Posts tagged ‘ROH KUDUS’

ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA

ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Juli 2018)

Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN (YHWH), bunyinya: “Berdirilah di pintu gerbang rumah YHWH, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman YHWH, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada YHWH! Beginilah firman YHWH semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah. Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini! Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman YHWH. (Yer 7:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11; Bacaan Injil: Mat 13:24-30

Kita semua mempunyai cara yang agak “lucu” dalam mencari keamanan dalam hal-hal yang sesungguhnya tidak dapat menjamin keamanan. Dalam pencaharian kita akan “sesuatu pegangan”, kita berpaling kepada berbagai rutinitas, jadual, rituale, dan berbagai objek serta tempat yang familiar. Tidak semua hal itu buruk, namun akan menjadi masalah besar apabila hal-hal itu mengambil tempat yang sebenarnya diperuntukkan bagi Allah dalam kehidupan kita. Menjadi berhala!

Inilah yang terjadi dengan umat Israel pada zaman Yeremia. Mereka percaya pada Bait Suci, … bait YHWH, namun mereka mengabaikan relasi dengan Dia yang semestinya dihormati dan disembah di tempat suci tersebut. Mereka juga mengabaikan hubungan mereka dengan orang-orang miskin yang begitu dikasihi oleh-Nya. Tanda-tanda eksternal keagamaan mereka memberikan rasa aman yang keliru, yang memimpin mereka untuk berpikir bahwa mereka dapat mengabaikan panggilan Allah untuk keadilan dan tetap selamat. Nabi Yeremia mengingatkan mereka: Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing” (Yer 7:4-5). Dengan perkataan lain, apabila kita sungguh ingin selamat, maka kita harus membersihkan bait/kenisah diri kita masing-masing (bdk. 1Kor 3:16; 6:19; 2Kor 6:16) agar Allah dapat sungguh berdiam di dalamnya.

Kita melihat bahwa orang-orang Israel telah membuat sesuatu yang sungguh kudus – Bait Suci dan ritualenya – menjadi berhala. Bukankah kita pun kadang-kadang melakukan hal yang serupa? Bukankah “mengagumkan” apabila kita melihat bagaimana Iblis dengan “lihai-licin” mempengaruhi pikiran kita dengan menggunakan “kebenaran setengah-setengah” atau “kebenaran-kebenaran parsial” untuk meyakinkan kita bahwa Allah sesungguhnya tidak dapat diandalkan, sehingga kita harus menaruh rasa percaya pada sesuatu yang lain daripada Allah? Itulah sebabnya, mengapa doa dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci bersifat sangat vital. Semua ini memberikan kesempatan kepada Roh Kudus untuk membisikkan kebenaran-kebenaran Allah ke dalam hati kita – kata-kata cintakasih, hikmat-kebijaksanaan, arahan dan koreksi. Lalu kita pun dikuatkan dan senantiasa berjaga-jaga dalam menghadapi si Iblis yang “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk mengajar kita apa yang sesungguhnya berarti bagi Allah dan apa yang sesungguhnya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kita. Marilah kita belajar untuk menaruh kepercayaan kita pada Allah saja!

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat mengenali perbedaan antara suara-Mu dan suara Iblis dan /atau roh-roh jahat pengikutnya. Tunjukkanlah kepadaku apa yang sesungguhnya berarti dalam kehidupan ini. Dengan demikian aku tidak akan mencari keamanan dalam hal-hal eksternal, melainkan pada-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 28-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Melalui Yesus, Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang senantiasa membimbing kami. Tolonglah agar kami tanpa lelah mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, yang bersama Bapa dan Roh Kudus hidup dan memerintah, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk., Martir Polandia

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5-10 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Apakah anda pernah bertanya kepada seseorang dan merasa bahwa anda tidak memperoleh sebuah jawaban yang langsung, yang straight to the point? Barangkali orang itu menjadi defensif dan bahkan mulai “bersumpah” bahwa dia mengatakan yang sebenarnya kepada anda, namun anda tetap tidak yakin. Sebuah contoh yang baik adalah penyangkalan Petrus bahwa dia mengenal Yesus. Ketika kepadanya ditanyakan apakah dia adalah murid Yesus, dia mengatakan, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Akhirnya Petrus melarikan diri dari tekanan di sekeliling dirinya, namun dengan sebuah kebohongan: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” (Mrk14:66-72).

Mengapa untuk menjadi benar itu dapat begitu susah bagi kita? Apakah karena kita takut atau merasa tidak aman? Apakah karena kita terlalu sombong untuk menerima bahwa diri kita dapat saja salah? Atau barangkali karena kadang-kadang terasa sulit untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari kebenaran. Sebagai kontras terhadap penyangkalan Petrus adalah tanggapan Yesus ketika kepada-Nya ditanyakan apakah diri-Nya adalah sang Mesias, Yesus secara sederhana menjawab, “Akulah Dia” (Mrk 14:62), Dengan menjawab jujur seperti itu, sebenarnya Yesus memberi “izin” atas hukuman mati yang akan dijatuhkan atas diri-Nya. Rasa takut tidak menguasai diri Yesus karena Dia menempatkan diri-Nya dalam tangan-tangan penuh kasih dari Bapa dan mengetahui bahwa sabda Allah tidak pernah dapat ditentang.

Pada Perjamuan Terakhir, Petrus mengatakan bahwa dirinya siap mati untuk Yesus, namun semangat berapi-api gaya “bonek” dan entusiasme yang ada dalam dirinya cepat menyusut ketika Dia melihat betapa dengan “lembek” Yesus menyerahkan diri-Nya kepada para lawan yang hendak menangkap-Nya. Petrus menemukan kebenaran yang menyedihkan bahwa dia tidak dapat mengikuti Yesus ke kayu salib hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hanya setelah Pentakosta Kristiani yang pertama Petrus menerima kuat-kuasa Roh Kudus dan mulai berkhotbah mewartakan Injil dengan penuh keberanian – bahkan di bawah ancaman hukuman dan kematian.

Selagi kita menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus, kita pun dapat menguasai hidup emosional kita dan mengalami suatu keutuhan dan integritas yang dapat dikatakan bersifat ilahi. Realitas surga, janji-janji dari Allah yang Mahasetia, dan suatu rasa takut (yang sehat) terhadap dosa akan bekerja sama guna membentuk dalam diri kita komitmen sederhana terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Yesus. Marilah kita melanjutkan memohon kepada Roh Kudus untuk membentuk diri kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Sesungguhnya, dunia menantikan kesaksian kita.

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 16-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA

MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 24 Mei 2018)

 

Sesunguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20 

Apakah Yesus memaksudkan kita secara harfiah harus memotong satu tangan kita atau mencungkil satu mata kita untuk menghindari kedosaan? Yang jelas, berbagai bacaan dalam Perjanjian Baru tidak mencatat adanya mutilasi-mutilasi yang dilakukan oleh para pengikut Kristus yang awal. Mereka yang mendengar kata-kata Yesus ini jelas memahami kata-kata itu sebagai suatu “hiperbola”, yang dengan sengaja Yesus nyatakan secara berlebihan guna menyampaikan pesan yang ingin disampaikan-Nya. Pada kenyataannya, cara berbicara sedemikian merupakan sesuatu yang biasa di kalangan orang Yahudi abad pertama.

Kalau begitu, apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Dosa mempunyai kekuatan untuk menyeret kita sampai terjatuh, dan bahwa kita harus melakukan hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Dosa menumpulkan kita dan merupakan penghinaan terhadap hidup Allah dalam diri kita. Lebih buruk lagi, dosa mendilusi kemampuan kita untuk menerima kuat-kuasa dan buah-buah Roh Kudus dalam diri kita, menyebabkan kita kehilangan “rasa asin” kita (Mrk 9:50).

Tentunya kita mengetahui bahwa seandainya pun kita jatuh ke dalam dosa, maka kita hanya perlu berbalik kepada Allah, bertobat, dan menerima pengampunan dari Dia. Akan tetapi pertobatan adalah apa yang kita lakukan setelah kita berdosa. Apa yang harus kita lakukan sebelumnya sehingga kita tidak terlibat dalam kedosaan? Inilah isu yang diketengahkan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini: upaya-upaya praktis yang perlu kita lakukan guna menghindari dosa. Titik tolak yang baik adalah untuk mengetahui apa yang menyebabkan kita sampai terjatuh dalam dosa, hal mana berarti memeriksa dengan teliti disposisi batin kita setiap hari. Semakin baik kita mengenal diri sendiri, semakin jelas kita akan mengetahui ke mana kita akan melangkah.

Di Dublin, Irlandia pernah hidup seseorang pecandu alkohol (selama 15 tahun) yang bernama Matt (Matthew) Talbot [1856-1925]. Ia menghadapi kelemahan-kelemahan dirinya dengan cara yang praktis. Salah satu strateginya adalah untuk tidak pernah membawa uang dalam sakunya selagi dia berjalan pergi/pulang ke/dari tempat kerjanya. Tanpa uang ia tidak dapat membeli “miras”, jadi dia “memotong” apa yang tadinya telah menjadi kebiasaan buruknya sehari-hari. Ia bergabung dengan Ordo III Sekular S. Fransiskus (OFS), melakukan pertobatan dengan keras, banyak berdoa, menghadiri Misa Kudus setiap hari dan melakukan devosi kepada Santa Perawan Maria dengan benar. Pada tanggal 3 Oktober 1975, Paus Paulus VI mendeklarasikan Matt Talbot sebagai Hamba Allah (Venerabilis), satu tahapan sebelum Beato.

Kita masing-masing dapat menemukan cara-cara praktis sedemikian guna memerangi dosa.  Jika suatu strategi yang bersifat praktis tidak dapat kita bayangkan dengan jelas, maka sepatutnyalah kita memohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita. Allah sungguh menginginkan agar kita bebas dari perbudakan dosa. Allah ingin agar kita menjaga garam agar tetap terasa asin dalam diri kita. Dengan demikian, Allah sungguh berkomitmen untuk menolong kita menemukan keseimbangan yang benar antara mengandalkan diri sepenuhnya pada kekuatan kita sendiri dan secara pasif menunggu saja mukjizat pembebasan ilahi dari Allah. Allah akan memberikan kepada kita rahmat-Nya yang bersifat supernatural selagi kita membuat sebuah rencana dan berjuang untuk mengimplementasikannya.

DOA: Roh Kudus Allah, aku sungguh ingin mematahkan hubunganku dengan dosa dalam hidupku. Tolonglah aku menemukan cara-cara yang praktis untuk memotong apa saja yang menyebabkan aku menyakiti hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi garam yang tidak hambar dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS” (bacaan tanggal 24-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1ab.24ac.29bc-30.31.34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25; Bacaan Injil: Yoh 15:26-27;16:12-15 

“Datanglah, Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, Roh Kudus! 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-27; 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 16 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

 “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus (Kis 20:18-35). Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri.

Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar.

Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23]. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di Rumah Sakit.

Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 16-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 14 Mei 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS