Posts tagged ‘ROH KUDUS’

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [TAHUN B], 22 April 2018)

HARI MINGGU PANGGILAN

Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:8-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2; Bacaan Injil: Yoh 10:11-18 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12)

Ada pesan indah yang terdapat dalam cerita tentang seorang lumpuh yang disembuhkan dalam nama Yesus (lihat Kis 3:1-10; bacaan pertama Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah). Orang itu lumpuh sejak lahir dan sudah berumur 40 tahun. Setelah disembuhkan, akhirnya dia mampu masuk ke dalam Bait Allah, sambil melompat-lompat serta memuji-muji Allah (lihat Kis 3:8). Karena mukjizat itu orang-orang berkumpul, dan Petrus pun mulai berkhotbah. Dia berbicara kepada orang-orang itu tentang keselamatan yang dari Yesus dan memberi kesaksian yang berani perihal kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kita dapat membayangkan betapa hati para pendengar yang menjadi percaya begitu dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan.

Namun demikian, para pemuka agama Yahudi tidak mau menerima Kabar Baik tersebut, mereka malah menolaknya mentah-mentah. Kendati pun ada bukti jelas perihal kesembuhan orang lumpuh yang sekarang jelas-jelas sehat berdiri di depan mereka dan mereka pun menerima terlibatnya kuat-kuasa tertentu di luar kekuatan yang bersifat alamiah dalam “keajaiban” tersebut, para pemuka agama Yahudi itu tetap saja menolaknya.

Dengan Wafat dan Kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelamatkan kita semua (bdk. Tit 3:5). Untuk menerima anugerah keselamatan ini, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus mengakui kebutuhan kita untuk diselamatkan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23), dan kita tidak bisa serta tidak mampu untuk memberi silih atas satu dosa saja dari segala dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangat fatal dan merusak. Maka untuk mengakui adanya kebutuhan untuk diselamatkan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita.

Apabila kita menahan rasa salah atau malahan menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena memandang diri kita tidak dapat berbuat salah, maka kita tidak akan pernah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau menerima kenyataan adanya kebutuhan kita untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus – pada hari Pentakosta dan setelahnya – mengkhotbahkan pesan adanya kesalahan dan dosa-dosa kita-manusia selain pesan tentang adanya penyelamatan. Sang Rasul berkata kepada para pemuka agama Yahudi: “…… Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, ……” (Kis 4:10; bdk. 2:23). “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22). “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telaah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15), “…… karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu diampuni” (Kis 3:19).

Sekarang, marilah kita mengingat berbagai dosa dan kesalahan kita masing-masing. Baiklah kita mengakui bahwa kita masing-masing sebenarnya ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara, penyaliban sampai mati dari Yesus itu. Tujuan akhir dari proses ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang bangkit.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, jadikanlah aku seorang pribadi yang dapat merasakan diri bersalah karena hal ini sehat dan berikanlah kepadaku iman agar dapat sungguh selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “IA MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA” (bacaan tanggal 22-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandaak, 18 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan:  Mzm 66:1-3a,4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40

Seperti Stefanus dan para murid/rasul yang lain, Filipus juga orang biasa-biasa saja, seperti kita. Hanya ada satu rahasia dari Filipus ini … dia menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya kepada Yesus. Karena dirinya dipenuhi Roh Kudus, maka Filipus mampu untuk membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, juga mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus.

Stefanus dan Filipus adalah “orang-orang biasa” yang melakukan “hal-hal luarbiasa” oleh kuat-kuasa Roh Kudus dalam diri mereka. Pada setiap zaman, Allah mencari orang-orang biasa yang mau memberikan diri mereka kepada Yesus dan menjadi alat-alat-Nya dalam dunia.

Berbagai mukjizat, tanda heran, dan penyembuhan, merupakan bagian-bagian hakiki dari Injil. Allah tidak bermaksud bahwa peristiwa-peristiwa istimewa ini hanya terjadi pada zaman Yesus di tanah Palestina dulu. Semua itu juga bukan merupakan “bumbu pemanis” dalam kitab-kitab Injil, bukan dongeng atau pun mitos, yang disusun oleh Gereja Perdana untuk tujuan pengajaran. Dalam setiap generasi Allah melakukan hal-hal yang dipenuhi keajaiban melalui pelayan-pelayan-Nya yang nota bene  adalah orang-orang biasa. Berbagai mukjizat, tanda-tanda heran lainnya, pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan merupakan suatu bagian integral dari setiap kegiatan evangelisasi.

Dari bacaan Injil kita dapat melihat, bahwa Yesus membuat mukjizat, mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang sakit secara tetap, namun bukan maksud Yesus untuk memperagakan showmanship atau “tebar pesona”. Samasekali bukan! Yesus bukan tukang sulap, bukan seorang entertainer dan bukan pula seorang stage performer (pemain panggung) pada umumnya. Setiap mukjizat yang dibuat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya dan kepada Bapa-Nya yang berbelas-kasih. Kuasa Allah menakjubkan yang bekerja dalam diri dan melalui Filipus seyogianya menjadi pelajaran sangat berguna bagi kita semua, bahwa kita dapat mengandalkan diri pada rahmat Allah untuk hal-hal yang tidak terbatas pada kebutuhan kita sehari-hari. Mukjizat-mukjizat terjadi setiap hari manakala Allah bergerak. Ia pun memiliki hasrat mendalam agar berbagai mukjizat menjadi bagian dari pengalaman hidup kita juga.

Allah memberikan karunia-karunia berbeda-beda kepada masing-masing kita (lihat 1Kor 12 dan 14; bdk. Ef 4). Akan tetapi karya Roh Kudus dapat terhambat apabila kita dibatasi/membatasi diri dengan ide-ide yang sudah ada dalam pikiran kita tentang apa yang dapat kita harapkan dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar kita dapat memahami Injil dan kuasa pesan Injil itu secara lebih mendalam. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan oleh Allah. Kita harus yakin bahwa Allah melakukan apa saja untuk memulihkan kita – dalam roh, pikiran dan fisik kita. Baiklah kita menghadap Dia setiap hari dengan ketaatan yang penuh kerendahan-hati. Kita persilahkan kuasa-Nya yang menakjubkan untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku membuka pintu hatiku lebar-lebar bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus dan ubahlah aku. Tolonglah aku agar dapat menerima karunia-karunia yang kaukehendaki untuk dianugerahkan kepadaku, sehingga dengan demikian aku dapat mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus dengan efektif. Perkenankanlah aku mengalami kuat-kuasa-Mu yang menakjubkan itu dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 18-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 16 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

DEMIKIANLAH HALNYA DENGAN TIAP-TIAP ORANG YANG LAHIR DARI ROH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 10 April 2018)

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5 

Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.

Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.

Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:32-37), bacalah tulisan yang berjudul “GEREJA MEMBUTUHKAN BARNABAS-BARNABAS” (bacaan tanggal 10-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 6 April 2018 [HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS YANG SAMA

ROH KUDUS YANG SAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 7 April 2018)

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, dan berkata, “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mukjizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama ini.” Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi Petrus  dan Yohanes menjawab mereka, “Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.” Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. (Kis 4:13-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Injil: Mrk 16:9-15 

Pada hari Pentakosta, Bapa surgawi mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas mereka yang percaya kepada Yesus, dan mereka pun diubah. Para murid Yesus “orang-orang biasa yang tak terpelajar”, namun setelah Roh Kudus dicurahkan atas diri mereka, mereka pun dengan berani mulai berbicara mengenai Guru dan Tuhan mereka sehingga para pemuka/pemimpin agama Yahudi tidak dapat berkata-kata apapun untuk membantahnya (lihat Kis 4:13). Bahkan ancaman hukuman fisik pun tidak membuat para murid menjadi takut dan gentar untuk terus melakukan misi penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 4:19-20).

Roh Kudus yang sama, yang memberikan keberanian dan ketetapan-hati kepada Petrus dan Yohanes dalam melayani Kerajaan Allah, juga tersedia bagi umat Kristiani sejak saat itu. Dalam setiap generasi, kita dapat melihat pribadi-pribadi yang menanggapi dengan sepenuh hati gerakan Roh Kudus dalam diri mereka masing-masing. Pada awal hidup pertobatannya, S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mendengar suara Yesus yang tersalib di gereja kecil San Damiano berkata, “Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku”. Fransiskus begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah Tuhan itu secara harfiah, sehingga tidak lama kemudian ia mulai memperbaiki gereja yang memang sudah mulai rusak dan reyot itu. Setelah sekian lama, Fransiskus menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana yang lebih luas. Fransiskus adalah pendiri dari keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik dan spiritualitasnya dihayati juga oleh umat Kristiani non-katolik dari sejumlah denominasi yang memilih hidup membiara, misalnya dalam gereja Anglikan, Lutheran dan lainnya. Keluarga rohani ini telah mempersembahkan banyak martir Kristus selama beberapa abad sejak didirikan.

Karena cintakasihnya kepada Allah dan keyakinannya pada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, S. Ignatius dari Loyola [1491-1556] mempengaruhi banyak laki-laki untuk mengabdikan diri mereka kepada Yesus. Inilah para imam dan bruder Serikat Yesus (Yesuit) yang sangat berjasa sebagai misionaris ke seluruh bumi (lihat Mrk 16:15), termasuk Indonesia. Dalam zaman modern kita mengenal nama-nama seperti Dietrich Bonhoeffer (Teolog Protestan yang dihormati oleh para teolog Katolik), S. Edith Stein (biarawati Karmelites turunan Yahudi), S. Maximilian Kolbe (imam Fransiskan Conventual dari Polandia) dan banyak sekali lainnya yang menjadi saksi Kristus di bawah kekejaman rezim Nazi Jerman.

Di India ada S. Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati-biarawan pengikutnya. Amerika Serikat mempunyai Dorothy Day. Di Kanada ada Catherine Doherty, pendiri Madonna House di Ontario. Mereka semua dengan penuh semangat melayani orang-orang miskin dan terbuang di banyak tempat di dunia.  Tidak sulitlah bagi kita untuk mengenali adanya cintakasih berkobar-kobar yang dinyalakan oleh Roh Kudus, dan kemampuan untuk menjadi saksi Kristus dalam situasi yang bagaimana pun berbahayanya bagi jiwa mereka. Masih jelas dalam ingatan kita tentunya bagaimana almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) berdiri tegak di atas panggung dunia sebagai seorang pribadi yang sungguh dipenuhi dengan Roh Kudus dan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus itu. Saya pribadi masih suka membayangkan bagaimana seorang pemimpin Gereja Katolik mau dengan rendah-hati mohon ampun atas berbagai kesalahan Gereja di masa lampau, termasuk perlakuan Gereja terhadap orang-orang Yahudi. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi apabila tidak ada Roh-Nya yang membimbing Bapa Suci? Walaupun sudah tua, menderita kelemahan fisik, menghadapi hujatan dari kiri dan kanan, Paus ini tetap melangkah maju dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia.

Pesan yang diinginkan semua orang ini untuk kita “dengar” lewat kesaksian hidup mereka adalah, bahwa kita masing-masing yang dibawa ke dalam persatuan dengan Kristus melalui baptisan telah menjadi sebuah bejana Roh Kudus. Kita semua diberdayakan oleh Roh Kudus untuk turut memajukan Kerajaan Allah dalam status/keadaan kita masing-masing, dengan cara kita masing-masing yang unik. Kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus lewat apa yang kita katakan dan hayati dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami melalui baptisan. Roh Kudus, lanjutkanlah karya-Mu dalam diri kami. Pakailah kami untuk tujuan-tujuan-Mu dan kemuliaan-Mu kapan saja dan di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:9-15), bacalah tulisan dengan judul “KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 7-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 4 April 2012 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LEBIH BAIK BAGI ORANG ITU SEKIRANYA IA TIDAK DILAHIRKAN

LEBIH BAIK BAGI ORANG ITU SEKIRANYA IA TIDAK DILAHIRKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 28 Maret 2018)

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Mengapa Yudas mengkhianati Yesus? Kita dapat menemukan jawaban terhadap pertanyaan ini dalam konflik antara “daging” dan “roh” yang ada dalam setiap orang. Kehidupan Yudas Iskariot dikemudikan oleh dorongan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memuliakan-diri sendiri (Inggris: a strong sense of self-glorification) dan hal ini memungkinkan kedagingannya bergerak  bebas ke sana ke mari.

Hasrat-hasrat kedagingan Yudas (dan para murid lainnya) bertentangan secara tajam dengan hasrat perempuan yang datang ketika Yesus berada dalam rumah Simon si kusta di Betania; dia yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang mahal (Mat 26:6-7). Dari sudut pandang yang rasional, reaksi mendongkolkan dari Yudas (dan para murid lainnya) terhadap pengurapan perempuan itu atas diri Yesus kiranya mengandung kebenaran juga. Uang sejumlah 300 dinar dari hasil penjualan minyak narwastu yang mahal itu memang dapat menolong banyak orang yang membutuhkan (Mat 26:9). Akan tetapi, sebenarnya “orang miskin” bukanlah keprihatinan si Yudas; dia hanyalah seorang “koruptor” yang munafik. Hal ini terungkap dalam Injil Yohanes yang mencatat peristiwa serupa, namun terjadi di rumah Lazarus di Betania dan perempuan itu adalah Maria, salah seorang saudara perempuan dari Lazarus (lihat Yoh 12:6). Menurut Yesus perempuan itu justru “telah melakukan perbuatan baik” pada-Nya (Mat 26:10). Dia  sungguh mencari Allah dan dalam rohnya dia melihat Yesus sebagai Pribadi yang datang untuk memberikan kehidupan bagi dunia. Ungkapan cinta-kasih dan syukurnya sungguh memuliakan Yesus, teristimewa sebagai persiapan penguburan-Nya (Mat 26:12; Mrk 14:8).

Di taman Getsemani, Yesus menasihati Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang berniat  baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Yudas tidak dapat bertahan dalam menghadapi dan menanggung “saat-saat pencobaan” karena dia tidak pernah mencari Allah, untuk mengenal-Nya dalam roh. Karena tidak mampu melihat rencana Allah yang lebih besar, nanti kita akan melihat bahwa Yudas menjadi putus-asa dan menggantung dirinya sendiri (Mat 27:3-5). Akan tetapi, Petrus berhasil bertahan pada “saat-saat pencobaan”. Seperti juga halnya dengan Yudas, dia mengalami kegalauan karena telah mengkhianati Yesus (Mat 26:75), namun – tidak seperti Yudas – Petrus juga terbuka bagi Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus dan dalam rohnya memahami keindahan dari rencana penyelamatan Allah. Kemudian dia bertindak atas dasar pengalaman ini dan mulai mewartakan Injil dengan penuh kuat-kuasa (Kis 2:14-36).

Semakin kita melangkah maju untuk memperoleh penerangan atas roh kita dengan kebenaran-kebenaran ilahi, semakin banyak pula kita akan dituntun oleh Roh Kudus dan semakin sedikit pula kita akan hidup dalam daging. Dengan taat menekuni resolusi-resolusi kita untuk masa Prapaskah, kita bekerja-sama dengan rahmat allah dan mulai untuk hidup dalam roh secara lebih mendalam.

DOA: Datanglah, Roh Kudus Allah. Ajarlah kami untuk membuka diri bagi kehadiran Allah. Tolonglah kami untuk membuang segala cara kedagingan dan hidup dalam roh ketika kami memeluk rencana Allah yang penuh kasih bagi kami semua dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan berjudul “KATA YESUS KEPADA YUDAS: ENGKAU TELAH MENGATAKANNYA” (bacaan tanggal 28-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

Cilandak, 24 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9

“Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:11) 

Kata-kata ini terdengar pada saat pembaptisan Yesus, tidak lama sebelum Ia mengawali pelayanan-Nya di muka umum. Ada yang mengatakan  bahwa mungkin saja kata-kata yang sama terdengar-ulang namun dengan nada suara yang lebih menyedihkan, pada saat akhir karya pelayanan Yesus, yakni ketika Dia terpaku di kayu salib, lalu “menghembuskan napas terakhir-Nya” (Mrk 16:37). Yang mau dikemukakan di sini adalah bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus sungguh adalah “Anak terkasih Bapa dan sungguh berkenan kepada-Nya”.

Itulah mengapa tidak hanya Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus dan memandang kepada-Nya. Ketika untuk pertama kalinya dia berkhotbah di depan Kornelius dan keluarganya, Petrus memproklamasikan martabat ketuhanan Yesus di atas segalanya – bagaimana Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan kuasa (Kis 10:36-38). Namun jauh sebelum Petrus, nabi Yesaya dengan fasihnya telah bernubuat mengenai Sang Mesias sebagai seseorang yang dipilih Allah dan kepadanya Dia berkenan: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”  (Yes 42:1).

Bagaimana dengan kita sendiri? Kita juga perlu memandang Yesus, memusatkan hidup kita pada-Nya dan belajar “Siapa Dia sebenarnya”. Terlalu sering pusat hidup kita adalah diri kita sendiri, bahkan dalam spiritualitas kita …… kita berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih suci, lebih penuh sukacita. Namun sukacita Bapa surgawi terletak pada Yesus; sukacita Roh Kudus adalah untuk mengajar kita siapa Yesus itu. Yesus adalah sungguh dan sepenuhnya manusia, namun Ia juga sungguh dan sepenuhnya ilahi. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah contoh sempurna bagaimana kita seharusnya menjadi – hidup sepenuhnya, terbuka sepenuhnya kepada Allah, sadar sepenuhnya tentang potensi kita sebagai mahluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26).

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesus berbeda, namun memerlukan Roh Kudus untuk mengajarkan kepadanya sampai dia dapat mengatakan: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:34). Para murid hidup beberapa tahun dengan Yesus dan hanya secara perlahan-lahan mereka pun baru menyadari apa yang membuat Dia begitu berbeda dengan mereka, dalam cara berpikir, berkata-kata dan bertindak. Namun hanya setelah Roh Kudus turun atas diri mereka pada hari Pentakosta-lah para murid mampu untuk mulai berkhotbah kepada orang-orang lain mengenai “Siapa Yesus itu” (Kis 2:1-40).

Selagi kita merayakan turun-Nya Roh Kudus pada waktu pembaptisan Yesus, baiklah kita berdoa agar supaya Roh Kudus turun ke atas diri kita secara baru, bahwa Dia akan memperdalam perwahyuan akan Yesus, kepada siapa Allah berkenan. Baiklah kita mohon kepada Roh Allah untuk mendaftarkan kita ke dalam Sekolah Kristus, sehingga kita dapat belajar dari Yesus sang Guru. Kita mau mohon agar ke-aku-an kita semakin mengecil sehingga dengan demikian Kristus pun dapat semakin meningkat besar dalam diri kita. Pada suatu saat kelak, ketika Bapa surgawi memandang kita, semoga Dia melihat kita sebagai para murid Yesus yang sudah menjadi seperti Anak-Nya sendiri, dan kita pun berkenan kepada-Nya. 

DOA: Allah yang Mahakasih dan Penyayang, tolonglah kami agar dapat menjadi murid sejati dari Anak-Mu, Yesus Kristus sehingga kami dapat selalu mengikuti kehendak-Mu yang kudus. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikuti panggilan-Mu sehingga kebenaran-Mu dapat berdiam dalam hati kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 8-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 6 Januari 2018

Keluarga OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam

HARI SABTU IMAM 

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38 

Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melihat langit terkoyak dan misteri “Allah Tritunggal Mahakudus” (Trinitas) dibuat menjadi nyata. Ia mendengar suara Bapa-Nya yang mencurahkan berkat-Nya atas diri-Nya, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas diri-Nya.

Yesus dari Nazaret seorang manusia tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia berdosa dengan cara menerima pembaptisan-tobat. Karena ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa bagi diri-Nya, karena kemauan-Nya untuk memeluk dosa-dosa kita dan menghancurkan semua itu pada kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang setia. Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah hamba Tuhan yang kematian-Nya akan berakibat terwujudnya pencurahan Roh Kudus atas diri kita semua.

Setelah dibenamkan dalam kehidupan yang telah “ditakdirkan” oleh Allah bagi diri-Nya, Yesus masuk ke tengah dunia memproklamasikan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat serta tanda heran lainnya. Karena kelimpahan Roh dalam diri-Nya, Yesus mampu untuk melakukan segala keajaiban ini dan untuk memanifestasikan kasih Allah secara begitu lengkap. Ia menyiapkan para pengikut-Nya untuk menerima Roh Kudus yang sama.

Kita yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus ini. Kita pun dapat mendengar Bapa surgawi berkata tentang diri kita masing-masing: “Ini adalah anak-Ku yang terkasih.” Kita dapat mengenal dan memberi kesaksian tentang kasih dan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan kita. Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., pengkhotbah untuk rumahtangga Kepausan pada masa Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) menulis dalam sebuah bukunya: “Kita telah diselamatkan sehingga pada gilirannya kita akan mampu untuk melakukan – melalui rahmat dan iman – pekerjaan-pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya bagi kita yang adalah buah-buah Roh” (Mary Mirror of the Church, hal. 71). Satu lagi: “Api Roh diberikan kepada kita pada saat Baptisan. Kita harus membuang abu yang telah membuat-Nya kurang dapat bernapas, agar dengan demikian dapat berkobar lagi dan membuat kita mampu mengasihi” (Life in the Lordship of Jesus Christ, hal. 154).

Hari ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Putera-Mu yang terkasih, pada waktu Dia dibaptis di Sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas diri-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami menghaturkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PADA SAAT PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 6-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 3 Januari 2018 [Peringataan Nama Yesus Yang Tersuci] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS