PERKENANKANLAH DIRI KITA DILUCUTI

PERKENANKANLAH DIRI KITA DILUCUTI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Jumat, 25 Juli 2014)

james-son-of-zebedee

Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Dengan demikian, maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun demikian karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus, Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubungan dengan semakin banyaknya orang yang menjadi perccaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. (2Kor 4:7-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Mat 20:20-28

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus, saudara dari Yohanes dan anak dari Zebedeus, dan merupakan salah seorang murid Yesus pertama yang mati sebagai seorang martir Kristus (Kis 12:2). Pada waktu dipanggil oleh Yesus, Yakobus dan Yohanes – yang berprofesi sebagai nelayan – sedang membereskan jala di dalam perahu. Kakak beradik itu meninggalkan ayah mereka, Zebedeus, di dalam perahu bersama-sama orang-orang upahannya, lalu mengikuti Yesus (lihat Mrk 1:19-20). Pekerjaan nelayan yang membutuhkan kerja fisik yang keras barangkali yang membuat Yakobus tangguh secara fisik dan juga temperamennya.

KEMURIDAN - IBU YAKOBUS MINTA KPD YESUSMelihat ketetapan hati dan hasratnya untuk melayani Allah, Yesus pun memasukkan Yakobus sebagai salah seorang dari tiga orang sahabat terdekat-Nya (di samping Petrus dan Yohanes). Yakobus dan Yohanes hadir di tempat kediaman Petrus dan Andreas di mana ibu mertua Petrus disembuhkan dari sakit demamnya oleh Yesus (Mrk 1:29-31); bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus hadir ketika Yesus membangkitkan puteri Yairus dari kematian (Mrk 5:37); bersama Petrus dan Yohanes, rasul ini juga menyaksikan transfigurasi Yesus di atas sebuah gunung yang tinggi (Mrk 9:2); dan dia juga bersama Petrus dan Yohanes berada di dekat Yesus dalam taman Getsemani (Mrk 14:33).

Selama dia bersama Yesus sekitar tiga tahun itu, Yakobus mengalami suatu “pelucutan” progresif dari hidup lamanya yang mengandalkan pada kekuatannya sendiri, sehingga dengan demikian dia dapat menerima dari Yesus hidup baru dalam Roh. Misalnya, ketika sebuah kota di Samaria menolak kunjungan Yesus, Yakobus dan Yohanes ingin agar api turun dari langit untuk membinasakan penduduk kota itu (lihat Luk 9:54). Kedua orang bersaudara itu pun ditegur oleh Yesus (Luk 9:55). Sikap keras kakak beradik tersebut barangkali merupakan alasan mengapa mereka dipanggil dengan nama Boanerges yang berarti anak-anak guruh (lihat Mrk 3:17).

Dalam kesempatan lain, ketika dengan beraninya Yakobus (bersama Yohanes) meminta kedudukan-kedudukan terhormat dalam Kerajaan, Yesus mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepada dua orang murid-Nya ini betapa pemikiran-Nya bertolak belakang dengan sifat dari kemuridan (Mrk 10:35-45). Pada akhirnya, proses pelucutan hidup lama Yakobus berarti kehilangan nyawanya sendiri. Sementara itu, dengan keikhlasan seorang murid, Yakobus merangkul hidup Kristus dan bersedia memberikan segalanya untuk memuliakan Guru dan Sahabatnya. Di awal-awal sejarah Gereja Perdana, Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Raja menyuruh membunuh Yakobus dengan pedang (lihat Kis 12:1-2).

Seperti yang dilakukan-Nya atas diri Yakobus, Yesus ini melucuti diri kita dari cinta-diri kita. Melalui perhatian kita pada sabda Allah dan keterbukaan terhadap sakramen Rekonsiliasi dan sakramen Ekaristi, kita dapat membuat diri kita sendiri tersedia bagi Yesus dan menperkenankan Dia untuk membentuk kita kembali agar semakin serupa dengan diri-Nya. Mungkin kita tidak akan mati sebagai martir, namun kita akan melihat diri kita secara progresif dibebaskan dari cengkeraman dosa dan kegelapan. Yesus akan semakin memerintah dalam hati kita, dan Ia akan memenuhi diri kita lebih dan lebih lagi dengan hikmat dan kuat-kuasa-Nya.

Sekarang, marilah kita masing-masing meminta kepada Yesus agar menunjukkan kepada kita di area-area mana dalam hidup kita ada hal-hal yang harus dilucuti, sehingga kita menjadi semakin kecil dan Dia menjadi semakin besar (bdk. Yoh 3:30). Marilah kita bergembira penuh sukacita sebagai para pewaris Kerajaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah kami agar tetap setia kepada-Mu selagi Engkau membuang dari diriku semua yang bukan dari-Mu. Aku bersukacita dalam kuat-kuasa salib-Mu yang telah membebaskan aku dari kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:20-28), bacalah tulisan-yang berjudul “YAKOBUS MEMINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS” (bacaan tanggal 25-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 14 Juli 2013 [HARI MINGGU BIASA XVI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA PERNAH MENINGGALKAN SUMBER AIR YANG HIDUP

JANGANLAH KITA PERNAH MENINGGALKAN SUMBER AIR YANG HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 24 Juli 2014)

Jeremiah-4-blog-postFirman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman YHWH: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya. Ketika itu Israel kudus bagi YHWH, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman YHWH.

Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian. Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah YHWH? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna.
Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman YHWH. Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. (Yer 2:1-3,7-8,12-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 36:6-11; Bacaan Injil: Mat 13:10-17

Dalam bacaan hari ini kita lihat bagaimana YHWH-Allah – melalui nabi Yeremia – mengingat-ingat hari-hari penuh keindahan “Keluaran” (Exodus) dari perbudakan Mesir, dan kemudian pengkhianatan Israel terhadap-Nya di tanah terjanji yang subur.

Setiap orang tentunya mengetahui tentang intimasi dan gairah cinta yang baru antara seorang mempelai perempuan dan seorang mempelai laki-laki. Berbicara melalui nabi Yeremia, Allah menggunakan gambaran yang familiar ini untuk menyampaikan sesuatu berkenan dengan relasi-Nya dengan umat-Nya sepanjang waktu mereka bersama-sama di padang gurun menuju Tanah Terjanji (Yer 2:2). Pada waktu itu umat Israel menghormati Allah dengan baik, sebagaimana seorang mempelai perempuan menghormati suaminya. Namun setelah mereka memasuki Tanah Terjanji, mereka bermain mata dengan ilah-ilah lain untuk menemukan kepuasan (Yer 2:4-11). Dari bacaan ini secara sekilas kita dapat melihat kelemah-lembutan hati Bapa surgawi. Dia menunjukkan bagaimana hati-Nya patah ketika melihat umat-Nya mencari kepuasan diri dalam hal-hal yang lain dari diri-Nya.

97.-JeremiahAllah menindak-lanjuti gambaran dari suatu perkawinan yang pecah-berantakan dengan gambaran dari “kolam yang bocor”. Allah mengatakan bahwa umat-Nya telah meninggalkan-Nya, “sumber air yang hidup”, dan membuat kolam bocor, yang tidak dapat menahan air, jadi akhirnya kering. Mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya Allah ingin berikan kepada mereka secara gratis, dan ujung-ujungnya berakhir tanpa menghasilkan apa-apa. Dengan pergi meninggalkan Allah, umat Israel menyebabkan diri mereka sendiri kehausan.

Masalahnya di sini kelihatannya adalah bahwa ketika umat Israel keluar dari padang gurun, mereka meninggalkan relasi mereka yang akrab dengan Allah, yang telah mereka pelajari di padang gurun itu, sehingga mereka menderita karenanya. Sadarkah kita bahwa kita pun seringkali melakukan hal yang sama? Kita mencoba mendekat kepada Allah ketika berbagai kesulitan membuat kita menyadari kebutuhan kita akan pertolongan-Nya, namun menjauh dari diri-Nya jika kita merasa tidak membutuhkan-Nya.

Yang dapat kita pelajari adalah bahwa Allah menggunakan saat-saat padang gurun kita untuk mengajar kita pelajaran yang berlaku untuk setiap tahapan kehidupan kita. Allah ingin kita mempertahankan ketergantungan kita kepada-Nya yang kita pelajaran pada masa-masa sulit, sehingga dengan demikian kita dibentuk menjadi bejana-bejana kemuliaan-Nya yang memiliki kuat-kuasa. Di padang gurun kita belajar menggantungkan diri pada Allah untuk segala sesuatu sehingga dengan demikian pada masa-masa menyenangkan, kita menjadi suara-suara kenabian bagi dunia, mengumumkan kehadiran Bapa surgawi dan kebaikan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Tuhanku dan Allahku. Tolonglah aku agar dapat melihat bahwa Engkau adalah sungguh yang kubutuhkan dan bahwa Engkau lebih dari cukup untuk memuaskan diriku. Ajarlah aku untuk tetap mengabdi Engkau setiap waktu, sehingga dengan demikian aku dapat ikut serta memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MASIH TERUS MENGETUK PINTU HATI KITA” (bacaan tanggal 24-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 20 Juli 2014 [HARI MINGGU BIASA XVI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 23 Juli 2014)

The-Prophet-Jeremiah

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin.

Firman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi YHWH berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman YHWH.”

Lalu YHWH mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; “YHWH berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan juntuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” (Yer 1:1,4-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; bacaan Injil: Mat 13:1-9

Sabda Allah kepada nabi Yeremia adalah sabda sama dengan yang Ia katakan kepada kita masing-masing: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yer 1:5). Allah sungguh mengenal diri kita – baik kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan kita, disposisi-disposisi hati kita, preferensi-preferensi kita dll. – lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Allah bahkan mengetahui apa saja yang dengan bebas kita akan pilih untuk dilakukan dalam kehidupan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita, namun setiap saat kita dapat pergi dengan bebas memilih jalan hidup kita sendiri atau merangkul rahmat-Nya dan karya indah yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan.

imagesDalam kasus Yeremia, rencana Allah adalah menjadikannya seorang nabi. Yeremia dapat saja mengabaikan panggilan tersebut dan menolak rahmat Allah. Apa yang mendorongnya untuk menanggapi panggilan Allah tersebut secara positif? Walaupun Kitab Suci tidak menjelaskannya, kita dapat membayangkan bahwa “formasi” yang dilakukan oleh para orangtuanya atas diri Yeremia memainkan peran yang cukup signifikan dalam penerimaan Yeremia atas tantangan-tantangan hidup seorang nabi.

Seperti Yeremia, kita (anda dan saya) pun dipanggil untuk menerima panggilan Allah bagi kita masing-masing untuk memproklamasikan Injil-Nya kepada generasi selanjutnya, sehingga dengan demikian mereka pun akan terbuka bagi panggilan Allah. Teristimewa jika kita adalah orangtua, nenek-kakek, atau seorang pendidik, maka kita mempunyai suatu peranan istimewa dalam hal ini. Allah menginginkan kita untuk menghormati orang-orang muda dalam kehidupan kita. Allah ingin agar kita mengakui karunia-karunia yang dimiliki orang-orang muda itu, juga untuk menghargai kebenaran bahwa mereka diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27). Allah tahu bahwa semakin banyak yang kita lakukan, semakin serius pula orang-orang muda itu akan berpikir tentang apa yang diinginkan Allah untuk mereka lakukan dengan hidup mereka.

Jika kita adalah para orangtua yang mempunyai anak-anak, maka pikirkanlah tentang bagaimana kehidupan rumah tangga kita dapat mencerminkan dan mendukung rencana Allah bagi keluarga kita. Rumah tangga atau keluarga kita adalah semacam “gereja mini”; gereja domestik atau ecclesia domestica. Para orangtua dikuduskan untuk membawa Kabar Baik Keselamatan kepada anak-anak mereka. Tanyalah kepada diri kita masing-masing: Apakah aku berbicara kepada anak-anakku tentang Allah dan bercerita kepada mereka tentang Yesus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita? Apakah selama ini aku berupaya untuk mencari petunjuk berkaitan dengan apa yang dilakukan Allah dalam hati mereka?

Saudari dan Saudaraku terkasih. Allah ingin melakukan hal-hal besar melalui dan dalam diri anak-anak kita (anda dan saya). Oleh karena itu marilah kita upayakan suatu suasana yang kondusif bagi keterbukaan spiritual dalam rumah tangga kita masing-masing. Semoga hal tersebut akan memampukan anak-anak kita mendengar dan menanggapi panggilan Allah kapan saja hal itu datang.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik. Memang mudahlah bagiku untuk merasa tidak layak dan pantas jika hal itu menyangkut mensyeringkan sabda-Mu dengan orang-orang muda dalam hidupku. Namun aku percaya bahwa rahmat-Mu dapat memberdayakan diriku untuk bertekun dan berhasil pada akhirnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH KITA MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?” (bacaan tanggal 23-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 19 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA MAGDALENA HIDUP HANYA UNTUK MELAYANI-NYA

MARIA MAGDALENA HIDUP HANYA UNTUK MELAYANI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maria Magdalena – Selasa, 22 Juli 2014)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

He-is-risen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18)

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9

MMAntiochanchurchYang diinginkan oleh Maria Magdalena hanyalah berada di dekat-Nya. Karena Yesus telah membebaskannya dari tujuh roh jahat, Maria Magdalena hidup hanya untuk melayani-Nya (Luk 8:1-2). Sekarang, setelah memberitahukan Petrus dan Yohanes bahwa jenazah Gurunya telah dicuri orang, Maria Magdalena kembali ke kubur Yesus untuk mengungkapkan rasa dukanya. Itulah saatnya di mana Yesus – Tuhan yang bangkit dan Penguasa Alam Semesta, mendekati Maria Magdalena dan menyebutkan namanya “Maria” (Yoh 20:16). Dengan sepatah kata itu, Maria Magdalena mengenali Dia. Maria telah menunjukkan ketekunannya dalam mencari Yesus, dan sebagaimana yang dilakukannya kepada semua orang yang mencari-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya kepada Maria Magdalena secara sangat pribadi.

Namun Yesus belum menyelesaikan perjalanan-Nya: “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa” (Yoh 20:17). Yesus tidak ingin Maria Magdalena hanya mengetahui fakta tentang kebangkitan-Nya, melainkan juga kemuliaan-Nya bersama-sama Bapa di surge. Yesus ingin membuat jelas bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita pun telah menjadi anak-anak Allah. Ini adalah sukacita-Nya yang paling besar, suatu sukacita yang ingin diproklamasikan-Nya ketika Dia meminta Maria menceritakannya kepada rasul-rasul: “Sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh 20:17).

Namun demikian, mengapa Yesus menampakkan diri kepada perempuan ini, yang kelihatannya memainkan peran yang kecil saja dalam kitab-kitab Injil? Mengapa Yesus memberikan kepadanya kehormatan untuk berperan (seperti dikatakan oleh Gereja Ortodoks) sebagai “rasul bagi para rasul”? Mengapa Yesus tidak menampakkan diri-Nya kepada Petrus, or Nikodemus, atau bahkan Raja Herodes? Jawaban sederhana atas pertanyaan ini: Karena pesan yang mengubah seluruh dunia harus disampaikan oleh seorang perempuan rendah hati yang hanya dikenal untuk cintakasihnya yang besar dan juga kesetiaannya.

Tidak banyak dari kita yang dianugerahi secara istimewa sebagai pengkhotbah ulung atau teolog-teolog terpelajar, namun kita pun dapat melakukan evangelisasi. Yang dilakukan oleh Maria Magdalena “hanyalah” bercerita tentang apa yang dilihatnya dan dialaminya, dan melalui kesaksiannya Roh Kudus mengubah dunia. Hal yang sama juga benar bagi kita. Yesus telah melakukan banyak hal dalam kehidupan kita masing-masing: Kita telah dikasihi-Nya, kita telah disembuhkan oleh-Nya, kita telah diampuni oleh-Nya, kita telah diperdamaikan, dan kita telah dibebaskan dari segala keterikatan pada hal-hal yang buruk. Dalam terang ini, kita pun dapat menjadi berani, karena kapan saja Yesus diproklamasikan, Roh-Nya bergerak.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keberanian seperti yang telah Kauberikan kepada Maria Magdalena. Bukalah mulutku agar dapat mengevangelisasi, karena aku tahu bahwa sabda-Mu akan menghasilkan buah dalam banyak hati manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP HARI KITA DAPAT MENDENGAR SUARA YESUS” (bacaan tanggal 22-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 18 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI INGIN MELIHAT SUATU TANDA DARI ENGKAU

KAMI INGIN MELIHAT SUATU TANDA DARI ENGKAU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 21 Juli 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Laurensius dari Brindisi, Imam & Pujangga Gereja

YUNUS BERKHOTBAH DI TENGAH ORANG-ORANG NINIWEPada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42)

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16-17,21,23

Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah “retret” selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).

Sebagai seorang Yahudi yang saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Mat 12:39). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Mat 12:39,42).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Mat 12:39). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “angkatan yang jahat” (lihat Mat 12:39) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Mat 12:42). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Mat 12:41).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi. Dengan pertolongan Roh Kudus, mohonlah kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan berbalik kembali kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan berjudul “LEBIH BESAR DARIPADA YUNUS DAN SALOMO” (bacaan tanggal 21-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 18 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 20 Juli 2014)

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30; versi panjang: 13:24-43)

Bacaan Pertama: Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27

Bacaan Injil untuk hari ini cukup panjang. Saya mengambil versi yang singkat berdasarkan pertimbangan praktis. Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum”, Yesus berbicara tidak hanya mengenai orang-orang baik dan orang-orang jahat di dunia, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ditemukan di dalam Gereja. Suatu pandangan yang realistis tentang Kekristenan (Kristianitas) harus mampu menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi sedemikian terbiasa terbawa arus dosa, keduaniawian, dan si Jahat sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi hidup orang-orang Kristiani lainnya.

Yesus memperingatkan para murid-Nya – dan Ia terus saja memperingatkan kita – tentang kebutuhan-kebutuhan Gereja. Para bapak Konsili Vatikan II mengakui, “Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Namun di sinilah kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mulai mengidentifikasikan “lalang-lalang” yang ada dalam paroki atau dalam gereja yang lebih besar dan mencoba sendiri menangani dan berurusan dengan mereka semua. Dengan demikian berarti kita menghakimi mereka. Penghakiman atas diri orang lain barangkali juga merupakan lalang yang sangat bersifat destruktif dan satu dari tanda-tanda yang paling jelas dari karya Iblis, “pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why 12:10).

Menyadari bahwa betapa cepat kita dapat menghakimi orang-orang lain, Yesus memperingatkan kita agar selalu memperhatikan balok yang ada di mata kita sendiri sebelum kita mencoba mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara kita (Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya kita tidak ingin melihat dicabutnya semua “orang jelek”, karena kita sendiri tahu betapa tidak ada artinya diri kita sendiri dalam membangun Kerajaan Allah. Kita masing-masing memiliki “benih-benih buruk” dalam hati kita. Jalan terbaik untuk menjamin perlindungan Gereja adalah memohon kepada Roh Kudus supaya menolong kita memeriksa nurani kita dan membebaskan kita dari dosa.

Allah tidak menginginkan kita untuk tidak berbelas-kasih dalam penilaian kita terhadap orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin agar kita berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi Gereja, dengan demikian menjadi para peniru Yesus, yang selalu melakukan syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Bapa (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari dosa dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi Engkau menyelidiki hati umat-Mu, Engkau melihat lalang-lalang dalam diri kami semua. Akan tetapi Engkau juga melihat Putera-Mu terkasih hidup dalam diri kami. Tolonglah kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Yesus sehingga dengan demikian Gereja yang didirikan-Nya di atas bumi dapat menjadi terang yang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-43 atau versi singkat Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 20-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 17 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 19 Juli 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGLalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21)

Bacaan Pertama: Mi 32:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa Yesus berurusan dengan dua jenis manusia: (1) orang-orang Farisi yang berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan Yesus, bahkan mereka membenci-Nya dan lalu membuat rencana untuk membunuh Dia. (2) anggota masyarakat pinggiran, mereka yang termarginalisasi, para “pendosa” yang sadar bahwa mereka membutuhkan Yesus dan menginginkan-Nya. Injil mencatat seperti berikut: “Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya” (Mat 12:15).

Ketika mengajarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7). Jadi, kata kuncinya di sini adalah “bertobat”. Yesus juga datang bagi orang-orang yang sadar bahwa mereka membutuhkan kuat-kuasa-Nya untuk menyembuhkan, bukan bagi mereka yang sudah “sedemikian baik” sehingga mereka merasa tidak lagi membutuhkan-Nya. Oleh karena itu Yesus mengatakan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. …… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:12,13). Yesus datang agar supaya orang-orang sakit dan orang-orang berdosa dapat menikmati hidup baru dan kekuatan baru.

Pada masa lampau seringkali orang-orang Kristiani tidak memakai kuat-kuasa Yesus untuk menyembuhkan. Sebenarnya Yesus menghendaki agar kita melakukannya. Di mana-mana dalam kitab-kitab Injil, kita sering melihat Yesus melakukan penyembuhan atas diri seseorang atau dalam perjalanan untuk menyembuhkan seseorang, atau baru saja pulang dari menyembuhkan seseorang. Orang-orang sakit dibawa kepada Yesus dan “Ia menyembuhkan mereka semua” (Mat 12:15b). Orang banyak mengetahui bahwa Yesus adalah seorang nabi besar yang memiliki kuasa ilahi. Dia menyembuhkan orang lumpuh, buta, tuli serta berbagai penyakit lainnya, juga para pendosa yang bertobat. Yesus membuat para pendosa menjadi orang-orang kudus!

Kita lihat dalam kitab-kitab Injil bahwa Jesus ingin para pengikut-Nya juga melakukan hal yang sama. Yesus berkata kepada 12 murid-Nya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma” (Mat 10:7-8). Yesus ingin agar Gereja-Nya melakukan pekerjaan penyembuhan ini – melalui Sadramen-sakramen, melalui doa mohon kesembuhan, melalui komunitas-komunitas iman.

Akan tetapi hal ini dapat menuntut suatu iman dan rasa percaya yang lebih besar daripada yang kita miliki sebelumnya, dan suatu relasi yang dekat dengan Yesus, sehingga dengan demikian hidup dalam Dia dan dengan Dia dari hari ke hari, kita dapat mengalami kuasa-Nya yang besar dalam hidup kita dan dalam hidup orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, tanah-tanah kering membutuhkan air hujan. Engkaulah air hujan itu (Hos 6:3). Seorang petani menyambut turunnya hujan dengan penuh sukacita karena dia mengetahui bahwa hal itu adalah kebutuhan pokok agar tanamannya bertumbuh. Kami juga sangat membutuhkan Engkau, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOTIF YESUS ITU SEDERHANA: KASIH!” (bacaan tanggal 19-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

D’Agape, Gadog, Jawa Barat, 16 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers