Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 28 Mei 2016) 

jesus_christ_picture_013Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu? Jawab Yesus  kepada mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”  (Mrk 11:27-33) 

Bacaan Pertama: Yud 17,20b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6 

Apakah anda pernah mempunyai pengalaman merasa disudutkan dalam suatu interogasi atas dirimu? Anda tahu bahwa apa pun jawaban yang anda berikan, anda tetap berada dalam posisi serba salah. Biasanya hal seperti ini terjadi entah karena anda sungguh bersalah dalam hal yang dipertanyakan, atau karena sang interogator begitu jahat dalam pikirannya. Dia memutar-balikkan kebenaran karena tujuan dia satu-satunya adalah untuk mencelakakan anda.

Sekarang bayangkanlah bagaimana perasaan para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua yang ingin mencobai Dia, ketika Yesus balik bertanya kepada mereka apakah mereka percaya kepada khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Tidak ada cara apa pun bagi mereka untuk menjawab “kick balik” dari Yesus itu, tanpa menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang negatif. Jadi, mereka pun memilih cara yang paling aman, yakni “berlagak bodoh” sajalah.

Tetapi jelas di sini Yesus tidak mencoba untuk berperilaku sebagai seorang yang penuh hikmat-kebijaksanaan. Ia tidak mencoba untuk membuat para pemimpin/pemuka agama Yahudi ini agar kelihatan jelek dan bodoh. Yesus cuma ingin agar mereka mengakui bahwa mereka telah salah menilai Yohanes Pembaptis. Yesus berharap bahwa tindakan-Nya  mengingatkan para pemimpin itu akan kekeliruan dan kesalahan mereka di masa lampau, akan memacu mereka melakukan pertobatan dan mengubah penilaian salah mereka terhadap Yohanes Pembaptis.

stdas0149Kadangkala Yesus juga akan menggunakan pendekatan yang serupa ketika berhadapan dengan kita. Dia dapat membuat kita ingat akan suatu situasi di mana kita telah memperlakukan orang lain secara keliru. Atau, Dia dapat mengingatkan kita akan rasa dendam yang sudah sekian lama terpendam dalam diri kita, atau dosa tertentu di masa lampau kita yang belum kita akui – dengan harapan bahwa kita akan menghadapi semuanya itu dan berpaling kepada-Nya dalam pertobatan.

Para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang mencobai Yesus itu sebenarnya dapat menjawab, “Engkau memang benar. Baptisan Yohanes benar dari surga dan kami tidak percaya kepadanya. Kami seharusnya mencoba untuk melindunginya dari cengkeraman Herodes. Malah yang lebih penting lagi, kami seharusnya menerima pesan yang diwartakan olehnya.”  Yang terjadi adalah sebaliknya, para pemimpin/pemuka agama Yahudi itu malah hanya lebih mengeraskan hati mereka. Sekarang, marilah kita semua berikrar untuk tidak “berlagak bodoh” seperti para pemimpin/pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil ini. Apabila pada suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita akan “hal-hal tidak baik dari diri kita pada masa lampau”, marilah kita mengakuinya dan menanganinya dengan pertolongan penuh dari Dia sendiri. Bagaimana lagi kita akan menemukan kebebasan dan damai sejahtera?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memberikan kepadaku begitu banyak kesempatan untuk bertobat, mengakui segala dosaku dan berpaling kembali kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Roh Kudus-Mu, agar dengan demikian aku dapat mengetahui dan mengenal dengan lebih mendalam lagi kebebasan, dan menjalin persahabatan yang lebih erat lagi dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalam bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKAN AKU JAWABNYA!” (bacaan tanggal 28-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA YANG MENGUTUS AKU, DIALAH YANG BERSAKSI TENTANG AKU

BAPA YANG MENGUTUS AKU, DIALAH YANG BERSAKSI TENTANG AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 10 Maret 2016) 

god-the-father-2Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku  bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASebagai umat Kristiani, kita mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Pengakuan itu kita lakukan sebagai akibat langsung  dari dorongan Roh Kudus guna meyakinkan kita tentang kebenaran ini. Kita percaya kepada Yesus bukanlah karena kita adalah orang baik-baik atau luarbiasa pintar. Inilah yang ada di belakang pernyataan Yesus: “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang telah bersaksi tentang Aku” (Yoh 5:37). Sesungguhnya, Allah belum pernah berhenti memberi kesaksian tentang Ketuhanan Yesus (martabat Yesus sebagai Tuhan) dan penebusan yang dimenangkan Yesus bagi kita.

Bagaimana Allah bersaksi kepada kita sehingga membuat hati kita condong kepada-Nya? Hal ini tidak perlu melalui sesuatu yang spektakular seperti acara kembang api dalam perayaan hari kemerdekaan RI. Kebanyakan kita belum pernah melihat surga yang terbuka, juga belum pernah bertemu dengan Yesus dalam daging. Namun kita percaya. Mengapa? Karena kita telah mengalami kehadiran Yesus dalam diri kita dan juga di tengah-tengah umat yang percaya dengan cara-cara yang biasa saja namun penuh kuat-kuasa dan tak terbantahkan.

Dari hari ke hari, Allah mewujudkan kehadiran-Nya kepada kita dengan cara-cara yang “halus” dan “kecil-kecil” sehingga cepat dan mudah terlewati. Namun, semakin kita membiasakan diri kita untuk menyediakan waktu bersama Tuhan – dalam doa-doa pribadi, dalam Misa Kudus, dalam adorasi atau dalam Kitab Suci – akan semakin peka pula kita terhadap Roh Kudus dan gerakan-gerakan-Nya. Kita akan mulai menemukan kasih-Nya melalui pelayanan yang dilakukan para imam dll. yang tanpa lelah dalam gereja-gereja kita, seringkali tanpa ucapan terima kasih sedikitpun dari umat. Kita mulai mendengar suara-Nya dalam kata-kata para sahabat yang menghibur kita pada waktu kesusahan. Kita akan mengenali tangan Allah selagi kita merasa  terdorong untuk berdoa bagi mereka di antara kita yang sakit atau menderita. Bahkan kita pun merasakan Allah dalam tindakan-tindakan orang-orang yang menyatakan diri tidak percaya kepada-Nya, namun masih memperlakukan sesama dengan penuh hormat dan kelemah-lembutan.

Dalam begitu banyak situasi sehari-hari Allah sibuk bekerja memberikan kesaksian tentang Putera-Nya dan menawarkan kepada kita suatu bagian untuk ikut serta dalam berkat-berkat dan kasih-Nya. Apabila kita (anda dan saya) belum pernah mengalami hal ini bagi diri kita sendiri, maka pantaslah bagi kita (anda dan saya) untuk memohon agar Allah membuka mata kita masing-masing hari ini agar dapat melihat banyak orang lain dan situasi-situasi di sekitar kita yang menjadi saksi-saksi tentang keselamatan yang dimenangkan Yesus bagi kita di kayu salib Kalvari.

DOA: Tuhan Yesus, bukanlah mataku agar dapat melihat banyak cara yang Kaugunakan untuk mencurahkan kasih-Mu kepadaku. Bukalah juga bibirku agar dapat memuji-muji dan bersyukur kepada-Mu sebagai sebagai tanggapan dariku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA”  (bacaan tanggal 10-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016.

Cilandak, 8 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agata, Perawan-Martir – Jumat, 5 Februari 2016) 

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESRaja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.”

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 47:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31,47,50-51 

Herodes Antipas merasa begitu takjub mendengar kabar tentang Yesus yang ia percaya sebagai Yohanes Pembaptis yang telah dibangkitkan kembali dari antara orang mati (Mrk 6:16). Ini testimoni luarbiasa untuk Yohanes Pembaptis sehingga dirinya salah dikira sebagai sang Juruselamat dunia! Maukah hal seperti itu terjadi dengan diri kita (anda dan saya)? Bukankah kita akan senang untuk begitu serupa dengan Yesus sehingga orang-orang mulai merasa heran jangan-jangan Yesus telah kembali ke dunia?

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME AND THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTPertimbangkanlah bagaimana Yohanes Pembaptis menjalani kehidupannya. Lupakanlah jubah bulu unta yang dipakainya dan makanannya yang berupa belalang dan madu hutan (Mat 3:4). Yang penting adalah waktu yang digunakannya untuk berdoa dan memperkenankan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci masuk ke dalam hatinya dan dia belajar mengalami kebebasan dan sukacita pertobatan. Bagaimana lagi Yohanes Pembaptis dapat begitu penuh kuat-kuasa untuk memanggil sedemikian banyak orang untuk percaya kepada belas kasih Allah? Karena relasi yang begitu akrab dengan Allah, Yohanes dapat mengenali Yesus sebagai sang Mesias yang dijanjikan dan sebagai Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk 1:8; bdk. Luk 3:16). Yohanes Pembaptis mengetahui bahwa baptisan dengan air yang dilakukannya – walaupun penting – hanya merupakan persiapan untuk pembaptisan yang lebih penting dengan Roh Kudus yang akan diberikan oleh Yesus, suatu tindakan “membenamkan” seseorang ke dalam hidup Allah sendiri, suatu “pembenaman” yang membawa dengannya suatu kuasa ilahi untuk hidup sebagaimana Yesus hidup.

Seperti yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis, kita masing-masing pun dipanggil oleh  Allah untuk mempersiapkan orang-orang agar mengalami Kristus di dalam hidup mereka. Allah tahu bahwa kita dapat melakukan ini hanya apabila – seperti halnya Yohanes Pembaptis – kita mencerminkan Yesus, yang menggantungkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah kita. Bagi Yohanes Pembaptis, hal itu berarti “doa” dan “pertobatan”, di samping itu juga determinasi tanpa lelah untuk taat kepada panggilan Allah seturut kemampuan terbaik yang dimilikinya. Hal ini berarti mengesampingkan rencana-rencananya sendiri bagi hidupnya dan memiliki kemauan mantap untuk mengikuti panggilan Allah, bagaimana pun radikalnya panggilan itu.

Semua ini terdengar seperti “berat dan mahal sekali” – sebenarnya tidak – teristimewa apabila dibandingkan dengan segala hal yang kita terima dari Allah. Selagi kita melakukan bagian kita, Roh Kudus akan melakukan bagian-Nya, membuat diri kita semakin serupa dengan Yesus, sehingga – seperti Herodes Antipas – orang-orang akan bertanya kalau-kalau Kristus telah kembali ke atas bumi ini.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan tinggallah dalam hatiku. Transformasikanlah diriku dan ajarlah aku bagaimana menjadi serupa dengan Yesus, sehingga orang-orang lain akan mengenal Allah yang begitu mengasihi dan sungguh menakjubkan. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah diriku untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK MENJADI PENGAGUM YESUS JARAK JAUH” (bacaan untuk tanggal 5-2-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatamseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak,  31 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Minggu, 10 Januari 2016)

BAPTISAN YESUS - YESUS DIPERMANDIKAN OLEH YOHANES PEMBAPTISTetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”  (Luk 3:15-16,21-22)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-5,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-4,24-25,27-30; Bacaan Kedua: Tit 2:11-14,3:4-7 

Ajaran Yesus kepada para murid-Nya berasal dari pengetahuan ilahi yang disaring melalui pengalaman manusia. Dia dapat berbicara mengenai mengampuni orang-orang lain karena Dia telah belajar untuk mengampuni para musuh-Nya. Yesus dapat berkata bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima, karena dia telah memberi diri-Nya sendiri secara total-lengkap dan menerima banyak pula dari Bapa surgawi. Yesus juga dapat berbicara tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup orang, karena sebagai seorang manusia Dia sendiri telah dipenuhi oleh Roh Kudus.

Pada waktu Yesus dibaptis, “terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya” (Luk 3:21-22). Pembaptisan ini mengawali suatu tahapan baru dalam kehidupan Yesus. Karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat mencakup juga pembuatan mukjizat dan tanda heran lainnya, suatu kemampuan berkhotbah dengan kuat-kuasa, kemenangan atas roh-roh jahat, dan banyak lagi. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sesuatu yang dramatis diperkenalkan oleh-Nya ke tengah dunia pada hari itu, dan Yesus sendiri mengetahui tentang hal itu (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Sesungguhnya, tahukah kita (anda dan saya) apa yang terjadi ada waktu kita dibaptis? Seperti Yesus, baptisan kita juga mencakup kuasa untuk melayani dengan “bonus” tambahan dan menakjubkan. Ketika kita dibaptis, kita (atau diwakili oleh ibu/bapak permandian jika kita masih bayi/anak-anak kecil sekali) tidak hanya memberikan hidup kita kepada Allah. Allah juga memberikan hidup kekal-Nya kepada kita.

Seiring dengan kuasa untuk membawa Injil ke tengah dunia, kita pun telah menerima suatu perubahan fundamental dalam batin kita.  Roh Kudus sama yang mengalir dalam diri Yesus sekarang mengalir dalam diri kita masing-masing, memberikan kepada kita suatu bagian dalam kodrat ilahi. Keikutsertaan dalam hidup Yesus inilah yang memampukan kita menjadi/berfungsi sebagai instrumen-instrumen-Nya di dunia. Marilah kita menyediakan waktu pada hari ini untuk membaca nas-nas Kitab Suci yang berhubungan dengan pembaptisan: Kis 2:38-39; 2 Kor 1:21-22; Tit 3:4-7; dan 1 Ptr 1:3-4. Marilah kita merenungkan nas-nas ini dan biarlah Allah membangunkan imajinasi kita dan memenuhi diri kita dengan ekspektasi besar akan semua hal yang dapat kita lakukan dalam Kristus.

DOA: Alah Yang Mahakuasa, aku merasa takjub dan penuh syukur atas segala hal yang Kauberikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah lebar-lebar mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat rohani yang Kauberikan kepadaku. Luaskanlah pemahamanku sehingga aku dapat benar-benar sadar apa saja yang menjadi milikku lewat pembaptisan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:15-16,21-22), bacalah tulisan yang berjudul: BAPTISAN KITA ADALAH SUATU KEIKUTSERTAAN DALAM KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS” (bacaan tanggal 10-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016.

Cilandak, 6 Januari 2016 [Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

JIKA KITA MERENDAHKAN DIRI KITA, MAKA ALLAH AKAN MENINGGIKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 9 Januari 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYASesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“… dan sekarang sukacitaku itu penuh” (Yoh 3:29).

Pada waktu para muridnya bertanya kepada Yohanes Pembaptis tentang seorang pengkhotbah lain yang menjadi “pesaing” baginya, Yohanes memberi tanggapan yang tidak seperti biasanya, yaitu bahwa dirinya sangat bergembira melihat pengkhotbah lainnya tersebut menarik banyak orang kepada-Nya. Yohanes mengetahui bahwa Yesus bukanlah sekadar seorang pengkhotbah, melainkan Ia adalah sang Mempelai Laki-laki dari umat-Nya dan pemenuhan dari janji-janji Allah.

Sebagai seorang yang mendengarkan suara sang Mempelai Laki-laki, Yohanes bersukacita melihat bahwa mempelai perempuan – Umat Allah atau Gereja – pada akhirnya datang kepada sang Mempelai Laki-laki. Kerajaan Allah menerobos masuk ke tengah dunia dengan suatu cara yang baru dan menentukan!

Apakah kita sungguh mengetahui bahwa Yesus adalah sang Mempelai Laki-laki bagi kita – kekasih dari jiwa kita dan Pemberi semua hal yang baik? Melalui hidup-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuat harta-kekayaan hidup surgawi menjadi tersedia bagi kita sekarang.

YOHANES PEMBAPTIS - 3Pertanyaannya sekarang: Apakah kita mempunyai kebutuhan akan Yesus? Dalam “Khotbah di Bukit” Yesus telah memberi jaminan kepada kita bahwa apabila kita mencari Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka Dia akan memenuhi segala kebutuhan kita: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Apakah kita merasa khawatir atau takut? Yesus berjanji bahwa tidak ada sesuatu pun terjadi tanpa sepengetahuan Bapa surgawi. Sabda Yesus yang berikut ini sangat menghibur: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat 10:28-29). Apakah kita sedang sakit atau menderita? Yesus selalu ada bersama kita, menawarkan kepada kita kesembuhan dan kekuatan (lihat Mrk 1:41).

Semua janji ini dan juga banyak lagi kebaikan tersedia bagi kita dalam Kristus. Ini adalah sebuah Kabar Baik yang sungguh menakjubkan. Allah sang Mahapencipta segenap alam semesta, telah merendahkan diri-Nya untuk bergabung dengan umat manusia dalam suatu persatuan intim yang memungkinkan kita masuk ke dalam surga. Akan tetapi, bagaimana kita menerima harta-kekayaan ini dan mengalami kuat-kuasa Kerajaan Allah? Jawabnya: Kita harus mengikuti contoh yang telah diberikan oleh Yohanes: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Yohanes Pembaptis tidak mencari nama atau ketenaran yang bukan miliknya. Sebaliknya, dia menunjuk kepada Yesus. Jika kita merendahkan diri kita, maka Allah akan meninggikan kita. Apabila kita memutuskan untuk kehilangan nyawa kita, maka kita akan dipenuhi dengan hidup dari sang Mempelai Laki-laki sendiri. Apakah hidup kita terpuruk dalam kedosaan? Dengan bebas Yesus membebaskan bahkan orang-orang yang mendzolimi-Nya (lihat Luk 23:34). Tentu saja Dia akan mengampuni dan mengasihi orang-orang yang mengikuti jejak-Nya berdasarkan kehendak bebas dan para pendosa yang berbalik kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan pertobatan. Selagi kita pergi menghadap Yesus dan membuang dosa-dosa yang selama ini menghalangi kita, maka awan yang selama ini mengaburkan pandangan kita terhadap Yesus akan menghilang.

DOA: Yesus, bagaimana aku dapat mengungkapkah kasihku kepada-Mu? Engkau telah memberikan begitu banyak hal kepadaku, malah jauh lebih banyak daripada yang pantas kuterima. Engkau adalah sang Putera Allah, namun pada saat yang sama Engkau adalah teman seperjalananku yang akrab. Aku mengasihi-Mu dengan sepenuh hatiku, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Yoh 5:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “KITA BERASAL DARI ALLAH” (bacaan tanggal 9-1-16) dalam  situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 6 Januari 2016 [Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 23 Desember 2015)

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMA - 000Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Dalam hal kelahiran Yohanes Pembaptis, acuan-acuan terselubung dan nubuatan-nubuatan penuh misteri yang sudah berumur berabad-abad, akhirnya mengambil rupa seorang manusia. Mengapa? Karena dialah sang bentara, sang nabi yang akan “mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 3:1; 4:6). Pada hari ini pun pesan Yohanes Pembaptis dapat berbicara kepada hati kita, seperti juga kesaksian hidupnya dapat menjadi sebuah contoh bagi hidup kita.

Yohanes Pembaptis diumumkan secara ilahi dan diberikan nama di tengah tanda-tanda heran yang ajaib, Yohanes menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! (Yes 40:3). Ia menghibur umat yang sudah lama menantikan pemenuhan janji-janji Allah. Yohanes Pembaptis memproklamasikan akhir dari hidup penuh sengsara mereka dan bahwa kesalahan umat ini telah diampuni (Yes 40:2). Sungguh merupakan Kabar Baik! Ia naik ke atas gunung yang tinggi dan berseru dengan suara nyaring, berkata kepada kota-kota Yehuda, “Lihat, itu Allahmu!” (Yes 40:9).

john-baptist-lds-art-parson-39541-printKalau kita merenungkannya dengan serius, sungguh semua ini merupakan “pendahuluan” dari sejarah keselamatan! Bahkan Yesus sendiri berkata tentang Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Bagaimana Yohanes Pembaptis sampai memahami dengan benar apa yang direncanakan Allah atas dirinya? Sejak hari-hari awal hidupnya bersama Zakharia dan Elisabet, sampai saat-saat ketika dia menyibukkan diri dengan tulisan-tulisan kenabian, Yohanes Pembaptis belajar mengabdikan dirinya mencari panggilan Allah bagi hidupnya. Karena dia telah mengembangkan suatu hidup doa yang kuat, Yohanes Pembaptis lebih daripada sekadar sebatang buluh yang ditiup angin ke sana ke mari atau seorang nabi akhir zaman yang bermata liar. Yohanes Pembaptis dengan penuh keyakinan sebagai seorang yang dibimbing Allah sendiri, seseorang yang hidupnya didedikasikan bagi Kerajaan Allah yang akan diinaugurasikan. Yesus memberi konfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah “Elia” yang akan datang sebagai seorang pendahulu hari kedatangan Tuhan (lihat Mat 17:10-13).

Saudari dan Saudaraku, seperti halnya dengan Yohanes Pembaptis, Allah memanggil kita, untuk mengkomit hidup kita terhadap kehendak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) mengabdikan seluruh energi untuk mencari panggilan-Nya dan memohon kepada Roh Kudus-Nya kuat-kuasa untuk melaksanakan hal itu. Dengan penuh kepercayaan, marilah kita maju terus bersama Tuhan, dengan penuh sukacita turut memajukan kerajaan Allah. Bersama-sama, marilah kita berseru: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Luk 3:4).

DOA: Datanglah, ya Imanuel – Allah beserta kita – Raja kami, Hakim kami. Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami! Hidupkanlah kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga kami sungguh dapat mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Mu untuk kedua kalinya kelak, sebagaimana Yohanes Pembaptis telah melakukannya untuk kedatangan-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI” (bacaan tanggal 23-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 22 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT NATAL

SEMANGAT NATAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam & Pujangga Gereja

VISITASI - MARIA MENGUNJUNGI ELISABET - 1Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Apabila salah seorang anak kita menunjukkan wajah yang bersungut-sungut menjelang hari Natal ini, tentu kita akan bertanya: “Ada apa dengan kamu? Tidakkah engkau memiliki semangat Natal?” Kita memang tidak dapat mendefinisikan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan “semangat Natal” atau Christmas Spirit itu, namun kita tahu hal itu berarti kita mengesampingkan keserakahan kita, menekan sifat dan sikap “mau menang sendiri” kita, menahan diri dari dorongan-dorongan tidak baik, dan pada saat yang sama kita lebih giat mengulurkan tangan-tangan kita untuk menolong orang-orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat sebuah contoh indah dari makna penuh “semangat Natal”, contoh mana diberikan oleh Maria sendiri. Pada waktu dia mendengar bahwa saudaranya yang sudah tua, Elisabet, telah mengandung, maka Maria pun tidak membuang-buang waktu. Langsung saja dia pergi ke tempat tinggal Zakharia dan Elisabet di Ain Karim yang terletak di pegunungan Yehuda. Perjalanan ini cukup jauh (sekitar 112 km) dan juga cukup membahayakan (tidak ada highway patrol pada zaman itu). Mungkin Maria bergabung dengan sebuah rombongan (kafilah) dari Nazaret (Galilea) yang sedang menuju daerah Yudea. Bayangkanlah bagaimana khawatir dan risau hati Yusuf memikirkan perjalanan Maria ini. Mungkin Yusuf mengajukan protes, tetapi Maria maju terus … untuk membantu Elisabet yang sudah tua dan waktu itu adalah bulan keenam dia mengandung (Luk 1:36).

Patut dicatat bahwa pada waktu itu Maria juga sudah mengandung. Ketika Elisabet melihat Maria, kepadanya diberikan rahmat untuk mampu memandang betapa beda dirinya dengan perempuan muda yang datang mengunjunginya itu. Kepada Elisabet diberikan rahmat untuk mampu mengenali Maria sebagai seorang perempuan yang terberkati di antara semua perempuan, karena Bayi yang dikandungnya. Maria datang ke Ain Karim untuk memberikan pelayanan, dan apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah membawa Kristus sendiri kepada Elisabet dan kepada Yohanes yang ada dalam kandungannya. Seperti Maria, kita pun dengan penuh kemauan dan tanpa pamrih harus memberikan pelayanan kepada orang-orang lain – dengan membawa Kristus sendiri kepada mereka. Inilah yang dinamakan “semangat Natal”.

visitation-ukraine-450 (1)Nabi Zefanya adalah seorang nabi yang dapat disebut pesimis, boleh dikatakan termasuk prophets of doom. Penduduk Yerusalem telah jatuh lagi ke dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, bukan YHWH sang Pencipta.  Meskipun nabi Zefanya telah mengingatkan tentang suatu hari kemurkaan Allah, imannya kepada Allah tidak membiarkan dirinya tetap bersikap negatif.  Ia berjanji bahwa Allah dalam kerahiman-Nya akan menjaga dan memelihara sisa Israel yang suci. Bacaan dari Kitab Nabi Zefanya hari ini mengungkapkan kesimpulan yang optimistis dari sang nabi. Di sini dia mendorong umat beriman untuk bersukacita karena YHWH, Allah mereka, sang Penyelamat yang mahaperkasa berada di tengah-tengah mereka: “Raja Israel, yakni YHWH, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zef 3:15).

Kembali kepada teks Injil di atas, kita lihat Elisabet juga berperan sebagai seorang nabiah yang mengumumkan berita positif yang penuh harapan dan sukacita. Sapaannya kepada Maria menjadi bagian dari sebuah doa favorit umat beriman dalam menghormati Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Yesus dinamakan Imanuel – Allah yang menyertai kita. Oleh iman kita percaya bahwa Dia hidup di tengah-tengah kita dan dalam diri kita. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita dan dalam diri kita inilah yang merupakan penyebab sikap penuh sukacita kita yang kita namakan “semangat Natal”.

DOA: Roh Kudus Allah, jagalah agar kami tetap memiliki “semangat Natal” yang sejati dan – seperti Bunda Maria – membawa Yesus kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA: PERAWAN DAN IBU” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah adaptasi dari tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers