DALAM KRISTUS YESUS

DALAM KRISTUS YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 22 Oktober 2014)

mosaic-of-st-paul-in-veria-greece2Memang kamu telah mendengar tentang penyelenggaraan anugerah Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasia itu diberitahukan kepadaku melalui wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui pengertianku tentang rahasia Kristus, yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian anugerah Allah, yang diberikan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk membuat semua orang melihat rencana rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang melalui jemaat diberitahukan berbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan melalui iman kita kepada-Nya. (Ef 3:2-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm Yes 12:2-6; Bacaan Injil: Luk 12:39-48

Siapa yang mengenal belas kasih Allah lebih baik daripada Santo Paulus? Sang Rasul adalah seorang Farisi yang sebelum pertobatannya memburu umat Kristiani dengan niat untuk menghancurkannya, bahkan membunuh para pengikut/murid Kristus tanpa ampun. Namun dilihat dari sudut belas kasih dan rahmat Allah tanpa batas yang diberikan oleh-Nya dengan bebas kepada siapa saja seturut kehendak-Nya, maka Paulus bukanlah seorang pribadi istimewa ketimbang kita semua. Roh Kudus bergerak dengan penuh kuat-kuasa dalam dan melalui diri Paulus, demikian pula Dia sekarang ingin bekerja dalam diri kita masing-masing. Adalah kenyataan tak terbantahkan bahwa kita adalah pendosa-pendosa juga yang diselamatkan oleh rahmat – artinya keselamatan kita adalah suatu pemberian bebas/gratis dari Allah!

Tidak seperti banyak tekanan dunia yang membebani kita guna “membuktikan” diri kita atau untuk mengambil jalan kita sendiri di dunia ini, Allah dengan bebas menganugerahkan kepada kita keselamatan. Ia memanggil kita masing-masing – seperti apa adanya kita – untuk menjadi anak-anak-Nya terkasih, anggota-anggota Tubuh-Nya di atas bumi ini. Kita dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita (Ef 2:1) dan tanpa pengharapan dan tanpa Allah (Ef 2:12). Di dalam Yesus kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan melalui iman kita kepada-Nya (Ef 3:12). Dosa-dosa kita bukanlah tidak signifikan. Penebusan kita “dibeli” dengan harga yang sangat tinggi – darah dari Putera Allah yang tanpa dosa – karena kedalaman kebutuhan kita. Sekarang, kita dibangkitkan dan duduk dengan Dia di surga dalam Kristus Yesus, “supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus” (Ef 2:6-7).

Sejak sediakala Allah telah memiliki hasrat untuk mengumpulkan sebuah umat yang akan memanifestasikan kemuliaan Putera-Nya kepada segenap ciptaan, baik di bumi maupun di surga. Inilah “misteri” (Ef 3:3) dari tujuan Allah menciptakan kita. Ini adalah sebuah rencana yang dibentuk dalam “pikiran” Allah Tritunggal Mahakudus pada awal ciptaan, sebuah rencana yang menyangkut setiap aspek ciptaan-Nya untuk mana setiap hal yang terjadi diarahkan. Dalam terang rencana-Nya yang penuh misteri itulah kita tidak perlu kaget untuk menyadari bahwa Gereja – Tubuh Kristus di atas bumi – dipanggil untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya di atas bumi. Itulah luas dan dalamnya kuat-kuasa Allah yang bekerja di dalam diri semua orang yang percaya kepada/dalam Kristus.

Marilah sekarang kita membuat resolusi untuk berjalan sebagai anak-anak terang dan menegaskan lagi iman kita dalam karya Kristus yang telah dimulai dalam diri kita masing-masing. Marilah kita bersukacita karena seluruh ciptaan memberikan kesaksian tentang kemuliaan Tuhan yang bersinar melalui hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, melalui kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah kami menjadi anak-anak terang yang senantiasa membawa Yesus, sang Terang Dunia ke tengah dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA” (bacaan tanggal 22-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 3:2-12), bacalah tulisan yang berjudul “RAHASIA PANGGILAN ORANG-ORANG BUKAN YAHUDI” (bacaan tanggal 24-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 21 Oktober 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38)

Bacaan Pertama: Ef 2:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Yesus mengingatkan kita semua agar selalu bersiap-siaga, untuk menyambut kedatangan-Nya.

Jika setiap pencinta sejati di dunia telah menyadari betapa tidak berarti dirinya di hadapan sang kekasih, maka tentunya lebih mendalam lagi keyakinan para kudus akan kebenaran hal itu! Kita diingatkan akan cerita tentang Santa Perpetua, martir [+203]. Ia dilempar dan dibanting oleh seekor binatang buas di tengah arena, dia bangkit berdiri lagi, menyisir rambutnya, dan membereskan pakaiannya, karena dia tidak ingin pergi masuk ke dalam kemuliaan ilahi dalam keadaan tidak rapih.

Jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita mengetahui bahwa mereka telah sampai ke hadapan hadirat Allah dengan banyak urusan dunia yang masih melekat pada diri mereka. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak dapat tetap berada di dekat Allah tanpa harus melewati proses pemurnian. Santa Katarina dari Genoa [1447-1510] menjelaskan bagaimana jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita dengan gembira menyambut kesempatan untuk dibersihkan. Orang kudus ini menulis bahwa jiwa di Api Pencucian, adalah seperti sebutir berlian yang baru saja dipotong. Jiwa tersebut sungguh merupakan satu dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang indah, dan ketika diarahkan kepada Allah tidak kehilangan keindahannya yang utama. Namun tetap saja jiwa itu masih jauh dari sempurna. Sang ahli pekerjaan-tangan Ilahi (=Allah) harus terus melakukan pekerjaan membersihkan jiwa itu seperti menggosok dan memoles berlian sehingga mencapai potensinya yang penuh. Inilah proses pemurnian.

Pengalaman kita semua belum sampai melampaui batas dunia ini. Kita pun mengetahui bahwa kita sendiri tidak akan datang menghadap seorang tokoh besar dunia – raja, pangeran, atau presiden – tanpa mandi dulu, atau tanpa mengenakan pakaian yang pantas dan bersih. Kalau pun secara tidak sengaja kita menghadap seorang tokoh seperti itu dalam kondisi yang tak pantas (berpakaian kotor dlsb.), maka kita akan mencari sebuah tempat di mana kita dapat membersihkan diri dan menyiapkan diri kita sendiri untuk peristiwa penting tersebut.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita akan menyiapkan diri kita untuk menghadap Tuhan, Dia yang mengetahui setiap sudut pikiran dan hati kita? Ke mana kita harus pergi untuk membakar dan membersihkan semua noda serta berbagai kekotoran dalam diri kita? Ingatlah “perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin”, ketika sang raja bertanya kepada seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta: “Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?” (Mat 22:12). Namun kematian “yang datang seperti seorang pencuri di malam hari” (bdk. 1Tes 5:2), memang merupakan sesuatu yang tak di sangka-sangka dan mungkin saja datang pada saat di mana kita tidak siap.

DOA: Tuhanku dan Allahku, jika para kudus-Mu yang terbaik pun harus menderita banyak hal agar berharga bagi-Mu, berapa jauhkah perjalanan yang masih harus kami lakukan? Ya Tuhan, kasihanilah kami sepanjang perjalanan ziarah kami di dunia, sehingga dengan demikian kami dapat sampai ke surga kelak dalam keadaan selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERLUNYA MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA REGULAR” (bacaan tanggal 21-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 20 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 20 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Pesan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas: “Hindarilah ketamakan/keserakahan dalam segala bentuknya. Seseorang dapat saja kaya dengan harta-benda duniawi, namun miliknya itu tidak dapat memberi kehidupan kekal baginya.”

Seorang pribadi yang rendah hati dan memiliki kemurahan hati, yang hidupnya berpusat pada Allah dan menanggapi dengan baik karunia iman yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya akan melihat kehampaan dari segala keuntungan materiil. Memang kesombongan kita senantiasa menyebabkan rasa haus akan keuntungan materiil tersebut, tambah ini dan tambah itu. Namun kiranya rasa haus tersebut adalah sesuatu yang sia-sia tanpa kesudahan. Bahkan seorang yang tidak memiliki iman kepada/akan Yesus akan melihat kehampaan yang dihasilkan oleh sekadar harta kekayaan yang bersifat materiil. Ia akan belajar dari pengalamannya betapa tak berharganya dan penuh frustrasi-nya “kebahagiaan” (palsu) yang diperolehnya dari penyembahannya kepada “mamon” dalam upaya pengejarannya akan kepuasan/kenikmatan dalam harta benda dll. yang bersifat duniawi.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASJika kita terus saja berputar-putar di sekeliling upaya pencarian harta kekayaan, maka imajinasi kita dapat disesatkan dan kita pun dapat dibuat yakin bahwa Allah itu berada jauh di sana, bahkan keberadaan-Nya itu jauh dari riil. Tujuan-tujuan materiil yang jauh dan tak dapat dicapai itu sungguh dapat menyesatkan karena terasa dekat dan mudah dicapai. Kita menjadi semakin ngotot dalam mengejar kekayaan duniawi! Mengejar dan terus mengejar! Akhirnya, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus, kita berkata: “Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12:19).

Jadi, ketamakan akhirnya menguasai diri kIta. Allah sesungguhnya dekat dengan kita, namun imajinasi yang penuh beban hampir tidak dapat melihat Dia dari kejauhan. Harta-kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi realitas kita dan kelihatannya senantiasa berada dalam jangkauan kita. Kita berkata kepada diri kita sendiri: “Satu lagi saja keuntungan yang kuperoleh, maka aku pun memperoleh apa yang kukehendaki.” Jika aku cukup beruntung untuk memperolehnya, maka api keserakahan pun berkobar lagi. “Satu lagi! Satu lagi! Satu lagi!, tetapi tanpa henti. Setiap sukses baru menjadi lebih pahit daripada sukses sebelumnya, sampai akhirnya kita sampai kepada tingkat keserakahan yang sudah gila-gilaan. Benarlah pepatah Inggris yang berbunyi: Greed begets greed!

Sementara kita melanjutkan mengundang hukuman dan penghancuran atas diri kita yang disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu terima kasih dan juga ketamakan, belas kasih Allah terus berlanjut. Kesabaran Allah yang tak mengenal batas itu senantiasa mengejar kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga belas kasih-Mu pada akhirnya mengalahkan sikap kami yang tidak tahu berterima kasih kepada-Mu, walaupun tidak mudah kami bagi kami untuk mengubah sikap buruk kami itu. Kami juga ingat, Tuhan, bahwa penderitaan karena lapar si “anak hilang” (Luk 15:11-32) bukanlah suatu pengalaman yang mudah baginya, namun hal itu membawanya balik pulang ke rumah ayahnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH!” (bacaan tanggal 20-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 15 Oktober 2014 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?

MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU, HAI ORANG-ORANG MUNAFIK?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX [Tahun A], 19 Oktober 2014)

BERIKAN KEPADA KAISARKemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21)

Bacaan Pertama: Yes 45:1,4-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1,3-5,7-10; Bacaan Kedua: 1Tes 1:1-5b

Sekarang kita memulai serangkaian debat (dialog) Yesus dengan para lawan-Nya: (1) dengan orang-orang Farisi (Mat 22:15-22); (2) dengan orang-orang Saduki (Mat 22:23-33); (3) dengan seorang ahli Taurat (dia seorang Farisi juga; Mat 22:34-40); (4) dengan orang-orang Farisi lagi, namun di sini yang mengambil inisiatif adalah Yesus sendiri (Mat 22:41-46).

Orang-orang Farisi mengirim beberapa orang murid mereka untuk menjerat Yesus lewat kata-kata yang diucapkan-Nya ketika mengajar. Orang-orang munafik itu bekerja sama dengan para pendukung Herodes, yang politik kolaborasinya dengan penguasa Roma mereka benci, namun bantuan mereka diterima dengan segala senang hati dalam kasus ini. Orang-orang Farisi menentang pembayaran pajak kepada pemerintah Roma, di lain pihak para pendukung Herodus mendukungnya.

Ketidaktulusan orang-orang Farisi terasa sekali ketika mereka menyapa Yesus sebagai “Guru”, karena gelar “guru” dalam Injil Matius biasanya diucapkan oleh mereka yang sedikit saja memiliki iman atau samasekali tidak mempunyai iman kepada Yesus. Mereka “memuji” kejujuran Yesus dalam mengajar. Kehadiran orang banyak tidak disebut, namun kita dapat mengasumsikan debat atau dialog ini terjadi secara publik, dengan demikian membuat mereka berada di atas angin dengan mempermalukan Yesus, seandainya mereka menang dalam debat itu.

ROMAN COIN - 001Dilema yang diajukan oleh mereka cukup cerdik dan sederhana. Jika Yesus mendukung pembayaran pajak kepada pihak Roma, maka Dia akan tidak disenangi oleh orang-orang Yahudi yang memang anti pajak Roma. Akan tetapi, jika Yesus mengambil posisi menolak pajak kepada pihak Roma, maka dengan mudah Dia dapat dituduh oleh para pendukung Herodus sebagai gara-gara atau biang keladi dari perlawanan terhadap Kaisar Roma, bahkan bisa dicap sebagai orang Zeloti, orang-orang militan yang melakukan gerakan perlawanan terhadap kekaisaran Roma.

Namun sebuah pertanyaan yang keluar dari hati yang tidak tulus tidak harus ditanggapi dengan jawaban yang tulus. Oleh karena itu Yesus menamakan mereka sebagai orang-orang munafik, dan dengan gaya bicara para Rabi, Dia melempar bola ke lapangan mereka sendiri. Yesus minta untuk ditunjukkan uang logam Romawi yang tidak dapat disangkal telah digunakan oleh mereka selama ini; padahal mereka menentang otoritas yang mengeluarkan uang logam itu. Dengan mengatakan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21), Yesus tidak menyatakan yang mana adalah milik siapa, tetapi Dia mengakui hak-hak yang legitim dari masing-masing. Lebih penting lagi bagi orang-orang Farisi yang hadir, Yesus menantang mereka untuk memberikan kepada Allah yang selama ini mereka belum berikan.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, dikuduskanlah nama-Mu! Aku berjanji, ya Bapa, untuk memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang wajib kuberikan kepada-Mu. Aku mengakui dan tunduk kepada kekuasaan-Mu yang mutlak atas segala bidang kehidupanku dan kehidupan manusia pada umumnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERIKAN SELURUH KEBERADAAN KITA KEPADA-NYA” (bacaan Injil tanggal 19-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 14 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO LUKAS PENGINJIL

SANTO LUKAS SANG PENGINJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penginjil – Sabtu, 18 Oktober 2014)

YESUS MENGUTUS PARA MURID-NYASetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9)

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Para murid Yesus tidaklah unik dalam kualifikasi mereka. Apa yang melengkapi mereka dalam pemberian pelayanan – misi mereka – adalah kesadaran mereka akan Yesus – kuat-kuasa-Nya, kasih-Nya dan visi-Nya terkait segenap kemanusiaan. Lukas bukanlah seorang saksi langsung dari kehidupan dan khotbah-khotbah Yesus, namun ia adalah seorang murid Kristus dan seorang teman seperjalanan Santo Paulus. “Kisah para Rasul” menggambarkan Lukas bergabung dengan Paulus di Troas, kemudian membantu Paulus dalam karya misionernya ke Filipi (Kis 16:6-12; lihatlah kata “mereka” untuk rombongan Paulus yang berganti menjadi “kami” pada ayat 10). Surat Paulus yang kedua kepada Timotius mengacu kepada Lukas sebagai satu-satunya orang yang menemani Paulus ketika menjalani tahanan rumah di Roma (2Tim 4:11). Surat Paulus kepada Filemon menyebut Lukas sebagai salah seorang “teman sekerja” Paulus.

luke1Lukas mengalami apa artinya diberi amanat oleh Allah. Ia memahami bahwa sejak saat seseorang dibaptis, setiap orang Kristiani dipanggil untuk melaksanakan misi tertentu, yaitu untuk menanggapi dorongan-dorongan Roh Kudus, baik yang kecil maupun besar. Seringkali orang berpikir bahwa misi tersebut hanya diperuntukkan bagi orang-orang muda yang penuh semangat dan mereka yang mau melakukan perjalanan jauh ke mana-mana. Namun ini dapat menjadi pandangan terbatas tentang rencana besar Allah bagi Gereja-Nya.

Misi dapat berarti banyak hal. Misi dapat berarti menghormati dan memuji Allah di mana anda berada, berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk segala sesuatu yang telah diberikan-Nya kepada kita dalam Kristus. Misi dapat berarti membawa anak-anak kita untuk mengenal Yesus. Apabila kita masih muda usia, misi dapat berarti merawat orang-orang tua. Apabila kita sudah lebih tua, misi dapat berarti kita mendoakan orang-orang muda. Misi dapat berarti juga melibatkan diri dengan menulis surat kepada para pembuat undang-undang (anggota parlemen) guna menolak legislasi yang secara langsung melanggar rencana Allah. Misi dapat juga berarti menjadi saksi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup sehari-hari kita. Setiap perbuatan yang kita lakukan dalam kasih dan sukacita sejati dapat menjadi suatu cara untuk memenuhi misi kita di dunia.

Dalam instruksi-Nya kepada 70 orang murid, Yesus memberi panduan-panduan untuk melakukan misi kita juga. Kita dipanggil pertama-tama untuk melayani Allah, untuk membuang rintangan atau distraksi yang dapat menghalangi kita dalam memenuhi panggilan kita. Kita harus memproklamasikan damai-sejahtera Kristus kepada orang-orang lain, teristimewa lewat teladan hidup kita.

Yesus mengundang kita semua untuk memberi tanggapan terhadap panggilan-Nya, dalam keadaan macam apa pun kita sedang berada. Seperti Lukas dan warga Gereja Perdana, kita dapat mempersatukan diri kita secara akrab dengan Yesus Kristus, dengan menempatkan kehendak-Nya di atas kehendak kita sendiri. Lewat pembaptisan, kita menjadi duta-duta Kristus dan pengurus-pengurus (Inggris: stewards) dari misteri-misteri Allah. Kepada kita telah diberikan Roh Allah sendiri, dan kita semua telah dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk Yesus Kristus dan Roh Kudus yang telah Kauberikan kepada kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, jagalah dan bentuklah kami supaya senantiasa menjadi duta-duta Kristus yang tangguh bagi dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI” (bacaan tanggal 18-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.
Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU” (bacaan tanggal 18-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CICILAN PERTAMA

CICILAN PERTAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Jumat, 17 Oktober 2014)

ST. PAULUS - 016Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. (Ef 1:11-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Injil: Luk 12:1-7

Bayangkanlah peristiwa berikut ini. Anda baru saja mendapat surat dari sebuah kantor pengacara terkenal di Jakarta. Dalam surat itu diinformasikan bahwa paman anda dengan siapa anda sudah lama kehilangan kontak, baru saja meninggal dunia, dan dia mewariskan sesuatu yang luarbiasa besar nilainya kepada anda. Anda berpikir, apakah ini lelucon atau sekadar suatu hoax? Akan tetapi sampul itu berisikan sebuah cek yang dibayarkan kepada anda sejumlah Rp 100 juta, sebagai suatu “cicilan pertama yang kecil, dibayar dimuka sebelum jumlah keseluruhan warisan, yang akan dikirim kemudian.” Estimasi anda tentang otentisitas surat itu pasti meningkat ketika anda datang ke bank yang mengeluarkan cek tersebut, dan anda memperoleh konfirmasi dari bank itu, bahwa semuanya OK. Jadi, tidak ada yang main-main!

Kisah di atas adalah kisah berandai-andai saja, namun kiranya tidak berbeda jauh dengan pesan Santo Paulus ketika dia menulis: “Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14). Di sini Paulus menggunakan terminologi hukum guna membantu kita memahami bahwa Roh Kudus adalah “jaminan” atau semacam “uang muka” dalam kisah di atas dari warisan surgawi kita. Katakanlah, cicilan pertama dari hidup kekal bersama Allah. Seperti juga cicilan pertama yang dapat kita gunakan sementara kita menantikan sisa selebihnya, maka Roh Kudus juga tersedia bagi kita sekarang, dalam pengalaman kita setiap hari. Kita tidak perlu menunggu sampai kita mati untuk ikut ambil bagian dalam warisan yang dimenangkan Kristus untuk kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kita sudah dapat terlibat dalam hidup Roh sekarang juga.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Setiap hari Roh Kudus mencari jalan untuk menarik kita lebih dalam lagi ke dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus. Roh Kudus ingin membuka mata kita terhadap kasih Allah. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali dan mengalami kehadiran Allah dalam kebaikan hati dan kemurahan hati orang-orang lain, untuk merasa terpesona oleh keagungan Allah yang diperagakan dalam keindahan alam ciptaan. Roh Kudus ini juga “menemani” kita selagi kita membaca Kitab Suci, memampukan kita menerima perwahyuan Allah tentang diri-Nya dan juga rencana-Nya.

Apabila kita sungguh mendengarkan, maka kita akan mendengar Roh Kudus berbicara dalam hati kita, memanggil kita untuk pergi meninggalkan dosa jauh-jauh. Dia akan membisikkan nasihat-nasihat di telinga kita tentang bagaimana dan mendidik anak-anak kita, dan bagaimana menghadapi berbagai kesulitan hidup ini dlsb. Roh Kudus ini akan membuat diri-Nya dikenal oleh kita ketika seseorang menyapa kita dengan hangat, atau ketika seseorang melakukan cipika-cipiki dengan tulus. Roh Kudus akan memberdayakan kita untuk mau dan mampu ke luar menemui seorang pribadi yang membutuhkan pertolongan, walaupun orang itu sering menjengkelkan karena tingkah lakunya. Manakala kita menderita, Roh Kudus akan menginspirasikan doa kita dan akan membawa penghiburan, kesembuhan dan rahmat.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyambut-Mu ke dalam hidupku sebagai down payment dari apa yang menanti-nantikan aku di dalam surga. Dengan rendah hati aku memohon kepada-Mu agar bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam diriku dan melalui diriku pada saat-saat aku melayani sesamaku.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT” (bacaan tanggal 17-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 1:11-14), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS ITULAH JAMINAN WARISAN KITA” (bacaan tanggal 19-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 12 Oktober 2014 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA HADIR BAGI KITA

ALLAH SENANTIASA HADIR BAGI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Kamis, 16 Oktober 2014)

PAULUS - 4Dari Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah. Kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Anugerah dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia kita beroleh penebusan oleh darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu, untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi. (Ef 1:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-6; Bacaan Injil: Luk 11:47-54

Bagaimana kita (anda dan saya) menggambarkan atau membayangkan Allah? Sebagai seorang tua bijaksana dengan jubah panjang, berada jauh tak terjangkau dan hanya sekali-kali melibatkan diri-Nya dalam dunia kita-kah? Ataukah Dia sebagai seorang supervisor yang selalu membawa catatan (katakanlah check-list) yang lengkap berisikan perbuatan-perbuatan kita yang baik maupun buruk? Apakah barangkali Dia mirip “Santa Claus”, yaitu seseorang yang kita datangi hanya kalau kita membutuhkan sesuatu?

Ada banyak yang dapat kita pelajari tentang Allah, dan setiap konsep yang kita miliki tentang Dia dapat diuji dengan perwahyuan tentang diri-Nya sendiri dalam Kitab Suci dan dalam ajaran-ajaran Gereja.

Surat Paulus kepada jemaat di Efesus memuat harta-kekayaan perwahyuan yang tanpa batas tentang Allah – rencana ilahi-Nya, keutamaan Kristus, Gereja, dan panggilan kita untuk hidup dalam Roh. Kita dapat menghabiskan waktu kita sepanjang hidup kita di dunia mengkontemplasikan bahkan sebagian kecil saja dari surat ini (yang menjadi bacaan hari ini), dan tetap belum dapat menggali seluruh kedalaman dari pernyataan/perwahyuan diri Allah. Yang paling mencolok adalah bagaimana Allah menunjukkan diri-Nya sebagai “seorang” Bapa yang mengasihi kita dengan intim/akrab dan sangat bermurah hati terhadap kita. Dalam kemurahan hati-Nya, Dia menyiapkan banyak karunia untuk kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena Dia ingin agar kita menjadi kudus dan tanpa cela di hadapan-Nya, maka Allah memberkati kita dengan setiap berkat rohani yang dapat ditemukan dalam Kristus (Ef 1:3).

Allah begitu menginginkan agar kita berada bersama-Nya sehingga Dia melindungi kita dengan menyerahkan Putera-Nya yang tunggal guna menebus kita dari dosa dan maut (Ef 1:5-7). Dengan “boros” juga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita secara berlimpah-limpah (Ef 1:8). Yesus telah mengutus Roh Kudus-Nya untuk berdiam dalam diri kita sebagai semacam “deposito” yang menjamin warisan kita dalam Dia. Paulus menulis: “Roh Kudus itulah jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:13-14). Allah bahkan memberikan kepada kita privilese menjadi anggota-anggota Gereja (Tubuh Kristus di dunia), sebagai sebuah cara untuk bersatu dengan Kristus (Ef 1:10,23).

Kita dapat merasa sungguh terhibur karena mengetahui bahwa walaupun di tengah segala pencobaan dan kesulitan, Allah tetap hadir bagi kita; Dia mempunyai sebuah rencana abadi yang tidak pernah berubah untuk menganugerahkan berkat-berkat-Nya bagi kita. Pada hari ini, marilah kita berdiam di hadapan hadirat Allah, memohon kepada-Nya untuk membuat kebenaran-kebenaran ini menjadi suatu realitas bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, dengan penuh syukur dan sukacita, kami berketetapan hati untuk bekerja sama dengan karya-Mu dalam kehidupan kami, sehingga dengan demikian kami dapat sungguh mengenal dan mengalami sukacita sejati sebagai anak-anak-Mu yang dipilih dan di-“takdir”-kan sejak sediakala. Kami menyembah dan memuji-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:47-54), bacalah tulisan yang berjudul “KEJUJURAN VS KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 16-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 1:1-10), bacalah juga tulisan yang berjudul “DALAM KRISTUS, BAPA SURGAWI TELAH MENGARUNIAKAN KEPADA KITA SEGALA BERKAT ROHANI DI DALAM SURGA” (bacaan tanggal 14-10-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 12 Oktober 2014 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers