Posts tagged ‘YESUS MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT KUSTA’

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 12 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dari Cordeone, Biarawan Kapusin

006-lumo-man-leprosy

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak “membocorkan info” sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injilnya, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

007-lumo-man-leprosyDalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang “enggan” menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan “keengganan” Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang menyatakan/mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salibnya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar “maksud baik” manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran roh-roh jahat dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk “memperbaiki” rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, demi membebaskan kita.

008-lumo-man-leprosyMarilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan “seenaknya” mengambil dan memilih yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat (namun tanpa memaksa-maksa Tuhan), seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA” (bacaan  tanggal 12-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

Advertisements

DOA YESUS KEPADA BAPA ADALAH FONDASI DARI SEMUA YANG DILAKUKAN-NYA

DOA YESUS KEPADA BAPA ADALAH FONDASI DARI SEMUA YANG DILAKUKAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 8 Januari 2016) 

JESUS HEALING A LEPERPada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20

Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa (Luk 5:16).

Bilamana Sri Paus mengunjungi suatu negara, banyak sekali orang berkumpul di lokasi kedatangannya, berjam-jam lamanya, bahkan berhari-hari sebelum ia sampai di tempat itu. Beribu-ribu orang memenuhi pinggiran jalan yang akan dilalui dan mereka mencoba mendekati kendaraan Sri Paus untuk dapat melihat sendiri pemimpin Gereja itu, walaupun hanya sekilas lintas saja. Jadi, ketika kita membaca dari Kitab Suci bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada Yesus untuk mendengar Dia berkhotbah dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka (Luk 5:15), kita mempunyai gambaran bagaimana sulitnya bagi Yesus untuk bergerak di tengah kerumunan orang banyak itu, apalagi mendengar dengan jelas dari Bapa-Nya di surga. Jadi, bagaimana Yesus dapat tetap berada dalam keadaan damai, tenteram, dan yakin pada kehendak Allah di tengah banyaknya orang yang berkumpul itu?

Jawabnya adalah doa! Ketika tersebar kabar bahwa Yesus telah menyembuhkan seorang kusta, dan orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya untuk mendengar khotbah-Nya dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka, Yesus malah “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa” (Luk 5:16).

Doa yang bersifat intim, menyegarkan dan menguatkan adalah fondasi dari semua yang dilakukan oleh Yesus. Doa tersebut memampukan Dia untuk mengetahui kapan kiranya Dia harus melayani, dan kapan untuk menarik diri ke tempat sunyi penuh keheningan, kapan untuk menegur dan dan kapan untuk menghibur. Doa memperbaharui kekuatan Yesus, menyegarkan semangat-Nya, dan memenuhi hati-Nya dengan keyakinan. Di atas segalanya, doa memberi keyakinan kepada-Nya secara mendalam dan pribadi tentang kasih tak tergoyahkan dari Bapa surgawi kepada-Nya.

JESUS PRAYINGSuatu kebenaran yang menakjubkan dari hidup seorang Kristiani adalah bahwa doa pribadi yang memberi-hidup seperti dialami Yesus adalah dimungkinkan bagi setiap kita yang menjadi murid-Nya. Lagipula, Allah sangat berhasrat untuk melihat kita datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan kita. Allah sangat rindu untuk berbicara secara pribadi kepada kita, memberi bimbingan kepada kita, mengajar kita tentang Yesus, atau menggerakkan kita ke dalam cara-cara baru dalam melayani diri-Nya. Dalam saat-saat duka maupun suka, saat yang diliputi rasa takut maupun penuh syukur, rasa bersalah atau ketidakpastian, kita hanya perlu berpaling kepada Bapa surgawi untuk diberi kesempatan beraudiensi dalam suasana penuh kasih dengan Dia.

Saudari dan Saudaraku, doa dimaksudkan untuk sama mudahnya seperti berbicara dengan seorang sahabat. Bilamana kita berbicara kepada Allah, Dia senantiasa siap untuk menanggapi kita. Barangkali kita akan diingatkan kepada sebuah potongan ayat dari Kitab Suci, atau kita dimampukan untuk memandang suatu situasi dalam terang yang baru, atau kita hanya merasakan damai-sejahtera dalam keheningan hati kita. Selagi kita beristirahat dalam Tuhan dalam doa, rahmat-Nya memenuhi diri kita, memberi kekuatan kepada kita untuk mengikuti Dia dalam hidup kita sehari-hari. Apapun situasi yang kita hadapi, kita dapat mengharapkan untuk diisi dan dibuat baru, seperti Yesus sendiri pada saat Ia menarik diri dari keramaian untuk berdoa.

DOA: Roh Kudus, bawalah aku dengan lebih mendalam ke dalam hidup Yesus dan kasih-Nya. Aku ingin mengetahui dan mengenal hati Bapa dan jalan-jalan-Nya dan mengalami hidup-Nya selagi aku berdoa hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SUNGGUH DAPAT MENGUBAH KITA” (bacaan tanggal 8-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 5 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS