Posts tagged ‘ROH KUDUS’

AGAR SUPAYA KITA MENGGANTUNGKAN DIRI PADA ROH KUDUS

AGAR SUPAYA KITA MENGGANTUNGKAN DIRI PADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 15 Juli 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8 

“Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.(Mat 10:37)

Yesus menantang kita untuk memeriksa status dari relasi-relasi kekeluargaan kita. Mengapa? Keluar dari hasrat-Nya supaya kita semua bergabung dengan Dia pada meja perjamuan Bapa-Nya, Yesus memperingatkan kita untuk menaruh cintakasih kita pada diri-Nya lebih daripada cintakasih kita kepada keluarga kita. Yesus mengatakan ini bukan supaya kita mengabaikan keluarga kita, melainkan agar dengan demikian cintakasih kita kepada keluarga kita dimurnikan untuk mencerminkan kasih-Nya kepada mereka.

O, betapa menggodanya untuk “menyenangkan” atau “membahagiakan” keluarga kita dengan mengorbankan pesan-pesan Injil Yesus Kristus. Betapa menggodanya bagi kita untuk melarikan diri dari aspek-aspek cintakasih yang lebih sulit dan lebih banyak tuntutan-tuntutannya. Secara tidak sadar kita seringkali didorong oleh hasrat-hasrat yang didasarkan pandangan sempit, oleh dosa-dosa yang kita tidak ingin akui, dan oleh nilai-nilai duniawi dan sikap-sikap yang menyertainya. Pengaruh-pengaruh ini dapat memperkenalkan motif-motif yang berpusat pada diri sendiri ke dalam relasi-relasi kita, dan sebagai akibatnya kita mengalami frustrasi karena suatu kehidupan keluarga yang jauh lebih buruk daripada yang kita harap-harapkan.

Allah sungguh ingin memurnikan cintakasih kita bagi mereka yang terdekat dengan diri kita dengan mengajar kita agar supaya menggantungkan diri pada Roh Kudus untuk hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan dalam relasi kita. Dengan cara ini, kita akan mampu untuk mengasihi dan menghargai mereka sebagai anugerah dari Allah, tanpa mempertimbangkan apa yang telah mereka berikan kepada kita atau tidak berikan. Selagi kita memperkenankan warisan kita sebagai anak-anak Allah menjadi fondasi kita yang sejati, maka kita akan menjadi bebas mengasihi dan melayani keluarga kita dan orang-orang lain, dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Yesus adalah contoh kita yang sempurna. Dia mengasihi kita bukan untuk apa saja yang kita berikan kepada-Nya, melainkan untuk pencerminan dari gambaran Allah untuk mana kita dimaksudkan sejak semula. Yesus mengasihi Bapa di atas segalanya, dan melalui cintakasih itu Dia memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Dalam keluarga, cintakasih macam ini akan membawa suatu respek, kerjasama, sukacita dan damai-sejahtera yang akan tegak berdiri menghadapi pencobaan apa saja. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk mengajar kita bagaimana pertama-tama mengasihi Yesus sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi keluarga kita sepenuh-penuhnya seperti Dia mengasihi kita

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami untuk menyembuhkan luka-luka dosa yang menyebabkan kami secara tidak pantas menggantungkan diri pada orang-orang yang paling dekat dengan diri kami. Dirikanlah kasih ilahi-Mu di dalam diri kami, sehingga dengan demikian semua relasi kami dapat disembuhkan dan ditransformasikan. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW” (bacaan tanggal 15-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juli 2019 [Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SUARA ROH KUDUS DI DALAM HATI KITA

SUARA ROH KUDUS DI DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 12 Juli 2019)

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

“… bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Mat 10:20)

Seperti yang diingatkan oleh Yesus kepada para murid-Nya 2.000 tahun lalu, maka pada hari ini pun Ia mengingatkan bahwa kita – para murid-Nya pada zaman sekarang – menghadapi risiko penolakan, kesalahpahaman, bahkan pengejaran dan penganiayaan, bilamana kita mencoba untuk mewartakan Injil. Dari zaman ke zaman pesan pertobatan dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Allah telah menemui penolakan dari berbagai penjuru.

Walaupun terasa suram, Yesus juga berjanji bahwa Dia tidak akan memberikan kepada kita tugas lebih daripada apa yang dapat kita emban dan Ia akan datang menolong apabila kita mengalami berbagai kesulitan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kepada kita hikmat dan bimbingan agar dengan demikian kita dapat menjawab dengan jelas namun dengan rendah hati, mereka yang menentang kita.

Kata-kata Yesus dapat terdengar begitu sederhana, dan dalam artian tertentu memang demikianlah halnya. Kita dapat selalu percaya bahwa apabila Yesus menjanjikan sesuatu, maka Dia akan memenuhinya. Namun kita perlu bertanya bagaimana kita akan mampu mengenali suara Roh Kudus pada waktu kita mengalami kesulitan. Jelaslah bahwa perubahan sedemikian tidak terjadi dalam satu malam. Mendengar suara Roh Kudus bukanlah suatu kemampuan ajaib yang terbuka bagi kita hanya pada saat yang tepat dan kemudian “menghilang” lagi. Mendengarkan suara Roh Kudus adalah suatu keterampilan yang menuntut praktek, eksperimentasi dan ketekunan. Hal ini menuntut kita menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, menjadi akrab dengan suara-Nya dalam Kitab Suci, dan menjaga hati kita agar tetap terbuka sepanjang hari. Selagi kita mengambil langkah-langkah praktis ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut dan tidak ribut-ribut telah menjadi sesuatu yang alamiah bagi kita.

Praktek dan eksperimentasi secara harian selama saat-saat penuh kedamaian dan menyenangkan adalah kunci untuk melakukan upaya discernment terhadap suara Roh Kudus dalam masa pencobaan dan penganiayaan. Jika kita membuat proses ini menjadi kebiasaan, maka hal ini akan mempersiapkan diri kita dalam menghadapi tekanan-tekanan dan intensitas yang lebih besar, di mana lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Setiap hari, marilah kita  berupaya untuk mentaati Tuhan dan mendengarkan Roh Kudus. Setiap hari, marilah kita menukar “kemandirian” (dalam artinya yang jelek) kita dengan “hikmat dari Allah” yang akan “mengagetkan” dunia dan menghasilkan karya-karya yang akan membuat takjub raja-raja.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan masuklah ke dalam hidupku dan tetaplah berdiam bersamaku selalu. Buatlah aku agar dapat mengenali suara-Mu. Biarlah kata-kata-Mu dapat menjadi penghiburan, sukacita dan kehidupan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS” (bacaan tanggal 12-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07  PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 10 Juli 2019 [Peringatan S. Nikolaus Pick dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK

JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2019)

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 15-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 13 Juni 2019 [Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA DIUNDANG UNTUK MENGALAMI KASIH ALLAH

KITA SEMUA DIUNDANG UNTUK MENGALAMI KASIH ALLAH  

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA [TAHUN C] – Minggu, 9 Juni 2019)

Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata- oleh Roh Allah, dapat berkata, “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada pula berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua  anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1Kor 12:3-7,12-13) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua alternatif: Rm 8:8-17; Bacaan Injil: Yoh 14:15-16,23-26 

“Kita semua diberi minum dari satu Roh.” (1Kor 12:13)

Lima puluh hari yang lalu kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Namun perbedaan apa yang dibuat oleh kebangkitan ini apabila Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus-Nya? Roh Kudus-lah yang menyatakan Yesus kepada kita dan membuat penebusan kita menjadi suatu realitas yang hidup dalam hati kita. Adalah Roh Kudus juga yang membuat kita ikut ambil bagian dalam hidup Allah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya.

Siapa sebenarnya Roh Kudus ini? Sebagian besar kita cukup familiar dengan kata-kata berikut ini: Penasihat, Advokat, Penolong, Penghibur, Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi Allah ingin agar kita mengenal “Pribadi” di belakang nama-nama itu. Pada hari raya pencurahan Roh Kudus ini, marilah kita menyoroti cara-cara yang diinginkan Allah agar kita mengalami karya Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Ketika Santo Paulus menulis bahwa Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Rm 5:5), maka di sini dia tidak sekadar membuat suatu pernyataan teologis. Paulus menunjuk kepada suatu realitas bahwa kita semua sebenarnya diundang untuk mengalami kasih Allah tersebut. Marilah kita mengingat-ingat kembali perumpamaan Yesus tentang “anak yang hilang”,  bagaimana  ayah dari anak muda itu berlari menyongsong anaknya dan memeluknya ketika anak itu sedang berjalan pulang menuju rumah ayahnya (Luk 15:20). Dengan cara yang sama, Allah – Bapa surgawi – kita juga dengan penuh kerinduan membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna menyambut dan memeluk kita. Dan, oleh Roh Kudus-lah kita mengalami pelukan/rangkulan Allah seperti ini.

Roh Kudus ingin membuat hidup segala hal yang diajarkan Yesus tentang kasih Bapa itu; Dia ingin membuat janji-janji Yesus menjadi pembangkit semangat, yang menjiwai dan dengan penuh kuat-kuasa bergerak dalam diri kita. Oleh Roh Kudus, kata-kata dalam Kitab Suci menjadi hidup. “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16). “Dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau” (Yes 54:8). “Anakku telah mati dan menjadi hidup kembali, Ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:24). “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

Allah mengasihi kita dengan begitu mendalam sehingga walaupun kita mati dalam dosa-dosa, Dia membuat kita hidup dalam Kristus (Ef 2:4-5). Ini adalah belas kasih-Nya yang tak terbandingkan. Setiap hari kita dapat mengalami hal itu secara baru, yaitu melalui doa-doa kita yang dijawab, penyembuhan batin, perlindungan dari segala hal yang membahayakan, dan pengampunan. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali serta mengakui kebaikan Allah, yang mungkin saya luput dari pandangan manusiawi kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan saat-saat kita menerima kebaikan dari Allah, bahkan barangkali saat-saat ketika kita masih kecil. Dengan membuka mata kita terhadap rahmat Allah dengan cara-cara ini, maka Roh Kudus meyakinkan kita betapa baik dan murah hati Allah kita itu. Demikian pula, Roh Kudus menggerakkan kita untuk men-sharing-kan belas kasih yang sama dengan orang-orang lain. Kita menjadi berbelas kasih karena Allah telah berbelas kasih kepada kita, dan belas kasih ini yang di-sharing-kan antara kita dan saudari-saudara kita dalam Kristus, menyatukan kita semua dalam satu tubuh dalam Kristus.

Kita pernah mengalami hidup terpisah dari Allah, tanpa pengharapan untuk pernah mengenal Dia dan kasih-Nya yang besar bagi diri kita secara pribadi. Sekarang, karena kita telah menerima Roh Kudus, kasih Allah pun hidup dalam diri kita. Kita pernah terjerat dalam dosa, tak mampu mengalami perubahan, walaupun kita menginginkannya. Sekarang, Roh Kudus memberikan kepada kita kuasa dan bahkan motivasi untuk berubah. Kita pernah tidak mampu melihat bagaimana menjalani kehidupan kita dengan cara yang menyenangkan Allah. Sekarang, Roh Kudus membawa kepada kita pemikiran-pemikiran Allah sendiri. Kita tidak perlu lagi menebak-nebak bagaimana mengasihi dan melayani Allah karena Roh Kudus memberikan kepada kita “pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Flp 1:9).

Sekarang, bayangkanlah: Kita tidak perlu merasa heran apabila kita akan hidup selamanya dengan Yesus di surga; kita dapat mempunyai keyakinan bahwa kita mengalami hal tersebut. Pengharapan ini mentransformasikan segalanya yang menyangkut diri kita: cara kita memandang diri kita sendiri dan orang-orang lain, ekspektasi-ekspektasi kita, relasi-relasi kita. Sikap negatif berubah menjadi rasa penuh percaya. Kejauhan berubah menjadi kedekatan. Semua ini adalah karya Roh Kudus yang diutus Yesus, … Roh Allah sendiri yang kita rayakan pada hari ini.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Roh Kudus. Engkau adalah kasih antara Bapa dan Putera. Datanglah, ya Roh Kudus, dan hiduplah dalam diri kami. Tunjukkanlah kepada kami belas kasih Allah. Engkau adalah alasan mengapa hidup kami dipenuhi dengan pengharapan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI” (bacaan tanggal 9-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANYALAH KEPADA ROH KUDUS

TANYALAH KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 29 Mei 2019)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22-18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14 

Tidakkah kita (anda dan saya) juga ingin mengetahui “seluruh kebenaran” dan memahami “hal-hal yang akan datang”? Bayangkan semua pertanyaan yang dapat kita  jawab dan segala rasa takut yang dapat kita hilangkan. Bayangkan kita dapat mengantisipasi setiap situasi dan mempunyai solusi yang benar untuk setiap masalah.

Dalam artian tertentu, inilah yang dijanjikan Yesus kepada para murid-Nya – dan murid/pengikut-Nya yang menyusul, seperti kita yang hidup di abad ke-21 ini. Akan tetapi, pengetahuan yang diberikan oleh Roh-Nya bukanlah pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa dunia melainkan pengenalan akan Yesus sendiri, di mana “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Karena Roh Kudus, setiap orang yang percaya dari setiap generasi mempunyai janji mengenal Yesus secara intim/akrab, dan sebagai akibatnya mempunyai akses kepada semua hikmat yang diperlukan seseorang untuk hidup dalam dunia ini.

Tahu bahwa diri-Nya akan naik menghadap Bapa, Yesus berjanji untuk memberikan kepada para pengikut/murid-Nya Roh Kudus, yang “tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13). Roh Kudus yang hidup sejak kekal dalam Trinitas, telah diberikan kepada kita untuk membawakan sukacita dan kuasa surgawi ke tengah dunia, dan untuk mengangkat hati manusia kepada kemuliaan surga. Apakah anda ingin mengetahui bagaimana mengasihi seorang anggota keluarga, seorang anggota lingkungan, atau seorang anggota komunitas yang sulit? Tanyalah kepada Roh Kudus yang berdiam dalam diri anda untuk menunjukkan caranya kepada anda. Apakah anda ingin mengetahui cara yang terbaik untuk merawat anak-anak anda? Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada anda bagaimana Yesus akan merawat mereka, dan mintalah kepada-Nya kekuatan untuk melakukannya seturut bagaimana Jurus selamat kita akan melakukannya.

Tugas Roh Kudus adalah untuk menyatakan kebenaran, tidak hanya kepada kita sebagai individu-individu, melainkan juga kepada Gereja dan dunia. Pada setiap zaman, Roh Kudus membangkitkan perempuan dan laki-laki sebagai juru-bicara-Nya. Mereka adalah para nabi yang hidup seturut Kitab Suci dan memiliki kerendahan hati yang memampukan mereka untuk menyampaikan sabda Allah dengan keberanian dan keyakinan mendalam. Dalam segala cara yang berbeda-beda, Yesus mengundang kita untuk mendengarkan sabda-Nya, dan melalui Roh Kudus-Nya, mengalami kuasa kasih-Nya. Semoga kita senantiasa menjaga hati kita masing-masing tetap terbuka, siap setiap saat untuk mendengarkan apa yang disabdakan-Nya.

DOA: Roh Kudus, dengan antisipasi yang besar kami membuka hati kami masing-masing bagi-Mu. Seperti para rasul, kami mengetahui bahwa kami tidak dapat menanggung kepenuhan dari segala hal yang Kauingin tunjukkan kepada kami. Walaupun demikian, kami mohon kepada-Mu agar membimbing serta menuntun kami ke dalam kebenaran-Mu. Persiapankah kami, ya Roh Kudus, bagi kepenuhan yang akan datang bilamana Yesus datang kembali. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 17:15,22-18:1), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR DARI PAULUS DALAM BER-EVANGELISASI” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 Mei 2019 [HARI MINGGU PASKAH VI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MEMBERIKAN ROH KUDUS-NYA

ALLAH MEMBERIKAN ROH KUDUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 28 Mei 2019)

OFMConv./OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan [OFS]

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Ketika Yesus mempersiapkan para murid-Nya dalam rangka kematian-Nya, Dia berbicara mengenai sang Penolong, “seorang” Penasihat/Advokat (Yunani: parakletos), yaitu Roh Kudus. Yesus mengetahui benar kondisi hati para murid-Nya; susah hati, galau, sedih. Namun Yesus menginginkan mereka agar menyadari bahwa jauh lebih baiklah bila diri-Nya pergi, karena dengan demikianlah Roh Kudus dapat dicurahkan ke dalam diri para murid-Nya.

Para murid sebenarnya telah memiliki Yesus, namun mereka belum mengalami Roh Kudus. Oleh karena itu dapat dimengerti apabila mereka merasa takut. Siapakah di antara kita yang merasa senang membiarkan hari ini, yang kita ketahui dengan baik, untuk ditukar dengan masa depan yang penuh dengan ketidakpastian? Betapa mudahnya memang bagi kita untuk menjadi takut menghadapi prospek melepaskan sesuatu yang sudah familiar, yang sudah jelas-jelas aman, dan memperkenankan pertumbuhan dan perubahan mengambil tempat dalam kehidupan kita. Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh Yesus sendiri? Yesus menghendaki agar kita menyerahkan kepada-Nya pengendalian/kontrol atas hidup kita, sehingga dengan demikian Ia dapat membawa suatu pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita, suatu pekerjaan yang bersifat tranformatif, …… yang mengubah diri kita.

Baik tua maupun muda, kita semua menghadapi saat-saat perubahan, dan saat-saat ini dapat menjadi exciting dan “menakutkan” sekaligus. Bayangkanlah seorang muda yang akan  meninggalkan rumahnya untuk pertama kalinya, barangkali untuk mulai bekerja di sebuah kota besar yang tidak pernah dikenal sebelumnya; atau untuk masuk ke perguruan tinggi jauh dari tempat asalnya dan tinggal di rumah kos-kosan. Orang muda itu dapat memandang ke depan dengan antisipasi akan suatu independensi sampai derajat tertentu, namun tentunya dia pun merasa khawatir tidak dapat mengatasi rasa ketidakpastian yang menimpa, teristimewa pada awal-awalnya. Bayangkanlah juga seorang ibu muda yang pulang ke rumahnya dari rumah sakit  dengan seorang anak bayi yang baru dilahirkannya. Tentu dia bersukacita karena ada kehidupan baru yang sedang dipeluknya dengan penuh kasih sayang, yaitu bayinya, namun pada saat sama ada perasaan seakan tak berdaya bila memikirkan bahwa sekarang dirinya juga bertanggung jawab atas untuk merawat dan menjaga kehidupan sang bayi.

Namun baiklah kita catat, bahwa hanya perubahan-perubahan besar dalam kehidupan kita yang mempengaruhi diri kita seperti digambarkan di atas. Kita dapat juga mempunyai perasaan mendua terkait “untung-rugi yang berskala lebih kecil” dalam situasi-situasi yang kita hadapi sehari-hari. Pada saat-saat seperti itu Allah mengundang kita untuk berbalik kepada-Nya, untuk mengakui dan menerima kasih-Nya yang sangat otentik terhadap kehidupan kita, serta memohon suatu pencurahan baru dari Roh Kudus-Nya. Allah tidak menginginkan kita untuk melalui proses perubahan dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu Allah memberikan Roh Kudus-Nya. Dengan demikian, marilah kita memohon kepada Allah menolong kita agar dapat mengatasi segala perubahan yang kita hadapi. Marilah kita menaruh hidup kita di hadapan-Nya, dengan penuh kepercayaan bahwa Dia senantiasa setia dan akan selalu menjawab segala permohonan berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, dengan rendah hati aku memohon kepenuhan hidup yang Engkau berikan melalui Roh Kudus-Mu. Aku berikan kepada-Mu seluruh masa depanku. Aku tidak menahan-nahan apa pun untuk diriku sendiri. Aku bahkan menaruh kematianku sendiri dalam tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MELANJUTKAN KARYA YANG TELAH DIMULAI OLEH YESUS DALAM DIRI PARA MURID” (bacaan tanggal 28-5-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 Mei 2019 [HARI MINGGU PASKAH VI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS YANG AKAN MENGAJARKAN SEGALA SESUATU DAN MEMBERI YESUS KEPADA KITA

ROH KUDUS YANG AKAN MENGAJARKAN SEGALA SESUATU DAN MEMBERI YESUS KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [TAHUN C] – 26 Mei 2019)

Jawab Yesus, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada  Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya apabila hal itu terjadi. (Yoh 14:23-29) 

Bacaan Pertama: Kis 15:1-2,22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Why 21:10-14,22-23

Pikirkanlah tentang betapa banyaknya informasi yang anda telah serap pekan lalu, hari Minggu lalu sampai dengan hari Sabtu kemarin. Pikirkanlah cerita-cerita atau berita-berita yang anda baca di medsos beberapa hari ini, dalam surat kabar atau berita-berita yang anda peroleh dari radio, televisi atau dari internet, misalnya tentang peristiwa kerusuhan di beberapa tempat – teristimewa di DKI Jakarta – yang menyangkut unjuk rasa sehubungan dengan hasil pilpres 2019 dll. Dari mana pun anda memperoleh informasi selama beberapa hari terakhir itu, pasti sedikit sekali dari informasi tersebut yang memberi pencerahan kepada anda tentang Injil Tuhan Yesus Kristus, atau barangkali tidak ada sama sekali.

Akan tetapi, selagi anda membaca bacaan Injil hari ini, ingatlah bahwa Roh Kudus bukanlah terutama berurusan dengan bisnis informasi. Benarlah, bahwa Dia mengajar kita dan memberi nasihat-nasihat kepada kita. Pada kenyataannya, memang Roh Kudus dapat memimpin kita ke dalam “seluruh kebenaran”, seperti dikatakan Yesus pada malam yang sama: “Tetapi, apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13).

Tentu saja kita tidak dapat bertindak tanpa hikmat dari Roh Kudus yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana melayani Allah dan sesama kita, dan kita memiliki ajaran-ajaran dalam Gereja yang terinspirasikan (oleh Roh Kudus), yang sudah berumur berabad-abad, untuk membantu kita melakukan hal tersebut.

Akan tetapi Roh Kudus tidak memberikan kepada kita pengetahuan saja. Dia memberi kepada kita Yesus sendiri! Ini adalah suatu package deal. Lebih dari segalanya yang lain, Roh Kudus adalah kasih yang dicurahkan antara Bapa dan Putera. Terlebih lagi Dia adalah kepenuhan kasih Yesus bagi kita  pada waktu Dia mati di kayu salib – kasih yang begitu agung sehingga mampu mematahkan kuasa dosa dan maut untuk selamanya. Dan  karena Roh Kudus adalah adalah “api” yang membersihkan dan “seekor merpati” yang membawa damai kepada kita semua, maka Dia sungguh berhasrat untuk menyentuh hati kita dan juga pikiran kita.

Selagi anda merenungkan petikan bacaan dari Injil Yohanes ini, pikirkanlah banyak cara yang dapat diambil oleh Roh Kudus untuk hadir bagi mereka yang percaya (umat beriman). Carilah Dia dalam doa-doa anda. Mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan rahmat-Nya dan juga kesembuhan dalam sakramen-sakramen. Mohonlah pengurapan-Nya agar anda dapat mengenal Yesus lebih mendalam lagi. Mohonlah berkat-Nya atas pembacaan serta permenungan Kitab Suci yang anda lakukan, sehingga firman Allah menjadi hidup bagi anda. Berpengharapanlah agar Roh Kudus membuat anda seorang “ciptaan baru”!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami memuji Engkau karena memberikan kepada kami Roh Kudus-Mu sendiri. Terima kasih untuk kuasa mengagumkan yang dibawa oleh Roh Kudus untuk menyembuhkan dan memulihkan, untuk menolong kami saling mengasihi, dan untuk mengasihi Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:23-29), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU” (bacaan tanggal 26-5-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 23 Mei 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS