SEMUA HAL JAHAT TIMBUL DARI DALAM, BUKAN DARI LUAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu, 8 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starLalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2,27-29

Pernahkah anda memperhatikan betapa bersinarnya wajah orang-orang yang sedang jatuh cinta? Memang anda seringkali dapat “membaca” apa yang sedang terjadi dalam hati mereka dengan sekadar memperhatikan wajah-wajah mereka. Demikian pula, tindakan-tindakan kita seringkali mengungkapkan sikap-sikap kita. Tidak sulitlah untuk memandang kehidupan sehari-hari dari seseorang dan mulai memahami bagaimana atau apa yang dirasakannya sehubungan dengan isu-isu poleksosbud, bahkan tentang Allah.

Ada orang-orang yang tidak banyak berbicara mengenai hidup batiniah mereka, namun kasih dan damai-sejahtera terpancar dari wajah mereka, berbagai sikap dan perilaku yang ditunjukkannya ketika berbelanja di pasar, ketika memimpin rapat dalam perusahaan dlsb. Sebaliknya ada juga orang-orang yang mungkin “melakukan” segala hal yang dirasakan benar atau kelihatan benar, namun tidak memiliki relasi yang hidup dengan Kristus.

Orang-orang Farisi adalah ahli-ahli menyusun berbagai peraturan dan jago dalam mentaati peraturan-peraturan yang berdasarkan tradisi-tradisi kuno. Akan tetapi, untuk sebagian dari mereka, hati mereka jauh dari Allah para nenek-moyang mereka. Kita juga suka begitu, bukan? Kita terkadang (atau sering?) mencampur-adukkan antara kesalehan praktek rituale dengan kesalehan sejati seorang abdi Allah, atau antara mentaati tradisi dengan kemurnian batiniah. Apabila menepati peraturan dilihat sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, dan bukan sebagai pencerminan suatu cintakasih dan rasa hormat kepada Allah, maka kita kehilangan kehidupan penuh sukacita dan damai-sejahtera yang dijanjikan oleh Kristus.

Memang mudahlah untuk percaya bahwa ada tembok yang memisahkan antara hati kita dan tubuh kita, antara diri kita yang terdalam dan tindakan-tindakan kita. Akan tetapi Allah menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang satu dan tidak terpisah-pisah (Inggris: unified persons), dengan tubuh-tubuh yang dirancang untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati kita, dan hati kita secara intim dikaitkan dengan relasi-relasi kita dunia. Allah sungguh prihatin dengan hati kita; dan Ia sungguh meminati secara mendalam cara kita berelasi dengan orang lain. Apabila kita menemukan hal-hal yang jahat dalam relasi-relasi kita seperti disebutkan oleh Yesus – pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mrk 7:21-22) – maka kita perlu memahami bahwa itu semua adalah pencerminan dari sebuah hati yang memerlukan pemurnian oleh Tuhan. Apabila kita memperkenankan hal-hal jahat ini masuk ke dalam relasi kita dengan orang-orang lain, maka kita terus membawa ketidakmurnian ke dalam hati kita.

Yesus mengatakan bahwa perintah yang paling utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita dan dengan segenap kekuatan kita; dan mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri (Mrk 12:28-31). Apabila kasih sedemikian yang merupakan urusan kita, maka kita berada dalam jalan menuju kemurnian hati; kita memperoleh kehidupan dan asupan yang diperlukan dari kepatuhan kita; dan kita pun dimampukan untuk berelasi dengan orang lain dalam ketulusan hati dan cintakasih.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah diriku dan tolonglah aku agar mampu melihat bagaimana aku dapat memberi tanggapan kepada-Mu secara lebih mendalam dan saling mengasihi dengan para saudari-saudaraku dengan lebih baik lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan dengan judul “SEMUA MAKANAN HALAL” (bacaan tanggal 8-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 5 Februari 2017 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements