Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII, 1 Juni 2014)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

THE LAST SUPPER - 101

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16

Doa Yesus bagi para murid-Nya pada perjamuan terakhir dikenal sebagai doa-Nya sebagai imam (Imam Besar Agung), atau doa pengudusan-Nya, atau sebagai “prakata” dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Nada doa yang bernuansa kesucian ini dan juga berisikan tema kontemplatif pasti akan menyarankan judul liturgis tertentu. Namun begitu, doa ini dapat juga dinilai sebagai versi yang lebih menekankan kekudusan dari doa “Bapa Kami”.

Seorang pemimpin religius pantas diharapkan untuk mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah doa yang menjadi ikhtisar dari ajaran-Nya bagi mereka. Jadi tidak mengherankanlah jika salah seorang murid-Nya berkata kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1).

Doa “Bapa Kami” sebenarnya mengungkapkan dengan kata-kata sederhana hakihat dari ajaran Yesus mengenai Allah dan tujuan sentral dari misi-Nya. Relasi-Nya dengan Allah diungkapkan dalam nama “Bapa” yang berdiam di tempat sejauh surga, namun sedekat jarak antara Bapa dan Anak, yang nama-Nya harus dihormati dan penyelenggaraan-Nya harus dipercaya.

YESUS BERDOA UNTUK PARA MURID-NYA  YOH 17Pekerjaan sentral dari Yesus adalah membangun Kerajaan Allah di dalam dunia. Kerajaan itu berarti sebuah masyarakat di mana kehendak Allah adalah aturan hidup yang berlaku. Artinya ada roti setiap hari bagi semua orang: tidak ada lagi ketidakadilan, diskriminasi atau ketamakan, melainkan ikut ambil bagian secara fair dalam segala sumber daya yang ada di bumi. Di dalam Kerajaan Allah ada pengampunan penuh dan rekonsiliasi sempurna: tidak ada lagi saling cakar atau hantam-menghantam antara para warganya.

Para warga Kerajaan Allah dengan setia bertekun selagi godaan ditolak dan kejahatan dikalahkan secara total. Doa Yesus dalam ruang atas ini mengulangi tema-tema besar dari doa “Bapa Kami”, walaupun dalam siklus-siklus pemikiran Yohanes yang kesana-kemari atau berputar-putar daripada ungkapan yang sederhana dan jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Nama yang mendominasi doa ini lagi-lagi adalah “Bapa”. Allah yang Mahalain diungkapkan oleh Yohanes dalam tema-tema pemuliaan yang diulang-ulangi olehnya.

Jika doa “Bapa Kami” menjadi sebuah doa untuk Kerajaan Allah di atas bumi, maka doa Yesus di ruang atas dimaksudkan sebagai syafaat untuk para murid-Nya di seluruh dunia. Yesus telah memuliakan Bapa di atas bumi dengan melakukan kehendak-Nya dan membuat nama-Nya dikenal. Sekarang, pada saat-saat terakhir-Nya di atas bumi telah selesai, Dia menyerahkan misi-Nya kepada para murid-Nya. “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia” (Yoh 17:11).

Sekarang instrumen Kerajaan Allah adalah Gereja di atas bumi. Kemuliaan Yesus sendiri sekarang dicerminkan dalam karya Gereja … “Aku telah dimuliakan di dalam mereka” (Yoh 17:10). Dalam banyak bentuk dan cara kerjanya, karya-karya pelayanan karitatif Gereja memberikan “roti” bagi orang yang lapar, mendirikan berbagai klinik dan rumah sakit bagi orang-orang sakit, menjalankan rumah singgah dll.

Gereja mengalami pengampunan Allah secara begitu mendalam, sehingga terdapat satu “sakramen rekonsiliasi” untuk merayakan pengampunan Allah itu. Dengan penuh hasrat untuk mensyeringkan sukacita rekonsiliasi, Gereja mewartakan damai-sejahtera dan mendorong terciptanya suatu pemahaman yang lebih besar daripada rasa sakit, suatu kondisi terberkati yang mengatasi sikap dan tindakan mengutuk. Melalui berbagai praktek asketisme Gereja menolong orang-orang untuk melawan godaan dan dilepaskan/dibebaskan dari cengkeraman si Jahat.

Doa Yesus di ruang atas adalah spiral besar dari pemikiran kontemplatif Yohanes, yang mengembang dari kata-kata sederhana dalam doa “Bapa Kami”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah mendoakan kami – bukan dunia – kehadapan hadirat Bapa. Dalam doa-Mu, Engkau mengatakan bahwa bukan untuk dunia Engkau berdoa, tetapi untuk kami semua, yang telah diberikan Bapa kepada-Mu, sebab kami adalah milik Bapa dan segala milik-Mu adalah milik Bapa dan milik Bapa adalah milik-Mu, dan Engkau telah dimuliakan di dalam kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Ptr 4:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERGEMBIRA DAN BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN SEBAGAI ORANG KRISTIANI” (bacaan tanggal 1-6-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERDOA BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 5-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Tulisan ini adalah saduran bebas dari bacaan yang terdapat dalam P. Silvester O’Flynn, THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books, 1989 (1992 reprinting), hal. 114-115.

Cilandak, 31 Mei 2014 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 3 Maret 2014)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRIST - 02Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10

Yesus baru saja memberi peringatan kepada para murid-Nya untuk tidak membuat diri mereka menjadi penghalang terhadap upaya mereka untuk mengasihi Allah. Yesus mengingatkan buruknya kesombongan/keangkuhan dan iri hati. Kiranya Dia mengatakan, “Jagalah dirimu agar tetap kecil!” Yesus bersabda, “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:15-16).

Sekarang Yesus juga memperingatkan kita berkaitan dengan menempatkan hal-hal yang menghalangi aliran kasih Allah kepada umat-Nya. Orang yang datang kepada Yesus (anak muda kaya) dalam bacaan Injil hari ini ingin mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mrk 10:17). Yesus mengingatkan dia bahwa ada “panduannya”, yaitu perintah-perintah Allah. Orang itu menjawab: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Mrk 10:20).

Yesus memandang pakaian halus dan intan-permata mahal yang dikenakan orang itu. Orang itu boleh dikatakan cukup tulus, tetapi belum di-tes (diuji). Ia berpakaian baik, makan-minum dengan baik pula, cukup terlindungi dari beratnya beban kehidupan. Sekarang tibalah saatnya bagi dia untuk menghadapi realitas: moment of truth. Yesus memandang orang itu dengan kasih dan berkata kira-kira begini: “Sahabatku, engkau membutuhkan satu hal lagi. Engkau berada dalam bahaya karena membiarkan kerajaan dunia menghalangi jalanmu menuju Kerajaan Allah.” …… “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21-22). Hal ini dapat diartikan: “Pilihlah kemiskinan secara sukarela, pemberian-diri yang lengkap-total; percaya sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhanmu di dunia.”

Mendengar jawaban Yesus, orang itu sungguh merasa terkejut. Jadi, kita dapat mengira bahwa dia tidak meminta Yesus untuk menantangnya, melainkan sekadar menyetujui “hidupnya yang baik” selama ini. Yesus telah membuka pintu lebar-lebar agar orang itu mengalami pertumbuhan spiritual. Namun terang-Nya begitu jelas datang melalui pintu yang terbuka itu, dan terang-Nya itu menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu sangat terlekat pada harta miliknya. Dia dirantai, terbelenggu dan tak berdaya untuk membebaskan dirinya untuk mengikut Yesus.

Para murid Yesus selalu berpikir bahwa harta kekayaan adalah berkat dari Allah! Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus kiranya berbunyi begini: “Orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun Allah dapat berbuat apa saja”. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27 bdk. Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, betapa bebas Engkau dan bagaimana orang kaya itu terbelenggu tak berdaya. Dia pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Engkau memandang dia, kiranya sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mu. Dan, ketika Engkau berpaling kepada para murid-Mu, Engkau berkata bahwa alangkah sukarnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus, jagalah agar kami tetap setia sebagai murid-murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA” (bacaan tanggal 3-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 26 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 17 Februari 2014)

JESUS CONFRONTING THE SCRIBES AND PHARISEESKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13)

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75,76

Memang agak mengherankan ketika kita membaca bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga untuk membuktikan tentang kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat dari bagian-bagian lain kitab-kitab Injil bahwa Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, hal mana sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup bahwa Dia berasal dari Allah. Namun bagi orang-orang Farisi tanda-tanda ini tidaklah memuaskan. Kelihatannya pada waktu itu ada pemikiran dalam Yudaisme bahwa pada saat sang Mesias datang, maka Dia akan membuat mukjizat yang bersifat unik. Tidak ada tulisan apa pun dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mendukung pandangan ini. Akan tetapi, seperti begitu banyak hal lainnya, orang-orang Farisi telah membangun suatu tradisi mereka sendiri yang dipertimbangkan oleh mereka sebagai sama pentingnya dengan Kitab Suci.

Jadi, ketika mereka meminta tanda yang sangat istimewa, Yesus menjadi agak kecewa terhadap ketiadaan iman-kepercayaan mereka, lalu berkata: “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda” (Mrk 8:12). Hal ini berarti bahwa tidak ada mukjizat yang istimewa dan unik akan dibuat-Nya untuk memuaskan kepercayaan mereka, bahwa mukjizat yang sungguh luarbiasa akan mendahului kedatangan sang Mesias.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSecara sederhana, yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa permintaan akan suatu tanda yang bersumber pada ketidakpercayaan manusia tidak akan diladeni oleh-Nya.

Iman menuntut adanya suatu keterbukaan, suatu kemauan untuk menerima alasan-alasan yang biasa untuk percaya. Jika penyembuhan orang-orang sakit, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan roti dan mukjizar-mukjizat lainnya yang jelas tidak lepas dari kuat-kuasa ilahi tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang Farisi itu, maka hal ini berarti tidak ada respons dari pihak mereka. Iman harus merupakan suatu tindakan bebas. Yesus tidak akan memaksa siapa pun untuk percaya. Tanggapan atau respons harus datang secara bebas, dibantu oleh berbagai mukjizat dan tanda heran yang sudah dibuat oleh-Nya.

Kita sendiri memang tidak pernah menyaksikan Yesus membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit dlsb. Yang mungkin pernah kita lihat adalah hal-hal sedemikian yang dilakukan oleh orang-orang beriman dalam nama-Nya, namun kita percaya bahwa Yesus-lah Pelaku utamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus Kristus ini menganugerahkan kepada kita karunia iman untuk menerima Injil sebagai benar. Keempat kitab Injil memuat catatan-catatan akurat tentang kehidupan Yesus dan tindak-tanduk-Nya selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu kita percaya! Kita percaya bahwa Yesus telah membuktikan keilahian-Nya, martabat-Nya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat Yahudi, lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat-Nya, dan memuncak pada kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa terberkati secara istimewa karena Engkau pernah bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH MEREKA MELIHAT APA YANG KITA LAKUKAN” (bacaan tanggal 17-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 14 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AWAL YANG KECIL-KECILAN

AWAL YANG KECIL-KECILAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam & Pendiri Tarekat – Jumat, 31Januari 2014)

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-10,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus adalah seorang guru yang sangat baik. Ia menggunakan contoh-contoh yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya dengan serius. Lagi-lagi di sini Yesus memakai benih sebagai contoh.

Pertama-tama Yesus berbicara dengan sederhana bagaimana benih itu, setelah ditanam oleh sang petani, bertunas dan bertumbuh dan akhirnya berbuah dan apabila sudah matang, siaplah untuk dituai. Seorang petani hanya menanti karena dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sejak benih ditanam sampai buahnya cukup matang untuk dituai. Acuannya adalah kepada Kerajaan Allah yang ditanam dalam diri orang-orang oleh Kristus. Melalui rahmat-Nya, Kerajaan Allah melalui proses pertumbuhan yang penuh misteri dan dimaksudkan untuk menyebar ke seluruh dunia dan membuahkan tuaian berupa jiwa-jiwa.

PARABLE OF THE MUSTARD SEED - 3Bagian kedua dari bacaan Injil hari ini menceritakan “perumpamaan tentang biji sesawi”. Biji sesawi ini adalah benih yang berukuran sangat kecil, salah satu yang terkecil ketika ditanam. Namun demikian biji sesawi itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi tetumbuhan yang berukuran sangat besar, dengan cabang-cabang yang cukup besar sehingga burung-burung dapat membuat sarang di situ.

Dengan cara serupa, Gereja – Kerajaan Kristus di atas bumi – dimulai secara kecil-kecilan. Tidak banyak orang yang menjadi para pengikut Kristus yang setia pada masa hidup-Nya; hanya ada beberapa orang Rasul dan perrempuan-perempuan yang setia melayani-Nya sejak dari Galilea (lihat Luk 23:49; lihat juga 8:1-3). Sungguh suatu awal yang tidak begitu menjanjikan, atau katakanlah kurang meyakinkan, bahkan sebagian besar dari para rasul tidak disebut-sebut ada/hadir di sekitar salib Kristus di Kalvari, kecuali Yohanes. Namun dari awal yang kelihatan tidak ada apa-apanya, sekecil biji sesawi, Gereja bertumbuh sampai hari ini dan menjadi seperti sebatang pohon yang besar dan rindang. Di bawah perlindungan dan naungan pohon inilah banyak orang menemukan tempat berlindung dari dosa dan keduniawian.

Cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita. Sebagai manusia, kita akan mengharapkan bahwa suatu kerajaan seperti itu dapat didirikan di atas dasar yang lebih baik daripada para nelayan sederhana. Bukankah lebih baik jikalau yang dipilih sebagai dasar adalah orang-orang yang berlatar belakang jauh lebih baik, misalnya berlatar pendidikan teologi dari “pesantren” terbaik di Yerusalem, memiliki hikmat-kebijaksanaan, dan memiliki kemampuan dalam bidang organisasi dan adminitrasi. Akan tetapi Allah menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya semua itu, jika kita menaruh kepercayaan terlebih-lebih pada kekuatan-kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Yang kita butuhkan adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia.

Apabila kita berbicara sebagai manusia, maka Gereja adalah sebuah mukjizat berkaitan dengan karya Allah. Apabila sekadar mengandalkan upaya manusia, maka Gereja pun tidak akan bertahan lama. Hal yang sama berlaku bagi kita. Sekali-kali kita pun membutuhkan lebih daripada sekadar upaya manusia. Allah telah menjamin kita semua bahwa Dia siap dengan pertolongan-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala situasi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “MENYEBARKAN BENIH-BENIH SABDA ALLAH” (bacaan tanggal 31-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 27 Januari 2014 [Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri OSU]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Hari “puasa besar” dalam liturgi agama Yahudi adalah “Hari Raya Pendamaian” (Inggris: Day of Atonement; A day of Solemn Rest; Ibrani: Yom Kipur). Bagi orang Yahudi, berpuasa pada hari itu merupakan suatu syarat untuk termasuk dalam atau tergolong sebagai umat Allah (Im 23:26-29). Orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari-hari lainnya karena devosi pribadi. Baik para murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi berpuasa (Mrk 2:18), malah ada juga sebagian dari orang Farisi berpuasa dua kali seminggu. Orang-orang menjadi penasaran mengapa murid-murid Yesus tidak mengikuti contoh orang-orang Farisi.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang itu dengan mengibaratkan para murid-Nya sebagai para sahabat mempelai laki-laki dalam sebuah pesta pernikahan. Dengan mengidentifikasikan diri-Nya sebagai sebagai sang mempelai laki-laki, maka Yesus sebenarnya mengidentifikasikan diri-Nya dengan seorang tokoh mesianis dan mengindikasikan bahwa dalam Dia Allah ada bersama dengan mereka, yaitu para murid-Nya. Kehadiran sang mempelai laki-laki merupakan penyebab bagi mereka untuk bersukacita. Yohanes datang untuk menyerukan pertobatan sehubungan dengan penghakiman yang akan datang. Puasa yang dilakukan oleh para murid Yohanes menunjukkan antisipasi yang diungkapkan dalam simbol-simbol rasa sedih dan pertobatan. “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka” (Mrk 2:20). Ini merupakan alegoria dari kematian Yesus, pada saat mana para murid-Nya akan berpuasa sebagai suatu tanda berkabung sampai saat Ia datang kembali dalam kemuliaan.

Perumpamaan tentang “kain baru dan baju tua” serta “anggur baru dan kantong kulit tua” menggambarkan hubungan yang ada antara segala sesuatu yang diberikan oleh Allah guna mempersiapkan orang-orang akan kedatangan Yesus sebagai Mesias dan “orde baru” yang didirikan dengan kedatangan-Nya. Dalam Yesus, “orde baru” itu telah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang itu kepada Yesus mencerminkan ketegangan spiritual yang ada antara “yang lama” dan “yang baru”. Yesus menggunakan perumpamaan dengan menggunakan kain dan anggur sebagai sebagai gambaran. Yesus mengajarkan bahwa kegunaan “yang lama” janganlah sampai dirusak oleh “yang baru”, sehingga dua-duanya terbuang. Mengikutsertakan “yang lam” dan “yang baru” harus dilakukan sedemikian rupa sehingga menjaga hal apa saja yang baik dari “yang lama” dan tidak kehilangan kebaikan dari “yang baru”.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah mempelai laki-laki yang telah menghantar kami untuk sampai ke Kerajaan Allah, dan dalam Engkau, Allah ada bersama dengan kami. Semoga Roh Kudus-Mu mengajar kami untuk menghargai segala sesuatu yang baik, lama maupun baru, sehingga dengan demikian kami tidak menolak apa pun yang diberikan guna memajukan Kerajaan Allah di atas bumi dan kami pun dapat sepenuhnya merangkul hidup baru yang Kauberikan kepada kami. amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL BERPUASA” (bacaan tanggal 20-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 17 Januari 2014 [Peringatan S. Antonius, Abas]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN

PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan

THE BOOK OF WISDOM - 03Dengarkanlah, hai para raja, dan hendaklah mengerti, belajarlah, hai para penguasa di ujung-ujung bumi. Condongkanlah telinga, hai kamu yang memerintah orang banyak dan bermegah karena banyaknya bangsa-bangsamu. Sebab dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu, oleh karena kamu yang hanya menjadi abdi dari kerajaan-Nya tidak memerintah dengan tepat, tidak pula menepati hukum, atau berlaku menurut kehendak Allah. Dengan dahsyat dan cepat Ia akan mendatangi kamu, sebab pengadilan yang tak terelakkan menimpa para pembesar. Memang yang bawahan saja dapt dimaafkan karena belas kasihan, tetapi yang berkuasa akan disiksa dengan berat. Sang Kuasa atas segala-galanya tidak akan mundur terhadap siapapun, dan kebesaran orang tidak dihiraukan-Nya. Sebab yang kecil dan yang besar dijadikan oleh-Nya, dan semua dipelihara oleh-Nya dengan cara yang sama. Tetapi terhadap yang berkuasa akan diadakan pemeriksaan keras. Jadi perkataanku ini tertuju kepada kamu, hai pembesar, agar kamu belajar kebijaksanaan dan jangan sampai terjatuh. Sebab mereka yang secara suci memelihara yang suci akan disucikan pula, dan yang dalam hal itu terpelajar akan mendapat pembelaan. Jadi, hendaklah menginginkan serta merindukan perkataanku, maka kamu akan dididik. (Keb 6:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7; Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Semua kekuasaan datang dari Allah. Semua orang yang mendapatkan kekuasaan pada suatu hari akan berdiri di depan takhta Allah untuk mempertanggungjawabkan bagaimana mereka menggunakan wewenang/kekuasaan yang diberikan-Nya kepada mereka. Para orangtua, para guru, para boss di bidang pemerintahan, misalnya raja, presiden, hakim agung, anggota parlemen, dlsb., para boss di bidang bisnis dll. Di bidang keagamaan ada uskup, imam dan para pemuka agama dlsb. Semua akan menghadapi “pemeriksaan keras” oleh Sang Kuasa (Keb 6:7,8).

Kebanyakan dari kita mempunyai lingkungan pengaruh yang relatif kecil. Kalau begitu halnya, apakah kita cukup merasa lega dan berterima kasih kepada bintang-bintang di langit? Samasekali tidak! Jauh lebih baik bagi kita untuk berlutut dan berdoa bagi para pemimpin kita, teristimewa di bidang pemerintahan yang salah-benarnya kebijakan mereka akan sangat membawa dampak atas “nasib” rakyat yang begitu banyak jumlahnya. Atas para pemimpin pemerintahan ini Allah menuntut agar mereka melakukan fungsi masing-masing dengan benar, menghormati dan taat kepada hukum, dan melaksanakan tujuan Allah bagi rakyat atas siapa mereka memiliki kekuasaan. Seorang pemimpin itu bukanlah sekadar seorang “pejabat”, mereka harus memperhatikan dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya dari ancaman pihak musuh, dan sang pemimpin harus menjamin bahwa keadilan dan kebaikan tetap terjaga. Pada hakekatnya para pemimpin politik/kenegaraan memiliki pekerjaan seperti orang tua bagi anak-anak mereka.

GEMBALA YANG BAIK - 16Patut dicatat bahwa para pemimpin juga – seperti kita sendiri – menghadapi pertempuran dengan Iblis dan roh-roh jahatnya secara berkesinambungan. Iblis tahu sampai berapa besar kendali dan pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin. Ia (Iblis) ingin para pemimpin melakukan kesalahan, untuk gagal. Si Jahat mengetahui bahwa dia dapat melemahkan keseluruhan bangsa dengan menjerumuskan para pemimpinnya ke dalam jerat-dosa. Lihatlah apa yang terjadi dengan Ponsius Pilatus dan Raja Herodes Antipas sekitar 2.000 tahun lalu. Dua orang pemimpin ini sesungguhnya dapat membuat pilihan-pilihan yang dapat menjadikan mereka tokoh-tokoh besar dalam Kerajaan Allah. Ternyata mereka justru menjadi pion-pion Si Jahat. Tentu saja kita tidak ingin para pemimpin politik/kenegaraan kita mengikuti jejak Ponsius Pilatus dan Herodes Antipas.

Ya, kita memang harus banyak berdoa bagi para pemimpin kita. Agar mau dan mampu melakukan pekerjaan mereka dengan baik, para pemimpin kita membutuhkan hati seorang gembala, hati Yesus sendiri. Mereka membutuhkan hikmat-kebijaksanaan Salomo dan kesabaran Ayub. Sebagai pribadi-pribadi, mereka menghadapi dua front, dari dalam ada kodrat manusia yang cenderung untuk berdosa, dan dari luar ada si Iblis dan roh-roh jahatnya yang terus saja menggoda. Dengan spiritualitas yang tidak kokoh, para “pemimpin” dapat dengan mudah menyerah kepada godaan dimaksud, ….. maka jatuhlah mereka ke dalam “kebanggaan palsu”, “keangkuhan”, “kemunafikan”, menjadi “pembohong besar” dlsb. Dengan demikian para pemimpin ini pun membutuhkan perlindungan, paling sedikit dari doa-doa syafaat kita.

Kebanyakan dari kita mengetahui mengenai berbagai kewajiban, tanggung-jawab dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tugas kita sebagai orang tua. Para pemimpin politik/kenegaraan/bangsa juga mempunyai anak-anak, yang mungkin lebih susah untuk dicintai daripada anak-anak mereka sendiri, dan jumlahnya juga jauh lebih besar; …… mereka adalah rakyat, pribadi-pribadi manusia, bukan sekadar angka-angka statistik, dan mereka itu ratusan juta jiwa jumlahnya. Oleh karena itu, marilah kita mendoakan para pemimpin kita di segala bidang (termasuk para pemimpin agama) tanpa jemu-jemu, terutama agar mereka jangan memandang diri mereka sekadar sebagai pejabat-pejabat, penguasa-penguasa yang mementingkan diri sendiri dan keluarga/kerabat/kelompoknya sendiri, melainkan sebagai “pelayan-pelayan” atau “abdi-abdi” sejati bagi pribadi-pribadi (rakyat/umat).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang di seluruh dunia dan teristimewa di negara kami, Indonesia, yang bertugas melayani rakyat/umat sebagai pemimpin – teristimewa di bidang politik/kenegaraan/pemerintahan dan keagamaan. Bangunlah kebenaran-Mu melalui diri mereka. Biarlah Kerajaan-Mu datang melalui pribadi-pribadi yang Kaujadikan pemimpin itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers