Posts tagged ‘YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH’

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 6 Juli 2017)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1–19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belas kasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6).

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan ‘kebenaran’ moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang pribadi yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”

Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”  Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 6-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 13 Januari 2017) 

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” (bacaan tanggal 13-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014] 

Cilandak, 10 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS