Posts tagged ‘ROH KUDUS’

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 12 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin [+1942]

 pentecost-canada

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENGALAMI ROH KUDUS, SANG PENOLONG” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05  PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 11 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ignatius dr Laconi [1701-1781], Biarawan Fransiskan Kapusin 

LAST SUPPER - 09

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a) 

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Yesus berjanji kepada para murid/rasul-Nya bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus itu akan mengajar mereka segala kebenaran dan menolong mereka untuk mengingat apa yang telah dikatakan-Nya. Hal ini dapat diartikan bahwa para murid/rasul belum memahami sepenuhnya maksud kedatangan-Nya ke tengah dunia, dan mereka belum mampu menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka dan bagi kita semua. Para murid Yesus yang awal ini adalah yang pertama-tama harus menerima kenyataan bahwa mereka sungguh belum memahami sepenuhnya hal ikhwal kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia.

Hanya setelah Roh Kudus turun pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, maka mereka mulai memahami peranan mereka dalam karya penebusan Kristus. Roh Kebenaran menunjukkan kepada mereka apa yang telah dilakukan oleh kasih Kristus bagi mereka, dan apa yang dapat dilakukan oleh kasih mereka kepada sesama, untuk ikut ambil bagian dalam karya Kristus menyelamatkan dunia. Roh Kudus mengajarkan para murid/rasul nilai mereka sendiri, potensi mereka sendiri, dan ruang lingkup dari tantangan besar yang mereka harus hadapi.

ROHHULKUDUSInilah yang ingin dilakukan Roh Kudus bagi kita juga. Ia ingin agar kita ambil bagian dalam kasih agung dari Tritunggal Mahakudus dengan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri sesama kita. Kasih sejati seperti ditunjukkan oleh Kristus membuat orang-orang menjadi baik. Pertolongan kita yang penuh kemurahan hati, kebaikan hati, penuh perhatian kepada orang-orang lain membuat kita lebih baik, dan mempunyai efek terhadap setiap orang di sekeliling kita.

Seringkali kita bersikap terlalu kritis satu sama lain dengan cara yang samasekali tidak ada gunanya. Jika kita meruntuhkan sebuah gedung tua tanpa membangunnya kembali, apakah kita sungguh melakukan perbaikan? Para murid/rasul sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang jauh dari sempurna: mereka lemah, mementingkan diri sendiri dll., namun Yesus membangun mereka dengan apa yang dilakukan-Nya. Teladan-Nya dan kritik-kritik-Nya bersifat konstruktif; Ia menolong mereka bertumbuh.

Kita pun dapat menjadi seperti Kristus dalam mengasihi orang-orang lain. (Tidak hanya menyukai mereka secara emosional.) Kita merasa senang melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain, dan orang lain juga begitu. Ini harus terus dibangun. Kasih harus memberi, bukan mengambil. Apabila kita menghargai orang-orang lain dengan penuh respek, maka kita membuat mereka lebih baik, seperti yang dilakukan Kristus. Dengan kemurahan hati kita membuat diri kita dan orang-orang lain menjadi lebih baik. Memang hal itu memakan waktu – tidak dapat dilakukan dalam sekejab mata – bahkan dapat bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, pada akhirnya hal itu pun akan terealisir. Keprihatinan kita terhadap orang lain seperti yang ditunjukkan oleh Kristus akan menghasilkan banyak kebaikan.

Kita telah melihat dari “Kisah para Rasul” dan dokumen-dokumen kuno lainnya apa sebenarnya yang terjadi dengan para murid/rasul Kristus. Didorong oleh kasih-Nya dan dibawa bimbingan Roh Kudus-Nya, dengan berani mereka pergi ke segala penjuru dunia untuk memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Hasilnya dapat kita rasakan sekarang. Dan …… kita semua harus meneruskan pekerjaan mereka … “Kamu juga harus bersaksi!”  (Yoh 15:27).

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA” (bacaan tanggal 11-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 7 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

TUGAS SANG PENOLONG: MENGAJARKAN DAN MENGINGATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 4 Mei 2015) 

ROHHULKUDUS“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26) 

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”  (Yoh 14:26).

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “KETAATAN ADALAH BUKTI CINTAKASIH” (bacaan tanggal 4-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP MAU DAN MAMPU UNTUK DIAJAR OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 19-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 30 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

hqdefault“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hiilang dari ingatanmu, seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anamu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul 4:9). 

Dengan mengenangkan kita masuk ke dalam hubungan dengan Kristus yang memperkaya dan meneguhkan. Dalam sabda perpisahan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu … Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:7,13). Yesus menyatakan kepada sahabat-sahabat-Nya yang paling dekat, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka dapat tinggal dalam persatuan dengan diri-Nya, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka akan memahami seutuhnya hal-hal yang telah mereka saksikan.

Mereka mendengarkan sabda-Nya, melihat-Nya di gunung Tabor. Mereka mendengar Ia berbicara mengenai wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi mata dan telinga mereka tetap tinggal tertutup dan tidak mengerti. Roh yang adalah Roh-Nya belum datang. Oleh karena meskipun mereka melihat dan mendengar, menyentuh dan meraba, tetap saja mereka jauh. Baru kemudian setelah Ia pergi, Roh-Nya dapat menyatakan-Nya kepada mereka. Ketika Ia tidak ada di antara mereka lagi, kehadiran yang baru dan lebih pribadi menjadi mungkin. Itulah kehadiran yang memperkaya dan meneguhkan di tengah-tengah penderitaan dan menciptakan kerinduan untuk melihat-Nya kembali. Rahasia agung perwahyuan ialah bahwa Allah menjadi satu dengan kita tidak hanya dengan kedatangan Kristus, tetapi juga dengan kepergian-Nya. Sungguh benar, dalam ketidakhadiran Kristus kesatuan kita dengan Dia menjadi begitu erat, sampai kita dapat berkata bahwa Ia tinggal dalam diri kita, menyebut-Nya makanan dan minuman kita dan mengalami kehadiran-Nya dalam pusat batin kita.

Ini bukan sekedar gagasan teoritis, tetapi sunguh nyata dalam hidup orang-orang seperti Dietrich Bonhoeffer dan Alfred Delp. Ketika mereka berada di penjara Nazi, menunggu hari kematian mereka, mereka mengalami kehadiran Kristus di tengah-tengah ketidakhadiran-Nya. Bonhoeffer menulis, “Allah yang  menyertai kita adalah Allah yang meninggalkan kita (Mrk 15:34) … Di hadapan Allah dan bersama dengan Allah, kita hidup tanpa Allah”. Dengan demikian kenangan akan Yesus Kristus bukan hanya sekedar mengingat kembali peristiwa penyelamatan di masa lampau. Kenangan itu mendatangkan kehidupan, meneguhkan dan memperkaya kita dalam peziarahan hidup kita sekarang ini. Kenangan itu menjadi jangkar di tengah-tengah pergulatan hidup keseharian kita.

+++++++

Dalam diri Yesus sabda dan karya adalah satu, tidak terpisahkan. Sabda-Nya tidak hanya berbicara mengenai perubahan, penyembuhan, kehidupan baru tetapi mewujudkannya. Dalam arti ini Yesus adalah benar-benar Sabda yang menjadi daging. Dalam Sabda itu segala sesuatu diciptakan dan oleh Sabda itu segala sesuatu diciptakan kembali.

Hidup suci berarti hidup yang tidak memisahkan kata dan karya. Kalau saya sungguh-sungguh berusaha untuk menghayati kata-kata yang saya ucapkan dalam hidup saya, kata-kata saya akan menjadi tindakan dan kalau demikian setiap kali saya berbicara mukjizat akan terjadi.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah kami bersyukur dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub (Mzm 75:1,9).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 71-73. 

Cilandak, 11 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Selasa, 17 Februari 2015) 

HBREP_BMurid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10

Ketika Yesus berbicara mengenai “ragi” (Mrk 8:15), Ia sebenarnya mengacu kepada suatu sumber kegiatan yang mampu menumbuh-kembangkan sesuatu. Bagi orang-orang Farisi, kepentingan-diri sendiri merupakan inti kegiatan ini, dan hal ini berkembang menjadi adonan yang jauh dari kasih dan belas kasih Allah. Hasil pertumbuhan dari “ragi” sedemikian adalah rasa tidak percaya, kecurigaan, dan tuduhan.

Di lain pihak, seorang murid Yesus mempunyai akses kepada suatu sumber kegiatan yang lain – Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5). Pencurahan kasih ilahi ini dimaksudkan untuk mengangkat kita agar dapat memahami bahwa kita adalah anak-anak Allah. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan kita dari sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat memandang melampaui diri kita sendiri agar dapat melihat Yesus sendiri, sang Pencinta jiwa-jiwa kita semua. Seorang murid Yesus mengetahui bahwa dirinya telah diangkat dan dilepaskan dari jerat dosa dan telah diberikan suatu hidup baru oleh kasih Kristus yang tersalib.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Ragi Roh Kudus dimaksudkan untuk menyebabkan suatu transformasi dalam kehidupan kita – sesuatu yang kita tidak dapat lakukan sendiri, tetapi suatu karunia yang diberikan secara bebas dari Roh Kudus. Jadi, bukan lagi kita, melainkan Kristus di dalam diri kita yang menjadi dasar dari pengharapan dan visi bagi hidup kita. Tidak lagi sumber daya kita sendiri, melainkan Kristus dalam diri kita lah yang menjadi sumber kekuatan. Yesus ingin mengangkat kita dan membebaskan kita dari hal-hal yang terus saja membenamkan kita dalam kedosaan dan hukuman. Bersatu dengan Yesus, kita pun dapat mati terhadap diri kita dan dibangkitkan ke takhta Allah! Roh Kudus akan memenuhi diri kita dengan kerinduan untuk semakin serupa dengan Yesus, suatu hasrat mendalam untuk menyatu dengan Bapa surgawi dan melayani umat Allah dengan bebas.

Besok, kita akan mengawali Masa Prapaskah. Marilah kita merenungkan “ragi” yang bekerja di dalam diri kita dan transformasi yang kita hasrati. Maukah kita datang kepada Yesus pada Masa Prapaskah ini dan memohon kepada-Nya agar kita diangkat-Nya? Selagi hati kita terbuka bagi-Nya, Dia akan menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam diri kita dan memampukan kita untuk menjadi roti bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga ragi Roh Kudus-Mu bekerja dalam diriku. Aku tidak ingin memusatkan perhatianku pada diriku sendiri, melainkan pada Engkau saja. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOHONLAH AGAR KITA DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA” (bacaan tanggal 17-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015.

Cilandak, 8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA YANG MENIMBULKAN PERBANTAHAN

TANDA YANG MENIMBULKAN PERBANTAHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah – Senin, 2 Februari 2015)

SIMEON DENGAN BAYI YESUSLalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

Di Palestina, pada abad pertama, keluarga-keluarga Yahudi melaksanakan beberapa upacara tidak lama setelah kelahiran anak sulung laki-laki, yaitu penyunatan, penebusan sang bayi, dan pemurnian sang ibu. Pada waktu Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah guna melaksanakan rituale yang kedua dan ketiga, mereka bertemu dengan Simeon dan Hana – dua orang tua yang menjalani hidup doa terus-menerus dalam antisipasi kuat akan kedatangan Mesias. Baik Simeon maupun Hana dibimbing oleh Roh Kudus agar mampu mengenali Yesus dan kemudian bersukacita melihat janji-janji Allah dipenuhi dalam diri Anak ini.

stdas0065 -PRESENTATION IN THE TEMPLEDalam suatu nubuatan, Simeon berkata kepada Maria, bahwa Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwa Maria sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (lihat Luk 2:35-36). Dari pengalamannya Simeon mengetahui bahwa pernyataan kasih Allah akan membawa serta dengannya suatu pengungkapan dosa manusia yang menusuk hati dan menyedihkan. Sekarang, Maria pun sungguh bersedih hati melihat bahwa dosa ini memanifestasikan dirinya dalam oposisi yang mengandung kekerasan.

Seperti terjadi dengan Simeon, demikian pula akan terjadi dengan diri kita. Dengan pernyataan Kristus dalam diri kita, kita akan mampu melihat kegelapan yang ada dalam hati kita dengan lebih jelas. Di bawah pencerahan Roh-Nya, kita akan melihat kecenderungan dalam diri kita untuk memusatkan segenap perhatian kita atas hal-ikhwal dunia ini dan mencampakkan janji-janji Kerajaan-Nya. Selagi kita merenungkan kebaikan Allah, kita akan mulai melihat betapa kita sungguh membutuhkan belaskasih Yesus, dan kita akan bersukacita bahwa belaskasih-Nya dicurahkan ke atas diri kita dengan melimpah. Kita pun mulai merindukan lebih lagi Roh Kudus, agar supaya segala oposisi terhadap Allah yang ada di dalam diri kita dapat sungguh dibuang.

Kerinduan Simeon dan Hana akan kedatangan Mesias membawa mereka kepada suatu pengalaman padang gurun. Bapa surgawi juga menghendaki agar hal serupa terjadi pada diri kita – bukan untuk membuat kita jatuh ke dalam depresi, tetapi untuk membawa kita kepada kebebasan yang lebih besar. Allah ingin mengangkat jiwa kita ke dalam “dunia atau alam yang tanpa batas”  sehingga kita masing-masing dapat mengalami kemuliaan-Nya dan menjadi seorang “ciptaan baru”. Dia rindu sekali untuk membersihkan diri kita dari dosa dan memenuhinya dengan segala hal yang baik. Pada hari “Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah” ini, marilah kita menyerahkan hati kita kepada Yesus dan mohon dari Dia agar menyatakan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih kepada-Mu karena Engkau sudi mengutus Putera-Mu ke dalam dunia kami yang sebagian besar berada dalam situasi yang menyedihkan. Dengan kedatangan-Nya, kami telah menerima sukacita dan pengharapan, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang berkehendak baik yang datang ke hadapan hadirat-Mu memperoleh penghiburan karena menjadi mengenal dan mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Luk  2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “YESUS, MARIA, YUSUF, SIMEON DAN HANA” (bacaan tanggal 2-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak,  27 Januari 2015 [Hari Raya S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 22 Januari 2015)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA 

IMAM BESAR AGUNG -1Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah yang diucapkan sesudah hukum Taurat, menetapkan Anak yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya.

Inti semua yang kita bicarakan itu ialah: Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga, dan melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan kurban dan persembahan dan karena itu Imam Besar itu perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia berada di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan mereka menurut hukum Taurat. Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, “Perhatikanlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Tetapi sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih mulia pula. (Ibr 7:25-8:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

“Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka”  (Ibr 7:25).

YESUS KRISTUS - 0000Marilah kita membayangkan petikan bacaan di atas. Yesus – Imam Besar Agung kita – selalu berada di hadirat Allah, dan melakukan syafaat bagi kita. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga” (Ibr 7:26). Artinya seorang Imam Besar Agung, …… yang sempurna. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita pengharapan yang besar!

Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan, sehingga dengan mudah kita dapat menggabungkan doa-doa kita dengan doa-Nya dan yakin bahwa doa-doa itu akan didengar (Ibr 4:15-16). Hal ini berarti bahwa kita dapat dengan berani datang menghadap hadirat Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan. Sabda Allah dalam Kitab Suci juga menjanjikan bahwa jika kita tetap bersama Yesus, dan jika kita memperkenankan sabda-Nya tetap diam dalam hati kita, maka kita dapat meminta apa saya yang kita butuhkan, dan Ia akan menjawab, artinya menanggapi kebutuhkan kita itu (Yoh 15:7). Hal ini semata-mata karena kita milik Kristus, dan pengorbanan-Nya telah membuat sempurna penebusan atas dosa-dosa kita.

Kita tidak usah merasa khawatir doa syafaat kita tidak didengar karena bersifat terlalu spesifik dan Allah barangkali tidak akan mendengarkan doa kita itu. Karena kita memiliki keyakinan teguh bahwa Yesus melakukan pekerjaan sebagai Pengantara bagi kita dan bersama kita, maka kita pun berani untuk spesifik dalam doa-doa syafaat kita. Selagi kta menggabungkan kehendak-kehendak kita dengan kehendak dari Dia yang sangat mengasihi kita dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita, maa kita tidak perlu takut membawa kebutuhan-kebutuhan kita di hadapan hadirat Bapa surgawi yang mengasihi kita.

Ketika kita “bereksperimen” dengan doa-doa syafat, janganlah terkejut ketika kita menyadari bahwa Roh Kudus lah yang memimpin doa-doa kita. Roh Allah inilah yang menggerakkan hati kita untuk mendoakan teman kita yang sedang sekarat di rumah sakit, berdoa untuk salah seorang anak kita yang sedang bertugas membuat “business presentation” di hadapan anggota-anggota Direksi perusahaan pelanggannya. Dst. Dlsb.

DOA PRIBADIKita sudah terbiasa untuk mendoakan mereka yang paling dekat dengan kita. Sekarang, janganlah terkejut apabila Roh Kudus membimbing kita untuk memperluas jangkauan doa-doa syafaat kita. Dengan demikian kita memperluas ruang lingkup doa-doa kita menjadi melampaui batas-batas keluarga, misalnya mendoakan para korban kecelakaan pesawat AIRASIA dst., bahkan ke luar dari batas-batas negara kita. Misalnya: untuk para korban penyakit Ebola di beberapa negara di Afrika, untuk para korban terorisme di Perancis maupun di Nigeria, untuk rekonsiliasi di Sri Lanka seperti dipelopori oleh Bapa Suci Fransiskus beberapa hari lalu, untuk kedamaian di Belgia, untuk bencana alam di banyak tempat di dunia  (India dlsb.). Jadi, ketika kita menonton/memirsa berita di TV, kita pun jangan sampai tidak peduli pada bisikan Roh Kudus untuk berdoa dengan hening dalam hati kita untuk banyak ujud yang Dia ingin kita doakan. Santa Teresa dari Lisieux menjadi orang kudus pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius, walaupun suster ini adalah seorang Karmelites Tak Berkasut (OCD) yang tugas pelayanannya adalah berdoa dari dalam sel biaranya (seorang biarawati kontemplatif).

Saudari dan Saudariku yang terkasih. Dalam doa, marilah kita (anda dan saya) menghadap Bapa surgawi membawakan ujud-ujud kita dengan berani dan penuh keyakinan. Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19). Marilah kita senantiasa berupaya untuk berdoa dalam kesatuan dengan Yesus, “Dia yang sempurna”, maka kita pun dapat yakin seyakin-yakinnya bahwa Dia akan melakukan pekerjaan-Nya sebagai Pengantara dengan sempurna.

DOA: Terima kasih penuh syukur, ya Yesus, karena Engkau menjadi Imam Besar Agung bagi diriku dan para murid-Mu yang lain. Terima kasih Engkau hidup selama-lamanya untuk melakukan syafaat bagiku. Aku menaruh rasa percayaku dan pengharapanku pada-Mu saja, dan aku percaya bahwa Engkau mengetahui apa saja yang kubutuhkan, lebih baik daripada apa yang kuketahui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?” (bacaan tanggal 22-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 16 Januari 2015 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers