Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT

CERITA TENTANG DAUD BERTARUNG MELAWAN GOLIAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Rabu, 17 Januari 2018)

 

Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin  engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Pula kata Daud: “TUHAN (YHWH) yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! YHWH menyertai engkau.”

Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.”

Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama YHWH semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga YHWH akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa YHWH menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan YHWH lah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnya sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka. (1Sam 17:32-33,37,40-51) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10; Bacaan Injil: Mrk 3:1-6 

Berabad-abad lamanya para kudus, mistikus dan komentator melihat cerita “Daud vs Goliat” ini sebagai pertanda awal dari kemenangan Yesus atas Iblis. Daud mengalahkan orang Filistin melalui iman dan kepercayaannya yang diungkapkan-Nya dengan rendah hati kepada Allah. Demikian pula, Yesus mengalahkan Iblis oleh ketaatan-Nya dan kepercayaan-Nya yang rendah hati bahwa Allah tidak akan meninggalkan diri-Nya. Kemenangan Daud membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman orang Filistin, demikian pula kemenangan Yesus atas Iblis membebaskan kita dan cengkeraman dosa dan maut.

Memang mudah bagi kita untuk merasa begitu familiar dengan cerita “Daud vs Goliat” ini, sehingga kita luput menyimak apa yang ingin diajarkan Allah kepada kita lewat cerita ini. Plotnya sendiri memang cukup sederhana: Seorang gembala muda usia mengalahkan seorang musuh yang kelihatan jauh lebih kuat, membebaskan Israel dari dominasi bangsa asing, kemudian menjadi raja. Sebagaimana halnya dengan cerita “Daud vs Goliat” yang dapat menjadi terlalu familiar bagi kita, kita pun dapat berhenti pada suatu pemahaman yang belum terang benar mengenai kebebasan kita dalam Kristus. Sebagai akibatnya, ekspektasi-ekspektasi kita akan karya Allah dapat direduksi, dan pengorbanan Yesus pun dapat mulai terlihat sebagai suatu tindakan yang hampa dan sia-sia belaka.

Pada hari ini, marilah kita mencoba untuk mendalami bacaan di atas. Biarlah cerita “Daud vs Goliat” ini menggerakkan kita untuk menguji iman kita akan kemenangan Yesus di atas kayu salib. Marilah kita mengingat apa saja yang telah kita pelajari dan juga pengalaman kita akan Allah selama beberapa tahun belakangan ini. Apakah yang sesungguhnya terjadi ketika Yesus wafat di atas kayu salib? Kemenangan macam apa yang diperoleh Allah bagi umat-Nya pada hari itu? Kita dapat mencatat hasil “ingat-ingat” kita itu dan/atau mensyeringkannya dengan seorang sahabat. Selagi kita melakukannya, perhatikanlah bahwa pemahaman kita tentang Injil menjadi lebih tajam dan rasa percaya kita pada Allah pun bertumbuh. Roh Kudus senang untuk mengambil upaya kecil kita itu dan mentranformasikannya ke dalam suatu wawasan spiritual dan rahmat yang mempunyai kuat kuasa untuk mengubah hati kita.

Apabila pada hari ini kita diintimidasi oleh situasi tertentu atau suatu pola dosa yang lama muncul – misalnya memori yang menyakitkan, maka sepantasnyalah kita meniru Daud. Ketika Saul meragukan kemampuannya, Daud berkata dengan penuh keyakinan: “TUHAN (YHWH) yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (1Sam 17:37). Kita harus percaya pada pembebasan Allah yang memberikan kemenangan kepada kita. Apabila kita berdiri tegak dalam melawan Iblis, teguh dalam iman kepada Allah, maka kita pun akan melihat kejatuhannya. Tidak ada kuasa mana pun yang dapat melawan mereka yang ditanam secara kokoh dalam kasih dan kerahiman Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah membebaskanku dari kuasa dosa dan maut. Dalam Engkau aku akan berkemenangan atas setiap musuhku. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan dengan judul “YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 17-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL

CERITA TENTANG DAUD YANG DIURAPI MENJADI RAJA ISRAEL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 16 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Fransiskan

 

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman YHWH; “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan kurban kepada YHWH. Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.” Samuel berbuat seperti yang difirmankan YHWH dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?” Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan kurban kepada YHWH. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan YHWH sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi berfirmanlah YHWH kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati.”

Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih YHWH.” Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih YHWH.”

Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu YHWH berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh YHWH atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menunju Rama. (1Sam 16:1-13) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28; Bacaan Injil: Mrk 2:23-28 

“Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi …… Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati.” (1Sam 16:7)

Memang, seperti yang kita pelajari dari kelas “management” atau mata-mata kuliah lainnya yang menyangkut perilaku manusia, dan juga dari pengalaman hidup kita sendiri, APPEARANCE CAN BE DECEIVING, … PENAMPILAN DAPAT MENIPU. Kelihatan sekilas seperti seekor beruang grizzly, ternyata hanyalah seekor beruang panda! Bukankah cukup sering kita membuat penilaian secepat kilat, kemudian menyadari bahwa kita telah membuat kesalahan besar? Bukankah tidak jarang kita membuat penilaian salah atas diri seseorang karena kita percaya pada pepatah Belanda yang mengatakan “Kleeren maken de man” (Pakaian yang dipakai seseorang membuat diri orang tersebut)? Pernahkah anda serta-merta mengatakan tentang keluarga tetangga yang baru, “Mereka bukanlah orang-orang yang pantas bagi kita … They are just not my kind of people”? Barangkali anda pun pernah gagal mengenali Roh Allah yang bekerja dalam diri seseorang, “Bagaimana Roh Kudus dapat menggunakan orang semacam itu, padahal ada banyak orang yang ‘lebih baik’?” Dll., dst.

Dalil bahwa appearance can be deceiving menjadi nyata-benar ketika sang nabi mengunjungi Isai dan anak-anaknya yang laki-laki. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi YHWH melihat hati” (1Sam 16:7). Allah menjungkir-balikkan ide yang ada dalam benak Samuel tentang kriteria kepemimpinan. Ia memilih putera bungsu Isai yang bernama Daud, yang bahkan oleh ayahnya sendiri pun tidak diikutsertakan … dibiarkan tetap menggembalakan kawanan kambing dombanya. Daud dinilai tidak signifikan untuk ikut-serta dalam “kontes calon raja Israel”, namun justru dialah yang dipilih menjadi raja Israel yang baru. Sejarah menunjukkan bahwa Daud adalah raja Israel yang terbesar, dan sang Mesias adalah keturunannya. Sedikit catatan penghiburan bagi kita semua: Samuel (seorang nabi) saja dapat terkecoh ketika melihat Eliab yang kelihatan gagah-perkasa, apalagi rakyat kebanyakan di sebuah republik ketika mereka memilih calon presiden mereka.

Nah, Kitab Suci dipenuhi dengan pilihan-pilihan Allah yang sungguh tidak diharap-harapkan oleh “orang-orang normal” … unexpected choices! Ia memberi Rut – seorang Moab – sebuah tempat istimewa dalam daftar nenek moyang Yesus. Belum lagi nama-nama “buruk” lainnya! Allah memilih para nelayan tak berpendidikan menjadi para murid-Nya yang pertama. Ia juga memilih Saulus – seorang Farisi ekstrim yang mengejar para pengikut Kristus perdana – untuk menjadi seorang rasul agung: Paulus. “Janganlah menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh 7:24). Yesus juga pernah menegur orang-orang Farisi yang tidak mengenali siapa Dia sebenarnya: “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia” (Yoh 8:15). Jadi, Allah sungguh mempunyai cara-Nya sendiri untuk menjungkir-balikkan pandangan-pandangan dan asumsi-asumsi manusiawi kita.

Belajar memahami cara-cara atau jalan-jalan Allah – memandang dengan mata dan menilai dengan kriteria-Nya – adalah sebuah proses sepanjang hidup kita. Walaupun demikian, Ia memberi banyak kesempatan kepada kita untuk mempraktekkannya. Lain kali, kalau anda tergoda untuk membuat penilaian secepat kilat, ingatlah sabda Allah: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, …… Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9).

Oleh karena itu, marilah kita memandang segala sesuatu di sekeliling kita melampaui penampilan yang kelihatan di permukaan sambil membuang segala prasangka serta praduga yang ada dalam diri kita. Lewat proses discernment yang benar, marilah kita menemukan rencana Allah!

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu tiliklah hatiku dan ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Hancurkanlah segala pra-konsepsi yang ada pada diriku tentang Engkau, sehingga dengan demikian aku sungguh dapat mengenal Engkau. Tolonglah aku menyingkirkan segala penilaian salah tentang orang-orang lain agar aku dapat memandang mereka dengan mata-Mu dan mengasihi mereka dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan dengan judul “HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA” (bacaan untuk tanggal 16-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

ANGGUR BARU DALAM KANTONG KULIT YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 15 Januari 2018) 

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin diriku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.). Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa takut ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Santa Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan dengan judul “ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU” (bacaan untuk tanggal 15-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Januari 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS BERTANYA: APA YANG KAMU CARI?

YESUS BERTANYA: APA YANG KAMU CARI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa II [Tahun B], 14 Januari 2018)

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia  berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20 

Sungguh menarik bagi kita untuk melihat bagaimana para rasul untuk pertama kalinya mengenal Allah melalui Yesus. Ketika di Betania, Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus seraya berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yoh 1:36). Dua orang murid Yohanes (Andreas dan seorang lagi) lalu pergi mengikut Yesus. Yesus menoleh ke belakang dan bertanya  kepada mereka berdua: “Apa yang kamu cari?” (Yoh 1:38).

Ini adalah juga pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing, “Apakah yang kamu cari? Allah macam apa yang sedang kamu cari?” Ketika kita pergi mencari seseorang yang belum pernah kita lihat, maka kita mempunyai semacam gambaran tentang orang itu dalam pikiran kita. Jadi, kita masing-masing mempunyai semacam pandangan atau gambaran tentang bagaimana kiranya Allah itu – sampai kepada suatu saat di mana kita menyadari bahwa kita telah salah.

Ada yang mengatakan, “Anda akan menemukan Allah melalui agama, oleh karena itu peluklah agama!”  Namun pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah: Apakah yang dimaksud dengan agama? Seperangkat peraturan yang harus diikuti, ditaati, dipatuhi agar dapat masuk ke dalam surga? Apakah hal itu berarti bahwa anda jangan menjadi seorang musuh Allah? Jangan cari urusan yang akan menyusahkan dirimu, jauhi rambut orang lain, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Semua ini bersifat negatif. Tentu semua ini pasti bukan dari Allah!

Bagaimana Saudari-Saudara akan melukis gambar Allah? Seorang tua dengan jenggot yang panjang berwarna putih, dahi mengkerut dan sepotong tongkat untuk memukul siapa yang saja yang terkikih-kikih ketika berdiri di hadapan hadirat-Nya guna mendisiplinkannya.

Kita masing-masing mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang Allah, berdasarkan pengalaman pribadi kita sendiri, melalui kedua orangtua kita, para guru kita dan peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam hidup kita. Banyak dari kita tidak pernah melampaui tahapan “kesan pertama” tentang Allah, sebagaimana yang kita alami dengan orang yang kita tidak/belum kenal benar. Dan kita pun akan sama salahnya tentang Allah seperti tentang orang lain yang tidak/belum kita kenal dengan mendalam.

Jawaban kedua murid Yohanes itu sungguh indah. Ketika Yesus bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?”, maka mereka menjawab dengan balik bertanya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” (Yoh 1:38). Dengan perkataan lain, “Kami ingin mengenal Engkau dengan begitu baik agar dengan demikian kami dapat menjadi sahabat-sahabat pribadi-Mu.”

Lalu Yesus mengundang mereka, sebagaimana Dia selalu mengundang kita: “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Lalu Injil Yohanes melanjutkan: Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia. Apakah kita (anda dan saya) pernah melakukan hal seperti itu? Tinggal sepanjang hari bersama dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita? Pada kenyataannya kedua murid itu tinggal bersama Yesus sepanjang hidup mereka, karena mereka menemukan Yesus begitu layak dan pantas untuk dikasihi. Mereka tidak pernah meninggalkan Yesus setelah bertemu dengan Dia dan tinggal bersama dengan-Nya di rumah-Nya sepanjang hari. Untuk mengatasi pandangan-pandangan kita yang salah tentang Allah, marilah kita membaca Injil Yohanes. Yesus bersabda bahwa melalui Dia kita akan mengenal Allah, Bapa surgawi yang mengasihi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, seperti para murid-Mu yang pertama, aku pun ingin tinggal bersama dengan Engkau sepanjang hidupku, siap memanggul salibku ke mana saja Engkau memerintahkan aku untuk mewartakan Kabar Baik dari-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!” (bacaan tanggal 14-1-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar mereka dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius menyadari akan kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita sekarang bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia menyadari dan mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkan dirinya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, sefl sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anakKu, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11)

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”

Wajah sejati Allah adalah “‘Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9

“Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:11) 

Kata-kata ini terdengar pada saat pembaptisan Yesus, tidak lama sebelum Ia mengawali pelayanan-Nya di muka umum. Ada yang mengatakan  bahwa mungkin saja kata-kata yang sama terdengar-ulang namun dengan nada suara yang lebih menyedihkan, pada saat akhir karya pelayanan Yesus, yakni ketika Dia terpaku di kayu salib, lalu “menghembuskan napas terakhir-Nya” (Mrk 16:37). Yang mau dikemukakan di sini adalah bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus sungguh adalah “Anak terkasih Bapa dan sungguh berkenan kepada-Nya”.

Itulah mengapa tidak hanya Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus dan memandang kepada-Nya. Ketika untuk pertama kalinya dia berkhotbah di depan Kornelius dan keluarganya, Petrus memproklamasikan martabat ketuhanan Yesus di atas segalanya – bagaimana Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan kuasa (Kis 10:36-38). Namun jauh sebelum Petrus, nabi Yesaya dengan fasihnya telah bernubuat mengenai Sang Mesias sebagai seseorang yang dipilih Allah dan kepadanya Dia berkenan: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”  (Yes 42:1).

Bagaimana dengan kita sendiri? Kita juga perlu memandang Yesus, memusatkan hidup kita pada-Nya dan belajar “Siapa Dia sebenarnya”. Terlalu sering pusat hidup kita adalah diri kita sendiri, bahkan dalam spiritualitas kita …… kita berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih suci, lebih penuh sukacita. Namun sukacita Bapa surgawi terletak pada Yesus; sukacita Roh Kudus adalah untuk mengajar kita siapa Yesus itu. Yesus adalah sungguh dan sepenuhnya manusia, namun Ia juga sungguh dan sepenuhnya ilahi. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah contoh sempurna bagaimana kita seharusnya menjadi – hidup sepenuhnya, terbuka sepenuhnya kepada Allah, sadar sepenuhnya tentang potensi kita sebagai mahluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26).

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesus berbeda, namun memerlukan Roh Kudus untuk mengajarkan kepadanya sampai dia dapat mengatakan: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:34). Para murid hidup beberapa tahun dengan Yesus dan hanya secara perlahan-lahan mereka pun baru menyadari apa yang membuat Dia begitu berbeda dengan mereka, dalam cara berpikir, berkata-kata dan bertindak. Namun hanya setelah Roh Kudus turun atas diri mereka pada hari Pentakosta-lah para murid mampu untuk mulai berkhotbah kepada orang-orang lain mengenai “Siapa Yesus itu” (Kis 2:1-40).

Selagi kita merayakan turun-Nya Roh Kudus pada waktu pembaptisan Yesus, baiklah kita berdoa agar supaya Roh Kudus turun ke atas diri kita secara baru, bahwa Dia akan memperdalam perwahyuan akan Yesus, kepada siapa Allah berkenan. Baiklah kita mohon kepada Roh Allah untuk mendaftarkan kita ke dalam Sekolah Kristus, sehingga kita dapat belajar dari Yesus sang Guru. Kita mau mohon agar ke-aku-an kita semakin mengecil sehingga dengan demikian Kristus pun dapat semakin meningkat besar dalam diri kita. Pada suatu saat kelak, ketika Bapa surgawi memandang kita, semoga Dia melihat kita sebagai para murid Yesus yang sudah menjadi seperti Anak-Nya sendiri, dan kita pun berkenan kepada-Nya. 

DOA: Allah yang Mahakasih dan Penyayang, tolonglah kami agar dapat menjadi murid sejati dari Anak-Mu, Yesus Kristus sehingga kami dapat selalu mengikuti kehendak-Mu yang kudus. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikuti panggilan-Mu sehingga kebenaran-Mu dapat berdiam dalam hati kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 8-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS