Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

HARI RAYA EPIFANI

HARI RAYA EPIFANI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Raya Penampakan Tuhan – Minggu, 8 Januari 2017

HARI ANAK MISIONER SEDUNIA

 0-0-974px-gilmonde_-azulejos-nascimento_de_jesus

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”  Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6 

Begitu agung Inkarnasi dari Putera Allah sehingga bintang-pun menjadi saksi akan kebesaran peristiwa ini. Sebuah bintang baru yang terang-benderang muncul di langit malam, memberi tanda akan pemenuhan janji Allah untuk mengutus seorang Penyelamat yang akan mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi.

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) ini, kita merayakan suatu momentum yang menentukan dalam sejarah penyelamatan Allah, yakni perwahyuan Putera-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi, orang-orang yang berada di luar perjanjian Allah dengan umat Israel. “Orang-orang kafir” itu digerakkan oleh Allah sendiri untuk mencari dan kemudian bertemu dengan raja yang baru ini, Yesus.  Sejak saat itu hak-hak istimewa yang tadinya diperuntukkan hanya bagi umat Israel, menjadi tersedia bagi siapa saja. Melalui bintang istimewa dari Allah itu, terang Kristus memancar ke seluruh penjuru dunia sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

orang-majus-mengikuti-bintang-terangOrang-orang majus melihat bintang dari negeri-negeri mereka yang jauh, dan hati mereka begitu tergerak dengan penuh antisipasi sehingga langsung mereka berangkat untuk mengikuti bintang itu. Pada titik ujung perjalanan-pencarian mereka, mereka menemukan manifestasi Allah dalam rupa seorang bayi manusia kecil-mungil. Meskipun mereka belum dapat menangkap secara penuh makna sesungguhnya dari kelahiran Anak Bayi itu di dalam sebuah keluarga Galilea yang sederhana, lewat karunia iman yang penuh misteri orang-orang majus ini mengenali wibawa dan wewenang Anak ini. Tidak saja mereka memberikan persembahan yang mahal-mahal untuk Anak ini, orang-orang majus itu pun langsung sujud menyembah Yesus. Kesederhanaan tempat tinggal keluarga kecil ini dan kerendahan hati yang sederhana kedua orang tua Bayi ini menyelubungi martabat-raja-Nya, namun orang-orang majus ini berhasil “menangkap” kebenaran yang mereka hadapi.

Hari ini adalah suatu kesempatan yang sempurna bagi kita untuk minta kepada Roh Kudus untuk membuka mata kita juga, sehingga kita dapat melihat Yesus dengan cara baru. Dia bukan lagi seorang bayi kecil sederhana. Dia adalah yang telah menjalani hidup di dunia, menderita sengsara, mati, bangkit dan sekarang hidup memerintah di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan dan keagungan. Dia adalah Raja segala raja dan Tuhan dari segala tuan, dan Dia telah mencurahkan Roh-Nya untuk memberikan kepada kita suatu perwahyuan mendalam mengenai diri-Nya, sehingga dengan demikian kita pun – seperti para majus – mau sujud menyembah Dia.

Yesus mengajar kepada kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat 7:7). Para majus ini pasti telah mengalami kebenaran dari sabda Yesus ini. Mereka mencari makna dari bintang di langit itu dan Allah-pun memimpin mereka sampai kepada Yesus. Baiklah kita terus mencari Yesus setiap hari dan mendengarkan bisikan Roh Kudus dengan serius seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang majus itu. Dengan demikian, seperti mereka kita pun dapat “sangat bersukacita” (Mat 2:10), karena dapat bertemu dengan Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Aku meletakkan diriku di bawah wewenang-Mu. Aku sujud menyembah Dikau pada hari ini dan selama-lamanya. Dimuliakanlah Nama-Mu yang kudus, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-2), bacalah tulisan yang berjudul “BELAJAR DARI YUSUF DAN MARIA” (bacaan tanggal 8-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 6 Januari 2017    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-NYA YANG PERTAMA

TANDA-NYA YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 7 Januari 2017) 

cana2

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6.9 

“Tanda pertama” dari Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah Yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-urid Kristus yang baik, sehingga pada hari kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 5:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI LUARBIASA KEPADA MEREKA YANG PERCAYA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 7-1-17) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

PADA SAAT PEMBAPTISAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 6 Januari 2017)

baptisan-yesus-5Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38

Mengapa Yesus yang tanpa noda dosa itu “menyerahkan” diri-Nya untuk dibaptis-tobat oleh Yohanes? Karena pada saat baptisan itu Yesus menerima misi/perutusan-Nya sebagai hamba Allah yang menderita atas nama semua orang berdosa. Dengan menyerahkan diri-Nya penuh kerendahan hati untuk menerima pembaptisan oleh Yohanes, sebenarnya Yesus memberikan kepada kita suatu pertanda akan “baptisan” kematian-Nya yang penuh darah di kayu salib kelak, di mana demi cinta kasih-Nya, Dia memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita (Mrk 10:38,45).

Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian totalnya, maka Bapa-Nya mempermaklumkan dengan suara yang dapat didengar manusia, betapa berkenan Dia akan Yesus (Mrk 1:11). Roh Kudus pun hadir dan mengurapi Yesus untuk karya yang akan dimulai-Nya. Pada saat pembaptisan, Yesus menjadi sumber Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya kepada-Nya. Langit terkoyak, Roh Kudus turun dan ciptaan baru pun di-inaugurasi-kan.

Kalau kita ingin mengalami kekuatan dan rahmat ciptaan baru ini dalam kehidupan kita sendiri, maka kita harus mengikuti contoh yang diberikan oleh Yesus. Santo Gregorius dari Nazianzen, seorang Bapa Gereja di abad IV memberikan kepada kita nasihat ini: “Marilah kita dikuburkan bersama Kristus oleh baptisan agar dapat bangkit bersama Dia. Marilah kita bangkit bersama-Nya agar dapat dimuliakan bersama Dia.”  Maka kalau kita ingin diubah, baiklah kita minta Roh Kudus untuk menempa diri kita masing-masing agar dapat terisi dengan kerendahan hati  sama, yang telah ditunjukkan Yesus pada saat pembaptisan-Nya. Kalau kita melakukannya, maka surga pun akan terbuka bagi kita.

Sesungguhnya Yesus selalu siap untuk memperbaharui kita dalam Roh-Nya dan mengurapi kita untuk misi/perutusan-Nya. Dia ingin sekali menjadikan kita “terang” dan “garam” bagi orang-orang di sekeliling kita (Mat 3:13,14). Yesus ingin agar cinta kasih-Nya dan kebenaran-Nya bersinar melalui diri kita sehingga orang-orang lain akan tersentuh oleh kebaikan-Nya. Marilah kita mohon kepada Tuhan agar memenuhi diri kita masing-masing dengan Roh Kudus agar kita dapat memancarkan sinar sukacita Injil kepada orang-orang di sekeliling anda.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Perkenankanlah aku menemukan sukacita yang sejati selagi bekerja guna menyenangkan-Mu, seperti Engkau menemukan sukacita dalam berusaha menyenangkan Bapa di surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “KETIKA YESUS DIBAPTIS” (bacaan tanggal 6-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 4 Januari 2017 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN

SIKAP SKEPTIS YANG MEMBUKA JALAN KEPADA IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Kamis, 5 Januari 2017)

filipus-mengajak-nataniel-untuk-bertemu-dengan-yesusKeesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepada kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:43-51)

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:11-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-5 

Natanael hanya disebut dalam Injil Yohanes, tetapi banyak ahli percaya bahwa dia adalah Santo Bartolomeus yang disebut dalam Injil-injil sinoptik, salah seorang dari 12 rasul. Sebagai salah satu pilar Gereja, pengalaman Natanael akan Yesus merupakan suatu kesaksian penting mengenai apa artinya perjumpaan dengan Tuhan itu. Kesaksian Natanael menceritakan banyak mengenai bagaimana seharusnya relasi kita dengan Yesus itu.

Yohanes Penginjil menunjukkan kepada kita bagaimana teman Natanael yang bernama Filipus memperkenalkan Yesus kepadanya. Pada waktu Natanael mendengar bahwa Yesus berasal dari Nazaret, dia samasekali tidak terkesan. Bagaimana mungkin Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu kedatangan-Nya justru berasal dari kota kecil tak terkenal di Galilea? Namun untuk menghormati Filipus, Natanael memutuskan untuk melihat sendiri siapa Yesus itu.

Kita lihat dari bacaan di atas, bahwa sikap skeptis Natanael membuka jalan kepada iman dan rasa takjub ketika dirinya bertemu dengan Yesus secara face-to-face. Sang Rabi dari Nazaret ternyata mampu membaca isi hatinya seperti sebuah buku yang terbuka! Yesus melihat bahwa Natanael adalah seorang “Israel sejati” yang tidak mengenal kepalsuan. Yesus juga mengatakan bahwa dia telah melihat Natanael “di bawah pohon ara.” Ini adalah suatu gambaran populer di kalangan para rabi di abad pertama tentang seorang yang dalam suasana doa merenungkan hukum TUHAN (YHWH).

“Di bawah pohon ara” adalah sebuah ungkapan Yahudi untuk menggambarkan seseorang yang mempelajari sabda Allah di Kitab Suci dalam suasana dan semangat doa. Pohon ara adalah lambang berkat Allah dan damai-sejahtera dari-Nya. Pohon ara ini memberikan naungan dari terik sinar matahari di siang hari dan tempat yang sejuk bagi seseorang untuk melakukan “rekoleksi”, “retret”  dan berdoa secara pribadi. Yesus melihat ke dalam hati Natanael dan melihat bahwa dia adalah seorang pendoa. Sebagai konsekuensi, Yesus menjanjikan kepadanya ganjaran bagi seorang pendoa: Natanael akan menerima wahyu tentang surga yang terbuka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Sesuai dengan sabda Yesus itu, Natanael memang juga kemudian diperkenankan melihat hal-hal yang lebih besar. Ia adalah salah seorang murid yang bertemu dengan Yesus yang telah bangkit di pantai Danau Tiberias (lihat Yoh 21:1-14).

Hari ini Yesus juga melihat ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan ganjaran yang sama. Dia akan membuka pintu gerbang surga bagi semua orang yang berdoa dengan rendah hati dan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dia akan mewahyukan/ menyatakan misteri-misteri Kerajaan Surga kepada siapa saja yang mencari hadirat-Nya dalam doa. Apabila kita menyediakan waktu untuk berdoa dan melakukan studi atas sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, maka kita pun akan diberkati, seperti juga Natanael diberkati. Allah akan mewahyukan/menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran kerajaan-Nya. Dia akan menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah Putera Allah, “Raja segala bangsa” (Why 15:3), “Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja” (Why 17:14; bdk. 19:16). Kita tidak akan sekadar melihat hal-hal ini secara intelektual. Kita akan sampai pada titik di mana kita dapat melihat hal-hal itu di kedalaman hati kita, dan perwahyuan/pernyataan ilahi itu pun akan mentransformasikan kita.

Marilah kita membuka hati kita terhadap perwahyuan Yesus, seperti yang dilakukan oleh Natanael. Selagi kita melakukannya, kobaran api Roh Kudus akan mulai membakar hati kita bagi Juruselamat kita. Hasrat kita untuk mengenal Tuhan akan lebih berkobar-kobar lagi, akhirnya menyerap ke dalam seluruh kehidupan kita. Kalau kita mencari Allah dengan rendah hati, kita dapat yakin bahwa Dia akan mentransformasikan hati kita, membuat hati itu menjadi lebih murni lagi. Marilah kita menyediakan waktu untuk mempertimbangkan sabda-Nya dalam Kitab Suci dan mendoakannya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun akan ditransformasikan, dan surga pun akan dibukakan bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar senantiasa berdoa dan mempelajari sabda Allah. Siapkanlah hatiku untuk memahami kehendak-Mu. Murnikanlah hatiku selagi aku mencari jalan-jalan-Mu. Tunjukkanlah kepadaku Yesus. Bukalah surga bagi mata hatiku agar aku dapat melihat-Mu dalam segala kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:43-51), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG ISRAEL SEJATI” (bacaan tanggal 5-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 3 Januari 2017 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG ANAK DOMBA ALLAH

SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Rabu, 4 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santa Angela dari Foligno, Ordo III Sekular 

lamb-of-god

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia  berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 3:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Satu hari setelah Yohanes Pembaptis memberi kesaksian di depan publik, bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah, ia mengulanginya lagi secara privat kepada dua orang muridnya. Peristiwa sederhana ini barangkali memicu salah satu “reaksi-berantai” yang paling dinamis dalam sejarah,  khususnya di bidang iman-kepercayaan manusia.

Pertama-tama, Andreas dan seorang murid Yohanes lainnya pergi untuk menyelidiki siapa Yesus ini sebenarnya. Mula-mula mereka menyapa-Nya sebagai “Rabi”, namun setelah tinggal bersama-Nya selama satu hari mereka menjadi yakin bahwa Dia adalah sang Mesias (lihat Yoh 1:38,41). Andreas menjadi begitu bersemangat sehingga dia tidak menunda-nunda lagi untuk mensyeringkan pengalamannya dengan Simon, saudaranya. Setelah berjumpa secara pribadi dengan Yesus, Simon pun memulai hidup baru sebagai Petrus atau Kefas, artinya Batu Karang (Yoh 1:42). Di sisi lain, Filipus yang tinggal sekota (Betsaida) dengan Simon dan Andreas juga bertemu dengan Yesus pada keesokan harinya. Filipus “menularkan” pengalaman perubahan dirinya kepada Natanael, yang selang beberapa saat setelah perjumpaannya dengan Yesus membuat sebuah deklarasi, bahwa Yesus adalah “Anak Allah” dan “Raja orang Israel” (Yoh 1:45,49).

Sungguh exciting semua rangkaian cerita ini! Kata-kata yang diucapkan oleh seorang kawan, hati yang terbuka, suatu perjumpaan pribadi dengan Yesus – dan sebuah “komunitas orang-orang percaya” pun terbentuklah. Nelayan-nelayan tanpa pendidikan yang memadai kelak menjadi para rasul yang diberdayakan oleh Roh Allah sendiri, hal ini dimungkinkan karena bergabungnya mereka dengan Yesus. Mereka menjadi mengenal Dia yang telah lama dinanti-nantikan Israel dan telah dinubuatkan berabad-abad sebelumnya oleh para nabi Perjanjian Lama. Sejak perjumpaan pribadi mereka masing-masing dengan Yesus, sang Rabi dari Nazaret itu, mereka dan dunia tidak akan pernah sama lagi!

Seperti para murid Yesus yang pertama, kita pun akan menjadi semakin dekat dengan diri-Nya, semakin mengenal Dia, justru karena menyediakan waktu kita yang cukup untuk berjumpa dengan Dia dalam doa, dalam Kitab Suci, berjumpa dengan-Nya dalam diri orang-orang yang kita temui, dan teristimewa menerima kasih-Nya dalam Ekaristi Kudus.

Yesus ingin memenuhi hati kita dengan pengetahuan, pengenalan dan pengalaman akan diri-Nya sebagai sang Anak Domba Allah, Penebus kita, Saudara kita dan banyak lagi. Sebagaimana telah dialami oleh banyak orang sebelum kita, kita pun dapat mengalami transformasi selagi kita mengikuti Yesus. Kita dapat menjadi bagian dari “petualangan” yang dialami para murid-Nya yang pertama sementara kita menyediakan waktu untuk bersama dengan Yesus, kemudian memulai suatu reaksi-berantai iman-kepercayaan di antara para sahabat dan kawan kita.

Pada awal tahun baru ini, baiklah kita membuat komitmen lagi untuk melakukan beberapa hal yang akan menolong kita menyediakan waktu bersama dengan Tuhan Yesus: (1) Menyediakan sepuluh menit atau lebih untuk doa pribadi (di luar Ibadat Harian) setiap hari, memohon Roh Kudus untuk menyatakan Yesus kepada kita; (2) Memeriksa nurani kita setiap hari, mohon Roh Kudus menolong kita untuk melakukan pertobatan atas dosa-dosa yang selama ini memisahkan kita dari Allah; (3) Menyediakan waktu sedikitnya sepuluh menit setiap hari untuk merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci dalam suasana doa; (4) Merancang sebuah rencana yang akan menolong kita bertumbuh dalam iman, termasuk membaca bacaan-bacaan rohani dan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan Gereja.

DOA: Yesus, Anak Domba Allah, Engkau yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG KAMU CARI?” (bacaan tanggal 4-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 2 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Selasa, 3 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan:  Peringatan wajib NAMA YESUS YANG TERSUCI

800px-ihs_monogram_gesu

Apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Siapa yang menuruti segala perintah-Nya, ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan (1Yoh 3:22-4:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11; Bacaan Injil: Mat 4:12-17,23-25  

“Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita”  (1Yoh 3:23).

Mengapa Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa kita harus percaya kepada nama Yesus Kristus? Karena Yohanes mengerti bahwa nama seorang pribadi merepresentasikan segala keberadaan orang itu. Oleh karena itu nama Yesus – artinya TUHAN (YHWH) menyelamatkan – merepresentasikan integritas Yesus, kehormatan-Nya serta karakter-Nya. Sebagai orang Kristiani, kita semua dipanggil untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17). Kita berkumpul dalam nama-Nya; kita bersyukur kepada Allah dalam nama-Nya; cara hidup kita juga seharusnya cara hidup yang memuliakan nama-Nya.

Pada waktu Yesus dibaptis, terdengar suara dari surga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Santo Paulus mengatakan kepada kita semua, bahwa karena perendahan Yesus dalam ketaatan, Allah sangat meninggikan -Nya dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (lihat Flp 2:9-11). Tidak ada seorang pun dapat menyangkal bahwa ada kuasa dalam nama Yesus, karena Bapa surgawi telah meninggikan nama Yesus itu di atas segala nama. Para rasul sangat percaya dalam hal ini sehingga mereka melakukan banyak penyembuhan orang sakit dan membuat mukjizat dengan menggunakan nama Yesus.

Namun demikian, baiklah kita ingat bahwa kita harus berhati-hati dalam hal ini. Nama Yesus yang tersuci bukanlah dimaksudkan sebagai sepatah kata ajaib, atau semacam mantera. Allah menginginkan  agar kita percaya kepada seorang Pribadi yang bernama Yesus Kristus. Percaya kepada nama-Nya berarti percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan penyakit, melepaskan orang-orang yang dirasuki Iblis atau roh jahat lainnya dll., malah membuka pintu gerbang kerajaan Allah. Percaya kepada nama Yesus berarti percaya bahwa Yesus itu penuh belas kasihan, adil, baik hati dan mengasihi; percaya bahwa Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, di mana Dia selalu melakukan doa syafaat/pengantaraan bagi kita setiap saat. YESUS ADALAH RAJA YANG KITA IKUTI JEJAK-NYA. Dia adalah Saudara kita,  seorang Sahabat yang sangat mengasihi kita. Dia adalah IMANUEL yang selalu ada bersama kita, kapan dan di mana saja!

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami menghaturkan segala puji, hormat dan kemuliaan kepada-Mu selama-lamanya. Engkau adalah Tuhan yang memperhatikan, memelihara dan membimbing kami agar kami tidak hidup tanpa arah. Kami berketetapan hati, ya Yesus, untuk hidup setiap hari di bawah kuasa dan otoritas nama-Mu yang tersuci. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjuul “SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS, KITA JUGA DIPANGGIL” (bacaan tanggal 3-1-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catataneorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 2 Januari 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS

KITA HARUS TETAP TINGGAL DI DALAM KRISTUS

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Senin, 2 Januari 2017)

0-0-saint-john-1621Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya (1Yoh 2:22-28).

Mazmur antar bacaan: Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

Dalam menjalani kehidupan ini kadang-kadang kita merasa hampa, kosong. Peristiwa-peristiwa di sekeliling kita dapat menyebabkan kita meragukan iman kita sendiri dan keputusan-keputusan yang telah kita buat berdasarkan iman termaksud. Inilah isu yang diangkat oleh penulis surat ini. Komunitas penerima surat ini telah mengalami perpecahan yang menyakitkan. Sejumlah anggota komunitas yang tetap setia pada Injil (seperti mereka mengenal dan memahaminya) mulai meragukan keputusan-keputusan yang telah mereka buat. Untuk mendorong mereka dan menolong mereka mengatasi kebingungan mereka, maka seorang penatua komunitas menulis surat ini.

Penulis surat ini memproklamasikan bahwa, “Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa” (1Yoh 2:23). Apakah kita sungguh percaya pada Kristus? Apakah kita merangkul keselamatan-Nya, yang oleh iman adalah milik kita? Terang Yesus telah mengalahkan kegelapan dalam hati kita untuk membawa kita kepada Bapa, sungguh bersih tanpa noda. Yang diminta Yesus hanyalah agar kita mengundang Dia ke dalam hati kita. Setiap hari kita dapat mengambil sebuah langkah iman kecil dengan mengatakan, “Aku percaya akan Yesus Kristus.” Semakin kita menghayati pasal kepercayaan ini, Roh Kudus pun akan semakin membuka hati kita untuk menerima keselamatan dari Yesus.

Pengurapan yang kita terima dari Yesus berdiam dalam diri kita dan mengajarkan segalanya kepada kita (1Yoh 2:27). Kuasa kedatangan-Nya sudah lengkap; yang diperlukan adalah rangkulan kita. Kemenangan penuh kejayaan yang telah dimenangkan-Nya untuk kita sebenarnya tersedia bagi kita secara lengkap dan langsung. Yesus telah menaruh kasih-Nya dalam hati kita dan telah memberikan kepada kita Roh hikmat untuk mengajarkan kepada kita segala hal. Melalui Roh Kudus, kita memiliki semuanya yang kita perlukan guna merangkul kasih Bapa surgawi. Pertobatan, pengakuan dosa, dan berbalik kepada Kristus, semuanya ini membawa kemenangan yang langsung, ujung-ujungnya adalah “hidup yang kekal” (lihat 1Yoh 2:25).

Kita dapat berbalik kepada Yesus setiap saat. Ini adalah hak kita sebagai anak-anak Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari kita. Kita harus waspada agar jangan sampai warisan kehadiran Yesus dalam hidup kita dirampas. Kita dapat berseru kepada Allah; pengurapan-Nya meliputi kita dan berdiam dalam diri kita. Yesus adalah ‘sang Sabda yang menjadi daging’ (Firman yang menjadi manusia; lihat Yoh 1:14), artinya sebagai manusia Dia ikut ambil bagian dalam kodrat insani secara lengkap dan “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. …sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Paulus menulis: “Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Sekarang, setelah bangkit dalam kemuliaan, “Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3). Itulah sebabnya mengapa kita harus tetap tinggal di dalam Kristus, no matter what !!! 

st-gregory-the-greatbasil-the-greatSanto Basilios Agung, uskup di Kaisarea [330-379] dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze [329-389] yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Bapa surgawi, melalui Yesus, Engkau telah memberikan jalan bagi kami untuk datang kepada-Mu. Dalam pembaptisan, kami menerima pengurapan-Mu, dan karunia itu tidak akan pernah meninggalkanku. Tolonglah kami agar dapat membuka hati kami bagi Roh Kudus-Mu, agar kami dapat melihat perubahan-perubahan dan mukjizat-mukjizat dalam kehidupan kami. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:22-28), bacalah tulisan yang berjudul “TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 2-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 29 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS