Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI [2]

MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 16 Agustus 2018) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62 

Petrus mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Petrus tentunya memandang dirinya cukup bermurah hati karena bersedia mengampuni sampai tujuh kali, namun bagi Yesus sikap dan perilaku seperti dikemukakan oleh Petrus itu tidaklah cukup. Bagi Yesus, pengampunan itu haruslah tidak terbatas (Mat 18:21-22).

Agar pendapatnya dimengerti, Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan. Dua orang pemain kunci dalam perumpamaan-Nya adalah seorang raja yang berniat untuk mengadakan perhitungan dengan para hambanya, dan seorang hamba yang berhutang kepada raja sebanyak sepuluh ribu talenta, suatu jumlah yang sangat besar – hutang yang praktis tidak akan mampu dilunasinya. Sang raja kemudian memerintahkan supaya hamba itu dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Hukuman berat ini menyebabkan si hamba (yang sudah berstatus debitur macet) itu bersembah sujud di depan sang raja. Ia mohon agar raja sabar dan segala hutangnya akan dia lunasi. Hati sang raja menjadi tergerak oleh belas kasihan, sehingga dia membebaskan si hamba dan menghapuskan hutangnya (Mat 18:24-27).

Kemurahan hati sang raja dalam perumpamaan ini mencerminkan Allah yang penuh bela rasa, mahapengampun dan maharahim (maha berbelaskasih). Allah ingin agar kita masing-masing mencerminkan kerahiman yang telah kita terima dalam kehidupan kita sendiri, dengan menjadi berbela rasa juga kepada orang-orang lain. Roh Kudus ingin bekerja di dalam diri kita untuk memupuk hati yang berbela rasa, yang mencerminkan aspek karakter Yesus yang paling indah.

Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menunjukkan bela rasa terhadap orang-orang di sekeliling kita – orang-orang miskin, orang-orang yang menderita sakit-penyakit, para single parents dan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil, orang-orang yang sedang ditimpa berbagai kemalangan, kekhawatiran, keputusasaan, orang-orang yang membutuhkan simpati dari hati yang penuh bela rasa dst. Di mana saja kita menemukan mereka (termasuk dalam rumah kita sendiri), baiklah kita memakai semboyan sederhana namun penuh makna ini: “Seperti Kristus yang sedang berbela rasa”.

Hati yang berbela rasa menjadi langka apabila kita melupakan belas kasihan dan bela rasa yang telah kita terima dari Allah. Si hamba dalam perumpamaan di atas begitu cepat melupakan belas kasihan sang raja atas dirinya. Dengan demikian dia tidak mampu untuk berbelas kasihan terhadap rekannya. Seorang hamba lain yang berhutang kepadanya hanya sejumlah seratus dinar saja. Allah tidak suka melihat sikap dan perilaku seperti ditunjukkan oleh si hamba yang telah diampuni oleh raja tadi. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Bapa surga ingin membentuk dalam diri kita masing-masing suatu hati yang penuh bela rasa, sebagaimana yang dimiliki Putera-Nya, Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku bersukacita dan berterima kasih penuh syukur untuk bela rasa dan kerahiman yang telah kuterima dari-Mu melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Aku ingin, ya Allahku, agar menjadi mampu menunjukkan kepada orang-orang lain belas kasihan dan bela rasa yang sama, seperti yang telah kuterima. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), silahkan bacalah tulisan yang berjudul “MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI” (bacaan tanggal 14-8-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 14 Agustus 2018 [Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TUHAN YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MENJADI TANDA DAN INSTRUMEN KASIH ALLAH

TUHAN YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MENJADI TANDA DAN INSTRUMEN KASIH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 15 Agustus 2018) 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa  yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20) 

Bacaan Pertama: Yeh 9:1-7;10:18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-6 

Yesus diutus ke tengah-tengah dunia untuk menyatakan kasih Bapa surgawi kepada kita, umat manusia. Yesus datang dengan bela rasa untuk semua orang yang menderita sakit- penyakit, yang menjadi korban ketidakadilan, yang termarginalisasi dlsb. Yesus adalah perwujudan “seorang” Allah yang sungguh peduli kepada umat-Nya.

Pada hari ini Yesus memanggil kita untuk menjadi tanda dan instrumen kasih Allah dalam relasi kita satu sama lain. Sesungguhnya kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk berekonsiliasi satu sama lain. Seandainya upaya kita secara individual mengalami kegagalan, Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menggerutu, tidak menggunakan kata-kata yang “tidak pantas” didengar, melainkan mencari bantuan kepada saudari/saudara yang lain. Yesus juga mengingatkan kita bahwa manakala kita berkumpul dalam nama-Nya, Dia ada di tengah-tengah kita.

Memang Gereja seharusnya menjadi komunitas di dalam mana para anggotanya menempatkan diri sendiri sebagai pelayan-pelayan sesamanya (lihat Mat 18:4). Nah, orang-orang yang menganggap diri sebagai pelayan sesama akan mempedulikan keselamatan orang lain, terutama keselamatan jiwa. Maka dengan sendirinya mereka akan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik bukan hanya karena hal itu berakibat buruk bagi diri sendiri, melainkan juga karena perbuatan mereka akan membawa orang-orang lain menjauhi Allah (Mat 18:6-9).

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana mereka masing-masing seharusnya menanggapi suatu situasi di mana seorang anggota lain dari jemaat/Gereja/komunitas iman  berbuat dosa. Keprihatinan utama Yesus dalam hal ini  bukanlah untuk menghukum si pendosa, melainkan “memperoleh  kembali” orang yang bersalah itu: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat 18:15). Jadi, apabila mereka melihat ada seorang anggota komunitas yang menutup diri bagi rahmat Allah, mereka tidak akan tinggal diam. Dengan penuh kesabaran mereka harus berupaya dan bersusah payah untuk menegur orang yang berdosa itu.

Pertama-tama, upaya untuk mencapai rekonsiliasi harus dibuat atas dasar 0-0, artinya one-to-one basis, lalu dengan bantuan sepasang saudari atau saudara; kalau belum juga mendengarkan melalui pelayanan Gereja sendiri. Pada setiap tahap, belas kasih harus dilihat sebagai lebih penting (berdiri lebih tinggi) daripada penghakiman. Harus tersedia ruangan untuk pelayanan penyembuhan dari Tuhan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Kita semua tahu bahwa ada kuasa besar dalam doa, hikmat besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan besar dalam ajaran Gereja. Namun sayangnya seringkali kita membuka diri kita bagi jalan-jalan menuju rekonsiliasi ini hanya pada menit-menit terakhir. Mengapa mesti begini? Yesus menekankan agar kita berbelas kasih kepada yang telah bersalah. Hal ini dapat diartikan  bahwa Dia mengajar kita agar meninggalkan keinginan kita untuk membalas dendam dan menuntut keadilan yang keras dan tanpa kompromi terhadap orang yang telah bersalah, teristimewa orang yang bersalah kepada diri kita sendiri.

Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan untuk mengasihi setiap orang secara penuh sebagaimana Allah telah mengasihi kita semua, termasuk mereka yang telah menyakiti kita. Bagian dari Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan pengajaran dan/atau nasihat-nasihat Yesus yang menekankan cintakasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita untuk tidak menganggap rendah “anak-anak kecil” Allah (Mat 18:10). Ia mengajarkan “perumpamaan tentang domba yang hilang”, yang menggambarkan upaya “tidak logis” seorang gembala untuk mencari seekor domba yang hilang, namun dengan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang masih terkumpul sebagai satu kawanan (Mat 18:12-14).

Ayat terakhir dari perikop ini memang menunjukkan bahwa perikop ini tak terlepaskan dari bacaan Injil yang sedang kita soroti hari ini: “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak itu hilang” (Mat 18:14). Dalam rangkaian perikop ini, Yesus bahkan mengajar kita untuk mengampuni orang-orang berdosa sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-35). Dalam semua pengajaran ini, Yesus seakan “memohon” kepada kita untuk menjalin relasi kita dengan sesama berdasarkan belas kasih yang dilimpah-limpahkan Allah, pada waktu Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk melakukan “inaugurasi” sebuah “kerajaan kasih” yang baru.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk pengajaran-Mu pada hari ini tentang apa yang harus kulakukan terhadap saudari/saudaraku  yang bersalah, di mana belas kasih harus diutamakan ketimbang penghakiman. Terpujilah Engkau, ya Yesus, yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus, satu Allah, yang hidup dan memerintah sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan berjudul “BELAS KASIH BERDIRI LEBIH TINGGI DARIPADA PENGHAKIMAN” (bacaan tanggal 15-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

Cilandak, 14 Agustus 2018 [Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe – Selasa, 14 Agustus 2018)

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Yeh 2:8-3:44; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131 

Dalam Injil kita dapat melihat suatu kualitas pribadi yang sangat istimewa dari Yesus, yaitu kelemah-lembutan-Nya terhadap anak-anak, terhadap orang-orang miskin, dan terhadap para pendosa yang bertobat. Ia mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang ini secara istimewa dekat pada Allah, dengan demikian Ia mengasihi mereka secara istimewa pula. “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:5).

Cara terbaik untuk menguji kualitas cintakasih kita, untuk melihat sampai berapa sejati dan Kristiani-nya cintakasih itu, adalah untuk menguji cintakasih kita bagi “mereka yang kecil-kecil”, bagi anak-anak, bagi orang-orang miskin, bagi mereka yang paling sedikit diberkati dalam artian dunia.

Marilah kita merenungkan bagaimana Putera Allah sendiri memilih untuk datang ke tengah dunia. Dia tidak dilahirkan dalam istana raja, bukan pula di tengah keluarga bangsawan atau keluarga kaya-raya, bukan di atas tempat tidur yang terbuat dari emas dengan kasur dan bantal-bantal yang empuk serta kain mahal sebagai seprei. Tidak ada pelayan-pelayan perempuan yang menjaga, juga tidak ada wartawan yang akan meliput berita tentang diri-Nya. Yesus memilih kemiskinan dan kesederhanaan, sebuah gua/kandang dingin dan gelap yang sebenarnya diperuntukkan bagi hewan-hewan peliharaan. Yesus memilih sepasang orangtua yang tergolong paling miskin, palungan yang sederhana-murahan, makanan yang sederhana, …… tidak ada kenyamanan dan tidak ada publisitas. Yesus tidak memilih kaisar atau gubernur sebagai sahabat-sahabat-Nya yang pertama. Pada kenyataannya, seorang raja – Herodes – adalah musuh-Nya yang paling jahat. Para sahabat Yesus yang pertama adalah gembala-gembala yang bodoh, miskin, dan berbau badan sama seperti domba-domba mereka.

Yesus mengasihi anak-anak karena mereka pada umumnya jujur, inosens, memiliki hati yang terbuka, dan murni. Yesus juga  mengasihi para pelacur dan pemungut cukai yang dijuluki pendosa-pendosa oleh orang-orang Farisi, karena mereka adalah orang-orang sederhana dan sungguh-sungguh bertobat. Mereka memiliki hati yang baik, dan mereka mau kembali menjadi inosens seperti anak kecil. Mereka juga mendengarkan dan dengan penuh kemauan menanggapi belas-kasih Allah.

Inilah orang-orang yang sungguh rendah-hati; mereka yang kecil pada pandangan mata mereka sendiri. Mereka tidak menjadi munafik, tidak adil, sombong, sia-sia, atau tidak jujur. Mereka adalah orang-orang dina atau rendah-hati yang dikasihi oleh Yesus. Yesus bersabda: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). Hanya orang yang rendah-hati saja yang terbuka untuk menerima rahmat Allah. Hanya orang-orang seperti ini yang memiliki hikmat-spiritual untuk mohon pengampunan dari Allah, dan menghormati orang-orang kecil – wong cilik – yang dikasihi Allah.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku agar menjadi inosens kembali seperti anak kecil, sehingga dengan demikian aku pun dapat masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Jadikanlah aku seorang pribadi yang sungguh memiliki kerendahan-hati dan berkenan kepada-Mu. Dengan terang-Mu, pimpinlah jalanku untuk melayani orang-orang lain menjadi murid-murid-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN” (bacaan tanggal 14-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-8-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM)                           

Cilandak, 13 Agustus 2018 [Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG SENGSARA DAN KEMATIAN-NYA

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG SENGSARA DAN KEMATIAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Senin, 13 Agustus 2018)

Keluarga Kapusin (OFM Cap.): Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam Kapusin

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Yeh 1:2-5,24-2:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-12-14 

Baiklah dalam kesempatan ini kita menyoroti bagian pertama saja dari bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-23).

Para murid Yesus seringkali dikritik sebagai orang-orang yang lamban mengerti. Mereka sudah segalang-segulung dengan Yesus selama tiga tahun. Mereka mendengarkan ajaran-ajaran-Nya, menyaksikan Dia menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang yang sudah mati, mengusir roh-roh jahat, bahkan tiga orang dari para murid menyaksikan transfigurasi-Nya di atas gunung yang tinggi. Akan tetapi kelihatannya semua itu kurang cukup. Yesus telah menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa perlulah bagi-Nya untuk menanggung penderitaan yang berat, penolakan dan kematian yang kejam-mengerikan di tangan para musuh-Nya …… menggenapi rencana Allah untuk penebusan kita (Mat 16:21). Akan tetapi Yesus juga mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak akan tetap mati. Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga.

Dalam Bacaan Injil hari ini, ketika Yesus mengatakan kepada para murid untuk kedua kalinya tentang penderitaan sengsara-Nya yang akan terjadi tidak lama lagi, maka mereka menjadi sedih sekali. Mereka tidak mampu untuk memandang atau membayangkan melampaui prospek kematian Yesus. Janji-Nya akan kebangkitan barangkali tidak sampai ke dalam pikiran mereka, atau tidak terdengar oleh mereka karena sudah “keburu” menjadi sedih sekali. Atau, apakah mereka tidak percaya akan kebangkitan itu?

Memang mudahlah bagi kita untuk mengkritisi para murid untuk ketiadaan pemahaman, namun pikirkanlah mengenai hal-hal yang disampaikan kepada mereka. Apa yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya itu memang sungguh menantang – hampir-hampir tidak logis. Biar bagaimana pun juga Dia mengatakan kepada mereka hal-hal yang bahkan hari ini saja kita masih menyebutnya sebagai misteri iman. Tentu saja mereka membutuhkan waktu untuk melakukan permenungan atas apa yang mereka dengar – atau paling sedikit mengalaminya dan tidak sekadar mendengarnya.

Exterior Galilee Riverside; Jesus is going to die and tells Peter and the other disciples this not the end.

Bahkan hari ini pun rencana Allah seringkali terselubung dalam misteri dan sungguh sulit untuk dipahami. Oleh karena itu bukannya sebagai pemicu kritik-kritik kita, contoh yang diberikan para murid dalam kasus ini seharusnya menjadi suatu sumber penghiburan dan pengharapan besar bagi kita semua. Kita tidak perlu langsung menjadi benar dalam pemahaman kita secara langsung. Kita juga – seperti para murid – pada akhirnya dapat mengatasi ketiadaan/kekurangan iman kita.

Selagi mereka menyaksikan dan mengalami terungkapnya penderitaan sengsara Yesus, para murid mulai memahami rencana Allah. Pada hari Paskah, mereka “bergerak maju” dari “keputusasaan dan kepengecutan” kepada “iman dan keberanian”. Ujung-ujungnya, mereka menjadi mengerti karena mereka bertekun. Oleh karena itu marilah kita melakukan hal yang sama. Marilah kita bertekun dalam iman-kepercayaan kita. Marilah kita mencari jawaban-jawaban dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja. Walaupun kiranya ada sesuatu yang tidak masuk akal, kita tetap dapat percaya bahwa Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan dan Ia akan menyatakan diri-Nya dan kebenaran-kebenaran secara lebih penuh kepada kita – pribadi demi pribadi – selagi kita bertekun.

Saudari-Saudaraku yang terkasih, percayalah bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita! Yesus adalah sang Imanuel!

DOA: Yesus, ada saat-saat di mana sulit bagiku untuk percaya, namun aku tahu bahwa Engkau akan menyatakan diri-Mu dalam misteri-misteri kehidupan guna membimbingku. Tuhan Yesus, ajarlah aku agar dapat menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA (bacaan tanggal 13-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 10 Agustus 2018 [Pesta S. Laurensius, Diakon-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

MENELADAN BUNDA MARIA DALAM PERJALANAN KITA MENUJU KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 12 Agustus 2018)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-menurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Why 11:19;12:1,3-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26

Kadang-kadang kita melihat seakan-akan para kudus adalah suci dari “sono”-nya, sejak lahir memang begitu. Kebenarannya adalah bahwa kekudusan bertumbuh dalam diri kita semua sampai seberapa jauh kita mencari Tuhan dalam situasi yang kita hadapi setiap hari, merenungkan sabda-Nya, dan belajar mentaati perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya bagi hidup kita. Ini adalah jenis kekudusan untuk mana Maria adalah “model” yang paling agung.

Selagi dia merefleksikan Kitab Suci dan sejarah karya Allah di tengah umat, Maria menjadi mengerti cara Allah berkarya di dunia. Dia melihat Allah senang memakai orang-orang lemah dan terabaikan untuk “merendahkan” orang-orang berkuasa. Maria melihat bahwa Allah senang sekali memajukan rencana-rencana-Nya dengan cara-cara tidak seperti diharap-harapkan: membelah Laut Merah, menurunkan Saul dan membangkitkan Daud si gembala, bahkan membiarkan orang-orang Yahudi digiring oleh bangsa asing ke tempat pembuangan agar mereka belajar mentaati diri-Nya. Selagi Maria merenungkan cara Allah ini, Allah sendiri sedang menyiapkan dirinya bahwa pada suatu hari dia akan diundang untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan rencana-Nya.

Dengan penuh rasa percaya, Maria menempatkan keseluruhan masa depannya ke dalam tangan-tangan Allah. Setiap peristiwa merupakan suatu kesempatan bagi imannya dan kasihnya kepada Allah untuk menjadi semakin dalam. Ketika Yusuf bergumul dalam batinnya apakah dia akan menceraikannya, Maria tetap yakin bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya. Pada waktu dia mengunjungi Elisabet, imannya diperdalam ketika dia mendengar saudari sepupunya memuji dan memuliakan Allah. Akhirnya di kaki salib Yesus, pada saat hatinya sendiri tertembus oleh rasa duka yang sangat mendalam, Maria membuat tindakan penyerahan diri yang final dengan menyerahkan Puteranya ke dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

Setiap hari kita dipanggil untuk “memasukkan” doa kita ke dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Yesus ingin agar kita merenungkan sabda-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat membentuk diri kita masing-masing menjadi orang-orang saleh sungguhan, bukan yang berpura-pura saleh seperti kebanyakan orang Farisi dan para pemimpin agama Yahudi lainnya pada masa hidup-Nya. Allah-lah yang membentuk kita menjadi orang-orang kudus, namun adalah pilihan kita untuk membuka hati bagi-Nya atau tidak. Marilah kita membuka pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita yang terdalam kepada-Nya agar Ia dapat menyentuh dan membimbing kita. Marilah kita bersama Maria pada hari ini merayakan hari raya gerejawi yang sangat istimewa ini dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri kita semua.

Catatan tentang Hari Raya ini: Menurut MAWI (sekarang KWI) 1972, “Hari Raya Maria Diangkat ke Surga” (tanggal sebenarnya adalah 15 Agustus) dapat dipindahkan ke Hari Minggu terdekat.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mampu melakukan segala hal. Kasih-Mu sungguh agung dan luhur; rencana-Mu sudah ada sejak kekal; cara-cara-Mu sempurna dan pantas serta layak untuk dipercaya. Aku sungguh merindukan hari di mana aku dapat berjumpa dengan Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Why 11:19,12:1,3-6,10), bacalah tulisan dengan judul “HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI” (bacaan tanggal 12-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 8 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMPAI KAPAN AKU HARUS SABAR TERHADAP KAMU?

SAMPAI KAPAN AKU HARUS SABAR TERHADAP KAMU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara dari Assisi, Perawan – Sabtu, 11 Agustus 2018)

Keluarga Besar Fransiskan dan MC: Pesta S. Klara dari Assisi 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Hab 1:12-2:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:8-13 

“Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu?” (Mat 17:17)

Sementara Petrus, Yakobus dan Yohanes berada di atas gunung menyaksikan transfigurasi Yesus (Mat 17:1-8), di bawah sana para murid lainnya menghadapi masalah. Seorang laki-laki telah membawa anaknya yang sakit ayan kepada para murid Yesus, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya (Mat 17:16). Walaupun Yesus telah memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk melakukan pelayanan di bidang pengusiran roh jahat dan penyembuhan segala penyakit dan kelemahan (Mat 10:1), mereka tidak mampu menyembuhkan anak muda tersebut.

Ketika Yesus dan tiga murid-Nya tiba kembali ke bawah dan mendengar apa yang telah terjadi dari laki-laki itu, Dia menegur para murid-Nya karena ketidakpercayaan mereka: “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” (Mat 17:17). Lalu Yesus mengusir roh jahat keluar dari anak itu, dan anak itu pun sembuh seketika itu juga (Mat 17:18).

Pada waktu Yesus berada bersama para murid-Nya saja, para murid itu bertanya kepada-Nya mengapa mereka tidak mampu mengusir roh jahat dari anak yang sakit ayan itu. Dalam kesempatan ini Yesus kembali menegur para murid karena iman mereka yang memang masih kurang kuat: “Karena kamu kurang percaya!” (Mat 17:20). Wah, kelihatannya bukan hari yang baik bagi para murid itu! Namun demikian, Yesus langsung memberikan sebuah janji kepada mereka – sebuah janji yang mampu mengangkat para murid dari “keterpurukan mental”  dan sekaligus memberi pengharapan kepada mereka: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Janji ini tidak hanya berlaku untuk para murid Yesus yang pertama, melainkan juga bagi kita semua, para murid-Nya pada jaman NOW. Terkadang kekhawatiran dan kegelisahan kita dapat memperlemah iman-kepercayaan kita. Pengharapan kita dapat menyusut cepat dan membuat kita merasa tak berdaya ketika menghadapi situasi yang sulit. Situasi-situasi menantang semakin banyak kita hadapi, namun kita merasa jauh dari Tuhan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus tegak berdiri dan memegang janji Yesus yang tak tergoyahkan, yaitu bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.

Bagaimana kita memelihara dan mempertahankan iman kita, bahkan yang sekecil biji sesawi itu? Iman adalah karunia Allah, namun tetap menuntut tanggapan dari pihak kita. Kiranya tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman kita selain daripada datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa-doa kita. Selagi kita menghadap hadirat Allah dan mengakui ketergantungan total kita pada-Nya, maka kita memperkenankan Roh Kudus untuk memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan karunia-karunia-Nya, teristimewa karunia iman. Allah ingin agar kita percaya bahwa iman kita sungguh dapat bertumbuh dan kita juga dapat mengalami iman yang dapat memindahkan gunung-gunung dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin menyatukan pikiran dan hatiku dengan pikiran dan hati-Mu. Bersatu dengan Dikau, sekarang aku berdoa untuk semua orang yang menderita sakit dan sengsara lainnya, baik mereka yang kukenal maupun yang tidak kukenal; tidak hanya yang tinggal di negaraku, tetapi juga mereka yang tinggal di berbagai penjuru dunia. Aku berdoa dengan pengharapan besar bahwa Engkau akan menjamah mereka satu persatu dengan kuasa penyembuhan-Mu. Tuhan dan Allahku, biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEBESAR BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 11-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LAURENSIUS: SEORANG DIAKON DAN MARTIR KRISTUS

LAURENSIUS: SEORANG DIAKON DAN MARTIR KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Jumat, 10 Agustus 2018)

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10;Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

Santo Laurensius adalah salah seorang dari tujuh diakon Gereja Roma pada tahun 200-an. Sebagai seorang diakon, kepadanya dipercayakan tugas pelayanan mengurusi harta-benda milik Gereja dan memberikan sedekah kepada orang-orang miskin. Tugas ini dilakukan oleh Laurensius dengan hati-hati sekali dan juga dengan penuh bela rasa, karena dia melihat dan mengakui bahwa orang-orang miskin adalah harta Gereja yang paling besar, seperti yang ditulis oleh Yakobus dalam suratnya: “Dengarkanlah, Saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia?” (Yak 2:5).

Pada tahun 257, Kaisar Valerian mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani, dan dalam jangka waktu satu tahun Paus Sixtus II (257-258) juga ditangkap dan dibunuh. Empat hari kemudian, Laurensius pun mati sebagai martir Kristus. Konon, ketika Laurensius diperintahkan untuk menyerahkan segala harta benda Gereja kepada Kaisar, Laurensius malah membawa  orang-orang lumpuh, orang-orang buta, orang-orang kusta dan para fakir miskin kepada Pak Gubernur yang bertindak atas nama Kaisar. Laurensius berkata: “Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja!” Orang-orang miskin memang adalah harta-milik Gereja yang sejati. Gereja Kristus memang sejatinya adalah “a Church of the Poor and for the Poor!” untuk sepanjang masa. Untuk tindakannya ini Laurensius dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup di atas sebuah pemanggangan.

Memang ada banyak cerita yang beredar sekitar kematian Laurensius, namun ada satu ciri yang selalu tampil dalam cerita-cerita itu: Laurensius sangat mengasihi Yesus Kristus dan dia sungguh ingin memberikan keseluruhan hidupnya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya. Walaupun sedang berada di bawah ancaman hukuman mati yang kejam, satu-satunya hasrat yang ada dalam hatinya adalah untuk menyenangkan Yesus, karena dia mengetahui bahwa maut tidak dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah (lihat Rm 8:35-39).

Mata manusia melihat bahwa Laurensius telah kehilangan segalanya. Akan tetapi dengan demikian dia menjadi sebutir biji gandum – seperti Yesus – yang jatuh ke dalam tanah dan mati, kemudian menghasilkan panen yang berbuah limpah untuk kerajaan Allah. Sebab itu, berabad-abad lamanya banyak orang datang untuk menjadi murid/pengikut Yesus …… setelah mendengar cerita-cerita tentang cintakasih tulus-mendalam dari Laurensius kepada Yesus Kristus.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah sebenarnya hasrat hatiku yang terdalam? Apakah arti Yesus bagi diriku?” Apa pun jawaban Saudari/Saudara terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Yesus ingin memenuhi hati kita masing-masing dengan Roh Kudus-Nya. Dia terus mencari hati manusia yang dengan sederhana berkata kepada-Nya, “Yesus, aku sungguh ingin lebih mengenal-Mu lagi. Aku ingin lebih mengasihi-Mu lagi.” Yesus terus mencari orang-orang yang terbuka bagi pengarahan dan ajaran-Nya. Yesus sungguh rindu agar kita mengandalkan diri sepenuhnya kepada-Nya setiap hari, teristimewa agar kita memperoleh kekuatan untuk dapat taat kepada panggilan-Nya. Santo Laurensius telah menanggapi kerinduan Yesus itu, demikian pula begitu banyak orang kudus yang mengikuti jejak Santo Laurensius, baik perempuan maupun laki-laki, dari zaman ke zaman. Dari Beato Raymundus Lullus [+1314] yang mengalami kemartiran di Afrika Utara sampai kepada para martir di Nagasaki pada tahun 1597; dari Santo Thomas More [+1535] di negeri Inggris sampai kepada St. Maximilian Kolbe [+1941] dari Polandia; dari St. Jeanne d’Arc [+1431] di Perancis sampai kepada para martir OFM, FMM, OFS dan lain-lainnya [+1900] di perang Boxer di Tiongkok. Nah, sementara kita memanggil Yesus dengan menyerukan nama-Nya yang kudus, maka Dia pun akan mengubah hati kita sedikit demi sedikit dengan kasih-Nya yang sangat mendalam.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah pengharapanku! Aku menyadari bahwa aku tidak dapat membuat diriku kudus – namun Engkau dapat, ya Tuhanku. Sekarang, dengan bebas aku memberikan hidupku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian Engkau dapat bekerja di dalam diriku dan melalui diriku seturut kehendak-Mu. Tuhan Yesus, Engkau adalah harta kekayaanku yang paling besar dan agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 12-24-26), bacalah tulisan yang berjudul “JIKA BIJI GANDUM TIDAK JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI, …” (bacaan untuk tanggal 10-8-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 7 Agustus 2018 [Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam Kapusin dan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS