Posts tagged ‘ROH KUDUS’

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

RABU PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

hqdefault“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hiilang dari ingatanmu, seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anamu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ul 4:9). 

Dengan mengenangkan kita masuk ke dalam hubungan dengan Kristus yang memperkaya dan meneguhkan. Dalam sabda perpisahan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu … Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:7,13). Yesus menyatakan kepada sahabat-sahabat-Nya yang paling dekat, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka dapat tinggal dalam persatuan dengan diri-Nya, bahwa hanya dengan mengenangkan-Nya mereka akan memahami seutuhnya hal-hal yang telah mereka saksikan.

Mereka mendengarkan sabda-Nya, melihat-Nya di gunung Tabor. Mereka mendengar Ia berbicara mengenai wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi mata dan telinga mereka tetap tinggal tertutup dan tidak mengerti. Roh yang adalah Roh-Nya belum datang. Oleh karena meskipun mereka melihat dan mendengar, menyentuh dan meraba, tetap saja mereka jauh. Baru kemudian setelah Ia pergi, Roh-Nya dapat menyatakan-Nya kepada mereka. Ketika Ia tidak ada di antara mereka lagi, kehadiran yang baru dan lebih pribadi menjadi mungkin. Itulah kehadiran yang memperkaya dan meneguhkan di tengah-tengah penderitaan dan menciptakan kerinduan untuk melihat-Nya kembali. Rahasia agung perwahyuan ialah bahwa Allah menjadi satu dengan kita tidak hanya dengan kedatangan Kristus, tetapi juga dengan kepergian-Nya. Sungguh benar, dalam ketidakhadiran Kristus kesatuan kita dengan Dia menjadi begitu erat, sampai kita dapat berkata bahwa Ia tinggal dalam diri kita, menyebut-Nya makanan dan minuman kita dan mengalami kehadiran-Nya dalam pusat batin kita.

Ini bukan sekedar gagasan teoritis, tetapi sunguh nyata dalam hidup orang-orang seperti Dietrich Bonhoeffer dan Alfred Delp. Ketika mereka berada di penjara Nazi, menunggu hari kematian mereka, mereka mengalami kehadiran Kristus di tengah-tengah ketidakhadiran-Nya. Bonhoeffer menulis, “Allah yang  menyertai kita adalah Allah yang meninggalkan kita (Mrk 15:34) … Di hadapan Allah dan bersama dengan Allah, kita hidup tanpa Allah”. Dengan demikian kenangan akan Yesus Kristus bukan hanya sekedar mengingat kembali peristiwa penyelamatan di masa lampau. Kenangan itu mendatangkan kehidupan, meneguhkan dan memperkaya kita dalam peziarahan hidup kita sekarang ini. Kenangan itu menjadi jangkar di tengah-tengah pergulatan hidup keseharian kita.

+++++++

Dalam diri Yesus sabda dan karya adalah satu, tidak terpisahkan. Sabda-Nya tidak hanya berbicara mengenai perubahan, penyembuhan, kehidupan baru tetapi mewujudkannya. Dalam arti ini Yesus adalah benar-benar Sabda yang menjadi daging. Dalam Sabda itu segala sesuatu diciptakan dan oleh Sabda itu segala sesuatu diciptakan kembali.

Hidup suci berarti hidup yang tidak memisahkan kata dan karya. Kalau saya sungguh-sungguh berusaha untuk menghayati kata-kata yang saya ucapkan dalam hidup saya, kata-kata saya akan menjadi tindakan dan kalau demikian setiap kali saya berbicara mukjizat akan terjadi.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah kami bersyukur dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub (Mzm 75:1,9).

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 71-73. 

Cilandak, 11 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Selasa, 17 Februari 2015) 

HBREP_BMurid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10

Ketika Yesus berbicara mengenai “ragi” (Mrk 8:15), Ia sebenarnya mengacu kepada suatu sumber kegiatan yang mampu menumbuh-kembangkan sesuatu. Bagi orang-orang Farisi, kepentingan-diri sendiri merupakan inti kegiatan ini, dan hal ini berkembang menjadi adonan yang jauh dari kasih dan belas kasih Allah. Hasil pertumbuhan dari “ragi” sedemikian adalah rasa tidak percaya, kecurigaan, dan tuduhan.

Di lain pihak, seorang murid Yesus mempunyai akses kepada suatu sumber kegiatan yang lain – Roh Kudus, yang mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5). Pencurahan kasih ilahi ini dimaksudkan untuk mengangkat kita agar dapat memahami bahwa kita adalah anak-anak Allah. Hal ini dimaksudkan untuk memindahkan kita dari sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat memandang melampaui diri kita sendiri agar dapat melihat Yesus sendiri, sang Pencinta jiwa-jiwa kita semua. Seorang murid Yesus mengetahui bahwa dirinya telah diangkat dan dilepaskan dari jerat dosa dan telah diberikan suatu hidup baru oleh kasih Kristus yang tersalib.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Ragi Roh Kudus dimaksudkan untuk menyebabkan suatu transformasi dalam kehidupan kita – sesuatu yang kita tidak dapat lakukan sendiri, tetapi suatu karunia yang diberikan secara bebas dari Roh Kudus. Jadi, bukan lagi kita, melainkan Kristus di dalam diri kita yang menjadi dasar dari pengharapan dan visi bagi hidup kita. Tidak lagi sumber daya kita sendiri, melainkan Kristus dalam diri kita lah yang menjadi sumber kekuatan. Yesus ingin mengangkat kita dan membebaskan kita dari hal-hal yang terus saja membenamkan kita dalam kedosaan dan hukuman. Bersatu dengan Yesus, kita pun dapat mati terhadap diri kita dan dibangkitkan ke takhta Allah! Roh Kudus akan memenuhi diri kita dengan kerinduan untuk semakin serupa dengan Yesus, suatu hasrat mendalam untuk menyatu dengan Bapa surgawi dan melayani umat Allah dengan bebas.

Besok, kita akan mengawali Masa Prapaskah. Marilah kita merenungkan “ragi” yang bekerja di dalam diri kita dan transformasi yang kita hasrati. Maukah kita datang kepada Yesus pada Masa Prapaskah ini dan memohon kepada-Nya agar kita diangkat-Nya? Selagi hati kita terbuka bagi-Nya, Dia akan menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam diri kita dan memampukan kita untuk menjadi roti bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga ragi Roh Kudus-Mu bekerja dalam diriku. Aku tidak ingin memusatkan perhatianku pada diriku sendiri, melainkan pada Engkau saja. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOHONLAH AGAR KITA DAPAT MEMAHAMI YESUS DAN KARYA-NYA” (bacaan tanggal 17-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015.

Cilandak, 8 Februari 2015 [HARI MINGGU BIASA V] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA YANG MENIMBULKAN PERBANTAHAN

TANDA YANG MENIMBULKAN PERBANTAHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah – Senin, 2 Februari 2015)

SIMEON DENGAN BAYI YESUSLalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, lalu ia menjadi janda sampai ia berumur delapan puluh empat tahun sekarang. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada  semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22-40) 

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10 

Di Palestina, pada abad pertama, keluarga-keluarga Yahudi melaksanakan beberapa upacara tidak lama setelah kelahiran anak sulung laki-laki, yaitu penyunatan, penebusan sang bayi, dan pemurnian sang ibu. Pada waktu Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah guna melaksanakan rituale yang kedua dan ketiga, mereka bertemu dengan Simeon dan Hana – dua orang tua yang menjalani hidup doa terus-menerus dalam antisipasi kuat akan kedatangan Mesias. Baik Simeon maupun Hana dibimbing oleh Roh Kudus agar mampu mengenali Yesus dan kemudian bersukacita melihat janji-janji Allah dipenuhi dalam diri Anak ini.

stdas0065 -PRESENTATION IN THE TEMPLEDalam suatu nubuatan, Simeon berkata kepada Maria, bahwa Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwa Maria sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang (lihat Luk 2:35-36). Dari pengalamannya Simeon mengetahui bahwa pernyataan kasih Allah akan membawa serta dengannya suatu pengungkapan dosa manusia yang menusuk hati dan menyedihkan. Sekarang, Maria pun sungguh bersedih hati melihat bahwa dosa ini memanifestasikan dirinya dalam oposisi yang mengandung kekerasan.

Seperti terjadi dengan Simeon, demikian pula akan terjadi dengan diri kita. Dengan pernyataan Kristus dalam diri kita, kita akan mampu melihat kegelapan yang ada dalam hati kita dengan lebih jelas. Di bawah pencerahan Roh-Nya, kita akan melihat kecenderungan dalam diri kita untuk memusatkan segenap perhatian kita atas hal-ikhwal dunia ini dan mencampakkan janji-janji Kerajaan-Nya. Selagi kita merenungkan kebaikan Allah, kita akan mulai melihat betapa kita sungguh membutuhkan belaskasih Yesus, dan kita akan bersukacita bahwa belaskasih-Nya dicurahkan ke atas diri kita dengan melimpah. Kita pun mulai merindukan lebih lagi Roh Kudus, agar supaya segala oposisi terhadap Allah yang ada di dalam diri kita dapat sungguh dibuang.

Kerinduan Simeon dan Hana akan kedatangan Mesias membawa mereka kepada suatu pengalaman padang gurun. Bapa surgawi juga menghendaki agar hal serupa terjadi pada diri kita – bukan untuk membuat kita jatuh ke dalam depresi, tetapi untuk membawa kita kepada kebebasan yang lebih besar. Allah ingin mengangkat jiwa kita ke dalam “dunia atau alam yang tanpa batas”  sehingga kita masing-masing dapat mengalami kemuliaan-Nya dan menjadi seorang “ciptaan baru”. Dia rindu sekali untuk membersihkan diri kita dari dosa dan memenuhinya dengan segala hal yang baik. Pada hari “Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah” ini, marilah kita menyerahkan hati kita kepada Yesus dan mohon dari Dia agar menyatakan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih kepada-Mu karena Engkau sudi mengutus Putera-Mu ke dalam dunia kami yang sebagian besar berada dalam situasi yang menyedihkan. Dengan kedatangan-Nya, kami telah menerima sukacita dan pengharapan, damai-sejahtera, dan penghiburan. Semoga setiap orang berkehendak baik yang datang ke hadapan hadirat-Mu memperoleh penghiburan karena menjadi mengenal dan mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Luk  2:22-40), bacalah tulisan dengan judul “YESUS, MARIA, YUSUF, SIMEON DAN HANA” (bacaan tanggal 2-2-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak,  27 Januari 2015 [Hari Raya S. Angela Merici] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 22 Januari 2015)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA 

IMAM BESAR AGUNG -1Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah yang diucapkan sesudah hukum Taurat, menetapkan Anak yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya.

Inti semua yang kita bicarakan itu ialah: Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga, dan melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan kurban dan persembahan dan karena itu Imam Besar itu perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia berada di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan mereka menurut hukum Taurat. Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, “Perhatikanlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Tetapi sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih mulia pula. (Ibr 7:25-8:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

“Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka”  (Ibr 7:25).

YESUS KRISTUS - 0000Marilah kita membayangkan petikan bacaan di atas. Yesus – Imam Besar Agung kita – selalu berada di hadirat Allah, dan melakukan syafaat bagi kita. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga” (Ibr 7:26). Artinya seorang Imam Besar Agung, …… yang sempurna. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita pengharapan yang besar!

Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan, sehingga dengan mudah kita dapat menggabungkan doa-doa kita dengan doa-Nya dan yakin bahwa doa-doa itu akan didengar (Ibr 4:15-16). Hal ini berarti bahwa kita dapat dengan berani datang menghadap hadirat Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan. Sabda Allah dalam Kitab Suci juga menjanjikan bahwa jika kita tetap bersama Yesus, dan jika kita memperkenankan sabda-Nya tetap diam dalam hati kita, maka kita dapat meminta apa saya yang kita butuhkan, dan Ia akan menjawab, artinya menanggapi kebutuhkan kita itu (Yoh 15:7). Hal ini semata-mata karena kita milik Kristus, dan pengorbanan-Nya telah membuat sempurna penebusan atas dosa-dosa kita.

Kita tidak usah merasa khawatir doa syafaat kita tidak didengar karena bersifat terlalu spesifik dan Allah barangkali tidak akan mendengarkan doa kita itu. Karena kita memiliki keyakinan teguh bahwa Yesus melakukan pekerjaan sebagai Pengantara bagi kita dan bersama kita, maka kita pun berani untuk spesifik dalam doa-doa syafaat kita. Selagi kta menggabungkan kehendak-kehendak kita dengan kehendak dari Dia yang sangat mengasihi kita dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita, maa kita tidak perlu takut membawa kebutuhan-kebutuhan kita di hadapan hadirat Bapa surgawi yang mengasihi kita.

Ketika kita “bereksperimen” dengan doa-doa syafat, janganlah terkejut ketika kita menyadari bahwa Roh Kudus lah yang memimpin doa-doa kita. Roh Allah inilah yang menggerakkan hati kita untuk mendoakan teman kita yang sedang sekarat di rumah sakit, berdoa untuk salah seorang anak kita yang sedang bertugas membuat “business presentation” di hadapan anggota-anggota Direksi perusahaan pelanggannya. Dst. Dlsb.

DOA PRIBADIKita sudah terbiasa untuk mendoakan mereka yang paling dekat dengan kita. Sekarang, janganlah terkejut apabila Roh Kudus membimbing kita untuk memperluas jangkauan doa-doa syafaat kita. Dengan demikian kita memperluas ruang lingkup doa-doa kita menjadi melampaui batas-batas keluarga, misalnya mendoakan para korban kecelakaan pesawat AIRASIA dst., bahkan ke luar dari batas-batas negara kita. Misalnya: untuk para korban penyakit Ebola di beberapa negara di Afrika, untuk para korban terorisme di Perancis maupun di Nigeria, untuk rekonsiliasi di Sri Lanka seperti dipelopori oleh Bapa Suci Fransiskus beberapa hari lalu, untuk kedamaian di Belgia, untuk bencana alam di banyak tempat di dunia  (India dlsb.). Jadi, ketika kita menonton/memirsa berita di TV, kita pun jangan sampai tidak peduli pada bisikan Roh Kudus untuk berdoa dengan hening dalam hati kita untuk banyak ujud yang Dia ingin kita doakan. Santa Teresa dari Lisieux menjadi orang kudus pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius, walaupun suster ini adalah seorang Karmelites Tak Berkasut (OCD) yang tugas pelayanannya adalah berdoa dari dalam sel biaranya (seorang biarawati kontemplatif).

Saudari dan Saudariku yang terkasih. Dalam doa, marilah kita (anda dan saya) menghadap Bapa surgawi membawakan ujud-ujud kita dengan berani dan penuh keyakinan. Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19). Marilah kita senantiasa berupaya untuk berdoa dalam kesatuan dengan Yesus, “Dia yang sempurna”, maka kita pun dapat yakin seyakin-yakinnya bahwa Dia akan melakukan pekerjaan-Nya sebagai Pengantara dengan sempurna.

DOA: Terima kasih penuh syukur, ya Yesus, karena Engkau menjadi Imam Besar Agung bagi diriku dan para murid-Mu yang lain. Terima kasih Engkau hidup selama-lamanya untuk melakukan syafaat bagiku. Aku menaruh rasa percayaku dan pengharapanku pada-Mu saja, dan aku percaya bahwa Engkau mengetahui apa saja yang kubutuhkan, lebih baik daripada apa yang kuketahui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?” (bacaan tanggal 22-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 16 Januari 2015 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR DARI SIMEON

BELAJAR DARI SIMEON

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Senin, 29 Desember 2014) 

nunc-dimittis

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia Yang Diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orangtua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  (Luk 2:22-35)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:3-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6 

Simeon kelihatannya seperti pribadi-pribadi yang agak tidak jelas dalam sebuah novel misteri. Dia muncul entah dari mana, dia mengidentifikasikan Bayi Yesus sebagai sang Mesias, dia mengatakan kepada ibu sang Bayi bahwa dia akan banyak menderita, lalu dia pun “menghilang” tanpa terdengar lagi suaranya, paling sedikit dalam Kitab Suci. Namun, jika melihat secara lebih dekat dan serius, kita akan melihat dalam diri Simeon suatu contoh yang indah dari seorang pribadi yang hidup sehari-harinya senantiasa dihibur dan dipimpin oleh Roh Kudus. Menurut Lukas, Roh Kudus ada di atas Simeon, dan karena karya Roh Kudus itulah Simeon mampu untuk mengenali Yesus sebagai sang Mesias (Luk 1:25-28).

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Roh Kudus dapat berbicara kepada kita dengan begitu jelas seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Simeon? Kehadiran Roh Kudus adalah satu dari janji-janji dalam Kitab Suci yang paling sentral. Setiap pengikut Yesus dapat diarahkan dan dihibur oleh Roh Kudus setiap hari. Kita dapat berpikir dan memandang Simeon sebagai seorang kudus besar, seorang anggota dari kelompok yang dipilih secara istimewa (privileged few). Akan tetapi, kita sudah ketahui bahwa Allah tidak mempunyai favorit-favorit. Allah sangat berkeinginan untuk mencurahkan Roh-Nya kepada setiap orang. Simeon adalah sekadar seorang tua yang menjalankan kehidupan doa dengan setia dan benar, dan ia mencoba untuk taat kepada Allah serta belajar untuk menggantungkan diri kepada kehendak-Nya sepanjang hidupnya.

Allah akan senantiasa memberikan Roh Kudus-Nya kepada mereka yang mengasihi-Nya dengan tulus. Setiap hari, kita dapat memilih untuk menerima-Nya dan menyambut-Nya, atau kita dapat memilih untuk melakukan hal-hal seturut kemauan kita sendiri. Bagaimana dengan Simeon? Setiap hari Simeon memilih untuk mengasihi dan melayani Allah-nya, dengan demikian dia belajar untuk melakukan segala sesuatu seturut jalan Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus tetap diam dalam dirinya dan bebas menyatakan Yesus kepadanya dengan cara yang begitu indah.

Kita semua (anda dan saya) membutuhkan pengarahan dan penghiburan seperti yang dialami oleh Simeon. Sekarang masalahnya apakah kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan memperolehnya jika kita memintanya? Seperti halnya Simeon, kita pun dapat belajar untuk menggantungkan diri pada Roh Kudus. Seperti Simeon, kita pun dapat merangkul Yesus dan memperkenankan damai-sejahtera-Nya membanjiri hati kita. Sekali Simeon menemukan Yesus, dia tahu bahwa dia dapat meninggal dunia dalam kedamaian. …… “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuatu dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menyatakan kehendak-Mu bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel” (Luk 2:29-32; LAI-TB II). Tidak ada lagi sesuatu pun dalam dunia yang dapat memuaskan hati Simeon, karena dia telah menemukan Yesus. Inilah “Kidung Simeon” yang kita nyanyikan/daraskan setiap malam ketika kita mendoakan Ibadat Penutup. Kita (anda dan saya) pun dpat dipenuhi dengan kedamaian selagi semakin mengenal dan mengasihi Yesus. Tidak ada siapa pun atau apa pun lagi yang dapat memuaskan hati kita.

DOA: Roh Kudus Allah, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau sudi hidup di dalam diriku. Tolonglah agar aku setiap hari dapat berpaling kepada-Mu untuk memohon diberikan hikmat dan penghiburan oleh-Mu. Ya Roh Kudus, datanglah dan memerintahlah semakin mendalam di hatiku. Nyatakanlah Yesus kepadaku dan berdayakanlah aku agar mau dan mampu hidup bagi-Nya pada hari ini. Amin.

Cilandak, 27 Desember 2014 [Pesta S. Yohanes, Rasul & Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN KASIH-NYA YANG SEMPURNA ALLAH INGIN MEMBUANG RASA TAKUT KITA

DENGAN KASIH-NYA YANG SEMPURNA ALLAH INGIN MEMBUANG RASA TAKUT KITA 

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun B], 21 Desember 2014) 

ANNUNCIATION - MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN -1000Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,14a,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Kedua Rm 16:25-27 

Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari bacaan Injil hari ini. Salah satunya adalah bahwa pertemuan antara Maria dan malaikat Gabriel juga menunjukkan bahwa oke-lah untuk sekali-sekali merasa takut atau khawatir atau cemas. Lukas mencatat bahwa Maria terkejut mendengar perkataan sapaan salam sang malaikat, lalu bertanya dalam hatinya, apakah arti salam itu (Luk 1:29). Bahkan Yesus pun kadang-kadang mengalami rasa takut. Berbicara mengenai penyaliban atas diri-Nya yang segera terjadi, Yesus mengatakan: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini” (Yoh 12:27). Walaupun begitu, Yesus berketetapan hati untuk melakukan kehendak Bapa-Nya dan bukan kehendak-Nya sendiri. Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa Maria pun begitu kaget mendengar pemberitahuan malaikat Gabriel. (Terjemahan Inggris dari bahasa Yunani-nya mungkin lebih akurat: … she was greatly troubled at the saying [RSV]; … she was greatly troubled at what was said [NAB]).

ANNUNCIATION - 1Maria mengalami emosi-emosi yang sama seperti kita. Namun ia juga memperkenankan iman dan rasa percaya pada Allah berada di tempat yang paling atas. Dalam menghadapi kabar yang tidak biasanya dan juga mengejutkan serta terdengar tidak masuk akal sehatnya – termasuk utusan yang tidak biasa ini – dalam iman, Maria menarik kesimpulan bahwa kelahiran ajaib yang dikatakan sang malaikat tetap mungkin karena datang dari Allah sendiri. Maria berpikir bahwa Allah tidak akan meninggalkan dirinya, walaupun panggilan kepada dirinya dari Allah adalah sesuatu yang jauh melampaui ekspektasi manusia rata-rata.

Dari perspektif iman, Maria mampu untuk menjawab Gabriel dalam bahasa iman yang rendah hati: “Jadilah padaku menurut perkataanmu ini” (Luk 1:38). Tanpa sedikit pun meminta suatu tanda konfirmasi, Maria mengambil risiko berkaitan dengan nasib perkawinannya dengan Yusuf dan dia menerima kemungkinan besar dihukum rajam karena alasan perzinahan. Maria telah menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Allah, dengan demikian rasa takut tidak pernah menguasai dirinya.  Bagi Maria, Allah adalah baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan.

Nah, sekarang bagaimana kita (anda dan saya) menangani rasa takut kita? Apakah kita menangani rasa takut kita seperti yang dilakukan oleh Maria? Atau, apakah rasa takut itu terasa menindih atau menciutkan iman kita? Apakah rasa cemas atau kekhawatiran kita mengerosi rasa percaya kita pada kebaikan hati Allah? Dalam hal ini baiklah kita merenungkan apa yang ditulis oleh Yohanes dalam salah satu suratnya: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh 4:18).

Akan tetapi, Allah ingin membuang rasa takut kita dengan kasih-Nya yang sempurna. Dia ingin menyempurnakan kita dan mengajar kita untuk bertindak seperti yang  dilakukan Maria. Allah ingin memberikan kepada kita segala karunia dan berkat yang telah diberikan-Nya kepada Maria. Allah ingin menyakinkan kita bahwa apa pun yang diinginkan untuk dilakukan-Nya dalam diri kita akan menghasilkan yang terbaik, sepanjang kita bekerja sama dengan Dia. Jadi, oke-lah untuk merasa takut atau gugup. Namun, janganlah pernah kita lupakan bahwa Allah adalah baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan, walaupun kita tidak memiliki kepastian apa yang diinginkan-Nya dari diri kita.

DOA: Ya Allahku, jagalah agar imanku tidak berdiri atas pasir perasaan yang terus bergerak. Buatlah agar aku mau dan mampu menaruh kepercayaan pada kekokohan kebaikan dan kasih-Mu kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah bacaan dengan judul “ANAK ALLAH YANG MAHATINGGI” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 17 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYERAHAN DIRI SECARA TOTAL KEPADA ALLAH

PENYERAHAN DIRI SECARA TOTAL KEPADA ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 20 Desember 2014) 

ANNUNCIATION - MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN -1001Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Sapaan salam dari sang malaikat tentunya mengejutkan Maria. Dia adalah seorang perawan Yahudi yang masih sangat muda (dalam satu acara BBC, diperkirakan umur Maria pada waktu itu adalah sekitar 14 tahun) dan baru saja dipertunangkan dengan seorang tukang kayu saleh yang bernama Yusuf. Barangkali pada saat-saat itu gadis itu sedang disibukkan dengan tugas-tugas persiapan perkawinannya. Secara tiba-tiba Maria disapa oleh “seorang” utusan dari surga!

Maria sangat terusik dengan kata-kata sapaan malaikat Gabriel, namun dengan cepat sang malaikat meyakinkan diri Maria akan anugerah Allah yang diberikan kepadanya. Malaikat Gabriel mengumumkan rencana ilahi di mana Maria akan turut ambil bagian. Dalam keterkejutannya, Maria memberi tanggapan berikut ini: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Mat 1:34). Namun Maria pada akhirnya mampu untuk menaruh kepercayaan pada kata-kata sang malaikat bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37). Kemudian Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Inilah yang dikenal sebagai fiat Maria.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Kata-kata apa yang dapat menggambarkan dengan lebih baik  tentang hati dari seorang yang memiliki iman sejati seperti ini? Dalam satu kalimat ini, Maria mengungkapkan penyerahan dirinya  secara total kepada Allah. Allah senantiasa rindu untuk melimpah-limpahkan rahmat-Nya kepada umat manusia. Kita juga dipanggil untuk menaruh kepercayaan pada rencana penyelamatan Allah dan terbuka bagi peranan yang Dia inginkan untuk kita mainkan.

Dalam menyongsong hari Natal tahun ini, marilah kita memohon kepada Allah agar Ia menunjukkan kepada kita hal-hal baru apa saja yang Ia inginkan kita lakukan dalam keluarga kita, lingkungan/komunitas basis kita, paroki kita, sekolah kita, tempat kerja kita, lingkungan di sekitar rumah kita dlsb. Tidak ada hal yang terlalu besar dan sulit bagi Allah. Baiklah kita sungguh memperhatikan dorongan-dorongan Roh Kudus dan taat kepada bimbingan-Nya dengan penuh entusiasme.

Apakah yang diminta Allah adalah pertobatan yang lebih mendalam dan meninggalkan hidup dosa kita? Marilah kita masing-masing menjawab: “Ya, Tuhanku dan Allahku!” Apakah yang diminta-Nya adalah suatu keterbukaan baru untuk syering hidup kita dengan orang-orang lain? Marilah kita masing-masing menjawab: “Ya Tuhan, namun hilangkanlah keragu-raguanku dan berikanlah keberanian kepadaku!” Apakah yang diminta-Nya adalah rasa syukur dapat melihat wajah Yesus dalam diri orang-orang miskin? Marilah kita masing-masing menjawab: “Tingkatkanlah kepekaanku, ya Tuhan! Aku akan menerima tugas dari-Mu ke mana saja aku harus pergi!”

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau  memilih Maria sebagai Bunda Yesus dan Bunda Gereja, Bunda kami semua. Maria adalah contoh sempurna bagaimana kami seharusnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Mu yang senantiasa baik untuk kami semua. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMANG DIPILIH OLEH ALLAH SENDIRI”  (bacaan  tanggal 20-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 17  Desember 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers