Posts tagged ‘ROH KUDUS’

BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS

BERSUKACITA BERSAMA TUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 6 Oktober 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 luka Yesus, Perawan

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130 

“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus.”  (Luk 10:21)

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para murid-Nya ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka? (bacalah keseluruhan Luk 10:17-20).

Kita juga diminta untuk bersukacita dalam Tuhan Yesus. Ingatlah apa yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Flp 4:4). Pantaslah kita bersukacita karena nama kita ada  terdaftar di surga (Luk 10:20). Yesus bersyukur kepada Bapa surgawi, “karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk 10:21). Kita bersukacita karena Bapa surgawi telah mewahyukan Putera kepada kita, dan Putera telah mewahyukan Bapa kepada orang “yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” (Luk 10:22).

Sudah sepatutnya kita bergembira dan bersukacita dalam Tuhan sebab “karena anugerah kita diselamatkan oleh iman; bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah” (Ef 2:8). Kita bersukacita karena Kabar Baik Yesus Kristus yang telah dinyatakan kepada kita. “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:23-24).

Melalui anggota keluarga kita, sekolah, lingkungan, guru agama dan pewarta sabda lainnya, kita memperoleh pernyataan atas Kabar Baik Yesus Kristus itu. Kita sepatutnya bersyukur atas anugerah Tuhan mengirim orang-orang itu kepada kita.

Sekali lagi kita bersyukur, bersukacita karena diperkenankan mengenal dan mengasihi Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau bersabda kepada para murid pada perjamuan terakhir: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Berikanlah kepadaku hati, pikiran, kehendak dan sukacita-Mu seturut kehendak-Mu yang kudus. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 6-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 4 Oktober 2018 [HARI RAYA S. FRANSISKUS ASSISI, Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

KITA TIDAK SENDIRI DALAM BEKERJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paolo – Kamis, 27 September 2018)

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus (Luk 9:7-9).

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

Dalam Injil Lukas, bacaan singkat Injil hari ini terletak di antara cerita tentang Yesus mengutus kedua belas  rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6) dan kembalinya mereka setelah melaksanakan tugas perutusan itu (Luk 9:10-17).  Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa para murid Kristus akan menghadapi oposisi selagi mereka mewartakan sabda Allah, walaupun barangkali diiringi kebingungan seperti ketika orang-orang itu menilai Yohanes Pembaptis.

Yesus menghadapi oposisi dan demikian pula para pengikut-Nya. Yesus seringkali ditentang oleh para pemimpin Yahudi (Mat 12:14), bahkan oleh para pengikut-Nya sendiri (Mat 16:23). Yohanes Pembaptis menghadapi oposisi dari Herodus Antipas yang menyuruh menangkapnya, menjebloskannya ke dalam penjara dan kemudian memenggal kepalanya. Para murid Yesus juga menghadapi oposisi (lihat Kis 5:17-18), dan Gereja telah menghadapi oposisi dalam berbagai bentuknya sepanjang sejarahnya yang sudah berlangsung selama kurang-lebih 2.000 tahun.

Sabda Allah menyatakan posisi kita di hadapan Allah dan mendatangkan pemisahan ketika mengungkapkan kebutuhan kita untuk mengubah hidup kita dan berbalik kepada Allah. Pesan Salib mengambil tempat sentral dalam pengajaran Yesus dan merupakan alasan mengapa Dia melakukan karya pelayanan-Nya (Luk 9:22). Bahkan Petrus sendiri salah memahami keperluan akan penderitaan sengsara Yesus untuk menebus umat manusia (Mat 16:21-23).

Selagi Injil diwartakan pada masa para rasul, Gereja bertumbuh-kembang secara dramatis (lihat Kis 2:41,47) dan diberkati secara berlimpah. Gereja modern akan diperkuat apabila tetap teguh dalam mewartakan pesan Injil Yesus Kristus secara penuh, pesan yang tidak akan berubah dengan adanya perubahan zaman. Bilamana sabda Allah diwartakan, maka sabda Allah itu akan berbuah dan mencapai tujuan dari pekerjaan itu, seperti ada tertulis dalam Kitab Yesaya; “…… demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:11).

Injil tidak dapat diperlunak karena rasa takut akan adanya reaksi-reaksi yang tidak mengenakkan atau membuatnya menjadi lebih dapat diterima. Bilamana kita  berbicara mengenai kebenaran Allah dalam kasih, dibimbing oleh Roh Kudus, orang-orang akan mengenal Yesus dan menemukan kehidupan di dalam Dia. Injil sebagai sabda Allah yang hidup dan aktif, menyatakan hikmat Allah yang tak terhingga dan kasih yang tak dapat diukur. Injil bukanlah sekadar suatu kode moral atau buku yang memuat panduan-panduan untuk bertindak-tanduk; Injil adalah kuasa dan kasih Allah yang membawa kehidupan baru.

Kita tidak perlu menjadi putus-asa manakala kita menghadapi oposisi terhadap Injil. Ketika Gereja mewartakan keutamaan Kristus, maka Gereja pun akan berkemenangan. Ingatlah, bahwa kita tidak sendiri dalam bekerja, karena Allah telah mengutus Roh Kudus untuk membimbing Gereja (Yoh 16:5-16).

DOA: Tuhan Yesus, melalui Roh Kudus-Mu, buatlah kami semua menjadi orang-orang yang berani dalam mewartakan Injil, agar dengan demikian orang-orang di mana-mana dapat mengenal dan mengalami kasih dan hidup-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?” (bacaan tanggal 27-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 25 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH BERKENAN MENYELAMATKAN MEREKA YANG PERCAYA OLEH KEBODOHAN PEMBERITAAN INJIL

ALLAH BERKENAN MENYELAMATKAN MEREKA YANG PERCAYA OLEH KEBODOHAN PEMBERITAAN INJIL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 31 Agustus 2018) 

Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang Yunani suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. (1Kor 1:17-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2.4-5.10-11; Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Memang cukup mengagetkanlah kenyataan, bahwa begitu banyak orang yang mendengar khotbah-khotbah Santo Paulus malah menolak pesan-pesannya. Atau apakah hal itu sesuatu yang mengagetkan dan tak disangka-sangka. Bagaimana pun juga, bukankah Injil atau Kabar Baik yang diberitakan oleh Paulus itu tidak sama dengan kebenaran lainnya yang dapat ditemukan dan dimengerti oleh hikmat manusia? Seseorang dapat bertanya dalam hatinya hal-hal seperti berikut: Mengapa Allah harus menjadi seorang rabi yang miskin dan berasal dari sebuah tempat kecil-kurang terkenal seperti Nazaret? Mengapa Dia membiarkan diri-Nya dihukum mati secara mengerikan di kayu salib, hanya untuk menyelamatkan daku? Bagaimana mungkin kita dikatakan diberkati, kalau pada kenyataannya kita menderita karena dikejar-kejar, dianiaya dan disiksa? Bagaimana mungkin kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tadi sah-sah saja kalau ditanyakan seseorang karena semua mengerucut pada kenyataan, bahwa tanpa Roh Kudus Injil memang tidak masuk akal. Tidak ada seorang pun yang hanya memiliki “hikmat dunia” dapat memahami kebenaran-kebenaran ini atau sampai kepada suatu pengenalan akan Allah (1Kor 1:20-21). Tugas Roh Kudus lah untuk membuat jantung Injil menjadi terang dan masuk ke dalam wilayah pengalaman pribadi. Roh Kudus adalah “batu ujian” dari kasih ilahi yang membuat segala teka-teki kehidupan ini menjadi dapat diterima oleh akal manusia. Dia memimpin kita ke dalam hadirat seorang Bapa yang kasih-Nya begitu tanpa syarat, mampu mengubah dan membersihkan dan tidak dapat kita sangkal. Cobalah mengabaikan Roh Kudus, maka Injil terasa sangat tidak masuk akal atau tereduksi menjadi sederetan peraturan dan doktrin yang samasekali tidak mempunyai kuasa untuk mengubah kehidupan manusia.

Dunia kita sekarang memang dapat dikatakan sangat berbeda dengan dunia orang-orang di Korintus pada abad pertama, namun kita menghadapi tantangan mendasar yang sama dengan yang mereka hadapi di kala itu, yaitu: Bagaimana menghayati kehidupan Kristiani dengan mempertahankan integritas dalam sebuah dunia yang sedang merosot jatuh. Tidak ada jawaban atau rumusan baku dan mudah yang dapat menolong kita! Akan tetapi, kita dapat mengandalkan Roh Kudus untuk menolong kita, apabila kita menjaga agar hati kita tetap terbuka bagi-Nya. Roh Kudus  akan menolong kita untuk mengingat kembali dan memahami sabda-sabda Yesus dan karya-karya-Nya. Roh Kudus pula yang akan mengajar kita untuk menerapkan ke dalam situasi-situasi khusus kehidupan, segala pelajaran yang kita peroleh dari segala ajaran dan perbuatan Yesus tersebut. Lagipula, Roh Kudus akan memampukan kita untuk ‘meng-konek’ kita dengan Allah, …… berelasi dengan-Nya, sehingga “sabda Allah” dan “kuasa salib” menjadi suatu realita yang semakin mendalam dalam kehidupan kita.

DOA: Roh Kudus, Engkau sendiri yang membawa kuasa Allah ke dalam hidupku. Melalui Engkau aku dapat berkata, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan!’. Melalui Engkau aku memiliki hidup yang meluap-luap. Seturut rencana-Mu, penuhilah diriku dengan karunia-karunia-Mu, ya Roh Kudus, setiap hari dalam perjalanan hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH” (bacaan tanggal 31-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA

ORANG-ORANG ISRAEL TELAH MEMBUAT SESUATU YANG SUNGGUH KUDUS MENJADI BERHALA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 28 Juli 2018)

Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN (YHWH), bunyinya: “Berdirilah di pintu gerbang rumah YHWH, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman YHWH, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada YHWH! Beginilah firman YHWH semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah. Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini! Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya, demikianlah firman YHWH. (Yer 7:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11; Bacaan Injil: Mat 13:24-30

Kita semua mempunyai cara yang agak “lucu” dalam mencari keamanan dalam hal-hal yang sesungguhnya tidak dapat menjamin keamanan. Dalam pencaharian kita akan “sesuatu pegangan”, kita berpaling kepada berbagai rutinitas, jadual, rituale, dan berbagai objek serta tempat yang familiar. Tidak semua hal itu buruk, namun akan menjadi masalah besar apabila hal-hal itu mengambil tempat yang sebenarnya diperuntukkan bagi Allah dalam kehidupan kita. Menjadi berhala!

Inilah yang terjadi dengan umat Israel pada zaman Yeremia. Mereka percaya pada Bait Suci, … bait YHWH, namun mereka mengabaikan relasi dengan Dia yang semestinya dihormati dan disembah di tempat suci tersebut. Mereka juga mengabaikan hubungan mereka dengan orang-orang miskin yang begitu dikasihi oleh-Nya. Tanda-tanda eksternal keagamaan mereka memberikan rasa aman yang keliru, yang memimpin mereka untuk berpikir bahwa mereka dapat mengabaikan panggilan Allah untuk keadilan dan tetap selamat. Nabi Yeremia mengingatkan mereka: Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait YHWH, bait YHWH, bait YHWH, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing” (Yer 7:4-5). Dengan perkataan lain, apabila kita sungguh ingin selamat, maka kita harus membersihkan bait/kenisah diri kita masing-masing (bdk. 1Kor 3:16; 6:19; 2Kor 6:16) agar Allah dapat sungguh berdiam di dalamnya.

Kita melihat bahwa orang-orang Israel telah membuat sesuatu yang sungguh kudus – Bait Suci dan ritualenya – menjadi berhala. Bukankah kita pun kadang-kadang melakukan hal yang serupa? Bukankah “mengagumkan” apabila kita melihat bagaimana Iblis dengan “lihai-licin” mempengaruhi pikiran kita dengan menggunakan “kebenaran setengah-setengah” atau “kebenaran-kebenaran parsial” untuk meyakinkan kita bahwa Allah sesungguhnya tidak dapat diandalkan, sehingga kita harus menaruh rasa percaya pada sesuatu yang lain daripada Allah? Itulah sebabnya, mengapa doa dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci bersifat sangat vital. Semua ini memberikan kesempatan kepada Roh Kudus untuk membisikkan kebenaran-kebenaran Allah ke dalam hati kita – kata-kata cintakasih, hikmat-kebijaksanaan, arahan dan koreksi. Lalu kita pun dikuatkan dan senantiasa berjaga-jaga dalam menghadapi si Iblis yang “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk mengajar kita apa yang sesungguhnya berarti bagi Allah dan apa yang sesungguhnya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kita. Marilah kita belajar untuk menaruh kepercayaan kita pada Allah saja!

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku agar dapat mengenali perbedaan antara suara-Mu dan suara Iblis dan /atau roh-roh jahat pengikutnya. Tunjukkanlah kepadaku apa yang sesungguhnya berarti dalam kehidupan ini. Dengan demikian aku tidak akan mencari keamanan dalam hal-hal eksternal, melainkan pada-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 28-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 25 Juli 2018 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Melalui Yesus, Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang senantiasa membimbing kami. Tolonglah agar kami tanpa lelah mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, yang bersama Bapa dan Roh Kudus hidup dan memerintah, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk., Martir Polandia

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5-10 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Apakah anda pernah bertanya kepada seseorang dan merasa bahwa anda tidak memperoleh sebuah jawaban yang langsung, yang straight to the point? Barangkali orang itu menjadi defensif dan bahkan mulai “bersumpah” bahwa dia mengatakan yang sebenarnya kepada anda, namun anda tetap tidak yakin. Sebuah contoh yang baik adalah penyangkalan Petrus bahwa dia mengenal Yesus. Ketika kepadanya ditanyakan apakah dia adalah murid Yesus, dia mengatakan, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Akhirnya Petrus melarikan diri dari tekanan di sekeliling dirinya, namun dengan sebuah kebohongan: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” (Mrk14:66-72).

Mengapa untuk menjadi benar itu dapat begitu susah bagi kita? Apakah karena kita takut atau merasa tidak aman? Apakah karena kita terlalu sombong untuk menerima bahwa diri kita dapat saja salah? Atau barangkali karena kadang-kadang terasa sulit untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari kebenaran. Sebagai kontras terhadap penyangkalan Petrus adalah tanggapan Yesus ketika kepada-Nya ditanyakan apakah diri-Nya adalah sang Mesias, Yesus secara sederhana menjawab, “Akulah Dia” (Mrk 14:62), Dengan menjawab jujur seperti itu, sebenarnya Yesus memberi “izin” atas hukuman mati yang akan dijatuhkan atas diri-Nya. Rasa takut tidak menguasai diri Yesus karena Dia menempatkan diri-Nya dalam tangan-tangan penuh kasih dari Bapa dan mengetahui bahwa sabda Allah tidak pernah dapat ditentang.

Pada Perjamuan Terakhir, Petrus mengatakan bahwa dirinya siap mati untuk Yesus, namun semangat berapi-api gaya “bonek” dan entusiasme yang ada dalam dirinya cepat menyusut ketika Dia melihat betapa dengan “lembek” Yesus menyerahkan diri-Nya kepada para lawan yang hendak menangkap-Nya. Petrus menemukan kebenaran yang menyedihkan bahwa dia tidak dapat mengikuti Yesus ke kayu salib hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hanya setelah Pentakosta Kristiani yang pertama Petrus menerima kuat-kuasa Roh Kudus dan mulai berkhotbah mewartakan Injil dengan penuh keberanian – bahkan di bawah ancaman hukuman dan kematian.

Selagi kita menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus, kita pun dapat menguasai hidup emosional kita dan mengalami suatu keutuhan dan integritas yang dapat dikatakan bersifat ilahi. Realitas surga, janji-janji dari Allah yang Mahasetia, dan suatu rasa takut (yang sehat) terhadap dosa akan bekerja sama guna membentuk dalam diri kita komitmen sederhana terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Yesus. Marilah kita melanjutkan memohon kepada Roh Kudus untuk membentuk diri kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Sesungguhnya, dunia menantikan kesaksian kita.

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 16-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS