IMAN SEBESAR BIJI SESAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Sabtu, 12 Agustus 2017) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seseorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya, “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Lalu kata Yesus, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya dan yang sesat, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari dia dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka, “Karena kamu kurang percaya. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:14-20) 

Bacaan Pertama: Ul 6:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51 

Setiap orang Kristiani sebenarnya diutus untuk mewartakan Injil, dan seturut karunia-karunia yang dianugerahkan kepada mereka masing-masing juga membawa kesembuhan kepada orang-orang sakit serta melepaskan orang-orang yang berada di bawah pengaruh roh jahat. Kita juga harus menyadari bahwa kita masing-masing adalah Bait Roh Kudus dan dapat mempengaruhi masyarakat di mana kita berada. Bisa saja kita hanyalah “orang-orang biasa”, namun Petrus juga hanya orang biasa-biasa saja sebelum peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama. Bahkan pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama itu dia belumlah “Santo Petrus yang agung” Dia hanyalah seorang (mantan) nelayan. Akan tetapi, setelah dia menerima Roh Kudus, Petrus pun mampu mempertobatkan tiga ribu orang sekaligus yang mendengarkan khotbahnya yang dipenuhi rahmat (Kis 2:41).

Ketika Yesus menegur para murid berkaitan dengan ketidakmampuan mereka untuk mengusir roh jahat yang merasuki anak laki-laki yang sakit ayan itu, lagi-lagi Yesus mengingatkan para murid akan ketiadaan iman mereka. Namun kemudian Ia membuat sebuah janji, yaitu janji yang akan membebaskan para murid dari rasa bersalah atau “minder” dan memberikan kepada mereka pengharapan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,  – maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:20).

Janji ini tidak hanya berlaku untuk para murid Yesus yang pertama, melainkan juga bagi kita semua, para murid-Nya pada zaman sekarang. Terkadang kekhawatiran dan kegelisahan kita dapat memperlemah iman-kepercayaan kita. Pengharapan kita dapat menyusut cepat dan membuat kita merasa tak berdaya ketika menghadapi situasi yang sulit. Situasi-situasi menantang semakin banyak kita hadapi, namun kita merasa jauh dari Tuhan. Pada saat-saat seperti inilah kita harus tegak berdiri dan memegang janji Yesus yang tak tergoyahkan, yaitu bahwa tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja.

Bagaimana kita memelihara dan mempertahankan iman kita, bahkan yang sekecil biji sesawi itu? Iman adalah karunia Allah, namun tetap menuntut tanggapan dari pihak kita. Kiranya tidak ada cara yang lebih efektif untuk membangun iman kita selain daripada datang ke hadapan hadirat-Nya dalam doa-doa kita.

Memang kedengarannya hal ini mengecilkan hati, malah menakutkan, namun sebenarnya tidak susah juga. Apa yang dapat kita lakukan adalah mencoba dengan sebaik-baiknya untuk membuang segala pelanturan atau distraksi yang mengganggu konsentrasi kita, dan kemudian kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Yesus saja. Pandangan mata kita haruslah terus menatap pada cintakasih-Nya dan pada hasrat-Nya yang mendalam untuk memberikan kepada kita masing-masing segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati hidup kekudusan. Yesus ingin sekali agar kita memiliki iman yang  lebih lagi, Dia bahkan lebih bergairah lagi untuk mencurahkan semua rahmat yang kita perlukan agar kita dapat bertumbuh dalam iman, dan Ia juga ingin sekali melihat iman kita itu bertumbuh dan bertumbuh terus – presis seperti biji sesawi kecil yang terus bertumbuh sehingga menjadi sebatang pohon sesawi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk memusatkan pandangan mataku pada Engkau saja, bukan pada diriku sendiri. Berikanlah kepadaku suatu pemahaman yang segar perihal cintakasih-Mu bagiku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu agar dengan demikian akupun akan mampu berjalan dalam iman dan menjadi saksi-Mu kepada masyarakat di sekelilingku dan dunia yang sungguh membutuhkan Engkau dan penyelamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “IMANLAH YANG DIPERLUKAN” (bacaan tanggal 12-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010). 

Cilandak, 10 Agustus 2017 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS