AKU DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKANNYA, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 7 Februari 2018)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20 UN 

Bayangkanlah diri anda ditugaskan untuk melakukan suatu pekerjaan yang kelihatan tidak mungkin terlaksana, walaupun seluruh tenaga dan pikiran akan dipusatkan pada tugas-pekerjaan itu. Sungguh sulit untuk memikirkannya. Akan tetapi, Puji Tuhan, pada saat anda mulai terjun secara nyata ke dalam proyek dimaksud, anda mulai melihat bahwa proyek itu tidak begitu susah, malah cukup sederhana. Kadang-kadang kehidupan Kristiani seperti begitu, bukan?

Yesus hidup di bawah Hukum Musa, dengan berbagai lapisan peraturan-peraturan. Bahkan bagi orang-orang Yahudi yang paling setia pun di tanah Palestina pada abad pertama, memenuhi yang tersurat dalam hukum sudah begitu sulitnya karena “hukum” itu telah bertumbuh menjadi sedemikian kompleks dengan berjalannya waktu. Akan tetapi,  kematian dan kebangkitan Yesus menggenapi hukum yang lama dan meresmikan suatu hukum kasih yang baru yang jauh lebih sederhana. Ketika seorang ahli Hukum Taurat bertanya kepada Yesus, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36), Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah peritah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, Yesus bersabda: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). Inilah hukum baru dari Yesus, suatu hukum yang kepada kita diminta untuk mematuhinya, baik dengan ketaatan terhadapnya dan dengan mengajarkannya kepada orang-orang lain melalui teladan kita.

Nah, apabila mengikuti Yesus terdengar begitu sederhana, mengapa kelihatannya koq sulit? Sesungguhnya tidaklah perlu sulit. Kita memenuhi hukum kasih Yesus setiap saat kita melakukan suatu tindakan kebaikan dalam nama-Nya, ketika mengucapkan kata-kata guna menyemangati seseorang yang hampir putus-asa dalam kehidupannya, atau pada saat kita mengampuni seseorang yang telah bersalah kepada kita. Seorang anak muda memenuhi hukum kasih itu ketika dia membantu seseorang yang sudah lansia, misalnya dengan memberikan tempat duduk di dalam bis kota yang begitu padat. Seorang ibu memenuhi hukum kasih itu ketika dia berdoa untuk anak gadisnya yang remaja dan anak teman-teman sekelasnya.  Seorang pekerja kantor memenuhi hukum kasih pada saat dia sungguh mengambil waktu dalam suasana doa guna mendengarkan keprihatinan seorang rekan kerjanya.  Setiap hal “kecil” yang kita lakukan demi kasih kepada Allah dan saudari-saudara kita mempunyai kekuatan yang lebih “besar” daripada pekerjaan-pekerjaan “besar” yang mungkin kita lakukan, namun dengan cintakasih yang berkadar kecil saja.

Yesus mengajar kita dengan contoh kehidupan-Nya sendiri. Lewat contoh kehidupan kita, kita dapat memimpin orang-orang kepada Kristus, artinya memenuhi hukum kasih Yesus seperti telah diperintahkan-Nya kepada kita. Marilah kita berjuang agar dapat menjadi kenisah-kenisah Allah yang hidup, memenuhi hukum kasih Yesus selagi kita menunjukkan rasa hormat kita kepada setiap orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyampaikan terima kasih dan pujian bagi hukum yang baru, yaitu hukum kasih-Mu. Tolonglah aku agar dapat menjadi seorang saksi-Mu yang sederhana melalui tindakan-tindakan kasih dan kebaikanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI” (bacaan tanggal 7-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 4 Maret 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements