi kita dan yang berpikir bahwa mereka hanya berniat baik dan berperilaku demi kebaikan kita saja. Inilah yang terjadi dengan Yesus pada hari itu. Itulah sebabnya mengapa Yesus menjawab teguran Petrus itu dengan teguran yang keras pula. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan suara Allah yang bersifat mutlak.

Kita sungguh membutuhkan karunia untuk membeda-bedakan roh. Suara Allah atau suara si Iblis, dst.?

DOA: Bapa surgawi, terangilah kegelapan hatiku dan berilah kepadaku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Berikanlah perasaan yang peka dan akal budi yang cerah agar supaya aku dapat mengenal dan melaksanakan kehendak-Mu yang kudus dan tidak menyesatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “YESUSLAH SANG MESIAS!” (bacaan tanggal 16-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak,  14 Februari 2017 [Peringatan S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS