Posts tagged ‘ROH KUDUS’

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 11 Mei 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan Kapusin  

jesus-christ-super-starYa Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjagas mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 20:28-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29-30,33-36 

Yesus sedang mempersiapkan diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya. Dalam doa bagi para murid-Nya ini, Dia mempercayakan mereka kepada pemeliharaan penuh perhatian dari Bapa surgawi. Sungguh merupakan suatu momen yang penuh berkat dan kelemah-lembutan-Nya sebagai Guru dan Gembala bagi mereka, juga sebagai Imam Besar Agung (lihat Ibr 4:14), sang Pengantara dengan Bapa. Yesus telah hidup dan melayani bersama mereka selama tiga tahun – menjaga mereka, mengajar mereka, membentuk/membina mereka dan mengasihi mereka dengan kasih Allah sendiri. Bapa telah memberikan mereka kepada Yesus, dan sekarang Yesus memberikan mereka kembali kepada Bapa-Nya. Bagaimana Bapa akan menjaga dan melindungi mereka? Dengan cara yang penuh kemuliaan, yaitu dengan mengutus Roh Kudus, tidak hanya kepada mereka yang berkumpul di ruang atas (senakel), melainkan kepada semua orang yang meminta (lihat Yoh 17:20-21).

Kita sekarang sedang berada dalam masa persiapan perayaan Hari Raya Pentakosta. Kita menantikan kedatangan Roh Kudus dalam kepenuhan-Nya seperti yang ingin dicurahkan atas diri kita oleh Allah Bapa. Allah tidak pernah merasa lelah untuk melakukan kebaikan atas diri umat-Nya. Dia selalu siap untuk melimpah-limpahkan rahmat dan kuat-kuasa-Nya atas diri mereka yang mencari diri-Nya.

pentecost-canadaApakah yang dapat kita harapkan dari Roh Kudus untuk dilakukan-Nya dalam hati kita? Yesus berdoa bahwa melalui Roh Kudus, Bapa akan melindungi kita dari yang jahat [si Jahat] (Yoh 17:15). Yesus juga berdoa agar sukacita-Nya sendiri dapat memenuhi diri kita (Yoh 17:13).  Oleh Roh Kudus, kita dapat mengetahui kebenaran, dan memperkenankan kebenaran itu untuk memisahkan/menguduskan kita bagi Kristus (Yoh 17:19). Kita dapat mengenal dan mengalami kesatuan satu sama lain – kesatuan yang sama seperti yang dimiliki oleh Yesus dan Bapa-Nya (Yoh 17:21). Kita dapat mengasihi sebagaimana Allah mengasihi (lihat Rm 5:5). Kita dapat meyaksikan godaan dan dosa dikalahkan (lihat Rm 8:13).

Semua karunia yang indah ini – dan banyak lagi – adalah milik kita karena Roh Kudus telah datang untuk memasukkan  kita ke dalam kehidupan Allah sendiri: “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:13). Roh Kudus telah dicurahkan ke dalam diri kita untuk membuat kita bersatu dengan Allah. Selagi kita menantikan Hari Raya Pentakosta yang agung ini, marilah kita berdoa dengan penuh pengharapan:

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu guna menyatukan kami masing-masing dengan Dikau dan Putera-Mu terkasih, Tuhan Yesus Kristus. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, utuslah kami untuk mewartakan sabda-Mu, dengan demikian memperbaharui muka bumi! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN YESUS DALAM BERDOA” (bacaan tanggal 11-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM   http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN MEI 2016.   

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 9 Mei 2016 [Peringatan S. Katarina dr Bologna, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 9 Mei 2016)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Katarina dr Bologna, Perawan – Klaris 

006-paul-ephesus

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33 

“Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?”  (Kis 19:2).

Beberapa orang murid dari Efesus menyatakan diri sebagai sudah beriman (Kis 19:2). Paulus mempertanyakan ini karena mereka nampaknya belum pernah menerima Roh Kudus. Ketika diketahui apa yang sesungguhnya terjadi, ternyata mereka bukanlah murid-murid Yesus melainkan murid-murid Yohanes Pembaptis. Memang mereka telah dibaptis, tetapi dengan baptisan Yohanes yang adalah baptisan tobat. Oleh karena itu Paulus menjelaskan kepada mereka tentang perbedaan antara baptisan Yohanes dan baptisan dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian Paulus membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus dan meletakkan tangannya atas mereka (Kis 19:5-6).

ROHHULKUDUS“Kisah para Rasul” mencatat bahwa ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:6). Tak diragukan lagi, sejak saat itu mereka benar-benar dapat dinamakan murid-murid Yesus.

Dari Bacaan Injil hari ini, para murid Yesus percaya bahwa Ia datang dari Allah (Yoh 16:30). Namun demikian Yesus mempertanyakan ini karena Dia tahu bahwa para murid-Nya tersebut akan tercerai-berai dan akan meninggalkan Dia seorang diri (Yoh 16:31-32). Kita – orang-orang yang menamakan diri Kristiani – juga tercerai-berai dan tersebar menjadi begitu banyak golongan, denominasi dan sekte.

Bukankah seharusnya kita bersekutu dalam doa, menyambut tubuh-Nya dalam Komuni Kudus, membaca Kitab Suci, atau bersatu dengan saudari dan saudara kita di dalam Kristus? Benar, namun pada kenyataannya kita meninggalkan Tuhan Yesus seorang diri. Inilah yang menyebabkan iman kita patut dipertanyakan.

Melalui Pentakosta ini marilah kita menerima Roh kesatuan (lihat Ef 4:3) dan Roh Kuasa. Dengan demikian, Yesus tidak perlu lagi meragukan iman-kepercayaan kita dan Dia dapat berkata kepada kita: “Besar imanmu!” (lihat Mat 15:28).

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI KEHADIRAN ROH KUDUS DI DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 9-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 8 Mei 2016 [HARI MINGGU PASKA VII – TAHUN C – HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KASIH ALLAH YANG MEMOTIVASI SEGALA SIKAP DAN PERILAKU YESUS TERHADAP PARA MURID-NYA

KASIH ALLAH YANG MEMOTIVASI SEGALA SIKAP DAN PERILAKU YESUS TERHADAP PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [TAHUN C] – 8 Mei 2016)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

YESUS BERDOA - 1Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka. (Yoh 17:20-26) 

Bacaan Pertama: Kis 7:55-60; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,6-7,9; Bacaan Kedua: Why 22:12-14,16-17,20 

Siapakah yang dapat membayangkan kasih yang sedemikian, seperti diungkapkan dalam doa Yesus ini? Mengetahui bahwa tidak lama lagi diri-Nya akan mengalami kematian yang sangat mengerikan, Yesus – Imam Besar Agung kita – memohon kepada Bapa-Nya agar melimpahkan kepada kita, kasih-Nya sendiri bagi Putera-Nya sejak sebelum dunia dijadikan, kasih Roh Kudus: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Hal ini sungguh indah menakjubkan … dalam kasih-Nya, Allah tidak membeda-bedakan!

Marilah kita merenungkan sejenak betapa mendalam Allah mengasihi Putera-Nya, Yesus. Karena kasih-Nya kepada Putera-Nya itu, maka Allah menentukan untuk memberikan segenap ciptaan kepada Yesus: “… di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah begitu mengasihi Yesus sehingga pada saat pembaptisan-Nya di sungai Yordan Dia dengan penuh sukacita mendeklarasikan di depan semua orang yang hadir: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Ludovico_Mazzolino_-_God_the_FatherYesus pun mengenal serta mengalami kasih Bapa-Nya secara akrab, dan kasih inilah yang memotivasi setiap sikap dan tindakan-Nya ketika berada bersama dengan para murid-Nya (termasuk kita): “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri …” (Yoh 5:19-20). Yesus sedemikian dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu menanggung segala kekejaman dan penderitaan salib agar dapat menyelamatkan kita manusia.

Oleh kuat-kuasa salib ini Yesus telah menyalibkan kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Ia sendiri telah alami. Ini adalah kasih yang penuh gairah, cukup memiliki kuat-kuasa untuk membuat lembut hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan kita semua menjadi suatu umat yang mampu mengasihi secara mendalam sebagaimana Allah sendiri mengasihi. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, kasih yang mampu meruntuhkan segala tembok yang memisahkan kita satu dengan lainnya. Inilah kasih yang tidak pernah gagal, karena Bapa senantiasa memperhatikan kita dalam kasih dan dengan satu kehendak saja: untuk memberkati dan memperkuat kita selagi kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, pada hari-hari menjelang Pentakosta ini penuhilah diri kami  masing-masing dengan suatu pengalaman akan kasih Allah sendiri. Bebaskanlah kami dari rasa takut dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri dan gantikanlah semua itu dengan kasih akan Tritunggal Mahakudus (Trinitas), sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari-saudara. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini yang dengan berani mengundang setiap orang yang kami temui untuk menemukan kasih Allah yang mengubah kehidupan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH ALLAH MENGALAHKAH DOSA, RASA TAKUT DAN MAUT” (bacaan tanggal 8-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 6 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI – Sabtu, 7 Mei 2016)

NAMA YESUS YANG KUDUS - 555Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Bapa sendiri mengasihi kamu” (Yoh 16:27).

Oh betapa beruntungnya kita semua sebagai anak-anak dari “seorang” Allah yang begitu mengasihi kita! Yesus bersabda kepada para murid-Nya – dan tentunya kepada kita semua – bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan oleh Bapa kepada kita. Mengapa? Karena Bapa mengasihi kita semua. Sebagai “seorang” pemasok segala kebutuhan kita, Bapa surgawi sungguh  berhasrat untuk memberikan kepada kita pemberian-pemberian yang baik. Ia ingin menyembuhkan hati kita yang meradang kesakitan, memegang kita dengan tangan-Nya sendiri dan menuntun kita di jalan yang lurus, juga memberikan segala berkat-Nya kepada kita. Bagi Allah, mengasihi adalah suatu prioritas. Pater Henri Nouwen pernah menulis: “Allah mengasihi kita sebelum manusia mana pun dapat menunjukkan cintakasih kepada kita. Dia mengasihi kita dengan ‘cinta pertama’, suatu cintakasih yang tanpa batas dan tanpa syarat.”

Membangun dan mengembangkan suatu relasi cintakasih dengan Allah adalah hal terpenting yang kita dapat lakukan dalam hidup kita. Namun demikian, berapa banyak dari kita ini yang masih berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu dulu agar pantas menerima kasih Allah? Berapa banyak dari kita menyamakan tindakan “melayani Allah” dengan “mengasihi Allah”? Dunia kita sangat berorientasi pada tujuan. Dalam dunia manajemen, misalnya kita diajar dan mengajar tentang management by objectives, goals program dst., hal mana juga biasanya diintegrasikan ke dalam proses penilaian prestasi kerja (performance appraisal) orang-orang yang bekerja untuk kita. Semua itu baik! Namun salah satu pengaruhnya adalah, bahwa dengan demikian mudah sekali kita berpikir bahwa Allah juga (seperti para atasan dalam perusahaan) menghendaki kita menunjukkan prestasi yang memuaskan sebelum memberikan imbalan (reward), seakan Dia berkata, “Performance dulu, baru dapat reward; menangkan pertandingan dulu, baru dapat piala.”

Baptism-of-the-Holy-SpiritIngatlah bahwa tidak demikianlah halnya dengan Allah kita. Ingatlah apa yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” (Yoh 15:15). Ia ingin agar Gereja-Nya dipenuhi dengan orang-orang yang mengasihi-Nya dengan penuh gairah, sama seperti Dia mengasihi mereka. Seperti seorang mempelai perempuan yang menyenangkan hati mempelai laki-laki, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal bagi Yesus karena kita mengasihi Dia, bukan karena kita ingin membuktikan diri kita  kepada-Nya atau membuat diri kita “pantas” menerima cintakasih-Nya.

Bagaimana kiranya kasih Allah ini? Kelihatannya seperti apa? Bagaimana rasanya? Pada waktu-waktu tertentu kasih Allah itu mungkin saja mengambil bentuk rasa sukacita yang berlimpah, meski di tengah keadaan yang sulit. Pada waktu-waktu yang lain, mungkin mengambil bentuk suatu rasa damai yang mendalam dalam hati kita. Dapat juga mengambil bentuk keyakinan yang datang dari pengetahuan bahwa kita tidak pernah ditinggal sendirian.

Kalau kita ingin mengalami kasih Allah ini, maka kita harus mulai dengan menjadi riil dengan Dia. Akuilah kepada Allah dan kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita sangat, dan sangat membutuhkan Dia. Kita mohon kepada-Nya agar memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Allah Bapa memiliki kerinduan yang lebih besar untuk bertemu dengan kita daripada keinginan kita untuk bertemu dengan Dia.

DOA: Bapa di surga, Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu karena Engkau mengasihiku dengan suatu kegairahan tanpa batas. Aku sendiri malah tidak dapat memperkirakan sampai berapa dalam kasih-Mu bagi diriku. Terima kasih, ya Bapa, Engkau telah menyerahkan Putera-Mu yang tunggal sampai wafat di kayu salib, demi keselamatan kami, anak-anak-Mu. Kasih-Mu seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “PERTUMBUHAN” (bacaan tanggal 7-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Mei 2016 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Jumat, 6 Mei 2016)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA 

LAST SUPPER AFTER JUDAS LEFT

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “HUMOR ILAHI” (bacaan tanggal 6-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Mei 2016 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

REINKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun C] – Kamis, 5 Mei 2016)

 jesus_christ_image_075

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23 atau Ibr 9:24-28; 10:19-23; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yan berjudul “MENGAPA KENAIKAN TUHAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?” (bacaan tanggal 5 Mei 2016) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 4 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [TAHUN C] – 1 Mei 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. (Yoh 14:23-29) 

Bacaan Pertama: Kis 15:1-2,22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Why 21:10-14,22-23 

“Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14:27).

Ketika Yesus berkata kepada para murid-Nya untuk tidak gelisah dan gentar, mereka tidak menyadari bahwa mereka akan segera merasa sangat gelisah. Demikian juga ketika Yesus berkata kepada kita untuk tidak gelisah dalam Injil hari ini, kita mungkin tidak menyadari kata-kata-Nya hendaknya diterima secara pribadi dan dengan segera.

Kita sering kali berpikir bahwa pesan Yesus ini tidak secara khusus ditujukan kepada kita masing-masing, melainkan secara umum saja ditujukan untuk setiap orang. Selain itu, kita mungkin berpikir bahwa segala sesuatu berjalan dengan baik dalam hidup kita, dengan demikian kita tidak mengharapkan segera timbulnya kegelisahan. Pada waktu itu para murid Yesus yang  pertama salah, dan kita pun – para murid Yesus pada abad ke-21 ini – mungkin saja dapat berbuat kesalahan yang sama.

ROHHULKUDUSPara murid Yesus pada waktu itu berada di ambang waktu kegelisahan yang paling dalam dalam hidup mereka. Walaupun kita mungkin tidak mengetahuinya, kita mungkin sungguh-sungguh membutuhkan bantuan Roh Kudus (lihat Yoh 14:26).

Anggaplah bahwa dua pekan dari hari ini kita akan memerlukan pencurahan Roh Kudus – suatu Pentakosta baru – atau kalau tidak, kita akan dirundung oleh kegelisahan. Apakah hal itu akan terjadi atau tidak, kiranya yang paling bijaksana ialah siap untuk segala sesuatu yang akan terjadi, dengan dipenuhi Roh Kudus.

Mungkinkah kita (anda dan saya) menghendaki suatu Pentakosta baru yang melebihi keinginan kita yang lain? Yesus telah berjanji: Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14-25-26). Datanglah, ya Roh Kudus !!!

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku untuk menginginkan kepenuhan Roh Kudus dalam diriku lebih daripada keinginanku untuk bernapas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:23-29), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MEMBANGUN RUMAH DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 1-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 29 April 2016 [Peringatan S. Katarina dr Siena]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS