KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV, 21 September 2014)

YESUS KRISTUS - 11“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

BUAH ANGGURDalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Denggan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

VineyardJoy1Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Beata Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 21-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2014 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN

MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk., Martir-martir Korea – Sabtu, 20 September 2014)

The Sower - Luke 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15).

parable of the sower - 02Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah dua hal: (1) mendengarkan Sabda Allah dan (2) memeliharanya serta melaksanakannya.

Banyak orang Yahudi dalam masa Yesus hidup di dunia sebagai seorang manusia adalah para petani. Mereka memahami hal-ikhwal pertanian, misalnya tentang cara menanam atau menabur benih, tanah yang baik dan tidak baik, pengairan/irigasi dst. Yesus mengatakan bahwa menyebarkan sabda Allah adalah seperti menabur benih, yang harus dilakukan pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat pula.

Yesus mengatakan bahwa ada orang-orang yang memang tidak ingin mendengarkan sabda Allah pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat pula. Itulah sebabnya mengapa sabda Allah tidak menolong mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak menghasilkan buah. Namun bagi mereka yang sungguh ingin mendengarkan sabda Allah, dunia yang baru benar-benar terbuka! Hal ini memberikan kepada mereka keberanian untuk terus melangkah maju, mencerahkan pikiran-pikiran dan kata-kata yang mereka ucapkan, dan membawa kasih ke dalam tindakan-tindakan mereka.

Bagian yang sungguh penting dari petikan di atas adalah frase “mengeluarkan buah dalam ketekunan”. Memang agak mudahlah untuk menjadi bagian dari orang banyak yang mendengarkan sabda Allah tentang kasih dan keadilan, tentang hak-hak orang lain, tentang tugas-tugas kita dalam hidup ini. Namun untuk melaksanakan semua itu dalam ketekunan dalam hidup kita sehari-hari – hari demi hari – adalah suatu persoalan lain. Masalah “teori vs praktek” ini juga merupakan pembahasan yang cukup hangat dalam pertemuan Kitab Suci di lingkungan kami pada malam tanggal 17 September lalu, ketika kami membahas masalah “hidup untuk melayani”.

Ada juga dari kita – umat Kristiani – yang masih bersikap pilih-pilih. Kita senang mendengarkan kata-kata indah tentang kasih dan hal-hal yang enak didengar lainnya. Akan tetapi, ketika Yesus Kristus berbicara kepada kita tentang dosa-dosa kita, tentang berbagai ketidakadilan yang kita lakukan, atau hukuman macam apa yang pantas kita terima untuk semua itu, maka kita tidak sudi mendengarkan sabda Allah itu. Dalam hal ini kita kelihatannya konsisten. Kita hanya mencari sisi yang mudah saja dari berbagai hal yang kita hadapi.

Kalau kita tidak menerima pesan Allah secara keseluruhan, maka kita sebenarnya tidaklah mendengarkan sabda-Nya. Kalau kita tidak mempraktekkan keseluruhan perintah Allah dengan cara sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, maka kita sesungguhnya tidak mengeluarkan buah dalam ketekunan.

DOA: Tuhan Yesus, kubuka hatiku kepada-Mu seperti sebidang tanah yang baik, siap untuk menerima dari-Mu benih-benih sabda-Mu yang Engkau taburkan ke dalam hatiku. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang berjudul “BERBUAH SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 20-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2014 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Jumat, 19 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan: S. Fransiskus Maria dr Comporosso, Biarawan

stdas0158-FAITHFUL WOMENTidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:12-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,6-8,15

Kita lihat dalam Injil Lukas bahwa, tidak seperti para rabi di masa-Nya, Yesus mempunyai perempuan-perempuan juga sebagai para murid-Nya. Pada kenyataannya, perempuan-perempuan itu adalah para pengikut-Nya yang paling setia dan penuh bakti kepada sang Guru. Lukas menceritakan betapa setia perempuan-perempuan tersebut kepada Yesus. Mereka bahkan melayani rombongan Yesus dengan harta milik mereka (Luk 8:3).

Para murid Yesus yang perempuan bersimpati dengan Yesus dan mengikuti-Nya dengan setia. Mereka menangisi dan meratapi-Nya selagi Dia memanggul salib-Nya menuju bukit Kalvari (Luk 23:27). Baik Lukas maupun Yohanes menceritakan kepada kita tentang perempuan-perempuan yang berdiri bersama Maria – ibu-Nya – di dekat salib Yesus dan menolong pada saat penguburan-Nya. Markus menyinggung hal ini juga dalam Injilnya. Keempat penginjil menceritakan kepada kita bahwa perempuan-perempuan ini adalah orang-orang pertama yang melihat Yesus yang sudah bangkit pada pagi hari Paskah, kiranya ganjaran untuk devosi mereka kepada Yesus dengan penuh ketekunan.

Kita menemukan penekanan istimewa atas kualitas-kualitas kesetiaan dari perempuan-perempuan Kristiani dalam tulisan-tulisan Lukas – Injilnya dan juga “Kisah para Rasul”. Lukas menggambarkan dalam tulisan-tulisannya apa yang ditulis Paulus kepada jemaat di Galatia (Gal 3:28): “Dalam hal ini tiak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

Lukas senantiasa mensejajarkan cerita-cerita yang berkaitan dengan seorang laki-laki dan yang berkaitan dengan seorang perempuan. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia (Luk 1:5 dsj.) dan kepada Maria (Luk 1:26 dsj.), dan Maria keluar sebagai juara tak terbantahkan dalam hal ini. Elisabet juga memiliki iman yang kuat ketimbang suaminya Zakharia. Laki-laki tua Simeon disejajarkan dengan Hana. Yesus menyembuhkan hamba perwira Romawi yang sakit (Luk 7:1-11), tetapi Dia membangkitkan anak tunggal dari janda dari Nain dari kematiannya (Luk 7:11-17).

Yesus memuji kasih yang dimiliki oleh orang Samaria yang murah hati dalam perumpamaannya (Luk 10:25-37), tetapi Dia langsung memuji devosi dari Maria, saudari dari Marta dan Lazarus (Luk 10:38-42). Lukas acapkali mengingatkan kita bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, dan mereka – tanpa pandang bulu – dianugerahi dengan berbagai karunia oleh Allah.

Perempuan-perempuan yang dimunculkan dalam bacaan Injil hari ini telah disembuhkan dari pengaruh roh-roh jahat dan juga dari berbagai penyakit, karena mereka memang ingin disembuhkan. Kita ikuti tanggapan mereka terhadap Yesus dan kemajuan spiritual mereka dalam Injil. Dengan membantu Yesus dan misi-Nya dengan harta milik mereka, sebenarnya perempuan-perempuan itu ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus sendiri, sehingga dengan demikian mereka juga ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Mereka pun menjadi pewarta-pewarta pertama dari Kabar Baik: Yesus telah bangkit! Ia telah mengalahkan maut dan sekarang hidup dalam kemuliaan.

DOA: Tuhan Yesus, berilah kepadaku rahmat yang diperlukan agar aku dapat menjadi murid-Mu yang sungguh setia. Tolonglah aku agar dapat melihat kebutuhanku akan pengampunan dari-Mu seperti yang terjadi dengan para perempuan yang mengikuti Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN PENGIKUT YESUS YANG SETIA” (bacaan tanggal 19-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 16 September 2014 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TAK PANTAS MENGHAKIMI ORANG LAIN

KITA TAK PANTAS MENGHAKIMI ORANG LAIN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Kamis, 18 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Yosef dari Copertino, Imam

Bouts_anoiting

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentunya Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”
“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28

“Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya” (Luk 7:36). Kita juga dapat membaca pada bagian lain dalam Kitab-kitab Injil bahwa orang-orang Farisi mengundang Yesus ke rumah mereka sehingga mereka dapat memperhatikan Dia dari dekat, apa yang diucapkan-Nya sekaligus tindak-tanduk-Nya. Dengan demikian mereka dapat menilai dan menghakimi Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini, Simon orang Farisi itu juga menghakimi Yesus, walaupun masih dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menyentuh-Nya ini; tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa” (Luk 7:39).

Sungguh merupakan suatu ironi bahwa orang-orang sedemikian dapat menghakimi sang Hakim Abadi atas orang yang hidup dan mati. Bukan Yesus yang sedang menghadapi tes dan penghakiman, melainkan orang-orang yang berada di sekeliling-Nya. Orang-orang seperti Simon gagal, sedangkan orang-orang seperti “perempuan berdosa” lulus tes dengan baik. Sang Hakim universal, Putera Allah, berkata kepada perempuan tersebut, “Dosamu telah diampuni. Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:48,50).

Simon, si orang Farisi yang sehari-hari kelihatan sebagai seorang yang saleh, gagal tes. Ini adalah suatu peringatan bagi kita semua. Di sini diperlihatkan bahwa secara fisik dekat dengan Yesus tidaklah cukup, juga tidak cukuplah kita dinamakan sebagai orang-orang Kristiani, atau melakukan hal-hal baik bagi Allah dengan seringnya kita muncul dalam gereja-Nya. Simon duduk di samping Yesus, namun secara spiritual dia kehilangan berkat yang besar itu.

Sebaliknya, “perempuan berdosa” tersebut sungguh membuat hati kita mengalami kedamaian. Perempuan itu menunjukkan kepada kita bagaimana memperoleh manfaat tanpa batas dengan mendekati Yesus. Seandainya dia adalah seorang murid dalam kelas, maka kiranya dia adalah murid terbaik dalam kelas karena dia mengenal dirinya dengan jelas, dengan jujur, dan dengan kerendahan hati. Dia mengenal Yesus dengan cara yang sama, dan dia mendekati Yesus dengan kasih serta tindakan penyembahan dan juga pertobatan yang tidak meragukan lagi. Lagipula dia menempatkan rasa percayanya secara total kepada-Nya.

Perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan penghakiman penuh kesombongan yang diperagakan oleh para tokoh agama yang hadir pada perjamuan tersebut. Secara naluriah dia memahami bahwa yang sesungguhnya berhak untuk menghakimi dirinya adalah Yesus. Perempuan itu juga tahu kepada siapa Allah berpihak, kepada Simon dkk., atau kepada Yesus. Perempuan itu menanggapi dengan baik gerakan-gerakan rahmat Allah dalam hidupnya. Deklarasi Yesus tak pernah akan dilupakan dalam sejarah manusia, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak menghasihi” (Luk 7:47).

DOA: Tuhan Yesus, jika nanti aku hendak menghakimi orang lain, ingatkanlah diriku tentang siapa sebenarnya yang di-tes, dan siapa sebenarnya sang Hakim, yang satu, benar, layak serta pantas, dan Mahatahu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “DOSAMU TELAH DIAMPUNI” (bacaan tanggal 19-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 16 September 2014 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBUTUHKAN TANGGAPAN SEORANG DEWASA

MEMBUTUHKAN TANGGAPAN SEORANG DEWASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 17 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-512,22

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menolak baptisan-tobat dari Yohanes Pembaptis, dan penolakan mereka terhadap Yohanes Pembaptis itu merupakan antisipasi akan penolakan mereka terhadap Yesus. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus mengundang para pendengar pewartaan mereka untuk mengubah sikap-sikap dan cara hidup mereka supaya sejalan dengan zaman mesianis yang akan datang. Keduanya ditolak oleh para otoritas keagamaan pada masa itu, namun keduanya justru diterima oleh orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat pada masa itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita hampir dapat mendengar keluhan Yesus atas sikap dan perilaku tidak memadai dari para pendengar-Nya. Mereka dibandingkan-Nya dengan anak-anak yang bermain-main di pasar (Luk 7:32). Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus tidak bermain-main. Mereka berdua membawa suatu pesan sangat penting yang membutuhkan tanggapan seorang dewasa, dan bukan teriakan ketidakpuasan yang bersifat kekanak-kanakan.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, Yohanes Pembaptis berasal dari suatu tradisi asketisisme; dia hidup secara keras di padang gurun, namun orang-orang mengatakan bahwa dia kerasukan setan. Kemudian datanglah Yesus; dia bergaul dengan segala macam orang, dia menghadiri pesta perkawinan dan kematian mereka, berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah perjamuan ilahi dimana makanan dan air anggur mengalir dengan bebas, dan tokh orang-orang menuduh-Nya sebagai seorang pelahap dan peminum (pemabuk). Hidup Yohanes Pembaptis yang menyendiri dinilai sebagai sesuatu yang dipengaruhi Iblis, sedangkan hidup Yesus yang terbuka dikatakan “tidak keruan”. Kelihatannya baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus harus kalah.

Sebenarnya pelayanan Yesus sendiri dan pelayanan Yohanes Pembaptis itu bersifat komplementer, saling mengisi satu sama lain, namun masing-masing dikritik karena tidak melakukan hal yang dilakukan oleh yang lain. Jadi pendekatan apa pun yang diambil oleh mereka, pasti salah. Yesus menjawab bahwa hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya (Luk 7:35). Putusan terakhir tidaklah terletak pada kritik-kritik yang kekanak-kanakan, melainkan dalam kebaikan yang dilahirkan melalui pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Orang-orang dapat saja mengkritisi Yohanes Pembaptis untuk “isolasi”-nya, namun dia berhasil menggerakkan hati banyak orang dan memimpin mereka ke dalam hadirat Allah dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Orang-orang dapat mengkritisi Yesus yang begitu mudah bergaul dengan berbagai macam orang (termasuk orang-orang yang dipandang “berdosa”), namun tidak pernah dalam sejarah mereka ada seorang pun yang telah memanifestasikan wajah Allah seperti yang telah dilakukan oleh Yesus.

Buah-buah dari karya Yesus dan Yohanes Pembaptis berbicara sendiri dalam diri mereka yang memberikan tanggapan terhadap pesan mereka. Yesus dan Yohanes Pembaptis mengetahui sekali bahwa mereka mereka tidak pernah dapat diterima oleh orang-orang yang menginginkan suatu pesan berbeda daripada yang mereka dengar sekarang. Namun baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis tidak terpengaruh untuk melayani keinginan mereka. Kiranya Yohanes Pembaptis dan Yesus bukanlah petugas penjualan yang akan menjual barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Drama yang dihadirkan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah drama yang riil, sebuah drama Allah sendiri.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian sebagai seorang dewasa aku dapat melihat siapa sesungguhnya Engkau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 99-100.

Cilandak, 15 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

PUTERA SANG JANDA DARI NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup-Martir – Selasa, 16 September 2014)

www-St-Takla-org--37-Jesus-raises-the-widow-of-Nains-son

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformir penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dialah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin.

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96.

Cilandak, 15 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TELADAN ABADI YANG DIBERIKAN BUNDA MARIA

TELADAN ABADI YANG DIBERIKAN BUNDA MARIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Senin, 15 September 2014)

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSDekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27)

Bacaan Pertama 1Kor 12:31-13:13 atau Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35

Pada hari ini Gereja memperingati “Santa Perawan Maria Berdukacita” yang mengungkapkan Maria sebagai teladan sempurna dari seseorang yang tetap setia berdiri di dekat kayu salib sampai saat kematian Puteranya. Tindakan kasih sedemikian mengungkapkan kemauan Maria untuk menanggung pencobaan macam apa pun, kesulitan apa pun, dan penderitaan sengsara yang bagaimana pun beratnya agar dapat tetap bersama dengan Yesus, berdoa untuk-Nya, dan mendukung Dia, walaupun hal itu berarti harus menyaksikan kematian-Nya yang mengenaskan di atas kayu salib.

Bayangkan betapa pedihnya hati Maria selagi dia menyaksikan segala ketidakadilan yang menimpa Putera-Nya dan juga sekarang penderitaan-Nya di atas kayu salib. Maria hanya dapat memandang Putera-Nya dengan kesedihan yang mendalam sambil berdoa kepada YHWH, Allah Israel. Yesus dihukum mati tidak ubahnya seorang penjahat kelas berat pada masa itu, dan Maria tidak mampu sedikitpun untuk menyeka peluh dan membersihkan darah yang mengalir di wajah-Nya selagi tubuh-Nya sudah terpaku pada kayu salib. Namun, menit demi menit menuju kematian Yesus, Maria dengan setia berada di dekat salib Putera-Nya itu, darah dagingnya sendiri. Sungguh seorang ibu sejati.

Sebagaimana telah dinubuatkan oleh Simeon, hati Maria akan ditembus oleh sebilah pedang penderitaan (lihat Luk 2:35). Akan tetapi, fiat Maria yang tanpa syarat itu, jawaban “ya”-nya yang diberikannya ketika dia menyatukan kehendaknya dengan kehendak Bapa surgawi dan “Sabda menjadi daging” dalam dirinya – telah mempersiapkan dirinya untuk menaruh kepercayaan kepada Allah secara penuh. Sejak saat itu Maria berulang-kali merangkul jalan Allah, namun semua itu tidaklah mengurangi sama sekali rasa sakitnya pada saat-saat dia berdiri di dekat Yesus yang tersalib. Karena fiat-nya yang keluar dari kedalaman hatinya, Maria mampu untuk menerima “biaya” yang harus dibayarnya dalam rencana penyelamatan Allah.

OUR LADY OF SORROWKita tidak pernah tahu apakah Maria telah diberikan kesempatan untuk secara sekilas lintas memandang Yesus dalam kemuliaan, seperti yang dialami oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes di atas sebuah gunung (transfigurasi; lihat Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36). Dengan naluri seorang ibu, apakah Maria memahami sesuatu dari kata-kata Puteranya selagi Dia memprediksi penderitaan-penderitaan-Nya dan akan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk 9:22)? Dalam doa, apakah Maria menerima visi (walaupun secara singkat) tentang kebangkitan Yesus yang penuh kemuliaan? Kita tidak pernah tahu, barangkali kelak di surga kita akan tahu.

Sampai saat itu, Maria berdiri tegak sebagai seorang yang menjadi “model” bagi kita semua dengan jawaban “ya”-nya kepada kehendak Allah secara berulang-kali, baik pada saat-saat susah maupun saat-saat penuh kegembiraan. Di bukit Kalvari Maria menunjukkan kepada kita bagaimana kita juga dapat berdiri dengan setia di dekat salib Yesus (Yoh 19:25).

DOA: Bapa surgawi, kami menyerahkan setiap situasi yang kami hadapi kepada-Mu. Sebagaimana dicontohkan oleh Bunda Maria, maka pada jam-jam tergelap dalam hidup kami, kami akan tetap setia kepada-Mu. Kami telah mengenal-Mu pada saat-saat penuh sukacita dan damai-sejahtera, dengan demikian kami percaya bahwa Engkau akan mendengarkan doa-doa kami dan akan berada dekat dengan kami untuk menolong kami pada saat-saat sulit dan penderitaan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?” (bacaan tanggal 15-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 12 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers