Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

DIGONCANG OLEH TIUPAN ANGIN

DIGONCANG OLEH TIUPAN ANGIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 30 Juli 2016)

Peringatan (Fakultatif) S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes  telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Yer 26:11-16,24; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:15-16,30-31,33-34

Seperti dalam Injil Markus (Mrk 6:17-29), dalam bacaan Injil hari ini Matius menghubungkan kematian Yohanes Pembaptis sebagai semacam suatu “tanda kurung” (Inggris: parenthesis) dalam keseluruhan cerita tentang Yesus.

Kita mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang pribadi yang kuat dalam hal keutamaan-keutamaan. Orang kudus ini tidak takut untuk berkonfrontasi dengan orang-orang berkuasa yang memang mempunyai kesalahan-kesalahan. Karena dituduh oleh Yohanes Pembaptis bahwa dia hidup dalam perzinahan, Herodus Antipas ingin membunuhnya, namun dia merasa takut karena orang banyak menyukai Yohanes Pembaptis dan memandangnya sebagai seorang nabi. Namun, secara sangat tidak adil Herodus memerintahkan orang-orangnya untuk menangkap Yohanes dan memenjarakannya.

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESHerodus adalah seorang pribadi yang lemah. Dia takut. Pada titik puncak nafsu badaniah dan kenikmatannya, dia menjadi tidak bijak. Ia menjanjikan kepada anak tirinya (anak perempuan dari Herodias), Salome, apa saja yang ia minta, dan hal ini ditegaskan dengan sumpahnya dan disaksikan oleh semua tamu undangan yang hadir. Kebodohan ini membuat Herodus berada dalam suatu dilema yang mendalam dan menyulitkan. Ia merasa takut dan dihantui oleh perasaan waswas/khawatir. Apa yang akan dikatakan orang-orang? Akan tetapi dia lebih malu lagi untuk membatalkan sikap dan kata-kata bodoh yang diucapkannya, sumpahnya, … karena para tamunya. Hal inilah yang menjadi pemicu peristiwa pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis: “ja-im” kelas berat!

Di sini kita melihat contoh-contoh dari seorang kuat yang memiliki karakter lemah. Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela apa yang dipercayainya tanpa mempedulikan segala konsekuensinya. Herodus Antipas adalah bagaikan buluh yang digoyang ke kanan dan ke kiri oleh tiupan angin duniawi.

Dunia senantiasa berupaya untuk menggoncang para murid Kristus ke sana ke mari. Hidup seturut moral Kristiani yang sejati sungguh menjadi sangat tidak populer. Sebaliknyalah moralitas kenyamanan serta kenikmatan yang baru. Hanya yang kuatlah yang akan bertahan hidup seturut ajaran-ajaran Kristus. Namun kita tidak boleh berputus asa. Walaupun kita menyadari bahwa kita sebenarnya manusia lemah, kita dapat menjadi kuat dengan kekuatan Kristus dan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami agar mau dan mampu mendengarkan dengan penuh perhatian pesan-pesan dari para nabi-Mu pada zaman modern ini juga. Janganlah biarkan kami diombang-ambing oleh tiupan angin dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MASING-MASING DICIPTAKAN UNTUK SUATU TUJUAN UNIK” (bacaan tanggal 30-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 1-8-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Jumat,  24 Juni 2016) 

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMAKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Santo Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi, menghibur para pemungut cukai/pajak dan juga para WTS. Ia menjalani suatu kehidupan yang diabdikan kepada doa, puasa dan mati-raga. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes Pembaptis ini adalah seorang bentara yang mengumumkan kedatangan sang Mesias. Yohanes berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yoh 3:28). Ia bahkan menamakan dirinya “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29).

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah juga mempunyai sebuah rencana indah bagi kita masing-masing seperti yang dibuatnya bagi Yohanes Pembaptis? Memang sulit untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat terang suatu hari yang baru, Allah telah menentukan suatu jalan atau cara bagi kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya. Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak berarti, tidak signifikan ……, namun ingatlah bahwa itu bukanlah cara Allah memandang seorang pribadi. Bagaimana kiranya kalau doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang suatu karya Allah di bagian lain dari dunia ini? Bagaimana kiranya apabila kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi suara-suara profetis di dalam Gereja atau di tengah dunia?

Jadi, kita semua harus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah sendiri. Lihatlah betapa tidak jelasnya kehidupan Yohanes Pembaptis. Sampai saat ia menampakkan dirinya kepada publik di Israel, Yohanes Pembaptis hidup dalam kesunyian padang gurun. Kita pun bisa saja sedang menunggu di padang gurun, akan tetapi kita tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, kita harus menghargai waktu ketersembunyian kita sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar kita – suatu waktu bagi-Nya untuk mengembangkan dalam diri kita masing-masing karunia-karunia untuk melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan penyembuhan. Pada saat-Nya yang tepat, Allah akan mencapai hati orang-orang yang tepat dan menyentuh hati-hati itu melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah “anak-anak panah yang tersembunyi”. Kita tidak boleh berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana kelihatannya Gereja apabila kita memperkenankan Allah bekerja dalam diri kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Seperti begitu banyaknya orang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis-tobat, maka kesaksian kita, doa kita, pendekatan kita yang dipenuhi kasih-Nya dapat melembutkan dan mengubah hati banyak orang. Yang penting kita camkan adalah, bahwa janganlah kita pernah menganggap rendah Allah dan kuat-kuasa Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, biarlah rencana-Mu bagi hidupku sungguh terwujud. Tunjukkanlah kepadaku ke mana Engkau ingin membawaku dan mengajarku untuk menghargai waktu ketersembunyianku. Bentuklah diriku, ya Tuhan Allah, dan gunakanlah aku sebagai alat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 24-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Juni 2016 [Peringatan S. Yohanes Fisher, Uskup dan S. Tomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Selasa, 31 Mei 2016)

magnificat (1)Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18 atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1 Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA SADAR BAHWA DIRINYA HANYALAH SEORANG HAMBA” (bacaan tanggal 31-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 30 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 28 Mei 2016) 

jesus_christ_picture_013Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu? Jawab Yesus  kepada mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”  (Mrk 11:27-33) 

Bacaan Pertama: Yud 17,20b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6 

Apakah anda pernah mempunyai pengalaman merasa disudutkan dalam suatu interogasi atas dirimu? Anda tahu bahwa apa pun jawaban yang anda berikan, anda tetap berada dalam posisi serba salah. Biasanya hal seperti ini terjadi entah karena anda sungguh bersalah dalam hal yang dipertanyakan, atau karena sang interogator begitu jahat dalam pikirannya. Dia memutar-balikkan kebenaran karena tujuan dia satu-satunya adalah untuk mencelakakan anda.

Sekarang bayangkanlah bagaimana perasaan para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua yang ingin mencobai Dia, ketika Yesus balik bertanya kepada mereka apakah mereka percaya kepada khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Tidak ada cara apa pun bagi mereka untuk menjawab “kick balik” dari Yesus itu, tanpa menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang negatif. Jadi, mereka pun memilih cara yang paling aman, yakni “berlagak bodoh” sajalah.

Tetapi jelas di sini Yesus tidak mencoba untuk berperilaku sebagai seorang yang penuh hikmat-kebijaksanaan. Ia tidak mencoba untuk membuat para pemimpin/pemuka agama Yahudi ini agar kelihatan jelek dan bodoh. Yesus cuma ingin agar mereka mengakui bahwa mereka telah salah menilai Yohanes Pembaptis. Yesus berharap bahwa tindakan-Nya  mengingatkan para pemimpin itu akan kekeliruan dan kesalahan mereka di masa lampau, akan memacu mereka melakukan pertobatan dan mengubah penilaian salah mereka terhadap Yohanes Pembaptis.

stdas0149Kadangkala Yesus juga akan menggunakan pendekatan yang serupa ketika berhadapan dengan kita. Dia dapat membuat kita ingat akan suatu situasi di mana kita telah memperlakukan orang lain secara keliru. Atau, Dia dapat mengingatkan kita akan rasa dendam yang sudah sekian lama terpendam dalam diri kita, atau dosa tertentu di masa lampau kita yang belum kita akui – dengan harapan bahwa kita akan menghadapi semuanya itu dan berpaling kepada-Nya dalam pertobatan.

Para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang mencobai Yesus itu sebenarnya dapat menjawab, “Engkau memang benar. Baptisan Yohanes benar dari surga dan kami tidak percaya kepadanya. Kami seharusnya mencoba untuk melindunginya dari cengkeraman Herodes. Malah yang lebih penting lagi, kami seharusnya menerima pesan yang diwartakan olehnya.”  Yang terjadi adalah sebaliknya, para pemimpin/pemuka agama Yahudi itu malah hanya lebih mengeraskan hati mereka. Sekarang, marilah kita semua berikrar untuk tidak “berlagak bodoh” seperti para pemimpin/pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil ini. Apabila pada suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita akan “hal-hal tidak baik dari diri kita pada masa lampau”, marilah kita mengakuinya dan menanganinya dengan pertolongan penuh dari Dia sendiri. Bagaimana lagi kita akan menemukan kebebasan dan damai sejahtera?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memberikan kepadaku begitu banyak kesempatan untuk bertobat, mengakui segala dosaku dan berpaling kembali kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Roh Kudus-Mu, agar dengan demikian aku dapat mengetahui dan mengenal dengan lebih mendalam lagi kebebasan, dan menjalin persahabatan yang lebih erat lagi dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalam bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKAN AKU JAWABNYA!” (bacaan tanggal 28-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA YANG MENGUTUS AKU, DIALAH YANG BERSAKSI TENTANG AKU

BAPA YANG MENGUTUS AKU, DIALAH YANG BERSAKSI TENTANG AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 10 Maret 2016) 

god-the-father-2Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku  bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47) 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASebagai umat Kristiani, kita mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Pengakuan itu kita lakukan sebagai akibat langsung  dari dorongan Roh Kudus guna meyakinkan kita tentang kebenaran ini. Kita percaya kepada Yesus bukanlah karena kita adalah orang baik-baik atau luarbiasa pintar. Inilah yang ada di belakang pernyataan Yesus: “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang telah bersaksi tentang Aku” (Yoh 5:37). Sesungguhnya, Allah belum pernah berhenti memberi kesaksian tentang Ketuhanan Yesus (martabat Yesus sebagai Tuhan) dan penebusan yang dimenangkan Yesus bagi kita.

Bagaimana Allah bersaksi kepada kita sehingga membuat hati kita condong kepada-Nya? Hal ini tidak perlu melalui sesuatu yang spektakular seperti acara kembang api dalam perayaan hari kemerdekaan RI. Kebanyakan kita belum pernah melihat surga yang terbuka, juga belum pernah bertemu dengan Yesus dalam daging. Namun kita percaya. Mengapa? Karena kita telah mengalami kehadiran Yesus dalam diri kita dan juga di tengah-tengah umat yang percaya dengan cara-cara yang biasa saja namun penuh kuat-kuasa dan tak terbantahkan.

Dari hari ke hari, Allah mewujudkan kehadiran-Nya kepada kita dengan cara-cara yang “halus” dan “kecil-kecil” sehingga cepat dan mudah terlewati. Namun, semakin kita membiasakan diri kita untuk menyediakan waktu bersama Tuhan – dalam doa-doa pribadi, dalam Misa Kudus, dalam adorasi atau dalam Kitab Suci – akan semakin peka pula kita terhadap Roh Kudus dan gerakan-gerakan-Nya. Kita akan mulai menemukan kasih-Nya melalui pelayanan yang dilakukan para imam dll. yang tanpa lelah dalam gereja-gereja kita, seringkali tanpa ucapan terima kasih sedikitpun dari umat. Kita mulai mendengar suara-Nya dalam kata-kata para sahabat yang menghibur kita pada waktu kesusahan. Kita akan mengenali tangan Allah selagi kita merasa  terdorong untuk berdoa bagi mereka di antara kita yang sakit atau menderita. Bahkan kita pun merasakan Allah dalam tindakan-tindakan orang-orang yang menyatakan diri tidak percaya kepada-Nya, namun masih memperlakukan sesama dengan penuh hormat dan kelemah-lembutan.

Dalam begitu banyak situasi sehari-hari Allah sibuk bekerja memberikan kesaksian tentang Putera-Nya dan menawarkan kepada kita suatu bagian untuk ikut serta dalam berkat-berkat dan kasih-Nya. Apabila kita (anda dan saya) belum pernah mengalami hal ini bagi diri kita sendiri, maka pantaslah bagi kita (anda dan saya) untuk memohon agar Allah membuka mata kita masing-masing hari ini agar dapat melihat banyak orang lain dan situasi-situasi di sekitar kita yang menjadi saksi-saksi tentang keselamatan yang dimenangkan Yesus bagi kita di kayu salib Kalvari.

DOA: Tuhan Yesus, bukanlah mataku agar dapat melihat banyak cara yang Kaugunakan untuk mencurahkan kasih-Mu kepadaku. Bukalah juga bibirku agar dapat memuji-muji dan bersyukur kepada-Mu sebagai sebagai tanggapan dariku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA”  (bacaan tanggal 10-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016.

Cilandak, 8 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agata, Perawan-Martir – Jumat, 5 Februari 2016) 

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESRaja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.”

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 47:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31,47,50-51 

Herodes Antipas merasa begitu takjub mendengar kabar tentang Yesus yang ia percaya sebagai Yohanes Pembaptis yang telah dibangkitkan kembali dari antara orang mati (Mrk 6:16). Ini testimoni luarbiasa untuk Yohanes Pembaptis sehingga dirinya salah dikira sebagai sang Juruselamat dunia! Maukah hal seperti itu terjadi dengan diri kita (anda dan saya)? Bukankah kita akan senang untuk begitu serupa dengan Yesus sehingga orang-orang mulai merasa heran jangan-jangan Yesus telah kembali ke dunia?

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME AND THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTPertimbangkanlah bagaimana Yohanes Pembaptis menjalani kehidupannya. Lupakanlah jubah bulu unta yang dipakainya dan makanannya yang berupa belalang dan madu hutan (Mat 3:4). Yang penting adalah waktu yang digunakannya untuk berdoa dan memperkenankan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci masuk ke dalam hatinya dan dia belajar mengalami kebebasan dan sukacita pertobatan. Bagaimana lagi Yohanes Pembaptis dapat begitu penuh kuat-kuasa untuk memanggil sedemikian banyak orang untuk percaya kepada belas kasih Allah? Karena relasi yang begitu akrab dengan Allah, Yohanes dapat mengenali Yesus sebagai sang Mesias yang dijanjikan dan sebagai Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (Mrk 1:8; bdk. Luk 3:16). Yohanes Pembaptis mengetahui bahwa baptisan dengan air yang dilakukannya – walaupun penting – hanya merupakan persiapan untuk pembaptisan yang lebih penting dengan Roh Kudus yang akan diberikan oleh Yesus, suatu tindakan “membenamkan” seseorang ke dalam hidup Allah sendiri, suatu “pembenaman” yang membawa dengannya suatu kuasa ilahi untuk hidup sebagaimana Yesus hidup.

Seperti yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis, kita masing-masing pun dipanggil oleh  Allah untuk mempersiapkan orang-orang agar mengalami Kristus di dalam hidup mereka. Allah tahu bahwa kita dapat melakukan ini hanya apabila – seperti halnya Yohanes Pembaptis – kita mencerminkan Yesus, yang menggantungkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah kita. Bagi Yohanes Pembaptis, hal itu berarti “doa” dan “pertobatan”, di samping itu juga determinasi tanpa lelah untuk taat kepada panggilan Allah seturut kemampuan terbaik yang dimilikinya. Hal ini berarti mengesampingkan rencana-rencananya sendiri bagi hidupnya dan memiliki kemauan mantap untuk mengikuti panggilan Allah, bagaimana pun radikalnya panggilan itu.

Semua ini terdengar seperti “berat dan mahal sekali” – sebenarnya tidak – teristimewa apabila dibandingkan dengan segala hal yang kita terima dari Allah. Selagi kita melakukan bagian kita, Roh Kudus akan melakukan bagian-Nya, membuat diri kita semakin serupa dengan Yesus, sehingga – seperti Herodes Antipas – orang-orang akan bertanya kalau-kalau Kristus telah kembali ke atas bumi ini.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan tinggallah dalam hatiku. Transformasikanlah diriku dan ajarlah aku bagaimana menjadi serupa dengan Yesus, sehingga orang-orang lain akan mengenal Allah yang begitu mengasihi dan sungguh menakjubkan. Datanglah, ya Roh Kudus, dan tolonglah diriku untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN UNTUK MENJADI PENGAGUM YESUS JARAK JAUH” (bacaan untuk tanggal 5-2-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatamseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak,  31 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

ROH KUDUS SAMA YANG MENGALIR DALAM DIRI YESUS SEKARANG MENGALIR DALAM DIRI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Minggu, 10 Januari 2016)

BAPTISAN YESUS - YESUS DIPERMANDIKAN OLEH YOHANES PEMBAPTISTetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”  (Luk 3:15-16,21-22)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-5,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-4,24-25,27-30; Bacaan Kedua: Tit 2:11-14,3:4-7 

Ajaran Yesus kepada para murid-Nya berasal dari pengetahuan ilahi yang disaring melalui pengalaman manusia. Dia dapat berbicara mengenai mengampuni orang-orang lain karena Dia telah belajar untuk mengampuni para musuh-Nya. Yesus dapat berkata bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima, karena dia telah memberi diri-Nya sendiri secara total-lengkap dan menerima banyak pula dari Bapa surgawi. Yesus juga dapat berbicara tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup orang, karena sebagai seorang manusia Dia sendiri telah dipenuhi oleh Roh Kudus.

Pada waktu Yesus dibaptis, “terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya” (Luk 3:21-22). Pembaptisan ini mengawali suatu tahapan baru dalam kehidupan Yesus. Karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat mencakup juga pembuatan mukjizat dan tanda heran lainnya, suatu kemampuan berkhotbah dengan kuat-kuasa, kemenangan atas roh-roh jahat, dan banyak lagi. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sesuatu yang dramatis diperkenalkan oleh-Nya ke tengah dunia pada hari itu, dan Yesus sendiri mengetahui tentang hal itu (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Sesungguhnya, tahukah kita (anda dan saya) apa yang terjadi ada waktu kita dibaptis? Seperti Yesus, baptisan kita juga mencakup kuasa untuk melayani dengan “bonus” tambahan dan menakjubkan. Ketika kita dibaptis, kita (atau diwakili oleh ibu/bapak permandian jika kita masih bayi/anak-anak kecil sekali) tidak hanya memberikan hidup kita kepada Allah. Allah juga memberikan hidup kekal-Nya kepada kita.

Seiring dengan kuasa untuk membawa Injil ke tengah dunia, kita pun telah menerima suatu perubahan fundamental dalam batin kita.  Roh Kudus sama yang mengalir dalam diri Yesus sekarang mengalir dalam diri kita masing-masing, memberikan kepada kita suatu bagian dalam kodrat ilahi. Keikutsertaan dalam hidup Yesus inilah yang memampukan kita menjadi/berfungsi sebagai instrumen-instrumen-Nya di dunia. Marilah kita menyediakan waktu pada hari ini untuk membaca nas-nas Kitab Suci yang berhubungan dengan pembaptisan: Kis 2:38-39; 2 Kor 1:21-22; Tit 3:4-7; dan 1 Ptr 1:3-4. Marilah kita merenungkan nas-nas ini dan biarlah Allah membangunkan imajinasi kita dan memenuhi diri kita dengan ekspektasi besar akan semua hal yang dapat kita lakukan dalam Kristus.

DOA: Alah Yang Mahakuasa, aku merasa takjub dan penuh syukur atas segala hal yang Kauberikan kepadaku dalam Kristus. Bukalah lebar-lebar mata hatiku agar dapat melihat berkat-berkat rohani yang Kauberikan kepadaku. Luaskanlah pemahamanku sehingga aku dapat benar-benar sadar apa saja yang menjadi milikku lewat pembaptisan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:15-16,21-22), bacalah tulisan yang berjudul: BAPTISAN KITA ADALAH SUATU KEIKUTSERTAAN DALAM KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS” (bacaan tanggal 10-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016.

Cilandak, 6 Januari 2016 [Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers