Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 6 Januari 2018

Keluarga OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam

HARI SABTU IMAM 

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38 

Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melihat langit terkoyak dan misteri “Allah Tritunggal Mahakudus” (Trinitas) dibuat menjadi nyata. Ia mendengar suara Bapa-Nya yang mencurahkan berkat-Nya atas diri-Nya, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas diri-Nya.

Yesus dari Nazaret seorang manusia tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia berdosa dengan cara menerima pembaptisan-tobat. Karena ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa bagi diri-Nya, karena kemauan-Nya untuk memeluk dosa-dosa kita dan menghancurkan semua itu pada kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang setia. Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah hamba Tuhan yang kematian-Nya akan berakibat terwujudnya pencurahan Roh Kudus atas diri kita semua.

Setelah dibenamkan dalam kehidupan yang telah “ditakdirkan” oleh Allah bagi diri-Nya, Yesus masuk ke tengah dunia memproklamasikan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat serta tanda heran lainnya. Karena kelimpahan Roh dalam diri-Nya, Yesus mampu untuk melakukan segala keajaiban ini dan untuk memanifestasikan kasih Allah secara begitu lengkap. Ia menyiapkan para pengikut-Nya untuk menerima Roh Kudus yang sama.

Kita yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus ini. Kita pun dapat mendengar Bapa surgawi berkata tentang diri kita masing-masing: “Ini adalah anak-Ku yang terkasih.” Kita dapat mengenal dan memberi kesaksian tentang kasih dan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan kita. Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., pengkhotbah untuk rumahtangga Kepausan pada masa Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) menulis dalam sebuah bukunya: “Kita telah diselamatkan sehingga pada gilirannya kita akan mampu untuk melakukan – melalui rahmat dan iman – pekerjaan-pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya bagi kita yang adalah buah-buah Roh” (Mary Mirror of the Church, hal. 71). Satu lagi: “Api Roh diberikan kepada kita pada saat Baptisan. Kita harus membuang abu yang telah membuat-Nya kurang dapat bernapas, agar dengan demikian dapat berkobar lagi dan membuat kita mampu mengasihi” (Life in the Lordship of Jesus Christ, hal. 154).

Hari ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Putera-Mu yang terkasih, pada waktu Dia dibaptis di Sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas diri-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami menghaturkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PADA SAAT PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 6-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 3 Januari 2018 [Peringataan Nama Yesus Yang Tersuci] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KASIH SEJATI DIWUJUDKAN DALAM PERBUATAN

KASIH SEJATI DIWUJUDKAN DALAM PERBUATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 5 Januari 2018)

Sebab inilah berita yang telah kamu dengar sejak semula, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain yang berasal dari si jahat dan membunuh adiknya. Mengapa ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. Janganlah kamu heran, Saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara seiman kita. Siapa yang tidak mengasihi, ia tetap dalam maut. Setiap orang yang membenci saudara seimannya adalah pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Dengan inilah kita mengenal kasih Kristus, yaitu bahwa Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara seiman kita. Siapa  yang mempunyai harta duniawi dan melihat saudara seimannya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimana kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran dan boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, bilamana hati kita menuduh kita. Sebab Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah. (1Yoh 3:11-21) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:43-51

Dalam bacaan ini Yohanes memberikan standar bagi kita untuk dapat menentukan apakah kita sungguh “sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup” (1Yoh 3:14). Standar termaksud adalah “saling mengasihi antara sesama”. Malah kita dipanggil untuk melangkah lebih jauh lagi, yaitu untuk juga mengasihi mereka yang membenci kita (lihat Mat 5:44). Kasih yang dituntut di sini adalah suatu kasih yang terwujud dalam perbuatan-perbuatan, jadi bukan hanya dalam kata-kata yang diucapkan, betapa manis pun kedengarannya.

Perbuatan atau tindakan kasih dapat besar atau kecil; Yohanes berbicara baik mengenai “menyerahkan nyawa untuk saudara-saudara seiman” maupun “pemberian sedekah kepada yang membutuhkan” (lihat 1Yoh 3:16-17) sebagai contoh-contoh tindakan mengasihi. Kasih, baik besar maupun kecil, haruslah terwujud dalam perbuatan. Orang-orang yang tidak memiliki kasih ini adalah mereka yang tetap dalam maut (1Yoh 3:14). Sebaliknya kita yang mengasihi dapat menggunakan kenyataan ini untuk “menenangkan hati kita di hadapan Allah”, bahwa kita “berasal dari kebenaran” (1Yoh 3:19).

Santo Augustinus [354-430] membahas mengenai “kasih nyata” (yang diwujudkan dalam perbuatan dan bukan sekadar diucapkan/dipikirkan) dalam salah satu homilinya (Homili tentang 1Yohanes, V,12).  Orang kudus ini mengatakan kepada para pendengar homilinya, bahwa kesempurnaan kasih itu diungkapkan dengan tindakan penyerahan nyawa kita sendiri; namun apabila kita merasa belum memiliki kasih yang sempurna, maka hal ini tidak boleh kita perkenankan untuk menghentikan kita dari upaya mencari tindakan-tindakan yang mengungkapkan kasih yang telah kita miliki. Santo Augustinus secara spesifik berbicara mengenai pemberian sedekah sebagai suatu sarana yang unggul untuk mewujudkan kasih kita, suatu sarana yang dapat diperbuat oleh hampir semua orang, sampai mereka mampu untuk menanggapi kebutuhan sesama dengan perbuatan-perbuatan yang lebih besar. Orang kudus ini mengatakan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan dengan mendalam: “Apabila dalam kelimpahanmu anda tidak dapat memberi kepada saudaramu, dapatkah anda menyerahkan nyawamu bagi saudaramu itu? …… Dia adalah saudaramu, sama seperti anda dia dibeli …… anda berdua ditebus oleh darah Kristus.” 

Marilah kita di awal tahun yang baru ini berdoa agar keutamaan kasih yang diungkapkan dalam perbuatan itu dapat meningkat dalam kehidupan kita, dan membawa manfaat bagi umat Allah di seluruh dunia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ajarlah kami agar senantiasa mencari jalan untuk mengasihi orang-orang lain, baik di tempat kami berdiam, maupun di tempat-tempat lain yang dekat dan/atau jauh. Ajarlah kami bermurah hati dengan harta-milik kami di dunia ini karena kami adalah sebuah keluarga, yang para anggotanya seharusnya saling mengasihi, saling memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang ada. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Misa hari ini (Yoh 1:43-41), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN” (bacaan  tanggal 5-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013]

Cilandak, 2 Januari 2018 [Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregorius dr Nazianzen, Uskup-Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MELAKUKAN KEBENARAN

MELAKUKAN KEBENARAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 4 Januari 2018)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santa Angela dari Foligno, Ordo III Sekular 

Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Siapa yang melakukan kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; siapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab sejak semula Iblis terus-menerus berbuat dosa. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis.

Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus menerus berbuat dosa; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: Setiap orang yang tidak melakukan kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga siapa saja yang tidak mengasihi saudara seimannya. (1Yoh 3:7-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9; Bacaan Injil: Yoh 1:35-42 

Jelas ada suatu pertempuran spiritual yang berlangsung terus-menerus antara kekuatan-kekuatan baik dan kekuatan-kekuatan jahat, yang juga melibatkan diri kita. Walaupun begitu, pertempuran ini boleh dikatakan bukanlah pertempuran yang seimbang. Yesus Kristus yang sudah datang sebagai seorang anak manusia, sudah mengalahkan musuh-Nya.  Kita akan memahami realitas dosa dan Iblis, bilamana kita memusatkan pandangan mata kita pada Dia yang telah mengalahkan dosa dan Iblis itu. Sementara kita menerima rahmat Allah, maka kita melihat dosa sebagai apa adanya – suatu penyalahgunaan kebebasan yang diberikan Allah kepada kita.

Putera Allah datang untuk menghancurkan kerja si Iblis (lihat 1Yoh 3:8). Pekerjaan Iblis yang paling merusak terjadi pada awal sejarah manusia, ketika dia berhasil membujuk manusia untuk menolak Allah dan berdiri melawan kehendak-Nya. Nah, Putera Allah menyerang tipu-daya dan desepsi Iblis ini dan segala konsekuensinya. Yesus mengalahkan Iblis melalui pengorbanan hidup-Nya dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati oleh kuasa Allah.

Dengan mengalahkan kekuatan Iblis atas ciptaan – yaitu kematian – Yesus membuat Iblis menjadi impoten. Namun Iblis masih terus menggoda kita, karena Allah telah memberikan kebebasan pribadi (kehendak bebas) kepada kita masing-masing untuk membuat pilihan. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki Yesus yang bangkit hidup dalam diri mereka melalui baptisan dan iman yang hidup kepada Dia mempunyai otoritas atas Iblis dan “tidak terus menerus berbuat dosa, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1Yoh 3:9).

Benih iman yang ditanam pada saat baptisan bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kuasa Allah di kehidupan kita. Tindakan-tindakan kita yang benar memberi kesaksian tentang apa yang telah dilakukan Allah atas diri kita. Kita diciptakan oleh Allah untuk memiliki hati yang terbukti murni oleh tindakan-tindakan kita. Bahkan Putera Allah yang menjadi manusia, walaupun Ia tidak berdosa – membuktikan kemurnian kasih-Nya kepada Bapa surgawi melalui ketaatan-Nya dalam bertindak. Tindakan benar untuk mana kita dipanggil adalah untuk mengasihi satu sama lain setiap saat, tidak hanya pada waktu “salam damai” dalam Misa Kudus.

Karena Putera Allah telah mengalahkan kejahatan yang paling besar, maka kita memiliki keyakinan bahwa Dia memegang kendali atas kejahatan yang masih ada dalam dunia, termasuk godaan terhadap hati kita sehari-hari. Oleh karena itu pengharapan kita dalam kehidupan ini datang melalui kehadiran Kristus yang bekerja dalam hati kita dan hati siapa saja yang mau menerima Dia.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan kami dari kegelapan dosa melalui tindakan kasih-Mu. Jagalah kami, ya Yesus, agar kami tetap mengasihi-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Lindungilah kami selalu dari si Jahat, dan pakailah kami sebagai instrumen-instrumen kebaikan-Mu yang penuh kasih sampai saat Engkau datang kembali kelak dalam kemuliaan. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “SANG ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 4-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 Januari 2018 [Peringatan S. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DOMBA ALLAH – HARI BIASA MASA NATAL – RABU, 3 JANUARI 2018

ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Rabu, 3 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci

 

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:29—3:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6 

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa Natal ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataan/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL” (bacaan  tanggal 3-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 Januari 2018 [Peringatan S. Basilius Agung & Gregorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA BERTANYA KEPADA YOHANES PEMBAPTIS: SIAPAKAH ENGKAU?

MEREKA BERTANYA KEPADA YOHANES PEMBAPTIS: SIAPAKAH ENGKAU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Selasa, 2 Januari 2018) 

Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:19-28) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Yohanes Pembaptis bukanlah orang biasa karena orang kudus ini memang sungguh luarbiasa. Dia menghayati hidup asketis di padang gurun, memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (lihat Mat 3:4). Isi pewartaannya melawan ketidakadilan dalam masyarakat yang ada pada waktu itu dan dia menyerukan pertobatan. Praktis bekerja seorang diri (tentunya dengan bantuan rahmat Allah), Yohanes Pembaptis menyebabkan timbulnya suatu kebangunan rohani yang menyentuh hati banyak orang, termasuk Raja Herodus Antipas sendiri, meskipun berlainan di ujung ceritanya (Mrk 6:17-20). Sementara orang-orang sederhana memuji-muji Yohanes sebagai seorang nabi, para pemuka agama di Yerusalem masih dihinggapi keraguan.

Siapakah sebenarnya sosok yang bernama Yohanes ini? Apakah dia Elia, yang dibawa ke surga dalam kereta khusus, yang akan datang kembali ke dunia untuk mempermaklumkan kedatangan sang Mesias (2Raj 2:11; Mal 4:5-6)? Ataukah dia nabi yang telah dinubuatkan dalam Ul 18:18, yang akan datang untuk menyampaikan segala perintah YHWH-Allah? Jangan-jangan ia ini memang Mesias itu sendiri! Ketika ditanyakan kepadanya, Yohanes memberi tanggapan, bahwa dirinya bukanlah semua itu, melainkan hanyalah “suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’” (Yoh 1:23).

Yohanes berkata kepada orang-orang itu bahwa dia hanya membaptis dengan air, sedangkan Dia yang akan memberikan Roh Kudus ada di tengah-tengah mereka, walaupun mereka tidak mengenali Dia (Yoh 1:26,33). Banyak orang pada masa itu sungguh merindukan Mesias dan menanti-nantikan penuh pengharapan akan hari pada waktu mana Dia akan dinyatakan. Akan tetapi, sayangnya ekspektasi mereka itu sudah terbentuk menurut pola pemikiran tertentu tentang “macam apa” Mesias itu, maka hanya sedikit orang saja yang dapat mengenali-Nya ketika sang Mesias benar-benar muncul di depan publik. Banyak orang Yahudi itu mengharapkan Mesias yang adalah seorang Raja perkasa yang akan mengakhiri penjajahan kekaisaran Romawi dan merestorasi Israel kepada kemuliaannya pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka sebagai sang “Anak Domba Allah” yang dengan rendah hati akan menyerahkan diri-Nya kepada salib demi keselamatan umat manusia.

Bilamana kita berupaya untuk mengetahui tindakan Allah dalam kehidupan kita, sebenarnya apa yang sedang kita cari? Apakah kita membatasi cara-cara Allah untuk dapat bekerja, misalnya dengan berpikir bahwa dosa kita sudah terlalu besar atau iman kita terlalu lemah? Apakah kita “mengirim” orang lain – seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis – untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menimbang-nimbang gerakan Allah, berdasarkan asumsi bahwa Allah tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita? Ingatlah, bahwa Allah telah merestorasikan kita kepada suatu hubungan pribadi dengan Allah. Sebagai Sang Pencipta, Allah ingin menyatakan diri-Nya kepada kita dalam keheningan doa, dalam kata-kata yang terdapat dalam Kitab Suci, dan dalam perayaan Ekaristi Kudus. Ia ingin berbicara kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita dan situasi-situasi kehidupan kita sehari-hari. Yesus tidak pernah berada jauh dari kita, karena Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Yang kita perlukan adalah menyediakan waktu yang cukup setiap harinya untuk membuka hati kita bagi-Nya dan menantikan-Nya. Apabila kita melakukannya, maka Dia pun akan berbicara.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menyerahkan kehidupanku ke dalam tangan-tangan-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu memandang diriku sebagaimana Engkau memandang diriku.  Semoga Engkau semakin besar dalam diriku sehinga aku dapat menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 2-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 1 Januari 2018 [HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa pada Hari Raya SP Maria Bunda Allah, Oktaf Natal – Senin, 1 Januari 2018)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:16-21) 

Bacaan Pertama: Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya.

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2018 ini menjadi tahun bagi anda untuk merenungkan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah diriku agar aku dapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus Kristus pada tahun 2018 ini. Jadikanlah sang Imanuel hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati, merenungkannya dan mewujudkannya dalam hidupku sehari-hari, walaupun di tengah hingar-bingar politik dalam masyarakat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA ADALAH THEOTOKOS” (bacaan tanggal 1-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 29 Desember 2017 (Peringatan S. Thomas Becket, Uskup-Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KELUARGA KRISTIANI SEBAGAI SEBUAH ECCLESIA DOMESTICA

KELUARGA KRISTIANI SEBAGAI SEBUAH ECCLESIA DOMESTICA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf, Oktaf Natal –  Minggu, 31 Desember 2017)

 

Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan. 

Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediaman mereka, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk 2:22,39-40 – versi singkat) 

Bacaan Pertama: Sir 3:2-6,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: Kol 3:12-21; Bacaan Injil (versi panjang): Luk 2:22-40 

Bacaan Injil hari ini merupakan penggalan dari sebuah narasi yang lebih panjang, yaitu yang berkenaan dengan peristiwa “Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan – Simeon dan Hana. Hana adalah salah seorang pertama yang memberitakan “Kabar Baik” tentang Yesus (Luk 2:38). Dua ayat berikutnya (Luk 2:39-40) bercerita sedikit tentang “Keluarga Kudus”, yang terdiri dari Yesus, Maria dan Yusuf.

Keluarga Kristiani seringkali digambarkan sebagai sebuah gereja-mini, gereja domestik (Latin: Ecclesia Domestica), yang dimaksudkan oleh Allah untuk memancarkan semua karakteristik dari keseluruhan Tubuh Kristus (Gereja). Banyak yang harus kita pelajari lewat permenungan semua ini dalam hati kita dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, apakah artinya bagi keluarga-keluarga kita keberadaan sebagai gereja-gereja mini tersebut. Semua orangtua secara pribadi dipanggil oleh Allah untuk memainkan sebuah peranan yang istimewa dalam membentuk dan menopang gereja-mini keluarga mereka masing-masing.

Selagi kita melihat contoh yang diberikan oleh Keluarga Kudus dari Nazaret, paling sedikit kita dapat melihat dua karakteristik yang harus kita rangkul dan tunjukkan dalam keluarga kita, yakni “ketaatan dan cintakasih kepada Allah”.  Baik bacaan Injil sebelum ini (Luk 2:22-35) maupun sesudah ini (Luk 2:41-52) menunjukkan dua karakteristik tersebut. Lukas mencatat: “Lalu ketika tiba waktu penyucian menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, ‘Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah’, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Luk 2:22-35). Tiga ayat ini sudah berbicara sendiri tentang ketaatan dan cintakasih pasutri Yusuf-Maria kepada Allah.

Contoh lain dari ketaatan dan cintakasih mereka kepada Allah adalah yang dinarasikan dalam Luk 2:41-52. Maria dan Yusuf taat pada hukum Yahudi dengan setiap tahun pergi ke Yerusalem – sebuah perjalanan kaki yang sungguh jauh dari Nazaret di Galilea – untuk ikut serta dalam perayaan Paskah (Luk 2:41). Menurut hukum yang diberikan oleh Allah kepada umat-Nya, maka orang-orang Yahudi harus mengikuti upacara Paskah setiap tahun. Dalam ketaatan dan cintakasih mereka kepada Allah, Keluarga Kudus berpartisipasi dalam perayaan Paskah ini, bahkan pergi ke Yerusalem. Dari sini jelas kelihatan bahwa Yusuf dan Maria mengasihi Allah dan menghormati-Nya dengan bersikap dan berperilaku taat kepada hukum-Nya. Dalam ketaatan mereka kepada Allah, mereka sesungguhnya memberi contoh kepada Yesus … inilah leadership by example yang memang seharusnya dipraktekkan oleh para orangtua sebagai pemimpin dalam keluarga. Kepemimpinan seperti ini bahkan berlaku juga bagi para pemimpin bangsa dan negara, dan tentunya juga para pemimpin agama. 

Rumah Keluarga Kudus jelas merupakan sebuah tempat di mana ada cintakasih mendalam kepada Allah; sebuah tempat di mana sabda Allah dan hal-ikhwal yang berkaitan dengan Yang Ilahi dibahas dan dihormati. Hal ini diindikasikan oleh Yesus ketika diketemukan di Bait Allah sedang terlibat dalam sesi diskusi dan tanya-jawab  dengan para guru-guru agama Yahudi: “Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan jawaban-jawaban yang diberikan-Nya” (Luk 2:47). Kiranya Maria dan Yusuf telah mendidik Yesus dengan baik; contoh mereka mengenai cintakasih dan ketaatan kepada Allah meratakan jalan bagi Yesus untuk menjadi terbuka bagi segalanya yang akan diajarkan kepada-Nya oleh Bapa surgawi.

Keluarga-keluarga zaman modern akan banyak memperoleh manfaat dengan mempelajari dan mengikuti contoh yang diberikan oleh Keluarga Kudus dari Nazaret. Keluarga masa kini sungguh dapat menjadi sebuah gereja-mini dan mencerminkan segala sesuatu yang seharusnya merupakan bagian dari Tubuh Kristus yang lebih besar. Oleh karena itu, marilah kita sekarang mencerminkan cintakasih dan ketaatan kepada Allah sebagaimana ditunjukkan oleh Keluarga Kudus dari Nazaret dan berjuang untuk mengikuti contoh mereka. Walaupun kita tidak selalu mengerti, kita tetap dapat mohon rahmat kepada Allah untuk mengasihi-Nya dan taat kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, dengan ini aku mempersembahkan keluargaku kepada-Mu dan mohon dari-Mu agar memberkati rumah-tanggaku. Aku percaya akan kasih-Mu bagi semua anggota keluargaku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku kuasa dan hikmat-kebijaksanaan, dan bimbinglah aku dalam mengasihi mereka yang paling dekat dengan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 3:2-6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHORMATI PARA ORANG TUA” (bacaan tanggal 31-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 28 Desember 2017 [Pesta Kanak-kanak Suci, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS