Posts tagged ‘YESUS KRISTUS’

HIDUP KRISTUS DALAM DIRI KITA

HIDUP KRISTUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Pertama  Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Selasa, 25 Juli 2017) 

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28 

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes dan anak dari Zebedeus, dan merupakan salah seorang murid Yesus pertama yang mati sebagai seorang martir Kristus (Kis 12:2). Memang cocok bagi kita pada hari ini untuk membaca bagaimana mungkin bagi seseorang untuk mengikut Kristus walaupun orang itu mempunyai kelemahan-kelemahan manusiawi.

Menurut Santo Paulus – seseorang yang  sungguh mengetahui melalui pengalaman pribadinya sendiri – para murid Yesus ditindas, namun tidak hancur terjepit; habis akal, namun tidak putus asa; dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian; dihempaskan namun tidak binasa (2Kor 4:8-9). Alasan mengapa kita tidak dibiarkan hancur atau putus asa adalah karena Kristus berdiam dalam diri kita oleh/melalui kuasa Roh Kudus. Bahkan ketika kita hidup, bekerja dan menciptakan kembali, kita dapat mengenal hidup Kristus dalam diri kita.

Umat Kristiani percaya bahwa seperti kita telah mati bersama Kristus, maka kita pun hidup bersama-Nya (Rm 6:6-8). Sementara kita mengetahui bahwa kematian daging dan kebangkitan kepada kehidupan baru telah terjadi dalam diri kita sekali dan selamanya melalui iman kita dan pembaptisan ke dalam Kristus, kita pun mengetahui bahwa hal itu harus terjadi secara baru dalam diri kita setiap hari selagi kita menjalani hidup baru bersama Kristus. Paulus mengungkapkan hal ini dengan baik: “Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini” (2Kor 4:11).

Hidup Kristus dalam diri kita memungkinkan kita untuk mengasihi dan melayani dalam Yesus. Hanya dengan hidup ini kita dapat membawa kehadiran Yesus kepada keluarga-keluarga, rumah-rumah, gereja-gereja, dan lingkungan-lingkungan kerja. Untuk sungguh mengasihi serta melayani orang-orang miskin dan menderita – apakah kemiskinan mereka itu bersifat materiil atau spiritual – hati kita harus “penuh kehidupan” dalam Yesus.

Paulus menekankan bahwa misteri Kristus dalam diri kita itu adalah seperti harta-kekayaan yang disimpan dalam bejana-bejana tanah liat. Ketika Allah memanggil kita untuk membangun tubuh Kristus, maka Dia memanggil orang-orang yang mempunyai berbagai kelemahan dan ketidaksempurnaan. Hal ini membuktikan kepada kita dan dunia bahwa kita dapat melayani Allah bukan dengan talenta atau kemampuan, melainkan dengan kuasa Roh Kudus yang ada di dalam diri kita (1Kor 4:7).

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa melalui pembaptisan aku telah mati dan bangkit bersama Engkau. Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Engkau yang hidup di dalam aku (Gal 2:20). Buatlah ini suatu realitas harian dalam hidupku sehingga dengan demikian aku yang sekadar merupakah bejana dari tanah liat dapat diberdayakan untuk mengasihi dan melayani dalam nama-Mu yang terkudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “MINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS” (bacaan tanggal 25-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LEBIH DARIPADA YUNUS

LEBIH DARIPADA YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 24 Juli 2017) 

Pada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42) 

Bacaan Pertama: Kel 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Kel 15:1-6 

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Mat 12:39).

Yesus mengucapkan kata-kata ini pada waktu menanggapi permintaan beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi agar Ia membuat mukjizat atau tanda-tanda heran lainnya. Di bagian lain dari Injil Matius ini kita dapat membaca banyak mukjizat dibuat oleh Yesus, mukjizat-mukjizat mana dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Dia adalah sungguh Mesias dari Allah (Mat 8:1-9:38). Semua karya ini mendorong orang untuk melihat mukjizat-mukjizat Yesus sebagai tanda-tanda otoritas-surgawi yang dimiliki-Nya. Mengapa sekarang Yesus menolak permintaan para ahli Taurat dan orang Farisi untuk mempertunjukkan “kemahiran”-Nya atau “kesaktian”-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat?

Suatu pengamatan yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa Yesus, walau pun Ia bertindak dengan berbagai cara, tetap saja tidak berubah dalam sikap-Nya terhadap orang-orang. Dengan konsisten Yesus berupaya untuk memimpin orang-orang kepada Kerajaan Bapa-Nya. Yesus mengetahui isi hati semua orang yang mendekati diri-Nya. Dengan hikmat spiritual Ia mengucapkan kata-kata yang dapat menggerakkan hati masing-masing orang untuk melihat dan percaya akan Kerajaan Allah. Apakah Ia berbicara secara keras atau dengan lemah lembut, motif Yesus adalah cintakasih.

Karena cintakasihlah permintaan dari beberapa orang ahli Taurat dan orang Farisi untuk melihat tanda-tanda ajaib Yesus ditolak-Nya. Dengan cara ini Yesus membongkar persoalan mereka yang sesungguhnya: Ketiadaan iman bukanlah disebabkan oleh bukti yang belum konklusif, namun dikarenakan hati mereka yang keras-membatu yang menolak mentah-mentah Yesus sebagai Dia yang diutus oleh Allah sendiri. Mukjizat-mukjizat Tuhan Yesus dimaksudkan untuk mengangkat pandangan mata orang-orang kepada Allah yang tanpa batas, namun para pemuka agama Yahudi ini menolak untuk memindahkan fokus mereka. Hanya ada satu saja tanda lagi yang akan diberikan-Nya – tanda nabi Yunus.

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40). Di sini Yesus membuat alusi kepada penderitaan sengsara, kematian, pemakaman dan kebangkitan-Nya. Yesus sendirilah tanda yang akan diberikan! Pada saat orang-orang melihat dan memahami bahwa Dia “yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Mat 12:41) – Putera Allah sendiri – maka hati mereka akan belajar merangkul Yesus dan karya Allah; mereka akan mampu untuk “membuang” hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Marilah kita memuji Allah dengan penuh sukacita untuk mereka yang telah percaya kepada Yesus Kristus dan telah menerima Kerajaan Allah ke dalam hati mereka masing-masing. Walaupun demikian, Allah terus menantang kita untuk memahami kebenaran Yesus secara lebih mendalam.

DOA: Bapa kami, Engkaulah Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar kami dapat melihat kemuliaan-Nya dan hidup oleh iman kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA TANDA” (bacaan tanggal 24-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 BACAAN HARIAN JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 20 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENAWARKAN APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

YESUS MENAWARKAN APAKAH KITA MAU DIUBAH MENJADI GANDUM?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI [TAHUN A] – Sabtu, 23 Juli 2017)

 

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama:  Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27; Bacaan Injil (versi panjang): : Mat 13:24-43

Pernahkah anda menanam benih rumput yang bagus untuk taman pekarangan anda, dan belakangan anda menyaksikan ada juga rumput alang-alang perusak halaman yang tumbuh bersama dengan rumput mahal? Jika begitu halnya, maka anda barangkali memahami apa yang dipikirkan oleh para hamba pemilik ladang dalam perumpamaan di atas: cabutlah lalang itu sekarang juga, karena tumbuhan itu hanya merusak tumbuhan gandum! Sebuah keputusan yang memberi kesan cepat-tepat!

Akan tetapi bagaimana dengan orang yang menaburkan benih gandum itu? Apa dan bagaimana reaksinya? Ia langsung mengetahui dari mana lalang itu berasal. Namun tidak seperti para hambanya, dia lambat marah terhadap perbuatan licik musuhnya, dan hal ini memampukannya untuk berpikir secara jernih dan mengambil keputusan yang tepat tentang bagaimana menangani masalahnya. Dengan sabar, bahkan penuh belas kasihan, dia bersedia untuk membiarkan lalang itu bertumbuh, demi hasil gandum yang baik di akhir cerita. Tindakannya juga adil, karena meski dia menanti sampai waktu menuai, dia sungguh-sungguh menyuruh bakar lalang yang sudah diikat berberkas-berkas itu, dan gandum pun dikumpulkan ke dalam lumbungnya.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat merasa bersalah dan bahkan terkutuk, karena rancangan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan-Nya bukanlah jalan kita (lihat Yes 55:8). Kita bertanya: “Mengapa tidak langsung saja mencabut lalang dan biarkan gandum itu bertumbuh?” Respons tergesa-gesa seperti itu menunjukkan bahwa kita perlu merefleksikan lebih lanjut satu hal: Sebagai ‘siapa’ Allah menyatakan diri-Nya? Allah kita bukanlah ‘seorang’ Allah yang langsung menghukum. Ia adalah Allah yang panjang sabar yang menawarkan setiap “lalang” kesempatan untuk diubah menjadi “gandum”. Selagi kita mulai sedikit memahami kerahiman Allah dan kesabaran-Nya, maka hati kita dapat disentuh dengan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya mentransformir dunia kita sehingga dapat menjadi lahan yang subur dan menghasilkan buah. Kita semua mengakui bahwa musuh dapat menaburkan benih lalang, namun Allah tetap yakin bahwa Dia dapat membawa kebaikan dan mengalahkan kejahatan.

Santa Katarina dari Siena pernah mengatakan bahwa Allah adalah “lautan yang dalam”: “semakin banyak yang kita cari, semakin banyak pula yang kita temukan, dan semakin banyak yang kita temukan, semakin banyak pula yang kita cari.” Pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca Kitab Suci, bahkan perumpamaan-perumpamaan Yesus yang paling sederhana sekali pun, Ia mengejutkan kita dengan pernyataan-Nya yang tak sebagaimana diharap-harapkan sebelumnya: pernyataan kasih-Nya, kerahiman-Nya, kesenangan-Nya serta sayang-Nya akan ciptaan-Nya. Singkat cerita: Allah menjungkirbalikkan asumsi-asumsi kita dan membuktikan bahwa diri-Nya lebih setia dan jauh lebih penuh dengan kuat-kuasa daripada apa yang kita pernah bayangkan!

DOA: Bapa surgawi, selagi aku berdoa dan membaca Kitab Suci pada hari ini, tunjukkanlah kepadaku dengan lebih jelas lagi siapa sebenarnya Engkau. Aku ingin mengenal kuat-kuasa-Mu untuk mengubah hati manusia – bahkan hatiku sendiri juga – agar dapat menjadi gandum yang terbaik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM (2)” (bacaan tanggal 23-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

PERJUMPAAN DENGAN KRISTUS YANG BANGKIT DALAM SUASANA INTIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Maria Magdalena – Sabtu, 22 Juli 2017)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9 

“Maria!” (Yoh 20:16). Apabila Allah berbicara, maka surga dan bumi pun bergetar. Bayangkanlah betapa rasa takut mencekam orang-orang Israel yang datang bersama Musa ke gunung Sinai yang dikelilingi oleh awan-awan tebal dan api yang berkobar-kobar, walaupun mereka hanya sampai ke kaki gunung saja (bacalah: Kel 19:1-25). Namun di puncak gunung itulah Allah mewahyukan/menyatakan perjanjian-Nya. dengan umat Israel lewat Musa. Demikian pula, betapa takut kiranya Maria Magdalena ketika dia mendapati kubur yang sudah kosong pada hari Paskah pagi (Yoh 20:1). Namun ia akan berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit, Tuhan dan Juruselamat yang akan membawa dirinya ke dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Sekarang, marilah kita merenungkan sejenak perjanjian baru yang telah kita terima dalam darah Yesus. Seluruh alam ciptaan adalah milik Allah, namun Ia memilih Israel, dan kemudian Gereja-Nya (Israel yang baru), untuk dipisahkan tersendiri sebagai suatu testimoni yang memancarkan sinar terang kemuliaan-Nya. Dia datang ke Israel dalam awan tebal dlsb. Ia berbicara kepada mereka melalui Musa, sang mediator. Ia datang kepada kita dalam Ekaristi dan berbicara secara langsung kepada hati kita oleh/melalui Roh Kudus-Nya. Maria berjumpa dengan Tuhan yang bangkit dalam suasana intim. Demikian pula kiranya yang terjadi dengan kita masing-masing setiap kali kita datang menghadap hadirat-Nya dalam doa, teristimewa dalam perayaan Ekaristi.

Ketika berkumpul di kaki gunung Sinai, orang-orang Israel sungguh tidak tahan mendengar suara YHWH-Allah (lihat Ibr 12:19-20). Semuanya begitu dahsyat serta menakutkan. Ketika Yesus menyebut nama “Maria”, maka keseluruhan hidupnya pun ditransformasikan. Kesedihan memberi jalan kepada suka-cita dan keputus-asaan memberi jalan kepada pengharapan. Segalanya yang diharapkan oleh Maria Magdalena adalah untuk mendengar suara Tuhan Yesus sendiri yang berbicara langsung kepadanya. Dan Tuhan yang bangkit memperkenankan hal ini terjadi dengan murid-setia-Nya yang perempuan ini!

Hal ini adalah privilese besar dari hidup kita sebagai anak-anak perjanjian baru. Kita tidak datang kepada kegelapan dan kegalauan, melainkan kepada Tuhan Yesus yang lemah-lembut, sang Anak Domba Allah yang disembelih untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam Yesus kita dapat menyentuh takhta Allah dan diangkat dari kematian kepada kehidupan. Setiap hari kita dapat mendengar Tuhan Yesus menyebut nama kita. Setiap hari pula kita dapat diangkat sampai ke hadapan takhta Allah. Oleh karena itu, janganlah kita melarikan diri dari suara-Nya yang menyebut-nyebut nama kita.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur-Mu pada hari Paskah pagi, tiba-tiba terjadilah gempa bumi yang hebat (Mat 28:1-2) yang tidak hanya menggoncangkan bumi, melainkan juga hati para murid-Mu. Engkau juga telah berjanji untuk menggoncangkan alam ciptaan lagi pada saat Engkau kembali dalam kemuliaan kelak. Aku menanti-nanti kedatangan-Mu dengan kerinduan yang besar. Datanglah, Tuhan Yesus! (Why 22:20). Datanglah! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “KEBANGKITAN YESUS MEMBUKA PINTU SURGA BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 22-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 21 Juli 2017)

 

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentang kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mat 12:1-8) 

Bacaan Pertama: Kel 11:10-12:14; Mazmur Tanggapan: Yes 116:12-13,15-18

Yesus dikritik oleh orang-orang Farisi karena kelihatannya Dia membiarkan para murid-Nya melanggar peraturan hari Sabat (Mat 12:1-2). Menanggapi kritikan kaum Farisi tersebut, Yesus mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusiawi mengambil preseden di atas peraturan-peraturan Sabat (Mat 12:3-4,7). Dalam bacaan tentang peristiwa ini, Injil Markus menceritakan kepada kita bahwa Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:27-28).

Allah kita mahakasih dan maharahim, Ia bukanlah seorang mandor tanpa perasaan yang membebani kita dengan begitu banyak hukum dan peraturan. Ia memberikan kepada kita “Hari Tuhan” sehingga kita dapat datang menghadap hadirat-Nya dan beristirahat dalam ketenangan (lihat Mat 11:28-30). Bagi kita hari Tuhan itu adalah hari Minggu, hari untuk kita bersimpuh di hadapan hadirat-Nya, agar dapat menerima sentuhan-Nya yang menyembuhkan luka dan sakit-penyakit kita, untuk menerima ajaran-Nya lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan secara lebih mendalam lagi menyadari bahwa Kristus – pengharapan kita akan kemuliaan – sungguh berdiam dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa Allah telah memberikan kepada kita Ekaristi Kudus, sehingga Dia dapat menyegarkan diri kita kembali dengan sabda-Nya dan tubuh dan darah Kristus, kemudian mengutus kita agar menghayati suatu kehidupan yang saleh, penuh takwa kepada Allah dalam Yesus Kristus dan dengan setia mewartakan Kabar Baik-Nya kepada dunia di sekeliling kita.

Pada awal perayaan Ekaristi, kita semua – sebagai pribadi-pribadi – mengaku kepada “Allah yang mahakuasa” dan kepada “saudari dan saudara” kita, betapa kita membutuhkan belas kasih Allah. Pengakuan sedemikian memperlunak hati kita sehingga sabda Allah – baik yang kita dengar lewat pembacaan Kitab Suci maupun homili – akan masuk ke dalam diri kita. Setelah kita mengucapkan “Pengakuan Iman” (Credo), kita berdoa untuk kebutuhan-kebutuhan dunia dan mengangkat hati kita dalam pujian dan syukur dalam “Doa Syukur Agung”. Melalui kata-kata institusi dan tindakan Roh Kudus, roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita menerima-Nya dalam Komuni Kudus. Kita memakan daging Yesus (lihat Yoh 6:53-56) dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu minum darah-Nya. Ketika kita makan daging Yesus, pada saat yang sama Yesus juga meng-“konsumsi” kita, merangkul serta menyelubungi diri kita dengan rahmat-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengikuti-Nya dengan setia.

Ini adalah puncak dari ketenangan hari Sabat kita: bergabung dengan saudari dan saudara kita dalam sembah-bakti kita kepada Tuhan dan menerima-Nya dalam sabda dan sakramen. Ini adalah “istirahat” atau ketenangan yang memberikan kehidupan kepada kita, ketenangan yang memenuhi diri kita dengan Roh Kudus. Kita samasekali tidak diciptakan agar kita dapat mendengar Misa Kudus. Allah menciptakan Misa Kudus agar supaya Dia dapat datang kepada kita, bukankah begitu halnya?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YANG MELEBIHI BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 21-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 19 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENGUNDANG KITA

YESUS MENGUNDANG KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 20 Juli 2017) 

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Kel 3:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1,5,8-9,24-27 

“Marilah kepada-Ku ……” (Mat 11:28). Walaupun ditolak oleh orang-orang kampung-Nya sendiri dan beberapa tempat lainnya, seperti Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (Mat 11:21-23), Yesus tetap menyampaikan undangan besar-Nya kepada semua orang dari setiap bangsa dan generasi. Yesus menginginkan agar semua orang datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya bagaimana  menghayati kehidupan di dunia. Dia ingin memberikan kepada kita suatu visi yang akan memampukan kita mencintai surga dan memusatkan perhatian kita pada surga itu, seperti halnya para peziarah dalam suatu perjalanan ziarah.

Dalam perjalanan ini kita seringkali menjadi letih-lesu dari segala pencobaan yang kita hadapi. Lagipula hidup ini kelihatannya membuat kita berbeban berat. Kadang-kadang perasaan ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sendiri atau langkah-langkah yang telah kita ambil sendiri, yang menjauhkan kita dari Allah. Pada kesempatan lain, kita dihadapkan dengan sakit-penyakit dan kesulitan-kesulitan yang kita sendiri tentunya tidak akan pilih. Apa pun kasusnya, Yesus mengundang kita untuk dipasangkan kuk/gandar bersama-Nya dan belajar dari sang Guru. Dengan demikian barulah kita akan menemukan kelegaan.

Sekali kita mengambil langkah yang menentukan ini, maka kita akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dari sang “Raja Damai” (Yes 9:5). Dipersatukan dengan Yesus, kita akan siap untuk belajar dari Dia. Apabila beban-berat yang kita tanggung itu disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri, Dia akan mengajar kita bagaimana memilih jalan yang baru. Apabila beban-berat itu disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kontrol atau kekuasaan kita, maka Dia akan memberikan kepada kita pengharapan akan suatu realitas di mana tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan. Sebagaimana Yesus menyerahkan hidup-Nya dan kehendak-Nya kepada Bapa surgawi dan dipersatukan dengan diri-Nya, maka kita yang telah dipasangkan kuk/gandar bersama Yesus akan mengenal dan mengalami kesatuan dan damai-sejahtera yang datang dari hal tersebut.

Bilamana kita mengambil keputusan untuk menyerahkan segala cara/jalan kita dan belajar dari Yesus, maka walaupun kita masih menanggung beban, kita akan disegarkan kembali karena kita menerima kehidupan. Kehidupan yang kita terima seringkali mencakup kesembuhan dan pelepasan/pembebasan yang merupakan sebuah tanda kepenuhan final keselamatan. Memandang kehidupan kita dalam terang kasih Allah membangun hasrat dalam diri kita untuk bersatu dengan-Nya. Kuk/gandar Yesus itu ringan-menyenangkan …… karena Yesus memikul bebannya bersama kita.

DOA: Yesus, Engkaulah Kyrios yang berdaulat atas segenap alam ciptaan (Flp 2:9-11), namun demikian Engkau lemah lembut dan rendah hati. Engkau telah mengutus Roh-Mu sendiri untuk berdiam dalam diriku, dan Engkau ingin menyatakan Bapa surgawi kepadaku. Tuhan Yesus, lindungilah diriku dari kekacauan pikiranku sendiri yang timbul karena aku –  dalam kesombonganku – mencari jawaban-jawaban untuk kehidupanku tanpa mengindahkan Engkau. Lindungilah aku, ya Tuhan, dari domain pengaturan diri-sendiri. Sebaliknya, tempatkanlah diriku di bawah pemerintahan-Mu, ke mana Engkau telah memberi isyarat kepadaku untuk datang. Pasanglah kuk/gandar atas diriku, agar aku dapat memikulnya bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “GANDAR YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN” (bacaan tanggal 20-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Juli 2017 [Hari Raya S. Odilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA

ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu, 19 Juli 2017)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Yesus ditolak oleh banyak orang sezaman-Nya. Orang-orang di kota-kota di mana Ia membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya menolak untuk mengubah diri, dan banyak dari mereka malah mengambil sikap bermusuhan terhadap diri-Nya (Mat 11:16-24). Para pemimpin Yahudi mencoba untuk mendiskreditkan diri-Nya di depan publik dan bahkan membuat rencana jahat untuk membunuh-Nya (Mat 12:3,14).

Walaupun Yesus menghadapi banyak rintangan, Ia masih mampu bersyukur kepada Bapa-Nya karena kehendak Allah sedang dalam proses pemenuhan (Mat 11:25-26). Yesus mengetahui bahwa Allah masih memegang kendali atas segala hal dan apa pun perlawanan yang ada terhadap-Nya, Kerajaan Allah akan tetap didirikan di atas bumi. Persoalannya adalah dalam hati orang-orang yang menolak Dia.

Kita menghadapi suatu situasi yang serupa pada hari ini, dan bagaimana kita tergantung pada sikap hati kita terhadap Yesus. Allah ingin menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada kita, namun suatu disposisi batin tertentu tetap dibutuhkan dari pihak kita untuk menerima pesan-Nya. Kontrol Yesus atas orang yang mengenal Bapa (Mat 11:27) tidak membatasi kebebasan kita memilih untuk percaya atau tidak percaya, Ia tidak menghalangi kemampuan kita untuk memahami kebenaran Allah, dan Ia juga tidak membebaskan kita dari tanggungjawab kita untuk taat kepada-Nya. Allah adalah sosok orangtua yang melakukan apa saja guna menyiapkan anak-anak-Nya untuk menjadi orang dewasa, namun akhirnya tergantung pada anak-anak-Nya sendiri bagaimana mereka akan hidup.

Orang-orang yang “percaya-diri” seringkali terjerat oleh hikmat dan pengetahuan mereka sendiri. Allah tidak dapat dipahami berdasarkan ukuran-ukuran manusia. Kita hanya dapat sampai ke titik pengenalan akan Allah apabila kita membuang segala preconceived ideas tentang Dia. “Orang kecil” yang menerima perwahyuan (pernyataan diri)  Allah (Mat 11:25) adalah mereka yang menaruh kepercayaan pada-Nya dalam setiap situasi dan terbuka bagi sabda-Nya. Hal ini tidak berarti mengabaikan dan/atau mematikan kekuatan kita untuk berpikir. Hal ini berarti percaya kepada Allah yang benar terhadap sabda-Nya, bersikap reseptif terhadap-Nya, dan membuat tanggapan sesuai kemampuan kita yang terbaik.

Kita harus memperkenankan diri kita diajar oleh sabda Allah seperti dapat ditemukan dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja, mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan artinya kepada kita. Secara bertahap kita akan mengembangkan suatu pikiran spiritual yang menghargai kebenaran-kebenaran Allah dan terbuka bagi kuasa yang bersifat transformatif dari kasih pribadi Allah bagi kita. Tujuannya bukanlah semata-semata pengetahuan kita secara intelektual, melainkan menemukan keutuhan dalam Kristus dalam tubuh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, engkau memiliki otoritas penuh atas segala hal. Ajarlah aku untuk menyingkirkan segala sesuatu yang bukan dari-Mu dan oleh rahmat-Mu bukalah pikiranku bagi kepenuhan kebenaran-Mu yang mulia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS DAN PERWAHYUAN DIRI-NYA” (bacaan tanggal 19-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 17 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS