Posts tagged ‘ROH KUDUS’

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C] – 16 Desember 2018)

Orang banyak bertanya kepadanya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya kepada mereka, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”  Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawabnya, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.”  Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”  Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. (Luk 3:10-18)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7 

Bayangkanlah diri anda sebagai salah seorang yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Anda bergembira karena dosa-dosamu diampuni dan anda pun mempunyai arahan baru bagi kehidupanmu. Seperti juga orang-orang lain, anda dipenuhi dengan berbagai harapan dan rasa heran apakah orang ini sungguh sang Mesias (Luk 3:15). Yohanes menanggapi dengan mengatakan bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak dan hampir bersamaan dia berbicara mengenai suatu baptisan yang lain – dengan Roh Kudus dan dengan api (Luk 3:15-17). Anda tentu merasa heran apa makna dari semua ini.

Beberapa tahun kemudian anda berada di Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta. Anda mendengar seorang yang bernama Simon Petrus berkhotbah mengenai seorang pribadi yang bernama Yesus yang belum lama mati di kayu salib. Petrus memproklamasikan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah mencurahkan Roh Kudus Allah. Hati anda tersentuh dan bersama orang-orang lain anda berseru: “Apa yang kami harus perbuat, Saudara-saudara?” (Kis 2:37). Petrus menjawab: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis 2:38). Penuh dengan harapan, anda pun dibaptis. Selagi Roh Kudus memenuhi diri anda dengan rasa mendalam akan cintakasih dan kehadiran Allah, anda sadar bahwa baptisan Yohanes Pembaptis hanyalah suatu persiapan untuk baptisan ini.

Melalui baptisan, kita semua telah menerima karunia Roh Kudus yang tak ternilai harganya ini. Sekarang kita mengalami kehadiran Allah yang sesungguhnya dalam diri kita. Kita menjadi puteri dan putera-Nya. Kita memiliki kebenaran ilahi, kuasa ilahi dan cinta kasih ilahi dalam diri kita masing-masing. Selagi kita mendengarkan Roh Kudus dan berjalan dalam jalan-Nya, kehidupan kita pun dapat diubah agar semakin mencerminkan keserupaan dengan Kristus.

Selagi kita melakukan persiapan-persiapan untuk merayakan inkarnasi Yesus (Natal), baiklah kita menghadap Allah dengan hati yang penuh rasa syukur dan memohon kepada-Nya agar memberikan kepada kita lebih lagi Roh Kudus – suatu relasi dengan Allah yang lebih mendalam lagi; kesadaran yang lebih kuat lagi akan Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam hati kita; dan suatu hasrat yang lebih besar akan penyembahan kepada Allah, pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus dan pelayanan bagi Gereja.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan penuhi diri kami dengan lebih mendalam lagi. Kami membutuhkan Engkau, kami menginginkan Engkay, kami mengasihi Engkau. Ampunilah kami kaarena tidak memperhatikan Engkau dalam hidup kami sehari-hari. Sembuhkanlah luka-luka kami. Bangkitkanlah kami agar dapat menjadi puteri dan putera Bapa di surga lewat hidup kami sebagai murid-murid Yesus Kristus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:10-18), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT? [2]” (bacaan tanggal 16-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DALAM KRISTUS KITA DAPAT MENEMUKAN RAHMAT UNTUK MENGATASI/MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN DOSA

DALAM KRISTUS KITA DAPAT MENEMUKAN RAHMAT UNTUK MENGATASI/MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 10 Desember 2018)

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26)  

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada sesuatu yang menarik dalam bacaan Injil hari ini: Yesus pertama-tama mengampuni orang lumpuh itu, kemudian sebagai bukti dari pengampunan-Nya, Dia menyembuhkan orang itu. Apa yang digambarkan dalam bacaan Injil itu pun secara istimewa mempesona apabila kita mempertimbangkan segala studi di bidang psikologi dan kedokteran yang telah menunjukkan adanya kaitan antara tubuh dan pikiran, bagaimana orang-orang yang merasa lebih terbeban oleh rasa bersalah dan frustrasi cenderung lebih rentan terhadap sakit-penyakit. Banyak orang menilai hasil berbagai penelitian ilmiah ini sebagai suatu terobosan, namun bagi umat Kristiani studi-studi ini hanyalah merupakan konfirmasi dari sejarah yang sudah berlangsung selama 2000 tahun seperti telah ditunjukkan oleh bacaan Injil hari ini dan juga oleh pengalaman-pengalaman kita sendiri.

Yesus memandang dosa dan segala konsekuensi dosa dengan sangat serius. Ia merasa sedih atas segala dosa kita, segala keterikatan kita pada hal-hal yang buruk – bahkan yang kecil-kecil sekali pun – dan Dia rindu untuk membebaskan kita. Yesus juga memandang secara serius setiap sakit-penyakit yang bersifat fisik. Ia rindu untuk berada bersama kita dalam penderitaan dan untuk membebaskan kita dari setiap beban yang tidak perlu. Yesus ingin membebaskan kita tidak hanya dari dosa, melainkan juga dari segala konsekuensi dosa. Yang diminta Yesus dari diri kita adalah bahwa kita memperkenankan Roh Kudus-Nya menunjukkan kepada kita di mana kita perlu diampuni.

Santo Thomas Aquinas [1225-1274] pernah mengatakan, bahwa kita semua dilahirkan dalam keadaan tidak peduli (Inggris: ignorance) dan dosa. Ketidakpedulian sesungguhnya berkaitan dengan tidak tahu membedakan antara yang baik dan yang jahat. Ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk menemukan perbedaan antara yang baik dan yang jahat inilah yang seringkali menyeret orang kepada dosa. Betapa sering manusia, sebelum jatuh ke dalam dosa, melakukan rasionalisasi …… melakukan pembenaran-pembenaran, atau berpikir bahwa apabila setiap orang lain melakukan “hal buruk tertentu”, bukankah hal itu tidak terlalu buruk? Namun fakta tetap berbicara, yaitu bahwa dosa “merusak” roh,  jiwa dan pikiran serta tubuh kita!

Sebagai “seorang” ayah yang baik, Allah ingin melindungi kita. Ia mengutus Roh Kudus untuk mengajar kita bahwa dalam Kristus kita dapat menemukan rahmat untuk mengatasi/mengalahkan kejahatan dan dosa. Digerakkan oleh Roh Kudus, marilah kita bertobat dari pemikiran-pemikiran jahat, kata-kata yang tidak baik atau tindakan-tindakan buruk, termasuk juga “kelalaian untuk melakukan berbagai hal yang diperintahkan Allah”, sehingga Yesus dapat menyembuhkan kita dan membuat diri kita utuh.

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat melihat motif-motif di belakang dosa-dosaku – apakah itu kenikmatan badani, balas dendam, mementingkan diri sendiri dan lain-lain. Bebaskanlah aku dari kendali dosa atas diriku. Sembuhkanlah aku dan buatlah aku utuh dalam roh, jiwa dan pikiran serta tubuhku, sehingga dengan demikian diriku dapat memancarkan kemuliaan Allah kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DI PADANG GURUN” (bacaan tanggal 10-12-18) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Desember 2018 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUMBER-SUMBER AIR KEHIDUPAN BAGI KITA

SUMBER-SUMBER AIR KEHIDUPAN BAGI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Jumat, 9 November 2018)

 

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku keluar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. (Yeh 47:1-2,8-9,12) 

Bacaan Pertama alternatif: 1Kor 3:9b-11,16-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

Pada hari ini kita merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, yaitu basilika tertua dan salah satu basilika yang paling penting di kota Roma. Pada abad ke-4, Konstantinus yang adalah Kaisar Kristiani pertama, membangun sebuah kapel di atas tanah yang diberikannya kepada istrinya. Berabad-abad lamanya gereja itu secara berulang-kali telah mengalami penghancuran, pembangunan kembali, perluasan, dan renovasi. Namun gereja itu selalu dipandang dan diakui sebagai gereja katedral dari Uskup Roma (Sri Paus).

Basilika Lateran sangatlah impresif – baik dilihat dengan mata maupun dilihat dari sudut sejarahnya – namun yang paling mengesankan adalah bagaimana basilika ini mengekspresikan tujuan Gereja. Sebuah contoh yang paling mencolok adalah tulisan yang tertera pada bejana pembaptisan: “Ini adalah mata air kehidupan, yang membersihkan seluruh dunia, yang berasal dari luka-luka Kristus.” Ini adalah pengingat yang penuh kuasa bahwa Gereja ada untuk melanjutkan karya Kristus di dunia!

Dua ribu tahun lalu, kehadiran Yesus secara fisik/badani membawa kebenaran, rahmat, dan kesembuhan kepada dunia. Namun apa yang dilakukan-Nya dalam dan melalui tubuh-Nya yang fisik itu, sekarang dilakukan-Nya melalui tubuh-mistik-Nya, yaitu Gereja, …… tidak hanya melalui struktur-struktur formal dan para pelayannya yang tertahbis (para klerus) melainkan juga melalui diri kita masing-masing para anggota tubuh-Nya yang awam. Kita semua adalah tangan-tangan dan kaki-kaki Yesus. Melalui kitalah – para anggota Tubuh-Nya, klerus maupun awam – Kristus mengkomunikasikan kasih-Nya, penyembuhan-Nya dan kebenaran-Nya. Nabi Yehezkiel melihat air yang menyembuhkan mengalir dari Bait Suci menuju ke segala penjuru. Dalam artian tertentu, itulah kita: anda dan saya! Kita masing-masing adalah bait Roh Kudus, dan Yesus ingin memenuhi diri kita secara berlimpah.

Akan tetapi, agar dapat membawa Kristus ke tengah dunia, kita sendiri harus masuk (membenamkan diri) ke dalam sumber air kehidupan sedalam-dalamnya. Doa-doa pribadi, karunia sakramen-sakramen, hikmat sabda Allah dalam Kitab Suci, kasih kepada saudari-saudara dalam Kristus – semua ini adalah sumber-sumber air kehidupan bagi kita. Apabila Konstantinus, orang yang paling berkuasa di dunia barat pada zaman itu dapat bertobat melalui kesaksian umat Kristiani, bayangkanlah betapa kesaksian kita dapat mempengaruhi para tetangga kita, para teman/sahabat kita, para rekan kerja kita. Apabila kita membenamkan diri kita dalam Kristus, maka kita sungguh dapat mengubah dunia.

Dalam hal ini marilah kita mengingat sabda-Nya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak” (Yoh 14:12-13).

DOA: Roh Kudus, murnikanlah Gereja-Mu dan penuhilah kami semua dengan hidup-Mu, kasih-Mu, rahmat-Mu dan kebenaran-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah kami agar mau dan mampu berbela-rasa terhadap orang-orang miskin dan menderita di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 3:9-11, 16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP” (bacaan tanggal 9-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 7 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENTRALITAS KRISTUS DALAM KEHIDUPAN SEORANG KRISTIANI

SENTRALITAS KRISTUS DALAM KEHIDUPAN SEORANG KRISTIANI                                        

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 8 November 2018)

Kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. Sekalipun aku juga ada alasan untuk mengandalkan hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat mengandalkan pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. (Flp 3:3-8a) 

Mazmur Tanggapan:  Mzm 105:2-7; Bacaan Injil: Luk 15:1-10

Sebelum perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik, kehidupan Paulus (Saulus) merupakan sebuah model dari kesempurnaan moral dan religius Yahudi. Sejak hari-hari pertama masa mudanya, Paulus berupaya sedapat mungkin untuk menyenangkan Allah dengan mematuhi segala praktek dan hukum Yahudi yang berlaku. Pada hari ini kita mungkin dapat membandingkan kehidupan Paulus sebelum perjumpaannya dengan Kristus dengan seseorang yang didorong untuk melakukan atau memainkan peranan-peranan yang dipandang/dinilai benar – misalnya bergabung dengan paduan suara anak-anak, menjadi pelayan Misa yang rajin, aktif dalam gerakan Pramuka, top terus dalam kelas – termasuk sewaktu kuliah di perguruan tinggi, menjadi eksekutif sukses yang juga aktif dalam berbagai kegiatan gerejawi, misalnya sebagai anggota Dewan Paroki inti, Prodiakon dlsb. Yang pantas dicatat di sini adalah, bahwa apakah dia memiliki catatan prestasi yang gemilang atau tidak, tetap saja ada bahaya bahwa orang ini melakukan semua hal “benar” ini karena motivasi yang berbeda daripada mengasihi Tuhan, misalnya karena pengejaran nilai diri-sendiri dalam hal-hal yang berhasil dicapainya. Kecenderungan ini selalu ada pada diri manusia.

Akan tetapi, pada waktu Paulus berjumpa dengan Yesus Kristus, dia belajar tentang pandangan Allah mengenai performa dan penerimaan – karena pada dasarnya nilai diri kita berasal dari kasih Yesus Kristus yang memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Sebagai akibat perjumpaannya dengan Kristus, Paulus menolak jalan hidupnya yang lama/dulu. Tujuan hidupnya setelah “saat sangat penting” itu adalah: “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus” (Flp 3:8-9). Bukankah ini yang telah ditunjukkan dalam kehidupan para kudus seperti S. Fransiskus dari Assisi, S. Ignatius dari Loyola, S. Padre Pio dll.? Allah menerima kita sebagai “benar” bukanlah karena segala upaya kita yang baik, tetapi karena Dia mengasihi kita – suatu kasih yang diminta-Nya agar kita menaruh kepercayaan di dalamnya. Allah tidak mengukur nilai diri kita berdasarkan standar-standar penerimaan yang bersifat manusiawi.

Tempat Kristus dalam kehidupan kita sebagai orang Kristiani bersifat sentral. Hanya Yesus Kristuslah yang signifikan. Di samping Dia tidak ada yang signifikan. Bilamana kita sungguh dipanggil oleh Kristus, kita sebenarnya diundang kepada suatu keterikatan eksklusif dengan pribadi Kristus ini. Rahmat panggilan-Nya ini menghancurkan segala ikatan legalisme. Panggilan Kristus adalah rahmat, yang mengatasi perbedaan antara hukum dan Injil-Nya. Pada hari ini marilah kita secara khusus merenungkan kenyataan bahwa Allah menerima kita sebagai benar, tidak berdasarkan apa yang kita lakukan, akan tetapi berdasarkan pada iman kita kepada Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu buatlah aku untuk semakin mendalami kepercayaanku kepada-Mu, semakin taat kepada sabda-sabda Yesus Kristus dalam Injil agar dapat mengenal-Nya dengan lebih dalam lagi. Semoga dengan demikian aku pun dapat bersama Paulus memproklamasikan: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malah segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku” (Flp 3:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA CINTA!” (bacaan tanggal 8-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 6 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG YANG RENDAH HATI

ORANG YANG RENDAH HATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Senin, 5 November 2018)

Jadi, karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Flp 2:1-4) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3; Bacaan Injil: Luk 14:12-14 

Apabila mendengar  kata “rendah hati”, apakah yang ada dalam pikiran kita? Rasa minder?  Tidak memiliki kemauan yang kuat? Membiarkan orang-orang lain mengambil manfaat atas diri kita? Ini semua bukanlah jenis kerendahan hati yang diinginkan Allah dari diri kita, dan ini juga bukan kerendahan hati yang dimaksudkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Bagi Paulus, kerendahan hati adalah kemampuan untuk melihat diri kita sendiri dan sesama kita seperti Allah melihat kita, yaitu sebagai anak-anak-Nya terkasih dan para warga surga. Kerendahan hati sungguh melibatkan kekuatan untuk menjadi serupa dengan Yesus, artinya mengasihi tanpa syarat, mengampuni, dan berbagi dengan penuh kemurahan hati dengan orang-orang di sekeliling kita. 

Orang-orang yang rendah hati tidak perlu memakai topeng dan mempertunjukkan tindak-tanduk mereka. Karena mereka melihat bahwa orang-orang lain berharga di mata Allah, maka mereka tidak akan terkecoh dengan hal-hal seperti kemasyhuran, kekayaan, atau wajah yang tampan/cantik. Kerendahan hati berarti menomor satukan atau mendahulukan orang-orang lain, karena kerendahan hati memandang betapa penting orang-orang lain bagi Allah (Flp 2:4).

Kerendahan hati seperti ini dimaksudkan sebagai suatu sukacita, bukannya suatu beban. Kerendahan hati yang sejati membebaskan hati kita dari rasa takut dan ketamakan. Sebaliknya, kesombongan bertujuan untuk  menghilangkan nilai orang-orang lain sehingga dengan demikian kita dapat membangun rasa penting diri kita sendiri. Karena hal itu menyangkut kerja keras untuk membuat kita merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang-orang lain, maka kesombongan membuat kita sibuk dengan kepentingan-kepentingan kita sendiri dan memutus aliran rahmat Allah bagi kita. Kerendahan hatilah yang mengikat kita bersama sebagai Tubuh Kristus (Gereja).

Yesus adalah model kerendahan hati bagi kita. Dia merendahkan diri-Nya guna membebaskan kita. Kasih-Nya tidaklah diskriminatif. Yesus mengasihi semua orang, apakah namanya Joko, Amien, Ahok, Fadli, Fahrie, Marhaen atau Yusuf! Yesus selalu menyambut siapa saja: orang miskin, orang yang cacat fisik dan orang-orang yang terbuang dalam masyarakat karena penyakit HIV-Aids, para pecandu narkoba dlsb. Dalam diri Yesus orang-orang yang rendah hati menemukan seorang Sahabat sejati. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk bersikap dan bertindak-tanduk seperti Yesus selagi kita melayani orang-orang lain dalam keluarga kita sendiri dan dunia di sekeliling kita. Apabila kita berbagi/syering berkat-berkat kita dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, maka rahmat pun akan mengalir dari takhta Allah. Dia adalah “seorang” Allah dengan sumber daya tanpa batas, Kita dapat merasa yakin bahwa kapan saja kita mengerjakan urusan-urusan-Nya, maka Dia akan menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau merendahkan diri-Mu demi diriku. Bebaskanlah aku dari kesombongan sehingga dengan demikian aku dapat menjadi serupa dengan Engkau. Biarlah aku menemukan sukacitaku dalam melayani, bukan ketika aku dilayani. Yesus, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “BELA RASA YESUS” (bacaan tanggal 5-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 2 November 2018 [PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS

BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 6 Oktober 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 luka Yesus, Perawan

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130 

“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus.”  (Luk 10:21)

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para murid-Nya ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka? (bacalah keseluruhan Luk 10:17-20).

Kita juga diminta untuk bersukacita dalam Tuhan Yesus. Ingatlah apa yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Flp 4:4). Pantaslah kita bersukacita karena nama kita ada  terdaftar di surga (Luk 10:20). Yesus bersyukur kepada Bapa surgawi, “karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk 10:21). Kita bersukacita karena Bapa surgawi telah mewahyukan Putera kepada kita, dan Putera telah mewahyukan Bapa kepada orang “yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” (Luk 10:22).

Sudah sepatutnya kita bergembira dan bersukacita dalam Tuhan sebab “karena anugerah kita diselamatkan oleh iman; bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah” (Ef 2:8). Kita bersukacita karena Kabar Baik Yesus Kristus yang telah dinyatakan kepada kita. “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:23-24).

Melalui anggota keluarga kita, sekolah, lingkungan, guru agama dan pewarta sabda lainnya, kita memperoleh pernyataan atas Kabar Baik Yesus Kristus itu. Kita sepatutnya bersyukur atas anugerah Tuhan mengirim orang-orang itu kepada kita.

Sekali lagi kita bersyukur, bersukacita karena diperkenankan mengenal dan mengasihi Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau bersabda kepada para murid pada perjamuan terakhir: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Berikanlah kepadaku hati, pikiran, kehendak dan sukacita-Mu seturut kehendak-Mu yang kudus. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 6-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 4 Oktober 2018 [HARI RAYA S. FRANSISKUS ASSISI, Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paolo – Kamis, 27 September 2018)

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus (Luk 9:7-9).

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

Dalam Injil Lukas, bacaan singkat Injil hari ini terletak di antara cerita tentang Yesus mengutus kedua belas  rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6) dan kembalinya mereka setelah melaksanakan tugas perutusan itu (Luk 9:10-17).  Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa para murid Kristus akan menghadapi oposisi selagi mereka mewartakan sabda Allah, walaupun barangkali diiringi kebingungan seperti ketika orang-orang itu menilai Yohanes Pembaptis.

Yesus menghadapi oposisi dan demikian pula para pengikut-Nya. Yesus seringkali ditentang oleh para pemimpin Yahudi (Mat 12:14), bahkan oleh para pengikut-Nya sendiri (Mat 16:23). Yohanes Pembaptis menghadapi oposisi dari Herodus Antipas yang menyuruh menangkapnya, menjebloskannya ke dalam penjara dan kemudian memenggal kepalanya. Para murid Yesus juga menghadapi oposisi (lihat Kis 5:17-18), dan Gereja telah menghadapi oposisi dalam berbagai bentuknya sepanjang sejarahnya yang sudah berlangsung selama kurang-lebih 2.000 tahun.

Sabda Allah menyatakan posisi kita di hadapan Allah dan mendatangkan pemisahan ketika mengungkapkan kebutuhan kita untuk mengubah hidup kita dan berbalik kepada Allah. Pesan Salib mengambil tempat sentral dalam pengajaran Yesus dan merupakan alasan mengapa Dia melakukan karya pelayanan-Nya (Luk 9:22). Bahkan Petrus sendiri salah memahami keperluan akan penderitaan sengsara Yesus untuk menebus umat manusia (Mat 16:21-23).

Selagi Injil diwartakan pada masa para rasul, Gereja bertumbuh-kembang secara dramatis (lihat Kis 2:41,47) dan diberkati secara berlimpah. Gereja modern akan diperkuat apabila tetap teguh dalam mewartakan pesan Injil Yesus Kristus secara penuh, pesan yang tidak akan berubah dengan adanya perubahan zaman. Bilamana sabda Allah diwartakan, maka sabda Allah itu akan berbuah dan mencapai tujuan dari pekerjaan itu, seperti ada tertulis dalam Kitab Yesaya; “…… demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:11).

Injil tidak dapat diperlunak karena rasa takut akan adanya reaksi-reaksi yang tidak mengenakkan atau membuatnya menjadi lebih dapat diterima. Bilamana kita  berbicara mengenai kebenaran Allah dalam kasih, dibimbing oleh Roh Kudus, orang-orang akan mengenal Yesus dan menemukan kehidupan di dalam Dia. Injil sebagai sabda Allah yang hidup dan aktif, menyatakan hikmat Allah yang tak terhingga dan kasih yang tak dapat diukur. Injil bukanlah sekadar suatu kode moral atau buku yang memuat panduan-panduan untuk bertindak-tanduk; Injil adalah kuasa dan kasih Allah yang membawa kehidupan baru.

Kita tidak perlu menjadi putus-asa manakala kita menghadapi oposisi terhadap Injil. Ketika Gereja mewartakan keutamaan Kristus, maka Gereja pun akan berkemenangan. Ingatlah, bahwa kita tidak sendiri dalam bekerja, karena Allah telah mengutus Roh Kudus untuk membimbing Gereja (Yoh 16:5-16).

DOA: Tuhan Yesus, melalui Roh Kudus-Mu, buatlah kami semua menjadi orang-orang yang berani dalam mewartakan Injil, agar dengan demikian orang-orang di mana-mana dapat mengenal dan mengalami kasih dan hidup-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?” (bacaan tanggal 27-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 25 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS