MENJADI TUKANG REPARASI

MENJADI TUKANG REPARASI

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu, Sabtu 25-2-12) 

Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. YUHAN (YHWH) akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.” Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus YHWH “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena YHWH, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut YHWH-lah yang mengatakannya (Yes 58:9b-14).

Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6; Bacaan Injil: Luk 5:27-32 

Dunia di sekeliling kita terasa sakit penuh luka, merana, menyedihkan, dan penuh dengan ketidakadilan serta pelanggaran hak azasi manusia. Baru saja saya melihat di televisi bagaimana dalam sebuah pertandingan sepakbola seorang wasit dipukul sampai pingsan oleh pemain-pemain sepak bola. Beberapa hari sebelumnya sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang yang sedang mabuk karena narkoba telah menabrak mati sampai 9 (sembilan) orang sekaligus. Kita dapat melihat susahnya anak-anak sekolah pergi ke sekolah mereka karena prasarana (seperti jembatan) dan gedung yang mengalami kerusakan berat disebabkan bencana alam dlsb., tetapi di lain pihak para wakil rakyat menghambur-hamburkan uang dalam jumlah yang sungguh fantastis. Sebagian besar anggota aparat keamanan dan penegak hukum bukan membela yang benar, melainkan membela yang bayar. Korupsi sudah mewabah ke mana-mana, tidak hanya terbatas pada instansi-instansi pemerintahan, dan para pelakunya juga lintas-agama, lintas-generasi, lintas-suku dst. Angkutan umum terasa sudah tidak aman lagi bagi kaum perempuan. Bahkan Gereja pun membutuhkan penyembuhan dan rekonsiliasi di sana-sini. Susah untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain! Pembohongan sudah tidak lagi merupakan monopoli anak-anak nakal dan malah sudah merupakan the name of the game di kalangan elite politik/pemerintahan. Setiap hari kita menghadapi risiko disakiti oleh orang lain, dan juga kita menyakiti orang lain. Organisasi pemerintahan terasa sudah dysfunctional dan dalam artian tertentu juga leaderless. Berjalannya roda pemerintahan pun sudah dianalogikan dengan pesawat yang terbang dengan auto pilot. Berbagai kenyataan ini dapat membuat kita menjadi ciut dalam berpengharapan, bahkan tergoda untuk menyerah-pasrah, namun secara salah.

Syukurlah ada Allah yang sungguh memahami benar sampai berapa dalam anak-anak-Nya membutuhkan kesembuhan dan restorasi, dan Dia-lah yang mendatangi kita di tempat kita berada. Ia mengetahui setiap ketidakadilan yang kita alami dan juga kelemahan-kelemahan kita. Dalam belarasa-Nya, Allah memberikan apa saja yang kita butuhkan untuk menyembuhkan luka-luka kita, patah hati kita. Allah menyerahkan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia. Allah mengetahui bagaimana kita masing-masing dapat disembuhkan, dan bagaimana kita dapat membawa kesembuhan kepada orang-orang lain.

Jikalau kita menghadap Allah dengan luka-luka dan penderitaan kita, maka kita pun percaya bahwa Dia akan menghibur kita. Apabila kita melihat berbagai kerusakan (di bidang moral-etika dll.) yang terjadi di sekeliling kita, kemudian berseru kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kepada kita hati yang berbela-rasa. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan atau masalah-masalah di rumah atau dalam gereja kita, maka Dia akan menunjukkan apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kerusakan atau masalah yang ada. Sungguh menghibur untuk mengetahui bahwa kita tidak perlu sepenuhnya disembuhkan agar dapat melayani orang-orang lain (Ingat istilah wounded healer dari Henri Nouwen?). Di sisi lain kita juga tidak boleh menuntut orang-orang lain untuk menjadi sempurna dulu sebelum kita memperkenankan mereka melayani kita. Allah-lah yang bekerja melalui kita, dan Ia dapat bekerja dengan bejana-bejana yang tidak/belum sempurna.

Dengan memperkenankan Allah menyentuh kita, baik secara langsung maupun melalui orang-orang lain, maka diri kita dapat disembuhkan dan mengambil karakter Yesus secara lebih penuh. Sebagai akibatnya, kita sendiri dapat menjadi instrumen-instrumen kesembuhan dan kehidupan bagi orang-orang lain. Dalam Yesus, kita adalah para penakluk. Pada hari ini kita masing-masing dapat menjadi para pelayan Tuhan bagi orang-orang di sekeliling kita. Benar, ada bolong-bolong atau retak-retak pada tembok-tembok, namun di sekeliling kita Allah membangkitkan orang-orang bergabung bersama menjadi tukang reparasi bolong-bolong atau retak-retak pada tembok-tembok itu. Marilah kita bergabung dengan Yesus dalam karya agung-Nya yang menghibur dan merestorasi.

DOA: Bapa surgawi, sembuhkanlah kami dan tolonglah kami agar dapat keluar menjumpai orang-orang yang menderita. Dengarlah seruan rasa sakit kami dan hiburlah kami. Anugerahilah kami belarasa-Mu bagi orang-orang yang menderita di sekeliling kami. Kami sungguh ingin menjadi tukang reparasi sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “SETIAP ORANG DAPAT DIPIMPIN KEPADA KEBENARAN HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH” (bacaan untuk tanggal 25-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yes 58:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TUKANG REPARASI TEMBOK DAN JALAN” (bacaan untuk tanggal 20-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2011. 

Cilandak,  25 Januari 2012 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul; Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN 

Katekese mengenai Misteri Ekaristi harus diarahkan pada penyadaran para beriman, bahwa perayaan Ekaristi benar-benar merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani, baik pada tingkat Gereja semesta (universal) maupun pada tingkat jemaat-jemaat lokal. Karena “semua sakramen lain, seperti juga segala pelayanan Gereja dan karya kerasulannya, erat berhubungan dengan Ekaristi Kudus dan diarahkan kepadanya. Sebab di dalam Ekaristi Mahakudus terangkumlah seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, kurban Paskah dan Roti kehidupan kita yang memberikan hidup kepada sekalian orang melalui daging-Nya, yang berkat Roh Kudus menjadi hidup dan menghidupkan. Dengan demikian manusia diundang dan dibimbing untuk mempersembahkan diri mereka sendiri, segala jerih payah mereka dan seluruh alam ciptaan bersama dengan Kristus.” (Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967], 6; bdk. Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965], 5).

Banyak sekali umat Katolik yang selagi menjalani kehidupan di dunia tidak pernah sungguh mengetahui atau memanfaatkan berbagai sarana indah guna mencapai keselamatan yang telah ditempatkan Kristus bagi kita semua melalui Gereja-Nya. Kita menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan.

Allah mengkomunikasikan diri-Nya kepada kita melalui berbagai gestures, kata-kata dan hal-hal yang bersifat sakramental. Semua itu adalah tindakan-tindakan Allah melalui Roh Kudus-Nya. Gesture utama Allah adalah tindakan menjadi manusia – inkarnasi-Nya. Jadi, Yesus adalah Sakramen yang pertama dan benar, karena Dia adalah tanda yang mujarab dari peng-ilahi-an (Inggris: divinization) umat manusia. Melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuat kita mampu berjumpa dengan Allah Tritunggal dan membagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita.

Sesungguhnya, segala tindakan Yesus selama kehidupan-Nya di dunia pada akhirnya dimaksudkan untuk memberikan suatu kehidupan – kehidupan kekal. Inilah pesan dari kebangkitan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25); sebuah ayat Kitab Suci yang begitu akrab terdengar di telinga manakala kita menghadiri Misa atau Ibadat Sabda berkaitan dengan peringatan kematian seorang saudari/saudara kita.

Gereja adalah Sakramen Kristus. Gereja adalah Sakramen Perjumpaan Kristus dengan kita, umat-Nya. Untuk kepentingan orang-orang yang hidup setelah zaman-Nya, Yesus mendirikan Gereja sebagai Sakramen di mana umat berjumpa dengan diri-Nya. Melalui Gereja, Yesus terus aktif di tengah dunia dan berkomunikasi dengan segenap umat manusia.

Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, Yesus sebagai Kepalanya dan kita adalah para anggotanya. Dengan demikian, Gereja adalah sebuah tanda, sebuah Sakramen, …… Sakramen Kristus. Gereja memproklamasikan Kristus, dan dalam Gereja-lah Kristus dijumpai.[1] Kebersatuan dengan Kristus dan kebersatuan dengan Allah melalui Kristus ini membentuk Kerajaan Allah. Gereja mengakui bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di tengah dunia. Gereja merangkul Kerajaan itu dengan penuh sukacita dan syukur. Gereja berupaya keras untuk meluaskan ini kepada semua orang dan melakukannya lewat Sakramen-sakramen.

Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan benar membawa pengharapan Gereja kepada dunia. Sakramen-sakramen adalah “tanda-tanda di muka” tentang sukses dan pemenuhan dunia dalam Kristus Yesus. Seperti Kristus-inkarnasi (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) adalah “wajah” Bapa surgawi, maka Gereja adalah “wajah” Kristus yang bangkit dan naik ke surga bagi semua orang di dunia. Gereja adalah tanda yang “mujarab”, Sakramen yang menghadirkan Yesus  bagi dunia.

Maka, Gereja membuat kita mampu untuk berjumpa dengan Kristus dalam Sakramen-sakramen-Nya. Hal ini menyentuh pokok-pokok utama kehidupan kita dan menguduskannya. Semua itu berkisar di sekeliling Misa, yang juga dinamakan Ekaristi.

Ekaristi. Untuk memperoleh suatu ide yang benar tentang peranan Ekaristi dalam kehidupan kita, maka kita harus memandang dunia dengan menggunakan kacamata Alkitab. Dari situ kita akan menyadari bahwa umat manusia adalah instrumen yang dipilih untuk Penebusan kita. Kristus datang ke tengah-tengah dunia untuk menanggung sakit, untuk menderita dan mati dalam daging-Nya; dan Ia bangkit dalam daging-Nya. Jadi daging (badan) dan hal-hal tak bernyawa diasosiasikan dengan misi sang Juruselamat dan kemenangan-Nya atas kematian.

Kita dapat menggunakan segala sumber daya alam semesta dalam mengerjakan keselamatan kita. Dengan kata-kata Doa Syukur Agung I Misa: “Dalam Dia Engkau menciptakan, memberkati dan menganugerahkan segala sesuatu yang baik kepada kami”.[2]

Kita harus menjadi terilhami – seperti ditunjukkan oleh Kitab Suci – dengan kesadaran bahwa manusia menguasai kosmos dan lewat kerja mereka sehari-hari menyempurnakan gambaran ilahi dalam diri mereka. Melalui pekerjaan dan interaksi sosial, mereka mencapai sebuah komunitas relasi antar-pribadi yang berdasarkan kasih. “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh 4:16). Kita menjadi satu dengan Allah melalui kasih!

Semua ini pada dasarnya terjadi melalui apa yang kita sebut “Liturgi”. Liturgi adalah sebuah perayaan di mana dirayakan kasih Allah itu. Dengan atau melalui Liturgi inilah Allah disembah dan dimuliakan dan umat (anda dan saya) dibuat menjadi peserta dalam kehidupan Allah dan Kerajaan-Nya. “Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

(1) Dalam Misa, Yesus yang ilahi-insani sekaligus itu – melalui tindakan Roh-Nya memampukan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi-Nya. (2) Kita berpartisipasi dalam tindakan suci itu dengan kuat-kuasa yang indah dari akal-budi, perasaan dan pancaindera kita – mendengar, bernyanyi, berbicara, mencicipi dlsb. (3) Ciptaan yang tak bernyawa pun mempunyai peranan: roti, anggur, terang lilin, dupa, pakaian upacara imam, piala, lonceng/bel, organ dll.

Dalam analisis akhir, melalui Liturgi Ekaristi, Kristus menjadi satu dengan anggota-anggota Tubuh Mistik-Nya. Pengudusan dunia jatuh di bawah pengaruh-Nya melalui kerja sama bebas kita yang didorong oleh rahmat.  Dalam artian tertentu, diri kita sendiri adalah substansi yang dipersembahkan dan ditransformasikan dalam Misa, dan melalui kita dunia dipersembahkan dan ditransformasikan dalam perkembangannya setiap hari.

Roti (Tubuh Kristus) dan Anggur (Darah Kristus). Petikan yang indah dari salah satu surat Santo Paulus berikut ini pantas kita renungkan dengan serius dan acap kali: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). 

Roti.[3] Roti adalah benda yang tidak boleh tidak ada dalam rumah, merupakan makanan dasariah (Am 4:6; Mrk 3:20; Luk 11:5; 15:17), sehingga sering searti dengan makanan/perjamuan pada umumnya (Luk 14:15; Kis 2:42). Roti tidak pernah dibelah dengan pisau melainkan selalu dengan tangan sebagai lambang membagi milik: “memecah-mecahkan roti” searti dengan memberikan roti (Yes 58:7; Yer 16:7), bersatu dengan orang lain, agar tercipta persatuan antara orang-orang yang sedang makan (Mzm 41:10; Mat 14:19; [bdk. Mrk 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11]; Mat 26:26 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:29]; Yoh 13:18; 1Kor 10:16). Roti secara metaforis melambangkan firman Allah, kehidupan sejati manusia (Ul 8:3; Am 8:11; Mat 4:4; bdk. Luk 4:4), yang sebelumnya sudah dilambangkan oleh “manna” yang turun dari surga. Yesus sendiri adalah “roti kehidupan” atau “roti hidup”, satu-satunya roti yang menghidupkan (Yoh 6:35-47), roti yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya menjelang pengorbanan-Nya (Mat 26:25 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:23]). Dengan membagi-bagikankan roti kepada orang banyak, Yesus mengajarkan para murid-Nya bagaimana mereka, dengan berlimpah-limpah, seharusnya membagi-bagikan Firman dan Ekaristi (Mat 14:13-21 [bdk. Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17]; Mat 15:32-38 [bdk. Mrk 8:1-9]; Yoh 6:1-15). Dalam Liturgi Ekaristi, roti diubah menjadi Tubuh Kristus sendiri.

Tubuh Ekaristis Kristus. Yesus berbicara tentang “tubuh” ketika Dia berbicara tentang kehadiran-Nya secara baru, yaitu secara ekaristis (Mat 26:26; bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:24). Dalam tubuh yang demikian, semua pengikut Yesus ikut serta sambil membentuk satu tubuh.

Anggur. Dalam Perjanjian Baru, anggur tidak pernah muncul dalam konteks ibadat, kecuali dalam rangka perjamuan (terakhir) Yesus, di mana anggur di sebut “hasil pokok anggur” (Mat 26:29; bdk. Mrk 14:25; Luk 22:18) dan dalam kisah yang menceritakan perdebatan mengenai makanan (Rm 14:21). Secara kiasan, anggur berarti amarah Allah pada akhir zaman (Yes 51:17,22; Yeh 23:31; Why 14:8,10;16:19; 17:2; 18:3; 19:15).  Dalam Liturgi Ekaristi, anggur diubah menjadi darah Kristus sendiri.

Darah. Darah ialah kehidupan (Im 17:11-14) dan kehidupan adalah milik Allah. Darah/nyawa tidak boleh dimakan bersama dengan daging persembahan (Ul 12:23-24; Kis 15:20,29). Darah dipercikkan di atas mezbah, kadang-kadang darah menjadi persembahan (Ibr 9:7; 13:11) bernilai pendamaian. Namun hanya darah Yesus saja yang berdaya-guna (Ibr 10:4,19), sebab Kristus adalah pendamaian sejati (Rm 3:25), darah-Nya adalah “darah Perjanjian demi pengampunan dosa-dosa” (Kel 24:6-8; Mat 26:28; bdk. Mrk 14:24), dan darah itulah yang diminum dalam perjamuan Ekaristi (Yoh 6:53-54; 1Kor 10:16). Yesus menumpahkan darah-Nya dengan sukarela, sambil membaharui Perjanjian (Yes 53:12; Luk 22:20). Inilah darah yang paling bernilai, yaitu yang mengalir dari lambung Yesus (Yoh 19:31-37; 1Ptr 1:19; 1Yoh 5:6-8).

Anthony M. Buono[4] mengatakan, bahwa transubstansiasi roti dan anggur ke dalam tubuh, darah dan keilahian Kristus diperluas ke dalam dunia dan merangkul totalitas dari sukacita dan rasa sakit sebagai akibat dari proses perkembangan yang ditakdirkan secara ilahi. Kristus mengumpulkan semua sukacita dan penderitaan, dan mempersembahkan semua itu kepada Bapa. Dia membuat semua itu menjadi menyelamatkan bagi semua orang yang mengalami. Sebagai akibatnya, kita dapat mengatakan bahwa Misa mencakup suatu konsekrasi (pengudusan) umat manusia. Dunia secara keseluruhan dipersembahkan dan ditransformasikan oleh rahmat yang menyelamatkan dari Kristus melalui mediasi Gereja dalam Misa. Dengan perkataan lain, hal-hal baik yang menyelamatkan yang telah dimenangkan oleh Kristus melalui sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, diterapkan pada dunia dan segala sesuatu yang ada di dalam dunia itu, di sini dan sekarang. Konsekrasi ini terjadi secara sakramental – yang oleh karenanya tidak sempurna dan harus dilengkapi. Kristus telah melakukan tindakan pemberian persembahan secara definitif. Namun bagi komunitas Kristiani dan untuk dunia, kurban persembahan tidak akan sepenuhnya tercapai sampai pada akhir zaman (AMB, hal. 5).

Liturgi. Semua ini dicapai melalui Liturgi, teristimewa Misa. “Liturgi suci adalah penyembahan yang bersifat publik bahwa Penebus kita, Kepala Gereja, mempersembahkan kepada Bapa surgawi, dan bahwa komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus membayarnya kepada Pemimpinnya (Yesus), dan melalui Dia kepada Bapa yang kekal; singkatnya (liturgi) adalah seluruh penyembahan secara publik oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, Kepala dan para anggotanya” (Paus Pius XII, Ensiklik tentang Liturgi Suci, no. 20; diambil dari AMB, hal. 5-6).

Ini adalah definisi klasik dari “Liturgi”, yang diulangi dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) yang diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II: “Gereja memenuhi tugas menguduskan secara istimewa dengan liturgi suci, yang merupakan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di mana pengudusan manusia digambarkan dengan tanda-tanda yang tampak serta dihasilkan dengan cara masing-masing yang khas. Dengan liturgi itu dipersembahkan juga ibadat publik yang utuh kepada Allah oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala serta anggota-anggota-Nya” (KHK, Kanon 834 § 1). “Ibadat semacam ini terjadi apabila dilaksanakan atas nama Gereja oleh orang-orang yang ditugaskan secara legitim serta dengan perbuatan-perbuatan yang telah disetujui oleh otoritas Gereja” (KHK, Kanon 834 § 2). Walaupun demikian, bagi kebanyakan kita, Liturgi adalah sepatah kata yang “berat”, sepatah kata yang jarang sekali kita gunakan dalam pembicaraan sehari-hari.

Aslinya, kata itu menunjukkan pekerjaan sukarela bagi umat. Terjemahan dalam bahasa Yunani atas Kitab Suci Yahudi yang diselesaikan pada abad ke-3 SM dan dikenal sebagai Septuaginta (LXX) membuat arti kata ini menjadi lebih khusus, yaitu penyembahan  oleh seorang imam di Bait Allah. Gereja perdana menggunakan kata ini untuk suatu kebaktian penyembahan di dalam mana masing-masing anggota komunitas mempersembahkan kepada Allah atas nama semua anggota seturut peranannya masing-masing. Pada abad pertengahan kata ini menunjukkan kebaktian penyembahan resmi Gereja.

Jadi, Liturgi adalah suatu kerja ilahi yang dipercayakan kepada umat Allah. Liturgi adalah melanjutkan pekerjaan Kristus oleh Gereja-Nya dalam kebersatuan dengan diri-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berjumpa dengan Kristus dalam kehidupan-Nya di dunia sekarang dapat berjumpa dengan Dia dalam kemuliaan melalui Liturgi dan dapat bersatu dengan Dia dalam kurban persembahan-Nya kepada Bapa yang dibuat sekali dan untuk selama-lamanya (Ibr 10:14).

Jika kita memandang Liturgi dengan cara ini, maka sebagian dari sifatnya yang terasa “berat” tadi pun akan terlepaskan/terbebaskan. Sekarang dapat terlihat apa itu Liturgi: suatu kunci kehidupan, suatu permohonan yang dipenuhi dengan pengharapan, suatu perluasan dari Misteri Paskah (yaitu sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus) yang diperuntukkan bagi segala zaman dan semua orang, dan sesungguhnya untuk segenap alam semesta.

Melalui baptisan yang menjadikan kita imam dalam artiannya yang umum, adalah privilese kita sebagai orang Kristiani untuk turut ambil bagian dalam doa Gereja. Adalah privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (a) melalui suatu tatanan hirarkis yang hakiki untuk hal itu. Namun itu pun privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (b) secara berjemaah (komunal) sebagai anggota-anggota komunitas Gereja. Adalah privilese kita untuk dikuduskan oleh doa ini (c) melalui masuknya kita ke dalam Misteri Paskah Kristus. Akhirnya, adalah privilese kita untuk diajar oleh doa ini (d) sebagai bagian dari mereka, kepada siapa Allah berbicara melalui Kristus dan Roh.

Tanda-tanda dan Ekaristi. Misa – seperti semua ritus-ritus sakramental lainnya – dapat dikatakan merupakan suatu dialog antara Allah dan umat-Nya. Terlebih lagi, Misa adalah suatu rituale di mana Allah bertindak dan umat-Nya menjadi terlibat. Dalam komunikasi ini, Misa menggunakan tanda-tanda inderawi dan juga kata-kata. Misa menyangkut sikap tubuh, melibatkan gestures, menggunakan benda-benda, dilaksanakan dalam tempat-tempat yang nyata, dan dalam Misa itu objek-objek tertentu diberkati dan dikuduskan.

Beberapa dari tanda-tanda natural ini, lewat penggunaan berbagai imaji (gambaran) dan simbol/lambang yang sudah ada dalam ciptaan yang mempunyai suatu gaung tertentu dalam hati manusia. Hampir semua tanda-tanda dalam Misa itu adalah tanda-tanda alkitabiah. Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda tertentu yang Yesus sendiri gunakan pada waktu Dia menetapkan Ekaristi, juga tanda-tanda yang digunakan oleh para pendahulu kita (dalam Iman Kristiani) seperti digambarkan oleh bagian-bagian Kitab Suci lainnya.

Lewat tanda-tanda itu iman umat diungkapkan, dipupuk, dan diperkuat. Oleh karena itu sungguh pentinglah untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal itu memungkinkan umat untuk ikut ambil bagian secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya (lihat ‘Pedoman Umum Misale Romanum Baru’ [PUMRB], 20)

Kitab Suci dan Perayaan Ekaristi. Pada kenyataannya, Misa suka dijuluki “Alkitab dalam Aksi” (Inggris: Bible in Action), karena sabda Alllah dalam Kitab Suci meresap dalam setiap bagian ritus-ritus yang ada di dalamnya. Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi mencakup pembacaan sabda Allah dari Kitab Suci termasuk Mazmur Tanggapan; Nyanyian pendek dari Kitab Suci (berbagai antifon dan madah), Rumus-rumus dari Kitab Suci (sapaan, aklamasi narasi institusi dalam Doa Syukur Agung), alusi-alusi pada Kitab Suci (doa-doa), Instruksi alkitabiah (homili), dan doa-doa umat yang terinspirasikan oleh Kitab Suci.

Tentang hal ini, ‘Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci’ menyatakan sebagai berikut: “Dalam perayaan Liturgi Kitab Suci sangat penting. Sebab dari Kitab Sucilah dikutip bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab Sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan Liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh tradisi luhur ritus Timur maupun ritus Barat” (Sacrosanctum Concilium, 24).

Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian: (1) Bagian pembuka; (2) Ibadat/Liturgi Sabda; (3) Liturgi Ekaristi; dan (4) Perutusan yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi (lihat Surat Gembala Prapaskah 2012 Keuskupan Agung Jakarta, 5). Jadi, dapat kita katakan bahwa dua bagian pokok dari perayaan Ekaristi adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (yang bermuara pada komuni kudus). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila dikatakan ada dua meja dalam perayaan Ekaristi: (1) Meja Sabda Allah (Inggris: The Table of the Word of God); dan (2) Meja Roti Tuhan (Inggris: The Table of the Bread of the Lord), yang satu tidak dapat ada tanpa meja yang lain. Uraian tentang kedua meja itu dapat dibaca dalam ‘Surat Paus Yohanes Paulus II tanggal 24 Februari 1980 Dominicae Cenae (Judul dokumen dalam bahasa Inggris: The Holy Eucharist) tentang Misteri dan Kebaktian Penyembahan Ekaristi Kudus (Bagian III).

Kritik negatif yang mengatakan bahwa Perayaan Ekaristi tidak alkitabiah sangat tidak mengenai sasaran. Ada sebuah buku karangan Romo Peter M.J. Stravinskas[5] yang dengan jelas mengemukakan betapa alkitabiahnya Misa atau Perayaan Ekaristi Kudus itu.

Kristus dan Perayaan Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menyatakan: “Kristus sendiri, Imam Agung abadi Perjanjian Baru, mempersembahkan kurban Ekaristi melalui pelayanan imam. Demikian juga Kristus sendirilah menjadi bahan persembahan dalam kurban Ekaristi. Ia sendiri sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur” (KGK, 1410). Memang, selebran utama dalam Misa adalah Kristus sendiri. Selebran sekunder adalah imam tertahbis yang berdiri di altar in persona Christi. Katekismus Gereja Katolik menyatakan: “Hanya para imam yang ditahbiskan secara sah, dapat memimpin upacara Ekaristi dan menkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus” (KGK, 1411).

Sesungguhnya perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Baik Gereja universal dan Gereja partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani. Sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa surgawi lewat Kristus, Putera Allah, dalam Roh Kudus. Kecuali itu, perayaan Ekaristi merupakan pengenangan misteri penebusan sepanjang tahun. Dengan demikian, boleh dikatakan misteri penebusan tersebut dihadirkan untuk umat. Segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan Kristiani, berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya (lihat PUMRB, 16).

Oleh karena itu, sungguh penting untuk mengatur perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan tersebut sedemikian rupa sehingga para pelayan dan umat beriman lainnya, dapat turut ambil bagian dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta dapat memetik buah-hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya. Itulah yang dikehendaki Kristus ketika menetapkan kurban ekaristis Tubuh dan Darah-Nya. Dengan maksud itu pula Ia mempercayakan misteri ini kepada Gereja, mempelainya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya (PUMRB, 17). Jadi, dalam Misa setiap orang mempunyai tugas untuk dilaksanakan sebagai akibat imamat-umum yang diterimanya pada waktu baptisan (tentang imamat-umum bacalah Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 34).

Berbagai macam cara Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi. Hal ini sudah disinggung oleh para Bapak Konsili Vatikan II sebagai berikut: “Untuk melaksanakan karya yang begitu besar, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena samalah Dia yang kini mempersembahkan diri lewat pelayanan iman dengan Dia yang dulu mengurbankan diri di kayu salib’ (Konsili Trente, Sidang XXII, 17 September 1562), maupun terutama dalam rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam sakramen-sakramen, sehingga bila seseorang melakukan pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir  dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang berbicara bilamana di dalam Gereja Kitab Suci dibacakan. Akhirnya Ia hadir bila Gereja memohon dan bermazmur, sebab Ia telah berjanji, ‘Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di sana Aku  berada di tengah-tengah mereka’ (Mat 18:20)” (Sacrosanctum Concilium, 7).

Berbagai macam cara Kristus hadir ini ditekankan kembali oleh Paus Paulus VI dalam Ensikliknya, Mysterium Fidei, tanggal 3 September 1965 (butir 35 s/d 38). “Kehadiran nyata” par excellence Kristus dalam Sakramen Ekaristi disoroti secara istimewa dalam butir 38, namun dengan tetap menyatakan bahwa beberapa kehadiran-Nya yang lain juga sebenarnya “nyata” (riil). Instruksi Eucharisticum Mysterium (Misteri Ekaristi) tanggal 25 Mei 1967 yang diterbitkan oleh Kongregasi Suci Ritus menyatakan seperti berikut: “Supaya para beriman memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang misteri Ekaristi, mereka hendaknya diajar tentang cara-cara pokok bagaimana Kristus hadir dalam Gereja-Nya lewat perayaan-perayaan liturgi” (Eucharisticum Mysterium, 9). Selanjutnya, dalam Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus (Love your Mass) dari Paus Yohanes Paulus tanggal 4 Desember 1988 dalam rangka memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium, disoroti lagi cara-cara Kristus yang selalu hadir dalam Gereja-Nya, teristimewa dalam perayaan-perayaan liturgis (Vicesimus Quintus Annus, 7).

Partisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Di atas sudah disinggung pentingnya untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal tersebut memungkinkan umat berpartisipasi secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya. Semua itu dilaksanakan dengan memperhatikan kekhususan umat dan tempat (lihat PUMRB, 20).

Perayaan Ekaristi memang mensyaratkan partisipasi umat secara aktif. Tanpa partisipasi, kiranya kita tidak dapat memperoleh apa-apa dari perayaan Ekaristi atau Misa itu. Para Bapak Konsili Vatikan II sejak awal menekankan: “Jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu (Ekaristi Suci) sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda buka saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antara mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (Sancrosanctum Concilium, 48).

Sumber-sumber selain Kitab Suci: (1) Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1963]; (2) Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965]; (3) Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967]; (4) Surat Paus Yohanes Paulus II Dominicae Cenae [24-2-1980]; (5) Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus untuk memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1988]; (6) Katekismus Gereja Katolik; (7) Anthony M. Buono, Active Participation at Mass; (8) Xavier Léon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru; (9) PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI – BARU; (10) Rev. Peter M.J. Stravinskas, The Bible and the Mass – Understanding the Scriptural Basis of the Liturgy; (11) KITAB HUKUM KANONIK (CODEX IURIS CANONICI); (12) Lain-lain.

Cilandak, 24 Februari 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Untuk “refreshing”, saya menganjurkan anda untuk membaca (lagi), ‘Konstitusi Dogmatis LUMEN GENTIUM tentang Gereja’, 5-8).

[2] Terjemahan Inggris terasa lebih tajam: “Through Christ our Lord You give us all these gifts. You fill them with life and goodness, You bless them and make them holy”; THE WEEKDAY MISSAL – A NEW EDITIONS – Collins, hal. 1311.

[3] Uraian mengenai “roti”, “Tubuh Ekaristis Kristus”, “Anggur” dan “Darah” berikut ini bersumber pada penjelasan-penjelasan yang ada dalam Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.

[4] Anthony M. Buono, Active Participation at Mass, New York: Alba House [AMB], hal. 5.

[5] THE BIBLE AND THE MASS – UNDERSTANDING THE SCRIPTURAL BASIS OF THE LITURGY, Ann Arbor,Michigan: Servant Publications,  1989.

PADA WAKTU ITULAH TERANGMU AKAN MEREKAH SEPERTI FAJAR

PADA WAKTU ITULAH TERANGMU AKAN MEREKAH SEPERTI FAJAR

(Bacaan Pertama Misa Kudus, hari Jumat sesudah Rabu Abu, Jumat 24-2-12) 

Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah-nya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetapi mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukuli dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini  suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada YHWH? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan YHWH barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan YHWH akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:1-9a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19; Bacaan Injil: Mat 9:14-15. 

Seringkah kita mengalami yang berikut ini? Kita menepati segala praktek keagamaan – misalnya berpuasa dan/atau berpantang – namun kemudian menyadari bahwa hati kita tidak ada dalam tindakan kita itu! Barangkali kita diganggu oleh distraksi-distraksi, oleh rasa susah, barangkali karena kita sedang sakit sehingga tidak merasa nyaman secara fisik, barangkali karena kita sedang lelah. Apapun alasannya, kita dibebani dengan perasaan bahwa kita telah gagal membangun relasi yang berarti dengan Allah. Sebagaimana halnya dengan semua upaya menepati aturan-aturan keagamaan, tujuan puasa adalah untuk menjadi bejana-bejana yang lebih terang, lebih murni bagi kehidupan di dalam jalan Allah, bukannya untuk memastikan bahwa kita melakukan “semua hal-hal yang benar”.

Berpuasa yang ditentang Allah dalam Kitab Yesaya termasuk kategori yang diuraikan di atas. Orang-orang Israel memenuhi yang tersurat dalam hukum, namun itu hanyalah tindakan menepati aturan secara eksternal, hal mana tidak menyenangkan Allah. “Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes 58:4). TUHAN (YHWH) menginginkan puasa yang menghasilkan perubahan-perubahan yang konkret dalam kehidupan orang-orang. Ia ingin agar mereka  “menjinakkan” nafsu mereka yang berpusat pada  pemuasan diri sendiri, sehingga mereka dapat menjadi terbuka untuk menerima belarasa-Nya terhadap orang-orang lapar, para tuna wisma, dan mereka yang tertindas. Ia menginginkan agar puasa mereka membuka mata mereka terhadap kebutuhan-kebutuhan anak-anak-Nya.

Selagi kita mengosongkan diri kita dari hasrat-hasrat untuk mementingkan diri sendiri  dan pada saat bersamaan memberikan ruangan bagi Roh Kudus dalam kehidupan kita, maka kita pun akan diubah. Kita akan menjadi bejana-bejana belas kasihan Allah selagi kita memusatkan perhatian kita pada kebutuhan-kebutuhan orang lain lebih daripada kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita sendiri.

Sekarang, langkah-langkah apa saja yang dapat kita ambil selama masa Prapaskah ini untuk menyangkal atau menolak kecenderungan-kecenderungan egosentris yang selama ini telah menghalangi kita untuk keluar bertemu dengan para saudari dan saudara kita yang lain? Kita dapat menyediakan ruangan dalam hati kita bagi Yesus lewat puasa. Kita juga dapat menyediakan waktu yang sedikit lebih panjang daripada biasanya untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci ketimbang waktu untuk menonton televisi. Barangkali kita dapat menyumbangkan sebagian dari “waktu bebas” kita untuk berperan serta dalam kegiatan sosial di tingkat paroki, wilayah atau lingkungan dlsb. Barangkali kita juga dapat pantang marah dan ngomel-ngomel. Apapun kegiatan yang kita pilih, apabila kita memalingkan hati kita kepada Allah, maka sebagaimana diproklamasikan oleh sang nabi, terang kita akan merekah seperti fajar (lihat Yes 58:8).

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berkeinginan untuk menyenangkan-Mu. Anugerahilah kami dengan rahmat-Mu pada masa Prapaskah ini untuk menjinakkan nafsu kami akan hal-hal yang dimaksudkan untuk pemuasan diri kami sendiri, sehingga kami hanya merasa lapar dan haus akan kasih-Mu saja. Transformasikanlah hati kami sehingga yang ada di dalamnya hanyalah kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa surgawi dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-15), bacalah tulisan dengan judul “MARILAH KITA BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA” (bacaan untuk tanggal 24-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yes 58:1-9a), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA YANG KUKEHENDAKI, IALAH ……” (bacaan untuk tanggal 19-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

Cilandak,  25 Januari 2012 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul; Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP ORANG YANG MAU MENGIKUT AKU ……

SETIAP ORANG YANG MAU MENGIKUT AKU ……

(Bacaan Injil, Hari Kamis sesudah Rabu Abu, Kamis 23-2-12) 

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25).

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – sebuah pilihan? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita.

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah sedang mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?

Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri. Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan dengan judul “SIAPA YANG KEHILANGAN NYAWANYA KARENA AKU” (bacaan untuk tanggal 23-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Ul 30:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENGHADAPKAN KEPADAMU PADA HARI INI KEHIDUPAN DAN KEBERUNTUNGAN, KEMATIAN DAN KECELAKAAN” (bacaan untuk tanggal 10-3-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-03 BACAAN HARIAN MARET 2011. 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAMAT MENJALANI MASA PRAPASKAH TAHUN 2012

Cilandak, Hari Rabu Abu, 22 Februari 2012 

Saudari dan Saudari yang dikasihi Kristus, 

Perihal: Selamat menjalani Masa Prapaskah Tahun 2012 

(Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Bacaan Kedua: 2Kor 5:20-6:2) 


“Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah …”
(Yl 2:15-16). “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor 6:2). Dengan ini mulailah kita dengan masa Prapaskah tahun ini. Hari ini, Hari Rabu Abu, adalah awal dari masa Prapaskah. Sekali lagi kita mendengar Allah berseru, “Berbaliklah kepada-Ku …… dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh” (Yl 2:12). Kita tahu bahwa Masa Prapaskah adalah suatu masa puasa dan pertobatan, namun apakah yang pertama-tama dihasrati oleh Allah? “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu …… Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu …” (Yl 2:12,13).

Allah memanggil kita untuk mengoyakkan hati kita – untuk membelahnya sehingga terbuka, bukannya dengan mencoba mengubah hati kita dengan cara kita sendiri. Memang kita melakukan pertobatan secara istimewa dalam masa Prapaskah ini, dan pertobatan juga menyangkut perubahan. Namun demikian tujuannya bukanlah untuk membuat diri kita tanpa-salah. Siapa yang sanggup melakukan hal seperti itu? Dalam kenyataannya, Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak mempertunjukkan tindakan pertobatan kita (lihat Mat 6:1). Allah ingin melihat kita membuat hati kita menjadi lahan subur bagi Roh Kudus, sehingga Dia sungguh dapat mentransformasikan kita secara supernatural, “yang tersembunyi”.

Bagaimana hal ini terjadi? Pada waktu kita memberi sedekah, berdoa dan berpuasa, kita dapat mengundang Roh Kudus untuk berdiam dalam hati kita. Praktek-praktek tradisional ini yang menggunakan hati untuk fokus pada kasih Bapa surgawi dan bukan pengorbanan-pengorbanan kita sendiri akan memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita. Roh Kudus inilah yang akan membuat kita menjadi semakin akrab dengan Yesus dan lebih berbelarasa terhadap orang-orang lain. Sebagai akibatnya, kita pun mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ingatlah himbauan Santo Paulus kepada jemaat di Filipi (Flp 2:5 dsj.). Roh Kudus berkeinginan untuk membuat kita memiliki keyakinan akan kasih Allah. Ia ingin membuat kita berbelas kasih terhadap orang-orang yang membutuhkan belas kasih; dengan gigih melawan dosa, baik dalam diri kita sendiri maupun di dunia sekeliling kita; terbuka bagi mukjizat. Dan semua ini dimulai ketika kita sungguh-sungguh mengoyakkan hati kita, membuka lahan agar Roh Kudus dapat menaburkan benih-benih-Nya.

Sekarang, marilah kita memandang masa Prapaskah ini sebagai sebuah masa rahmat yang berlimpah-limpah. Dalam keheningan hati kita, marilah kita memegang janji Yesus yang diberikan-Nya kepada kita sebanyak tiga kali: “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:4,6,18).

Roh Kudus Allah, kami menyambut kedatangan-Mu pada masa Prapaskah ini. Kami ingin mengoyakkan hati kami masing-masing, agar Engkau mempunyai ruang untuk bekerja dalam diri kami. Amin.

Saudari dan Saudaraku, Selamat menjalani Masa Prapaskah Tahun 2012 !!! Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian!

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA WAKTU AKU BERKENAN, AKU MENDENGARKAN ENGKAU, DAN PADA HARI AKU MENYELAMATKAN, AKU MENOLONG ENGKAU

PADA WAKTU AKU BERKENAN, AKU MENDENGARKAN ENGKAU, DAN PADA HARI AKU MENYELAMATKAN, AKU MENOLONG ENGKAU

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RABU ABU, 22-2-12)

Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul 

Jadi, kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan pengantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman, “Pada waktu Aku berkenan, Aku mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. (2Kor 5:20-6:2)

Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18 

“Kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima. …… Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (1Kor 6:1,2).

Pada hari ini dimulailah “waktu perkenanan” dari Allah. Mulai hari ini, dan selama masa Prapaskah, Bapa surgawi mengundang kita untuk mengambil sejumlah langkah untuk mendekati-Nya sehingga Dia dapat membuat lompatan besar untuk mendekat kepada kita. Untuk beberapa saat, marilah kita menyingkirkan dulu rencana-rencana kita untuk masa Prapaskah dan merenungkan rahmat yang dicurahkan Allah kepada kita pada musim yang istimewa ini. Marilah kita merenungkan rahmat yang mengalir dari Bapa – yang memperkenankan Putera-Nya yang mahasempurna mati di kayu salib guna menebus dosa-dosa kita – agar kita bebas-merdeka dari kuasa dosa.

Sejak saat Ia menciptakan kita, Allah sebenarnya ingin membuka pintu gerbang surga bagi kita – tidak lebih, tidak kurang! Allah ingin agar kasih-Nya dapat dicurahkan dari surga ke atas lahan yang kekeringan. Akan tetapi hati manusia sudah mengeras dan tertutup oleh dosa. Itulah sebabnya, mengapa Yesus (sang Sabda) menjadi seorang manusia dan membawa dirinya ke kayu salib. Dia menebus dosa-dosa kita sebagai individu, juga mematikan sifat kita yang suka memberontak dan mementingkan diri-sendiri. Santo Paulus menulis: “Kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm 6:6).

Allah sungguh ingin membawakan kebebasan ke dalam setiap bagian kehidupan kita. Dia menginginkan agar rahmat-Nya meliputi dan meresap ke dalam keseluruhan diri kita, untuk menghangatkan hati kita dan mentransformasikan pikiran kita. Dia sangat mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita. Dia juga sangat mengetahui kelemahan-kelemahan kita. Dia mengetahui hasrat-hasrat kita yang terdalam – baik ataupun buruk – dan Ia tidak akan menahan apa pun yang baik dari diri kita selagi kita  menghadap-Nya dalam doa. Apabila kita mengakui kelemahan-kelemahan kita – maka ketika kita berdoa, “Tuhan, aku membutuhkan rahmat-Mu! Aku membutuhkan Engkau!” – maka Dia akan menyembuhkan kita dan mengubah kita.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang adalah “waktu perkenanan” itu! Allah mengetahui dosa mana yang paling sulit kita tanggulangi, dan Ia mempunyai semua rahmat yang kita butuhkan untuk meninggalkan dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahkan lebih penting lagi adalah kenyataan yang perlu kita imani dengan sungguh-sungguh, bahwa Allah mempunyai rahmat yang diperlukan untuk melembutkan hati kita dan mengajar kita untuk hidup dalam kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, rahmat-Mu sungguh membuat diriku takjub penuh kekaguman. Engkau senantiasa menunjukkan rahmat-Mu kepada diriku. Tolonglah aku dalam masa Prapaskah ini agar dapat melihat Engkau berlari menyambutku dengan tangan terbuka, seperti dalam “perumpamaan si anak yang hilang”. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yl 2:12-18), bacalah tulisan dengan judul “KOYAKKANLAH HATIMU” (bacaan untuk tanggal 22-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HAWA NAFSU DAN PERSAHABATAN DENGAN DUNIA

HAWA NAFSU DAN PERSAHABATAN DENGAN DUNIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Selasa 21-2-12) 

Dari mana datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Janganlah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata, “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” Tetapi anugerah yang diberikan-Nya kepada kita, lebih besar daripada itu. Karena itu, Ia katakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari hadapanmu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratapan dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. (Yak 4:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23; Bacaan Injil: Mrk 9:30-37 

“Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratapan dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak 4:9-10).

Besok hari Rabu adalah “HARI RABU ABU” , awal dari masa Prapaskah. Saya masih ingat, bahwa  pada hari ini (H minus 1), di Amerika Serikat (New Orleans, kalau tidak salah) diselenggarakan festival besar-besaran yang diberi nama Mardi Gras. Di akhir tahun 1950’an atau awal 1960’an ada sebuah film bagus dengan judul “Mardi Gras” yang dibintangi oleh penyanyi kondang masa itu, Pat Boone. Film itu dengan baik menggambarkan apa dan bagaimana suasana festival itu. Hari festival itu dimaksudkan sebagai suatu hari penuh kegembiraan dan suka-ria, kesempatan terakhir untuk “heboh-heboh” sebelum melakukan puasa, pantang, mati-raga dsb. dst. dalam masa Prapaskah yang cukup lama durasinya itu. Bukankah dengan demikian petikan dari Surat Yakobus di atas (Yak 4:9-10) terasa kurang cocok dengan suasana penuh kegembiraan hari ini? Sebenarnya cukup cocok juga, karena festival Mardi Gras atau/atau sejenisnya (kalau tidak salah ada juga di Brazil) yang diselenggarakan satu hari sebelum dimulainya masa Prapaskah – tentunya yang bebas dari ekses-ekses yang tidak diinginkan – dimaksudkan untuk merayakan kebebasan kita dalam Kristus!

Allah ingin memberikan kepada kita pandangan segar tentang penyangkalan-diri yang akan kita lakukan selama sekitar 6 pekan ini sesuai undangan-Nya. Apakah alasannya sehingga kita mau-maunya mempraktekkan mati-raga dlsb., yang hanya membuat fisik kita lemah dan rentan? Karena mereka yang kuat-kekar tidak memerlukan pertolongan. Akan tetapi, mereka yang lemahlah yang lebih siap untuk datang ke bawah pemeliharaan dan otoritas “seseorang” yang lebih kuat. Hal ini sama benarnya dalam hidup Kekristenan (Kristiani) maupun di mana saja. Mereka yang tahu bahwa diri mereka lemah akan “mendekat kepada Allah” dan dengan penuh sukacita mereka juga akan melihat bahwa “Allah pun akan mendekat kepada mereka” (lihat Yak 4:8)!

Pada waktu segalanya dalam hidup kita berjalan dengan baik, kita cenderung untuk mereduksi –  atau bahkan tidak menghiraukan sama sekali – kebutuhan-kebutuhan kita akan Allah. Kita dapat melontarkan pandangan kita ke sekeliling kita dan berkata, “Aku kuat; aku tidak membutuhkan pertolongan-Nya.” Namun apabila kita berada dalam “padang gurun” pribadi, maka kita menemukan kenyataan betapa diri kita itu lemah dan sangat membutuhkan pertolongan. Jadi, masa Prapaskah memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk melihat kebutuhan kita dan mengembangkan kebiasaan untuk tetap dekat pada Allah. Dengan demikian, ketika kesulitan-kesulitan datang – apakah sedikit demi sedikit atau secara bertubi-tubi – maka kita pun sudah siap menghadapi semua itu karena kita telah belajar menggantungkan diri kepada Allah dan menerima kekuatan dari Dia.

Selama 40 hari mendatang, marilah kita mendalami kesadaran kita akan kasih Allah yang dicurahkan di atas kayu salib di bukit Golgota sekitar 2.000 tahun lalu. Semoga kita dapat lebih melihat lagi bahwa rumah kita yang sejati adalah di surga. Marilah kita bersimpuh di hadapan hadirat Allah dan biarlah memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan mempersiapkan kita untuk tugas-tugas pelayanan apa saja yang direncanakan-Nya untuk kita masing-masing. Oleh karena itu nikmatilah hari Selasa yang indah ini karena besok kita akan mulai memasuki padang gurun dan datang mendekat kepada Allah.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat bertumbuh semakin dekat dengan Engkau, teristimewa dalam masa Prapaskah ini. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengakui bahwa aku sebenarnya lemah dan aku membutuhkan kekuatan-Mu untuk menjalani kehidupan dari hari ke hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan dengan judul “TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA” (bacaan untuk tanggal 21-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012

(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, 18/19 Februari 2012) 

“DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI” 

Para Ibu dan Bapa, Para Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1.  Bersama-sama dengan seluruh Gereja, pada hari Rabu yang akan datang kita memasuki masa Prapaskah. Rasanya pada tahun ini masa Prapaskah tiba amat cepat. Masa Natal yang lalu juga terasa amat singkat, lebih singkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkinkah ini merupakan isyarat bagi kita semua, untuk membaharui semangat dan gaya hidup kita: dari semangat dan gaya hidup yang ditandai pesta-pesta (=masa Natal yang pendek) menuju semangat dan gaya hidup yang semakin terlibat, berbelarasa dan rela bermati raga (=masa Prapaskah yang cepat tiba) demi sekian banyak saudari-saudara kita sebangsa setanah air yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir? Saudari-saudara kita ini karena berbagai macam alasan terpaksa hidup tidak sesuai dengan martabatnya sebagai pribadi manusia, citra Allah. Suatu pertanyaan yang menantang kita semua sebagai murid-murid Yesus Kristus untuk kita jawab secara pribadi, dalam keluarga, komunitas dan bersama-sama sebagai warga Keuskupan Jakarta.

2.  Melalui nabi Yesaya Tuhan bersabda, “Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh … Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:19,20). Sabda ini ditujukan kepada umat Allah Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan. Mereka berada jauh dari tanah air mereka, sangat menderita lahir batin. Dalam keadaan terbuang, sebagian dari mereka berpikir tidak ada gunanya percaya kepada Tuhan karena ternyata Dia tidak bisa membela umat-Nya terhadap musuh yang telah mengalahkan mereka. Selain itu tidak sedikit dari antara mereka yang merasa dosa mereka terhadap Tuhan sudah terlalu besar, sehingga Tuhan tidak akan memberikan kesempatan baru lagi. Namun dalam perjalanan waktu ternyata banyak dari antara mereka yang berhasil merebut kedudukan dalam kehidupan politik, sosial maupun ekonomi. Keberhasilan ini membuat mereka lupa atau tidak mau mengingat lagi bahwa mereka adalah umat terpilih yang seharusnya hidup berdasarkan janji Allah. Secara sederhana bisa dikatakan, ketika mereka mempunyai segala-galanya, mereka kehilangan jati diri dan cita-cita sebagai umat terpilih.

3.  Namun tidak semua warga Umat Allah Perjanjian Lama seperti itu. Dari antara mereka ada sekelompok kecil yang bertahan, dan kendati menderita, iman mereka tidak goyah. Dengan sengaja mereka tidak mengejar keberhasilan lahiriah di tanah pembuangan. Mereka terus membangun hidup di atas dasar janji-janji Allah. Mereka inilah yang disebut “sisa Israel”. Kelompok ini mempunyai sejarah yang panjang. Ketika umat Allah Perjanjian Lama berpaling dari Tuhan dan menyembah berhala, mereka tetap setia (1Raj 19:10,14,18). Ketika mereka dijinkan kembali dari pembuangan – sementara sebagian besar tidak mau menggunakan kesempatan ini karena sudah nyaman tinggal di negeri asing – mereka kembali ke tanah terjanji untuk membangun kembali masa depan mereka di atas puing-puing kehancuran. Kelompok mereka kecil – maka disebut “sisa Israel” – namun mereka yakin bahwa jati diri mereka sebagai umat yang dipanggil secara istimewa oleh Allah, tidak terletak pada penampilan lahiriah, melainkan pada cita-cita dan harapan yang mereka sandarkan pada janji Allah. Mereka ini bagaikan tunggul dan sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (11:1; 53:2). Mereka inilah yang akan menghidupkan kembali harapan baru yang oleh nabi Yesaya disebut dengan kiasan sebagai “jalan di padang gurun … sungai-sungai di padang belantara” (43:19). Mereka ini pulalah yang disebut umat yang “Kubentuk bagi-Ku yang akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (43:21). Dalanm suratnya kepada jemaat di Roma Rasul Paulus menegaskan keberadaan kelompok ini: “Demikian juga pada waktu ini ada tinggal satu sisa, menurut pilihan kasih karunia” (11:5). Dalam bahasa sehari-hari kita sekarang, mereka disebut “komunitas kontras” atau “komunitas alternatif”.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4.  Sebagai murid-murid Kristus, sebagai warga Gereja Katolik, kita pun mempunyai jati diri yang sangat istimewa dan khusus. Jati diri kita adalah Ekaristi, yang kita imani sebagai sumber dan puncak hidup Kristiani (bdk. Lumen Gentium 11). Maksudnya, sebagaimana roti Ekaristi diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagi, kita pun adalah pribadi-pribadi yang dipilih oleh Allah, diberkati agar dapat dipecah-pecah yang dibagi-dibagi bagi dunia. Inilah jati diri kita. Atas dasar keyakinan inilah dirumuskan tema Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta 2012: “Dipersatukan Dalam Ekaristi – Diutus Untuk Berbagi”. Dengan pedoman tema Aksi Puasa Pembangunan ini, kita bersama-sama ingin mewujudkan atau mengaktualisasikan jati diri kita.

5.  Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian. Bagian pembuka mengajak kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari umat manusia yang terpecah-pecah karena dosa. Maka kita mengawali Perayaan Ekaristi dengan mengakui dosa-dosa kita – bukan hanya dosa pribadi kita, melainkan juga dosa umat manusia. Ibadat Sabda memberi kesempatan penuh rahmat kepada kita yang berhimpun untuk membaca dan mengartikan keadaan hidup kita itu dalam terang Sabda Allah. Sabda Allah yang kita dengarkan bukanlah sekedar informasi yang diteruskan (=informatif), melainkan kekuatan yang membangun dan mempersatukan (=formatif dan transformatif). Dengan memasuki Liturgi Ekaristi, kita diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah yang memulihkan segala sesuatu dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Bagian ini bermuara pada komuni – dari kata communio yang secara harafiah berarti persatuan. Itulah buah utama karya penyelamatan Allah, yaitu bahwa kita dipersatukan kembali: yang bermusuhan didamaikan; yang tercerai berai dikumpulkan; yang terpisah dihimpun kembali. Setelah dipulihkan dan dipersatukan, menyusul perutusan, yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi. Kita diutus untuk berbagi kehidupan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

6. Bersama-sama dengan para imam, saya pribadi sangat bersyukur karena boleh melayani umat Keuskupan Agung Jakarta ini. Amat sangat banyak kisah mengenai kerelaan berbagi dan kemurahan hati umat Keuskupan Agung Jakarta dalam berbagai wujudnya: baik yang ditulis maupun tidak ditulis, baik yang diceritakan ataupun tidak diceritakan, baik yang ditujukan kepada umat sendiri ataupun masyarakat yang lebih luas, baik untuk keperluan-keperluan di Keuskupan Agung Jakarta sendiri maupun bagi wilayah-wilayah gerejawi yang lain yang tersebar di seluruh nusantara, baik yang dijalankan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Peranan para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Frater/adik-adik kaum muda, anak-anak dan remaja dalam hal ini ikut menentukan wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta: Gereja yang memancarkan kasih, kebaikan dan kemurahan hati Allah. Terima kasih tak terhingga atas kebaikan, kemurahan hati dan kerelaan Anda sekalian untuk berbagi kehidupan.

7.   Sementara itu kita semua tahu bahwa peran seperti ini tidak akan pernah selesai kita jalankan dan menantang kita semua untuk semakin kreatif mencari bersama-sama bentuk-bentuknya yang baru. Semoga semangat Ekaristi  yang kita gali dan dalami selama Tahun Ekaristi ini memberikan inspirasi dan kekuatan kepada kita semua untuk membangun jati diri kita sebagai “komunitas Ekaristis”, “komunitas alternatif” atau “komunitas kontras” yang terus berkembang karena dipersatukan dalam Ekaristi dan diutus untuk berbagi. Semoga dengan demikian kita sungguh menjadi umat yang selalu memberitakan kebaikan dan kasih Allah (bdk. Yes 43:21). Semoga berkat kekuatan Allah kita berkembang dalam kemurahan hati dan kerelaan berbagi yang – siapa tahu – membuat orang lain akan berkata, “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Salam dan semoga Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas Anda selalu dilimpahi berkat, perlindungan dan damai sejahtera.

Jakarta, Februari 2012

Ttd.

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Catatan: Disalin oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari edaran tercetak yang dibagikan di gereja-gereja dalam wilayah KAJ pada tanggal 18/19 Februari 2012.

KITA DIPANGGIL UNTUK MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

KITA DIPANGGIL UNTUK MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII, Senin 20-2-12) 

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29)

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Setiap saat dalam kehidupan-Nya, Yesus menaruh kepercayaan seperti anak-anak dalam Bapa di surga secara radikal. Ketergantungan-Nya kepada Bapa memberikan kepada-Nya kuasa untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa.

Markus menempatkan mukjizat (yang dibuat oleh Yesus atas diri anak yang dirasuki roh jahat) itu dalam konteks yang lebih luas perjalanan-Nya ke Yerusalem, suatu “perjalanan pemuridan” (journey of discipleship: Mrk 8:31-10:52) yang sarat dengan pengajaran-pengajaran Yesus bagi para murid-Nya pada waktu itu dan hari ini juga. Peristiwa itu tidak hanya menunjukkan otoritas Yesus, melainkan juga mengungkapkan satu dimensi yang lain lagi dari kemuridan/pemuridan. Tatkala ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu mendekati Yesus, ia mengungkapkan pengharapannya yang sudah tergoncang dan hampir habis, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Yesus menantang sikap orang itu dengan sebuah janji: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Ini merupakan sebuah undangan untuk ikut ambil bagian dalam rasa percaya Yesus sendiri kepada Bapa surgawi. Tanggapan orang itu merupakan sebuah contoh bagi semua orang Kristiani yang sedang bergumul dengan iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Karena orang itu dengan jujur menanggapi sabda Yesus, maka Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Sebagai tambahan dari pelajarannya mengenai iman, cerita ini juga menggemakan sesuatu yang bernuansa eskatologis. Dalam cerita ini diindikasikan adanya ketegangan antara dua aspek kerajaan Allah, yaitu aspek kerajaan Allah yang “sudah ada sekarang” dan aspek kerajaan Allah “yang belum/akan datang”. Kita masih ingat, bahwa sebelum itu kedua belas murid-Nya telah diberi amanat oleh Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat (lihat Mrk 6:13). Akan tetapi, kali ini mereka gagal dalam upaya mereka untuk mengusir roh jahat keluar dari anak itu (Mrk 9:18). Yesus menjelaskan: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jadi, di sini Yesus mengindikasikan bahwa para murid perlu bertumbuh dalam kepercayaan, walaupun mereka telah mengalami sebagian dari pemerintahan Allah. Markus menginginkan para pembaca Injilnya untuk menyadari, bahwa seperti kedua belas murid, mereka dipanggil untuk mengembangkan suatu iman yang matang (dewasa) selagi mereka menantikan kedatangan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.

Tulisan Markus ini juga menggemakan kebangkitan Yesus. Setelah dibebaskan dari kuasa roh jahat, anak itu kelihatan seperti orang mati (lihat Mrk 9:26). Kemudian Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya (lihat Mrk 9:27). Para pakar Kitab Suci mengatakan, bahwa terminologi dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Markus merupakan suatu pertanda dari kebangkitan Yesus dan merujuk kepada satu aspek lagi dari kemuridan/pemuridan: Orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat merasa tak berdaya (powerless) dan seakan sudah kehilangan kehidupan (lifeless), tetapi bahkan mulai sekarang juga, Yesus membebaskan kita dan mengangkat kita kepada hidup baru, suatu pekerjaan yang akan dipenuhi pada hari terakhir kelak.

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan dengan judul “IMAN DAN DOA” (bacaan untuk tanggal 20-2-12), dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT!

YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VII, 19-2-12) 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 43:18-19,21-22,24b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 41:2-5,13-14; Bacaan Kedua: 2Kor 1:18-22

Sepanjang karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus secara tetap mencari kesempatan-kesempatan untuk mengajar dan mewartakan pesan dan misi-Nya kepada orang banyak. Pada banyak kesempatan Ia menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang menimpa umat manusia, baik fisik, kejiwaan maupun rohaniah.

Yesus menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa ilahi atas dosa dan mampu mengalahkan segala kuasa kegelapan. Dia ingin mereka mengetahui bahwa diri-Nya dapat mengampuni dosa-dosa, karena memang mempunyai hak untuk itu. Salah satu ceritanya dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.

Mukjizat penyembuhan oleh Yesus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Kapernaum, basis operasi Yesus dan para murid-Nya. Seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Yesus melihat iman orang-orang yang menggotong si lumpuh ke TKP dan tentunya iman si lumpuh sendiri. Kemudian Ia berkata kepada si lumpuh: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  (Mrk 2:5). Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?”  (Mrk 2:6-7).  

Inti cerita dalam bacaan ini terfokus pada otoritas Yesus untuk mengampuni dosa-dosa, sebuah pokok masalah yang diungkapkan oleh ketidaksetujuan sejumlah ahli Taurat yang hadir (lihat Mat 9:3). Para ahli Taurat itu menghakimi (dalam hati mereka) bahwa Yesus telah menghujat Allah. Meskipun masih dalam hati, Yesus mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka dan bertanya kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” (Mrk 2:8-10). Kemudian Yesus berkata kepada si lumpuh: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikdarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:10-11). Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia memiliki kuat-kuasa ilahi untuk menyembuhkan manusia secara instan. Tentunya Dia juga mempunyai kuat-kuasa untuk mengampuni dosa. Keduanya mensyaratkan kuasa ilahi.

Sekali lagi: penyembuhan si lumpuh bukan saja merupakan bukti dari klaim Yesus, melainkan juga sesungguhnya merupakan sebuah manifestasi yang kasat mata dari kuat-kuasa-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana halnya dengan kasus eksorsisme, pelepasan dari kuasa jahat: dosa dan sakit-penyakit saling berkaitan – namun tidak perlu selalu dalam artian bahwa sakit-penyakit seseorang merupakan suatu penghukuman atas dosa pribadinya, melainkan sebagai gejala-gejala berbeda dari maut yang merusak ciptaan. 

Reaksi orang banyak adalah ketakjuban,  lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia (Mrk 2:12), kelihatannya ingin mengatakan bahwa cerita mukjizat ini juga menunjukkan kuasa untuk mengampuni yang diberikan kepada komunitas Kristiani (lihat Mat 18:18). Kuasa untuk mengampuni dosa ada di dalam Gereja (lihat Yoh 20:22-23) – dalam Sakramen Rekonsiliasi dan juga dalam tindakan-tindakan pengampunan yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap dunia yang memusuhi mereka. Dari waktu ke waktu kita harus bertanya, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Pengampunan Dosa (Sakramen Tobat/Sakramen Rekonsiliasi) ini dengan cukup wajar? Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tanda bahwa Gereja masih terus melanjutkan pelayanan penyembuhan dari Yesus. Bukankah begitu? 

DOA: Tuhan Allah kami, Engkau telah banyak sekali mengampuni kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk menjadi pembawa damai di dalam dunia yang telah terkoyak-koyak oleh berbagai macam kekerasan dan permusuhan. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi murid-murid Yesus yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan dengan judul “BANGUNLAH, ANGKATLAH TIKARMU DAN BERJALANLAH!” (bacaan untuk tanggal 19-2-12), dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  24 Januari 2012 [Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.