Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 3 Maret 2014)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRIST - 02Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10

Yesus baru saja memberi peringatan kepada para murid-Nya untuk tidak membuat diri mereka menjadi penghalang terhadap upaya mereka untuk mengasihi Allah. Yesus mengingatkan buruknya kesombongan/keangkuhan dan iri hati. Kiranya Dia mengatakan, “Jagalah dirimu agar tetap kecil!” Yesus bersabda, “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:15-16).

Sekarang Yesus juga memperingatkan kita berkaitan dengan menempatkan hal-hal yang menghalangi aliran kasih Allah kepada umat-Nya. Orang yang datang kepada Yesus (anak muda kaya) dalam bacaan Injil hari ini ingin mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mrk 10:17). Yesus mengingatkan dia bahwa ada “panduannya”, yaitu perintah-perintah Allah. Orang itu menjawab: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Mrk 10:20).

Yesus memandang pakaian halus dan intan-permata mahal yang dikenakan orang itu. Orang itu boleh dikatakan cukup tulus, tetapi belum di-tes (diuji). Ia berpakaian baik, makan-minum dengan baik pula, cukup terlindungi dari beratnya beban kehidupan. Sekarang tibalah saatnya bagi dia untuk menghadapi realitas: moment of truth. Yesus memandang orang itu dengan kasih dan berkata kira-kira begini: “Sahabatku, engkau membutuhkan satu hal lagi. Engkau berada dalam bahaya karena membiarkan kerajaan dunia menghalangi jalanmu menuju Kerajaan Allah.” …… “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21-22). Hal ini dapat diartikan: “Pilihlah kemiskinan secara sukarela, pemberian-diri yang lengkap-total; percaya sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhanmu di dunia.”

Mendengar jawaban Yesus, orang itu sungguh merasa terkejut. Jadi, kita dapat mengira bahwa dia tidak meminta Yesus untuk menantangnya, melainkan sekadar menyetujui “hidupnya yang baik” selama ini. Yesus telah membuka pintu lebar-lebar agar orang itu mengalami pertumbuhan spiritual. Namun terang-Nya begitu jelas datang melalui pintu yang terbuka itu, dan terang-Nya itu menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu sangat terlekat pada harta miliknya. Dia dirantai, terbelenggu dan tak berdaya untuk membebaskan dirinya untuk mengikut Yesus.

Para murid Yesus selalu berpikir bahwa harta kekayaan adalah berkat dari Allah! Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus kiranya berbunyi begini: “Orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun Allah dapat berbuat apa saja”. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27 bdk. Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, betapa bebas Engkau dan bagaimana orang kaya itu terbelenggu tak berdaya. Dia pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Engkau memandang dia, kiranya sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mu. Dan, ketika Engkau berpaling kepada para murid-Mu, Engkau berkata bahwa alangkah sukarnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus, jagalah agar kami tetap setia sebagai murid-murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA” (bacaan tanggal 3-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 26 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 17 Februari 2014)

JESUS CONFRONTING THE SCRIBES AND PHARISEESKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13)

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75,76

Memang agak mengherankan ketika kita membaca bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga untuk membuktikan tentang kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat dari bagian-bagian lain kitab-kitab Injil bahwa Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, hal mana sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup bahwa Dia berasal dari Allah. Namun bagi orang-orang Farisi tanda-tanda ini tidaklah memuaskan. Kelihatannya pada waktu itu ada pemikiran dalam Yudaisme bahwa pada saat sang Mesias datang, maka Dia akan membuat mukjizat yang bersifat unik. Tidak ada tulisan apa pun dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mendukung pandangan ini. Akan tetapi, seperti begitu banyak hal lainnya, orang-orang Farisi telah membangun suatu tradisi mereka sendiri yang dipertimbangkan oleh mereka sebagai sama pentingnya dengan Kitab Suci.

Jadi, ketika mereka meminta tanda yang sangat istimewa, Yesus menjadi agak kecewa terhadap ketiadaan iman-kepercayaan mereka, lalu berkata: “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda” (Mrk 8:12). Hal ini berarti bahwa tidak ada mukjizat yang istimewa dan unik akan dibuat-Nya untuk memuaskan kepercayaan mereka, bahwa mukjizat yang sungguh luarbiasa akan mendahului kedatangan sang Mesias.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSecara sederhana, yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa permintaan akan suatu tanda yang bersumber pada ketidakpercayaan manusia tidak akan diladeni oleh-Nya.

Iman menuntut adanya suatu keterbukaan, suatu kemauan untuk menerima alasan-alasan yang biasa untuk percaya. Jika penyembuhan orang-orang sakit, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan roti dan mukjizar-mukjizat lainnya yang jelas tidak lepas dari kuat-kuasa ilahi tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang Farisi itu, maka hal ini berarti tidak ada respons dari pihak mereka. Iman harus merupakan suatu tindakan bebas. Yesus tidak akan memaksa siapa pun untuk percaya. Tanggapan atau respons harus datang secara bebas, dibantu oleh berbagai mukjizat dan tanda heran yang sudah dibuat oleh-Nya.

Kita sendiri memang tidak pernah menyaksikan Yesus membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit dlsb. Yang mungkin pernah kita lihat adalah hal-hal sedemikian yang dilakukan oleh orang-orang beriman dalam nama-Nya, namun kita percaya bahwa Yesus-lah Pelaku utamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus Kristus ini menganugerahkan kepada kita karunia iman untuk menerima Injil sebagai benar. Keempat kitab Injil memuat catatan-catatan akurat tentang kehidupan Yesus dan tindak-tanduk-Nya selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu kita percaya! Kita percaya bahwa Yesus telah membuktikan keilahian-Nya, martabat-Nya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat Yahudi, lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat-Nya, dan memuncak pada kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa terberkati secara istimewa karena Engkau pernah bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH MEREKA MELIHAT APA YANG KITA LAKUKAN” (bacaan tanggal 17-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 14 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AWAL YANG KECIL-KECILAN

AWAL YANG KECIL-KECILAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam & Pendiri Tarekat – Jumat, 31Januari 2014)

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: 2Sam 11:1-10,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,10-11

Yesus adalah seorang guru yang sangat baik. Ia menggunakan contoh-contoh yang dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya dengan serius. Lagi-lagi di sini Yesus memakai benih sebagai contoh.

Pertama-tama Yesus berbicara dengan sederhana bagaimana benih itu, setelah ditanam oleh sang petani, bertunas dan bertumbuh dan akhirnya berbuah dan apabila sudah matang, siaplah untuk dituai. Seorang petani hanya menanti karena dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi sejak benih ditanam sampai buahnya cukup matang untuk dituai. Acuannya adalah kepada Kerajaan Allah yang ditanam dalam diri orang-orang oleh Kristus. Melalui rahmat-Nya, Kerajaan Allah melalui proses pertumbuhan yang penuh misteri dan dimaksudkan untuk menyebar ke seluruh dunia dan membuahkan tuaian berupa jiwa-jiwa.

PARABLE OF THE MUSTARD SEED - 3Bagian kedua dari bacaan Injil hari ini menceritakan “perumpamaan tentang biji sesawi”. Biji sesawi ini adalah benih yang berukuran sangat kecil, salah satu yang terkecil ketika ditanam. Namun demikian biji sesawi itu bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi tetumbuhan yang berukuran sangat besar, dengan cabang-cabang yang cukup besar sehingga burung-burung dapat membuat sarang di situ.

Dengan cara serupa, Gereja – Kerajaan Kristus di atas bumi – dimulai secara kecil-kecilan. Tidak banyak orang yang menjadi para pengikut Kristus yang setia pada masa hidup-Nya; hanya ada beberapa orang Rasul dan perrempuan-perempuan yang setia melayani-Nya sejak dari Galilea (lihat Luk 23:49; lihat juga 8:1-3). Sungguh suatu awal yang tidak begitu menjanjikan, atau katakanlah kurang meyakinkan, bahkan sebagian besar dari para rasul tidak disebut-sebut ada/hadir di sekitar salib Kristus di Kalvari, kecuali Yohanes. Namun dari awal yang kelihatan tidak ada apa-apanya, sekecil biji sesawi, Gereja bertumbuh sampai hari ini dan menjadi seperti sebatang pohon yang besar dan rindang. Di bawah perlindungan dan naungan pohon inilah banyak orang menemukan tempat berlindung dari dosa dan keduniawian.

Cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita. Sebagai manusia, kita akan mengharapkan bahwa suatu kerajaan seperti itu dapat didirikan di atas dasar yang lebih baik daripada para nelayan sederhana. Bukankah lebih baik jikalau yang dipilih sebagai dasar adalah orang-orang yang berlatar belakang jauh lebih baik, misalnya berlatar pendidikan teologi dari “pesantren” terbaik di Yerusalem, memiliki hikmat-kebijaksanaan, dan memiliki kemampuan dalam bidang organisasi dan adminitrasi. Akan tetapi Allah menunjukkan kepada kita betapa sia-sianya semua itu, jika kita menaruh kepercayaan terlebih-lebih pada kekuatan-kekuatan kita sendiri sebagai manusia. Yang kita butuhkan adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia.

Apabila kita berbicara sebagai manusia, maka Gereja adalah sebuah mukjizat berkaitan dengan karya Allah. Apabila sekadar mengandalkan upaya manusia, maka Gereja pun tidak akan bertahan lama. Hal yang sama berlaku bagi kita. Sekali-kali kita pun membutuhkan lebih daripada sekadar upaya manusia. Allah telah menjamin kita semua bahwa Dia siap dengan pertolongan-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala situasi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “MENYEBARKAN BENIH-BENIH SABDA ALLAH” (bacaan tanggal 31-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 27 Januari 2014 [Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri OSU]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Hari “puasa besar” dalam liturgi agama Yahudi adalah “Hari Raya Pendamaian” (Inggris: Day of Atonement; A day of Solemn Rest; Ibrani: Yom Kipur). Bagi orang Yahudi, berpuasa pada hari itu merupakan suatu syarat untuk termasuk dalam atau tergolong sebagai umat Allah (Im 23:26-29). Orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari-hari lainnya karena devosi pribadi. Baik para murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi berpuasa (Mrk 2:18), malah ada juga sebagian dari orang Farisi berpuasa dua kali seminggu. Orang-orang menjadi penasaran mengapa murid-murid Yesus tidak mengikuti contoh orang-orang Farisi.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang itu dengan mengibaratkan para murid-Nya sebagai para sahabat mempelai laki-laki dalam sebuah pesta pernikahan. Dengan mengidentifikasikan diri-Nya sebagai sebagai sang mempelai laki-laki, maka Yesus sebenarnya mengidentifikasikan diri-Nya dengan seorang tokoh mesianis dan mengindikasikan bahwa dalam Dia Allah ada bersama dengan mereka, yaitu para murid-Nya. Kehadiran sang mempelai laki-laki merupakan penyebab bagi mereka untuk bersukacita. Yohanes datang untuk menyerukan pertobatan sehubungan dengan penghakiman yang akan datang. Puasa yang dilakukan oleh para murid Yohanes menunjukkan antisipasi yang diungkapkan dalam simbol-simbol rasa sedih dan pertobatan. “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka” (Mrk 2:20). Ini merupakan alegoria dari kematian Yesus, pada saat mana para murid-Nya akan berpuasa sebagai suatu tanda berkabung sampai saat Ia datang kembali dalam kemuliaan.

Perumpamaan tentang “kain baru dan baju tua” serta “anggur baru dan kantong kulit tua” menggambarkan hubungan yang ada antara segala sesuatu yang diberikan oleh Allah guna mempersiapkan orang-orang akan kedatangan Yesus sebagai Mesias dan “orde baru” yang didirikan dengan kedatangan-Nya. Dalam Yesus, “orde baru” itu telah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang itu kepada Yesus mencerminkan ketegangan spiritual yang ada antara “yang lama” dan “yang baru”. Yesus menggunakan perumpamaan dengan menggunakan kain dan anggur sebagai sebagai gambaran. Yesus mengajarkan bahwa kegunaan “yang lama” janganlah sampai dirusak oleh “yang baru”, sehingga dua-duanya terbuang. Mengikutsertakan “yang lam” dan “yang baru” harus dilakukan sedemikian rupa sehingga menjaga hal apa saja yang baik dari “yang lama” dan tidak kehilangan kebaikan dari “yang baru”.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah mempelai laki-laki yang telah menghantar kami untuk sampai ke Kerajaan Allah, dan dalam Engkau, Allah ada bersama dengan kami. Semoga Roh Kudus-Mu mengajar kami untuk menghargai segala sesuatu yang baik, lama maupun baru, sehingga dengan demikian kami tidak menolak apa pun yang diberikan guna memajukan Kerajaan Allah di atas bumi dan kami pun dapat sepenuhnya merangkul hidup baru yang Kauberikan kepada kami. amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL BERPUASA” (bacaan tanggal 20-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 17 Januari 2014 [Peringatan S. Antonius, Abas]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN

PARA PENGUASA HARUS MENGEJAR HIKMAT-KEBIJAKSANAAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Rabu, 13 November 2013)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan

THE BOOK OF WISDOM - 03Dengarkanlah, hai para raja, dan hendaklah mengerti, belajarlah, hai para penguasa di ujung-ujung bumi. Condongkanlah telinga, hai kamu yang memerintah orang banyak dan bermegah karena banyaknya bangsa-bangsamu. Sebab dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu, oleh karena kamu yang hanya menjadi abdi dari kerajaan-Nya tidak memerintah dengan tepat, tidak pula menepati hukum, atau berlaku menurut kehendak Allah. Dengan dahsyat dan cepat Ia akan mendatangi kamu, sebab pengadilan yang tak terelakkan menimpa para pembesar. Memang yang bawahan saja dapt dimaafkan karena belas kasihan, tetapi yang berkuasa akan disiksa dengan berat. Sang Kuasa atas segala-galanya tidak akan mundur terhadap siapapun, dan kebesaran orang tidak dihiraukan-Nya. Sebab yang kecil dan yang besar dijadikan oleh-Nya, dan semua dipelihara oleh-Nya dengan cara yang sama. Tetapi terhadap yang berkuasa akan diadakan pemeriksaan keras. Jadi perkataanku ini tertuju kepada kamu, hai pembesar, agar kamu belajar kebijaksanaan dan jangan sampai terjatuh. Sebab mereka yang secara suci memelihara yang suci akan disucikan pula, dan yang dalam hal itu terpelajar akan mendapat pembelaan. Jadi, hendaklah menginginkan serta merindukan perkataanku, maka kamu akan dididik. (Keb 6:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 82:3-4,6-7; Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Semua kekuasaan datang dari Allah. Semua orang yang mendapatkan kekuasaan pada suatu hari akan berdiri di depan takhta Allah untuk mempertanggungjawabkan bagaimana mereka menggunakan wewenang/kekuasaan yang diberikan-Nya kepada mereka. Para orangtua, para guru, para boss di bidang pemerintahan, misalnya raja, presiden, hakim agung, anggota parlemen, dlsb., para boss di bidang bisnis dll. Di bidang keagamaan ada uskup, imam dan para pemuka agama dlsb. Semua akan menghadapi “pemeriksaan keras” oleh Sang Kuasa (Keb 6:7,8).

Kebanyakan dari kita mempunyai lingkungan pengaruh yang relatif kecil. Kalau begitu halnya, apakah kita cukup merasa lega dan berterima kasih kepada bintang-bintang di langit? Samasekali tidak! Jauh lebih baik bagi kita untuk berlutut dan berdoa bagi para pemimpin kita, teristimewa di bidang pemerintahan yang salah-benarnya kebijakan mereka akan sangat membawa dampak atas “nasib” rakyat yang begitu banyak jumlahnya. Atas para pemimpin pemerintahan ini Allah menuntut agar mereka melakukan fungsi masing-masing dengan benar, menghormati dan taat kepada hukum, dan melaksanakan tujuan Allah bagi rakyat atas siapa mereka memiliki kekuasaan. Seorang pemimpin itu bukanlah sekadar seorang “pejabat”, mereka harus memperhatikan dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya dari ancaman pihak musuh, dan sang pemimpin harus menjamin bahwa keadilan dan kebaikan tetap terjaga. Pada hakekatnya para pemimpin politik/kenegaraan memiliki pekerjaan seperti orang tua bagi anak-anak mereka.

GEMBALA YANG BAIK - 16Patut dicatat bahwa para pemimpin juga – seperti kita sendiri – menghadapi pertempuran dengan Iblis dan roh-roh jahatnya secara berkesinambungan. Iblis tahu sampai berapa besar kendali dan pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin. Ia (Iblis) ingin para pemimpin melakukan kesalahan, untuk gagal. Si Jahat mengetahui bahwa dia dapat melemahkan keseluruhan bangsa dengan menjerumuskan para pemimpinnya ke dalam jerat-dosa. Lihatlah apa yang terjadi dengan Ponsius Pilatus dan Raja Herodes Antipas sekitar 2.000 tahun lalu. Dua orang pemimpin ini sesungguhnya dapat membuat pilihan-pilihan yang dapat menjadikan mereka tokoh-tokoh besar dalam Kerajaan Allah. Ternyata mereka justru menjadi pion-pion Si Jahat. Tentu saja kita tidak ingin para pemimpin politik/kenegaraan kita mengikuti jejak Ponsius Pilatus dan Herodes Antipas.

Ya, kita memang harus banyak berdoa bagi para pemimpin kita. Agar mau dan mampu melakukan pekerjaan mereka dengan baik, para pemimpin kita membutuhkan hati seorang gembala, hati Yesus sendiri. Mereka membutuhkan hikmat-kebijaksanaan Salomo dan kesabaran Ayub. Sebagai pribadi-pribadi, mereka menghadapi dua front, dari dalam ada kodrat manusia yang cenderung untuk berdosa, dan dari luar ada si Iblis dan roh-roh jahatnya yang terus saja menggoda. Dengan spiritualitas yang tidak kokoh, para “pemimpin” dapat dengan mudah menyerah kepada godaan dimaksud, ….. maka jatuhlah mereka ke dalam “kebanggaan palsu”, “keangkuhan”, “kemunafikan”, menjadi “pembohong besar” dlsb. Dengan demikian para pemimpin ini pun membutuhkan perlindungan, paling sedikit dari doa-doa syafaat kita.

Kebanyakan dari kita mengetahui mengenai berbagai kewajiban, tanggung-jawab dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tugas kita sebagai orang tua. Para pemimpin politik/kenegaraan/bangsa juga mempunyai anak-anak, yang mungkin lebih susah untuk dicintai daripada anak-anak mereka sendiri, dan jumlahnya juga jauh lebih besar; …… mereka adalah rakyat, pribadi-pribadi manusia, bukan sekadar angka-angka statistik, dan mereka itu ratusan juta jiwa jumlahnya. Oleh karena itu, marilah kita mendoakan para pemimpin kita di segala bidang (termasuk para pemimpin agama) tanpa jemu-jemu, terutama agar mereka jangan memandang diri mereka sekadar sebagai pejabat-pejabat, penguasa-penguasa yang mementingkan diri sendiri dan keluarga/kerabat/kelompoknya sendiri, melainkan sebagai “pelayan-pelayan” atau “abdi-abdi” sejati bagi pribadi-pribadi (rakyat/umat).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang di seluruh dunia dan teristimewa di negara kami, Indonesia, yang bertugas melayani rakyat/umat sebagai pemimpin – teristimewa di bidang politik/kenegaraan/pemerintahan dan keagamaan. Bangunlah kebenaran-Mu melalui diri mereka. Biarlah Kerajaan-Mu datang melalui pribadi-pribadi yang Kaujadikan pemimpin itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?” (bacaan tanggal 13-11-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil (Luk 17:11-19), bacalah juga tulisan yang berjudul “SEPULUH ORANG KUSTA” (bacaan tanggal 11-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 9 November 2013 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIJI SESAWI DAN RAGI

BIJI SESAWI DAN RAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 29 Oktober 2013)

PERUMPAMAAN RAGI - MAT 13Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.” Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21)

Bacaan Pertama: Rm 8:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6

Dalam bacaan Injil yang relatif singkat hari ini, secara berturut-turut Yesus mengajarkan dua perumpamaan sarat-makna tentang Kerajaan Allah, yaitu pertama diumpamakan sebagai biji sesawi yang ditanam di kebun, dan kedua diumpamakan dengan ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu.

Di tangan seorang guru atau rabi yang “jago”, perumpamaan-perumpamaan dapat menjadi sarana-sarana berguna untuk memicu pemikiran dan permenungan tentang sebuah pokok pengajaran. Melalui gambaran-gambaran yang sederhana namun kaya, perumpamaan-perumpamaan menantang para pendengarnya untuk menggeluti suatu subjek pada tingkat yang berbeda-beda. Yesus seringkali menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk meluaskan pemahaman para murid-Nya tentang Kerajaan Allah.

Setelah dalam beberapa bab digambarkan Kerajaan Allah dan makna dari jalan Kristiani, Lukas kemudian merangkumnya dengan perumpamaan-perumpamaan tentang biji sewati dan ragi. Perumpamaan-perumpamaan ini diberikan seiring dengan semakin bertambahnya oposisi terhadap Yesus, termasuk penolakan terhadap dirinya oleh orang orang-orang Samaria (Luk 9:51-53), pengakuan terhadap penolakan itu (Luk 12:51) dan suatu panggilan kepada pertobatan secara universal (Luk 13:5).

MUSTARD SEEDSDalam terang oposisi ini, Yesus mengundang para murid-Nya untuk memandang Kerajaan Allah dari suatu perspektif global: “Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya ……Seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” (Luk 13:18-21).

Dua perumpamaan ini memberikan gambaran-gambaran tentang cara sederhana dengan mana Kerajaan Allah itu mulai ketika pertama kali diumumkan oleh seorang tukang kayu dari Nazaret yang tidak dikenal, kepada sekelompok orang yang kebanyakan terdiri dari mereka yang tidak berstatus penting dalam masyarakat, …… “wong cilik”. Namun demikian, justru dari kelompok tak berarti inilah Kerajaan Allah yang tak terbatas bertumbuh-kembang dengan pesat di dalam dunia kita yang terbatas. Menghadapi perlawanan atau tidak, Kerajaan Allah akan terus berlanjut di dalam dunia ini, sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman.

Yesus juga meminta agar para murid-Nya menerapkan dua perumpamaan ini pada tingkat personal. Apabila kita melihat dengan cara begini, maka kita menyaksikan bahwa bahkan hal-hal kecil sekali pun yang kita lakukan untuk membuat diri kita sebagai sarana Allah untuk turut membangun Kerajaan-Nya akan membawa dampak tidak kecil. Siapa yang dapat menyangka bahwa seorang biarawati-guru keturunan Albania dengan postur tubuh kecil dan bekerja di India – Bunda Teresa dari Kalkuta – pada suatu hari dalam kehidupannya akan mampu mendirikan sebuah kongregasi religius yang begitu berdedikasi pada “wong cilik” di Kalkuta. Kongregasi ini bertumbuh-kembang dengan cepat dan diberkati oleh Allah secara berlimpah untuk menjadi “garam bumi” dan “terang dunia” di tengah masyarakat yang sebagian besar terdiri dari saudari-saudara yang beriman lain. Sekarang kongregasi ini telah menjadi kongregasi multi-nasional yang mengagumkan dalam spiritualitas maupun karya kerasulan mereka. Ini adalah bukti bahwa Allah menggunakan “biji sesawi” dan “ragi” yang ada dalam seorang Bunda Teresa dari Kalkuta guna mencapai karya kasih-Nya secara gemilang. Pelajaran yang kita dapat tarik dari dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hariini adalah bahwa Kerajaan Allah mulai di hati kita secara kecil-kecilan, namun dapat bertumbuh menjadi sesuatu yang dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Bapa surgawi, Engkau tidak menetapkan batas sampai mana Kerajaan-Mu akan berkembang. Melalui ketaatanku, datanglah Kerajaan-Mu, dalam hidupku dan dalam hidup orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 29-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan tanggal 25-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan/atau “BIJI SESAWI YANG BENAR (bacaan tanggal 30-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 18 Oktober 2013 (Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ASALKAN KITA MAU BERTOBAT

ASALKAN KITA MAU BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 26 Oktober 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASPada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”
Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9)

Bacaan Pertama: Rm 8:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Kelahiran Yesus menandakan kedatangan Kerajaan Allah di atas bumi, dan sepanjang karya pelayanan-Nya, Dia memproklamasikan realitas Kerajaan ini ke mana saja Dia pergi. Yesus ingin agar semua pendengar pewartaan-Nya mengetahui bahwa dengan kedatangan Kerajaan Surga, datang pula penghakiman dan pengharapan akan keselamatan. Inilah sebabnya mengapa berulang-ulang kali Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk senantiasa menaruh perhatian dan menabur benih-benih kebenaran dan kemurnian, sehingga dengan demikian mereka tidak akan gagal dalam tes. Yesus mengingatkan para murid untuk senantiasa mengambil sikap waspada: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi” (Luk 12:2), dan siap sedia, “karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Luk 12:40).

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada hari ini tidak dengan suatu peringatan yang keras sehubungan dengan penghakiman mendatang, melainkan dengan suatu panggilan penuh semangat bagi orang-orang untuk bertobat. Yesus menjelaskan kegawatan dari situasi yang dihadapi: “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3). Allah yang kita sembah adalah “seorang” Allah yang Mahakudus; tidak seorang pun yang masih ternoda oleh dosa dapat hidup bersama-Nya di dalam surga. Pemikiran tentang penghakiman Allah dapat terdengar keras bagi kita, namun kebenaran penuh di sini adalah bahwa Allah tidak ingin menghukum siapa pun dari umat-Nya. Allah menjanjikan umat-Nya pengampunan dan pembebasan dari belenggu dosa. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita bertobat dan percaya, serta menerima baptisan dalam nama Putera-Nya.

Semua orang telah berdosa – bahkan mereka yang hidup sempurna dan membuat orang-orang lain menjadi iri hati. Namun demikian, walaupun kita telah berdosa, Allah Bapa menginginkan kita semua – tanpa kecuali – untuk dikasihi-Nya dengan penuh kelembutan dan hidup bersama-Nya selama-lamanya. Allah menawarkan pengampunan atas dosa-dosa kita, asalkan kita mau bertobat! Dia begitu rindu untuk mengumpulkan kita semua di sekeliling diri-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).

Allah tidak menjamin bahwa kita akan mempunyai hari esok untuk bertobat. Perumpamaan tentang pohon ara mengajarkan kepada kita bahwa hari penghakiman telah ditunda untuk sementara waktu, namun pasti akan datang. Semoga kita semua dapat menghadap takhta Allah, telah dibersihkan oleh darah yang telah dicurahkan oleh Yesus untuk pengampunan dosa-dosa kita, juga dengan mengenakan kebenaran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami sangat menyadari bahwa Engkau sungguh mengasihi kami. Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, yang kemudian wafat di kayu salib guna menebus dosa-dosa kami. Kami sungguh berniat untuk meninggalkan hidup kami yang dipenuhi dosa. Tolonglah kami agar dapat menghasilkan buah yang berguna untuk kemajuan Kerajaan-Mu di dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP OLEH ROH” (bacaan tanggal 26-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “DOSA MANUSIA, KASIH ALLAH DAN PERTOBATAN” (bacaan tanggal 22-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM dan “PERTOBATAN MANUSIA DAN KESABARAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 15 Oktober 2013 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MASIH TETAP MELANJUTKAN KARYA-NYA

YESUS MASIH TETAP MELANJUTKAN KARYA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 4 September 2013)

Ordo Franciscanus Saecularis: Santa Rosa dr Viterbo, Perawan Ordo III

JESUS HEALS THE SICKKemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Hari itu tentunya merupakan Hari Kemenangan bagi Yesus! Ia memulai hari sabat itu dengan menanamkan kesan mendalam di hati orang-orang Kapernaum, mengajar di sinagoga dengan penuh kuasa (Luk 4:31-32) dan mengusir roh jahat (Luk 4:33-37). Kemudian Yesus kembali ke rumah Simon Petrus di mana Dia menyembuhkan ibu mertua Simon dari demam keras (Luk 4:38-39). Pada malam harinya, banyak orang sakit dan orang yang kerasukan roh-roh jahat dibawa kepada-Nya. Yesus melayani mereka satu-persatu; sakit-penyakit disembuhkan dan roh-roh jahat diusir pergi (Luk 4:40-41). Inilah bukti nyata bahwa Yesus telah datang dan melakukan segala hal yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, yaitu “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Dengan demikian, tidaklah mengejutkan apabila orang-orang Kapernaum berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka (Luk 4:42). Yesus memang lain: Di Kapernaum Ia diterima dan dapat melanjutkan karya pelayanan-Nya dengan penuh kenyamanan, namun Ia memilih untuk meninggalkan kota itu agar dapat melanjutkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan di tempat-tempat lain. Sebagai Dia yang diurapi Allah dengan Roh Kudus dan diutus untuk mewartakan Kabar Baik kepada semua orang, Yesus tidak mau berhenti hanya karena diakui sebagai seorang pembuat mukjizat. Ia didorong oleh Roh Kudus yang hidup dalam diri-Nya untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu mendirikan Kerajaan Allah di atas bumi ini.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIADengan menyajikan cerita-cerita penyembuhan orang-orang sakit dan pembebasan orang-orang yang dirasuki roh-roh jahat yang semakin banyak jumlahnya, Lukas menunjukkan bagaimana Yesus terus bekerja. Selama pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah berhenti bekerja – tidak hanya membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, melainkan juga mengampuni dosa orang-orang dan menyatakan Allah Bapa kepada mereka. Yesus senantiasa mencari semakin banyak orang, memanggil mereka untuk melakukan pertobatan batin dan menjalin relasi dengan Allah Bapa secara lebih mendalam.

Sekarang Yesus berada di surga dalam kemuliaan dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, namun Yesus tetap melanjutkan karya untuk memajukan Kerajaan-Nya di tengah dunia. Sebagai para anggota tubuh Kristus di dunia, kita terus menerima dari Yesus pelayanan-Nya untuk dalam hal penyembuhan, pembebasan dari ikatan/pengaruh roh-roh jahat, dan juga pengampunan dosa. Yesus tidak pernah berhenti memanggil kita untuk masuk ke dalam kehidupan dengan diri-Nya dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya terus membentuk diri kita agar mengalami pertumbuhan progresif dalam hal kekudusan, kuat-kuasa untuk mengalahkan dosa, dan mengasihi sesama kita. Oleh karena itu marilah kita mengikuti Yesus Kristus dengan sepenuh hati. Marilah kita membuka hati kita bagi kuat-kuasa-Nya yang memberi kehidupan dan cintakasih.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah diri kami agar dapat mengalami kepenuhan berkat-berkat Kerajaan Surga. Perkenankanlah sabda-Mu membawa kehidupan bagi kami dan menyatakan tujuan-tujuan-Mu bagi kami-manusia yang masih hidup di dunia. Kami ingin menanggapi rahmat-Mu secara mendalam. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI INI YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HARUS MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK BERDOA” (bacaan tanggal 31-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 31 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII – 1 September 2013)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISIPada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1.7-14)

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24

“Besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati” (Sir 3:20).

Di mana pun tidak ada bukti yang lebih jelas tentang pengungkapan kebesaran Allah, kecuali dalam SALIB KRISTUS. Yesus, Raja Alam Ciptaan (lihat Yoh 1:3), yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal mengambil “jalan menurun” untuk masuk ke dalam dunia ciptaan-Nya sendiri sebagai seorang anak manusia. Bukankah terasa ironis namun menakjubkan bahwa inilah cara bagaimana Yesus memuliakan Allah Bapa? Bukankah menakjubkan bilamana kita menyadari bahwa karena perendahan diri Yesus itu, maka Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya NAMA di atas segala nama? …… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (lihat Flp 2:6-11).

KOMUNI KUDUS - 111Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, setiap kali kita menghadiri Misa Kudus, sebenarnya kita memperingati dua hal: “perendahan diri” (kedinaan) Yesus Kristus dan pada saat yang sama “kemuliaan”-Nya. Kita diundang untuk datang ke meja perjamuan Tuhan dengan segala kerendahan hati untuk melambungkan puji-pujian bagi nama-Nya – dan dalam prosesnya kita sendiri pun diangkat ke surga. Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” dan …… Ia memberi tempat tinggal-Nya sendiri kepada orang-orang yang sebatang kara. Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia …” (Mzm 68:6,7); bagi kita hal ini dapat diartikan mencapai kebebasan suatu hidup baru dalam Kristus.

Allah kita adalah Allah yang sangat menakjubkan. Allah kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung yang menyemburkan api yang menyala-nyala disertai angin badai, bunyi suara sangkakala yang menakutkan (lihat Ibr 12:18-19). Namun demikian Allah memanggil kita yang lemah dan berdosa ini ke dalam hati-Nya. Dalam Misa Kudus kita dapat menghadap hadirat-Nya, bergabung dengan para malaikat yang sangat banyak, yang memuji-muji kemuliaan Allah dan bersuka-ria dalam kasih-Nya – semua karena Dia merendahkan diri-Nya dan menawarkan kepada kita bagian dari warisan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Kerajaan Allah, dalam segala kemuliaan dan kuasanya itu hadir pada setiap perayaan Ekaristi? Hidup-Nya, rahmat-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya, semuanya terkandung dalam hosti kudus yang kita sambut. Bagaimana kemuliaan ilahi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata itu dapat terkandung dalam roti yang begitu sederhana, baik dalam bentuk maupun substansi fisiknya? Apa lagi yang dapat dihasrati oleh kita selain Yesus yang berdiam dalam diri kita dan mengangkat kita bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Cilandak, 30 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Rabu, 21 Agustus 2013)

LABORERS IN THE VINEYARD“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Bayangkanlah seseorang bekerja sepanjang hari untuk upah yang berjumlah sama dengan seorang lainnya yang bekerja hanya untuk satu jam lamanya. Rasa keadilan kita akan sungguh terusik. Dilihat dari kacamata dunia – keprihatinan-keprihatinan dan peraturan-peraturannya berkaitan dengan keadilan – tidak sulitlah bagi orang untuk berpihak pada para pekerja yang berpikir bahwa karena mereka bekerja untuk waktu yang lebih lama, maka mereka harus menerima upah yang lebih banyak daripada para pekerja yang bekerja untuk waktu yang lebih sedikit. Hal inilah yang dinilai adil dan benar! Kelompok pekerja yang pertama mulai bekerja pada jam 6 pagi. Mereka bekerja di kebun anggur sekitar 12 jam lamanya dan menjelang tengah hari dan di siang hari mereka sungguh bekerja di bawah terik matahari yang panasnya sungguh menyengat tubuh. Mereka semua bekerja untuk upah sebesar 1 denarius, sebuah uang logam Romawi yang bernilai satu hari kerja. Kelompok pekerja yang terakhir datang ke kebun anggur pada jam 5 sore dan bekerja untuk satu jam saja – mereka juga menerima upah dalam jumlah yang sama.

Sungguh alamiah bagi kita untuk berpikir seperti itu, namun yang kita luput pertimbangkan adalah bahwa Yesus sedang menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Keadilan bukan merupakan isu di sini. Tidak seorang pun dari kita pantas menerima sesuatu dari Allah karena perbuatan baik atau jasa kita. Tidak ada seorang pun dari kita yang berhak membuat Allah berhutang kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki – bahkan hidup kita sendiri – adalah karunia atau anugerah dari Allah, pemberian “gratis” dari Dia. Kita tidak pernah dapat memperoleh hak untuk berelasi secara pribadi dengan Allah disebabkan oleh pekerjaan baik kita. Dalam melayani Allah, kita menerima jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kita berikan kepada-Nya. Bekerja di kebun anggur, di dalam Kerajaan Allah, bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah privilese! Jika kita menanggapi panggilan Allah sejak dini, hal itu tidaklah berarti kita disalah-gunakan melainkan dikaruniai. Apabila kita menanggapi panggilan Allah di kala hari sudah sore menjelang senja, kita pun dikaruniai!

st-theresa-of-avila1Santa Teresa dari Avila [1515-1582] mengungkapkannya seperti berikut ini: “Kita harus melupakan jumlah tahun kita telah melayani Dia, karena jumlah dari semua yang dapat kita lakukan tidaklah bernilai apabila dibandingkan dengan setetes darah yang telah ditumpahkan oleh Tuhan bagi kita. … Semakin banyak kita melayani Dia, semakin dalam pula kita jatuh ke dalam hutang (kepada)-Nya.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur selagi Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem. Kematian dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan dunia, memenuhinya dengan kasih-Nya. Pada waktu kita mengenal dan mengikut Yesus, kita juga akan mengenal privilese melayani tanpa reserve dalam kebun anggur-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Kobarkanlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 18-9-11) dan “ATAU IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI? (bacaan tanggal 22-8-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers