Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

PALUNGAN DAN SALIB

PALUNGAN DAN SALIB

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Kamis, 10 Desember 2017) 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil  dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan – jika kamu mau menerimanya – dialah Elia yang akan datang itu, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Mat 11:11-15) 

Bacaan Pertama: Yes 41:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1,9-13 

Sementara kita menekuni bacaan-bacaan Injil masa Adven yang dipakai dalam Misa Kudus, muncullah dari halaman-halaman Kitab Suci seseorang yang “aneh”. Dia adalah Yohanes Pembaptis, seorang pribadi yang sungguh “nyentrik”, yang tampil di padang gurun dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mrk 1:4.6).

Jangan-jangan seandainya kita bertemu dengan Yohanes Pembaptis secara pribadi, banyak dari kita akan mencoba untuk menghindar. Kita juga rasanya cenderung untuk tidak pernah akan mengundangnya datang ke rumah kita; bukannya karena kita tidak tahu bagaimana menyiapkan makanan dari belalang dan madu hutan, melainkan justru karena kita tidak akan merasa nyaman dengan kehadiran orang semacam itu. Namun demikian, Yesus mendeklarasikan bahwa sejarah manusia tidak pernah melihat seseorang yang dilahirkan oleh perempuan yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis ini.

Selagi kita mendengarkan pesan Yohanes Pembaptis selama masa Adven ini, maka dalam upaya pencaharian kita akan Yesus, kita sesungguhnya mencari lebih jauh daripada seorang bayi yang terbaring tak-berdaya pada palungan di kandang Betlehem dalam suasana gembira-mengharukan yang sangat menyentuh hati sanubari kita. Sesungguhnya, pada akhirnya pencaharian kita akan sampai kepada perjumpaan dengan Yesus yang sudah dewasa.

Ada alasan baik untuk suatu penekanan pada Yesus sebagai seorang dewasa, bahkan ketika kita menyiapkan kelahiran-Nya. Keprihatinan liturgi dalam masa Adven adalah kebenaran (yang tak mungkin dapat dipahami sekadar dengan akal-budi manusia) tentang misteri inkarnasi, yaitu Allah yang menjadi manusia – seorang pribadi dengan segala plus-minus yang melekat pada kodratnya. Lebih dari itu, bacaan liturgi untuk masa Adven dengan penuh empati memproklamasikan alasan mengapa Dia menjadi manusia. Sebagai seorang pribadi manusia yang dewasa, Yesus merentangkan tangan-Nya di atas kayu salib demi keselamatan dunia.

Seperti halnya dengan mengundang Yohanes Pembaptis untuk datang ke rumah kita, barangkali kita juga akan merasa kurang enak atau kurang nyaman kalau berpikir tentang penyaliban Yesus, justru dalam masa Adven ini. Kita bertanya: “Memangnya kita sudah ada dalam masa Prapaskah?” Sebuah kenyataan tak terbantahkan: “Palungan membawa kita kepada Salib!” Betlehem itu digenapi di atas bukit Kalvari. Adven kita tidak akan lengkap tanpa penghargaan serta penghormatan terhadap kurban salib-Nya di Golgota. Sebagai akhir permenungan kita, baiklah kita lihat apa yang ditulis oleh almarhum Uskup Agung Fulton J. Sheen dari New York  (The Life of  Christ) sekitar setengah abad lalu:

“………… Putera Allah pada waktu menjadi manusia telah diundang memasuki dunia-Nya sendiri melalui sebuah pintu-belakang. Terbuang dari dunia, Ia dilahirkan di bawah muka bumi, dengan pengertian bahwa Dialah penghuni-gua yang pertama-tama tercatat dalam sejarah. Di sanalah Ia mengguncangkan dunia sampai ke alasnya. Oleh karena Ia telah dilahirkan dalam sebuah gua, maka semua orang yang ingin masuk menengok-Nya harus membungkuk, sebagai tanda kerendahan hati. Orang yang sombong tidak mau membungkuk, oleh karenanya mereka lalu tidak melihat Allah. Sedangkan orang-orang yang membungkukkan ke-aku-annya lalu masuk, dan mereka akan menemukan bahwa mereka samasekali tidak berada di dalam sebuah gua, melainkan di dalam suatu dunia baru: seorang Bayi duduk di pangkuan ibu-Nya seraya dunia bertumpu tenang di atas jari-jari tangan-Nya.

Dengan demikian tertancaplah palungan dan salib pada kedua ujung kehidupan Sang Penebus! Dia telah menerima palungan itu sebab tak ada tempat bagi-Nya di dalam rumah penginapan; Dia menerima salib sebab manusia mengatakan: “Kami tidak mau menerima orang ini menjadi raja kami.” Disangkal ketika masuk-nya, ditolak waktu pergi-Nya, Ia telah telah dibaringkan dalam kandang milik seorang asing pada permulaannya dan dalam makam milik seorang asing pula pada akhirnya. Seekor lembu dan seekor keledai mengitari palungan tempat tidur-Nya di Betlehem; dua orang penjahat akan mengapit salib-Nya di puncak Kalvari. Di dalam kandang kelahiran itu Ia dibedung dengan kain lampin; di dalam makam Ia dibaringkan, terbungkus dalam kain-kain pula –  suatu lambang pembatasan-pembatasan yang dikenakan atas ke-Allahan-Nya tatkala Dia mengambil rupa manusia. …… Dia sudah memanggul salib-Nya – salib satu-satunya yang disesuaikan bagi seorang Bayi, sebuah salib kemiskinan, pembuangan serta pembatasan. Bahkan dari Kabar Baik yang dikumandangkan para malaikat di atas bukit-bukit Betlehem, sudah menggema pula maksud-kurban-Nya: ‘Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.’ …………”

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah aku – teristimewa dalam masa Adven ini – agar aku semakin yakin bahwa “Palungan Yesus akan selalu membawaku kepada Salib-Nya”, dengan demikian kebangkitan bersama-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADAN YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 10-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 12 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HANYA MELALUI PERTOBATAN

HANYA MELALUI PERTOBATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II [TAHUN B], 10 Desember 2017) 

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab Nabi Yesaya, “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, Ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun, Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”, demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Maka berdatanganlah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis olehnya di Sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”  (Mrk 1:1-8)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-5,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua 2Ptr 3:8-14

Orang-orang Yahudi dari seluruh daerah Yudea berduyun-duyun datang ke Sungai Yordan untuk menerima baptisan tobat dari Yohanes. Ini bukan suatu pemandangan yang biasa di Israel, karena rituale ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang mau “bertobat” masuk Yudaisme. Jadi, mengapa umat pilihan Allah berdatangan juga? Seruan Yohanes agar orang-orang bertobat rupa-rupanya  telah menusuk hati mereka dengan kebutuhan yang sangat mendesak akan pengampunan.

Melalui baptisan kita telah dibersihkan dari dosa asal. Namun seperti orang-orang Yahudi yang datang kepada Yohanes minta dipermandikan, kita juga perlu mengakui dosa kita dan mohon pengampunan – bukan sekadar sebagai suatu proses sekali jadi, tetapi sebagai cara hidup. Dosa yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun telah membentuk gunung dan lembah, sehingga sungguh menjadi penghalang terhadap relasi kita dengan Allah dan dengan sesama. Hanya melalui pertobatanlah kita dapat menyingkirkan apa saja yang menghalang-halangi kita untuk dapat berjalan bersama Yesus dan juga kemampuan kita untuk mengasihi dan melayani satu sama lain.

Cukup mudahlah untuk bertobat atas dosa-dosa yang nyata, yakni kesalahan-kesalahan konkret yang secara spesifik disebutkan dalam “Sepuluh Perintah Allah”. Memang baiklah untuk kita mulai di sini. Akan tetapi ada juga dosa-dosa “tersembunyi” yang selama ini terus saja kita bawa dalam hati kita. Secara teratur dan terus-menerus Allah minta kepada kita untuk membuka diri kita bagi Roh-Nya sehingga Dia dapat menerangi bagian-bagian gelap diri kita dan membebaskan kita.

Ada sikap-sikap sangat tak kentara dalam kodrat manusia, yang tanpa kecuali berdiam dalam diri kita masing-masing. Oleh karena itu – teristimewa dalam masa Adven dan masa Prapaskah – perhatikanlah secara istimewa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita yang tersembunyi. Marilah kita mengakui keberadaan dari segala ketidakpuasan, kekikiran dan kemalasan tak kentara yang kadang-kadang masih kita rangkul, meski dalam “kerahasiaan” sekalipun.

Kalau kita tak mau mengangkat hal-hal negatif seperti ini ke atas permukaan dan memperbaikinya melalui pertobatan, maka kita hanya akan mampu memecahkan hal-hal kecil yang kasat mata saja. Dan, kita pun juga tidak akan pernah berhasil sampai kepada “hidup kaya” yang telah direncanakan oleh Allah untuk kita miliki dan nikmati.

Marilah kita pergi lebih dalam lagi – teristimewa dalam masa Adven dan masa Prapaskah – dan membuka hati kita masing-masing bagi cintakasih dan kerahiman Allah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk kesabaran-Mu atas diriku yang bebal ini. Dengan kuat-kuasa  Roh Kudus-Mu yang berdiam dalam diriku, bukalah hatiku lebar-lebar dan bawalah aku ke dalam kepenuhan warisan yang telah Kausiapkan bagiku, sehingga aku pun akan mampu melakukan hal-hal yang indah bagi kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:1-8], bacalah tulisan yang berjudul “PADANG GURUN” (bacaan tanggal 10-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 7 Desember 2017 [Peringatan S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk., Martir Korea – Rabu, 20 September 2017)

 

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tim 3:14-16), bacalah tulisan dengan judul “JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN” (bacaan tanggal 20-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 September 2017 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 22 Januari 2017)

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertamaTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [1]

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (Mat 4:12-23). [1] Mat 4:15-16 à Yes 8:23-9:1 

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.

Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kemartiran di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.

Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.

Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.

Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebbih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “PERSATUAN ALAM TERANG DAN HIDUP YANG MENYELAMATKAN DARI KRISTUS” (bacaan tanggal 22-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

Cilandak, 19 Januari 2017 [Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  15 Januari 2017)

0-0-lamb-of-go-bqimxlc

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa seperti ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 12 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN –  Senin, 9 Januari 2017)

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Sebenarnya ada dua peristiwa luarbiasa terangkum dalam petikan Injil di atas yang terdiri dari lima ayat saja.

Yang pertama adalah bahwa Yesus menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa dan menerima baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis. Yohanes sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa herannya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Yohanes sendiri adalah seorang pendosa. Dia yang berkhotbah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak juga membutuhkan khotbah pertobatan dari Dia. Bukankah seorang imam yang bertugas melayani Sakramen Rekonsiliasi dan mengampuni dosa umat juga  harus menerima absolusi? Tidak seorang pun kudus selain Allah sendiri. Dan …… setiap orang – sebagai pendosa – harus dikuduskan oleh Allah.

Kita semua hanyalah mata rantai dari rantai yang sama, tangkai dari batang yang berdosa, gelombang-gelombang dalam aliran dosa yang sama. Hanya ada satu kekecualian, yaitu Dia yang lain dari yang lain; sang Mahalain yang datang dari surga, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Oleh karena itu,  tanggapan Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis terasa mengherankan: “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Dengan demikian hak Allah dipulihkan apabila Dia – yang satu-satunya tanpa noda-dosa – menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa. Allah Yang Mahaadil menuntut silih untuk dosa manusia. Yesus menceburkan diri-Nya diri dalam aliran dosa, menjadi anggota dari bangsa manusia yang berdosa.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis “Surat kepada Orang Ibrani”: “… Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Yesus turun/datang ke sungai Yordan sesungguhnya merupakan lambang dari apa yang telah terjadi karena misteri Inkarnasi: Tuhan sendiri turun ke tengah bangsa manusia yang penuh dosa, menjadi sama dengan kita. Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa Yesus segera keluar dari sungai Yordan. Dengan demikian untuk pertama kalinya kekuatan dosa dipatahkan. Yesus adalah satu-satunya yang tidak binasa dalam dosa dan tidak dihanyutkan oleh dosa itu, namun dengan kekuatan-Nya sendiri naik lagi ke atas dan membawa yang lain-lain beserta diri-Nya ke atas. Pada waktu wafat Ia akan samasekali tenggelam dalam aliran dosa yang gelap itu, agar supaya pada waktu kebangkitan dapat naik lagi dan membawa serta yang lain-lain masuk ke dalam hidup baru.

Setelah semua itu berlangsunglah peristiwa yang kedua: surga terbuka !!! Dosa telah menutut pintu surga, namun kemenangan Kristus atas dosa telah membuka pintu dosa tersebut. Roh Kudus turun. Dosa – dan di belakangnya adalah si iblis – telah mengusir Roh Kudus dari manusia. Tetapi Kristus yang dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus, membawa Roh Allah dalam Diri-Nya. Karena Yesus-lah maka Roh Kudus turun lagi atas manusia. Roh yang melayang-layang di atas samudera, di sini dalam bentuk seekor merpati melayang-layang di atas sungai Yordan dan dalam kepenuhan-Nya hinggap di atas Yesus dan sekaligus di atas semua orang yang dikuduskan dalam dan karena Dia. Suara Bapa surgawi pun terdengar pula: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Karena dosa, keputeraan ilahi manusia hilang. Akan tetapi, Yesus Kristus yang telah menanggung dosa di atas pundak-Nya telah membinasakannya, telah mengembalikan keputeraan ilahi tersebut kepada para pendosa. Oleh dan melalui Yesus – sang Putera – mereka menjadi anak-anak Bapa lagi. Di sini Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus tampak jelas sebagai Tritunggal. Roh Kudus adalah cintakasih antara Bapa dan Putera, dan karenanya keluar dari Bapa dan Putera. Kedatangan Putera ke tengah dunia sekaligus adalah pengutusan Roh Kudus. “Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Mat 3:16). Di sini secara tampak dan dahsyat Yesus mengalami bahwa Ia adalah Putera Bapa dan membawa serta dalam Diri-Nya kepenuhan Roh Kudus. Pengalaman ini demikian dahsyatnya, sehingga Ia tidak dapat tinggal lebih lama di sini, melainkan dengan segera dibawa oleh Roh itu juga ke dalam kesunyian, di mana Ia berada sendirian dengan Bapa dan Roh Kudus, lahiriah seorang diri, tetapi batiniah dalam kepenuhan Tritunggal Mahakudus.

Bapa tidak bersabda: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan” melainkan “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan” (Mat 3:17). Dari sini nyatalah bahwa hal ini bukan wahyu kepada Kristus, melainkan kepada orang-orang, … kepada kita semua. Inilah pemberian kesaksian resmi dari Bapa surgawi atas perutusan Kristus. Saat turun-Nya ke tengah kedosaan manusia sekaligus merupakan saat pengangkatan, yaitu karena Bapa memberi kesaksian tentang cintakasih-Nya dan Roh Kudus  tentang kediaman-Nya dalam Kristus. Perkenaan Bapa ada pada Kristus dan pada sekalian orang yang termasuk milik-Nya.

Inilah sungguh suatu peristiwa besar yang tidak dapat dipahami. Terang yang memancar di sini akan bercahaya di atas seluruh hidup Yesus. Suara yang terdengar di sini tidak akan berhenti bergema. Keadilan yang telah diperkosa manusia, dipulihkan kembali oleh Allah. Yesus memikul segala ketidak-adilan untuk membuat mereka yang tidak adil menjadi adil kembali. Dengan demikian keadilan telah disilih.

DOA: Allah yang kekal dan kuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Anak-Mu yang terkasih, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Anak-Mu yang terkasih, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 9-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Pokok tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan Richard Gutzwiller, Renungan tentang Mateus, jilid I, hal. 24-27) 

Cilandak, 7 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 6 Januari 2017)

baptisan-yesus-5Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “KETIKA YESUS DIBAPTIS” (bacaan tanggal 6-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 4 Januari 2017 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS