Posts tagged ‘ROH KUDUS’

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Senin, 20 Juni 2016)

 1-sermon-on-the-mount-granger

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: 2Raj 17:5-8,13-15a,18; Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3-5,12-13

Sepintas lalu, kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini terasa ditujukan kepada orang-orang Farisi, para dogmatis dan ekstrimis – bukan ditujukan pada diri kita sendiri. Namun kita harus ingat bahwa ini adalah bagian dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7), artinya di sini Yesus bersabda kepada para murid-Nya sendiri. “Jangan kamu menghakimi” dan “Hai orang munafik” yang terasa keras-keras itu sungguh diperuntukkan bagi mereka yang mengasihi dan sudah menerima kepemimpinan Yesus. Jadi, kata-kata Yesus ini sungguh ditujukan kepada kita (anda dan saya)!

Apakah kata-kata Yesus ini kedengaran keras? Mengutuk? Bukan itu maksud Yesus. Sabda-Nya di sini memang merupakan “kata-kata keras”: sulit dan tidak mengenakkan untuk didengar, namun sesungguhnya merupakan suatu undangan kepada kebebasan/ kemerdekaan sejati. Di sini, Yesus – sang Gembala Baik – seakan berseru: “Mari, datanglah kepada-Ku. Biarlah Engkau dikuatkan, kesehatan rohanimu dipulihkan, dan dibebaskan dari beban rasa bersalah dan rasa khawatir serta takut!”

Sementara kita mencari-cari “balok” di dalam mata kita, perkenanlah Roh Kudus untuk membimbing kita. Biarlah Dia dengan halus namun tegas serta pasti menunjukkan dosa-dosa yang selama ini menghalang-halangi upaya kita untuk mengikuti Tuhan Yesus. Di bawah pengawasan mata-Nya yang begitu tajam-menyelidik, mungkin saja kita menjadi merasa gelisah, namun semua ini hanyalah bersifat sementara. Kebebasan/kemerdekaan sejati yang akan dikecap jauh lebih membawa “nikmat” daripada ketidaknyamanan/kesusahan yang dialami sebelumnya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang baik, sungguh baik, satu-satunya yang baik; Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan frustrasi tanpa henti atau merasa bersalah secara terus menerus: terjebak  dalam situasi penuh masalah tanpa bayangan akan adanya solusi. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita akan dosa-dosa kita, pada saat bersamaan Ia juga mengangkat hati kita dengan pengharapan akan kesembuhan dan pengampunan.

Mengapa “pemeriksaan batin” ini diperlukan? Karena panggilan untuk mengasihi sesama! Seringkali, dalam upaya kita untuk mengasihi sesama kita, niat baik kita itu terhalang oleh luka-luka kita sendiri. Misalnya, sebagai seorang anak kecil kita mengalami KDRT yang dilakukan orangtua kita sendiri. Dalam situasi-situasi sedemikian kita mengembangkan pola-pola tertentu: cepat-cepat melarikan diri dari konflik; emosi yang diungkapkan secara meledak-ledak, bahkan seakan-akan ingin berkelahi. Apabila tidak ditangani, respons-respons sedemikian akan muncul setiap saat kita menghadapi kemarahan orang lain, walaupun tidak ditujukan kepada diri kita. Hasil dari suatu kerja pelayanan yang terganggu di sana-sini oleh pola-pola yang sedemikian tidak akan dihargai atau sangat efektif!

Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyembuhkan diri kita. Dia dapat menunjukkan kepada kita di mana kita harus melakukan pertobatan, mencari kesembuhan, atau mengampuni. Kita tidak akan mampu melakukan hal ini apabila kita mengandalkan pemikiran dan kemampuan kita sendiri. Akan tetapi, dengan ajaran Yesus, penyembuhan-Nya dan pengampunan-Nya dalam kehidupan kita, maka kita memiliki sesuatu yang indah untuk diberikan kepada orang-orang lain – sesuatu yang telah kita terima dari Yesus Kristus sendiri, yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyembuhan dan kehidupan bagi orang-orang di sekeliling kita!

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar mampu mendengarkan sabda-Mu. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menunjukkan kepadaku apa saja dalam diriku yang sesungguhnya Engkau inginkan untuk disembuhkan dan dipulihkan, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi sebuah instrumen penyembuhan dan pemulihan bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “MENCARI BALOK DI DALAM MATA SENDIRI” (bacaan tanggal 20-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 19 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEWARTA INJIIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

SEORANG PEWARTA INJIL DI MASA AWAL GEREJA YANG TIDAK BOLEH KITA LUPAKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PERINGATAN S. BARNABAS, RASUL Sabtu,  11 Juni 2016

Kongregasi Fransiskanes Sambas: Hari Raya – Hari Jadi Kongregasi 


St-Barnabas-cropped

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b;13:1-3) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13 

Bacaan khusus ini berkenaan dengan peringatan wajib hari ini, yaitu memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus dalam mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus.  Barnabas berarti “anak penghiburan” (Kis 4:36), sebuah nama sampingan dari seorang Lewi yang bernama Yusuf, seorang kelahiran Siprus. Dalam Gereja Perdana Barnabas terkenal kedermawanannya. Dia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki para rasul (lihat Kis 4:36-37). Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman (Kis 19:24). Pada waktu jemaat di Yerusalem masih takut-takut menerima kehadiran Saulus yang baru bertobat, Barnabaslah yang menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus berjumpa dengan Tuhan yang telah bangkit di tengah jalan menuju Damsyik dan bahwa Tuhan Yesus berbicara kepadanya dan dia juga menceritakan keberanian Saulus mengajar di Damsyik dalam nama Yesus (Kis 9:26-27).

Kematian Stefanus sebagai martir Kristus (Kis 7:54-60) disusul dengan pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani, sehingga ada yang menyingkir sampai ke Fenisia dan Antiokhia.  Pada waktu itu gereja Antiokhia hanya mewartakan Injil kepada orang Yahudi saja, namun beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di sana mewartakan Injil kepada orang-orang berbahasa Yunani. Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya (Kis 11:21). Ketika gereja induk di Yerusalem mendengar hal itu, diutuslah Barnabas untuk melayani jemaat di Antiokhia. Keberadaan gereja Antiokhia dengan umat campuran Yahudi-Yunani, dan dipenuhi anugerah – singkatnya sebuah jemaat yang hidup – membuat sukacita dalam diri Barnabas  (Kis 11:19-24). Kemudian Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus, lalu membawanya ke Antiokhia untuk bersama-sama melayani umat di sana selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia lah murid-murid Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristiani (Kis 11:25-26).  Karena ada nubuatan dari seorang nabi dari Yerusalem yang bernama Agabus tentang akan timbulnya kelaparan besar, jemaat mengumpulkan uang untuk saudari-saudara seiman yang tinggal di Yudea, sumbangan mana dibawa oleh Barnabas dan Saulus ke Yerusalem (Kis 11:27-30). Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem sambil membawa Yohanes Markus (Kis 12:24-25).

religious-icon-st-barnabas-monastery-16149312Daftar “nabi dan pengajar” dalam Kis 13:1 kelihatannya merupakan daftar nama para pemimpin gereja di Antiokhia, dengan nama Barnabas dicantumkan dalam urutan pertama dan Saulus (Paulus) sebagai yang terakhir. Kemudian, dalam ibadat kepada Tuhan sambil berpuasa, mereka mendengar Roh Kudus menentukan Barnabas dan Saulus untuk pergi sebagai misionaris menyebarkan Injil (Kis 13:2). Nama Barnabas disebut lebih dahulu karena sesungguhnya dialah anggota senior dalam tim dalam perjalanan misioner yang pertama itu, paling sedikit di awal perjalanan (Kis 13:2; lihat juga Kis 13:7).

Barnabas memang lebih senior, akan tetapi Saulus (juga disebut Paulus mulai Kis 13:9), dengan cepat menunjukkan dinamika yang membuatnya menjadi rasul besar (Kis 13:9-12). Selanjutnya tim misionaris tangguh ini dikenal sebagai “Paulus dan kawan-kawan” (Kis 13:13). Terasa dari catatan-catatan di atas bahwa Barnabas adalah seorang pribadi yang dengan sungguh-sungguh selalu memajukan orang lain lebih dari dirinya sendiri, dan dia memang tidak berkeberatan samasekali dengan kepemimpinan Paulus.

Dalam perjalanan misioner yang pertama ini, mula-mula mereka pergi ke Siprus (Kis 13:1-12) dan dari Siprus melanjutkan perjalanan mereka ke sejumlah tempat dan akhirnya kembali ke Antiokhia. Sebuah perjalanan misioner yang panjang dan berbuah banyak (baca Kis 13-14). Pada konsili para rasul di Yerusalem, Paulus dan Barnabas terang-terangan membela keinginan para pengikut Kristus non-Yahudi (baca Kis 15:1-34).

Setelah tiba di Antiokhia, berdiam di sana dan mewartakan Injil untuk beberapa lama, terjadilah perselisihan antara Paulus dan Barnabas. Paulus ingin kembali ke tempat-tempat yang dulu mereka datangi dan mewartakan Injil untuk melihat perkembangan di setiap tempat itu. Barnabas ingin membawa Yohanes Markus, namun Paulus tidak setuju, karena dahulu Yohanes Markus pernah meninggalkan mereka di Pamfilia dan kembali ke Yerusalem (Kis 13:13).Setelah perselisihan yang tajam, berpisahlah mereka. Barnabas membawa serta Yohanes Markus berlayar ke Siprus. Paulus memilih Silas dalam perjalanan kali ini (baca Kis 15:35-41). Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, terdapat satu ayat yang berisikan kritik Paulus terhadap sikap dan perilaku Barnabas pada waktu kunjungan Petrus ke Antiokhia (lihat Gal 2:13).

Ada sebuah “Injil palsu” yang menggunakan nama Barnabas, yang dikarang lebih dari 10 abad setelah masa hidup Yesus di dunia, sekurang-kurangnya sesudah tahun 1.300, malah kemungkinan dalam abad ke-16. Apabila anda ingin mengetahuinya secara lebih mendalam, bacalah buku tipis (26 halaman saja) yang disusun oleh Drs. B.F. Drewes & Drs. J. Slomp dengan judul: SELUK BELUK BUKU YANG DISEBUT INJIL BARNABAS, terbitan Penerbit BPK Gunung Mulia, Jakarta dan Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Adalah baik untuk mengetahui pokok-pokok ulasan dari buku ini karena “Injil Barnabas” suka dipakai oleh orang-orang yang suka menyerang umat Kristiani.

Baptism-of-the-Holy-SpiritDari bacaan “Kisah para Rasul” di atas serta uraiannya, kita dapat melihat peranan sentral dari Roh Kudus dalam setiap karya evangelisasi. Para misionaris juga harus didukung penuh oleh jemaat/umat yang mengutus mereka. Umat yang berdoa sambil berpuasa melakukan discernment untuk memastikan kehendak Roh Kudus dalam setiap situasi. Yang mencolok juga adalah ketaatan yang ditunjukkan oleh Barnabas dan Paulus kepada pimpinan jemaat/gereja. Disuruh pergi, mereka pun pergi! Barnabas diutus oleh pimpinan Gereja di Yerusalem untuk melayani gereja di Antiokhia, maka dia pun langsung pergi. Barnabas dan Paulus meninggalkan Antiokhia ketika diutus pergi ke tempat lain, meskipun jelas mereka sangat kerasan berada dalam gereja yang penuh anugerah Roh Kudus itu. Namun demikian, pada zaman sekarang ini kita masih mendengar kabar ada imam yang tidak mau dipindahkan dari gereja paroki yang “dicintainya” meskipun diperintahkan oleh uskup atasannya. Ketaatan adalah sebuah keutamaan, anugerah yang tentunya datang dari Dia sendiri. Kalau saja pastor paroki tadi meresapi dalam hatinya bagaimana ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya (lihat Flp 2:5-11), kiranya peristiwa menyedihkan dan memalukan tersebut tidak perlu terjadi.

Seorang pewarta yang baik selalu taat kepada Bunda Gereja. Dia juga selalu mengakui bahwa SANG PEWARTA sesungguhnya adalah Roh Kudus sendiri, sedangkan dia sendiri adalah alat/sarana belaka. Hal ini ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kita peringati hari ini. Semoga semangat Santo Barnabas dan Santo Paulus juga menjiwai setiap pewarta kita.

DOA: Roh Kudus Allah, hadirlah selalu di dalam hati kami. Ingatkanlah kami selalu bahwa Engkaulah sebenarnya Sang Pewarta Kabar Baik Yesus Kristus, sedangkan kami hanyalah alat/sarana pewartaan tersebut. Berikanlah kepada kami juga rahmat untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan kami sendiri, seperti yang telah ditunjukkan oleh Santo Barnabas yang kami peringati hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “BARNABAS: SEORANG PEWARTA INJIL YANG BERBUAH” (bacaan tanggal 11-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juni 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MISTERI YANG SUNGGUH KOMPLEKS

MISTERI YANG SUNGGUH KOMPLEKS

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS – Minggu, 22 Mei 2016)

Kongregasi OSF: Pelindung Provinsi Indonesia

 holy_trinity-1600x1200

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Ams 8:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 8: 4-9; Bacaan Kedua: Rm 5:1-5

Tritunggal Mahakudus adalah suatu misteri yang sungguh kompleks. Siapa di antara kita yang akan pernah mampu menyingkap kerumitan “seorang” Allah yang “Satu” namun pada saat yang sama adalah tiga Pribadi ilahi? Walaupun begitu, Tritunggal Mahakudus (Trinitas) berada di pusat iman kita. Keberadaan kita diikat oleh dengan Allah Tritunggal yang penuh misteri ini. Inilah yang terbesar dari segala misteri berkaitan dengan Tritunggal Mahakudus: Bagaimana seseorang dapat sungguh mengalami suatu relasi penuh kasih dengan seorang lain yang hampir tidak dimengertinya?

Walaupun telah hidup bersama Yesus selama tiga tahun, kelihatannya para rasul tidak berada dalam posisi yang lebih baik apabila dibandingkan dengan diri kita sekarang. Pada Perjamuan Terakhir, setelah Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia-lah jaqlan kepada Bapa, Tomas berkata: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5). Filipus juga berkata: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, ini sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8).

Betapa mendalampun mereka mengasihi Yesus, para rasul pada akhirnya menerima kenyataan: “Kita tidak tahu apa maksud-Nya” (Yoh 16:18). Seperti para rasul, kita mungkin mengetahui sedikit saja mengenai Allah, kodrat-Nya dan jalan-jalan-Nya, namun ketiadaan pemahaman kita samasekali tidak menghalangi kita untuk mengalami kasih-Nya, rahmat-Nya, dan kuat-kuasa-Nya dalam kehidupan kita.

Sejatinya inilah alasan utama mengapa Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada kita: supaya Dia dapat membawa kita ke dalam jantung Allah Tritunggal. Yesus bersabda: “Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:15). Adalah hasrat terdalam Roh Kudus untuk membanjiri hati kita dengan kasih Bapa dan dengan belas kasih dan kuasa Putera-Nya yang telah bangkit. Selagi kita menjadi tertangkap dalam kasih ini, mau tidak mau kita mulai memahami Allah sedikit lebih lagi. Sedikit pemahaman itu pun menggerakkan kita untuk mempunyai keinginan menjadi semakin serupa dengan Dia. Semoga kita tidak pernah memandang rendah apa yang dapat dilakukan Allah bagi mereka yang mengasihi-Nya dan mencari-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kejutkanlah kami dengan suatu penghargaan baru terhadap Tritunggal Mahakudus. Tuhan Yesus, tunjukkanlah kepada kami kehadiran Tritunggal Mahakudus. Roh Kudus, ajarlah kami bagaimana memuliakan Bapa surgawi dan Juruselamat kami, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “TRITUNGGAL MAHAKUDUS ADALAH KEBENARAN YANG RIIL” (bacaan tanggal 22-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-5-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 20 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANAAN DAN PENUH KERENDAHAN HATI

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI   

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 15 Mei 2016)

pentecost-rahmen

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:3-7,12-13 atau Rm 8:8-17; Bacaan Injil: Yoh 14:15-16,23-26 

“Datanglah, ya Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, ya Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, ya Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, ya Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus!

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENCURAHAN ROH KUDUS PADA HARI PENTAKOSTA” (bacaan tanggal 15-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 14 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 11 Mei 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan Kapusin  

jesus-christ-super-starYa Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjagas mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 20:28-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29-30,33-36 

Yesus sedang mempersiapkan diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya. Dalam doa bagi para murid-Nya ini, Dia mempercayakan mereka kepada pemeliharaan penuh perhatian dari Bapa surgawi. Sungguh merupakan suatu momen yang penuh berkat dan kelemah-lembutan-Nya sebagai Guru dan Gembala bagi mereka, juga sebagai Imam Besar Agung (lihat Ibr 4:14), sang Pengantara dengan Bapa. Yesus telah hidup dan melayani bersama mereka selama tiga tahun – menjaga mereka, mengajar mereka, membentuk/membina mereka dan mengasihi mereka dengan kasih Allah sendiri. Bapa telah memberikan mereka kepada Yesus, dan sekarang Yesus memberikan mereka kembali kepada Bapa-Nya. Bagaimana Bapa akan menjaga dan melindungi mereka? Dengan cara yang penuh kemuliaan, yaitu dengan mengutus Roh Kudus, tidak hanya kepada mereka yang berkumpul di ruang atas (senakel), melainkan kepada semua orang yang meminta (lihat Yoh 17:20-21).

Kita sekarang sedang berada dalam masa persiapan perayaan Hari Raya Pentakosta. Kita menantikan kedatangan Roh Kudus dalam kepenuhan-Nya seperti yang ingin dicurahkan atas diri kita oleh Allah Bapa. Allah tidak pernah merasa lelah untuk melakukan kebaikan atas diri umat-Nya. Dia selalu siap untuk melimpah-limpahkan rahmat dan kuat-kuasa-Nya atas diri mereka yang mencari diri-Nya.

pentecost-canadaApakah yang dapat kita harapkan dari Roh Kudus untuk dilakukan-Nya dalam hati kita? Yesus berdoa bahwa melalui Roh Kudus, Bapa akan melindungi kita dari yang jahat [si Jahat] (Yoh 17:15). Yesus juga berdoa agar sukacita-Nya sendiri dapat memenuhi diri kita (Yoh 17:13).  Oleh Roh Kudus, kita dapat mengetahui kebenaran, dan memperkenankan kebenaran itu untuk memisahkan/menguduskan kita bagi Kristus (Yoh 17:19). Kita dapat mengenal dan mengalami kesatuan satu sama lain – kesatuan yang sama seperti yang dimiliki oleh Yesus dan Bapa-Nya (Yoh 17:21). Kita dapat mengasihi sebagaimana Allah mengasihi (lihat Rm 5:5). Kita dapat meyaksikan godaan dan dosa dikalahkan (lihat Rm 8:13).

Semua karunia yang indah ini – dan banyak lagi – adalah milik kita karena Roh Kudus telah datang untuk memasukkan  kita ke dalam kehidupan Allah sendiri: “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:13). Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam diri kita untuk membuat kita bersatu dengan Allah. Selagi kita menantikan Hari Raya Pentakosta yang agung ini, marilah kita berdoa dengan penuh pengharapan:

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu guna menyatukan kami masing-masing dengan Dikau dan Putera-Mu terkasih, Tuhan Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, utuslah kami untuk mewartakan sabda-Mu, dengan demikian memperbaharui muka bumi! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN YESUS DALAM BERDOA” (bacaan tanggal 11-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM   http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN MEI 2016.   

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 9 Mei 2016 [Peringatan S. Katarina dr Bologna, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 9 Mei 2016)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Katarina dr Bologna, Perawan – Klaris 

006-paul-ephesus

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33 

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?”  (Kis 19:2).

Beberapa orang murid dari Efesus menyatakan diri sebagai sudah beriman (Kis 19:2). Paulus mempertanyakan ini karena mereka nampaknya belum pernah menerima Roh Kudus. Ketika diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata mereka bukanlah murid-murid Yesus melainkan murid-murid Yohanes Pembaptis. Memang mereka telah dibaptis, tetapi dengan baptisan Yohanes yang adalah baptisan tobat. Oleh karena itu Paulus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus dan meletakkan tangannya atas mereka (Kis 19:5-6).

ROHHULKUDUS“Kisah para Rasul” mencatat bahwa ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:6). Tak diragukan lagi, sejak saat itu mereka benar-benar dapat dinamakan murid-murid Yesus.

Dari Bacaan Injil hari ini, para murid Yesus percaya bahwa Ia datang dari Allah (Yoh 16:30). Namun demikian Yesus mempertanyakan ini karena Dia tahu bahwa para murid-Nya tersebut akan tercerai-berai dan akan meninggalkan Dia seorang diri (Yoh 16:31-32). Kita – orang-orang yang menamakan diri Kristiani – juga tercerai-berai dan tersebar menjadi begitu banyak golongan, denominasi dan sekte.

Bukankah seharusnya kita bersekutu dalam doa, menyambut tubuh-Nya dalam Komuni Kudus, membaca Kitab Suci, atau bersatu dengan saudari dan saudara kita di dalam Kristus? Benar, namun pada kenyataannya kita meninggalkan Tuhan Yesus seorang diri. Inilah yang menyebabkan iman kita patut dipertanyakan.

Melalui Pentakosta ini marilah kita menerima Roh kesatuan (lihat Ef 4:3) dan Roh Kuasa. Dengan demikian, Yesus tidak perlu lagi meragukan iman-kepercayaan kita dan Dia dapat berkata kepada kita: “Besar imanmu!” (lihat Mat 15:28).

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI KEHADIRAN ROH KUDUS DI DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 9-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 8 Mei 2016 [HARI MINGGU PASKA VII – TAHUN C – HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KASIH ALLAH YANG MEMOTIVASI SEGALA SIKAP DAN PERILAKU YESUS TERHADAP PARA MURID-NYA

KASIH ALLAH YANG MEMOTIVASI SEGALA SIKAP DAN PERILAKU YESUS TERHADAP PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [TAHUN C] – 8 Mei 2016)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

YESUS BERDOA - 1Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka. (Yoh 17:20-26) 

Bacaan Pertama: Kis 7:55-60; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,6-7,9; Bacaan Kedua: Why 22:12-14,16-17,20 

Siapakah yang dapat membayangkan kasih yang sedemikian, seperti diungkapkan dalam doa Yesus ini? Mengetahui bahwa tidak lama lagi diri-Nya akan mengalami kematian yang sangat mengerikan, Yesus – Imam Besar Agung kita – memohon kepada Bapa-Nya agar melimpahkan kepada kita, kasih-Nya sendiri bagi Putera-Nya sejak sebelum dunia dijadikan, kasih Roh Kudus: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Hal ini sungguh indah menakjubkan … dalam kasih-Nya, Allah tidak membeda-bedakan!

Marilah kita merenungkan sejenak betapa mendalam Allah mengasihi Putera-Nya, Yesus. Karena kasih-Nya kepada Putera-Nya itu, maka Allah menentukan untuk memberikan segenap ciptaan kepada Yesus: “… di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah begitu mengasihi Yesus sehingga pada saat pembaptisan-Nya di sungai Yordan Dia dengan penuh sukacita mendeklarasikan di depan semua orang yang hadir: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Ludovico_Mazzolino_-_God_the_FatherYesus pun mengenal serta mengalami kasih Bapa-Nya secara akrab, dan kasih inilah yang memotivasi setiap sikap dan tindakan-Nya ketika berada bersama dengan para murid-Nya (termasuk kita): “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri …” (Yoh 5:19-20). Yesus sedemikian dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu menanggung segala kekejaman dan penderitaan salib agar dapat menyelamatkan kita manusia.

Oleh kuat-kuasa salib ini Yesus telah menyalibkan kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Ia sendiri telah alami. Ini adalah kasih yang penuh gairah, cukup memiliki kuat-kuasa untuk membuat lembut hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan kita semua menjadi suatu umat yang mampu mengasihi secara mendalam sebagaimana Allah sendiri mengasihi. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, kasih yang mampu meruntuhkan segala tembok yang memisahkan kita satu dengan lainnya. Inilah kasih yang tidak pernah gagal, karena Bapa senantiasa memperhatikan kita dalam kasih dan dengan satu kehendak saja: untuk memberkati dan memperkuat kita selagi kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, pada hari-hari menjelang Pentakosta ini penuhilah diri kami  masing-masing dengan suatu pengalaman akan kasih Allah sendiri. Bebaskanlah kami dari rasa takut dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dan gantikanlah semua itu dengan kasih akan Tritunggal Mahakudus (Trinitas), sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari-saudara. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini yang dengan berani mengundang setiap orang yang kami temui untuk menemukan kasih Allah yang mengubah kehidupan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH ALLAH MENGALAHKAH DOSA, RASA TAKUT DAN MAUT” (bacaan tanggal 8-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 6 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS