Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)
OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular

Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33)

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7

Yesus mencoba mempersiapkan para murid-Nya untuk suatu peristiwa yang akan terjadi tidak lama lagi, yaitu sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib (Yoh 16:4). Para murid mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, namun mereka masih belum juga mampu memahami sepenuhnya makna pesan Yesus tentang penderitaan sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita karena kesalahpahaman orang-orang, mereka juga akan menderita kepedihan dan penolakan dari banyak orang. Namun demikian, di sisi lain para murid juga akan memperoleh sukacita karena Yesus akan melihat mereka lagi (Yoh 16:22) dan Bapa surgawi akan memberikan apa saja yang diminta para murid dalam nama Yesus (Yoh 16:23). Yesus juga meramalkan tentang “pengkhianatan” para murid terhadap diri-Nya (Yoh 16:32).

Injil Yohanes mempunyai suatu cara yang unik dalam menyampaikan pesan yang memberikan pertanda dan pada saat yang sama mengungkapkan pengharapan. Pengharapan itu mencakup kenyataan bahwa Bapa menyertai Yesus (Yoh 16:32), oleh karena itu Yesus telah mengalahkan dunia: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Bagaimana kiranya Kristus mengalahkan dunia? Melalui karya salib-Nya. Melalui salib Kristus, dosa, Iblis dan dunia telah dikalahkan. Oleh penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menundukkan segala kuasa kejahatan dan kegelapan di bawah otoritas-Nya. Allah tidak pernah membuat kita membuang kebebasan kita. Oleh karena itu, walaupun Yesus telah menang, kita masih dapat memilih kejahatan dan kegelapan dalam keputusan-keputusan dan relasi-relasi kita. Akan tetapi, bilamana kita bersatu dengan Yesus – sebuah persatuan yang dimulai sejak saat kita dibaptis dan bertumbuh melalui kehidupan iman – maka kita pun dapat mengenal dan mengalami kemenangan.

Inilah pengharapan kita sebagai umat Kristiani; dalam Kristus kita berkemenangan. Kalau kita bersatu dengan Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan rasa takut, penolakan, penganiayaan dan segala hal yang dari dunia ini yang akan merampas dari kita damai sejahtera, sukacita dan cintakasih. Selagi kita memperhatikan dengan penuh kasih segenap anggota keluarga kita, melakukan pekerjaan kita, melayani Tuhan dalam berbagai kegiatan kerasulan, menolong anggota keluarga, teman-sahabat dan komunitas di dalam mana kita adalah anggotanya, maka baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita karunia ketabahan agar kita dapat dengan tekun dalam iman dan dalam kegiatan pelayanan kita kepada Allah dan sesama kita.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan berikanlah kepada kami karunia ketabahan. Jagalah jiwa kami pada saat-saat yang sulit dan berbahaya, jagalah juga segala upaya kami dalam mengejar kekudusan serta kuatkanlah kami agar dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk melawan serangan-serangan dari para musuh kami, yaitu Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, agar kami tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh mereka dan dipisahkan dari-Mu, ya Roh Kudus Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?” tanggal 29 Mei 2017 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sekarang kita berada dalam masa istimewa antara HARI RAYA KENAIKAN TUHAN dan HARI RAYA PENTAKOSTA; dan tidak sedikit pula umat Katolik yang mengikuti Novena Pentakosta yang dimulai hari ini. Selama kita berada dalam periode singkat namun khusus ini, marilah kita memusatkan perhatian kepada penyambutan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing dan ke dalam Gereja dengan penuh kuat-kuasa, karena Dia adalah pengharapan kita. Selama kita masih hidup di atas bumi ini, maka kita seringkali “menangis dan meratap” (Yoh 16:20); kita bergumul dengan dosa dan berbagai macam godaan, dengan rasa sakit, dan penyakit yang diderita serta kematian atau maut itu sendiri. Namun demikian pengharapan kita terletak dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!  Roh Kudus yang datang untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Yesus telah memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Pada waktu Yesus “mohon pamit” kepada para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami kesedihan dan rasa sakit dalam dunia ini, namun para murid tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dan dukacita dalam dunia ini dengan rasa sakit dan dukacita seorang perempuan pada saat-saat sebelum melahirkan bayinya, pada saat-saat mana sukacita karena kelahiran seorang anak manusia jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dukacita yang dialami selama proses kelahiran itu sendiri. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menantikan orang-orang yang percaya kepada Allah (dan menaruh kepercayaan kepada-Nya).

Hidup kita terjamin dalam tangan-tangan Bapa surgawi. Sebagaimana para murid-murid Yesus yang awal, kita juga dapat meratapi dosa kita dan juga kegelapan dalam dunia. Namun pada saat yang sama kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang menjadi tumpuan kepercayaan kita. Dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa Dia mampu menjaga apa yang telah kita percayakan kepada-Nya sampai pada akhir zaman. Paulus menulis: “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim 1:11-12). Sebagaimana seorang ibu yang mengantisipasi kelahiran anaknya sejak saat perkandungannya, kita juga dapat memandang ke depan …… kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, walaupun kita banyak menanggung derita karena iman-kepercayaan kita sekarang.

Yesus Kristus mengalahkan dosa, kematian (maut) dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan kita setiap hari dengan penuh pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Juruselamat kita. Karena kita menjadi milik Yesus Kristus, maka tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat merampas kita dari pengharapan kita. Walaupun kegelapan dunia membuat kita sedih, pengharapan kita tetap berada di tangan kuasa dan kasih Allah. Kita mempunyai keyakinan kuat, bahwa apabila Yesus datang kembali kelak, setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan kita akan berakhir.

DOA: Roh Kudus Allah, kami menyambut Dikau. Penuhilah diri kami, umat-Mu, dengan pengharapan bahwa kami dapat menanggung penderitaan kami pada masa ini, dan menghadap ke depan, yaitu kepada sukacita abadi dalam hadirat Allah pada akhir zaman. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “AKU AKAN MELIHAT  KAMU LAGI” (bacaan tanggal 26-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUNCI BAGI PEMAHAMAN INJIL MATIUS

KUNCI BAGI PEMAHAMAN INJIL MATIUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun A] – Kamis, 25 Mei 2017

Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23

Injil Matius ditutup dengan sebuah pemandangan yang agung-menakjubkan, yang menegaskan lagi fundamental-fundamental dari pesan yang disampaikan Matius. Ada sejumlah ahli Kitab Suci modern yang malah mengatakan bahwa perikop ini merupakan “kunci” bagi pemahaman Injil Matius: Apa yang ingin dikatakan oleh Matius dalam Injilnya adalah, bahwa Kristus adalah seorang Pribadi kepada siapa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan, dan pada gilirannya Dia mendelegasikan kuasa ini kepada para murid, mengutus mereka untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa, melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh-Nya.

Dalam Mat 1-9 kuasa Yesus disoroti. Singkatnya, Injil Matius bergravitasi di sekitar kuasa/otoritas Yesus dan otoritas para rasul sebagai pemimpin-pemimpin Israel sejati. Sekarang, kesebelas rasul pergi ke sebuah bukit di Galilea untuk menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam Injil Matius bukit/gunung adalah tempat untuk perwahyuan yang istimewa (“Khotbah di Bukit” [Mat 5-7], “Transfigurasi” [Mat 17:1-13] dan perikop ini).  Hal ini terlebih-lebih merupakan ungkapan teologis ketimbang ungkapan geografis. Ketika Yesus muncul, beberapa orang ragu-ragu, tetapi mereka menyembah-Nya (Mat 28:17).

Kekuasaan penuh telah diberikan oleh Bapa kepada Yesus karena kebangkitan-Nya dan permuliaan-Nya. Sekarang Ia mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa (artinya tidak hanya kepada bangsa Yahudi). Semua orang diajak untuk menjadi murid-murid-Nya, para pengikut Kristus. “Kekuasaan penuh” yang dimiliki oleh Kristus yang bangkit, mengingatkan kita semua kepada Anak Manusia yang dimuliakan dalam Kitab Daniel: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:13-14).

Kristus yang memegang kekuasaan penuh inilah yang memberi “amanat agung” kepada para murid-Nya, mengutus mereka ke segala bangsa dan menjadikan mereka menjadi murid-Nya. Jadi para murid dituntut untuk menjadikan orang-orang lain murid-murid juga. Memang dalam dunia Kekristenan/Kristianitas hanya ada seorang Guru saja, yaitu Yesus Kristus. Para murid diminta untuk mengajar seperti Yesus mengajar, dan membentuk sebuah komunitas yang para anggotanya adalah murid-murid Kristus. Komunitas yang disebut Gereja, Tubuh Kristus, dengan Yesus Kristus sebagai Kepalanya. Kepada “segala bangsa”, karena misi Gereja bersifat universal; tidak ada Gereja yang khusus diperuntukkan bagi satu bangsa atau bangsa-bangsa tertentu saja. Kepada komunitas ini dijanjikan kehadiran terus-menerus dari “Tuhan yang Bangkit” sampai akhir zaman (Mat 28:20; bdk. Mat 1:23; Mat 18:20).

Mereka yang diajar oleh para murid itu kemudian dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan kepada mereka juga diajarkan untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus kepada para murid yang awal. Rumusan Trinitarian “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” mungkin saja  bukan kata-kata yang diucapkan Kristus, melainkan merupakan rumusan Gereja Perdana. Dalam Kis 2:38; 8:16; 10:48; 19:5 disebutkan suatu baptisan “dalam nama Tuhan Yesus” atau “dalam nama Yesus Kristus”; hal mana tidak bertentangan dengan Mat 28:19. “Dalam nama” berarti oleh/dengan otoritas seseorang. Para rasul membaptis oleh/dengan otoritas Yesus Kristus, seperti telah diperintahkan oleh-Nya. Membaptis dalam nama Yesus Kristus secara implisit juga bersifat Trinitaris (Trinitarian), karena Yesus Kristus adalah sang Mesias yang diutus oleh Bapa surgawi dan Ia adalah Pribadi yang memenuhi karya-Nya melalui Roh Kudus.

Sebagai bagian penutup dari tulisan ini, baiklah kita merenungkan beberapa hal. Rasa hormat mendalam kepada pribadi Yesus, suatu penekanan atas hikmat-kebijaksanaan yang terkandung dalam ajaran Yesus, keprihatinan untuk membangun Gereja (bukan gedung gereja), dan suatu masa depan yang penuh kepastian akan kehadiran sang Imanuel – tema-tema ini telah menjadi menjadi begitu familiar bilamana kita membaca dan merenungkan Injil Matius. Ketika kita mau menutup Injil Matius, ada satu ayat yang kiranya muncul dalam pikiran dan hati kita: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat 7:24).

DOA: Tuhan Yesus, tranformasikanlah diri kami dengan sabda kehidupan dari-Mu. Dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “INKARNASI YESUS DAN GEREJA” (bacaan tanggal 25-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 24 Mei 2017)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22 – 18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kadang-kadang timbul keinginan dalam hati kita bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita pada Perjamuan Terakhir semua hal yang dikatakan oleh-Nya akan diajarkan oleh Roh Kudus setelah Ia sendiri pergi, bukankah begitu? Tidak pernahkah kita mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan suatu keputusan sangat penting, namun ketika kita selesai berdoa kita masih  saja tidak yakin apakah suara yang menjawab doa kita di kepala kita itu sungguh suara Allah atau hanya imajinasi kita sendiri? Lalu kita berkata kepada diri kita sendiri: “Ah, kalau saja Roh Kudus berbicara kepada kita dengan jelas seperti pada waktu Yesus berbicara dengan para murid-Nya!” …… “Kalau saja Dia dapat menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti, sehingga aku tidak perlu mengira-ngira, tak perlu menebak-nebak apa yang dimaksudkan oleh-Nya!”

Namun Yesus mengatakan kepada kita – dengan kata-kata yang mudah dimengerti – bahwa lebih berguna bagi kita kalau Dia pergi kembali kepada Bapa surgawi (Yoh 16:7). Mengapa? Karena dengan demikian Dia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita untuk menyucikan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Dalam hati kita dapat saja ingin agar kita memiliki kedekatan dengan Yesus seperti halnya para rasul/murid-Nya yang pertama. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa meski begitu dekat dengan Yesus, tetap saja tidak dapat mencegah para rasul/murid untuk merasa takut akan nyawa mereka sendiri; tidak dapat mencegah mereka untuk melarikan diri justru pada waktu sang “Tuhan dan Guru” ditangkap oleh pasukan para penguasa pada waktu itu.

Kapan sebenarnya kita berada paling dekat dengan Yesus? Tentunya pada waktu kita menyambut Dia dalam Komuni Kudus – setelah kita mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga dalam Komuni Kudus Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita dan untuk menyentuh kita dengan penyembuhan-Nya, dengan hikmat-Nya dan dengan kasih-Nya. Yang diminta oleh-Nya dari kita hanyalah hati yang terbuka lebar-lebar bagi Dia dan pikiran-hening yang hanya tertuju kepada-Nya.

Oleh karena itu janganlah kita membuang-buang waktu sedemikian, yaitu saat-saat kebersatuan dengan Allah secara mendalam, ketika suara kecil hampir tak terdengar dari Roh Kudus dapat terdengar paling jelas dalam hati kita. Tentu saja kita tidak keluar dari Misa Kudus dengan sebuah dokumen sepanjang 2-3 halaman folio berisikan kata-kata yang didiktekan oleh Roh Kudus berkaitan dengan pilihan penting yang harus kita buat. Namun demikian, kita akan membawa dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, laksana suatu cara pengobatan/terapi radiasi yang menembus bagian luar diri kita dan membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya masuk ke dalam bagian-bagian diri kita yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ucapkanlah sabda-sabda-Mu yang hidup kepadaku setiap hari – sabda-sabda-Mu yang akan menembus dalam-dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, juga kata-kataku dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu saja. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan pertama hari ini (Kis 17:15,22 – 18:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN LUPA PERANAN SALIB” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya  dapat lebih bersifat intim/akrab dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus,  mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 23-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 22 Mei 2017)

 “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Paracletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai “seorang” penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16).

Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah anda pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di sampingmu ketika anda duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, anda tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya anda pikir tidak mungkin.

Dalam masa Paskah ini, baiklah anda datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Mohonlah kepada-Nya untuk menolongmu dalam kelemahan-kelemahanmu. Sementara anda membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati anda, di mana kehendak anda dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan anda pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 22-5-17) dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS

KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Keakraban relasi antara Bapa surgawi dan Putera (Anak)-Nya, Yesus, adalah berlandaskan kehidupan yang saling disyeringkan. Hal ini dinyatakan kepada kita oleh ketaatan sang Putera, oleh konformitas total dari kehendak-Nya kepada kehendak Bapa. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya, sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19; bdk. 5:30; 7:17,28; 8:28; 14:10). Itulah sebabnya mengapa, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia …” (Yoh 8:28). Dalam kematian sang Putera di kayu salib itulah kita baru mampu memahami makna sesungguhnya dari ketaatan-Nya kepada Bapa. Dari peristiwa kematian-Nya tersebut kita akan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan: “Aku di dalam Bapa-Ku” (Yoh 14:20).

Sebagai akibat yang wajar dari pernyataan ini, ungkapan “pada waktu itulah” akan juga dipahami oleh para murid bahwa mereka akan di dalam Yesus dan Yesus di dalam mereka (Yoh 14:20). Akan tetapi, keakraban sedemikian antara umat yang percaya dan Tuhan mereka yang sudah bangkit bersifat mutualistis dan timbal-balik secara istimewa. Keberadaan-Nya dalam diri mereka berarti bahwa mereka hidup karena Dia sendiri hidup (Yoh 14:19). Namun demikian, walaupun mereka hidup karena Dia, “Aku di dalam kamu”, kebalikannya, yaitu “kamu di dalam Aku” tidak dapat diartikan bahwa Yesus hidup karena mereka. Yesus adalah seperti apa adanya Dia karena Dia adalah untuk mereka, karena Dia adalah Wahyu Bapa bagi mereka. Hanya melalui iman-kepercayaan kita kepada Yesus, hanya dengan menghidupi kehidupan mereka dalam diri-Nya, maka mereka dapat hidup. Tentu saja, menghayati kehidupan di dalam Dia berarti taat kepada perwahyuan yang dibawakan oleh-Nya, taat kepada kehendak-Nya seperti disabdakan/diperintahkan oleh-Nya.

Jadi, ketaatan kepada perintah-perintah Yesus sesungguhnya merupakan satu-satunya sarana yang tersedia bagi umat yang percaya untuk mengungkapkan kasih mereka kepada-Nya. Tidak ada sarana lainnya. Hanya dengan mentaati perintah-perintah Yesus umat yang percaya menunjukkan kepada dunia bahwa Dia (Yesus) ada di dalam mereka dan mereka di dalam Dia (Yoh 14:20); bahwa mereka adalah para murid-Nya (Yoh 13:35). Mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sungguh hidup karena Dia, Tuhan yang sudah bangkit, hidup (Yoh 14:19).

Mereka yang ingin selalu dekat dengan Yesus, yang senantiasa memiliki hasrat melihat Bapa (Yoh 14:8), yang merindukan kelangsungan dari kehadiran Yesus di atas bumi ini, semuanya dirujuk kepada perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi (Yoh 13:34,35). Tidak ada jalan lain, tidak ada sarana lain, untuk mendapatkan kasih Bapa (“akan dikasihi oleh Bapa-Ku”; Yoh 14:21) dan kasih Yesus sendiri (“Aku pun akan mengasihi dia”; Yoh 14:21). Hanya lewat ketaatan kepada perintah-perintah Yesus kita dapat memahami sepenuhnya perwahyuan yang dibawa oleh-Nya: “… akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21).

Ini adalah alasan mengapa beberapa waktu sebelumnya Yesus mengingatkan Nikodemus bahwa “… manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yoh 3:19). Sebaliknya, perbuatan-perbuatan mereka yang percaya kepada Yesus sebagai “terang dunia”, yaitu orang-orang yang mempunyai “terang kehdupan” (Yoh 8:12) akan taat kepada perintah-Nya untuk saling mengasihi.

Singkatnya, ketaatan kepada sabda/perintah-Yesus adalah syarat satu-satunya untuk berdiamnya Bapa dan Putera-Nya dalam diri umat yang percaya: “Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

DOA: Terima kasih Roh Kudus, Engkau adalah Penolong yang lain, Engkaulah Roh Kebenaran yang mengingatkan diri kami senantiasa bahwa ketaatan kepada perintah-perintah Yesus adalah satu-satunya jalan, satu-satunya sarana yang tersedia bagi kami – umat yang percaya – untuk mengungkapkan kasih kami kepada-Nya; demikian pula untuk berdiamnya Bapa dalam diri kami dan juga Yesus Kristus – Putera Bapa – Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KEHADIRAN YESUS SECARA BARU” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS