PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sirilus, Pertapa & S. Metodius, Uskup –  Selasa, 14 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013Murid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10  

Yesus memperingatkan para murid tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes (Mrk 8:15). Ia minta mereka agar mereka waspada dan berjaga-jaga terhadap sikap dan perilaku dari orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya. Ragi adalah suatu gambaran yang cukup tepat untuk mereka yang memusuhi Kristus, karena kata ini menyarankan suatu kontras antara kata-kata dan substansi. Apabila kita menambahkan ragi pada adonan, maka hasilnya bukanlah lebih banyak roti, tetapi lebih banyak udara di dalam roti yang sudah ada. Dengan perkataan lain ragi membuat bengkak … membuat gembung! Ragi tidak menambahkan substansi! Sebaliknya, Yesus datang untuk membawa roti sejati – sesuatu yang diingatkan-Nya kepada para murid, sewaktu Dia merujuk kepada kemampuan-Nya untuk memberi makan kepada ribuan orang dalam suatu mukjizat pergandaan (Mrk 8:19-20).

Yesus datang untuk membuat perubahan-perubahan yang substansial dan radikal dalam diri kita. Ia datang untuk memungkinkan kita turut ambil bagian dalam hidup ilahi. Yesus tidak berminat untuk “menggembungkan” hidup kita – membuat kita sedikit lebih menyenangkan, atau sedikit lebih sabar, atau sedikit lebih bersahabat. Ia mau mencabut dari kita sifat mementingkan diri sendiri dan memberikan kepada kita hati yang dipenuhi dengan cintakasih kepada Allah dan hasrat serta rasa rindu untuk melayani umat-Nya.

Tentu saja Yesus senang manakala kita menjadi lebih penuh pertimbangan dalam berhubungan dengan pasangan hidup kita atau menjadi lebih sabar dengan anak-anak kita. Tetapi visi Yesus bagi kita adalah jauh melampaui hal seperti ini. Ia berniat untuk mengubah kita sehingga kita menjadi laki-laki dan perempuan spiritual – orang-orang yang mengenal damai-sejahtera secara mendalam, memiliki sukacita dan harapan, meski dalam situasi-situasi yang paling sulit sekalipun. Yesus ingin membuat kita menjadi sebuah tanda bagi dunia, yaitu tanda dari hidup yang ditawarkan Allah kepada setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya.

Tentu saja, dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin membuat perubahan seperti itu, … powerless. Akan tetapi Yesus yang telah membuktikan diri-Nya mampu melakukan mukjizat pergandaan makanan untuk ribuan orang, Dia memiliki kuat-kuasa untuk membuat kita menjadi baru.

Para murid tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus karena mereka tidak dapat melihat lebih jauh dari roti yang bersifat material (Mrk 8:16). Mereka berpikir Yesus berbicara mengenai perut mereka, bukan hati mereka. Bukankah kita kadang-kadang juga membatasi perhatian kita pada keprihatinan-keprihatinan dan kesusahan-kesusahan sehari-hari kita yang bersifat keduniaan, dan kita luput melihat Yesus dengan kuat-kuasa-Nya yang mampu mengubah kita. Marilah hari ini – teristimewa dalam Ekaristi – kita sambut Yesus untuk masuk ke dalam hati kita, dan kita mohon kepada-Nya untuk melanjutkan karya transformasi-Nya. Jangan sampai Dia bertanya kepada kita sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada para murid-Nya yang awal: “Belum mengertikah kamu?” (Mrk 8:21).

DOA:  Datanglah Roh Kudus, penuhilah diriku dengan hidup Kristus. Aku ingin menjadi seorang ciptaan baru oleh kuasa transformasi-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA” (bacaan tanggal 14-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  10 Februari 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements