DENGAN ROTI YANG TIDAK BERAGI

DENGAN ROTI YANG TIDAK BERAGI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN – 20 April 2014)

KEBANGKITAN - AKU ADALAH KEBANGKITAN DAN HIDUPKemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebagaimana kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. (1Kor 5:6-8)

Bacaan Pertama: Kis 10:34a,37-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,22-23; Bacaan Kedua (alternatif): Kol 3:1-4; Bacaan Injil: Yoh 20:1-9

Betapa “exciting” kiranya apabila kita dapat mengembalikan sejarah dan hadir pada pagi hari Paskah yang pertama, ketika para rasul sampai ke kubur Yesus. Kita dapat ikut merasa terkejut dan heran seperti para rasul ketika mereka menyadari bahwa jenazah Yesus tidak dipindahkan oleh siapa pun, melainkan telah dibangkitkan oleh Bapa surgawi. Kita dapat mengalami juga sukacita para rasul selagi realitas-realitas indah mengendap dalam hati dan pikiran mereka – betapa Yesus mengasihi mereka; bagaimana Allah telah merencanakan segalanya sejak sediakala guna menebus kita oleh salib-Nya; bagaimana Iblis yang mengharapkan kematian-Nya sebagai kemenangannya malah pada kenyataannya telah dikalahkan oleh kematian-Nya. Kita dapat bersukacita karena semakin jelaslah bahwa di dalam Kristus setiap orang dapat diangkat dari dosa dan maut dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

“Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus” adalah hari sukacita tertinggi dalam Gereja. Hari ini adalah hari kemenangan berjaya – hari dikalahkannya Iblis, dosa dan maut. Dalam Kristus, segala kegelapan yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah telah dihancurkan. Surga dan bumi dipersatukan; ciptaan dan sang Pencipta kembali bersama; kutukan atas manusia telah dibatalkan; kita telah diperdamaikan dengan Allah.

ST. PAULUS - 016Paulus menasihati jemaat di Korintus untuk merayakan kebangkitan Yesus, “bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1Kor 5:8). Penggunaan imaji/gambaran “ragi” memang cocok untuk menggambarkan kehidupan-lama yang penuh dosa yang telah dihancurkan oleh Yesus. Seperti ragi, dosa cepat atau lambat akan merusak seluruh pribadi kita, yang menyebabkan kita menjadi angkuh …… sombong dlsb. Dosa begitu merembes dalam diri kita sehingga hanya Yesus – dengan kepenuhan kuasa Allah – yang dapat membuang dosa itu dari diri kita.

Pada hari ini kita semua bersukacita karena Yesus telah mati terhadap dosa dan sekarang telah bangkit ke dalam hidup baru. Yesus adalah “roti yang tidak beragi” dari Perjanjian Baru, dan dalam Dia, kita dibebaskan dari ragi kehidupan lama. Sekarang, dengan kuat-kuasa Roh Kudus, kita dapat menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dibebaskan dari kehidupan-lama yang dipenuhi dosa. Kristus telah menang-berjaya, dan dalam Dia kita adalah para pemenang! Marilah pada hari yang agung ini kita bersukacita dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Mahaperkasa dan Maharahim. Pandanglah seluruh Gereja-Mu dengan penuh belas kasih. Bawalah keselamatan kekal kepada umat manusia, agar dunia dapat melihat “yang jatuh” dibangkitkan, “yang tua” dibuat baru, dan segala sesuatu dibawa kepada kesempurnaan, melalui Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “KEBANGKITAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 20-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “HARI MINGGU DARI SEGALA HARI MINGGU” (bacaan tanggal 8-4-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Kol 3:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “CARILAH HAL-HAL YANG DI ATAS, DI MANA KRISTUS ADA” (bacaan tanggal 31-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 17 April 2014 [HARI KAMIS PUTIH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYEBERANGI LAUT TEBERAU

MENYEBERANGI LAUT TEBERAU

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 19 April 2014)

moses-parts-the-red-sea

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.”

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu YHWH menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang dikiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka – segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda – sampai ke tengah-tengah laut. Dan pada waktu jaga pagi, YHWH yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir itu. Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkat: “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab YHWH-lah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang-orang mereka yang berkuda.” Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah YHWH mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu YHWH menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut. Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan YHWH terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada YHWH dan mereka percaya kepada YHWH dan kepada Musa, hamba-Nya itu.

Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi ini bagi YHWH yang berbunyi: “Baiklah aku menyanyi bagi YHWH, sebagai Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Kel 14:15-15:1)

Bacaan-bacaan Kitab Suci lainnya tidak disebutkan di sini karena jumlahnya banyak.

PEMBAPTISAN 100Bacaan dari Kitab Keluaran ini hanyalah salah satu bacaan dari banyak bacaan Kitab Suci yang dibacakan pada Misa Kudus Malam Paskah. Bacaan ini menggambarkan kesetiaan Allah kepada umat Israel. Orang-orang Yahudi ini mencoba untuk menyelamatkan diri dari perbudakan di Mesir dan pergi menuju Tanah Terjanji, namun musuh-musuh mereka mengejar mereka dan musuh-musuh itu ada tepat di belakang mereka. Dalam ketakutan mereka, orang-orang Israel sebelumnya menyampaikan keluhan mereka kepada Musa kondisi mereka akan lebih baik apabila tetap tinggal di tanah Mesir. Akan tetapi Musa mengatakan kepada mereka untuk tidak takut: “YHWH akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel 14:14).

Air yang dipisah/dibelah oleh kuat-kuasa YHWH-Allah lewat tangan Musa memberi jalan hidup kepada orang-orang Israel, namun menjadi jalan kematian bagi musuh-musuh-Nya. Dengan menyeberangi Laut Teberau, orang-orang Israel bebas dari kekuasaan musuh-musuh mereka. Penyeberangan Laut Teberau adalah lambang Sakramen Baptis yang membebaskan seorang pribadi manusia dari kekuasaan dosa dan menempatkan dia bersama dengan Israel baru, Gereja – umat Allah, menempuh perjalanan menuju Tanah Terjanji surgawi.

Penyeberangan Laut Teberau adalah peristiwa yang tak terlupakan dalam sejarah bangsa Yahudi. Banyak tanda-tanda besar yang diberikan oleh YHWH di Mesir dan di padang gurun, untuk menghimpun umat-Nya menjadi satu bangsa. Tidak ada sesuatu pun yang mengesankan, karena begitu menentukan, seperti penyeberangan Laut Teberau, yang menjadi kemenangan total dan pembebasan dari perbudakan. Begitu pula dalam kehidupan umat Kristiani tak ada satu peristiwa pun yang begitu menentukan seperti Sakramen Baptis. Di sini jelas letak garis pemisah antara mati dan hidup, antara lama dan baru, antara dosa dan rahmat.

800px-Child_baptismLewat pembaptisan, seorang pribadi manusia mulai terhitung sebagai umat Allah dan menerima Roh baru, seperti dikatakan-Nya lewat mulut nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26). Lewat pembaptisan seorang pribadi manusia dimampukan untuk menepati perintah-perintah Allah, tidak hanya karena terpaksa, melainkan dari keyakinan hati-baru, yang dipusatkan pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Kepadanya akan diberi makan manna-Ekaristi, Anak Domba yang disembelih, minum dari karang-padas Kristus, darah yang dicurahkan dari tubuh-Nya di kayu salib.

Dengan pembaptisan seorang pribadi manusia masuk dalam perjalanan umat Israel, umat Allah yang melakukan perjalanan ziarah menuju Tanah Terjanji. Semua dipanggil dalam satu tubuh, semua dipanggil menuju kekudusan menurut jalan masing-masing dalam biara, dalam keluarga, dengan tugas yang berbeda-beda, namun yang semua membangun dunia dalam Kerajaan Kristus. Kita semua berkewajiban untuk berjuang dan merasul atas dasar panggilan masing-masing sebagai umat Allah: pembawa terang baru, hidup baru dan Roh baru, yang tidak pernah boleh padam lagi, tetapi sebagai kekuatan harus nyata dapat disumbangkan sebagai pengabdian umat Kristiani.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku menaruh kepercayaan pada kasih-Mu dan kerahiman-Mu. Terangilah kegelapan hatiku senantiasa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Rm 6:3-11, bacalah tulisan yang berjudul “TELAH DIBAPTIS DALAM KEMATIAN KRISTUS” (bacaan tanggal 19-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Cilandak, 16 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TINDAKAN KASIH YANG PALING AGUNG DALAM SEJARAH

TINDAKAN KASIH YANG PALING AGUNG DALAM SEJARAH

(Bacaan Injil dalam Liturgi Sabda, HARI JUMAT AGUNG – 18 April 2014)

BSNTT032

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya. (Yoh 19:25-30)

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42

Bagi umat Kristiani, hari Jumat Agung akan selamanya menjadi titik sentral dalam sejarah manusia – suatu hari duka mendalam namun pada saat bersamaan merupakan suatu hari yang penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena pada hari kita memperingati tindakan kasih yang paling agung dalam sejarah: salib Yesus Kristus. Salib merupakan klimaks dari segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus selama Dia hidup di dunia sebagai Yesus dari Nazaret – sumber segala hikmat, permenungan, dan puji-pujian yang tidak pernah akan mengering.

BSNTT013Hari Jumat Agung adalah pusat kisaran kepadanya semua hal-ikhwal sejarah ditarik, dan dari mana semua sejarah yang telah ditransformasikan selamanya mengalir ke luar. Ciptaan yang baik dari Allah disapu sampai kepada titiknya yang paling rendah pada saat kematian Yesus – hanya untuk menemukan kebaikannya yang sempurna di seberang sana, ketika Yesus bangkit dari alam maut. Allah tidak pernah begitu dekat dengan umat manusia daripada apa yang dilakukan-Nya dengan inkarnasi Yesus dan segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dari misteri inkarnasi tersebut. Namun justru karena manusia begitu dekat dengan Yesus, maka penolakan manusia dan perlawanan mereka terhadap diri-Nya menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Penderitaan sengsara dan kematian Yesus merupakan ilustrasi paling jelas dari kasih-Nya yang tanpa batas bagi kita semua.

Yesus samasekali tidak bersalah, sepenuhnya bebas dari dosa. Namun Ia menanggung semua dosa kita dan segala ketidakadilan yang menimpa diri-Nya, selagi Dia tergantung pada kayu salib. Kemenangan berjaya dari Yesus mengungkapkan tujuan perjalanan kita yang terletak bukan di dunia ini, melainkan di surga. Dia yang paling dapat membuat dunia ini sebuah tempat yang indah dan dipenuhi cintakasih justru tidak pernah diberikan tempat yang penting dalam sistem-dunia. Akan tetapi, pada hari ketiga Yesus bangkit. Di sini Dia menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah kemenangan-Nya atas dosa dan maut – dan memberdayakan semua umat beriman untuk melakukan hal yang sama. Ada contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya terkait dengan perubahan permanen yang disebabkan oleh hari Jumat Agung. Bahkan cara kita membagi sejarah – S.M. dan A.D. – pun mengalir dari kedatangan sang Juruselamat ke tengah dunia!

Pada hari ini marilah kita secara istimewa bermeditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kerendahan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15::34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib itu dengan tangan dan kaki terpaku, dan yang ditikam lambung-Nya dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta. Bersembah-sujudlah dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16).

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSSalib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah “kasih perjanjian” (Inggris: covenant love), kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri.

Selagi kita melakukan meditasi di depan “Anak Domba yang disembelih”, renungkanlah “betapa besarnya” Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia?

Dalam meditasi kita, marilah kita merenungkan implikasi-implikasi dari kematian Yesus. Renungkanlah kenyataan bahwa Putera Allah yang kekal sesungguhnya datang ke tengah dunia guna membawa kita kembali kepada Bapa-Nya – dan hal itu itu dilakukan-Nya lewat kekejian salib. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah kita pernah menolak Yesus Kristus dengan cara dan alasan apapun. Kasih-Nya adalah kasih yang penuh kesetiaan dan sejati.

Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, “kasih perjanjian” sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi kita semua dalam hal ini: “Setiap kali anda dan saya mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka kita menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!”

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur untuk segala sesuatu yang telah Kau capai – lewat kata-kata dan tindakan-tindakan-Mu – selama hidup-Mu di atas bumi ini, teristimewa pada hari terakhir hidup-Mu. Di atas kayu salib Engkau merasa ditinggalkan oleh Bapa [Mzm 22:2; Mzm 31:23], namun Engkau mengumpulkan nafas-Mu yang terakhir dan menyerahkan nyawa-Mu kepada Bapa [Mzm 31:6]. Engkau tetap yakin bahwa persembahan kurban-Mu memiliki nilai tak terbatas bagi kami semua. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar kami lebih memahami lagi makna dari kematian-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42; versi pendek: Yoh 19:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBUAT KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA” (bacaan tanggal 18-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 52:13-53:12), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU MEMBEBASKAN AKU, YA TUHAN, ALLAH YANG SETIA” (bacaan tanggal 29-3-13) dan “SEGALANYA BERPUSAT PADA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS” (bacaan tanggal 6-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAYANI SEBAGAI SEORANG HAMBA

YESUS MELAYANI SEBAGAI SEORANG HAMBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH – 17 April 2014)

washing_feet

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya, “Siapa saja yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:1-15)

Bacaan Pertama: Kel 12:1-8.11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Jesus-washing-feet-06Pada hari ini dimulailah Triduum (Tri Hari Suci) besar Paskah, tiga hari di mana kita menghidupkan kembali – dengan iman dan lewat liturgi – drama penyelamatan kita. Hari ini teristimewa adalah suatu hari yang dipenuhi dengan simbol-simbol dan tanda-tanda kenabian yang berbicara banyak sekali tentang kerahiman dan kasih Allah yang mengalir ke dalam hidup kita.

Dalam narasinya mengenai peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus, Yohanes Penginjil memberikan kepada kita gambaran dari keseluruhan pesan Injil. Putera Allah yang mahasempurna, mahamurni dan mahakudus, tidak hanya menjadi seorang manusia, melainkan juga mengambil peranan sebagai seorang hamba agar dengan demikian Ia dapat membersihkan dan menyegarkan kita kembali. Dia merendahkan diri-Nya agar kita dapat diangkat. Ia mengambil posisi paling rendah – sampai titik kematian sebagai penjahat – agar dengan demikian kita dapat menjadi pewaris-pewaris Kerajaan Surga. Madah pujian yang mana atau macam apa yang dapat melukiskan kasih sedemikian? Bagaimana kita dapat membayar kembali utang seperti itu?

Seakan-akan pembasuhan kaki para murid-Nya tidak mencukupi, Yesus lalu mengambil satu langkah lebih jauh dengan menawarkan tubuh-Nya dan darah-Nya sendiri sebagai makanan dan minuman kepada mereka. Tindakan pembasuhan kaki para murid oleh Yesus secara profetis menunjuk kepada pengorbanan-karena-kasih yang akan diperbuat-Nya bagi kita. Tentang pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri, di sini Yesus sebenarnya mengundang kita untuk berpartisipasi dalam penebusan kita. Dengan mengatakan, “Ambil dan makanlah, ambil dan minumlah,” Yesus sesungguhnya memanggil kita untuk meninggalkan dosa dan memperkenankan hidup-Nya menjadi hidup kita. Apakah kita akan mencicipi kebaikan-Nya, ataukah kita akan tetap “ngotot” mempertahankan kemandirian kita yang salah, yaitu mengandalkan pada kekuatan/sumber-daya yang kita miliki dalam mengurus hidup kita, dan tetap terisolasi dari kasih-Nya hari demi hari?

Hari Kamis Putih adalah hari yang baik bagi kita untuk mengingat kembali pesan Injil yang sangat mendasar: “Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah”, maka di atas kayu salib Dia mempersembahkan hidup-Nya sebagai kurban pendamaian bagi kita. Yesus mengalami suatu kematian yang sebenarnya pantas bagi kita, manusia berdosa. Kematian-Nya mengalahkan kodrat kita yang cenderung berdosa dan membuat mungkin bagi kita untuk bangkit bersama Dia kepada suatu hidup baru. Masalahnya adalah apakah kita mengakui dan menerima kenyataan bahwa Yesus memberikan hidup-Nya untuk kita, anda dan saya? Apakah kita telah memperkenankan Dia membasuh kaki-kaki kita – untuk membebas-merdekakan diri kita dari dosa dan mengubah hati kita?

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tidak terbayangkanlah bagaimana Engkau merendahkan diri-Mu guna membasuh kaki-kakiku dan juga mempersembahkan diri-Mu sebagai kurban penebusan atas dosa-dosaku. Bersihkanlah hatiku dari segala hal yang menghalangi masuknya aliran kasih-Mu ke dalam hatiku itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “IA MENGASIHI MEREKA SAMPAI KESUDAHANNYA” (bacaan tanggal 17-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “JIKALAU AKU TIDAK MEMBASUH ENGKAU, ENGKAU TIDAK MENDAPAT BAGIAN DALAM AKU” (bacaan tanggal 28-3-13) dan “MENGERTIKAH KAMU APA YANG TELAH KUPERBUAT KEPADAMU?” (bacaan tanggal 5-4-12),keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN AKU, YA TUHAN?

BUKAN AKU, YA TUHAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 16 April 2014)

Jacopo_Bassano_Last_Supper_1542

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25)

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34

YESUS BERODA DI TEMPAT SUNYIKetika Yesus mengatakan bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, ke sebelas bertanya, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Mat 26:22). Kekecualian adalah Yudas Iskariot yang bertanya kepada-Nya: “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:25). Jelas bahwa sebelas orang murid-Nya telah memandang Yesus sebagai Tuhan yang jauh lebih tinggi dari sekadar seorang rabi dan seorang guru yang penuh penuh karunia dengan suatu visi baru untuk Israel. Sesuatu telah terjadi pada mereka yang membuat mereka melihat Yesus sebagai Tuhan. Namun Yudas terlihat belum dapat sampai kepada pandangan itu; ternyata dia masih berjalan di tempat!

Memang ada banyak cara untuk memandang Yesus: misalnya sebagai seorang guru yang luarbiasa, seorang nabi dan penyembuh yang menakjubkan, seorang kudus yang luarbiasa. Yesus sebenarnya mencakup semua itu, malah jauh melebihi. Yesus juga adalah Tuhan. Dengan otoritas penuh Ia memerintah atas segala sesuatu dan Ia layak dan pantas untuk menerima segala kehormatan, kemuliaan, dan kuasa (bdk. Flp 2:8-11).

Kita tentunya sudah merasa familiar dengan berbagai ungkapan ini, namun apa artinya ungkapan-ungkapan itu bagi kita pada tataran/tingkat praktis? Bagaimana kebenaran-kebenaran ini mempengaruhi gaya hidup kita dan cara kita memandang hidup kita? Satu jawaban adalah sementara kita harus memandang Yesus sebagai sahabat kita, kita juga harus melihat Dia sebagai Allah. Ia memiliki otoritas atas diri kita dan tidak ada apa dan siapa pun yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. Ajaran-ajaran-Nya dan perintah-perintah-Nya mempunyai bobot tersendiri dan menuntut ketaatan penuh dari pihak kita. Kuasa-Nya juga bersifat mutlak. Kita dapat memandang Yesus dengan iman yang penuh harapan, karena kita mengetahui bahwa Dia dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran, mencabut berbagai macam penderitaan dan memperhatikan dengan penuh kasih dan belas rasa hal-hal terkecil dalam kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita.

Akan tetapi, pentinglah bagi kita untuk memahami bahwa martabat Yesus sebagai Tuhan atas diri kita tidak berarti bahwa kehidupan ini menjadi suatu beban yang bersifat opresif. Sebaliknya, hal tersebut membawa kebebasan dan damai-sejahtera yang luar biasa. Sebagai Tuhan, Yesus mentransformasikan diri kita. Sebagai Tuhan, Yesus memberikan arahan bagi hidup kita yang jauh lebih memuaskan daripada rencana-rencana yang dapat kita capai berdasarkan kekuatan kita sendiri. Yesus bukanlah penguasa yang tidak adil atau masa-bodoh. Yesus adalah sang Kasih yang telah menjadi manusia. Pada hari ini, marilah kita meneladan kesebelas murid yang menundukkan diri mereka di hadapan Yesus sebagai Tuhan. Selagi kita melakukannya, Dia akan membuat kehadiran-Nya dan kuasa-Nya lebih termanifestasikan dalam kehidupan kita. Dia akan menciptakan hati yang baru dalam diri kita masing-masing dan suatu damai-sejahtera yang melampaui segala pemahaman kita.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Engkau. Tolonglah aku mengakui Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku, dalam hatiku dan dalam pikiranku. Tolonglah aku untuk senantiasa menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-9a), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA YANG DAPAT MENAHAN YESUS MENUJU SALIB” (bacaan tanggal 16-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEBUAH NYANYIAN HAMBA YHWH” tanggal 31 Maret 2010, dalam blog SANG SABDA.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PENGAJARAN PENTING PADA MALAM PERJAMUAN TERAKHIR” (bacaan tanggal 27-3-13) dan “BUKAN AKU, YA TUHAN? ATAU BUKAN AKU, YA RABI?” (bacaan tanggal 4-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 13 April 2014 [HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA PENDEKATAN PETRUS ATAU YOHANES?

CARA PENDEKATAN PETRUS ATAU YOHANES?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 15 April 2014)

judas-iscariotSetelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

PETERSimon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38)

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Petrus selalu cepat dalam memberikan tanggapan terhadap pernyataan, permintaan, maupun pertanyaan Yesus. Petrus adalah rasul pertama yang secara publik-terbuka mengakui bahwa Yesus adalah sang Mesias, dan dia adalah orang pertama yang mendeklarasikan kesediaannya untuk mati (memberikan nyawanya) bagi Yesus (Mat 16:16; Yoh 13:37). Namun ketika iman dan keberanian Petrus diuji, dia malah menyangkal Yesus – tidak sekali, melainkan tiga kali! Kekuatan yang dipikirnya dimiliki olehnya dengan cepat menyerah kepada rasa takut. Untunglah, kegagalan Petrus membawa dirinya kepada pertobatan dan suatu kesadaran-diri mendalam betapa dia membutuhkan pertolongan dan rahmat dari Allah.

John-Beloved-Disciple (1)Seorang rasul lainnya, – murid yang dikasihi Yesus (Yoh 21:20) – tidak membuat klaim sedemikian. Ia hanya berada dekat dengan Yesus; bersandar di dekat-Nya pada perjamuan terakhir dan berdiri di dekat salib-Nya pada hari Jumat Agung (Yoh 13:23; 19:26). Ia mendapatkan kekuatan dan keberanian yang diperlukannya dengan berada dekat seseorang yang setia mengasihi-Nya. Nah, sekarang siapa dari dua orang itu (Petrus dan Yohanes) menggambarkan pendekatan yang kita lakukan? Apakah kita (anda dan saya) lebih mirip Petrus, yang mengandalkan kekuatan kita sendiri namun gagal pada saat godaan menyerang? Atau apakah kita seperti murid yang dikasihi Yesus, menggantungkan diri kepada-Nya guna memberikan kepada kita kekuatan untuk menghadapi tantangan dan godaan apa yang ada di hadapan kita?

Tidak ada seorang pun dari kita yang sendiri cukup kuat atau cukup setia untuk menenangkan badai kehidupan yang melanda hidup kita. Kita semua membutuhkan dukungan dan kekuatan yang dapat diberikan oleh Yesus. Kita semua perlu untuk mengalami kemenangan-Nya atas rasa takut dan dosa. Kita semua perlu mengetahui dan mengenal kemenangan Yesus atas pencobaan-pencobaan Iblis untuk membuat kita merasa putus asa, seperti yang dialami Yudas Iskariot, atau melarikan diri dari salib-Nya, seperti yang dilakukan Petrus. Hanya rahmat-Nya yang dapat menolong kita menerima keterbatasan-keterbatasan kita dan meyakinkan kita akan kebutuhan kita akan kasih ilahi dan belas kasih-Nya.

Kesaksian dari “murid yang dikasihi Yesus” menunjukkan bahwa pengalaman akan kasih Allah akan memampukan kita tidak hanya untuk bertekun dalam iman, melainkan juga untuk menanggung berbagai beban kehidupan.

DOA: Tuhan Yesus, ketika aku terjatuh Engkau mengangkatku dan memberikan dukungan-Mu. Tolonglah aku agar senantiasa menggantungkan diri sepenuhnya pada kekuatan-Mu dan untuk menaruh kepercayaan pada kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 49:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI INSTRUMEN-INSTRUMEN IMAN DAN TERANG-NYA” (bacaan tanggal 15-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014. Bacalah juga tulisan yang berjudul “MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA” (bacaan tanggal 19-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “APA YANG AKAN KAUPERBUAT, PERBUATLAH DENGAN SEGERA” (bacaan tanggal 3-4-12) dan “AKUILAH DAN TERIMALAH KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN”, keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 13 April 2014 [HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIA-LAH YANG MENGASIHI TERLEBIH DAHULU

DIA-LAH YANG MENGASIHI TERLEBIH DAHULU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 14 April 2014)

MARY ANOINTS JESUS FEETEnam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14

Contoh yang diberikan oleh Maria dari Betania dalam bacaan Injil hari ini sungguh kuat-mendalam. Dalam hasratnya untuk menghormati Yesus, tampaknya tidak ada biaya yang terlampau mahal. Tidak ada yang lebih berarti bagi dirinya selain berada bersama Yesus. Sukacita karena dikasihi oleh Yesus memenuhi dirinya dan hal ini tidak dapat diungkapkan sekadar dengan kata-kata …… Maria ingin dirinya bersama Yesus selama mungkin.

Bayangkan betapa gembira Tuhan kita apabila ada di antara kita yang datang kepada-Nya dengan cintakasih dan devosi yang sama bobotnya dengan yang telah ditunjukkan oleh Maria dari Betania! Bila kita mendekati Yesus seperti yang dilakukan oleh Maria, curahan kasih kita akan menyebarkan bau (aroma) semerbak yang memenuhi segala hal yang kita lakukan. Aroma semerbak itu menyebar secara berlimpah ke dalam segala situasi yang kita hadapi, dan yang membuat damai-sejahtera yang memenuhi hati kita memancar ke luar kepada orang-orang lain. Rekan kerja di pabrik atau kantor di mana kita bekerja akan merasa “heran” mengapa kita kelihatan begitu baik hati dan tenang dalam menghadapi banyak masalah pekerjaan. Para tetangga merasa tertarik sehingga mulai “curhat” dan mengharapkan nasihat-nasihat kita. Para anggota keluarga merasa tersentuh melihat perilaku kita yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan dalam hal-hal yang kecil, termasuk “tidak rakus” lagi ketika duduk bersama di meja makan.

Bagaimana Maria dari Betania dapat sampai ke tahapan ini dalam kehidupannya? Kita salah jika kita berpikir bahwa dialah yang pertama-tama mengasihi Yesus dan hal itu menggerakkan Yesus untuk memberkati dirinya sebagai ganjaran. Seperti Yohanes, Petrus dan perempuan Samaria di sumur Yakub, orang yang buta sejak lahir, dan banyak lagi pribadi-pribadi yang lain, Maria pertama-tama dan terutama adalah seorang pribadi yang menerima kasih Yesus. Yesus-lah yang menemukan dia dan kasih Yesus-lah yang menyentuh bagian terdalam dari hati Maria. Kasih Yesus bagi dirinya-lah yang membangunkan kasihnya kepada Yesus dan menggerakkan dirinya melakukan tindakan penyembahan yang luarbiasa seperti diceritakan dalam Injil hari ini.

Pada Pekan Suci ini, dapatkah kita semua duduk bersama Yesus dan memperkenankan diri-Nya mengucapkan sabda kasih-Nya kepada kita – kasih yang tidak mengenal batas? Beranikah kita membuka hati kita bagi-Nya dan memperkenankan Dia menyembuhkan segala luka kita – baik luka-luka fisik maupun batiniah – dan memancarkan cahaya terang ke dalam kegelapan kita? Lalu, setelah diubah oleh kemuliaan-Nya, setiap tindakan kita pun akan memenuhi rumah kita dengan aroma mewangi cintakasih kita kepada Yesus.

DOA: Tuhan Yesus, aku tahu bahwa walaupun sekiranya aku merupakan satu-satunya orang yang membutuhkan penyelamatan dari-Mu, Engkau akan tetap datang dan mati untuk diriku. Tolonglah aku untuk menanggapi kasih-setiaMu dengan memuji-muji Engkau dan melayani Engkau dengan segenap hatiku. Tuhan, aku sungguh mengasihi Engkau! Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7) bacalah tulisan yang berjudul “HAMBA-KU, YANG KEPADANYA AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 14-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 18-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 25-3-13) dan “BAU SEMERBAK MINYAK ITU MEMENUHI SELURUH RUMAH” (bacaan tanggal 2-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 11 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers