Posts tagged ‘ROH KUDUS’

PERTUMBUHAN

PERTUMBUHAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI – Sabtu, 16 Mei 2015)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona OFS [1247-1297], Pentobat

RABI DARI NAZARET - 1Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

Dalam perumpamaan-Nya yang terkenal (Mat13:31-32; Mrk 4:31-32; Luk 13:19), Yesus menggambarkan Kerajaan Allah sebagai sebuah biji sesawi kecil yang bertumbuh menjadi sebatang pohon sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya. Memang pertumbuhan merupakan misteri besar kehidupan. Pertumbuhan mempunyai dimensi yang mengandung suka maupun dimensi yang mengandung duka. Kita semua semua mengharapkan untuk bertumbuh dan memperoleh semua privilese yang berjalan dengan pertumbuhan itu …… kebebasan untuk mengambil keputusan-keputusan kita sendiri dll. Kita malah berpikir bahwa kita akan mengetahui segala sesuatu dan dapat melakukan segala sesuatu.

Namun dari pengalaman kita menyadari bahwa sangat menyakitkanlah bagi seseorang untuk bertumbuh. Ada banyak growing pains, baik secara fisik maupun psikologis. Tidak mudahlah untuk mengandalkan diri kita sendiri, … kita membutuhkan pihak lain juga, dan banyak orang tidak pernah menyadari hal ini dan karenanya tidak melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.

Seorang mahasiswa yang sedang galau, gamang mengirimkan sms kepada ayahnya: “Pa, aku tidak ada uang atau teman. Tolong dong!” Seterima sms itu sang ayah membalas dengan sms juga: “Carilah teman!” Jawaban mengejutkan dari sang ayah seperti ini sebenarnya dapat merupakan suatu blessing in disguise …… membuat anak muda itu bertumbuh. Agar supaya dapat bertumbuh, kita harus seringkali dipaksa untuk memecahkan sendiri masalah-masalah yang sedang kita hadapi. Sekali kita memiliki kebutuhan dan good will, maka kita dapat terkejut sendiri melihat betapa banyak yang dapat kita capai, hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita impi-impikan.

ROHHULKUDUSInilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia memberi pengajaran yang bersifat simbolis namun penuh kuat-kuasa: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu”  (Mat 17:20; bdk. Luk 17:6). Ketika menjelaskan “perumpamaan tentang pokok anggur yang benar” dalam bagian lain perjamuan terakhir, Yesus bersabda: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”  (Yoh 15:7). Jadi, apabila kita memiliki keyakinan akan kuat-kuasa Allah dalam Yesus dan akan potensi yang diberikan-Nya kepada kita, maka kita dapat melihat dengan penuh rasa takjub apa yang dilakukan-Nya melalui diri kita.

Memang pada awalnya tidak mudah, namun ini adalah growing pains yang normal yang harus kita alami dan lalui.

DOA: Bapa surgawi, luluhkanlah apa saja dalam diri kami yang menghalangi kami menerima kasih-Mu. Kami tidak merasa malu untuk mengakui kebutuhan kami akan Dikau. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diri kami dengan curahan kasih-Mu pada hari Pentakosta. Semoga kami menjadi sumber air kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MEMAHAMI BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 16-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015.  

Cilandak, 13 Mei 2015 [Peringatan Santa Perawan Maria dr Fatima] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS MEMBERI KEHIDUPAN

ROH KUDUS MEMBERI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 13 Mei 2015)

Peringatan Santa Perawan Maria dari Fatima 

Holy Spirit 8

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22-18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Injil Yohanes – seperti juga setiap kitab Injil – berisikan pesan Allah yang ditujukan kepada kita masing-masing. Melalui Roh Kudus, Allah memberikan inspirasi kepada para penulis Injil sedemikian rupa sehingga kata-kata yang ditulis mereka adalah sungguh kata-kata yang berasal dari diri-Nya, katakanlah kata-kata-Nya sendiri. Apakah kita sungguh-sungguh menyadari akan hal itu ketika kita mendengar  bacaan Injil dibacakan kepada kita dalam Misa Kudus, dalam liturgi-liturgi sakramen lainnya, dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci, atau ketika kita (anda dan saya) membaca sendiri Kitab Suci secara pribadi dalam keheningan? Itulah yang dimaksudkan dengan kharisma dari inspirasi Kitab Suci.

Jikalau Allah adalah pengarang/penulis Injil, bagaimana Dia dapat tidak berhasil menggerakkan hati kita secara langsung ketika kita mendengar Sabda-Nya dan mengekspos diri kita sendiri terhadap pengaruh-Nya? Yesus bersabda, “Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13). Janji Yesus ini – yang diberikan-Nya pada Perjamuan Terakhir – menunjukkan bahwa Roh Kudus akan melanjutkan membuat jelas sabda Yesus di dalam hati kita, asal saja kita terbuka bagi-Nya. Roh Kudus akan terus memberikan kepada sabda Yesus sebuah impuls baru dan suatu kuat-kuasa yang vital. Alasannya adalah karena Yesus memang memaksudkan bahwa kita hidup oleh/seturut sabda-Nya setiap hari.

Apabila kita mendengar sabda Allah dibacakan kepada kita, atau apabila kita sendiri membaca Kitab Suci, maka kita harus melihatnya bukan sebagai suatu teks bacaan abstrak yang harus dibedah terlebih dahulu. Kita harus melihat bahwa itu adalah Allah sendiri yang datang ke dalam kemah kita untuk berbicara kepada kita face to face, sebagai seorang sahabat yang hendak bercakap-cakap dengan kita.

Jika kita mendengarkan Tuhan dalam kerangka pemikiran ini, maka sabda-Nya akan hidup dan aktif di dalam diri kita; memberikan hasil-hasil, akan menyembuhkan sakit-penyakit kita, dan membangkitkan kita dari “kematian”. Bilamana kita menerima sabda-Nya oleh kuasa Roh Kudus, maka sabda-Nya akan memberikan asupan nutrisi rohani dan memperkuat kita sepanjang hari, seperti “roti hidup” yang memberi makan kita agar menjadi kuat.

DOA: Datanglah Roh Kudus, buatlah kami hidup dengan iman dan kepercayaan, perkenankanlah kami terpesona melihat pengaruh yang Engkau perbuat atas diri kami. Berikanlah kepada kami damai sejahtera-Mu, sukacita-Mu dan kekuatan-Mu, sehingga semua itu sungguh-sungguh dapat hidup terwujud oleh kuat-kuasa sabda-Mu. Ya Roh Kudus, datanglah. Datanglah dan masuklah ke dalam hati kami. Bawalah terang-Mu dan pertolongan-Mu yang penuh rahmat. Kuatkanlah jiwa kami, yang telah Kauciptakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 17:15,22-18:1), bacalah tulisan yang berjudul “MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS” (bacaan tanggal 13-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 12 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin [+1942]

 pentecost-canada

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENGALAMI ROH KUDUS, SANG PENOLONG” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05  PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 11 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ignatius dr Laconi [1701-1781], Biarawan Fransiskan Kapusin 

LAST SUPPER - 09

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a) 

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Yesus berjanji kepada para murid/rasul-Nya bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus itu akan mengajar mereka segala kebenaran dan menolong mereka untuk mengingat apa yang telah dikatakan-Nya. Hal ini dapat diartikan bahwa para murid/rasul belum memahami sepenuhnya maksud kedatangan-Nya ke tengah dunia, dan mereka belum mampu menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka dan bagi kita semua. Para murid Yesus yang awal ini adalah yang pertama-tama harus menerima kenyataan bahwa mereka sungguh belum memahami sepenuhnya hal ikhwal kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia.

Hanya setelah Roh Kudus turun pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, maka mereka mulai memahami peranan mereka dalam karya penebusan Kristus. Roh Kebenaran menunjukkan kepada mereka apa yang telah dilakukan oleh kasih Kristus bagi mereka, dan apa yang dapat dilakukan oleh kasih mereka kepada sesama, untuk ikut ambil bagian dalam karya Kristus menyelamatkan dunia. Roh Kudus mengajarkan para murid/rasul nilai mereka sendiri, potensi mereka sendiri, dan ruang lingkup dari tantangan besar yang mereka harus hadapi.

ROHHULKUDUSInilah yang ingin dilakukan Roh Kudus bagi kita juga. Ia ingin agar kita ambil bagian dalam kasih agung dari Tritunggal Mahakudus dengan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri sesama kita. Kasih sejati seperti ditunjukkan oleh Kristus membuat orang-orang menjadi baik. Pertolongan kita yang penuh kemurahan hati, kebaikan hati, penuh perhatian kepada orang-orang lain membuat kita lebih baik, dan mempunyai efek terhadap setiap orang di sekeliling kita.

Seringkali kita bersikap terlalu kritis satu sama lain dengan cara yang samasekali tidak ada gunanya. Jika kita meruntuhkan sebuah gedung tua tanpa membangunnya kembali, apakah kita sungguh melakukan perbaikan? Para murid/rasul sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang jauh dari sempurna: mereka lemah, mementingkan diri sendiri dll., namun Yesus membangun mereka dengan apa yang dilakukan-Nya. Teladan-Nya dan kritik-kritik-Nya bersifat konstruktif; Ia menolong mereka bertumbuh.

Kita pun dapat menjadi seperti Kristus dalam mengasihi orang-orang lain. (Tidak hanya menyukai mereka secara emosional.) Kita merasa senang melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain, dan orang lain juga begitu. Ini harus terus dibangun. Kasih harus memberi, bukan mengambil. Apabila kita menghargai orang-orang lain dengan penuh respek, maka kita membuat mereka lebih baik, seperti yang dilakukan Kristus. Dengan kemurahan hati kita membuat diri kita dan orang-orang lain menjadi lebih baik. Memang hal itu memakan waktu – tidak dapat dilakukan dalam sekejab mata – bahkan dapat bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, pada akhirnya hal itu pun akan terealisir. Keprihatinan kita terhadap orang lain seperti yang ditunjukkan oleh Kristus akan menghasilkan banyak kebaikan.

Kita telah melihat dari “Kisah para Rasul” dan dokumen-dokumen kuno lainnya apa sebenarnya yang terjadi dengan para murid/rasul Kristus. Didorong oleh kasih-Nya dan dibawa bimbingan Roh Kudus-Nya, dengan berani mereka pergi ke segala penjuru dunia untuk memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Hasilnya dapat kita rasakan sekarang. Dan …… kita semua harus meneruskan pekerjaan mereka … “Kamu juga harus bersaksi!”  (Yoh 15:27).

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA” (bacaan tanggal 11-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 7 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 4 Mei 2015) 

ROHHULKUDUS“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”  (Yoh 14:26).

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “KETAATAN ADALAH BUKTI CINTAKASIH” (bacaan tanggal 4-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP MAU DAN MAMPU UNTUK DIAJAR OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 19-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 30 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

hqdefault“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hiilang dari ingatanmu, seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anamu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul 4:9). 

Dengan mengenangkan kita masuk ke dalam hubungan dengan Kristus yang memperkaya dan meneguhkan. Dalam sabda perpisahan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu … Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:7,13). Yesus menyatakan kepada sahabat-sahabat-Nya yang paling dekat, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka dapat tinggal dalam persatuan dengan diri-Nya, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka akan memahami seutuhnya hal-hal yang telah mereka saksikan.

Mereka mendengarkan sabda-Nya, melihat-Nya di gunung Tabor. Mereka mendengar Ia berbicara mengenai wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi mata dan telinga mereka tetap tinggal tertutup dan tidak mengerti. Roh yang adalah Roh-Nya belum datang. Oleh karena meskipun mereka melihat dan mendengar, menyentuh dan meraba, tetap saja mereka jauh. Baru kemudian setelah Ia pergi, Roh-Nya dapat menyatakan-Nya kepada mereka. Ketika Ia tidak ada di antara mereka lagi, kehadiran yang baru dan lebih pribadi menjadi mungkin. Itulah kehadiran yang memperkaya dan meneguhkan di tengah-tengah penderitaan dan menciptakan kerinduan untuk melihat-Nya kembali. Rahasia agung perwahyuan ialah bahwa Allah menjadi satu dengan kita tidak hanya dengan kedatangan Kristus, tetapi juga dengan kepergian-Nya. Sungguh benar, dalam ketidakhadiran Kristus kesatuan kita dengan Dia menjadi begitu erat, sampai kita dapat berkata bahwa Ia tinggal dalam diri kita, menyebut-Nya makanan dan minuman kita dan mengalami kehadiran-Nya dalam pusat batin kita.

Ini bukan sekedar gagasan teoritis, tetapi sunguh nyata dalam hidup orang-orang seperti Dietrich Bonhoeffer dan Alfred Delp. Ketika mereka berada di penjara Nazi, menunggu hari kematian mereka, mereka mengalami kehadiran Kristus di tengah-tengah ketidakhadiran-Nya. Bonhoeffer menulis, “Allah yang  menyertai kita adalah Allah yang meninggalkan kita (Mrk 15:34) … Di hadapan Allah dan bersama dengan Allah, kita hidup tanpa Allah”. Dengan demikian kenangan akan Yesus Kristus bukan hanya sekedar mengingat kembali peristiwa penyelamatan di masa lampau. Kenangan itu mendatangkan kehidupan, meneguhkan dan memperkaya kita dalam peziarahan hidup kita sekarang ini. Kenangan itu menjadi jangkar di tengah-tengah pergulatan hidup keseharian kita.

+++++++

Dalam diri Yesus sabda dan karya adalah satu, tidak terpisahkan. Sabda-Nya tidak hanya berbicara mengenai perubahan, penyembuhan, kehidupan baru tetapi mewujudkannya. Dalam arti ini Yesus adalah benar-benar Sabda yang menjadi daging. Dalam Sabda itu segala sesuatu diciptakan dan oleh Sabda itu segala sesuatu diciptakan kembali.

Hidup suci berarti hidup yang tidak memisahkan kata dan karya. Kalau saya sungguh-sungguh berusaha untuk menghayati kata-kata yang saya ucapkan dalam hidup saya, kata-kata saya akan menjadi tindakan dan kalau demikian setiap kali saya berbicara mukjizat akan terjadi.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah kami bersyukur dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub (Mzm 75:1,9).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 71-73. 

Cilandak, 11 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Selasa, 17 Februari 2015) 

HBREP_BMurid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10

Ketika Yesus berbicara mengenai “ragi” (Mrk 8:15), Ia sebenarnya mengacu kepada suatu sumber kegiatan yang mampu menumbuh-kembangkan sesuatu. Bagi orang-orang Farisi, kepentingan-diri sendiri merupakan inti kegiatan ini, dan hal ini berkembang menjadi adonan yang jauh dari kasih dan belas kasih Allah. Hasil pertumbuhan dari “ragi” sedemikian adalah rasa tidak percaya, kecurigaan, dan tuduhan.

Di lain pihak, seorang murid Yesus mempunyai akses kepada suatu sumber kegiatan yang lain – Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5). Pencurahan kasih ilahi ini dimaksudkan untuk mengangkat kita agar dapat memahami bahwa kita adalah anak-anak Allah. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan kita dari sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat memandang melampaui diri kita sendiri agar dapat melihat Yesus sendiri, sang Pencinta jiwa-jiwa kita semua. Seorang murid Yesus mengetahui bahwa dirinya telah diangkat dan dilepaskan dari jerat dosa dan telah diberikan suatu hidup baru oleh kasih Kristus yang tersalib.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Ragi Roh Kudus dimaksudkan untuk menyebabkan suatu transformasi dalam kehidupan kita – sesuatu yang kita tidak dapat lakukan sendiri, tetapi suatu karunia yang diberikan secara bebas dari Roh Kudus. Jadi, bukan lagi kita, melainkan Kristus di dalam diri kita yang menjadi dasar dari pengharapan dan visi bagi hidup kita. Tidak lagi sumber daya kita sendiri, melainkan Kristus dalam diri kita lah yang menjadi sumber kekuatan. Yesus ingin mengangkat kita dan membebaskan kita dari hal-hal yang terus saja membenamkan kita dalam kedosaan dan hukuman. Bersatu dengan Yesus, kita pun dapat mati terhadap diri kita dan dibangkitkan ke takhta Allah! Roh Kudus akan memenuhi diri kita dengan kerinduan untuk semakin serupa dengan Yesus, suatu hasrat mendalam untuk menyatu dengan Bapa surgawi dan melayani umat Allah dengan bebas.

Besok, kita akan mengawali Masa Prapaskah. Marilah kita merenungkan “ragi” yang bekerja di dalam diri kita dan transformasi yang kita hasrati. Maukah kita datang kepada Yesus pada Masa Prapaskah ini dan memohon kepada-Nya agar kita diangkat-Nya? Selagi hati kita terbuka bagi-Nya, Dia akan menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam diri kita dan memampukan kita untuk menjadi roti bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga ragi Roh Kudus-Mu bekerja dalam diriku. Aku tidak ingin memusatkan perhatianku pada diriku sendiri, melainkan pada Engkau saja. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOHONLAH AGAR KITA DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA” (bacaan tanggal 17-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015.

Cilandak, 8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 149 other followers