Posts tagged ‘ROH KUDUS’

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

MENGAPA MEREKA BERBUAT SESUATU YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 22 Januari 2019)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

Narasi tentang Yesus dan para murid-Nya yang memetik bulir gandum pada hari Sabat, selagi mereka berjalan menuju sinagoga terdapat dalam tiga kitab Injil sinoptik hampir sama, kata demi kata. Kita melihat dari bacaan ini bagaimana orang-orang Farisi memprotes tindak-tanduk para murid Yesus, dan mengatakan bahwa mereka melakukan suatu pekerjaan yang terlarang pada hari Sabat. Menyiapkan makanan adalah salah satu dari 39 macam pekerjaan yang termasuk dalam daftar yang disusun oleh para rabi sebagai tindakan-tindakan yang melawan istirahat Sabat. Fakta bahwa para rabi itu memasukkan tindakan memetik bulir gandum atau jagung sebagai pekerjaan menunjukkan betapa keras dan ketat mereka dalam menafsirkan Hukum.

Para penganut aliran keras ke luar untuk menyalahkan orang-orang yang tidak bersalah guna membuat diri mereka sendiri kelihatan baik. Jawaban Yesus menunjukkan keprihatinan-Nya yang mendalam atas kebutuhan-kebutuhan manusia, artinya pendekatan Yesus terhadap Hukum jauh lebih manusiawi.

Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi apakah mereka tidak pernah membaca Kitab Suci tentang Raja Daud yang karena kebutuhan fisik/manusiawi dari para bawahannya (lapar) menilai sebagai benar untuk bertindak sesuatu yang dalam keadaan normal dilarang, yaitu masuk ke dalam rumah Allah dan makan roti persembahan yang sebenarnya hanya dapat dimakan oleh imam dalam keadaan normal (lihat 1Sam 21:1-6; Imam Ahimelekh, bukan Abyatar). Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada Hukum lain di atas hukum yang tertulis, apakah hukum itu berasal dari Allah atau manusia; sebuah Hukum yang ditempatkan oleh sang Pencipta ke dalam kodrat manusia: kebutuhan-kebutuhan legitim yang bersifat urgent melampaui hukum yang tertulis.

Apabila kita membaca ulang  bacaan Injil hari ini dan merenungkannya, maka secara tahap demi tahap kita akan mengenal Yesus lebih mendalam. Kita melihat Dia secara lebih jelas lagi sebagai Allah dan manusia. Kita akan melihat bahwa Yesus adalah sungguh seorang manusia yang sangat memperhatikan bahkan kebutuhan-kebutuhan kecil dari orang-orang lain. Yesus juga sungguh ilahi, yang dipenuhi dengan hikmat yang benar untuk langsung melihat melalui kelemahan hukum, dipenuhi dengan kasih ilahi, prihatin atas segala hal yang dihadapi orang-orang, seakan Ia berkata: “Bahkan hari yang diperuntukkan untuk menghormati diri-Ku bagaimana pun tidak boleh melukai (hati) umat-Ku yang Kukasihi, teristimewa mereka yang paling dina.”

Sebagai umat Kristiani, kita harus senantiasa dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus melalui penerimaan sakramen-sakramen dan praktek-praktek keagamaan kita. Jika kita menerapkan aturan-aturan agama secara mekanistis, maka ada kemungkinan hal tersebut membuat kita malah menjadi menyimpang dari hidup spiritual sesungguhnya.

Bacaan Injil hari ini adalah satu dari serangkaian kontroversi antara Yesus dan para pemuka agama Yahudi. Bacaan Injil kemarin (Mrk 2:18-22) menyoroti soal berpuasa. Bacaan Injil hari ini menyangkut soal hari Sabat karena Gereja awal (perdana) telah menggantikan ibadat mingguan dari Sabat menjadi hari Minggu. Namun Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa jika ibadat kita menjadi tujuan dan bukan sarana untuk berada dalam persekutuan dengan Allah, maka ibadat tersebut malah dapat menjadi penghalang yang serius untuk mencapai tujuan sebenarnya. Mungkin saja ketaatan seseorang kepada aturan karena dia mencintai aturan tersebut, bukan mencintai Allah. Hari Sabat aslinya adalah dimaksudkan untuk merayakan perjanjian dengan TUHAN (YHWH) dan pembebasan. Lembaga keagamaan Yahudi telah mengubahnya menjadi beban. Dengan demikian kita dapat menjadi budak-budak praktek (keagamaan) kita sendiri apabila semua itu tidak mampu membebaskan kita untuk berkomunikasi dengan Bapa di surga.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan atas hari Sabat dan kasih-Mu tidak dapat diutarakan dengan kata-kata. Hukum cintakasih-Mu adalah sukacita kami dan keselamatan kami. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TUHAN” (bacaan tanggal 22-1-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

Cilandak, 19 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

ITU HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KAMU

ITU HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KAMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Rabu, 2 Januari 2019)

Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1Yoh 2:22-28)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

“Apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu.” (1Yoh 2:24)

Rasul Yohanes telah hidup bersama Yesus sejak awal-awal Yesus muncul di depan umum sebagai seorang rabi. Ia diam bersama-Nya selama tiga tahun penuh dan bahkan berdiri di dekat salib Kristus ketika wafat (Yoh 19:26-27). Apa yang membuat Yohanes begitu setia sebagai murid-Nya? Karena dia memperkenankan ajaran Yesus dan diri-Nya berdiam dalam dirinya (lihat Yoh 15:1-11). Yohanes percaya bahwa dengan tinggal dalam Yesus, maka dia akan mampu untuk menghasilkan banyak buah dalam Kerajaan Allah.

Di tahun-tahun setelah kematian Yesus, Yohanes tentunya sering sekali melakukan permenungan atas sabda Yesus. Ia tentunya mengingat dan mempelajari Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) sambil juga mencatat pengalaman-pengalamannya. Maka, dengan berjalannya waktu, ajaran-ajaran Yesus tentang tinggal/berdiam dalam diri-Nya menjadi sebuah kenyataan selagi Yohanes berdoa, belajar dan bereksperimen dengan cara-cara yang berbeda-beda dalam meneladan sang Guru.

Seiring dengan bertumbuh-kembangnya komunitas-komunitas Kristiani awal, mereka pun mulai mengalami benturan-benturan budaya antara berbagai falsafah/filsafat dunia dan ajaran-ajaran Yesus. Bagaimanakah kiranya umat Kristiani yang masih muda usia berurusan dengan masalah-masalah abadi dari cinta dunia, nafsu kedagingan, dan keangkuhan hidup (1Yoh 2:12-17)? Dalam suratnya, Yohanes menggunakan segala hal yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun untuk mendorong dan menyemangati komunitasnya agar tinggal/berdiam dalam Kristus: “Apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu” (1Yoh 2:24). Yohanes juga mengajak umatnya untuk senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus telah dicurahkan atas diri mereka untuk mengajar mereka dan menolong mereka mengatasi berbagai halangan yang mereka hadapi (lihat 1Yoh 2:27).

Demikian pulalah dengan diri kita masing-masing pada hari ini. Kita terus dibombardir dengan ide-ide duniawi (misalnya lewat berbagai macam iklan), dorongan-dorongan kedagingan kita sendiri, dan rancangan-rancangan jahat dari Iblis. Siapa yang akan menyelamatkan kita? Yesus Kristus, Tuhan kita! Setiap hari, kita dapat mengisi pikiran kita dengan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Setiap hari kita dapat mencari kehadiran-Nya dalam doa. Setiap hari kita dapat mempraktekkan seni berdiam dalam Kristus. Yesus  berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan diri kita. Dengan demikian yang perlu kita lakukan adalah memperkenankan Dia membimbing/menuntun pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita. Apabila kita melakukannya, maka kita akan memiliki rasa yakin-percaya. Kita akan diyakinkan bahwa Yesus telah mengalahkan dunia dan kita pun dapat mengalahkan dunia, karena kita berdiam/tinggal dalam Kristus dan Ia tinggal dalam kita.

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tinggal dalam kehadiran-Mu sepanjang hari-hari aku hidup di dunia ini. Tolonglah aku untuk menghayati kehidupan yang bertumpu pada sabda-Mu. Ajarlah aku melalui bacaan-bacaan Kitab Suci bagaimana semestinya menghayati kehidupan yang penuh kasih dan syukur. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA BERTANYA KEPADA YOHANES PEMBAPTIS: SIAPAKAH ENGKAU?” (bacaan untuk tanggal 2-1-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019.

Cilandak, 30 Desember 2018 [PESTA KELUARGA KUDUS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIMEON ADALAH SEORANG PRIBADI YANG HIDUPNYA SENANTIASA DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS

SIMEON ADALAH SEORANG PRIBADI YANG HIDUPNYA SENANTIASA DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Sabtu, 29 Desember 2018)

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  (Luk 2:22-35) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:3-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6 

Simeon kelihatannya seperti pribadi-pribadi yang agak tidak jelas dalam sebuah novel misteri. Dia muncul entah dari mana, dia mengidentifikasikan Bayi Yesus sebagai sang Mesias, dia mengatakan kepada ibu sang Bayi bahwa dia akan banyak menderita, lalu Simeon pun “menghilang” tanpa terdengar lagi suaranya, paling sedikit dalam Kitab Suci. Namun, jika melihat secara lebih dekat dan serius, kita akan melihat dalam diri Simeon suatu contoh yang indah dari seorang pribadi yang hidup sehari-harinya senantiasa dihibur dan dipimpin oleh Roh Kudus. Menurut Lukas, Roh Kudus ada di atas Simeon, dan karena karya Roh Kudus itulah Simeon mampu untuk mengenali Yesus sebagai sang Mesias (Luk 1:25-28).

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Roh Kudus dapat berbicara kepada kita dengan begitu jelas seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Simeon? Kehadiran Roh Kudus adalah satu dari janji-janji dalam Kitab Suci yang paling sentral. Setiap pengikut Yesus dapat diarahkan dan dihibur oleh Roh Kudus setiap hari. Kita dapat berpikir dan memandang Simeon sebagai seorang kudus besar, seorang anggota dari kelompok yang dipilih secara istimewa (privileged few). Akan tetapi, kita sudah ketahui bahwa Allah tidak mempunyai favorit-favorit. Allah sangat berkeinginan untuk mencurahkan Roh-Nya kepada setiap orang. Simeon adalah sekadar seorang tua yang menjalankan kehidupan doa dengan setia dan benar, dan ia mencoba untuk taat kepada Allah serta belajar untuk menggantungkan diri kepada kehendak-Nya sepanjang hidupnya.

Allah akan senantiasa memberikan Roh Kudus-Nya kepada mereka yang mengasihi-Nya dengan tulus. Setiap hari, kita dapat memilih untuk menerima-Nya dan menyambut-Nya, atau kita dapat memilih untuk melakukan hal-hal seturut kemauan kita sendiri. Bagaimana dengan Simeon? Setiap hari Simeon memilih untuk mengasihi dan melayani Allah-nya, dengan demikian dia belajar untuk melakukan segala sesuatu seturut jalan Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus tetap diam dalam dirinya dan bebas menyatakan Yesus kepadanya dengan cara yang begitu indah.

Kita semua (anda dan saya) membutuhkan pengarahan dan penghiburan seperti yang dialami oleh Simeon. Sekarang masalahnya apakah kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan memperolehnya jika kita memintanya? Seperti halnya Simeon, kita pun dapat belajar untuk menggantungkan diri pada Roh Kudus. Seperti Simeon, kita pun dapat merangkul Yesus dan memperkenankan damai-sejahtera-Nya membanjiri hati kita. Sekali Simeon menemukan Yesus, dia tahu bahwa dia dapat meninggal dunia dalam kedamaian. …… “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuatu dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk 2:29-32; LAI-TB II).

Tidak ada lagi sesuatu pun dalam dunia yang dapat memuaskan hati Simeon, karena dia telah menemukan Yesus. Inilah “Kidung Simeon” yang kita nyanyikan/daraskan setiap malam ketika kita mendoakan Ibadat Penutup. Kita (anda dan saya) pun dpat dipenuhi dengan kedamaian selagi semakin mengenal dan mengasihi Yesus. Tidak ada siapa pun atau apa pun lagi yang dapat memuaskan hati kita.

DOA: Roh Kudus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau sudi hidup di dalam diriku. Tolonglah agar aku setiap hari dapat berpaling kepada-Mu untuk memohon diberikan hikmat dan penghiburan oleh-Mu. Ya Roh Kudus, datanglah dan memerintahlah semakin mendalam di hatiku. Nyatakanlah Yesus kepadaku dan berdayakanlah aku agar mau dan mampu hidup bagi-Nya pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “MELANGKAHLAH DAN KASIHILAH” (bacaan tanggal 29-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014)

Cilandak, 27 Desember 2018 [Pesta S. Yohanes, Rasul & Penulis Injil]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C] – 16 Desember 2018)

Orang banyak bertanya kepadanya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya kepada mereka, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”  Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawabnya, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.”  Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”  Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. (Luk 3:10-18)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7 

Bayangkanlah diri anda sebagai salah seorang yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Anda bergembira karena dosa-dosamu diampuni dan anda pun mempunyai arahan baru bagi kehidupanmu. Seperti juga orang-orang lain, anda dipenuhi dengan berbagai harapan dan rasa heran apakah orang ini sungguh sang Mesias (Luk 3:15). Yohanes menanggapi dengan mengatakan bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak dan hampir bersamaan dia berbicara mengenai suatu baptisan yang lain – dengan Roh Kudus dan dengan api (Luk 3:15-17). Anda tentu merasa heran apa makna dari semua ini.

Beberapa tahun kemudian anda berada di Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta. Anda mendengar seorang yang bernama Simon Petrus berkhotbah mengenai seorang pribadi yang bernama Yesus yang belum lama mati di kayu salib. Petrus memproklamasikan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah mencurahkan Roh Kudus Allah. Hati anda tersentuh dan bersama orang-orang lain anda berseru: “Apa yang kami harus perbuat, Saudara-saudara?” (Kis 2:37). Petrus menjawab: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis 2:38). Penuh dengan harapan, anda pun dibaptis. Selagi Roh Kudus memenuhi diri anda dengan rasa mendalam akan cintakasih dan kehadiran Allah, anda sadar bahwa baptisan Yohanes Pembaptis hanyalah suatu persiapan untuk baptisan ini.

Melalui baptisan, kita semua telah menerima karunia Roh Kudus yang tak ternilai harganya ini. Sekarang kita mengalami kehadiran Allah yang sesungguhnya dalam diri kita. Kita menjadi puteri dan putera-Nya. Kita memiliki kebenaran ilahi, kuasa ilahi dan cinta kasih ilahi dalam diri kita masing-masing. Selagi kita mendengarkan Roh Kudus dan berjalan dalam jalan-Nya, kehidupan kita pun dapat diubah agar semakin mencerminkan keserupaan dengan Kristus.

Selagi kita melakukan persiapan-persiapan untuk merayakan inkarnasi Yesus (Natal), baiklah kita menghadap Allah dengan hati yang penuh rasa syukur dan memohon kepada-Nya agar memberikan kepada kita lebih lagi Roh Kudus – suatu relasi dengan Allah yang lebih mendalam lagi; kesadaran yang lebih kuat lagi akan Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam hati kita; dan suatu hasrat yang lebih besar akan penyembahan kepada Allah, pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus dan pelayanan bagi Gereja.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan penuhi diri kami dengan lebih mendalam lagi. Kami membutuhkan Engkau, kami menginginkan Engkay, kami mengasihi Engkau. Ampunilah kami kaarena tidak memperhatikan Engkau dalam hidup kami sehari-hari. Sembuhkanlah luka-luka kami. Bangkitkanlah kami agar dapat menjadi puteri dan putera Bapa di surga lewat hidup kami sebagai murid-murid Yesus Kristus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:10-18), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT? [2]” (bacaan tanggal 16-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM KRISTUS KITA DAPAT MENEMUKAN RAHMAT UNTUK MENGATASI/MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN DOSA

DALAM KRISTUS KITA DAPAT MENEMUKAN RAHMAT UNTUK MENGATASI/MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 10 Desember 2018)

Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26)  

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ada sesuatu yang menarik dalam bacaan Injil hari ini: Yesus pertama-tama mengampuni orang lumpuh itu, kemudian sebagai bukti dari pengampunan-Nya, Dia menyembuhkan orang itu. Apa yang digambarkan dalam bacaan Injil itu pun secara istimewa mempesona apabila kita mempertimbangkan segala studi di bidang psikologi dan kedokteran yang telah menunjukkan adanya kaitan antara tubuh dan pikiran, bagaimana orang-orang yang merasa lebih terbeban oleh rasa bersalah dan frustrasi cenderung lebih rentan terhadap sakit-penyakit. Banyak orang menilai hasil berbagai penelitian ilmiah ini sebagai suatu terobosan, namun bagi umat Kristiani studi-studi ini hanyalah merupakan konfirmasi dari sejarah yang sudah berlangsung selama 2000 tahun seperti telah ditunjukkan oleh bacaan Injil hari ini dan juga oleh pengalaman-pengalaman kita sendiri.

Yesus memandang dosa dan segala konsekuensi dosa dengan sangat serius. Ia merasa sedih atas segala dosa kita, segala keterikatan kita pada hal-hal yang buruk – bahkan yang kecil-kecil sekali pun – dan Dia rindu untuk membebaskan kita. Yesus juga memandang secara serius setiap sakit-penyakit yang bersifat fisik. Ia rindu untuk berada bersama kita dalam penderitaan dan untuk membebaskan kita dari setiap beban yang tidak perlu. Yesus ingin membebaskan kita tidak hanya dari dosa, melainkan juga dari segala konsekuensi dosa. Yang diminta Yesus dari diri kita adalah bahwa kita memperkenankan Roh Kudus-Nya menunjukkan kepada kita di mana kita perlu diampuni.

Santo Thomas Aquinas [1225-1274] pernah mengatakan, bahwa kita semua dilahirkan dalam keadaan tidak peduli (Inggris: ignorance) dan dosa. Ketidakpedulian sesungguhnya berkaitan dengan tidak tahu membedakan antara yang baik dan yang jahat. Ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk menemukan perbedaan antara yang baik dan yang jahat inilah yang seringkali menyeret orang kepada dosa. Betapa sering manusia, sebelum jatuh ke dalam dosa, melakukan rasionalisasi …… melakukan pembenaran-pembenaran, atau berpikir bahwa apabila setiap orang lain melakukan “hal buruk tertentu”, bukankah hal itu tidak terlalu buruk? Namun fakta tetap berbicara, yaitu bahwa dosa “merusak” roh,  jiwa dan pikiran serta tubuh kita!

Sebagai “seorang” ayah yang baik, Allah ingin melindungi kita. Ia mengutus Roh Kudus untuk mengajar kita bahwa dalam Kristus kita dapat menemukan rahmat untuk mengatasi/mengalahkan kejahatan dan dosa. Digerakkan oleh Roh Kudus, marilah kita bertobat dari pemikiran-pemikiran jahat, kata-kata yang tidak baik atau tindakan-tindakan buruk, termasuk juga “kelalaian untuk melakukan berbagai hal yang diperintahkan Allah”, sehingga Yesus dapat menyembuhkan kita dan membuat diri kita utuh.

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat melihat motif-motif di belakang dosa-dosaku – apakah itu kenikmatan badani, balas dendam, mementingkan diri sendiri dan lain-lain. Bebaskanlah aku dari kendali dosa atas diriku. Sembuhkanlah aku dan buatlah aku utuh dalam roh, jiwa dan pikiran serta tubuhku, sehingga dengan demikian diriku dapat memancarkan kemuliaan Allah kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DI PADANG GURUN” (bacaan tanggal 10-12-18) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Desember 2018 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUMBER-SUMBER AIR KEHIDUPAN BAGI KITA

SUMBER-SUMBER AIR KEHIDUPAN BAGI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Jumat, 9 November 2018)

 

Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. Lalu diiringnya aku keluar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan.

Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup.

Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. (Yeh 47:1-2,8-9,12) 

Bacaan Pertama alternatif: 1Kor 3:9b-11,16-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

Pada hari ini kita merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, yaitu basilika tertua dan salah satu basilika yang paling penting di kota Roma. Pada abad ke-4, Konstantinus yang adalah Kaisar Kristiani pertama, membangun sebuah kapel di atas tanah yang diberikannya kepada istrinya. Berabad-abad lamanya gereja itu secara berulang-kali telah mengalami penghancuran, pembangunan kembali, perluasan, dan renovasi. Namun gereja itu selalu dipandang dan diakui sebagai gereja katedral dari Uskup Roma (Sri Paus).

Basilika Lateran sangatlah impresif – baik dilihat dengan mata maupun dilihat dari sudut sejarahnya – namun yang paling mengesankan adalah bagaimana basilika ini mengekspresikan tujuan Gereja. Sebuah contoh yang paling mencolok adalah tulisan yang tertera pada bejana pembaptisan: “Ini adalah mata air kehidupan, yang membersihkan seluruh dunia, yang berasal dari luka-luka Kristus.” Ini adalah pengingat yang penuh kuasa bahwa Gereja ada untuk melanjutkan karya Kristus di dunia!

Dua ribu tahun lalu, kehadiran Yesus secara fisik/badani membawa kebenaran, rahmat, dan kesembuhan kepada dunia. Namun apa yang dilakukan-Nya dalam dan melalui tubuh-Nya yang fisik itu, sekarang dilakukan-Nya melalui tubuh-mistik-Nya, yaitu Gereja, …… tidak hanya melalui struktur-struktur formal dan para pelayannya yang tertahbis (para klerus) melainkan juga melalui diri kita masing-masing para anggota tubuh-Nya yang awam. Kita semua adalah tangan-tangan dan kaki-kaki Yesus. Melalui kitalah – para anggota Tubuh-Nya, klerus maupun awam – Kristus mengkomunikasikan kasih-Nya, penyembuhan-Nya dan kebenaran-Nya. Nabi Yehezkiel melihat air yang menyembuhkan mengalir dari Bait Suci menuju ke segala penjuru. Dalam artian tertentu, itulah kita: anda dan saya! Kita masing-masing adalah bait Roh Kudus, dan Yesus ingin memenuhi diri kita secara berlimpah.

Akan tetapi, agar dapat membawa Kristus ke tengah dunia, kita sendiri harus masuk (membenamkan diri) ke dalam sumber air kehidupan sedalam-dalamnya. Doa-doa pribadi, karunia sakramen-sakramen, hikmat sabda Allah dalam Kitab Suci, kasih kepada saudari-saudara dalam Kristus – semua ini adalah sumber-sumber air kehidupan bagi kita. Apabila Konstantinus, orang yang paling berkuasa di dunia barat pada zaman itu dapat bertobat melalui kesaksian umat Kristiani, bayangkanlah betapa kesaksian kita dapat mempengaruhi para tetangga kita, para teman/sahabat kita, para rekan kerja kita. Apabila kita membenamkan diri kita dalam Kristus, maka kita sungguh dapat mengubah dunia.

Dalam hal ini marilah kita mengingat sabda-Nya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam Anak” (Yoh 14:12-13).

DOA: Roh Kudus, murnikanlah Gereja-Mu dan penuhilah kami semua dengan hidup-Mu, kasih-Mu, rahmat-Mu dan kebenaran-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah kami agar mau dan mampu berbela-rasa terhadap orang-orang miskin dan menderita di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 3:9-11, 16-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP” (bacaan tanggal 9-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 7 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENTRALITAS KRISTUS DALAM KEHIDUPAN SEORANG KRISTIANI

SENTRALITAS KRISTUS DALAM KEHIDUPAN SEORANG KRISTIANI                                        

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 8 November 2018)

Kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. Sekalipun aku juga ada alasan untuk mengandalkan hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat mengandalkan pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. (Flp 3:3-8a) 

Mazmur Tanggapan:  Mzm 105:2-7; Bacaan Injil: Luk 15:1-10

Sebelum perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik, kehidupan Paulus (Saulus) merupakan sebuah model dari kesempurnaan moral dan religius Yahudi. Sejak hari-hari pertama masa mudanya, Paulus berupaya sedapat mungkin untuk menyenangkan Allah dengan mematuhi segala praktek dan hukum Yahudi yang berlaku. Pada hari ini kita mungkin dapat membandingkan kehidupan Paulus sebelum perjumpaannya dengan Kristus dengan seseorang yang didorong untuk melakukan atau memainkan peranan-peranan yang dipandang/dinilai benar – misalnya bergabung dengan paduan suara anak-anak, menjadi pelayan Misa yang rajin, aktif dalam gerakan Pramuka, top terus dalam kelas – termasuk sewaktu kuliah di perguruan tinggi, menjadi eksekutif sukses yang juga aktif dalam berbagai kegiatan gerejawi, misalnya sebagai anggota Dewan Paroki inti, Prodiakon dlsb. Yang pantas dicatat di sini adalah, bahwa apakah dia memiliki catatan prestasi yang gemilang atau tidak, tetap saja ada bahaya bahwa orang ini melakukan semua hal “benar” ini karena motivasi yang berbeda daripada mengasihi Tuhan, misalnya karena pengejaran nilai diri-sendiri dalam hal-hal yang berhasil dicapainya. Kecenderungan ini selalu ada pada diri manusia.

Akan tetapi, pada waktu Paulus berjumpa dengan Yesus Kristus, dia belajar tentang pandangan Allah mengenai performa dan penerimaan – karena pada dasarnya nilai diri kita berasal dari kasih Yesus Kristus yang memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Sebagai akibat perjumpaannya dengan Kristus, Paulus menolak jalan hidupnya yang lama/dulu. Tujuan hidupnya setelah “saat sangat penting” itu adalah: “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus” (Flp 3:8-9). Bukankah ini yang telah ditunjukkan dalam kehidupan para kudus seperti S. Fransiskus dari Assisi, S. Ignatius dari Loyola, S. Padre Pio dll.? Allah menerima kita sebagai “benar” bukanlah karena segala upaya kita yang baik, tetapi karena Dia mengasihi kita – suatu kasih yang diminta-Nya agar kita menaruh kepercayaan di dalamnya. Allah tidak mengukur nilai diri kita berdasarkan standar-standar penerimaan yang bersifat manusiawi.

Tempat Kristus dalam kehidupan kita sebagai orang Kristiani bersifat sentral. Hanya Yesus Kristuslah yang signifikan. Di samping Dia tidak ada yang signifikan. Bilamana kita sungguh dipanggil oleh Kristus, kita sebenarnya diundang kepada suatu keterikatan eksklusif dengan pribadi Kristus ini. Rahmat panggilan-Nya ini menghancurkan segala ikatan legalisme. Panggilan Kristus adalah rahmat, yang mengatasi perbedaan antara hukum dan Injil-Nya. Pada hari ini marilah kita secara khusus merenungkan kenyataan bahwa Allah menerima kita sebagai benar, tidak berdasarkan apa yang kita lakukan, akan tetapi berdasarkan pada iman kita kepada Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu buatlah aku untuk semakin mendalami kepercayaanku kepada-Mu, semakin taat kepada sabda-sabda Yesus Kristus dalam Injil agar dapat mengenal-Nya dengan lebih dalam lagi. Semoga dengan demikian aku pun dapat bersama Paulus memproklamasikan: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malah segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku” (Flp 3:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA CINTA!” (bacaan tanggal 8-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 6 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS