Posts tagged ‘ROH KUDUS’

KITA HANYALAH ALAT-NYA !!!

KITA HANYALAH ALAT-NYA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Sabtu, 11 Juli 2015) 

stdas0609“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

Wajarlah apabila seseorang merasa takut terhadap faktor-faktor yang tidak diketahuinya. Dalam ilmu manajemen, khususnya manajemen perubahan (management of change), “fear of the unknown”  merupakan salah satu penghalang terciptanya perubahan. Bagi banyak dari kita, “evangelisasi” merupakan suatu unknown yang sangat besar. Begitu banyak pertanyaan yang kita ajukan: “Bagaimana kalau pewartaan Injil kita itu tidak diterima? Bagaimana kalau terjadi perlawanan dari berbagai pihak? Bagaimana kalau ada ini, bagaimana kalau ada itu, dst.? Dengan demikian kita akan “aman” apabila dapat menghindar atau bersembunyi dari “makhluk aneh” yang bernama “evangelisasi” itu. Namun selagi kita mengembangkan suatu relasi dengan Roh Kudus, maka kita akan melihat bahwa tahap demi tahap rasa takut itu pun akan menghilang.

Dengan melakukan praktek mendengarkan suara Roh Kudus dan mengikuti pimpinan-Nya kita dapat belajar bahwa Allah tidak akan memberikan kita apa-apa yang kita tidak dapat mengurusnya, dengan demikian kita tidak perlu menjadi cemas. Kita belajar bahwa dengan Allah segala hal mungkin. Kita bahkan belajar bahwa bilamana kita “salah omong” atau “salah langkah”, Allah ada di dekat kita dan Ia akan mengoreksi kita dengan lembah lembut dan menghibur kita, mengajar kita, dan bahkan memberkati upaya-upaya kita yang salah jalan tadi.

Ketergantungan kita pada Roh Kudus – seperti diungkapkan dalam doa-doa, sikap dan perilaku hidup Kristiani kita sehari-hari – memberdayakan penginjilan karena hal tersebut menghubungkan kita dengan kasih yang mengusir rasa takut kita. Manakala kita berdoa untuk orang-orang lain, kita belajar untuk rileks dalam damai-sejahtera yang melampau pemahaman. Selagi kita  memperkenankan Allah membuat ringan beban-beban kita, maka kita  semakin dibebaskan untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Kita pun belajar bahwa tindakan kebaikan hati kita yang sederhana dapat berdampak jauh. Misalnya, kita dapat mencoba memperkenalkan diri kita kepada seseorang setelah Misa Kudus selesai, dan katakanlah kepada orang itu sesuatu yang positif. Kadang-kadang diperlukan suatu tindakan iman yang istimewa agar dapat mengatasi rasa “kikuk”, akan tetapi sikap bersahabat kita (di gereja atau di super market, atau di mana saja kita secara teratur bertemu dengan orang yang sama) dapat membentuk “panggung” untuk melakukan syering pribadi iman-kepercayaan kita.

Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita bilamana waktunya telah tiba untuk berbagi Injil Yesus Kristus dengan orang-orang lain yang kita temui. Dalam hal ini baiklah kita masing-masing tetap sederhana dan mengambil sikap sebagai seorang pribadi. Kita fokus pada kasih Allah, pengampunan-Nya, berkat-berkat-Nya, penghiburan-penghiburan-Nya, dan janji-janji-Nya akan kehidupan kekal. Tidak perlulah bagi kita dalam hal ini untuk masuk ke dalam debat-debat berkaitan dengan isu-isu doktrinal.  Barangkali berguna bagi kita untuk mengikuti kerangka dasar dari “Pengakuan Iman” (Syahadat Para Rasul) yang memiliki urut-urutan sebagai berikut: Ciptaan, penebusan, dan pengudusan. Kita tidak boleh sekali-sekali menjelek-jelekkan agama-agama lain, termasuk denominasi-denominasi Kristiani lainnya! Selagi proses penginjilan kita berjalan dan terasa ada desakan dalam batin untuk melakukannya, maka kita dapat mendorong mereka untuk membaca Injil. Kita dapat meminjamkan Kitab Suci kepada mereka. Apabila mereka ingin mendalami lebih lanjut, kita dapat menganjurkan mereka untuk membaca buku-buku rohani yang telah menolong kita sendiri di masa lampau. Di atas segalanya, kita harus mendorong mereka untuk bertekun memohon kepada Yesus agar terjalin relasi pribadi dengan-Nya. Yang senantiasa harus kita ingat adalah, bahwa evangelisasi adalah mengenai segala sesuatu yang telah Yesus katakan dan lakukan, bukan apa yang kita katakan dan lakukan! Kita hanyalah alat, seperti “keledai” yang ditunggangi Yesus ketika memasuki kota Yerusalem, bukan Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, begitu sering aku merasa takut dan tak berdaya untuk melakukan penginjilan seturut perintah-Mu. Namun dengan rendah hati aku mohon kepada-Mu agar jangan lupa mengutus aku untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kasih Allah kepada umat manusia, pada saat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “TAKUT DAN TIDAK TAKUT” (bacaan tanggal 11-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 8 Juli  2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 10 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Veronika Yuliani, Ordo II (OSCCap.)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk.- Martir 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16).

Mengikut Yesus banyak memakan “biaya”, mengikut Yesus bukanlah seperti orang berlenggang kangkung. Pesan kepada para murid yang diutus ini adalah pesan kepada Gereja sepanjang masa juga. Menjalani hidup Injili merupakan tantangan langsung bagi kekuatan-kekuatan maut. Oleh karena itu para murid diingatkan untuk membuka mata mereka lebar-lebar dan bersikap serta bertindak bijak.

Sebagian besar bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah tentang Akhir Zaman” yang diambil dari Injil Markus (lihat Mrk 13:9-13), di mana kata-kata profetis dari Yesus mengingatkan komunitas Kristiani akan segala kerusuhan yang harus mereka ekspektasikan pada hari-hari terakhir dunia ini. Dalam Injil Matius kata-kata Yesus yang sama digunakan dalam pengajaran berkaitan dengan perutusan para rasul guna membantu mengungkapkan berbagai pengalaman negatif yang telah dialami oleh Gereja Perdana, dan dapat diekspektasikan akan terus terjadi selagi Gereja melaksanakan misinya. Penganiayaan, penolakan, perpecahan dalam keluarga: ini kadang-kadang merupakan “biaya”-nya jika kita mau melakukan pewartaan dengan penuh integritas.

Memang untuk menjalani suatu hidup Kristiani yang sejati seringkali berarti menantang dunia dan nilai-nilainya, dengan demikian mengundang cemooh, olok-olok, bahkan pengejaran dan penganiayaan. Seandainya Kekristenan kita kelihatannya atau terasa terlalu nyaman, maka sangat baiklah bagi kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang terjadi selama ini? Bagaimana caranya kita telah berhasil menghindar dari dampak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini?

Bacaan Injil hari tidak hanya berbicara tentang penderitaan, penganiayaan dan hal-hal yang buruk saja. Mewartakan Injil pada akhirnya juga ikut menikmati sukacita dan keyakinan seperti yang dialami Yesus sendiri. Roh Bapa akan berkata-kata di dalam diri kita sehingga fasih berbicara (Mat 10:20), dan tugas para murid akan berakhir dengan kedatangan kembali “Anak Manusia” ke dunia (Mat 10:23).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu dengan berani, sebagai garam bumi dan terang dunia bagi orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEMULIAAN YANG BERLIKU-LIKU” (bacaan tanggal 10-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 7 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Senin, 29 Juni 2015)

Peter_Paul_El_Greco

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Apabila ada orang yang bertanya kepada kita (anda dan saya) apakah perbedaan yang diakibatkan oleh kematian Yesus, maka apakah jawaban yang dapat kita berikan kepada orang yang bertanya tersebut? Bahwa kita sekarang sudah ditransformasikan menjadi ciptaan baru? Bahwa kita dapat dipenuhi dengan karakter-karakter Kristus sendiri? Nah, “Hari Raya S. Petrus dan Paulus – Rasul” pada hari ini adalah untuk merayakan “hidup yang ditransformasikan” dari kedua orang kudus ini.

Mari kita bersama-sama merenungkan hal-hal berikut ini:  Petrus diubah dari seorang nelayan Galilea yang impulsif dan meledak-ledak menjadi seorang gembala yang penuh belarasa dan seorang hamba/pelayan yang setia. Dilain pihak, Paulus ditransformasikan dari seorang pemimpin agama aliran Farisi yang penuh dedikasi untuk menghancurkan agama (sekte agama) Kristiani habis-habisan menjadi seorang pengkhotbah/pelayan sabda keliling yang mendedikasikan hidupnya secara penuh untuk pewartaan Injil Yesus Kristus.

Apakah pengalaman kedua orang kudus ini normal? Jawabnya adalah “YA”. Kita masing-masing dapat mengalami transformasi radikal yang sama seperti yang dialami oleh Petrus dan Paulus. Allah mungkin saja tidak memanggil kita untuk berkonfrontasi dengan para pemimpin dunia atau membangkitkan orang mati, namun pengalaman dasar yang sama, yang mendorong kegiatan pelayanan mereka adalah warisan bagi setiap anak Allah. Kita tidak hanya dapat mengalami transformasi seperti ini, melainkan kita pun harus mengharapkan transformasi ini sebagai sebuah bagian vital dari warisan kita dalam Kristus. Ketetapan hati, keberanian, atau talenta tidak mengubah Petrus dan Paulus. Lihat saja bagaimana Kitab Suci menggambarkan berbagai kelemahan dan kesalahan dua orang kudus besar ini. Transformasi mereka bergantung pada Yesus sendiri.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa Roh Kudus-lah yang mengubah dua orang kudus ini. Roh Kudus yang sama inilah yang dapat dan ingin mengubah kita. Allah tidak mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menghakimi kita, melainkan untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:17). Yesus datang ke tengah dunia untuk membebas-merdekakan kita dari segala hal yang mengikat kita dengan dosa dan godaan. Roh Kudus ingin mengajar kita siapa Yesus sebenarnya, dengan membuat-Nya hidup dalam hati dan pikiran kita. Roh Kudus ingin menjelaskan kepada kita misteri-misteri Allah sehingga dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan kita akan Injil.

Pada setiap saat doa, pada setiap Misa Kudus, dalam setiap perjumpaan kita dengan orang lain, kejarlah Yesus. Ia ingin bertemu dengan kita masing-masing, bahkan keinginan-Nya ini lebih daripada keinginan kita sendiri untuk bertemu dengan Dia. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus, Ia dapat membuat kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan-Nya yang setia, sebagaimana yang telah dilakukan-Nya atas diri Petrus dan Paulus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus untuk mengajarku dan mengingatkanku akan segala sesuatu tentang Yesus. Pada hari ini, perkenankanlah diriku untuk bangkit dan mengklaim warisan yang tersedia bagiku dalam Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul  “MERAYAKAN DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR” (bacaan tanggal 29-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 24 Juni 2015 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHMAT YANG BERLIMPAH: BEBERAPA CATATAN TENTANG DOA

RAHMAT YANG BERLIMPAH: BEBERAPA CATATAN TENTANG DOA 

ROHHULKUDUSDoa adalah suatu karunia atau anugerah.  Mengapa karunia? Karena doa Kristiani adalah berdasarkan pengenalan kita dengan Tuhan Yesus Kristus dan kita mempunyai kuasa Roh Kudus yang menggerakkan dan mengurapi kita, dan bergerak melalui diri kita dalam doa. Doa didasarkan pada kenyataan bahwa kita adalah bagian dari Tubuh Kristus dan berada bersama Yesus dalam doa. Bersatu dengan para malaikat dan para orang kudus di hadapan takhta Allah Bapa, kita mampu untuk menyembah, tidak pernah sendiri, namun selalu sebagai bagian dari komunitas besar yang akan memerintah selamanya bersama dengan Tuhan. Jadi doa adalah suatu karunia yang sungguh luarbiasa.

Kita harus memiliki hasrat mendalam untuk berdoa. Kita harus memiliki rasa dahaga akan doa, mengambil keputusan-keputusan untuk berdoa dan bertobat apabila hidup rohani kita tidak seturut apa yang telah kita putuskan. Karunia doa diberikan kepada kita agar kita dapat bersatu dengan Allah. Melalui karunia doa, kita dapat dipenuhi dengan kasih Allah.

Fondasi yang paling penting

DOA PRIBADIKita berdoa kepada Allah. Barangkali fondasi yang paling penting dari doa adalah bahwa kita memahami siapa Allah itu sebenarnya. Ada banyak aspek terkait pemahaman siapa  Allah itu: Allah itu tanpa kesalahan; Ia tidak pernah berubah pikiran atau berbuat salah; Ia kekal dan penuh kuat-kuasa; Dia Mahatahu dan tanpa kekurangan sedikit pun. Namun di atas segalanya, atribut terbesar Allah adalah kasih-Nya yang sempurna. Kasih Allah itu kekal-abadi; ada sejak sediakala, jauh sebelum kita dilahirkan, dan kasih-Nya itu tidak pernah akan memudar atau luntur. Kasih Allah adalah kasih yang membawa kebebasan dan sukacita kepada anak-anak-Nya. Kasih Allah adalah kasih yang menggerakkan-Nya untuk menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada umat manusia,  untuk mengundang setiap orang masuk ke dalam relasi kasih dengan diri-Nya. “Mengenal” Allah harus mencakup pengalaman akan kasih-Nya yang mengalir dari hati Tritunggal Mahakudus.

Pada tingkat yang paling dasariah dan mendalam, doa berarti masuk ke dalam kontak dengan Allah, yang adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Kasih Allah dapat dilihat secara paling jelas dalam relasi Bapa dengan Yesus, sang Putera. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose, ada tertulis bahwa seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Kristus (Kol 1:19). Bapa mengasihi Putera sedemikian penuh sehingga secara kekal-abadi Ia mencurahkan keseluruhan pribadi-Nya ke dalam diri sang Putera, kepenuhan hidup-Nya sendiri – Sakramen Bapa.

Karena kasih-Nya kepada sang Putera, Bapa menciptakan keseluruhan ciptaan, termasuk manusia. Dalam Kristus, dan sejak sediakala, Bapa mengenal dan mengasihi setiap orang. Ketika Dia memanggil nabi Yeremia, Allah-YHWH bersabda, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau”  (Yer 1:5). Sang pemazmur juga berdoa: “… Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. … Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, … dan  dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentukk sebelum ada satupun dari padanya” (Mzm 139:13,15-17).

Melihat sejarah

Sepanjang pelayanan-Nya di depan publik, Yesus mencerminkan kasih sempurna Allah Bapa dan hasrat-Nya untuk mengumpulkan umat-Nya di sekeliling-Nya. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita”  (Luk 22:15). Ini adalah suatu kerinduan yang penuh gairah, sebuah hati yang sepenuhnya dipersiapkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ini adalah jenis kasih yang berkobar-kobar dalam diri Yesus bagi umat-Nya.

st-augustine-1Dalam sejarah Gereja, Allah terus menyatakan diri-Nya sebagai seorang Bapa yang memiliki hasrat mendalam untuk memanggil anak-anak-Nya dan membentuk mereka menjadi milik-Nya sendiri yang istimewa. Kita dapat melihat ini dalam kehidupan Santo Augustinus dari Hippo [354-430]. Orang kudus ini mengalami kasih Allah yang terus “mengejar”-nya, bahkan ketika dia masih terlibat dalam relasi penuh dosa atau menjadi pengikut aliran bid’ah. Walaupun ada berbagai penghalang seperti ini, Bapa surgawi terus saja “mengejar” Augustinus, untuk menariknya kepada diri-Nya. Akhirnya, Allah menang, seperti diakui oleh Augustinus di kemudian hari:

Betapa lambat aku akhirnya mencintai-Mu, wahai Keindahan setua lagi semuda ini, betapa lambat Kau kucintai! Engkau waktu itu di dalam dan aku di luar dan di sanalah Kau kucari. Keanggunan benda-benda yang telah Kaubuat itulah yang kuserbu, aku yang kehilangan keanggunan. Engkau bersamaku dan aku tidak bersama-Mu; aku tertahan jauh dari-Mu olehnya, oleh benda-benda itu, yang jika tidak berada dalam diri-Mu, tidaklah bakal ada! Engkau telah mengajak dan memanggil, dan memecahkan ketulianku. Engkau bersinar, Kau cemerlang dan menghalau kebutaanku. Engkau menyebar wangi, aku menghirup, dan terengah-engah Kau kudambakan. Aku telah mencicipi dan aku lapar dan aku haus. Kausentuh aku dan aku berkobar mendambakan kedamaian-Mu. (Pengakuan-Pengakuan,  Kitab X, XXVII.38, terjemahan Ny. Winarsih Arifin dan Dr. Th. Van den End, Yogyakarta/Jakarta: PENERBIT KANISIUS/BPK Gunung Mulia, 1997, hal. 308-309) 

San-Damiano-1-336x330Dalam hasrat-Nya untuk menarik semua anak-Nya kepada diri-Nya, Allah mencari hati yang akan berkata “ya” kepada-Nya. Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] adalah suatu contoh yang indah bagaimana sebuah “ya” yang sederhana dapat membawa dampak besar atas seluruh Gereja. Ketika Fransiskus untuk pertama kali mendengar panggilan Allah untuk membangun Gereja-Nya, dia sungguh tidak mempunyai bayangan bagaimana menanggapi panggilan Allah tersebut kecuali dengan mencoba memperbaiki sebuah gereja kecil San Damiano yang sudah berantakan tak terurus. Namun “ya”-nya Fransiskus yang penuh ketaatan memperkenankan Allah untuk membawa suatu pembaharuan besar dalam Gereja pada abad ke-13. Hari ini, Allah masih aktif dan dinamis dalam hasrat-Nya untuk menarik kita kepada diri-Nya, dan melalui doa-lah kita disentuh oleh kerinduan Allah ini.

Duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus

Mengutip Injil Yohanes, Katekismus Gereja Katolik (KGK) berbicara mengenai rahmat yang mengalir dari surga apabila kita berdoa: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah” (Yoh 4:10). Mukjizat doa justru menunjukkan diri di sana, di pinggir sumur, tempat kita mengambil air. Di sana Kristus bertemu dengan setiap orang; Ia mencari kita, sebelum kita mencari Dia, dan Ia meminta: “Berilah Aku minum!” Yesus kehausan; permohonan-Nya datang dari kedalaman Allah yang merindukan kita. Entah kita tahu atau tidak, di dalam doa kehausan Allah menemui kehausan kita. Allah merasa haus akan kehausan kita akan Dia  (KGK, 2560). Allah ingin agar kita memandang doa bukan sebagai sebuah beban, melainkan sebagai sebuah tanggapan penuh kasih. Kita mengasihi Allah dan rindu untuk ada bersama dengan-Nya karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita (1Yoh 4:9-10). Doa dimaksudkan untuk memperoleh dua aspek ini: Kita menerima kasih Bapa surgawi, dan kita menjadi lebih dekat kepada-Nya dan kita pun mengasihi Dia sebagai balasan.

2013_LT-MarthaCerita tentang Marta dan Maria menggambarkan sikap yang begitu menyenangkan Yesus (lihat Luk 10:38-42). Kedua perempuan kakak-beradik itu sungguh bergairah untuk menyambut kedatangan Yesus ke dalam rumah mereka, namun dengan dua sikap dan perilaku berbeda satu sama lain. Maria mengesampingkan urusan-urusan (tetek bengek) sehari-hari selama kehadiran Yesus dan ia duduk bersimpuh dekat kaki Yesus dan mendengarkan pengajaran dari Yesus. Yesus sangat senang dengan sikap Maria itu dan memujinya ketika menjawab pertanyaan Marta: “Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia” (Luk 10:42). Tentu saja Yesus tidak menginginkan kita mengabaikan berbagai tanggung jawab kita, namun Ia sangat senang dalam mengajar siapa saja yang mau duduk bersimpuh di dekat kaki-Nya untuk mendengarkan suara-Nya.

KAKI YESUS DIBERSIHKAN DI RUMAH FARISI SIMONSebuah cerita yang lain di mana kita melihat seseorang berada di dekat kaki Yesus adalah cerita tentang seorang perempuan berdosa yang mengurapi Yesus (Luk 7:36-50). Perempuan ini tidak terkendala oleh pandangan orang-orang lain tentang dirinya dalam melakukan tindakannya, walaupun ia mengetahui bahwa dirinya akan menghadapi oposisi dari orang-orang Farisi. Hasratnya akan Yesus mengatasi segala rasa takut akan dihina dan diolok-olok oleh orang-orang munafik tersebut. Bayangkan betapa bahagia Yesus karena perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi yang mahal harganya.

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSOrang-orang yang terakhir berada di dekat kaki Yesus di Kalvari adalah ibu-Nya dan saudara ibu-nya, Maria (isteri Klopas), Maria Magdalena dan murid yang dikasihi-Nya, Yohanes (lihat Yoh 19:25). Mereka memandangi Yesus yang tersalib, yang membawa pengampunan dan kesembuhan bagi seluruh umat manusia. Mereka menyaksikan Yesus yang memenuhi sabda-Nya sendiri pada perjamuan terakhir: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya”  (Yoh 15:13).

Seperti orang-orang percaya yang disebutkan di atas, kita (anda dan saya) pun diundang untuk duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus selagi kita datang menghadap Dia dalam doa setiap hari. Selagi kita berada di dekat-Nya dan merenungkan sabda-Nya yang disampaikan kepada kita, Yesus akan mengajar kita sebagaimana Dia mengajar Maria (saudari dari Marta). Bilamana kita menyembah Yesus dalam doa pribadi kita, kita mengungkapkan kasih kita dan rasa terima kasih penuh syukur kepada-Nya. Kita mencurahkan hidup kita kepada-Nya, serupa apa yang dilakukan oleh perempuan berdosa yang mengurapi Yesus. Seperti Maria (ibu-Nya) dan yang lain-lain menyaksikan persembahan kurban kasih-Nya di atas kayu salib, kita pun dapat menerima tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi dan merayakan kasih-Nya bagi kita semua, para sahabat-Nya.

Kuasa untuk melakukan transformasi dan pembaharuan

God the FatherKetika anak-anak Allah datang menghadap hadirat-Nya, maka kehidupan mulai berubah. Orang yang sepenuhnya menggantungkan diri pada bukti ilmiah dapat melihat doa sebagai sesuatu yang memiliki “placebo effect”, yaitu hanya memberi manfaat bagi mereka yang ingin percaya bahwa doa itu efektif. Namun dengan mata iman, umat Kristiani melihat hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah – bahwa Bapa surgawi mendengar setiap doa dan mencurahkan rahmat-Nya atas mereka yang mencari Dia dengan segenap hati (lihat Yer 29:13).

Jadi, justru dalam doalah pergumulan-pergumulan dan masalah-masalah berukuran seperti gunung-gunung dapat diatasi. Cerita tentang Ayub menunjukkan bagaimana seseorang yang datang ke hadirat Allah dapat ditransformasikan secara dramatis. Kesusahan-kesusahan yang dialami Ayub sungguh luarbiasa berat: Ia kehilangan segala miliknya; anak-anaknya semua mati secara tragis; dan Ayub sendiri diterpa penyakit yang menjijikkan mata orang yang melihat. Setelah menjalani perjuangan yang cukup lama dengan para sahabatnya yang mencoba dengan sia-sia menasihati Ayub, orang saleh ini mengalami kehadiran Allah (Ayb 38-42). Semua kekhawatiran tentang kondisinya, segala kepahitannya terhadap Allah, semua ratapannya, berakhir pada saat dia memberi tanggapan: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”  (Ayb 42:5). Sungguh sebuah pengalaman akan Allah yang sangat indah. Mengalami banyak penderitaan sebagai pewarta Injil Yesus Kristus, rasul Paulus menulis: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Ini pun merupakan kesaksian tentang pengalaman akan Allah (Kristus) yang sungguh luarbiasa.

Hidup kita dapat ditransformasikan selagi kita mengalami kasih Allah dan kehadiran-Nya dalam doa. Rasa takut, keragu-raguan, kebencian, dan keterikatan pada dosa akan menyerah kepada kuasa Allah dan kasih-Nya. Dalam doa, kita dipersatukan secara intim dengan Kristus; oleh karena itu kita mulai mengasihi seperti Dia mengasihi, untuk mengampuni seperti Dia mengampuni, untuk menolak dengan efektif godaan seperti yang telah dilakukan-Nya, dan untuk menggantungkan diri pada Bapa surgawi seperti yang dilakukan-Nya. Doa memang mampu mentransformasikan keberadaan kita!

Cilandak, 26 Juni 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMASEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Rabu, 24 Juni 2015) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Allah memilih Zakharia dan Elisabet sebagai pribadi-pribadi yang melalui diri mereka itu Dia akan mengerjakan rencana penyelamatan-Nya, padahal di Israel pada waktu itu terdapat orang-orang yang jauh lebih muda, lebih kuat, atau lebih terpelajar dari kedua orang tersebut. Ini adalah sebuah misteri ilahi: Allah memilih menggunakan seorang imam tua dan istrinya yang mandul. Allah melihat sesuatu yang bernilai tinggi dalam kedua orang Yahudi yang saleh dan taat ini: “Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (lihat Luk 1:6). Mereka terbilang dalam sisa-sisa Israel yang tetap tak bercacat dan setia pada hukum perjanjian dengan YHWH Allah (kaum Anawim).

Melalui kerja sama sedemikian ini, Bapa surgawi akan memulai pemenuhan janji-Nya yang sudah lama dinanti-nantikan, bekerja melalui anak laki-laki yang dilahirkan dari pasangan  pasutri lansia ini. Jikalau para orangtua menggunakan disiplin untuk melatih/menggembleng anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan orang dewasa, maka YHWH (melalui hukum) mempersiapkan umat-Nya yang setia (sisa-sisa Israel) untuk menerima rahmat melalui Kristus.

YOHANES PEMBAPTIS - 3Anak laki-laki yang akan dilahirkan oleh Elisabet itu dinamakan Yohanes seturut perintah malaikat kepada Zakharia. Ketika sudah berkarya di depan publik dia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ini adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang kudus ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari kalangan agama. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Dalam membesarkan anak mereka, Zakharia dan Elisabet mendidik agar supaya anak itu menjadi seorang yang sangat menghormati dan taat kepada YHWH. Sejak masa kecilnya, Allah telah memisahkan Yohanes untuk membentuknya menjadi bentara Kabar Baik. Allah telah mempercayakan anak ini kepada kedua orangtuanya yang saleh, kemudian memenuhi dirinya dengan Roh Kudus “sejak dari rahim ibunya” (Luk 1:15). Sang Pemazmur telah mengantisipasikan bagaimana kiranya kehidupan Yohanes kelak: “Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya…… Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib”  (Mzm 71:15,17).

Selama hidupnya Yohanes Pembaptis sungguh menghayati apa yang yang ditulis sang Pemazmur ini dan juga selalu bekerja sama penuh taat dengan rencana Allah. Karena Yohanes memperkenankan Allah untuk membentuk dan memakai dirinya, maka dia mampu mengumumkan dengan jelas kedatangan sang Mesias, dan mempersiapkan orang-orang Israel untuk menerima Juruselamat mereka. Memang mudah untuk melupakan Yohanes selagi kita memusatkan segalanya pada Yesus Kristus, akan tetapi kita perlu melihat apa yang direncanakan Allah untuk dicapai melalui Yohanes dan bagaimana Yohanes bekerja sama dengan Allah sehingga rencana itu pun terpenuhi. Sementara karya Kristus akan membawa umat-Nya kepada kepenuhan rahmat, hukum mempersiapkan mereka dengan mengajar mereka jalan Allah dan membawa mereka kepada ambang pintu rahmat.

Dengan membicarakan rencana Allah pada tataran praktis, kita dapat mempersiapkan diri untuk suatu kedatangan Kristus ke dalam kehidupan kita secara lebih mendalam lagi. Apakah kita mengambil tanggungjawab di hadapan Allah untuk kebenaran yang telah dinyatakan kepada kita? Apabila kita adalah orangtua, apakah kita mengasihi dan penuh perhatian kepada anak-anak kita (bahkan setelah mereka beranjak dewasa) dengan mengajar mereka cara-cara (jalan-jalan) Allah? Pertanyaan-pertanyaan sedemikian dapat menolong kita untuk fokus pada rencana Allah. Semoga sementara kita menggumuli pertanyaan-pertanyaan itu, hati kita dapat menjadi lebih terbuka  bagi ajaran Allah dan sentuhan penuh kasih dari Roh Kudus-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, kami tahu bahwa rencana-Mu bagi kami adalah indah dan demi kebaikan kami semata. Oleh Roh Kudus-Mu – sebagaimana yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis – bentuklah kami menjadi seorang insan yang selalu mau dan mampu bekerja sama dan taat kepada segala rencana-Mu atas diri kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, Ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “SAHABAT SANG MEMPELAI LAKI-LAKI” (bacaan tanggal 24-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 21 Juni 2015 [HARI MINGGU BIASA XII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 24 Mei 2015) 

pentecosti-kosmos

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25  

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

ROHHULKUDUSPada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

jeromeSanto Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP SAAT KITA DAPAT BERPALING KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 24-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak,  19 Mei 2015 [Peringatan S. Krispinus dari Viterbo] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI KEHADIRAN ROH KUDUS DI DALAM DIRI KITA

MELALUI KEHADIRAN ROH KUDUS DI DALAM DIRI KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 18 Mei 2014)

Keluarga besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Biarawan Kapusin 

Jesus_011Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33) 

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7

Pada akhirnya, Yesus berbicara secara gamblang sehingga para murid-Nya merasa bahwa mereka dapat memahami Dia. Akan tetapi, sebagai tanggapan terhadap keyakinan mereka, Yesus malah berkata: “Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri” (Yoh 16:32). Bagaimana hal ini dapat terjadi? Orang dapat berpikir bahwa setelah tiga tahun lamanya hidup bersama Yesus, tentunya para murid akan begitu setia sehingga mereka tidak akan meninggalkan Dia. Namun faktanya berkata lain. Tanpa Roh Kudus kita dapat mengetahui setiap hal yang ada untuk diketahui namun tetap saja kita tidak mampu merangkul secara penuh rencana Allah.

ST.CYRIL OF ALEXANDRIADalam komentarnya atas Injil Yohanes, Santo Sirilus dari Aleksandria, Mesir [380-444] menjelaskan karya Roh Kudus seperti berikut ini: “Apakah hal ini menunjukkan bahwa Roh mengubah mereka yang dimasuki-Nya untuk tinggal berdiam dan mengubah seluruh pola kehidupan mereka? Dengan Roh di dalam diri mereka, maka wajarlah bagi orang-orang yang telah diserap oleh hal-hal dari dunia ini untuk menjadi kelihatan tidak duniawi, dan untuk para pengecut untuk menjadi orang-orang yang sangat berani. Tidak meragukan lagi, inilah yang terjadi dengan para murid…….”

Para murid telah menjadi terbiasa berjalan dengan Yesus dalam “daging” dan mendengar sabda-Nya. Mereka tidak dapat membayangkan bahwa ada keadaan yang lebih baik ketimbang yang mereka nikmati pada saat itu. Namun rencana Allah senantiasa melampaui ekspektasi-ekspektasi kita.  Yesus bukan hanya berjalan di samping kita, melainkan juga Dia hendak hidup di dalam diri kita melalui kehadiran Roh Kudus. Seperti dikatakan Santo Sirilus: “Hanya oleh kehadiran-Nya sendiri di dalam diri kita seperti ini, maka Dia (Yesus) dapat memberikan keyakinan kepada kita untuk berseru, ‘Abba, Bapa’, …… dan, melalui kehadiran Roh yang penuh kuat-kuasa, Dia membentengi kita terhadap tipu daya Iblis dan serangan-serangan manusia.”

Diceraiberaikan untuk sementara waktu, dan mengalami bagaimana prakonsepsi-prakonsepsi mereka ditantang oleh pengkhianatan Yudas terhadap Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya – semua ini menjadi pekerjaan dasar bagi para murid untuk mengalami Yesus dengan cara sedekat mungkin – dalam hati mereka. Semoga kita pun menerima berkat yang sama: kehadiran Yesus dalam hati kita masing-masing, yang memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya.

DOA: Bapa surgawi, hanya dengan kehadiran Roh Kudus dalam hidup kami, maka kami dapat mengalami kehadiran Yesus dalam diri kami. Kami pun menjadi kuat menghadapi berbagai pencobaan dalam hidup ini. Biarlah Roh Kudus masuk lebih dalam lagi ke dalam hati kami. Bapa, kami menyerahkan kehendak kami kepada-Mu. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA OLEH KUAT-KUASA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 18-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 14 Mei 2015 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers