Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk., Martir Korea – Rabu, 20 September 2017)

 

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tim 3:14-16), bacalah tulisan dengan judul “JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN” (bacaan tanggal 20-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 September 2017 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 22 Januari 2017)

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertamaTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [1]

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (Mat 4:12-23). [1] Mat 4:15-16 à Yes 8:23-9:1 

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.

Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kemartiran di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.

Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.

Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.

Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebbih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “PERSATUAN ALAM TERANG DAN HIDUP YANG MENYELAMATKAN DARI KRISTUS” (bacaan tanggal 22-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

Cilandak, 19 Januari 2017 [Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  15 Januari 2017)

0-0-lamb-of-go-bqimxlc

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa seperti ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 12 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN –  Senin, 9 Januari 2017)

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Sebenarnya ada dua peristiwa luarbiasa terangkum dalam petikan Injil di atas yang terdiri dari lima ayat saja.

Yang pertama adalah bahwa Yesus menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa dan menerima baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis. Yohanes sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa herannya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Yohanes sendiri adalah seorang pendosa. Dia yang berkhotbah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak juga membutuhkan khotbah pertobatan dari Dia. Bukankah seorang imam yang bertugas melayani Sakramen Rekonsiliasi dan mengampuni dosa umat juga  harus menerima absolusi? Tidak seorang pun kudus selain Allah sendiri. Dan …… setiap orang – sebagai pendosa – harus dikuduskan oleh Allah.

Kita semua hanyalah mata rantai dari rantai yang sama, tangkai dari batang yang berdosa, gelombang-gelombang dalam aliran dosa yang sama. Hanya ada satu kekecualian, yaitu Dia yang lain dari yang lain; sang Mahalain yang datang dari surga, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Oleh karena itu,  tanggapan Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis terasa mengherankan: “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Dengan demikian hak Allah dipulihkan apabila Dia – yang satu-satunya tanpa noda-dosa – menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa. Allah Yang Mahaadil menuntut silih untuk dosa manusia. Yesus menceburkan diri-Nya diri dalam aliran dosa, menjadi anggota dari bangsa manusia yang berdosa.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis “Surat kepada Orang Ibrani”: “… Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Yesus turun/datang ke sungai Yordan sesungguhnya merupakan lambang dari apa yang telah terjadi karena misteri Inkarnasi: Tuhan sendiri turun ke tengah bangsa manusia yang penuh dosa, menjadi sama dengan kita. Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa Yesus segera keluar dari sungai Yordan. Dengan demikian untuk pertama kalinya kekuatan dosa dipatahkan. Yesus adalah satu-satunya yang tidak binasa dalam dosa dan tidak dihanyutkan oleh dosa itu, namun dengan kekuatan-Nya sendiri naik lagi ke atas dan membawa yang lain-lain beserta diri-Nya ke atas. Pada waktu wafat Ia akan samasekali tenggelam dalam aliran dosa yang gelap itu, agar supaya pada waktu kebangkitan dapat naik lagi dan membawa serta yang lain-lain masuk ke dalam hidup baru.

Setelah semua itu berlangsunglah peristiwa yang kedua: surga terbuka !!! Dosa telah menutut pintu surga, namun kemenangan Kristus atas dosa telah membuka pintu dosa tersebut. Roh Kudus turun. Dosa – dan di belakangnya adalah si iblis – telah mengusir Roh Kudus dari manusia. Tetapi Kristus yang dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus, membawa Roh Allah dalam Diri-Nya. Karena Yesus-lah maka Roh Kudus turun lagi atas manusia. Roh yang melayang-layang di atas samudera, di sini dalam bentuk seekor merpati melayang-layang di atas sungai Yordan dan dalam kepenuhan-Nya hinggap di atas Yesus dan sekaligus di atas semua orang yang dikuduskan dalam dan karena Dia. Suara Bapa surgawi pun terdengar pula: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Karena dosa, keputeraan ilahi manusia hilang. Akan tetapi, Yesus Kristus yang telah menanggung dosa di atas pundak-Nya telah membinasakannya, telah mengembalikan keputeraan ilahi tersebut kepada para pendosa. Oleh dan melalui Yesus – sang Putera – mereka menjadi anak-anak Bapa lagi. Di sini Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus tampak jelas sebagai Tritunggal. Roh Kudus adalah cintakasih antara Bapa dan Putera, dan karenanya keluar dari Bapa dan Putera. Kedatangan Putera ke tengah dunia sekaligus adalah pengutusan Roh Kudus. “Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Mat 3:16). Di sini secara tampak dan dahsyat Yesus mengalami bahwa Ia adalah Putera Bapa dan membawa serta dalam Diri-Nya kepenuhan Roh Kudus. Pengalaman ini demikian dahsyatnya, sehingga Ia tidak dapat tinggal lebih lama di sini, melainkan dengan segera dibawa oleh Roh itu juga ke dalam kesunyian, di mana Ia berada sendirian dengan Bapa dan Roh Kudus, lahiriah seorang diri, tetapi batiniah dalam kepenuhan Tritunggal Mahakudus.

Bapa tidak bersabda: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan” melainkan “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan” (Mat 3:17). Dari sini nyatalah bahwa hal ini bukan wahyu kepada Kristus, melainkan kepada orang-orang, … kepada kita semua. Inilah pemberian kesaksian resmi dari Bapa surgawi atas perutusan Kristus. Saat turun-Nya ke tengah kedosaan manusia sekaligus merupakan saat pengangkatan, yaitu karena Bapa memberi kesaksian tentang cintakasih-Nya dan Roh Kudus  tentang kediaman-Nya dalam Kristus. Perkenaan Bapa ada pada Kristus dan pada sekalian orang yang termasuk milik-Nya.

Inilah sungguh suatu peristiwa besar yang tidak dapat dipahami. Terang yang memancar di sini akan bercahaya di atas seluruh hidup Yesus. Suara yang terdengar di sini tidak akan berhenti bergema. Keadilan yang telah diperkosa manusia, dipulihkan kembali oleh Allah. Yesus memikul segala ketidak-adilan untuk membuat mereka yang tidak adil menjadi adil kembali. Dengan demikian keadilan telah disilih.

DOA: Allah yang kekal dan kuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Anak-Mu yang terkasih, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Anak-Mu yang terkasih, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 9-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Pokok tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan Richard Gutzwiller, Renungan tentang Mateus, jilid I, hal. 24-27) 

Cilandak, 7 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 6 Januari 2017)

baptisan-yesus-5Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “KETIKA YESUS DIBAPTIS” (bacaan tanggal 6-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 4 Januari 2017 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG ANAK DOMBA ALLAH

SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Rabu, 4 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santa Angela dari Foligno, Ordo III Sekular 

lamb-of-god

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia  berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Satu hari setelah Yohanes Pembaptis memberi kesaksian di depan publik, bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah, ia mengulanginya lagi secara privat kepada dua orang muridnya. Peristiwa sederhana ini barangkali memicu salah satu “reaksi-berantai” yang paling dinamis dalam sejarah,  khususnya di bidang iman-kepercayaan manusia.

Pertama-tama, Andreas dan seorang murid Yohanes lainnya pergi untuk menyelidiki siapa Yesus ini sebenarnya. Mula-mula mereka menyapa-Nya sebagai “Rabi”, namun setelah tinggal bersama-Nya selama satu hari mereka menjadi yakin bahwa Dia adalah sang Mesias (lihat Yoh 1:38,41). Andreas menjadi begitu bersemangat sehingga dia tidak menunda-nunda lagi untuk mensyeringkan pengalamannya dengan Simon, saudaranya. Setelah berjumpa secara pribadi dengan Yesus, Simon pun memulai hidup baru sebagai Petrus atau Kefas, artinya Batu Karang (Yoh 1:42). Di sisi lain, Filipus yang tinggal sekota (Betsaida) dengan Simon dan Andreas juga bertemu dengan Yesus pada keesokan harinya. Filipus “menularkan” pengalaman perubahan dirinya kepada Natanael, yang selang beberapa saat setelah perjumpaannya dengan Yesus membuat sebuah deklarasi, bahwa Yesus adalah “Anak Allah” dan “Raja orang Israel” (Yoh 1:45,49).

Sungguh exciting semua rangkaian cerita ini! Kata-kata yang diucapkan oleh seorang kawan, hati yang terbuka, suatu perjumpaan pribadi dengan Yesus – dan sebuah “komunitas orang-orang percaya” pun terbentuklah. Nelayan-nelayan tanpa pendidikan yang memadai kelak menjadi para rasul yang diberdayakan oleh Roh Allah sendiri, hal ini dimungkinkan karena bergabungnya mereka dengan Yesus. Mereka menjadi mengenal Dia yang telah lama dinanti-nantikan Israel dan telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya oleh para nabi Perjanjian Lama. Sejak perjumpaan pribadi mereka masing-masing dengan Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu, mereka dan dunia tidak akan pernah sama lagi!

Seperti para murid Yesus yang pertama, kita pun akan menjadi semakin dekat dengan diri-Nya, semakin mengenal Dia, justru karena menyediakan waktu kita yang cukup untuk berjumpa dengan Dia dalam doa, dalam Kitab Suci, berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang yang kita temui, dan teristimewa menerima kasih-Nya dalam Ekaristi Kudus.

Yesus ingin memenuhi hati kita dengan pengetahuan, pengenalan dan pengalaman akan diri-Nya sebagai sang Anak Domba Allah, Penebus kita, Saudara kita dan banyak lagi. Sebagaimana telah dialami oleh banyak orang sebelum kita, kita pun dapat mengalami transformasi selagi kita mengikuti Yesus. Kita dapat menjadi bagian dari “petualangan” yang dialami para murid-Nya yang pertama sementara kita menyediakan waktu untuk bersama dengan Yesus, kemudian memulai suatu reaksi-berantai iman-kepercayaan di antara para sahabat dan kawan kita.

Pada awal tahun baru ini, baiklah kita membuat komitmen lagi untuk melakukan beberapa hal yang akan menolong kita menyediakan waktu bersama dengan Tuhan Yesus: (1) Menyediakan sepuluh menit atau lebih untuk doa pribadi (di luar Ibadat Harian) setiap hari, memohon Roh Kudus untuk menyatakan Yesus kepada kita; (2) Memeriksa nurani kita setiap hari, mohon Roh Kudus menolong kita untuk melakukan pertobatan atas dosa-dosa yang selama ini memisahkan kita dari Allah; (3) Menyediakan waktu sedikitnya sepuluh menit setiap hari untuk merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci dalam suasana doa; (4) Merancang sebuah rencana yang akan menolong kita bertumbuh dalam iman, termasuk membaca bacaan-bacaan rohani dan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan Gereja.

DOA: Yesus, Anak Domba Allah, Engkau yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG KAMU CARI?” (bacaan tanggal 4-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 2 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KIDUNG ZAKHARIA [BENEDICTUS]

KIDUNG ZAKHARIA [BENEDICTUS]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 24 Desember 2016)

kidung-zakharia-0099

Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,  – seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus – untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapak leluhur kita bahwa ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di dihadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk 1:67-79)

Bacaan pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya” (Luk 1:68).

Keragu-raguan Zakharia pada kata-kata malaikat membuat dirinya bisu – keheningan yang dipaksakan oleh Yang Ilahi – untuk sembilan bulan lamanya (Luk 1:18-20). Zakharia tidak mempunyai pilihan – dia dibuat bisu! Akan tetapi Zakharia membuat pilihan, yakni untuk menjalani kurun waktu selama sembilan bulan kebisuan ini dengan melakukan permenungan atas janji-janji dan rencana-rencana Allah. Karena dia duduk hening dalam doa, Zakharia memperkenankan Allah untuk mengajar dirinya tentang anaknya yang akan dilahirkan, Yohanes, dan peranan yang akan dimainkannya dalam sejarah keselamatan. Doa-doa telah membuka hati Zakharia sehinga dia dapat dengan penuh gairah menerima rencana Allah.

Petikan ayat Kitab Suci di atas adalah awal dari kidungnya yang dikenal dengan nama Benedictus atau “Kidung Zakharia” yang setiap hari didoakan/dinyanyikan dalam “Ibadat Pagi”. Dengan kalimat ini Zakharia memuji sejarah keselamatan Allah pada umumnya. Dalam kidung ini, Zakharia menempatkan kehidupan puteranya dalam hubungannya dengan karya Allah untuk menyelamatkan bangsanya sendiri dan segala bangsa.  Dia merasa bersyukur dalam hati, karena kanak-kanak yang disanjungnya dalam kidung ini menjadi perintis jalan bagi Tuhan, bentara Mesias yang bertugas mempersiapkan sebuah bangsa yang sempurna bagi Allah.

Dengan cara yang khas, hal ini juga berlaku bagi kita masing-masing. Kita pun dapat melambungkan sebuah madah pujian-syukur atas kehidupan kita sendiri. Mengapa? Karena kita juga termasuk dalam bangsa terpilih, yang dipanggil oleh Allah untuk mengikuti sang Penebus dan mempersiapkan sebuah jalan menuju masa depan yang menjadi milik.

Allah itu kekal. Ia yang memberikan kepada kita kehidupan tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada kita. Sebab, dengan menghidupkan kita, Dia menunjukkan kerahiman-Nya kepada kita. Sejak saat orang dipanggil Allah, dia dikuasai oleh suatu misteri ilahi yang menakutkan namun pada saat yang sama juga membahagiakan.

Allah telah menjadi misteri bagi hidup kita. Walaupun demikian, kita senantiasa masih dapat melambungkan puji-pujian kepada-Nya: “Terpujilah Allah yang telah memanggil kita kepada persekutuan dengan Putera-Nya. Terpujilah Allah yang telah mengasihi, menyelamatkan dan memanggil kita kepada Terang-Nya yang tak terperikan. Terpujilah Allah yang telah menjadikan kita anak-anak-Nya. Terpujilah Allah yang sebagai manusia telah ikut serta menempuh liku-liku kehidupan kita agar kita mengikuti dan merintis jalan bagi-Nya, hingga kerahiman Allah dinyatakan kepada kita, yang memberikan arti terdalam dalam kehidupan kita. Terpujilah Allah hingga saat di mana kita diperbolehkan mengucapkan doa syukur abadi, yang tidak pernah akan berhenti lagi.” 

DOA: Ya Allah, Engkau sungguh baik hati. Terimalah persembahan pujian kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:67-79), bacalah tulisan yang berjudul “IA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN UMAT-NYA” (bacaan tanggal 24-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011] 

Cilandak, 21 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS