Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL

MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Rabu, 1 Oktober 2014)

YESUS DAN ANAK-ANAK DI TENGAH PADANG PENUH BAKUNGPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3

“Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!” Inilah doa Teresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya, karena waktu itu anak perempuan itu baru berusia 7 (tujuh) tahun. Sebuah doa anak kecil yang sejati!

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.

ST. TERESA KECILPada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Teresa dari Lisieux (1873-1897), perawan dan Pujangga Gereja. Dialah anak kecil yang berdoa sebagaimana digambarkan di atas. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresia Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”. Sampai akhir hayatnya, Santa Teresia dari Lisieux membuktikan bahwa sikap hidupnya yang senantiasa childlike di hadapan Allah memang sebuah sikap yang dikehendaki Allah dari kita semua.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu ‘nasib’ kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri!

YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SEDANG MENGAJAR SEORANG ANAK KECILYesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan kerajaan-Mu kepada orang-orang yang menjadi seperti anak kecil di hadapan-Mu, yang memiliki kerendahan hati yang sejati dan sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan ilahi dan pemeliharaan-Mu yang penuh kasih. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar mampu bergerak maju di jalan-Mu seperti yang telah dicontohkan oleh Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang kami rayakan pestanya pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA” (bacaan untuk tanggal 1-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 0KTOBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 1-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 September 2014 [Peringatan S. Vicentius a Paulo, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 24 September 2014)

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASYesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6)

Bacaan Pertama: Ams 30:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163

“Yesus … memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit” (Luk 9:1-2).

Mengapa Yesus harus bersusah-payah memberikan otoritas kepada kedua belas murid-Nya untuk mengalahkan roh-roh jahat? Bukankah Yesus dapat sekadar memberdayakan mereka untuk menyembuhkan sakit-penyakit dan mewartakan Injil? Bukankah itu sudah cukup? Kelihatannya tidak! Yesus menyadari bahwa keberadaan roh-roh jahat adalah riil, dan Ia juga tahu bahwa roh-roh jahat itu merupakan ancaman riil terhadap hidup orang banyak. Kita bisa saja membayangkan Iblis sebagai makhluk berwarna merah menyeramkan, bertanduk, berekor dengan ujung tajam, dan memiliki kaki seperti seekor kambing, namun kenyataannya tidaklah sedemikian. Kita bahkan mungkin saja berpikir bahwa cukuplah bagi kita untuk percaya kepada Yesus dan mengakui keberadaan si Jahat di dunia tanpa menerima kenyataan bahwa dia adalah makhluk spiritual yang bertujuan untuk menghancurkan kita.

Posisi yang disebutkan di atas adalah posisi yang berbahaya. Iblis itu riil, dan tindakan-tindakannya terlihat di dunia dan bahkan dalam hidup kita. Dengan dusta dan kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah, Iblis mempengaruhi kita dengan bujukan-bujukannya, rayuan-rayuannya dlsb. bahwa Allah tidaklah seluruhnya baik dan mengasihi. Iblis juga menggunakan hal-hal yang jelas-jelas dosa dan ketidakpedulian secara halus untuk memimpin kita kepada mindsets yang bertentangan dengan pesan Injil. Dijuluki “pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Iblis ingin menghalang-halangi siapa saja untuk mengenal belas kasih Allah dan menerima pengampunan serta rahmat-Nya.

Untunglah bahwa ini bukanlah akhir dari cerita kita! Dengan kematian Yesus di kayu salib, Iblis telah dikalahkan. Kemampuan yang di berikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang pertama untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bukanlah karunia yang diberikan satu kali saja. Semua orang Kristiani dapat menerima kuasa untuk menolak dusta Iblis, godaan-godaannya, dan keraguan-raguan yang disebabkan olehnya. Kita tidak perlu merasa tak berdaya dan tertindas, dirampas sukacita penebusan kita yang adalah milik kita dalam Kristus. Apabila kita dipersatukan dengan Yesus dalam pembaptisan dan disalibkan bersama Dia, maka kita ikut ambil bagian dalam buah-buah kebangkitan-Nya.

Marilah kita merenungkan kebenaran berikut ini: Bagian lama dari diri kita (anda dan saya) yang berada di bawah pengaruh Iblis telah dihancurkan melalui salib Kristus. Kita harus memperkenankan realitas ini mengendap dalam pikiran dan hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat berkonfrontasi dengan Iblis dan roh-roh jahatnya setiap hari dengan penuh kepercayaan diri. Kita pun akan berjalan dengan keyakinan yang lebih besar lagi dalam hidup baru yang adalah milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku bergembira penuh sukacita akan kemenangan-Mu atas Iblis! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku kuasa-Mu untuk mengenali dan menolak sengat Iblis. Terpujilah Engkau, ya Yesus, Engkau adalah Tuhan yang tersalib dan bangkit, yang telah memenangkan pertempuran sekali dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 24-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 19 September 2014 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporosso, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII, 1 Juni 2014)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

THE LAST SUPPER - 101

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16

Doa Yesus bagi para murid-Nya pada perjamuan terakhir dikenal sebagai doa-Nya sebagai imam (Imam Besar Agung), atau doa pengudusan-Nya, atau sebagai “prakata” dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Nada doa yang bernuansa kesucian ini dan juga berisikan tema kontemplatif pasti akan menyarankan judul liturgis tertentu. Namun begitu, doa ini dapat juga dinilai sebagai versi yang lebih menekankan kekudusan dari doa “Bapa Kami”.

Seorang pemimpin religius pantas diharapkan untuk mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah doa yang menjadi ikhtisar dari ajaran-Nya bagi mereka. Jadi tidak mengherankanlah jika salah seorang murid-Nya berkata kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1).

Doa “Bapa Kami” sebenarnya mengungkapkan dengan kata-kata sederhana hakihat dari ajaran Yesus mengenai Allah dan tujuan sentral dari misi-Nya. Relasi-Nya dengan Allah diungkapkan dalam nama “Bapa” yang berdiam di tempat sejauh surga, namun sedekat jarak antara Bapa dan Anak, yang nama-Nya harus dihormati dan penyelenggaraan-Nya harus dipercaya.

YESUS BERDOA UNTUK PARA MURID-NYA  YOH 17Pekerjaan sentral dari Yesus adalah membangun Kerajaan Allah di dalam dunia. Kerajaan itu berarti sebuah masyarakat di mana kehendak Allah adalah aturan hidup yang berlaku. Artinya ada roti setiap hari bagi semua orang: tidak ada lagi ketidakadilan, diskriminasi atau ketamakan, melainkan ikut ambil bagian secara fair dalam segala sumber daya yang ada di bumi. Di dalam Kerajaan Allah ada pengampunan penuh dan rekonsiliasi sempurna: tidak ada lagi saling cakar atau hantam-menghantam antara para warganya.

Para warga Kerajaan Allah dengan setia bertekun selagi godaan ditolak dan kejahatan dikalahkan secara total. Doa Yesus dalam ruang atas ini mengulangi tema-tema besar dari doa “Bapa Kami”, walaupun dalam siklus-siklus pemikiran Yohanes yang kesana-kemari atau berputar-putar daripada ungkapan yang sederhana dan jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Nama yang mendominasi doa ini lagi-lagi adalah “Bapa”. Allah yang Mahalain diungkapkan oleh Yohanes dalam tema-tema pemuliaan yang diulang-ulangi olehnya.

Jika doa “Bapa Kami” menjadi sebuah doa untuk Kerajaan Allah di atas bumi, maka doa Yesus di ruang atas dimaksudkan sebagai syafaat untuk para murid-Nya di seluruh dunia. Yesus telah memuliakan Bapa di atas bumi dengan melakukan kehendak-Nya dan membuat nama-Nya dikenal. Sekarang, pada saat-saat terakhir-Nya di atas bumi telah selesai, Dia menyerahkan misi-Nya kepada para murid-Nya. “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia” (Yoh 17:11).

Sekarang instrumen Kerajaan Allah adalah Gereja di atas bumi. Kemuliaan Yesus sendiri sekarang dicerminkan dalam karya Gereja … “Aku telah dimuliakan di dalam mereka” (Yoh 17:10). Dalam banyak bentuk dan cara kerjanya, karya-karya pelayanan karitatif Gereja memberikan “roti” bagi orang yang lapar, mendirikan berbagai klinik dan rumah sakit bagi orang-orang sakit, menjalankan rumah singgah dll.

Gereja mengalami pengampunan Allah secara begitu mendalam, sehingga terdapat satu “sakramen rekonsiliasi” untuk merayakan pengampunan Allah itu. Dengan penuh hasrat untuk mensyeringkan sukacita rekonsiliasi, Gereja mewartakan damai-sejahtera dan mendorong terciptanya suatu pemahaman yang lebih besar daripada rasa sakit, suatu kondisi terberkati yang mengatasi sikap dan tindakan mengutuk. Melalui berbagai praktek asketisme Gereja menolong orang-orang untuk melawan godaan dan dilepaskan/dibebaskan dari cengkeraman si Jahat.

Doa Yesus di ruang atas adalah spiral besar dari pemikiran kontemplatif Yohanes, yang mengembang dari kata-kata sederhana dalam doa “Bapa Kami”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah mendoakan kami – bukan dunia – kehadapan hadirat Bapa. Dalam doa-Mu, Engkau mengatakan bahwa bukan untuk dunia Engkau berdoa, tetapi untuk kami semua, yang telah diberikan Bapa kepada-Mu, sebab kami adalah milik Bapa dan segala milik-Mu adalah milik Bapa dan milik Bapa adalah milik-Mu, dan Engkau telah dimuliakan di dalam kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Ptr 4:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERGEMBIRA DAN BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN SEBAGAI ORANG KRISTIANI” (bacaan tanggal 1-6-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERDOA BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 5-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Tulisan ini adalah saduran bebas dari bacaan yang terdapat dalam P. Silvester O’Flynn, THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books, 1989 (1992 reprinting), hal. 114-115.

Cilandak, 31 Mei 2014 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 3 Maret 2014)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRIST - 02Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10

Yesus baru saja memberi peringatan kepada para murid-Nya untuk tidak membuat diri mereka menjadi penghalang terhadap upaya mereka untuk mengasihi Allah. Yesus mengingatkan buruknya kesombongan/keangkuhan dan iri hati. Kiranya Dia mengatakan, “Jagalah dirimu agar tetap kecil!” Yesus bersabda, “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:15-16).

Sekarang Yesus juga memperingatkan kita berkaitan dengan menempatkan hal-hal yang menghalangi aliran kasih Allah kepada umat-Nya. Orang yang datang kepada Yesus (anak muda kaya) dalam bacaan Injil hari ini ingin mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mrk 10:17). Yesus mengingatkan dia bahwa ada “panduannya”, yaitu perintah-perintah Allah. Orang itu menjawab: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Mrk 10:20).

Yesus memandang pakaian halus dan intan-permata mahal yang dikenakan orang itu. Orang itu boleh dikatakan cukup tulus, tetapi belum di-tes (diuji). Ia berpakaian baik, makan-minum dengan baik pula, cukup terlindungi dari beratnya beban kehidupan. Sekarang tibalah saatnya bagi dia untuk menghadapi realitas: moment of truth. Yesus memandang orang itu dengan kasih dan berkata kira-kira begini: “Sahabatku, engkau membutuhkan satu hal lagi. Engkau berada dalam bahaya karena membiarkan kerajaan dunia menghalangi jalanmu menuju Kerajaan Allah.” …… “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21-22). Hal ini dapat diartikan: “Pilihlah kemiskinan secara sukarela, pemberian-diri yang lengkap-total; percaya sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhanmu di dunia.”

Mendengar jawaban Yesus, orang itu sungguh merasa terkejut. Jadi, kita dapat mengira bahwa dia tidak meminta Yesus untuk menantangnya, melainkan sekadar menyetujui “hidupnya yang baik” selama ini. Yesus telah membuka pintu lebar-lebar agar orang itu mengalami pertumbuhan spiritual. Namun terang-Nya begitu jelas datang melalui pintu yang terbuka itu, dan terang-Nya itu menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu sangat terlekat pada harta miliknya. Dia dirantai, terbelenggu dan tak berdaya untuk membebaskan dirinya untuk mengikut Yesus.

Para murid Yesus selalu berpikir bahwa harta kekayaan adalah berkat dari Allah! Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus kiranya berbunyi begini: “Orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun Allah dapat berbuat apa saja”. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27 bdk. Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, betapa bebas Engkau dan bagaimana orang kaya itu terbelenggu tak berdaya. Dia pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Engkau memandang dia, kiranya sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mu. Dan, ketika Engkau berpaling kepada para murid-Mu, Engkau berkata bahwa alangkah sukarnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus, jagalah agar kami tetap setia sebagai murid-murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA” (bacaan tanggal 3-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 26 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 17 Februari 2014)

JESUS CONFRONTING THE SCRIBES AND PHARISEESKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13)

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75,76

Memang agak mengherankan ketika kita membaca bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga untuk membuktikan tentang kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat dari bagian-bagian lain kitab-kitab Injil bahwa Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, hal mana sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup bahwa Dia berasal dari Allah. Namun bagi orang-orang Farisi tanda-tanda ini tidaklah memuaskan. Kelihatannya pada waktu itu ada pemikiran dalam Yudaisme bahwa pada saat sang Mesias datang, maka Dia akan membuat mukjizat yang bersifat unik. Tidak ada tulisan apa pun dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mendukung pandangan ini. Akan tetapi, seperti begitu banyak hal lainnya, orang-orang Farisi telah membangun suatu tradisi mereka sendiri yang dipertimbangkan oleh mereka sebagai sama pentingnya dengan Kitab Suci.

Jadi, ketika mereka meminta tanda yang sangat istimewa, Yesus menjadi agak kecewa terhadap ketiadaan iman-kepercayaan mereka, lalu berkata: “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda” (Mrk 8:12). Hal ini berarti bahwa tidak ada mukjizat yang istimewa dan unik akan dibuat-Nya untuk memuaskan kepercayaan mereka, bahwa mukjizat yang sungguh luarbiasa akan mendahului kedatangan sang Mesias.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSecara sederhana, yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa permintaan akan suatu tanda yang bersumber pada ketidakpercayaan manusia tidak akan diladeni oleh-Nya.

Iman menuntut adanya suatu keterbukaan, suatu kemauan untuk menerima alasan-alasan yang biasa untuk percaya. Jika penyembuhan orang-orang sakit, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan roti dan mukjizar-mukjizat lainnya yang jelas tidak lepas dari kuat-kuasa ilahi tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang Farisi itu, maka hal ini berarti tidak ada respons dari pihak mereka. Iman harus merupakan suatu tindakan bebas. Yesus tidak akan memaksa siapa pun untuk percaya. Tanggapan atau respons harus datang secara bebas, dibantu oleh berbagai mukjizat dan tanda heran yang sudah dibuat oleh-Nya.

Kita sendiri memang tidak pernah menyaksikan Yesus membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit dlsb. Yang mungkin pernah kita lihat adalah hal-hal sedemikian yang dilakukan oleh orang-orang beriman dalam nama-Nya, namun kita percaya bahwa Yesus-lah Pelaku utamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus Kristus ini menganugerahkan kepada kita karunia iman untuk menerima Injil sebagai benar. Keempat kitab Injil memuat catatan-catatan akurat tentang kehidupan Yesus dan tindak-tanduk-Nya selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu kita percaya! Kita percaya bahwa Yesus telah membuktikan keilahian-Nya, martabat-Nya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat Yahudi, lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat-Nya, dan memuncak pada kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa terberkati secara istimewa karena Engkau pernah bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH MEREKA MELIHAT APA YANG KITA LAKUKAN” (bacaan tanggal 17-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 14 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AWAL YANG KECIL-KECILAN

AWAL YANG KECIL-KECILAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam & Pendiri Tarekat – Jumat, 31Januari 2014)

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-10,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus adalah seorang guru yang sangat baik. Ia menggunakan contoh-contoh yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya dengan serius. Lagi-lagi di sini Yesus memakai benih sebagai contoh.

Pertama-tama Yesus berbicara dengan sederhana bagaimana benih itu, setelah ditanam oleh sang petani, bertunas dan bertumbuh dan akhirnya berbuah dan apabila sudah matang, siaplah untuk dituai. Seorang petani hanya menanti karena dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sejak benih ditanam sampai buahnya cukup matang untuk dituai. Acuannya adalah kepada Kerajaan Allah yang ditanam dalam diri orang-orang oleh Kristus. Melalui rahmat-Nya, Kerajaan Allah melalui proses pertumbuhan yang penuh misteri dan dimaksudkan untuk menyebar ke seluruh dunia dan membuahkan tuaian berupa jiwa-jiwa.

PARABLE OF THE MUSTARD SEED - 3Bagian kedua dari bacaan Injil hari ini menceritakan “perumpamaan tentang biji sesawi”. Biji sesawi ini adalah benih yang berukuran sangat kecil, salah satu yang terkecil ketika ditanam. Namun demikian biji sesawi itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi tetumbuhan yang berukuran sangat besar, dengan cabang-cabang yang cukup besar sehingga burung-burung dapat membuat sarang di situ.

Dengan cara serupa, Gereja – Kerajaan Kristus di atas bumi – dimulai secara kecil-kecilan. Tidak banyak orang yang menjadi para pengikut Kristus yang setia pada masa hidup-Nya; hanya ada beberapa orang Rasul dan perrempuan-perempuan yang setia melayani-Nya sejak dari Galilea (lihat Luk 23:49; lihat juga 8:1-3). Sungguh suatu awal yang tidak begitu menjanjikan, atau katakanlah kurang meyakinkan, bahkan sebagian besar dari para rasul tidak disebut-sebut ada/hadir di sekitar salib Kristus di Kalvari, kecuali Yohanes. Namun dari awal yang kelihatan tidak ada apa-apanya, sekecil biji sesawi, Gereja bertumbuh sampai hari ini dan menjadi seperti sebatang pohon yang besar dan rindang. Di bawah perlindungan dan naungan pohon inilah banyak orang menemukan tempat berlindung dari dosa dan keduniawian.

Cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita. Sebagai manusia, kita akan mengharapkan bahwa suatu kerajaan seperti itu dapat didirikan di atas dasar yang lebih baik daripada para nelayan sederhana. Bukankah lebih baik jikalau yang dipilih sebagai dasar adalah orang-orang yang berlatar belakang jauh lebih baik, misalnya berlatar pendidikan teologi dari “pesantren” terbaik di Yerusalem, memiliki hikmat-kebijaksanaan, dan memiliki kemampuan dalam bidang organisasi dan adminitrasi. Akan tetapi Allah menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya semua itu, jika kita menaruh kepercayaan terlebih-lebih pada kekuatan-kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Yang kita butuhkan adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia.

Apabila kita berbicara sebagai manusia, maka Gereja adalah sebuah mukjizat berkaitan dengan karya Allah. Apabila sekadar mengandalkan upaya manusia, maka Gereja pun tidak akan bertahan lama. Hal yang sama berlaku bagi kita. Sekali-kali kita pun membutuhkan lebih daripada sekadar upaya manusia. Allah telah menjamin kita semua bahwa Dia siap dengan pertolongan-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala situasi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “MENYEBARKAN BENIH-BENIH SABDA ALLAH” (bacaan tanggal 31-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 27 Januari 2014 [Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri OSU]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers