Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9

“Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:11) 

Kata-kata ini terdengar pada saat pembaptisan Yesus, tidak lama sebelum Ia mengawali pelayanan-Nya di muka umum. Ada yang mengatakan  bahwa mungkin saja kata-kata yang sama terdengar-ulang namun dengan nada suara yang lebih menyedihkan, pada saat akhir karya pelayanan Yesus, yakni ketika Dia terpaku di kayu salib, lalu “menghembuskan napas terakhir-Nya” (Mrk 16:37). Yang mau dikemukakan di sini adalah bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus sungguh adalah “Anak terkasih Bapa dan sungguh berkenan kepada-Nya”.

Itulah mengapa tidak hanya Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus dan memandang kepada-Nya. Ketika untuk pertama kalinya dia berkhotbah di depan Kornelius dan keluarganya, Petrus memproklamasikan martabat ketuhanan Yesus di atas segalanya – bagaimana Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan kuasa (Kis 10:36-38). Namun jauh sebelum Petrus, nabi Yesaya dengan fasihnya telah bernubuat mengenai Sang Mesias sebagai seseorang yang dipilih Allah dan kepadanya Dia berkenan: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”  (Yes 42:1).

Bagaimana dengan kita sendiri? Kita juga perlu memandang Yesus, memusatkan hidup kita pada-Nya dan belajar “Siapa Dia sebenarnya”. Terlalu sering pusat hidup kita adalah diri kita sendiri, bahkan dalam spiritualitas kita …… kita berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih suci, lebih penuh sukacita. Namun sukacita Bapa surgawi terletak pada Yesus; sukacita Roh Kudus adalah untuk mengajar kita siapa Yesus itu. Yesus adalah sungguh dan sepenuhnya manusia, namun Ia juga sungguh dan sepenuhnya ilahi. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah contoh sempurna bagaimana kita seharusnya menjadi – hidup sepenuhnya, terbuka sepenuhnya kepada Allah, sadar sepenuhnya tentang potensi kita sebagai mahluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26).

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesus berbeda, namun memerlukan Roh Kudus untuk mengajarkan kepadanya sampai dia dapat mengatakan: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:34). Para murid hidup beberapa tahun dengan Yesus dan hanya secara perlahan-lahan mereka pun baru menyadari apa yang membuat Dia begitu berbeda dengan mereka, dalam cara berpikir, berkata-kata dan bertindak. Namun hanya setelah Roh Kudus turun atas diri mereka pada hari Pentakosta-lah para murid mampu untuk mulai berkhotbah kepada orang-orang lain mengenai “Siapa Yesus itu” (Kis 2:1-40).

Selagi kita merayakan turun-Nya Roh Kudus pada waktu pembaptisan Yesus, baiklah kita berdoa agar supaya Roh Kudus turun ke atas diri kita secara baru, bahwa Dia akan memperdalam perwahyuan akan Yesus, kepada siapa Allah berkenan. Baiklah kita mohon kepada Roh Allah untuk mendaftarkan kita ke dalam Sekolah Kristus, sehingga kita dapat belajar dari Yesus sang Guru. Kita mau mohon agar ke-aku-an kita semakin mengecil sehingga dengan demikian Kristus pun dapat semakin meningkat besar dalam diri kita. Pada suatu saat kelak, ketika Bapa surgawi memandang kita, semoga Dia melihat kita sebagai para murid Yesus yang sudah menjadi seperti Anak-Nya sendiri, dan kita pun berkenan kepada-Nya. 

DOA: Allah yang Mahakasih dan Penyayang, tolonglah kami agar dapat menjadi murid sejati dari Anak-Mu, Yesus Kristus sehingga kami dapat selalu mengikuti kehendak-Mu yang kudus. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikuti panggilan-Mu sehingga kebenaran-Mu dapat berdiam dalam hati kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 8-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MEREKA BERTANYA KEPADA YOHANES PEMBAPTIS: SIAPAKAH ENGKAU?

MEREKA BERTANYA KEPADA YOHANES PEMBAPTIS: SIAPAKAH ENGKAU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Selasa, 2 Januari 2018) 

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:19-28) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Yohanes Pembaptis bukanlah orang biasa karena orang kudus ini memang sungguh luarbiasa. Dia menghayati hidup asketis di padang gurun, memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mat 3:4). Isi pewartaannya melawan ketidakadilan dalam masyarakat yang ada pada waktu itu dan dia menyerukan pertobatan. Praktis bekerja seorang diri (tentunya dengan bantuan rahmat Allah), Yohanes Pembaptis menyebabkan timbulnya suatu kebangunan rohani yang menyentuh hati banyak orang, termasuk Raja Herodus Antipas sendiri, meskipun berlainan di ujung ceritanya (Mrk 6:17-20). Sementara orang-orang sederhana memuji-muji Yohanes sebagai seorang nabi, para pemuka agama di Yerusalem masih dihinggapi keraguan.

Siapakah sebenarnya sosok yang bernama Yohanes ini? Apakah dia Elia, yang dibawa ke surga dalam kereta khusus, yang akan datang kembali ke dunia untuk mempermaklumkan kedatangan sang Mesias (2Raj 2:11; Mal 4:5-6)? Ataukah dia nabi yang telah dinubuatkan dalam Ul 18:18, yang akan datang untuk menyampaikan segala perintah YHWH-Allah? Jangan-jangan ia ini memang Mesias itu sendiri! Ketika ditanyakan kepadanya, Yohanes memberi tanggapan, bahwa dirinya bukanlah semua itu, melainkan hanyalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’” (Yoh 1:23).

Yohanes berkata kepada orang-orang itu bahwa dia hanya membaptis dengan air, sedangkan Dia yang akan memberikan Roh Kudus ada di tengah-tengah mereka, walaupun mereka tidak mengenali Dia (Yoh 1:26,33). Banyak orang pada masa itu sungguh merindukan Mesias dan menanti-nantikan penuh pengharapan akan hari pada waktu mana Dia akan dinyatakan. Akan tetapi, sayangnya ekspektasi mereka itu sudah terbentuk menurut pola pemikiran tertentu tentang “macam apa” Mesias itu, maka hanya sedikit orang saja yang dapat mengenali-Nya ketika sang Mesias benar-benar muncul di depan publik. Banyak orang Yahudi itu mengharapkan Mesias yang adalah seorang Raja perkasa yang akan mengakhiri penjajahan kekaisaran Romawi dan merestorasi Israel kepada kemuliaannya pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka sebagai sang “Anak Domba Allah” yang dengan rendah hati akan menyerahkan diri-Nya kepada salib demi keselamatan umat manusia.

Bilamana kita berupaya untuk mengetahui tindakan Allah dalam kehidupan kita, sebenarnya apa yang sedang kita cari? Apakah kita membatasi cara-cara Allah untuk dapat bekerja, misalnya dengan berpikir bahwa dosa kita sudah terlalu besar atau iman kita terlalu lemah? Apakah kita “mengirim” orang lain – seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis – untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menimbang-nimbang gerakan Allah, berdasarkan asumsi bahwa Allah tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita? Ingatlah, bahwa Allah telah merestorasikan kita kepada suatu hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai Sang Pencipta, Allah ingin menyatakan diri-Nya kepada kita dalam keheningan doa, dalam kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci, dan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Ia ingin berbicara kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita dan situasi-situasi kehidupan kita sehari-hari. Yesus tidak pernah berada jauh dari kita, karena Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Yang kita perlukan adalah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk membuka hati kita bagi-Nya dan menantikan-Nya. Apabila kita melakukannya, maka Dia pun akan berbicara.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menyerahkan kehidupanku ke dalam tangan-tangan-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu memandang diriku sebagaimana Engkau memandang diriku.  Semoga Engkau semakin besar dalam diriku sehinga aku dapat menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 2-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 1 Januari 2018 [HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

ALLAH SENDIRILAH YANG MENENTUKAN NAMA ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 23 Desember 2017)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

Para orang tua tentunya mempunyai banyak alasan mengapa mereka memilih sendiri nama anak mereka. Dalam kasus Yohanes Pembaptis, yang menentukan nama sang anak bukanlah orangtuanya, melainkan Allah sendirilah yang menentukan namanya sebagai bagian dari perwahyuan atas makna Natal. Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia.  Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai:  “YHWH memberikan karunia”. Ingatlah apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepada Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (catatan: dalam doa “Salam Maria” kita mengatakan “penuh rahmat”). Salam malaikat ini mencerminkan  perwahyuan yang ada dalam kata “Yohanes”. Salam malaikat ini mengandung makna, bahwa Maria adalah puteri Allah yang paling terberkati.

Maria dipilih menjadi ibunda Yesus bukan karena usahanya sendiri, melainkan sepenuhnya karena kehendak Allah. Demikian pula halnya dengan kita. Natal adalah pemberian dari Allah bagi kita yang bersifat “gratis” (catatan: kata bahasa Latin gratia atau grace dalam bahasa Inggris berarti rahmat), murni karunia. Tanpa upaya apapun dari pihak manusia, Allah memberikan kepada kita karunia-Nya yang terbesar, yaitu Putera-Nya sendiri.

Pada zaman nabi Maleakhi, orang-orang Yahudi baru pulang kembali ke tanah terjanji setelah hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka berjuang melawan kemiskinan yang selama ini telah membelenggu mereka. Mereka mengeluh kepada Allah mengapa hanya orang-orang jahat saja yang hidup makmur. Kendati mereka sendiri juga tidak setia kepada Allah, mereka mau tahu bilamana Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menurunkan berkat-berkat kepada mereka.

Pada zaman modern ini pun kita terkadang (atau seringkali?) masih bertanya mengenai kemakmuran dan kenikmatan hidup orang-orang yang kelihatan tidak peduli pada Allah maupun perintah-perintah-Nya. Dalam hal ini kita harus ingat perwahyuan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari cintakasih Kristus. Mereka yang kaya dan berkuasa juga termasuk, misalnya para majus. Namun orang-orang miskin, bersahaja dan berderajat sosial/ekonomi rendah sungguh menerima karunia-Nya secara istimewa. Yang pertama datang menyambut kedatangan bayi Yesus adalah para gembala. Mereka mewakili “wong cilik”, orang-orang bersahaja yang menggantungkan “nasib” mereka sepenuhnya kepada Allah, bukannya harta kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki.

Dalam Magnificat-nya Maria memuji-muji Allah karena “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52). Kita akan menerima berkat-berkat Natal selama kita berendah hati di hadapan Allah, dan  bahwa kita tidak menggantungkan diri pada kekayaan dunia ini, melainkan pada kekayaan belas kasih Allah.

DOA: Bapa surgawi, nama “Yohanes” mengingatkan kami, bahwa Engkau-lah Sang Pemberi karunia kepada umat manusia. Biarlah Roh Kudus-Mu mempersiapkan hati kami agar sungguh siap menerima kedatangan karunia-Mu yang terbesar, Yesus Putera-Mu, pada hari Natal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4; 4:5-6); bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA IA MEMPERSIAPKAN JALAN DI HADAPAN-KU” (bacaan tanggal 23-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 20 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BELAJAR DARI YOHANES PEMBAPTIS

BELAJAR DARI YOHANES PEMBAPTIS

Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun B], 17 Desember 2017) 

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya merelalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu.

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:6-8,19-28) 

Bacaan Pertama: Yes 61:1-2a,10-11; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53-54; Bacaan Kedua: 1Tes 5:16-24

Salah satu dari masalah-masalah yang paling membingungkan dalam ekonomi modern adalah inflasi yang berkelanjutan. Hal ini berdampak negatif atas orang-orang yang berpenghasilan tetap seperti para buruh dan pekerja pada umumnya, teristimewa mereka yang tergolong “wong cilik”, karena “inflasidaya beli mereka semakin menyusut dlsb.

Ada pula suatu masalah inflasi yang sungguh serius dan juga bertumbuh dengan subur dan cepat di tengah kehidupan manusia, yaitu masalah “inflasi psikologis”. Apa maksudnya? Maksudnya adalah suatu pandangan berlebihan tentang betapa pentingnya diri kita sendiri. Setiap orang sesungguhnya memiliki nilai intrinsik yang sangat berharga, namun begitu mudah mengabaikan atau memandang rendah orang-orang lain dan membayangkan dirinya sendiri jauh lebih penting dan hebat ketimbang mereka. Memang sah-sah saja bagi kita untuk dikenal seperti juga para selebriti tingkat dunia/internasional, namun hal tersebut tidak berarti bahwa kita sungguh lebih baik daripada orang-orang kebanyakan.

Dalam bacaan Injil hari ini Yohanes Pembaptis – seorang selebriti hasil rencana ilahi – dengan sadar merendahkan/mengecilkan dirinya dan secara sederhana mengidentifikasikan dirinya dengan orang-orang kebanyakan/biasa. Orang banyak yang melihat perilakunya dan mendengarkan khotbah-khotbahnya menjadi terkesima dan kagum sampai-sampai mengiranya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan umat Israel, reinkarnasi dari nabi Elia atau salah seorang dari nabi-nabi terkenal di masa lampau.

Dengan tegas Yohanes Pembaptis  menyangkal berbagai pandangan orang banyak yang bersifat inflator tersebut, meskipun kemudian Yesus sendiri berkata tentang dirinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Walaupun begitu, Yohanes Pembaptis sendiri memandang dirinya sekadar sebagai “suara orang yang berseru-seru di padang gurun. ……” (lihat Yoh 1:23; bdk. Yes 40:3). Yohanes Pembaptis mengakui dirinya sebagai bentara yang muncul di depan publik guna mengumumkan kedatangan sang Mesias, namun melihat dirinya rendah di hadapan sang Mesias. Ia berkata: “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh 1:27). Patut kita catat bahwa orang-orang yang rendah hati seperti Yohanes Pembaptis tidak membutuhkan ruang besar di dalam dunia ini, ruang yang sempit cukuplah bagi mereka. Mereka juga sangat peka terhadap dorongan/sentuhan paling lemah-lembut dari Tuan mereka.

Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk melakukan refleksi atas pertanyaan: “Siapakah engkau?” dan “Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Kejujuran dari kehidupan rohani/spiritual kita banyak tergantung pada bagaimana kita berelasi dengan “inflasi psikologis” yang disebutkan di atas. Apakah kita secara mental senantiasa memandang diri kita sebagai orang yang paling hebat? Apakah kita bersikap “sok” karena kita baru saja bertemu dengan “seorang penting” dalam masyarakat, atau baru saja bertemu dan sebentar berbincang-bincang  dengan seorang selebriti  di bidang musik/entertaintment. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita adalah “yang paling hebat”, apakah kita sungguh percaya? Apabila kita mendengar pujian serupa tentang orang lain, apakah kita berpikir bahwa hal itu dikatakan sekadar sebagai “basa-basi”, tidak seperti pernyataan tentang diri kita?

Yohanes Pembaptis dapat menolong kita mengalami kemuliaan karena menjadi bagian dari orang kebanyakan tanpa mencoba menjadi semacam orang penting utusan surga. Selagi kita dengan penuh sukacita menantikan perayaan kelahiran Yesus kita dapat menikmati kemuliaan yang telah disyeringkan-Nya dengan kita, dan kita pun memuliakan-Nya sebagai satu-satunya Selebriti sejati yang kita sembah. Kita berbahagia karena memperoleh anugerah sebagai para pelayan-Nya dan juga menjadi saksi-saksi tentang sang TERANG, yaitu Yesus Kristus, dengan kesadaran penuh bahwa kita sendiri bukanlah Terang itu.

DOA: Tuhan Yesus, dari zaman ke zaman Engkau telah mengurapi umat-Mu dengan Roh Kudus-Mu agar dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh dalam memberitakan Kabar Baik-Mu ke tengah-tengah dunia. Biarlah lewat karya Roh Kudus dalam diriku pada hari ini,  aku dapat memuliakan nama-Mu, lewat kata-kata dan tindakanku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 1:6-8,19-28), bacalah tulisan yang berjudul “ANDA TIDAK MENGENALI-NYA” (bacaan untuk tanggal 17-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

Cilandak, 15 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 16 Desember 2017) 

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Keadilan dan damai sejahtera; rahmat dan pengampunan; cintakasih dan kebaikan: Bukankah ini yang dibutuhkan dunia – yang paling dihasrati manusia? Masa Adven mengingatkan kita akan Allah yang telah berjanji untuk merestorasi (memulihkan) semuanya yang telah hilang karena dosa dan membuat segala sesuatu menjadi baru lagi.

Para nabi diutus untuk menarik orang-orang kembali kepada Allah dan kepada jalan kekudusan dan keadilan-Nya. Elia adalah salah seorang nabi Perjanjian Lama yang paling besar. Dalam sebuah pertarungan antara hidup dan mati melawan para nabi Baal yang berjumlah 450 orang, Elia mendatangkan api YHWH dari langit yang menyambar habis korban bakaran yang ada (lihat 1Raj 18:38). Doa permohonannya: “Ya YHWH, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah, ya YHWH, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali” (1Raj 18:36). Dalam pertarungan ini Elia menunjukkan bahwa YHWH adalah Allah yang sejati, dan lewat peristiwa itu dia berhasil menarik kembali orang-orang Israel untuk melakukan penyembahan yang benar kepada YHWH.

Nah, Yohanes Pembaptis datang dalam semangat Elia ini. Dia berhasil membakar hati orang-orang dengan suatu kerinduan untuk menjadi suci. Dengan mewartakan pertobatan, Yohane Pembaptis sebenarnya mempersiapkan orang-orang Israel untuk menyambut kedatangan Mesias, bahkan kalau hal itu berarti harus berbicara lantang menentang Raja Herodes serta menempatkan dirinya sendiri dalam situasi yang berbahaya. Seperti juga Elia, Yohanes Pembaptis sangat dikenal untuk keberanian dan semangatnya yang berapi-api dalam mengikuti jalan Tuhan.

Setiap orang Kristiani yang telah dibaptis sesungguhnya dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi kenabian Yesus. Melalui karunia-karunia dan karya Roh Kudus, kita masing-masing dapat menjadi rasul-rasul Allah dalam memulihkan kekudusan Allah serta keadilan-Nya di tengah-tengah dunia (lihat Katekismus Gereja Katolik, 901;  bdk. Lumen Gentium, 34). Kita mungkin saja tidak dipanggil untuk tampil di panggung nasional seperti Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa Allah mempunyai sebuah peran bagi kita masing-masing dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Entah di rumah, di tempat kerja, di sekolah, kita dapat menjadi terang di tengah kegelapan, yang mengarahkan serta membawa orang-orang kepada Yesus Kristus, juga memberi kesaksian tentang kuasa Injil melalui kata-kata yang kita ucapkan, tindakan-tindakan kita dan sikap-sikap kita.

Allah selalu siap untuk mentranformasikan diri kita dan memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa-Nya. Oleh karena itu marilah kita terus berusaha untuk semakin dekat dengan Dia, teristimewa dalam Masa Adven ini. Kita juga mohon kepada-Nya agar mengajar kita bagaimana menjadi suara kenabian bagi dunia kita ini.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan buatlah hati kami berkobar-kobar dengan kasih kepada Kristus, sehingga dengan demikian kami dapat mempersembahkan dunia kepada Bapa surgawi dan mewartakan Kabar Baik kepada semua orang yang mau mendengarkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13), bacalah tulisan yang berjudul “ELIA SUDAH DATANG” (bacaan tanggal 16-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 13 Desember 2017 [Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Adven – Jumat, 15 Desember 2017) 

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Dunia kita dipenuhi dengan perselisihan, percekcokan dan sakit hati. Kehidupan pribadi kita juga seringkali disentuh oleh kekecewaan dan perjuangan jatuh-bangun. Setiap kehidupan manusia memang berbeda-beda, akan tetapi kita menghadapi tantangan-tantangan dari berbagai kesulitan di tempat kerja, patah hati karena menyaksikan kehancuran perkawinan anggota keluarga kita, atau sakit hati yang disebabkan oleh relasi yang terluka, dlsb. Namun demikian, tokh kecenderungan kita adalah untuk memecahkan masalah-masalah kita yang sering “menggunung” itu dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, tanpa Allah. Kadang-kadang kita malah menyalahkan Allah untuk berbagai kesulitan hidup kita dan penderitaan yang kita tanggung, walaupun Ia sesungguhnya adalah satu-satunya sumber damai-sejahtera dan sukacita bagi kita.

Ketika berbicara mengenai reaksi-reaksi orang banyak terhadap Yohanes Pembaptis, Yesus menggambarkan bagaimana mudahnya kita menjadi tidak berbahagia dengan apa saja yang kita temui dalam kehidupan kita. Pada saat kita dikonfrontir dengan panggilan untuk bertobat, kita ingin mengesampingkannya dan menekankan sesuatu yang lebih “positif”. Pada saat kita dipanggil untuk bersukacita dalam kasih Allah, seringkali kita malah mengabaikannya dengan alasan bahwa hal tersebut terlalu idealistis dan sudah keluar dari realitas. Manusia memang suka berubah-ubah!

Yesus bersabda: “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Hal ini berarti bahwa kebenaran dan keadilan Allah dibuktikan benar manakala umat-Nya mengikuti jalan-Nya secara serius dan mengikuti-Nya. Selagi kita memperkenankan Yesus menguasai diri kita dan menaruh kepercayaan kepada segala ketetapan-Nya, maka kita akan mengenal dan mengalami damai sejahtera. Selagi kita mengakui bahwa dosa dan keserakahan ada pada akar segala penderitaan di dalam dunia, maka kita pun akan mulai melihat hal-hal yang sama bergerak dalam hati kita sendiri dan menyadari bagaimana semua itu ada pada akar segala masalah yang kita hadapi. Pengetahuan ini akan memimpin kita kepada suatu ketaatan yang lebih mendalam dan lebih merendah.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, Yesus telah datang untuk membebaskan kita. Dia memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan untuk dapat bebas dari dosa, kemarahan dan luka batin. Yang diminta oleh Yesus hanyalah bahwa kita mendengarkan sabda-Nya dan mencari pertolongan dari Roh Kudus-Nya dalam upaya kita untuk mentaati-Nya. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita berbalik kepada Yesus, dan setiap saat kita berada berjalan di jalan yang salah, berbaliklah kembali kepada-Nya. Kita akan selalu menjumpai Dia sedang menunggu di sana dengan tangan-tangan yang terbuka lebar-lebar untuk menerima kita kembali. Selagi kita berjalan semakin mendekat pada Yesus, maka kita akan melihat Allah menggunakan kita untuk mencurahkan Roh-Nya ke atas diri setiap orang di sekeliling kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin lebih mengenal Engkau lagi. Kami ingin mempersembahkan kepada-Mu keseluruhan hidup kami. Kami ingin mohon kepada-Mu untuk menolong kami berjalan bersama-Mu dan memperkenankan kami balik kembali kepada-Mu setiap kali kami tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA” (bacaan tanggal 15-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 Desember 2017 [Peringatan S. Lusia, Perawan & Martir]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS