ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 5 Mei 2017)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB”  (bacaan tanggal 5-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements