YANG KITA PERLUKAN HANYALAH MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DAN MENTAATI PERINTAH-PERINTAH-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas-Pujangga Gereja – Kamis, 20 Agustus 2015)

Jephthah's_promise_68a-10

Lalu Roh TUHAN (YHWH) menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada YHWH, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan YHWH, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan YHWH menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit – dua puluh kota banyaknya – dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon ditundukkan di depan orang Israel.

Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada YHWH, dan tidak dapat aku mundur.” Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada YHWH, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena YHWH telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” Lagi katanya kepada ayahnya: “Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” Jawab Yefta: “Pergilah,” dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. (Hak 11:29-39a)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5,7—10; Bacaan Injil: Mat 22:1-14 

Mempersembahkan manusia sebagai kurban bakaran adalah sebuah praktek yang dikenal di antara agama-agama di Timur Dekat kuno, hal mana bukan tidak terdengar dan dipraktekkan juga di tanah Israel, walaupun hukum Musa jelas-jelas melarangnya (lihat Ul 12:31; 18:9-10). Sebagai peringatan terhadap dosa ini, cerita tragis  tentang Yefta dengan kuat berbicara mengenai kesia-siaan dari pengucapan janji atau nazar secara gegabah dan praktek-praktek keagamaan orang kafir.

Walaupun berlatar belakang dengan sedikit “catatan”, Yefta adalah seorang seorang pahlawan Gilead yang gagah perkasa (lihat Hak 11:1-2). Yefta diminta oleh para tua-tua Gilead untuk memimpin pasukan Gilead dalam pertempuran melawan orang-orang Amon. Setelah dengan enggan menyatakan persetujuannya, Yefta pada awalnya mencoba untuk bernegosiasi dengan raja bani Amon (Hak 11:12-28). Setelah negosiasi menemui jalan buntu, Yefta siap-siap untuk terjun ke dalam pertempuran melawan bani Amon, namun sebelum itu dia bernazar seperti yang kita lihat dalam bacaan di atas: Dia akan mempersembahkan kurban bakaran apa/siapa saja yang ke luar dari pintu rumahnya guna menyambutnya pada saat dia kembali ke rumah dengan selamat (lihat Hak 11:30-31).

Faktanya adalah bahwa Yefta sungguh mengalahkan pasukan bani Amon, dan … yang pertama-tama ke luar rumah untuk menyambutnya adalah puteri tunggalnya sendiri. Dengan sedih Yefta mengoyakkan bajunya. Yefta telah mengucapkan nazar yang gegabah, dan ia harus setia pada kata-katanya sendiri. Artinya, anak perempuannya itu harus mati.

Tragedi dari cerita ini terletak pada fakta bahwa Yefta merasa adanya kebutuhan untuk sampai ke titik ekstrim sedemikian rupa agar dapat memperoleh perlindungan dari Allah. Tidakkah dia mengetahui bahwa hati YHWH yang penuh kasih sudah diperuntukkan bagi umat-Nya? Tidakkah ia menaruh kepercayaan pada kebaikan Allah tanpa harus melakukan tawar-menawar dengan dirinya? Karena ketiadaan iman kepada Allah, dan dipengaruhi oleh agama palsu dari orang-orang Kanaan, Yefta mengurbankan anak perempuannya sendiri dan mengakhiri garis keturunannya.

Sang pemazmur berdoa: “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mzm 40:9). Selagi kita mempercayakan hidup kita kepada Allah dan mencari bimbingan dari Roh Kudus, maka kita akan dilindungi dari tindakan kita melakukan sesuatu bagi Allah, baik yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak. Hasrat Allah untuk melakukan kebaikan bagi kita jauh lebih besar daripada hasrat kita sendiri untuk mengenal kebaikan-Nya. Kita tidak perlu bernegosiasi dengan Allah karena yang kita perlukan hanyalah menaruh kepercayaan pada-Nya dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada-Nya agar memelihara kita dan melindungi kita dari segalanya yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Selagi kita menjadi semakin dekat dengan Allah dalam doa, Dia akan mengungkapkan kondisi hati kita dan memimpin kita ke dalam pertobatan dan iman yang sejati.

DOA: Bapa surgawi, kami sadar bahwa tanpa bimbingan Roh-Mu, kami pun akan salah jalan dan tersesat. Kami mengetahui bahwa hanya oleh rahmat-Mu kami dapat tegak berdiri. Penuhilah diri kami dengan kasih-Mu, ya Bapa, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih dekat lagi dengan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEJARAH UMAT ALLAH DAN SEJARAH PRIBADI KITA JUGA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 18 Agustus 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements