PENTINGNYA DOA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja – Kamis, 3 September 2015) 

St-Paul-iconSebab itu, sejak kami mendengarnya, kami tidak henti-hentinya berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu dipenuhi dengan segala hikmat dan pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. (Kol 1:9-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Luk 5:1-11

Setiap orang yang ingin untuk mengikuti jejak Kristus mengetahui betapa pentingnya bagi dirinya untuk berdoa. Akan tetapi, tahukah kita mengapa? Kata-kata Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan kepada kita satu alasan yang bersifat vital. Dalam doa-lah kita dapat menerima pengetahuan tentang kehendak Allah, dipenuhi dengan hikmat dan pemahaman spiritual (pengertian rohani) serta diberdayakan untuk menjalani hidup yang pantas bagi Tuhan (Kol 1:9-11). Dalam doa-lah, selagi kita  menghadap Bapa – yang sangat mengasihi kita – dan sang Anak Domba Allah yang wafat bagi kita, secara muka ketemu muka (face-to-face), maka hati dan pikiran kita ditransformasikan. Dalam doa-lah kita dapat mengetahui dan mengenal penghiburan dari Roh Kudus ketika kita menghadapi tantangan-tantangan hidup di dunia.

Sepanjang hidup-Nya di dunia, hikmat Yesus, belarasa-Nya, kerendahan-hati-Nya, dan kasih-Nya yang tanpa syarat merupakan testimoni yang tetap dan berkesinambungan atas pentingnya doa. Doa merupakan bagian yang begitu vital dari kehidupan Yesus, sehingga kita dapat mengatakan bahwa berbagai mukjizat dan khotbah-Nya adalah hal-hal yang dilakukan-Nya pada saat-saat di antara saat-saat doa-Nya. Jadi, ketika kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, maka kita dapat memperoleh pandangan sekilas tentang akan menjadi apa/siapa kita ini selagi kita berdoa: tidak hanya para pelayan Injil; tidak hanya anak-anak Allah; melainkan juga menjadi orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi Yesus Kristus, Sahabat dan Saudara kita.

YESUS BERDOA DI TEMPAT SUNYISekarang, apakah kita (anda dan saya) membutuhkan hikmat ilahi untuk hidup kita masing-masing? Keluarga? Pekerjaan? Masa depan? Apakah sulit bagi kita untuk memahami apakah “langkah selanjutnya” yang harus kita ambil? Dalam “Surat Yakobus” kita dapat membaca: “… apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yak 1:5). Sebagaimana Yesus menyediakan anggur berlimpah pada pesta perkawinan di Kana (baca Yoh 2:1-11), Dia pun rindu untuk mencurahkan hikmat yang berlimpah-limpah ke dalam hati seorang insan yang berdoa dengan ketulusan dan kerendahan hati. Marilah kita menjadikan diri kita orang-orang yang dapat diajar dan terbuka, dan memohon karunia/anugerah yang paling berharga ini, …… karunia doa.

Dengan Yesus sebagai “model” kita dan pusat perhatian kita, maka baiklah setiap hari kita pergi ke suatu tempat khusus yang dipenuhi keheningan untuk berdoa dalam hati kita, di mana Allah berdiam. Selagi kita melakukannya, Allah akan mencurahkan hikmat-Nya ke dalam diri kita. Diri kita akan dipenuhi dengan pengetahuan serta pengenalan tentang kehendak-Nya dan diperlengkapi agar dapat menjalani suatu kehidupan yang pantas di mata-Nya, artinya yang sesuai dengan kehendak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, peganglah tanganku dan tuntunlah aku ke dalam keheningan doa. Perkenankanlah diriku mengalami kuat-kuasa-Mu yang mentransformasikan. Engkau adalah Allah Yang Mahabijaksana, sumber segala hikmat. Taruhlah hikmat dan pemahaman-Mu ke dalam hatiku yang terbuka ini. Semoga aku menjadi seperti Yesus yang siap untuk melaksanakan setiap pekerjaan baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “KETAATAN KEPADA YESUS AKAN MENGHASILKAN BUAH” (bacaan tanggal 3-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015.

Cilandak, 31 Agustus 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements