Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

KITA MASING-MASING DICIPTAKAN UNTUK SUATU TUJUAN UNIK

KITA MASING-MASING DICIPTAKAN UNTUK SUATU TUJUAN UNIK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup- Pujangga Gereja – Sabtu, 1 Agustus 2015) 

YESUS KRISTUS - 11Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes  telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Ketika Herodes Agripa mendengar laporan-laporan mengenai Yesus, ia pun menjadi yakin bahwa Dia sesungguhnya adalah Yohanes Pembaptis – yang telah dipenggal kepalanya atas dasar perintahnya – yang kembali dari alam maut. Di sini kita lihat betapa dalamnya kesan yang diberikan oleh kehidupan Yohanes Pembaptis, ajaran-ajarannya, dan karya-karyanya atas diri Herodes. Bahkan sebelum kelahiran Yohanes Pembaptis, seorang malaikat telah menampakkan diri kepada bapanya, Zakharia, dan mengatakan kepadanya akan dipenuhi dengan Roh Kudus dan “ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka” (Luk 1:16).

Pada saat kelahiran Yohanes Pembaptis, dengan segala latar belakang kehamilan ibunya yang sudah tua dan penuh misteri, banyak orang bertanya-tanya dalam hati: “Menjadi apakah anak ini nanti?” (Luk 1:66). Dengan segala tanda seperti penampakan malaikat Tuhan, dikandungnya secara ajaib, doa profetis sang ayah (lihat Benedictus; Luk 1:68-79), tentunya mereka mempunyai ekspektasi akan hal-hal besar dari diri Yohanes Pembaptis ini. Kita dapat membayangkan banyak orang di tempat keluarga Zakharia dan Elizabet tinggal (Ain Karim) merasa sedikit kecewa dan menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil menggerutu, ketika Yohanes yang sudah dewasa malah pergi ke padang gurun dan hidup sebagai seorang pertapa. Reaksi yang tidak jauh berbeda dapat saja terjadi dalam situasi serupa pada zaman modern ini.

YOHANES PEMBAPTIS - 3Namuuuuun, Yohanes bersikap dan berperilaku benar dan setia terhadap panggilan Allah kepadanya ketika dia pergi ke padang gurun untuk belajar mendengar suara Allah. Justru di padang gurunlah Yohanes Pembaptis dibuat sadar bahwa dirinya akan menjadi “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29), yang akan meratakan jalan bagi sang Mesias. Yohanes Pembaptis mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu tujuan ini. Dalam ketaatan yang penuh kasih, dia menyerahkan hidupnya kepada kehendak Allah, dengan demikian ia menjadi seorang saksi yang terang bercahaya terhadap kebesaran yang melampaui semua itu dari Dia yang datang setelah dirinya.

Seperti Yohanes Pembaptis, kita masing-masing diciptakan untuk suatu tujuan unik. Roh Kudus akan mengajar kita berkaitan dengan misi kita jika kita mencari Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan berbagai ajaran Gereja. Kita dapat seperti Yohanes dan menyerahkan hati kita demi kemajuan Kerajaan Allah. Kita juga dapat menjadi sahabat-sahabat mempelai laki-laki selagi kita berdiri di kaki salib Yesus dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Allah akan menunjukkan kepada kita apa misi kita itu jika kita bertanya kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ambillah dan terimalah hidupku sebagai persembahan dariku. Engkau telah memberikan kepadaku kehormatan tertinggi sebagai seorang “anak Allah” dan sahabat-Mu sendiri. Berikanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu mendengar panggilan-Mu dan memberi tanggapan terhadap panggilan itu dengan segenap kekuatan dan segenap hatiku. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “DIGONCANG OLEH TIUPAN ANGIN” (bacaan tanggal 1-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015.

Cilandak, 30 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMASEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Rabu, 24 Juni 2015) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26 

Allah memilih Zakharia dan Elisabet sebagai pribadi-pribadi yang melalui diri mereka itu Dia akan mengerjakan rencana penyelamatan-Nya, padahal di Israel pada waktu itu terdapat orang-orang yang jauh lebih muda, lebih kuat, atau lebih terpelajar dari kedua orang tersebut. Ini adalah sebuah misteri ilahi: Allah memilih menggunakan seorang imam tua dan istrinya yang mandul. Allah melihat sesuatu yang bernilai tinggi dalam kedua orang Yahudi yang saleh dan taat ini: “Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (lihat Luk 1:6). Mereka terbilang dalam sisa-sisa Israel yang tetap tak bercacat dan setia pada hukum perjanjian dengan YHWH Allah (kaum Anawim).

Melalui kerja sama sedemikian ini, Bapa surgawi akan memulai pemenuhan janji-Nya yang sudah lama dinanti-nantikan, bekerja melalui anak laki-laki yang dilahirkan dari pasangan  pasutri lansia ini. Jikalau para orangtua menggunakan disiplin untuk melatih/menggembleng anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan orang dewasa, maka YHWH (melalui hukum) mempersiapkan umat-Nya yang setia (sisa-sisa Israel) untuk menerima rahmat melalui Kristus.

YOHANES PEMBAPTIS - 3Anak laki-laki yang akan dilahirkan oleh Elisabet itu dinamakan Yohanes seturut perintah malaikat kepada Zakharia. Ketika sudah berkarya di depan publik dia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis ini adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang kudus ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari kalangan agama. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Dalam membesarkan anak mereka, Zakharia dan Elisabet mendidik agar supaya anak itu menjadi seorang yang sangat menghormati dan taat kepada YHWH. Sejak masa kecilnya, Allah telah memisahkan Yohanes untuk membentuknya menjadi bentara Kabar Baik. Allah telah mempercayakan anak ini kepada kedua orangtuanya yang saleh, kemudian memenuhi dirinya dengan Roh Kudus “sejak dari rahim ibunya” (Luk 1:15). Sang Pemazmur telah mengantisipasikan bagaimana kiranya kehidupan Yohanes kelak: “Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya…… Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib”  (Mzm 71:15,17).

Selama hidupnya Yohanes Pembaptis sungguh menghayati apa yang yang ditulis sang Pemazmur ini dan juga selalu bekerja sama penuh taat dengan rencana Allah. Karena Yohanes memperkenankan Allah untuk membentuk dan memakai dirinya, maka dia mampu mengumumkan dengan jelas kedatangan sang Mesias, dan mempersiapkan orang-orang Israel untuk menerima Juruselamat mereka. Memang mudah untuk melupakan Yohanes selagi kita memusatkan segalanya pada Yesus Kristus, akan tetapi kita perlu melihat apa yang direncanakan Allah untuk dicapai melalui Yohanes dan bagaimana Yohanes bekerja sama dengan Allah sehingga rencana itu pun terpenuhi. Sementara karya Kristus akan membawa umat-Nya kepada kepenuhan rahmat, hukum mempersiapkan mereka dengan mengajar mereka jalan Allah dan membawa mereka kepada ambang pintu rahmat.

Dengan membicarakan rencana Allah pada tataran praktis, kita dapat mempersiapkan diri untuk suatu kedatangan Kristus ke dalam kehidupan kita secara lebih mendalam lagi. Apakah kita mengambil tanggungjawab di hadapan Allah untuk kebenaran yang telah dinyatakan kepada kita? Apabila kita adalah orangtua, apakah kita mengasihi dan penuh perhatian kepada anak-anak kita (bahkan setelah mereka beranjak dewasa) dengan mengajar mereka cara-cara (jalan-jalan) Allah? Pertanyaan-pertanyaan sedemikian dapat menolong kita untuk fokus pada rencana Allah. Semoga sementara kita menggumuli pertanyaan-pertanyaan itu, hati kita dapat menjadi lebih terbuka  bagi ajaran Allah dan sentuhan penuh kasih dari Roh Kudus-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, kami tahu bahwa rencana-Mu bagi kami adalah indah dan demi kebaikan kami semata. Oleh Roh Kudus-Mu – sebagaimana yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis – bentuklah kami menjadi seorang insan yang selalu mau dan mampu bekerja sama dan taat kepada segala rencana-Mu atas diri kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, Ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “SAHABAT SANG MEMPELAI LAKI-LAKI” (bacaan tanggal 24-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 21 Juni 2015 [HARI MINGGU BIASA XII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKAN AKU JAWABNYA!

BERIKAN AKU JAWABNYA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 30 Mei 2015)

Ordo Santa Klara (OSC & OSCCap.) – Peringatan B. Baptista Varani, Perawan-Biarawati Ordo II 

stdas0149Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu? Jawab Yesus  kepada mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”  (Mrk 11:27-33) 

Bacaan Pertama: Sir 51:12-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Untuk keempat kalinya, Yesus masuk ke kota Yerusalem dan Bait Suci. Selagi Dia berjalan di halaman terbuka Bait Suci, sejumlah pemuka Yahudi mendatangi-Nya dan berkonfrontasi dengan Yesus secara tidak simpatik. Dalam kelompok itu ada para imam, para ahli Taurat dan tua-tua orang Yahudi. Mereka mewakili elite agama, orang-orang terpelajar dan kepentingan bisnis. Mereka ingin mengetahui dari Yesus, dengan otoritas yang mana Dia menghentikan kegiatan jual-beli hal-hal yang diperlukan untuk acara persembahan kurban dan ibadat penyembahan. Implikasinya adalah bahwa Yesus membutuhkan otoritas dari Allah sendiri untuk tindakan-tindakan sedemikian.

Yesus hanya akan menjawab pertanyaan para pemuka Yahudi itu apabila mereka menjawab pertanyaan yang diajukan oleh-Nya kepada mereka. Membalas pertanyaan dengan pertanyaan bukanlah hal yang aneh karena hal tersebut merupakan praktek di kalangan rabi-rabi Yahudi. Pertanyaan Yesus mengenai baptisan Yohanes membuat para pemuka Yahudi tersebut untuk melakukan kaji ulang atas motif-motif dan ketulusan hati mereka sendiri sehubungan dengan pertanyaan yang mereka ajukan kepada Yesus. Hal tersebut memaksa mereka untuk melihat ketiadaan iman mereka sendiri akan Allah, yang sebenarnya merupakan akar dari oposisi mereka yang penuh kebencian terhadap tindakan-tindakan Yesus dalam membersihkan Bait Suci.

Sejak Yohanes Pembaptis memproklamasikan dirinya sebagai bentara sang Mesias, maka pertanyaan Yesus tentang Yohanes Pembaptis juga berimplikasi pada pertanyaan tentang identitas-Nya sendiri sebagai sang Mesias dari Allah. Menjawab pertanyaan Yesus memang serba salah bagi para pemuka Yahudi tersebut, dan apa pun jawaban mereka, maka hal itu akan mengungkap ketiadaan iman yang sejati mereka akan Allah. Orang banyak berpandangan bahwa para pemuka Yahudi tersebut tidak menerima Yohanes Pembaptis sebagai seorang nabi sejati, hal mana bertentangan dengan pandangan orang banyak.

Ketika para pemuka Yahudi tersebut menjawab “Kami tidak tahu” kepada Yesus, maka Yesus juga tidak mau memberikan jawaban-Nya. Seperti orang-orang lain yang melihat apa yang dilakukan oleh Yesus dan mendengar apa yang diajarkan-Nya, para pemuka Yahudi tersebut harus menentukan sendiri “siapakah Yesus itu”. Apakah Yesus sungguh datang dari Allah dengan otoritas Allah sendiri? Apakah Yesus sungguh-sungguh diutus untuk menyatakan kuat-kuasa Allah di tengah dunia?

DOA: Bapa surgawi, bersihkanlah diriku dari hal-hal yang tidak berkenan di mata-Mu. Semoga melalui sabda Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, segala macam “jual-beli” dalam hidupku akan tersingkir, sehingga memberi jalan masuknya Kerajaan-Mu dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 51:12-20), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 30-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015.  

Cilandak, 27 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun B], 18 Januari 2015)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI 

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAHKeesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan dia, waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20 

Marilah kita mencoba suatu pendekatan yang berbeda terhadap bacaan Injil hari ini. Marilah kita memohon Roh Kudus untuk membimbing kita (anda dan saya) selagi kita membayangkan ceritanya seakan terjadi di depan kita. Bayangkanlah Andreas. Dia adalah seorang murid dari Yohanes Pembaptis, namun dia juga adalah seorang nelayan. Kiranya Andreas adalah seorang yang sangat sibuk, namun dia masih menyediakan waktu untuk memelihara kehidupan spiritualnya karena dia dengan penuh semangat menanti-nantikan kedatangan sang Mesias. Itulah sebabnya mengapa Andreas begitu tertarik kepada Yohanes Pembaptis. Walaupun untuk itu dibutuhkan pengorbanan waktu dan juga upaya-upaya, Andreas merangkul ajaran Yohanes Pembaptis tentang pertobatan dalam rangka mempersiapkan suatu kunjungan istimewa dari Allah.

Sekarang, apa yang dikejarnya sudah semakin terasa dekat selagi Yohanes mendeklarasikan: “Lihatlah Anak Domba Allah!”  (Yoh 1:36). Dengan seorang murid Yohanes lainnya, Andreas lalu pergi mengikut Yesus (Yoh 1:37). Ia ingin menyediakan waktu bersama Yesus sehingga dengan demikian ia dapat mengkonfirmasikan dalam pikirannya apa yang telah dideklarasikan oleh Yohanes.

Marilah kita melanjutkan imajinasi kita selagi kita membayangkan Yesus berbincang-bincang sampai larut malam dengan Andreas dan murid Yohanes yang lainnya itu tentang ajaran Yohanes Pembaptis. Bayangkanlah Yesus mengkonfirmasi kata-kata yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, namun Ia juga menyatakan kepada mereka berdua secara mendalam dan dengan kuasa, hal-hal yang belum pernah dipahami oleh mereka. Andreas dan kawannya kelihatannya telah diyakinkan oleh kata-kata Yesus, oleh sikap-Nya, dan oleh kehadiran-Nya. Barangkali masih banyak lagi yang harus dipelajari oleh Andreas dan kawannya, namun kiranya sudah cukuplah bagi mereka untuk diyakinkan bahwa Yesus memang layak dan pantas untuk diikuti.

the-holy-lamb-of-god-with-the-seven-rivers-tempera-on-wood-42-x-30cm-salesians-church-turin-italy-2002Sekarang, marilah kita membayangkan diri kita (anda dan saya) sedang berbicara dengan Yesus. Baiklah kita memformulasikan beberapa pertanyaan kita sendiri dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku catatan kita, lalu membayangkan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Marilah kita menggunakan Kitab Suci untuk menambah “panas” imajinasi kita. Misalnya, bayangkanlah bahwa Yesus mengatakan kepada kita tentang segala janji Allah yang ada dalam Kitab Suci; tentang pembebasan dari dosa; atau tentang karunia Roh Kudus. Agar dapat mendengarkan kata-kata-Nya kita harus membuat hening pikiran kita. Segala sesuatu yang dialami oleh Andreas dan kawannya pada saat-saat mereka bersama Yesus dapat kita alami juga bila kita “datang dan melihat” (Yoh 1:39) dalam Perayaan Ekaristi dan dalam doa kita.

Allah sungguh ingin membuka hati kita bagi kasih-Nya sehingga dengan demikian kita – seperti Andreas dan kawannya – akan didorong untuk menemui para saudari-saudara kita lainnya dan berkata: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41), kemudian membawa mereka yang kita temui itu kepada Yesus. Untuk perbandingan, baiklah saudari-saudara mengingat apa yang dilakukan oleh perempuan Samaria setelah bertemu dengan Kristus di dekat sumur Yakub (Yoh 4:28-29). Allah dapat memberdayakan kita menjadi pewarta-pewarta Kabar Baik, asal saja hati kita terbuka bagi sentuhan-Nya yang penuh kasih.

DOA: Yesus, Engkau bertanya kepadaku mengapa aku mencari-Mu. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam diriku sekarang dan tunjukkanlah kepadaku jawaban dari jiwaku. Sembuhkanlah aku di mana saja aku perlu disembuhkan sehingga aku dapat mengikut Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatanku, kemudian membawa orang-orang lain kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA” (bacaan tanggal 18-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 11 Januari 2015 [Pesta Pembaptisan Tuhan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS

PEMBAPTISAN TUHAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Minggu, 11 Januari 2015) 

BAPTISAN YESUS DI S. YORDAN  - 2Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9 

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

BAPTISAN YESUS OLEH YOHANESKalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Midsa Misa hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “YESUS DIBAPTIS” (bacaan untuk tanggal 11-1-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-1-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 6 Januari 2015 [Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL

SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 3 Januari 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci 

002-john-baptistKeesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29—3:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6 

Bayangkanlah bagaimana Yohanes Pembaptis dipenuhi dengan rasa sukacita ketika dia melihat Roh Kudus turun dari langit seperti merpati dan tinggal di atas-Nya. Janji Allah kepada Yohanes telah dipenuhi, dan ia pun digerakkan untuk membuat pernyataan: “Lihatlah  Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29,33). Panggilan hidup Yohanes, misi yang diberikan kepadanya oleh Bapa surgawi adalah untuk menjadi bentara Kristus, menunjukkan jalan kepada orang-orang untuk sampai kepada Yesus. Kristus telah dinyatakan kepadanya, dengan demikian Yohanes dapat memenuhi panggilan Allah tersebut.

Yohanes membaptis dengan air, dan dia mengetahui bahwa hal itu hanya dapat membersihkan untuk sementara saja. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana Yohanes – setiap kali dia membaptis orang dengan air – menantikan dengan penuh pengharapan, Dia yang akan menghapus dosa dunia. Yohanes mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan terbatas. Di sisi lain, Yesus adalah Putera Allah yang ilahi dan mahakuasa. Yohanes juga mengetahui bahwa Yesus telah datang tidak hanya untuk mengampuni dosa-dosa, melainkan juga untuk membaptis dengan Roh Kudus, sehingga dengan demikian memampukan semua orang untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi.

YOHANES PEMBAPTIS MEWARTAKAN PERTOBATANSebagaimana halnya dengan Yohanes Pembaptis, kita semua juga dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta Injil Yesus Kristus. Dalam banyak hal, panggilan kita juga serupa dengan panggilan Yohanes. Lewat pewahyuan, kita pun sampai mengenal dan mengalami Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sekarang telah diutus untuk membawa orang-orang kepada Yesus. Seperti Yohanes, kita pun dipanggil untuk menunjukkan orang-orang jalan kepada Yesus, dan untuk dan mengatakan kepada mereka bahwa melalui Dia semua dosa mereka dapat diampuni. Seperti halnya Yohanes, kita pun dipanggil untuk menerangkan tentang kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengubah hidup mereka.

Baiklah kita (anda dan saya) menanggapi secara positif panggilan Allah tersebut, namun untuk itu kita membutuhkan rahmat-Nya untuk mengasihi dan memperhatikan dengan penuh bela rasa orang-orang yang kita jumpai, dan menceritakan kepada mereka siapa sebenarnya Yesus itu. Kita dapat memberi kesaksian tentang “seorang” Allah yang berbelas kasih dan mahasetia, dan Dia adalah Allah yang hidup. Kita dapat mendorong dan menyemangati orang-orang untuk mencari Tuhan. Namun kita tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, memberikan hidup baru, atau menyatakan Yesus. Hanya Allah yang dapat melakukan hal-hal ini.

Dengan keyakinan penuh dalam hasrat Allah untuk membawa setiap orang ke dalam Kerajaan-Nya, marilah kita menjadi instrumen-instrumen yang rendah hati melalui siapa Allah dapat bekerja untuk merestorasi anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Marilah kita mendoakan mereka yang kita Injili dan percaya bahwa Allah dapat bekerja melalui diri kita. Jika kita melakukan hal ini, maka kita akan menolong banyak orang untuk berjalan menuju suatu suatu hidup yang sepenuhnya baru.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus! Ajarlah dan berdayakanlah diriku selagi aku  menunjukkan kepada orang-orang lain jalan untuk bertemu dengan Yesus, sang Anak Domba Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:29-3:6), bacalah tulisan yang berjudul “RENCANA ALLAH YANG SEMPURNA DIPENUHI MELALUI YESUS” (bacaan tanggal 3-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 30 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS

YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 2 Januari 2015) 

john-baptist-lds-art-parson-39541-print

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:19-28) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Apabila kita berpikir tentang Yohanes Pembaptis, kita cenderung untuk membayangkan seorang nabi bermata liar yang berseru-seru dengan suara keras tentang dosa dan kebenaran. Namun kita ketahui bahwa Yohanes bukanlah seorang pertapa di padang gurun yang berkhotbah melawan segala macam dosa manusia. Dia sama sekali tidak out of touch dengan situasi di sekelilingnya. Dia tahu benar peristiwa-peristiwa apa saja yang sedang atau baru saja terjadi, misalnya skandal Raja Herodus Antipas dengan Herodias, atau cara-cara para serdadu dan pemungut cukai masa itu menyalahgunakan kekuasaan mereka. Jelas, Yohanes Pembaptis memahami apa artinya hidup di dalam “dunia nyata”.

Yohanes belum memisahkan dirinya secara penuh dari dunia. Sebaliknya, keprihatinan-keprihatinan orang-orang Yahudi memperoleh tempat yang penting dalam hatinya. Sungguh benar bahwa Yohanes dibimbing oleh Roh Kudus ke padang gurun, di mana dia berdoa berjam-jam lamanya dan memeditasikan sabda Allah dalam Kitab Suci. Sesungguhnya, keseluruhan hidupnya berakar pada sabda Allah dan menyesuaikan diri dengan Roh Kudus. Dibakar oleh kasihnya kepada Allah dan keprihatinannya terhadap siatuasi-situasi yang terjadi di sekelilingnya, Yohanes mewartakan sabda Allah dengan jelas dan dengan penuh keberanian.

Karena dia berdoa dan mendengarkan suara Roh Kudus, Yohanes diberdayakan untuk dapat menafsirkan secara profetis (kenabian) peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Dia mewartakan pembaptisan tobat dan conversion moral karena dia tahu bagaimana Allah ingin bertindak dalam situasi-situasi yang dibawakan kepada-Nya dalam doa. Inilah sebabnya mengapa orang banyak datang berduyun-duyun untuk mendengar khotbahnya dan menerima untuk dibaptis olehnya. Jika Yohanes hanya menyampaikan pesan yang tidak jelas tentang dosa dan kebutuhan untuk melakukan yang lebih baik, maka kiranya dia tidak akan membawa efek yang sedemikian penuh dengan kuat-kuasa atas diri orang banyak.

Seperti telah dilakukan-Nya atas diri Yohanes, Allah kadang-kadang akan membawa kita kepada saat-saat hening di mana kita dapat menggumuli sabda-Nya. Namun Allah juga akan menunjukkan kepada kita sikon sesungguhnya yang kita hadapi sehingga kita pun dapat berbicara secara profetis dan spesifik kepada orang-orang di sekeliling kita. Bukankah Yohanes merupakan “model” sempurna untuk evangelisasi? Oleh karena itu, kita tidak boleh mundur! Kita tidak boleh merasa jauh dari dunia di sekeliling kita! Kita harus melibatkan diri dan tetap mempunyai informasi yang up-to-date.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) mulai memusatkan pandangan kita pada Yesus, dan kita mohon agar Roh Kudus memberikan kepada kita hati yang memiliki kerinduan untuk mensyeringkan Injil-Nya dengan orang-orang lain. Selagi kita melakukan hal itu, kita pun membawa dunia ke dalam terang dan hikmat Kristus.

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mataku agar dapat melihat seperti Engkau melihat segala sesuatu. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih, sehingga dengan demikian aku dapat dengan berani mewartakan Injil-Mu kepada mereka yang berada di sekelilingku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “KARUNG YANG PENUH DENGAN ULAR-ULAR” (bacaan untuk tanggal 2-1-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 29 Desember 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers