Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

ORANG KAYA YANG BODOH

ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 22 Oktober 2018)

Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”  (Luk 12:21)

Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ini hanya terdapat dalam Injil Lukas.  Sah-sah saja apabila ada orang yang bertanya: “Siapakah orang yang tidak ingin kaya?”  Tetapi kaya yang bagaimana? Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila “bertumbuh menjadi (semakin) kaya untuk diri sendiri sebagai lawan dari bertumbuh menjadi (semakin) kaya di hadapan Allah” merupakan tema yang berada di jantung dari semua spiritualitas Kristiani.

Orang kaya dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang yang bodoh. Mengapa dikatakan bodoh? Karena dia mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, padahal seharusnya dia kaya di hadapan Allah (Luk 12:21). Perumpamaan ini menggarisbawahi kebutuhan akan perspektif yang tepat. Yesus tidak mencela kekayaan di sini. Yesus berbicara mengenai distraksi yang terjadi pada area-area lain dalam kehidupan kita sebagai akibat dari suatu hasrat tanpa kendali untuk menumpuk kekayaan.

Menjadi kaya di hadapan Allah janganlah diartikan bahwa kita harus menghabiskan uang kita – bahkan sampai menguras semua uang yang ada dalam rekening-rekening kita di bank. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah perkembangan dari sumber daya batiniah dan kekuatan spiritual dalam diri kita yang memampukan kita menghargai kasih Allah bagi kita dan kehadiran-Nya yang penuh kasih-sayang seorang Bapa dalam kehidupan kita. Kekuatan batiniah itu menjadi batu karang yang kokoh yang di atasnya hidup kita dibangun. Atas dasar fondasi yang kokoh itulah kita menghayati kehidupan sosial maupun profesional kita.

Menimbun kekayaan untuk kepentingan sendiri – seperti disoroti dalam perumpamaan ini – adalah upaya untuk mengakumulasi harta-kekayaan tanpa dasar moral dan spiritual yang diperlukan sebagai dasar. Dengan demikian kita menjadi budak dari harta-kekayaan kita. Katakanlah bahwa kekayaan duniawi menjadi berhala yang kita sembah. Seandainya semua itu hilang-lenyap, maka kita pun tidak memiliki apa-apa lagi untuk menggantungkan diri. Ada orang yang mengatakan bahwa kekayaan duniawi pada hakekatnya adalah sejenis kebangkrutan spiritual.

Allah, Bapa kita kaya dalam rahmat-Nya (Ef 2:4). Ia juga memiliki kekayaan anugerah besar sekali yang tak terbayangkan oleh kita (Ef 2:7; 3:8). Santo Paulus menulis: “Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus” (Ef 1:18). Salahkah kita jika mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah yang paling kaya di dunia, tetapi tidak perlu kaya dalam pengertian duniawi?

Kita bertumbuh-kembang semakin kaya di hadapan Allah dengan mewarisi sepenuh mungkin kekayaan kemuliaan-Nya. Kita benar-benar akan kaya dengan menghayati janji-janji Baptis kita sesetia mungkin sebagai anak-anak Allah. Kita akan memegang teguh sabda Yesus: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat” (Luk 12:32-33; bdk. Mat 19:21). Kita juga harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi dan dengan demikian, mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1Tim 6:18-19).

cole_st_paul, Wed Mar 26, 2008, 5:11:42 PM, 8C, 5378×6746, (380+569), 100%, bent 6 stops, 1/60 s, R86.6, G51.8, B74.4

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (1Kor 8:9). Allah memang menghendaki agar anak-anak-Nya benar-benar kaya dengan kekayaan-Nya dan menurut ukuran Allah. Bersama Santo Paulus marilah kita berkata: “… segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:8). Marilah kita (anda dan saya) menjadi semakin kaya di hadapan Allah.

[Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.] 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik. Kuduslah nama-Mu, ya Khalik langit dan bumi. Terangilah mata hatiku supaya mengenali betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepadaku sebagai anak-Mu (Ef 1:18). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA YANG BODOH(bacaan tanggal 22-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018.

Cilandak, 18 Oktober 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MENGAJUKAN PERTANYAAN SAMA SEPERTI YANG DITANYAKAN-NYA KEPADA BARTIMEUS

YESUS MENGAJUKAN PERTANYAAN SAMA SEPERTI YANG DITANYAKAN-NYA KEPADA BARTIMEUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [TAHUN B] – 21 Oktober 2018)

HARI MINGGU MISI

 

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:35-45) 

Bacaan Pertama: Yes 53:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16

Apabila anda mempunyai satu keinginan, apa yang akan anda minta? Kesehatan yang baik dan umur panjang? Harta kekayaan? Kekuasaan? Pertobatan dari orang yang anda kasihi? Berbagai penghormatan dan puji-pujian dari orang-orang lain? Bagaimana dengan pekerjaan yang penuh arti, tetapi penuh penderitaan dan dengan imbalan eksternal yang boleh dikatakan sedikit?

Dalam kasus ini Yesus mengajukan pertanyaan sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada Bartimeus: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” (Mrk 10:36; bdk. 10:51). Nanti kita lihat Bartimeus menjawab: “Rabuni, aku ingin dapat melihat” (Mrk 10:51). Ini adalah sebuah “doa seorang miskin” yang lugu dan lugas, keluar dari hati yang tulus-penuh harap, seperti doa si penjahat yang bertobat di kayu salib (lihat Luk 23:42). Tanggapan Yesus sangat positif dan mukjizat pun terjadi. Lain halnya dengan dua murid kakak-beradik yang sudah lama mengikuti Yesus. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kehormatan dan kewenangan dalam kerajaan Yesus (satu mau jadi Menko Bidang Polhukam, yang satu lagi mau jadi Menko Bidang Perekonomian). Sebuah permintaan yang terasa agak “tidak tahu diri”, sehingga Yesus pun menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Mrk 10:38). Para murid Yesus yang lainpun menjadi marah, namun bukan berdasarkan alasan yang benar juga. Jelas kelihatan bahwa mereka cemburu karena merasa dilewati. Akan tetapi, di sini kita lihat Yesus dengan lemah lembut minta kepada kedua murid kakak beradik ini, apakah mereka siap untuk mengikuti Dia pada jalan satu-satunya menuju kerajaan-Nya, yaitu JALAN SALIB?

Karena dibaptis ke dalam kematian, semua orang Kristiani akan memerintah dengan Dia. Akan tetapi bagaimana kita mempraktekkan dalam hidup sehari-hari realitas persatuan kita dengan-Nya itu? Yesus mengatakan kepada kita, bahwa kita tak akan menemukan model-model yang baik dalam masyarakat sekular, di mana para pemimpin dapat bertindak sewenang-wenang atas orang-orang yang mereka harus pimpin. Untuk ini kita harus melihat Yesus, yang datang sebagai “hamba/pelayan bagi semua orang”, dan juga harus melihat mereka yang sungguh-sungguh  mengikuti jejak-Nya.

Salah seorang dari mereka adalah Ibu Teresa dari Kalkuta yang dikanonisasikan pada tanggal 4 September 2016 di Roma. Untuk kurun  waktu lebih dari 50 tahun, Ibu Teresa mendedikasikan dirinya bagi pelayanan kepada orang-orang sangat miskin (the poorest of the poor) di seluruh dunia. Bersama dengan para saudari dan saudaranya yang bergabung dengan dia dalam kongregasi religiusnya, Ibu Teresa tidak sekadar menolong orang miskin, melainkan hidup di tengah-tengah mereka, memeluk suatu hidup kemiskinan dalam mengikuti jejak Yesus, yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2Kor 8:9). Selagi Ibu Teresa menjalani gaya hidup miskin itu, dia menemukan kebenaran yang sama mengenai hal-hal yang Yesus coba ajarkan kepada Yakobus dan Yohanes mengenai prestise dan rasa hormat dunia. “Semakin banyak engkau memiliki, semakin banyak pula engkau disibukkan dengan milikmu itu. Semakin banyak engkau dibuat sibuk dengan milikmu itu, semakin sedikit pula engkau memberi. Akan tetapi semakin sedikit engkau memiliki, engkau pun semakin bebas. Kemiskinan bagi kami adalah sebuah kerajaan”, demikianlah menurut Ibu Teresa.

Karena Dia ingin dipenuhi hanya dengan Kristus, Ibu Teresa mampu memberi kasih dengan penuh kemurahan hati. Seringkali karya karitatif Ibu Teresa dan para susternya ini sangat melelahkan dan tanpa menerima ucapan terima kasih dari pihak mana pun, suatu unthankful job. Namun karya termaksud juga menjadi sumber kegembiraan, harapan dan pandangan sekilas tentang kemuliaan Allah. Marilah kita juga berjalan seturut teladan Ibu Teresa ini. Marilah kita memandang Yesus dengan penuh kasih dan mohon Dia menolong kita agar dapat melayani sesama, seperti Dia telah lakukan dan juga seperti telah ditunjukkan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.

DOA: Roh Kudus, Engkau menjunjung tinggi Yesus sepanjang hidup-Nya di muka bumi.  Berikanlah kepadaku mata iman agar dapat memandang Dikau. Berikanlah kepadaku hati yang penuh bela-rasa, untuk dapat  men-sharing-kan Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Buatlah aku menjadi saksi hidup atas Kasih yang dapat mentransformasikan dunia. Amin. 

 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:35-45), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG INGIN MENJADI BESAR DI ANTARA KAMU, …” (bacaan tanggal 21-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangosf.catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan  tanggal 20-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI

TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (Luk 12:2)

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai ragi orang Farisi. Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi tersebut. Berbagai pekerjaan dan tindakan mereka dalam mematuhi segala macam hukum dan peraturan keagamaan sesungguhnya tidak bernilai karena mereka tidak mempunyai iman-kepercayaan yang diperlukan. Ada kehampaan/kekosongan dalam diri mereka. Jadi, tidak seperti Abraham, kekosongan dalam diri mereka itu membuat segala hal yang mereka perbuat – termasuk praktek “kesalehan” dalam mentaati hukum Taurat – adalah tanpa iman.

Religiositas orang-orang Farisi bersifat sintetis (seperti halnya barang-barang palsu) dan kenyataan seperti itu tidak dapat disembunyikan untuk selamanya. Sebagaimana ragi, religiositas sintetis tersebut akan menunjukkan “keaslian”-nya, cepat atau lambat. Praktek agama yang bagaikan sandiwara itu tidak akan menyelamatkan, mentransformasikan atau memberi makna atas penderitaan seseorang.

Relasi kita dengan Allah adalah relasi yang paling serius dalam hidup kita, dan samasekali bukanlah sebuah game. Itulah sebabnya mengapa kepada kita diingatkan agar “takut akan Allah” (lihat Kej 42:18; 2Taw 26:5; Ayb 1:1; Mzm 66:16; Ams 19:23 dll.). Kita tahu bahwa kehendak Allah akan terwujud dengan satu cara atau lainnya. Allah tidak akan dapat ditipu oleh mereka yang bersandiwara walaupun bahasa yang dipakai adalah bahasa agama yang paling suci. Orang dapat menipu seorang gembala umat, namun tidak akan dapat menipu Allah. Yesus bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk 12:2).

Kenyataan bahwa Allah mampu melihat hati kita yang terdalam dapat merupakan suatu penghiburan karena walaupun kita tidak sempurna, Allah melihat motif-motif kita yang sesungguhnya.  Sebaliknya, kemampuan Allah untuk melihat hati kita dapat merupakan sebuah sumber teror yang luarbiasa menakutkan jika orang-orang lain memandang kita sebagai “orang suci” sementara kita juga tahu bahwa Dia sangat mengetahui motif-motif pribadi kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Di atas disebutkan ketiadaan iman-kepercayaan orang munafik. Baiklah dalam kesempatan saya menyinggung sedikit soal iman ini. Seperti juga tubuh kita, iman kita juga mempunyai siklus dengan tahapan-tahapannya. Ada iman masa kecil yang terasa indah; ada iman yang penuh turbulensi, tanda-tanya dan sering membingungkan pada waktu kita menjalani masa remaja dst. Iman kita tidaklah bersifat linear dan selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik, iman juga dapat turun-naik. Iman kita adalah sesuatu yang hidup, yang dipengaruhi oleh berbagai turbulensi dalam hidup kita. Di bawah setiap hal yang muncul dalam kesadaran kita, iman adalah fondasi di atas mana kita membangun sistem-sistem nilai, kepercayaan dan falsafah hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Jadikanlah hatiku seperti hatimu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10  PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Pengarang Injil – Kamis, 18 Oktober 2018)

…Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya berguna bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus. Jika engkau kemari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama yang  terbuat dari kulit.

Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat jahat terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Hendaklah engkau juga waspada terhadap dia, karena dia sangat menentang ajaran kita. Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka – tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. (2Tim 4:10-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18; Bacaan Injil: Luk 10:1-9

Kalau seorang nelayan miskin dan tak berpendidikan meninggalkan segalanya demi mengikuti sang Rabi dari Nazaret, pantaslah bagi kita untuk mengagumi keberaniannya. Namun bagaimana dengan seorang dengan latar pendidikan dan profesi sebagai dokter/ tabib yang sukses seperi Lukas? Rasa kagum kita menjadi terpesona. Kita hanya dapat mengatakan: Puji Tuhan, luar biasa. Apa sih motivasi yang ada dalam diri sang tabib sehingga dia mau membuat pengorbanan sedemikian besar?

Menurut tradisi, Lukas dilihat sebagai pengarang “Injil Ketiga” dan “Kisah Para Rasul”. Dia adalah seorang tabib yang berhasil dalam profesinya. Dia bukanlah seorang Yahudi (lihat Kol 4:11,14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Lukas tidak pernah menikah, dan dia meninggal dunia penuh dengan Roh Kudus pada usia 84 tahun. Ada juga tradisi yang mengatakan bahwa Lukas adalah seorang pelukis. Memang dia menulis Injilnya seperti seorang yang orang menyusun album foto (bacalah sebuah buku yang baik karangan almarhum P. Tom Jacobs SJ, LUKAS PELUKIS HIDUP JESUS, 1988).

Tabib yang sangat berbakat ini barangkali juga bukan seorang miskin-uang, dengan demikian dapat mengecap kehidupan penuh kenikmatan sejalan dengan kesuksesan dunia. Namun Pak dokter Lukas ini justru memilih keras dan sulitnya perjalanan bersama Paulus dan mereka menghadapi segala bahaya yang mengancam suatu kehidupan misioner sebagai pewarta Kabar Baik Yesus Kristus. Lukas bahkan menemani Paulus ke Roma dan tinggal bersama Rasul itu selagi dalam tahanan rumah. Kesetiaan luar biasa Lukas kepada Paulus ini tentunya menghibur Paulus. Dalam surat kepada Timotius ini, Paulus mengungkapkan bahwa ada rekannya yang meninggalkan dia, ada  pula yang diutus pergi ke berbagai tempat. Paulus menulis: “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku” (2Tm 4:11). Sebuah kalimat yang penuh arti.

Apakah yang menarik Lukas sehingga mau pergi “jalan-jalan” ke mana-mana bersama Paulus? Sebuah kehidupan yang penuh bahaya? Jawabnya: YESUS !!! Yesus telah   menangkap hati Lukas, dan dengan begitu sang dokter hanyalah dapat mengikut ke mana Yesus akan memimpin dirinya.

Kalau Yesus menangkap hati kita, kita juga akan mengalami apa yang dialami oleh Lukas – kasih Allah yang melimpah, dan kasih ini akan mengubah hati kita masing-masing. Kita tidak lagi ingin sekadar hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Yesus.  Kita akan berkeinginan keras untuk mengikuti Dia dan menjadi setia kepada sabda-Nya, apa pun yang akan terjadi. Kita akan mempunyai kerinduan mendalam akan Kerajaan-Nya, dan kita pun akan mengabdikan diri kita untuk pelayanan menyebarkan Kabar Baik-Nya.

Åâàíãåëèñò Ëóêà

Lukas dipenuhi dengan cintakasih Yesus dan juga bela rasa-Nya, dan semua ini dicerminkan dalam Injilnya yang indah itu. Misalnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Salah satu perumpamaan yang sulit untuk dilupakan! Hanya dalam Injil Lukas lah kita dapat membaca “perumpamaan tentang Anak yang hilang” (Luk 15:11-32). Ini juga sebuah perumpamaan yang indah. Akhirnya, Injil Lukas adalah kitab Injil satu-satunya yang bercerita tentang belas kasih Yesus kepada seorang kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus, yang sangat dibenci oleh masyarakat banyak (lihat Luk 19:1-10). Juga hanya dalam Injil Lukas kita dapat membaca tentang si penjahat yang bertobat di kayu salib  (lihat Luk 24:33-43). Setelah membaca serta merenungkan keempat bacaan dari Injil Lukas ini, kita dapat merasakan betapa kita masing-masing berharga di mata Yesus dan kita sungguh sangat berarti bagi Dia. Kemudian, dengan rendah hati dan rasa syukur mendalam kita dapat berkata: “Tuhan Yesus, engkau adalah segalanya bagiku. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk menjadi bersama-Mu.”

DOA: Roh Kudus, banjirilah aku dengan suatu pewahyuan pribadi yang lebih mendalam tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Saudara dan Sahabatku. Bukalah mataku agar dapat melihat Yesus hadir di dekatku, dalam Kitab Suci, dalam Ekaristi dan dalam doa-doaku. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 15 Oktober 2018 [Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018)

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH” (bacaan tanggal 17-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 16 Oktober 2018)

SCJ: Peringatan S. Margareta Maria Alacoque, Perawan

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Gal 4:31b-5:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-45,47-48 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI BAGIAN DALAMMU PENUH RAMPASAN DAN KEJAHATAN” (bacaan tanggal 16-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS