Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

SELAMA MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA, MEREKA TIDAK DAPAT BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan & Martir – Senin, 21 Januari 2019)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: Ibr 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Yesus membandingkan kehadiran-Nya di antara manusia selama pelayanan-Nya di depan umum dengan kehadiran seorang mempelai laki-laki dalam sebuah pesta perkawinan.

Pesta seperti ini adalah waktu untuk bersukacita bersama mempelai laki-laki. Mungkin saja di kemudian hari, pada saat-saat menghadapi realitas kehidupan sebagai seorang suami dan sebagai kepala keluarga, dia akan membutuhkan simpati dan belarasa. Namun sekarang, dalam pesta perkawinan ini, semuanya adalah sukacita.

Demikian pula dengan Yesus. Selama Dia masih bersama dengan para murid-Nya, Yesus tidak ingin para murid-Nya berpuasa. Yesus ingin agar para murid-Nya berada dalam keadaan di mana mereka dapat lebih mudah mengalami perubahan-perubahan dalam diri mereka yang diperlukan untuk berasimilasi dan memahami ajaran-ajaran baru yang diberikan-Nya kepada mereka.

Yesus tidak menyalahkan puasa atau berbagai laku-tobat yang menyangkut tubuh orang bersangkutan, namun semua itu harus dilakukan pada waktu dan keadaan yang tepat. Hal seperti itu harus dilakukan secara bijaksana. Ada saat-saat di mana puasa dapat menjadi tindakan yang “salah”, “tidak bijak”, bahkan “tolol”. Misalnya, apabila karena berpuasa seorang ibu tidak memperhatikan anak-anaknya, maka hal itu jelas tidak benar alias salah. Apabila puasa menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap sesama yang memerlukan pertolongan dan sedang berdiri di depan matanya, maka sikapnya dan ketiadaan tindakannya untuk menolong orang itu adalah salah.

Ada saat-saat di mana suatu keadaan menuntut kita menggunakan segenap kekuatan kita, baik kekuatan mental maupun kekuatan fisik, untuk mengatasi situasi krisis, suatu perubahan. Seperti diungkapkan dalam berbagai uraian tentang “manajemen perubahan”, perubahan-perubahan apa pun yang diperlukan biasanya tidak mudah untuk diterima, jadi muncul resistensi dengan berbagai alasan, apalagi kalau pekerjaan dasarnya belum dipersiapkan dengan baik. Dalam artian tertentu kita sendiri harus sudah berubah dulu, paling sedikit dalam sikap dan keterbukaan, sebelum kita dapat menerima perubahan-perubahan baik yang diperlukan.

Inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju ……Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua ……anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula” (Mrk 2:21-22).

Sukacita hidup baru yang datang dari perubahan-perubahan dalam pemberian-hidup yang baik mempunyai tempat dalam kehidupan orang Kristiani. Perayaannya yang cocok tidak memasukkan puasa. Namun sukacita ini, hidup baru ini, pada prinsipnya hanya datang setelah orang yang bersangkutan melakukan pertobatan, penyangkalan diri, dalam artian tertentu: mati terhadap diri sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengajarkan kepada kami kebenaran tentang puasa dan sukacita Hidup Baru di dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 5:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU” (bacaan tanggal 21-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 18 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA

HAL INI DILAKUKAN YESUS DI KANA YANG DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun C] – 20 Januari 2019)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: Yes 62:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,7-9; Bacaan Kedua: 1Kor 12:4-11 

“Hal ini dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.”  (Yoh 2:11)

Yohanes Penginjil tidak menggunakan kata “mukjizat” dalam Injilnya. Sebagai penggantinya sang penginjil menggunakan kata “tanda”. Injil Yohanes dikenal juga sebagai “Injil tujuh tanda”.“Tanda pertama” Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-murid Kristus yang baik, sehingga pada kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PERKAWINAN DI KANA YANG DI GALILEA” (bacaan tanggal 20-1-19) dalm situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Januari 2019 [Peringatan S. Antonius, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAMPUNAN DOSA DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI KAPERNAUM

PENGAMPUNAN DOSA DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 18 Januari 2019)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8  

“Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5).

“Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11).

Bayangkanlah diri anda sebagai orang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini. Anda baru saja diturunkan dari atap rumah yang penuh sesak itu …… di atas tikar…… ke dalam ruangan yang dipadati dengan orang-orang …… tepat di depan Yesus. Tiba-tiba Yesus menaruh tangan-Nya atas diri anda seraya berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Anda merasa lega sampai derajat tertentu, namun ketika anda melihat beberapa ahli Taurat yang duduk di situ menunjukkan wajah yang mencerminkan ketidaksenangan mereka, maka anda juga berkata dalam hati, “Aku masih lumpuh!”  Namun anda memang beruntung, karena Mesias datang bukan hanya untuk mengampuni dosa-dosa anda, melainkan juga untuk menyembuhkan sakit-penyakit dalam tubuh anda. Oleh karena itu, Yesus mendekati anda lagi sambil berkata, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11). Anda pun bangun, segera mengangkat tikar anda dan pergi keluar dari hadapan orang-orang itu dengan penuh sukacita. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup anda!

Dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya di depan umum, Yesus senantiasa memiliki keprihatinan untuk menyembuhkan seluruh pribadi manusia – roh, jiwa dan raga – dari cengkeraman dosa, supaya menjadi utuh lagi. Perempuan yang menderita pendarahan datang kepada Yesus dalam iman, lalu dia pun mengalami kesembuhan secara fisik (Mrk 5:25-34). Orang yang buta sejak lahirnya disembuhkan fisiknya, lalu bertemu dengan Yesus dan menerima serta mengakui Dia sebagai Tuhan-nya (Yoh 9:1-38). Orang-orang yang semula tidak percaya  seringkali beriman kepada Yesus karena menyaksikan sendiri satu atau lebih mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus.

Ketika Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya, Dia memerintahkan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dan menyembuhkan orang sakit (Luk 10:1-9). “Kisah para Rasul” dipenuhi dengan cerita-cerita tentang penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan oleh orang-orang Kristiani yang baru saja dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sesungguhnya, Allah memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan membuat mukjizat-mukjizat – bahkan melalui diri kita (anda dan saya). Oleh karena itu, dalam upaya kita membawa terang Yesus Kristus kepada orang-orang lain, kita harus senantiasa waspada dan siap menghadapi situasi-situasi di mana kita didorong oleh Roh-Nya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dengan demikian, bila ada anggota keluarga kita – dekat dan/atau jauh – , kerabat kerja yang sedang sakit dan tentunya membutuhkan kesembuhan fisik, baiklah kita menawarkan diri untuk berdoa bersama orang itu. Kita tidak memerlukan rumusan doa yang istimewa; kita hanya perlu berdoa dalam iman sambil mengharapkan Allah melakukan hal-hal besar.

Kebanyakan kita pada umumnya merasa nyaman untuk percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan roh kita dan mengampuni dosa kita, akan tetapi kita kurang merasa yakin bahwa Dia juga dapat menyembuhkan kita secara fisik. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan “rasa takut bahwa tidak ada yang akan terjadi” menghentikan upaya kita untuk mendoakan orang sakit.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku roh keberanian untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga dengan demikian aku dapat sungguh percaya dalam kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Bawalah kepadaku orang-orang dengan siapa aku dapat bersama mereka dan bercerita tentang Engkau. Tunjukkanlah kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, dan dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 18-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 16 Januari 2019 [S. Berardus, Imam dkk. – Martir Pertama Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA TEMA DALAM INJIL MARKUS

DUA TEMA DALAM INJIL MARKUS  

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Kamis, 17 Januari 2019)

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

“Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mrk 1:44)

Apakah maksud kata-kata Yesus di atas, terutama bagian pertama kalimat tersebut? Mengapa Dia berkata begitu kepada orang kusta yang baru saja disembuhkan-Nya? Dalam bacaan Injil ini dikatakan bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu ketika menyembuhkannya. Dengan menyentuh orang kusta itu Yesus membuat diri-Nya sendiri tidak bersih (=najis=tidak tahir) secara ritual. Hal ini berarti bahwa Ia tidak boleh masuk kota sampai orang kusta yang disentuh-Nya diumumkan sebagai tahir oleh imam. Ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus mengatakan kepada orang kusta yang telah disembuhkan-Nya untuk pergi dan memperlihatkan dirinya kepada imam  (lihat Im 14:1-2) namun tidak menceritakan peristiwa penyembuhannya kepada siapa pun (Mrk 1:44).

Kita dapat/boleh saja berspekulasi tentang apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika dia sudah disembuhkan oleh Yesus dan Ia mengatakan kepadanya untuk tidak menceritakan mukjizat itu kepada siapa pun (Mrk 1:44). Apakah orang kusta yang disembuhkan Yesus itu begitu dipenuhi antusiasme karena rasa gembira sehingga merasa bahwa dia sungguh harus bercerita kepada setiap orang tentang mukjizat yang baru saja terjadi atas dirinya? Bukankah dengan kesembuhannya orang itu dibebaskan dari keterasingannya dalam masyarakat (lihat Im 13:45-46)? Ataukah orang itu berpikir, “Aku akan melakukan suatu kebaikan bagi Yesus dengan menceritakan mukjizat penyembuhan ini kepada semua orang!”

Apa pun kasusnya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan kita temui di sana-sini dalam Injilnya: Pertama-tama, Yesus bersikukuh untuk menjaga “rahasia Mesianis” berkaitan dengan diri-Nya, dan kedua adalah ketegangan yang akan menyertai Yesus selama Dia melaksanakan misi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan.

Sepanjang Injilnya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan keengganan ini agar ia dapat menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat saja tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk pada suatu pernyataan/perwahyuan yang lebih penuh: Dia yang diurapi Allah akan membebas-merdekakan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, siapa saja yang mau menjadi seorang murid dari sang Mesias, harus memanggul salib dan mengikuti Dia (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk menutup mulutnya, dengan tak sengaja orang kusta yang disembuhkan itu membawa ketegangan yang membawa dampak atas pelayanan Yesus selanjutnya. Sampai saat-saat sebelum penyembuhan orang kusta itu, semuanya berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Namun tiba-tiba timbullah komplikasi yang dengan sederhana dicatat oleh Markus: “… Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan atmosfir ini merupakan sinyal kemunculan konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan banyak pemimpin agama Yahudi – konfrontasi yang akhirnya menggiring diri-Nya ke kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui bahwa pelayanan-Nya di depan umum akan menyebabkan timbulnya konflik. Seperti orang kusta yang tidak kooperatif atau tidak taat tadi, yang mengabaikan perintah Yesus atau berpikir ia dapat “memperbaiki” rencana Allah, maka sisi buruk dari kodrat manusiawi kita juga akan – mau tidak mau – membawa kita kepada situasi konflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun demikian Yesus tidak pernah membiarkan pergumulan ini mencegah diri-Nya untuk menyembuhkan, memberitakan Kabar Baik dan memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik betapa pun mahalnya demi membebaskan kita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Marilah kita mengikuti jejak sang Mesias, yang dengan penuh kerendahan hati taat pada Bapa surgawi dalam segala hal (bacalah Flp 2:6-11; lihat juga Luk 22:42 dan padanannya). Janganlah kita hanya taat pada perintah-perintah-Nya yang kita sukai saja. Sebaliknya, marilah kita berikan segenap hati kita kepada Yesus. Maka, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya diri kita karena terjalinnya suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mzm 143:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “ULAH ORANG KUSTA YANG DISEMBUHKAN ITU MENYEBABKAN YESUS TIDAK DAPAT LAGI TERANG-TERANGAN MASUK KE DALAM KOTA” (bacaan tanggal 17-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

Cilandak,  15 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS ADALAH SANG IMAM BESAR AGUNG

YESUS ADALAH SANG IMAM BESAR AGUNG

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 16 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Santo Berardus, Imam dkk. Martir Pertama Ordo S. Fransiskus

 

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia pedulikan, tetapi keturunan Abraham yang Ia pedulikan. Itulah sebabnya, dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat. Karena ia sendiri telah menderita ketika dicobai, maka Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai. (Ibr 2:14-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9; Bacaan Injil: Mrk 1:29-39 

Kadang-kadang kita berpikir bahwa tidak mungkinlah bagi Yesus untuk mengerti apa yang sedang kita alami. Kita dapat berkata – mungkin hanya sebatas dalam hati – begini: “Bagaimana Dia dapat?” “Yesus kan sempurna dan tidak pernah berdosa? Dia kan tidak perlu berurusan dengan berbagai pencobaan dan godaan serta situasi-situasi seperti yang aku hadapi?” Mungkin saja dalam doa pribadi, kita mencoba berbicara kepada-Nya seperti ini: “Tuhan Yesus, tahukah Engkau betapa kikuknya, betapa risihnya aku sebagai seorang dosen muda yang sedang mengajar di depan kelas, melihat satu-dua mahasiswiku yang berwajah cantik dengan sengaja tidak melakukan apapun, kecuali duduk secara tidak normal dan memandangiku saja dengan mata yang penuh kekaguman atau … ?”

Namun,  apa pun pandangan kita tentang diri-Nya, pada akhirnya kita harus mengakui kebenaran, bahwa Yesus secara pribadi sungguh merasa prihatin terhadap setiap detil kehidupan kita, dan Ia mengetahui secara pasti apa yang kita masing-masing sedang alami. Dia rindu untuk memeluk kita erat-erat dan mencurahkan kasih-Nya kepada kita.

Kita seharusnya ingat, bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung (Ibr 4:14) kita. Dia bukanlah seperti imam-imam Perjanjian Lama yang masuk ke Bait Suci untuk mempersembahkan darah hewan-hewan kurban demi penebusan dosa-dosa orang Israel. Yesus mencurahkan darah-Nya sendiri sebagai silih atas dosa-dosa kita. Imamat-Nya adalah kekal-abadi – tak pernah berakhir. Sekarang Ia ada di hadapan takhta Bapa, sedang melakukan pengantaraan (syafaat) untuk kebutuhan-kebutuhan kita. Yesus mengetahui sekali kelemahan-kelemahan kita karena Dia sendiri pernah mengalami apa artinya menjadi manusia seperti kita. Yesus  mengalami rasa takut, maka Dia pun tahu benar bahwa kita pun dapat dijangkiti atau dihinggapi rasa takut, yang terkadang begitu hebat-mencekam. Yesus mengalami penolakan, maka Dia tentu tahu bahwa kita kadang-kadang merasa disisihkan dari komunitas kita. Yesus mengalami pencobaan serta godaan, oleh karena itu Dia mengetahui sekali pergumulan pribadi kita dalam situasi seperti itu.

Pada saat-saat yang paling gelap dalam kehidupan-Nya di dunia, di taman Getsemani, Yesus berseru minta tolong dengan penuh rasa percaya kepada Bapa-Nya di surga. Dia ingin agar kita pun melakukan hal yang sama. Yesus ingin agar kita datang untuk “curhat” kepada-Nya. Dia ingin agar kita datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, walaupun sebenarnya Dia sudah tahu setiap kebutuhan kita itu. Dia juga menginginkan agar kita belajar berdoa syafaat bagi keluarga kita, teman-teman kita, gereja-gereja Kristiani, negara & bangsa kita serta para pemimpinnya dlsb., seperti Dia melakukan pengantaraan di hadapan Bapa-Nya untuk kepentingan kita semua.

Marilah kita datang menghadap Yesus, Imam Besar Agung kita, dan menyerahkan kebutuhan-kebutuhan kita kepada-Nya. Kita mohon kepada-Nya agar dianugerahi dengan segala sukacita dan berkat surgawi serta segala kekuatan yang kita perlukan agar mampu bertahan hidup di dunia ini di  dalam jalan-Nya. Selagi kita menjalani rutinitas harian kita, baiklah kita sering berpaling kepada Yesus dan berterima kasih penuh syukur  kepada-Nya serta mempercayakan segala kebutuhan kita  kepada-Nya. Marilah kita membuka hati kita untuk mengasihi dan menyembah Yesus selagi Dia mengarahkan pandangan kita kepada Allah Bapa dan menolong kita agar lebih lagi menaruh kepercayaan kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Aku percaya bahwa Engkau merasa prihatin terhadap segala kebutuhanku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mendengar doa-doaku pada hari ini. Ampunilah daku jika aku sekali-sekali masih suka berpikir bahwa Engkau tidak peduli terhadap keberadaanku dan masalah-masalah yang yang sedang kuhadapi. Aku berjanji, ya Tuhan, bahwa walaupun dalam masa-masa susah, aku tetap akan memproklamasikan kepada dunia sekelilingku, bahwa aku menaruh kepercayaan dan beriman kepada-Mu saja, karena aku menyadari bahwa Engkaulah andalanku satu-satunya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “BAHKAN SAMPAI HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 16-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 14 Januari 2019 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMAHAMI KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

MEMAHAMI KEBERADAAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 15 Januari 2019)

 

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua  takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ibr 2:5-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Orang-orang yang hadir dalam rumah ibadat (sinagoga) di Kapernaum merasa takjub mendengar pengajaran Yesus (Mrk 1:22) dan takjub juga menyaksikan bagaimana Yesus mengusir roh jahat yang merasuki seseorang (Mrk 1:27). Akan tetapi kelihatannya orang-orang itu tidak merasa kaget (tidak kaget-kaget amat) bahwa ada seseorang yang dirasuki roh jahat.

Sepanjang Perjanjian Baru memang ada pandangan umum bahwa orang-orang dewasa, bahkan anak-anak dapat diganggu dan dirasuki oleh roh-roh jahat (lihat Mrk 7:25; Luk 8:2,27; Kis 8:7). Roh-roh jahat yang memang bersifat jahat, misterius, mengganggu serta dapat merusak kesehatan seseorang pernah dipandang sebagai dewa-dewa yang inferior – personifikasi  dari kuat-kuasa di belakang sakit-penyakit manusia, penyembahan berhala dan bid’ah. Namun sekarang ilmu kedokteran sudah banyak menghasilkan kemajuan, pemahaman kuno tentang roh jahat sebagai sumber penyakit menjadi mereda, sayangnya semua itu dianggap takhyul…… diabaikan oleh mereka memandang diri sebagai orang-orang rasional!

Sebagai umat Kristiani kita percaya, bahwa makhluk-makhluk spiritual seperti roh jahat dan malaikat memang eksis/ada. Katekismus Gereja Katolik, mengatakan: “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang ini bersifat sama jelas” (KGK, 328). Sejumlah malaikat – seperti kita ketahui – telah memberontak melawan Allah dan menolak-Nya dan juga pemerintahan-Nya (KGK, 391,392). Kepala pemberontak ini adalah Iblis (Setan). Dalam dunia ini Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bekerja keras untuk menyebarkan kebencian mereka terhadap Allah. Mereka membisikkan kebohongan dan cerita-cerita yang separuh-benar untuk mengikat kita-manusia dalam ketakutan atau ketidakpedulian terhadap kasih Allah. Mereka menggoda kita dengan pikiran-pikiran kotor, menumbuhkan ketidakpuasan dalam diri kita terhadap hidup kita dan orang-orang yang kita cintai, dan juga membuat kita menderita penyakit ini-itu.

Koleksi berbagai kebenaran ini dapat melumpuhkan semangat kita. Iblis kelihatan sungguh menakutkan dan terasa begitu penuh kuat-kuasa. Namun kita harus senantiasa mengingat bahwa sehebat-hebatnya Iblis, dia tetaplah makhluk ciptaan. Kuat-kuasanya tetap terbatas, demikian pula dengan kemampuan-kemampuannya. Lagipula dia tidak pernah akan dapat mengalahkan kasih Allah atau rencana-Nya bagi Kerajaan-Nya (KGK, 395).

Saudari dan Saudaraku, Iblis dan roh-roh jahatnya itu riil – bukan bohong-bohongan seperti cerita Harry Potter. Kita perlu percaya akan keberadaan makluk-makluk jahat itu. Kita menaruh kepercayaan kepada Allah – yang dalam belas-kasih-Nya – akan membimbing kita dan segenap sejarah manusia – sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya di akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah setiap orang yang berada di bawah penindasan Iblis. Katakanlah kebenaran-Mu kepada mereka yang percaya akan kebohongan-kebohongan yang berasal dari si Jahat dan/atau roh-roh jahat pengikutnya. Sembuhkanlah orang-orang yang menderita sakit-penyakit karena pengaruh si Jahat dan para pengikutnya. Lindungilah orang-orang yang digoda oleh Iblis melalui nafsu, kecanduan, dan keserakahan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “IA MEMBERI PERINTAH KEPADA ROH-ROH JAHAT DAN MEREKA TAAT KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 15-1-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

Cilandak, 13 Januari 2018 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA

KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 14 Januari 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dari Pordenone, Imam

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: Ibr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,6-7,9

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17)

Yesus yang datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14-15). Yesus menemukan orang-orang yang rindu untuk dibebaskan, tidak hanya dari cengkeraman penjajah Roma, melainkan juga dari jeratan dosa dan maut. Kepada Simon dan saudaranya, Andreas yang sedang menebarkan jala di danau, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17).

Unsur penentu dalam bacaan ini adalah panggilan Yesus itu sendiri, bukannya tanggapan yang diberikan oleh kedua pasang bersaudara itu. Tidak ada sedikit pun catatan mengenai kualitas ke empat orang yang dipanggil-Nya itu, juga tidak disinggung cocok-tidak-cocoknya mereka untuk menjadi pengikut-Nya dan terlibat aktif dalam misi-Nya. Yesus memanggil empat orang nelayan ini untuk mengikut Dia, mengamati pekerjaan-Nya, mendengarkan pengajaran-Nya dan mulai tertantang oleh-Nya.

Yesus juga ingin mengajar kita semua untuk menginjili teman-teman dan para anggota keluarga kita sama efektifnya sebagaimana Dia menginjili para pengikut-Nya. Yesus berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah “tempat” yang diperintah oleh Allah yang mahakuasa, namun juga “seorang” Allah yang mempribadi. Allah-lah yang meraja, Allah-lah yang memerintah! Lalu Yesus menindak-lanjuti kata-kata-Nya dengan karya belas-kasih dan membuat banyak mukjizat dan tanda-heran lainnya. Orang-orang yang lapar diberi makan, orang-orang sakit disembuhkan, para pendosa diyakinkan bahwa dosa mereka diampuni karena belas kasih Allah, orang-orang yang memandang diri “benar” ditantang-Nya, dan kepada orang-orang yang sedang merasa cemas, galau, bingung, diberikan-Nya pengharapan. Sekarang Yesus ingin mengatakan kepada kita, bahwa kita semua adalah para anggota kerajaan-Nya yang sangat berharga, yang dipenuhi oleh Roh Kudus-Nya dengan kapasitas untuk menggerakkan hati dan pikiran orang-orang sebagaimana telah dilakukan-Nya dengan penuh kuat-kuasa.

Sekarang, percayakah Saudari/Saudara kepada janji Yesus, bahwa anda dan saya akan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12)? Apakah anda mendengar Allah berbicara kepada anda? Dalam situasi-situasi yang mana saja anda menerima kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan? Kapan anda sungguh berseru kepada-Nya mohon pertolongan, dan anda menerima hikmat-kebijaksanaan? Bilamana anda merasa bersalah karena kata-kata yang anda ucapkan, lakukan, atau pikirkan, dan mengalami pembersihan melalui pertobatan?

Masing-masing contoh di atas menunjukkan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan anda – suatu kuat-kuasa untuk memberi kesaksian tentang kasih-Nya dan kehadiran-Nya. Oleh karena itu, marilah kita semua membuka mata hati kita bagi cara-cara atau jalan-jalan Allah memberikan kepada kita masing-masing hikmat-kebijaksanaan kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan untuk melakukan intervensi, kapan untuk mengundurkan diri, kapan untuk merangkul seorang pendosa dan kapan untuk memberikan waktu kepadanya guna berpikir dan melakukan refleksi.

Percayalah Saudari-Saudaraku, kita semua dapat menjadi pewarta Kabar Baik seperti Yesus sendiri, menunjukkan kepada orang-orang yang kita temui bagaimana kiranya kalau sudah mengalami transformasi oleh Allah Yang Mahakuasa sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keyakinan untuk men-sharing-kan dengan orang-orang lain kehidupan yang telah Kauberikan kepadaku. Bentuklah aku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu mengasihi dengan bela rasa dan hanya mengandalkan pada kuat-kuasa-Mu semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan dengan judul “KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan untuk tanggal 14-1-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Januari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS