HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (6)

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (6)

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS – Sabtu, 1 November 2014)

All-Saints

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga. (Mat 5:1-12a)

Bacaan Pertama: Why 7:2-34, 9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3

“Hari Raya Semua Orang Kudus” mengingatkan kita akan semua orang, baik perempuan maupun laki-laki, yang sekarang menyembah dan memuji-muji Tuhan di dalam surga dan berdoa (syafaat) untuk kita yang masih hidup di dunia. Mereka adalah pribadi-pribadi yang hidupnya mencerminkan kesempurnaan dan kerendahan hati menurut apa yang dimaksudkan oleh “Sabda-sabda Bahagia” yang diucapkan oleh Yesus pada waktu khotbah di bukit. Mereka adalah pribadi-pribadi yang merangkul panggilan Yesus untuk menjadi serupa Dia dan memperkenankan Roh-Nya untuk membebaskan diri mereka dari kedosaan. Mereka memberi kesaksian bahwa sebenarnya siapa saja dapat menjadi orang kudus – siapa saja dapat menjadi warga surga.

Hari ini adalah hari yang istimewa bukan hanya untuk mengakui para martir dan orang-orang kudus yang dikanonisasikan dalam lingkungan iman/gereja Kristiani yang Katolik, melainkan juga begitu banyak saksi Kristus tak dikenal, yang juga menjalani hidup kudus dan mereka telah menerima ganjaran hidup kekal di surga. Beberapa dari orang-orang kudus ini bahkan termasuk orang-orang yang kita kenal pada waktu mereka hidup di dunia – para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan kerja kita, dlsb., pokoknya siapa saja “yang bersih tangannya dan murni hatinya” (Mzm 24:4).

Dalam Kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan suatu penglihatan tentang makhluk-mahkluk surgawi yang menakjubkan; dan salah seorang dari antara tua-tua yang ada dalam penglihatannya bertanya kepada Yohanes: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” (Why 7:13). Yohanes berkata kepadanya, “Tuanku, Tuan mengetahuinya.” Lalu dia berkata kepada Yohanes: “Mereka ini orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Why 7:14-15). Apa yang diminta oleh Allah adalah agar kita senantiasa menjaga hati kita bersih di hadapan-Nya. Apa yang diminta-Nya adalah agar kita mencari Dia untuk hikmat dan kuat-kuasa yang kita butuhkan agar dapat hidup sebagai anak-anak-Nya. Allah akan melakukan selebihnya.

Yesus tetap berpegang pada syarat-syarat tersebut dan menjadikan martabat “orang kudus” bagi setiap orang. Marilah kita memanfaatkan penghiburan dan keberanian yang bersumber pada kuat-kuasa Roh Kudus di dalam diri kita. Marilah kita juga menemukan dorongan untuk bertindak dalam doa-doa syafaat para kudus yang telah pergi menghadap Bapa di surga.

Pada hari ini, ketika kita merayakan persekutuan kita dengan semua orang kudus di surga, marilah kita bersukacita dalam janji-janji Yesus bahwa kita akan menerima “upah” karena mengikuti Dia, …… karena menjadi murid-murid-Nya yang setia – sekarang dan dalam kehidupan yang akan datang.

DOA: Tuhan Yesus, para kudus di dalam surga melihat kemuliaan-Mu dan mengenal ganjaran atau “upah” yang mereka terima karena mengikuti jejak-Mu. Penuhilah diriku dengan pengharapan dalam janji-Mu akan kehidupan kekal. Semoga aku pun dapat ikut ambil bagian dalam sukacita para kudus-Mu di surga. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Yoh 3:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS [5]” (bacaan tanggal 1-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 30 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH

DISEMBUHKAN UNTUK MENJADI PRIBADI-PRIBADI YANG UTUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Jumat, 31 Oktober 2014)

stdas0304Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, “Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. (Luk 14:1-6)

Bacaan Pertama: Flp 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

Pada zaman Yesus hidup di tengah bangsa Israel, memang ada diskusi-diskusi panas tentang apakah hari Sabat itu merupakan suatu hari yang pantas untuk melakukan penyembuhan orang-orang sakit. Memang sangat berbeda dengan zaman modern di mana kita hidup. Banyak dari kita bahkan tidak memiliki ekspektasi bahwa penyembuhan ilahi dapat menjadi bagian normal dari hidup kita sebagai umat Kristiani. Kalau begitu halnya, boro-boro kita akan mempertimbangkan pada hari yang mana seharusnya penyembuhan itu terjadi! Namun iman kita kepada/dalam Yesus seharusnya tidak boleh begitu sempitnya. Dari waktu ke waktu Allah menunjukkan kepada kita bahwa Dia tidak hanya ingin menyelamatkan jiwa kita, melainkan juga untuk menyembuhkan tubuh dan pikiran kita.

Kata Yunani untuk “menyelamatkan” (sozo) juga berarti “menyembuhkan” atau “membuat utuh”. Sebagai Juruselamat kita, Yesus ingin membuat kita menjadi utuh dalam setiap hal. Yesus menunjukkan kebenaran ini selagi Dia berjalan dari tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan, sambil melakukan mukjizat-mukjizat penyembuhan dan berbagai tanda heran lainnya. Jika kita sungguh ingin menerima penyembuhan dari Yesus, maka kita memerlukan iman yang penuh pengharapan dan doa yang penuh ketekunan. Tentu saja, kita harus menghargai dan menghormati profesi di bidang medis-kedokteran, counseling dlsb. Semua itu juga merupakan instrumen-instrumen kuat-kuasa Allah. Namun jauh melampaui upaya medis/ kedokteran dan upaya-upaya manusiawi lainnya, Allah dapat melakukan dan masih melakukan mukjizat-mukjizat dan berbaai tanda heran lainnya. Secara individu maupun bersama-sama dengan orang lain kita dapat berdoa untuk kesembuhan orang sakit. Kita juga dapat mohon bantuan orang Kristiani dengan iman yang dewasa untuk mendoakan kita. Ingatlah apa yang ditulis oleh Yakobus: “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para panatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan” (Yak 5:14).

Banyak studi ilmiah di bidang penyakit telah menunjukkan adanya suatu relasi antar pikiran-pikiran kita dan tubuh kita. Kitab Suci Perjanjian Lama bahkan mengatakan kepada kita bahwa “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30; bdk. 17:22). Barangkali yang lebih menarik lagi adalah studi-studi paling akhir yang telah menunjukkan adanya suatu relasi yang spesifik antara doa dan kesembuhan – bahkan ketika para pasien tidak mengetahui bahwa diri mereka sedang didoakan.

Allah ingin agar kita tetap penuh damai dan tenang selagi kita datang kepada-Nya dengan setiap kebutuhan kita. Selagi kita memusatkan diri kita dan “beristirahat” di hadapan hadirat-Nya, baiklah kita mengingat bahwa positive thinking dan ketenangan kita adalah pencerminan dari iman Yesus sendiri akan kemampuan Bapa-Nya untuk menjaga dan memelihara diri-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan, di samping itu untuk menerima kesembuhan ilahi sebagai suatu bagian normal dari kehidupan kita sebagai umat Kristiani.

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku menjadi seorang saksi dari rahmat penyembuhan-Mu. Ajarlah aku untuk sabar dalam penderitaanku selagi aku berpaling kepada Roh Kudus untuk mempelajari kehendak-Mu. Jagalah aku agar dapat tetap berpengharapan dan terbuka bagi kuat-kuasa dan hasrat-Mu untuk membuat umat-Mu menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Jadikanlah hatiku seperti hati Yesus Kristus, Putera-Mu terkasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI, PENYEMBUHAN PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 31-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 29 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERLENGKAPAN ROHANI

PERLENGKAPAN ROHANI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Kamis, 30 Oktober 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan

Armor-1

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi, berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara. (Ef 6:10-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10; Bacaan Injil: Luk 13:31-35

Pada zaman modern ini kita tidak banyak mendengar mengenai Iblis dan segala kegiatannya. Apakah tipu daya dan kejahatannya sudah begitu menyusut sehingga kita tidak perlu lagi melawannya dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Ef 6:11)? Sama sekali tidak! Walaupun Iblis dan begundal-begundalnya telah dikalahkan di bukit Kalvari, mereka tetap mempunyai pengaruh – meskipun terbatas – sampai saat kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman. Kita dapat melihat bukti-bukti yang jelas dari campur tangan Iblis dan roh-roh jahatnya itu dalam kasus-kasus keluarga-keluarga yang pecah berantakan, peperangan antar-bangsa, dan ketidakadilan sosial yang begitu terasa di berbagai bidang kehidupan, bahkan berskala internasional.

Kecenderungan kita untuk berdosa membuat kita senang menyalahkan orang lain atau sesuatu yang lain atas dosa-dosa dan berbagai kesalahan kita yang lain, sehingga dengan demikian pentinglah bagi kita untuk bebas dari mentalitas bahwa “Iblis-lah yang menyebabkan aku melakukannya”. Pada saat yang sama, sungguh pentinglah untuk melihat bahwa perjuangan fundamental kita sebenarnya adalah untuk “melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef 6:12). Walaupun seringkali kelihatannya bahwa lawan-lawan atau faktor-faktor manusiawi adalah lawan sesungguhnya, semua pertempuran kita memiliki suatu dimensi spiritual juga.

Manakala kita berdosa, maka kita memberikan si Iblis sebuah tempat berpijak dalam hidup kita. Dalam suatu momen yang lemah, kita mungkin mengatakan sesuatu yang kita sesalkan belakangan, suatu momen yang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membalas dengan ucapan kata-kata yang menyakitkan kita. Kita menjadi marah, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan orang lain dan kegagalan-kegagalan mereka, jatuh ke dalam lingkaran setan gosip-gosipan, dan malah mungkin mulai menumpuk kebencian. Sementara hal ini kedengarannya cukup natural, Allah menginginkan agar kita menjadi sadar dan melihat kekuatan-kekuatan spiritual yang jahat itu bekerja juga untuk memecah belah dan mengisolasi kita. Iblis akan mendorong dan mengeksploitasi apa saja yang akan menjauhkan kita dari tindakan mengasihi dan menyembah Allah – dan dari hidup satu sama lain dalam damai sejahtera dan kasih.

Jika kita berdiri bersama dengan Yesus, kita dapat mengadakan perlawanan dan memenangkan pertempuran ini. Yesus telah memenangkan setiap kekuatan jahat dan melalui Dia kita dapat dibebaskan dari ikatan dosa. Apabila kita mengakui dosa-dosa kita, memohon pengampunan-Nya, dan berdoa, maka roh-roh jahat pun pergi melarikan diri dari kita. Allah telah memberikan kepada kita perlengkapan senjata-Nya dan kekuatan untuk syering dalam kemenangan-Nya. Perlengkapan senjata yang disediakan-Nya bagi kita adalah pertahanan kita yang pasti. Diperlengkapi oleh-Nya, kita dapat menjadi prajurit-prajurit doa yang giat berdoa tidak hanya bagi perlindungan diri kita sendiri, melainkan juga untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dari Gereja dan dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah Raja Pemenang. Setiap hari aku akan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Aku akan bergabung dengan Engkau dalam pertempuran melawan pekerjaan-pekerjaan Iblis dan roh-roh jahatnya dalam hidupku. Aku juga berjanji untuk bergabung dengan Engkau dalam doa-doa bagi segenap umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “YERUSALEM, YERUSALEM” (bacaan tanggal 30-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 27 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 29 Oktober 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30)

Bacaan Pertama: Ef 6:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-14

Yesus tidak pernah “ngalor-ngidul” pada saat Ia menggambarkan penghakiman yang kita semua akan hadapi pada akhir hidup kita. Yesus menggunakan perumpamaan yang jelas guna menolong kita memahami dan mempersiapkan diri untuk peristiwa sangat penting itu. Manakala kita membaca dan mencoba merenungkan tentang ditutupnya “pintu yang sempit” pada hari penghakiman, maka mudahlah bagi kita untuk membayangkan perasaan takut yang menimpa seorang pribadi ketika mendengar Yesus berkata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Luk 13:27). Yesus berkata bahwa ada orang-orang yang sebenarnya akan mendengar kata-kata-Nya yang “keras” tersebut dan menjadi terkejut karena mereka sebenarnya sudah mengenal diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya (Luk 13:26).

Yesus tidak memoles Injil-Nya agar terasa manis seperti sepotong kembang gula. Dia juga tidak menakut-nakuti para pendengar-Nya dengan konsekuensi-konsekuensi yang menyeramkan, kecuali bagi mereka yang tidak mempedulikan perintah-perintah-Nya. Orang-orang yang menerima sabda-Nya dalam hati mereka akan mengalami keselamatan dari diri-Nya. Oleh karena itu, “Surat kepada orang Ibrani” mengatakan: “… kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibr 2:1). Tanggapan kita haruslah seperti yang diungkapkan oleh pada pendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama: “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-Saudara?” (Kis 2:37).

Pertama-tama kita harus merasa pasti dalam hati kita bahwa kita telah sungguh “masuk melalui pintu yang sempit”. Tanpa memperkenankan perasaan “harga diri” mengganggu analisis kita, kita perlu memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita kondisi sesungguhnya diri kita di hadapan Allah. Sekali kita telah mengakui beratnya dosa kita dan kedalaman kebutuhan kita akan Yesus, maka kita dapat dengan aman menaruh pengharapan kita dalam Dia, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17).

Setelah masuk melalui pintu sempit iman kepada/dalam Kristus, maka kita pun akan aman berada dalam benteng pertahanan Allah, seperti dikatakan Yesus, “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:18). Dengan percaya kepada-Nya, kita tidak perlu lagi merasa takut akan hari di mana sang pemilik rumah akan menutup pintunya agar kita tidak dapat masuk. Mengapa? Karena kita sudah berada di dalam rumah itu!

Jadi, tujuan kita bukanlah untuk masuk ke dalam rumah, melainkan untuk tetap berada di dalam rumah. Iblis sangat berkemungkinan akan menyerang kita – dengan rasa ragu-ragu, rasa takut, penolakan, rasa kecil-minder, menjadi objek berbagai dakwaan dan banyak lagi. Iblis mungkin mencoba membujuk serta meyakinkan kita bahwa kita masih berada di luar rumah dan merasa kedinginan. Kekuasaan dan kenikmatan duniawi juga tetap dapat menumpulkan hasrat kita akan kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus. Jadi, kita harus mengandalkan diri pada jati diri kita sebagai seorang Kristiani sejati untuk dapat berdiri teguh dalam iman! Jika kita berdiam dalam Kristus, kita tidak perlu merasa takut. Santo Yohanes Penginjil menulis: “Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita” (1Yoh 5:4).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan bahwa Engkau selalu melakukan kehendak Bapa surgawi. Kami percaya, bahwa kami membutuhkan disiplin-diri guna mengembangkan karakter kami sebagai murid-murid-Mu yang sejati, agar dengan demikian kami pun mampu masuk melalui pintu yang sempit yang akan membawa kami ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 29-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 27 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS, RASUL-RASUL KRISTUS [2]

SANTO SIMON DAN SANTO YUDAS, RASUL-RASUL KRISTUS [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul – Selasa, 28 Oktober 2014)

530

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6: 12-19)

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Betapa bahagia kiranya Simon dan Yudas ketika mereka dipilih menjadi bagian dari kelompok dua belas orang rasul Yesus. Bayangkanlah, dari sedemikian banyak murid yang ada, Yesus memilih mereka. Memang kita tidak tahu banyak tentang dua orang rasul yang kita rayakan pestanya hari ini, namun kita dapat membayangkan bagaimana kiranya perasaan mereka dalam mengantisipasi apa artinya hidup akrab dengan Yesus dari hari ke hari, menjadi murid dan sekaligus mitra evangelisasi Yesus sendiri, berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Namun Simon dan Yudas tidaklah sendiri. Pada hari ini, Yesus mengundang kita masing-masing untuk masuk ke dalam relasi persahabatan yang akrab dengan diri-Nya. Dia memanggil kita masing-masing untuk menjadi saudari-saudara-Nya, dan Ia mempunyai misi khusus untuk kita masing-masing. Bagi sejumlah orang, misi itu adalah untuk berkhotbah dan mengajar; bagi sejumlah orang lainnya, misi itu adalah untuk mengungkapkan kasih-Nya melalui upaya mendengarkan dengan penuh bela rasa, teristimewa suara-suara, keluhan-keluhan orang-orang kecil. Seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya bagi dua belas orang rasul (Luk 6:12), Ia berdoa untuk kita masing-masing, bahwa Allah akan menarik kita semakin dekat kepada-Nya sehingga dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami kasih-Nya dan melayani Dia dengan kehidupan kita. Kita dapat berpikir bahwa terkadang sangatlah sulit untuk percaya, namun Yesus menarik kita kepada diri-Nya bukan karena kedalaman devosi kita, melainkan karena kasih-Nya kepada kita.

Sebagian dari kita mungkin merasa ragu-ragu untuk menanggapi panggilan Yesus justru karena kita menyadari keterbatasan-keterbatasan kita. “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.” “Saya hanyalah seorang buruh bangunan.” “Saya sudah terlalu tua untuk membuat perubahan sesungguhnya dalam dunia ini.” Dalam hal ini semua, baiklah kita mengingat bahwa – seperti juga pada zaman Simon dan Yudas – Yesus tidak meminta para pahlawan untuk menjadi murid-murid-Nya. Beberapa dari dua belas rasul itu adalah para nelayan biasa, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang sangat berani pada awalnya (Luk 5:1-11; Mat 26:56,69-75). Yang dicari oleh-Nya adalah orang-orang yang akan membuka hati mereka bagi-Nya. Dalam hati manusia yang terbuka dengan ekspektasi, Yesus dapat bertindak. Yesus bertindak dalam hati dua belas rasul, walaupun ketika mereka salah, karena mereka mengakui kebutuhan dan hasrat mereka akan diri-Nya.

Di mata Yesus, kita adalah harta yang sangat berharga. Ia merasa sangat senang terhadap diri kita masing-masing. Ia berdoa untuk kita masing-masing secara individual dan intens seperti ketika Dia berdoa untuk para murid-Nya dulu (lihat Ibr 7:24). Semoga kita semua mendengar suara-Nya dan menanggapi panggilan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memanggil aku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku memberikan hatiku kepada-Mu, ya Yesus. Datanglah, dan diamlah dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan kasih-Mu. Biarlah hatiku dikobarkan dengan antisipasi terhadap apa yang akan Kaulakukan. Gunakanlah diriku dalam pelayanan kepada sesama seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 2:19-22), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG KURANG DIKENAL” (bacaan tanggal 28-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 23 Oktober 2014 [Peringatan/Pesta S. Yohanes Capestrano]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP DALAM KASIH

HIDUP DALAM KASIH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Senin, 27 Oktober 2014)

St-Paul-iconTetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Sebab itu, sebagai anak-anak yang terkasih, teladanilah Allah dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah. Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono – karena hal-hal ini tidak pantas – tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena ingatlah ini baik-baik: Tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. Memang dahulu kami adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. (Ef 4:32-5:8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:10-17

Santo Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk “hidup di dalam kasih” (Ef 5:2). Bagi sejumlah orang, ungkapan Paulus tersebut dapat menjadi suatu tujuan yang tidak jelas dan sulit. Bagi orang-orang lain, ungkapan Paulus itu dapat terdengar seperti sebuah panggilan untuk senantiasa bersikap manis seperti sirup. Namun sebenarnya Paulus mempunyai suatu konsep kasih yang sangat praktis dan realistis.

Bagi Paulus, mengasihi tidak hanya berarti mempunyai perasaan yang menyenangkan terhadap orang-orang lain, melainkan juga menyangkut sikap “ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni. … (Ef 4:32; 5:3-5). Mengasihi juga berarti melayani seperti Kristus Yesus telah melayani kita (Ef 5:1-2). Hal itu berarti menghayati suatu kehidupan yang dikuduskan kepada Allah dalam ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya.

Jika kita mengasihi dalam Kristus, maka hal itu berarti kita memahami bahwa hidup dalam ketaatan dan kebenaran menolong menjaga kita berada dalam keseimbangan dan memampukan kita untuk memusatkan pandangan mata kita pada tujuan menjadi bejana-bejana Kristus bagi setiap orang yang kita jumpai.

Dalam budaya “modern”, kasih dilihat sebagai suatu perasaan, sesuatu yang tidak dapat dikendalikan. Pilihannya hanyalah dua: kita mengasihi seseorang atau kita tidak mengasihinya. Kasih terjadi begitu saja. Namun Allah menunjukkan bahwa kasih samasekali bukanlah begitu. Tentu saja Yesus tidak merasa seperti mati secara mengenaskan pada kayu salib. Yesus memilih untuk taat kepada Bapa-Nya dan memberikan hidup-Nya sebagai suatu kurban persembahan. Ini adalah pembuktikan paling agung dari kasih sejati.

Kasih juga mengenal batas-batas. Sebagai “seorang” Bapa, Allah telah menandai garis-garis batas untuk kita, garisgaris batas yang menolong kita untuk membedakan antara apa yang dimaksudkan dengan mengasihi dan tidak mengasihi (Ef 5:5-8). Seperti anak-anak yang menghargai garis-garis batas yang ditetapkan oleh orangtua mereka, Bapa di surga juga ingin agar kita merangkul garis-garis batas yang telah ditetapkan-Nya bagi kita – hikmat perintah-perintah-Nya.

Marilah kita berdoa bahwa selagi kita berjalan dalam kasih seperti dilakukan Yesus, kesaksian hidup kita akan mencapai orang-orang di sekeliling kita dengan janji kebenaran dan keselamatan. Marilah kita berdoa bahwa ketaatan kita pada Allah dan pelayanan kita kepada orang-orang lain akan membawa terang Allah ke tengah kegelapan dan dosa yang begitu lazim dewasa ini. Di atas segalanya, marilah kita berdoa bahwa melalui diri kita kasih Allah yang lemah lembut akan menjadi nyata bagi setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin memilih untuk mengasihi orang-orang di sekelilingku. Biarlah kasih-Mu mengalir keluar kepada orang-orang melalui diriku. Tolonglah aku untuk hidup dalam kasih dengan cara yang membuat orang-orang tidak hanya merasa lebih baik, melainkan juga memimpin mereka kepada-Mu dan membawa pujian dan hormat bagi nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMOHON KEPADA YESUS UNTUK MEMBEBASKAN KITA” (bacaan tanggal 27-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:32-5:8), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SEMAKIN SERUPA DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 29-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 23 Oktober 2014 [Peringatan/Pesta S. Yohanes Capestrano]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX, 26 Oktober 2014)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Kata-kata Yesus memiliki kemampuan untuk langsung menyayat hati kita, karena kata-kata-Nya itu menyatakan niat-niat Allah yang bersifat kekal-abadi. Kita diciptakan oleh “seorang” Allah yang penuh kasih, yang ingin memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan memberikan kepada kita kepenuhan hidup. Ia menciptakan kita-manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26,27) sehingga dengan demikian kita akan mampu menerima kasih-Nya dan memperkenankan kasih ini untuk menghasilkan buah dalam diri kita. Tidak ada ciptaan Allah lain yang memiliki kemampuan indah untuk membuka dirinya sendiri bagi Allah berdasarkan kehendak bebas dan kemudian dipenuhi dengan hidup-Nya.

Tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kasih ilahi. Pada awalnya, Allah menetapkan kasih-Nya sebagai kekuasaan yang mengatur Kerajaan-Nya, Ia mengatur segenap ciptaan sebagai akibat dari hati-Nya yang penuh kasih dan bela rasa. Dia memanggil kita – baik secara individual maupun sebagai umat – untuk menempatkan kasih kepada-Nya dan sesama di atas setiap unsur lainnya dalam kehidupan kita. Bersatu dalam kasih, kita dipanggil untuk menguasai ciptaan sebagai pengurus-pengurus (stewards) Allah, dengan mempraktekkan keadilan-Nya di atas bumi.

Ketika dosa masuk ke dalam dunia, perintah Allah ini serta privilese kasih-Nya dikompromikan. Orang-orang mulai menggunakan kata “kasih” secara berbeda, yang mencerminkan niat-niat si Jahat yang mencari kepuasan diri dan pandangan sempit. Hanya dalam wahyu Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama dan yang memuncak pada kedatangan Yesus Kristus, maka kasih dipulihkan kembali kepada martabatnya semula. Hanya melalui karya Roh Kudus dalam hati kita, maka kita dimurnikan dari konsep-konsep kasih yang telah didistorsikan. Hanya oleh kuasa Roh Kudus kita dapat belajar untuk menerima kasih Allah, yang ditawarkan secara bebas oleh-Nya dan tanpa syarat. Dan, hanya oleh kuasa Roh itu kita dapat belajar bagaimana memberikan kasih yang sama kepada orang-orang lain.

Kasih Allah itu aktif dan dinamis. Kasih Allah mempunyai kuat-kuasa untuk mentransformasikan kehidupan, merobek-robek rasa takut dan akar kepahitan yang sudah lama mengendap dalam diri seseorang. Selagi Roh Kudus mencurahkan kasih ini ke dalam hati kita, maka kasih itu mengalir ke luar dari diri kita, memampukan kita untuk mengasihi orang-orang lain dan memberikan kepada kita keyakinan yang lebih besar dalam relasi kita dengan Bapa surgawi.

Manakala kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, kita sesungguhnya merayakan pemberian kasih Allah yang paling agung – kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Oleh kuasa salib-Nya, semua dosa dikalahkan; kasih Allah dicurahkan. Selagi kita ikut ambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darah Tuhan Yesus, marilah kita memberikan kepada Allah pemerintahan –Nya yang lebih bebas bekerja dalam diri kita, menghasilkan sebuah hati yang mengasihi dengan kasih-Nya yang ilahi dan tanpa syarat.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Tes 1:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “PESAN-PESAN SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA” (bacaan tanggal 26-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 22 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers