MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX, 26 Oktober 2014)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Kata-kata Yesus memiliki kemampuan untuk langsung menyayat hati kita, karena kata-kata-Nya itu menyatakan niat-niat Allah yang bersifat kekal-abadi. Kita diciptakan oleh “seorang” Allah yang penuh kasih, yang ingin memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan memberikan kepada kita kepenuhan hidup. Ia menciptakan kita-manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kej 1:26,27) sehingga dengan demikian kita akan mampu menerima kasih-Nya dan memperkenankan kasih ini untuk menghasilkan buah dalam diri kita. Tidak ada ciptaan Allah lain yang memiliki kemampuan indah untuk membuka dirinya sendiri bagi Allah berdasarkan kehendak bebas dan kemudian dipenuhi dengan hidup-Nya.

Tidak ada kuasa yang lebih besar daripada kasih ilahi. Pada awalnya, Allah menetapkan kasih-Nya sebagai kekuasaan yang mengatur Kerajaan-Nya, Ia mengatur segenap ciptaan sebagai akibat dari hati-Nya yang penuh kasih dan bela rasa. Dia memanggil kita – baik secara individual maupun sebagai umat – untuk menempatkan kasih kepada-Nya dan sesama di atas setiap unsur lainnya dalam kehidupan kita. Bersatu dalam kasih, kita dipanggil untuk menguasai ciptaan sebagai pengurus-pengurus (stewards) Allah, dengan mempraktekkan keadilan-Nya di atas bumi.

Ketika dosa masuk ke dalam dunia, perintah Allah ini serta privilese kasih-Nya dikompromikan. Orang-orang mulai menggunakan kata “kasih” secara berbeda, yang mencerminkan niat-niat si Jahat yang mencari kepuasan diri dan pandangan sempit. Hanya dalam wahyu Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama dan yang memuncak pada kedatangan Yesus Kristus, maka kasih dipulihkan kembali kepada martabatnya semula. Hanya melalui karya Roh Kudus dalam hati kita, maka kita dimurnikan dari konsep-konsep kasih yang telah didistorsikan. Hanya oleh kuasa Roh Kudus kita dapat belajar untuk menerima kasih Allah, yang ditawarkan secara bebas oleh-Nya dan tanpa syarat. Dan, hanya oleh kuasa Roh itu kita dapat belajar bagaimana memberikan kasih yang sama kepada orang-orang lain.

Kasih Allah itu aktif dan dinamis. Kasih Allah mempunyai kuat-kuasa untuk mentransformasikan kehidupan, merobek-robek rasa takut dan akar kepahitan yang sudah lama mengendap dalam diri seseorang. Selagi Roh Kudus mencurahkan kasih ini ke dalam hati kita, maka kasih itu mengalir ke luar dari diri kita, memampukan kita untuk mengasihi orang-orang lain dan memberikan kepada kita keyakinan yang lebih besar dalam relasi kita dengan Bapa surgawi.

Manakala kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, kita sesungguhnya merayakan pemberian kasih Allah yang paling agung – kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Oleh kuasa salib-Nya, semua dosa dikalahkan; kasih Allah dicurahkan. Selagi kita ikut ambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darah Tuhan Yesus, marilah kita memberikan kepada Allah pemerintahan –Nya yang lebih bebas bekerja dalam diri kita, menghasilkan sebuah hati yang mengasihi dengan kasih-Nya yang ilahi dan tanpa syarat.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Tes 1:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “PESAN-PESAN SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA” (bacaan tanggal 26-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 22 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNIA YANG BERBEDA-BEDA NAMUN SATU

KARUNIA YANG BERBEDA-BEDA NAMUN SATU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 25 Oktober 2014)

St Paul Icon 4

Tetapi kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya dikatakan, “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia” [lihat Mzm 68:19]. Bukankah “Ia telah naik” berarti bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhi segala sesuatu. Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari Dialah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Ef 4:7-16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5; Bacaan Injil: Luk 13:1-9

Bayangkanlah banyaknya hadiah yang diterima seorang pengantin perempuan pada hari pernikahannya. Dengan membayangkannya kita dapat merasakan posisi kita seperti digambarkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Paulus memahami hadiah berlimpah dari Allah tersebut ketika dia menyatakan: “… kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian Kristus” (Ef 4:7).

Bapa surgawi dengan segala kemurahan hati telah melimpah-limpahkan setiap berkat spiritual atas umat-Nya. Termasuk dalam anugerah-anugerah atau karunia-karunia ini adalah beberapa tugas pelayanan khusus: “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar” (Ef 4:11). Karunia-karunia istimewa ini diibaratkan sebagai “tulang-tulang sendi” yang menyebabkan seluruh tubuh menjadi rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota (Ef 4:16).

Apapun karunia-karunia dan panggilan kita, kita semua ikut ambil bagian dalam martabat untuk bertumbuh ke dalam “pengetahuan yang benar tentang Anak Allah” (Ef 4:13). Melalui Roh Kudus, Allah telah menyediakan rahmat – yang bermacam-macam dan tak dapat dihitung – kepada kita masing-masing, bukan untuk mempromosikan seorang pribadi atau peranan tertentu menjadi lebih tinggi ketimbang yang lain, melainkan untuk menetapkan “kesatuan iman”. Setiap anggota yang diberikan karunia secara unik merupakan unsur yang diperlukan untuk memajukan Kerajaan Allah.

Ketika mereka merefleksikan peranan kaum awam dalam hubungannya dengan para pelayan Gerejawi tertahbis (diakon, imam dan uskup), para bapa Konsili Vatikan II menekankan tentang kebutuhan akan semua karunia/anugerah yang berbeda-beda: “Kendati dalam Gereja tidak semua menempuh jalan yang sama, namun semua dipanggil kepada kesucian, dan menerima iman yang sama dalam kebenaran Allah (lihat 2Ptr 1:1). Meskipun ada yang atas kehendak Kristus diangkat menjadi guru, pembagi misteri-misteri dan gembala bagi sesama, namun semua toh sungguh-sungguh sederajat martabatnya, sederajat pula kegiatan yang umum bagi semua orang beriman dalam membangun Tubuh Kristus” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 32).

Sumber sekaligus tujuan akhir dari semua karunia kita adalah Yesus Kristus. Walaupun Ia telah berdiam dalam diri kita – teristimewa dalam sakramen-sakramen – Ia memanggil kita untuk berfungsi sebagai perantara kehadiran-Nya secara lebih penuh dalam dunia sampai saat kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Oleh karena itu, kita masing-masing dipanggil untuk mempraktekkan kuasa dari karunia kita yang berbeda-beda dalam kesatuan, selagi kita mencapai kedewasaan penuh …… untuk bertumbuh di dalam segala ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:13,15).

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur untuk kemurahan hati-Mu yang indah, yang diberikan kepada kami secara berlimpah melalui Roh Kudus. Tolonglah kami agar dapat menerima segala karunia spiritual yang Kaurencanakan untuk kami. Satukanlah kami, ya Yesus, seperti Engkau adalah satu dengan Bapa dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “ASALKAN KITA MAU BERTOBAT” (bacaan tanggal 25-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 BACAAN HARIAN OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:7-16), bacalah tulisan yang berjudul “KESATUAN DAN PERSATUAN BUKANLAH KESERAGAMAN” (bacaan tanggal 27-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELESAIKANLAH HAL ITU SEKARANG

SELESAIKANLAH HAL ITU SEKARANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 24 Oktober 2014)

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomYesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59)

Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari demi hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI DUNIA” (bacaan tanggal 24-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 21 Oktober 2014 [HARI RAYA S. URSULA, PERAWAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU BAPTISAN

SUATU BAPTISAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 23 Oktober 2014)

Peringatan/Pesta S. Yohanes Capestrano, Pelindung Para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata

YESUS KRISTUS - 11“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Luk 12:49-53)

Bacaan Pertama: Ef 3:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,11-12.18-19

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini sungguh keras. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49). Yesus berkata bahwa Dia datang untuk membakar kita, agar kita masuk ke dalam hidup bagi Allah; bahwa kita itu seperti api, seperti suatu nyala api yang hampir habis. Iman kita masih menyala namun sangat kecil. Kita secara tetap disibukkan dengan hal-ikhwal dunia ini, dan kita mempunyai sedikit waktu saja untuk menyiram “bensin” ke dalam nyala api kecil dari iman dalam diri kita.

Yesus seakan berkata, “Jangan salah. Aku tidak datang sekadar untuk memasukkan kamu ke dalam surga, untuk membuat dirimu menjadi ‘Orang Kristiani Hari Minggu’. Aku datang untuk membakar kamu dengan kasih Kristiani, untuk menjadi orang yang penuh hasrat untuk menjadi saksi-saksi-Ku lewat kesaksian hidupmu; juga untuk mati terhadap dirimu sendiri sehingga orang-orang lain dapat hidup. Mengapa kamu tidak membiarkan dirimu dibakar? Inilah hasrat-Ku terhadap dirimu.”

Api ini akan memurnikan kita, jika kita memperkenankannya. Hal itu akan membuat diri kita menjadi murid-murid Kristus sejati, yang siap untuk pergi bersama-Nya ke mana saja Dia memimpin kita. Yesus juga berkata: “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hatiku, sebelum hal itu terlaksana!” (Luk 12:50). Tentu saja di sini Yesus berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya. Salib-Nya! Hanya melalui penderitaan sengsara dan wafat-Nyalah kita dapat sampai kepada sukacita kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Kita pun harus dibaptis dalam Kristus yang tersalib, dalam penderitaan sengsara-Nya. Kita harus mati terhadap diri kita dan bangkit dengan Kristus Yesus. Kita harus menyangkal diri kita dan hidup untuk orang-orang lain. Dan … kita akan terus bersusah hati, … sampai kita tiba di sana.

Banyak orang ingin disembuhkan; mereka ingin bebas dari rantai dalam diri mereka yang erat-erat mengikat mereka: rasa takut, rasa susah, kemarahan, rasa cemas, beberapa di antaranya malah menyebabkan sakit badani (fisik). Akan tetapi mereka tidak mau melalui proses kematian terhadap diri sendiri, yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Dengan demikian mereka merasa susah-hati, sampai mereka benar-benar mau melalui proses pembaptisan itu, Selama kepentingan-diri kita memegang kendali atas hidup kita, maka kita akan terus merasa susah-hati, terus berada dalam kesusahan. Namun apabila kita telah mati terhadap diri kita sendiri, maka perkenankanlah Yesus untuk memegang kendali, maka susah-hati kita akan lenyap dan kita pun akan mengalami sukacita penuh kasih, sukacita karena hidup bagi Allah, dan bagi orang-orang lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, api ini, susah-hati ini, baptisan ini, pemurnian ini tidaklah harus membentuk damai yang bersifat duniawi. Hal itu bahkan dapat memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Kesetiaan kepada Kristus akan berarti bahwa kita harus menempatkan kesetiaan-kesetiaan lainnya dalam kehidupan kita menjadi nomor dua. Apabila keputusan kita itu menciptakan pemisahan, biarlah begitu. Yesus harus senantiasa menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita jika kita sungguh ingin memiliki damai-sejahtera yang tahan banting. Lebih baik mengalami suatu damai-sejahtera yang sejati disertai perpecahan-perpecahan daripada suatu damai sejahtera palsu, yang tidak memberikan tempat yang pertama dan utama kepada Kristus dalam hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin berjalan melalui baptisan dalam salib bersama Engkau. Aku ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “API ITU TELAH MENYALA!” (bacaan tanggal 23-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014

Cilandak, 21 Oktober 2014 [HARI RAYA S. URSULA, PERAWAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM KRISTUS YESUS

DALAM KRISTUS YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 22 Oktober 2014)

mosaic-of-st-paul-in-veria-greece2Memang kamu telah mendengar tentang penyelenggaraan anugerah Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasia itu diberitahukan kepadaku melalui wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui pengertianku tentang rahasia Kristus, yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian anugerah Allah, yang diberikan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk membuat semua orang melihat rencana rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang melalui jemaat diberitahukan berbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan melalui iman kita kepada-Nya. (Ef 3:2-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm Yes 12:2-6; Bacaan Injil: Luk 12:39-48

Siapa yang mengenal belas kasih Allah lebih baik daripada Santo Paulus? Sang Rasul adalah seorang Farisi yang sebelum pertobatannya memburu umat Kristiani dengan niat untuk menghancurkannya, bahkan membunuh para pengikut/murid Kristus tanpa ampun. Namun dilihat dari sudut belas kasih dan rahmat Allah tanpa batas yang diberikan oleh-Nya dengan bebas kepada siapa saja seturut kehendak-Nya, maka Paulus bukanlah seorang pribadi istimewa ketimbang kita semua. Roh Kudus bergerak dengan penuh kuat-kuasa dalam dan melalui diri Paulus, demikian pula Dia sekarang ingin bekerja dalam diri kita masing-masing. Adalah kenyataan tak terbantahkan bahwa kita adalah pendosa-pendosa juga yang diselamatkan oleh rahmat – artinya keselamatan kita adalah suatu pemberian bebas/gratis dari Allah!

Tidak seperti banyak tekanan dunia yang membebani kita guna “membuktikan” diri kita atau untuk mengambil jalan kita sendiri di dunia ini, Allah dengan bebas menganugerahkan kepada kita keselamatan. Ia memanggil kita masing-masing – seperti apa adanya kita – untuk menjadi anak-anak-Nya terkasih, anggota-anggota Tubuh-Nya di atas bumi ini. Kita dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita (Ef 2:1) dan tanpa pengharapan dan tanpa Allah (Ef 2:12). Di dalam Yesus kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan melalui iman kita kepada-Nya (Ef 3:12). Dosa-dosa kita bukanlah tidak signifikan. Penebusan kita “dibeli” dengan harga yang sangat tinggi – darah dari Putera Allah yang tanpa dosa – karena kedalaman kebutuhan kita. Sekarang, kita dibangkitkan dan duduk dengan Dia di surga dalam Kristus Yesus, “supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus” (Ef 2:6-7).

Sejak sediakala Allah telah memiliki hasrat untuk mengumpulkan sebuah umat yang akan memanifestasikan kemuliaan Putera-Nya kepada segenap ciptaan, baik di bumi maupun di surga. Inilah “misteri” (Ef 3:3) dari tujuan Allah menciptakan kita. Ini adalah sebuah rencana yang dibentuk dalam “pikiran” Allah Tritunggal Mahakudus pada awal ciptaan, sebuah rencana yang menyangkut setiap aspek ciptaan-Nya untuk mana setiap hal yang terjadi diarahkan. Dalam terang rencana-Nya yang penuh misteri itulah kita tidak perlu kaget untuk menyadari bahwa Gereja – Tubuh Kristus di atas bumi – dipanggil untuk menunjukkan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya di atas bumi. Itulah luas dan dalamnya kuat-kuasa Allah yang bekerja di dalam diri semua orang yang percaya kepada/dalam Kristus.

Marilah sekarang kita membuat resolusi untuk berjalan sebagai anak-anak terang dan menegaskan lagi iman kita dalam karya Kristus yang telah dimulai dalam diri kita masing-masing. Marilah kita bersukacita karena seluruh ciptaan memberikan kesaksian tentang kemuliaan Tuhan yang bersinar melalui hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, melalui kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah kami menjadi anak-anak terang yang senantiasa membawa Yesus, sang Terang Dunia ke tengah dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA” (bacaan tanggal 22-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 3:2-12), bacalah tulisan yang berjudul “RAHASIA PANGGILAN ORANG-ORANG BUKAN YAHUDI” (bacaan tanggal 24-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

AGAR SELALU BERSIAP-SIAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 21 Oktober 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38)

Bacaan Pertama: Ef 2:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Yesus mengingatkan kita semua agar selalu bersiap-siaga, untuk menyambut kedatangan-Nya.

Jika setiap pencinta sejati di dunia telah menyadari betapa tidak berarti dirinya di hadapan sang kekasih, maka tentunya lebih mendalam lagi keyakinan para kudus akan kebenaran hal itu! Kita diingatkan akan cerita tentang Santa Perpetua, martir [+203]. Ia dilempar dan dibanting oleh seekor binatang buas di tengah arena, dia bangkit berdiri lagi, menyisir rambutnya, dan membereskan pakaiannya, karena dia tidak ingin pergi masuk ke dalam kemuliaan ilahi dalam keadaan tidak rapih.

Jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita mengetahui bahwa mereka telah sampai ke hadapan hadirat Allah dengan banyak urusan dunia yang masih melekat pada diri mereka. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak dapat tetap berada di dekat Allah tanpa harus melewati proses pemurnian. Santa Katarina dari Genoa [1447-1510] menjelaskan bagaimana jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita dengan gembira menyambut kesempatan untuk dibersihkan. Orang kudus ini menulis bahwa jiwa di Api Pencucian, adalah seperti sebutir berlian yang baru saja dipotong. Jiwa tersebut sungguh merupakan satu dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang indah, dan ketika diarahkan kepada Allah tidak kehilangan keindahannya yang utama. Namun tetap saja jiwa itu masih jauh dari sempurna. Sang ahli pekerjaan-tangan Ilahi (=Allah) harus terus melakukan pekerjaan membersihkan jiwa itu seperti menggosok dan memoles berlian sehingga mencapai potensinya yang penuh. Inilah proses pemurnian.

Pengalaman kita semua belum sampai melampaui batas dunia ini. Kita pun mengetahui bahwa kita sendiri tidak akan datang menghadap seorang tokoh besar dunia – raja, pangeran, atau presiden – tanpa mandi dulu, atau tanpa mengenakan pakaian yang pantas dan bersih. Kalau pun secara tidak sengaja kita menghadap seorang tokoh seperti itu dalam kondisi yang tak pantas (berpakaian kotor dlsb.), maka kita akan mencari sebuah tempat di mana kita dapat membersihkan diri dan menyiapkan diri kita sendiri untuk peristiwa penting tersebut.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita akan menyiapkan diri kita untuk menghadap Tuhan, Dia yang mengetahui setiap sudut pikiran dan hati kita? Ke mana kita harus pergi untuk membakar dan membersihkan semua noda serta berbagai kekotoran dalam diri kita? Ingatlah “perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin”, ketika sang raja bertanya kepada seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta: “Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?” (Mat 22:12). Namun kematian “yang datang seperti seorang pencuri di malam hari” (bdk. 1Tes 5:2), memang merupakan sesuatu yang tak di sangka-sangka dan mungkin saja datang pada saat di mana kita tidak siap.

DOA: Tuhanku dan Allahku, jika para kudus-Mu yang terbaik pun harus menderita banyak hal agar berharga bagi-Mu, berapa jauhkah perjalanan yang masih harus kami lakukan? Ya Tuhan, kasihanilah kami sepanjang perjalanan ziarah kami di dunia, sehingga dengan demikian kami dapat sampai ke surga kelak dalam keadaan selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERLUNYA MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA REGULAR” (bacaan tanggal 21-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 20 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 20 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Pesan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas: “Hindarilah ketamakan/keserakahan dalam segala bentuknya. Seseorang dapat saja kaya dengan harta-benda duniawi, namun miliknya itu tidak dapat memberi kehidupan kekal baginya.”

Seorang pribadi yang rendah hati dan memiliki kemurahan hati, yang hidupnya berpusat pada Allah dan menanggapi dengan baik karunia iman yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya akan melihat kehampaan dari segala keuntungan materiil. Memang kesombongan kita senantiasa menyebabkan rasa haus akan keuntungan materiil tersebut, tambah ini dan tambah itu. Namun kiranya rasa haus tersebut adalah sesuatu yang sia-sia tanpa kesudahan. Bahkan seorang yang tidak memiliki iman kepada/akan Yesus akan melihat kehampaan yang dihasilkan oleh sekadar harta kekayaan yang bersifat materiil. Ia akan belajar dari pengalamannya betapa tak berharganya dan penuh frustrasi-nya “kebahagiaan” (palsu) yang diperolehnya dari penyembahannya kepada “mamon” dalam upaya pengejarannya akan kepuasan/kenikmatan dalam harta benda dll. yang bersifat duniawi.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASJika kita terus saja berputar-putar di sekeliling upaya pencarian harta kekayaan, maka imajinasi kita dapat disesatkan dan kita pun dapat dibuat yakin bahwa Allah itu berada jauh di sana, bahkan keberadaan-Nya itu jauh dari riil. Tujuan-tujuan materiil yang jauh dan tak dapat dicapai itu sungguh dapat menyesatkan karena terasa dekat dan mudah dicapai. Kita menjadi semakin ngotot dalam mengejar kekayaan duniawi! Mengejar dan terus mengejar! Akhirnya, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus, kita berkata: “Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12:19).

Jadi, ketamakan akhirnya menguasai diri kIta. Allah sesungguhnya dekat dengan kita, namun imajinasi yang penuh beban hampir tidak dapat melihat Dia dari kejauhan. Harta-kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi realitas kita dan kelihatannya senantiasa berada dalam jangkauan kita. Kita berkata kepada diri kita sendiri: “Satu lagi saja keuntungan yang kuperoleh, maka aku pun memperoleh apa yang kukehendaki.” Jika aku cukup beruntung untuk memperolehnya, maka api keserakahan pun berkobar lagi. “Satu lagi! Satu lagi! Satu lagi!, tetapi tanpa henti. Setiap sukses baru menjadi lebih pahit daripada sukses sebelumnya, sampai akhirnya kita sampai kepada tingkat keserakahan yang sudah gila-gilaan. Benarlah pepatah Inggris yang berbunyi: Greed begets greed!

Sementara kita melanjutkan mengundang hukuman dan penghancuran atas diri kita yang disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu terima kasih dan juga ketamakan, belas kasih Allah terus berlanjut. Kesabaran Allah yang tak mengenal batas itu senantiasa mengejar kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga belas kasih-Mu pada akhirnya mengalahkan sikap kami yang tidak tahu berterima kasih kepada-Mu, walaupun tidak mudah kami bagi kami untuk mengubah sikap buruk kami itu. Kami juga ingat, Tuhan, bahwa penderitaan karena lapar si “anak hilang” (Luk 15:11-32) bukanlah suatu pengalaman yang mudah baginya, namun hal itu membawanya balik pulang ke rumah ayahnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH!” (bacaan tanggal 20-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 15 Oktober 2014 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers