PEREMPUAN KAFIR YANG MEMILIKI IMAN BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Rabu, 9 Agustus 2017)

 

Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Lalu datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Jesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Hai ibu, karena imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Seketika itu juga anaknya sembuh.  (Mat 15:21-28) 

Bacaan Pertama: Bil 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7,13-14,21-23

Dalam kitab-kitab Injil yang empat itu, hanya dua orang yang dipuji oleh Yesus untuk iman mereka yang besar: Yang pertama adalah seorang perwira tentara Romawi yang berkata kepada Yesus: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya tentang iman sang perwira itu: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Yang kedua adalah perempuan Kanaan yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, yang “ngotot” mohon kepada Yesus agar puterinya disembuhkan/dilepaskan dari kuasa roh jahat. Memang pada teks di atas yang diambil dari Perjanjian Baru edisi TB II-LAI pujian Yesus tidak secara eksplisit mengungkapkan betapa besar iman sang ibu Kanaan itu, namun kiranya pujian Yesus itu lebih jelas terasa dalam teks Alkitab TB I-LAI. Bunyinya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Yang menyentuh hati adalah kenyataan, bahwa kedua orang yang memiliki “iman besar” itu adalah bukan orang Yahudi …… orang-orang kafir; mereka yang dipandang tidak bersih oleh sebagian besar umat Yahudi.

Perempuan Kanaan ini menghadapi dua buah rintangan, katakanlah handicaps: (1) Kenyataan bahwa dia bukan orang Yahudi; dan (2) kenyataan bahwa dia adalah seorang perempuan yang dipandang tak bernilai dalam masyarakat Yahudi. Namun demikian, demi cintakasihnya kepada puterinya yang menderita, ibu Kanaan ini tidak berputus-asa. Dia tetap ngotot mohon pertolongan Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud …” (Mat 15:22) … “Tuhan, tolonglah aku” (Mat 15:25). Dia terus berteriak-teriak minta tolong selagi mengikuti Yesus (Mat 15:23). Dia menyapa Yesus sebagai Kyrios (Tuan, Tuhan) dan “Putera/Anak Daud” yang sangat kental bernada Yahudi. Pada waktu Yesus pada mulanya tidak memberi jawaban atas permohonannya, perempuan Kanaan ini terus bersikukuh sambil menyembah Yesus mohon sekali lagi agar Dia menolongnya. Bahkan ketika jawaban Yesus terkesan menyakitkan, perempuan penuh iman ini dengan cerdas dan rendah-hati mengakui, bahwa meskipun dia orang asing yang berada di luar “Perjanjian YHWH dengan bangsa/umat Yahudi”, dia dapat juga memperoleh manfaat dari pelayanan Yesus di tengah-tengah umat Yahudi. Akhirnya, Yesus pun memuji iman perempuan Kanaan yang besar itu dan menyembuhkan anak perempuannya.

Ada dua aspek menentukan dalam iman-besar ibu Kanaan itu. Yang pertama adalah kenyataan bahwa dia adalah seorang yang sungguh rendah hati. Yang kedua, dia ini adalah seorang pribadi yang memiliki ketekunan. Dia mendatangi Yesus, dia minta dikasihani, minta tolong kepada Yesus sambil menyembah-Nya; hal sedemikian bukanlah sikap umum orang-orang non-Yahudi terhadap seorang Yahudi. Yang lebih menyentuh hati adalah, bahwa perempuan ini mengakui posisinya yang lebih rendah ketimbang orang Yahudi dalam rencana penyelamatan Allah.  Karena ketekunannya perempuan ini tidak mundur oleh ketiadaan jawaban dari Yesus pada awalnya, juga dia tidak berputus-asa karena pandangan negatif para murid Yesus terhadap dirinya, bahkan juga oleh jawaban Yesus yang terasa menyakitkan. Semua yang kelihatan sebagai penghalang malah membuat dirinya semakin dekat dengan Yesus dan mengintensifkan kesungguhannya dalam memohon pertolongan kepada Yesus.

Marilah kita belajar dari perempuan Kanaan ini, teristiwa kerendahan hatinya yang tulus dan ketekunannya dalam menyampaikan permohonannya kepada Yesus. Janganlah kita menjadi merasa gelisah bagaimana kita dapat bertumbuh sebaik-baiknya di dalam dua keutamaan yang disebutkan tadi. Setiap hari kita menghadapi berbagai tantangan dan pencobaan yang sebenarnya memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar cara mendekati Yesus seperti dicontohkan oleh Ibu Kanaan ini dan oleh sederetan panjang nama-nama orang kudus yang terdapat dalam Kitab Suci dan sepanjang sejarah Gereja.  Yang diperlukan oleh kita adalah agar tetap membuka mata hati kita dan menjaga agar hati kita tetap murni. Dengan demikian kita masing-masing dapat dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang rendah hati dan tekun. Maka kita pun akan menyadari  bahwa sebenarnya Yesus selalu ada bersama kita, menguatkan iman-kepercayaan kita dan mendengar doa-doa kita. Ingatlah bahwa Dia adalah Imanuel – Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Dalam ayat terakhir Injil Matius tercatat bahwa Dia sendiri bersabda: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Aku ingin lebih dekat lagi dengan-Mu, ya Tuhan. Ajarlah aku, ya Tuhan, untuk selalu mendekati diri-Mu dengan rendah hati dan iman yang tekun. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KRISTIANI YANG POSITIF ATAU NEGATIF?” (bacaan tanggal 9-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS