Posts tagged ‘TINGGAL DI DALAM KASIH YESUS’

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10

Kasih, Ketaatan dan Sukacita!!! Pertimbangkanlah konteks kata-kata Yesus yang ditujukan-Nya kepada para murid-Nya. Dia baru saja menyelesaikan perjamuan terakhir dengan orang-orang yang sangat dikasihi-Nya. Tidak lama lagi Dia akan menyelesaikan pekerjaan Bapa di atas bumi. Hati-Nya penuh, demikian juga hati para murid. Kata-kata Yesus ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan menyemangati para murid dengan kehidupan dan pengharapan.

Yesus baru saja mengajar dan menjelaskan “perumpamaan tentang pokok anggur yang benar”: Aku menginginkan kehidupan bagimu semua; inilah caranya untuk memperoleh kehidupan itu; peganglah kata-kata-Ku ini dan hiduplah seturut kata-kata yang kuucapkan itu.

Sebenarnya Injil Yohanes menunjukkan kepada kita lebih daripada sekadar “Yesus historis”. Injil ini mengedepankan Allah-manusia yang dalam diri-Nya kita memiliki kehidupan. Kehidupan kekal tidak digambarkan sebagai suatu kejadian di masa depan, melainkan sebagai sebuah realitas yang kita cicipi, bahkan sekarang juga ketika kita percaya kepada Yesus dan hidup sesuai dengan kepercayaan itu. Kata-kata kasih, ketaatan dan sukacita memanggil kita kepada kehidupan tersebut dan memampukan kita untuk menghayatinya. Inilah pesan dari Petrus: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Ptr 1:22).

Yesus berbicara kepada para murid-Nya tentang kasih dan mengkaitkan kasih itu dengan ketaatan. Yesus mengalami kasih Bapa-Nya secara kekal dan Dia mengasihi para murid-Nya dengan kasih yang sama. Yesus jelas dan singkat tentang bagaimana kita seharusnya mengasihi Dia dan Bapa-Nya, dan bagaimana kita seharusnya mengalami kasih-Nya: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku” (Yoh 15:10). Sementara kita taat kepada-Nya, kita akan tinggal dalam Dia dan kasih-Nya akan mengalir kepada orang-orang lain melalui kehidupan kita. Posisi Yohanes tegas dan tanpa keraguan sedikit pun mengenai hubungan antara kasih dan ketaatan. Buah ketaatan bagi kita adalah kasih dan kehidupan baru.

Apa yang mencirikan kehidupan baru ini? Sukacita! Sebuah buah Roh Kudus (lihat Gal 5:22), bukan hasil kerja daging, dan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui ketaatan, kita menjadi turut serta dalam sukacita ini. Sukacita ini mengisi diri kita dan mentransformasikan diri kita dan memberikan kita kesempatan untuk mencicipi kepenuhan hidup surgawi, bahkan sekarang juga.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengurapi kami dengan minyak sukacita. Kami yakin sekali bahwa Engkau saja yang dapat memuaskan setiap kebutuhan kami. Sungguh penuh sukacita kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA” (bacaan tanggal 18-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

Cilandak, 15 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

JIKALAU KAMU MENURUTI PERINTAH-KU

JIKALAU KAMU MENURUTI PERINTAH-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 22 Mei 2014)

the-last-supper

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10

YESUS akan pergi kepada Bapa-Nya dalam waktu kurang dari 24 jam. Pada hari Kamis malam sebelum “kepergian-Nya”, Yesus mendesak para murid (rasul)-Nya: “Tinggallah di dalam kasih-Ku” (Yoh 15:9). Akan tetapi, bagaimana mereka dapat melakukan hal itu? Hanya ada satu cara, dan Yesus mengungkapkan hal itu secara langsung tanpa menunda-nunda lagi: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku” (Yoh 15:10). Pada dasarnya Yesus mengatakan kepada para sahabat-Nya hal berikut ini: “Lakukanlah apa yang telah Kulakukan. Aku telah mentaati perintah-perintah Bapa-Ku. Kamu semua, lakukanlah hal yang sama!”

Apakah Yesus mengharapkan kita untuk mentaati-Nya secara sempurna? Bagaimana halnya jika kita tidak melakukannya? Apakah Dia akan menolak kita? Niat Yesus bukanlah untuk menerbitkan suatu surat peringatan. Ia tidak berkata, “Jadilah sempurna, kalau tidak …!” Yesus sangat mengenal kelemahan-kelemahan dan kedosaan kita. Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28) dan “Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh 6:37). Setiap orang – baik atau jahat, suci atau berdosa – dapat datang kepada Yesus.

RABI DARI NAZARET - 1Yesus ingin kita melihat bahwa tinggal di dalam Dia dan taat kepada-Nya tidak dapat dipisahkan satu sama lain; keduanya berjalan bersama. Yesus minta kepada kita agar taat kepada-Nya dengan hati yang penuh kerendahan hati, rasa percaya dan cintakasih – dan hal ini hanya terjadi jika kita datang kepada-Nya dan menerima kasih-Nya. Dengan hati sedemikian dalam pusat ketaatan kita, maka ketidaktaatan hampir tidak menjadi suatu masalah! Kita tahu bahwa setiap hari hidup kita berada di bawah ekspektasi, namun kita juga mengetahui bahwa kematian Yesus di kayu salib telah menebus dosa-dosa kita. Kita tahu, bahwa apabila kita datang sambil berlari kepada Yesus dengan pertobatan yang penuh kerendahan hati, maka kita pun akan diampuni. Darah-Nya akan membasuh sampai bersih diri kita – secara mutlak!

Bilamana kita berhadapan dengan dosa kita secara muka-ketemu-muka (face-to-face), maka sebenarnya kita mempunyai dua alternatif pilihan. Yang pertama, kita dapat menyerah dan berputus asa, hal mana akan menyeret kita semakin jauh dari Yesus dan kita dapat semakin terjerat dalam kuasa dosa. Yang kedua, melalui iman akan kematian-Nya yang menebus dan kebangkitan-Nya, kita dengan rendah hati dapat datang menghadap hadirat Yesus dalam semangat pertobatan.

Saudari dan Saudara terkasih, kita dapat tetap berada dalam Yesus! Dosa tidak seharusnya melumpuhkan kita atau mencegah kita dalam upaya memajukan Kerajaan Allah. Dalam kerendahan hati (atau kedinaan), kita dapat semakin dekat kepada Yesus dan menukar hidup kita dengan Dia. Sukacita Yesus akan menjadi lengkap dalam diri kita (lihat Yohanes 15:11), dan kerajaan-Nya pun akan bertumbuh.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk darah yang Kaucurahkan bagiku di atas kayu salib. Terima kasih untuk tindakan-Mu membersihkan dosa-dosaku, sehingga aku berkenan di mata-Mu. Terima kasih juga untuk kenyataan bahwa aku senantiasa dapat tinggal diam di dalam Engkau, dengan demikian mengalami sukacita penyelamatan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENJANJIKAN SUKACITA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 22-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS BERBICARA MENGENAI KASIH BAPA-NYA” (bacaan tanggal 2-5-13) dan “KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA !!!” (bacaan tanggal 10-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL” (bacaan tanggal 26-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 19 Mei 2014 [Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Bruder Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS