Posts tagged ‘ROH KUDUS’

DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

DALAM NAMA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS [TAHUN A] –  Minggu, 11 Juni 2017

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab Ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh 3:16-18) 

Bacaan Pertama: Kel 34:4b-6,8-9; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56; Bacaan Kedua: 2Kor 13:11-13 

Kita mengawali doa-doa pribadi kita dan doa-doa liturgis kita dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Mengapa? Karena agama kita mengakui Allah dengan tiga Pribadi yang berbeda, yang berbagi satu kodrat yang sama. Yesus adalah Allah. Dalam Kitab Suci, Yesus berbicara mengenai keilahian-Nya dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib yang hanya pantas dilakukan oleh Allah. Yesus berdoa kepada Allah, Bapa-Nya, dan mengungkapkan kesatuan-Nya dengan Dia. Yesus juga mengutus Roh Kudus, “seorang” Pribadi Ilahi lainnya, ke tengah dunia guna melanjutkan proses keselamatan umat manusia. Dengan demikian kepercayaan kepada Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sungguh merupakan kebenaran sentral dan mendasar dari iman-kepercayaan kita. Karena kodrat Allah jauh melampaui kemampauan kita untuk memahami, maka secara konstan kita menempatkan kata “misteri” di depan kata-kata “Tritunggal Mahakudus” Seandainya Yesus tidak menyatakan rahasia mendalam ini kepada kita, maka kita tidak akan pernah mengetahui serta mengenal kodrat Allah yang benar dan intim.

Sungguh memberi tantangan bagi kita semua untuk menerima konsep yang paling sederhana sekali pun tentang Allah, karena realitas Allah sungguh tidak mudah untuk dipahami/dicerna oleh akal budi kita yang terbatas ini. Sebagai akibatnya, tidak mengherankanlah apabila banyak orang yang menyangkal keberadaan-Nya. Untuk melihat tiga Pribadi dengan satu kodrat sungguh mengganggu imajinasi kita dan malah dapat mengecoh orang-orang yang memiliki intelek yang paling brilian sekali pun.

Kodrat Allah yang paling intim akan senantiasa melampaui kemampuan kita untuk memahami. Tidak ada analogi yang memadai bagi kita untuk melakukan upaya perbandingan. Hal ikhwal misteri Trinitas ini  – seperti juga misteri-misteri keagamaan/iman/kepercayaan lainnya – tidak pernah akan terpecahkan. Memang sebenarnya semua itu tidak dimaksudkan untuk dipecahkan, melainkan harus diterima berdasarkan iman, bukannya dengan akal budi belaka.

Ajaran Gereja tentang Tritunggal Mahakudus menunjukkan konsistensi sejak awal. Santo Petrus mengawali suratnya yang pertama dengan menyapa umat Kristiani dari beberapa tempat sebagai “orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr 1:2). Berbagai konsili ekumenis dari abad ke abad terus saja melanjutkan pengajaran dan penjelasan tentang keyakinan suci dan sentral dari kodrat Allah ini. Kesatuan Yesus sendiri dengan Bapa dan Roh Kudus menginspirasikan diri-Nya untuk membentuk komunitas di antara para pengikut-Nya. Ini juga diulangi oleh Paulus dan bacaan kedua hari ini (dalam salam penutupnya): “… Saudara-Saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati, sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu! … Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor 13:11,13).

Hari Raya Tritunggal Mahakudus sudah dirayakan sejak zaman Paus Yohanes XXII pada awal abad ke-14. Hari Raya ini selalu dirayakan pada hari Minggu setelah Hari Raya Pentakosta.

DOA: Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa … Kami percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal … Kami percaya akan Roh Kudus …  Kami percaya bahwa Allah adalah keberadaan yang murni, kesempurnaan tanpa akhir dan sumber keheranan yang tak habis-habisnya. Kami memuji-Mu dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kami mohon, perkenankanlah kami ikut ambil bagian dalam kehidupan-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi terang pengharapan dan saksi-saksi dari kasih-Mu kepada setiap orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (2Kor 13:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 11-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

Cilandak, 8 Juni 2017 [Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 24 Mei 2017)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22 – 18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kadang-kadang timbul keinginan dalam hati kita bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita pada Perjamuan Terakhir semua hal yang dikatakan oleh-Nya akan diajarkan oleh Roh Kudus setelah Ia sendiri pergi, bukankah begitu? Tidak pernahkah kita mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan suatu keputusan sangat penting, namun ketika kita selesai berdoa kita masih  saja tidak yakin apakah suara yang menjawab doa kita di kepala kita itu sungguh suara Allah atau hanya imajinasi kita sendiri? Lalu kita berkata kepada diri kita sendiri: “Ah, kalau saja Roh Kudus berbicara kepada kita dengan jelas seperti pada waktu Yesus berbicara dengan para murid-Nya!” …… “Kalau saja Dia dapat menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti, sehingga aku tidak perlu mengira-ngira, tak perlu menebak-nebak apa yang dimaksudkan oleh-Nya!”

Namun Yesus mengatakan kepada kita – dengan kata-kata yang mudah dimengerti – bahwa lebih berguna bagi kita kalau Dia pergi kembali kepada Bapa surgawi (Yoh 16:7). Mengapa? Karena dengan demikian Dia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita untuk menyucikan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Dalam hati kita dapat saja ingin agar kita memiliki kedekatan dengan Yesus seperti halnya para rasul/murid-Nya yang pertama. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa meski begitu dekat dengan Yesus, tetap saja tidak dapat mencegah para rasul/murid untuk merasa takut akan nyawa mereka sendiri; tidak dapat mencegah mereka untuk melarikan diri justru pada waktu sang “Tuhan dan Guru” ditangkap oleh pasukan para penguasa pada waktu itu.

Kapan sebenarnya kita berada paling dekat dengan Yesus? Tentunya pada waktu kita menyambut Dia dalam Komuni Kudus – setelah kita mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga dalam Komuni Kudus Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita dan untuk menyentuh kita dengan penyembuhan-Nya, dengan hikmat-Nya dan dengan kasih-Nya. Yang diminta oleh-Nya dari kita hanyalah hati yang terbuka lebar-lebar bagi Dia dan pikiran-hening yang hanya tertuju kepada-Nya.

Oleh karena itu janganlah kita membuang-buang waktu sedemikian, yaitu saat-saat kebersatuan dengan Allah secara mendalam, ketika suara kecil hampir tak terdengar dari Roh Kudus dapat terdengar paling jelas dalam hati kita. Tentu saja kita tidak keluar dari Misa Kudus dengan sebuah dokumen sepanjang 2-3 halaman folio berisikan kata-kata yang didiktekan oleh Roh Kudus berkaitan dengan pilihan penting yang harus kita buat. Namun demikian, kita akan membawa dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, laksana suatu cara pengobatan/terapi radiasi yang menembus bagian luar diri kita dan membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya masuk ke dalam bagian-bagian diri kita yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ucapkanlah sabda-sabda-Mu yang hidup kepadaku setiap hari – sabda-sabda-Mu yang akan menembus dalam-dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, juga kata-kataku dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu saja. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan pertama hari ini (Kis 17:15,22 – 18:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN LUPA PERANAN SALIB” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya  dapat lebih bersifat intim/akrab dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus,  mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 23-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 22 Mei 2017)

 “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Paracletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai “seorang” penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16).

Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah anda pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di sampingmu ketika anda duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, anda tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya anda pikir tidak mungkin.

Dalam masa Paskah ini, baiklah anda datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Mohonlah kepada-Nya untuk menolongmu dalam kelemahan-kelemahanmu. Sementara anda membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati anda, di mana kehendak anda dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan anda pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 22-5-17) dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 4 Mei 2017)

Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, “Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepada perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya. Lalu kata Roh kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” [Sahut Filipus, “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya, Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] Orang  Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun pejabat istana itu, lalu Filipus membaptis dia. Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Ternyata Filipus sudah berada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. (Kis 8:26-40) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9,16-17,20; Bacaan Injil: Yoh 6:44-51

Oh, betapa sering sabda Tuhan tersekat di kerongkongan kita! Maksud hati mau syering/ berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, namun seakan ada yang menekan sehingga tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulut kita. Mungkin saja kurang PD karena belum mengikuti KEP di Paroki. Mungkin juga karena kita tidak mau terlihat sebagai seorang yang suka memaksa atau mengganggu, misalnya karena tidak sesuai dengan adat-kebiasaan dan budaya etnis kita. Mungkin saja karena kita tidak mau orang-orang lain memandang kita sebagai orang yang fanatik dalam hal keagamaan, “bonek” rohani? Dengan demikian hilanglah kesempatan-kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang telah dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di sisi lain ada banyak orang yang hatinya berteriak, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis 8:31).

Dengan penuh ketaatan Filipus mendengar suara Tuhan yang disampaikan oleh seorang malaikat-Nya. Dia langsung pergi dari Jerusalem ke Gaza melalui jalan padang gurun yang sunyi-sepi. Filipus tidak berhenti di tengah jalan, lalu bertanya kepada Tuhan: “Mengapa Tuhan? Untuk apa Tuhan?” Dia hanya menjalankan perintah Tuhan dengan setia, karena dia tahu dan sadar bahwa misi-nya akan jelas pada saat yang ditentukan Tuhan. Memang demikianlah ceritanya. Dalam perjalanannya di jalan padang gurun yang sunyi itu, Filipus bertemu dengan sebuah kafilah dan kemudian bergabung dangan kafilah itu. Di situ dia bertemu dengan seorang pejabat istana Etiopia yang sedang menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Yesaya. Filipus kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana: “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis 8:30).

Tanggapan pejabat negara Etiopia itu sama dengan yang ada di dunia, bahkan sampai hari ini: “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Bagaimana orang dapat memahami kasih Allah dan rahmat penyelamatan Yesus kalau tidak orang yang pergi keluar dari sangkar emasnya dan pergi merebut kesempatan yang ada untuk syering Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Ingatlah, bahwa setiap orang yang mempunyai komitmen kepada Yesus qualified untuk menolong orang-orang lain memahami Injil. Dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya kita semua sesungguhnya adalah “duta-duta Kristus” atau “utusan-utusan Kristus” (lihat 2Kor 5:20).

EVANGELISASI bukanlah tanggung-jawab orang lain; EVANGELISASI adalah tanggung-jawab semua/setiap orang yang menamakan diri KRISTIANI, semua yang menjadi anggota TUBUH KRISTUS di atas bumi ini. Allah telah memberikan kepada kita Roh Kudus, yang memberdayakan kita untuk mewartakan Injil. Apabila kita mengalami suatu relasi yang akrab dengan Tuhan Yesus, maka Dia sungguh-sungguh adalah Tuhan (Kyrios) dari kehidupan kita. Maka kita pun dapat berbicara dengan jujur, bebas dan berani tentang diri-Nya kepada orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita mohon Roh Kudus agar menggerakkan kita supaya mampu mewartakan Injil secara efektif seperti Filipus.

DOA: Datanglah Roh Kudus dan berdayakanlah kami agar mampu berbicara kepada orang-orang lain mengenai Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mampu melaksanakan perintah-Nya untuk pergi keluar dan mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang kami temui. Kami, anak-anak-Mu mendambakan kasih-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbagi kasih-Mu dengan orang-orang yang kami temui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “ROTI YANG TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 4-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah, 19 April 2017)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9 

Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga “gosip” atau “kabar angin” bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang “nabi” tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka.

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu.

Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat!

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh harapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “HADIAH PASKAH” (bacaan tanggal 19-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HATI MEREKA TERSAYAT

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 18 April 2017)

 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41). 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH KRISTUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS