HARUSLAH KAMU SEMPURNA

HARUSLAH KAMU SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 18 Juni 2013)

RABI DARI NAZARET - 1Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2.5-9

“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).

Allah memanggil kita kepada kekudusan. Ia menghendakinya dan memberikan kepada kita suatu “model” yang indah dalam diri Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus, dan memberdayakan kita oleh Roh Kudus. Bapa mengundang kita menjadi serupa dengan diri-Nya, sempurna dalam kasih. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16). Ia menciptakan setiap orang karena kasih dan dengan tujuan kita akan menjadi sempurna selagi kita ikut ambil bagian dalam hidup ilahi-Nya.

Seorang pendeta di abad ke-19 pernah menulis bahwa “belarasa dan belas kasih Allah adalah kemuliaan dari keberadaan-Nya. Allah menciptakan kita seturut gambar dan rupa-Nya, untuk menemukan kemuliaan kita dalam suatu kehidupan kasih dan belas kasih serta perbuatan baik” (Andrew Murray, God’s Gift of Perfection). Di mata Allah, kesempurnaan itu tidak begitu berurusan dengan suatu kondisi “tanpa cacat” diri kita, melainkan berurusan dengan kemampuan kita untuk mengasihi setiap orang, bahkan musuh-musuh kita.

Allah tidak hanya mengedepankan tantangan kepada kita untuk menjadi sempurna, melainkan juga memberikan kepada kita Yesus sebagai suatu “model” kesempurnaan yang diminta-Nya dari kita. Di mata Allah, kesempurnaan itu berkaitan dengan keterbukaan seseorang untuk menerima kasih-Nya dan kemauan orang itu untuk mensyeringkan kasih dan belas kasih-Nya dengan siapa saja yang dijumpainya. Dapatkah kita sampai melupakan pembuktian cintakasih paling besar yang diberikan oleh Yesus selagi Dia memanggul salib-Nya menuju bukit Kalvari dan kemudian mendoakan para musuh-Nya dari atas kayu salib itu? Selagi tergantung di kayu salib, Yesus bahkan memohon kepada Bapa di surga untuk mengampuni mereka yang telah menyalibkan diri-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Panggilan untuk menjadi sempurna dapat kelihatan tidak mungkin apabila kita hanya mengandalkan kemampuan atau kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Allah ingin agar kita mengetahui bahwa oleh kuat-kuasa Roh Kudus sajalah kita dapat menjadi cerminan Yesus, Putera Allah yang sempurna. Selagi Roh Kudus masuk ke dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan “dipaksa” untuk mempraktekkan belarasa, pengampunan dan cintakasih, jadi tidak hanya sebatas ucapan kata-kata. Kita hanya perlu memohon kepada Tuhan Allah untuk diberikan rahmat ini. Kita hanya perlu bertobat apabila kita jatuh ke dalam dosa dan gagal mengasihi. Kita hanya perlu berseru kepada Roh Kudus guna memohon pertolongan-Nya pada saat kita melihat ketidakmampuan diri kita untuk menjadi sempurna seturut panggilan Bapa. Kita harus percaya bahwa Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan.

DOA: Bapa surgawi, kami tidak mau takut menanggapi panggilan-Mu untuk menjadi sempurna. Kami menyadari bahwa hanya apabila kami bersatu dengan Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kami – maka kami akan mampu untuk mengasihi semua orang, bahkan mereka yang memusuhi kami. Oleh Roh Kudus-Mu, kuatkanlah hasrat kami untuk meneladan kesempurnaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA” (bacaan tanggal 18-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 19-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 10 Juni 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKTI CINTAKASIH YANG PALING AGUNG

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

BUKTI CINTAKASIH YANG PALING AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 17 Juni 2013)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42)

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mendesak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Hal ini merupakan suatu “kejutan” yang lengkap selengkap-lengkapnya karena secara total bertentangan dengan dengan “Hukum Pembalasan” yang terdapat dalam Perjanjian Lama (lihat Kel 21:24; Im 24:20: Ul 19:21). Hukum kasih yang diajarkan Yesus ini seharusnya menjadi stempel kita, umat Kristiani.

Pernah ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat Perjanjian Lama ini seakan hanya diberlakukan pada “si Jahat” atau “hal-hal yang jahat” saja, bukannya kepada manusia yang mendzolimi kita. Namun kata-kata Yesus sangatlah jelas. Ia memberikan empat macam peristiwa sebagai contoh bagaimana orang-orang dapat menyakiti kita. Pertama-tama lewat kekerasan secara fisik. Dalam hal ini Yesus mengajar kita untuk tidak membalas, melainkan menanggungnya (Mat 5:39). Kedua, Yesus memberi contoh berkaitan tentang tindakan di bidang hukum: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Di mata orang Yahudi, “jubah” mempunyai makna yang sangat penting, yaitu “dirinya sendiri” (lihat Kel 22:26). Lihat pula apa yang dilakukan oleh Bartimeus yang buta ketika para murid Yesus memanggilnya untuk bertemu Yesus: dia melemparkan jubahnya! (Mrk 10:50). Seseorang harus meninggalkan “dirinya sendiri” (egonya dll.) ketika memutuskan untuk menghadap Yesus. Di sini (Mat 5:40) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya memberikan apa yang secara ilegal telah diambil dari kita, akan tetapi bahkan juga memberikan lebih lagi, yaitu diri kita sendiri, sikap pasrah … ikhlas. Ketiga, dalam hal paksa-memaksa (misalnya dalam hal pekerja paksa): “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat 5:41). Ajaran Yesus ini kemudian dipakai dalam dunia bisnis: WALKING THE EXTRA MILE adalah salah satu butir panduan mendasar dalam melakukan adhi-layanan kepada para pelanggan di service industry, misalnya industri perbankan, asuransi dll.). Akhirnya, yang keempat: Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan, janganlah kita menolak orang yang mohon bantuan dan mau meminjam dari kita, apakah kawan ataupun lawan.

Yesus kemudian menjelaskan mengapa “mengasihi musuh-musuh kita” begitu penting. Ia mengatakan, bahwa ini adalah bukti bahwa kita adalah “anak-anak Bapa surgawi, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Mengasihi para teman dan sahabat kita, mereka yang bersikap dan memperlakukan kita dengan baik adalah hal yang sangat mudah. Namun hal tersebut tidak membuktikan apa pun perihal sikap Kristiani kita. Orang-orang yang tidak mengenal Allah juga melakukannya (Mat 5:47). Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, tidak mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang baik kepada kita bukannya merupakan cintakasih yang sejati. Namun Ia mau mau menandaskan bahwa bukti riil dari cintakasih yang sejati adalah jikalau kita mengasihi dengan setulus-tulusnya mereka yang senantiasa menyakiti hati kita, mereka yang selalu tidak menghargai kita dlsb. Di sinilah kita memberi kesaksian bahwa cintakasih kita didasarkan secara kokoh pada kehendak Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepada kami contoh terbaik bagaimana kami harus mengasihi musuh-musuh kami: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU MELAWAN ORANG YANG BERBUAT JAHAT KEPADAMU” (bacaan tanggal 17-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 18-6-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 9 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA X]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI

HANYA DIALAH YANG PANTAS MENGHAKIMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI [Tahun C] – 16 Juni 2013)

KAKI YESUS DIBERSIHKAN - 1Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus di dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya. “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya. “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!”

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 7:36-8:3)

Bacaan Pertama: 2Sam 12:7-10,13; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,7,11; Bacaan Kedua: Gal 2:16,19-21

Dalam Injilnya, Lukas menceritakan Yesus yang suka makan bersama di rumah orang yang berbeda-beda, paling sedikit sebanyak tujuh kali. Ada makan-makan di rumah Matius (Lewi) bersama-sama para pemungut cukai; menginap di Yerikho di rumah Zakheus, sekali-sekali makan dengan Maria dan Marta di Betania, dst. Pada bacaan Injil hari ini diceritakan bahwa Yesus diundang makan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Tidak ada catatan mengenai makanan yang disajikan dalam perjamuan-perjamuan ini, karena fokusnya adalah apa yang terjadi antara Yesus dan tuan rumah yang mengundang-Nya.

Perjamuan makan kali ini mengambil tempat di Galilea. Kelihatannya Simon si Farisi mempunyai beberapa pertanyaan yang akan ditujukannya kepada Yesus, maka dia mengundang Yesus untuk makan di rumahnya, cukup jauh dari kerumunan orang banyak. Namun sikap bersahabat dari Simon ternyata cetek-cetek saja …… superfisial! Ini kelihatan jelas dalam hospitalitas dan kesopan-santunannya terhadap Yesus, sang tamu yang diundangnya. Sampai hari ini masih berlaku aturan di Timur Tengah bahwa seorang tamu harus dilayani dengan cara yang paling baik. Bilamana persahabatan itu jujur, maka orang tidak perlu gelisah atau merasa susah tentang hal ini karena semua itu akan datang dengan sendirinya …… secara alamiah. Simon kelihatannya lebih berprihatin terhadap dirinya sendiri daripada terhadap Yesus.

KAKI YESUS DIBERSIHKAN - 3Tanpa ada peringatan atau pengumuman sebelumnya, seorang perempuan tanpa nama dengan reputasi buruk memasuki rumah Simon dan duduk di dekat Yesus. Etiket yang berlaku tidak memperbolehkan Simon untuk mengusir perempuan itu. Demikian pula dengan Yesus, karena perempuan itu telah membawa sebuah hadiah bagi-Nya berupa minyak narwastu mahal dan meminyaki kaki Yesus. Perempuan itu menjadi begitu emosional dalam kehadiran Yesus, sehingga airmatanya berjatuhan di atas kaki Yesus. Dengan hati-hati perempuan itu menyeka air matanya dengan rambutnya dan mencium kaki Yesus. Semua yang terjadi secara tidak seperti biasanya itu menunjukkan afeksi sejati dari si perempuan, suatu ekspresi kasih penuh syukur yang ditujukannya kepada Yesus – berbeda sekali dengan apa yang dapat kita katakan tentang Simon si tuan rumah.

Kita tidak tahu apakah perempuan ini seorang PSK lokal atau hanya seorang perempuan miskin yang berasal dari keluarga miskin, atau bahkan apa sebabnya mengapa dia sampai begitu berterima kasih kepada Yesus dengan rasa penuh syukur. Barangkali Yesus telah membantu perempuan itu dengan pemberian nasihat yang tepat waktu dan tepat sasaran, atau memberikan berkat penuh pengampunan kepadanya. Dalam kerahasiaan pikirannya sendiri, Simon memandang rendah, baik perempuan itu maupun Yesus. Perempuan itu dicapnya sebagai seorang pendosa dan Yesus sebagai seorang nabi palsu. Akan tetapi, Simon secara otomatis menuduh dirinya sendiri – karena begitu dia menuduh Yesus sebagai seorang nabi abal-abal, Tuhan Yesus telah membaca pikiran si Simon yang tidak jernih itu. Kalau saja pikiran si Simon itu lebih positif, maka Yesus akan memberikan penilaian yang lebih baik atas dirinya. Perumpamaan kecil yang dikemukakan oleh Yesus menempatkan diri Simon dalam posisi defensif. Ia harus menerima bahwa dirinya adalah seorang pendosa yang tidak mau mengampuni orang lain. Simon hanya memberikan sepersepuluh dari kasih yang diberikan oleh perempuan itu, dengan demikian hanya menerima sepersepuluh dari pengampunan.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) berhati-hati dalam menghakimi “orang-orang berdosa” dalam lingkungan kita yang kita katakan mereka pasti dihukum oleh Allah. Kita semua menderita penyakit “Simonitis” – yang dapat dikenali lewat gembar-gembor penuh “khidmat” tentang penghakiman Allah sambil mengacung-acungkan Kitab Suci, membuat daftar panjang nama-nama para pendosa di dunia, dan dengan suara nyaring menyatakan dan memuji-muji kebenaran kita sendiri. Ingatlah, bahwa karena kita telah banyak diampuni, maka dari kita juga diharapkan kasih yang sepuluh kali lipat banyaknya. Apakah Yesus akan disambut dengan penuh hormat dalam rumah kita masing-masing? Dapatkah Yesus merasa rileks dan penuh damai bila diam dalam hati kita masing-masing?

DOA: Tuhan Yesus, nanti apabila aku ingin menghakimi orang lain, perkenankanlah aku mengingat siapa yang sesungguhnya sedang dicoba – orang itu atau aku sendiri – dan Siapakah Dia, sang Hakim yang benar, pantas dan mahatahu, dan hanya Dialah yang pantas menghakimi. Tuhan Yesus, kasihanilah aku orang berdosa ini! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-8:3), bacalah tulisan yang berjudul “IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU” (bacaan tanggal 16-6-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-06 BACAAN HARIAN JUNI 2013.

Cilandak, 9 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA X]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INTEGRITAS KITA AKAN BERBICARA SENDIRI!

INTEGRITAS KITA AKAN BERBICARA SENDIRI!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa X – Sabtu, 15 Juni 2013)

KHOTBAH DI BUKIT - 501Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37)

Bacaan Pertama: 2Kor 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12

Standar-standar kebenaran yang ada dalam Injil untuk kita hayati sungguh dapat mengecilkan hati kita! Hal ini benar teristimewa dalam kasus “Khotbah di Bukit”. Ketika kita mendengar sabda Yesus berkaitan dengan memegang sumpah dan melanggar sumpah, kita dapat saja memandangnya sebagai suatu ketidakmungkinan untuk taat kepada apa yang dikatakan Yesus itu – dan hal ini benar jika kita mengandalkan kekuatan dan kebaikan kita sendiri. Akan tetapi, Yesus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal dalam diri kita, menguduskan kita, dan membuat kita semakin serupa dengan diri-Nya.

Selagi kita mengasihi Yesus dan tetap berada dekat dengan diri-Nya setiap hari, maka kita akan mengalami kasih Allah yang mempunyai daya untuk mentransformasikan diri kita. Hidup Yesus akan mengalir ke dalam diri kita dan melalui kita, dan “tuntutan-tuntutan” Yesus terhadap kita pun tidaklah akan kelihatan sedemikian tidak mungkinnya. Kita akan sampai pada titik di mana kita akan memahami dan percaya secara mendalam bahwa Yesus akan memberikan kita rahmat yang diperlukan untuk menghadapi segala macam situasi kehidupan. Jadi, kita tidak akan berputus-asa ketika mencoba – dengan jatuh-bangun – mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita.

Kita dapat menaruh kepercayaan pada kemampuan Roh Kudus untuk memurnikan diri kita dari pikiran mendua, rasa curiga dan tipu-daya. Selagi kita semakin dekat dengan Yesus, kita pun dapat menjadi begitu murni dalam hati sehingga tidak perlu lagi bagi kita untuk bersumpah. Integritas kita akan berbicara sendiri! Dapatkah kita membayangkan seseorang memerintahkan Ibu Teresa dari Kalkuta untuk bersumpah – teristimewa berkaitan dengan integritas karya pelayanannya?

Apakah Saudari-Saudara percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi atas diri anda? Apakah anda percaya bahwa Allah dapat bekerja dalam hidup anda dengan tingkat kedalaman yang sama? Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seperti dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Jadi, selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan bertobat atas dosa-dosa kita, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah yang menyembuhkan. Hanya Dia yang dapat membentuk nurani kita sampai titik di mana kita secara naluriah dapat menghindarkan diri dari godaan-godaan untuk menipu orang-orang lain. Dan selagi terang kesaksian hidup kita menyinari orang-orang lain, mereka akan memuliakan Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita (lihat Mat 5:16).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “Amin” dari Allah (2Kor 1:15-22), satu-satunya pengharapan kami untuk kejujuran dan rasa percaya dalam dunia ini. Oleh Roh Kudus-Mu, bersihkanlah kami dari segala pikiran mendua. Buatlah kami menjadi mercu-mercu suar yang terang bercahaya dari kuat-kuasa Injil-Mu sehingga dengan demikian dunia dapat percaya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 5:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI UTUSAN-UTUSAN-NYA” (bacaan tanggal 15-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013.

Cilandak, 8 Juni 2013 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS

SALAH SATU DARI KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Biasa X – Jumat, 14 Juni 2013)

The Sermon on the MountFra Angelico, c. 1440

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh di campakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.” (Mat 5:27-32)

Bacaan Pertama:2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:10-11,15-18

Tentunya kata-kata keras Yesus ini sangat mengganggu banyak pendengar-Nya, teristimewa mereka yang membanggakan diri akan kemampuan mereka untuk mentaati hukum Allah. Namun sekarang Yesus membuat hukum itu menjadi lebih keras bagi mereka. Hukum yang berlaku tidak pernah secara khusus melarang seseorang untuk “berfantasi yang bukan-bukan”! Bukankah sudah cukup apabila seseorang tidak sampai melakukan apa yang difantasikannya – tak peduli bagaimana orang itu menikmati fantasinya tersebut?

Pentinglah bagi kita untuk memahami bahwa hukum Musa tidak pernah dimaksudkan untuk membuat orang menjadi benar. Orang-orang Yahudi memahami bahwa relasi mereka dengan YHWH dalam ikatan perjanjian merupakan suatu karunia yang sangat berharga. Dengan demikian, hukum dimaksudkan sebagai tanggapan kasih umat terhadap Allah yang telah memberikan segala berkat dan karunia kepada mereka dengan kemurahan hati. Akan tetapi pada zaman kita – seperti juga pada zaman Yesus masih hidup di atas bumi – banyak orang melakukan pendekatan terhadap “Sepuluh Perintah Allah” seakan peraturan perpajakan: untuk mencari aman kita berlindung di balik kata-kata hukum yang tersurat namun pada saat yang sama mencari “peluang” untuk sedapat mungkin menghindari pajak itu.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus menunjukkan hasrat mendalam dari Allah untuk mengubah disposisi-disposisi batiniah kita. Ia ingin menyembuhkan kita dari segala efek dosa dan memenuhi diri kita dengan damai-sejahtera-Nya dan kekuatan-Nya. Inilah alasan kedatangan Yesus ke tengah dunia, yaitu agar Ia dapat menggenapi nubuat nabi Yehezkiel, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yeh 26:25-27).

Janji Injil itu memang luarbiasa indahnya: Kita dapat belajar untuk mengasihi semurni yang dilakukan oleh Yesus! Tidak ada sikap mementingkan diri sendiri atau “pamrih” dalam cintakasih Yesus kepada kita. Apabila kita menerima kemurnian-Nya maka hal tersebut dapat menolong kita memahami secara lebih mendalam kasih Yesus kepada mempelai-Nya, Gereja. Dengan sukacita yang besar, Ia berupaya terus untuk mempersatukan kita dengan diri-Nya sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Yesus, sang Pencinta jiwa-jiwa manusia, sungguh rindu untuk memberikan kepada kita segala sesuatu yang dimiliki-Nya, bahkan keilahian-Nya. Hari demi hari, Yesus berupaya terus untuk memenuhi diri kita dengan kasih yang lebih mendalam dan juga rasa hormat terhadap segala ciptaan Allah, teristimewa kesucian hidup manusia.

DOA: Bapa surgawi, melalui pembaptisan Engkau telah memberikan kepada kami masing-masing sebuah hati yang baru. Jika kami masih juga jatuh ke dalam dosa, semoga kami dengan cepat berbalik kepada-Mu dalam Sakramen Rekonsiliasi. Pimpinlah kami ke dalam rasa hormat yang penuh dan utuh kepada tubuh kami sendiri dan bebaskanlah dunia ini dari keterikatannya pada nafsu. Semoga kasih-Mu seperti dicontohkan Yesus senantiasa tetap berjaya dalam diri kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBAWA KEMATIAN YESUS DALAM TUBUH KITA” (bacaan tanggal 14-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013.

Cilandak, 8 Juni 2013 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH BERDAMAI DAHULU DENGAN SAUDARAMU

PERGILAH BERDAMAI DAHULU DENGAN SAUDARAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam-Pujangga Gereja – Kamis, 13 Juni 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

JESUS PREACHING TO THE PEOPLEAku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26)

Bacaan Pertama: 2Kor 3:15-4:1,3-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

“… tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:24). Ini adalah salah satu perintah Kristus yang keras! Namun demikian, baiklah kita mundur satu langkah dan memandang gambaran yang lebih luas. Sudah beberapa hari ini kita telah membaca Khotbah di Bukit – khotbah di mana Yesus meringkas hakikat dari hidup Kekristenan (Kristiani). Pada bacaan Injil hari ini, kita masih berada dekat dengan awal dari Khotbah di Bukit itu. Jadi, adalah sesuatu yang signifikan mengapa Yesus tidak menanti lama-lama untuk mulai berbicara mengenai pertobatan, pengampunan dan rekonsiliasi. Mengapa? Karena Allah rindu untuk melihat umat-Nya menjadi satu.

Selagi Yesus mengajar para murid-Nya tentang kehidupan dalam Kerajaan Allah, Dia membuat jelas bahwa memenuhi hukum-hukum Kerajaan ini haruslah dengan mempraktekkan pengampunan. Ia ingin kita tidak hanya memeriksa hati kita di hadapan Allah, melainkan juga berupaya untuk berdamai satu sama lain. Ia mengetahui, bahwa semakin kita bersatu, maka semakin berdamai pula kita dengan Allah dan satu sama lain, dan semakin bebas pula berkat-berkat Allah dapat mengalir tanpa halangan karena penolakan atau iri hati.

Menjelang kedatangan milenium yang baru, pada paruhan kedua tahun 1990an, almarhum Paus Yohanes Paulus II cukup sering berbicara mengenai berkat-berkat yang ingin Allah curahkan kepada umat-Nya. Sri Paus percaya bahwa kita telah memasuki suatu “musim semi besar” yang bersumber pada takhta Allah, sebuah era di mana kita diundang untuk mengalami sukacita yang berasal dari pengampunan dan rekonsiliasi. Allah berjanji bahwa apabila kita sungguh hidup bersaudara satu sama lain dalam kasih Kristus, maka kita akan mengalami pencurahan kasih ilahi yang tidak kalah kuatnya dengan “hujan lebat” yang disaksikan sendiri oleh orang-orang Israel setelah bertahun-tahun lamanya mengalami kekeringan dan kelaparan (1Raj 18:41-46).

Dengan demikian kita senantiasa harus memeriksa relasi-relasi kita. Misalnya, apakah kita (anda dan saya) masih memendam akar kepahitan dalam diri kita: menyimpan kebencian, dendam dan sejenisnya terhadap seorang anggota keluarga kita sendiri? Untuk itu kita harus mengambil inisiatif untuk mengampuninya. Apakah ada seorang rekan kerja (apakah dia atasan, kolega yang setara, atau bawahan anda, dll.) yang selalu kita hindari selama ini? Kalau jawabannya positif “ya”, maka marilah kita memohon pertolongan Allah agar dapat menolong diri kita memahami motif-motif kita dan mencoba menemui orang bersangkutan. Apakah hati kita pernah sangat disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Untuk itu, marilah kita menghadap hadirat Allah dalam doa dan memohon kepada-Nya agar diberikan kekuatan untuk mengampuni dan memulihkan relasi yang sudah rusak-berantakan antara kita dan orang itu. Semuanya itu kelihatan begitu tidak mungkin, namun di mana rekonsiliasi dan kesatuan disambut dengan baik oleh semua pihak, maka berkat-berkat Allah pun dapat mengalir dengan penuh kuat-kuasa. Ingatlah bahwa “… segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27; bdk. Luk 1:37).

ANTONIUS DARI PADUA - 1Santo Antonius dari Padua [1195-1231]. Pada hari ini tanggal 13 Juni, Gereja memperingati dan keluarga besar Fransiskan merayakan pesta orang kudus ini yang lahir di Portugal dan meninggal dunia di dekat Padua, Italia. Antonius (nama aslinya adalah Fernandez) adalah seorang anak laki-laki tunggal dari sebuah keluarga bangsawan kaya yang kemudian masuk biara Agustinian di Lisboa dan belajar di Universitas di Coimbra. Sebagai seorang imam Agustinian dia sempat berkenalan dengan beberapa orang Saudara Dina (Fransiskan) yang kemudian menjadi proto-martir Ordo Fransiskan. Mereka mati dibunuh di tangan orang-orang Muslim di Afrika. Menyaksikan semua itu, romo muda itu kemudian bergabung dengan Ordo Saudara Dina yang belum lama didirikan oleh Fransiskus dari Assisi. Niatnya untuk menjadi martir Kristus di Afrika tidak kesampaian karena ternyata kehendak Allah memang lain. Perbedaan antara dirinya dengan sang pendiri ordo, adalah bahwa romo muda ini terdidik dan memang pandai. Bahkan, Fransiskus menyapanya sebagai “Uskup-ku”. Kesamaan yang jelas-nyata antara kedua pribadi orang kudus ini adalah ketaatan mereka pada kehendak Allah dan kasih mereka yang mendalam kepada Allah dan sesama. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal “kebosanan” dalam mengikuti jejak Kristus. Banyak sekali mukjizat dibuat Santo Antonius dari Padua selama masa hidupnya, demikian pula setelah kematiannya. Tidak jarang orang banyak lebih mengenal Santo Antonius dari Padua daripada Bapak Rohaninya sendiri, Santo Fransiskus dari Assisi. Seperti Yesus, Antonius meninggal dunia dalam usia muda. Dia dinyatakan kudus oleh Gereja hanya satu tahun setelah wafat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami persembahkan kepada-Mu segala relasi yang terluka antara diri kami dengan saudari-saudara kami. Kami sungguh mendambakan perdamaian dengan mereka semua. Tunjukkanlah kepada kami jalan pengampunan dan kebebasan. Sembuhkanlah luka-luka yang ada, baik yang kami sebabkan atas diri mereka maupun yang kami terima dari saudari-saudara kami itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI, MENGASIHI, MENGASIHI !!!” (bacaan tanggal 13-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KITA ADALAH SAUDARI DAN SAUDARA SATU SAMA LAIN” (bacaan tanggal 14-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “BERDAMAILAH DENGAN SAUDARAMU” (bacaan tanggal 26-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 3 Juni 2013 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk., Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS MENARIK KITA KEPADA BAPA

YESUS KRISTUS MENARIK KITA KEPADA BAPA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Minggu Biasa X – Rabu, 12 Juni 2013)

OFMConv./Ordo S. Clara/OFM Cap.: Peringatan B. Yolenta, Florida, dkk. Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

KHOTBAH DI BUKIT- 10“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)

Bacaan Pertama:2Kor 3:4-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-9

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Memang mudahlah bagi kita untuk tidak melihat, malah mengabaikan berkat-berkat Allah yang ditujukan kepada kita. Misalnya, kita dapat memandang hukum Musa/Taurat sebagai aturan yang terlalu banyak menuntut, yang mengarahkan orang kepada suatu jenis “kebenaran” yang tidak seorang pun akan berhasil mencapainya. Akan tetapi sang pemazmur dengan jelas mengatakan: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN (YHWH), dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mzm 1:1-3). Jadi, sejatinya Hukum Taurat dimaksudkan sebagai suatu sumber kebahagiaan dan kehidupan, namun seringkali disalahpahami sebagai serangkaian perintah yang membebani kehidupan manusia. Sebenarnya yang ada dalam pikiran Allah jauh lebih besar daripada sekadar perintah-perintah untuk melakukan dan tidak melakukan (Inggris: do’s and don’ts) sesuatu tindakan.

Yesus Kristus, Putera Allah, datang ke tengah dunia untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Kita mengetahui bahwa suatu pesan rahasia dapat dipahami jikalau kita mampu memecahkan kode yang tersembunyi. Demikian pula makna dan tujuan sesungguhnya dari Perjanjian Lama akan terungkap dalam pernyataan Kerajaan Allah. Pesannya adalah berikut ini: Putera Allah yang terkasih – Yesus Kristus – secara sempurna dan lengkap akan menarik kita kepada Bapa dengan menggenapi tuntutan-tuntutan adil dari hukum Musa.

Yesus bukanlah datang untuk meniadakan hukum Taurat atau melanjutkan mengajar hukum itu dari suatu perspektif yang baru. Samasekali bukan! Ia datang sebagai penggenapan dari setiap pengharapan, perintah dan impian yang diungkapkan dalam hukum Taurat itu. Ajaran Yesus tentang Perjanjian Lama adalah baru secara total, bukan karena dipelintir-pelintir isi hukum itu oleh-Nya, namun karena Dia sendiri dapat melaksanakan hukum itu secara sempurna, taat secara sempurna kepada hukum itu sepanjang hidup-Nya di dunia.

Hidup Yesus yang relatif singkat di muka bumi ini secara penuh memberi pencerahan atas hukum Musa. Semua kebenaran berhasil dicapai oleh-Nya. Secara moral Yesus adalah orang benar – tanpa noda dosa sedikit pun atau tanpa ketidaktaatan kepada Allah. Yesus juga benar secara lengkap dalam relasi-relasi-Nya: Dia mengasihi Allah dengan segenap hati-Nya dan semua orang dengan rasa keadilan dan belas kasih yang lengkap. Akhirnya, melalui kematian-Nya pada kayu salib, Ia menggenapi semua kebenaran dengan mensyeringkan kesempurnaan-Nya dengan kita-manusia, sehingga dengan demikian kita pun dapat dibuat benar di mata Allah. Atas dasar alasan inilah maka hukum Taurat diberikan, dan sekarang, melalui Yesus, kita semua dapat menerima berkat-berkat kebenaran Allah dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyembah Engkau! Kami memuji keindahan-Mu dan cara-Mu yang sempurna, yang telah menggenapi segala kebenaran untuk kami. Kami memuji Engkau dan berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena lewat persatuan dengan diri-Mu kami dapat menikmati buah ketaatan-Mu dengan menjadi semakin serupa dengan Engkau, dengan demikian menyenangkan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “MEMATUHI PERINTAH-PERINTAH-NYA TANPA BOSAN” (bacaan tanggal 12-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “AKU DATANG UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 13-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 Juni 2013 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 78 other followers