DENGAN TIDAK BERCACAT DAN TIDAK BERCELA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 19 September 2015)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso [+1866], Biarawan Kapusin 

images (11)Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan penuh berkat, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Tidak seorang pun pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. (1 Tim 6:13-16) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5; Bacaan Injil: Luk 8:4-15

Paulus memberikan sebuah amanat yang besar dan agung: Timotius harus melayani Tuhan, “dengan tidak bercacat dan tidak bercela” (1 Tim 6:14). Barangkali seperti orang-orang yang sadar akan ketidakmampuan mereka sendiri, Timotius merasa kewalahan dan tak sanggup dengan tugas yang diberikan kepadanya. Namun Paulus memberikan pengarahan berikut ini: “Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus” (1 Tim 6:13). Paulus sendiri mengetahui bahwa hal itu seperti mengalami kehadiran Allah, dengan demikian dia yakin dalam kemampuan Tuhan untuk memberdayakan Timotius guna melayani-Nya – walaupun yang bersangkutan memiliki kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan.

Dalam perjalanannya ke Damsyik, Paulus sendiri mengalami kehadiran Yesus yang penuh kuat-kuasa sehingga keseluruhan hidupnya diubah (Kis 9:1-22). Dari perjumpaannya dengan Yesus dengan cara yang spektakuler tersebut, Paulus tidak hanya menjadi seorang pengikut Kristus yang setia, melainkan juga seorang pewarta Injil yang besar yang siap menderita sengsara untuk/demi Allah yang disembahnya. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita membaca bahwa Musa bertemu dengan “Allah yang hidup” di semak yang menyala, dan melalui kehadiran-Nya, diberdayakan untuk berkonfrontasi dengan Firaun dan memimpin umat-Nya ke luar dari perbudakan di Mesir, walaupun ia sendiri merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu (Kel 3:1-12; 5:1).

Baik Paulus maupun Musa – dan banyak lagi yang lain – menunjukkan kepada kita bagaimana pengalaman akan kehadiran Tuhan dapat mengubah hidup seseorang secara drastis. Layaknya selimut yang hangat, Allah melingkupi kita dengan suatu cintakasih yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kasih Allah memberikan kita damai sejahtera dan melindungi kita dalam pencobaan-pencobaan yang kita alami. Ini adalah kasih yang menantikan suatu tanggapan dari kita masing-masing. Hanya pemberian kita yang paling berharga – yaitu persembahan keseluruhan hidup kita sendiri – kelihatannya berharga bagi sang Raja segala raja.

God the FatherLewat baptisan kita, Allah telah memberikan amanat yang sama seperti yang diberikan oleh Paulus kepada Timotius. Akan tetapi, untuk melaksanakan/ mewujudkannya, kita harus memperoleh kekuatan dari Tuhan sendiri. Kita tidak mampu melaksanakannya atas dasar kekuatan kita sendiri.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita mencari kehadiran Tuhan setiap hari dalam doa? Apakah kita mengenali karya Roh Kudus yang menghibur dan membimbing hidup kita? Allah akan datang kepada kita apabila kita membuka hati kita bagi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menanggapi undangan-Nya dan menyambut-Nya ke dalam hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengalami kehadiran-Mu. Walaupun aku seorang pendosa, aku percaya bahwa Engkau telah menebusku melalui kematian-Mu di atas kayu salib dan juga kebangkitan-Mu. Datanglah ke dalam hidupku, ya Tuhan Yesus, dengan cara yang penuh kuat-kuasa sehingga dengan demikian aku dapat melaksanakan pekerjaan yang Kautugaskan kepadaku di atas bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN” (bacaan tanggal 19-9-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 15-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 16 September 2015 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements