Posts tagged ‘ROH KUDUS’

MENOLAK KESELAMATAN YANG DITAWARKAN ALLAH

MENOLAK KESELAMATAN YANG DITAWARKAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup Martir – Sabtu, 17 Oktober 2015) 

YESUS KRISTUS - 0000Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9, 42-43 

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini dapat membingungkan kita. Atau barangkali kita terkejut karena kata-kata itu tidak sesuai dengan gambaran kita tentang Dia selama ini. Yesus bersabda: “Siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni” (Luk 12:10). Bagaimana seharusnya memahami pernyataan Yesus ini? Apakah yang dimaksudkan dengan “menghujat Roh Kudus”? Apakah mungkin bahwa kita pun pernah “menghujat” Roh Kudus? Mungkinkah Yesus bersikap begitu keras untuk tidaak mengampuni, pahahal kita mengenal-Nya sebagai Pribadi yang penuh belas kasih.

Santo (Paus) Yohanes Paulus II memberikan wawasan terkait teks yang penuh tantangan ini dalam ensikliknya Tentang Roh Kudus. Dalam ensiklik ini dikatakan bahwa hujat melawan Roh Kudus tidaklah dalam bentuk kata-kata, melainkan menolak untuk menerima keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia melalui Roh Kudus, yang bekerja melalui kuasa Salib … Hal ini berarti menolak untuk datang kepada sumber Penebusan (butir 46).

Dengan perkataan lain, menghujat Roh Kudus berarti menyangkal hasrat Allah dan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan kita. Jadi, dosa ini “tak dapat diampuni” justru karena disposisi si pendosa dalam menolak rahmat Roh Kudus menutup pintu untuk terjadinya pertobatan sejati. Allah sendiri sebenarnya mengampuni setiap pendosa yang bertobat, betapa besar pun dosa-dosanya.

Santo Yohanes Paulus II mendesak seluruh Gereja untuk berdoa agar dosa berbahaya melawan Roh Kudus memberi jalan kepada kesiapan suci untuk menerima misi-Nya sebagai sang Penasihat, jika Dia datang untuk meyakinkan dunia mengenai dosa, dan kebenaran dan penghakiman” (butir 47). Kita tidak perlu takut atau kehilangan pengharapan! Bahkan juga bila kita berpikir bahwa diri kita tidak dapat diampuni. Setiap hari, Yesus mendengar dan mengalami cercaan dari orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya, namun Ia selalu menawarkan pengampunan-Nya dan keselamatan bagi orang-orang itu. Setiap hari, Roh Kudus mengalami orang-orang percaya namun yang tidak mendengarkan suara-Nya, dan Ia tetap bekerja dengan mereka, dengan pengharapan akan membawa orang-orang itu ke dalam pertobatan sejati dan tentunya restorasi. Kita harus senantiasa mengingat bahwa Allah tidak pernah menyerah untuk menyelamatkan kita semua.

DOA: Allah, Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Curahkanlah rahmat-Mu ke atas kami semua. Kami membuka hati kami supaya dapat menerima karunia keselamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “MURID-MURID KRISTUS DI TENGAH DUNIA” (bacaan  tanggal 17-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 14 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATI BERSAMA KRISTUS

MATI BERSAMA KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 25 September 2015) 

YESUS KRISTUS - 11Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Hag 2:1b-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 43:1-4 

“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22). Di sini Yesus bernubuat tentang penderitaan sengsara dan wafat-Nya, pada saat mana Dia menumpahkan darah-Nya untuk penebusan kita.

Banyak orang memandang penderitaan, mati untuk orang-orang lain, menumpahkan darah sebagai suatu tanda pemberian-diri penuh kemurahan hati. Pada jam-jam yang paling gelap dalam Perang Dunia II, pada saat Winston Churchill mengatakan kepada rakyatnya bahwa dia tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kepada mereka selain “darah, keringat dan air mata”, maka sebenarnya dia menggunakan suatu imaji yang dipahami oleh seluruh dunia. Bagi orang Yahudi, darah memiliki signifikansi yang istimewa. Darah mengingatkan mereka pada hewan untuk kurban yang dipersembahkan membebaskan orang dari hukuman mati. “Keluaran” mereka dari perbudakan di tanah Mesir merupakan memori yang tertanam dalam kesadaran mereka. Dan “keluaran” ini merupakan akibat langsung dari pembunuhan anak-anak sulung Mesir, ketika orang-orang Yahudi diselamatkan karena darah kambing domba yang disapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu rumah mereka (Kel 12:21-23).

the-crucifixion-with-witnesses“Surat kepada orang Ibrani” membuat pernyataan tegas seperti berikut; “… tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr 9:22). Darah Yesus Kristus yang dipersembahkan tanpa cela kepada Allah membersihkan hati nurani kita dari pekerjaan-pekerjaan maut dan membawa kita kepada penyembahan Allah yang hidup. Darah Kristus ini membersihkan kita, bukan dalam artian yang lahiriah (khasat mata), melainkan secara batiniah. Darah Kristus tidak hanya membersihkan diri kita, melainkan juga menebus kita.

Akan tetapi semua ini bukan sesuatu yang bersifat satu arah. Perjanjian Baru, seperti juga Perjanjian Lama, adalah sebuah perjanjian (Inggris: covenant), dan tidak ada perjanjian yang bersifat sepihak. Artinya, kita pun harus melakukan bagian kita juga, artinya kewajiban kita!  Kita harus menanggapi panggilan Allah untuk ikut ambil bagian dalam misteri Paskah. Secara batiniah kita harus mempersatukan diri kita dengan Kristus dalam penderitaan dan kematian-Nya. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita harus membuka hati kita bagi darah Kristus yang memiliki daya penebusan itu. Kita harus menyatu dengan Kristus dalam pemberian-diri, dalam suatu hidup yang tidak mementingkan diri sendiri dan penuh cintakasih, tanpa menghitung-hitung biayanya dalam darah, keringat dan air mata.

DOA: Tuhan Yesus, jika kami telah mati bersama-Mu, ya Tuhan, kami percaya bahwa kami pun akan bangkit dan hidup bersama-Mu di surga. Terpujilah nama-Mu sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MESIAS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 25-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-9-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 22 September 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH

SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 2 September 2015)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Fransiskus Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk.-Martir-martir Revolusi Perancis 

IBU MERTUA PETRUSKemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Ibu mertua Petrus sedang menderita sakit demam keras. Kita semua tentu tahu sekali bagaimana rasanya tubuh panas-dingin, menggigil, kepala yang “cenot-cenotan” dan terasa pusing yang sangat tidak nyaman dst. Itulah kiranya yang dirasakan oleh ibu mertua Petrus (catatan: pada masa itu belum ada aspirin atau obat-obat sejenis). Kita dapat mengasumsikan bahwa keluarga Petrus telah mencoba segalanya yang mereka ketahui guna menolong perempuan itu, namun tanpa hasil. Kelihatannya mereka sudah hampir mencapai titik jenuh, … tinggal menyerah saja. Pada saat-saat kritis seperti inilah Yesus datang, dan dengan kata-kata sederhana – namun penuh kuat-kuasa – Ia mengusir penyakit itu.  Injil mencatat yang berikut ini dengan singkat: “Lalu Ia (Yesus) berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka” (Luk 4:39).

Ibu mertua Petrus tidak menunggu lama-lama. Digerakkan oleh rasa terbebaskan dan terima kasih penuh syukur, ia langsung bangkit berdiri dan melayani mereka (Luk 4:39). Sungguh luar biasa perempuan ini! Contoh baik bagi seorang pengikut Yesus!

Yesus Kristus, sang Dokter/Tabib Agung, telah menyembuhkan kita masing-masing juga. Dia telah membebaskan kita dari ikatan dosa dan keterpisahan dari Allah, dan Ia terus saja menyembuhkan segala penyakit sehubungan dengan jiwa dan roh kita: akar kepahitan hidup, perasaan bahwa kita adalah makhluk-makhluk tidak berarti, rasa takut kita, ketagihan kita akan sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Kematian-Nya pada kayu salib adalah obat penyembuh satu-satunya terhadap segala kejahatan dosa dan maut. Jika kita terpisah dari Yesus Kristus, maka kita sama tidak berdayanya dengan ibu mertua Petrus yang sedang menderita demam keras.

stdas0748Nah, bagaimana seharusnya kita menanggapi suatu penyembuhan yang begitu hebat “kaliber”nya? Apakah kita harus menjadi lebih sibuk lagi? Mencoba lebih keras lagi untuk melakukan lebih banyak lagi. Jawabnya: tidak perlu! Tanggapan kita yang pertama haruslah memahami keselamatan yang telah kita terima dari Yesus, sehingga dengan demikian keselamatan ini akan menggerakkan kita, tidak selalu supaya bekerja lebih keras, malainkan untuk menjadi semakin penuh komitmen terhadap rencana Allah bagi hidup kita.

Dua ribu tahun lamanya, kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan secara dramatis orang-orang dalam jumlah yang tak terbilang banyaknya. Mengapa? Karena mereka – lewat bimbingan Roh Kudus – sampai kepada pemahaman bahwa Putera Allah yang tanpa noda dan kekal-abadi memasuki sejarah dengan ruang-waktunya dan menderita sampai mati di kayu salib agar manusia dapat diciptakan kembali seturut gambar dan rupa-Nya.

Salib Kristus memiliki daya kekuatan yang sungguh besar. Hal ini perlu kita ketahui dan sadari. Sekarang, apakah kita menyadari bahwa sedemikian besar kasih-Nya bagi kita (anda dan saya) semua. Apakah kita mengetahui ruang lingkup penuh dari transformasi yang mampu dikerjakan oleh-Nya dalam diri kita? Setiap hari Dia ingin membuka pikiran dan hati kita agar dapat memahami sabda-Nya dalam Kitab Suci, membebas-merdekakan kita dari pola-pola dosa, dan mengajar kita untuk mengasihi dengan sesempurna mungkin seturut contoh yang diberikan-Nya dalam mengasihi.

Saudari dan Saudaraku, jika kita memandang Yesus dalam kontemplaasi, apa pun menjadi mungkin. Marilah kita memusatkan pandangan kita pada-Nya pada hari ini.

DOA: Yesus, pada saat ini aku datang kepada-Mu untuk memohon lebih banyak lagi kasih-Mu dan kuat-kuasa-Mu. Sembuhkanlah aku, ya Tuhan Yesus. Transformasikanlah diriku. Ajarlah aku. Aku ingin bangkit dan melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “KESEMBUHAN YANG KITA PEROLEH DARI YESUS” (bacaan tanggal 2-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09  PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 31 Agustus 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BENTARA KRISTUS DAN MARTIR

BENTARA KRISTUS DAN MARTIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Sabtu, 29 Agustus 2015) 

john-baptist-lds-art-parson-39541-printSebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja memperingati pemenggalan kepala Santo Yohanes Pembaptis (The Beheading of Saint John the Baptist); secara lebih halus dan sopan tentunya diungkapkan sebagai “Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis”.

Dari bacaan Kitab Suci, tulisan-tulisan rohani, lukisan-lukisan, film-film, banyak orang mempunyai persepsi tertentu tentang sosok orang kudus ini yang tampil “aneh” dan khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa. Yohanes Pembaptis yang muncul di padang gurun Yudea dan memakai jubah bulu unta, mengingatkan orang kepada nabi Elia. Dia memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa (baca Mrk 1:1-8). Cara pewartaan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis memberi kesan kuat adanya urgency, karena dia tahu benar bahwa dirinya diutus oleh Allah sendiri untuk menjadi saksi mengenai TERANG sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia (Yoh 1:9).

Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Namun setelah raja Herodes Antipas ditegur olehnya karena perselingkuhannya dengan Herodias, istri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, maka raja Herodes Antipas menambah kejahatannya dengan menjebloskan Yohanes Pembaptis ke dalam penjara (Luk 3:18-19). Pada dasarnya, Herodes Antipas mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes Antipas tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat.

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESKelekatan kuat Herodes Antipas pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai melakukan suatu tarian erotis, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:23). Dengan demikian Herodes Antipas pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu.  Sebagai catatan, “sumpah bodoh” sedemikian bukanlah monopoli Herodes Antipas, karena setiap orang yang “lupa-daratan” dapat saja dengan mudah mengucapkan “sumpah” seperti itu.

Dalam banyak hal, tanggapan Herodes Antipas terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima “undangan Yesus kepada pemuridan”. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes Antipas, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual.

Apa yang dapat kita lakukan bilamana kita mengalami konflik dalam hati kita (Inggris: intra-personal conflict)? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan yang menuju perdamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan dan mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, meskipun pada awalnya menyakitkan kita.

Kita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap cobaan dari si Jahat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME AND THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTHerodes Antipas adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes Antipas: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya yang “beneran”. Kita perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena itu marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah.

DOA: Allah, Bapa kami. Engkau mengutus Santo Yohanes Pembaptis sebagai bentara kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Semoga berkat kematiannya sebagai martir dalam membela keadilan dan kebenaran, kami dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani sebagai pelayan-pelayan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “SANG BENTARA” (bacaan tanggal 29-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 25 Agustus 2015 [Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX, Raja-Pelindung OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HANYALAH ALAT-NYA !!!

KITA HANYALAH ALAT-NYA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Sabtu, 11 Juli 2015) 

stdas0609“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

Wajarlah apabila seseorang merasa takut terhadap faktor-faktor yang tidak diketahuinya. Dalam ilmu manajemen, khususnya manajemen perubahan (management of change), “fear of the unknown”  merupakan salah satu penghalang terciptanya perubahan. Bagi banyak dari kita, “evangelisasi” merupakan suatu unknown yang sangat besar. Begitu banyak pertanyaan yang kita ajukan: “Bagaimana kalau pewartaan Injil kita itu tidak diterima? Bagaimana kalau terjadi perlawanan dari berbagai pihak? Bagaimana kalau ada ini, bagaimana kalau ada itu, dst.? Dengan demikian kita akan “aman” apabila dapat menghindar atau bersembunyi dari “makhluk aneh” yang bernama “evangelisasi” itu. Namun selagi kita mengembangkan suatu relasi dengan Roh Kudus, maka kita akan melihat bahwa tahap demi tahap rasa takut itu pun akan menghilang.

Dengan melakukan praktek mendengarkan suara Roh Kudus dan mengikuti pimpinan-Nya kita dapat belajar bahwa Allah tidak akan memberikan kita apa-apa yang kita tidak dapat mengurusnya, dengan demikian kita tidak perlu menjadi cemas. Kita belajar bahwa dengan Allah segala hal mungkin. Kita bahkan belajar bahwa bilamana kita “salah omong” atau “salah langkah”, Allah ada di dekat kita dan Ia akan mengoreksi kita dengan lembah lembut dan menghibur kita, mengajar kita, dan bahkan memberkati upaya-upaya kita yang salah jalan tadi.

Ketergantungan kita pada Roh Kudus – seperti diungkapkan dalam doa-doa, sikap dan perilaku hidup Kristiani kita sehari-hari – memberdayakan penginjilan karena hal tersebut menghubungkan kita dengan kasih yang mengusir rasa takut kita. Manakala kita berdoa untuk orang-orang lain, kita belajar untuk rileks dalam damai-sejahtera yang melampau pemahaman. Selagi kita  memperkenankan Allah membuat ringan beban-beban kita, maka kita  semakin dibebaskan untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Kita pun belajar bahwa tindakan kebaikan hati kita yang sederhana dapat berdampak jauh. Misalnya, kita dapat mencoba memperkenalkan diri kita kepada seseorang setelah Misa Kudus selesai, dan katakanlah kepada orang itu sesuatu yang positif. Kadang-kadang diperlukan suatu tindakan iman yang istimewa agar dapat mengatasi rasa “kikuk”, akan tetapi sikap bersahabat kita (di gereja atau di super market, atau di mana saja kita secara teratur bertemu dengan orang yang sama) dapat membentuk “panggung” untuk melakukan syering pribadi iman-kepercayaan kita.

Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita bilamana waktunya telah tiba untuk berbagi Injil Yesus Kristus dengan orang-orang lain yang kita temui. Dalam hal ini baiklah kita masing-masing tetap sederhana dan mengambil sikap sebagai seorang pribadi. Kita fokus pada kasih Allah, pengampunan-Nya, berkat-berkat-Nya, penghiburan-penghiburan-Nya, dan janji-janji-Nya akan kehidupan kekal. Tidak perlulah bagi kita dalam hal ini untuk masuk ke dalam debat-debat berkaitan dengan isu-isu doktrinal.  Barangkali berguna bagi kita untuk mengikuti kerangka dasar dari “Pengakuan Iman” (Syahadat Para Rasul) yang memiliki urut-urutan sebagai berikut: Ciptaan, penebusan, dan pengudusan. Kita tidak boleh sekali-sekali menjelek-jelekkan agama-agama lain, termasuk denominasi-denominasi Kristiani lainnya! Selagi proses penginjilan kita berjalan dan terasa ada desakan dalam batin untuk melakukannya, maka kita dapat mendorong mereka untuk membaca Injil. Kita dapat meminjamkan Kitab Suci kepada mereka. Apabila mereka ingin mendalami lebih lanjut, kita dapat menganjurkan mereka untuk membaca buku-buku rohani yang telah menolong kita sendiri di masa lampau. Di atas segalanya, kita harus mendorong mereka untuk bertekun memohon kepada Yesus agar terjalin relasi pribadi dengan-Nya. Yang senantiasa harus kita ingat adalah, bahwa evangelisasi adalah mengenai segala sesuatu yang telah Yesus katakan dan lakukan, bukan apa yang kita katakan dan lakukan! Kita hanyalah alat, seperti “keledai” yang ditunggangi Yesus ketika memasuki kota Yerusalem, bukan Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, begitu sering aku merasa takut dan tak berdaya untuk melakukan penginjilan seturut perintah-Mu. Namun dengan rendah hati aku mohon kepada-Mu agar jangan lupa mengutus aku untuk mewartakan Kabar Baik tentang Kasih Allah kepada umat manusia, pada saat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “TAKUT DAN TIDAK TAKUT” (bacaan tanggal 11-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 14-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 8 Juli  2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 10 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Veronika Yuliani, Ordo II (OSCCap.)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk.- Martir 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16).

Mengikut Yesus banyak memakan “biaya”, mengikut Yesus bukanlah seperti orang berlenggang kangkung. Pesan kepada para murid yang diutus ini adalah pesan kepada Gereja sepanjang masa juga. Menjalani hidup Injili merupakan tantangan langsung bagi kekuatan-kekuatan maut. Oleh karena itu para murid diingatkan untuk membuka mata mereka lebar-lebar dan bersikap serta bertindak bijak.

Sebagian besar bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah tentang Akhir Zaman” yang diambil dari Injil Markus (lihat Mrk 13:9-13), di mana kata-kata profetis dari Yesus mengingatkan komunitas Kristiani akan segala kerusuhan yang harus mereka ekspektasikan pada hari-hari terakhir dunia ini. Dalam Injil Matius kata-kata Yesus yang sama digunakan dalam pengajaran berkaitan dengan perutusan para rasul guna membantu mengungkapkan berbagai pengalaman negatif yang telah dialami oleh Gereja Perdana, dan dapat diekspektasikan akan terus terjadi selagi Gereja melaksanakan misinya. Penganiayaan, penolakan, perpecahan dalam keluarga: ini kadang-kadang merupakan “biaya”-nya jika kita mau melakukan pewartaan dengan penuh integritas.

Memang untuk menjalani suatu hidup Kristiani yang sejati seringkali berarti menantang dunia dan nilai-nilainya, dengan demikian mengundang cemooh, olok-olok, bahkan pengejaran dan penganiayaan. Seandainya Kekristenan kita kelihatannya atau terasa terlalu nyaman, maka sangat baiklah bagi kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang terjadi selama ini? Bagaimana caranya kita telah berhasil menghindar dari dampak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini?

Bacaan Injil hari tidak hanya berbicara tentang penderitaan, penganiayaan dan hal-hal yang buruk saja. Mewartakan Injil pada akhirnya juga ikut menikmati sukacita dan keyakinan seperti yang dialami Yesus sendiri. Roh Bapa akan berkata-kata di dalam diri kita sehingga fasih berbicara (Mat 10:20), dan tugas para murid akan berakhir dengan kedatangan kembali “Anak Manusia” ke dunia (Mat 10:23).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu dengan berani, sebagai garam bumi dan terang dunia bagi orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEMULIAAN YANG BERLIKU-LIKU” (bacaan tanggal 10-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 7 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Senin, 29 Juni 2015)

Peter_Paul_El_Greco

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Apabila ada orang yang bertanya kepada kita (anda dan saya) apakah perbedaan yang diakibatkan oleh kematian Yesus, maka apakah jawaban yang dapat kita berikan kepada orang yang bertanya tersebut? Bahwa kita sekarang sudah ditransformasikan menjadi ciptaan baru? Bahwa kita dapat dipenuhi dengan karakter-karakter Kristus sendiri? Nah, “Hari Raya S. Petrus dan Paulus – Rasul” pada hari ini adalah untuk merayakan “hidup yang ditransformasikan” dari kedua orang kudus ini.

Mari kita bersama-sama merenungkan hal-hal berikut ini:  Petrus diubah dari seorang nelayan Galilea yang impulsif dan meledak-ledak menjadi seorang gembala yang penuh belarasa dan seorang hamba/pelayan yang setia. Dilain pihak, Paulus ditransformasikan dari seorang pemimpin agama aliran Farisi yang penuh dedikasi untuk menghancurkan agama (sekte agama) Kristiani habis-habisan menjadi seorang pengkhotbah/pelayan sabda keliling yang mendedikasikan hidupnya secara penuh untuk pewartaan Injil Yesus Kristus.

Apakah pengalaman kedua orang kudus ini normal? Jawabnya adalah “YA”. Kita masing-masing dapat mengalami transformasi radikal yang sama seperti yang dialami oleh Petrus dan Paulus. Allah mungkin saja tidak memanggil kita untuk berkonfrontasi dengan para pemimpin dunia atau membangkitkan orang mati, namun pengalaman dasar yang sama, yang mendorong kegiatan pelayanan mereka adalah warisan bagi setiap anak Allah. Kita tidak hanya dapat mengalami transformasi seperti ini, melainkan kita pun harus mengharapkan transformasi ini sebagai sebuah bagian vital dari warisan kita dalam Kristus. Ketetapan hati, keberanian, atau talenta tidak mengubah Petrus dan Paulus. Lihat saja bagaimana Kitab Suci menggambarkan berbagai kelemahan dan kesalahan dua orang kudus besar ini. Transformasi mereka bergantung pada Yesus sendiri.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa Roh Kudus-lah yang mengubah dua orang kudus ini. Roh Kudus yang sama inilah yang dapat dan ingin mengubah kita. Allah tidak mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menghakimi kita, melainkan untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:17). Yesus datang ke tengah dunia untuk membebas-merdekakan kita dari segala hal yang mengikat kita dengan dosa dan godaan. Roh Kudus ingin mengajar kita siapa Yesus sebenarnya, dengan membuat-Nya hidup dalam hati dan pikiran kita. Roh Kudus ingin menjelaskan kepada kita misteri-misteri Allah sehingga dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan kita akan Injil.

Pada setiap saat doa, pada setiap Misa Kudus, dalam setiap perjumpaan kita dengan orang lain, kejarlah Yesus. Ia ingin bertemu dengan kita masing-masing, bahkan keinginan-Nya ini lebih daripada keinginan kita sendiri untuk bertemu dengan Dia. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus, Ia dapat membuat kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan-Nya yang setia, sebagaimana yang telah dilakukan-Nya atas diri Petrus dan Paulus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus untuk mengajarku dan mengingatkanku akan segala sesuatu tentang Yesus. Pada hari ini, perkenankanlah diriku untuk bangkit dan mengklaim warisan yang tersedia bagiku dalam Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul  “MERAYAKAN DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR” (bacaan tanggal 29-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 24 Juni 2015 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers