HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU PERCAYA

AKU PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Selasa, 29 Juli 2014)

MARY MARTHA AND JESUSDi situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27)

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42

Marta dan saudara-saudarinya – Lazarus dan Maria – adalah sahabat-sahabat dekat Yesus dan juga pengikut-Nya. Dalam bahasa Aram “Marta” berarti “nyonya”. Sifat pribadinya memang cocok dengan perannya sebagai nyonya, karena Marta menyambut Yesus ke dalam rumahnya (Luk 10:38-42), jelas sebagai sang kepala rumah tangga. Lukas menggambarkan Marta sebagai seorang yang sibuk melayani dalam rumah, barangkali dalam mempersiapkan makanan dan minuman dan melihat apa yang dibutuhkan oleh para tamunya.

Bacaan Injil hari ini berlatar-belakang kematian Lazarus. Yohanes menggambarkan Marta pergi mendapatkan Yesus dan menyapa-Nya dengan suatu pernyataan iman (Yoh 11:21-22). Di sini tidak ada kata-kata “menegur” Yesus seperti yang diucapkan kepada-Nya sebelumnya (lihat Luk 10:38-42). Yang ada hanyalah penerimaan kenyataan akan ketidak-hadiran-Nya ditambah dengan suatu kepercayaan akan kuat-kuasa-Nya. Di sini Yohanes Penginjil menggambarkan seorang perempuan yang sudah lebih matang/dewasa dalam imannya ketimbang yang digambarkan oleh Lukas dalam Luk 10:38-42. Yesus telah mengajarkan kepada Marta tentang pentingnya berupaya mengenal hal-hal surgawi.

THE RAISING OF LAZARUSMarta telah sampai kepada pemahaman bahwa Yesus mempunyai suatu relasi istimewa dengan Bapa-Nya di surga. Yesus mencoba untuk mengembangkan iman-kepercayaan perempuan ini dengan berkata: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23). Marta mengetahui tentang hal kebangkitan dari kepercayaan yang meluas di antara orang-orang Yahudi saleh pada zaman itu bahwa akan ada suatu kebangkitan pada akhir zaman: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh 11:24). Namun Yesus menanggapi ucapan Marta tersebut dengan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup, siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26). Mendengar kata-kata Yesus itu, Marta membuat suatu lompatan iman yang besar dengan mengatakan: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).

Kiranya inilah pesan bagi kita pada hari ini. Apabila kita duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan belajar dari diri-Nya, iman kita akan bertumbuh selagi Dia mengajar kita jalan-jalan-Nya. Waktu yang kita luangkan bersama Yesus dalam doa, pembacaan dan permenungan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan Ekaristi akan menolong memperdalam iman-kepercayaan kita selagi kita diajar oleh Yesus dan menyimpan sabda-Nya dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap Engkau dan duduk bersimpuh di dekat kaki-Mu untuk mendapat pengajaran dari-Mu. Semoga kami semua terbuka bagi sabda-Mu yang disampaikan kepada kami dalam doa-doa kami, selagi kami membaca dan merenungkan sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan dalam Ekaristi. Tolonglah kami agar dapat merangkul ajaran-Mu sehingga dengan demikian kami dapat percaya bahwa Engkau adalah sungguh kebangkitan dan hidup. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:19-27), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN KEPERCAYAAN SEJATI” (bacaan tanggal 29-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

Cilandak, 26 Juli 2014 [Peringatan S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH

BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 28 Juli 2014)

Harold_Copping_The_Sermon_On_The_Mount_525Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”
Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35)

Bacaan Pertama: Yer 13:1-11; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTYesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya. Untuk memenuhi Mzm 78:2, Yesus berkata, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat 13:35). Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Perwahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

MUSTARD SEEDSYesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH TERBUKA BAGI SEMUA ORANG” (bacaan tanggal 28-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 25 Juli 2014 [Pesta S. Yakobus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII, 27 Juli 2014)

Teachings_of_Jesus_4_of_40._parable_of_the_dragnet._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (Mat 13:44-52)

Bacaan Pertama: 1Raj 3:5,7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:57,72,76-77,127-130; Bacaan Kedua: Rm 8:28-30

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAHanya Allah sajalah yang merupakan harta yang dapat memuaskan kerinduan hati yang terdalam dari seorang manusia. Berbahagialah mereka yang menemukan harta ini dan mau membayar harga penuh yang diminta.

Dalam Bab 13 Injilnya, Matius menyusun serangkaian pengajaran Yesus dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan untuk mencerahkan kita tentang misteri oposisi terhadap Yesus yang semakin gencar dari hari ke hari. Dalam bab ini Matius mempunyai pesan yang kuat bagi Gereja pada zamannya. Dengan mengundang para pembaca Injilnya untuk merenungkan sikap dan perlakuan permusuhan yang telah dialami Yesus, maka mereka akan dapat memahami permusuhan serta campuran antara yang baik dan buruk yang merupakan pengalaman harian mereka.

Alangkah baiknya jika kita mencoba untuk memahami segala peristiwa yang kini sedang dialami oleh saudari-saudara kita di Irak – yang disebabkan oleh sikap dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh ISIS – dalam terang perumpamaan-perumpamaan Yesus hari ini. Demikian pula kritik-kritik terhadap Gereja yang datang dari berbagai pihak! Perumpamaan-perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga seharusnya mengangkat hati kita dalam sukacita jika kita memikirkan segala hal yang telah diberikan kepada kita dalam iman: dukungan-dukungan berbagai sakramen, contoh hidup orang-orang lain dan banyak lagi hal yang mengingatkan kita akan kasih dan pemeliharaan Allah bagi kita.

Di lain pihak, perumpamaan tentang jala besar mengingatkan kita pada keberadaan bermacam-macam orang yang melayani Kerajaan Allah di dunia ini. Kata lain untuk menggambarkan sebuah jala besar yang dapat menampung segala macam ikan dan binatang laut adalah “katolik”. Waktu untuk memisahkan ikan yang baik dan yang jahat belum dilakukan karena perahu masih berada di tengah laut. Sementara badai kritik sedang bertiup kencang dan perahu kita penuh dengan segala macam ikan, apa yang paling dibutuhkan sekarang adalah keseimbangan. Keseimbangan inilah yang didoakan oleh Salomo (lihat bacaan pertama) … hati yang faham menimbang perkara … yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Hikmat ini digambarkan oleh seorang Saudara Dina (Richard Rohr OFM) sebagai kemampuan untuk memegang bersama hal-hal yang bertentangan satu sama lain dalam keseimbangan.

dragnetDalam Gereja Katolik terdapat hikmat besar yang selama ini telah mampu menjaga keseimbangan antara “sayap kiri” dan “sayap kanan”, “progresif” dan “konservatif”, dunia pertama, dunia kedua dan dunia ketiga. Dalam artian tertentu Gereja bukanlah dari dunia ini dan jiwa-jiwa besar telah diinspirasikan untuk menarik diri dari hiruk pikuk kota besar untuk kemudian masuk ke dalam padang gurun dan biara-biara. Namun Gereja yang sama adalah garam masyarat dan terang dari pikiran-pikiran yang mendidik, memajukan ilmu pengetahuan dan kesenian, merintis rumah-rumah sakit dan segala macam pelayanan terhadap sesame manusia.

Gereja yang tidak duniawi ini penuh dengan pengertian dan bela rasa terhadap orang-orang berdosa yang hidup di dunia. Misalnya, ideal monogami dan cinta kasih penuh kesetiaan dijunjung tinggi, namun Gereja akan sangat terlibat dalam upayanya mendukung pasangan suami-istri yang sudah bercerai, dan menolong mereka yang menjadi korban penyakit HIV-AIDS. Bahkan mereka yang menderita karena tidak mengikuti peraturan Gereja akan melihat bahwa Gereja yang sama mendukung mereka dalam hal pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka. Seperti seorang ibu yang memperingatkan anaknya akan bahaya dari langkahnya yang keliru, sang ibu itu pula yang pertama-tama menolong anaknya yang tidak mengacuhkan peringatan akan bahaya tersebut. Gereja mengkhotbahkan kesempurnaan, namun senantiasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersumber pada ketidaksempurnaan para anggotanya.

Gereja tidak mempunyai opsi untuk menjadi konservatif atau progresif. Gereja memelihara vitalitasnya hanya dengan menanggapi secara progresif berbagai kebutuhan baru yang timbul dari situasi-situasi yang berubah dari waktu ke waktu. Namun Gereja hanya membuat langkah maju apabila memelihara apa yang benar dan baik dan indah dalam tradisinya. Jadi dalam khasanah Gereja tersimpanlah hal-hal yang baru dan lama.

Dalam Gereja kita menemukan ruangan yang dapat mengakomodir semua ketegangan yang disebabkan berbagai kontradiksi yang kita hadapi. Dalam Gereja kita dapat merasa nyaman dengan berbagai unsur tubuh dan jiwa, keutamaan dan kejahatan, gelak-tawa dan air mata, istirahat dan kegiatan, bertumbuh dan mengalami proses kematian. Gereja adalah sebutir mutiara yang tak ternilai harganya, namun pada saat yang sama merupakan jala besar yang menampung berbagai jenis ikan di dalamnya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena hanya kasih-Mu saja kami Kaupilih untuk menjadi anggota Gereja, yang adalah Tubuh-Mu sendiri. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-52), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 27-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

(Tulisan ini merupakan saduran bebas dari tulisan P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books-The Columbia Press, hal. 193-195)

Cilandak, 24 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANGTUA DARI SANTA PERAWAN MARIA

ORANGTUA DARI SANTA PERAWAN MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Sabtu, 26 Juli 2014)

275px-Santi_gioacchino_e_annaTetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:16-17)

Bacaan Pertama: Sir 44:1,10-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18

Pada hari ini Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini. Banyak dari apa yang saya pelajari tentang Anna dan Yoakim berasal dari berbagai sumber yang ada dalam perpustakaan pribadi saya, a.l. dari THE GOSPEL OF THE BIRTH OF MARY dan THE PROTOEVANGELION BY JAMES THE LESSER, COUSIN AND BROTHER OF THE LORD JESUS; keduanya terdapat dalam THE LOST BOOKS OF THE BIBLE, New York: New American Library, 1974 (asli:1926). Tulisan kedua di atas juga terdapat dalam Ron Cameron (Editor), The Other Gospels dengan judul THE PROTEVANGELIUM OF JAMES. Oleh Gereja, kedua tulisan ini tidak diterima dalam kanon Kitab Suci, namun merupakan peninggalan penting dan dapat memberikan pandangan sekilas tentang kehidupan kedua orangtua Maria tersebut. Kenyataan bahwa Tuhan Yesus mempunyai seorang nenek dan kakek menggarisbawahi pentingnya aspek historis dalam agama Kristiani. Yesus adalah seorang pribadi yang memiliki suatu garis keturunan yang historis.

Banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan Yoakim dan Anna, teristimewa bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang satu hari kelak dipilih untuk menjadi Ibunda Putera Allah. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan di awal abad kedua dan telah banyak digambarkan dalam karya seni abad pertengahan. Dua ayat dalam bacaan Injil hari ini merupakan sabda pujian yang pantas ditujukan bagi mereka berdua.

Kedua orangtua Maria ini memiliki rasa tanggungjawab yang mendalam untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – yang telah memanggil mereka menjadi orangtua – , bahwa Dia akan memberikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah dari ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia diberitahukan oleh malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:35,38).

Kehidupan orangtua harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan mindset melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual di mana seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajar anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orangtua agar supaya mereka dapat terbuka bagi rahmat yang Kauberikan untuk mengurus keluarga mereka bagi-Mu. Berikanlah kepada kami segala rahmat untuk menguduskan diri kami bagi-Mu dalam peranan apapun yang Kauberikan kepada kami dalam kehidupan ini. Amin.

Cilandak, 23 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKENANKANLAH DIRI KITA DILUCUTI

PERKENANKANLAH DIRI KITA DILUCUTI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Jumat, 25 Juli 2014)

james-son-of-zebedee

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi perccaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes dan anak dari Zebedeus, dan merupakan salah seorang murid Yesus pertama yang mati sebagai seorang martir Kristus (Kis 12:2). Pada waktu dipanggil oleh Yesus, Yakobus dan Yohanes – yang berprofesi sebagai nelayan – sedang membereskan jala di dalam perahu. Kakak beradik itu meninggalkan ayah mereka, Zebedeus, di dalam perahu bersama-sama orang-orang upahannya, lalu mengikuti Yesus (lihat Mrk 1:19-20). Pekerjaan nelayan yang membutuhkan kerja fisik yang keras barangkali yang membuat Yakobus tangguh secara fisik dan juga temperamennya.

KEMURIDAN - IBU YAKOBUS MINTA KPD YESUSMelihat ketetapan hati dan hasratnya untuk melayani Allah, Yesus pun memasukkan Yakobus sebagai salah seorang dari tiga orang sahabat terdekat-Nya (di samping Petrus dan Yohanes). Yakobus dan Yohanes hadir di tempat kediaman Petrus dan Andreas di mana ibu mertua Petrus disembuhkan dari sakit demamnya oleh Yesus (Mrk 1:29-31); bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus hadir ketika Yesus membangkitkan puteri Yairus dari kematian (Mrk 5:37); bersama Petrus dan Yohanes, rasul ini juga menyaksikan transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi (Mrk 9:2); dan dia juga bersama Petrus dan Yohanes berada di dekat Yesus dalam taman Getsemani (Mrk 14:33).

Selama dia bersama Yesus sekitar tiga tahun itu, Yakobus mengalami suatu “pelucutan” progresif dari hidup lamanya yang mengandalkan pada kekuatannya sendiri, sehingga dengan demikian dia dapat menerima dari Yesus hidup baru dalam Roh. Misalnya, ketika sebuah kota di Samaria menolak kunjungan Yesus, Yakobus dan Yohanes ingin agar api turun dari langit untuk membinasakan penduduk kota itu (lihat Luk 9:54). Kedua orang bersaudara itu pun ditegur oleh Yesus (Luk 9:55). Sikap keras kakak beradik tersebut barangkali merupakan alasan mengapa mereka dipanggil dengan nama Boanerges yang berarti anak-anak guruh (lihat Mrk 3:17).

Dalam kesempatan lain, ketika dengan beraninya Yakobus (bersama Yohanes) meminta kedudukan-kedudukan terhormat dalam Kerajaan, Yesus mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepada dua orang murid-Nya ini betapa pemikiran-Nya bertolak belakang dengan sifat dari kemuridan (Mrk 10:35-45). Pada akhirnya, proses pelucutan hidup lama Yakobus berarti kehilangan nyawanya sendiri. Sementara itu, dengan keikhlasan seorang murid, Yakobus merangkul hidup Kristus dan bersedia memberikan segalanya untuk memuliakan Guru dan Sahabatnya. Di awal-awal sejarah Gereja Perdana, Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Raja menyuruh membunuh Yakobus dengan pedang (lihat Kis 12:1-2).

Seperti yang dilakukan-Nya atas diri Yakobus, Yesus ini melucuti diri kita dari cinta-diri kita. Melalui perhatian kita pada sabda Allah dan keterbukaan terhadap sakramen Rekonsiliasi dan sakramen Ekaristi, kita dapat membuat diri kita sendiri tersedia bagi Yesus dan menperkenankan Dia untuk membentuk kita kembali agar semakin serupa dengan diri-Nya. Mungkin kita tidak akan mati sebagai martir, namun kita akan melihat diri kita secara progresif dibebaskan dari cengkeraman dosa dan kegelapan. Yesus akan semakin memerintah dalam hati kita, dan Ia akan memenuhi diri kita lebih dan lebih lagi dengan hikmat dan kuat-kuasa-Nya.

Sekarang, marilah kita masing-masing meminta kepada Yesus agar menunjukkan kepada kita di area-area mana dalam hidup kita ada hal-hal yang harus dilucuti, sehingga kita menjadi semakin kecil dan Dia menjadi semakin besar (bdk. Yoh 3:30). Marilah kita bergembira penuh sukacita sebagai para pewaris Kerajaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah kami agar tetap setia kepada-Mu selagi Engkau membuang dari diriku semua yang bukan dari-Mu. Aku bersukacita dalam kuat-kuasa salib-Mu yang telah membebaskan aku dari kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:20-28), bacalah tulisan-yang berjudul “YAKOBUS MEMINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS” (bacaan tanggal 25-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 14 Juli 2013 [HARI MINGGU BIASA XVI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA PERNAH MENINGGALKAN SUMBER AIR YANG HIDUP

JANGANLAH KITA PERNAH MENINGGALKAN SUMBER AIR YANG HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 24 Juli 2014)

Jeremiah-4-blog-postFirman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman YHWH: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. Ketika itu Israel kudus bagi YHWH, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman YHWH.

Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian. Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah YHWH? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna.
Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman YHWH. Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. (Yer 2:1-3,7-8,12-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 36:6-11; Bacaan Injil: Mat 13:10-17

Dalam bacaan hari ini kita lihat bagaimana YHWH-Allah – melalui nabi Yeremia – mengingat-ingat hari-hari penuh keindahan “Keluaran” (Exodus) dari perbudakan Mesir, dan kemudian pengkhianatan Israel terhadap-Nya di tanah terjanji yang subur.

Setiap orang tentunya mengetahui tentang intimasi dan gairah cinta yang baru antara seorang mempelai perempuan dan seorang mempelai laki-laki. Berbicara melalui nabi Yeremia, Allah menggunakan gambaran yang familiar ini untuk menyampaikan sesuatu berkenan dengan relasi-Nya dengan umat-Nya sepanjang waktu mereka bersama-sama di padang gurun menuju Tanah Terjanji (Yer 2:2). Pada waktu itu umat Israel menghormati Allah dengan baik, sebagaimana seorang mempelai perempuan menghormati suaminya. Namun setelah mereka memasuki Tanah Terjanji, mereka bermain mata dengan ilah-ilah lain untuk menemukan kepuasan (Yer 2:4-11). Dari bacaan ini secara sekilas kita dapat melihat kelemah-lembutan hati Bapa surgawi. Dia menunjukkan bagaimana hati-Nya patah ketika melihat umat-Nya mencari kepuasan diri dalam hal-hal yang lain dari diri-Nya.

97.-JeremiahAllah menindak-lanjuti gambaran dari suatu perkawinan yang pecah-berantakan dengan gambaran dari “kolam yang bocor”. Allah mengatakan bahwa umat-Nya telah meninggalkan-Nya, “sumber air yang hidup”, dan membuat kolam bocor, yang tidak dapat menahan air, jadi akhirnya kering. Mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya Allah ingin berikan kepada mereka secara gratis, dan ujung-ujungnya berakhir tanpa menghasilkan apa-apa. Dengan pergi meninggalkan Allah, umat Israel menyebabkan diri mereka sendiri kehausan.

Masalahnya di sini kelihatannya adalah bahwa ketika umat Israel keluar dari padang gurun, mereka meninggalkan relasi mereka yang akrab dengan Allah, yang telah mereka pelajari di padang gurun itu, sehingga mereka menderita karenanya. Sadarkah kita bahwa kita pun seringkali melakukan hal yang sama? Kita mencoba mendekat kepada Allah ketika berbagai kesulitan membuat kita menyadari kebutuhan kita akan pertolongan-Nya, namun menjauh dari diri-Nya jika kita merasa tidak membutuhkan-Nya.

Yang dapat kita pelajari adalah bahwa Allah menggunakan saat-saat padang gurun kita untuk mengajar kita pelajaran yang berlaku untuk setiap tahapan kehidupan kita. Allah ingin kita mempertahankan ketergantungan kita kepada-Nya yang kita pelajaran pada masa-masa sulit, sehingga dengan demikian kita dibentuk menjadi bejana-bejana kemuliaan-Nya yang memiliki kuat-kuasa. Di padang gurun kita belajar menggantungkan diri pada Allah untuk segala sesuatu sehingga dengan demikian pada masa-masa menyenangkan, kita menjadi suara-suara kenabian bagi dunia, mengumumkan kehadiran Bapa surgawi dan kebaikan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Tuhanku dan Allahku. Tolonglah aku agar dapat melihat bahwa Engkau adalah sungguh yang kubutuhkan dan bahwa Engkau lebih dari cukup untuk memuaskan diriku. Ajarlah aku untuk tetap mengabdi Engkau setiap waktu, sehingga dengan demikian aku dapat ikut serta memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MASIH TERUS MENGETUK PINTU HATI KITA” (bacaan tanggal 24-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 20 Juli 2014 [HARI MINGGU BIASA XVI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers