Posts tagged ‘RUMAH IBADAT’

ROTI KEHIDUPAN

ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 5 Mei 2017)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB”  (bacaan tanggal 5-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan objek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com;  17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 16 Januari 2017 [Peringatan para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 20 Januari 2016)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA 

Keluarga Fransiskan Conventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1 Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Inkarnasi Yesus (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) menandakan berlalunya “hukum dosa dan maut” dan datangnya “Kerajaan Allah”. Yesus adalah “anggur yang baru”, hidup Allah yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi umat-Nya. Namun demikian, walaupun Yesus telah mendatangkan berbagai kesembuhan, pengampunan, dan kasih yang ditawarkan kepada umat-Nya, para pemuka agama Yahudi tetap saja melawan-Nya dan senantiasa ingin menjebak-Nya.

Konflik Yesus dengan para pemuka agama Yahudi tersebut dimulai pada waktu Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (lihat Mrk 2:1-12), kemudian semakin meningkat pada peristiwa disembuhkannya orang yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-16). Sampai saat itu, orang-orang Farisi selalu mengkritisi dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang Yesus bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi itu tetap bungkam, tetap pada kekerasan hati mereka melawan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan mereka membuat Yesus marah dan sedih. Dalam belas kasih-Nya, Yesus menyembuhkan tangan orang itu, lagi-lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (lihat Mrk 2:27-28).  Karena marah bahwa Yesus telah melanggar berbagai pembatasan yang mereka tetapkan dalam rangka hari Sabat, orang-orang Farisi itu segera membuat rencana untuk membunuh Yesus (lihat Mrk 3:6).

Pertanyaan kita sekarang: Mengapa ada orang yang mau membunuh Yesus, padahal Ia datang untuk melakukan berbagai macam kebaikan? Sikap kemandirian yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan menyebabkan kita melawan Dia, walaupun barangkali tanpa kita sadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa selalu mencegah diri kita untuk melepaskan kendali atas hidup kita dan menyerahkan diri kita kepada Allah. Jikalau kita menolak kebaikan Allah, kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai peraturan-peraturan sebagai hal-hal yang lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan para saudari-saudara kita. Sikap kemandirian kita yang salah akan mencegah kita untuk sampai kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat kita dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Namun, apabila kita – seperti anak-anak – menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan dapat menerima belas kasih dan hidup baru-Nya. Yesus akan mentranformasikan hati dan pikiran kita sehingga dengan demikian segala hasrat dan pemikiran-Nya menjadi hasrat dan pemikiran kita. Dia akan mengajar kita jalan-jalan-Nya dan memberdayakan kita agar taat kepada sabda-Nya. Apabila anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan belas kasih Allah, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, dengan demikian secara bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, transformasikanlah hati kami dari kantong kulit yang tua dan keras menjadi kantong kulit yang baru dan lembut, sehingga dengan demikian kami dapat menerima anggur hidup baru yang Engkau ingin berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM TERTINGGI” (bacaan untuk tanggal 20-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITAABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 18 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA

CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 7 September 2015) 

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24-2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita suatu pelajaran yang baik mengenai semangat sebenarnya yang harus menjiwai pelaksanaan hukum-hukum Allah. Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi siap untuk menjebak Yesus, mereka akan menyalahkan-Nya jika Dia menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat itu. Namun Yesus mengajukan pertanyaan berikut: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Lalu Yesus menyembuhkan orang itu, walaupun hari itu adalah hari Sabat (Luk 6:10).

Hukum Allah tidak pernah boleh digunakan sebagai suatu dalih untuk tidak melakukan suatu kebaikan. “Patuh pada peraturan” bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan pelayanan kasih. Pada kesempatan lain orang-orang Farisi tidak memberi penghormatan yang seharusnya kepada para orangtua mereka karena mereka harus memberikan penghormatan kepada Allah. Sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (lihat Mrk 7:11-12).

Jadi, walaupun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. Pandangan Yesus terhadap kemunafikan seperti ini: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku” (Mrk 7:6; bdk. Yes 29:13). Ingatlah bahwa kita tidak dapat menghormati Kristus, namun pada saat yang sama kita tidak menghormati orangtua kita.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSKita banyak mendengar pembicaraan mengenai “mengasihi sesama”, ketulusan hati dlsb. Dapatkah Kristus membuat tuduhan yang sama terhadap kita? Tuduhan karena kita hanya dapat berbicara, berbicara, dan berbicara; namun tanpa diikuti dengan cintakasih hidup yang sungguh nyata, tidak ada kejujuran, tidak ada ketulusan hati? Omdo? Nato? Berbicara saja sih murah dan mudah. Tidak ada pengorbanan! Di lain pihak, love-in-action yang riil membutuhkan pengorbanan. Untuk mengasihi, kita harus memberi keseluruhan diri kita. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk menyangkal diri kita sendiri, namun itulah jalan satu-satunya utuk sampai kepada kasih yang sejati, yang riil, yang tulus. Kalau tidak demikian halnya, maka kita dapat dipastikan sebagai orang-orang munafik.

Kita (anda dan saya) dapat berbicara berjam-jam lamanya tentang apa yang harus dilakukan guna menolong orang-orang miskin dan yang kelaparan di dunia, namun kita hanya dapat membuktikan kasih Kristiani kita yang sejati dengan memberikannya sampai terasa sakit (“giving/loving till it hurts”, kata Bunda Teresa dari Kalkuta). Dengan demikian kita tidak melakukan penipuan-diri, teristimewa apabila kita melakukan kebaikan tanpa ramai-ramai dan tanpa publisitas. Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus bersabda: “… apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik …… Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”  (lihatlah keseluruhan Mat 6:1-4).

Saudari-Saudara yang terkasih, jika kita sungguh ingin mematuhi hukum-hukum Allah, maka kita harus belajar bahwa cintakasih atau KASIH adalah perintah yang pertama dan utama. Kita harus jujur dan tulus dengan diri kita sendiri. Kita harus mengasihi dan bertindak karena kasih itu, walaupun menyakitkan, barangkali karena tindakan kita tidak populer dengan pihak penguasa, seperti Kristus dengan orang-orang Farisi. Kasih harus merupakah tolok ukur pertama dalam hal kepatuhan kita kepada semua hukum yang berlaku.

DOA: Tuhan Yesus, dalam perjamuan terakhir Engkau bersabda kepada para murid-Mu: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu …… Kasihilah seorang terhadap yang lain” (Yoh 15:14,17). Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia mematuhi perintah-Mu ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kol 1:24-2:3), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM KRISTUS TERSEMBUNYI SEGALA HARTA HIKMAT DAN PENGETAHUAN” (bacaan tanggal 7-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015.

Cilandak, 4 September 2015 [Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – OFS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBERITAAN TENTANG KERAJAAN SURGA OLEH YESUS

PEMBERITAAN TENTANG KERAJAAN SURGA OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 5 Januari 2015) 

stdas0792Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” [1]  Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [2]

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. Lalu tersebarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. (Mat 4:12-17,23-25) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:22-4:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11

Catatan: [1] Yes 8:23-9:1; [2] Lihat Mat 3:2 

Pada hari ini, satu hari setelah Penampakan Tuhan, terang Kristus terus bersinar. Sepanjang satu pekan penuh, Gereja akan menyajikan kepada kita berbagai gambaran tentang Yesus, seperti faset-faset sebutir berlian, guna menarik kita kepada-Nya agar kita dapat mengenal sentuhan-Nya dalam hidup kita. Pada hari ini,  misalnya, kita melihat Yesus memulai pelayanan-Nya di Galilea.

stdas0609Yesus membawa konsolasi/penghiburan, kesembuhan, dan pengharapan kepada orang-orang  Galilea selagi Dia mewartakan Injil dan membuat mukjizat-mukjizat di tengah-tengah mereka. Dan selagi orang-orang mendengar Dia berbicara mengenai Kerajaan Allah, maka mereka menjadi semakin excited. Yesus mampu membangunkan mereka dari pandangan terbatas/sempit mereka berkaitan dengan hidup dan menghasilkan suatu rasa lapar dalam diri mereka untuk mengalami lebih banyak dan lebih mendalam lagi Kerajaan Surga. Dengan cepat, kelompok-kelompok besar orang banyak berkumpul di sekeliling diri-Nya, tidak hanya dari Galilea, melainkan juga dari Yerusalem, Yudea, Dekapolis, and wilayah-wilayah di luar Yordan (lihat Mat 4:25). Kelihatannya tidak ada yang dapat membendung arus manusia yang datang kepada Yesus! 

Terang yang terbit di Galilea sekarang masih bersinar selagi Yesus terus menawarkan pengharapan, kesembuhan, dan pengampunan kepada orang-orang. Kita dapat menerima sedikit “icip-icip” Kerajaan ini sekarang, bahkan selagi kita menantikannya sampai didirikan secara penuh pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Yesus berada di tengah-tengah kita sekarang, dan oleh kuasa Roh Kudus kita dapat mengenal dan mengalami sentuhan-Nya.

Kerajaan Allah telah berjalan maju dari awal waktu. Kerajaan ini akan terus maju sampai dipenuhi secara sempurna pada saat Yesus datang pada akhir zaman. Melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, Roh Kudus dicurahkan. Oleh Roh Kudus ini – yang hidup dan aktif dalam Gereja – Yesus ingin melayani kita masing-masing secara intim seperti yang dilakukan-Nya kepada para murid-Nya yang pertama. Yesus ingin menyembuhkan kita secara fisik dan secara emosional, untuk memperbaiki relasi yang sudah rusak, dan menghentikan segala kebencian dan perpecahan. Allah ingin membuat kita semua menjadi para pewaris Kerajaan-Nya, oleh karena itu baiklah kita mengharapkan Dia bekerja dalam diri kita dan para anggota keluarga kita pada hari ini.

DOA: Yesus, Engkau adalah Terang dunia. Aku ingin mencicipi Kerajaan-Mu seperti yang telah dialami oleh orang banyak di Galilea. Datanglah, ya Tuhan, dan nyatakanlah diri-Mu kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacan Pertama hari ini (1Yoh 3:22-4:6), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS DAN SALING MENGASIHI SETURUT PERINTAH-NYA” (bacaan tanggal 5-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 1 Januari 2015 [HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 15 Januari 2014

JESUS HEALS THE SICK - 001Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Kapernaum yang terletak di pinggir danau mempunyai banyak pengalaman yang berkaitan dengan sakit-penyakit dan ketiadaan pengharapan yang menghimpit umat manusia. Pada suatu hari, Yesus sampai di kota pantai itu dan memproklamasikan kedatangan Kerajaan Allah. Lewat tindakan-tindakan-Nya dan kata-kata yang diucapkan-Nya, Yesus membuat kehadiran Kerajaan Allah (=Allah yang meraja) menjadi kelihatan dan kuasa-Nya menyadi nyata. Otoritas menentukan yang dipakai oleh Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat memperagakan belas kasihan Allah yang tak terhingga besarnya. Inilah saat-saat yang menandai terbitnya suatu era baru menyangkut penyelamatan dan keselamatan umat manusia. Pernyataan ilahi yang menyangkut keselamatan ini mengambil tempat dalam konteks kebutuhan umat manusia. Bagi anak manusia yang menanggapi semua ini dengan iman, maka Kerajaan Allah menjadi suatu pengalaman pribadi yang secara sekilas memberi gambaran dari transformasi mulia dari segala ciptaan dalam kepenuhan waktu.

THE MOTHER IN LAW OF PETER WAS HEALEDPemahaman para murid tentang kodrat Yesus yang sesungguhnya sangatlah terbatas. Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, hati para murid digerakkan untuk mempercayakan kepada Yesus keprihatinan mereka atas ibu mertua Petrus yang sedang menderita sakit demam. Yesus menanggapi keprihatinan para murid-Nya itu tanpa menunda-nunda, dan sakit demam ibu mertua Petrus pun disembuhkan, malah dia langsung melayani Yesus dan para murid-Nya (Mrk 1:29-31). Luar biasa! Frase “Ia ‘membangunkan’ dia” yang digunakan oleh Markus (Mrk 1:31), ditulis dalam bahasa Yunani: egeiro, yang juga dapat diartikan “membangkitkan dari mati”. Yesus datang sebagai Tuhan (Kyrios) untuk membawa keselamatan dan membangkitkan semua orang yang terbaring karena penyakit dosa. Diangkat kepada hidup baru, kita dipanggil untuk melayani dalam pembangunan Kerajaan-Nya.

Pada akhir hari yang dipenuhi dengan penyembuhan-penyembuhan dan pengusiran-pengusiran roh-roh jahat, Yesus tidak memperbolehkan roh-roh jahat itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia (Mrk 1:34). Pagi-pagi benar Yesus mengundurkan diri dari orang banyak dan para murid-Nya yang belum memahami peranan-Nya sebagai Mesias. dan pergi ke tempat terpencil dan berdoa di sana. Ini adalah awal dari “rahasia Mesianis”. Banyak orang takjub dan terkagum-kagum menyaksikan perbuatan-perbuatan baik Yesus dan memandang diri-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat (wonder worker), namun mereka belum mampu melihat sifat misi-Nya yang sesungguhnya. Ketika berdoa dalam keheningan di tempat terpencil tadi, Yesus dikuatkan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, bukan menuruti tuntutan orang banyak akan seorang Mesias seturut hasrat hati dan pandangan mereka sendiri (Mrk 1:35-39).

Mereka yang telah belajar untuk menerima Dia sebagai Anak Manusia yang menderita, disalibkan dan kemudian bangkit dalam kemuliaan mengalahkan dosa, dapat memproklamasikan Dia sebagai sang Mesias. Yang ditutupi oleh Yesus pada awalnya dinyatakan secara penuh dalam terang kebangkitan-Nya (Luk 24:26).

Bilamana kita mengundurkan diri ke tempat sunyi dan mencari keakraban dengan Bapa surgawi dalam doa, Roh Kudus akan menyatakan kepada kita siapa Yesus itu dan apakah misi-Nya. Yesus sungguh rindu untuk menyembuhkan kita semua dan dosa-dosa kita.

DOA: Tuhan Yesus, sentuhlah diriku yang sudah “berantakan” ini. Tolonglah aku agar mau menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 15-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 13 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS