Posts tagged ‘ROH KUDUS’

CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI

CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 27 Oktober 2017) 

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Rm 7:18-25a; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,68,76-77,93-94 

“Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilai, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Luk 12:56)

Allah senang sekali mengungkapkan pikiran dan isi hati-Nya kepada kita. Sepintas lalu bacaan di atas memang memberi kesan bahwa Yesus sekadar menegur para murid-Nya – dan kita tentunya – karena tidak menaruh perhatian pada tanda-tanda zaman. Akan tetapi, Dia sebenarnya mendorong kita untuk memandang ke sekeliling kita dan melihat sendiri bagaimana Roh Kudus-Nya bekerja di atas muka bumi. Sepanjang memandang, kita akan melihat bahwa “tuaian memang banyak” (Luk 10:2). Dunia dewasa ini sangat menderita kelaparan dan kehausan. Apa yang diderita umat manusia yang hidup dalam dunia yang materialistik ini – seringkali tanpa menyadarinya – adalah kelaparan dan kehausan berkaitan dengan pengenalan akan kasih Allah. Kita-manusia mencoba untuk mengisi kekosongan dalam hidup kita dengan pengganti-pengganti palsu dari cintakasih yang jujur, misalnya uang, kesuksesan, kenikmatan seksual, hal-hal duniawi, narkoba dan alkohol. Sebagai akibatnya, kita luput melihat keberadaan satu-satunya kasih yang sungguh-sungguh dapat memuaskan rasa lapar dan haus kita: …… kasih Allah sendiri.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus menulis bahwa segenap ciptaan menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan (Rm 8:19). Inilah yang dirindukan oleh Bapa surgawi. Inilah sebabnya mengapa kita diciptakan – adopsi kita sebagai anak-anak Allah. Inilah sebabnya mengapa tidak ada hal lain yang dapat memuaskan kita. Di kedalaman hati kita, sebenarnya kita merindukan untuk dipersatukan dengan Yesus.

Banyak orang memandang akhir dunia dengan rasa takut sebab mereka tidak pernah mengenal dan mengalami sukacita karena menjalin relasi intim dengan Allah sebagai Bapa mereka. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin jelas pula kita akan mampu untuk membaca tanda-tanda zaman karena kita tidak akan merasa takut akan apa yang kita akan lihat. Kita akan mulai memahami niat-niat Allah dan menaruh kepercayaan bahwa Dia senantiasa bekerja untuk kebaikan segenap ciptaan-Nya. Bersama sang pemazmur kita dapat berdoa: “Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup” (Mzm 119:77).

Kepada kita semua telah diberikan Roh Kudus. Janganlah kita menantikan kedatangan kembali Yesus secara pasif. Sebaliknya, marilah kita berdoa dengan tekun: “Datanglah Kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu, di atas bumi dan di dalam surga”. Selagi kita menantikan kedatangan kembali sang Kristus Raja, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar Dia memperbaharui pikiran kita dan memampukan kita memahami cara-cara-Nya. Dengan demikian kita akan lebih siap bagi kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Roh Kudus Allah, perbaharuilah pikiran-pikiran kami. Ajarlah kami untuk menantikan kedatangan kembali Kristus dengan antisipasi yang penuh pengharapan. Siapkanlah diri kami untuk menanggapi – dalam iman dan ketaatan – apa saja yang diminta oleh Bapa surgawi dari diri kami masing-masing untuk kami kerjakan. Bentuklah kami – Gereja – menjadi mempelai perempuan yang murni dan tanpa noda yang dirindukan oleh Bapa untuk diberikan kepada Yesus, Putera Bapa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 27-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 24 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 21 Oktober 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9,42-43 

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari ke dalam hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah. Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA” (bacaan tanggal 21-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS [TAHUN A] –  Minggu, 11 Juni 2017

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab Ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh 3:16-18) 

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Kedua: 2Kor 13:11-13 

Kita mengawali doa-doa pribadi kita dan doa-doa liturgis kita dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Mengapa? Karena agama kita mengakui Allah dengan tiga Pribadi yang berbeda, yang berbagi satu kodrat yang sama. Yesus adalah Allah. Dalam Kitab Suci, Yesus berbicara mengenai keilahian-Nya dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang hanya pantas dilakukan oleh Allah. Yesus berdoa kepada Allah, Bapa-Nya, dan mengungkapkan kesatuan-Nya dengan Dia. Yesus juga mengutus Roh Kudus, “seorang” Pribadi Ilahi lainnya, ke tengah dunia guna melanjutkan proses keselamatan umat manusia. Dengan demikian kepercayaan kepada Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sungguh merupakan kebenaran sentral dan mendasar dari iman-kepercayaan kita. Karena kodrat Allah jauh melampaui kemampauan kita untuk memahami, maka secara konstan kita menempatkan kata “misteri” di depan kata-kata “Tritunggal Mahakudus” Seandainya Yesus tidak menyatakan rahasia mendalam ini kepada kita, maka kita tidak akan pernah mengetahui serta mengenal kodrat Allah yang benar dan intim.

Sungguh memberi tantangan bagi kita semua untuk menerima konsep yang paling sederhana sekali pun tentang Allah, karena realitas Allah sungguh tidak mudah untuk dipahami/dicerna oleh akal budi kita yang terbatas ini. Sebagai akibatnya, tidak mengherankanlah apabila banyak orang yang menyangkal keberadaan-Nya. Untuk melihat tiga Pribadi dengan satu kodrat sungguh mengganggu imajinasi kita dan malah dapat mengecoh orang-orang yang memiliki intelek yang paling brilian sekali pun.

Kodrat Allah yang paling intim akan senantiasa melampaui kemampuan kita untuk memahami. Tidak ada analogi yang memadai bagi kita untuk melakukan upaya perbandingan. Hal ikhwal misteri Trinitas ini  – seperti juga misteri-misteri keagamaan/iman/kepercayaan lainnya – tidak pernah akan terpecahkan. Memang sebenarnya semua itu tidak dimaksudkan untuk dipecahkan, melainkan harus diterima berdasarkan iman, bukannya dengan akal budi belaka.

Ajaran Gereja tentang Tritunggal Mahakudus menunjukkan konsistensi sejak awal. Santo Petrus mengawali suratnya yang pertama dengan menyapa umat Kristiani dari beberapa tempat sebagai “orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr 1:2). Berbagai konsili ekumenis dari abad ke abad terus saja melanjutkan pengajaran dan penjelasan tentang keyakinan suci dan sentral dari kodrat Allah ini. Kesatuan Yesus sendiri dengan Bapa dan Roh Kudus menginspirasikan diri-Nya untuk membentuk komunitas di antara para pengikut-Nya. Ini juga diulangi oleh Paulus dan bacaan kedua hari ini (dalam salam penutupnya): “… Saudara-Saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati, sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! … Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:11,13).

Hari Raya Tritunggal Mahakudus sudah dirayakan sejak zaman Paus Yohanes XXII pada awal abad ke-14. Hari Raya ini selalu dirayakan pada hari Minggu setelah Hari Raya Pentakosta.

DOA: Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa … Kami percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal … Kami percaya akan Roh Kudus …  Kami percaya bahwa Allah adalah keberadaan yang murni, kesempurnaan tanpa akhir dan sumber keheranan yang tak habis-habisnya. Kami memuji-Mu dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kami mohon, perkenankanlah kami ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi terang pengharapan dan saksi-saksi dari kasih-Mu kepada setiap orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (2Kor 13:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 11-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

Cilandak, 8 Juni 2017 [Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 24 Mei 2017)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22 – 18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kadang-kadang timbul keinginan dalam hati kita bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita pada Perjamuan Terakhir semua hal yang dikatakan oleh-Nya akan diajarkan oleh Roh Kudus setelah Ia sendiri pergi, bukankah begitu? Tidak pernahkah kita mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan suatu keputusan sangat penting, namun ketika kita selesai berdoa kita masih  saja tidak yakin apakah suara yang menjawab doa kita di kepala kita itu sungguh suara Allah atau hanya imajinasi kita sendiri? Lalu kita berkata kepada diri kita sendiri: “Ah, kalau saja Roh Kudus berbicara kepada kita dengan jelas seperti pada waktu Yesus berbicara dengan para murid-Nya!” …… “Kalau saja Dia dapat menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti, sehingga aku tidak perlu mengira-ngira, tak perlu menebak-nebak apa yang dimaksudkan oleh-Nya!”

Namun Yesus mengatakan kepada kita – dengan kata-kata yang mudah dimengerti – bahwa lebih berguna bagi kita kalau Dia pergi kembali kepada Bapa surgawi (Yoh 16:7). Mengapa? Karena dengan demikian Dia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita untuk menyucikan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Dalam hati kita dapat saja ingin agar kita memiliki kedekatan dengan Yesus seperti halnya para rasul/murid-Nya yang pertama. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa meski begitu dekat dengan Yesus, tetap saja tidak dapat mencegah para rasul/murid untuk merasa takut akan nyawa mereka sendiri; tidak dapat mencegah mereka untuk melarikan diri justru pada waktu sang “Tuhan dan Guru” ditangkap oleh pasukan para penguasa pada waktu itu.

Kapan sebenarnya kita berada paling dekat dengan Yesus? Tentunya pada waktu kita menyambut Dia dalam Komuni Kudus – setelah kita mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga dalam Komuni Kudus Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita dan untuk menyentuh kita dengan penyembuhan-Nya, dengan hikmat-Nya dan dengan kasih-Nya. Yang diminta oleh-Nya dari kita hanyalah hati yang terbuka lebar-lebar bagi Dia dan pikiran-hening yang hanya tertuju kepada-Nya.

Oleh karena itu janganlah kita membuang-buang waktu sedemikian, yaitu saat-saat kebersatuan dengan Allah secara mendalam, ketika suara kecil hampir tak terdengar dari Roh Kudus dapat terdengar paling jelas dalam hati kita. Tentu saja kita tidak keluar dari Misa Kudus dengan sebuah dokumen sepanjang 2-3 halaman folio berisikan kata-kata yang didiktekan oleh Roh Kudus berkaitan dengan pilihan penting yang harus kita buat. Namun demikian, kita akan membawa dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, laksana suatu cara pengobatan/terapi radiasi yang menembus bagian luar diri kita dan membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya masuk ke dalam bagian-bagian diri kita yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ucapkanlah sabda-sabda-Mu yang hidup kepadaku setiap hari – sabda-sabda-Mu yang akan menembus dalam-dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, juga kata-kataku dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu saja. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan pertama hari ini (Kis 17:15,22 – 18:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN LUPA PERANAN SALIB” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya  dapat lebih bersifat intim/akrab dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus,  mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 23-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 22 Mei 2017)

 “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Paracletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai “seorang” penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16).

Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah anda pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di sampingmu ketika anda duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, anda tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya anda pikir tidak mungkin.

Dalam masa Paskah ini, baiklah anda datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Mohonlah kepada-Nya untuk menolongmu dalam kelemahan-kelemahanmu. Sementara anda membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati anda, di mana kehendak anda dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan anda pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 22-5-17) dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 4 Mei 2017)

Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, “Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepada perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya. Lalu kata Roh kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” [Sahut Filipus, “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya, Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] Orang  Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun pejabat istana itu, lalu Filipus membaptis dia. Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Ternyata Filipus sudah berada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. (Kis 8:26-40) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9,16-17,20; Bacaan Injil: Yoh 6:44-51

Oh, betapa sering sabda Tuhan tersekat di kerongkongan kita! Maksud hati mau syering/ berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, namun seakan ada yang menekan sehingga tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulut kita. Mungkin saja kurang PD karena belum mengikuti KEP di Paroki. Mungkin juga karena kita tidak mau terlihat sebagai seorang yang suka memaksa atau mengganggu, misalnya karena tidak sesuai dengan adat-kebiasaan dan budaya etnis kita. Mungkin saja karena kita tidak mau orang-orang lain memandang kita sebagai orang yang fanatik dalam hal keagamaan, “bonek” rohani? Dengan demikian hilanglah kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang telah dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di sisi lain ada banyak orang yang hatinya berteriak, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31).

Dengan penuh ketaatan Filipus mendengar suara Tuhan yang disampaikan oleh seorang malaikat-Nya. Dia langsung pergi dari Jerusalem ke Gaza melalui jalan padang gurun yang sunyi-sepi. Filipus tidak berhenti di tengah jalan, lalu bertanya kepada Tuhan: “Mengapa Tuhan? Untuk apa Tuhan?” Dia hanya menjalankan perintah Tuhan dengan setia, karena dia tahu dan sadar bahwa misi-nya akan jelas pada saat yang ditentukan Tuhan. Memang demikianlah ceritanya. Dalam perjalanannya di jalan padang gurun yang sunyi itu, Filipus bertemu dengan sebuah kafilah dan kemudian bergabung dangan kafilah itu. Di situ dia bertemu dengan seorang pejabat istana Etiopia yang sedang menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Yesaya. Filipus kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana: “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis 8:30).

Tanggapan pejabat negara Etiopia itu sama dengan yang ada di dunia, bahkan sampai hari ini: “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Bagaimana orang dapat memahami kasih Allah dan rahmat penyelamatan Yesus kalau tidak orang yang pergi keluar dari sangkar emasnya dan pergi merebut kesempatan yang ada untuk syering Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Ingatlah, bahwa setiap orang yang mempunyai komitmen kepada Yesus qualified untuk menolong orang-orang lain memahami Injil. Dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya kita semua sesungguhnya adalah “duta-duta Kristus” atau “utusan-utusan Kristus” (lihat 2Kor 5:20).

EVANGELISASI bukanlah tanggung-jawab orang lain; EVANGELISASI adalah tanggung-jawab semua/setiap orang yang menamakan diri KRISTIANI, semua yang menjadi anggota TUBUH KRISTUS di atas bumi ini. Allah telah memberikan kepada kita Roh Kudus, yang memberdayakan kita untuk mewartakan Injil. Apabila kita mengalami suatu relasi yang akrab dengan Tuhan Yesus, maka Dia sungguh-sungguh adalah Tuhan (Kyrios) dari kehidupan kita. Maka kita pun dapat berbicara dengan jujur, bebas dan berani tentang diri-Nya kepada orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita mohon Roh Kudus agar menggerakkan kita supaya mampu mewartakan Injil secara efektif seperti Filipus.

DOA: Datanglah Roh Kudus dan berdayakanlah kami agar mampu berbicara kepada orang-orang lain mengenai Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mampu melaksanakan perintah-Nya untuk pergi keluar dan mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang kami temui. Kami, anak-anak-Mu mendambakan kasih-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbagi kasih-Mu dengan orang-orang yang kami temui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “ROTI YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 4-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS