IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 28 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starLalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

Petrus sungguh merasa prihatin. Ia telah meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus. Apakah yang dapat diharapkannya sebagai “ganjaran” kecuali berkat-berkat materiil? Tidak banyak bedanya dengan kita semua pada hari ini! Kita bertanya, “Apakah upah kita dalam mengikuti jejak Yesus? Apa yang dapat saya peroleh?” Tanggapan Yesus terhadap kita dalam hal ini sama saja dengan tanggapannya terhadap Petrus. Yesus menjanjikan berkat-berkat seratus kali lipat kepada setiap orang yang memberikan hati mereka kepada-Nya – namun Ia juga mengingatkan kepada mereka bahwa akan ada juga pengejaran dan penganiayaan. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa semuanya akan mudah, akan tetapi Dia sungguh berjanji bahwa Dia akan menyertai kita selalu, dan pada zaman yang akan datang kita sebagai para pengikut-Nya pun akan menerima hidup yang kekal.

Oleh iman, kita dapat berdiri dengan kokoh, percaya sepenuhnya akan berkat-berkat Allah bagi kita. Dia akan senantiasa mencurahkan berkat-berkat-Nya dengan penuh kemurahan hati apabila kita memberikan hati kita kepada-Nya. Akan tetapi berkat Allah yang paling besar tidaklah berupa hal yang bersifat materiil melainkan kehadiran-Nya yang riil dan berdiam-Nya dalam diri kita. Dia ingin hadir dalam hati kita, sehingga manakala kita mati terhadap kehidupan lama kita, maka Dia dapat mulai hidup dalam diri kita, dan melalui diri kita itu membuat kita sebagai berkat bagi orang-orang lain. Artinya, kita menjadi perpanjangan berkat Allah bagi orang-orang lain. Allah ingin membebaskan hati kita dari kecemasan berkenan dengan urusan atau pernak-pernik dunia ini sehingga dengan demikian kita dapat melayani kebebasan-Nya kepada orang-orang lain.

saint-peter-100Dipenuhi dengan kasih yang berkobar-kobar bagi kita, Yesus memanggil kita untuk melepaskan keterlekatan kita dari siapa saja dan apa saja yang selama ini lebih “top” bagi kita daripada diri-Nya. Yang dimaksudkan “apa saja” tadi, misalnya adalah suatu mimpi, cita-cita, sikap, masalah, rasa takut, ide bagaimana seharusnya pasangan hidup atau anak-anak kita jadinya, dlsb. Pokoknya siapa dan apa saja yang kita kasihi lebih daripada kasih kita kepada Yesus, harus kita letakkan pada altar Tuhan. Hanya dengan demikian kita dapat benar-benar bebas dan mengenal damai-sejahtera yang sejati.

Bagaimana dengan pengejaran dan penganiayaan? “Jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5). Sikap dan perilaku orang lain yang dipenuhi kebencian terhadap diri kita, godaan-godaan dari Iblis, dan pertempuran kita melawan sikap serta perilaku kita yang mementingkan diri sendiri, semuanya ini merupakan realitas-realitas harian yang bahkan dapat meningkat sementara kita memberikan hati kita secara lebih penuh kepada Yesus. Bagi orang-orang yang sedang terbelenggu dalam kedosaan, realitas-realitas di atas dapat menjadi beban yang sungguh berat. Akan tetapi setiap orang yang hatinya sudah diserahkan kepada Yesus – setiap orang yang sedang mengembangkan suatu perspektif surgawi – dapat sampai memandang penderitaan-penderitaan sebagai berkat-berkat terselubung (blessings in disguise) karena buah yang dihasilkan: integritas, iman, keberanian, dan yang teristimewa adalah keintiman dengan Yesus sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kupersembahkan segala pujian dan kehormatan dan kemuliaan! Tolonglah aku agar mau dan mampu menempatkan hatiku di atas altarmu. Aku percaya akan segala berkat-Mu yang berlimpah atas diriku dan aku pun bersukacita dalam kemanisan kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31), bacalah tulisan yang berjudul “SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 28-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 26 Februari 2017 [HARI MINGGU BIASA VIII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements