Posts tagged ‘ROH KUDUS’

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  15 Januari 2017)

0-0-lamb-of-go-bqimxlc

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa seperti ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 12 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN –  Senin, 9 Januari 2017)

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Sebenarnya ada dua peristiwa luarbiasa terangkum dalam petikan Injil di atas yang terdiri dari lima ayat saja.

Yang pertama adalah bahwa Yesus menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa dan menerima baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis. Yohanes sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa herannya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Yohanes sendiri adalah seorang pendosa. Dia yang berkhotbah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak juga membutuhkan khotbah pertobatan dari Dia. Bukankah seorang imam yang bertugas melayani Sakramen Rekonsiliasi dan mengampuni dosa umat juga  harus menerima absolusi? Tidak seorang pun kudus selain Allah sendiri. Dan …… setiap orang – sebagai pendosa – harus dikuduskan oleh Allah.

Kita semua hanyalah mata rantai dari rantai yang sama, tangkai dari batang yang berdosa, gelombang-gelombang dalam aliran dosa yang sama. Hanya ada satu kekecualian, yaitu Dia yang lain dari yang lain; sang Mahalain yang datang dari surga, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Oleh karena itu,  tanggapan Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis terasa mengherankan: “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Dengan demikian hak Allah dipulihkan apabila Dia – yang satu-satunya tanpa noda-dosa – menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa. Allah Yang Mahaadil menuntut silih untuk dosa manusia. Yesus menceburkan diri-Nya diri dalam aliran dosa, menjadi anggota dari bangsa manusia yang berdosa.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis “Surat kepada Orang Ibrani”: “… Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Yesus turun/datang ke sungai Yordan sesungguhnya merupakan lambang dari apa yang telah terjadi karena misteri Inkarnasi: Tuhan sendiri turun ke tengah bangsa manusia yang penuh dosa, menjadi sama dengan kita. Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa Yesus segera keluar dari sungai Yordan. Dengan demikian untuk pertama kalinya kekuatan dosa dipatahkan. Yesus adalah satu-satunya yang tidak binasa dalam dosa dan tidak dihanyutkan oleh dosa itu, namun dengan kekuatan-Nya sendiri naik lagi ke atas dan membawa yang lain-lain beserta diri-Nya ke atas. Pada waktu wafat Ia akan samasekali tenggelam dalam aliran dosa yang gelap itu, agar supaya pada waktu kebangkitan dapat naik lagi dan membawa serta yang lain-lain masuk ke dalam hidup baru.

Setelah semua itu berlangsunglah peristiwa yang kedua: surga terbuka !!! Dosa telah menutut pintu surga, namun kemenangan Kristus atas dosa telah membuka pintu dosa tersebut. Roh Kudus turun. Dosa – dan di belakangnya adalah si iblis – telah mengusir Roh Kudus dari manusia. Tetapi Kristus yang dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus, membawa Roh Allah dalam Diri-Nya. Karena Yesus-lah maka Roh Kudus turun lagi atas manusia. Roh yang melayang-layang di atas samudera, di sini dalam bentuk seekor merpati melayang-layang di atas sungai Yordan dan dalam kepenuhan-Nya hinggap di atas Yesus dan sekaligus di atas semua orang yang dikuduskan dalam dan karena Dia. Suara Bapa surgawi pun terdengar pula: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Karena dosa, keputeraan ilahi manusia hilang. Akan tetapi, Yesus Kristus yang telah menanggung dosa di atas pundak-Nya telah membinasakannya, telah mengembalikan keputeraan ilahi tersebut kepada para pendosa. Oleh dan melalui Yesus – sang Putera – mereka menjadi anak-anak Bapa lagi. Di sini Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus tampak jelas sebagai Tritunggal. Roh Kudus adalah cintakasih antara Bapa dan Putera, dan karenanya keluar dari Bapa dan Putera. Kedatangan Putera ke tengah dunia sekaligus adalah pengutusan Roh Kudus. “Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Mat 3:16). Di sini secara tampak dan dahsyat Yesus mengalami bahwa Ia adalah Putera Bapa dan membawa serta dalam Diri-Nya kepenuhan Roh Kudus. Pengalaman ini demikian dahsyatnya, sehingga Ia tidak dapat tinggal lebih lama di sini, melainkan dengan segera dibawa oleh Roh itu juga ke dalam kesunyian, di mana Ia berada sendirian dengan Bapa dan Roh Kudus, lahiriah seorang diri, tetapi batiniah dalam kepenuhan Tritunggal Mahakudus.

Bapa tidak bersabda: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan” melainkan “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan” (Mat 3:17). Dari sini nyatalah bahwa hal ini bukan wahyu kepada Kristus, melainkan kepada orang-orang, … kepada kita semua. Inilah pemberian kesaksian resmi dari Bapa surgawi atas perutusan Kristus. Saat turun-Nya ke tengah kedosaan manusia sekaligus merupakan saat pengangkatan, yaitu karena Bapa memberi kesaksian tentang cintakasih-Nya dan Roh Kudus  tentang kediaman-Nya dalam Kristus. Perkenaan Bapa ada pada Kristus dan pada sekalian orang yang termasuk milik-Nya.

Inilah sungguh suatu peristiwa besar yang tidak dapat dipahami. Terang yang memancar di sini akan bercahaya di atas seluruh hidup Yesus. Suara yang terdengar di sini tidak akan berhenti bergema. Keadilan yang telah diperkosa manusia, dipulihkan kembali oleh Allah. Yesus memikul segala ketidak-adilan untuk membuat mereka yang tidak adil menjadi adil kembali. Dengan demikian keadilan telah disilih.

DOA: Allah yang kekal dan kuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Anak-Mu yang terkasih, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Anak-Mu yang terkasih, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 9-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Pokok tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan Richard Gutzwiller, Renungan tentang Mateus, jilid I, hal. 24-27) 

Cilandak, 7 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CONTOH YANG DIBERIKAN OLEH SIMEON

CONTOH YANG DIBERIKAN OLEH SIMEON

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Kamis, 29 Desember 2016) 

091simeon

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  (Luk 2:22-35) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:3-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6 

Simeon adalah “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya” (Luk 2:25). Kelihatannya Simeon banyak meluangkan waktunya di Bait Allah dan tentunya sangat mencintai segala upacara keagamaan yang berlangsung di tempat itu, misalnya upacara persembahan kurban dlsb.

Namun kehidupan spiritual Simeon jauh melampaui batas-batas ritus keagamaan yang kasat mata. Kehadirannya di Bait Allah mengungkapkan rasa lapar dan dahaganya akan kehadiran Allah. Dapatkah anda membayangkan setiap pagi, ketika Simeon bangun dari tidur lalu berkata dalam doanya: “Inilah aku, Tuhan. Apakah yang Engkau ingin katakan kepadaku hari ini?” Justru karena kewaspadaan Simeon yang bersifat konsisten terhadap kehadiran Allah, maka mungkinlah bagi dirinya untuk mendengar arahan dari Roh Kudus untuk pergi ke Bait Allah. Lukas mencatatnya dengan sepotong kalimat singkat: “Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus” (Luk 2:27). Simeon sangat akrab dengan Kitab Suci, oleh karena itulah dia percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya. Simeon menanti-nantikan kedatangan sang Mesias dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa dia tidak akan mati sebelum dirinya melihat Mesias (lihat Luk 2:26).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) melihat diri kita sendiri. Sampai seberapa banyak kita sudah menyerupai Simeon? Andaikan Allah melihat dan memeriksa isi hati kita, apakah Dia melihat iman di dalam hati itu? Ketaatan? Penyerahan diri? Apakah Dia melihat diri kita lembut dan tanggap terhadap sentuhan Roh-Nya? Seandainya diri kita belum sampai di sana, maka janganlah merasa susah dulu (bahasa kerennya: Don’t worry!). Percayalah, bahwa sementara kita menyerahkan diri kita kepada Allah setiap hari, maka Dia akan membentuk diri kita masing-masing menjadi seorang pribadi seperti Simeon.

Agar dapat memusatkan perhatian kita pada sasaran ini, maka kita harus mengambil beberapa langkah praktis. Apabila kita berdoa, ingatlah bahwa kita masing-masing secara unik sangat berharga di hadapan Tuhan. Kita harus percaya pada kebenaran, bahwa Allah mempunyai rencana istimewa bagi hidup kita masing-masing. Pada waktu kita membaca Kitab Suci dan merenungkannya, baiklah kita menghaturkan permohonan dan mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan menyatakan kesetiaan dan kuasa-Nya kepada kita. Pada saat-saat tertentu dalam kehidupan sehari-hari kita yang dipenuhi banyak kesibukan ini, kita dapat berhenti sejenak dan dengan kata-kata lembut atau dalam batin mengatakan kepada Tuhan, bahwa kita membutuhkan-Nya. Kita serahkan kepada-Nya segala rasa takut kita, maka Dia pun akan menempatkan rasa percaya dalam hati kita. Dalam keheningan kita mendengarkan bisikan-Nya: Tuhan ingin berbicara kepada kita sebagaimana Dia dahulu kala berbicara kepada Simeon.  Roh Kudus-Nya ingin mengajar kita masing-masing dan membimbing jalan kita, untuk membuang pola-dosa yang sudah melumut dalam diri kita, untuk syering dengan orang lain tentang kasih Allah, atau membantu seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Sekarang, masalahnya adalah apakah kita mau dibentuk oleh Roh Kudus? Apabila kita mendengar bisikan suara Roh Kudus, maukah kita mentaatinya? Ketika Simeon menunjukkan ketaatannya, dia pun melihat wajah Yesus. Kita pun seharusnya mempunyai ekspektasi yang paling sedikit sama dengan ekspektasi Simeon, karena Allah sesungguhnya ingin semua mata melihat keselamatan-Nya. Dengan demikian “Kidung Simeon” (Luk 2:29-32) yang kita daraskan/nyanyikan dalam Ibadat Penutup (Completorium) setiap malam akan sungguh bermakna. 

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin memandang Engkau. Hanya dalam diri-Mu-lah aku menemukan damai-sejahtera dan sukacita yang sejati. Oleh terang-Mu bukalah mataku agar mampu memandang kemuliaan Bapa surgawi. Engkau adalah pengharapan segenap umat manusia! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH KITA” (bacaan tanggal 29-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH

CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 20 Desember 2016)

 1-0-annunciation-philippe-de-champaigne

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang setia, salah seorang anggota sejati dari umat Allah, seorang pewaris janji-janji yang telah dibuat Allah dengan umat pilihan-Nya. Allah tidak sekadar memilih sembarang perempuan untuk menjadi ibu Yesus; Ia memilih seorang perempuan muda dari antara orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, melalui Maria – seorang perwakilan Israel – Allah memenuhi semua janji-Nya yang diberikan di bawah perjanjian (Inggris: covenant), mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai sang Mesias dan Pembebas semua orang. Allah menggunakan Maria dalam rencana abadi-Nya untuk mencurahkan kasih-Nya ke dalam diri kita.

Allah membuat banyak janji kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Allah memberi sebuah tanda kepada raja Ahas, walaupun Ahas tidak mau karena dia tidak ingin mencobai TUHAN (YHWH): “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Imanuel berarti “Allah beserta/menyertai kita” (lihat Mat 1:23), dan janji ini dipenuhi melalui Maria dalam diri Yesus, Putera Allah yang datang dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

Banyak bacaan Perjanjian Lama pada masa Adven mempermaklumkan kedatangan Mesias sebagai Pribadi yang akan membebaskan umat Allah dari belenggu dosa dan membawa mereka kehidupan dan kedamaian. Walaupun orang-orang Israel berulang-kali memberontak melawan-Nya, YHWH tetap setia kepada  perjanjian-Nya dan berjanji untuk memimpin mereka ke luar dari kegelapan dan penindasan. Melalui kelahiran Yesus, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mencapai pekerjaan pembebasan ini, yakni menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.

Marilah kita ingat selalu, bahwa pekerjaan Allah dalam diri Maria-lah yang membawa kita semua kepada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Mukjizat ini terjadi dalam kerangka rencana kekal-abadi Allah yang lebih besar, yang mulai sebelum penciptaan dan akhirnya akan dipenuhi pada saat kedatangan kembali Yesus kelak. Kita seharusnya bergembira selagi kita menyaksikan rencana agung Allah ini bekerja dalam kehidupan kita, ketika kita mengalami Yesus yang adalah Imanuel.

Kelahiran Yesus dari Bunda Maria membawa kasih Allah ke tengah dunia dengan cara yang baru dan kekal. Marilah kita berdoa agar dapat mengalami kasih dan kuat-kuasa Ilahi ini pada masa Natal ini secara lebih mendalam lagi. Kita juga akan berdoa bagi negeri kita tercinta Indonesia ini, bagi dunia; agar kuasa-kuasa kegelapan dipatahkan dan kasih Allah dalam Kristus Yesus akan mengalir ke dalam hati semua orang.

Bersama seluruh Gereja, baiklah kita berdoa: “Datanglah, hai Kunci Daud, bukalah pintu-pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal: Bebaskanlah para tawanan dari kegelapan.” 

DOA: Allah, Bapa kami, kuduslah nama-Mu. Pada waktu menerima pesan-Mu lewat malaikat agung Gabriel, Maria Kaujadikan Bait Suci-Mu, dan dirinya pun dipenuhi dengan terang Roh Kudus. Semoga melalui contoh Maria, dengan kerendahan hati dan kesetiaan, kami dapat mengikuti kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PENYERAHAN DIRI SECARA TOTAL KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 20-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011] 

Cilandak, 18 Desember 2016 [HARI MINGGU ADVEN IV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

TANDA-TANDA TERSEBUT TIDAK BERHENTI PADA PERJANJIAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 21 Oktober 2016)

OSU: Hari Raya Santa Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

NAMA YESUS YANG KUDUS - 555Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

 Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Allah membuat banyak “tanda-tanda heran” bagi umat-Nya selagi Dia memimpin mereka menuju “tanah terjanji”. Dia membelah Laut Teberau (Kel 14:15-31), membimbing perjalanan mereka di padang gurun dengan tiang api dan awan (Kel 13:21), bahkan Ia memberi makan mereka secara ajaib dengan manna dan buruh puyuh (baca: Kel 16). Dengan jalan serupa, Yesus juga membuat banyak mukjizat dan tanda heran, semuanya merupakan indikator bahwa Kerajaan Allah sudah ada di tengah mereka.

Terpujilah Allah, karena tanda-tanda tersebut tidak berhenti pada Perjanjian Baru. Dalam setiap zaman, Allah bekerja, dengan penuh kuasa membentangkan rencana penyelamatan-Nya. Sebagaimana orang-orang pada zaman Yesus, kita pun dipanggil untuk membaca tanda-tanda dari tindakan Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya di tengah-tengah kita.

Banyak tanda-tanda hari ini menunjuk pada hasrat Allah akan persatuan, tidak hanya dengan umat Kristiani yang terpecah-pecah sejak berabad-abad lalu, melainkan juga dengan kemanusiaan yang terpecah-pecah. Kita dapat melihat, misalnya, beberapa hal yang telah dilakukan oleh almarhum Santo Paus Yohanes Paulus II beberapa tahun menjelang tahun 2000. Beliau memberi persetujuan atas “Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran” (Joint Declaration on the Doctrine of Justification) yang ditandatangani oleh Vatikan dan Federasi Gereja Lutheran Dunia (the World Lutheran Federation) pada bulan Oktober 1999. Sri Paus juga memimpin suatu kebaktian doa ekumenis untuk persatuan umat Kristiani dengan para pemimpin Kristiani di Basilika Santo Paulus Di luar tembok pada bulan Januari 2000. Dalam bulan Februari 2000, beliau melakukan perjalanan ziarah ke Gunung Sinai untuk berdoa bagi umat manusia agar merangkul hukum moral dan kebenaran Allah. Pada bulan Maret tahun yang sama, beliau mendoakan sebuah doa pengakuan dosa di mana beliau memohon pengampunan atas dosa-dosa para warga Gereja di masa lampau dan sekarang. Akhirnya di Yerusalem, Sri Paus menghimbau terwujudnya kerja sama antara umat Yahudi, Kristiani dan Muslim. Semua tindakan Sri Paus ini dan juga banyak lagi tindakan serupa sebenarnya merupakan ungkapan kenabian, tanda-tanda bagi semua umat yang percaya berkaitan dengan hasrat mendalam dari Bapa surgawi untuk terciptanya persatuan umat manusia.

Tanda-tanda ini memang ada dan terjadi di sekeliling kita – bahkan di dalam hati kita masing-masing. Kita sekarang hidup pada masa pencurahan rahmat secara istimewa dari surga. Oleh karena itu, marilah kita dengan tekun melanjutkan berdoa untuk tercapainya persatuan Kristiani, bagi orang-orang Yahudi, dan untuk semua orang yang belum mengenal Allah, semoga mereka mencari Dia dengan segenap hati dan akhirnya menemukan-Nya.  Marilah kita senantiasa membuka mata kita terbuka bagi tanda-tanda dan menyambut gerakan-gerakan Yesus melalui Roh-Nya di dalam dunia.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata kami agar mampu melihat apa yang Engkau sedang lakukan di tengah-tengah kami. Berikanlah kepada kami visi yang segar, pengharapan yang segar dan sukacita yang segar dalam membawa Kabar Baik kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “ASAL SAJA KITA MAU MEMBUKA MATA HATI KITA” (bacaan tanggal 21-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 19 Oktober 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dari Yesus, Perawan & Pujangga Gereja Sabtu, 15 Oktober 2016)

Kongregasi Suster Fransiskanes Santa Lusia: Hari Berdirinya Persaudaraan KSFL 

yesus-4

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:1-7 

Yesus mempercayakan para murid-Nya secara penuh kepada pemeliharaan Roh Kudus. Roh Kudus ini akan memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13) dan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada mereka (Yoh 14:26). Roh Kudus ini juga akan bersama para murid ketika mereka menghadapi kekuatan-kekuatan yang melawan mereka di dunia (Luk 12:11) Roh Kudus ini dijanjikan kepada semua orang yang percaya dan dibaptis (Kis 2:38-39), akan menjadi sebuah sumber kekuatan, hikmat dan penghiburan bagi mereka, selagi mereka berupaya mengikuti jejak Yesus dan tahap demi tahap menjadi semakin serupa dengan Dia. Untuk alasan inilah Yesus memperingati para pendengar-Nya agar jangan sekali-kali menghujat Roh Kudus (Luk 12:10).

Menolak hasrat Allah yang mau berdiam dalam diri kita dan membuat kita seperti Dia, berarti menolak kenyataan bahwa Dia memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang ajaib dan menakjubkan. Kalau kita takut atau bingung, maka hal ini berarti secara diam-diam kita percaya bahwa Roh Kudus tidaklah cukup untuk menjawab doa-doa kita atau menguatkan kita dalam berbagai kesulitan. Demikian pula, kalau kita menjalani hari-hari kita seakan-akan sudah mempunyai jawaban atas segala kebutuhan kita, maka hal ini berarti bahwa Roh Kudus bukanlah kehidupan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tetapi sekadar sebuah pemberian ‘ekstra’, pemberian bagus dari Allah yang bersifat opsional, bukannya sumber kehidupan yang sebenarnya.

Seorang murid Yesus dapat menghadapi oposisi, baik internal maupun eksternal. Satu jenis oposisi saja sudah dapat merisaukan hatinya, melemahkan imannya, dan menggerus sukacitanya dalam mengikuti jejak Kristus. Namun demikian, percayalah bahwa janji Yesus tetap benar dan sangat dapat diandalkan, yaitu bahwa para murid tidak akan pernah ditinggalkan sendiri. Dalam satu kesempatan lain Yesus bersabda: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32). Kerajaan Allah hadir apabila Roh Kudus memiliki kebebasan untuk bekerja. Marilah kita – baik dalam hati maupun pikiran kita – tetap berpegang teguh pada kenyataan bahwa Roh Kudus telah diberikan kepada kita untuk mentransformasikan diri kita; Roh Kudus ada dalam Gereja untuk menguduskan umat, dan Roh Kudus ada di dalam dunia untuk membawa penebusan bagi semua orang yang mengikuti Kristus.

DOA: Ya Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu. Penuhilah hati umat-Mu, nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu,  dan baharuilah seluruh muka bumi. Amin.

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENOLAK KESELAMATAN YANG DITAWARKAN ALLAH” (bacaan tanggal 15-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 12 Oktober 2016 [Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JAMINAN WARISAN KITA ADALAH ROH KUDUS

JAMINAN WARISAN KITA ADALAH ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 14 Oktober 2016) 

St-Paul-iconAku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu –  di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. (Ef 1:11-14) 

Mazmur Tnggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13; Bacaan Injil: Luk 12:1-7

Dalam kerahiman dan kasih-Nya, Allah Bapa memanggil kita semua untuk melangkah masuk ke dalam warisan yang Yesus telah peroleh bagi kita – hidup dalam Roh. Panggilan ini tidaklah sekadar diperuntukkan bagi tubuh Kristus secara kolektif, melainkan juga kepada kita masing-masing sebagai individu, karena Tuhan mengenal kita dengan nama kita masing-masing. Setiap hari, Dia ingin berbicara dengan kita melalui Roh Kudus-Nya, mengajar kita dan memberi jaminan kepada kita akan warisan-Nya kepada kita dalam Kristus. Setiap hari, Dia ingin mengangkat dari kita segala rasa bersalah dan takut yang membuat hati kita tidak jernih.

Apakah warisan kita? Apa yang ingin dikatakan Roh Kudus kepada kita? Bahwa kerajaan Allah ada di atas kita! Melalui baptisan ke dalam kematian Yesus serta kebangkitan-Nya, kita diangkat sebagai anak-anak Bapa surgawi, ditentukan untuk bersatu dengan Dia. Allah, yang selalu mengasihi kita, menentukan pada awal waktu bahwa Dia akan menarik kita untuk berada bersama-Nya selama-lamanya. Melalui karunia Roh, Dia sekarang berupaya untuk menyatakan sang Juruselamat yang dijanjikan ke dalam hati kita sehingga kita dapat meninggalkan kegelapan dosa dan merangkul warisan kita dalam Kristus.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, disertai dengan tanda-tanda heran yang menakjubkan, Roh Kudus turun untuk berdiam dalam diri para rasul. Pada hari ini, Roh Kudus yang sama ingin masuk ke dalam hati kita, dengan penuh kasih menyakinkan kita tentang kasih Bapa surgawi kepada kita. Sekarang, pada saat ini, Dia ingin menghibur dan mengajar kita. Dia ingin memberdayakan kita agar kita dapat mengasihi keluarga kita dan sahabat-sahabat kita (malah musuh-musuh kita juga) sedalam Allah mengasihi kita. Dia ingin membuka misteri-misteri kerajaan Allah bagi kita.

Baptism-of-the-Holy-SpiritSekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku berdoa kepada Roh Kudus, memperkenankan-Nya untuk bekerja dalam diriku?” Di tengah-tengah rutinitas kita sehari-hari, baiklah kita berpaling kepada-Nya dan dipenuhi dengan jaminan dari-Nya bahwa kita sungguh-sungguh dikasihi Allah. Roh Kudus ingin mengangkat kita ke atas segala kecemasan dan kekhawatiran kita. Dia mampu membawa damai-sejahtera ke dalam pikiran kita dengan cara-cara yang tidak mampu dilakukan oleh orang-orang lain. Dia menyelidiki hati kita dan mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita membuka diri kita bagi kasih Allah Bapa yang mengalir dengan deras.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih karena Engkau telah sudi tinggal dalam diriku dan menunjukkan kepadaku bahwa aku dipilih dan dikasihi. Terima kasih penuh syukur aku panjatkan kepada-Mu karena Engkau selalu menjaga dan melindungi warisanku dalam Yesus Kristus. Roh Kudus Allah, naungilah selalu keseluruhan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “MEMAKAI TOPENG” (bacaan tanggal 14-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 10 Oktober 2016 [Peringatan S. Daniel dkk., Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS