KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 27 November 2014)

Keluarga OFM Conventual: Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam

2ndcoming2

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”
“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.” (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Salah satu unsur dari kepercayaan umat Yahudi pada zaman Yesus dahulu adalah bahwa YHWH akan membangkitkan seorang Mesias guna menyelamatkan umat-Nya. Ada orang-orang yang membayangkan sang Mesias sebagai seorang tokoh politik yang akan memerdekakan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Ada orang-orang lain yang mengharapkan agar Musa atau Elia kembali dan memimpin bangsa Yahudi seperti mereka lakukan dalam masa Perjanjian Lama. Ada juga orang-orang yang mengharapkan seorang Mesias imamiyah yang akan membawa umat kembali ke suatu penyembahan kepada YHWH yang benar.

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang akhir zaman. Setelah bernubuat mengenai keruntuhan Yerusalem, Yesus mengatakan bahwa akan ada tanda-tanda kosmik, peristiwa-peristiwa besar yang akan membuat orang-orang menjadi takut. Namun tanda yang paling besar akan menyusul: “Pada waktu itu orang akan meihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

Siapa sebenarnya “Anak Manusia” ini? Dalam penglihatannya tentang akhir zaman, Daniel melihat seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14).

Anak Manusia adalah Mesias dan pada saat yang sama juga Hakim. Ia berbeda dengan jenis-jenis Mesias yang biasa diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena Anak Manusia datang dari surga dan tidak hanya seorang manusia, melainkan juga sangat dekat dengan YHWH di surga. Kepada Mesias ini – Anak Manusia ini – diberikan kekuasaan dan wewenang atas seluruh bumi serta isinya, dan segenap ciptaan lainnya, dan kekuasaannya adalah kekal-abadi.

Yesus adalah sang Mesias, Anak Manusia. Bilamana Dia datang, maka Dia sungguh-sungguh akan menghakimi bumi. Dia menyemangati serta mendorong umat yang percaya: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Oleh karena itu, janganlah kita merasa takut akan akhir zaman dan kedatangan Anak Manusia, Yesus, karena Dia adalah seorang Hakim yang adil (bdk. Mat 25:31-46).

DOA: Tuhan Yesus, segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Mu. Datanglah dan dirikanlah kerajaan-Mu secara penuh dengan datang kembali kelak dalam kemuliaan. Tolonglah kami untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia dan taat kepada perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri dengan kepala tegak pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “MISTERI KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 27-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Cilandak, 25 November 2014 [Peringatan B. Elisabet dr Reute]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 26 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Leonardus dr Porto Mauritio, Imam

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Why 15:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-3,7-9

Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi, difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

S. EDITH STEIN - BBKarena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.

Edith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

S, EDITH STEIN - AACerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengsihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “BERTEKUNLAH !!!” (bacaan tanggal 26-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 25 November 2014)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati

pppas0594Lalu aku melihat: Sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya. Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada dia yang duduk di atas awan itu, “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” Lalu Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumi pun dituailah.
Kemudian seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di surga; juga padanya ada sebilah sabit tajam. Seorang malaikat yang lain lagi datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya, “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah. (Why 14:14-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13; Bacaan Injil: Luk 21:5-11

Walaupun segala imaji apokaliptis yang disajikan dalam Kitab Wahyu terasa agak aneh bin ajaib, semua itu sebenarnya terkait erat dengan tradisi kenabian Perjanjian Lama dan juga perumpamaan-perumpamaan Yesus. Misalnya, nabi Yoel memproklamirkan bahwa YHWH akan menghakimi bangsa- bangsa seperti menyabit tuaian yang sudah masak (Yl 3:13). Yesaya juga berbicara mengenai seorang tokoh mesianis gagah yang akan melakukan penghakiman, yang berpakaian merah, yang berkata: “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!” (lihat Yes 63:1-3).

Dua buah nubuatan di atas sejajar dengan visi Yohanes dari pulau Patmos dalam Kitab Wahyu: “Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah” (Why 14:19). Yesus juga membanding-bandingkan akhir zaman dengan waktu panenan, dan menerapkan imaji ini, malah dengan tingkat kedaruratan yang lebih. Jangkauan pandangan Yesus jauh melampaui sejarah umat manusia, dan pandangan-Nya itu langsung sampai kepada saat di mana Bapa surgawi akan mencapai kemenangan akhir: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35).

pppas0250Saat “menuai” mengacu kepada kulminasi dari suatu langkah maju yang teratur namun panjang. Pertama-tama, tanah harus dicangkul atau dibajak, kemudian ditanamlah benih-benih. Lahan itu pun kemudian diairi dan diberi pupuk serta dirawat dengan baik. Hanya apabila tanaman sudah berbuah dan buah-buah itu sudah masak, maka tibalah saatnya untuk mengambil buah-buah itu. Dalam urut-urutan seperti ini para penulis Kitab Suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus menemukan lambang tangan-tangan Allah yang membimbing sejarah manusia. Seorang petani mempersiapkan segala sesuatu untuk masa menuai yang mau tidak mau akan tiba, walaupun hal ini menyangkut masa depan yang cukup jauh. Demikian pula secara tetap Allah mempersiapkan umat-Nya untuk akhir zaman.

Hanya dengan/oleh iman kita dapat percaya bahwa dunia ini akan berakhir, tidak melalui perubahan besar tanpa makna, melainkan melalui pendirian Kerajaan Allah secara penuh. Prosesnya sendiri sudah dimulai. Walaupun hari demi hari kita berjuang melawan si Jahat dan para roh jahatnya yang tidak pernah merasa jemu menggoda kita, adalah kenyataan bahwa kita bergerak semakin dekat dengan saat kedatangan kembali Kristus yang penuh kemenangan pada akhir zaman. Kitab Wahyu mengingatkan bahwa kita harus yakin seyakin-yakinnya akan kemenangan akhir Allah seperti si petani merasa yakin akan kedatangan saat untuk menuai.

Yesus mengundang kita untuk berpartisipasi secara aktif dalam menuai panenan: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:48). Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita rahmat untuk bekerja dengan-Nya selagi Dia “mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal” (Yoh 4:36).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang yang Engkau ingin kumpulkan dalam Gereja-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu tolonglah kami untuk menjadi hamba-hamba-Mu yang setia, yang menyiapkan jalan bagi kedatangan kembali Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI DIKUASAI OLEH RASA TAKUT” (bacaan tanggal 25-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:14-19), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN DI BUMI” (bacaan tanggal 27-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung La, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DOMBA YANG BERDIRI DI BUKIT SION

ANAK DOMBA YANG BERDIRI DI BUKIT SION

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir – Senin, 24 November 2014)

wedding-feast-of-the-lamb

Lalu aku melihat: Sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. Aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai kurban-kurban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela. (Why 14:1-5)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Luk 21:1-4

“Lalu aku melihat: Sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya. …… Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi” (Why 14:1,4).

Visi Yohanes tentang suatu sisa Israel yang tak ternodai oleh penyembahan berhala (seringkali digambarkan sebagai imoralitas seksual) menggemakan dan menggenapi visi-visi kenabian Perjanjian Lama dari Yesaya dan Zefanya. Yesaya mempunyai visi tentang sisa-sisa Israel yang akan pergi dari Yerusalem dan gunung Sion (Yes 37:31-32). Zefanya memproklamasikan bahwa Allah akan membiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama YHWH, yakni sisa Israel. Meteka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu (Zef 3:12-13).

the-holy-lamb-of-god-with-the-seven-rivers-tempera-on-wood-42-x-30cm-salesians-church-turin-italy-2002Gambaran Anak Domba yang berdiri di Bukit Sion yang dikelilingi oleh sisa milik-Nya memiliki signifikansi besar bagi Gereja karena hal itu memberikan pesan akan kemenangan akhir dari Yesus. Gambaran itu juga menyemangati umat Kristiani untuk tetap setia pada Injil dalam situasi-situasi yang seringkali sangat penuh dengan kekerasan. Tritunggal itu hidup dan aktif! Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan si Jahat. Dalam Dia, kita menjadi para pemenang ketika kita menempatkan kepercayaan dalam kemenangan-Nya atas dosa, Iblis dan maut.

Tuhan, yang mengetahui hasrat hati kita yang terdalam, akan memasukkan semua orang yang mengasihi-Nya dalam “sisa” milik-Nya. Dia menginginkan semua orang, kaya dan miskin, bujangan dan menikah, tua dan muda, awam dan religious, untuk termasuk di dalam “buah-buah pertama untuk Allah”. Undangan terbuka dari Tuhan untuk menjadi bagian dari “sisa” yang setia ditemukan dalam angka 144.000, yang menunjukkan angka kepenuhan (12 x 12 x 1.000).

Selagi kita sampai pada akhir tahun liturgi dan akan mulai dengan tahun liturgi yang baru, marilah kita berdoa agar banyak orang akan mengabdikan diri mereka sepenuh hati kepada Tuhan Yesus, mengikuti ke mana saja Dia pergi. Marilah kita berdoa juga agar Gereja tetap kuat dan tidak ternodai walaupun dalam keadaan dunia yang banyak memberikan pengaruh buruk. Tidak ada seorang pun dari kita perlu tunduk pada godaan-godaan untuk memiliki harta yang bersifat materiil, kenikmatan-kenikmatan yang bersifat kedagingan atau prestise. Kristus yang berdiam dalam diri kita akan melindungi siapa saja yang merindukan diri-Nya dan tetap berada dekat dengan diri-Nya melalui doa-doa harian dan pembacaan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Roh Kudus akan menerangi pikiran anak-anak Allah agar dapat melihat kebenaran-Nya dalam segala situasi yang dihadapi. Allah kita sungguh dapat dipercaya!

DOA: Tuhan, kami menerima undangan-Mu untuk menjadi bagian dari “sisa” milik-Mu. Lindungilah kami dari pengaruh-pengaruh dosa, Iblis dan dunia, sehingga dengan demikian kami pun dapat menyanyikan lagu baru-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN YANG MENYENANGKAN HATI ALLAH” (bacaan tanggal 24-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI ANAK-ANAK DOMBA YANG LEMBUT KITA MELAYANI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 26-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Bandung, 21 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH YANG SEJATI

KASIH YANG SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM – Minggu, 23 November 2014)

KRISTUS RAJA - 1“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46)

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26,28

Sebagai umat Kristiani kita seringkali berbicara mengenai kasih, dan hal itu tidaklah salah. Tidak diragukan lagi bahwa kasih bersifat hakiki. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbagai tulisan orang-orang kudus, teologi pada zaman dahulu maupun modern, umat Kristiani maupun bukan, semua setuju tentang keutamaan kasih. Namun orang-orang seringkali berbicara begitu entengnya tentang kasih ini, seakan-akan topik tentang kasih ini sangat sederhana, seakan-akan tidak ada tuntutan-tuntutan selain membuang segalanya yang lain, seakan-akan itu merupakan obat penyembuh segalanya dan langsung.

Kasih adalah memang obat penyembuh segalanya, apabila kasih itu kasih yang sejati. Masalahnya adalah bahwa kita tidak dapat melepaskan diri kita dari pandangan kekanak-kanakan bahwa kasih adalah sekadar masalah emosi sesaat. Pandangan ini dapat dibenarkan dan didukung oleh cerpen-cerpen “romantis” dalam majalah-majalah, film-film, novel-novel, dan apa saja yang menjadi bagian dari sebuah budaya yang tergila-gila pada kenikmatan badani.

Sekarang ada pertanyaan yang harus kita jawab. Bukankah keutamaan atau kebajikan seharusnya menyenangkan? Jawabnya dapat “ya” dan dapat juga “tidak”. Dengan kecenderungan-kecenderungan dari segenap kedagingan manusia, maka kasih sejati dapat menyakitkan dan dapat pula menyenangkan. Tuntutan dari kasih yang sejati banyak menuntut dan terasa menakutkan: pemberian-diri secara total menuntut kesabaran yang luarbiasa, kerendahan hati yang tidak main-main dalam hal keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali dalam mengambil tindakan yang bertentangan dengan hasrat-hasrat kita yang mementingkan diri sendiri.

Tidakkah setiap pasutri pasti mempunyai “catatan” tentang pengalaman selama satu pekan setelah honeymoon? Jika sungguh ada kasih yang sejati dan kebahagiaan yang sesungguhnya, maka salah satu dari pasutri memberikan-dirinya. Tentunya, pemberian-diri menjadi sukacita dari kasih, namun siapakah yang menyangkal bahwa hal itu juga menyakitkan? Perhatian dan minat yang serius atas seorang pribadi yang lain seperti dituntut oleh kasih menyebabkan suatu keprihatin yang mendatangkan kecemasan. Namun hal ini bukanlah kecemburuan atau self-pity, melankan merupakan bentuk penderitaan yang riil. Kasih yang sejati mengalami/merasakan penderitaan yang diderita oleh dia yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah Raja dan Hakim yang akan menghakimi kami masing-masing pada akhir zaman. Jika kami sungguh menanggapi kasih-Mu dengan saling mengasihi antara kami, sekarang dan di dunia ini, maka kami percaya bahwa kamipun akan menerima berkat dari-Mu seperti ada tertulis dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH SANG RAJA” (bacaan untuk tanggal 23-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 20 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI YANG LEBIH MENDALAM DENGAN YESUS

RELASI YANG LEBIH MENDALAM DENGAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan & Martir – Sabtu, 22 November 2014)

john_the_divine_on_the_isle_of_patmos_by_kjdvndv-d5l65fi

Merekalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki pelita yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara demikian. Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.
Bilamana mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka. Mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan. Orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan umat, melihat mayat mereka selama tiga setengah hari dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan. Mereka yang tinggal di bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang tinggal di bumi.
Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat menjadi sangat takut. Lalu kedua nabi itu mendengar suatu suara yang nyaring dari surga berkata kepada mereka, “Naiklah ke mari!” Lalu naiklah mereka ke surga, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka. (Why 11:4-12)

Mamzur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10; Bacaan Injil: Luk 20:27-40

Satu reaksi apabila seseorang membaca Kitab Wahyu dapat seperti berikut ini: “Luar biasa, Yohanes dari pulau Patmos ini sungguh-sungguh mempunyai imajinasi yang hidup!” Akan tetapi kita harus ingat bahwa Yohanes tidak membuat-buat hal ini. Dia sungguh mendengarkan Yesus yang berbicara kepadanya. Walaupun dia tidak mencoba untuk memberikan interpretasi yang bersifat literal/harfiah dari akhir zaman, Yohanes menemukan suatu cara yang kreatif untuk menuliskan apa yang telah dipelajarinya dari Tuhan Yesus agar dia dapat mendorong/menyemangati para saudari dan saudaranya dalam Kristus untuk memusatkan pandangan mereka pada Yesus pada masa-masa penuh kesulitan.

Sepanjang masa, Allah telah memanggil manusia dari setiap bidang kehidupan ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Bagaimana? Dengan membisikkan/menanamkan sabda-Nya ke dalam hati mereka. Ignatius adalah seorang perwira tentara tulen yang mengenal apa artinya medan pertempuran dan memahami keganasan dan kekejaman perang. Ketika dia sedang mengalami proses penyembuhan dari luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran, dia mendengar Yesus memanggilnya untuk melayani tentara Allah. Bunda Teresa bukanlah seorang biarawati yang luarbiasa ketika Yesus minta kepadanya untuk melayani orang-orang termiskin dari para miskin di Kalkuta, India. Fransiskus dari Assisi dapat dikatakan seorang anak manja seorang pengusaha/pedagang tekstil di kota Assisi ketika dia mendengar panggilan untuk merangkul Tuan Puteri Kemiskinan dan membangun kembali Gereja.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih. Yesus sangat rindu untuk berbicara dengan diri kita masing-masing. Yesus begitu rindu untuk melihat kita kembali kepada-Nya dengan ekspektasi besar, penuh kepercayaan bahwa kita dapat mendengar suara-Nya. Yesus berbicara kepada kita dalam pikiran kita, atau memberikan kita gambaran mental, atau menempatkan seorang pribadi atau situasi dalam hati kita. Bagaimana pun terjadinya, unsur penentu atau key element-nya adalah bahwa kita tahu dalam hati kita bahwa yang kita dengar bukanlah berasal dari diri dalam diri kita sendiri. Ada rasa beda bahwa kata-kata yang khusus ini atau imaji yang khusus ini “datang dari Tuhan”.

Marilah kita mencoba hal ini dalam doa kita hari ini. Kita heningkan pikiran kita dan kita memikirkan seseorang yang kita kenal yang membutuhkan bantuan doa. Kita membayangkan orang itu dalam pikiran kita dan kita kemudian memohon kepada Tuhan Yesus bagaimana kita dapat melayani orang itu dengan baik hari ini. Dalam keheningan batin, kita mendengarkan apakah ada kata-kata yang menyemangati, atau sepotong ayat Kitab Suci, atau suatu tindakan khusus yang mulai memberi kesan khusus kepada kita. Mungkin sekali Tuhan Yesus berbicara kepada kita dan mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mengasihi dan memperhatikan orang ini pada hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Yohanes mendengarkan Engkau yang berbicara kepadanya dari surga. Aku pun ingin mendengarkan sabda-Mu pada hari ini. Berbicaralah kepadaku, ya Tuhan Yesus! Berbicaralah kepadaku bagaimana kiranya aku dapat menunjukkan kasih dan perhatianku kepada seseorang pada hari ini. Melalui Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat bertumbuh dalam kemauan dan kemampuanku untuk mendengarkan nasihat-nasihat dan perintah-perintah-Mu dalam doa. Dan juga tolonglah aku agar dapat menanggapi apa yang telah kudengarkan itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “BAB TERAKHIR” (bacaan tanggal 22-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 11:4-12), bacalah tulisan yang berjudul ‘DUKA ORANG SAKSI ALLAH” (bacaan tanggal 24-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGANDALKAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

MENGANDALKAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maria Dipersembahkan kepada Allah – Jumat, 21 November 2014)

BAIT ALLAH DIBERSIHKAN - YESUS DAN PARA PENUKAR UANGLalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48)

Bacaan Pertama: Why 10:8-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131

Para musuh Yesus terus “memburu” Dia seperti burung-burung nazar yang mengelilingi mangsa mereka, namun mereka tidak dapat menemukan suatu kesempatan untuk menyerang karena begitu banyak orang yang mengikut Yesus. Orang-orang mendengarkan pengajaran Yesus dengan penuh perhatian, dan mereka “terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia” (Luk 19:48).

Orang-orang tidak mendengarkan kata-kata Yesus oleh karena Dia seorang orator hebat atau cerdas secara politis. Daya pikat Yesus adalah justru karena Dia berbicara tentang sabda Allah serta menggunakannya dengan penuh kuasa, sabda yang “hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12).

Yesus seringkali mengandalkan sabda Allah dalam Kitab Suci Ibrani (=Perjanjian Lama) untuk melawan para musuh-Nya. Pikirkanlah betapa Dia sering mengatakan: “Ada tertulis”. Misalnya ketika Yesus digoda oleh Iblis di padang gurun (Luk 4:4,80; lihat juga 19:46; Mat 4:4,8,10; Mrk 7:6; Yoh 8:17). Bukankah kita semua juga mempunyai “musuh-musuh” yang terus mengincar hati dan pikiran kita, mencoba untuk mengalahkan, bahkan menghapuskan Yesus dari hidup kita? Tidakkah kita semua mempunyai “lemari” dalam batin kita yang dipenuhi dengan keragu-raguan, penolakan-penolakan, dan godaan-godaan kuat lainnya, sehingga kita lebih menyukai untuk tetap terkunci dalam lemari tersebut daripada berurusan dengan Yesus dan panggilan-Nya?

A WOMAN PRAYINGTerpujilah Allah, karena kita memiliki senjata di tangan kita guna mengalahkan musuh-musuh kita. Kitab Suci mengalahkan segala kebohongan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya. Itulah sebabnya mengapa membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci secara harian dapat merupakan sesuatu yang sangat berguna dan penuh kekuatan. Jika kita berkomitmen memasukkan beberapa ayat dalam memori kita dan mengingat itu semua pada saat-saat kita mengalami kecemasan, kekhawatiran, kemarahan, atau keragu-raguan, maka hal itu dapat menolong kita dalam berurusan dengan musuh-musuh kita tersebut. Doa-doa yang terdapat dalam Mazmur atau kata-kata penghiburan dalam Injil juga dapat membantu dalam membangun hidup kita atas dasar fondasi-fondasi pengharapan dan rasa percaya sehingga kita tidak akan menjadi begitu rentan terhadap emosi-emosi negatif yang justru disenangi oleh musuh-musuh kita.

Kita memang tidak dapat menyerap seluruh isi Kitab Suci sekaligus, namun sungguh menolong apabila kita mempunyai Kitab Suci yang menggunakan bahasa yang cocok dengan diri kita. Kita dapat memulainya dengan bacaan-bacaan dalam Misa harian atau salah satu kitab Injil. Garis-bawahilah atau tulislah kembali ayat-ayat yang menyentuh hati kita dalam sebuah buku catatan yang khusus diperuntukkan untuk itu. Kita dapat menempatkan petikan-petikan dari Kitab Suci pada suatu tempat khusus di rumah kita guna mengingatkan kita akan kehadiran Allah yang penuh kuat-kuasa. Dengan berjalannya waktu, “musuh-musuh” kita pun akan mengkerut juga.

DOA: Tuhan Yesus, aku merasa takjub terhadap kuat-kuasa sabda-Mu! Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, tanamkanlah dalam diriku rasa lapar dan haus yang lebih mendalam lagi akan sabda Allah dalam Kitab Suci, agar dengan demikian aku dapat bertumbuh dalam hikmat ilahi dan berguna dalam keikutsertaanku memajukan Kerajaan Surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:45-48), bacalah tulisan yang berjudul “BAIT ALLAH ADALAH RUMAH DOA” (bacaan tanggal 21-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Surabaya, 18 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 136 other followers