PENGALAMAN MENYEDIHKAN BAGI YESUS DI NAZARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Rabu, 1 Februari 2017) 

yesus-mengajar-dalam-sinagoga-di-nazaretKemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?”  Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya. Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Ia merasa heran karena mereka tidak percaya. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar(Mrk 6:1-6) 

Bacaan Pertama: Ibr 12:4-7,11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,13-14,17-18 

Banyak kisah dalam Kitab Suci mengilustrasikan bagaimana sangat mungkin bagi umat Allah untuk luput mengenali Allah atau hamba-hamba-Nya pada pandangan pertama. Penduduk Nazaret bukanlah jahat atau keras hati. Mereka adalah orang-orang biasa sehari-hari seperti kita. Justru karena seperti kita, maka mereka pun rentan terhadap kecenderungan yang sama, yaitu sangat menggantungkan diri kepada kemampuan mereka sendiri untuk menentukan kebenaran-kebenaran spiritual. Jadi, tanpa mengambil keputusan yang sengaja untuk menolak Tuhan, mereka telah menjadi buta terhadap Yesus karena mereka begitu percaya kepada ide-ide mereka sendiri tentang Allah dan Mesias-Nya. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak berpikir bahwa kita sendiri kebal terhadap pemikiran seperti ini.

Orang-orang Nazaret memang tersentuh oleh kata-kata yang diucapkan Yesus, namun mereka tetap mempertanyakan di mana dan dari siapa Yesus memperoleh hikmat yang tersirat dalam kata-kata penuh-kuasa yang diucapkan-Nya. Mereka bertanya: “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” (Mrk 6:2-3). Mata iman mereka tertutup ketika melihat Yesus, padahal mukjizat-mukjizat dan kata-kata-Nya merupakan bukti-bukti nyata karya Mesias, Dia yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya oleh mereka? Cara-cara Yesus yang sederhana dan penuh belarasa  rupanya “tidak cocok” dengan konsep harapan-harapan mereka akan seorang Mesias semacam Raja-Panglima yang dengan pedang terhunus akan membebaskan mereka dari kekuasaan penjajah asing.

Seperti nabi Yehezkiel, Yesus juga ditolak oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi yang “keras kepala dan tegar hati” (Yeh 2:4) itu tidak percaya kepada kedua orang itu dan malah menganiaya kedua hamba Allah ini. Orang-orang yang menolak ini merupakan bagian dari umat yang telah melanggar perjanjian mereka sendiri dengan Allah. Akibatnya, mereka pun mengalami penderitaan di pembuangan. Pesan nabi Yehezkiel dapat saja gagal menyakinkan orang-orang Yahudi, namun mereka akan tetap mengetahui bahwa Allah sesungguhnya telah berbicara kepada mereka lewat nabi-Nya (lihat Yeh 2:5). Dalam kedatangan Yesus, Allah menyatakan kedalaman kasih dan belarasa-Nya. Yesus, sang firman Allah memanggil umat manusia untuk kembali kepada kasih dan kelemah-lembutan Bapa. Sungguh menyedihkan bahwa orang-orang Nazaret tidak mampu mengenali Yesus sebagai “Firman yang telah menjadi manusia” (Yoh 1:14) …… Sang Sabda!

Menutup telinga terhadap sapaan Allah memang sudah merupakan hal yang biasa pada zaman Yesus hidup di dunia dan dalam zaman modern ini. Seringkali pengetahuan dan pemahaman kita tentang misi Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia di tengah-tengah kita hanya terbatas pada pokok-pokok yang dapat kita tangkap dengan pikiran kita yang serba terbatas ini. Kita menolak untuk menanggapi tantangan di hadapan kita dengan menggunakan jalan melampaui apa yang biasa kita lakukan dan terima, padahal rencana indah Allah biasanya melampaui pemahaman kita sendiri yang begitu terbatas dan “miskin” sebenarnya.  Barangkali karena kita seringkali berpuas-diri dengan mengenal Yesus secara superficial (cetek-cetek saja; tidak mendalam), maka kita pun berpikir kita sudah cukup melakukan apa yang diwajibkan dari diri kita masing-masing. Namun kita harus ingat, bahwa sikap seperti ini tidak menjadikan kita terbuka terhadap kepenuhan hidup ilahi dan kasih Allah yang telah direncanakan-Nya sejak semula untuk disyeringkan-Nya bersama kita dalam Yesus (bacalah perikop “Doa untuk pengertian tentang kemuliaan Kristus” dalam Ef 1:15-23, teristimewa Ef 1:17-18).

Firman Allah bagi kita dalam liturgi dan doa-doa dan pembacaan Kitab Suci, semuanya merupakan suatu undangan kepada kita untuk menyerahkan hidup kita secara lebih total lagi kepada kehendak-Nya. Marilah kita singkirkan segala pikiran dan urusan kita yang mengunci kita ke dalam suatu pemikiran yang terpusat pada situasi “di sini dan sekarang”, dan sekarang juga bukalah pikiran dan hati kita bagi pekerjaan yang Allah ingin lalukan dalam diri kita masing-masing.

DOA: Roh Kudus Allah, nyatakanlah kepada kami betapa dalam kami membutuhkan iman yang mempercayai, berharap dan yakin akan kasih Allah itu. Ampunilah kami untuk ketidakpercayaan kami. Oleh rahmat-Mu, berdayakanlah kami agar dapat merangkul kepenuhan hidup yang telah dimenangkan Yesus bagi kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGEVALUASI KEDALAMAN IMAN KITA” (bacaan tanggal 1-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisaan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  30 Januari 2017 [Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements