Posts tagged ‘KERAJAAN ALLAH’

APAKAH PENDAPATMU TENTANG PERUMPAMAAN INI?

APAKAH PENDAPATMU TENTANG PERUMPAMAAN INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven – Selasa, 16 Desember 2014) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”      (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Zef 3:1-2,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23 

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31).

Sungguh mengagetkan kiranya bagi banyak pendengar pengajaran-Nya, ketika Yesus mengucapkan kata-kata ini, yaitu bahwa para pemungut pajak dan pelacur (perempuan sundal) lebih fit bagi Kerajaan Allah daripada para pemuka agama Yahudi (lihat perikop sebelumnya, yaitu Mat 21:23-27). Namun Yesus mengindikasikan, bahwa para “pendosa” ini telah belajar sebuah pelajaran yang sungguh crucial, yaitu kedalaman kebutuhan mereka. Kehidupan dosa para pemungut pajak, pelacur dll. membuat diri mereka tidak ragu-ragu lagi tentang ketiadaan kebenaran dalam diri mereka. Ketika Yesus datang mengajar tentang pertobatan dan pengampunan, banyak dari para pendosa itu tidak mempunyai masalah untuk mengakui kebutuhan mereka akan suatu kehidupan yang baru. Akan tetapi,  bagi banyak pemuka agama Yahudi, pesan Yesus mempunyai efek yang berlawanan. Para pemuka agama Yahudi ini telah berhasil mencapai posisi-posisi berstatus dalam masyarakat, dan kesombongan mereka telah lama menyaring bisikan-bisikan suara hati. Mereka bertanya – dalam hati paling sedikit –  siapakah sebenarnya Yesus ini? Hak apa yang dimiliki Yesus sehingga dia berani mengabaikan “senioritas” dan menantang tatanan masyarakat yang sudah rapih tersusun dan mapan?

Apakah kita selalu harus jatuh dalam-dalam dahulu sebelum kita mengakui akan kebutuhan-kebutuhan kita? Apakah kita perlu melompat ke dalam kegelapan yang teramat kelam, seperti para pemungut pajak/cukai dan pelacur, sebelum kita berteriak-teriak mencari terang cahaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merisaukan banyak orang, teristimewa para orangtua. Apakah anak-anak kita harus mengalami “musim dosa” terlebih dahulu sebelum mereka sadar bahwa mereka membutuhkan seorang Juruselamat?

Hanya Allah-lah yang mengetahui jalan apa yang akan dipilih secara bebas oleh anak-anak kita, dan kita harus percaya kepada-Nya. Namun demikian, kita dapat bantu membentuk mereka menjadi orang-orang Kristiani yang biasa berdoa. Kita dapat menjelaskan kepada anak-anak kita siapa sesungguhnya mereka dan martabat agung yang dianugerahi Yesus atas diri mereka masing-masing. Kita dapat merangsang imajinasi mereka dengan menceritakan kepada mereka tentang cara-cara Allah manakala berurusan dengan manusia: tentang kelahiran Samuel yang penuh keajaiban, tentang misi Musa, tentang keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan Daud ketika masih muda. Kita dapat bercerita kepada mereka tentang pengabdian Rut dan keberanian Yudit. Kita bahkan dapat menunjuk pada sifat impulsif dari Petrus dan kelancangan Paulus. Walaupun tidak ada yang sempurna, masing-masing mereka hidup untuk melakukan kehendak Allah.

Lebih baik lagi tentunya, marilah kita menceritakan kepada anak-anak kita mengenai perjalanan iman kita sendiri: Bagaimana Allah telah memimpin kita, mendisiplinkan kita, dan mengampuni kita. Baiklah kita mendorong serta menyemangati mereka agar membuka hati bagi Allah dan segala kemungkinan hidup bersama Dia. Hidup Kristiani adalah sebuah petualangan, dan Yesus memanggil anak-anak kita untuk berada bersama-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, aku mengangkat ke hadapan-Mu semua keluarga di seluruh dunia. Kunjungilah mereka oleh kuasa Roh Kudus-Mu, dan mampukanlah semua orangtua agar dapat menjadi saksi-saksi hidup dari kemulian kehidupan bersama Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Zef 3:1-2,9-13),  bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERBALIK DARI KEHIDUPAN DOSA” (bacaan tanggal 16-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 14 Desember 2014 [HARI MINGGU ADVEN III] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 28 November 2014)

Keluarga OFM & OFM Coventual: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

RABI DARI NAZARET - 1Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33)

Bacaan Pertama: Why 20:1-4,11 – 21:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8

Ketika Yesus mengajar perumpamaan ini, dalam waktu yang relatif tidak lama lagi Dia akan mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Yesus hampir sampai ke titik akhir dari pelayanan-Nya di muka bumi, dan kematian-Nya serta kebangkitan-Nya akan menjadi tanda inaugurasi dari Kerajaan Allah dan kelahiran Gereja. Walaupun menghadapi penolakan dan oposisi, Yesus dengan penuh keyakinan memproklamirkan bahwa keselamatan kita sudah mendekat. Selagi kita menantikan kedatangan kembali Yesus, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dan semakin matang dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus menginginkan agar kita menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya dengan penuh keyakinan. Kita akan mengalami oposisi, pengejaran dan penganiayaan, namun sebagaimana Yesus berkemenangan, kita pun akan meraih kemenangan, selagi kita menaruh kepercayaan pada sabda-Nya. Kita tidak boleh merasa susah dan ciut hati pada masa-masa penderitaan. Sebaliknya, selagi kesulitan-kesulitan semakin bertumbuh dalam intensitas, semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa manifestasi final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu dengan pohon ara yang bertunas di musim semi, yang memberi jaminan kepada kita bahwa musim panas sudah dekat.

Kita menghadapi pilihan setiap hari. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita serta menaruh kepercayaan pada kata-kata-Nya sehubungan dengan manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali pada akhir zaman. Atau, kita dapat melihat berbagai penderitaan di bumi yang terasa tidak habis-habisnya, sehingga kita dengan cepat jatuh ke dalam jurang penuh rasa takut dan cemas. Manakala kita menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan sabda-Nya yang penuh pengharapan dan memberi semangat untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran kita, maka diri kita akan diangkat, dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan dimampukan untuk melihat melampaui sikon yang kita hadapi. Sabda-Nya menggerakkan kita secara batiniah dan kita pun dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal menjadi mungkin.

Pada zaman modern ini banyak umat Kristiani menderita di bawah rezim-rezim totaliter, anti-Kristiani, korup dlsb. Sekilas lintas memang kelihatan bahwa kegelapan telah menang. Namun dari pengalaman di Eropa Timur beberapa dasawarsa lalu, kita diyakinkan bahwa tangan-tangan Allah selalu bekerja, dan Ia senantiasa melindungi Gereja-Nya. Pada hari ini umat Kristiani adalah saksi-saksi hidup dari sabda Yesus: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami agar mau dan mampu mengenal kuat-kuasa dan kebenaran sabda-Mu. Biarlah sabda-Mu menjadi batu karang dan benteng pelindung di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Biarlah sabda-Mu menjadi pelita yang menerangi jalan kami, sehingga dengan demikian kami dapat menantikan kedatangan-Mu pada akhir zaman dengan ekspektasi penuh hasrat dan pengharapan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 28-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 25 November 2014 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN YESUS PADA AKHIR ZAMAN

KEDATANGAN YESUS PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 13 November 2014)

Keluarga OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan

2ndcoming2

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25)

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10

Tidak ada waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna menyambut suatu badai dengan kilat yang sambar-menyambar. Dalam sekejab suatu cahaya halilintar menerangi seluruh langit dan kita sangat terkesan dengan daya-kekuatan yang hebat serta “kelainan” dari badai ini. Yesus menggunakan contoh pancaran kilat untuk menggambarkan bagaimana kiranya situasi yang akan kita hadapi ketika Dia kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman.

Kedatangan-Nya yang tiba-tiba akan membuat banyak orang berada dalam keadaan tidak siap, karena mereka masih sibuk atau disibukkan dengan berbagai urusan duniawi. Itulah sebabnya mengapa Yesus menekankan pentingnya bagi kita berada dalam keadaan siap dengan mengenali kehadiran Allah sekarang juga.

Yesus bersabda, “…Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Ini cara bagaimana Yesus menjawab orang-orang Farisi yang bertanya kepada-Nya tentang kapan Kerajaan Allah akan datang (Luk 17:20). Kerajaan tersebut hadir dalam Pribadi sang Raja. Mengapa harus pusing-pusing dengan kapan: tanggal, bulan dan tanggal berapanya, jika sang Raja ada di sini bersama kita? Yesus hadir di dalam hati kita masing-masing melalui Roh Kudus-Nya. Dia aktif di segala bagian tubuh-Nya, yaitu Gereja. Jikalau kita setia kepada-Nya di sini, hari ini, sekarang juga, maka kita akan ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya pada akhir zaman kelak.

Walaupun Yesus mengajar bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan kiranya kedatangan-Nya pada akhir zaman, pertanyaan mengenai hal ini terus saja menjadi bahan perbincangan sepanjang masa pelayanan-Nya di atas bumi – dan terus dilanjutkan pada setiap generasi. Jawabannya tetap sama, sampai hari ini! Jika kita tidak memberikan perhatian sepenuhnya atas pemerintahan-Nya sekarang, maka kita tidak akan siap menyambut kedatangan-Nya kembali. Yesus telah ada bersama kita. Kita telah dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Sementara pemerintahan Allah sekarang mencakup syering dalam penderitaan Kristus, kepada kita telah diberikan Roh Kudus guna menghibur dan menguatkan kita. Pencobaan-pencobaan dan kesulitan-kesulitan akan selalu menyertai sukacita kita. Dalam masa-masa penuh pencobaan dan kesulitan tersebut, marilah kita menaruh rasa percaya pada Tuhan Yesus dan kita pun bertekun dalam devosi kita kepada Kerajaan-Nya. Dengan demikian kita akan siap menyambut kedatangan-Nya kembali. Dia ada bersama kita dan akan memperkuat kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Selagi kita menantikan kedatangan Yesus kembali pada akhir zaman, marilah kita menggunakan waktu kita menikmati kemanisan dari kehadiran-Nya melalui doa. Baiklah kita duduk bersama dengan-Nya ketika membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci dan memperkenankan diri-Nya memenuhi diri kita dengan pengharapan pasti akan kehidupan kekal.

DOA: Bapa surgawi, dalam menjalani kehidupan sebagai seorang murid Kristus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu, ya Allahku. Aku mengerti bahwa akan ada waktu-waktu sulit dan penuh pencobaan yang akan kuhadapi, demikian pula waktu-waktu penuh sukacita dan berkat yang akan kualami. Biar bagaimana pun juga aku sepenuhnya menaruh kepercayaan pada rencana-Mu. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, tolonglah aku berpegang teguh pada Engkau saja dan penuhilah diriku dengan kasih-Mu Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG?” (bacaan tanggal 13-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 10 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL

MENJADI SEPERTI ANAK-ANAK KECIL INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Rabu, 1 Oktober 2014)

YESUS DAN ANAK-ANAK DI TENGAH PADANG PENUH BAKUNGPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3

“Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!” Inilah doa Teresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya, karena waktu itu anak perempuan itu baru berusia 7 (tujuh) tahun. Sebuah doa anak kecil yang sejati!

Seorang anak kecil menaruh kepercayaan penuh pada perlindungan orangtuanya, dia tidak takut kepada siapa pun atau apa pun manakala berada di bawah perlindungan orangtuanya. Gambaran seperti ini menjadi indah sekali kalau diterapkan pada kita – semua anak-anak Allah – yang dengan penuh sukacita dan penuh kepercayaan menempatkan diri ke dalam perlindungan dan penyelenggaraan Ilahi, penyelenggaran oleh-Nya, Allah yang baik, satu-satunya yang baik.

ST. TERESA KECILPada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Teresa dari Lisieux (1873-1897), perawan dan Pujangga Gereja. Dialah anak kecil yang berdoa sebagaimana digambarkan di atas. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresia Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”. Sampai akhir hayatnya, Santa Teresia dari Lisieux membuktikan bahwa sikap hidupnya yang senantiasa childlike di hadapan Allah memang sebuah sikap yang dikehendaki Allah dari kita semua.

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocense masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan seorang Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Namun hal ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu ‘nasib’ kita: tidak ada seorang pun dapat menolong kita kecuali diri kita sendiri!

YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SEDANG MENGAJAR SEORANG ANAK KECILYesus ingin memerdekakan kita dari isolasi ciptaan kita sendiri atau kemandirian yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocense sejati dan orijinal yang pernah kita alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Meskipun sudah dewasa dalam usia, kita tidak mampu bertahan satu hari saja kalau terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Adalah Allah yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa pun kecilnya urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting – dan percaya bahwa para malaikat-Nya, teristimewa malaikat pelindung kita masing-masing, juga mengawasi, membimbing dan melindungi kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan kerajaan-Mu kepada orang-orang yang menjadi seperti anak kecil di hadapan-Mu, yang memiliki kerendahan hati yang sejati dan sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan ilahi dan pemeliharaan-Mu yang penuh kasih. Curahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar mampu bergerak maju di jalan-Mu seperti yang telah dicontohkan oleh Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus yang kami rayakan pestanya pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA” (bacaan untuk tanggal 1-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 0KTOBER 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan untuk bacaan tanggal 1-10-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 27 September 2014 [Peringatan S. Vicentius a Paulo, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 24 September 2014)

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASYesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6)

Bacaan Pertama: Ams 30:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163

“Yesus … memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit” (Luk 9:1-2).

Mengapa Yesus harus bersusah-payah memberikan otoritas kepada kedua belas murid-Nya untuk mengalahkan roh-roh jahat? Bukankah Yesus dapat sekadar memberdayakan mereka untuk menyembuhkan sakit-penyakit dan mewartakan Injil? Bukankah itu sudah cukup? Kelihatannya tidak! Yesus menyadari bahwa keberadaan roh-roh jahat adalah riil, dan Ia juga tahu bahwa roh-roh jahat itu merupakan ancaman riil terhadap hidup orang banyak. Kita bisa saja membayangkan Iblis sebagai makhluk berwarna merah menyeramkan, bertanduk, berekor dengan ujung tajam, dan memiliki kaki seperti seekor kambing, namun kenyataannya tidaklah sedemikian. Kita bahkan mungkin saja berpikir bahwa cukuplah bagi kita untuk percaya kepada Yesus dan mengakui keberadaan si Jahat di dunia tanpa menerima kenyataan bahwa dia adalah makhluk spiritual yang bertujuan untuk menghancurkan kita.

Posisi yang disebutkan di atas adalah posisi yang berbahaya. Iblis itu riil, dan tindakan-tindakannya terlihat di dunia dan bahkan dalam hidup kita. Dengan dusta dan kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah, Iblis mempengaruhi kita dengan bujukan-bujukannya, rayuan-rayuannya dlsb. bahwa Allah tidaklah seluruhnya baik dan mengasihi. Iblis juga menggunakan hal-hal yang jelas-jelas dosa dan ketidakpedulian secara halus untuk memimpin kita kepada mindsets yang bertentangan dengan pesan Injil. Dijuluki “pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Iblis ingin menghalang-halangi siapa saja untuk mengenal belas kasih Allah dan menerima pengampunan serta rahmat-Nya.

Untunglah bahwa ini bukanlah akhir dari cerita kita! Dengan kematian Yesus di kayu salib, Iblis telah dikalahkan. Kemampuan yang di berikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang pertama untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bukanlah karunia yang diberikan satu kali saja. Semua orang Kristiani dapat menerima kuasa untuk menolak dusta Iblis, godaan-godaannya, dan keraguan-raguan yang disebabkan olehnya. Kita tidak perlu merasa tak berdaya dan tertindas, dirampas sukacita penebusan kita yang adalah milik kita dalam Kristus. Apabila kita dipersatukan dengan Yesus dalam pembaptisan dan disalibkan bersama Dia, maka kita ikut ambil bagian dalam buah-buah kebangkitan-Nya.

Marilah kita merenungkan kebenaran berikut ini: Bagian lama dari diri kita (anda dan saya) yang berada di bawah pengaruh Iblis telah dihancurkan melalui salib Kristus. Kita harus memperkenankan realitas ini mengendap dalam pikiran dan hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat berkonfrontasi dengan Iblis dan roh-roh jahatnya setiap hari dengan penuh kepercayaan diri. Kita pun akan berjalan dengan keyakinan yang lebih besar lagi dalam hidup baru yang adalah milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku bergembira penuh sukacita akan kemenangan-Mu atas Iblis! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku kuasa-Mu untuk mengenali dan menolak sengat Iblis. Terpujilah Engkau, ya Yesus, Engkau adalah Tuhan yang tersalib dan bangkit, yang telah memenangkan pertempuran sekali dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 24-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 19 September 2014 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporosso, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII, 1 Juni 2014)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

THE LAST SUPPER - 101

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16

Doa Yesus bagi para murid-Nya pada perjamuan terakhir dikenal sebagai doa-Nya sebagai imam (Imam Besar Agung), atau doa pengudusan-Nya, atau sebagai “prakata” dari pengorbanan-Nya di kayu salib. Nada doa yang bernuansa kesucian ini dan juga berisikan tema kontemplatif pasti akan menyarankan judul liturgis tertentu. Namun begitu, doa ini dapat juga dinilai sebagai versi yang lebih menekankan kekudusan dari doa “Bapa Kami”.

Seorang pemimpin religius pantas diharapkan untuk mengajarkan kepada para murid-Nya sebuah doa yang menjadi ikhtisar dari ajaran-Nya bagi mereka. Jadi tidak mengherankanlah jika salah seorang murid-Nya berkata kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Luk 11:1).

Doa “Bapa Kami” sebenarnya mengungkapkan dengan kata-kata sederhana hakihat dari ajaran Yesus mengenai Allah dan tujuan sentral dari misi-Nya. Relasi-Nya dengan Allah diungkapkan dalam nama “Bapa” yang berdiam di tempat sejauh surga, namun sedekat jarak antara Bapa dan Anak, yang nama-Nya harus dihormati dan penyelenggaraan-Nya harus dipercaya.

YESUS BERDOA UNTUK PARA MURID-NYA  YOH 17Pekerjaan sentral dari Yesus adalah membangun Kerajaan Allah di dalam dunia. Kerajaan itu berarti sebuah masyarakat di mana kehendak Allah adalah aturan hidup yang berlaku. Artinya ada roti setiap hari bagi semua orang: tidak ada lagi ketidakadilan, diskriminasi atau ketamakan, melainkan ikut ambil bagian secara fair dalam segala sumber daya yang ada di bumi. Di dalam Kerajaan Allah ada pengampunan penuh dan rekonsiliasi sempurna: tidak ada lagi saling cakar atau hantam-menghantam antara para warganya.

Para warga Kerajaan Allah dengan setia bertekun selagi godaan ditolak dan kejahatan dikalahkan secara total. Doa Yesus dalam ruang atas ini mengulangi tema-tema besar dari doa “Bapa Kami”, walaupun dalam siklus-siklus pemikiran Yohanes yang kesana-kemari atau berputar-putar daripada ungkapan yang sederhana dan jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Nama yang mendominasi doa ini lagi-lagi adalah “Bapa”. Allah yang Mahalain diungkapkan oleh Yohanes dalam tema-tema pemuliaan yang diulang-ulangi olehnya.

Jika doa “Bapa Kami” menjadi sebuah doa untuk Kerajaan Allah di atas bumi, maka doa Yesus di ruang atas dimaksudkan sebagai syafaat untuk para murid-Nya di seluruh dunia. Yesus telah memuliakan Bapa di atas bumi dengan melakukan kehendak-Nya dan membuat nama-Nya dikenal. Sekarang, pada saat-saat terakhir-Nya di atas bumi telah selesai, Dia menyerahkan misi-Nya kepada para murid-Nya. “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia” (Yoh 17:11).

Sekarang instrumen Kerajaan Allah adalah Gereja di atas bumi. Kemuliaan Yesus sendiri sekarang dicerminkan dalam karya Gereja … “Aku telah dimuliakan di dalam mereka” (Yoh 17:10). Dalam banyak bentuk dan cara kerjanya, karya-karya pelayanan karitatif Gereja memberikan “roti” bagi orang yang lapar, mendirikan berbagai klinik dan rumah sakit bagi orang-orang sakit, menjalankan rumah singgah dll.

Gereja mengalami pengampunan Allah secara begitu mendalam, sehingga terdapat satu “sakramen rekonsiliasi” untuk merayakan pengampunan Allah itu. Dengan penuh hasrat untuk mensyeringkan sukacita rekonsiliasi, Gereja mewartakan damai-sejahtera dan mendorong terciptanya suatu pemahaman yang lebih besar daripada rasa sakit, suatu kondisi terberkati yang mengatasi sikap dan tindakan mengutuk. Melalui berbagai praktek asketisme Gereja menolong orang-orang untuk melawan godaan dan dilepaskan/dibebaskan dari cengkeraman si Jahat.

Doa Yesus di ruang atas adalah spiral besar dari pemikiran kontemplatif Yohanes, yang mengembang dari kata-kata sederhana dalam doa “Bapa Kami”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau telah mendoakan kami – bukan dunia – kehadapan hadirat Bapa. Dalam doa-Mu, Engkau mengatakan bahwa bukan untuk dunia Engkau berdoa, tetapi untuk kami semua, yang telah diberikan Bapa kepada-Mu, sebab kami adalah milik Bapa dan segala milik-Mu adalah milik Bapa dan milik Bapa adalah milik-Mu, dan Engkau telah dimuliakan di dalam kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Ptr 4:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “BERGEMBIRA DAN BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN SEBAGAI ORANG KRISTIANI” (bacaan tanggal 1-6-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERDOA BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 5-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Tulisan ini adalah saduran bebas dari bacaan yang terdapat dalam P. Silvester O’Flynn, THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books, 1989 (1992 reprinting), hal. 114-115.

Cilandak, 31 Mei 2014 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers