Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

BAHKAN SEBELUM ANDA MEMINTANYA

BAHKAN SEBELUM ANDA MEMINTANYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Yesuit – Kamis, 21 Juni 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-7

Apabila anda sungguh ingin menyentuh hati Allah dalam doa anda, dengarlah petunjuk yang diberikan oleh Yesus: Yakinlah bahwa Bapamu sudah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Anda mengetahui bahwa bahkan seekor burung gereja tak akan jatuh ke tanah tanpa perkenanan Allah, maka anda pun dapat merasa pasti bahwa Bapa surgawi mengetahui apa yang anda butuhkan, bahkan sebelum anda memintanya.

Allah senang apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan. Ingatlah kekaguman Yesus atas iman seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya memohon kesembuhan bagi hambanya: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10; Luk 7:9). Yesus sangat terkesan dengan perwira itu yang begitu mempercayai-Nya sehingga mengatakan bahwa Yesus tidak perlu datang ke rumahnya untuk membuat mukjizat kesembuhan. Jadi, karena Allah senang sekali memenuhi kebutuhan kita dan Ia telah merencanakan hal-hal yang baik bagi kita; Allah sungguh senang – amat senang, apabila kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan bahwa Dia pasti menolong kita.

Allah sebenarnya ingin melakukan lebih daripada sekadar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia ingin mempunyai suatu relasi dengan kita masing-masing secara pribadi. Itulah sebabnya mengapa Dia menciptakan kita pada instansi pertama untuk mengenal-Nya. Allah bukanlah seperti sebuah ATM, dari mana kita dapat menarik uang yang kita butuhkan. Karena kasih-Nya yang tak terhingga, Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia menebus manusia dan membawanya ke dalam relasi yang hidup dan dinamis dengan diri-Nya. Dia  juga memberikan Roh-Nya agar dapat mengangkat kita ke hadapan takhta-Nya setiap kali kita berdoa.

Kita orang zaman sekarang menggunakan segala peralatan elektronik canggih – paling sedikit ponsel – untuk berhubungan dengan anggota-anggota keluarga kita sepanjang hari. Akan tetapi, Allah memberikan Putera-Nya sendiri dan mengutus Roh Kudus sehingga kita dapat berbicara kepada-Nya dengan lebih mudah daripada memakai sebuah ponsel. Apabila kita mengenal Allah secara pribadi, sebagai Bapa dan Sahabat, maka kita mulai merindukan kedatangan Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita mencoba cara-cara berdoa baru yang membuka pintu  bagi suatu relasi dengan Dia. Marilah kita dengan segala kejujuran dan penuh kepercayaan menghadap Allah sebagai anak-anak-Nya dan sahabat-sahabat-Nya, dan mohon kepada-Nya agar dapat mengenal-Nya secara lebih mendalam.

DOA: Bapa surgawi, aku sungguh mengasihi Engkau. Aku ingin mengenal Engkau secara pribadi. Aku tahu Engkau mengawasi aku dan memperhatikan diriku. Tunjukkanlah kepadaku pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku merindukan suatu kedekatan dengan-Mu, ya Bapa, Tuhan Allahku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 21-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

WASPADALAH TERHADAP SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

WASPADALAH TERHADAP SEGALA MACAM KEMUNAFIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Rabu, 20 Juni 2018)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” 

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18) 

Bacaan Pertama: 2Raj 2:1,6-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-21,24 

Yesus seringkali mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap segala macam kemunafikan. Kemunafikan adalah ketidakjujuran yang tidak dapat ditoleransi. Salah satu tanda paling jelas sebuah masyarakat yang sehat adalah kejujuran yang inheren dalam diri para warga masyarakat itu. Dan bahan pengawet yang paling pasti dari kesehatan mental dalam diri seorang invididu adalah kejujurannya yang sudah menjadi kebiasaan (habitual honesty).

Tidak salahlah apabila “kejujuran” disebut sebagai yang paling fundamental, yang paling primitif dan mendasar dari keutamaan-keutamaan manusia. Kejujuran adalah fondasi paling mendasar di atas mana dibangun “iman” dan “pengharapan”, dan kejujuran adalah syarat mutlak adanya “kasih”.

Dalam masyarakat yang sudah dipenuhi dengan kebohongan, teristimewa di kalangan pimpinan negara dan bangsa, baik di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif, termasuk para elit dari partai-partai politik, yang sungguh-sungguh diperlukan adalah “personalitas yang otentik” (authentic personality). Apa maksudnya? Tidak lain dan tidak bukan hal ini berarti “kejujuran fundamental dalam diri seorang pribadi”. Kita semua memiliki berbagai kelemahan, namun kuatlah dalam kejujuran kalau ingin dihormati atau memperoleh respek anak-cucu kita.

Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, sangat mengetahui bahwa kejujuran menyelamatkan jiwa. Yesus selalu melawan kemunafikan sebagai perusak yang besar dan teramat serius. Banyak peringatan-peringatan keras Yesus dalam pengajaran-pengajaran-Nya diarahkan oleh-Nya pada kejahatan duplisitas alias kepura-puraan. Yesus memberikan kepada kita kunci untuk memahami semua ini dengan efektif: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16,20). Oleh kata-kata Yesus ini kita dapat mengidentifikasikan diri kita sendiri dan juga orang-orang lain. Buah-buahnya, bukan “pepesan kosong” atau indahnya kata-kata yang diucapkan, yang akan mengungkapkan hal sebenarnya.

Ketidakjujuran, kepura-puraan, kemunafikan akan menjebak orang-orang dalam lingkaran dosa yang tak kelihatan ujung-pangkalnya. Permasalahan sesungguhnya tidak pernah dihadapi, apakah kecanduan narkoba, kecanduan miras, ketidaksetiaan dalam hidup perkawinan, kecemburuan, keserakahan /ketamakan, irihati, prasangka, mata duitan dlsb. Percayalah, bahwa tanpa “kejujuran” dalam pandangan total kita, kita tidak akan mampu mengalahkan diri kita sendiri. Tidak mengherankanlah kalau Yesus bersabda keras seperti berikut ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri”  (Mat 23:13-15).

Seorang pribadi, apalagi apabila dia seorang pemimpin (misalnya gembala umat, pemimpin negara, pemimpin perusahaan dlsb.); barangkali pada suatu saat merenungkan dan mengeluh atas apa yang sedang “menimpa” dirinya: “Tidak seorang pun menghargai kerja kerasku, tidak ada seorang pun yang mempercayai aku lagi.” Orang ini harus jujur untuk menjawab alasannya mengapa: Karena ada sesuatu yang salah dengan diriku! Mengapa aku sendiri tidak menyadarinya? Karena aku tidak jujur terhadap diriku sendiri. Aku tidak mempunyai nyali untuk menghadapi masalahku. Aku selalu menyingkir apabila solusi atas masalahku akan menyakitkan. Dan aku pun dapat sangat marah dengan siapa saja yang mencoba menolongku.

DOA: Tuhan Yesus, jauhkanlah aku dari sikap dan perilaku yang munafik dalam kehidupanku. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah aku menjadi murid-Mu yang berbuah baik dan banyak. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH MELAKUKAN KEWAJIBAN AGAMA SUPAYA DILIHAT ORANG LAIN” (bacaan tanggal 20-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 18 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR KITA UNTUK MENGASIHI MUSUH-MUSUH

YESUS MENGAJAR KITA UNTUK MENGASIHI MUSUH-MUSUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 19 Juni 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:17-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,11,16 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:44-45)

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajarkan kita, “Kasihilah dan ampunilah.” Singkatnya, “engkau harus menjadi sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).

Yesus datang ke dunia pertama kalinya untuk memulihkan bagi kita cintakasih asli di taman Firdaus, cintakasih Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Yesus memang adalah sang Psikolog Agung yang mempunyai visi baru berkaitan dengan pengharapan untuk dunia.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS UNTUK MENGASIHI” (bacaan tanggal 19-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN  ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 18 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CINTAKASIH SETURUT KEHENDAK ALLAH SENDIRI

CINTAKASIH SETURUT KEHENDAK ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 18 Juni 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:1-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:2-3,5-7 

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mendesak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Hal ini merupakan suatu “kejutan” yang lengkap selengkap-lengkapnya karena secara total bertentangan dengan dengan “Hukum Pembalasan” yang terdapat dalam Perjanjian Lama (lihat Kel 21:24; Im 24:20: Ul 19:21). Hukum kasih yang diajarkan Yesus inilah yang harus menjadi stempel kita, umat Kristiani.

Pernah ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat Perjanjian Lama ini seakan hanya diberlakukan pada “si Jahat” atau “hal-hal yang jahat” saja, bukannya kepada manusia yang mendzolimi kita. Namun kata-kata Yesus sangatlah jelas. Ia memberikan empat macam peristiwa sebagai contoh bagaimana orang-orang dapat menyakiti kita. Pertama-tama lewat kekerasan secara fisik. Dalam hal ini Yesus mengajar kita untuk tidak membalas, melainkan menanggungnya (Mat 5:39).

Kedua, Yesus memberi contoh berkaitan tentang tindakan di bidang hukum: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Di mata orang Yahudi, “jubah” mempunyai makna yang sangat penting, yaitu “dirinya sendiri” (lihat Kel 22:26). Lihat pula apa yang dilakukan oleh Bartimeus yang buta ketika para murid Yesus memanggilnya untuk bertemu Yesus: dia melemparkan jubahnya! (Mrk 10:50). Seseorang harus meninggalkan “dirinya sendiri” (egonya dll.) ketika memutuskan untuk menghadap Yesus. Di sini (Mat 5:40) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya memberikan apa yang secara ilegal telah diambil dari kita, akan tetapi bahkan juga memberikan lebih lagi, yaitu diri kita sendiri, sikap pasrah … ikhlas.

Ketiga, dalam hal paksa-memaksa (misalnya dalam hal pekerja paksa): “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat 5:41). Ajaran Yesus ini kemudian dipakai dalam dunia bisnis: WALKING THE EXTRA MILE adalah salah satu butir panduan mendasar dalam melakukan adhi-layanan kepada para pelanggan di service industry, misalnya industri perbankan, asuransi dll.).

Akhirnya, yang keempat: Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan, janganlah kita menolak orang yang mohon bantuan dan mau meminjam dari kita, apakah kawan ataupun lawan.

Yesus kemudian menjelaskan mengapa “mengasihi musuh-musuh kita” begitu penting. Ia mengatakan, bahwa ini adalah bukti bahwa kita adalah “anak-anak Bapa surgawi, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Mengasihi para teman dan sahabat kita, mereka yang bersikap dan memperlakukan kita dengan baik adalah hal yang sangat mudah. Namun hal tersebut tidak membuktikan apa pun perihal sikap Kristiani kita. Orang-orang yang tidak mengenal Allah juga melakukannya (Mat 5:47). Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, tidak mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang baik kepada kita bukannya merupakan cintakasih yang sejati. Namun Ia mau menandaskan bahwa bukti riil dari cintakasih yang sejati adalah jikalau kita mengasihi dengan setulus-tulusnya mereka yang senantiasa menyakiti hati kita, mereka yang selalu tidak menghargai kita dlsb. Di sinilah kita memberi kesaksian bahwa cintakasih kita didasarkan secara kokoh pada kehendak Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepada kami contoh terbaik bagaimana kami harus mengasihi musuh-musuh kami: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK MELAWAN KARENA ADA KASIH” (bacaan tanggal 18-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 Juni 2018 [Pesta S. Antonius dr Padua, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG GEREJA KRISTUS

SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG GEREJA KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XI [Tahun B], 17 Juni 2018)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.” 

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” 

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10 

Yesus adalah seorang guru yang sangat baik. Ia menggunakan contoh-contoh yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya dengan serius. Lagi-lagi di sini Yesus memakai “benih tanaman” sebagai contoh dalam dua perumpamaan-Nya.

Dalam perumpamaan yang pertama Yesus berbicara dengan sederhana bagaimana benih itu, setelah ditanam oleh sang petani, bertunas dan bertumbuh dan akhirnya berbuah dan apabila sudah matang, siaplah untuk dituai. Seorang petani hanya menanti karena dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sejak benih ditanam sampai buahnya cukup matang untuk dituai. Acuannya adalah kepada  Kerajaan Allah yang ditanam dalam diri orang-orang oleh Kristus. Melalui rahmat-Nya, Kerajaan Allah mengalami proses pertumbuhan yang penuh misteri dan memang “ditakdirkan” untuk menyebar ke seluruh dunia dan membuahkan tuaian berupa jiwa-jiwa.

Dalam perumpamaan kedua, Yesus menceritakan “perumpamaan tentang biji sesawi”. Biji sesawi ini adalah benih yang berukuran sangat kecil, salah satu yang terkecil ketika ditanam. Namun demikian biji sesawi itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi tumbuhan yang berukuran sangat besar, dengan cabang-cabang yang cukup besar sehingga burung-burung dapat membuat sarang di situ.

Dengan cara serupa, Gereja – Kerajaan Kristus di atas bumi – dimulai secara kecil-kecilan. Tidak banyak orang yang menjadi para pengikut Kristus yang setia pada masa hidup-Nya; hanya ada beberapa orang Rasul dan perempuan-perempuan yang setia melayani-Nya sejak dari Galilea (lihat Luk 23:49; lihat juga 8:1-3). Sungguh suatu awal yang  tidak begitu menjanjikan, atau katakanlah kurang meyakinkan, bahkan sebagian besar dari para rasul tidak disebut-sebut ada/hadir di sekitar salib Kristus di Kalvari, kecuali Yohanes. Namun dari awal yang kelihatan tidak ada apa-apanya, sekecil biji sesawi, Gereja bertumbuh sampai hari ini dan menjadi seperti sebatang pohon yang besar dan rindang. Di bawah perlindungan dan naungan pohon inilah banyak orang menemukan tempat berlindung dari dosa dan keduniawian.

Cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita. Sebagai manusia, kita akan mengharapkan bahwa suatu kerajaan seperti itu dapat didirikan di atas dasar yang lebih baik daripada para nelayan sederhana. Bukankah lebih baik jikalau yang dipilih sebagai dasar adalah orang-orang yang berlatar belakang jauh lebih baik, misalnya berlatar pendidikan teologi dari “madrasah” atau “pesantren” terbaik di Yerusalem, memiliki hikmat-kebijaksanaan, dan memiliki kemampuan dalam bidang organisasi dan adminitrasi. Akan tetapi Allah menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya semua itu, jika kita menaruh kepercayaan terlebih-lebih pada kekuatan-kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Yang kita butuhkan adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia.

Di sini kita juga belajar bahwa karya Allah – pertumbuhan Kerajaan-Nya – membutuhkan waktu. Namun manakala segalanya kelihatan gelap gulita dan dingin serta terasa tak berpengharapan, justru pada masa-masa seperti itu terjadilah kebangunan rohani dalam Gereja lewat pribadi-pribadi pilihan yang dipenuhi oleh Roh-Nya.

Gereja Kristus bersifat universal. Semua bangsa mempunyai tempat di dalamnya. Para murid/rasul-Nya yang pertama terdiri dari sedikit orang saja dan mereka berasal dari berbagai macam pribadi dengan karakter masing-masing yang unik: ada nelayan, ada pemungut cukai, ada seorang zeloti dll. Sungguh bervariasi! Demikian pula halnya dengan para pendiri/anggota “keluarga rohani” dalam Gereja. Ada seorang rahib yang berasal dari sebuah keluarga kaya bernama Benediktus dari Gunung Subiako di Italia [480-547]. Ada putera seorang saudagar kaya yang mengikuti jejak Yesus Kristus yang miskin: Fransiskus dari Assisi [1181-1226] yang memperbaharui seluruh wajah Gereja dan malah dunia. Ada seorang perwira tentara dari Loyola yang bernama Ignasius [1491-1556] yang ditranformasikan menjadi seorang Ksatria Kristus. Ada pula seorang biarawati sederhana yang tidak dikenal umum dari biara Karmelites (tak berkasut; OCD) di Lisieux bernama Teresia [1873-1897]. Suster kontemplatif yang meninggal dunia dalam usia sangat muda ini kemudian diangkat sebagai orang kudus pelindung Misi (bersama Fransiskus Xaverius) walaupun ia tak pernah pergi ke tempat jauh; dan ia menjadi orang kudus favorit dalam dunia Katolik. Ada banyak lagi contoh yang tidak dapat  saya ceritakan satu persatu dalam tulisan ini.

Apabila kita berbicara sebagai manusia, maka Gereja adalah sebuah mukjizat berkaitan dengan karya Allah. Apabila sekadar mengandalkan upaya manusia, maka Gereja pun tidak akan bertahan lama. Hal yang sama berlaku bagi kita. Sekali-kali kita pun membutuhkan lebih daripada sekadar upaya manusia. Allah telah menjamin kita semua bahwa Dia siap dengan pertolongan rahmat-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami percaya bahwa Engkau tidak akan meninggalkan kami, para anggota Tubuh-Mu, yaitu Gereja. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengajar dan membimbing kami untuk menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala situasi. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul  “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH” (bacaan tanggal 17-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 12 Juni 2018 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

MENYERAHKAN HATI DAN PIKIRAN KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk., Martir Polandia

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5-10 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).

Apakah anda pernah bertanya kepada seseorang dan merasa bahwa anda tidak memperoleh sebuah jawaban yang langsung, yang straight to the point? Barangkali orang itu menjadi defensif dan bahkan mulai “bersumpah” bahwa dia mengatakan yang sebenarnya kepada anda, namun anda tetap tidak yakin. Sebuah contoh yang baik adalah penyangkalan Petrus bahwa dia mengenal Yesus. Ketika kepadanya ditanyakan apakah dia adalah murid Yesus, dia mengatakan, “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” Akhirnya Petrus melarikan diri dari tekanan di sekeliling dirinya, namun dengan sebuah kebohongan: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” (Mrk14:66-72).

Mengapa untuk menjadi benar itu dapat begitu susah bagi kita? Apakah karena kita takut atau merasa tidak aman? Apakah karena kita terlalu sombong untuk menerima bahwa diri kita dapat saja salah? Atau barangkali karena kadang-kadang terasa sulit untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi dari kebenaran. Sebagai kontras terhadap penyangkalan Petrus adalah tanggapan Yesus ketika kepada-Nya ditanyakan apakah diri-Nya adalah sang Mesias, Yesus secara sederhana menjawab, “Akulah Dia” (Mrk 14:62), Dengan menjawab jujur seperti itu, sebenarnya Yesus memberi “izin” atas hukuman mati yang akan dijatuhkan atas diri-Nya. Rasa takut tidak menguasai diri Yesus karena Dia menempatkan diri-Nya dalam tangan-tangan penuh kasih dari Bapa dan mengetahui bahwa sabda Allah tidak pernah dapat ditentang.

Pada Perjamuan Terakhir, Petrus mengatakan bahwa dirinya siap mati untuk Yesus, namun semangat berapi-api gaya “bonek” dan entusiasme yang ada dalam dirinya cepat menyusut ketika Dia melihat betapa dengan “lembek” Yesus menyerahkan diri-Nya kepada para lawan yang hendak menangkap-Nya. Petrus menemukan kebenaran yang menyedihkan bahwa dia tidak dapat mengikuti Yesus ke kayu salib hanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Hanya setelah Pentakosta Kristiani yang pertama Petrus menerima kuat-kuasa Roh Kudus dan mulai berkhotbah mewartakan Injil dengan penuh keberanian – bahkan di bawah ancaman hukuman dan kematian.

Selagi kita menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus, kita pun dapat menguasai hidup emosional kita dan mengalami suatu keutuhan dan integritas yang dapat dikatakan bersifat ilahi. Realitas surga, janji-janji dari Allah yang Mahasetia, dan suatu rasa takut (yang sehat) terhadap dosa akan bekerja sama guna membentuk dalam diri kita komitmen sederhana terhadap kebenaran yang ditunjukkan oleh Yesus. Marilah kita melanjutkan memohon kepada Roh Kudus untuk membentuk diri kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Sesungguhnya, dunia menantikan kesaksian kita.

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk karya-Mu di dalam hidupku. Tolonglah aku untuk berbicara dalam kebenaran dan dengan integritas. Aku bertekad untuk senantiasa setia dalam sabda-Mu dan menjadi suatu cerminan kasih-Mu dan belaskasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI KUAT-KUASA ALLAH YANG MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 16-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

POKOK AJARAN YESUS TENTANG ZINA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 15 Juni 2018)

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menyempurnakan Hukum yang ada dengan menekankan pentingnya sikap batiniah dan kesetiaan kuat dari seorang pribadi, teristimewa yang menyangkut hal-hal seksual.

Yesus mengingatkan kita bahwa walaupun perzinahan/perselingkuhan dapat merusak hidup perkawinan kita, nafsu dalam hati dan pikiran seorang pribadi dapat menjadi sama jahatnya. Mengapa? Karena mempunyai kemampuan untuk merusak relasi dalam hidup perkawinan dengan kekuatan merusak yang sama beratnya. Yesus mengatakan bahwa karena Dia mengetahui sekali bahwa apabila kita memperkenankan pikiran-pikiran yang tidak bersih merasuki diri kita, maka semua itu akan merugikan diri kita sendiri dan mereka yang sungguh kita kasihi (misalnya pasangan hidup dan anggota keluarga kita masing-masing). Yesus memandang pemikiran penuh nafsu dengan sangat serius sehingga Dia mendeklarasikan hal sedemikian sebagai sama seriusnya dengan melakukan perzinahan.

Yesus mengetahui benar bahwa jika kita memperkenankan pemikiran-pemikiran kotor/ penuh nafsu menguasai diri kita, maka kita sebenarnya melibatkan diri dalam penyembahan yang salah arah. Secara salah kita percaya bahwa kita dapat memperoleh kepuasan dalam ketidaksetiaan kita, mencapai kebahagiaan dengan melanggar perjanjian dan relasi cintakasih yang samasekali tidak mencerminkan kasih Allah yang murni. Inilah sebabnya mengapa orang menjadi terluka secara batiniah. Allah sendiri memanggil kita dan meminta kita untuk sepenuhnya puas dengan kasih-Nya karena inilah satu-satunya kasih yang akan membawa kita kepada kepenuhan sejati. Ini adalah kasih yang akan membawa segala relasi kita dalam tatanan yang benar.

Martabat kita sebagai anak-anak Allah paling terlihat nyata dalam kasih yang bersifat pengorbanan diri – tipe cintakasih yang dimaksudkan sebagai tanda hidup perkawinan Kristiani. Cintakasih tipe ini mengungkapkan kemampuan kita untuk berpikir dan memilih dan menjadi satu dengan orang-orang lain. Hal ini berarti memberikan diri kita sendiri demi orang-orang lain. Di lain pihak, nafsu ke luar dari dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri kita yang bersifat sesaat. Sebagai suatu sakramen, perkawinan adalah tanda luar dari rahmat yang menunjuk kepada suatu realitas yang jauh lebih mendalam. Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27), dan kita diciptakan untuk mengasihi semurni Allah mengasihi manusia. Jikalau kita berpikir penuh nafsu, maka hal ini berarti kita memperkenankan dosa untuk menggerogoti kasih sejati dari Allah.

Menjaga/memelihara kesetiaan kita terhadap pasangan kita atau Allah bukanlah sekadar masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh/fisik kita, melainkan juga menyangkut dengan apa yang kita lakukan dengan pikiran-pikiran kita, perasaan-perasaan kita dan hati kita. Kekuatan untuk menciptakan, menjaga/memelihara atau merusak suatu relasi, semuanya ada dalam diri kita sendiri. Patut diingat bahwa ikatan spiritual dari perkawinan dapat dirusak dengan cara-cara lain di luar perzinahan. Ketidaksetiaan dimulai dari pikiran kita.

Saudari dan Saudara terkasih, marilah kita menanggapi panggilan Yesus kepada kemurnian. Ia sungguh mengasihi kita dan ingin agar kita semua berbahagia. Marilah kita bergegas menghadap hadirat Allah dan memohon kepada-Nya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Hanya kasih-Nya saja yang dapat membuat kita puas lahir batin. Marilah kita menghadap Yesus dan memohon kepada-Nya agar kita dapat ikut ambil bagian dalam kasih-Nya sehingga hidup perkawinan kita dapat ditransformasikan secara lebih mendalam lagi ke dalam berbagai pencerminan kemurnian ilahi. Marilah kita membawa kasih murni Kristus kepada orang-orang lain selagi kita menemukan kebenaran siapa sebenarnya kita dalam Dia dan panggilan khusus yang telah diberikan-Nya kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk menata dengan baik segala pemikiranku dan hasratku seturut martabatku dan panggilanku sebagai murid Kristus. Tolonglah aku untuk menjaga pikiranku agar tetap fokus pada-Mu dan untuk selalu menghormat pasangan hidupku, orang-orang di sekelilingku, dan diriku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS SEKITAR ZINA” (bacaan tanggal 15-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS