Posts tagged ‘ROH KUDUS’

REINKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun C] – Kamis, 5 Mei 2016)

 jesus_christ_image_075

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23 atau Ibr 9:24-28; 10:19-23; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yan berjudul “MENGAPA KENAIKAN TUHAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?” (bacaan tanggal 5 Mei 2016) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 4 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [TAHUN C] – 1 Mei 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. (Yoh 14:23-29) 

Bacaan Pertama: Kis 15:1-2,22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Why 21:10-14,22-23 

“Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14:27).

Ketika Yesus berkata kepada para murid-Nya untuk tidak gelisah dan gentar, mereka tidak menyadari bahwa mereka akan segera merasa sangat gelisah. Demikian juga ketika Yesus berkata kepada kita untuk tidak gelisah dalam Injil hari ini, kita mungkin tidak menyadari kata-kata-Nya hendaknya diterima secara pribadi dan dengan segera.

Kita sering kali berpikir bahwa pesan Yesus ini tidak secara khusus ditujukan kepada kita masing-masing, melainkan secara umum saja ditujukan untuk setiap orang. Selain itu, kita mungkin berpikir bahwa segala sesuatu berjalan dengan baik dalam hidup kita, dengan demikian kita tidak mengharapkan segera timbulnya kegelisahan. Pada waktu itu para murid Yesus yang  pertama salah, dan kita pun – para murid Yesus pada abad ke-21 ini – mungkin saja dapat berbuat kesalahan yang sama.

ROHHULKUDUSPara murid Yesus pada waktu itu berada di ambang waktu kegelisahan yang paling dalam dalam hidup mereka. Walaupun kita mungkin tidak mengetahuinya, kita mungkin sungguh-sungguh membutuhkan bantuan Roh Kudus (lihat Yoh 14:26).

Anggaplah bahwa dua pekan dari hari ini kita akan memerlukan pencurahan Roh Kudus – suatu Pentakosta baru – atau kalau tidak, kita akan dirundung oleh kegelisahan. Apakah hal itu akan terjadi atau tidak, kiranya yang paling bijaksana ialah siap untuk segala sesuatu yang akan terjadi, dengan dipenuhi Roh Kudus.

Mungkinkah kita (anda dan saya) menghendaki suatu Pentakosta baru yang melebihi keinginan kita yang lain? Yesus telah berjanji: Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14-25-26). Datanglah, ya Roh Kudus !!!

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku untuk menginginkan kepenuhan Roh Kudus dalam diriku lebih daripada keinginanku untuk bernapas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:23-29), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MEMBANGUN RUMAH DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 1-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 29 April 2016 [Peringatan S. Katarina dr Siena]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu,  16 April  2016) 

PETRUS MENYEMBUHKAN TABITA

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

kis-eneas-disembuhkan-oleh-petrusPetrus  berkata kepada Eneas yang lumpuh untuk bangkit dan memberesi tempat tidurnya, dan orang lumpuh itu sembuh seketika (Kis 9:33-34). Kemudian di Yope Petrus berdoa dan kemudian mengatakan kepada jenazah Tabita: “Tabita, bangkitlah!”; maka Tabita yang sudah mati itu bangkit dan hidup lagi (Kis 9:36-41). Sungguh merupakan mukjizat-mukjizat menakjubkan yang dilakukan Petrus dan para murid Yesus lainnya. Jika kita lihat sejarah Gereja – khususnya sejarah para kudus – maka kita dapat membaca cerita-cerita tentang S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, S. Padre Pio dari Pietrelcina, Santo Don Bosco, dll. yang berdoa dengan penuh kuat-kuasa untuk menyembuhkan, baik ketika mereka masih hidup di atas bumi dan bahkan setelah mereka wafat. Cerita-cerita itu cukup untuk membuat anda menjadi takjub dan terkesima. Apakah para kudus itu mengetahui sesuatu yang kita tidak tahu?

Kebenarannya adalah bahwa di belakang setiap mukjizat, ada sumber unik yang sama: Yesus Kristus. Apakah Petrus sendiri memiliki sejumlah talenta atau karunia/anugerah luarbiasa untuk menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang yang sudah mati? Apakah para kudus memiliki kuasa ilahi atau kuasa ajaib yang menyebabkan mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita dapat lakukan? Tentu saja tidak! “Rahasia” dari keberhasilan, sukses, atau kehebatan mereka adalah Yesus, Tuhan yang sudah bangkit.

Namun kalau dikatakan sebagai “rahasia”, itu juga tidak sepenuhnya benar. Misalnya Petrus secara terbuka mengatakan kepada Eneas: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Tidak ada pekerjaan/karya penyembuhan yang dapat terlaksana dengan kekuatan dan upaya manusia, melainkan hanya oleh kuat-kuasa Yesus yang dimohonkan melalui doa. Sebelum membangkitkan Tabita, Petrus menyuruh setiap orang untuk ke luar ruangan, kemudian dia “berlutut dan berdoa” (Kis 9:40). Kita pun dapat berdoa dalam iman, dengan ekspektasi akan hal-hal luarbiasa dari Yesus. Yesus adalah sumber belas kasih (kerahiman) dan penyembuhan dari Siapa Petrus memperoleh kuat-kuasa untuk menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Tabita.

Dalam doa, kita dapat memohon kesembuhan jiwa dan raga bagi diri kita sendiri. Kita dapat berpartisipasi dalam pelayanan penyembuhan Allah dengan berdoa untuk seseorang yang sedang menderita sakit dan/atau membutuhkan pertolongan. Kelihatannya mengandung risiko atau menakutkan, atau bahkan menggoncang diri kita untuk berani melangkah  dan berdoa dengan cara begini. Namun kita akan mulai memohon dengan penuh keyakinan apabila kita berpikir bagaimana Bapa surgawi ingin mencurahkan  kesembuhan dan kasih atas diri kita. Bahkan apabila kita tidak menerima mukjizat-mukjizat yang kita mohon, hal itu bukanlah berarti bahwa ada cacat atau kekurangan dalam iman kita atau iman orang lain. Allah mempunyai alasan-alasan-Nya sendiri. Walaupun begitu, apa pun yang terjadi kita dapat ikut ambil bagian dalam keyakinan para kudus bahwa Dia mendengarkan. Allah akan senantiasa menggunakan sarana yang paling “pas” (hanya Dia yang mengetahui) untuk memenuhi rencana-Nya bagi hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang besar kepadaku, yang memberikan kepadaku keyakinan untuk mendekati-Mu dalm iman dan memohon kesembuhan dari-Mu dalam nama Putera-Mu, Yesus Kristus. Semoga darah-Nya membersihkan diriku selagi Roh Kudus-Mu bergerak dengan penuh kuasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “IMAN YANG LEBIH KUAT” (bacaan tanggal 16-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 13 April 2016    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABDA ALLAH LEBIH TAJAM DARIPADA PEDANG BERMATA DUA MANA PUN

SABDA ALLAH LEBIH TAJAM DARIPADA PEDANG BERMATA DUA MANA PUN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 2 Maret 2016)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Praha (Ordo II/Klaris) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20

“Siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:19).

Dalam masa Prapaskah, secara khusus kita mengikuti jejak Yesus sewaktu Dia dibimbing oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di sana Yesus berhasil mengalahkan godaan dari Iblis dengan menggunakan sabda Allah. Hal ini dapat kita lihat dalam Injil Lukas. Setiap kali Iblis menggoda-Nya, Yesus menanggapi godaan itu dengan mengucapkan kata-kata: “Ada tertulis” (lihat Luk 4:4,8,10) dan “Ada firman” (Luk 4:12). Kita seharusnya juga menggunakan sabda Allah untuk dapat mengalahkan berbagai godaan.

Namun untuk melaksanakan ini, perlu sekali bagi kita sendiri untuk percaya benar-benar bahwa isi Kitab Suci lebih daripada sekadar “perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tes 2:13). Kita tidak akan menggunakan sabda Allah menentang godaan kalau kita sendiri tidak mendengaran, membaca, berdoa, menghayati dan berbagi sabda itu sewaktu-waktu. Juga apabila kita mengutip sabda Allah, mengapa Iblis harus gemetar bila kita sendiri tidak gemetar atas sabda Allah itu (Yes 66:2), tetapi sekadar ucapan bibir saja?

Kemenangan melalui sabda Allah adalah berdasarkan pada penghayatan sabda Allah itu sendiri. Apabila kita memahami, memelihara dan patuh kepada kata-kata atau sebagian dari kata-kata dari hukum Allah dan sabda-Nya (Mat 5:18), Allah tentu tidak akan meruntuhkan benteng-benteng dan “setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor 10:4-5). Apabila kepatuhan kita pada sabda Allah itu sempurna, maka kita akan memiliki kuasa untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus: (2 Kor 10:5).

Sebelum kita menggunakan sabda Allah sebagai pedang (Ibr 4:12), pertama-tama kita menerima dan menanggapinya sebagai “kegembiraan dan kebahagiaan” hati kita (Yer 15:16).

Saudari dan Saudaraku, cintailah, hayatilah da patuhilah sabda Allah serta berbagilah dengan sesame kita. Lalu kita (anda dan saya) akan dapat menggunakan sabda Allah sebagai pedang guna memerangi serangan si jahat!

DOA: Bapa surgawi, melalui Roh Kudus-Mu, ajarlah aku pertama-tama untuk mencintai sabda-Mu, kemudian baru menggunakannya sebagai pedang Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 2-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 28 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INSTRUMEN INJIL-NYA

INSTRUMEN INJIL-NYA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun C] – 17 Januari 2016) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIADemikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku tidak begitu penting entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan akan apa pun tentang diriku, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan, melainkan Tuhanlah yang menghakimi aku. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu daripada yang lain. Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? Apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-oleh engkau tidak menerimanya? Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kami pun turut menjadi raja dengan kamu. Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kumu mulia, tetapi kami hina.

Sampai saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara. (1 Kor 4:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-10; Bacaan Injil: Yoh 2:1-11

Apakah anda dapat mengakui, “Yesus adalah Tuhan”? Jika anda dapat, maka Kitab Suci memberi jaminan kepada anda bahwa hal itu adalah sebuah tanda pekerjaan Roh Kudus dalam hidup anda (lihat 1Kor 12:3). Namun hal itu baru awalnya, seperti dengan cepat dikemukakan oleh Santo Paulus dalam suratnya. Apakah anda percaya bahwa Roh Kudus ingin bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri anda? Percayakah anda bahwa Roh Kudus ini ingin memberikan kepada anda berbagai karunia/anugerah yang anda dapat gunakan untuk memberitakan Injil dan ikut membangun Gereja?

St Paul Icon 4Apabila kita melihat dari bacaan ini, kelihatannya Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus tentang berbagai karunia spiritual secara terus-terang tanpa embel-embel. Ia tidak perlu meyakinkan mereka tentang keberadaan berbagai karunia tersebut. Semua anggota jemaat di Korintus sudah biasa mendengar tentang karunia-karunia itu (lihat 1Kor 1:7). Dalam suratnya ini, Paulus sekadar menjelaskan bagaimana kiranya karunia-karunia ini seharusnya berfungsi. Kata-kata Paulus di sini adalah bukti bahwa karunia-karunia spiritual dimaksudkan untuk kita semua, tidak hanya untuk diberikan kepada segelintir anggota jemaat. Kesembuhan dan berbagai mukjizat dan tanda heran dapat terjadi pada saat kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita dapat menerima wawasan profetis (kenabian) dari Tuhan seperti juga hikmat yang praktis kita perlukan pada waktu kita berada dalam situasi sulit.

Bahkan karunia-karunia yang lebih bersifat “natural” seperti hospitalitas, pelayanan, kemampuan administrasi dapat mendatangkan berbagai kesempatan untuk memanifestasikan kasih dan kuat-kuasa Allah. Misalnya, hidup dan mati bukanlah sesuatu yang sangat menentukan dalam pesta perkawinan di Kana, namun keprihatinan Maria akan kehormatan tuan rumah telah menyebabkan Yesus membuat “tanda” atau mukjizat-Nya yang pertama. Allah ingin memberikan kepada kita karunia-karunia ini agar kita dapat menolong orang di sekeliling kita, baik di rumah, di RT/RW kita, lingkungan kita, komunitas kita maupun paroki kita. Di atas segalanya, Roh Kudus ingin memberdayakan umat Allah untuk membangun Kerajaan Allah di atas bumi ini.

Pada saat seorang sahabat “curhat” kepada kita tentang situasi sulit yang sedang dihadapinya, maka kita harus memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kata-kata penghiburan atau hikmat. Bagaimana Allah menjawab sebuah doa yang tidak pernah disampaikan kepada-Nya? Baiklah kita melakukan pendampingan terhadap seorang tetangga yang sedang menderita kesulitan hidup, kita melayani orang itu secara berwujud dan menjanjikan kepadanya untuk berdoa agar dia memperoleh penghiburan dari Allah. Baiklah kita juga bergabung dengan orang-orang lain yang sungguh percaya seperti kita dan secara teratur mendoakan para sahabat dan tetangga kita. Dalam hal ini kita harus mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan bekerja dengan kita dan membuat kita sebagai instrumen Injil-Nya. Selagi kita melakukan hal ini, Tuhan akan menunjukkan kepada kita bagaimana mukjizat-mukjizat-Nya menjadi hal yang biasa selagi kita berjalan bersama-Nya dengan penuh kerendahan hati.

DOA: Roh Kudus Allah, aku bersukacita dalam Engkau pada hari ini! Berdaykanlah aku, penuhilah diriku, buatlah aku menjadi seorang pribadi yang berani agar supaya semua orang yang kujumpai akan mendengar tentang kebesaran Allah kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MERAYAKAN KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 17-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-1-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 14 Januari 2016 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA BERDIRI DI SEBELAH KANAN ALLAH

ANAK MANUSIA BERDIRI DI SEBELAH KANAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Sabtu, 26 Desember 2015)

 The-Stoning-Of-St-Stephen

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”  Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

“Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (Kis 7:56).

Dalam hati kita bertanya-tanya karena penasaran. “Apa-apaan ini?” Sungguh merupakan suatu perubahan radikal. Mengapa koq Gereja memperingati/”merayakan” kemartiran Santo Stefanus (martir pertama) yang tragis ini justru sehari setelah merayakan hari besar kelahiran Kristus Tuhan yang penuh damai dan sukacita? Apakah bayangan kita tentang pengadilan dagelan yang kemudian disusul dengan penyiksaan berupa perajaman dengan batu-batu atas diri Santo Stefanus tidak menjadi pelanturan dari keindahan Natal?

Tentunya jawaban dari pertanyaan di atas berurusan dengan perspektif kita. Apabila kita membaca bacaan dari “Kisah Para Rasul” di atas hanya sebagai laporan tentang kamtian seorang martir yang sangat berani (catatan: semua martir adalah pribadi-pribadi yang berani), maka kita luput melihat sesuatu yang sungguh vital. Titik fokus cerita Lukas adalah penglihatan Stefanus tentang “Anak Manusia (Yesus) yang berdiri di sebelah kanan Allah” (lihat Kis 7:56). Pada saat-saat menjelang kematiannya, penglihatan Stefanus bukanlah Yesus di surga yang menyibukkan diri dengan urusan di dalam surga saja. Kita dapat membayangkan bahwa diakon yang suci ini melihat Yesus mengamati apa yang terjadi di atas bumi dengan penuh minat – dan Yesus melibatkan diri lewat tindakan-Nya dengan mencurahkan Roh-Nya ke dalam diri Stefanus.

Kita harus mengingat juga bahwa para pemuka/pemimpin agama yang menghendaki dijatuhinya hukuman mati atas diri Stefanus adalah orang-orang yang sama kepada siapa Yesus telah memprediksikan pemuliaan-Nya sendiri: “Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa”  (Luk 22:69). Sekarang, selagi Roh Kudus menginspirasikan Stefanus untuk menggemakan sabda Yesus tersebut (Kis 7:56),  mereka belajar bahwa nubuatan Yesus tadi telah terpenuhi! Hal ini sangat mungkin membuat kemurkaan mereka semakin menjadi-jadi, namun bagi kita umat Kristiani, hal ini (justru) hanyalah memperbesar dan membuat lengkap sukacita Natal kita.

Kemarin kita melihat Yesus, Dia yang adalah pemenuhan semua janji Allah, baru mengawali misi-Nya sebagai seorang bayi kecil-mungil. Pada hari ini kita melihat Yesus sebagai Tuhan yang dimuliakan dan telah menyelesaikan misi-Nya dan sekarang duduk di takhta surgawi mengawasi ciptaan-Nya. Bayi kecil-mungil tak berdaya dalam palungan itu sesungguhnya adalah Tuhan atas langit dan bumi! Dia datang kembali dalam kemuliaan untuk membawa semua sejarah menuju akhirnya yang dramatis.

Karena Stefanus mempunyai gambaran besar tentang Yesus ini, maka dia mampu untuk berdiri teguh selama proses pengadilan dagelan berlangsung dan ia juga mampu untuk menyerahkan hidupnya dengan penuh sukacita. Nah, kita pun membutuhkan gambaran tentang Yesus yang diperlebar ini. Walaupun kita mungkin tidak dipanggil untuk menjadi martir seperti Stefanus, kita emua menghadapi berbagai kemartiran kecil setiap hari. Sungguh membesarkan hatilah jika kita mengetahui bahwa kita mempunyai Yesus – dalam segala kemuliaan-Nya – untuk berjuang dalam kehidupan ini dengan baik sebagai para murid-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mataku agar dapat melihat kehadiran-Mu yang penuh kemuliaan. Kelahiran-Mu membawa diri-Mu menjadi begitu dekat dengan umat manusia dan tentunya juga diriku. Tolonglah diriku agar dapat melihat bahwa Engkau tetap berada di dekatku, walaupun Engkau memerintah dari kemuliaan surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:17-22), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA” (bacaan tanggal 26-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak,  23 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG KURANG DIKENAL [2]

DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG KURANG DIKENAL [2]

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul – Rabu, 28 Oktober 2015) 

Simon_the_ZealotDemikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Ef 2:19-22) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Luk 6:12-19

Simon dan Yudas – apa saja yang kita sungguh ketahui tentang kedua orang rasul ini? Kita tahu bahwa Santo Yudas dipanggil dengan nama Tadeus, dan guna membedakannya dengan si pengkhianat Yudas Iskariot, kita menggunakan nama yang lengkap: Santo Yudas Tadeus. Dalam lingkup Gereja, Santo Yudas Tadeus ditetapkan sebagai orang kudus pelindung orang-orang yang berbeban berat, berputus asa atau menghadapi kasus-kasus  yang terasa tak berpengharapan. Simon dipanggil juga Simon Zeloti. Kita tidak tahu banyak tentang kelompok Zeloti ini, kabarnya kaum revolusioner bersenjata dalam melawan penjajahan Roma atas Israel, …… tujuannya: kemerdekaan Israel! Kita dapat saja mengira-ngira bagaimanakah kiranya hubungan rasul Simon dengan rasul Matius, mantan kolaborator atau antek penjajah Romawi. Namun semuanya berhenti di situ, karena kita tidak mempunyai informasi yang memadai!

Walaupun tidak jelas sekali, Simon dan Yudas dipilih oleh Yesus sendiri setelah sepanjang malam berdoa (lihat Luk 6:12) – sebagai batu-batu fondasi dari Gereja-Nya. Mereka berdua bersama sepuluh rasul lainnya membentuk sebuah komunitas yang seimbang guna saling memperhatikan, saling mendukung, dlsb. Simon dan Yudas juga juga diutus seperti para rasul lainnya, untuk menyebar-luaskan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Tidak ada satu pun dari para rasul itu yang memadai untuk melaksanakan tugas itu, namun masing-masing tetap esensial.

Santo Paulus mengatakan bahwa kita telah menjadi “kawan sewarga dengan orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang telah dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru” (Ef 2:19-20). Seperti Yesus telah memanggil Simon dan Yudas, Ia juga memilih kita. Bersama-sama kita membentuk  sebuah “bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kita juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (lihat Ef 2:21-22). Kita adalah kehadiran yang hidup dari Kristus di atas bumi, kehadiran-Nya yang memberi-kehidupan.

SAINT JUDEYesus masih memanggil para murid untuk masuk ke dalam persekutuan-Nya. Bagian dari tugas yang diberikan-Nya kepada kita adalah untuk menyambut “orang asing dan pendatang”  (Ef 2:19) yang datang kepada kita. Kita memperkenalkan mereka kepada Yesus dan membuat mereka kerasan dengan saudari-saudara pengikut Kristus lainnya. Hal ini mencakup syering cerita-cerita kita dan mendengarkan dengan serius berbagai ungkapan pengharapan mereka dlsb. Selagi mereka semakin menyatukan diri dengan sang batu penjuru – Yesus – maka mereka akan membuat Bait Suci kita menjadi semakin lengkap, semakin indah, semakin berguna, dan semakin memiliki ruang gerak. Mereka akan mampu melakukan penginjilan (evangelisasi) kepada orang-orang lain, yang akan tetap menjadi orang-orang asing bagi kita jika kita tadinya tidak menyambut mereka.

Sebagai para anggota Gereja, kita masih mengemban amanat Yesus untuk melakukan evangelisasi ke seluruh dunia (lihat Mat 28:18-20). Tidak ada seorang pun dari kita dapat melakukan segalanya atau mencapai semua orang, namun kita masing-masing adalah sebuah mata-rantai esensial dalam rencana Allah.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa dan mohon bimbingan Roh Kudus bagaimana kiranya cara terbaik bagi kita masing-masing untuk mempraktekkan hospitalitas Kristiani terhadap orang-orang lain dalam keluarga kita, lingkungan di mana kita hidup, lingkungan gerejawi, komunitas, paroki, sekolah atau tempat kerja kita masing-masing.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berkatilah semua orang yang telah Engkau panggil. Semoga kami mampu melihat martabat kami sendiri di mata-Mu. Bukalah hati kami lebar-lebar bagi harta-kekayaan yang telah Kausediakan bagi kami, seperti yang Kausediakan bagi Santo Simon dan Santo Yudas Tadeus. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS, RASUL-RASUL KRISTUS [2]” (bacaan untuk tanggal 28-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 25 Oktober 2015 [HARI MINGGU BIASA XXX – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers