SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Jumat, 17 Februari 2017) 

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus.

Kata-Nya lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah  telah datang dengan kuasa.” (Mrk 8:34-9:1) 

Bacaan Pertama:  Kej 11:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:10-15

“Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

Menariklah bagi kita untuk mencatat bahwa bacaan Injil hari ini memproklamasikan doktrin Salib, langsung setelah Petrus membuat pengakuan imannya bahwa “Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:29). Setelah mendengar dan menerima pengakuan iman dari Petrus (yang mewakili juga para murid-Nya yang lain), Yesus mulai mengajarkan  dengan terus terang bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31-32). Hal ini mengagetkan Petrus, karena – seperti juga kebanyakan orang Yahudi lainnya – dia mengharapkan kedatangan sang Mesias yang sangat berbeda. Petrus juga kiranya mengharapkan sebuah Kerajaan yang berbeda di mana dirinya akan duduk di sebelah kanan Kristus yang akan menjadi sang Raja. Kiranya Petrus berkata dalam hatinya bahwa apa yang diajarkan Yesus itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itulah dia menegur Yesus dengan keras (Mrk 8:32). Yesus menanggapi teguran Petrus dengan sebuah teguran yang tidak kalah kerasnya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33).

Tidak lama setelah episode ini barulah Yesus mengajarkan kepada para murid apa artinya menjadi warga Kerajaan-Nya. Salib dimaksudkan untuk setiap orang, tidak hanya untuk Diri-Nya dan sekelompok kecil orang. Yesus membuat jelas bahwa Salib adalah bagian hakiki dari kehidupan Kristiani. Bagaimanapun juga, apa yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Yesus bersabda, “Jika seseorang mau mengikut Aku, …” (Mrk 8:34)? Maksudnya sederhana saja: “Jika seseorang mau menjadi seorang Kristiani!” 

Namun, mengapa menjadi seorang Kristiani – seorang Kristiani sejati? Apabila kita mempunyai iman, dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mrk 8:36-37).

Yesus bersabda lagi: “… siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabia Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus” (Mrk 8:38). Ini adalah kata-kata Yesus yang “keras” dan penuh kuat-kuasa. Sekarang, apakah pandangan kita tentang pengejaran dan penganiayaan atas para murid-Nya? Apakah pandangan kita tentang salib, tentang kesulitan hidup? Sebagai murid-murid Kristus, siapkah kita untuk kehilangan nyawa dalam arti manusiawi untuk memperoleh “posisi” sebagai murid-murid Yesus?

Yang diajarkan oleh Yesus adalah bahwa pemenuhan sejati datang dari pengosongan diri sendiri, bukan dari upaya penuh kesadaran untuk mencapai kepenuhan tersebut. Kita paling banyak memperoleh keuntungan justru dengan kurang mencari. Kita memperoleh paling banyak dengan memberi paling banyak.

Ajaran tentang Salib, karena dalam praktek sebenarnya adalah “Jalan Cintakasih”, adalah tolok ukur dari kehidupan Kristiani. Sabda Yesus: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau mengundangku untuk mengikut-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:34-9:1), bacalah tulisan yang berjudul “NILAI TERTINGGI DARI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 17-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 15 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements